Anda di halaman 1dari 50

PENGAMATAN MIKROSKOPIK YEAST DAN PEWARNAAN GRAM PENGAMATAN MIKROSKOPIK YEAST A.

Dasar Teori Motilitas bakteri Motalitas merupakan salah satu ciri penting pengkarakterisasian bakteri. Sifat ini diakibatkan oleh adanya alat moler cambut yang disebut flagella sehingga sel bakteri dapat berenang didalam lingkungan air. Motilitas sebagaian besar jenis bakteri motil pada suhu relatif rendah 15-25C dan mungkin tidak motil pada suhu 37C. Menurut Hastuti (2002) kebanyakan sel bakteri dapat bergerak dengan menggunakan flagel, akan tetapi ada bakteri yang tidak dapat bergerak karena tidak memiliki flagel. Hal ini sesuai dengan pernyataan Taringan (1988) yang menyatakan bahwa gerak bakteri terjadi pada bakteri yang mempunyai flagel, karena flagel ini merupakan alat gerak bagi sel bakeri. Flagel adalah bulu-bulu cambuk yang merupakan alat gerak sel motil bentuk batang dan spiral. Diameternya 12-30 nM dan berbentuk seperti benang panjang, terletak di sebelah luar dinding sel. Letaknya berbeda-beda pada tiap sel tergantung kepada spesiesnya. Menurut Taringan (1988) berdasarkan jumlah dan posisi flagel dapat dibedakan menjadi: Monotrik Lopotrik Amfitrik Peritrik : mempunyai satu flagel : mempunyai flagel pada salah satu ujung tubuh bakteri yang berjumlah lebih : mempunyai flagel pada sisi tubuh yang berlawanan : mempunyai banyak flagel pada permukaan tubuh

dari dua buah

Flagel tersusun atas tiga bagian yaitu:


1

Pangkal (basal body) merupakan bagian yang berhubungan dengan dinding dan membran plasma. Hook yang tersusun dari protein dan merupakan tempat melekatnya filament. Filament yang bentuknya seperti benang dan panjangnya bisa mencapai beberapa kali panjang tubuhnya serta tersusun dari rantai flagelin.

2 3

Menurut Gross (1995) struktur bakteri yang berflagel itu kaku dan dilengkapi dengan gelendong yang berbentuk spiral. Gelendong spiral tersusun atas protein yang disebut dengan flagelin yang merupakan unit dasar penyusun flagela. Dalam pengamatan gerak bakteri, ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu motilitas bakteri dan gerak brown. Menurut Volk (1988) kemampuan suatu organisme untuk bergerak sendiri disebut motilitas (daya gerak). Hampir semua sel bakteri spiral dan sebagian dari sel bakteri basil (batang) bersifat motil, sedangkan bakteri yang berbentuk kokus (bulat) bersifat tidak bergerak (immotil). Pergerakan pada bakteri yang bersifat motil menunjukkan pergerakan yang lebih kompleks, menuju ke arah tertentu (bukan gerak brown)sedangkan gerak pada bakteri yang bersifat tidak motil adalah gerak maju mundur secara zig-zag yang disebut dengan gerak brown. Gerak brown terjadi karena adanya benturan dengan molekul air (Volk, 1988). Fariaty (1995) juga menyatakan bahwa gerak brown adalah gerak partikel koloid yang bergerak dengan arah zig-zag, gerakan ini disebabkan adanya tumbukan antara molekul-molekul pelarut dengan molekul koloid. Tumbukan yang terjadi adalah lenting sempurna, artinya tenaga kinetik molekul pelarut dan partikel koloid sama tapi karena partikel koloid lebih besar maka gerakannya lebih lambat jika dibandingkan dengan molekul pelarut. Pada gerak brown, organisme bergetar dengan laju yang sama dengan menjaga hubungan ruang yang sama satu sama yang lain (Volk, 1988) Motilitas dapat diamati dengan baik pada biakan yang masih baru. Pada biakan yang sudah lama akan dapat menjadi penuh sesak dengan makhluk hidup yang giat dan banyak bakteri yang sudah mati, sehingga sangat sukar untuk mendapatkan sel yang motil, selain itu produksi asam dan produk yang bersifat racun dapat menyebabkan hilangnya motalitas sel bakteri pada biakan (Volk, 1988).

B. Metode Kerja Preparat Bakteri Hidup dari Biakan Cair Escherichia coli 1. Ambil setetes (4-5 ose) biakan secara aseptis menggunakan jarum ose. 2. Siapkan kaca penutup yang tepi-tepinya telah diolesi vaselin, kemudian tutupkan kaca penutup 3. Ambil preparat di mikroskop dengan pembesaran 100x, 400x, 1000x. Gambar sel-sel yang diamati pada perbesaran 1000x 4. Amati sifat pergerakan dan motilitas bakteri Preparat Bakteri Hidup dari Biakan Padat Staphylococcus aureus 1. Ambil 4-5 ose NaCl 0,9% pada obyek glass secara aseptis. 2. Ambil 1 ose biakan padat dan disuspensikan (tanpa perataan) pada obyek gelas 3. Siapkan kaca penutup yang tepi-tepinya telah diolesi vaselin, kemudian tutupkan kaca penutup 4. Amati preparat di mikroskop pada perbesaran 100x, 400x, 1000x. Gambar sel-sel yang anda amati pada perbesaran 1000x 5. Amati sifat pergerakan atau motolitas bakteri.

C. Hasil Praktikum Gambar sel-sel Escherichia coli Pergerakan sel : (+) Batang pendek (bentuk sel) Gambar sel-sel Staphylococcus aureus Pergerakan sel : (-) Bentuk sel bulat

Gambar sel-sel Saccharomyces cerevisiae Keterangan : Oval (bentuk sel) Tidak bergerak

D. Pembahasan Escherichia coli adalah satu-satunya bakteri dalam prkatikum yang memiliki pergerakan. Bakteri ini mempunyai flagella. Flagela ialah organel yang berbentuk seperti benang panjang dan berkelok-kelok merupakan alat pergerakan pada beberapa bakteri. Junlah dan susunan flagel bersifat khas pada tiap bakteri : Monotrikh : Satu flagel pada salah satu ujung organisme. Amfitrikh : Satu flagel pada tiap-tiap ujung kuman. Lopotrikh : Satu berkas flagel pada salah satu ujung. Peritrikh : Beberapa flagel tersebar pada seluruh permukaan bakteri. Sedangkan Staphylococcus aureus dan Saccharomyces cerevisiae tidak memiliki flagella sehingga tidak menunjukkan pergerakan. E. Kesimpulan Staphylococcus aureus tidak menunjukkan pergerakan sel Saccharomyces cerevisiae tidak menunjukkan pergerakan sel Escherichia coli menunjukkan pergerakan sel

PEWARNAAN GRAM A. Dasar Teori Pengenalan bentuk morfologis mikroba harus dilakukan pewarnaan terlebih dahulu, karena apabila tanpa proses pewarnaan maka bentuk dari mikroba tidak akan dapat teramati dengan jelas. Pewarnaan terhadap mikroba banyak dilakukan baik secara langsung (dengan bahan yang ada) maupun secara tidak langsung (melalui biakan murni). Tujuan dari pewarnaan tersebut adalah untuk : 1. Mempermudah melihat bentuk dari mikroba yang diamati 2. Memperjelas ukuran dan bentuk mikroba 3. Melihat struktur luar dan struktur dalam mikroba jika memungkinkan 4. Melihat reaksi mikroba terhadap pewarnaan yang diberikan sehingga dapat mengetahui sifat fisik dan kimia yang ada. Secara kimiawi, zat warna yang digunakan untuk mengamati mikroba, bersifat : 1. Basa : zat warna memiliki muatan pada bagian kationnya. Zat ini mewarnai struktur sel yang bersifat asam. Contoh : metal blue, kristal violet, fuksin basa, karbol fuksin. 2. Asam : zat warna yang memiliki muatan pada bagian anionnya. Zat ini mewarnai struktur sel yang bersifat basa. Contoh : eosin dalam bentuk gram Na-eosin, fuksin asam. 3. Netral : bila zat warna merupakan garam yang terdiri dari zat warna asam dan basa. Pewarnaan bakteri dapat dikelompokan menjadi 3 kelompok antara lain :
1. Pewarnaan Sederhana : hanya menggunakan 1 macam zat warna

Contoh : lactofenol cotton blue untuk pengamatan jamur. Pewarnaan ini khusus untuk bakteri tertentu (khususnya genus

Mycobacterium), yang memiliki kandungan lipida yang tinggi (terdiri dari 50% asam mikolat) yang bersifat impermeable oleh karena itu sel-sel tersebut harus diwarnai dengan bantuan pemanasan, sehingga meningkatkan kekuatan penembusan zat warna
6

ke dalam sel. Salah satu metode yang digunakan untuk tipe sel yang tahan terhadap pewarnaan adalah pewarnaan Ziehl-Neelsen (ZN). Tekniknya meliputi pewarnaan olesan dengan larutan karbol fuchsin pencucian dengan asam alkohol & kemudian pemberian warana tandingan dengan larutan metilen blue. Sel-sel bakteri yang tahan dekolorisasi dengan asam alkohol disebut sebagai bakteri tahan asam dan tetap berwarna merah karena mempertahankan warna karbol fuchsin (ZN+). Sel-sel bakteri yang tidak tahan asam akan menjadi tidak berwarna setelah dicuci dengan asam alkohol (ZN II) sehingga menyerap warna tandingan dan berwarna biru (ZN-).
2. Pewarnaan Diferensial : untuk memilah bakteri / identifikasi.

Contoh : Gram, ZN. Prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaaan diantara sel-sel mikroba atau bagian-bagian sel mikroba disebut teknik pewarnaan differensial. Dengan teknik ini biasanya digunakan lebih dari satu larutan zat pewarna atau reagen pewarna. Salah satu pewarnaan differensial yang paling penting dan paling luas digunakan untuk bakteri ialah pewarnaan gram. Dalam proses ini olesan bakteri yang terfiksasi dikenal larutan-larutan ungu kristal, larutan yodium, alkohol (bahan pemucat), dan safranin atau beberapa pewarna tandingan lain yang sesuai. Bakteri yang diwarnai dengan metode gram ini dibagi menjadi 2 kelompok :

Bakteri gram positif, mempertahankan zat pewarna ungu kristal sehingga berwarna ungu atau biru tua

Bakteri gram negatif, yang kehilangan warna ungu kristal ketika dicuci dengan alkohol, dan sewaktu diberi pewarna tandingan dengan warna merah safranin, tampak berwarna merah.

3. Pewarnaan Khusus : untuk melihat struktur tertentu pada sel bakteri.

Contoh : pewarnaan spora, flagella. Spora : pewarna utama (hijau malakit) diterapkan dengan pemasan supaya meresap ke dalam spora, sel-sel vegetatif terwarnai oleh pewarna tandingan safranin.

Pewarnaan Gram Metode pewarnaan ini pertama kali diperkenalkan oleh GRAM (1884). Gram menggunakan pewarnaan ini untuk mempelajari morfologi kuman yang didasarkan pada struktur dinding sel bakteri. Pewarnaan Gram membedakan semua jenis kuman atau bakteri menjadi dua golongan, yaitu : 1. Organisme Gram Positif
2. Organisme Gram Negatif

Disamping dapat menunjukkan ciri taksonomi, pewarnaan Gram dapat pula digunakan untuk menunjukkan korelasi sifat-sifat bakteri. Prosedur pewarnaan Gram ini dimulai dengan mewarnai sel bakteri yang sudah difiksasi dengan pewarna basa kristal violet (karbolgentian-violet). Kemudian diteruskan dengan iodium. Iodium dengan kristal violet akan membentuk plak yang tidak larut dengan air, dan agak larut dengan alkohol atau aseton. Sel-sel ini kemudian ditangani oleh alkohol, dengan kata lain dideferensiasi. Sel-sel Gram positif akan mempertahankan komplek iodium zat warna dan tetap berwana biru, selsel yang Gram negatif oleh alkohol akan kehilangan warnanya. Sel-sel tersebut kemudian diwarnai lagi dengan pewarna kontras (fuchsin) agar nampak. Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa pewarnaan Gram didasarkkan pada struktur dinding sel bakteri yang diamati. Dinding sel merupakan suatu struktur yang dapat memberikan bentuk dan kekuatan pada sel prokariot. Bakteri Gram positif dengan Gram negatif mempunyai perbedaan yang terletak pada dinding selnya. Meskipun strukturnya berbeda, susunan kimia dari dinding sel kedua kelompok bakteri ini tidaklah menunjukkan perbedaan yang mencolok. Bagian dinding sel yang memberikan sifat kaku ini disebut peptidoglikan (murein, mukopeptida). Porsi peptidoglikan dinding sel mungkin dapat dilarutkan dengan menggunakan enzim. Enzim yang lazim digunakan untuk keperluan ini adalah lisozim, enzim ini menghidrolisis ikatan N-asetilglukosamin dan asam Nasetilmuramat, yang menyebabkan dinding sel pecah menjadi beberapa kepingan
8

kecil. Dalam kondisi lingkungan yang normal, hal ini menyebabkan hancurnya seluruh sel. Akan tetapi jika bakteri ditempatkan dalam larutan gula yang mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan tekanan didalam sel, penghilangan dinding sel menyebabkan pelepasan isi sel yang dilindungi oleh membran tipis yang mudah rusak. Membran tipis yang berada didalam dinding sel ini dan yang mengandung isi cairan sel dinamakan membran sitoplasma / membran protoplasma. Apabila lapisan peptidoglikan diambil dari bakteri gram positif dalam sukrosa 10% - 20%, sel yang ketinggalan yang diselubungi oleh hanya membran protoplasma, dinamakan protoplas. Namun apabila prosedur yang sama dilakukan pada sel gram negatif, membran kuar yang protein-lipopolisakarida, tetap melekat pada membran protoplasma. Akibatnya, bakteri gram negatif yang kehilangan lapisan peptidoglikannya dinamakan sferoplas. Struktur peptidoglikan hanya dapat ditemukan pada sel prokariot saja (hampir semua sel prokariot). N-asetil muramat dan DAP tidak pernah ditemukan pada dinding sel eukariotik. DAP juga tidak ditemukann pada semua sel prokariot, asam amino ini ditemukan pada semua bakteri Gram positif dan Gram negatif. Pada umumnya (terutama pada kokus) DAP ini dapat diganti dengan lysin / asam amino lainnya. Asam amino pada protein pada umumnya mempunyai konfigurasi-L, akan tetapi asam amino pada konfigurasi-D, yaitu, D-Alanin dan DGlutamat. Perbedaan reaksi Gram bukanlah suatu fenomena yang mutlak dan kaku, tetapi merupakan perbedaan laju lepasnya kompleks ungu kristal iodium dari sel pada langkah pemucatan. Organisme Gram positif sekalipun dapat memperlihatkan reaksi Gram negatif bila mengalami pemucatan yang berlebihan.

Olesan bakteri yang dipanaskan secara berlebihan akan

menyebabkan pecahnya dinding sel. Dalam keadaan demikian maka sel-sel gram positif akan melepaskan warna primer dan menerima pewarna tandingan. Hal ini mendukung teori bahwa reaksi gram bergantung pada struktur dinding sel. Olesan yang baik hendaknya jangan terlalu tebal maupun terlalu tipis. Pada perwarnaan Gram, olesan yang terlampau tebal tidak akan memucat secepat seperti olesan dengan kerapatan sel yang normal.

Sebagai pemucat, etanol 95% bekerja paling lambat

sedangkan asetaon paling cepat sehingga pemucat yang pali banyak digunakan adalah campuran etano 95% dan seton (1:1). Namun bagi pemula pewarnaan Gram sebaiknya digunakna pemucat yang bekerja lambat yaitu etanol 95% untuk Sejarah biakan juga bisa mempengaruhi hasil pengamatan, mengurangi kemungkinan terjkadinya pemucatan yang berlebihan.

meliputi umur biakan serta keasaman atau alkalinitas (pH) medium tempat bakteri yang bersangkutan ditumbuhkan. Biakan organisme gram positif yang lebih tua (terutama bila memperlihatkan autolisis) dan yang ditumbuhkan dalam medium asam seringkali tampak Gram negatif / Gram variable (artinya biakan yang sama menampakan sel-sel baik Gram positif maupun Gram negatif). Hal ini berkaitan dengan permeabilitas dinding sel pada biakan tua yang menyebabkan hilangnya sifat Gram positif. Tetapi organisme Gram negatif tidak menjadi Gram positif terlepas dari umur / medium yang dipergunakan. Secara singkatnya, reaksi gram hanya dapat dipercaya bagi biakan berumur 24 jam / kurang. Dinding sel pada Gram positif : Bakteri Gram positif memiliki kandungan peptidoglikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan gram negatif, yakni 50% dari berat kering dinding sel bakteri yang nerlapis-lapis (> 40 lapis). Kerap kali mempunyai kandungan asam L,L-diaminopimelat / lysin yang menggantikan asam meso-diaminopimelat. Contohnya, Staphylococcus aureus, Streptococcus faecalis dan Sarcina lutea. Asam-asam amino yang ada bervariasi antar species. Kalau terdapat polisakarida didalam dinding sel bakteri Gram positif, maka polisakarida ini akan terikat kovalen dan kadar proteinnya pun rendah. Pada umumnya kandungan lipida pada dinding sel bakteri Gram positif rendah, kecuali pada Mycobacterium. Pada bakteri ini lipidanya kaya akan asma mikolat. Asam mikolat ini menyebabkan Mycobacteria ini tetap mempertahankan warnanya setelah dicuci dengan larutam pemucat yang berifat asam. Turunan asam mikolat ini bersifat toksik dan menyebabkan patogen. Pada bakteri Gram positf juga terdapat kandungan asam Teikoat. Asam ini merupakan polisakarida yang bersifat asam dan mengandung ulangan rantai gliserol dan ribitol (8-50 molekul) yang membentuk senyawa ester melalui jembatan fosfat. Beberapa
10

asam teikoat ini mengandung etirit / manit. Asam teikoat ini mengikat pada murein melalui sejenis ikatan fosfat amida. Asam teikoat ini mengikat ion magnesium yang berperan dalam membran sitoplasma sehingga memberikan ketahanaa pada suhu yang tinggi. Asam teikoat ini bermuatan negatif sehingga menyebabkan muatan negatif pada permukaan sel bakteri Gram positif. Fungsi lain dari asam ini sebagai pengatur dinding sel pada waktu melakukan pertumbuhan dan pembelahan sel. Sewaktu dalam pertumbuhan enzim otolisin akan merusak dinding sel yang lama untuk diganti dengan dinding sel yang baru. Daya kerja dari enzim otolisin ini harus diatur, oleh karena kerusakan yang terjadi pada dinding sel yang baru tumbuh, sehingga akan menyebabkan lisis. Asam teikoat ini akan mengatur oto lisin sehingga enzim ini bekerja bersam-sama dengan sintesis dinding sel. Dinding sel pada Gram negatif : Dinding sel pada sel bakteri Gram negatif kenih komples dibandingkan dengan Gram positif. Karena peptidoglikan yang dimiliki hanya 10% dari berat kering dinding sel yang hanya terdiri dari 1 lapis. Perbedaan utama kedua Gram ini terletak pada lapisan membran luar (outer wall layer) yang mempunyai struktur sebagai unit membran dan meliputi peptisoglikan. Lapisan ini tidak hanya terdiri dari fosfolipida saja, seoerti pada membran plasma tetapi juga mengandung polisakarida, protein dan lipida yang lainnya terikat secara kovalen dan merupakan 80%-90% dari berat kering dinding sel. Dengan adanya membran initi ini menyebabkan dinding sel bakteri ini kaya akan lipida (22%). Lipida dan polisakarida ini berhubungan erat dan membentuk struktur yang khas yang disebut lipopolisakarida (LPS). Lapisan luar ini bersifat impermeabel terhadap molekul yang besar, namun demikian dapat melalukan molekul yang kecil seperti nukleosida, oligosakarida, monosakarida dan asam amino. Hal ini disebabkan oleh adanya protein porin. Untuk setiap molekul akan didapatkan porin yang khusus. Tetapi kadangkala molekul yang besarseperti vitamin B12 dapat melewati lapisan membran luar yang disebabkan adanya porin. Porin ini juga berfungsi sebagai reseptor bakteriofag dan bakteriosin. LPS terdiri dari 3 bagian, yaitu : 1. 2. lipida A polisakarida initi
11

3.

polisakarida O (rantai O)

Pada bakteri Gram negatif ini, pada umumnya mureinnya hanya mengandung asam meso-diaminopimelat (tidak ada lysin) dan tidak terdapat jembatan-jembatan intrapeptida. Pada semua bakteri Gram negatif susunan peptidoglikannya sama. Untuk mempertahankan stabilitas lipopolisakarida adanya diperlukan Ca2+.

Kebanyakan padsa Gram negatif, lapisan murein baru dapat dicapai oleh enzim lisozim, yang dapat melarutkan murein, kalau ion-ion Ca2+ disingkirkan dengan menambahkan EDTA. Pembentukan khelat ini membebaskan sebagian lipopolisakarida. Pada bakteri Gram negatif tidak ditemukan adanya asam teikoat. Contonya pada bakteri Escherichia coli.

12

B. Metode Kerja Pewarnaan Gram Cara Kerja : 1. Pembuatan Preparat Olesan Bakteri Untuk Pewarnaan
a. Siapkan kaca obyek bebas lemak. Ambil 4-5 ose suspense sel Bacillus

subtilis (dari kultur cair) secara aseptis, kemudian dengan jarum ose sebarkan suspense bakteri tersebut secara merata dari tengah-tengah kaca obyek kea rah luas (posisi jarum ose horizontal). Bila biakan berasal dari biakan padat atau bukan kultur cair maka suspensikan dahulu sel-sel bakteri ke dalam larutan NaCl 0,85% selanjutnya lakukan cara diatas.
b. Biarkan olesan bakteri di udara, jangan dikeringkan dengan pemanasan. Bila

perlu pengeringan cepat, lewatkan preparat di atas api spiritus pada ketinggian kurang lebih 33 cm di atas api spiritus tersebut.
c. Lakukan fiksasi untuk melekatkan olesan bakteri pada kaca obyek, dengan

cara melewtkan olesan yang telah kering tersebut di atas api spiritus beberapa kali (bagian yang ada olesan bakteri menghadap ke atas) 2. Pewarnaan Gram
a. Tetesi preparat olesan bakteri yang telah dfiksasi dengan beberapa tetes

larutan karbolgentian violet (Gram I), biarkan selama 3 menit. Bilas dengan air. b. Tetesi preparat dengan larutan lugol (Gram II) beberapa tetes. BIarkan selama 1 menit. c. Bilas dengan air. d. Cuci dengan larutan Gram III (alkohol 96%) dengan cara mengeringkan preparat kemudian tetesi perlahan-lahan dengan Gram III hingga tidak ada pewarna yang terlunturkan.

13

e. Bilas preparat secara hati- hati dengan air. f. Tetesi preparat dengan larutan fuschin (Gram IV) beberapa tetes. Diamkan selama 2 menit. g. Bilas preparat dengan air. Kemudian keringkan di udara atau dengan cara menyerap kelebihan ait dengan tissue. h. Amati preparat di mikroskop. Gambar sel-sel reaksi gram yang terlihat pada mikroskop perbesaran 1000x. Amati preparat yang telah disiapkan juga yaitu preparat E. Coli dan S. aureus. C. Hasil Praktikum Pewarnaan Gram Gambar sel-sel Bacillus subtilis (1000x)

Warna sel : ungu Sel termasuk gram : (+)

Gambar sel-sel Escherichia coli (1000x)

Warna sel : Merah Sel termasuk gram : (-)

14

Gambar sel-sel S. aureus (1000x)

Warna sel : ungu Sel termasuk gram : (+)

Pembahasan Zat pewarna adalah garam yang terdiri dari ion positif dan ion negatif, yang salah satunya bewarna. Pada zat warna yang bersifat basa, warna itu akan berada pada ion positif (yaitu pewarna Cl-), sedangkan pada zat pewarna asam, warna itu pada ion negative (yaitu Na+ dan zat pewarna Cl-).

Pada pewarnaan Gram, pertama kali preparat ditetesi dengan olesan bakteri yang difiksasi dengan beberapa tetes larutan karbolgentian violet (Gram I). Penambahan ini dimaksudkan agar zat warnanya menjadi warna ungu.

Penambahan larutan lugol (Gram II) dimaksudkan agar terbentuk kompleks ungu kristal-yodium terbentuk lak yang tidak larut air, dan agak larut dalam alkohol, sehingga terlihat adanya warna ungu lembayung. Gram II disebut juga Mordant (memperkuat ikatan antara pewarna Gram I dengan dinding sel bakteri).

Penyucian dengan alkohol 96% (Gram II) dimaksudkan agar terjadi diferensiasikan antara 2 macam bakteri, yaitu: o Bakteri tetap bewarna ungu / biru, karena sel-selnya mempertahankan

kompleks iodium zat warna dan tetap berwarna biru.


o

Bakteri menjadi tidak berwarna karena dilarutkan oleh alkohol.

15

Tahap akhir, preparat ditetesi dengan larutan fuchsin (Gram IV) pewarna kontras, sehingga bakteri yang ungu tetap berwarna ungu, sedangkan bakteri yang tidak berwarna menjadi berwarna merah. Gram IV disebut juga Counterstain atau pewarna tandingan yaitu pewarna setelah proses pelunturan.

Jika sel-sel Gram positif setelah diwarnai Gram maka protoplas akan tetap terwarnai, tetapi akan kehilangan pewarnanya setelah ditambah dengan alkohol. Hasil penelitian menunjukan bahwa kompleks pewarna ini ada di dalam protoplast dan dinding bakteri pada bakteri Gram positif menunjukan penolakan kuat terhadap usaha yang telah dilakukan untuk mengekstraksi kompleks-kompleks warna.

Tujuan dilakukannya fiksasi untuk melekatkan sel-sel bakteri pada gelas preparat.

Olesan pada preparat dioles tipis merata pada permukaan objek glas agar bakteri dapat terlihat jelas di mikroskop.

Larutan dan urutan penggunaannya 1. Ungu kristal (UK) 2. Larutan yodium (Y) Gram Positif Sel berwarna ungu Kompleks UK-Y terbentuk di dalam sel; sel tetap berwarna ungu Dinding sel mengalami dehidrasi, pori-pori menciut; 3. Alkohol daya rembes dinding sel dan membran menurun, UK-Y tak dapat keluar dari sel; sel tetap ungu 4. Safranin Sel tak terpengaruhi, tetap ungu Gram Negatif Sel berwarna ungu Kompleks UK-Y terbentuk di dalam sel; sel tetap berwarna ungu Lipid terekstrasi dari dinding sel, pori-pori mengembang, komplek UKY keluar dari sel; sel-sel menjadi tak berwarna Sel menyerap zat pewarna ini, menjadi merah
16

Zat pewarna lembayung dan iodium membentuk membentuk senyawa yang kompleks. Beberapa marga bakteri melepaskan zat pewarna dengan mudah apabila dicuci pada bakteri melepaskan zat pewarna tetap bertahan walau dicuci dengan alkohol 95%. Organisme yang tidak dapat menahan zat pewarna setelah dicuci dengan alkohol 95% disebut organisme Gram negatif, sedangkan yang dapat menahan zat pewarna Gram disebut Gram positif. Karena bakteri Gram negatif tidak bewarna setelah dicuci dengan alkohol, sehingga akan memberikan warna yang lain, biasanya merah safranin, oleh karena itu bakteri gram negatif akan memberikan warna merah. Jika alkohol tidak dapat mencuci zat berwarna biru atau biru lembayung dari gram positif, pewarna safranin (sebagai zat warna tandingan) tidak akan berpengaruh dan sel bakteri gram positif akan tetap bewarna biru atau biru lembayung. Perbedaan pewarnaan ini disebabkan dinding sel kedua bakteri tersebut berbeda. Kompleks zat pewarna iodium akan tertangkap antara dinding sel dan membran sitoplasma organisme gram positif, sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan penyucian alkohol memungkinkan kompleks zat pewarna iodium dapat disingkirkan dari sel. Pada saat pewarnaan Gram, pada bakteri Gram Positif dihasilkan warna ungu, sedangkan pada bakteri Gram negatif dihasilkan warna merah. Faktor yang menyebabkan timbulnya warna ungu atau merah dibedakan atas:
1.

Berdasarkan lipid penyusun dinding selnya : Pada bakteri Gram negatif, kosentrasi lipid pada dinding selnya tinggi sehingga

pada pelunturan dengan Gram III akan terbentuk pori-pori besar pada dinding sel. Akibat pewarna ungu yang mewarnai dinding sel bakteri akan merembes keluar dari dinding sel dan dengan pemberian couterstain dinding sel akan mengikat warna merah. Pada bakteri Gram positif, kosentrasi lipid penyusun dinding sel rendah sehingga pada pemberian Gram III pori tidak membesar dan dinding sel tetap terwarnai ungu dan tidak bisa lagi mengikat warna merah dari counterstain. 2. Berdasarkan ada/tidaknya senyawa Mg Ribonukleat : Dinding sel bakteri Gram positif mengandung senyawa Mg Ribonukleat yang mempunyai kecenderungan membentuk kompleks dengan pewarna Gram I sedangkan bakteri Gram negatif tidak mengandung senyawa tersebut pada dinding selnya.
17

D. Kesimpulan Pewarnaan Gram


a.

Escherichia coli

warna sel : negatif

: merah warna sel : ungu

Termasuk Gram
b.

Staphylococcus aureus Termasuk Gram Bacilus subtilis warna sel : ungu Termasuk gram : positif

: positif

c.

Warna ungu pada bakteri Gram positif disebabkan kosentrasi lipid penyusun dinding sel rendah dan memiliki senyawa Mg ribonukleat yang membentuk kompleks. Sedangkan warna merah pada bakteri Gram Negatif dikarenakan konsentrasi lipid yang tinggi dan tidak memiliki senyawa Mg ribonukleat.

18

PEWARNAAN ZN DAN SPORA


A. Dasar Teori Pewarnaan ZN (Ziehl Neelsen) Zat Pewarna Ziehl Neelsen disebut juga pewarnaan tahan asam dan termasuk pewarnaan diferensial yang dapat membedakan bakteri tahan asam dan bakteri yang tidak tahan asam. Pewarnaan ZN juga digunakan untuk membantu mengidentifikasi organisme dalam marga Mycobacterium. Marga ini mempunyai banyak organisme yang menimbulkan penyakit / yang bersifat patogen virulen. Contohnya dari kelompok tuberculosis dan lepra. Bakteri ini dikatakan tahan asam karena jika diwarnai dengan karbol-fushin (zat pewarna merah), maka sifat kimianya yang unik menahan zat warna walaupun olesan yang terwarnai telah dicuci dengan alkohol asam (etanol 96% dengan asam hidroklor 3%). Organisme menahan fuchsin karbol walaupun dilunturkan dengan asam disebut bakteri yang tahan asam. Sifat tahan asam ini disebabkan oleh adanya adam mikolat. Bakteri yang tahan terhadap asam seperti Mycobacterium bersifat patogen. Suatu Mycobacterium dikatakan tahan asam karena dapat mempertahankan zat pewarna merah ZN I ( karblfuchisin ) meskipun dicuci dengan alkohol. Perlakuan ini menghilangkan zat pewarna dari organism lain dalam olesan. Pengecualian terdapat pada bakteri patogen
19

yang menimbulkan penyakit dan berbentuk seperti jamur yang diklasifikasikan dalam marga Nocardia. Penyucian yang terus menerus menyebabkan nocardia akan kehilangan zat warna. Bakteri yang sifat dindingselnya tahan asam (ZN +) akan tetap mengikat warna merah setelah pelkunturan, sebaliknya bakteri yang tidak tahan asam (ZN-) akan melepas warna merah setelah pelunturan dan dengan pemberian cunterstain ( pewarnaan setelah proses pelunturan) akan mengikat warna conterstain/ungu.

Fungsi dari masing masing ZN : 1. ZN I 2. ZN II 3. ZN III : Pewarnaan Primer : Sebagai proses pelunturan :sebagai pewarnaan pembanding

Pereaksi Larutan ZN I (carbol- fuchisin) Larutan ZN II ( alcohol HCL ) Larutan ZN III ( biru metilen )

Bakteri Tahan Asam Merah Merah Merah

Bakteri Tidak Tahan Asam Merah Tidak Berwarna Biru

Zat-zat pewarna yang lain sejumlah prosedur pewarnaan khusus tambahan digunakan untuk mewarnai bagian-bagian sel bakteri. Termasuk di dalamnya adalah teknik untuk mewarnai kapsul, dinding sel, asam nukleat, flagela, endospora, dan struktur-struktur lain. Semua prosedur pewarnaan ini melibatkan penggunaan 2 zat pewarna khusus / lebih,

20

namun tidak satupun dari zat pewarna ini digunakan secara rutin dalam mengidentifikasi bakteri. Beberapa bakteri sulit diwarnai dengan pewarnaan gram. Pewarnaan ini disebut juga pewarnaan acid fast. Pewarnaan ini digunakan untuk mengidentifikasi organisme bermarga Mycobacterium dan Spirocheta.

Contoh bakteri yang tahan asam, yaitu : Mycobacterium Sarcina lutea Spora kuman Askospora jamur-jamur tertentu Rangka luar serangga Benda inklusi pada paru-paru penderita pneumonia lemak Pigmen lipid pada hati tikus Staphylococcus aureus. Bentuknya bulat / lonjong (0,8-0,9 mikron), jenis yang tidak bergerak, tidak bersimpai, tidak berspora dan Gram positif. Tersusun dalam kelompok seperi buah anggur. Pembentukan kelompok ini terjadi karena pembelahan sel terjadi dalam 3 bidang dan sel-sel anaknya cenderung untuk tetap berada di dekat sel induknya. (M.D. Satish Gupte, 1987)

21

Mycobacterium tuberculosis. Batang lurus atau sedikit membengkok,kadang-kadang bercabang. Bentuk filamen atau yang menyerupai miselium dapat ditemukan tetapi mudah patah dan menghasilkan bentuk batang atau koloid. Tahan terhadap asam dan alkaloid dalam salah satu stadium pertumbuhannya. Tidak mudah diwarnai dengan pewarnaan Gram tetapi dianggap bersifat gram positif. Tidak bergerak. Tidak berspora. Tidak membentuk kapsul dan tidak membentuk konidia. Sel-sel mengandung banyak lemak, terutama dinding selnya. Ada spesies yang berpigmen kuning atau jingga. Semua spesies bersifat erob. Pertumbuhan sangat lambat atau lambat., koloni-koloni baru terlihat setelah 2 hari sampai 8 minggu setelah pengeraman pada suhu optimum. Dapat menyebabkan penyakit-penyakit tuberkulosa, lepra dan granuloma nekrotik khronis. Spesies-spesies ditemukan dalam tanah , air, pada binatang berdarah panas dan dingin.

Pewarnaan Spora Spesies-spesies bakteri tertentu akan menghasilkan spora, diluar sel vegetatif (eksospora) / didalam sel vegetatif (endospora). Contoh bakteri pembentuk spora adalah Bacillus, Clostridium, Thermoactinomyces, dan Sporosarcina. Ini adalah tubuh yang
22

secara metabolik dorman, dihasilkan pada fase yang lanjut pada pertumbuhan sel dan pada kondisi-kondisi yang sesuai, akan berkecambah dan menghasilkan sel yang sama seperti asalnya / vegetatif. Spora bersifat tahan terhadap banyak bahan fisik dan kimiawi. (Bibiana W.Lay, 1994) Jenis-jenis bakteri tertentu terutama yang tergolong dalam genus Bacillus dan Clostridium, membentuk suatu struktur didalam sel pada tempat-tempat yang khas, disbut endospora. Endospora dapat bertahan hidup dalam keadaankekurangan nutrient, tahan terhadap panas dan unsur-unsur fisk lainnya seperti pembekuan, kekeringan, radiasi ultraviolet serta terhadap bahan-bahan kimia yang dapat menghancurkan bakteri yang tidak membentuk spora. Ketahanan tersebut disebabkan oleh adanya selubung spora yang tebal dan keras. Endospora merupakan bentuk kehidupan paling resisten yang diketahui sejauh ini. Organisme yang bersangkutan dapat bertahan dalam debu dan tanah selama bertahun-tahun. Misalnya, adanya endospora dalam debu dapat menjelaskan mengapa Bacillus merupakan kontaminan umum dalam laboratorium. Sifat endospora yang demikian, menyebabkan dibutuhkannya perlakuan yang keras dalam pewarnaan. Prosedur pewarnaan gram misal tidakdapat mewarnainya. Hanya bila bakteri diberi perlakuan panas yang cukup, pewarna yang sesuai dapat menembus endospora. Tetapi sekali pewarna tersebut memasuki endospora, sulit dihilangkan. Ada dua metode umum yang sering digunakan, yaitu : metode Schaeffer-Fulton dan metode Dorner. Yang dipakai dalam percobaan (prosedur) adalah metode Schaeffer-Fulton. Sedangkan metode Dorner menggunakan nigrosin dan menghasilkan spora yang berwarna merah dan sporangium yang tidak berwarna. Ukuran dan letak spora didalam sel merupakan ciri-ciri yang digunakan untuk membedakan spesies-spesies bakteri yang membentuknya. Merupakan keadaan istirahat kuman yang sangat kebal dan ditemukan pada genus misalnya bacillus, clostridium, sporosarcima (kokus gram positif) dan coxiella burnetti. Tidak dapar dihancurkan dengan cara biasa dengan memndidihkan beberapa jam. Dapat dimatikan dengan memasaknya dalam otoclaf pada tekanan 15lb dan suhu 1210C selama 20 menit, sifat spora yang khas adalah adanya asam dipikolinat 5% samapai 20% yang tidak ditemukan pada sel negatif dan adanya kandungan kalsium yang tinggi. Sifat kekebalannya terhadap proses persakan oleh cara-cara fisik dan kima ialah akibat faktorfaktor tidak permeabelnya kulit dan selubung spora, kandungan air yang rendah, aktivitas
23

metabolisme yang rendah serta kandungan kalsium dan asam dipikolinat yang tinggi. Spora dari berbagai kuman mempunyai sifat alir antigenik yang berbeda. Spora bersifat dangat sukar diwarnai dan perlu perwarnaan khusus supaya dapat dilihat, misalnya : 1. Modifikasi cara Ziehl neelsen 2. cara Gram 3. cara Moller (M.D.Satish Gupte, 1987) Fungsi spora adalah untuk mempertahankan diri dari suasana luar yang buruk misalnya keadaan kering. Spora bersifat tahan terhadap pansa, pengeringan dan pembekuan dan zat-zat kiimia beracun. Bentuk-bentuk spora : 1. Terletak ditengah (sentral), membengkak 2. Terletak di tengah tapi tidak membengkak 3. Subterminal, membengkak 4. Subterminal, tidak membengkak 5. Terminal, membengkak 6. Terminal, tidak membengkak Rangsangan yang memulai pembentukan spora tidak diketahui dengan jelas. Mungkin ada kaitannya dengan hilangnya zat-zat gizi eksogen. Pembentukan spora dimulai dengan timbulnya daerah bening didekat salah satu ujung sel yang lambat laun makin keruh dan membentuk permulaan spora. Spora yang masuk mempunyai pusat inti yang dikelilingi oleh dinding spora, suatu selaput yang liat (nantinya akan menjadi dinding sel). Di luar kulit spora ini terdapat selubung spora yang berlapis-lapis, menutupi seluruh spora. Beberapa spora mempunyai lapisan luar bagi yang disebut eskosporium yang memiliki benjolan dan lekukan. Jika dipindahkan pada kondisi pertumbuhan yang cocok, maka spora akan mulai berkembang. Spora ini akan kehilangan sifat kelmbamannya dan mulai membengkak. Dinding spora hilang dan sel benih mulai muncul dengan merobek selubung spora. Sel benih ini lalu memnjang dan memnbentuk kuman vegetatif. Pleomorfisme merupakan sifat dari beberapa jenis kuman yang memperlihatkan keanekaragamana bentuk dan ukuran sel-selnya. Mungkin hal ini terjadi akibat gangguan
24

sintesa dinding sel. Involvusi adalah sifat dari jenis kuman tertentu (misalnya kuman pes, gonokokus) menunjukkan bentuk yang membengkak dan lain daripada bentuk yang umum pada biakan tua terutama jika berada di dalam suasana yang mengandung kadar garam tinggi. Mungkin hal ini terjadai akibat gangguan sintesa dinding sel akibat aktivitas enzim autolitik. (M.D.Satish Gupte, 1987) Cara-cara pewarnaan spora ialah : 1. Modifikasi pewarnaan tahan asam Tuangi sediaan selama 3 samapai 6 menit. Beri larutan asam sulfat 0,5% atau asam nitrat 2% dalam alkohol absolut untuk melunturkan zat warna. Cuci. Tuangi zat warna kedua yaitu larutan metilen biru 1%. Cuci dengan air dan periksa di bawah lensa imersi. Spora akan berwarna merah terang dan bagian vegetatif kuman berwarna biru. 2. Cara Moller Sediaan yanh telah direkatkan diletakkan diatas beker berisi air mendidih. Segera setekah uap dari beker mengembun pada bagian bawah gelas sediaan, beri larutan hijau malakit. Biarkan selama 1 sampai 2 menit. Cuci dan warnai dengan zat warna kedua yaitu fuksin karbol encer. Bacillus sublitis. Bakteri ini berbentuk batang lurus gram positif berukuran 1,5 x 4,5 mikron, sendiri-sendiri atau tersusun dalam bentuk rantai, bergerak dan tidak bersimpai. Tumbuh pada agar darah membentuk zona hemolisis beta yang lebih lebar. Dapat juga tumbuh pada kaldu, agar gizi, dan lain-lain. Bakteri ini tidak membuat toksin apapun, beberapa jenis membuat hemolisin yang dapat larut. Kuman ini bersifat patogen oportunis, menyebabkan infeksi pada telur dan septikemia. Dapat mencemari botol transfusi darah sehingga melisiskan sel darah. (M.D.Satish Gupte, 1987) Escherichia coli. Batang lurus, bergerak dengan flagel peritrih atau tidak dapat gergerak. Mudah tumbuh pada perebenihan sederhana. Laktosa diragikan oleh hamper semua spesies dari genus ini. Spesies ini ditemukan di dalam usus mamalia, dan bersifat patogen opportunis.

25

B. Metode Kerja Pewarnaan Zn

1. Siapkan preparat olesan bakteri Staphylococcus aureus yang telah difiksasi. 2. Tetesi dengan bebrapa tetes larutan carbol-fuchsin (ZN I). Panaskan di atas api spiritus hingga timbul uap. Sisihkan dari api hingga uap hilang. Kemudian panaskan lagi hilang timbul uap lagi dan lakukan lagi seperti di atas sebanyal 2-3 kali (selama 4-5 menit), Jaga jangan sampai larutan pewarna mendidih atau mengering. 3. Dinginkan preparat. Bilas air, tetesi dengan larutan ZN II (larutan alkoholHCL) hingga tidak ada pewarna yang terlunturkan. 4. Bilas secara hati-hati dengan air. 5. Warnai dengan pewarna pewarna tandingan (ZN III), yaitu larutan biru metilen selama 30 detik. 6. Bilas dengan air. Kemudian kering-udarakan atau dikeringkan dengan cara menyerap kelebihan air dengan kertas saring atau tissue. 7. Amati di bawah mikroskop pada perbesaran 400X dan 1000X. Gambar bentuk sel dan reaksi pewarnaan tahan asam yang diamati pada perbesran 1000X. Pewarnaan Spora
26

1. Siakan preparat olesan Bacillus subtillis yang telah difiksasi.

2. Tetesi dengan beberapa tetes larutan malachite-green (SF I). Panaskan di atas api spiritus hingga timbul uap. Sisihkan dari api hingga uap hilang. Kemudian panaskan lagi hingga timbul uap lagi dan lakukan lagi seperti di ats sebanyak 2-3 kali (selama 4-5 menit). Jaga jangan sampai larutan pewarba mendidih atau mongering, tambahkan lagi larutan SF I selama pemansaan untuk mencegah pengeringan. 3. Dinginkan preparat. Bilas dengan air hingga tidak ada pewarna yang terlunturkan. 4. Tetesi dengan larutan fuchsin basa selama 1 menit.
5. Bilas dengan air. Kemudian kering-udarakan atau dikeringkan dengan cara

menyerap kelebihan air dengan kertas saring atai tissue. 6. Amati di bawah mikroskop pada perbesaran 400X dan 1000X. Gambar bentuk sel dan reaksi pewarnaan tahan asam yang anda amati pada perbesaran 1000X. 7. Lakukan pengamatn juga preparat Escherichia coli yang telah disiapkan.

C. Hasil Praktikum Pewarnaan Zn

27

Gambar sel-sel Staphylococcus aureus (1000X)

Warna sel : biru ungu Sel termauk ZN : (-) / tidak tahan asam

Gambar sel-sel Mycobacterium tuberculosis (1000X)

Warna sel : merah Sel termauk Z : (+) / tahan asam

Pewarnaan Spora

28

Gambar Bacillus subtilis (1000X)

Escherichia coli (1000X)

Bentuk sel vegetatif : batang (basil) Warna sel Warna spora Letak spora : merah : hijau : central (tengah)

Coccobasil merah -

29

D. PEMBAHASAN Pewarnaan Zn Pada pewarna Zn langkah pertama yang dilakukan adalah preparat ditetesi dengan larutan carbol-fuchin (Zn I) berwarna merah, kemudian ditambahkan larutan Zn II (larutan alkohol) sampai tidak ada pewarna yang dilunturkan. Setelah itu ditambahkan larutan Zn III (larutan biru metilen) yang digunakan sebagai pewarna tandingan. Jika warnanya tetap merah, maka termasuk Zn (+) karena dapat tahan asam, sedangkan Zn (-) akan melepaskan warna merah sehingga menjadi tidak bewarna atau biru-ungu. Pada dasarnya, pewarnaan Zn digunakan untuk mewarnai beberapa bakteri yang tidak dapat / sulit diwarnai dengan pewarna Gram, contohnya pada Mycobacterium dan Spirochaeta.
a. Mycobacterium TBC mempunyai lapisan lilin sangat tebal disebelah luar

dinding sel sehingga pewarna tidak dapat masuk ke dalam dinding sel. Untuk memudahkan penetrasi pewarna melalui lapisan lilin tersebut, diperlukan pemanasan dan juga penambahan fenol 5% pada pewarna ZN I. Sebagai larutan pemucat / peluntur pada pengecatan ini digunakan asam alkohol. Bakteri-bakteri yang sifat dinding selnya tahan asam (ZN+) akan tetap mengikat pewarna pertama / merah setlah pelunturan.
b. Staphyococcus aereus memberikan warna ungu. Ini dikarenakan bakteri ini

tidak mempunyai lapisan lilin pada struktur dinding selnya. Bakteri ini yang tidak tahan asam (ZN-) akan melepaskan pewarna pertama / merah setelah pelunturan dan dengan peberian counterstain akan mengikat warna counterstain / ungu. Pewarnaan Spora

30

Pewarnaan spora termasuk salah satu contoh pewarnaan selektif spora pada umumnya dihasilkan oleh Bacillaceae. Spora pada umumnya tidak terdapat pada kultur yang muda dan menjadi banyak pada kultur yang tua. Pembentukan spora segera terjadi pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Spora sangat tahan terhadap panas, kekeringan, radiasi, desinfektan dan pembekuan untuk jangka waktu yang lama. Fungsi Spora adalah pertahanan diri terhadap lingkungan yang ekstrem. Biasanya istilah spora dipakai untuk menyebut alat pembiakan yang terdapat pada jaringan, ganggang, lumut, paku-pakuan. Istilah spora pada bakteri mempunyai arti yang lain. Spora baktreri merupakan struktur yang tahan panas dan tahan bahan kimia, dibentuk dalam usaha mengamankan diri terdapat pengaruh buruk dari luiar yang tidak menguntungkan bagi bakteri tersebut. Endospora merupakan protoplasma yang terkonsentrasi dan dilindungi oleh suatu selubung spora yang tebal dan kuat. Masing-masing sel bakteri akan membentuk satu sel spora yang akan dilepaskan ke lingkungan, setelah terlepas dari sel vegetatifnya. Spora akan tetap inaktif hingga kondisi-kondisi lingkungan yang cocok untuk perkecambahan spora. Masing-masing spora akan menjadi satu sel sesuai dengan sel induknya dalam semua sifatnya. Spora bakteri berfungsi sebagai mekanisme pertahanan dan kelanggengan jenis-jenis bakteri. Lokasi spora didalam sel bisa terletak pada sentral (tengah) dan juga bisa terletak pada subterminal maupun terminal. Lokasi spora akan membantu identifikasi dari berbagai spesies spora. Sifat spora yang khas adalah adanya asam dipikoilinat 5 % sampai 20 % yang tidak ditemukan pada sel negative dan kandungan kalsiumnya yang tinggi. Sifat kekebalannyaq terhadap proses perusakan oleh cara-cara fisik dan kimia ialah akibat faktor tidak permeabelnya kulit dan selubung spora, kandungan air yang rendah, aktivitas metabolisme yang rendah, aktivitas enzimatik, yang rendah serta kandungan kalsium dan asam dipikoilinat yang tinggi. Spora dari berbagai bakteri memiliki sifat antigeniknya yang berbeda. Spora bersifat sangat sukar diwarnai dan perlu pewarnaan khusus supaya dapat dilihat. Spora tahan terhadap pewarnaan biasa, tetapi pewarnaan biasa dapat di paksa masuk ke dalam spora dengan cara pemanasan (pori-pori spora membesar sehingga zat warna dapat masuk). Sekali spora menyerap zat warna maka spora tidak mudah di dekolorisasi, sehingga zat warna dapat dengan mudah dicuci dari sel vegetatifnya. Karena itu, saat olesan dicuci dan diberi zat warna tandingan dengan zat warna
31

kedua, spora akan tetap mempertahankan warna pertama dan sel vegetatifnya akan menunjukan warna dari pewarna kedua.

E. KESIMPULAN Pewarnaan ZN : Staphylococcus aerus warna sel : ungu : merah Termasuk Zn : negatif Mycobacterium tuberculosis warna sel Termasuk Zn : positif Zn positif memberikan warna merah (dapat mempertahankan warna) yang menunjukan bahwa bakteri tersebut tahan asam. Sedangkan bisa menimbulkan warna ungu (tidak dapat mempertahankan warna merah sehingga menjadi tidak bewarna, dan pada akhirnya menyerap warna tandingan), maka bakteri tersebut tergolong bakteri yang tidak tahan asam. Pewarnaan Spora Bacillus subtilis Bentuk sel vegetatif Warna sel Warna spora Letak spora Escherichia coli Bentuk sel vegetatif Warna sel : batang : merah : batang : merah : hijau : sentral / subterminal / terminal

32

JAMUR A. Dasar Teori Jamur termasuk eukariota, dapat bersifat uniseluler maupun multiseluler, tidak berklorofil, memiliki spora yang digunakan untuk reproduksi, bersifat kemoheterotrof, aerobik, berfungsi sebagai dekomposer dalam rantai makanan dalam hal kelangsungan hidup. Karena tidak memiliki klorofil, jamur tidak dapat menghasilkan sumber energi sendiri melainkan memperoleh energi dari tumbuhan lain yaitu dengan cara mengabsorbsi senyawa organik dari organisme lain serta mengeluarkan enzim ekstraseluler untuk mendegradasi senyawa komplek menjadi senyawa sederhana (Kemoheterotrof). Berdasarkan sifat ketergantungan dalam kelangsungan hidup jamur, jamur disebut parasit dan juga dapat disebut saprofit. Jamur disebut parasit bila hidup pada sel inang, sedangkan bersifat saprofit bila hidup pada benda mati. Jamur atau fungi adalah tumbuhan yang berinti, berspora, tidak berklorofil, berupa sel atau benang bercabang cabang, dengan dinding dari selulosa atau kitin, atau dari keduanya, dan pada umumnya berkembangbiak secara seksual dan aseksual. Ciri ciri spesifik dari fungi : 1. Memiliki inti sel 2. Memproduksi spora 3. Tidak mempunyai klorofil, sehingga tidak bisa berfotosintesis 4. Dapat berkembangbiak secara aseksual maupun aseksual 5. Beberapa fungi memiliki bagian-bagian tubuh berbentuk filamen dengan dinding sel mengandung selulosa atau kitin, dan bisa keduanya. Hifa adalah bentuk tubuh jamur yang sesungguhnya. Struktur berbentuk mirip payung yang biasa dikenal orang sebagai jamur tidak lain hanyalah alat reproduksi yang dikenal sebagai tubuh buah, yang muncul hanya sewaktu-waktu. Hifa dapat dibedakan menjadi 2 macam : 1. 2. Hifa vegetatif atau hifa tumbuh Hifa fertil yang membentuk bagian reproduksi. Pada kebanyakan kapang, hifa

ini tumbuh pada bagian permukaan tetapi pada beberapa kapang terendam.
33

Struktur hifa pada kapang dibedakan menjadi 2, yaitu : 1.Hifa tidak bersekat atau non septat (inti sel tersebar sepanjang hifa)

Zygomycetes Reproduksi seksual yang disebut zygospora dengan membentuk spora seksual. Zygospora berasal dari 1 misellium yang sama atau 2 misellium yang berbeda. Zygospora dan oospora dilindungi oleh dinding yang tebal dan kuat, sehingga spora menjadi tahan terhadap pengeringan dalam waktu yang lama. Contoh jamur golongan zygomycetes adalah Mucor dan Rhizopus. Oomycetes Oomycetes disebut juga fungi tingkat rendah. Beberapa tergolong kapang air dari yang sederhana sampai yang kompleks. Kapang air yang sederhana bersifat uniseluler dengan tidak membentuk misellium, sedangkan yang lain pertumbuhannya dengan membentuk misellium. Kapang ini melakukan reproduksi aseksual. Contohnya, Allomycetes melakukan reproduksi aseksual dan seksual. 2.Hifa bersekat atau bersepta Ascomycetes. Spora seksual yang dibentuk oleh Ascomycetes disebut askospora. Askospora terbentuk dari 2 sel yang dapat berasal dari misellium yang sama atau dari 2 misellium yang berbeda. Contoh, Aspergillus dan Penicillium. Basidiomycetes Basidiomycetes memproduksi spora seksual yang disebut Basidium dan sporanya disebut Basidiospora. Contohnya, Agaricus campestris. Klasifikasi Jamur termasuk divisi Mycota dan dibagi lagi menjadi dua subdivisi, yaitu Myxomycotina dan Eumycotina. Subdivisi Myxomycotina dibagi dalam tiga kelas, yaitu Pseudomyxomycetes dan Plasmodiophoromycetes, Myxomycetes. Sedangkan Eumycotina dibagi dalam enam kelas, yaitu Chytridiomycetes, Hyphochytridiomycetes, Oomycetes, Zygomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes. Pseudomyxomycetes tidak mudah dikenali di alam bebas karena tubuh buahnya hanya tampak sebentar. Hal ini, dikarenakan kecilnya talus pada tahap vegetatif dan
34

biasanya

karena

keseluruhannya

kurang

menarik.

Pada

tahap

vegetatif,

Pseudomyxomycetes terdiri dari sel yang tidak berdinding, intinya yang satu haploid. Sel ini berupa satu tetes protoplasma yang mirip dengan suatu amoeba oleh sebab itu disebut sebagai miksamuba. Pada suatu waktu tertenti, miksamuba miksamuba berkumpul menjadi satu kelompok lendir, tetapi tiap selnya masih tetap tampak sendiri sendiri. Oleh karena itu, kelompok lendir ini disebut pseudoplasmodium. Plasmodiophoromycetes mempunyai banyak kesamaan dengan jamur jamur dari Myxomycetes. Akan tetapi, tidak menghasilkan tubuh buah. Kelas ini terdiri dari satu ordo, yaitu Plasmodiophorales dan ordo ini terdiri dari satu famili, yaitu famili Plasmodiophoraceae. Kebanyakan hidup sebagai parasit pada ganggang atau pada jamur air. Pembelahan inti dalam fase plasmodium berlangsung menurut suatu cara yang hanya kedapatan pada protozoa. Tiap inti membelah diri dengan membentuk gelendong, sedikit demi sedikit terpisah atau bergeser dari bidang ekuator menuju ke kutub yang berdekatan. Kemudian nukleolus membagi diri atas dua bagian dan bagian bagian itu bergerak mengikuti pergerakan kelompok kromosom yang menuju ke kutub. Spora istirahat tumbuh menghasilkan satu sel kembar berinti satu, berflagel dua taksama. Myxomycetes tumbuh di tempat tempat lembab, teduh, sedikit sekali yang suka hidup di tempat tempat panas dan terbuka. Jamur lendir juga suka memakan bakteri, protozoa, dan mikroorganisme. Jamur lendir hidup bebas dan dalam fase lendir dapat berpindah dengan menjulur ke tenpat tempat yang mengandung banyak makanan. Terdapat fase vegetatif dan generatif. Terbagi dalam enam ordo berdasarkan cara pembentukkan spora, warna spora, bentuk tubuh buah dan kadar kapur yang dikandung tubuh buah. Keenam ordo itu, adalah Ceratiomyxales, Liceales, Trichiales, Echinosteliales, Stemonitales, dan Physarales. Eumycotina dan Chytridiomycetes mempunyai bentuk sel kembara yang berflagela satu, polos, dan berpangkal pada ujung belakang. Sel kembara dapat berbentuk spora kembara (planospora)atau gamet kembara (planogamet). Chytridiomycetes yang paling sederhana ialah bersel tunggal dan holokarpik. Pertumbuhannya berupa suatu protoplasma tidak berdinding dan dinding itu tersusun dalam perkembangan protoplasma menjadi suatu sel. Terdapat dua cara pembiakan, yaitu secara seksual dan aseksual. Perkembangbiakan aseksual dilakukan dengan zoospora yang berinti satu. Zoospora dibentuk dalam sporangium kemudian membungkus diri menjadi sista, kehilangan flagela, dan akhirnya jika keadaan menguntungkan akan berkecambah.

35

Hyphochytridiomycetes

mencakup

tiga

famili,

yaitu

Anisolpidiaceae,

Rhizidiomycetaceae, Hyphochytriaceae. Merupakan penghuni air baik air tawar maupun air laut. Dan hidup sebagai parasit pada ganggang, jamur, atau sisa sisa tumbuhan dan serangga yang mengapung di air. Ada yang bersifat holokarpik dan ada pula yang bersifat eukarpik. Yang termasuk holokarpik biasanya endobiotik (pada suatu waktu, talus akan berubah menjadi zoosporangium). Sedangkan spesies yang eukarpik ada yang hanya terdiri dari alat reproduksi dengan risomiselium, tetapi ada juga yang polisentrik terdiri atas hifa yang bercabang. Zoosporangiumnya tidak bertudung dan melepas zoospora lewat pembuluh pembuluh. Zoospora berkecambah dan menghasilkan talus baru. Oomycetes ciri khasnya adalah adanya zoospora yang berflagela dua pada sisinya. Satu flagela polos yangg menjurus ke belakang dan satu flagela berbulu yang menjurus ke depan. Zoosporanya terbentuk dalam sporangium. Jamur dlam kels ini ada yang bersel satu atau holokarpik dan sel banyak (eukarpik) yang hanya berupa miselium yang lebat yang hidup sebagai parasit pada tumbuhan darat. Oomycetes dibagi dalam empat ordo, yaitu Saprolegniales (jamur penghuni air bersih, kebnyakan hidup sebagai saproba), Leptomitale (hidup di air sebagai saproba, hifanya seakan akan beruas), Lagenidiales (terdiri dari jamur jamur air yang hidup sebagai parasit pada ganggang dan jamur air lainnya, talusnya terdiri atas satu sel atau suatu hifa tak bercabangatau bercabang sedikit), Peronosporales (kelompok yang paling maju dalam Oomycetes. Banyak tanaman budidaya yang rusak oleh ordo ini). Zygomycetes mempunyai ciri utama, yaitu perkembangbiakannya secara seksual dengan gametangiogami yang menghasilkan zigospora, perkembangbiakan secara aseksual dengan spora yang tidak berflagel (aplanospora) dan spora ini berupa sporangiospora atau berupa konidia. Kelas ini dibagi adalam tiga ordo, yaitu Mucorales, Entomophthorales, Zoopagales. Ascomycetes mempunyai ciri ciri : a. Hifanya bersekat sekat, tiap sel umumnya mempunyai inti yang lebih banyak dari yang lainnya. b. Tidak menghasilkan spora kembara. c. Mempunyai alat pembentuk spora yang disebut askus. Sel serupa gelembung atau tabung yang tempat terbentuknya askospora. d. Inti yang kompatibel tidak segera bersatu, tetapi membelah diri secara bersama sama dan pembelahan ini diikuti dengan pembelahan sel.

36

Terdapat tiga jenis askokarp, yaitu apotesium (berbentuk seperti mangkuk datar tanpa tutup), peritesium (berbentuk serupa buah salak dengan lubang pada sebelah ujungnya), kleitotesium (berbetuk serupa bola kecil). Ascomycetes dibagi dalam tiga subkelas, yaitu Hemiascomycetidae, Loculoascomycetidae, Plectomycetidae, Hymenoascomycetidae, Laboulbeniomycetidae. Basidiomycetes adalah takson dengan Kingdom Fungi yang termasuk spesies yang memproduksi spora dalam bentuk kubus yang disebut basidium. Secara esensial grup Ascomycota, mempunya 22,300 yang spesies. Basidiomycotina dan dibagi menjadi Homobasidimycotina (jamur sebenarnya); Heterobasidiomycetes.

Basidimycotina dapat dibagi lagi menjadi 3 kelas, Hymenomycotina (Hymenomycetes), Ustilaginomycotina (Ustilaginomycetes), dan Teliomycotina (Urediniomycetes). Spora vegetatif (konidia) juga ditemukan di basidiomycetes. Basidiomycetes mempunyai ciri-ciri :

Ciri khasnya alat repoduksi generatifnya berupa basidium sebagai badan Kebanyakan anggota spesies berukuran makroskopik.

penghasil spora. Deuteromycotina merupakan nama lainnya Fungi Imperfecti (jamur tidak sempurna) dinamakan demikian karena pada jamur ini belum diketahui dengan pasti cara pembiakan secara generatif. Reproduksi Berdasarkan perkembangbiakannya, jamur dapat dibagi menjadi : a. Perkembangbiakan secara aseksual : Jamur bersel satu berkembangbiak dengan membelah diri atau bertunas. Perkembangbiakan yang dilakukan atau disebabkan oleh miselium atau Perkembangbiakan dengan menghasilkan konidia, yaitu ujung ujung hifa Tunas yang dihasilkan dari perkembangbiakan disebut blastospora. sepotong hifa yang biasanya disebut fragmentasi. yang membagi bagi diri menjadi bentuk bentuk yang bulat atau serupa telur atau juga serupa empat persegi panjang. Selain itu ada juga yang disebut klamidospora, yaitu spora yang berdinding tebal. Spora spora ini dalam keadaan terbuka bila tidak terwadahi dalam konidiofor. Ujung hifa pada beberapa jamur dapat menggelembung merupakan suatu wadah yang disebut sporangium. Dan protoplasnya membagi bagi diri menjadi
37

suatu spora yang disebut sporangiospora. Sedangkan hifanya yangg berupa tangkai sporangium yang disebut sporangiofor. Biasanya warna jamur rendah ditentukan oleh warna konidianya. Ada juga sporangium yang menghasilkan spora spora yang dapat bergerak yang dinamakan zoospora. Zoospora ini dapat bergerak karena adanya flagela. b. Perkembangbiakan secara seksual membutuhkan dua jamur yang cocok atau dapat kawin. Kecocokan ini biasanya diasumsikan sebagai kompatibel. Dua jenis yang kompatibel ditandai dengan (+) dan (-). Proses perkawinan ini pada hakekatnya terdiri atas persatuan antara dua protoplast yaang diikuti dengan persatuan intinya. Persatuan protoplast disebut dengan plasmogami dan persatuan antara ke dua intinya disebut karyogami. Pada jamur tinngkat tinggi, kadang kadang karyogami hanya berlangsung sebentar dalam siklus hidupnya. Alat kelamin disebut sebagai gentamium. Jamur ada yang menghasilkan dua kelamin yaitu jantan dan betina yang disebut hermaprodit dan juga ada yang hanya menghasilkan satu kelamin saja yang disebut berumah dua atau diesi. Berdasarkan cara bersatunya dua sel yang berlainan jenis dapat diklasifikasikan menjadi persatuan planogamet, kontak antara gametangium, persatuan gametangium atau gametangiogami, spermatisasi, somatogami. Persatuan planogamet ini, terjadi antara dua sel gamet yang dapat bergerak. Persatuan ini terjadi antara dua planogamet yang berbeda ukuran, atau planogamet yang satu bergerak dan yang lain tidak. Pesatuan seperti itu, dapat disebut anisogametogami. Contohnya Allomyces dan Monoblepharris. Kontak antara gametangium, biasanya terjadi pada spesies jamur yang tidak menghasilkan sel kelamin. Caranya dengan melalui suatu lubang atau saluran kecil yang terjadi antara dua gametangium yang mengadakan kontak, mengalirlah inti atau inti inti dari anteridium ke oogonium. Setelah berakhir, maka oogonium dapat berkembang sedangkan anteridium mungkin akan mengalaami desintegrasi. Persatuan gametangium atau gametangiogami terjadi perpindahan seluruh isi anteridium ke oogonium. Terdapat dua cara perpindahan, yaitu pertama, antara anteridium dan oogonium terbentuk lubang atau saluran sehingga seluruh protoplast dari anteridium pindah ke oogonium lewat lubang atau saluran tersebut. Kedua, kedua gametangium luluh mnejadi satu tubuh baru. Spermatisasi, pada jamur tingkat tinggi meenghasilkan semacam konidia yang disebut sebagai spermatia. Spermatia dapat terbawa angin, air, seragga, atau yang lain
38

untuk membuahi gametangium betina. Antara spermatia dengan gametangium dapat terjadi lubang tempat mengalir protoplast dari spermatia ke gametangium (oogonium). Somatogami, pada jamur jamur tingkat tinggi tak terdapat adanya alat kelamin, sel kelamin. Persatuan protoplast antara dua jenis kompatibel dapat berlangsung dari setiap sel tubuh (hifa) dari jenis yang satu dengan sel tubuh (hifa) dari jenis yang lain. Cara ini, memungkinkan adanya pertukaran gen waktu meiosis berlangsung dalam inti yang diploid. Jamur yang tidak mempunyai alat perkembangbiakan khusus sehingga perkawinan terjadi antara dua individu, maka perkawinan itu disebut holokarpik. Dan sebaliknya, jamur yang mempunyai alat perkembangbiakan khusus (dilengkapi dengan anteridium dan oogonium) mengadakan perkawinan secara eukarpik. Sedangkan pada jamur tingkat tinggi, terbentuk suatu tubuh buah sesudah perkawinan terjadi dan menjelang penyusunan spora spora baru. Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan salah satu cara di bawah ini : 1. Peleburan antara planogamet. Hal ini berlangsung dalam tiga tahap : a. Peleburan atau konjugasi Terjadi antara planogamet yang mempunyai morfologik yang sama tetapi fisiologinya berbeda. Pada spesies yang mempunyai dua plaanogamet yang sama berasal dari gametangium yang sama tidak dapat mengadakan konjugasi. Contohnya : Olpidium viciae, Synchytrium endobioticum. b. Peleburan antara planogamet yang tidak sama Spesies dari Blastocladiales mempunyai dua macam planogamet. Konjugasi terjadi dalam air dan zigot yang dihasilkan dapat bergerak. c. Pembuahan aplanogamet (sel telur) oleh planogamet jantan planogamet jantan akan mendekati oogonium yang mengandung sel telur kemudian bersatu. Perkembangbiakan seperti ini terdapat pada Monoblepharidales. 2. Persatuan antara gametangium Protoplast dari gametangium yang satu berpindah ke gametangium yang lain. 3. Persatuan antara sel atau hifa Chytridiomycetes dibagi ke dalam tiga ordo, yaitu Chytridiales, Blastocladiales, dan Monoblepharidales.

39

B. Metode Kerja Pengamatan Jamur Prosedur Kerja : a. Ambil setetes larutan lactophenol cotton blue atau air steril secara aseptis menggunakan pipet tetes steril atau jarum ose, letakkan ditengah-tengah kaca obyek. b. Ambil biakan jamur sedikit secara aseptis menggunakan jarum ose, masukkan ke dalam larutan lactophenol cotton-blue/air diatas. c. Tutup campuran diatas dengan kaca penutup yang telah diolesi vaselin.
d. Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran 100X, 400X, kemudian 1000X.

Gambar struktur jamur yang anda amati pada pembesaran 400X atau 1000X. Beri keterangan bagian-bagian yang terlihat

40

C. Hasil Praktikum

41

Gambar Saccharomyces cerevisae (1000x)

Keterangan : Reproduksi negatif dengan budding. Tidak punya hifa dan tubuh buah.

Gambar Candida albicans (1000x)

Keterangan : Sel vegetatif dengan tunas. Tunas ganda disertai pembentukan pseudo hifa Clamydoconidia. Terdapat clamydoconidia, pseudohifa, blastoconidia, clamydospora.

Gambar Rhizopus sp. (400x)

Keterangan : Pada rhizopus terdapat sporangium, sporangiofor, stolon, rhizoid. Hifa tidak bersekat.

Gambar Penicillium sp (400x)

Keterangan : Konidiofor, Konidia, Sterigma, Hifa bersekat

42

D. Pembahasan
a. Saccharomyces cerevisiae

Pada praktikum kami, dilakukan pengamatan dibawah mikroskop dengan perbesaran 1000x, terlihat Saccharomyces cerevisiae yang berbentuk oval dan ada salah satu sel yang terdapat tonjolan (budding). Selain terlihat sel yang berbentuk bulat oval dan bertunas membentuk rantai sel atau hifa semu. Hal inilah yang merupakan ciri khas dari ragi atau yeast atau Saccharomyces cerevisiae. Perkembangbiakan yang terjadi pada pengamatan ini secara aseksual karena untuk percobaan yang dilakukan dalam laboratorium, dikembangbiakan dari satu jenis sel saja sehingga tidak terjadi reproduksi secara seksual. Sedangkan reproduksi secara seksual membutuhkan dua jenis sel yang berbeda sehingga dapat terjadi proses konjugasi. Saccharomyces cerevisiae termasuk dalam divisi Mycota, subdivisi Eumycotina, kelas Ascomycetes, sub kelas Hemiascomycetiadae, ordo Endomycetales, famili Saccharomycetaceae, dan genus Saccharomyces.

43

Pembentukkan askospora dibagi dalam empat tahap : plasmogami (peristiwa masuknya sel donor ke dalam sitoplasma sel aseptor), karyogami (fusi atau peleburan inti antara dua sel induk), mitosis (inti inti sel diploid memperbanyak diri menjadi inti inti diploid yang lain), dan meiosis (pada askus inti sel diploid akan membelah membentuk empat sampai delapan spora haploid, spora tersebut tetap berada dalam kantung askus dan akan lepas apabila terjadi lisis pada kantung spora).

b. Candida albicans

Pada pengamatan di bawah mikroskop dengan perbesaran 1000x, terlihat Candida albicans berbentuk oval dan terdapat bagian bagian antara lain : Pseudohifa yang bentuknya memanjang. Pseudohifa merupakan kuncup bersel satu yang dibentuk dari pertunasan sederhana, tunas tidak lepas dari induknya tetapi membentuk kumpulan tunas yang menempel pada sel yang memanjang atau pseudomisellium. Chlamydospora merupakan spora yang berdinding tebal, bersel satu, dan punya fase istirahat (ditemukan pada hifa tua). Merupakan alat perkembangbiakan secara seksual. Blastospora merupakan hasil pembentukan dari proses pertunasan sederhana, tunas yang terbentuk tidak melepaskan diri dari induknya melainkan tetap menempel pada sisi ujung induk yang akan terlihat seperti struktur rantai. c. Rhizopus sp.
44

Pada pengamatan dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400x, terlihat struktur struktur sporangiospora, sporangium, sporangiofor, hifa yang tidak bersekat dengan rhizoid, stolon.

Sporangiospora merupakan spora bersel satu yang terbentuk dalam sporangium di ujung sporangiofor. Sporangium merupakan kantong bagi sporangiospora.

Sporangiofor tampak seperti batang kecil yang menyangga sporangium sehingga dapat berdiri tegak dan memudahkan penyebaran sporanya.

Rhizopus sp. Termasuk dalam kelas Zygomycetes atau Phycomycetes, ordo Mucorales. Mikroorganisme yang termasuk dalam kelas Zygomycetes mempunyai ciri utama, yaitu perkembangbiakannya secara seksual dengan gametangiogami yang menghasilkan zigospora, perkembangbiakan secara aseksual dengan spora yang tidak berflagel (aplanospora) dan spora ini berupa sporangiospora atau berupa konidia. Ciri utama ordo Mucorales mempunyai talus berupa miselium yang lebat. Hifanya berinti banyak dan bersekat pada batas alat pembiakan sporangium atau gametangium. Kadang kadang hifa yang sudah tua terlihat bersekat. Beberapa spesies mempunyai sekat pada hifanya sejak muda. Dan sekat itu, berlubang digunakan untuk tempat mengalirnya protoplasma. Dan ada pula spesies yang menghasilkan rizoida yang berguna sebagai pegangan pada substrat. Bagian hifa yang dibatasi oleh dua pangkal yang menghasilkan rizoida disebut stolon. Perkembangbiakan aseksual dilakukan dengan cara spora tak berflagel (aplanospora). Terbentuk dalam sporangium yang terletak pada ujung sporangiofor. Bagian ujung sporangiofor yang masuk dalam sporangium disebut kolumela. Sporangiospora mempunyai bentuk yang beraneka ragam dan setelah dewasa akan terlepas dari sporangium sebagai serbuk yang kemudian tersebar oleh angin.
45

Pembentukan sporangium dan sporangiospora dipengaruhi oleh suhu, kebasahan, dan cahaya. Perkembangbiakan secara seksual berlangsung dengan bersatunya dua gametangium yang berinti banyak. Hanya hifa yanng kompatibel yang dapat menghasilkan gametangium yang dapat melaksanakan gametangiogami. Jika kedua hifa yang kompatibel bertemu, maka dinding sel akan melebur dan kedua protoplast bersatu, terbentuk zigot yang membenttuk dinding tebal mengalami waktu istirahat kemudian menghasilkan sporangium. Oleh karena itu, disebut zigospora. Jika dua hifa yang kompatibel tumbuh berdekatan, maka terbentuklah tonjolan (progametangium) pada masing masing hifa. Progametangium yang bertemu akan mengadakan plasmogami. Masing masig progametangium tersekat dari bagian hifa yang membawanya, bagian hifanya membentuk serupa gelembung yang berfungsi sebgai pembawa gametangium yang disebut suspensor. Plasmogami yang terjadi segera diikuti oleh karyogami sehingga dalam zigot terdapat beberapa inti haploid. Zigot berkembang, zigospora akan menghasilkan sporangium setelah melalui masa istirahat terlebih dahulu. Sementara itu, protoplast dalam sporangium membagi diri sekitar inti baru, terbentuk spora spora baru. Genus Rhizopus mempunyai stolon, sporangiumnya serupa bola, ada apofisis, sedangkan sporangiofor tumbuh pada stolon berhadap hadapan rizoidia. d. Penicillium sp.

Hasil praktikum kami, terlihat di mikroskop dengan perbesaran 400x struktur struktur Penicillium, yaitu : Konidiospora (reproduksi aseksual) Konidia

46

Sterigma Konidiofor (yang berfungsi menyangga konidiospora) Struktur hifa yang bersekat. Penicillium sp. tidak mempunyai vesikel dan tidak mempunyai konidiofor

tunggal. Bagian yang fungsinya sama dengan konidiofor disebut sebagai penisilus. Cabang cabangnya menghasilkan sterigma dan pada sterigma tersusun konidia. Biasanya konidia pada Penicillium lebih halus daripada konidia pada Aspergillus.

e. Aspergillus sp.

Pada pengamatan yang kami lakukan dalam praktikum dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400x, struktur yang terlihat meliputi : Konidiofor Konidiospora Sterigma primer Sterigma sekunder Hifa bersekat Foot cell Aspergillus terdiri atas hifa bersekat, berinti banyak. Perkembangbiakannya secara aseksual dengan pembiakan konidia. Pembiakannya dimulai dari ujung ujung hifa yang tumbuh menegak. Pada suatu waktu, ujung hifa yang menegak ini akan menggelembung merupakan vesikel. Sel sel penghasil konidia disebut sebagai sterigma. Sterigma tidak segera terlepas dari vesikel. Pada Aspergillus terdiri dari dua sterigma, yaitu sterigma primer (sterigma yang letaknya dekat dengan vesikel) dan
47

sterigma sekunder. Bagia hifa di bawah vesikel sampai sel kaki disebut sebagai konidiofor. Pada umumnya konidiofor mempunyai inti banyak. Untuk membedakan Aspergillus dapat dilihat warna dari konidianya. Mempunyai ciri ciri yang hampir sama dengan Penicillium.

48

E. Kesimpulan

Saccharomyces cerevisiae termasuk dalam divisi Mycota. Berkembangbiak dengan tunas atau budding dan tidak mempunyai atau membentuk hifa bersekat. Candida albicans termasuk kelas Deuteromycetes. Sel vegetatif dengan tunasganda disertai pembentukan pseudohifa Clamydoconidia. Terdapat clamydoconidia, pseudohifa, blastoconidia, clamydospora. Rhizopus sp. Termasuk dalam kelas Zygomycetes. Memiliki ciri khusus berupa hifa yang tidak bersekat dan terdiri sporangium, sporangiofor, stolon, rhizoid.

Penicillium sp.termasuk dalam subkelas Euascomycetidae. Memiliki hifa yang bersekat dan membentuk konidiofor yang bercabang dan konidiospora (spora pada ujung).

Aspergillus termasuk subkelas Euascomycetidae. Hifanya bersekat dan terdiri dari Phialospora, Sterigma, Konidiofor, Sel kaki.

49

DAFTAR PUSTAKA

Cappuccino. 2005. Microbiology a Laboratory Manual Seventh Edition. New York:Pearson Benjamin Cummings. Dwidjoseputro, D. 1975. Pengantar Mikologi. Bandung:Penerbit Alumni. Hastowo, Sugyo dan Bibiana Wilaya. 1992. Mikrobiologi ed 1 cetakan 1. Rajawali Pers : Jakarta Johnson, Arthur. G. 1993. Mikrobiologi dan Imunologi. Jakarta:Binarupa Aksara. Johnson, Arthur G. dkk. 1994. Mikrobiologi dan Imunologi. Binarupa Aksara. Jakarta Schlegel, Hans G.1994. mikrobiologi Umum ed 6. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta Satish Grupte, MD. 1990. Mikrobiologi Dasar ed 3. Binarupa Aksara : Jakarta Pelczar. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi jilid I. Universitas Indonesia. Jakarta Pelczar. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi jilid II. Universitas Indonesia. Jakarta Prof, Thomas D. 1974. Biology of Microorganisme. New Jersey: prentite Hall/int http://id.wikipedia.org/wiki/ http://bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0024%20Bio%2015a.htm

50