Anda di halaman 1dari 56

1

BAB I PENDAHULUAN

Judul Penelitian : Penerapan Model Pembelajaran Kumon Untuk Peningkatan Keterampilan Gerak Sepak Sila Dalam Permainan Sepak Takraw Pada Siswa Kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2 Malang.

A. Latar Belakang Dalam perkembangan didunia pendidikan khususnya pendidikan jasmani dan olahraga, model pembelajaran yang sesuai dengan penyampaian materi ajar sangatlah menentukan pada tingkat keberhasilan proses pembelajaran. Untuk itu guru sebagai pemegang kunci keberhasilan dituntut untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerjanya, memperkaya sumber dan media pembelajaran serta harus mampu untuk mengelola unsurunsur dan sumber pembelajaran yang ada pada lembaga/sekolah yang dikelolanya. Dalam Pendidikan jasmani kesehatan dan Olahraga juga terdapat materi permainan bola besar termasuk permainan sepak takraw. Dalam permainan itu sangat dibutuhkan ketangkasan dan keterampilan sepak sila untuk memainkan bola takraw, selain gerakan smesh. Jika keterampilan sepak sila sangat mahir, maka permainan akan menjadi lebih seru jika semua anak mempunyai kecakapan yang sama. Permainan sepak takraw adalah salah satu permainan bola besar disukai anakanak,karena permainan ini mirip dengan sepak bola, demikian Agung menceritakan ( Wawancara tgl.15 Oktober 2012 ).Tetapi, biasanya anak-anak melakukan hanya untuk

kesenangan saja tanpa ada keterampilan sepak sila dengan benar,sehingga dalam permainan banyak sekali passing dan pemberian umpan yang tidak bisa terselesaikan dengan baik, sehinga sering terjadi salah saat menerima bola dari lawan atau teman, bola tidak bisa dimainkan dikarenakan teknik sepak sila yang tidak baik. Didalam pendidikan jasmani sekarang ini, penyampaian materi harus disesuaikan dengan karakteristik anak . Pada usia sekolah dasar anak cenderung untuk bermain dan bertanding, anak akan merasa senang bila dalam proses belajar dalam bentuk permainan dibanding dengan system ortodok model-model lama, dengan adanya perubahan ini guru dituntut kreatifitas yang tinggi untuk menciptakan situasi-situasi lingkungan dan berbagai bentuk permainan yang nyaman dan menyenangkan sesuai dengan materi yang akan disampaikan . Untuk menciptakan proses pembelajaran seperti di atas pada penjas sangatlah terdukung, karena materi pendidikan jasmani banyak berupa olahraga permainan, baik permainan bola besar, permainan bola kecil atau juga permainan tradisional seperti gobak sodor,engklek dan lain-lain. Sepak takraw juga salah satu olahraga permainan, akan tetapi untuk bermain sepak takraw seorang siswa dituntut mempunyai keterampilan dan teknik dasar antara lain : sepak sila, sepak cukil, sepak kuda, menyundul, service dan lainlainnya. Untuk mempelajari materi pelajaran sepak takraw membutuhkan minat dan keberanian pada diri anak didik untuk melakukannya, sehingga perlu adanya inovasiinovasi baru untuk menciptakan situasi yang menyenangkan dalam proses pembelajaran sepak takraw ini serta penggunaan metode dan model pembelajaran yang tepat. Dewasa ini model pengembangan pembelajaran sangat banyak sekali salah satunya adalah model pembelajaran Kumon. Apakah dengan penggunaan model

pembelajaran Kumon siswa-siswi kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2 semakin tertarik dan ada peningkatan keterampilan dalam pelajaran sepak takraw. Hal ini tentunya mengundang tanda tanya yang besar bagi peneliti, mengapa sepaktakraw jarang diajarkan, apakah peminatnya kurang atau model pembelajarannya kurang pas atau juga media dan alat pembelajarannya kurang nyaman pada anak bahkan gurunya juga mungkin tidak menguasai materi, sehingga sepaktakraw jarang diajarkan disekolahsekolah. Idealnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam pendidikan nasional kita terutama tujuan pendidikan jasmani yaitu untuk meningkatkan derajat kebugaran anak disamping peningkatan prestasi dibidang olahraga, Tentunya disekolah-sekolah harus memiliki guru yang kompeten, media dan alat pembelajaran yang tepat dan nyaman pada anak serta penggunaan model pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran tersebut diatas. Dengan demikian pastilah apa yang diinginkan dalam tujuan pendidikan Nasional akan terwujut. Diharapkan dengan penggunaan model pembelajaran Kumon siswa-siswi kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2 pada materi pelajaran sepak takraw terutama keterampilan sepak sila mampu terserap dengan baik . Dengan model tersebut diharapkan anak didik lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran dibanding menggunakan model konvensional atau model komando. Apakah dengan penggunaan model pembelajaran Kumon siswasiswi kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2 semakin tertarik dan berminat dalam pelajaran sepak takraw. Hal ini tentunya perlu pembuktian dalam penelitian kali ini.. .

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kumon untuk menyampaikan materi keterampilan sepak sila dalam bermain sepak takraw pada siswa kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2 ? 2. Apakah penerapan model pembelajaran kumon , dapat meningkatkan keterampilan sepak sila pada permainan sepak takraw siswa-siswi kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2?

C. Tujuan Penelitian Pada hakekatnya tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mendiskripsikan penerapan model pembelajaran kumon dalam penyampaian materi sepak sila pada permainan sepak takraw siswa-siswi kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2. 2. Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kumon dapat atau tidak meningkatkan keterampilan sepak sila siswa-siswi kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2 dalam sepak takraw.

D. Ruang Lingkup Penelitian a. Dalam penelitian ini peneliti membatasi permasalahan sesuai dengan rumusan permasalahan yang tersebut di atas yaitu penerapan model pembelajaran kumon terhadap keterampilan gerak sepak sila pada permainan sepak takraw siswa-siswi kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2. Batasan tersebut dituangkan dalam rumusan variable pada Table 1.1

Tabel 1.1: Variabel Penelitian Sub No. Variable Variable Indikator Sumber Data Instrumen

1.

Model

Model

- Sajian antar konsep gerakan sepak sila dengan konsep gerakan yang dikuasai - Latihan gerakan sepak sila - Koreksi kegiatan - Revisi Gerakan - Remidi/Perbaikan

Pembelajaran - Pedoman sepak sila dalam sepak takraw dikelas IV SD Negeri Lesanpuro 2 Observasi - Pedoman wawancara

Pembelajaran Pembelajaran Kumon

2.

Hasil belajar

Sepak sila (ranah psikomotor)

- Lambungkan bola - Perkenaan bola pada kaki - Pegang Sepak - Timang-timang

Tes ketrampilan sepak sila

- Pedoman penilaian ketrampilan sepak sila

Sumber: Variabel penelitian,olahan dari peneliti sendiri.

E. Definisi Operasional 1. Keterampilan Sepak Sila adalah jenis sepakan dalam teknik dasar permainan sepak takraw yang menggunakan tungkai dan kaki dalam posisi seperti orang bersila dengan perkenaan bola pada kaki bagian dalam. 2. Permainan Sepak Takraw adalah suatu bentuk olahraga permainan yang mengandalkan keterampilan kaki dalam mengolah bola. Permainan sepak takraw berasal dari permainan sepak raga yang dimainkan secara beregu. 3. Model Pembelajaran Kumon adalah pembelajaran dengan mengaitkan antar konsep, keterampilan, kerja individu, dan menjaga suasana nyaman dan menyenangkan.

F. Kegunaan Penelitian 1. Bagi Guru Untuk menambah refrensi dalam mengembangkan model pembelajaran pendidikan jasmani. 2. Bagi Peneliti Mengembangkan kemampuan untuk melakukan penelititan pada bidang yang sedang ditekuni yaitu, penjaskes. 3. Bagi Peneliti lain Dapat digunakan sebagai rujukan dan pijakan untuk melakukan penelitian sejenis dalam upaya tindak lanjut dalam penelitian ini. 4. Bagi UPT Pendidikan Dasar Dapat digunakan sebagai bahan mengambil kebijakan diwilayah kerjanya serta sebagai bahan pertimbangan pada gugus lainnya.

5. Bagi Pengawas Sebagai evaluasi pelaksanaan proses pembelajaran diwilayah kepengawasannya.

BAB II KAJIAN MATERI

A. Pembelajaran a. Pengertian Pembelajaran Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan.(Oemar Hamalik,1995:57). Sedangkan menurut Jihad (2008:12) bahwa pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi educative untuk mencapai tujuan tertentu. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses yang didalamnya terjadi interaksi antara pendidik dan peserta didik, materi, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan tertentu. Pada hakekatnya pembelajaran memang diciptakan agar dalam prosesnya dapat tersusun secara sistematis dan saling berinteraksi dengan memberdayakan semua komponen yang ada , sehingga apa yang menjadi tujuan dalam proses pembelajaran dapat tercapai dan terlaksana secara efektif. SD Negeri Lesanpuro 2 adalah wadah atau lingkungan yang dikondisikan untuk terjadinya proses pembelajaran tersebut , karena SD Negeri Lesanpuro2 juga bagian dari system pendidikan nasional kita. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran SD Negeri Lesanpuro 2 juga perlu mengadakan pengembangan dan inofasi-inofasi baru guna memperlancar dan meningkatkan prestasi dan hasil belajar peserta didiknya.

Deal Corneghy (1987:34) menyatakan pembelajaran tidak hanya mengajarkan anak pada materi tertentu tetapi membantu anak untuk memecahkan masalah yang dihadapi anak didik. Pada dasarnya proses pembelajaran merupakan suatu proses transfer ilmu dari orang dewasa (guru) kepada orang yang belum dewasa (siswa) untuk memecahkan masalah yang dihadapi, sehingga anak didik mampu secara mandiri dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Guru sebagai subyek harus mampu berinovasi dan mempunyai wawasan yang luas tentang pembelajaran, materi ajar serta pengalaman pengalaman dalam memecahkan masalah, hingga dalam pelaksanaan proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Disini dapat disimpulkan bahwasanya pembelajaran merupakan suatu proses komunikatif interaktif pentransferan ilmu dari pendidik kepada peserta didik dengan memperdayakan semua komponen yang ada pada kondisi dan lingkungan yang diciptakan guna mencapai tujuan yang diinginkan.

b. Komponen-Komponen Pembelajaran Proses pembelajaran pada satuan pendidikan dilaksanakan oleh guru sebagai pendidik dalam upaya mencapai tujuan dengan memberdayakan semua komponen yang ada pada lingkungan pembelajaran yang diciptakan dengan nyaman dan menyenangkan. Menurut peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan pada bab IV standar proses pasal 20, dinyatakan bahwa perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Menurut (Depdiknas,2008:11) Silabus adalah

10

rencana pembelajaran pada suatu dan/kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembalajaran, indicator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Jadi uaraian diatas menyatakan bahwa komponen-kompene pembelajaran terdiri dari: -Kurikulum -Silabus dan -Rencana pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari: kolom identitas, standar kompetensi, kompetensi dasar, indicator, tujuan pembelajaran,materi pembelajaran, metode, kegiatan pembelajaran, sumber belajar dan penilaian.

c. Langkah-Langkah pembelajaran Yuli kwartolo dalam penulisannya di tabloid penebur Jakarta edisi Maret-April 2009 dengan judul Sembilan peristiwa belajar Gagne (sebuah pendekatan pembelajaran) menguraikan Sembilan peristiwa pembelajaran yang dikenal dengan istilah nine event of instruction sebagai berikut : 1)Menarik perhatian siswa, 2)Menyampaikan kepada siswa tentang tujuan pembelajaran, 3)Menstimulir/memanggil terlebih dahulu informasi atau pengetahuan yang diperoleh, 4)Menyajikan isi pembelajaran, 5)Menyediakan pedoman atau petunjuk belajar, 6)Memberi kesempatan untuk latihan/unjuk performance, 7)Memberi umpan balik, 8)Melakukan penilaian, 9)Mengekalkan dan mengembangkan. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran guru hendaknya mempunyai rancangan kerja yang berurutan , agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

11

Langkah-langkah atau urutan rencana pembelajaran harus terfokus pada tujuan pendidikan dan materi yang akan disajikan dalam proses pembelajaran. Adapun langkah pembelajaran menurut penulis adalah sebagai berikut : 1)Analisis kurikulum sebagai acuan dalam penyusunan pembuatan silabus. 2)Guru membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dikembangkan berdasarkan pada silabus yang telah dibuat. 3)Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat dengan memberdayakan semua komponen dalam pendidikan . 4)Menganalisis hasil pembelajaran sebagai pijakan untuk menentukan kegiatan perbaikan atau remedial. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan proses pembelajaran tidak terlepas pada perencanaan dan penyusunan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran yang baik, sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan efisien dan efektif , interaksi yang baik antara guru sebagai pendidik dengan siswa serta material,media dan alat peraga, serta situasi dan lingkungan yang aman dan menyenangkan.

B. Model Pembelajaran Kumon a. Pengertian Pembelajaran Kumon Pembelajaran kumon adalah salah satu bentuk model pembelajaran yang mengutamakan pada keterkaitan antar konsep, keterampilan, kerja individu , dengan menjaga suasana yang nyaman dan menyenangkan. Pendidikan jasmani dalam perkembangannya juga mengutamakan konsep play and game sehingga anak dalam

12

menerima materi pelajaran merasa senang tidak merasa terbebani tetapi tetap berfokus pada materi dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Model pembelajaran kumon sangat cocok bila digunakan pada mata pelajaran penjas, karena pada pendidikan penjas keterampilan yang satu dengan yang lainnya juga saling berhubungan, sehingga konsep gerak dasar yang diperoleh anak didik akan dia gunakan pada keterampilan gerak lain yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Model pembelajaran adalah suatu bentuk penyampaian materi dalam proses pembelajaran yang memiliki cirri-ciri tertentu. Model pembelajaran dalam penggunaannya disesusaikan dengan materi yang akan kita sampaikan kepada anak didik, sehingga tujuan yang ingin kita capai dapat terwujud.

b. Langkah-Langkah Pembelajaran Kumon Langkah-langkah dalam penggunaan model pembelajaran kumon adalah sebagai berikut : 1) Sajian antar konsep Yang dimaksud dengan sajian antar konsep adalah guru menyampaikan konsepkonsep tentang ketrampilan materi yang akan kita berikan dengan konsep-konsep ketrampilan materi yang pernah diterima oleh anak didik atau yang lainnya. 2) Latihan Pemberian latihan pada materi yang diajarkan. Setiap anak didik diberi kesempatan untuk melakukan latihan ketrampilan gerak sesuai dengan materi dalam hal ini latihan yang diberikan adalah ketrampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw.

13

3) Koreksi dan evaluasi Setelah menyelesaikan tugas atau latihan semua siswa harus kita koreksi satu persatu serta diberikan penilaian pada masing-masing siswa tersebut, sehingga anak melakukan dengan serius karena adanya penilaian. 4) Perbaikan Pada langkah koreksi apabila terjadi kesalahan dari hasil latihan, maka guru harus segera mengembalikan tugas tersebut atau mengulang lagi latihan gerakan yang ditugaskan kepada anak didik sambil diperbaiki dan ditunjukkan pada letak kesalahannya.

5) Penguatan Langkah terakhir pada model pembelajaran kumon adalah memberikan penguatan pada konsep materi yang diajarkan, sehingga ketrampilan gerak atau hasil latihan dari anak didik dapat terserap dan tersimpan dengan baik pada memorinya.

c. Kelebihan Model Pembelajaran Kumon Kelebihan dari penggunaan model pembelajaran kumon pada mata pelajaran pendidikan jasmani adalah sebagai berikut : 1) Adanya penggabungan antar konsep yang satu dengan konsep yang lain atau keterampilan sepak sila dengan keterampilan yang lain. 2) Latihan pada materi ajar, sehingga berperan aktif dalam proses pembelajaran. 3) Koreksi pada hasil dari latihan untuk memperkecil kesalahan yang dilakukan oleh peserta didik.

14

4) Adanya perbaikan dan penguatan pada materi bahan ajar. 5) Adanya interaksi yang positif antara guru dan peserta didik. 6) Penciptaan situasi pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan.

d. Kelemahan Model Pembelajaran Kumon Semua konsep model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, hal ini biasanya tergantung pada kesesuaian dengan materi ajar. Sama halnya dengan model pembelajaran kumon, disamping memiliki kelebihan model pembelajaran ini juga memiliki kelemahan ntara lain: 1)Bila kurang kontrol dari guru anak didik cendrung kurang serius karena situasi belajar terlalu santai. 2)Adanya kesenjangan antar konsep bagi anak didik yang kurang atau lambat dalam menerima materi pembelajaran.

C. Sepak Takraw a. Pengertian Permainan sepak takraw sekarang ini adalah merupakan penjelmaan dan penyempurnaan dari permainan sepak raga. Permainan ini semula adalah permainan para bangsawan kemudian berkembang menjadi permainan masyarakat diberbagai daerah tertentu. Permainan sepak raga merupakan permainan asli dari bangsa kita yang berkembang keberbagai daerah dikawasan Asia antara lain Singapura dan Malaysia. Permainan sepak takraw pada mulanya menggunakan bola dari rotan, karena Negara kawasan Asia Tenggara pada umumnya penghasil rotan. Tetapi dewasa ini bola

15

yang digunakan sudah berkembang dan terbuat dari bahan plastic. Pada jaman penjajahan permainan sepak raga pernah hilang dari peredaran karena jarang dipermainkan, baru muncul lagi setelah zaman kemerdekaan terlebih setelah adanya anjuran tentang kembali kepada kepribadian dan pelestarian kebudayaan bangsa termasuk didalamnya olahraga tradisional seperti sepak raga. Pada tanggal 29 September 5 Oktober 1970 melalui Direktorat Jendral Olahraga dan Pemuda Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah menginstruksikan agar supaya sepak takraw segera dikembangkan dan dibina didaerah-daerah dan disekolahsekolah. Permainan sepak takraw adalah permainan yang mengandalkan keterampilan kaki dalam mengolah bola agar tidak jatuh ketanah. Permainan ini dimainkan oleh team yang masing-masing team terdiri dari 3 orang atau 2 orang berpasangan. Permainan ini juga hampir sama dengan bolavoli tetapi disepak takraw bola hanya boleh dimainkan dengan kaki saja selama 3 (tiga) kali sentuhan. Dalam permainan ini bola juga boleh dimainkan dengan kepala atau juga sentuhan dengan dada asalkan sentuhan tidak boleh lebih dari 3 sentuhan.

b. Teknik Dasar Permainan Sepak Takraw Dalam permainan sepak takraw ada beberapa teknik dasar yang harus dikuasai oleh seorang pemain. Adapun teknik-teknik dasar itu antara lain : -Sepak sila -Sepak kuda -Sepak cungkil

16

-Sepak telapak kaki -Menyundul -Menahan bola dengan dada, paha dan bahu D. Sepak Sila a. Pengertian sepak sila Sepak sila adalah jenis sepakan dalam permainan sepak takraw dengan perkenaan bola pada kaki bagian dalam, posisi tungkai pada lutut ditekuk seperti orang yang duduk bersila dengan posisi kaki menghadap kedalam dan kaki dalam menghadap keatas. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan sepak sila adalah seperti yang ada pada gambar dibawah ini:

Gb. I.1. Urutan gerakan sepak sila

b. Kegunaan Sepak Sila Dalam permainan sepak takraw keterampilan sepak sila sangat dibutuhkan sekali, karena semakin matang keterampilan dan teknik ini dikuasai permainan sepak takraw

17

dapat dimainkan dengan baik. Adapun kegunaan dari sepak sila dalam permainan sepak takraw adalah sebagai berikut : -Untuk mengontrol bola -Melakukan timang-timang bola -Membuat operan atau memberi umpan -Untuk menyelamatkan bola dari serangan lawan Mengingat betapa pentingnya keterampilan sepak sila ini, maka dalam permainan sepak takraw teknik dasar keterampilan sepak sila harus kita ajarkan dengan benar pada anak didik, karena keterampilan ini merupakan gerak dasar dalam permainan sepak takraw.

E. Hasil belajar Akhir dari pelaksanaan proses pembelajaran adalah serangkaian kegiatan penutup yang didalamnya adanya penilaian. Penilaian yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan tes unjuk kerja dari serangkaian gerakan sepak sila. Adapun aspek dan ketentuan dari penilaian keterampilan gerakan sepak sila tertera pada Tabel 2.1. Table 2.1 Penilaian psikomotor No Nama Aspek yang dinilai 1 1 2 3 4 5 2 3 4 Jumlah skore Nilai

18

Keterangan aspek yang dinilai : 1. Cara melambungkan bola 2. Perkenaan bola pada kaki 3. Cara melakukan sepakan sila 4. Koordinasi gerakan sepak sila

Nilai setiap aspek 1. Cara melambungkan bola Keterangan


Benar Cukup Kurang tepat Salah

Nilai
4 3 2 1

Ketentuan/criteria
Jika lambungan bola tegak lurus setinggi kepala Tegak lurus tapi bola terlalu tinggi atau rendah Jika arah bola tidak tegak lurus Jika bola melenceng dan terlalu tinggi atau rendah

2. Perkenaan bola pada kaki Keterangan Benar Cukup Kurang tepat Salah Nilai 4 3 2 1 Ketentuan/criteria
Perkenaan bola pada kura-kura kaki bagian dalam Perkenaan bola pada punggung kaki Perkenaan bola diluar bagian kaki Bola tidak mengenai kaki sama sekali

19

3.

Cara melakukan sepak sila Keterangan Benar Nilai 4 Ketentuan/criteria


Posisi kaki dan tungkai seperti orang bersila,telapak menghadap kedalam atas.

Cukup Kurang tepat Salah

3 2 1

Kaki dan tungkai tekukannya kurang keatas/maksimal Jika lutut yang ditekuk,telapak kaki menghadap kebawah. Jika tungkai tidak ada tekukan

4. Koordinasi gerakan sepak sila Keterangan Benar Nilai 4 Ketentuan/criteria


Jika gerakan mulai awal sampai perkenaan bola pada kaki betul,serta arah bola dari sepakan tegak lurus ke atas.

Cukup Kurang tepat Salah

3 2 1

Gerakan betul, arah bola tidak tegak lurus ke atas. Gerakan kurang tepat,perkenaan bola tidak pada kaki dalam Gerakan salah,perkenaan juga salah.

Keterangan: N = Nilai akhir nx = Nilai yang didapat ny = skore maksimal

20

Tabel 2.2 Kriteria konversi penilaian ketuntasan belajar No 1 2 3 4 Nilai < 65 66 75 76 85 86 Kriteria Tidak tuntas(remidi) Cukup Memuaskan Sangat memuaskan

Table 2.3.

Penilaian Afektif
Aspek yang dinilai Jumlah Nilai Kerja sama Sportifitas Kejujuran Skor

No

Nama

1 2

Keterangan Penilaian : Keterangan Sangat baik Nilai 4 Ketentuan/kriteria Jika kerja sama,sportifitas,dan kejujuran sangat baik Baik Cukup Kurang 3 2 1 Jika kerja sama,sportifitas,dan kejujuran baik Jika kerja sama,sportifitas,dan kejujuran cukup Jika kerja sama,sportifitas,dan kejujuran kurang

21 Tabel 2.4 konversi nilai prestasi kelompok untuk aspek Afektif

No 1 2 3 4 5

Katagori Prestasi Kelas 0,00 IPK < 30,00 30,00 IPK < 55,00 55,00 IPK < 75,00 75,00 IPK < 90,00 90,00 IPK < 100,00

Interprestasi Sangat Negatif Negatif Netral Positif Sangat Positif

(di adaptasi dari Luhut P,Pangabean dalam Taufik,2008:51 )

22

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu pendekatan penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan peneliti dikarenakan tujuan yang diharapkan pada penelitian ini yaitu pendiskripsian tentang adanya peningkatan keterampilan gerak sepak sila dengan penggunaan model pembelajaran kumon pada penyampaian materi sepak sila dalam permainan sepak takraw siswa-siswi kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2 Kedungkandang Malang. Menurut (Satori dan Komariah,2011;25) penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang mengungkap situasi sosial tertentu dengan mendiskripsikan kenyataan secara benar, dibentuk oleh kata-kata berdasarkan teknik pengumpulan dan analisis data yang relevan dan diperoleh dari situasi yang alamiah. Penelitian kualiatif hanya mendiskripsikan hasil penelitian berdasarkan data yang diperoleh dari sampel berdasarkan kenyataan yang ada baik data berupa angka-angka/ nilai-nilai atau data dari hasil observasi maupun angket.

23

B. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan ( action research) karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas.penelitian ini juga termasuk penelitian diskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu metode atau model pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang akan diinginkan dapat tercapai.penelitian tindakan bisa dipahami dari dua sisi ,yaitu dari sisi guru dan kepala sekolah.dari sisi guru lazim dikenal dengan penelitian tindakan kelas . Untuk melakukan penelitian tindakan kelas, Oja dan Sumarjan (dalam Titi Sugiarti 1997:8), menyatakan ada 4 macam bentuk penelitian tindakan kelas,yaitu (1) penelitian Tindakan Guru sebagai peneliti, (2) Penelitian tindakan kolaboratif ,(3) penelitian tindakan simulatife terinteratif dan ( 4) penelitian tindakan social eksperimental. Dalam penelitian tindakan ini menggunakan bentuk penelitian kolaboratif dengan guru penjaskesOr dan didalam proses belajar mengajar di lapangan yang bertindak sebagai pengajar adalah guru penjaskes Or sedang kan peneliti bertindak sebagai subyek penanggung jawab penuh penelitian tindakan adalah pengamat (peneliti ).Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran dikelas yang mana peneliti secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pelaksana, pengamatan, dan refleksi. Untuk lebih memberikan gambaran kongkrit pelaksanaan siklus dalam PTK ini digambarkan sebagai berikut :

24

DIAGRAM ALUR PTK KEMMIS DAN MC.TAGGAT

Refleksi Awal

Pelaksana tindakan

Rencana tindakan

Observasi

Refleksi

Tidak berhasil
Pelaksana tindakan

Berhasil

Rencana tindakan

Tidak berhasil
Obsevasi Refleksi

Berhasil.? dst.

Menurut Kemmis dan Mc Taggart (dalam Rafiuddin,1996) penelitian tindakan dapat di pandang sebagai suatu siklus spiral yang di mulai dari kegiatan refleksi awal, rencana tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dari lima kegiatan ini harus di implementasikan dalam satu siklus, pengulangan dapat dilakukan setelah adanya refleksi,

25

kemudian di ikuti dengan perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri. Adapun ke lima kegiatan tersebut di atas kita dapat jabarkan sebagai berikut : 1. Refleksi Awal Refleksi awal dimaksudkan sebagai kegiatan penjajagan yang dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema penelitian. Peneliti bersama timnya melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengenali dan mengetahui situasi yang sebenarnya. Berdasarkan hasil refleksi awal dapat dilakukan pemfokusan masalah yang selanjutnya dirumuskan menjadi masalah penelitian. Berdasar rumusan masalah tersebut maka dapat ditetapkan tujuan penelitian. Sewaktu melaksanakan refleksi awal, paling tidak calon peneliti sudah menelaah teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu setelah rumusan masalah selesai dilakukan, selanjutnya perlu dirumuskan kerangka konseptual dari penelitian. 2. Penyusunan perencanaan Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil penjajagan refleksi awal. Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau mengubah perilaku dan sikap yang diinginkan sebagai solusi dari permasalahan-permasalahan. Perlu disadari bahwa perencanaan ini bersifat fleksibel dalam arti dapat berubah sesuai dengan kondisi nyata yang ada.

26

3.

Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan. Jenis tindakan yang dilakukan dalam PTK hendaknya selalu didasarkan pada pertimbangan teoritik dan empiric agar hasil yang diperoleh berupa peningkatan kinerja dan hasil program yang optimal.

4.

Observasi (pengamatan) Kegiatan observasi dalam PTK dapat disejajarkan dengan kegiatan pengumpulan data dalam penelitian formal. Dalam kegiatan ini peneliti mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa. Istilah observasi digunakan karena data yang dikumpulkan melalui teknik observasi.

5.

Refleksi Pada dasarnya kegiatan refleksi merupakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi terhadap semua informasi yang diperoleh saat kegiatan tindakan. Dalam kegiatan ini peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil-hasil atau dampak dari tindakan. Setiap informasi yang terkumpul perlu dipelajari kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau hasil penelitian yang telah ada dan relevan. Melalui refleksi yang mendalam dapat ditarik kesimpulan yang mantap dan tajam. Refleksi merupakan bagian yang sangat penting dari PTK yaitu untuk memahami terhadap proses dan hasil yang terjadi, yaitu berupa perubahan sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan. Pada hakekatnya model Kemmis dan Taggart berupa

27

perangkat-perangkat atau untaian dengan setiap perangkat terdiri dari empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi yang dipandang sebagai suatu siklus. Banyaknya siklus dalam PTK tergantung dari permasalahanpermasalahan yang perlu dipecahkan, yang pada umumnya lebih dari satu siklus. PTK yang dikembangkan dan dilaksanakan oleh para guru di sekolah pada umumnya berdasar pada model (2) ini yaitu merupakan siklus-siklus yang berulang. Dalam penelitian ini peneliti bekerja sama dengan guru penjaskesOr, kehadiran peneliti sebagai guru ditenggah-tenggah proses belajar mengajar sebagai pengamat diberitahukan kepada siswa.Dengan cara ini diharapkan adanya kerja sama dari seluruh siswa dan bisa mendapatkan data seobyektif mungkin demi kevalitan data yang diperlukan.

C. Tahap-tahap penelitian Penelitian ini dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : -Observasi awal -Merumuskan focus permasalahan berdasarkan hasil observasi awal -Penyusunan draft penelitian -Perumusan dan penyempurnaan kisi-kisi dan instrument penelitian -Pengumpulan data lapangan -Pengolahan dan analisis data lapangan yang telah terkumpul -Verifikasi hasil penelitihan

28

D. Kehadiran Peneliti Kehadiran peneliti diperlukan sebagai alat sekaligus pengumpul data. Selain itu, peneliti berperan sebagai pengamat/observer serta berperan aktif dalam penelitian, karena merupakan subyek penelitian yang dijadikan penelitian. Menurut (Sugiono,2010:59) dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrument atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu kehadiran peneliti dalam penelitian yang bersifat kualitatif sangat penting sekali. Peneliti disamping sebagai subyek juga berperan sebagai obyek dalam penelitian tindakan kelas. Dalam penelitian ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu : guru sebagai subyek, model pembelajaran kumon merupakan bahan yang diteliti serta anak didik sebagai obyek dalam penelitian ini. Dari tiga hal ini semua harus bersinergi dengan didukung komponen dan situasi pembelajaran yang konduksif, sehingga kahadiran dari peneliti sangat penting sekali dalam penelitian yang bersifat kualitatif.

F. Sasaran dan Lokasi Penelitian Sasaran penelitian ini adalah proses pembelajaran pendidikan jasmani pada siswa-siswi kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2 pada materi pelajaran sepak sila dalam permainan sepak takraw Jl. Lesanpuro XII/248 kelurahan Lesanpuro kecamatan Kedungkandang kota Malang.

G. Waktu Penelitian Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada pertengahana semester hingga akhir semester gasal tahun ajaran 2012/2013 (Oktober-Desember 2012).

29

H. Sumber Data Sumber data yang diambil dalam penelitian ini adalah data dalam pelaksanaan proses pembelajaran pendidikan jasmani pada materi keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw siswa-siswi kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2. Menurut Lofland dalam (Moleong, 2007:157) sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, tindakan dan data tambahan misalnya dokumen dan lain-lain. Maka dalam penelitian ini sumber data diambil dari semua kejadian baik kata-kata, tindakan maupun dokumen-dokumen yang ada pada proses pembelajaran jasmani pada materi keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw siswa-siswi kelas IV SD Negeri Lesanpuro 2 kecamatan Kedungkandang Malang.

I. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah: observasi dan dokumen. 1. Observasi Menurut (Sugiono,2010:67) observasi tak berstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sisteatis tentang apa yang diobservasi. Observasi awal dalam penelitian biasanya tak berstruktur, peneliti hanya mengandalkan daya ingat dan mencatat hal-hal yang dilihat saja. Untuk menguatkan data penelitian peneliti hendaknya menggunakan observasi yang berstruktur dengan menggunakan format checklist, karena aitem-aitem yang diamati dalam proses pembelajaran tertulis dan tercatat dalam lembar observasi yang sudah dikonsultasikan dengan ahlinya. Sehingga kefalitan data dapat dipertanggung jawabkan.

30

2. Dokumen Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu bisa berbentuk tulisan, gambar,atau karya-karya yang dibuat pada proses pembelajaran berlangsung. Dalam penelitian ini sumber dokumen yang diambil berupa RPP dan dokumen siswa berupa tes hasil belajar.

J. Analisis Data Penelitian ini menggunakan analisis data yang meliputi tahap-tahap sebagai berikut : 1. Mereduksi data Menurut Sugiono (2010:92) mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, serta pencarian tema dan pola, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. 2. Penyajian data Dalam penelitian kualitatif data yang disajikan berupa teks yang bersifat naratif. Oleh karena itu setelah data direduksi, kemudian data disajikan dengan teks yang bersifat naratif. 3. Penarikan kesimpulan dan Verifikasi data Penarikan kesimpulan yang dimaksud adalah kesimpulan terhadap data yang telah direduksi dan data yang disajikan dengan teks yang bersifat naratif, sehingga muncul katagori-katagori data yang menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan. Sedangkan verifikasi yang dimaksud adalah dari kesimpulan yang diperoleh apakah

31

dapat menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini. Kesimpulan merupakan langkah untuk mengambil tindakan selanjutnya, apakah penelitian ini ditindak lanjuti atau dihentikan berdasarkan hasil dari kesimpulan yang ada.

K. Kriteria keberhasilan penelitian Penelitian ini dinyatakan berhasil, jika: 1.Seluruh perlakuan telah dilaksanakan secara sistematis dan utuh. 2.Dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan telah mencapai hasil belajar yang telah ditentukan.

32

BAB IV PAPARAN DATA DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas yang dilakukan mengungkapkan penerapan model pembelajaran kumon dalam meningkatkan ketrampilan siswa melakukan sepak sila dalam permainan sepak takraw, dipaparkan berikut ini. 1. Refleksi awal Perencanaan Guru pengajar membuat persiapan sesuai dengan keseharian yang telah dilakukan sebelumnya lengkap dengan alat evaluasi pembelajaran. Pembelajaran menggunakan konsep play and game, dimana pembelajaran ini ditujukan untuk bermain dan bertanding dalam suasana yang menyenangkan, anak dibiarkan untuk berekspreksi tanpa mengindahkan pada bentuk keterampilan suatu gerakan yang benar dalam materi permainan sepak takraw. Pelaksanaan dan Hasil Observasi Observasi dilaksanakan pada hari selasa tanggal 17 September 2012 dengan kehadiran 28 siswa kelas IV SDN Lesanpuro 2. Pembelajaran secara umum berlangsung dengan suasana yang kurang terkoordinir dengan baik, di mana anak didik di biarkan belajar dan bermain sendiri dan guru hanya mengarahkan dan memberi tugas diawal pelajaran . Setelah itu guru hanya mengawasi jalannya pembejaran dari jauh.

33

Refleksi Dalam pembelajaran siswa terkesan kurang terkontrol dengan baik, banyak siswa yang kurang aktif, karena keaktifan dilakukan oleh siswa-siswa yang dominan. Teknik dan keterampilan gerak dalam permainan sepak takraw tidak Nampak, karena anak melakukan gerakan dengan ekspresi yang ada pada diri anak tanpa mengindahkan kebenaran dari konsep gerakan yang ada permainan sepak takraw. Guru cenderung pasif, hanya sekali-kali mengeluarkan perintah sambil mengawasi pembelajaran dari jauh, mungkin guru beranggapan teknik kurang penting dan anak didik merasa senang dan mengeluarkan keringat sudah cukup puas. Walaupun tujuan yang tertulis dalam RPP tidak tercapai.

SIKLUS I a.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pekerjaan mengajar merupakan pekerjaan sistemik. Diantara bagian dari system dalam sebuah pekerjaan mengajar, antara lain: pembuatan rencana pembelajaran (RPP). RPP yang dibuat oleh sasaran penelitian berisi seperangkat rumusan program pengajaran yang diawali dengan penulisan : 1)Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan. 2)Standar kompetensi merupakan kualifkasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.

34

3)Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran. 4)Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. 5)Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. 6)Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi. 7)Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. 8)Kegiatan pembelajaran a. Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. b. Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Adapun kegiatan inti meliputi :

35

Kegiatan eksplorasi, guru: - pemahaman konsep gerakan sepak sila - melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan - memfasilitasi peserta didik melakukan latihan gerakan sepak sila Kegiatan elaborasi, guru mengawasi dan mengoreksi latihan: - Memberi kesempatan untuk berpikir, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut. Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar. Memfasilitasi peserta didik melakukan unjuk keterampilan sepak sila dari hasil latihan

Konfirmasi, guru: Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan. C .Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refeksi, umpan balik, dan tindak lanjut.

a. Pelaksanaan Pembelajaran

36

Hasil amatan peneliti, menunjukkan bahwa perilaku mengajar yang dilaksanakan oleh guru dimulai dari pemberian kegiatan awal sampai kegiatan akhir banyak sekali siswa yang kurang sekali mempunyai keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw . Banyak sepak sila yang tidak dilakukan dengan baik, terbukti dengan setiap melakukan timang-timang bola, bola sering jatuh dan tidak sesuai dengan kriteria untuk keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw, akan tetapi untuk tahapan gerakan sepak sila anak didik hampir semua menguasai (observasi, 17 September 2012). Selengkapnya kegiatan pembelajaran dipaparkan sesuai dengan gambar dan penjelasannya sebagai berikut :

Gb.IV.1: Penjelasan tentang materi sepak sila. Gambar IV .I menunjukkan bahwa pada kegiatan inti, pertama kali guru menjelaskan materi sepak sila. Saat guru memberi penjelasan tidak disertai contoh gerakan sepaksila. Hal itu dapat dinyatakan bahwa dalam penyampaian konsep gerakan sepak sila kurang lengkap. Akibatnya dapat diduga bahwa penjelasan guru tidak bisa diterima dengan baik dan cenderung menimbulkan verbalisme . Pada sisi lain pembelajaran tentang sepak sila merupakan pembelajaran yang menuntut aktivitas fisik, setidaknya bantuan fisualisasi gerakan . Melalui visualisasi gerakan siswa lebih dapat mencerna yang

37

selanjutnya dapat melakukan kegiatan keterampilan sesuai dengan tuntutan gerakan sepak sila. Kegiatan berikutnyadapat dilihat pada Gambar IV.2 berikut

Gb.IV.2 : Latihan gerakan sepak sila

Gambar IV.2 dapat dipahami sebagai aktivitas siswa dalam melakukan latihan sepak sila tidak sesuai dengan gerakan yang di inginkan , Tampak pula banyak anak yang kurang memperhatikan temannya yang sedang berlatih disaat menunggu giliran. Mengingat jumlah siswa banyak dan bola yang tersedia kurang ( 4 bola), dapat diduga dalam kegiatan latihan sepak sila tersebut banyak siswa pasif. Penggunaan waktu belajar yang tidak efektif. Aktifitas berikutnya dapat dilihat pada Gambar IV.3

38

Gb.IV.3. Aktifitas siswa dalam latihan Gambar IV.3 dapat dipahami sebagai aktifitas siswa yang sedang latihan tidak ada keseriusan, mereka cenderung bergurau. Nampak pula dalam pengamatan peneliti saat menunggu giliran latihan ada aktifitas lain selain latihan gerakan sepak sila, yaitu bermain sepak bola terutama anak laki-laki. Dapat diperkirakan guru setelah memberi penjelasan punya aktifitas lain tanpa mengawasi jalannya latihan, anak dibiarkan beraktifitas sendiri dan bisa menimbulkan hal-hal yang tidak di inginkan, misalnya: cidera, berkelahi, dan lainnya.

b. Hasil belajar Kegiatan pembelajaran, lazimnya diakhiri dengan kegiatan evaluasi hasil belajar, untuk membidik tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan belajarnya. Berdasarkan hasil tes perbuatan yang mengukur keterampilan sepak sila didapatkan skor rata-rata kelas sebesar 67,7 (Lampiran 3) skore tersebut didapat dari hasil timang bola pada keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw. c. Refleksi Berdasarkan hasil penelitian awal sebagaimana dipaparkan di atas, dapat dinyatakan hal-hal berikut:

39

1) RPP dibuat secara paradigmatik yang sesuai dengan kaidah pengunaan metode atau model pembelajara. 2) Pelaksanaan tidak sesuai dengan sistematika yang didasarkan kepada penerapan metode atau model pembelajaran tertentu. 3) Hasil belajar sebagaian besar siswa belum mencapai keterampilan sepak sila sebagaimana yang diharapkan. Dari pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan model pembelajarn kumon pada siklus I disimpulkan beberapa hal antara lain: Seluruh sequen nampak ada yang tidak terlaksana dalam proses pembelajaran pada siklus I, maka dengan tidak terpenuhinya sequen pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kumon pada siklus I peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian ini pada siklus II. Instrumen penilaian adalah ranah psikomotor berupa tes keterampilan gerak sepak sila yang berdasarkan tahapan-tahapan yang sesuai dengan indicator dengan kriteria yang sudah ditentukan, sehingga penilaian yang dilakukan tidak keluar dari tujuan yang di inginkan. Hasil pembelajaran secara bertahap 70% anak sudah menguasai materi sepak sila akan tetapi sewaktu penilaian koordinasi gerakan secara utuh melalui penilaian gerakan timang-timang bola banyak anakyangkurang mengusai. Kita menyadari bahwa keterampilan psikomotor harus dilakukan latihan yang berulang-ulang dengan intensitas yang tinggi dengan dukungan peralatan yang memadahi, baru keterampilan sepak sila bisa dikuasai anak dengan baik. Dalam pembelajaran sepak sila kelas IV di SD Negeri

40

Lesanpuro 2 kurang bisa berjalan dengan maksimal, terbukti dari hasil observasi dan olah data penelitian ini menyatakan hasil belajar anak didik pada materi sepak sila dalam permainan sepak takraw nilai rata-rata kelas 55.6 (Lampiran 4), intensitas latihan masing-masing anak berbeda penyebaran penguasaan materi tidak merata sehingga peningkatan prestasi hasil belajar anak pada keterampiln sepak sila tidak Nampak. MODEL PEMBELAJARAN KUMON OBSERVASI PADA SIKLUS I, HARI RABU, Tanggal 17 September 2012 No Kegiatan Sequen 4 1 2 3 4 5
Menyajikan konsep gerakan sepak sila Memberi tugas latihan gerakan sepak sila Koreksi hasil latihan masing-masing anak Memberi latihansesuai hasil koreksi gerakan Remidial dan memberi penguatan gerakan sepak sila yang benar.

Kualifikasi 3 v v v v v 2 1

Keterangan

1 2 3 4 5

dilakukan dilakukan tidak dilakukan dilakukan tidak dilakukan

Kriteria penilaian: Nilai 4 jika kegiatan dilakukan utuh Nilai 3 jika dilakukan tapi ada sedikit kesalahan Nilai 2 Jika dilakukan tapi banyak kesalahan

41

Nilai 1 jika tidak terlaksana Total nilai =(Jumlah nilai: 4x5)x 100%=( 9:20) x100%= 45% 2. Rekomendasi Berdasarkan refleksi di atas, dapat disarankan hal-hal berikut. Pembelajaran dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran kumon, dengan tahapantahapan pembelajaran, a)Memberi sajian konsep gerakan sepak sila,b) Melatih setiap siswa untuk melakukan gerakan sepak sila, c) Mengoreksi hasil latihan gerakan sepak sila, d) Memberikan latihan lagi sesuai dengan hasil koreksi gerakan yang benar, e) Memberikan penguatan tentang gerakan sepak sila yang benar. Hendaknya dituangkan dalam penulisan RPP khususnya dikegiatan inti dan dilaksanakan dalam model pembelajaran kumon.

Siklus II a.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pekerjaan mengajar merupakan pekerjaan sistemik. Diantara bagian dari system dalam sebuah pekerjaan mengajar, antara lain: pembuatan rencana pembelajaran (RPP). RPP yang dibuat oleh sasaran penelitian berisi seperangkat rumusan program pengajaran yang diawali dengan penulisan : 1)Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan.

42

2)Standar kompetensi merupakan kualifkasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran. 3)Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran. 4)Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. 5)Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. 6)Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi. 7)Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. 8)Kegiatan pembelajaran

43

a. Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. b. Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Adapun kegiatan inti meliputi : Kegiatan eksplorasi, guru: - Siswa dapat pemahaman konsep gerakan sepak sila dengan visualisasi - melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan - memfasilitasi peserta didik melakukan latihan gerakan sepak sila Kegiatan elaborasi, guru mengawasi dan mengoreksi latihan: Melakukan gerakan melambungkan bola Melakukan gerakan lambung sepak tangkap Melakukan gerakan sepak sila secara utuh Mempraktekkan gerakan sepak sila dengan timang-timang bola secara terusmenerus. - Memberi kesempatan untuk berpikir, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut. Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar. Memfasilitasi peserta didik melakukan unjuk keterampilan sepak sila dari hasil latihan

44

Konfirmasi, guru: Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan. C .Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refeksi, umpan balik, dan tindak lanjut.

d. Pelaksanaan Pembelajaran Hasil amatan peneliti, menunjukkan bahwa perilaku mengajar yang dilaksanakan oleh guru dimulai dari pemberian kegiatan awal sampai kegiatan akhir banyak sekali siswa yang kurang sekali mempunyai keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw . Banyak sepak sila yang tidak dilakukan dengan baik, terbukti dengan setiap melakukan timang-timang bola, bola sering jatuh dan tidak sesuai dengan kriteria untuk keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw, akan tetapi untuk tahapan gerakan sepak sila anak didik hampir semua menguasai (observasi, 19 Desember 2012). Selengkapnya kegiatan pembelajaran dipaparkan sesuai dengan gambar dan penjelasannya sebagai berikut :

45

Gb.IV.4. Aktifitas guru Gambar IV .I menunjukkan bahwa pada kegiatan inti, pertama kali guru menjelaskan materi sepak sila yang disertai dengan contoh gerakan sepak sila. Hal itu dapat dinyatakan bahwa dalam penyampaian konsep gerakan sepak sila yang kurang lengkap berakibat pada penjelasan guru kurang bisa diterima dengan baik dan cenderung menimbulkan verbalisme Pada sisi lain pembelajaran tentang sepak sila merupakan pembelajaran yang menuntut aktivitas fisik, setidaknya bantuan fisualisasi gerakan . Melalui visualisasi gerakan siswa lebih dapat mencerna yang selanjutnya dapat melakukan kegiatan keterampilan sesuai dengan tuntutan gerakan sepak sila. Anak juga memperhatikan keterangan yang diberikan . Kegiatan berikutnyadapat dilihat pada Gambar IV.5 berikut

Gb.IV.5. Aktifitas siswa mengerjakan latihan

46

Gambar IV.5 dapat dipahami sebagai aktivitas siswa dalam melakukan latihan sepak sila dengan pengawasan dari guru. Tampak pula anak yang lain memperhatikan temannya yang sedang berlatih disaat menunggu giliran. Mengingat jumlah siswa banyak dan bola yang tersedia kurang, dapat diduga dalam kegiatan latihan sepak sila tersebut banyak siswa pasif. Penggunaan waktu belajar yang tidak efektif. Latihan gerakan pada setiap anak kurang maksimal. Anak terlalu serius, seharusnya suasana belajar bersifat menyenangkan. Aktifitas berikutnya dapat dilihat pada Gambar IV.6

Gb.IV.6 Koreksi gerakan sepak sila Gambar IV.6 dapat dipahami sebagai aktifitas siswa untuk menunjukkan hasil dari latihan gerakan sepak sila, Guru melakukan koreksi dari hasil latihan anak. Serta adanya pengawasan yang lebih teliti dari guru. Kesalahan yang dilakukan segera dibetulkan dan siswa disuruh melakukan latihan lagi, sehingga keterampilan gerak sepak sila yang dilakukan oleh siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam proses pembelajaran yang dirumuskan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya bisa dilihat pada Gambar IV.7.

47

Gb.IV.7 Pemberian penguatan dan remedial Gambar IV.7 dapat dipahami sebagai aktifitas guru sebelum mengakhiri pelajaran memberikan kesimpulan tentang gerakan sepak sila yang benar. Kemudian guru memberikan kesempatan pada anak yang nilainya kurang untuk melakukan perbaikan dengan menambahkan beban latihan lagi.

e. Hasil belajar Kegiatan pembelajaran, lazimnya diakhiri dengan kegiatan evaluasi hasil belajar, untuk membidik tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan belajarnya. Berdasarkan hasil tes perbuatan yang mengukur keterampilan sepak sila didapatkan skor rata-rata kelas sebesar 63.3 ( Lampiran 5) skore tersebut didapat dari hasil timang bola pada keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw. f. Refleksi Berdasarkan hasil penelitian awal sebagaimana dipaparkan di atas, dapat dinyatakan hal-hal berikut: 1) RPP dibuat secara paradigmatik yang sesuai dengan kaidah pengunaan metode atau model pembelajara.

48

2) Pelaksanaan sesuai dengan sistematika yang didasarkan kepada penerapan metode atau model pembelajaran tertentu. 3) Hasil belajar siswa adanya peningkatan kebenaran dalam melakukan keterampilan sepak sila sebagaimana yang diharapkan.

Dari pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan model pembelajarn kumon pada siklus I disimpulkan beberapa hal antara lain: Seluruh sequen nampak ada artinya terlaksana dalam proses pembelajaran dengan asumsi mendekati standart sempurna, maka dengan terpenuhinya sequen pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kumon pada siklus II peneliti memutuskan untuk menghentikan penelitian ini pada siklus II. Instrumen penilaian adalah ranah psikomotor berupa tes keterampilan gerak sepak sila yang berdasarkan tahapan-tahapan yang sesuai dengan indicator dengan kriteria yang sudah ditentukan, sehingga penilaian yang dilakukan tidak kelur dari tujun yang di inginkan. Hasil pembelajaran secara bertahap 80% anak sudah menguasai materi sepak sila akan tetapi sewaktu penilaian koordinasi gerakan secara utuh melalui penilaian gerakan timang-timang bola banyak anak yang kurang mengusai. Kita menyadari bahwa keterampilan psikomotor harus dilakukan latihan yang berulang-ulang dengan intensitas yang tinggi dengan dukungan peralatan yang memadahi, baru keterampilan sepak sila bisa dikuasai anak dengan baik. Dalam pembelajaran sepak sila kelas IV di SD Negeri Lesanpuro 2 kurang bisa berjalan dengan maksimal, terbukti dari hasil observasi dan olah

49

data penelitian ini menyatakan hasil belajar anak didik pada materi sepak sila dalam permainan sepak takraw nilai rata-rata kelas 63.3 (Lampiran 5), intensitas latihan masing-masing anak berbeda penyebaran penguasaan materi tidak merata sehingga peningkatan prestasi hasil belajar anak pada keterampiln sepak sila tidak nampak.

MODEL PEMBELAJARAN KUMON OBSERVASI PADA SIKLUS I, HARI RABU, Tanggal 19 Desember 2012

No

Kegiatan

Sequen 4

Kualifikasi 3 2 1

Keterangan

1 2 3 4 5

Menyajikan konsep gerakan sepak sila Memberi tugas latihan gerakan sepak sila Koreksi hasil latihan masing-masing anak Memberi latihansesuai hasil koreksi gerakan Remidial dan memberi penguatan gerakan sepak sila yang benar.

1 2 3 4 5

v v v v v

dilakukan dilakukan dilakukan dilakukan dilakukan

Kriteria penilaian: Nilai 4 jika kegiatan dilakukan utuh Nilai 3 jika dilakukan tapi ada sedikit kesalahan

50

Nilai 2 Jika dilakukan tapi banyak kesalahan Nilai 1 jika tidak terlaksana Total nilai =(Jumlah nilai: 4x5)x 100%=(18:20) x100%= 90%

3. Rekomendasi Berdasarkan refleksi di atas, dapat dinyatakan hal-hal berikut. a. Pembelajaran dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran kumon, dengan tahapan- tahapan pembelajaran, 1)Memberi sajian konsep gerakan sepak sila,2) Melatih setiap siswa untuk melakukan gerakan sepak sila, 3) Mengoreksi hasil latihan gerakan sepak sila, 4) Memberikan latihan lagi sesuai dengan hasil koreksi gerakan yang benar, 5) Memberikan penguatan tentang gerakan sepak sila yang benar. b. Hasil belajar keterampilan sepak sila dengan menerapkan metode drill terbukti meningkat, dengan peningkatan dari refleksi awal hingga refleksi pada siklus II sebesar 7.7 ( siklus I 55.6, dan siklus II 63.3). c. Berdasarkan hasil pada butir a dan b tersebut, dinyatakan bahwa pelaksanaan PTK ini tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya (PTK dinyatakan berakhir).

B. Pembahasan 1. Penerapan model pembelajaran kumon. Melalui hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kumon dengan tahapan-tahapan: a) sajian konsep gerakan sepak sila, b) memberikan latihan gerakan sepak sila, c) mengoreksi hasil latihan gerakan seak sila, d) memberi

51

latihan lagi sesuai dengan hasil koreksi, dan e) memberi penguatan tentang gerakan sepak sila yang benar dan remedial bagi siswa yang belum mencapai nilai. Memiliki dampak positif dalam meningkatkan keterampilan sepak sila pada siswa. Hal itu, sesuai dengan yang dinyatakan dalam siklus II ini dapat dilihat dari peningkatan keterampilan siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari siklus I, dan II) untuk ranah psikomotor yaitu sebesar 55,6 menjadi 63,3 sedangkan untuk ranah afektif yaitu 75,3 menjadi 78,3 Pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai sebesar 7,7 untuk psikomotor dan 3,0 afektifnya. Hasil tersebut dapat dibenarkan, karena penggunaan model pembelajaran kumon memiliki kelebihan-kelebihan, diantaranya : a) Adanya penggabungan antar konsep yang satu dengan konsep yang lain atau keterampilan sepak sila dengan keterampilan yang lain, b) Latihan pada materi ajar, sehingga berperan aktif dalam proses pembelajaran, c) Koreksi pada hasil dari latihan untuk memperkecil kesalahan yang dilakukan oleh peserta didik, d) Koreksi pada hasil dari latihan untuk memperkecil kesalahan yang dilakukan oleh peserta didik, e) Adanya perbaikan dan penguatan pada materi bahan ajar, f) Adanya perbaikan dan penguatan pada materi bahan ajar, dan g) Adanya perbaikan dan penguatan pada materi bahan ajar.

2. Hasil belajar a. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan metode drill dalam setiap siklus mengalami

52

peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. b. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajaran dengan penerapan pembelajaran model kumon paling dominan adalah belajar dengan dilakukan secara berulang-ulang akibatnya keterampilan siswa tentang sepak sila dalam permainan sepaak takraw semakin meningkat. Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah model pembelajaran kumon dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mempraktikkan hasil pembelajaran , menjelaskan atau melatih menggunakan alat, memberi umpan balik dalam prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar. c. Tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kumon Berdasarkan tanya jawab dengan siswa dapat diketahui bahwa tanggapan siswa termasuk positif. Ini ditunjukkan dengan rata-rata jawaban siswa yang menyatakan adanya ketertarikan dan berminat dengan model pembelajarankumon. Hal ini menunjukkan bahwa siswa memberikan respon positif terhadap model pembelajaran kumon, sehingga siswa menjadi termotivasi untuk belajar lebih giat. Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan diterapkannya model pembelajaran kumon dapat meningkatkan kebenaran gerak dalam keterampilan sepak sila siswa kelas IV SDN Lesanpuro 2.

53

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas sebagaimana dipaparkan sebelumnya, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. Penerapan model pembelajaran kumon dilakukan dengan tahapan-tahapan : a) Memberi penjelasan konsep gerak sepak sila besertacontohnya, b) Memberikan

latihan setiap siswa untuk belajar keterampilan sepak sila, c) Mengoreksi hasil latihan yang dilakukan setiap siswa, d) Memberikan latihan lagi pada bagian yang salah sesuai dengan hasil koreksi, e) Memberi penguatan tentang gerakan sepak sila yang benar serta remedial bagi siswa yang kurang pada keterampilan gerak sepak sila. 2. Hasil belajar yang dicapai siswa mengalami peningkatan dilukiskan dengan hasil capaian nilai pada refleksi awal siklus I sebesar 55,6 dan pada siklus II sebesar 63,3 dengan perbedaan nilai sebesar 7,7 pada nilai psikomotor, dan 75,3 menjadi 78,3pada ranah afektifnya. B. Saran Berdasarkan simpulan hasil di atas,dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut. 1. Bagi pengajar yang sedang membelajarkan keterampilan sepak sila dalam permainan sepak takraw, hendaknya dalam memberikan latihan gerakan tidak membiarkan banyak siswa yang pasif.

54

2.

Penyediaan alat belajar sebagai media untuk berlatih perlu diperbanyak, bila tidak ada peralatan yang sesuai dengan ketentuan hendaknya peralatan dimodifikasi dengan memanfaatkan benda yang ada disekitar, yang penting aman pada anak dan mudah didapat. Sehingga aktifitas latihan yang dilakukan oleh anak didik bisa dilakukan secara bersama dengan frekwensi yang sama pula, tidak ada dominasi latihan pada anak yang lebih kuat.

3. Agar penerapan model pembelajaran kumon berdampak positif pada penyajian materi keterampilan gerak sepak sila dalam permainan sepak takraw secara keseluruhan dapat diterima oleh anak, kesalahan yang terjadi pada latihan segera ada perbaikan dengan adanya koreksi dari masing-masing siswa, hingga kesalahan konsep gerak yang permanen dapat dihindari sedini mungkin.

4. Penciptaan kondisi belajar yang nyaman dan menyenangkan dengan pengawasan dari guru perlu dilakukan agar siswa dalam melakukan latihan tidak terlalu banyak bergurau.

5. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pijakan untuk penelitian berikutnya dengan memodifikasi model penelitian dan atau wilayah sasaran penelitiannya.

55

BAB VI DAFTAR PUSTAKA

1. Arikunto, Suharsini. 1988. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta, PT.Bina Aksara 2. Permendiknas No. 41 tahun 2007 tentang standart proses 3. Nasution, S. 1987. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Dan Mengajar.jakarta. PT Bina Aksara 4. Mulyani, S. 1993. Modul Pembelajaran Sepak Takraw. Malang. IKIP Malang 5. 1992, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung. Penerbit Tarsito 6. Slatneto. 1988. BNIP:197108182006041026elajar dan factor-faktor yang mempengaruhinya. Bina Aksara 7. Rafiudin.1996. Penelitian Tindakan Kelas. Modul. 8. Purnama, Candra. 2012. Kesalahan-Kesalahan Pembelajaran Bahasa Indonesia. Malang.

56