Anda di halaman 1dari 11

Laporan Fisika Dasar : Pengukuran Dasar

Waw,, :- o setelah 4 minggu berlalu akhirnya selesai juga praktikum fisika,,, semoga
dgn adanya laporan ini bisa bermanfaat untuk yang lain,,,,
BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dalam ilmu fisika, pengukuran dan besaran merupakan hal yang bersifat dasar, dan
pengukuran merupakan salah satu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Aktivitas mengukur
menjadi sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan dalam mempelajari berbagai
fenomena yang sedang dipelajari.
Sebelumnya ada baiknya jika kita mengingat definisi pengukuran atau mengukur itu
sendiri. Mengukur adalah kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran lain yang
telah disepakati. Misalnya menghitung volume balok, maka harus mengukur untuk dapat
mengetahui panjang, lebar dan tinggi balok, setelah itu baru menghitung volume.
Mengukur dapat dikatakan sebagai usaha untuk mendefinisikan karakteristik suatu
fenomena atau permasalahan secara kualintatik. Dan jika dikaitkan dengan proses penelitian
atau sekedar pembuktian suatu hipotesis maka pengukuran menjadi jalan untuk mencari datadata yang mendukung. Dengan pengukuran ini kemudian akan diperoleh data-data numeric
yang menunjukan pola-pola tertentu sebagai bentuk karakteristik dari permasalahan tersebut.
Pentingnya besaran dalam pengukuran, maka dilakukan praktikum ini yang dapat
membantu untuk memahami materi dasar-dasar pengukuran. Dalam mengamati suatu gejala
tidak lengkap apabila tidak dilengkapi dengan data yang didapat dari hasi pengukuran yang
kemudian besaran-besaran yang didapat dari hasil pengukuran kemudian ditetapkan sebagai
satuan.
Dengan salah satu argument di atas, setelah dapat kita ketahui betapa penting dan
dibutuhkannya aktivitas pengukuran dalam fisika, untuk memperoleh hasil / data dari suatu
pengukuran yang akurat dan dapat dipercaya.
1.2
Tujuan Percobaan
1. Mampu menggunakan alat-alat ukur dasar
2. Menentukan ketidakpastian dalam pengukuran serta menuliskan hasil pengukuran secara
benar
3. Memahami dan menggunakan metode kuadrat terkecil dalam pengolahan data

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pengukuran
Untuk mencapai suatu tujuan tertentu, di dalam fisika,kita biasanya melakukan
pengamatan yang diikuti dengan pengukuran. Pengamatan suatu gejala secara umum tidaklah

lengkap bila tidak dilengkapi dengan data kuantitatif yang didapat dari hasil pengukuran.
Lord Kelvin, seorang ahli fisika berkata, bila kita dapat mengukur apa yang sedang kita
bicarakan dan menyatakannya dengan angka-angka, berarti kita menghetahui apa yang
sedang kita bicarakan itu. Sedangkan arti dari pengukuran itu sendiri adalah membandingkan
sesuatu yang sedang diukur dengan besaran sejenis yang ditetapkan sebagai satuan, misalnya
bila kita mendapat data pengukuran panjang sebesar 5 meter, artinya benda tersebut
panjangnya 5 kali panjang mistar yang memiliki panjang 1 meter.
Dalam hal ini, angka 5 menunjukkan nilai dari besaran panjang, sedangkan meter
menyatakan besaran dari satuan panjang. Dan pada umumnya, sesuatu yang dapat diukur
memiliki satuan. Sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka kita sebut besaran.
Panjang, massa dan waktu termasuk pada besaran karena dapat kita ukur dan dapat kita
nyatakan dengan angka-angka. Akan tetapi kebaikan dan kejujuran misalnya. Tidak dapat kita
ukur dan tidak dapat kita nyatakan dengan angka-angka. Tapi walaupun demikian, tidak
semua besaran fisika selalu mempunyai satuan. Beberapa besaran fisika ada yang tidak
memiliki satuan. Antara lain adalah indek bias, koefisien gesekan, dan massa jenis relative.
2.2

b.

Pengukuran Panjang Benda


a.
Dengan Menggunakan Mistar
Untuk mengukur panjang suatu benda, dalam kehidupan sehari-hari kita lumrah
menggunakan mistar atau penggaris. Terdapat beberapa jenis mistar sesuai dengan skalanya.
Ada mistar yang skala terkecilnya mm (mistar milimeter) dan ada mistar yang skala
terkecilnya cm (mistar centimeter). Mistar yang sering kita gunakan biasanya adalah mistar
milimeter. Dengan kata lain, mistar itu mempunyai skala terkecil 1 milimeter dan mempunyai
ketelitian 1 milimeter atau 0,1 cm..Ketika mengukur dengan menggunakan mistar, posisi
mata hendaknya diperhatikan dan berada di tempat yang tepat, yaitu terletak pada garis yang
tegak lurus mistar. Garis ini ditarik dari titik yang diukur. Jika sampai mata berada diluar
garis tersebut, panjang benda yang terbaca bisa menjadi salah. Bisa saja benda akan terbaca
lebih besar atau lebih kecil dari nilai yang sebenarnya. Akibat dari hal ini adalah terjadinya
kesalahan dalam pengukuran yang biasa disebut kesalahan paralaks
Dengan Menggunakan Jangka Sorong
Untuk melakukan pengukuran yang mempunyai ketelitian 0,1 mm diperlukan jangka
sorong. Jangka sorong mempunyai fungsi-fungsi pengukuran, yaitu: Pengukuran panjang
bagian luar benda. Pengukuran panjang rongga bagian dalam benda. Pengukuran kedalaman
lubang dalam benda. Jangka sorong sendiri mempunyai bagian-bagian sebagai berikut:
Rahang yang tetap (biasa disebut rahang tetap), memiliki skala panjang yang disebut skala
utama.Rahang yang dapat digeser-geser (disebut rahang geser), yang memiliki skala pendek
yang disebut nonius atau vernier. Rahang tetap terdapat skala-skala utama dalam satuan cm
dan mm. Sedangkan pada rahang geser terdapat skala pendek yang terbagi menjadi 10 bagian
yang sama besar. Skala inilah yang disebut sebagai nonius atau vernier. Panjang 10 skala
nonius itu adalah 9 mm, sehingga panjang 1 skala nonius adalah 0,9 mm. Jadi selisih antara
skala nonius dan skala utama adalah 0,1 mm.atau 0,01 cm. Sehingga dapat ketelitian jangka
sorong adalah 0,1 mm. Contoh pengukuran dari jangka sorong adalah sebagai berikut. Bila
diukur sebuah benda didapat hasil bahwa skala pada jangka sorong terletak antara skala 5,2
cm dan 5,3 cm. Sedangkan skala nonius yang keempat berimpit dengan salah satu skala

utama. Mulai dari skala keempat ini ini kekiri, selisih antara skala utama dan skala nonius
bertambah 0,1 mm atau 0,01 cm setiap melewati satu skala. Karena terdapat 4 skala, maka
selisih antara skala utama dan skala nonius adalah 0,4 mm atau 0,04 cm. Dengan demikian,
dapat ditarik kesimpulan kalau panjang benda yang diukur tersebut adalah 5,2 cm+0,04
cm=5,24 cm.

c.

Dengan Menggunakan Mikrometer Sekrup


Untuk megukur benda-benda yang sangat kecil sampai ketelitian 0,01 mm atau 0,001
cm digunakan alat bernama mikrometer sekrup. Bagian utama dari mikrometer sekrup adalah
sebuah poros berulir yang dipasang pada silinder pemutar yang disebut bidal. Pada ujung
silinder pemutar ini terdapat garis-garis skala yang membagi 50 bagian yang sama. Jika bidal
digerakan satu putaran penuh, maka poros akan maju (atau mundur) sejauh 0,5 mm. Karena
silinder pemutar mempunyai 50 skala disekelilingnya, maka kalau silinder pemutar bergerak
satu skala, poros akan bergeser sebesar 0,5 mm/50 = 0,01 mm atau 0,001 cm. Sangat perlu
diketahui, pada saat mengukur panjang benda dengan mikrometer sekrup, bidal diputar
sehingga benda dapat diletakan diantara landasan dan poros. Ketika poros hampir menyentuh
benda, pemutaran dilakukan dengan menggunakan roda bergigi agar poros tidak menekan
benda. Dengan memutar roda berigi ini, putaran akan berhenti segera setelah poros
menyentuh benda. Jika sampai menyentuh benda yang diukur, pengukuran menjadi tidak
teliti.
2.3

Sistem Internasional
Satuan untuk suatu besaran sebenarnya bisa dipilih secara sembarang. Untuk satuan
panjang saja kita bebas untuk menggunakan centimeter, meter, kaki, mil dan sebagainya.
Bahkan ada orang yang menggunakan satuan hasta sebagai satuan panjang. Penggunaan
berbagai macam satuan ini ternyata bisa membuat beberapa kesulitan. Misalnya kita akan
memerlukan berbagai macam alat ukur yang berbeda untuk satuan yang berbeda pula.
Kesulitan selanjutnya dalah saat kita akan melakukan komunikasi ilmiah. Kita mungkin akan
kesulitan untuk melakukan konversi dari sebuah satuan menjadi satuan yang lain.
Dikarenakan hal itulah, maka para ilmuwan dunia sepakat membuat sebuah satuian
internasional untuk menghilangkan kesulitan-kesulitan itu, dan lahirlah system SI. Dalam
satuan SI, panjang memiliki satuan meter, satuan massa adlah kilogram, dan satuan waktu
adalah sekon yang dikenal juga dengan sbutan sistem MKS. Selain itu dikenal pula istilah
CGS, dengan centimeter sebagai satuan panjang, gram sebagai satuan massa, dan sekon
sebagai satuan waktu. Setelah ditetapkan secara internasional, sekarang stiap satuan memiliki
standar masing-masing dalam pengukurannya, yaitu: Satuan standar waktu Satu sekon adalah
waktu yang dibutuhkan oleh atom cesium 133 untuk melakukan 9.192.631.770 periode
radiasi ketika melewati tingkat energi yang paling rendah. Satuan standar panjang Satu meter
adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam ruang hampa udara selama selang waktu
1/299.792.458 s.
v Satuan
standar
massa
Satu kilogram adalah massa silinder campuran platinum-iridium.

v Satuan
standar
kuat
listrik
Satu Ampere adalah kuat arus tetap yang jika dipertahankan mengalir dalam masing-masing
dari dua penghantar lurus sejajar dengan panjang tak hingga dan penampang lintang
lingkaran yang dapat diabaikan, dengan jarak pemisah 1 meter, dalam ruang hampa akan
menghasilkan gaya interaksi antara kedua penghantar sebesar 2x10 newton setiap meter
penghantar.
v Satuan
suhu
Satu Kelvin adalah 1/273,16 kali suhu termodinamika titik tripel air.
v Satuan
intensitas
cahaya
Satu kandela adalah intensitas cahaya suatu sumber cahaya yang memancarkan radiasi
monokromatik pada frekuensi 540x10 hertz dengan intensitas sebesar 1/683 watt per
steradian dalam arah tersebut.
v Satuan jumlah zat
Satu mol adalah jumlah zat yang mengandung unsur elementer zat tersebut dalam jumlah
sebanyak atom karbon dalam 0.,012 kg karbon-12.
Setelah ditetap secara internasional, setiap satuan memiliki standar masing-masing dalam
pengukurannya, yaitu :
v Satuan
Standar
Waktu
Satuan standar waktu adalah 1 sekon. 1 sekon adalah waktu yang dibutuhkan oleh atom
cesium 133 untuk melakukan 9.192.631.770 periode radiasi ketika melewati tingkat energy
yang paling rendah.
v Satuan
Standar
Panjang
Satu meter adalah jarak yang ditempuh cahaya dalam ruang hampa udara selama selang
waktu .
v Satuan Standar Massa
Satu kilogram adalah standar massa silinder campuran platinum-iridium.
v Satuan
Standar
Kuat
Listrik
Satu ampere adalah kuat arus tetap yang jika dipertahankan mengalir dalam masing-masing
dari penghantar lurus sejajar dengan panjang tak hingga dan penampang lintang lingkaran
yang dapat diabaikan, dengan jarak pemisah 1 meter, dalam ruang hampa akan mengalami
gaya interaksi antara kedua penghantar sebesar 2x10 newton setiap meter penghantar.
v Satuan Suhu
Satu Kelvin adalah , 1 kali suatu termodinamika titik tripel air.
v Satuan Intensitas Cahaya
Satu candela adalah intensitas cahaya suatu sumber cahaya yang memancarkan radiasi
monokromatik pada frekuensi 540x10 hertz dengan intensitas sebesar watt/sterodion dalam
arah tersebut.
v Satuan Jumlah Zat
Satu mol adalah jumlah zat yang mengandung unsur elementer zat tersebut dalam jumlah
sebanyak atom karbon dalam 0,012 kg karbon-12.
2.4

Ketidakpastian Pengukuran
Fisika merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan berbagai
fenomena yang terjadi di alam. Ilmu ini didasarkan pada pengamatan dan percobaan.

Pengamatan merupakan pengkajian suatu gejala yang terjadi di alam. Hanya saja, sayangnya
suatu gejala alam yang muncul secara alamiah belum tentu terjadi dalam waktu tertentu,
sehingga menyulitkan pengamatan. Untuk mensiasati ini, maka dilakukan percobaan yang
menyerupai gejala alamiah itu di bawah kendali dan pengawasan khusus. Tanpa percobaan
ini, ilmu fisika tak mungkin berkembang seperti saat sekarang ini.
Dan selanjutnya, dalam suatu percobaan kita hrus berusaha menelaah dan
mempelajarinya. Caranya, kita harus mempunyai data kuantitatif atas percobaan yang kita
lakukan. Sanada dengan pendapat Lord Kelvin yang mengungkapkan kalau kita belum
belajar sesuatu bila kita tak bisa mendapatkan sebuah data kuantitatif. Untuk itulah dalam
fisika dibutuhkan sebuah pengukuran yang akurat. Akan tetapi, ternyata tak ada pengukuran
yang mutlak tepat. Setiap pengukuran pasti memunculkan sebuah ketidakpastian pengukuran,
yaitu perbedaan antara dua hasil pengukuran. Ketidakpastian juga disebut kesalahan, sebab
menunjukkan perbedaan antara nilai yang diukur dan nilai sebenarnya. Hal ini bisa
disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor itu dibagi dalam 2 garis besar, yaitu: ketidakpastian
bersistem dan ketidakpastian acak.
a.

Ketidakpastian Bersistem
Kesalahan kalibrasi
Kesalahan dalam memberi skala pada waktu alat ukur sedang dibuat sehingga tiap kali alat
itu digunakan, ketidakpastian selalu muncul dalam tiap pengukuran.
Kesalahan titik nol skala alat ukur tidak berimpit dengan titik nol jarum penunjuk alat ukur.
Kesalahan Komponen Alat Sering terjadi pada pegas. Biasanya terjadi bila pegas sudah
sering dipakai Gesekan
Kesalahan yang timbul akibat gesekan pada bagian-bagian alat yang bergerak.
Kesalahan posisi dalam membaca skala alat ukur.
b. Ketidakpastian Acak
Gerak Brown molekul udara menyebabkan jarum penunjuk skala alat ukur terpengaruh.
Frekuensi Tegangan listrik, perubahan pada tegangan PLN, baterai, atau aki Landasan yang
Bergetar
Adanya Nilai Skala Terkecil dari Alat Ukur.
Keterbatasan dari Pengamat Sendiri.
c.

Angka Penting
Angka penting adalah angka yang diperhitungkan di dalam pengukuran dan pengamatan.
Aturan angka penting: Semua angka bukan nol adalah angka penting. Angka nol yang terletak
diantara angka bukan nol termasuk angka penting. Untuk bilangan desimal yang lebih kecil
dari satu, angka nol yang terletak disebelah kiri maupun di sebelah kanan tanda koma, tidak
termasuk angka penting. Deretan angka nol yang terletak di sebelah kanan angka bukan nol
adalah angka penting, kecuali ada penjelasan lain.
2.5

Akurasi dan Presisi


Pengukuran yang akurat merupakan bagian penting dari fisika, walaupun demikian tidak
ada pengukuran yang benar-benar tepat. Ada ketidakpastian yang berhubungan dengan setiap
pengukuran. Ketidakpastian muncul dari sumber yang berbeda. Di antara yang paling

penting, selain kesalahan, adalah keterbatasan ketepatan setiap alat pengukur dan
ketidakmampuan membaca sebuah alat ukur di luar batas bagian terkecil yang ditunjukkan.
Misalnya anda memakai sebuah penggaris centimeter untuk mengukur lebar sebuah papan,
hasilnya dapat dipastikan akurat sampai 0,1 cm, yaitu bagian terkecil pada penggaris tersebut.
Alasannya, adalah sulit untuk memastikan suatu nilai di antara garis pembagi terkecil
tersebut, dan penggaris itu sendiri mungkin tidak dibuat atau dikalibrasi sampai ketepatan
yang lebih. Akurasi pengukuran atau pembacaan adalah istilah yang sangat relatif. sebaik
dari ini. Akurasi didefinisikan sebagai beda atau kedekatan (closeness)antara nilai yang
terbaca dari alat ukur dengan nilai sebenarnya.
Dalam eksperiman, nilai sebenarnya yang tidak pernah diketahui diganti dengan suatu
nilai standar yang diakui secara konvensional. Secara umum akurasi sebuah alat ukur
ditentukan dengan cara kalibrasi pada kondisi operasi tertentu dandapat diekspresikan dalam
bentuk plus-minus atau presentasi dalam skala tertentu atau pada titik pengukuran yang
spesifik. Semua alat ukur dapat diklasifikasikan dalam tingkat atau kelas yang berbeda-beda,
tergantung pada akurasinya. Sedang akurasi dari sebuah sistem tergantung pada akurasi
Individual elemen pengindra primer, elemen skunder dan alat manipulasi yang lain.
Ketika menyatakan hasil pengukuran, penting juga untuk menyatakan ketepatan atau
perkiraan ketidakpastian pada pengukuran tersebut. Sebagai contoh, hasil pengukuran lebar
papan tulis : 5,2 plus minus 0,1 cm. Hasil Plus minus 0,1 cm (kurang lebih 0,1 cm)
menyatakan perkiraan ketidakpastian pada pengukuran tersebut sehingga lebar sebenarnya
paling mungkin berada diantara 5,1 dan 5,3. Persentase ketidakpastian merupakan
perbandingan antara ketidakpastia dan nilai yang diukur, dikalikan dengan 100 %. Misalnya
jika hasil pengukuran adalah 5,2 cm dan ketidakpastiannya 0,1 cm maka presentase
ketidakpastiannya adalah : (0,1/5,2) x 100% = 2%
Seringkali, ketidakpastian pada suatu nilai terukur tidak dinyatakan secara eksplisit. Pada
kasus seperti ini, ketidakpastian biasanya dianggap sebesar satu atau dua satuan (atau bahkan
tiga) dari angka terakhir yang diberikan. Sebagai contoh, jika panjang sebuah benda
dinyatakan sebagai 5,2 cm, ketidakpastian dianggap sebesar 0,1 cm (atau mungkin 0,2 cm).
Dalam hal ini, penting untuk tidak menulis 5,20 cm, karena hal itu menyatakan
ketidakpastian sebesar 0,01 cm; dianggap bahwa panjang benda tersebut mungkin antara 5,19
dan 5,21 cm, sementara sebenarnya anda menyangka nilainya antara 5,1 dan 5,3.
Setiap unit mempunyai kontribusi terisah dengan batas tertentu. Jika a1, = a2 dan a3
adalah batas akurasi individual, maka akurasi total dari sistem dapat diekspresikan dalam
bentuk bawah akurasi seperti berikut :
A = ( a1+ a2 + a3 )
(2.1)
Dalam hal tertentu nilai batas bawah akurasi total diatas mempunyai kelemahan, maka
dalam praktek orang lebih sering menggunakan nilai akar kuadrat rata-rata untuk
mendefinisikan nilai akurasi dari sebuah sistem, yaitu :
A = ( a1 + a2 + a3 )
(2.2)
Presisi adalah istilah untuk menggambarkan tingkat kebebasan alat ukur dari
kesalahan acak. Jika pengukuran individual Dilakukan berulang-ulang, maka sebran hasil
pembacaan akan berubah-ubah disekitar nilai rata-ratanya. Bila Xn adalah nilai pengukuran
ke n dan adalah nilai rata-ratanya n pengukuran maka secara metematis, presisi dapat

dinyatakan
Presisi = (2.3)
Presisi tinggi dari alat ukur tidak mempunyai implikasi terhadap akurasi pengukuran. Alat
ukur yang mempunyai presisi tinggi belum tentu alat ukur tersebut mempunyai akurasi tinggi.
Akurasi rendah dari alat ukur yang mempunyai presisi tinggi pada umum nya disebabkan
oleh bias dari pengukuran, yang bisa dihilangkan dengan kalibrasi.
Dua istilah yang mempunyai arti mirip dengan presisi adalahrepeatability dan
reproducibility. Repeability digunakan untuk menggambarkan kedekatan (closeness) keluaran
pembacaan bila dimasukkan yang sama digunakan secara berulang-ulang pada periode waktu
yang singkat pada kondisi dan lokasi pengukuran yang sama, dan dengan alat ukur yang
sama. Reproducibility digunakan untuk menggambar kedekatan ( closeness)
keluaranpembacaan bila masukan yang sama digunakan secara berulang-ulang.
Macam macam alat ukur
a)
Jangka sorong
Ketelitian Jangka Sorong: Paling tidak ada 2 jenis jangka sorong, yakni jangka sorong yang
memiliki ketelitian 0,05 mm dan yang memiliki ketelitian 0,1 mm.
b) Mikrometer sekrup

Ketelitian mikrometer sekrup:


Micrometer sekrup hanya ada satu macam, yakni yang berketelitian 0.01 mm.
c)
Spherometer
Spherometer merupakan alat untuk mengukur jejari kelengkungan suatu permukaan.
Biasanya digunakan untuk mengukur kelengkungan lensa. Spherometer memiliki 4 kaki,
dengan 3 kaki yang permanen dan satu kaki tengah yang dapat diubah-ubah ketinggiannya.
Ketelitian spherometer bisa mencapai 0,01 mm.
d)
Neraca Torsi
Neraca torsi digunakan untuk mengukur massa suatu zat. Ketelitian yang dimiliki neraca ini
bermacam-macam antara lain sebesar 0,1 g atau 0,05 g atau 0,01 g.
e)
Densitometer
Specific gravity adalah alat yang digunakan untuk mengukur kerapatan (massa jenis)
suatu zat cair. Bedanya dengan densitometer adalah bahwa nilai yang ditunjukkan oleh
specific gravity merupakan nilai relatif terhadap kerapatan air (1 g/ml).
f)
Stopwatch
Stopwatch merupakan alat pengukur waktu. Stopwatch yang sering dipakai biasanya
berketelitian 0,1 s atau 0,2 s. Telepon genggam (HP) biasanya juga disertai fasilitas
stopwatch. Ketelitian stopwatch pada telepon genggam biasanya 0,01 s.
g)

Termomoter
Termometer adalah alat pengukur suhu. Termometer yang biasa digunakan dalam Lab.
Fisika Dasar adalah termometer Celcius dengan ketelitian 0,50C atau 10C.

h)

Multimeter
Multimeter adalah alat pengukur besaran listrik, seperti hambatan, kuat arus, tegangan,
dsb. Ketelitan alat ini sangat beragam dan bergantung pada besar nilai maksimum yang
mampu diukur. Berhati-hatilah dalam menggunakan alat ini. Perhatikan posisi saklar sesuai
dengan fungsinya dan besar nilai maksimum yang mampu diukur. Jika digunakan untuk
mengukur tegangan maka alat ini harus dirangkai paralel, colok (+) dihubungkan dengan (+)
rangkaian, sedangkan colok (-) dengan bagian (-)nya. Sedangkan jika digunakan untuk
mengukur kuat arus yang melalui suatu cabang rangkaian maka alat ini harus dirangkai
secara seri melalui cabang tersebut.
i)
Neraca Ohauss
neraca ohaus adalah alat ukur massa benda dengan ketelitian 0.01 gram.,neraca ini ada dua
macam :
1. nilai skalanya dari yang besar sampai ketelitian 0.01 g yang di geser. di pisah antara skala
ratusan(0-200), puluhan(0-100),satuan (0-10) dan skala 1/100 (0-1) yang di bagi2 juga skala
kecilnya sampai ketelitian 0.01 g.
Kalo yang ini cara makenya gampang. Kamu tinggal taruh saja bendanya (ingat neraca harus
sudah terkalibrasi), lalu digeser skalanya dimulai dari yang skala besar baru gunakan skala
yang kecil.
2. nilai skala ratusan dan puluhan di geser, tapi skala satuan dan 1/100 nya di putar. Cara
memakainya hampir sama dengan yang no.1 tadi. Cuma bedanya, waktu membaca yang
dengan nilai 0-10. Misalkan sudah terbaca antara skala ratusan dan puluhannya (100+20).
Lalu kamu putar skala satuannya (dalam 1 skala satuannya, dibagi lagi 10 skala), lihat skala
yang terlewatkan dari angka nol (misal 5.6 g).

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1
Waktu dan Tempat
Praktikum Fisika Dasar mengenai Pengukuran Dasar dilaksanakan pada
hari Kamis tanggal 19 April 2012. Praktikum dilaksanakan pada pukul 13.00-15.00 WITA
bertempat di Laboratorium Fisika Dasar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Mulawarman.
3.2
Alat dan Bahan
1. Jangka sorong
2. Neraca ohauss
3. Micrometer sekrup
4. Bola-bola besi
5. Silinder besi
3.3
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Prosedur Percobaan
Disiapkan rangkaian alat-alat pengukuran dasar
Diukur bola-bola besi untuk mencari diameter bola besi
Diulang sebanyak 3 kali bola besar, 2 kali bola kecil
Diukur panjang, tinggi, dan lebar balok besi dengan menggunakan jangka sorong, diulang
percobaan sebanyak 5 kali untuk setiap pengukuran panjang, tinggi dan lebar.
Ditimbang bola-bola besi untuk mencari massa menggunakan neraca ohauss, diulang
percobaan sebanyak 3 kali bola besar dan 2 kali bola kecil
Ditimbang balok besi untuk mencari massa menggunakan neraca ohauss, diulang sebanyak
5 kali percobaan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Data Pengamatan
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Bola-Bola Besi
No Diameter (cm) Jari-jari (cm)
Massa (g)
.
1
1,84
0,92
28,19
2
1,8
0,9
28,18
3
1,84
0,92
28,32
4
0,22
0,61
8,41
5
0,21
0,6
8,42
Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Balok Besi

No
.
1
2
3
4
5

Panjang (cm)

Lebar (cm)

Tinggi (cm)

Massa (g)

4,6
4,62
4,6
4,6
4,61

1,9
1,8
1,8
1,8
1,8

1,24
1,2
1,24
1,24
1,24

92,49
92,46
92,68
92,70
92,57

4.3

Pembahasan
Setelah dilakukan percobaan Pengukuran Dasar kami mendapat perbedaan-perbedaan
atau ketidakpastian dalam setiap pengukuran. Ketika melakukan percobaan pada bola-bola
besi dan balok besi ternyata ketidak pastian dalam pengukuran memang terjadi, setiap
pengukuran misalnya, pengukuran panjang, lebar, tinggi, dan diameter bola. Dari setiap
pengukuran itu ternyata berbeda-beda walaupun ternyata perbedaannya tidak terlalu jauh. Hal
ini disebabkan oleh faktor-faktor ketidak pastian. Misalnya saja kesalahan dalam kalibrasi,
yang disebabkan oleh kurang bagusnya alat, bisa juga Karena kesalahan pembacaan skala,
atau karena ketelitian alat pengukur yang terbatas serta faktor-faktor ketidakpastian lainnya.
Di dalam pengukuran dikenal suatu istilah akurasi dan presis. Akurasi adalah suatu
alat ukur yang menggambarkan seberapa dekat hasil suatu pengukuran dengan nilai
sebenarnya. Sedangkan presisi adalah perubahan terkecil yang dapat direspon oleh suatu alat
ukur. Setiap pengukuran pasti memunculkan sebuah ketidakpastian pengukuran yaitu
perbedaan antara dua hasil pengukuran. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor
itu dibagi menjadi dua garis besar, yaitu:
a.
Ketidakpastian bersistem
b. Angka penting
Pengukuran langsung dibedakan atas pengukuran sekali dan pengukuran berulang.
Nilai sesatan taksiran pada suatu pengukuran tergantung pada resolusi dan keberanisan dalam
pengukuran untuk member jaminan.
Pengukuran tidak langsung dapat dibedakan atas tiga masalah yaitu :
a.
Semua sesatan pengukuran merupakan sesatan taksiran
b. Semua sesatan pengukuran merupakan sesatan statistik
c.
Sesatan pengukuran merupakan campuran dari sesatan taksiran dan sesatan statistik

BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
1. Memastikan bahwa dalam pengukuran, selalu terdapat ketidakpastian hasil pengukuran
karena setiap orang memiliki prediksi hasil yang berbeda-beda dalam mengukur benda. Oleh
karena itu, pada setiap alat ukur terdapat angka ketelitian. Jangka sorong memiliki angka
ketelitian 0,05 mm, dan mikrometer sekrup memiliki angka ketelitian 0,01 mm.

2.

Ketidakpastian pengukuran adalah suatu rentan nilai dimana di sekitar nilai hasil
pengukuran tersebut terdapat nilai sebenarnya dari besaran ukur. Nilai ketidakpastian dari
suatu alat ukur diharapkan berada dibawah nilai yang telah ditentukan dalam table/pabrik
sehingga dianggap masih mempunyai nilai akurasi yang tinggi untuk pengukuran. Digunakan
hasil / nilai rata-rata yang kemudian dijadikan hasil pengukuran.
3. Metode kuadrat terkecil digunakan untuk melakukan regresi dan pencocokan kurva yang
diharapkan dapat membentuk persamaan matematis tertentu. Persamaan garis lurus y = ax +
b, persamaan parabolis y = px2 + qx + r.
5.2

Saran
Sebelum percobaan dilakukan, sebaiknya alat-alat serta bahn-bahan yang digunakan
diperiksa terlebih dahulu, apakah berfungsi dengan baik atau tidak. Metode-metode yang
digunakan dalam percobaan ada baiknya lebih bervariasi lagi sehingga lebih mudah
dimengerti dan dipahami.