Anda di halaman 1dari 28

Laboratorium Kimia Analisa Departemen Teknik Kimia FT USU

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Analisis gravimetri merupakan salah satu divisi dari kimia analitik. Tahap pengukuran dalam metode gravimetri adalah penimbangan zat. Analitnya secara fisik dipisahkan dari semua komponen lain dari sampel itu maupun pelarutnya. Metode gravimetri merupakan metode yang paling mudah dalam menentukan kuantitas suatu zat dalam larutan sampel, karena metode gravimetri menggunakan massa atau berat dalam analisisnya. Untuk mengetahui kuantitas zat dalam larutan sampel, metode gravimetri memerlukan beberapa tahap yaitu, pengendapan, penimbangan dan pengukuran. Pada metode gravimetri, proses pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak terendapkan secara analis dapat dideteksi. Selain itu, zat yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni, atau sangat hampir murni agar tidak diperoleh hasil yang galat (Day & Underwood, 2002). Saat ini aplikasi metode gravimetri sudah sangat luas digunakan, terutama dalam bidang industri yaitu untuk mengukur kadar zat dalam sampel. Hal tersebut yang membuat percobaan analisa gravimetri dengan cara pengendapan ini perlu dilakukan. 1.2 Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini yang hendak dicapai, antara lain sebagai berikut : 1. Untuk mendapatkan endapan nikel. 2. Untuk menentukan kadar nikel (Ni2+) yang diperoleh dari penimbangan endapan kering dalam bentuk Ni(C4H7O2N2)2. 1.3 Rumusan masalah Permasalahan yang di rumuskan dalam percobaan ini adalah bagaimana cara menentukan kadar Ni dengan menimbang endapan kering Ni(C4H7O2N2)2. 1.4 Manfaat Percobaan Manfaat dari percobaan ini adalah mengetahui dan memahami konsep analisa gravimetri yang baik dan benar serta diharapkan kepada praktikan yang telah

Agus Mangiring S/100405029 Gravimetri

melaksanakan praktikum gravimetri ini, agar dapat dikembangkan pada saat mempraktikkannya di lingkungan kerja . 1.5 Ruang Lingkup Percobaan Praktikum kimia analisa modul penetapan nikel sebagai dimetilglioksima dengan gravimetri ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Analisa Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara dengan kondisi ruangan : Tekanan Suhu : : 760 mmHg 30 oC

Adapun bahan-bahan yang digunakan selama percobaan ini adalah larutan sampel dan sejumlah reagensia, antara lain : Sampel berupa kristal nikel diklorida hexahydrat (NiCl2.6H2O), Asam Klorida (HCl) 0,1N, Aquadest (H2O), Amonium Hidroksida NH4OH 6 N dan dimetiglioksima (C4H8O2N2) 1%. Dan alat yang diperlukan praktikan antara lain beaker glass, gelas ukur, corong, kertas saring, pipet tetes, cawan porselen, erlenmeyer, bunsen, kaki tiga, kasa penangas, penjepit tabung, termometer, batang pengaduk dan neraca digital.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Landasan Teori Analisis gravimetri atau analisis kuantitatif berdasarkan bobot adalah proses isolasi serta penimbangan suatu unsur atau senyawaan tertentu dari unsur tersebut yang sudah dikeringkan, dalam bentuk yang semurni mungkin. Unsur atau senyawaan itu dipisahkan dari suatu porsi zat yang sedang diselidiki, yang telah ditimbang. Sebagian besar penetapan-penetapan pada analisis gravimetri

menyangkut pengubahan unsur atau radikal yang akan ditetapkan menjadi sebuah senyawaan murni dan stabil, yang dapat dengan mudah diubah menjadi satu bentuk yang sesuai untuk ditimbang misalnya dengan proses pengeringan. Lalu bobot unsur atau radikal itu dengan mudah dapat dihitung dari pengetahuan kita tentang rumus senyawaannya serta bobot atom unsur-unsur penyusunnya (konstituennya). Analisis gravimetri dapat diterapkan hampir pada setiap unsur, seperti kalium, kalsium, aluminium, silikkon, fosfor, belerang, klorin, perak, seng, skandium, titanium, dan lain lain. Namun, pada percobaan ini unsur yang hendak dianalisis adalah logam nikel yang terdapat dalam garamnya, NiCl2 (Day & Underwood, 2002). Pemisahan unsur atau senyawaan dari senyawa / larutan yang mengandungnya dapat dicapai dengan beberapa metode analisis gravimetri. Adapun beberapa metode analisis gravimetri adalah sebagai berikut : metode pengendapan metode penguapan atau pembebasan (gas) metode elektroanalisis metode ekstraksi dan kromatografi

Namun, pada percobaan ini metode yang digunakan adalah metode pengendapan (Basset J., dkk, 1994). 2.2 Gravimetri dengan Metode Pengendapan Gravimetri pengendapan adalah gravimetri dimana komponen yang diinginkan diubah menjadi bentuk yang sukar larut. Bentuk ini kemudian harus dapat dipisahkan secara sempurna.

Dasar reaksinya adalah sebagai berikut :

aA + r R

Aa

+ Rr

dimana a molekul analit bereaksi dengan r molekul R menghasilkan AaRr . Metode pengendapan adalah hal yang paling penting dalam gravimetri. Bahan yang akan ditetapkan diendapkan dalam suatu larutan dalam bentuk yang begitu sedikit dapat larut, sehingga tidak terjadi kehilangan yang berarti bila endapan dipisahkan dengan menyaringnya dan pada saat ditimbang. Faktor-faktor yang menentukan analisis dengan pengendapan yang berhasil adalah : 1. Proses pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak terendapkan secara analitis tak dapat dideteksi (biasanya 0,1 mg atau kurang dalam menentukan penyusunan utama dalam suatu makro) 2. Zat yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni, atau sangat hampir murni. Bila tidak akan diperoleh hasil yang galat. Syarat bentuk senyawa yang ditimbang : Stoikiometri Mempunyai kestabilan yang tinggi Faktor gravimetrinya kecil

Adapun rumus untuk menghitung persentase analit dalam sampel adalah sebagai berikut.

Faktor gravimetrik adalah perbandingan massa relatif atom analit dengan massa relatif endapannya atau hasil pengeringannya (Anonim, 2011b). 2.3 Zat Pengendap Organik Pemisahan satu atau lebih ion anorganik dari campuran-campuran dapat dilakukan dengan bantuan reagensia organik, yang mana ion-ion ini menghasilkan senyawaan-senyawaan yang sangat sedikit dapat larut dan seringkali berwarna. Senyawaan-senyawaan ini biasanya mempunyai bobot molekul yang tinggi, sehingga ion dalam jumlah sedikit, akan menghasilkan endapan dalam jumlah relatif banyak.

Zat pengendap organik yang ideal harus bersifat spesifik, yaitu harus memberi suatu endapan dengan hanya satu ion tertentu. Tetapi hanya dalam kasus ideal hal ini dapat tercapai, lebih biasa ditemukan bahwa reagensia organik itu akan bereaksi dengan suatu kelompok ion. Tetapi seringkali dengan pengendalian kondisi eksperimen secara ketat adalah mungkin untuk mengendapkan hanya salah satu ion dari kelompok itu. Kadang-kadang senyawaan organik yang diendapkan, ditimbang setelah dikeringkan pada suhu yang sesuai. Dalam kasus lain, komposisinya tak benar-benar jelas dan zat diubah dengan pemijaran menjadi oksida logamnya. Sukar untuk memberi klasifikasi yang tegas atas reagensia-reagensia organik yang sangat banyak sekali itu. Yang paling penting dari antaranya adalah yang membentuk kompleks sepit (kelat), yang melibatkan pembentukan satu atau lebih cincin (biasanya terdiri dari lima atau enam anggota) yang memasukkan ion logam itu ke dalamnya. Pembentukan cincin ini menimbulkan kestabilan yang relatif besar. Satu klasifikasi reagensia organik mempertimbangkan banyaknya atom hidrogen yang digantikan dari satu molekul netral dalam membentuk satu cincin sepit. Adapun salah satu reagensia organik yang digunakan sebagai bahan pengendap dalam percobaan ini adalah dimetilglioksima (Anonim, 2011b). 2.4 Dimetilglioksima Reagensia ini ditemukan oleh L. Tschugaeff dan digunakan oleh O. Brunck untuk penetapan nikel dalam baja. Zat ini memberi endapan merah cerah bila direaksikan dengan larutan nikel dengan garamnya. Pengendapan biasanya dilakukan dalam larutan amoniak atau larutan buffer yang mengandung ammonium asetat dan asam asetat. Kompleks ditimbang setelah dikeringkan pada suhu 110 oC-120 oC. Sedikit kelebihan reagensia ini yaitu tidak memberi reaksi apa-apa terhadap endapan, tetapi ada kelebihannya yang harus dihindari yaitu: 1. Kemungkinan besar mengendapnya dimetilglioksima itu sendiri karena kelarutannya yang sangat rendah dalam air (zat ini dipakai dalam larutan dalam etanol). 2. Bertambahnya keterlarutan endapan dalam campuran air-etanol.

Dimetilglioksima hanya sedikit larut dalam air sehingga dipakai sebagai larutan 1 % dalam etanol. Adapun rumus struktur dari dimetilglioksima adalah sebagai berikut:

CH3-C=N-OH CH3-C=N-OH
Gambar 2.1 Stuktur Dimetilglioksima (Day & Underwood, 2002) Ada beberapa hal yang diperlukan dalam analisis gravimetri yaitu sebagai berikut: a) Pemilihan pelarut yang sesuai dan pelarutan analit. b) Pengaturan keadaan larutan, misalnya pH dan temperatur. c) Pemisahan analit dengan cara pembentukan endapan. Proses ini harus cukup sempurna. d) Penyaringan dan pencucian endapan agar endapan yang diperoleh dalam bentuk yang murni. e) Pemanasan untuk memperoleh endapan yang kering dan dengan susunan tertentu. Proses ini harus sempurna dan dilakukan pada kondisi yang sesuai dengan analit. f) Pendinginan dan penimbangan endapan. Zat yang ditimbang haruslah memiliki rumus molekul yang jelas sehingga kadar analit dapat dihitung (Anonim, 2011e). 2.5 Aplikasi Gravimetri 2.5.1 Pengambilan Air dari Sistem Isopropil Alkohol-Air dengan Distilasi Adsorptif Menggunakan Zeolit Alam dan Silika Gel Isopropil alkohol merupakan solven yang penggunaanya cukup besar di industri. Diperkirakan 50% IPA telah diaplikasikan sebagai solven pada tahun 1992. Mengingat harga IPA relatif lebih tinggi dibandingkan pelarut jenis alkohol lain, untuk itu cara yang umum dilakukan adalah dengan merecovery IPA sebagai solven kembali. Proses recovery yang dilakukan adalah proses distilasi biasa. Dalam hal ini, distilasi biasa belum cukup efisien untuk menghasilkan IPA dengan kemurnian tinggi. Ada beberapa metode untuk mengatasi azetrop ini, misalnya dengan extractive distillation. Proses ini efektif untuk meningkatkan kemurnian IPA di atas titik azeotropnya. Tetapi proses ini juga menimbulkan dampak secara ekonomis, yaitu penambahan entrainer dan proses pemisahan kembali. Teknik yang lain dapat

pula dijadikan solusi efektif, yaitu adsorptive distillation. Dengan metode ini, selain kemurnian IPA didapat lebih tinggi, secara ekonomis lebih efisien. Karena proses ini tidak melibatkan entrainer dan penggunaan adsorben lebih efisien karena mudah diregenerasi secara termal. Pemilihan jenis adsorben didasarkan pada jenis zat yang akan diadsorpsi (Silviana dan Aprilina Purbasari, 2008).

2.5.2

Prosedur Kerja Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu meliputi IPA, air,

zeolit dan silika gel. Peralatan yang digunakan adalah dua buah unit kolom distilasi dan satu buah unit kolom adsorpsi yang terangkai secara simultan.

Gambar 2.2 Rangkaian Alat Utama (Silviana dan Aprilina Purbasari, 2008)

Keterangan : 1. labu leher tiga 2. Waterbath 3. Kompor listrik 4. Thermocontroler 5. Heater 6. Kolom distilasi 7. Kondensor 8. Pendingin leibig 9. Themrometer 10. Kolom adsorpsi 11. Adsorben 12. Erlenmeyer

Percobaan dilakukan dengan variabel tetap yaitu volume umpan sebesar 200 ml dan variabel berubahnya yaitu penggunaan zeolit dan silika gel sebagai adsorben, dengan komposisi umpan sebesar 70%, 73%, 75%, dan 80% berat. Aktivasi zeolit dilakukan secara kimia yaitu zeolit dicampur dengan larutan asam H2SO4, dibiarkan selama kira-kira 2 jam, kemudian dicuci dengan air sampai netral dan selanjutnya dikeringkan. Proses distilasi adsoprsi dijalankan selama 30 menit sampai keluar produk, selanjutnya pengambilan produk untuk dianalisa tiap 5 menit. Analisa menggunakan gravimetri yaitu menimbang berat jenis yang kemudian diplotkan ke kurva standar sehingga terbaca kadar IPA (Silviana dan Aprilina Purbasari, 2008).

Mulai

Dimasukkan umpan sebanyak 200 mL

Umpan dipisahkan dengan komposisi 70%, 73%, 75%, 80% berat

Dimasukkan zeolit yang telah dicampur dengan larutan H2SO4

Dibiarkan kira-kira selama 2 jam

Dicuci dengan air hingga netral dan dikeringkan

Dilakukan distilasi adsorpsi selama 30 menit hingga produk keluar

Produk diambil dan dilakukan analisa gravimetri setiap 5 menit dengan menimbang berat jenis

Diplotkan ke kurva standar sehingga terbaca kadar IPA

Selesai Gambar 2.3 Flowchart Pengambilan Air dari Sistem Isopropil Alkohol-Air dengan Distilasi Adsorptif (Silviana dan Aprilina Purbasari, 2008)

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Bahan 3.1.1 Sampel (yaitu Ni dalam garamnya, NiCl2.6H2O) Fungsinya sebagai bahan yang akan dianalisis. A. Sifat fisika 1. Rumus Molekul 2. Massa Molar : NiCl2.6H2O : 129,5994 gr/mol (anhydrous) 237,69 gr/mol (hexahydrate) 3. Densitas : 3,55 gr/cm3 (anhydrous) 1,92 gr/cm3 (hexahydrate) 4. Titik Lebur : 1001oC (anhydrous) 140 oC (hexahydrate) 5. Kelarutan dalam air : 64 gr/100 ml (anhydrous) 254 gr/100 ml (hexahydrate, 20 oC) 600 gr/100 ml (hexahydrate, 100 oC) (Anonim, 2011f) B. Sifat kimia Jika bereaksi dengan thionyl klorida akan menghasilkan perubahan warna dari hijau menjadi kuning. NiCl26H2O + 6 SOCl2 NiCl2 + 6 SO2 + 12 HCl 1. Kebanyakan senyawa Nikel (II) adalah paramagnetik karena kehadiran 2 elektron tak berpasangan pada setiap logam pusat. 2. Square planar kompleks nikel adalah diamagnetik. 3. NiCl2 mengadopsi struktur CdCl2. 4. NiCl2 adalah hydrate dan kadang-kadang berguna untuk sintesis organik. (Anonim, 2011f)

10

3.1.2

Asam Klorida (HCl) Fungsinya sebagai katalis dalam reaksi. A. Sifat fisika 1. 2. 3. 4. 5. Rumus molekul Berat molekul Densitas Titik leleh Titik didih : HCl : 34,46 gr/mol : 1,18 gr/cm3 : 27,32 C (247 K) larutan 38% : 110 C (383 K) larutan 20,2%; 48 C (321 K) larutan 38% 6. 7. 8. Keasaman (pKa) Viskositas Penampilan : 8,0 : 1,9 mPas pada 25 C, larutan 31,5% : Cairan tidak berwarna sampai dengan kuning pucat (Anonim, 2011c). B. Sifat kimia 1. Larutan asam klorida, H+ ini bergabung dengan molekul air membentuk ion hidronium, H3O+. Reaksi : HCl + H2O H3O+ + Cl 2. Asam monoprotik dan asam kuat karena dapat berdisosiasi penuh dalam air. 3. Bereaksi dengan basa membentuk garam dan air. Reaksi : HCl + NaOH NaCl + H2O 4. Membentuk gas beracun, Cl2, jika bercampur dengan bahan kimia oksidator. Reaksi : 2 KMnO4(aq) + 16 HCl(aq) 2 MnCl2 + 8H2O(l) + 2 KCl(aq) + 5 Cl2(g) (Anonim, 2011c)

3.1.3 Aquades (H2O) Fungsinya untuk melarutkan dan mengencerkan sampel. A. Sifat fisika 1. Rumus molekul 2. Berat molekul 3. Densitas 4. Titik beku 5. Titik didih 6. Penampilan (Anonim, 2011d) B. Sifat kimia 1. Merupakan pelarut yang baik dan sering dikenal dengan pelarut universal. 2. Merupakan senyawa polar dan dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa oksigen, fluorin, dan nitrogen. 3. Atomnya dapat dipisahkan melalui cara elektrolisis. Reaksi : H2O(l) H2(g) + O2(g) 4. Membentuk azeotrop dengan pelarut lainnya. (Anonim, 2011d). 3.1.4 Amonium Hidroksida (NH4OH) Fungsinya sebagai pembentuk suasana basa. A. Sifat fisika 1. Rumus molekul 2. Berat molekul 3. Densitas 4. Titik lebur 5. Titik didih 6. Keasaman (pKa) 7. Kebasaan (pKb) 8. Bentuk molekul 9. Penampilan (Anonim, 2011a) : NH4OH : 35,0061 gr/mol : 0,6942 g/L : -77,73 C (195.42 K) : -33,34 C (239.81 K) : 9,25 : 4,75 : Piramida segitiga : Gas tak berwarna berbau tajam : H2O : 18,015 gr/mol : 1,00 g cm3 : 0 C (273 K) : 100 C (373 K) : Cairan tidak berwarna

12

B. Sifat kimia 1. Merupakan pelarut yang baik dan sering dikenal dengan pelarut universal. 2. Merupakan senyawa polar. 3. Dapat membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa oksigen, fluorin, dan nitrogen. 4. Atomnya dapat dipisahkan melalui elektrolisis menjadi hidrogen dan oksigen. Reaksi : H2O(l) H2(g) + O2(g) 5. Membentuk azeotrop dengan pelarut lainnya. (Anonim, 2011a). 3.1.5 Dimetilglioksima (C4H8O2N2) Fungsinya sebagai reagensia spesifik. A. Sifat fisika 1. Rumus molekul 2. Titik lebur 3. Kelarutan dalam air 4. Kepadatan 5. Dekomposisi termal 6. Toksisitas akut (Anonim, 2011e) B. Sifat kimia 1. Merupakan pelarut yang baik dan sering dikenal dengan pelarut universal. 2. Bereaksi dengan air. 3. Bereaksi pada suhu yang tinggi. 4. Bereaksi dengan bahan bahan kimia. (Anonim, 2011e) : C4H8O2N2 : 240 - 241C : 0,6 gr/L : 620 kg/m : -0,29 : 250 mg/kg

3.2 Alat 3.2.1 Alat dan Fungsi 1. Beaker glass 500 ml Fungsinya sebagai wadah tempat larutan atau membuat larutan.
P y r e x

2. Gelas ukur 50 ml Fungsinya sebagai wadah ukur zat atau larutan yang akan digunakan.

P y r e x

3. Corong gelas Fungsinya sebagai alat bantu untuk menuang larutan.

4. Kertas saring Fungsinya sebagai alat pemisah endapan dengan larutannya.

5. Pipet tetes Fungsinya untuk mengambil zat dengan volume yang kecil.

6. Cawan penguap Fungsinya sebagai wadah tempat meletakkan endapan yang akan diuapkan.

7. Penjepit tabung

14

Fungsinya sebagai alat untuk menjepit dan memindahkan beaker gelas dan cawan porselen pada proses pemanasan dan pengeringan.

8. Termometer Fungsinya sebagai alat pengukur suhu larutan.

9. Batang pengaduk Fungsinya sebagai alat untuk mengaduk campuran ataupun larutan sehingga bercampur dengan rata.

10. Neraca massa digital Fungsinya sebagai pengukur massa dari sampel dan endapan.

11. Bunsen, kasa penangas, dan kaki tiga Fungsinya sebagai pemanas.

12. Erlenmeyer Fungsinya untuk menampung larutan atau cairan, meracik bahan-bahan.

3.2.2

Rangkaian Peralatan
1

P y r e x

Gambar 3.1 Rangkaian Peralatan Pembentukan Endapan Keterangan gambar : 1. Termometer 2. Kasa penangas 3. Kaki tiga 4. Bunsen 5. Beaker glass

16

6 3
P y r e x

1 2

Gambar 3.2 Rangkaian Peralatan Pengeringan Endapan Keterangan gambar : 1. Cawan porselen 2. Beaker glass 3. Kasa penangas 4. Kaki tiga 5. Bunsen 6. Penjepit 3.3 Prosedur Percobaan Adapun prosedur percobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1) Sampel atau NiCl2.6H2O ditimbang sebanyak 0,65 gram dan dimasukkan kedalam beaker glass. 2) Sampel yang didalam beaker glass ditambahkan air hingga keseluruhan sampel tenggelam. 3) Ditambahkan asam klorida (HCl) 0,1 N sebanyak 5 ml dan larutan diencerkan hingga volumenya menjadi 200 ml. 4) Larutan dipanaskan diatas penangas hingga bersuhu 70-80
o

C dan

ditambahkan dimetilglioksima 1% sebanyak 120 ml, kemudian segera ditambahkan larutan NH4OH 6 N sebanyak dua tetes dan langsung pada larutan bukan melalui dinding beaker glass, dan diaduk.

5) Diamkan diatas penangas air selama 25 menit atau hingga terbentuk endapan yang sempurna. 6) Larutan diangkat dari penangas dan didinginkan hingga temperatur kamar, dan larutan disaring. 7) Endapan yang diperoleh dicuci dengan air hingga bebas klorida dan disaring kembali, lalu dipindahkan kedalam cawan porselin (yang telah kering dan ditimbang sebelumnya). 8) Endapan didalam cawan dikeringkan diatas penangas selama 50 menit, atau hingga endapan membentuk serbuk. 9) Kemudian endapan didinginkan lalu ditimbang (bersamaan dengan cawan). Ulangi pengeringan dan penimbangan sebanyak tiga kali dengan interval waktu 6 menit, 4 menit, dan 3 menit. 10) Hitung persentase Nikel

18

3.4 Flowchart Percobaan Mulai

Ditimbang 0,65 gram sampel (NiCl2.6H2O), dimasukkan kedalam beaker gelas

Dilarutkan dengan aquades sampai sampel tenggelam

Ditambahkan 5 ml HCl 0,1 N

Ditambahkan aquadest hingga volumenya 200 ml

Dipanaskan pada bunsen sampai suhunya 70oC-80oC

Ditambahkan dimetilglioksima 1% 120 ml

Ditambahkan 1 tetes NH4OH 6 N dan diaduk

Didiamkan di penangas air selama 25 menit

Apakah sudah terjadi endapan sempurna ? Ya Didinginkan endapan yang terbentuk dan disaring Dicuci endapan dengan air hingga bebas dari klorida

Tidak

Endapan yang terbentuk dipindahkan ke cawan porselen Endapan dipanaskan di atas penangas selama waktu yang ditentukan atau hingga membentuk serbuk

Pengeringan I waktu : 6 menit

Didinginkan dan ditimbang berat endapan

20

Pengeringan II waktu : 4 menit

Didinginkan dan ditimbang berat endapan

Pengeringan III waktu : 3 menit

Didinginkan dan ditimbang berat endapan

Apakah beratnya sudah konstan ? Ya Dihitung persentase Nikel

Tidak

Selesai

Gambar 3.3 Flowchart Percobaan Penetapan Nikel sebagai Dimetilglioksima dengan Gravimetri

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Adapun hasil yang diperoleh setelah melakukan percobaan di atas adalah sebagai berikut. a. Pelarutan sampel Berat Sampel Volume Pelarut b. Pengeringan Berat cawan (kosong) Berat cawan + sampel Berat endapan setelah, Pengeringan I (6 menit) Pengeringan II (4 menit) Pengeringan III (3 menit) Berat konstan c. Persentase Nikel Praktek 4.2 Pembahasan Gravimetri adalah cara kuantitatif yang berdasarkan pada pengukuran/ penimbangan zat yang telah dikeringkan. Pada percobaan ini, yang akan dihitung adalah besar persentase nikel dalam sampel yang digunakan yaitu NiCl2. Adapun pelarut yang digunakan adalah larutan HCl 0,1 N. Untuk dapat menghitung persentase nikel dalam NiCl2, maka analit (nikel) harus dipisahkan dari sampel (kristal garam NiCl2) dan diubah menjadi bentuk murni yang dapat ditimbang melalui proses pengendapan dan pengeringan sehingga dapat dianalisis secara gravimetri. Adapun proses yang dilakukan pada analisis gravimetri adalah sebagai berikut. Sampel (NiCl2.6H2O) dilarutkan dengan air dan diencerkan lalu ditambahkan HCl 0,1 N yang berguna untuk melarutkan logam nikel. Setelah itu, nikel (analit) dipisahkan dari larutannya dengan menggunakan larutan pengendap dimetilglioksima 1 % yang mempunyai rumus molekul C4H8O2N2. Dimetilglioksima ini berfungsi : 37,9501 gram : 37,7413 gram : 37,5182 gram : 0,4723 gram : 14,75 % : 37,2577 gram : 40,1685 gram : 0,65 gram : 199,35 ml

22

untuk memisahkan logam nikel dari larutannya dan mengendapkannya. Ke dalam larutan segera ditambahkan larutan amonia encer. Adapun endapan yang terbentuk berwarna merah cerah. Adapun rumus molekul endapan ini adalah Ni (C4H7O2N2)2 (Basset J., dkk, 1994). Ni+2 + 2 C4H8N2O2 + 2 NH4OH Ni(C4H7N2O2)2 (endapan merah bata) + 2 NH4+ + 2 H2O Dipanasakan pada suhu 70 oC 80 oC Ketika endapan telah terbentuk dengan sempurna (yang ditandai dengan larutan telah terpisah menjadi endapan merah dan larutan jernih), maka endapan itu disaring. Tujuan penyaringan yang dilakukan adalah untuk memisahkan dan mengambil endapan dari larutannya. Agar endapan bebas dari klorida, maka endapan dicuci dengan air. Untuk mendapatkan endapan dengan berat yang murni dan konstan, maka endapan harus dikeringkan. Proses pengeringan ini mengubah endapan menjadi berbentuk serbuk. Bila endapan sudah berbentuk serbuk, itu berarti bahwa endapan itu sudah dalam bentuk yang murni sehingga dapat ditimbang. Dengan demikian, serbuk inilah yang ditimbang hingga diperoleh berat yang konstan. Dengan melakukan perhitungan, maka disdapatlah persentase nikel. Melalui percobaan yang dilakukan diperoleh persentase nikel sebesar 14,75 %. Hal ini membuktikan bahwa hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan nilai teori yang sebenarnya. Persentase nikel teori adalah 20,3 %, sehingga persen ralat percobaan yang didapat adalah 27,34 %. Perbedaan persentase nikel teori dan nikel praktek yang jauh dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut : 1. Pencucian endapan yang dilakukan tidak hati-hati sehingga terdapat endapan yang ikut terbuang. 2. Pemanasan yang dilakukan kurang sempurna. 3. Ketidaktelitian dalam tahap pengeringan sehingga sulit untuk memperoleh berat yang konstan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan Dari percobaan yang dilakukan didapat kesimpulan sebagai berikut : 1. Persentase nikel dalam sampel, NiCl2.6H2O, dapat dihitung dengan metode gravimetri berdasarkan penimbangan hasil pengeringan endapannya yaitu sebesar 14,75 %. 2. Persen ralat dari percobaan adalah 27,34 %. 3. Persentase nikel dalam suaru sampel ,seperti NiCl2, dapat dihitung dengan metode gravimetri berdasarkan penimbangan hasil pengeringan endapannya. 4. Melalui percobaan yang telah dilakukan dihasilkan endapan berwarna merah bata berupa Ni (C4H7O2N2)2. 5. Senyawa dimetilglioksima digunakan sebagai pereaksi spesifik untuk mengendapkan nikel. 5.2 Saran Adapun saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut: 1. Sebaiknya praktikan berhati-hati dalam memanaskan atau mengeringkan endapan agar endapan yang diperoleh tidak hangus. 2. Ketika melakukan penambahan zat pelarut (dimetilglioksima), hendaknya dilakukan penghitungan volume pengendap yang teliti dan hati-hati, karena hal ini mempengaruhi jumlah endapan yang akan terbentuk. 3. Pencucian endapan hendaknya dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak ada endapan yang terbuang. 4. Proses pemanasan larutan yang dilakukan harus sempurna dan sesuai dengan analit (nikel) sehingga proses pelarutan nikel oleh dimetilglioksima dapat terjadi dengan sempurna.

5. Proses pengeringan endapan dengan cara dipanasi harus dilakukan dengan


hati-hati agar endapan kering dengan sempurna, tidak basah atau terlalu kering.

24

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011a.Amonium Hidroksida.http://eprints.upnjatim.ac.id/1196/1/file_1.pdf. Diakses pada tanggal 9 Desember 2011 _______, 2011b.Analisis Gravimetri.http://www.scribd.com/doc/24485076/AnalisisGravimetri-Oleh-Musrin Salila. Diakses pada tanggal 9 Desember 2011 _______, 2011c. Asam Klorida. http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_klorida. Diakses pada tanggal 10 Desember 2011 _______, 2011d. Aquades. http://id.wikipedia.org/wiki/Air. Diakses: 10 Desember 2011 _______, 2011e. Dimetilglioksima. http://eprints.upnjatim.ac.id/1196/1/file_1.pdf. Diakses pada 9 Desember 2011 _______, 2011f. Nickel(II)chloride. http://en.wikipedia.org/wiki/Nickel(II)_chloride. Diakses pada tanggal 10 Desember 2011 Basset. J, dkk. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Edisi Keempat. PT Kalman Media Pustaka : Jakarta. Day, R.A. dan Underwood. 2002. Analisis Kimia kuantitatif. Edisi Keenam: Erlangga Jakarta Silviana dan Aprilina Purbasari. 2008. Pengambilan Air dari Sistem Isopropil Alkohol
Air dengan Distilasi Adsorptif Menggunakan Zeolit Alam dan Silika Gel. Jurusan Teknik Kimia UNDIP Semarang

LAMPIRAN A DATA PERCOBAAN


Adapun hasil yang diperoleh setelah melakukan percobaan di atas adalah sebagai berikut. a. Pelarutan sampel Berat Sampel Volume Pelarut b. Pengeringan Berat cawan ( kosong ) Berat cawan + sampel Berat endapan setelah, Pengeringan I (6 menit) Pengeringan II (4 menit) Prngeringan III (3 menit) Berat konstan c. Persentase Nikel : 37,9501 gram : 37,7413 gram : 37,5182 gram : 37,73 gram : 14,75 % : 37,2577 gram : 40,1685 gram : 0,65 gram : 199,35 ml

26

LAMPIRAN B PERHITUNGAN

LB.1 Volume Larutan Dimetilglioksima yang Digunakan Massa nikel dalam sampel =
Ar Ni x massa NiCl2 Mr NiCl 2 .6H 2 O

58,69 x 0,65 gram 129 ,71

= 0,2941 gram = 294,1 mg Maka, dimetilglioksimat 1% yang digunakan untuk 0,65 gram NiCl2 adalah: Volume = =
massa nikel x 5 ml 10 mg

294,1 mg x 5 ml 10 mg

= 29,41 x 5 ml = 147,05 ml LB.2. Menentukan Persentase Nikel Teori

LB.3. Berat Konstan Endapan Nikel Berat konstan Nikel = berat pengeringan akhir - berat cawan kosong - 37,2577 = 0,4723 gram LB.4. Menentukan Faktor Gravimetrik(Fg) Faktor Gravimetrik = =

= 0,203

LB.5. Menentukan Persentase Nikel Praktek

= 14,75 % LB.6. Perhitungan Persen Ralat % Ralat = | =| = 27,34% |x 100% |x 100%

28