Anda di halaman 1dari 3

Saya bukannya ingin menggalau lewat postingan ini, saya cuma mau bercerita tentang seseorang.

Seorang perempuan yang buat saya sangat ideal untuk dijadikan teman duduk di pelaminan, selain satu dan beberapa hal, yang nantinya hal-hal itu akan kita sebut sebagai takdir. First, let me tell u bout her. Secara singkat dia adalah seorang gadis, masih satu kampung halaman dengan saya, ngga terlalu tinggi dan ngga terlalu berisi (meski lambat laun kembali ke default setting perempuan yang memang harus berisi), montok kalau boleh saya bilang, ngga pernah mau disebut cantik meski memang seperti itu :), dan selalu memohon untuk disebut imut meski memang seperti itu :). Kulit sawo matang, rajin ke klinik kencantikan di MOI Kelapa Gading demi menghilangkan mata pandanya, hobi nonton film meski makin kesini makin lebih hobi nonton teater. Alergi dengan kerang dan sangat menggilai durian. Then, i'll tell u bout us. Episode 1 Saya mengenalnya waktu SMP, masih ingusan dan baru aja disunat. Waktu itu kelas 1 dan kebetulan kita berdua sekelas, seperti pepatah orang jawa "witing tresno jalaran seko celono kulino" kita pun memadu asmara waktu itu :D. Selayaknya cinta monyet pada umumnya, kita serba susah kalau mau pacaran. Namanya juga anak SMP, duit aja masih ngemis ke bos besar. Alhasil kita hampir ngga pernah jalan bareng. Jangankan jalan berdua sambil gandengan tangan, tatap-tatapan muka saja waktu itu masih jadi hal yang paling berat untuk dilakukan. Satu-satunya jalan untuk memadu kasih ya via telepon, yang waktu itu masih nyolong-nyolong telepon rumah karena teknologi self-phone belum sampai ke kampung. Episode 2 Cuma bertahan beberapa bulan, dan kitapun sepakat untuk putus (FYI, media yang dipakai buat nembak dan mutusin adalah via surat dengan tanda tangan resmi dan cap kelurahan). Saya sempat pacaran juga dengan beberapa anak gadis lain sebelum akhirnya waktu SMA kelas 1 saya mulai berusaha mendekatkan diri lagi. Waktu itu dia pindah sekolah di kota lain, dan saya masih berkutat di kampung halaman. Sedikit ada kemajuan, saya nembak dia via telepon di Wartel. Setelah nego-nego alot, saya diterima lagi dan kami kembali memadu kasih :D. Jarak yang -waktu itu- terasa begitu jauh membuat hubungan yang aneh itu kembali kandas. Pelajaran yang dapat saya ambil dari hubungan itu adalah bahwa LDR memang selamanya bukan sebuah solusi.

Episode 3 Pacaran episode tiga terjadi watu kita sama-sama kuliah di Jakarta. Tapi awal mulanya benih-benih cinta tetap tumbuh di kampung halaman juga. Waktu itu saya dan 1 teman diundang ke rumahnya, dikira mau apa, ternyata ada pendoktrinan MLM dan dia ternyata salah satu aktivis MLM. Awalnya saya mau dibaiat jadi anggota MLM, tapi tatapan matanya lebih masuk ke hati daripada promosi MLM-nya. Seperti yang "Netral" bilang, "cinta memang gila | tak kenal permisi", tanpa permisi juga saya nembak dia (lagi), dan seperti yang sudah saya perkirakan sebelumnya kalau saya bakal diterima (lagi) :D. Tapi pacaran episode kali ini lebih banyak makan atinya. LDR lagi meski masih dalam 1 naungan DKI Jakarta (saya di Bintaro dan dia di Sunter), membuat saya lebih banyak negative thinking-nya daripada kangennya. Maklum, dia dulu termasuk primadona di kampusnya, dan saya lebih ke arah cecunguk di kampus saya. Pacaran episode 3 kandas dengan terkirimnya email berisi pemutusan sepihak hubungan kita yang saya kirim dari Warnet dekat kampus. Episode 4 Episode terakhir dari tetralogi seri pacaran kita adalah waktu kita berdua sudah makin dewasa. Di episode ini, saya lebih dulu kerja, dia masih kuliah. Hampir tiap weekend saya jemput dia ke kampusnya (yang sekarang juga jadi kampus saya), sampai dia lulus, magang, lalu dapat kerja. Waktu masih belum kerja, dia punya banyak waktu untuk sekedar "say hai", makin kesini udah susah dapat waktunya lagi (apalagi sejak ada BB dengan alibi kewajiban di kantor). Seperti sebelumsebelumnya, kita mengalami masa di mana kadar rasa cinta masing-masing naik turun, lalu berantem, lalu putus, lalu menyesal, kemudian balikan lagi, terus berantem lagi dst. Ada yang berbeda dari episode-episode sebelumnya, adalah bahwa kita di masa itu sudah mengerti dengan risiko dan konsekuensi yang akan-sedang-pasti kita hadapi. Satu hal yang di awal tulisan saya sebut sebagai takdir, adalah konsekuensi itu sendiri. Saya Muslim, dilahirkan di keluarga yang -menurut saya- taat dan patuh beragama. Dia seorang Katolik, berasal dari keluarga Katolik taat. Bisa dibilang kita masing-masing punya prinsip kuat dengan agama kita, dan itulah yang menjadi persoalan ketika kita menghadapi pertentangan 2 prinsip yang berbeda dan samasama dipegang erat. Meski kita bisa membohongi keadaan, dengan kedok toleransi (saya sering numpang shalat di rumah kosnya, dan saya sering antar jemput dia ke gereja) tetap saja percuma. Pada awalnya kita berdua sepakat untuk mengerti, memahami, tapi

mengacuhkan konsekuensi ini. Tapi waktu berjalan terus, sedangkan usia kita juga masing-masing terus bertambah. Ketidakpedulian dengan konsekuensi membuat kita menghadapi dilema yang besar, nikah beda agama atau salah satu ada yang mengalah, atau tidak sama sekali. Perjalanan panjang 11 tahun dengan tetralogi seri percintaan pun berakhir lewat opsi ketiga. Saya ngga pernah setuju dengan nikah beda agama, kita berdua ngga ada yang bisa mengalah, lalu dengan segala kekecewaan kita berdua mengakhiri panjangnya cerita yang sama-sama kita tulis satu per satu baris dari awal kelas 1 SMP ini. Kita sepakat untuk menjalani hidup masing-masing, dengan cita-cita masing-masing, tanpa harus menerima konsekuensi apapun lagi. Kita sepakat untuk saling percaya bahwa "bukan aku yang meninggalkanmu, bukan juga kamu, tapi perbedaan yang menolak kita untuk bersatu." Kita sepakat bahwa, 11 tahun saling mengenal dan 4 seri saling mencinta adalah hal yang menakjubkan, sungguh menakjubkan. Pada akhirnya, sebuah kesimpulan Mengenalmu adalah anugerah Memilikimu adalah satu hal yang terindah Bersamamu membuat semua tampak lebih menarik Menghabiskan hari denganmu sungguh luar biasa Dan caramu memberikan warna di perjalanan kita sangat mengesankan Tapi ada saatnya kita harus berhenti lalu berpikir Waktunya telah datang, untuk meregangkan pelukan dan melepaskan pegangan Kita sudah sama-sama mengerti bahwa perbedaan kita tidak bisa disatukan Karena perbedaan itu takdir Dan takdir itu absolut .end of story.