Anda di halaman 1dari 27

Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 1



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Penyelesaian persoalan listrik statik dapat dilakukan dengan mudah jika sebaran
muatannya di mana-mana terinci, karena kemudian sebagaimana kita ketahui, potensial
dan medan listrik ditentukan secara langsung sebagai integral dari sebaran muatan
tersebut. Namun, banyak diantara persoalan yang dijumpai bukanlah jenis seperti ini.
Jika sebaran muatan tidak dirinci sebelumnya, mungkin perlu terlebih dahulu menentukan
medan listriknya, sebelum sebaran muatan dapat dihitung. Sebagai contoh, persoalan
listrik statik dapat melibatkan beberapa penghantar yang potensial atau muatan total
masing-masing penghantar diketahui, tetapi sebaran muatan permukaannya dalam banyak
hal tidak akan diketahui dan tidak bisa diperoleh sampai penyelesaiannya tuntas dari
persoalan tersebut didapat
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita dihadapkan dengan permasalahan dan
situasi ini dimana kita sama sekali tidak mengetahui secara pasti distribusi muatan pada
suatu bidang sehingga kita tidak dapat secara langsung menentukan besar medan listrik
E

atau potensial V. Misalnya kita mempunyai sebuah sistem konduktor yang besar
potensial relatifnya kita ketahui, namun rapat muatan pada permukaannya tidak kita
ketahui. Dalam permasalahan yang sedemikian, akan memunculkan formula secara
eksplisit untuk besar E

dan besar V sehingga menuntut kita untuk mengetahui distribusi


muatan pada permukaan konduktor, dimana permasalahan sebelumnya kita tidak bisa
memperoleh ini tanpa mengetahui medan listrik pada permukaan konduktor. Berkaitan
dengan hal tersebut di atas, maka dalam makalah ini akan dibahas tentang bagaimana
mengembangkan cara pendekatan lain untuk persoalan listrik statik dan untuk
melaksanakannnya kita akan menyelesaikan permasalahan tersebut dapat diselesaikan
dengan beberapa metode yaitu metode pemisahan variabel pada persamaan Laplace
dengan sistem koordinat kartesian, bola dan silinder, persamaan Poisson, metode
distribusi muatan eksponensial, perluasan multipol menyangkut suku monopol, dipol dan
quadropol dalam menentukan potensial lstrik.



Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 2

1.2 Rumusan Masalah
Sejalan dengan latar belakang di atas maka dapat ditarik beberapa rumusan masalah
sebagai berikut.
1.2.1 Bagaimanakah metode pemisahan variabel pada persamaan Laplace dengan sistem
koordinat kartesian, bola dan silinder dalam menentukan potensial lstrik?
1.2.2 Bagaimanakah persamaan Poisson dalam menentukan potensial lstrik?
1.2.3 Bagaimanakah metode distribusi muatan eksponensial dalam menentukan potensial
lstrik?
1.2.4 Bagaimanakah metode perluasan multipol menyangkut suku monopol, dipol dan
quadropol dalam menentukan potensial lstrik?

1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas adapun tujuan dari penulisan makalah ini
adalah sebagai berikut.
1.3.1 Menjelaskan metode pemisahan variabel pada persamaan Laplace dengan
sistem koordinat kartesian, bola dan silinder dalam menentukan potensial
lstrik.
1.3.2 Menjelaskan persamaan Poisson dalam menentukan potensial lstrik.
1.3.3. Menjelaskan metode distribusi muatan eksponensial dalam menentukan
potensial lstrik.
1.3.4 Menjelaskan metode perluasan multipol menyangkut suku monopol, dipol dan
quadropol dalam menentukan potensial lstrik

1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh mahasiswa dalam menyelesaikan
permasalahan dalam menentukkan potensial listrik dengan beberapa metode yaitu metode
pemisahan variabel pada persamaan Laplace dengan sistem koordinat kartesian, bola dan
silinder, persamaan Poisson, metode distribusi muatan eksponensial, perluasan multipol
menyangkut suku monopol, dipol dan quadropol setelah mempelajari makalah ini.
1.5 Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah
dengan mengembangkan metode kajian pustaka, yaitu dengan mengumpulkan sumber-
sumber dari berbagai literatur seperti buku-buku yang relevan dan media internet yang
kemudian dikaji dan dianalisis sesuai dengan materi yang akan di bahas.
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Persamaan Laplace dalam Sistem Koordinat Kartesian
Contoh 1:
Dua buah pelat logam tak hingga terletak sejajar pada bidang xz, salah satu pada y= 0, dan
yang lainnya pada y=. Pada ujung sebelah kiri pada x=0, ditutup dengan pelat tak hingga
dan potensialnya dibuat konstan V
0
. Sehingga potensialnya dapat ditentukan sebagai berikut.





Penyelesaian :
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa sistem tidak bergantung pada z, sehingga persamaan
Laplacenya menjadi :
0
2
2
2
2
=
c
c
+
c
c
y
y
x
V
(1)

Dengan syarat batas :
1. V = 0, bila y = 0
2. V = 0, bila y =
3. V = V
0
(y), bila x = 0
4. V 0, bila x
Misalkan solusinya dalam bentuk perkalian fungsi yaitu:
V(x,y) = X(x) Y(y)
Sehingga persamaan Laplacenya menjadi:

Gambar 1
V=0
V
0
(y)
y
x
z
V=0
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 4

' '
2
2
2
2
' '
2
2
2
2
XY
y
XY
y
V
Y X
x
XY
x
V
=
c
c
=
c
c
=
c
c
=
c
c
(2)
Misalkan X

Y = k
2
dan XY

= -k
2
,
2
' ' ' '
2 ' ' ' '
' ' ' '
0
k
Y
Y
X
X
k XY Y X
XY Y X
= =
= =
= +

( )
kx kx
Be Ae x X
X k X
k
X
X

+ =
= +
=
0
2 ' '
2
' '

( ) ky D ky C y Y
Y k Y
k
Y
Y
cos sin
0
2 ' '
2
' '
+ =
= +
=

Solusi yang umum adalah :
( ) ( ) ( )
( ) ( )( ) ky D ky C Be Ae y x V
y Y x X y x V
kx kx
cos sin ,
,
+ + =
=

.(6)
Untuk memperoleh solusi khusus, maka kita masukkan syarat batas yang telah diketahui
sebelumnya.
Syarat batas 4 untuk V 0, bila x
V(x,y) = (Ae
kx
+ Be
-kx
) (C Sin ky + D C0s ky)
0 = (Ae
k
+ Be
-k
) (C Sin ky + D C0s ky)
Agar Ae
kx
= 0, maka A harus diambil = 0
V(x,y) = Be
-kx
( C Sin ky + D C0s ky) .(7)
Syarat batas 1 untuk V = 0, bila y = 0
V(x,y) = Be
-kx
( C Sin ky + D C0s ky)
0 = Be
-kx
(C Sin k0 + D C0s k0)
Agar Cos ky = 0, maka D harus = 0
V(x,y) = Be
-kx
C sin ky .(8)
Syarat batas 2 untuk V = 0, bila y =
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 5

V(x,y) = Be
-kx
C sin ky
0 = Be
-kx
C sin k
dimana sin k = 0, sehingga persamaan diatas = 0
V(x,y) = Be
- kx
C sin ky ..(9)
Syarat batas 3 untuk V = V
0
(y), bila x = 0
V(x,y) = Be
- kx
C sin ky


()


( )

..(10)
Untuk menentukan nilai D, dapat ditentukan dengan mengalikan kedua ruas persamaan (10)
dengan sin (ly), dan integrasi dari 0 sampai :


() () () ()



() () {


Untuk

() ()

() ()

() ()

[ ]
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 6

[ ]
{



Untuk k = bilangan ganjil
( )


V (x,y)

(11)
Contoh 2:
Dua bidang logam yang luas, satu bidang pada Y = 0 dan bidang lainya pada Y = , dan
keduanya dikontakkan ke tanah (V = 0). Pada x = a keduanya keeping logam dipasang pada
potensial V
0
(Lihat gambar)







Tentukan potensial di daerah ruang didalam pipa empat persegi panjang ini.
Penyelesaian:
Berdasarkan gambar diatas, berarti system tak bergantung pada z, sehingga persamaan
laplace menjadi:

(12)
y
V = 0
V
0

x
+ a V = 0
0
- a
V
0
z
Gambar 2
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 7

Dengan syarat batas :
(i) V = 0, bila Y = 0
(ii) V = 0, bila Y =
(iii) V = V
0
, bila x = + a
(iv) V = V
0
, bila x = -a
Solusi umumnya adalah:
V (x,y) = ( Ae
kx
+ Be
-kx
) ( C sin ky + D cos ky)
Dari syarat batas (iiii) dan (iv) mengindikasikan bahwa fungsi V (x,y) bersifat genap
terhadap x, hal ini bisa dilihat dari V ( a,y) = (-a,y)=V
0.
Dengan demikian akan dipenuhi A=
B, jadi :
V(x,y) ) = ( Ae
kx
+ Be
-kx
) ( C sin ky + D cos ky)
= 2A cosh kx (C sin ky + D cosky)
= Cosh kx ( C sin ky + D cos ky) (13)
Dimana konstanta 2A telah terserap pada C dan D. Dengan memasukkan syarat batas (i) dan (
ii ), maka diperoleh konstanta D= 0, dan k adalah bilangan bulat positif.
Seperti telah dikemukakan pada contoh 1, solusi persamaan linier adalah:
( )




Adanya syarat batas (iii) menghasilkan :
V (a,y) = V
0
=



.(14)
Dengan menggunakan analisis Fourier, maka koefisien C
k
dapat ditentukan dengan
mengalikan persamaan (14) dengan sin (ly), dan intregasi dari 0 sampai :

()
() () ()


() () {


Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 8

Dengan mengambil ketentuan k = l maka di peroleh:

()

()

( {



Untuk k bilangan ganjil di peroleh :
( )


(15)

2.2 Persamaan Laplace Dalam Sistem Koordinat Bola
Banyak diantara persoalan yang menarik berkaitan dengan penghantar yang
berbentuk bola dan selinder, sehingga diperlukan persamaan laplace, baik dalam
koordinat bola maupun koordinat selinder. Untuk suatu benda yang berbentuk bola ini
kita gunakan koordinat bola (r, , )

()

Untuk keadaan dimana terjadi simetri azimut, terdapat ketidaktergantungan V terhadap ,
sehingga persamaan Laplace-nya menjadi :

()

z


r


y
m
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 9

x

dengan menggunakan metode pemisahan vaiabel :
V (r, ) = R (r) (),
Maka diperoleh,

(18)
Tampak bahwa suku pertama hanya bergantung pada r dan suku kedua hanya bergantung
pada , ini berarti bahwa maisng-masing suku tersebut harus konstan :



Persamaan diferensial pada bagian radial dapat dinyatakan :

) ( )(19)
yang mempunyai solusi umum yaitu :
(20)
Dengan A dan B adalah konstanta sembarang. Persamaan diferensial bagian angular, dapat
dinyatakan :
(21)
yang mempunyai solusi umum dalam bentuk polinomial Legendre :
(22)
dengan solusi polinomial Legendre, yang dikenal dengan rumus Rodrigues:
( ) ( )
l
l
l
l
l
x
dx
d
l
x P 1
! 2
1
2
= (23)
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 10


( )
( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( ) 3 30 35
8
1
3 5
2
1
1 3
2
1
1
2 4
4
2
3
2
2
1
0
+ =
=
=
=
=
x x x P
x x x P
x x P
x x P
x P
(24)
Solusi umum potensial menjadi:
( )
( )
| | ( )

=
+
+ =
0
1
cos ,
l
l
l
l
l
l
P r B r A r V u u (25)
Koefisien A
l
dan B
l
ditentukan dari batas kondisi . Misal potensial dipermukaan bola
dengan jari-jari a adalah V (u) , dikehendaki untuk menentukann potensial di dalam bola. Jika
tidak ada muatan di pusat, potensial disini tentu terbatas. Konsekuensinya B
l
= 0 untuk semua
l. Koefisien A
l
ditentukan mengevaluasi (25) pada permukaan bola:
( ) ( )

=
=
0
cos
l
l
l
l
P a A V u u (26)
merupakan deret Legendre, dengan koefisien A
l
adalah:
( ) ( ) u u u u
t
d P V
a
l
A
l
l
l
sin cos
2
1 2
0

+
= (27)
Misal potensial V(u) berbentuk :
( )

s s
s s +
=
t u
t
t
u
u
2
,
2
0 ,
V
V
V
maka potensial dalam bola:
( ) ( ) ( ) ( )

|
.
|

\
|
+
|
.
|

\
|
= ... cos
16
11
cos
8
7
cos
2
3
,
5
5
3
3
1
u u u u P
a
r
P
a
r
P
a
r
V r V (28)
Contoh penerapan :






Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 11























Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 12







Contoh lain :

Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 13



2.3 Persamaan Laplace Dalam Sistem Koordinat Silinder
Dalam kasus benda yang berbentuk silinder, maka analisis potensial digunakan sistem
koordinat silinder. Potensial yang akan dikaji, terbatas pada fungsi dan saja. Dengan
demikian potensial yang muncul di dalam kasus ini merupakan simetri sepanjang sumbu z. di
daerah yang ada muatan titik, potensialnya mengikuti persamaan Laplace:
) 29 ....( .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... 0
1
) (
1
2 2
=
c
c
+
c
c
c
c
m p p
p
p p
V V

Dengan menggunakan metode pemisahan variabel, maka solusinya dapat dituliskan
) ( ) ( ) , ( m p m p u = R V dan substitusikan pada persamaan (29) maka diperoleh
) 30 .....( .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... ..........
1
2
2
m p
p
p
p
c
u
u
=
|
|
.
|

\
|
c
c d R
d
d
R

Kedua sisi dari persamaan (30) akan diambil sama dengan K
2
, yang mana secara terpisah
dalah konstan. Persamaan untuk yaitu:
) 31 ........( .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... 0
2
2
2
= u +
c
u
K
d
m

Mempunyai solusi:
) 32 ( .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... sin cos ) ( m m m K B K A + = u
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 14

Persamaan yang mengandung bagain radial, dapat dituliskan (dengan mengambil k = n)
yaitu: ) 33 .......( .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... 0
2
=
|
|
.
|

\
|
c
c
p p
p
p
R n R
d
d

Untuk n = 0, berarti potensial tidak bergantung pada sudut, yakni:
) 34 ....( .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... .......... 0 =
|
|
.
|

\
|
c
c
p
p
p
R
d
d

Yang mempunyai solusi:
) 35 ........( .......... .......... .......... .......... .......... .......... ln ) ( tan ) ( p p p = = R dan kons R
Untuk n 0, persamaan (35) ,mempunyai dua solusi, yakni
n n
dan

p p dengan demikian
solusi umumnya adalah:
) 36 ...( ln ) sin cos ( ) sin cos ( ) , (
'
0 0
1 1
p p m m p m m m A A n D n C n B n A r V
n
n
n n
n
n
n n
+ + + + + =


=







Contoh Penerapan :
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 15





Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 16



Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 17



2.4 Persamaan Poisson
Dalam hal ini kita tinjau kasus dimana muatan tidak terlokalisasi pada konduktor atau
distribusi muatan diskret. Dengan persamaan Poisson, potensial ditunjukkan dengan
persamaan :
0
2
c
p
= V V
Distribusi muatan umum di dalam penambahan syarat batas, potensial dapat dicari dengan
persamaan Laplace ditambahkan dengan solusi pemecahan persamaan Poisson.

|

|
+ solusi persamaan Laplace Integrasi dilakukan untuk seluruh muatan yang
diberikan.
Contoh : bola yang dimuati secara uniform
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 18

Misalnya muatan terdistribusi secara simetri bola. Muatan q terdistribusi pada seluruh bola
berjari-jari R dengan kerapatan muatan konstan , dan untuk r>R kerapatannya adalah nol.
Penyelesaian :
Di dalam daerah rR potensial mengikuti persamaan Poisson :


Untuk daerah r>R, potensial mengikuti persamaan Laplace :

)
Solusi dari persamaan Poisson tersebut adalah :
V(r) = -

; rR
Dan solusi dari persamaan Laplace adalah :
V(r) =

; rR
Potensial tersebut harus memenuhi syarat batas :
1. V(r )
2. V(r 0 ) adalah berhingga karena tidak ada muatan titik pada pusat bola
3. Dua potensial akan continuous pada r = R
4. Muatan total dari distribusi ini adalah (4/3)

. Syarat batas pertama mengharuskan

. Hubungan antara

dan A
2
dapat dicari dari syarat batas ke tiga yaitu :
-R
2
/6

+B
1
= A
2
/R
Dengan syarat batas ke-empat dapat dicari A
2
. Kemudian diambil permukaan Gauss,
yang mana kulit yang jari-jarinya r>R pada pusat distribusi muatan, memberikan :


Medan listrik di luar bola dapat ditentukan dengan mengambil gradien dari potensial
yakni :
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 19

E= -
2
2 2
2
/ ) ( r A B
r
A
r V
r
.
=

+ V = V ,
Jadi,
(

).
(A
2
/r
2
)4r
2
= 4A
2

Dengan mensubtitusikan persamaan diatas diperoleh A
2
= (R
3
/3

). Nilai A
2

disubtitusikan ke persamaan -R
2
/6

+B
1
= A
2
/R , diperoleh B
1
= R
2
/2

. Maka
potensial menjadi
V(r) =

) ; r<R
Atau
V(r) =



Persamaan

menyatakan bahwa potensial di dalam bola


merupakan fungsi kuadratik dari r dengan potensial pada pusat lebih besar daripada di
tepi bola. Medan listrik adalah kontinu pada r=R
Untuk r R, E = (r/3

)
Dan
Untuk r E = (

/3

) , yang memberikan (r/3

) pada r = R.

2.5 Distribusi Muatan Eksponensial
Distribusi muatan simetri bola (dari muatan total q) dinyatakan dengan fungsi (r) =

. Kerapatan menggambarkan distribusi muatan elektronik dalam keadaan dasar dari


hydrogen. Potensial pada sembarang r sesuai dengan persamaan Poisson yaitu :

)
()



Atau

()

dr
Integral tersebut menjadi :

Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 20

)+


Dengan C adalah konstanta. Potensial dientukan dengan
V(r) =


Dengan D adalah konstanta integrasi yang lain, dan

disubstitusikan untuk

.
Untuk menentukan konstanta C dan D, dimasukkan syarat batas. Bila r , rapat muatan
menuju nol. Ambil potensial nol bila r , diperoleh D = 0.
Nilai C diperoleh dengan menerapkan hokum Gauss pada kulit tertutup yang berjari-jari r
berpusat pada titik asal. Medan listrik E = -dV/dr . Dengan demikian :


Diperoleh C = q/4

sehingga diperoleh potensialnya yaitu :


V(r) =


Sedangkan medan listriknya adalah :
E (r) =

[ ( )


2.6 Perluasan Multipol
Kita kembali sekarang pada permasalahan karakteristik potensial dan medan
elektrostatik dari sembarang distribusi muatan terlokal di dalam daerah yang agak kecil dari
suatu ruang. Kita dapat memikirkan distribusi muatan sebagai distribusi muatan molekul
yang dimensinya linear dalam orde 10
-10
meter.
Misalkan distribusi muatan tersebut seperti gambar :





Gambar : Distribusi Muatan Lokal
0
r
r - r
r
(titik
sumber
)
dq
V
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 21

Kita tunjukkan bahwa distribusi muatan yang terlokal di dalam volume V dan dikarakterisasi
dengan . Kita pilih titik asal 0, pada atau dekat distribusi muatan ini. Perpindahan r
menempatkan elemen muatan relative terhadap 0. Perpindahan r menempatkan sebuah titik
di dalam ruang di luar distribusi muatan, dimana kita ingin menentukan potensial V(r) :
V(r)


=
' 4
1
0
r r
dq
tc

Untuk sembarang r , kita akan asumsikan bahwa 1
'
<<
r
r
. Kita dapat memperluas suku dalam
integral dalam bentuk deret :
2
1
2
2
' ' . 2
1
1
'
1

|
.
|

\
|
+
=

r
r
r
r r
r
r r

Sekarang kita terapkan ekspansi binomial :
( )

+
|
.
|

\
|

|
.
|

\
|
= +

...
! 2 2
3
2
1
2
1
1 1
2
2
1 x
x x
Perluasan ini terpenuhi bila 1 < x , dengan
|
|
.
|

\
|
+ =
2
2
2
' ' . 2
r
r
r
r r
x
Dengan demikian, diperoleh :

+
|
|
.
|

\
|
+
|
.
|

\
|

|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
+ ~

...
' ' . 2
! 2
1
2
3
2
1 ' ' . 2
2
1
1
1
'
1
2
2
2
2 2
2
2
r
r
r
r r
r
r
r
r r
r r r

Kelompokkan pangkat
r
r'
, sehingga diperoleh :

|
.
|

\
|

|
.
|

\
|
+ + ~

...
' ' .
3
2
1 ' .
1
1
'
1
2 2
r
r
r
r r
r
r r
r r r

Dengan demikian potensial menjadi :
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 22

V(r)

|
.
|

\
|

|
.
|

\
|
+ + =

...
' ' .
3
2
1 ' .
1
4
1
2 2
0
r
r
r
r r
r
r r
r
dq
tc

Sekarang kita menuliskan kembali potensial dalam bentuk yang lebih umum dengan
menuliskan bentuknya sebagai jumlah potensial V
(0)
, V
(1)
, V
(2)
secara berturut-turut :
V(r) ...
) 2 ( ) 1 ( ) 0 (
+ + + = V V V
V(r)
( )
...
2
' . 3
4
1
' .
4
1
4
1
2 2
3
0
2
0 0
+


+ + =

dq
r r r
r
dq r r
r
dq
r tc tc tc

2.6.1 Suku Monopol : V
(0)
Potensial V
(0)
disebut juga potensial monopol, yang dapat ditulis sebagai :
r
Q
V
dq
r
V
0
) 0 (
0
) 0 (
4
4
1
tc
tc
=
=


Dengan Q adalah muatan neto total dari distribusi muatan. Kehadiran suku sederhana ini
mengindikasikan bahwa pada jarak yang cukup jauh distribusi muatan di dalam orde yang
paling rendah aproksimasinya kelihatan seperti muatan titik Q.
2.6.2 Suku Dipol : V
(1)
- Dipol Di Dalam Medan Eksternal
Kontribusi V
(1)
disebut suku dipole, yang dapat ditulis sebagai berikut:
( )
2
0
2
0
'
1
4
.
4
.
r
p r
r
dq r r
V
tc tc
.
.
= =


Dengan p adalah yang disebut momen dipole dari distribusi muatan, yang didefinisikan
sebagai:

= = t pd dq r p '
Dengan integrasi dilakukan untuk seluruh volume, d = elemen volume, dan menyatakan
kerapatan muatan. Hal penting yang perlu diperhatikan dari dipole yaitu bila Q = 0, maka
suku dipole akan mendominasi ekspansi. Beberapa sifat dipole listrik:
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 23

1) Pada umumnya dipole listrik p bergantung pada pemilihan titik asal. Dalam
kenyataannya dapat selalu diambil nol untuk titik asal, bila neto total, muatan
kontribusi Q bukan nol. Jika Q = 0, maka p mempunyai harga tak bergantung pada
asal.
2) Prototipe dipole terdiri dari muatan titik yang sama besarnya tapi berlawanan
tandanya dengan jarak relative . Momen dipole listrik dapat dinyatakan sebagai:
) ( ) ( ) ( '
+ +
+ = + + = =

r r q q r q r dq r p
Dengan r
+
dan r
-
adalah vector posisi dari muatan +q dan q dari titik asal 0. Dalam
hal ini kita akan mengkaji untuk kasus dipole dengan /r 0. Potensial dua muatan
titik bukan V
(1)
bila /r1. Kita pisahkan distribusi muatan ke dalam komponen
muatan positif dan negatif, yakni dq = dq
+
+ dq
-
, sehingga diperoleh:
+ +

+
> < + > =<
+ = =

Q r Q r
dq r dq r dq r p
' '
' ' '

Dengan <r
+
> dan <r
-
> menyatakan rata-rata pergeseran dari muatan positif total Q,
dan muatan negatif total Q- dari asal. Jika muatan neto dari distribusi adalah nol,
maka Q
-
=Q
+
, dan
| | o
+ + +
= > < > < = Q r r Q P ' '
3) Energi yang diperlukan untuk menempatkan sebuah dipol di dalam medan
elektrostatik luar dari fungsi potensial V adalah:
) ' ( ) ' (
) 1 (
+
+ = r qV r qV U
Dengan o + =
+
' ' r r . Jika cukup kecil, kita dapat mengambil aproksimasi V(r-+)
dengan dua suku pertama dari uraian Taylor yakni ) ' ( ) . ( ) ' ( ) ' (

V + = + r V r V r V o o .
Dengan demikian ) ' ( ) . ( ) ' ( ) ' (
) 1 (

+ + = r V V q r qV r qV U o . Ambil ) (r V E V =
yang memberikan:
) ( .
) 1 (
r E p U =
Di dalam kasus sangat kecil, kita nyatakan E konstan untuk seluruh dipol.
Kemudian U
(1)
mempunyai interpretasi sederhana seperti kerja yang diperlukan untuk
menempatkan muatan positif q dengan di dalam medan E.
4) Gaya F pada dipole yang tercelup di dalam medan eksternal E, adalah F = F
-
+ F
+
,
dengan F- dan F+ adalah gaya yang bekerja pada muatan q dan q. Nyatakan
) (

= r qE F , maka F menjadi
Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 24

) ( ) ( ) ( ) ( o + + = + =
+ +
r qE r qE r qE r qE F
Gunakan uraian Taylor, dan ambil dua suku pertama, maka diperoleh:
) ( ) . ( ) ( ) (

V + + ~ r E q r qE r qE F o
Atau
E p F ) . ( V =
Interpretasi fisis persamaan ini yaitu, gaya pada sebuah dipole adalah nol bila medan
yang digunakan adalah medan homogen.
5) Torka pada dipol bila ditempatkan pada medan E homogeny adalah:
+ +
+ = F r F r t
Dengan F
-
dan F
+
adalah gaya yang dikerjakan oleh medan pada muatan q dan q.
masukan F

qE memberikan:
E p qE qE r r = = =
+
o t ) (
Torka tersebut mengarahkan momen dipole sehingga menjajarkan diri sepanjang
medan E. Jika medan E tidak homogeny, maka dapat ditunjukan secara langsung :

Dengan F adalah gaya yang bekerja pada dipole, dengan r adalah perpindahan dari
titik asal terhadap titik dimana torka akan dihitung.
6) Karena sebuah dipole dapat dibayangkan terdiri dari dua monopol yang sama dan
berlawanan dipisahkan oleh jarak , maka :
) ( ) (
) 0 ( ) 0 ( ) 1 (
o + = r V r V V
Dengan mempergunakan uraian Taylor, maka diperoleh :
) ( ) . (
) ( ) . ( ) ( ) (
) 0 (
) 0 ( ) 0 ( ) 0 ( ) 1 (
r V
r r V r V V
V =
V V =
o
o

Dengan demikian, kasusnya dapat diperluas untuk multipol orde n yaitu :
) 1 ( ) ( ) ( ) 1 ( ) 1 ( ) (
. ) ( ) (

V = + =
n n n n n n
V r V r V V o o
Dengan
(n)
adalah perpindahan dua multipol orde (n -1) satu terhadap yang lainnya.

2.6.3 Suku Quadrupol ; V
(2)

Kontribusi potensial V
(2)
disebut suku quadrupol yaitu :
( ) | |dq r r r r
r
V

= ' ' . 3
2
1
4
1
2 2
5
0
) 2 (
tc

Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 25

Kita telah menulis suku ini sedemikian, sehingga bagian integran merupakan simetri
secara lengkap relatif terhadap r dan r. Perluaslah bagian integran ke dalam koordinat
Kartesian, dan ingat bahwa integrasi untuk seluruh muatan bergantung pada koordinat ( x,
y, z), bukan pada koordinat titik observasi (x, y, z) yang memberikan :
| |


+ + + +
+ + + + =
dq z r z dq y z zy dq x z zx dq z y yz
dq y r y dq y x xy dq z x xz dq y x xy dq x r x dq rr r r
2 2 2
2 2 2 2 2 2 2
' ) 3 ( ' ' 3 ' ' 3 ' ' 3
' ) 3 ( ' ' 3 ' ' 3 ' ' 3 ' ) 3 ( ) ' ( ) ' . ( 3
Elemen-elemen diagonal dari array suku adalah sama. Array integral adalah sebuah matriks
yang disebut matriks quadrupol. Elemen-elemen matriks akan dinyatakan dengan Q
xx
, Q
xy
,
Q
xz
dst. Pengetahuan tentang elemen-elemen secara lengkap ini dispesifikasikan dengan V
(2)
,
sebagai pengetahuan tentang komponen momen dipol (px, py, pz) menspesifikasikanV
(1)
.
Persamaan di atas dapat ditulis sebagai:
| |

=
=
3
1 ,
2
5
0
) 2 (
3
2 4
1
j i
ij j i
ij
r x x
r
Q
V o
tc

Dengan
dq x x Q
j
i
ij
' '

=
Dan kita gunakan x
1
= x, x
2
= y, dan x
3
= z, dan ij adalah delta kronecker; dengan harga 1
bila i = j, dan berharga nol bila i j.
Kita kelompokan kembali suku-suku di atas, maka diperoleh:

+ + dq z r z xy dq y r y dq x r x
2 2 2 2 2 2 2 2
' ) 3 ( 3 ' ) 3 ( ' ) 3 (
Pernyataan ini ekivalen dengan:

+ + dq r z z dq r y y dq r x x ) '
3
1
' ( 3 ) '
3
1
' ( 3 ) '
3
1
' ( 3
2 2 2 2 2 2 2 2 2

Di dalam suku integral matriks kuadrupol ini (dinyatakan dengan Qxx, Qyy,Qzz)
direduksi, karena Qxx + Qyy + Qzz = 0, dimana

= dq r Q Q Q
zz yy xx
2
' ' , ' , '
Jadi, potensial secara alternatif dapat ditulis sebagai:

=
=
3
1 ,
5
0
) 2 (
' 3
2
1
4
1
j i
ij j i
Q x x
r
V
tc

Dengan 1, 2, dan 3 menyatakan x, y, dan z, dan

= dq r x x Q
ij j i ij
) '
3
1
' ' (
2
o


Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 26

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
3.1.1 Metode pemisahan variabel dalam menentukan potensial listrik terdapat tiga jenis
penyelesaian dalam koordinat kartesian (satu, dua dan tiga dimensi), koordinat bola dan
koordinat silinder)
3.1.2 Persamaan Poisson potensial ditunjukkan dengan persamaan
0
2
c
p
= V V

3.1.2 Penentuan potensial dengan metode distribusi muatan eksponensial ditunjukkan dengan
persamaan V(r) =


3.1.1 Penentuan potensial listrik dengan metode perluasan multipol yang menyangkut suku
monopol, dipol dan quadropol dapat diselesaikan dengan persamaan V(r)
( )
...
2
' . 3
4
1
' .
4
1
4
1
2 2
3
0
2
0 0
+


+ + =

dq
r r r
r
dq r r
r
dq
r tc tc tc

3.2 Saran-saran
Berdasarkan materi diatas yang telah dibahas secara jelas, serta pembahasan yang
secara kuantitatif yang membantu kita memahami berbagai cara untuk menentukan dan
menganalisis potensial listrik baik itu metode pemisahan variabel pada persamaan Laplace
dengan sistem koordinat kartesian, bola dan silinder, persamaan Poisson, metode distribusi
muatan eksponensial, perluasan multipol menyangkut suku monopol, dipol dan quadropol.
Maka dalam hal ini dapat penulis sarankan kepada pembaca, untuk tidak hanya memahami
materi, namun bisa memanfaatkan dan menerapkan berbagai konsep yang telah dibahas,
setidaknya untuk memecahkan permasalahan praktis yang terkait materi makalah ini,
terutama untuk masalah yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.



Metode Penentuan Potensial 2011

Kelompok V (Ratna, Widi, Dedi, Yurika, Hendra) 27

Daftar Rujukan

Bachtiar, Ari. Handout Kuliah Listrik Magnet. Bandung : Universitas Padjararan Bandung
Giancoli, Douglas C. 2001. Fisika Giancoli Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Suyoso, 2003. Listrik Magnet. Jurusan Fisika Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta
Sujanem, Rai. 2001. Bahan Ajar Listrik Magnet. Singaraja : IKIP Negeri Singaraja