Anda di halaman 1dari 11

MANUSKRIP

HUBUNGAN STRES PENGASUHAN DENGAN KEJADIAN STUNTING


PADA BALITA (2 - 5 tahun) DI DESA PASIRKARAG, KABUPATEN
PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN

Disusun oleh:

Andhika Shahnaz G 1102014023


Nabila Kurniati 1102014181
Naufal Kamal Y 1102014189
Puput Aurelia H 1102014210
Sidqi Shakur A 1102014247

Pembimbing:
dr. Dini Widianti, MKK., DipIDK.

KEPANITERAAN KEDOKTERAN KOMUNITAS BAGIAN


ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS
KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI PERIODE
9 NOVEMBER - 14 DESEMBER 2019
HUBUNGAN STRES PENGASUHAN DENGAN KEJADIAN
STUNTING PADA BALITA DI DESA PASIRKARAG,
KABUPATEN PANDEGLANG, PROVINSI BANTEN

CORRELATION BETWEEN PARENTING STRESS AND


INCIDENCE OF STUNTING ON TODDLERS (2 to 5 years)
IN PASIRKARAG VILLAGE, PANDEGLANG REGENCY,
PROVENCE OF BANTEN

Andhika Shahnaz1, Nabila Kurniati1, Naufal Kamal1, Puput


Aurelia1, Sidqi Shakur1, Dini Widianti2
1
Mahasiswa Kepanitraan IKM Universitas
YARSI
2
Dosen Kepanitraan
Universitas YARSI Email:
dini.widianti@yarsi.ac.id

ABSTRAK Latar Belakang: Kejadian balita pendek ataubiasa disebut


dengan stunting merupakan salah satu masalahgizi yang
dialami oleh balita didunia saat ini. Pengasuhan merupakan
faktor yang sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan dan
perkembangan anak berusia di bawah lima tahun.
Kementerian Kesehatan menetapkan enam kecamatan di
Kabupaten Pandeglang sebagai lokasi fokus (lokus)
permasalahan stunting.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara stres pengasuhan
dengan kejadian stunting pada balita di Desa Pasirkarag,
Kabupaten Pandeglang, provinsi Banten
Metode: Penilitian ini menggunakan desain penelitian cross
sectional dengan metode penelitian berupa survei.
Hasil: Hasil analisa statistik nilai p value >0,005 yaitu
nilai P 0,000 yang menunjukkan ada hubungan antara
stress pengasuhan dengan kejadian stunting pada balita.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara
stres pengasuhan dengan kejadian stunting pada balita di
Desa Pasirkarag, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
KATA KUNCI stunting, stres pengasuhan

ABSTRACT Introduction:The incidence of short toddlers or commonly


referred to as stunting is one of the nutritional problems
experienced by toddlers in the world today. Care is a factor that
is very closely related to the growth and development of children
under five years old. The Ministry of Health designates six sub-
districts in Pandeglang Regency as the focus location (locus) for
stunting problems.
Objectives: The primary objective of this study is to find
correlation between parenting stress and incidence of
stunting on toddlers in Pasirkarag Village, Pandeglang
regency, Province of Banten.
Methods: This research used cross sectional study with
methodology survey.
Results: The results of the statistical analysis of the p
value> 0.005 is the P value of 0.000 which shows there is
a relationship between parental stress and the incidence
of stunting in infants.
Conclusion: There is a significant relationship between
parenting stress and the incidence of stunting in toddlers
in Pasirkarag Village, Pandeglang Regency, Banten
Province.
KEYWORD stunting, parenting stress

PENDAHULUAN panjang atau tinggi badan yang

Stunting (kerdil) adalah lebih dari minus dua standar

kondisi dimana balita memiliki deviasi median standar

panjang atau tinggi badan yang pertumbuhan anak dari WHO.

kurang jika dibandingkan dengan Balita stunting termasuk masalah

umur. Kondisi ini diukur dengan gizi kronik yang disebabkan oleh
banyak faktor seperti kondisi dalam negara ketiga dengan
sosial ekonomi, gizi ibu saat prevalensi tertinggi di regional
hamil, kesakitan pada bayi, dan Asia Tenggara/South-East Asia
kurangnya asupan gizi pada bayi. Regional (SEAR). Rata-rata
Balita stunting di masa yang prevalensi balita stunting di
akan datang akan mengalami Indonesia tahun 2005-2017
kesulitan dalam mencapai adalah 36,4%.
perkembangan fisik dan kognitif Kejadian balita stunting
yang optimal. (pendek) merupakan masalah
Kejadian balita pendek gizi utama yang dihadapi
ataubiasa disebut dengan Indonesia. Berdasarkan data
stunting merupakan salah satu Pemantauan Status Gizi (PSG)
masalahgizi yang dialami oleh selama tiga tahun terakhir,
balita didunia saat ini. Pada pendek memiliki prevalensi
tahun 201722,2% atau sekitar tertinggi dibandingkan dengan
150,8 juta balita di dunia masalah gizi lainnya seperti gizi
mengalami stunting. Namun kurang, kurus, dan gemuk.
angka ini sudah mengalami Prevalensi balita pendek
penurunan jika dibandingkan mengalami peningkatan dari
dengan angka stunting pada tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi
tahun 2000 yaitu 32,6%. Pada 29,6% pada tahun 2017.
tahun 2017, lebih dari setengah Prevalensi balita sangat pendek
balita stunting di duniaberasal dan pendek usia 0-59 bulan di
dari Asia (55%) sedangkan lebih Indonesia tahun 2017 adalah
dari sepertiganya (39%) tinggal 9,8% dan 19,8%. Kondisi ini
di Afrika. Dari 83,6 juta balita meningkat dari tahun
stunting di Asia, proporsi sebelumnya yaitu prevalensi
terbanyak berasal dari Asia balita sangat pendek sebesar
Selatan (58,7%) dan proporsi 8,5% dan balita pendek sebesar
paling sedikit di Asia Tengah 19%. Provinsi dengan prevalensi
(0,9%). Data prevalensi balita tertinggi balita sangat pendek
stunting yang dikumpulkan dan pendek pada usia 0-59 bulan
World Health Organization tahun 2017 adalah Nusa
(WHO), Indonesia termasuk ke Tenggara Timur, sedangkan
provinsi dengan prevalensi stunting terdiri dari faktor basic
terendah adalah Bali. seperti faktor ekonomi dan

Kementerian pendidikan ibu, kemudian faktor

Kesehatan menetapkan enam intermediet seperi jumlah

kecamatan di Kabupaten anggota keluarga, tinggi badan

Pandeglang sebagai lokasi fokus ibu, usia ibu, dan jumlah anak

(lokus) permasalahan stunting ibu. Selanjutnya adalah faktor

atau masalah gizi kronis yang proximal seperti pemberian ASI

disebabkan oleh kurangnya ekslusif, usia anak dan BBLR

asupan gizi dalam waktu lama. (Amalia, dkk., 2017). Dari aspek

Enam kecamatan yang menjadi psikologis, stunting erat

lokus stunting adalah Koroncong, kaitannya dengan usia

Saketi, Banjar, Sindangresmi, persalinan, peran ganda, dan pola

Cipeucang, dan Kaduhejo. asuh yang tidak memadai. Pola

Dalam rangka percepatan asuh dapat dipengaruhi oleh

penurunan angka stunting, kepribadian ibu.

pemerintah menetapkan 1.000 Hurlock (2009)


desa prioritas intervensi stunting menyatakan bahwa dalam pola
yang berada di 100 asuh orang tua, terdapat beberapa
kabupaten/kota dan 34 provinsi. aspek yang berperan, salah
Penetapan 100 kabupaten/kota satunya yaitu tipe kepribadian
prioritas ditentukan dengan orang tua. Orang tua yang satu
melihat indikator jumlah balita dan yang lainnya berbeda dalam
stunting (Riskesdas 2013), sikap, kematangan karakter,
prevalensi stunting (Riskesdas kesabaran, energi, dan
2013), dan tingkat kemiskinan intelegensia. Hal ini berpengaruh
(Susenas 2013) hingga terpilih terhadap kehandalan orang tua
minimal 1 kabupaten/kota dari untuk menjalankan tuntutan
seluruh provinsi. Desa Pasirkarag perannya dalam keluarga,
merupakan salah satu desa yang khususnya dalam kepekaan
menjadi lokus stunting mereka terhadap kebutuhan anak
(Kemenkes RI, 2018). (Uttami, dkk., 2014).

Faktor penyebab Pengasuhan merupakan


faktor yang sangat erat kaitannya Pandeglang, Provinsi Banten.
dengan pertumbuhan dan
perkembangan anak berusia di
METODE PENELITIAN
bawah lima tahun. Secara lebih
spesifik, kekurangan gizi dapat Penilitian ini sejatinya

menyebabkan keterlambatan menggunakan desain penelitian

pertumbuhan badan, lebih cross sectional dengan metode

penting lagi keterlambatan penelitian berupa survey.

perkembangan otak dan dapat Populasi dari penilitian ini

pula terjadinya penurunan atau diambil dari seluruh balita yang

rendahnya daya tahan tubuh bertempat di Desa Pasirkarag,

terhadap penyakit infeksi. Pada Kabupaten Pandeglang, Provinsi

masa ini juga anak masih benar- Banten tahun 2019. Jumlah

benar tergantung pada perawatan sampel seluruh balita yang ada di

dan pengasuhan oleh ibunya Desa Pasirkarag, Kabupaten

(Rahmayana, 2014). Pandeglang yang dipilih dengan


metode total sampling.
Stres pengasuhan yang
Pengambilan data dilakukan
dialami ibu akan berpengaruh
dengan pengambilan data primer
terhadap tanggung jawab orang
yang berasal dari kuesioner yang
tua dalam merawat anaknya,
dilakukan oleh tim peneliti.
karena stres pengasuhan akan
menghambat pekerjaan yang Kriteria inklusi pada

dilakukan sehari hari dan dapat penelitian ini adalah balita

menyebabkan permasalahan pada stunting, balita tidak stunting, ibu

pertumbuhan dan perkembangan yang bersedia diwawancara di

anak (Chairini, 2013). Desa Pasirkarag, Kabupaten


Pandeglang. Kriteria eksklusi
Tujuan dari penelitian
pada penelitian ini adalah balita
ini yaitu untuk mengetahui ada
dan ibu yang tidak sedang di
atau tidaknya hubungan antara
tempat saat melakukan
stres pengasuhan ibu dengan
penelitian.
kejadian stunting pada balita
(bayi di bawah lima tahun) di Adapun variabel yang

Desa Pasirkarag, Kabupaten dinilai adalah stres pengasuhan


pada ibu yang memiliki balita.
Stres pengasuhan dibagi menjadi dalam penelitian ini selanjutnya
tiga tingkatan yaitu stres dianalisis dengan menggunakan
pengasuhan rendah, sedang, dan program SPSS 20.0 Statistik
tinggi. Pengertian dari stunting deskriptif dan selanjutnya
adalah gagalnya pertumbuh pada disajikan dalam bentuk tabel
anak balita (bayi di bawah lima distribusi frekuensi dan
tahun) yang disebabkan karena persentase yang kemudian
kekurangan gizi kronis sehingga dijelaskan secara naratif sesuai
anak pendek (z score -2 SD) atau dengan tujuan penelitian. Uji
sangat pendek (z score -3 SD) hipotesis menggunakan
untuk usianya. kolmogorov-smirnov

Data primer yang


dilakukan pada penelitian ini,
yaitu dengan teknik wawancara
dengan menggunakan kuesioner
yang berisi pertanyaan yang
disusun dan digunakan sebagai
alat pengumpulan data. Selain
itu, instrumen penelitian ini juga
menggunakan microtoise dan
timbangan jarum untuk
mengetahui tinggi panjang badan
serta berat badan pada balita
yang menjadi sampel peneliti.
Pada penelitian ini, peneliti
melakukan analisis bivariat
karena untuk mengetahui ada
tidaknya hubungan antara stres
pengasuhan dengan kejadian
stunting di Desa Pasirkarag,
Kabupaten Pandeglang, Provinsi
Banten tahun 2019.

Data yang telah diambil


HASIL

Analisis Univariat
Tabel 1. Karakteristik Responden
Karakteristik Responden Frekuensi Presentase (%)
Pekerjaan
Bekerja 9 13 %
Tidak Bekerja 60 87 %
Total 69 100 %
Pendidikan
Tidak sekolah 1 1.4 %
SD 39 56.5 %
SMP 20 29 %
SMA 7 10.1 %
Sarjana 2 2.9 %
Total 69 100 %
Penghasilan
< UMR (Rp. 2.542.539,13) 62 89.9 %
> UMR (Rp. 2.542.539,13) 7 10.1 %
Total 69 100 %

Pada tabel 1 dapat dilihat karakteristik responden untuk pekerjaan terdapat 60 responden (87
%) yang tidak bekerja. Untuk Pendidikan terakhir yang paling banyak yaitu SD sebanyak 39
responden (56.5 %). Penghasilan yang terbanyak adalah < UMR (Rp. 2.542.539, 13) yaitu 62
responden (89.9%).

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Stunting


Stunting Frekuensi Presentase
Normal 51 73.9 %
Stunting 18 26.1 %
Total 69 100 %

Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa terdapat 18 balita (26.1%) di Desa Pasirkarag, Kabupaten
Pandeglang, Provinsi Banten yang mengalami stunting.

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Stres Pengasuhan


Stres Pengasuhan Frekuensi Presentase
Rendah 6 8.7 %
Sedang 61 88.4 %
Tinggi 2 2.9 %
Total 69 100 %
Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa mayoritas responden mengalami tingkat stress pengasuhan
yang sedang yaitu sebanyak 61 Ibu (88.4%) di Desa Pasirkarag, Kabupaten Pandeglang.

Analisis Bivariat
Analisis bivariat pada penelitian ini digunakan untuk melihat hubungan antara variabel
dependen dengan variable independen dengan menggunakan analisis uji kolmogorov-smirnov.
Variable independen pada penelitian ini adalah stres pengasuhan rendah, sedang dan tinggi.
Sedangkan variabel dependen adalah balita normal dan stunting. Melalui uji ini akan diperoleh nilai
P (p-value) dimana dalam penelitian ini menggunakan tingkat kemaknaan sebesar 0,05. Penelitiaan
antara dua variabel dikatakan berhubungan jika P value ≤ 0,05 dan dikatakan tidak berhubungan jika
P value > 0,05. Hasil analisis bivariat adalah sebagai berikut

Tabel 4. Hubungan Stres Pengasuhan dengan Kejadian Stunting pada Balita di Desa Pasirkarag
Variabel Stres Pengasuhan P value

Rendah Sedang Tinggi Total


Normal 3 46 2 51
Stunting 3 15 0 18 P 0,000
Total 6 61 2 69

Pada tabel kolmogorov-smirnov test di dengan kejadian stunting pada balita di Desa
atas dapat diketahui bahwa nilai signifikansi p- Pasir Karag, Kabupaten Pandeglang, Provinsi
value sebesar 0,000 yang menunjukkan bahwa Banten. Penelitian ini sesuai dengan Uttami
p-value ≤ 0,05 yaitu 0,000 sehingga dapat dkk (2019) menyatakan bahwa kepribadian ibu
disimpulkan bahwa ada hubungan yang merupakan faktor yang berhubungan dengan
bermakna antara stress pengetahuan dengan kejadian stunting. Pola asuh dapat dipengaruhi
kejadian stunting pada balita di Desa oleh kepribadian ibu. Stress pengasuhan
Pasirkarag, Kabupaten Pandeglang, Provinsi menjadi salah satu masalah dalam pola asuh
Banten. yang menjadi penyebab stunting. Pola asuh ibu
memiliki peran dalam kejadian stunting pada
PEMBAHASAN
balita karena asupan makanan pada balita
Hasil analisis bivariat antara stress
sepenuhnya diatur oleh ibunya. Ibu dengan
pengasuhan dengan kejadian stunting
pola asuh baik akan cenderung memiliki balita
menunjukan bahwa P value nya, yaitu 0,000
dengan status gizi yang lebih baik daripada ibu
yang berarti P value ≤ 0,05 sehingga dapat
dengan pola asuh yang kurang (Cholifatun,
disimpulkan bahwa ada hubungan yang
dkk., 2015)
bermakna antara stress pengasuhan pada ibu
Pada saat di lapangan ditemukan ibu (2.9%) yang mengalami stress pengasuhan
banyak responden yang memiliki tingkat tinggi, 61 ibu (88.4%) yang mengalami stres
pendidikan rendah yaitu 39 ibu (56,5 %) pengasuhan sedang dan 6 ibu (8.7%) yang
dengan pendidikan tamat Sekolah Dasar (SD), mengalami stres pengasuhan rendah. Sebanyak
60 responden (87%) yang tidak bekerja 3 balita (17 %) dari ibu dengan stres
(sebagai Ibu Rumah Tangga), 62 responden pengasuhan rendah mengalami kejadian
(89.9%) dengan penghasilan <UMR stunting, 15 balita (83 %) dari ibu dengan stres
Pandeglang tahun 2019. Menurut Aridiyah dkk pengasuhan sedang mengalami stunting.
(2015) faktor yang mempengaruhi terjadinya Sehingga dapat disimpulkan berdasarkan hasil
stunting pada anak balita yang berada di yang didapatkan, ada hubungan yang
wilayah pedesaan dan perkotaan adalah bermakna antara stres pengasuhan terhadap
pendidikan ibu, pendapatan keluarga, kejadian stunting. Hal ini sesuai dengan
pengetahuan ibu mengenai gizi, pemberian penelitian yang dilakukan Rahmayana, dkk.
ASI eksklusif, umur pemberian MP-ASI, (2014) yaitu pola asuh menunjukkan hubungan
tingkat kecukupan zink, tingkat kecukupan zat yang signifikan dengan kejadian stunting pada
besi, riwayat penyakit infeksi serta faktor anak usia 24-59 bulan.
genetik dari orang tua. Rendahnya tingkat
pendidikan berdampak pada stunting KESIMPULAN
dikarenakan di masyarakat masih berkembang Berdasarkan hasil penelitian yang sudah di
pemikiran bahwa pendidikan tidak penting paparkan, maka dapat disimpulkan dari
serta terkait dukungan dari keluarga untuk penelitian ini bahwa:
menempuh pendidikan yang lebih tinggi yang 1. Hasil penelitian ini menunjukkan
masih belum maksimal. Secara tidak langsung bahwa dari 69 balita di Desa
tingkat pendidikan ibu akan mempengaruhi Pasirkarag, Kabupaten Pandeglang
kemampuan dan pengetahuan ibu mengenai Provinsi Banten sebanyak 18 balita
perawatan kesehatan terutama dalam (26.1%) mengalami stunting.
memahami pengetahuan mengenai gizi. 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dari 9 ibu yang memiliki balita,
terdapat lebih dari setengah ibu yang
DISKUSI memiliki tingkat stress pengasuhan
Berdasarkan penelitian mengenai sedang, yaitu 61 ibu (88.4 %).
hubungan antara stres pengasuhan pada ibu Sebanyak 6 Ibu (38.7 %) memiliki
terhadap kejadian stunting didapatkan bahwa tingkat stres pengasuhan rendah dan 2
jumlah sampel yang memenuhi kriteria untuk ibu (2.9 %) memiliki tingkat stres
penelitian berjumlah 69 orang di Desa pengasuhan tinggi.
Pasirkarag, Kabupaten Pandeglang pada bulan 3. Hasil penelitian ini menunjukkan
November 2019. Diketahui bahwa sebanyak 2 bahwa ada hubungan yang bermakna
antara stres pengasuhan dengan
kejadian stunting pada balita di Desa
Pasirkarag, Kabupaten Pandeglang,
Provinsi Banten. Didapatkan nilai p
value 0,000.

SARAN
1. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi
tambahan pengetahuan bagi masyarakat umum
tentang hubungan stres pengasuhan terhadap
stunting sehingga bisa lebih memperhatikan
kebutuhan gizi anaknya.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan bagi institusi pendidikan untuk
lebih meningkatkan sistem pembelajaran pada
mahasiswa mengenai stunting dan lebih
memperbanyak pustaka untuk penyempurnaan
penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan agar
meneliti variabel-variabel lain yang
berhubungan dengan kejadian stunting serta
melakukan penelitian yang lebih mendalam di
Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Ucapan Terima Kasih


Disampaikan sebesar-besarnya kepada
pembimbing penulis, dr. Dini Widianti, MKK.,
DipIDK. yang telah banyak memberikan
kritikan, saran, dan masukan kepada peneliti
dan kepada seluruh staf bagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat Universitas YARSI yang telah
banyak membantu hingga terselesaikannya
penelitian ini.