0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
159 tayangan20 halaman

Prinsip dan Dasar Hukum Keselamatan Pasien

Dokumen tersebut membahas tentang prinsip keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan. Undang-undang dan peraturan pemerintah telah mengatur hak dan kewajiban rumah sakit beserta tenaga kesehatannya untuk menjamin keselamatan pasien, diantaranya dengan menerapkan standar keselamatan dan melaporkan insiden yang terjadi."

Diunggah oleh

SRI WIDOWATI
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
159 tayangan20 halaman

Prinsip dan Dasar Hukum Keselamatan Pasien

Dokumen tersebut membahas tentang prinsip keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan. Undang-undang dan peraturan pemerintah telah mengatur hak dan kewajiban rumah sakit beserta tenaga kesehatannya untuk menjamin keselamatan pasien, diantaranya dengan menerapkan standar keselamatan dan melaporkan insiden yang terjadi."

Diunggah oleh

SRI WIDOWATI
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRINSIP PATIENT SAFETY

Dasar Hukum Yang Mengatur Tentang


Keselamatan Pasien
• Dasar Hukum Yang Mengatur Tentang Keselamatan
Pasien Dalam memberikan pelayanannya Rumah sakit
sebagai sebuah institusi diatur dalam UndangUndang
Rumah Sakit, dimana terdapat empat pasal dalam
undang-undang tersebut yang mengamanahkan
keselamatan pasien.
• Amanah keselamatan pasien dalam UndangUndang
Rumah Sakit telah dijabarkan lebih lanjut dalam
Peraturan Menteri Kesehatan No 1691 Tahun 2011
Tentang Keselamatan pasien. (Basabih, 2017 :150-
157).
• Keselamatan Pasien dalam Undang-Undang Rumah Sakit.

Dalam undangundang ini jelas diamanahkan mengenai keselamatan


pasien, berikut dibawah ini adalah rinciannya dalam pasal:

• Pasal 2 disebutkan bahwa penyelenggaraan Rumah Sakit didasarkan pada


nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan,
persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan
keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi social

• Pasal 3 ayat 2 yang menyebebutkan bahwa pengaturan penyelenggaran


Rumah Sakit bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap
keselamatan pasien.

• Pasal 13 yang mengatakan bahwa setiap tenaga yang bekerja dirumah


sakit harus mengutamakan keselamatan pasien.

• Pasal 43 secara khusus menjelaskan mengenai kewajiban penerapan


keselamatan pasien di Rumah Sakit (Kemkes, 2009).
Aspek Hukum Terhadap Patient
Safety
• Aspek hukum terhadap “patient safety” atau keselamatan
pasien adalah sebagai berikut:

1. UU Tentang Kesehatan & UU Tentang Rumah Sakit


Keselamatan Pasien sebagai Isu Hukum
Pasal 53 (3) UU No.36/2009 :
• “Pelaksanaan Pelayanan kesehatan harus
mendahulukan keselamatan nyawa pasien.”

Pasal 32 UU No.44/2009
• “Pasien berhak memperoleh keamanan dan keselamatan
dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit.
Pasal 58 UU No.36/2009
“Setiap orang berhak menuntut ganti rugi
terhadap seseorang, tenaga kesehatan,
dan/atau penyelenggara kesehatan yang
menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau
kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang
diterimanya.”
“…..tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang
melakukan tindakan penyelamatan nyawa
atau pencegahan kecacatan seseorang dalam
keadaan darurat.”
• Tanggung jawab Hukum Rumah sakit
Pasal 29b UU No.44/2009
• ”Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu,
antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan
kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan
Rumah Sakit.”
Pasal 46 UU No.44/2009
• “Rumah sakit bertanggung jawab secara hukum
terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas
kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan di RS.
Pasal 45 (2) UU No.44/2009
• “Rumah sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan
tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia.”
• Bukan tanggung jawab Rumah Sakit
Pasal 45 (1) UU No.44/2009 Tentang Rumah sakit
• “Rumah Sakit Tidak bertanggung jawab secara
hukum apabila pasien dan/atau keluarganya
menolak atau menghentikan pengobatan yang
dapat berakibat kematian pasien setelah adanya
penjelasan medis yang kompresehensif. “
• Hak Pasien
Pasal 32d UU No.44/2009
• “Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan kesehatan yang
bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional”

Pasal 32e UU No.44/2009


• “Setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanan yang efektif dan
efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi”

Pasal 32j UU No.44/2009


• “Setiap pasien mempunyai hak tujuan tindakan medis, alternatif tindakan,
risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap
tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan”

Pasal 32q UU No.44/2009


• “Setiap pasien mempunyai hak menggugat dan/atau menuntut Rumah
Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak
sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana”
Kebijakan yang mendukung
keselamatan pasien
– Pasal 43 UU No.44/2009
– RS wajib menerapkan standar keselamatan pasien
– Standar keselamatan pasien dilaksanakan melalui pelaporan
insiden, menganalisa, dan menetapkan pemecahan masalah
dalam rangka menurunkan angka kejadian yang tidak diharapkan.
– RS melaporkan kegiatan keselamatan pasien kepada komite yang
membidangi keselamatan pasien yang ditetapkan oleh menteri
– Pelaporan insiden keselamatan pasien dibuat secara anonym dan
ditujukan untuk mengoreksi sistem dalam rangka meningkatkan
keselamatan pasien.

•  
•  
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan
keselamatan dan keamanan, yaitu;
1. Usia
• Pada anak-anak tidak terkontrol dan tidak
mengetahui akibat dari apa yang dilakukan. Pada
orang tua atau lansia akan mudah sekali terjatuh
atau kerapuhan tulang.
2. Tingkat kesadaran
• Pada pasien koma, menurunnya respon terhadap
rangsang, paralisis, disorientasi, dan kurang tidur.
3. Emosi
• Emosi seperti kecemasan, depresi, dan marah
akan mudah sekali terjadi dan berpengaruh
terhadap masalah keselamatan dan keamanan.
4. Status mobilisasi
• Keterbatasan aktivitas, paralisis, kelemahan otot,
dan kesadaran menurun memudahkan terjadinya
resiko injuri atau gangguan integritas kulit.
5. Gangguan persepsi sensori
• Kerusakan sensori akan memengaruhi adaptasi
terhadap rangsangan yang berbahaya seperti
gangguan penciuman dan penglihatan.
6. Informasi / komunikasi
• Gangguan komunikasi seperti afasia atau tidak
dapat membaca menimbulkan kecelakaan.
7. antibiotik yang tidak rasional
• Antibiotik dapat menimbulkan resisten dan syok anafilaktik.

8. Keadaan imunitas
• Gangguan immunitas akan menimbulkan daya tahan tubuh yang kurang
sehingga mudah terserang penyakit.

9. Ketidakmampuan tubuh dalam memproduksi sel darah putih


• Sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap suatu
penyakit.

10. Status nutrisi


• Keadaan nutrisi yang kurang dapat menimbulkan kelemahan dan mudah
terserang penyakit, demikian sebaliknya, kelebihan nutrisi beresiko
terhadap penyakit tertentu.

11. Tingkat pengetahuan sebelumnya.


• Kesadaran akan terjadinya gangguan keselamatan dan keamanan dapat
diprediksi
SASARAN KESELAMATAN PASIEN

• Dalam Permenkes 1691/ Menkes/ Per/ VIII/ 2011


menyatakan bahwa setiap rumah sakit wajib
mengupayakan pemenuhan Sasaran Keselamatan Pasien.
Sasaran Keselamatan Pasien meliputi tercapainya hal-hal
sebagai berikut:
• Ketepatan identifikasi pasien;
• Peningkatan komunikasi yang efektif;
• Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai;
• Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien
operasi;
• Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan;
dan
• Pengurangan risiko pasien jatuh.
Menurut Institute of Medicine
(1999), medical error didefinisikan
• kesalahan medis The failure of a planned action to be
completed as intended (i.e., error of execusion) or
• the use of a wrong plan to achieve an aim (i.e., error of
planning). suatu kegagalan tindakan medis yang telah
direncanakan untuk diselesaikan tidak seperti yang
diharapkan (yaitu kesalahan tindakan) atau perencanaan
yang salah untuk mencapai suatu tujuan (yaitu kesalahan
perencanaan).
• Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis ini akan
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera
pada pasien, bisa berupa Near Miss atau Adverse Event
(Kejadian Tidak Diharapkan/KTD).
• Near Miss atau Nyaris Cedera (NC) merupakan suatu
kejadian akibat melaksanakan suatu tindakan
(commission) atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil (omission), yang dapat mencederai
pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi, karena
keberuntungan (misalnya,pasien terima suatu obat
kontra indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat),
pencegahan (suatu obat dengan overdosis lethal akan
diberikan, tetapi staf lain mengetahui dan
membatalkannya sebelum obat diberikan), dan
peringanan (suatu obat dengan overdosis lethal
diberikan, diketahui secara dini lalu diberikan
antidotenya).
• Adverse Event atau Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) merupakan
suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan
pada pasien karena suatu tindakan (commission) atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), dan
bukan karena “underlying disease” atau kondisi pasien.
• Kesalahan tersebut bisa terjadi dalam tahap diagnostik seperti
kesalahan atau keterlambatan diagnosa, tidak menerapkan
pemeriksaan yang sesuai, menggunakan cara pemeriksaan yang
sudah tidak dipakai atau tidak bertindak atas hasil pemeriksaan
atau observasi; tahap pengobatan seperti kesalahan pada prosedur
pengobatan, pelaksanaan terapi, metode penggunaan obat, dan
keterlambatan merespon hasil pemeriksaan asuhan yang tidak
layak; tahap preventive seperti tidak memberikan terapi provilaktik
serta monitor dan follow up yang tidak adekuat; atau pada hal
teknis yang lain seperti kegagalan berkomunikasi, kegagalan alat
atau system yang lain.
Tujuan keselamatan pasien secara
internasional adalah
I. Identify patients correctly (mengidentifikasi
pasien secara benar)
2. Improve effective communication
(meningkatkan komunikasi yang efektif)
3. Improve the safety of high-alert
medications (meningkatkan keamanan dari
pengobatan resiko tinggi)
4. Eliminate wrong-site, wrong-patient,
wrong procedure surgery (mengelinlinasi
kesalahan
• penempatan, kesalahan pengenalan pasien,
kesalahan prosedur operasi)
5. Reduce the risk of health care-associated
infections (mengurangi risiko infeksi yang
berhubungan dengan pelayanan kesehatan
6. Reduce the risk of patient harm from falls
(mengurangi risiko pasien terluka karena
jatuh
PRINSIP PASIEN SAFETY
1. Kesadaran (Awarenes) tentang nilai
keselamatan pasien Rumah sakit
2. Komitmen memberikan pelayanan
kesehatan berorientasi patien safety
3. Kemampuan Mengidentifikasi faktor resiko
penyebab insiden terkait patien safety
4. Kepatuhan Pelaporan insden terkait patient
safety
5. Kemampuan Berkomunikasi yang efektif
dengan pasien tentang faktor resiko
penyebab insiden terkait patient safety
6. Kemampuan Mengindentifikasi akar
masalah penyebab insiden terkait patent
safety
7. Kemampuan Memanfaatkan infomasi
tentang kejadian yang terjadadi unruk
mencegah kejadian berulang

Anda mungkin juga menyukai