Anda di halaman 1dari 8

PENGUKURAN DASAR MEKANIK

WIDODO H12112009

1.

Latar Belakang Fisika adalah ilmu pengetahuan yang berbasis pada pengamatan terhadap gejala alam. Inti dari pengamatan adalah pengukuran. Dengan demikian, fisika adalah ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada pengukuran. Kebenaran tertinggi dalam fisika adalah hasil pengamatan (eksperimen). Hal ini berarti jika ada teori yang ramalannya tidak sesuai dengan hasil pengamatan, maka teori tersebut ditolak bagaimanapun bagusnya teori tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pengamatan dalam fisika itu sangat penting. Itulah sebabnya pengetahuan tentang cara pengukuran merupakan kebutuhan yang penting. Kita harus mempelajari cara pengukuran besaran fisika dan bagaimana menggunakan alat ukur dengan benar. Kesalahan dalam pengukuran alat ukur mengakibatkan data yang diperoleh tidak dapat dipertanggunngjawabkan karena mengandung kesalahan. Hal yang lebih fatal lagi adalah kesalahan penggunaan alat ukur dapat merusak alat ukur itu sendiri, bahkan dapat mencelakakan penggunanya. Pengukuran merupakan penentuan besaran, dimensi atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian. Dalam mengukur panjang suatu benda, selain memperhatikan ketelitian alat ukurnya, juga memperhatikan jenis dan macam benda yang akan diukur. Begitu banyak alat ukur yang bisa digunakan untuk mengukur benda. Untuk mengukur massa sebuah benda kita dapat menggunakan neraca atau timbangan. Alat ukur waktu dapat

berupa stopwatch, jam. Termometer merupakan alat untuk mengukur suhu. Alat yang dipergunakan untuk mengukur kuat arus listrik adalah amperemeter sedangkan volmeter merupakan alat untuk mengukur beda potensial (tegangan listrik). Untuk pengukuran hambatan listrik biasa digunakan ohmmeter. Penggaris atau mistar adalah salah satu alat ukur panjang yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Selain penggaris, alat ukur yang digunakan untuk mengukur panjang adalah jangka sorong dan mikrometer sekrup, namun mikrometer sekrup lebih pantas digunakan untuk mengukur tebal sebuah benda. Dari ketiga alat ukur tersebut, mikrometer sekruplah yang memiliki tingkat ketelitian yang paling tinggi yaitu 0,005 mm. Maka dari itu, mikrometer sekrup sangat cocok digunakan sebagai alat untuk mengukur tebal benda. 2. Landasan Teori

Jangka Sorong

Jangka sorong adalah suatu alat ukur yang dapat membaca jarak diantara tiap muka ukur melalui skala utama dan skala vernier atau skala nonius, yaitu dengan menggerakkan eretan yang mempunyai satu atau dua rahang muka ukur yang sejajar dengan muka ukur yang terdapat pada badan sehingga membentuk satu atau dua pasang muka ukur untuk pengukuran luar dan dalam. (http://pustan.bpkimi.kemenperin.go.i d/files/SNI%2005-3513-1994.pdf )

Termometer

Mikrometer

Termometer adalah alat yang digunakan untuk temperature suatu zat. Ada dua jenis termometer yang umum digunakan dalam laboratorium, yaitu termometer air raksa dan termometer alcohol. Keduanya adalah termometer jenis batang gelas dengan batas ukur minimum -10C dan batas ukur maksimum +110C. Nilai skala terkecil untuk dua jenis termometer tersebut dapat ditentukan seperti halnya menentukan nilai skala terkecil sebuah mistar biasa, yaitu dengan mengambil batas ukur tertentu dan membaginya dengan jumlah skala dari nol sampai pada ukuran yang diambill tersebut. ( Giancoli, 2001 : 12 ) Neraca

Mikrometer sekrup adalah alat ukur yang dapat melihat dan mengukur benda dengan satuan ukur yang memiliki 0,01 mm. Biasa digunakan untuk mengukur ketebalan suatu benda. Mikrometer sekrup memiliki dua bagian skala mendatar (SM) sebagai skala utama dan skala putar (SP) sebagai skala nonius. ( Giancoli, 2001 : 16 )

Hidrometer

Neraca analitik adalah alat yang digunakan untuk mengukur berat suatu benda yang mana mempunyai ketelitian hingga 0,01 mg. ( giancoli, 2001 : 21 ) Alat penghitung satuan massa suatu benda dengan teknik digital dan tingkat ketelitian yang cukup tinggi. Prinsip kerjanya yaitu dengan penggunaan sumber tegangan listrik yaitu stavolt dan dilakukan peneraan terlebih dahulu sebelum digunakan kemudian bahan diletakkan pada neraca lalu dilihat angka yang tertera pada layar, angka itu merupakan berat dari bahan yang ditimbang. (http://www.scribd.com/doc/9168762 3/NERACA-ANALITIK)

Hidrometer merupakan sebuah alat ukur besaran turunan yang menjadi salah satu aplikasi dari Hukum Archimedes yang digunakan untuk mengukur massa jenis zat cair.Sebuah benda dalam fluida (zat cair atau gas) mengalami gaya dari semua arah yang dikerjakan oleh fluida di sekitarnya. Hukum Archimedes menyatakan bahwa sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat cair akan mendapat gaya ke atas seberat zat cair yang dipindahkan oleh benda itu. Prinsip kerja Hidrometer menggunakan Hukum Archimedes. Nilai massa jenis suatu zat cair dapat diketahui dengan membaca skala pada Hidrometer yang ditempatkan mengapung pada zat cair. Hidrometer adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengukur massa jenis suatu zat cair. Nilai massa jenis suatu zat cair dapat diketahui dengan membaca skala pada hidrometer yang ditempatkan mengapung pada zat cair. Hidrometer terbuat dari tabung kaca. Agar tabung kaca terapung tegak di

dalam zat cair, bagian bawah tabung dibebani dengan butiran timbale. Diameter bagian bawah tabung kaca dibuat lebih besar supaya volume zat cair yang dipindahkan hydrometer lebih besar. Dengan demikian, dihasilkan gaya ke atas yang lebih besar dan hidrometer dapatmengapung di dalam zat cair. Tangkai tabung kaca didesain supaya perubahan kecil dalam beratbenda yang dipindahkan (sama artinya dengan perubahan kecil dalam massa jenis zat cair) menghasilkan perbahan besar pada kedalaman tangkai yang tercelup di dalam zat cair. Ini berarti perbedaan bacaan pada skala untuk berbagai jenis zat cair menjadi lebih jelas. (http://www.scribd.com/doc/ 92774711/Hidrometer-acak )

3.

Metodologi

Jangka Sorong Pertama-tama siapkan alat dan bahan diantaranya kubus, silindris, dan jangka sorong. Yang mana jangka sorong ini mempunyai tingkat ketelitian hingga 0,01 mm Ambil jangka sorong kemudian sebelum kita melakukan pengamatan maka kita lakukan kalibrasi terlebih dahulu. Jika sudah maka lakukan pengamatan pada benda yang telah disiapkan untuk mengetahui nilai skala utamanya dan nilai skala noniusnya untuk mengukur dimensi balok kecil yang telah disiapkan. Ambillah balok kecil dan himpit menggunakan jangka sorong sampai benda benar-benar terkunci. Untuk mengukur tebal benda gunakan penjepit bagian bawah, dan untuk mengukur diameter dalam gunakan penjepit bagian atas. Pengamatan benda dilakukan masingmasing sebanyak tiga kali dan catat hasilnya dalam tabel. Kemudian mengukur diameter dalam dan luar dari cincin silindris masing-masing sebanyak tiga kali serta catat hasilnya dalam tabel.

Pengukuran Temperatur dengan Termometer Alat dan bahan dalam percobaan kali ini adalah termometer, gelas ukur, air, batang statif, tabung pembakar, dan korek api. Prosedur percobaan pertama adalah isi gelas ukur dengan air sebanyak 200 ml. Gantung gelas ukur pada batang statif yang telah disiapkan. Lakukan pengamatan suhu mula-mula air,dengan cara memasukkan termometer kedalam gelas yang berisi air. Kemudian hidupkan tabung pembakar untuk memanaskan air tersebut dan letakkan dibawah gelas ukur yang telah digantung pada batang statif. masukkan termometer kedalam gelas tabung tanpa menyentuh dasar tabung. Tunggu hingga air mejadi panas dengan suhu 80 0C. Jika suhu sudah mencapai 80 0C maka padamkan api dan lihat apakah suhu akan naik lebih dari 80 0C atau tidak. Jika tidak maka hidupkan stopwatch untuk menghitung waktu dan amati perubahan suhu setiap menitnya sebanyak 6 kali. Catat hasil pengamatan dalam sebuah tabel. Neraca Analitik Percobaan ini akan menggunakan alat dan bahan yang sederhana, yaitu sebuah kubus dan alat pengukurnya. Sebelum pengukuran dimulai maka jangan lupa untuk mengkalibrasi alat terlebih dahulu untuk meminimalisir terjadinya kesalahan pada saat pengukuran. Jika sudah pastikan timbangan berada pada posisi/lantai yang datar dan lakukan penimbangan pada benda kubus dengan cara letakkan kubus pada bagian piring neraca. Setelah itu lakukan penyesuaian skala dimulai dari skala ratusan kemudian skala puluhan. Lakukan penimbangan sebanyak 3 kali dan catat hasilnya dalam sebuah tabel lalu amati perbedaan hasilnya.

Pengukuran Mikrometer

Panjang

dengan

Tabel Pengamatan Benda Balok Kecil Panjang (cm) 4,63 4,63 4,63 = 4,63 Diameter dalam (cm) 2,56 2,70 2,70 = 2,23 Lebar (cm) 1,90 1,91 1,90 = 1,90 Diamete r luar (cm) 3,22 3,23 3,22 = 3,22 Tebal (cm) 1,27 1,28 1,27 =1,27

Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah menyiapkan alat dan bahan. Yang mana alat dan bahan tersebut terdiri dari alat ukur yaitu mikrometer sekrup dan lempeng uang logam. Setelah alat dan bahan dipersiapkan maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengukuran benda. Ambil mikrometer dan letakkan benda atau logam pada bagian penjepit benda, kemudian putar selubung putar luar. Tentukan nilai skala utama dan hitung skala noniusnya. Lakukan pengukuran sebanyak tiga kali dan catat hasilnya dalam sebuah tabel. Hidrometer Siapkan hidrometer dan zat cair yang akan di ukur massa jenisnya dalam suatu tabung. Massa jenis yang akan diukur adalah massa jenis air, massa jenis minyak, dan massa jenis oli. Pastikan hidrometer bersih dan telah dikalibrasi. Masukkan hidrometer ke dalam tabung yang berisi zat cair yang akan diukur massa jenisnya dengan hati-hati untuk menghindari pembentukan gelembung udara dan usahakan hidrometer dalam keadaan tegak lurus agar mempermudah dalam pembacaan. Tabung pertama kali yang akan di amati adalah massa jenis air, massa jenis minyak, massa jenis oli. Kemudian amatilah hasil pengukuran yang tertera pada skala hidrometer. Cara membaca hasil pengukuran pada hidrometer adalah dengan membaca skala yang ditunjuk oleh zat cair yang naik dalam hidrometer. Satuan yang digunakan dalam pengukuran ini adalah g/cm3 skala yang terbaca ini merupakan massa jenis relatif. 4. Hasil Pengamatan Hasil pengamatan Jangka Sorong Nilai Skala Utama : 1 mm Jumlah Skala Nonius : 50 skala NST Jangka Sorong : 0,01 cm

Cincin Silindris

Perhitungan Ketidakpastian Pengukuran A. Balok Kecil Penjang Balok

Maka Panjang Balok (p) P=| =| Lebar Balok | |

Maka Lebar Balok (l) l=| | | |

Tebal Balok

Temperatur Dengan Termometer Tabel Hasil Pengamatan NO. 1 2 3 Menit ke 1 2 3 4 5 6 Temperatur ( Ti) 79 77 76 75 74 73 Perubahan temperatur ( T) 79 - 28 = 51 77 - 28 = 49 76 - 28 = 48 75 - 28 = 47 74 - 28 = 46 73 - 28 = 45

Maka Tebal Balok (t) | | | |

4 5 6

B. Cincin Silindris Kita lihat dalam menit pertama sampai menit ke-6 rentang perubahan suhu tidaklah selalu sama. Ketidak konstanan ini dapat timbul akibat pengaruh lingkungan atau akibat alat yang kurang baik.

Pengukuran Neraca Analitik Tabel Hasil Pengamatan Benda Panjang (cm) 1,8 cm 1,8 cm 1,8 cm Maka Diameter Luar ( = | | | ) | = 1,8 cm Lebar (cm) 1,8 cm 1,8 cm 1,8 cm = 1,8 cm Tebal (cm) 1,8 cm 1,8 cm 1,8 cm = 1,8 cm Massa (kg) 0,0617 kg 0,0618 kg 0,0619 kg = 0,0618 kg

KUBUS

Dari hasil pengamatan yeng telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tidak semua pengukuran yang diamati menghasilkan data yang sama dikarenakan terdapat kesalahan. Kesalahan ini dapat timbul akibat dari alat ukur dan bisa timbul dari pengamatnya.

Dari percobaan pertama kita melihat hasil yang didapatkan selalu menunjukkan perbedaan. Hal ini berarti menunjukkan adanya angka ketidak pastian. Perbedaan ini dapat timbul akibat pengamat kurang teliti atau kondisi alat yang kurang baik, mungkin juga dapat timbul akibat pengkalibrasian alat kurang sempurna.

Pengukuran Mikrometer Sekrup Tabel Hasil Pengamatan Penunjukkan SU 1,5 mm 1,5 mm 1,5 mm Penunjukkan SN 42 mm = 0,42 mm 43 0,01 mm = 0,43 mm 44 0,01 mm = 0,44 mm Tebal Benda (mm) 1,92 mm 1,93 mm 1,94 mm

Tabel Pengamatan Massa Jenis Zat Cair AIR (gr/cm3) 1 gr/cm3 Viskositas 0,99 gr/cm3 0,99 gr/cm3 ( = 0,99 gr/cm3 MINYAK (gr/cm3) 0,91 gr/cm3 0,91 gr/cm3 0,91 gr/cm3 ( = 0,91 gr/cm3 OLI(gr/cm3) 0,88 gr/cm3 0,88 gr/cm3 0,88 gr/cm3 ( ) = 0,88 gr/cm3

Perhitungan Ketidakpastian Pengukuran : Ketidakpastian Pengukuran : Massa jenis air : Rata-rata (

Maka Tebal Koin Rp 200 yaitu : =| =| | | Maka Berat Jenis Larutan Air : | | | |

Hasil pengamatan benda menunjukkan hasil yang tidak sama. Dalam suatu pengukuran untuk mendapatkan hasil yang konstan memanglah sangat tidak mungkin. Karena ada beberapa faktor yang memengaruhi diantaranya bisa saja terjadi pada pengamatan yang kurang teliti, atau alatnya kurang stabil sehingga bisa memengaruhi hasil dari pengamatan.

Massa jenis minyak : Rata-rata ( )=

Maka Berat Jenis Larutan Minyak : =| =| | |

Massa Jenis Oli : Rata-rata(

Maka Berat Jenis Oli : | | | |

Menganalisa dari ketiga percobaan ini ternyata terdapat dua hasil yaitu ada hsil yang sama dan ada hasil yang berbeda dari percobaan pertama sampai percobaan yang ke tiga. Setelah kita lihat ternyata massa jenis air, minyak, dan oli tidak lah sama.Dari hasil pengamatan kita dapatkan massa jenis air lebih besar dibandingkan dengan massa jenis oli dan minyak. Oleh karena itu jika ada oli dan minyak yang tertumpah kedalam air maka tidak akan pernah bisa tercampur dikerenakan massa jenisnya lebih rendah daripada air.

5.

Pustaka (http://www.scribd.com/doc/9168762 3/NERACA-ANALITIK) (http://pustan.bpkimi.kemenperin.go.i d/files/SNI%2005-3513-1994.pdf ) ( Giancoli, 2001 : 12 ) http://www.scribd.com/doc/92774711 /Hidrometer-acak Physics Education 09 University of Lampung (Unila)