Anda di halaman 1dari 13

INKONTINENSIA URINE

Rica Octavianingrum
1130015042
DEFINISI
 Inkontinensia urine adalah ketidak mampuan menahan
kencing.

 Inkontinensia adalah pelepasan urine yang tidak terkontrol


dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga dapat dianggap
sebagai kondisi yang disebabkan karena usia (Setiyono,
2001)
ETIOLOGI

Melemah nya otot dasar panggul, adanya kontraksi


(gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih,
gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek
obat-obatan, produksi urin meningkat atau adanya
gangguan kemampuan /keinginan ke toilet, produksi
urine berlebih.
WOC
MANIFESTASI KLINIK
 Inkontinesia stres : keluaranya urin selama batuk, mengedan, dan
sebagainya. Gejala-gejala ini sangat spesifik untuk inkontinensia stres.

 Inkontinensia urgensi : ketidak mampuan menahan keluarnya urin dengan


gambaran seringnya terburu-buru untuk berkemih

 Gejala infeksi urine (frekuensi, disuria, nokturia), obstruksi (pancarah


lemah, menetes), trauma (termasuk pembedahan, misalnya reseksi
abdominoperineal), fistula (menetes terus menerus), penyakit neurologis
(disfungsi seksual atau usus besar) atau penyakit sistemik (misal nya
diabetes) dapat menunjukkan penyakit yang mendasari.
PENATALAKSANAAN
Inkontinen Stres
 Latihan otot-otot dasar panggul
 Latihan penyesuaian berkemih
 Obat-obatan untuk merelaksasi kandung kemih dan estrogen
 Tindakan pembedahan memperkuat muara kandung kemih

Inkontinensia urgensi
 Latihan mengenal sensasi berkemih dan penyesuainnya
 Obat-obatan untuk merelaksasi kandung kemih dan estrogen
 Tindakan pembedahan untuk mengambil sumbatan dan lain-lain
keadaan patologik yang menyebabkan iritasi pada saluran kemih
bagian bawah.
Inkontensia overflow
 Kateterisasi, bila mungkin secara intermiten, dan kalau tidak
mungkin secara menetap.
 Tindakan pembedahan untuk mengangkat penyebab sumbatan.

Inkontinensia tipe fungsional


 Penyesuaian sikap berkemih antara lain dengan jadwal dan
kebiasaan berkemih
 Pakaikan dalam dan kain penyerap khusus lainnya
 Penyesuaian /modifikasi lingkungan tempat berkemih
 Kalau perlu digunakan obat-obatan yang merelaksasikan
kandung kemih
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN GANGGUAN INKONTINENSIA URINE

1. PENGKAJIAN

a. Identitas Klien
Inkontinensia pada umumnya biasanya sering atau cenderung terjadi pada lansia (usia ke
atas 65 tahun), dengan jenis kelamin perempuan, tetapi tidak menutup kemungkinan lansia
laki-laki juga beresiko mengalaminya.

b. Riwayat Kesehatan

a) Riwayat Kesehatan Sekarang


Meliputi gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang dirasakan saat ini.
Berapakah frekuensi inkonteninsianya ,apakah ada sesuatu yang mendahului inkonteninsia
(Stres,ketakutan, tertawa, gerakan) masukan cairan, usia/kondisi fisik, kekuatan dorongan/
aliran jumlah cairan berkenaan dengan waktuk miksi. Apakah ada penggunaan diuretik,
terasa ingin berkemih sebelum terjadi inkontenin, apakah terjadi ketidakmampuan.
b) Riwayat Kesehatan Klien
Tanyakan pada klien apakah klien pernah
mengelami penyakit serupa sebelumnya, riwayat
urinasi dan catatan eliminasi klien, apakah pernah
terjadi trauma /cedera genitourinarius, pembedahan
ginjal , infeksi saluran kemih dan apakah dirawat
dirumah sakit.

c) Riwayat Kesehatan Keluarga


Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang
menderita penyakit serupa dengan klien dan apakah ada
riwayat penyakit bawaan atau keturunan , penyakit
ginjal bawaan/bukan bawaan
d) Keadaan Umum

Klien tampak lemas dan tanda vital terjadi


peningkatan karena respon dari terjadinya
inkontinensia.
 Inspeksi : Adanya kemerahan, iritasi/lecet dan bengkak
pada daerah perineal. Adanya benjolan atau tumor
spinal cord adanya obesitas atau kurang gerak.
 Palpasi : Adanya distensi kandung kemih atau nyeri
tekan teraba benjolan tumor daerah spinal cord.
 Perkusi : Terdengar suara redup pada daerah kandung
kemih.
e) Pemeriksaan Sistem :

 B1 (Breathing)
Kaji pernapasan adanya gangguan pada pola nafas, sianosis karena suplai oksigen menurun. Kaji
ekspansi dada, adakah kelainan pada perkusi.
 B2 (Blood)
Peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung dan gelisah.
 B3 (Brain)
Kesadaran biasanya sadar penuh
 B4 (Bladder)
Inspeksi : Periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat karena adanya aktivitas
mikroorganisme (bakteri) dalam kandung kemih serta disertai keluarnya darah apabila ada lesi pada
bladder, pembesaran daerah suprah pubik lesi pada meatus uretra, banyak kencing dan nyeri saat
berkemih menandakan disuriah akibat dari infeksi, apakah klien terpasang kateter sebelumnya.
Palpasi : Rasa nyeri di dapat pada daerah supra pubik / pelvis, seperti rasa rerbakar di urea luar
sewaktu kencing / dapat juga di luar waktu kencing.
 B5 (Bowel)
Bising usus adakah peningkatan atau penurunan, adanya nyeri tekanan abdomen, adanya ketidak
normalan perkusi, adanya ketidak normalan palpasi pada ginjal.
 B6 (Bone)
Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan ekstremitas yang lain, adakah nyeri
pada persendiaan.
Diagnosa Keperawatan
 Inkontinensia berhubungan dengan kelemahan otot pelvis
dan struktur dasar penyokongnya
 Resiko infeksi berhubunngan dengan inkontinensia,
imobilitas dalam waktu yang lama
 Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan irigasi
konstan oleh urine
 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan keadaan yang
memalukan akibat mengompol di depan orang lain atau takut
bau urine
 Defisiensi pengetahuan yang berhubungan dengan ketidak
cukupan pengetahuan tentang penyebab inkontinensia,
penatalaksanaan, progam latihan pemulihan kandung kemih,
tanda dan gejala komplikasi, serta sumber komunitas.