Anda di halaman 1dari 36

Case report

Periodic Paralysis Hypokalemia

Nama : Raditya Prasidya


NPM : 1102014217
Pembimbing: dr. Sofie Minawati Sp.S
IDENTITAS PASIEN

• Nama : Nn. A
• Umur : 29 tahun
• Jenis kelamin : Laki-laki
• Status Pernikahan : Belum Menikah
• Alamat : Jayawaras
• Tanggal Masuk : 19 November 2019
• Tanggal Keluar : 25 November 2019
• Ruangan : Cempaka bawah
• No CM : 01207xxx
ANAMNESIS

9 Agustus 2017

Keluhan Utama

Keluhan Utama:
Kedua tangan dan kedua kaki tidak dapat digerakan 3 hari SMRS
RIWAYAT PENYAKIT
SEKARANG

Pasien dating ke Instalasi gawat dauat rumah sakit dr. slamet garut dengan
keluhan tangan dan kaki yang teasa sangat lemas sehingga sulit untuk digerakan
sejak 3 hari SMRS, saat sedang bepergian dengan bus, setelah duduk 4 jam di
dalam bus. Sehari kemudia keluhan semakin bertambah parah, kaki dan tangan
sama sekali tidak bisa di gerakan. Pasien lalu dibawah ke IGD. Selama di IGD
pasien mengeluh mual dan muntah lebih dari 5 kali, perut pasien terasa kembung,
dan pasien juga mengeluh nyeri kepala berdenyut yang menetap dan panas
demam yang naik turun. Tidak ditemukan adanya penurunan kesadaran dan
kejang.
Riwayat Penyakit
Riwayat DahuluDahulu
Penyakit

Tidak memiliki kolesterol


Tidak hipertensi
Tidak DM

Riwayat Penyakit Keluarga dan Aler

• Ayah dari pasien pernah mengalami


keluhan yang serupa.
PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Sakit Sedang


Kesadaran : Composmentis
GCS : E4 M6 V5
Tekanan darah : 100/70
Nadi : 137x/menit iregular
Respirasi : 23x/menit
Suhu : 36,8 °C
Kepala : Normocephal
Leher : KGB tidak teraba, JVP tidak
meningkat
1
PEMERIKSAAN FISIK

Jantung
 Inspeksi : Iktus cordis terlihat samar pada linea midclavicularis
sinistra
 Palpasi : Iktus cordis teraba pada sela iga ke 5 sebelah medial
garis midclavicula sinistra
 Perkusi :
 Batas jantung kanan pada linea sternalis dextra sela iga ke 4
 Batas jantung kiri pada linea midclavicula sinistra sela iga ke 5
 Batas pinggang jantung pada linea parastenalis sinistra sela iga ke 3
 Auskultasi: Bunyi jantung S1 S2 Irreguler Takikardi, S3/S4 (-/-) Murmur
(-) Gallop (-) 2
PEMERIKSAAN FISIK

Paru - Paru
 Inspeksi : Gerakan statis dan dinamis hemitoraks kanan dan
kiri, Tidak tampak retraksi sela iga, hematoma, udem, massa, dan
deformitas pada kedua hemitoraks.
 Palpasi : Fremitus Taktil simetris pada kedua hemitoraks.
Fremitus Vokal sulit dinilai.
 Perkusi : Sonor di kedua hemitoraks
 Auskultasi : Vesicular Breathing Sound di seluruh lapang paru,
Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
 Extremitas : Akral dingin, edema -/-
2
Pemeriksaan Neurologi

Inspeksi
Kepala Leher
Bentuk : Normocephalus Sikap : Dalam batas normal
Nyeri tekan : (-) Pergerakan : Dalam batas normal
Simetris : (+) Refleks Meningeal
Pulsasi : (-) Kaku kuduk : (-)
Kernig : (-)
Lasegue : (-)
Brudzinski I : (-)
Brudzinski II : (-)

1
Pemeriksaan Neurologi

Saraf Otak
N. cranialis Kanan Kiri N. IV (Troklearis)    
Gerak Bola Mata Dalam Batas Normal Dalam Batas Normal
N. I (Olfaktorius)  Normal  Normal Sikap bulbus Simetris Simetris
N. II (Optikus) N. VI (Abdusens)    
Tajam Penglihatan Normal Normal Pergerakan mata Dalam Batas Normal Dalam Batas Normal
Lapang Penglihatan Normal Normal Sikap bulbus Simetris Simetris
Melihat kembar - -
Fundus Okuli Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N. V (Trigeminus)  
N. III (Okulomotorius)     Membuka Mulut Baik Baik
Sela mata Simetris Simetris Mengunyah Baik Baik
Gerak Bola Mata Normal Normal Menggigit Baik Baik
      Refleks Kornea Tidak dilakukan Tidak dilakukan 
Strabismus - -
Nistagmus - - N. VII (Facialis)    
Exoftalmus - - Mengerutkan dahi Sulit dinilai Sulit dinilai
Pupil (Besar, bentuk) D : 2 mm, D : 2mm, Menutup mata DBN DBN
  isokor isokor Memperlihatkan gigi DBN DBN
Refleks cahaya langsung + + Bersiul Tidak dilakukan Tidak dilakukan
refleks cahaya tdk langsunng + + Rasa kecap 2/3 depan lidah DBN DBN
Melihat kembar - -  
 

2
Pemeriksaan Neurologi
Saraf Otak
N. VIII (Vestibulokoklearis) Badan dan anggota gerak
Detik Arloji Baik Baik
Tes Swabach Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Tes Rinne Tidak dilakukan Tidak dilakukan Badan
Tes Weber Tidak dilakukan  Tidak dilakukan  Respirasi : Abdomino thorakal
N. IX (Glosofaringeus)  
Bentuk kolumna vetebralis : Dalam batas normal
Refleks kecap 1/3 belakang Tidak dilakukan Pergerakan kolumna vetebralis : Dalam batas normal
Sensibilitas faring Tidak dilakukan Refleks kulit perut atas : Positif
N. X (Vagus)   Refleks kulit perut tengah : Positif
Arkus faring Dalam Batas Normal Refleks kulit perut bawah : Positif
Uvula Dalam Batas Normal
Berbicara Dalam Batas Normal
Menelan Dalam Batas Normal Anggota gerak atas
Motorik : -/-
N. XI ( Assesorius )  
Menenggok kanan kiri Dalam Batas Normal Pergerakan :+/+
Mengangkat Bahu Dalam Batas Normal Kekuatan : 1/1
N. XII ( Hipoglossus )   Tonus : Menurun
Pergerakan Lidah Dalam Batas Normal Atropi : (-)

2
Lidah deviasi Tidak Deviasi
Artikulasi Baik

Fungsi Luhur Dalam Batas Normal


Pemeriksaan Neurologi

Refleks Anggota gerak bawah


Biceps : +/+ Motorik : -/-
Triseps : +/+ Pergerakan : -/-
Brachioradialis : +/+ Kekuatan : 0/0
Sensibilitas : Dalam batas normal Tonus : Menurun
Taktil : Dalam batas normal Atropi : (-)
Nyeri : (-) Sensibilitas : Dalam Batas normal
Taktil : Dalam batas normal
Nyeri : (-)

3
Refleks fisiologis

Refleks Dextra / Sinistra


Biseps +/+
Triseps +/+
Brachioradialis +/+
Patella +/+
Achiles +/+
Refleks
Babinski
Ekstremitas Dextra
-
Ekstremitas Sinistra
-
Refleks patologis
Chaddock - -
Openheim - -
Gordon - -
Schaeffer - -
Rosolimo - -
Klonus paha - -
Klonus kaki - -
Chvostex’s sign - -
Trousseau’s sign - -
Test Laseque - -
Test brudzinsky - -
I/II/III/IV

Test kernig - -
Meningial Sign - -
Pemeriksaan Neurologi

Koordinasi, Gait dan keseimbangan


Cara berjalan : Tidak dilakukan
Test Romberg : Tidak dilakukan
Disdiadokokinesis : Tidak dilakukan

Gerakan – gerakan abnormal


Tremor : (-)
Athetosis : (-)
Mioklonik : (-)
Khorea : (-)

Fungsi Vegetatif
BAK : Dalam batas normal
BAB : Belum BAB 3 Hari

3
Pemeriksaan Penunjang

Hematologi : Elektrolit :
Darah rutin : 1. Natrium : 142 mEq/L
1. Hemoglobin : 14,4 mg/dl 2. Kalium : 1,5 mEq/L
2. Hematokrit : 42% 3. Klorida : 105 MeQ/L
3. Leukosit : 9700 /mm3 4. Kalsium : 3,82 mg/dL
4. Trombosit : 192000 /mm3
5. Eritrosit : 4.92 juta/mm3

Kimia Klinik :
1. Ureum : 45 mg/dL
2. Kreatinin : 0,8 mg/dL
3. GDS : 151 mg/dL
4. SGOT : 13 U/L
5. SGPT : 37 U/L
RINGKASAN

Pasien dating ke Instalasi gawat darurat rumah sakit dr. slamet garut dengan
keluhan tangan dan kaki yang teasa sangat lemas sehingga sulit untuk digerakan
sejak 3 hari SMRS, saat sedang bepergian dengan bus, setelah duduk 4 jam di
dalam bus. Sehari kemudian keluhan semakin bertambah parah, kaki dan tangan
sama sekali tidak bisa di gerakan. Pasien lalu dibawah ke IGD. Selama di IGD
pasien mengeluh mual dan muntah lebih dari 5 kali, perut pasien terasa kembung,
dan pasien juga mengeluh nyeri kepala berdenyut yang menetap dan panas
demam yang naik turun. Tidak ditemukan adanya penurunan kesadaran dan
kejang.
RINGKASAN

• Pada pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan Darah Hipotensi, dengan Bunyi


Jantung yang Ireguler dan Takikardia
• Pada pemeriksaan kekuatan anggota gerak ditemukan tetraplegia, dengan nilai 1
pada kekuatan keempat anggota gerak
• Pada pemeriksaan darah ditemukan gula darah sewaktu yang meningkat (151
mg/dL), penunjang elektrolit ditemukan kadar kalium yang sangat rendah (1,5
mEq/L) dan kadar kalsium yang rendah (3,82 mEq/L)
DIAGNOSA

Paralisis Periodik Hipokalemia


Hipokalsemia
RENCANA AWAL
Rencana terapi
Terapi Medikamentosa
 Drip KCl 1 amp dalam 500 cc NaCl IV
 NaCl + Ca Gluconas 20 gtt IV
 Omeprazol 1x40 mg IV
Rencana Diagnosis
 EKG  Mecobalamin 2x1 ampul IV
 Lab darah lengkap  KSSR 1x600 mg PO

Terapi Non-medikamentosa
 Tirah baring
 Diet rendah karbohidrat

Prognosis
 Ad vitam : ad malam
 Ad fungsionam : ad malam
 Ad sanationam : ad malam
HASIL EKG
TINJAUAN
PUSTAKA
Periodik Paralisis
Hipokalemia

Periodik Paralisis Hipokalemia (HkPP)


adalah suatu serangan berulang
kelemahan otot yang dihubungkan dengan
penurunan kadar kalium darah. Ada dua
jenis Periodik Paralisis Hipokalemia, yaitu
Tirotoksikosis HkPP dan Familial HkPP
ETIOLOGI

Intrinsik Ekstrinsik

 Tirotoksikosis  Makanan dengan karbohidrat


 Kadar insulin yang tinggi, yang tinggi
kelaianan pancreas pada  Kurangnya asupan makanan yang
keluarga teratur
 Turunan Genetik  Pemberian Obat Tertentu
 Konsumsi Alkohol
EPIDEMIOLOGI

• Angka kejadiannya sekitar 1 diantara 100.000 orang, dengan pria lebih


sering daripada wanita. Frekuensi serangan terrbanyak di usia 15
sampai 35 tahun dan kemudian menurun dengan penigkatan usia.
PATOFISIOLOGIS

Periodik Paralisis hipokalemi familial menunjukkan adanya mutasi kromosom 1q31-32 yang
merupakan area genetik dihydropteridine-binding, calcium channel otot skeletal. Kelainan ini
diidentifikasi sebagai channelopathies. Sebaliknya, apakah kelainan gen ini juga terdapat pada TPP
dan bagaimana mekanisme yang terjadi belum diketahui secara pasti.
Namun dapat diterangkan bahwa hormon tiroid meningkatkan metabolisme basal, konsumsi oksigen,
piruvat dan malate mitokondria, juga meningkatkan degradasi protein dan oksidasi lipid serta
sensitivitas B-adrenergic. Penderita tirotoksikosis resisten terhadap insulin, sehingga menyebabkan
hiperglikemi dan intolerans glukosa. Adanya kombinasi antara peningkatan metabolisme dan
resistensi insulin ini menyebakan berkurangnya glikogen otot seiring dengan penurunan adenosine
triphosphate (ATP) dan creatine phosphate dalam otot. Hal ini menyebabkan kelelahan dan
kelemahan otot.
PATOFISIOLOGIS

Hipertiroidisme meningkatkan sensitivitas B-adrenergic. Efek ini


menstimulasi pompa Na-K, sehingga terjadi depolarisasi membran
menghasilkan inaktivasi sodium channel yang menyebabkan penurunan
eksitabilitas membran, sehingga terjadi effluks pasif potassium dari
ekstrasellular ke dalam otot skeletal yang mengakibatkan penurunan
aksi potensial otot. Penurunan aksi potensial ini menyebabkan
kegagalan mekanisme eksitasi-konstraksi otot. Hal inilah yang
menimbulkan paralisis otot.
MANIFESTASI
KLINIS

Kelemahan pada otot


Fungsi Sensorik yang masih Baik
Perasaan lelah
Nyeri Otot
Restless Legs Syndrome
Tekanan darah dapat meningkat
Kelumpuhan atau rabdomiolisis
Gangguan toleransi glukosa
Gangguan Metabolisme Protein
Poliuria dan Polidipsia
Alkalosis Metabolik
DIAGNOSIS

Anamnesa
Pemeriksaan Fisik
• Pemeriksaan Syaraf Motorik
• Pemeriksaan Syaraf Sensorik
• Pemeriksaan Refleks Fisiologis
• Pemeriksaan Refleks Patologis
 Pemeriksaan Penunjang
• Kadar kalium dalam serum
• Kadar Kalium, Natrium dan Klorida dalam Urin 24 Jam
• Elektrokardiografi
DIAGNOSIS

Anamnesa Pemeriksaan Kernig


Pemeriksaan Fisik
• Pemeriksaan Kaku Kuduk
• Pemeriksaan Kernig Pemeriksaan Brudzinski I
• Pemeriksaan Brudzinski I (Brudzinski leher)
• Pemeriksaan Brudzinski II (Brudzinski Kontralateral tungkai)
• Pemeriksaan Brudzinski III (Brudzinski Pipi)
• Pemeriksaan Brudzinski IV (Brudzinski Simfisis)
• Pemeriksaan Lasegue Pemeriksaan Brudzinski II
 Pemeriksaan Penunjang
• Pungsi Lumbal
• Pemeriksaan darah
• Kultur
• radiologis Pemeriksaan Lasegue
TATA LAKSANA

Pemberian kalium dalam bentuk oral, Bila kadar kalium dalam serum < 3
mEq/L, koreksi Kalium cukup diberikan per oral.
 Pemberian 40-60 mEq dapat menaikan kadar kalium darah sebesar 1-1,5
mEq/L
 Pemberian 135-160 mEq dapat menaikan kadar kalium sebesar 2,5-3,5
mEq/L

Pada Pemberian Kalium Intravena dalam bentuk larutan KCl disarankan


melalui vena yang besar dengan kecepatan 10-20 mEq/menit kecuali jika pada
pasien ditemukan aritmia atau depresi otot pernapasan, diberikan dengan
kecepatan 40-100 mEq/menit. KCl dilarutkan sebanyak 20 mEq dalam 100 cc
NaCl isotoknik
TATA LAKSANA

 Pemberian Spironolactone, dapat berguna untuk menstabilkan kadar kalium


di darah. Spironolactone bekerja dengan mereabsorbsi Natrium dan Cairan
Plasma pada Pompa ATP-ase di tubulus ginjal (untuk dikeluarkan lewat urin)
dengan retensi kalium.
KOMPLIKASI

Pada kasus hypokalemia massif yang tidak tertangani, Komplikasi


dapat mengarah ke jantung dan membahayakan nyawa. Kondisi
hipokalemi akan mengganggu jalannya arus listrik jantung
sehingga menyebabkan prolongasi interval Q-T yang jika masih
juga tidak tertangani akan mengakibatkan fibrilasi ventrikular
dan kematian jantung mendadak.

Kelemahan otot yang tidak tertangani juga dapat berubah


menjadi progresif sehingga kelemahan otot yang terjadi bisa
bersifat ireversibel.
PROGNOSIS

Pada meningitis Tuberkulosa, angka kecacatan dan kematian pada


umumnya tinggi. Prognosa jelek pada bayi dan orang tua. Angka
kematian meningitis TBC dipengaruhi oleh umur dan pada stadium
berapa penderita mencari pengobatan. Penderita dapat meninggal
dalam waktu 6-8 minggu