Anda di halaman 1dari 23

SKANDAL MANIPULASI LAPORAN KEUANGAN DAN

KEJAHATAN KORPORASI DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN


PELUANG DAN RESIKO ETIKA

Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir, Wajah dunia seakan mendapatkan pukulan berat dari
banyaknya tragedi-tragedi kemanusiaan, bisnis dan politik yang akhirnya bermuara pada derita
krisis global saat ini. Banyaknya kejadian memilukan didunia ini cenderung disebabkan oleh
banyaknya pengabaian etika dalam berbagai lini kehidupan masyarakat dunia. Salah satu lini
kehidupan masyarakat dunia ini adalah kegiatan Bisnis. Kebutuhan hidup masyarakat dunia tidak
mungkin terpenuhi tanpa adanya Kegiatan bisnis.

Dalam sepuluh tahun terakhir, cukup banyak tragedy kehancuran bisnis yang terjadi di
dunia, tragedy ini memberi dampak penderitaan yang cukup signifikan pada kehidupan
masyarakat luas dan tak sedikit korban yang berjatuhan karenanya. Sebagian besar Tragedy ini
dipicu oleh adanya pengabaian etika dalam setiap kegiatan bisnis. Secara singkat, Pengabaian
etika adalah dilakukannya suatu kegiatan yang dianggap benar oleh para pengambil keputusan,
namun membawa dampak merugikan atau dianggap salah oleh pihak lain . Contoh pengabaian
etika itu sendiri antara lain adalah, praktek kecurangan dalam pembuatan laporan keuangan,
penyuapan, window dressing, dan lain sebagainya.

Titik tolak adanya pengabaian etika ini salah satunya adalah usaha perusahaan dalam
mencapai tujuan utama mereka. Tujuan utama dari beroperasinya suatu perusahaan adalah untuk
menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Banyak cara yang ditempuh perusahaan dalam
mencapai tujuan ini. Beberapa dari mereka yang berintegritas akan memilih cara yang
melibatkan etika dalam menghasilkan laba, dan sebagian lainnya akan menggunakan
rasionalisasi tertentu dengan sedikit banyak mengabaikan etika. Sejarah membuktikan, mereka
yang mengabaikan etika cenderung mengalami kehancuran lebih cepat daripada mereka yang
melibatkan etika didalam keputusan bisnisnya, karena dengan mengabaikan etika, berbagai lini
dan segi bisnis yang mengandung kesamaan nilai-nilai etika dapat tumbang seperti halnya efek
domino. Sebagai contoh, jika para manajer puncak melakukan pengambilan keputusan tanpa
disertai integritas dan moral, maka para manajer bawah akan cenderung meniru atau melakukan

1 | Page
hal yang sama, hal ini kemudian menjalar kepada lini bawah dan berdampak luas pada area
eksternal perusahaan, yaitu konsumen yang merugi akibat keputusan tidak etis perusahaan,
pemerintah yang kehilangan potensi pendapatan pajak, para stock holder yang mengalami
kerugian akibat menurunnya nilai saham, dan resahnya dewan-dewan asosiasi. Dinamika
pengabaian etika yang seperti inilah yang akhirnya memunculkan skandal korporasi Enron dan
Arthur Andersen, WorldCom, Tragedi Lumpur Lapindo, Kematian bayi-bayi di China akibat
dicampurnya melamin dalam susu bayi, dan lain sebagainya.

Berkaca dari beberapa kejadian yang memilukan tesebut, para praktisi bisnis dan
keuangan dunia mulai memperluas area manajemen resiko mereka. Dari yang awalnya hanya
berfokus pada area manajemen resiko bisnis, mereka mulai menyadari bahwa mereka perlu
menerapkan manajemen dalam lingkup etika. Dalam literature, manajemen di lingkup etika ini
disebut manajemen resiko etika. Dalam Brooks (2004) dinyatakan, Para praktisi bisnis kini mulai
menyadari bahwa meskipun manajemen risiko cenderung berfokus kepada masalah-masalah
non-etis, bukti yang ada menunjukkan bahwa penghindaran bencana dan kegagalan juga
memerlukan perhatian kepada masalah risiko etika.

Dalam praktek penilaian dan review resiko, terutama yang berkaitan dengan resiko etika,
beberapa direktur perusahaan cenderung menganggap hal tersebut sebagai bagian dari tanggung
jawab auditor eksternal. Hal ini sangat tidak tepat mengingat perhatian para auditor eksternal
adalah hanya jika risiko yang ditemukan akan mengakibatkan kekeliruan material dari hasil operasional
atau posisi keuangan perusahaan. Lagipula, walaupun auditor eksternal juga bertugas untuk melakukan
pengujian terhadap sistim pengendalian internal perusahaan, mereka tidak diwajibkan untuk menemukan
setiap masalah. Tidak pernah ada keharusan bagi auditor eksternal untuk menemukan dan melaporkan
peluang etika, sehingga pihak manajemen perusahaan harus merancang dan mereview sendiri prosedur
manajemen peluang dan resiko etika mereka.

Menurut Sarbane-Oxley Act (SOX), manajemen sekarang diharapkan untuk melaporkan sistem
pengendalian internal dan auditor eksternal harus melaporkan sistem tersebut berserta dengan laporan
manajemen. Bahkan setelah pengadopsian reformasi SOX, auditor eksternal akan terus mencari
pelanggaran dan/atau kesalahan dalam pengendalian yang bisa mengakibatkan terjadinya kekeliruan
material dalam laporan keuangan. Mereka biasanya tidak diharapkan melacak hal-hal immaterial atau
peluang atau risiko non-finansial lainnya. Dengan kata lain, mereka biasanya tidak akan diharapkan
untuk menemukan peluang atau seluruh risiko etika dengan manajemen atau komite audit dewan. Oleh

2 | Page
karena itu, direktur dan eksekutif, yang bertanggung jawab mengawasi semua risiko etika, harus
merancang audit internal atau proses review atau secara spesifik kontrak dengan pihak luar untuk
melakukan review.

Terkait dengan masalah manajemen resiko etika, Belakangan ini profesi akuntan banyak
mendapat sorotan tajam dari masyarakat semenjak terungkapnya beberapa skandal bisnis yang
melibatkan para akuntan. Profesi akuntan yang seharusnya mampu memberikan pelayanan
terbaik kepada masyarakat sebagai stake holder perusahaan, dalam beberpa kasus
menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan hanya demi memenuhi kepentingan segelintir
stock holder. Hal ini merupakan salah satu resiko etika yang kita temui di luar area internal
manajemen. Sebagai contoh, Kasus KAP Arthur Andersen di Amerika yang melakukan
pengabaian etika, pengabaian harapan stake holder dan melakukan kecurangan profesi demi
kepentingan diri sendiri dan perusahaan Enron telah secara telak menjerumuskan mereka kepada
kehancuran. Kejadian tersebut telah merugikan banyak pihak dan mencoreng kehormatan profesi
akuntan dan menjadi salah satu puncak stigma masyarakat yang sangat mengganggu dan
merisaukan para praktisi akuntansi. Hal ini kemudian mengantarkan kita pada pemahaman
mengenai pentingnya pengelolaan resiko etika, baik pada pengendalian internal perusahaan
maupun pada praktik akuntansi oleh para profesional akuntan.

Definisi dan Pengertian

I. Etika dan Etika Bisnis


Etika dapat didefinisikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi
pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens,
2001). Pengertian tersebut mengisyaratkan bahwa etika memiliki peranan penting dalam
melegitimasi segala perbuatan dan tindakan yang dilihat dari sudut pandang moralitas
yang telah disepakati oleh masyarakat.
Beberapa prinsip etis dalam bisnis telah dikemukakan oleh Robert C.Solomon da
(1993) dalam Bertens (2000), yang memfokuskan pada keutamaan pelaku bisnis
individual dan keutamaan pelaku bisnis pada taraf perusahaan. Berikut dijelaskan
keutamaan pelaku bisnis individual, yaitu:
 Kejujuran

3 | Page
Kejujuran secara umum diakui sebagai keutamaan pertama dan paling penting yang
harus dimiliki pelaku bisnis. Orang yang memiliki keutamaan kejujuran tidak akan
berbohong atau menipu dalam transaksi bisnis. Pepatah kuno caveat emptor yaitu
hendaklah pembeli berhati-hati. Pepatah ini mengajak pembeli untuk bersikap kritis
untuk menghindarkan diri dari pelaku bisnis yang tidak jujur. Kejujuran memang
menuntut adanya keterbukaan dan kebenaran, namun dalam dunia bisnis terdapat
aspek-aspek tertentu yang tetap harus menjadi rahasia. Dalam hal ini perlu dicatat
bahwa setiap informasi yang tidak benar belum tentu menyesatkan juga.
 Fairness
Fairness adalah kesediaan untuk memberikan apa yang wajar kepada semua orang
dan dengan ”wajar” yang dimaksudkan apa yang bisa disetujui oleh semua pihak
yang terlibat dalam suatu transaksi.
 Kepercayaan
Kepercayaan adalah keutamaan yang penting dalam konteks bisnis. Kepercayaan
harus ditempatkan dalam relasi timbal-balik. Pebisnis yang memiliki keutamaan ini
boleh mengandaikan bahwa mitranya memiliki keutamaan yang sama. Pebisnis yang
memiliki kepercayaan bersedia untuk menerima mitranya sebagai orang yang bisa
diandalkan. Catatan penting yang harus dipegang adalah tidak semua orang dapat
diberi kepercayaan dan dalam memberikan kepercayaan kita harus bersikap kritis.
Kadang kala juga kita harus selektif memilih mitra bisnis. Dalam setiap perusahaan
hendaknya terdapat sistem pengawasan yang efektif bagi semua karyawan, tetapi
bagaimanapun juga, bisnis tidak akan berjalan tanpa ada kepercayaan.
 Keuletan
Keutamaan keempat adalah keuletan, yang berarti pebisnis harus bertahan dalam
banyak situasi yang sulit. Ia harus sanggup mengadakan negosiasi yang terkadang
seru tentang proyek atau transaksi yang bernilai besar. Ia juga harus berani
mengambil risiko kecil ataupun besar, karena perkembangan banyak faktor tidak
diramalkan sebelumnya. Ada kalanya ia juga tidak luput dari gejolak besar dalam
usahanya. Keuletan dalam bisnis itu cukup dekat dengan keutamaan keberanian
moral.

4 | Page
Selanjutnya, empat keutamaan yang dimiliki orang bisnis pada taraf
perusahaan, yaitu:

 Keramahan
Keramahan tidak merupakan taktik bergitu saja untuk memikat para pelanggan, tapi
menyangkut inti kehidupan bisnis itu sendiri, karena keramahan itu hakiki untuk
setiap hubungan antar-manusia. Bagaimanapun juga bisnis mempunyai segi melayani
sesama manusia.
 Loyalitas
Loyalitas berarti bahwa karyawan tidak bekerja semata-mata untuk mendapat gaji,
tetapi juga mempunyai komitmen yang tulus dengan perusahaan. Ia adalah bagian
dari perusahaan yang memiliki rasa ikut memiliki perusahaan tempat ia bekerja.
 Kehormatan
Kehormatan adalah keutamaan yang membuat karyawan menjadi peka terhadap suka
dan duka serta sukses dan kegagalan perusahaan. Nasib perusahaan dirasakan sebagai
sebagian dari nasibnya sendiri. Ia merasa bangga bila kinerjanya bagus.
 Rasa Malu
Rasa malu membuat karyawan solider dengan kesalahan perusahaan. Walaupun ia
sendiri barang kali tidak salah, ia merasa malu karena perusahaannya salah.

II. Resiko Etika


Resiko Etika merupakan suatu kemungkinan dilanggarnya etika yang disebabkan
oleh ketidak mampuan perusahaan atau institusi dalam memenuhi harapan stake holder.
Untuk itu, agar suatu organisasi atau perusahaan tetap dapat bertahan hidup, perusahaan
dan professional wajib menjalankan manajemen resiko etika. Secara singkat, pengertian
manajemen resiko etika adalah Tata kelola yang menjunjung kode etik sehingga dapat
meminimalisasi ketidak mampuan perusahaan dalam memenuhi harapan Stake Holder.

Adapun ragam resiko etika dalam kaitannya dengan stake holder itu sendiri adalah:

Harapan para stake holder yang tidak dapat dipenuhi Resiko Etika
Pemegang Saham (Share Holders)

5 | Page
- Adanya Perilaku Penggelapan dana dan asset - Kejujuran dan integritas
- Adanya Konflik Kepentingan dengan para eksekutif - Pertanggung jawaban
perusahaan yang dapat diprediksi
- Tingkatan performa perusahaan yang tidak sesuai - Kejujuran dan
dengan keinginan para pemegang saham pertanggungjawaban
- Keakuratan dan transparasi laporan keuangan - Kejujuran dan Integritas
Karyawan
- Keamanan Kerja - Kewajaran
- Pembedaan - Keadilan
- Mempekerjakan anak dibawah umur dan pemerasan - Keadilan dan perlakuan
tenaga buruh kasih sayang
Pelanggan
- Keamanan Produk - Keterbukaan
- Performa Perusahaan - Kewajaran
Lingkungan
- Terciptanya Polusi - Integritas dan
Pertanggungjawaban
( Brooks, The Ethic Expectation )

Dengan adanya resiko etika tersebut, maka manajemen perlu menerapkan pengelolaan
atau manajemen yang berfokus pada pemenuhan kepentingan stake holder.

III. Manajemen Resiko Etika

Dalam menerapkan manajemen resiko etika, terdapat beberapa tahapan yang dapat
dilakukan oleh para investigator perusahaan, yaitu dengan mengidentifikasi dan menilai
resiko etika, Menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan
stake holder, serta melakukan Akuntabilitas Sosial dan Audit.

A. Mengidentifikasi dan Menilai Resiko Etika


Identifikasi Penilaian resiko etika dibagi menjadi beberapa tahap:
1. Melakukan penilaian dan identifikasi para stake holder perusahaan
Dalam tahap ini, investigator manajemen membuat daftar mengenai siapa dan apa
saja para stake holder yang berkepentingan beserta harapan mereka. Dengan

6 | Page
mengetahui siapa saja para stake holder dan apa kepentingannya serta harapan
mereka, maka manajemen dapat melakukan penilaian dalam pemenuhan harapan
stake holder. Setelah melengkapi tahapan ini semua, investigator hendaknya
memiliki pemahaman mengenai bentuk kepentingan stakeholder mana saja yang
sensitif dan penting, dan kenapa hal itu penting bagi stakeholder. Kemudian,
investigator harus mengkonfirmasikan penilaian mereka ini dengan berinteraksi
dengan sebuah panel stakeholder representatif dan dengan sekelompok penting
stakeholder. Dengan demikian, maka akan menunjukkan adanya perhatian
perusahaan terhadap kepentingan stake holder dan dapat membuka sebuah dialog
yang dapat membangun rasa saling percaya, yang nantinya juga dapat membantu
jika pada suatu hari nanti muncul masalah yang tidak menguntungkan.
2. Mempertimbangkan kemampuan aktivitas perusahaan dengan ekspektasi
stakeholder, dan menilai risiko ketidak sanggupan dalam memenuhi
ekspektasi stakeholder atau menilai adanya kemungkinan peluang untuk
berprestasi lebih dari yang diharapkan
Saat mempertimbangkan apakah ekspektasi telah terpenuhi, maka manajemen
wajib membuat perbandingan di antara input, output, kualitas relevan dan
variabel kinerja lainnya. Selain itu, perbandingan juga harus dibuat di antara
akitivitas perusahaan dan ekspektasi stakeholder dengan menggunakan enam nilai
hypernorm. Nilai hypernorm ini adalah kejujuran, keadilan, simpati, integritas,
prediktabilitas, dan tanggung jawab. Jika aktivitas perusahaan menghargai nilai-
nilai tersebut, maka terdapat kemungkinan bahwa aktivitas perusahaan juga akan
menghargai ekspektasi para stakeholder utama perusahaan, domestik dan luar
negeri, baik pada masa kini ataupun pada masa mendatang.
3. Meninjau ulang perbandingan akitivitas dan ekspektasi perusahaan dari
perspektif dampak reputasi perusahaan.
Menurut Charles Fombrun reputasi sendiri bergantung pada empat factor, yaitu
kejujuran, kredibilitas, reliabilitas, dan tanggung jawab. Faktor-faktor tersebut
bisa menjadi kerangkakerja dalam melakukan perbandingan.
4. Melakukan pelaporan

7 | Page
Setelah tahap ketiga selesai, maka manajemen dapat menyiapkan laporan kepada
masing-masing stake holder. Laporan tersebut harus dibuat dengan
mempertimbangkan kelompok stakeholder, produk atau jasa, tujuan perusahaan,
nilai-nilai hypernorm, dan elemen-elemen penentu reputasi.

Empat tahapan ini akan menghasilkan data yang memungkinkan direktur dan eksekutif
dapat mengawasi adanya peluang dan risiko etika, sehingga dapat ditemukan cara untuk
menghindari dan mengatasi risiko tersebut, serta agar dapat secara strategis mengambil
keuntungan dari kesempatan tersebut.

Secara singkat, dapat dijelaskan pada bagan berikut:

Fase 1 Fase 2 Fase 3


Mengembangka Membandingkan Laporan berdasar
n pemahaman aktivitas-
yang aktivitas dengan Kelompok
diproyeksikan, harapan- stakeholder
dan dirangking harapan untuk Produk atau jasa
Sasaran korporasi
dari mengidentifikasi
Nilai hipernorma
kepentingan / risiko-risiko Pemicu reputasi
harapan etika dan

Identifika Konfirma Pemicu reputasi:


si si Kepercayaan, kredibilitas,
reliabilitas, tanggung jawab
Merangking Analisis
: urgensi, dinamik
Hipernorm: Kejujuran, keadilan,
kekuasaan, kasih sayang, integritas,
legitimasi prediktabilitas, tanggung jawab

Kinerja: Input, output, kualitas

B. Penerapan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan stake
holder

8 | Page
Penerapan strategi dan taktik ini didasarkan pada kepentingan stake holder. Menurut
Savage, salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah dengan berfokus pada
kemungkinan apakah para stake holder tersebut bisa dengan mudah bekerja sama dengan
perusahaan, ataukah cenderung sulit bekerja sama dan menjadi ancaman bagi perusahaan.

Dibawah ini adalah bagan pemisahan stake holder berdasarkan kriteria dan strategi untuk
bersikap dan bekerja sama dengan mereka

Potensi Stakeholder untuk Ancaman

Tinggi Rendah
Potensi Stakeholder untuk Kerjasama

Tipe 4 Tipe 1

Dukungan Campuran Supportif


Tinggi
Strategi: Strategi:

Kolaborasi Terlibat

Tipe 3 Tipe 2

Non-supportif Marginal
Rendah
Strategi: Strategi:

Bertahan Monitor

Model tersebut menunjukkan bahwa kelompok stakeholder paling diinginkan (Tipe 1)


kemungkinan tidak akan memberikan ancaman yang cukup signifikan bagi tujuan
perusahaan, sehingga perusahaan dapat melakukan lebih banyak kerjasama dengan
mereka. Akan sangat logis untuk melibatkan peran kelompok stake holder ini dengan
perusahaan, karena kelompok ini akan cenderung setuju dengan rencana dan kebijakan
perusahaan.

Kelompok stakeholder yang tinggi urutan kerja samanya dan tinggi juga ancamannya
juga memiliki potensi yang sama (yaitu dukungan campuran) dan sangat bijaksana
mencoba berkolaborasi dengan mereka dan mempertahankan mereka sebagai
pendukung. Stakeholder yang tinggi ancamannya dan rendah kerja samanya, maka akan
dianggap tidak mendukung dan harus ditentang. Kelompok yang rendah ancamannya dan
rendah pula kerja samanya sebaiknya dikesampingkan dari pembentukan dukungan untuk

9 | Page
tujuan perusahaan, tetapi mungkin bijaksana mengawasi ekspektasi mereka saat terjadi
perubahan.

setiap strategi yang dikembangkan harus dikonfirmasikan lewat analisis ulang periodik
yang memungkinkan adanya persekutuan dengan kelompok stakeholder lewat
penggunaan kerangkakerja urgensi, kekuasaan, dan legitimasi, dan terutama posisi dan
trend cakupan media. Tindakan memalukan yang tiba-tiba bisa mengikis habis dukungan.
Jika memungkinkan, komunikasi lanjutan dengan para pendukung sangat diperlukan
dalam mempertahankan dukungan mereka. Tentu saja, pembentukan hubungan dan rasa
saling percaya akan membantu dalam penyediaan peluang untuk menjelaskan masalah
atau taktik jika diperlukan.

Penting juga untuk diperhatikan bahwa bagaimana stakeholder dalam satu sel model
tersebut bisa digerakkan ke arah posisi yang lebih mendukung. Dengan gagasan ini,
bahkan jika salah satu kelompok sedang ditentang, maka tetap penting untuk meneruskan
mempertimbangkan bagaimana mengubah kelompok tersebut menjadi pendukung. Oleh
karena itu, banyak kelompok stakeholder harus menjadi fokus lebih dari satu strategi
pada setiap waktu.

C. Akuntabilitas Sosial dan Audit

perusahaan melakukan pengukuran kinerja dimana beragam stakeholder sangat tertarik


untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, bagaimana teknik manajemen bekerja, dan
apa yang harus dilaporkan kepada publik.

Adit dan akuntabilitas sosial dimaksudkan untuk mereview perkembangan yang harusnya
terbukti benar dalam memutuskan apa yang harus diukur, pelaporan pihak lain, dan
langkah audit yang mungkin diambil untuk memastikan akurasi informasi yang
dihasilkan dan dilaporkan.

KASUS-KASUS YANG BERKAITAN

Berikut ini adalah beberapa kasus terkini yang dapat kita telaah sebagai pembelajaran
mengenai manajemen peluang dan resiko etika. Kasus Pertama mengenai Manajemen Resiko
Etika pada bisnis yang direpresantasikan pada PT. Adam Sky Connection Airlines (Adam Air),
Dan kasus kedua adalah pembahasan tentang manajemen resiko etika dalam profesi akuntan
yang direpresantasikan pada PT. Kimia Farma.

10 | P a g e
KASUS I

PT. Adam Sky Connection Airlines (Adam Air)

Adam Air (nama resmi: PT. Adam SkyConnection Airlines) adalah sebuah maskapai
penerbangan berbiaya murah yang berbasis di Indonesia. Untuk rute internasional, Adam Air
melayani penerbangan ke Singapura dan Penang (Malaysia). Maskapai penerbangan ini didirikan
oleh Sandra Ang dan Agung Laksono, yang juga menjabat sebagai Ketua DPR, dan mulai
beroperasi pada 19 Desember 2003 dengan penerbangan perdana ke Balikpapan.

Pada awal beroperasi, Adam Air menggunakan dua Boeing 737 sewaan. Saat pertama
diluncurkan, Adam Air mengklaim bahwa mereka menggunakan "Boeing 737-400 baru"
walaupun ternyata pesawat Boeing mereka sebenarnya merupakan sewaan yang telah berusia
lebih dari 15 tahun. Boeing telah menghentikan produksi 737-400 selama beberapa tahun.

Pada 9 November 2006, Adam Air menerima penghargaan Award of Merit dalam the Category
Low Cost Airline of the Year 2006 dalam acara 3rd Annual Asia Pacific and Middle East Aviation
Outlook Summit di Singapura.

Setelah berbagai insiden dan kecelakaan yang menimpa maskapai-maskapai penerbangan di


Indonesia, pemerintah Indonesia membuat pemeringkatan atas maskapai-maskapai tersebut. Dari
hasil pemeringkatan yang diumumkan pada 22 Maret 2007, Adam Air berada di peringkat III
yang berarti hanya memenuhi syarat minimal keselamatan dan masih ada beberapa persyaratan
yang belum dilaksanakan dan berpotensi mengurangi tingkat keselamatan penerbangan.
Akibatnya Adam Air mendapat sanksi administratif yang akan direview kembali setiap 3 bulan.
Bila tidak ada perbaikan kinerja maka Air Operator Certificate dapat dibekukan.

Pada April 2007, PT. Bhakti Investama melalui anak perusahaannya Global Air Transport
membeli 50% saham Adam Air dari keluarga Sandra Ang dan Adam Suherman, namun setahun
kemudian pada 14 Maret 2008 menarik seluruh sahamnya karena merasa Adam Air tidak
melakukan perbaikan tingkat keselamatan serta tiadanya transparansi. Kegiatan operasional
Adam Air kemudian dihentikan sejak 17 Maret 2008 dan baru akan dilanjutkan jika ada investor
baru yang bersedia menalangi 50 persen saham yang ditarik Bhakti Investama tersebut.

11 | P a g e
Pada 18 Maret 2008, izin terbang atau Operation Specification Adam Air dicabut Departemen
Perhubungan melalui surat bernomor AU/1724/DSKU/0862/2008. Isinya menyatakan bahwa
Adam Air tidak diizinkan lagi menerbangkan pesawatnya berlaku efektif mulai pukul 00.00
tanggal 19 Maret 2008. Sedangkan AOC (Aircraft Operator Certificate)nya juga terancam
dicabut apabila dalam 3 bulan mendatang tidak ada perbaikan.

Berikut Ini adalah rangkaian Insiden kejadian yang menimpa Adam Air:

• 11 Februari 2006, Adam Air Penerbangan 782, Boeing 737-300, PK-KKE BH-782,
Jakarta-Makassar, kehilangan arah dan mendarat di Bandara Tambolaka, NTT. Pesawat
membawa 146 penumpang dan 6 awak pesawat. Tidak ada korban.

• 1 Januari 2007, Adam Air Penerbangan 574, PK-KKW DHI-574, Boeing 737-400
Jakarta-Manado via Surabaya yang membawa 96 penumpang dan 6 awak pesawat, hilang
di perairan Majene, Sulawesi Barat. Pesawat hancur berkeping-keping setelah hilang
kendali dan menghunjam laut. Sementara itu, hanya sebagian kecil bagian pesawat yang
dapat ditemukan. Sebanyak 102 penumpang dan awak pesawat tidak ditemukan.
Penyebab kecelakaan seperti yang diumumkan oleh Komisi Nasional Keselamatan
Transportasi (KNKT) adalah cuaca buruk, kerusakan pada alat bantu navigasi Inertial
Reference System (IRS), dan kegagalan kinerja pilot dalam menghadapi situasi darurat.

• 7 Januari 2007, 16 pilot Adam Air mengundurkan diri karena mereka menilai buruknya
standar keamanan dan sistem navigasi di pesawat-pesawat yang dinilai berkualitas
jelek.[9] Adam Air kemudian menuntut balik semua pilot ini karena kontrak kerja mereka
belum habis.

• 21 Februari 2007, Adam Air Penerbangan KI 172, PK-KKV, (dalam gambar) Boeing
737-33A Jakarta-Surabaya tergelincir di Bandara Juanda, Surabaya. Badan pesawat
melengkung namun semua penumpang selamat. Atas peristiwa ini, Departemen
Perhubungan Republik Indonesia memerintahkan untuk menghentikan untuk sementara
pengoperasian tujuh pesawat Boeing 737-300 milik Adam Air.

• 6 Maret 2007, pesawat Adam Air gagal lepas landas dari Bandara Juanda karena roda
depan rusak.

12 | P a g e
• 9 Juni 2007, pesawat Adam Air jurusan Surabaya-Jakarta kembali ke landasan setelah
mengudara selama 20 menit karena mengalami gangguan tekanan udara kabin.

• 24 November 2007, pesawat Adam Air jurusan Jakarta-Medan mengalami pecah ban.

• 10 Maret 2008, pesawat Adam Air KI-292 Boeing 737-400 jurusan Jakarta-Batam
tergelincir di landasan Bandar Udara Hang Nadim, Batam. Roda pendaratan pesawat
patah setelah menghantam keras landasan bandara, sehingga menyebabkan pesawat
keluar dari landasan sejauh 75 meter, dan mengalami kerusakan pada salah satu bagian
sayapnya. Sebanyak 171 orang penumpang dan 6 awak pesawat selamat. Penyebab
kecelakaan diduga akibat cuaca buruk.

Pembahasan

Ditutupnya maskapai penerbangan Adam Air ini bukan hanya karena masalah kesalahan
operasinal dan teknis semata, namun lebih cenderung karena diabaikannya harapan-harapan
stake holder dan tak dilibatkannya etika dalam pengambilan keputusan-keputusan penting.

Dari kasus tersebut, bentuk-bentuk pelanggaran etika yang dilakukan perusahaan penerbangan
ini adalah:

1. Tidak diindahkannya keselamatan penumpang (stake holder) dengan digunakannya


pesawat Boeing 737-400 yang telah berusia 15 tahun.

Demi mencapai tujuan peningkatan laba yang sebesar-besarnya, maskapai ini secara tega
mempertaruhkan keselamatan pelanggan dan karyawannya.

2. Dilakukannya kebohongan public dengan mengklaim bahwa operasional Adam Air


menggunakan "Boeing 737-400 baru" walaupun ternyata pesawat Boeing mereka
sebenarnya merupakan sewaan yang telah berusia lebih dari 15 tahun.

3. Tidak dijalankannya perbaikan tingkat keselamatan serta tiadanya transparansi.

Faktor-faktor diatas sangat jelas menerangkan bahwa perusahaan mengabaikan


keselamatan stake holder utama, tidak melakukan upaya going concern, dan tidak menerapakan

13 | P a g e
manajemen resiko bisnis apalagi manajemen resiko etika, sehingga sudah menjadi hal yang
semestinya jika akhirnya pemerintah selaku regulator menutup maskapai penerbangan ini.
Adalah hal yang sangat tidak dapat diterima, jika badan pelayanan public, yang bertujuan
untuk memberikan pelayanan dan kemudahan pada publik melalui penawaran jasanya, justru
menggunakan public hanya sebagai media dalam mendapatkan keuntungan semata, tanpa
memperhitungkan keselamatan mereka. Selain itu, cukup banyak dampak buruk yang harus
diterima skate holder dari adanya kasus-kasus yang terjadi, yaitu:
1. Jatuhnya korban jiwa dan korban terluka.
2. Tercemarnya reputasi maskapai penerbangan Indonesia
3. Hilangnya mata pencaharian karyawan
4. Keresahan Publik
Berdasarkan hal tersbut maka dapat disimpulkan bahwa Adam Air telah tidak
menerpakan beberapa nilai yang penting yang menjadi factor penunjang bertahannya suatu
bisnis, yaitu kejujuran, integritas, pertanggung jawaban, keterbukaan dan kewajaran.
Seharusnya, penutupan maskapai ini tidak perlu terjadi jika perusahaan tidak hanya
berfokus kepada pencapaian margin pendapatan semata, dan perusahaan ini akan dapat lebih
mampu bertahan jika menerapkan beberapa langkah seperti teori penerapan etika dan manajemen
resiko etika yang telah dipaparkan diatas.
A. Mengidentifikasi dan Menilai Resiko Etika
Identifikasi Penilaian resiko etika dibagi menjadi beberapa tahap:
1. Melakukan penilaian dan identifikasi para stake holder perusahaan
Dalam kasus ini, Pengidentifikasian dan penilaian resiko etika dapat diaplikasikan
pada tindakan sebagai berikut:
A. Melakukan penilaian dan identifikasi para stake holder Maskapai
Manajemen Adam Air dapat membuat daftar mengenai siapa dan apa saja para
stake holder yang berkepentingan beserta harapan mereka. Dengan mengetahui
siapa saja para stake holder dan apa kepentingannya serta harapan mereka, maka
manajemen dapat melakukan penilaian dalam pemenuhan harapan stake holder,
seperti misalnya harapan jaminan keselamatan penumpang, ketepaan waktu
keberangkatan, dan lain sebagainya. Dengan demikian, maka akan menunjukkan
adanya perhatian maskapai terhadap kepentingan stake holder, yaitu

14 | P a g e
penumpang/pelanggan, pemerintah, pemegang saham, dan karyawan. Selain itu,
hal ini dapat menjadi pembuka dialog yang dapat membangun rasa saling percaya,
yang nantinya juga dapat membantu jika pada suatu hari nanti muncul masalah
yang tidak menguntungkan., seperti misalnya insiden pecah ban, keterlambatan
jadwal, dan lain sebagainya.
B. Mempertimbangkan kemampuan aktivitas perusahaan dengan ekspektasi
stakeholder, dan menilai risiko ketidak sanggupan dalam memenuhi ekspektasi
stakeholder atau menilai adanya kemungkinan peluang untuk berprestasi lebih
dari yang diharapkan
Saat mempertimbangkan apakah ekspektasi telah terpenuhi, maka manajemen
wajib membuat perbandingan di antara input, output, kualitas relevan dan
variabel kinerja lainnya. Selain itu, perbandingan juga harus dibuat di antara
akitivitas perusahaan dan ekspektasi stakeholder dengan menggunakan enam nilai
hypernorm. Nilai hypernorm ini adalah kejujuran, keadilan, simpati, integritas,
prediktabilitas, dan tanggung jawab. Jika aktivitas perusahaan menghargai nilai-
nilai tersebut, maka terdapat kemungkinan bahwa aktivitas perusahaan juga akan
menghargai ekspektasi para stakeholder utama perusahaan, domestik dan luar
negeri, baik pada masa kini ataupun pada masa mendatang.
C. Meninjau ulang perbandingan akitivitas dan ekspektasi perusahaan dari
perspektif dampak reputasi perusahaan.
Menurut Charles Fombrun reputasi sendiri bergantung pada empat factor, yaitu
kejujuran, kredibilitas, reliabilitas, dan tanggung jawab. Faktor-faktor tersebut
bisa menjadi kerangkakerja dalam melakukan perbandingan.
D. Melakukan pelaporan
Setelah tahap ketiga selesai, maka manajemen dapat menyiapkan laporan kepada
masing-masing stake holder. Laporan tersebut harus dibuat dengan
mempertimbangkan kelompok stakeholder, produk atau jasa, tujuan perusahaan,
nilai-nilai hypernorm, dan elemen-elemen penentu reputasi.

Empat tahapan ini akan menghasilkan data yang memungkinkan direktur dan eksekutif
dapat mengawasi adanya peluang dan risiko etika, sehingga dapat ditemukan cara untuk

15 | P a g e
menghindari dan mengatasi risiko tersebut, serta agar dapat secara strategis mengambil
keuntungan dari kesempatan tersebut.

2. Menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan stake
holder
Adam Air dapat melakukan pengelompokan stake holder dan me ratingnya dari segi
kepentingan, dan kemudian menyusun rencana untuk berkolaborasi dengan stake holder
yang dapat memberikan dukungan dalam penciptaan strategi, yang dapat memenuhi
harapan para stake holder Adam Air.

3. Melakukan Akuntabilitas Sosial dan Audit.


Setelah rencana berajalan, maka Adam Air dapat melakukan peninjauan, apakah dalam
praktek nyata, rencana yang telah disusun untuk memenuhi harapan stake holder telah
diimplementasikan dengan baik. Jika tidak baik, maka dapat dilakukan perbaikan, jika
baik, maka dapat dilakukan langkah pengawasan yang berkesinambungan.

KASUS II

Skandal Manupulasi Laporan Keuangan


PT. Kimia Farma tbk

PT Kimia Farma adalah salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah di Indonesia.
Pada audit tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan adanya laba bersih
sebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di audit oleh Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM).
Akan tetapi, Kementrian BUMN dan Bapepam menilai bahwa laba bersih tersebut terlalu besar
dan mengandung unsur rekayasa. Setelah dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002 laporan
keuangan Kimia Farma 2001 disajikan kembali (restated), karena telah ditemukan kesalahan
yang cukup mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya
sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7% dari laba awal
yang dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan berupa
overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentral berupa overstated

16 | P a g e
persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar Farmasi berupa overstated
persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7 miliar.
Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang ada
dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur produksinya,
menerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master prices) pada tanggal 1 dan 3 Februari
2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan nilainya dan dijadikan dasar
penilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31 Desember 2001. Sedangkan
kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah dengan dilakukannya pencatatan ganda
atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling oleh
akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi. Berdasarkan penyelidikan Bapepam, disebutkan
bahwa KAP yang mengaudit laporan keuangan PT Kimia Farma telah mengikuti standar
audit yang berlaku, namun gagal mendeteksi kecurangan tersebut. Selain itu, KAP tersebut
juga tidak terbukti membantu manajemen melakukan kecurangan tersebut.
Keterkaitan Akuntan Terhadap Skandal Kimia Farma,Tbk
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) melakukan Pemeriksaan atau penyidikan baik
atas manajemen lama direksi PT Kimia Farma Tbk ataupun terhadap akuntan publik Hans
Tuanakotta dan Mustofa (HTM). Dan akuntan publik (Hans Tuanakotta dan Mustofa) harus
bertanggung jawab, karena akuntan publik ini juga yang mengaudit Kimia Farma tahun buku 31
Desember 2001 dan dengan yang interim 30 Juni tahun 2002.
Pada saat audit 31 Desember 2001 akuntan belum menemukan kesalahan pencatatan atas
laporan keuangan. Tapi setelah audit intertim 2002 akuntan publik Hans Tuanakotta Mustofa
(HTM) menemukan kesalahan pencatatan atas laporan keuangan. Sehingga Bapepam sebagai
lembaga pengawas pasar modal bekerjasama dengan Direktorat Akuntansi dan Jasa Penilai
Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan yang mempunyai kewenangan untuk mengawasi para
akuntan publik untuk mencari bukti-bukti atas keterlibatan akuntan publik dalam kesalahan
pencatatan laporan keuangan pada PT. Kimia Farma, Tbk untuk tahun buku 2001.
Namun dalam hal ini seharusnya akuntan publik bertindak secara independen karena
mereka adalah pihak yang bertugas memeriksa dan melaporkan adanya ketidakwajaran dalam
pencatatan laporan keuangan. Dalam UU Pasar Modal 1995 disebutkan apabila di temukan
adanya kesalahan, selambat-lambatnya dalam tiga hari kerja, akuntan publik harus sudah
melaporkannya ke Bapepam. Dan apabila temuannya tersebut tidak dilaporkan maka auditor

17 | P a g e
tersebut dapat dikenai pidana, karena ada ketentuan yang mengatur bahwa setiap profesi akuntan
itu wajib melaporkan temuan kalau ada emiten yang melakukan pelanggaran peraturan pasar
modal. Sehingga perlu dilakukan penyajian kembali laporan keuangan PT. Kimia Farma, Tbk
dikarenakan adanya kesalahan pencatatan yang mendasar, akan tetapi kebanyakan auditor
mengatakan bahwa mereka telah mengaudit sesuai dengan standar profesional akuntan publik.
Akuntan publik Hans Tuanakotta & Mustofa ikut bersalah dalam manipulasi laporan keuangan,
karena sebagai auditor independen akuntan publik Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM)
seharusnya mengetahui laporan-laporan yang diauditnya itu apakah berdasarkan laporan fiktif
atau tidak.

Keterkaitan Manajemen Terhadap Skandal Kimia Farma, Tbk


Mantan direksi PT Kimia Farma Tbk. Telah terbukti melakukan pelanggaran dalam kasus
dugaan penggelembungan (mark up) laba bersih di laporan keuangan perusahaan milik negara
untuk tahun buku 2001. Kantor Menteri BUMN meminta agar kantor akuntan itu menyatakan
kembali (restated) hasil sesungguhnya dari laporan keuangan Kimia Farma tahun buku 2001.
Sementara itu, direksi lama yang terlibat akan diminta pertanggungjawabannya. Seperti
diketahui, perusahaan farmasi terbesar di Indonesia itu telah mencatatkan laba bersih 2001
sebesar Rp 132,3 miliar. Namun kemudian Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menilai,
pencatatan tersebut mengandung unsur rekayasa dan telah terjadi penggelembungan. Terbukti
setelah dilakukan audit ulang, laba bersih 2001 seharusnya hanya sekitar Rp 100 miliar.
Sehingga diperlukan lagi audit ulang laporan keuangan per 31 Desember 2001 dan laporan
keuangan per 30 Juni 2002 yang nantinya akan dipublikasikan kepada publik
Setelah hasil audit selesai dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik Hans Tuanakotta &
Mustafa, akan segera dilaporkan ke Bapepam. Dan Kimia Farma juga siap melakukan revisi dan
menyajikan kembali laporan keuangan 2001, jika nanti ternyata ditemukan kesalahan dalam
pencatatan. Untuk itu, perlu dilaksanakan rapat umum pemegang saham luar biasa sebagai
bentuk pertanggungjawaban manajemen kepada publik. Meskipun nantinya laba bersih Kimia
Farma hanya tercantum sebesar Rp 100 miliar, investor akan tetap menilai bagus laporan
keuangan. Dalam persoalan Kimia Farma, sudah jelas yang bertanggung jawab atas terjadinya
kesalahan pencatatan laporan keuangan yang menyebabkan laba terlihat di-mark up ini,
merupakan kesalahan dari manajemen lama

18 | P a g e
Kesalahan Pencatatan Laporan Keuangan Kimia Farma Tahun 2001
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menilai kesalahan pencatatan dalam laporan
keuangan PT Kimia Farma Tbk. tahun buku 2001 dapat dikategorikan sebagai tindak pidana di
pasar modal. Kesalahan pencatatan itu terkait dengan adanya rekayasa keuangan dan
menimbulkan pernyataan yang menyesatkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Bukti-bukti tersebut antara lain adalah kesalahan pencatatan apakah dilakukan secara tidak
sengaja atau memang sengaja diniatkan. Tapi bagaimana pun, pelanggarannya tetap ada karena
laporan keuangan itu telah dipakai investor untuk bertransaksi. Seperti diketahui, perusahaan
farmasi itu sempat melansir laba bersih sebesar Rp 132 miliar dalam laporan keuangan tahun
buku 2001. Namun, kementerian Badan Usaha Milik Negara selaku pemegang saham mayoritas
mengetahui adanya ketidakberesan laporan keuangan tersebut. Sehingga meminta akuntan publik
Kimia Farma, yaitu Hans Tuanakotta & Mustofa (HTM) menyajikan kembali (restated) laporan
keuangan Kimia Farma 2001. HTM sendiri telah mengoreksi laba bersih Kimia Farma tahun
buku 2001 menjadi Rp 99 milliar. Koreksi ini dalam bentuk penyajian kembali laporan keuangan
itu telah disepakati para pemegang saham kimia farma dalam rapat umum pemegang saham luar
biasa. Dalam rapat tersebut, akhirnya pemegang saham Kimia Farma secara aklamasi
menyetujui tidak memakai lagi jasa HTM sebagai akuntan publik.

Dampak Terhadap Profesi Akuntan


Aktivitas manipulasi pencatatan laporan keungan yang dilakukan manajemen tidak
terlepas dari bantuan akuntan. Akuntan yang melakukan hal tersebut memberikan informasi
yang menyebabkan pemakai laporan keuangan tidak menerima informasi yang fair. Akuntan
sudah melanggar etika porfesinya. Kejadian manipulasi pencatatan laporan keuangan yang
menyebabkan dampak yang luas terhadap aktivitas bisnis yang tidak fair membuat pemerintah
campur tangan untuk membuat aturan yang baru yang mengatur profesi akuntan dengan maksud
mencegah adanya praktik-praktik yang akan melanggar etika oleh para akuntan publik.

19 | P a g e
PEMBAHASAN
Keterkaitan Manajemen Resiko Etika disini adalah pada pelaksanaan audit oleh KAP
HTM selaku badan independen, kesepakatan dan kerjasama dengan klien/ Stake Holder (PT.
Kimia Farma, dan pemberian opini atas laporan keuangan Klien.
Dalam Kasus ini, jika dipandang dari sisi KAP HTM, maka urutan stake holder utama
ditinjau dari segi kepentingan stake holder adalah:
1. Klien atau PT Kimia Farma Tbk
2. Pemegang saham
4. Masyarakat luas
Dalam kasus ini, KAP HTM menghadapi sanksi yang cukup berat dengan dihentikannya
jasa audit mereka. Hal ini terjadi bukan karena kesalahan KAP HTM semata yang tidak mampu
melakukan review menyeluruh atas semua elemen laporan keuangan, tetapi lebih karena
kesalahan manajemen Kimia Farma yang melakukan aksi manipulasi dengan penggelembungan
nilai persediaan.
Kasus yang menimpa KAP HTM ini adalah resiko inheren dari dijalankannya suatu tugas
audit. Sedari awal, KAP HTM seharusnya menyadari bahwa kemungkinan besar akan ada resiko
manipulasi seperti yang dilakukan PT. Kimia Farma, mengingat KAP HTM adalah KAP yang
telah berdiri cukup lama. Resiko ini berdampak pada reputasi HTM dimata pemerintah ataupun
public, dan pada akhirnya HTM harus menghadapi konsekwensi resiko seperti hilangnya
kepercayaan public dan pemerintah akan kemampuan HTM, penurunan pendapatan jasa audit,
hingga yang terburuk adalah kemungkinan di tutupnya kantor Akuntan tersebut.
Diluar esiko bisnis, resiko etika yang dihadapi KAP HTM ini cenderung pada
kemungkinan dilakukannya kolaborasi dengan manajemen Kimia Farma dalam manipulasi
laporan keuangan. Walaupun secara fakta KAP HTM terbukti tidak terlibat dalam kasus
manipulasi tersebut, namun hal ini bisa saja terjadi.
Sesuai dengan teori yang telah di paparkan diatas, manajemen resiko yang dapat
diterapkan oleh KAP HTM antara lain adalah dengan mengidentifikasi dan menilai resiko etika,
serta Menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan stake holder.
Berlainan dengan kasus Adam Air, akuntabilitas social dan audit tidak perlu dilakukan, karena
stake holder utama KAP HTM adalah klien, dan bukan public.

20 | P a g e
1. Mengidentifikasi dan menilai resiko etika
Dalam kasus antara KAP HTM dan Kimia Farma ini, Pengidentifikasian dan penilaian
resiko etika dapat diaplikasikan pada tindakan sebagai berikut:
A. Melakukan penilaian dan identifikasi para stake holder HTM,
HTM selayaknya membuat daftar mengenai siapa dan apa saja para stake holder
yang berkepentingan beserta harapan mereka. Dengan mengetahui siapa saja para
stake holder dan apa kepentingannya serta harapan mereka, maka KAP HTM
dapat melakukan penilaian dalam pemenuhan harapan stake holder melalui
pembekalan kepada para auditor senior dan junior sebelum melakukan audit pada
Kimia Farma.
B. Mempertimbangkan kemampuan SDM HTM dengan ekspektasi para stakeholder,
dan menilai risiko ketidak sanggupan SDM HTM dalam menjalankan tugas audit
C. Mengutamakan reputasi KAP HTM
Yaitu dengan berpegang pada nilai-nilai hypernorm, seperti kejujuran,
kredibilitas, reliabilitas, dan tanggung jawab. Faktor-faktor tersebut bisa menjadi
kerangkakerja dalam melakukan perbandingan.

Empat tahapan ini akan menghasilkan data yang memungkinkan Pimpinan KAP HTM
dapat mengawasi adanya peluang dan risiko etika, sehingga dapat ditemukan cara untuk
menghindari dan mengatasi risiko tersebut, serta agar dapat secara strategis mengambil
keuntungan dari kesempatan tersebut.

2. Menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan stake
holder
KAP HTM dapat melakukan pengelompokan stake holder dan me ratingnya dari segi
kepentingan, dan kemudian menyusun rencana untuk berkolaborasi dengan stake holder
yang dapat memberikan dukungan dalam penciptaan strategi, yang dapat memenuhi
harapan para stake holder HTM.

21 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. (2000). Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Brooks, L. (2000). Business & Professional Ethics for Accountants. South-Western Clloege
Publishing.

Duska, R., & Duska, B. (2005). Accounting Ethics. Blackwell Publishing.

http://insidewinme.blogspot.com/2007/12/kasus-etika-bisnis-perusahaan.htm,diakses tanggal 20
Januari 2009
www.bisnis.com

22 | P a g e
23 | P a g e