Anda di halaman 1dari 29

ASPEK MEDIKOLEGAL TERHADAP TERMINASI KEHAMILAN

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dewasa ini banyak pemberitaan melalui media elektronik maupun media cetak yang diwarnai dengan banyaknya kejahatan dan pelanggaran, misalnya pembunuhan, pencurian, penipuan, perkosaan, aborsi dan sebagainya. Perkataan aborsi atau terminasi kehamilan ini tentu saja terbayangkan kengerian yang teramat sangat bagi umat manusia dimana janin yang tidak berdosa dijadikan sebagai korban.1,2 Setiap tahunnya di Indonesia, berjuta-juta perempuan mengalami kehamilan yang tidak direncanakan, dan sebagian besar dari perempuan tersebut memilih untuk mengakhiri kehamilan mereka, walaupun dalam kenyataannya aborsi secara umum adalah illegal. Seperti di negara-negara berkembang lainnya dimana terdapat pembatasan yang ketat terhadap aborsi, perempuan Indonesia sering kali mencari bantuan untuk mengakhiri kehamilan mereka melalui tenaga-tenaga nonmedis yang menggunakan cara-cara antara lain dengan meminum ramuan-ramuan yang berbahaya dan melakukan pemijatan penguguran kandungan yang membahayakan.3 Permasalahan terminasi kehamilan tidak hanya berkaitan dengan bidang kedokteran forensik, tetapi juga berkaitan dengan hukum kesehatan. Perbedaan intinya adalah dalam hukum kesehatan lebih tertuju pada ketentuan hukum yang mengatur dalam keadaan apa, dimana, oleh siapa pengguguran dapat dilakukan, sementara dalam bidang kedokteran forensik tertuju kepada pemeriksaan dan pembuktian bagaimana pengguguran kandungan dilakukan, kapan, berapa umur bayi dan lain-lain. 2 Di Indonesia dan beberapa negara lain mengklasifikasikan terminasi kehamilan itu sebagai suatu kejahatan yang serius dan bagi pelakunya boleh diancam sanksi pidana. Ada juga beberapa negara lain yang melegalkan aborsi secara umum tanpa syarat seperti negara China, Kanada, Korea Selatan, Afrika Selatan, Singapore, Vietnam, Norway, Sweden, Mexico, Australia, Perancis, Jerman dan Belanda

dimana negara- negara ini membenarkan tindakan terminasi kehamilan atas permintaan sendiri.1,2 Di Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) telah mengatur tentang undang-undang aborsi yaitu pada Pasal 346-349 KUHP. Semua tindakan terminasi kehamilan atau abortus menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) di Indonesia baik abortus yang bersifat medicinalis maupun kriminalis dikategorikan sebagai suatu tindakan kriminal. Pasal-pasal KUHP yang mengatur hal ini adalah pasal 299, 341, 342, 343, 346, 347, 348, dan 349. Di dalam KUHP Indonesia yang masih berlaku sampai sekarang, abortus diatur dalam Pasal 346 349 KUHP yang termasuk dalam kejahatan terhadap nyawa, khususnya nyawa janin. Kemudian aborsi dalam perundangan medis baru diatur dalam UU No.23 pada tahun 1992 tentang kesehatan, dalam Pasal 15 yang mana undang-undang ini menjelaskan bahwa tenaga kesehatan dapat melakukan tindakan medis dalam keadaan darurat untuk menyelamatkan ibu atau janin atas pertimbangan tim ahli medis dan dengan keizinan atau mendapat persetujuan daripada ibu hamil serta keluarganya. Suatu tindakan medis yang merencanakan untuk melakukan aborsi harus berdasarkan indikasi medis yang mana indikasi ini dibuat atas kondisi untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil yang terancam bahaya sekiranya tetap melanjutkan kehamilannya, sedangkan yang dimaksudkan dengan tenaga kesehatan adalah tenaga yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya misalnya dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan.1,2 1.2. Prevalensi Frekuensi kejadian terminasi kehamilan sukar ditentukan karena terminasi kehamilan buatan banyak tidak dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi. Diperkirakan frekuensi terminasi kehamilan secara spontan berkisar 10-15%. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% bila diperhitungkan mereka yang hamil sangat dini, sehingga wanita itu sendiri tidak mengetahui bahwa ia sudah hamil. Di Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun. Dengan demikian setiap tahun 500.000-750.000 abortus spontan. Jatipura dkk memperoleh 31,4% terminasi kehamilan per 100 kehamilan di RSCM selama 1972-1975 2,3 Sulit untuk mendapatkan data tentang terminasi kehamilan secara provokatus di Indonesia. Paling sedikit ada dua sebabnya. Yang pertama, terminasi yang dilakukan secara sembunyi. Yang kedua, bila timbul komplikasi hanya dilaporkan komplikasinya saja, tidak abortusnya. Budi Utomo dkk
2

memperhitungkan angka abortus spontan menurut WHO (15-20 per 100 kehamilan), menyimpulkan bahwa kira-kira separuh dari abortus tersebut adalah provokatus. Knight menyatakan bahwa abortus provokatus terjadi pada kira-kira 40% dari seluruh abortus, meskipun angka tersebut sebenarnya bervariasi. 2,3 Dengan menggunakan Randomized Response Technique, Saifuddin dan Bachtiar menemukan bahwa hampir sepertiga dari wanita yang datang ke Poliklinik Kebidanan di RS Cipto Mangunkusumo pernah melakukan abortus. 3 Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2005 diperkirakan 4,2 juta abortus dilakukan setiap tahun di Asia Tenggara, dengan perincian : 3 1,3 juta dilakukan di Vietnam dan Singapura antara 750.000 sampai 1,5 juta di Indonesia antara 155.000 sampai 750.000 di Filipina antara 300.000 sampai 900.000 di Thailand

Hasil survei yang diselenggarakan oleh suatu lembaga penelitian di New York yang dimuat dalam International Family Planning Perspectives, Juni 1997, memberikan gambaran lebih lanjut tentang abortus di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Abortus di Indonesia dilakukan baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Dan dilakukan tidak hanya oleh mereka yang mampu tapi juga oleh mereka yang kurang mampu. 3 Di perkotaan abortus dilakukan 24-57% oleh dokter,16-28% oleh bidan/ perawat, 19-25% oleh dukun dan 18-24% dilakukan sendiri. Sedangkan di pedesaan abortus dilakukan 13-26% oleh dokter, 18-26% oleh bidan/perawat, 3147% oleh dukun dan 17-22% dilakukan sendiri. 3 Survei yang dilakukan di beberapa klinik di Jakarta, Medan, Surabaya dan Denpasar menunjukkan bahwa abortus dilakukan 89% pada wanita yang sudah menikah, 11% pada wanita yang belum menikah dengan perincian: 45% akan menikah kemudian, 55% belum ada rencana menikah. Sedangkan golongan umur mereka yang melakukan abortus: 34% berusia antara 30-46 tahun, 51% berusia antara 20-29 tahun dan sisanya 15% berusia di bawah 20 tahun. 3

1.3. Definisi Terminasi Kehamilan Secara Umum Definisi terminasi kehamilan atau nama latinnya Abortus provocatus yang dikenal di Indonesia dengan istilah aborsi berasal dari bahasa latin yang berarti pengguguran kandungan karena kesengajaan. Dalam kamus Latin-Indonesia

sendiri, abortus diartikan sebagai wiladah sebelum waktunya atau keguguran.

2. TERMINASI KEHAMILAN 2.1. Definisi terminasi kehamilan: Definisi terminasi kehamilan atau terminasi kehamilan yang diberikan baik ahli kedokteran maupun hukum cukup beragam pada saat ini, walaupun intinya adalah sama. Dalam pengertian medis, terminasi kehamilan adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menghentikan kehamilan dengan kematian dan pengeluaran janin baik menggunakan alat-alatan atau obat-obatan pada usia kurang dari 20 minggu dengan berat janin kurang dari 500 gram, yaitu sebelum janin dapat hidup di luar kandungan secara mandiri. Sementara Blacks Law Dictionary menyebutkan abortion is the spontaneous or artificially induced expulsion of an embryo or fetus. As used in legal context refers to induced abortion. Dengan demikian keguguran yang berupa keluarnya embrio atau fetus semata-mata bukan karena terjadi secara alami (spontan) tapi juga karena disengaja atau terjadi karena adanya campur tangan (provokasi) manusia. Ensiklopedia Indonesia memberikan penjelasan bahwa terminasi kehamilan diartikan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat 1.000 gram. Untuk lebih memperjelas maka berikut ini dikemukakan definisi para ahli tentang terminasi kehamilan, yaitu: a. Eastman: terminasi kehamilan adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup berdiri sendiri di luar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 4001000 gr atau kehamilan kurang dari 28 minggu; b. Jeffcoat: terminasi kehamilanyaitu pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum 28 minggu, yaitu fetus belum viable; c. Holmer: terminasi kehamilan yaitu terputusnya kehamilan sebelum minggu ke16 dimana proses plasentasi belum selesai.

Manakala dari sudut pandang sisi hukum menyebutkan, definisi terminasi kehamilan adalah lahirnya buah kandungan sebelum waktunya oleh suatu perbuatan seseorang yang bersifat sebagai perbuatan pidana kejahatan. Dalam pengertian ini, perhatian dititik beratkan pada kalimat oleh suatu perbuatan seseorang yang bersifat sebagai suatu perbuatan pidana kejahatan, sehingga tidak termasuk terminasi kehamilan yang terjadi sendirinya tanpa adanya pengaruh dari luar yang disebut abortus spontaneous. Dalam literatur ilmu hukum telah mendapat kesatuan pendapat sebagai doktrin bahwa pengertian aborsi mempunyai arit yang umum tanpa dipersoalkan umur janin yang mengakhiri kandungan sebelum waktunya karena perbuatan seseorang.3 2.2. Klasifikasi terminasi kehamilan:4 Secara umum terminasi kehamilan dapat dibagi atas 2 macam, yaitu : 1,2, 1. Terminasi kehamilan yang bersifat spontan, merupakan 10-12% dari semua kasus terminasi kehamilan. 2. Terminasi kehamilan buatan (provocation) yang merupakan 80% dari semua kasus terminasi kehamilan. Selanjutnya dikenal dua bentuk terminasi kehamilan provokatus yaitu: 1,2,3 1. Terminasi kehamilan provokatus medicinalis yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan berdasarkan alasan atau pertimbangan medis. 2. Terminasi kehamilan provokatus kriminalis yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan dengan sengaja dengan melanggar berbagai ketentuan hukum yang berlaku. yang Misalnya hamil kasus anak yang luar paling yang sering mau

didapatkan,perempuan

nikah

menggugurkan kandungannya kerna takut mendapat malu dengan ahli keluarga dan masyarakat setempat.

2.2.1. Terminasi Kehamilan Provokatus Medicinalis Di klinik, untuk menolong nyawa si ibu, kadang-kadang kandungan perlu diakhiri. Indikasi untuk terminasi kehamilan ini harus ditentukan oleh ahli tenaga kesehatan sendiri yaitu dokter. Dalam hal ini sangat diperlukan persetujuan tertulis daripada ibu hamil dan suami atau keluarga. 2,3

Dalam melakukan abortus terapeutik dokter tidak dipidanakan karena alasan kemanusiaan tersebut dalam UU No.23 pada tahun 1992 tentang kesehatan pasal 15. 2,3 Di luar negeri indikasi dilakukan aborsi terapeutika antara lain: (i) Indikasi obstetri: a. Eklampsia berat, kelainan hipertensi (konvulsi dan koma) (ii) Kondisi keganasan: karsinoma serviks yang invasif, karsinoma ovarium dan kanker payudara dengan metastasis, (iii) Kondisi kardiovaskular: penyakit katub jantung, gagal jantung, penyakit jantung kongenital, fibrilasi atrium dan hipertensi, (iv) Kondisi respiratorik: insufisiensi respiratorik pada penyakit paru seperti bronkitis kronis dan asma, (v) Kondisi psikologis dan emosional: a. Ketika anak tersebut tidak diinginkan dan merupakan hasil dari pemerkosaan. (vi) Kondisi yang menyebabkan abnormalitas fetal: 4 a. Kondisi infeksi (Rubella, Mumps) b. Ibu yang terpapar obat-obatan berbahaya (Thalidomide, androgens dan estrogen) c. Inkompatibilitas rhesus Pada trimester pertama metode yang digunakan dapat menggunakan obatobatan maupun melalui terapi bedah. Obat-obatan yang digunakan adalah: 1. Prostaglandin, efektif dalam menimbulkan kontraksi uterus 2. Antiprogesteron dengan menghambat reseptor progesteron, sehingga menghambat efek biologis progesteron pada uterus, obat yang efektif digunakan seperti Mifepristone. Untuk terapi surgikal dapat dilakukan: 4,5 1. Aspirasi vakum 2. Dilatasi dan Kuretase. Pada trimester kedua, metode medis yang digunakan adalah salah satu atau kombinasi dari instilasi intrauteri dari larutan saline hipertonik (NaCl 20%) atau urea atau rivanol dan prostaglandin melalui berbagai rute. Larutan ini dapat dimasukkan ke dalam kantung amnion dari fetus ataupun ke ruang extra-amnion.
6

Metode bedah yang dilakukan dapat termasuk: 4,5 1. Dilatasi dan kuretase 2. Histerotomi 3. Histerektomi.

2.2.2. Terminasi Kehamilan Provokatus Kriminalis Abortus kriminalis adalah tindakan pengguguran yang sengaja dilakukan untuk kepentingan si pelaku, orang hamil dan yang membantu tanpa adanya indikasi terapeutik. Secara hukum tindakan ini melanggar ketentuan yang berlaku.2 Abortus kriminal dapat dilakukan oleh wanita itu sendiri atau dengan bantuan orang lain (dokter, bidan, perawat, dukun beranak dan lain-lain). Tindakan ini biasanya dilakukan sejak yang bersangkutan terlambat datang bulan dan curiga akibat hamil. Biasanya kecurigaan ini datang pada minggu ke-5 sampai minggu ke10 sejak dari hari pertama haid terakhir. Pada waktu ini mungkin disertai gejala mual pagi hari (morning sickness). Sekarang kecurigaan adanya kehamilan dapat diketahui lebih dini karena sudah ada alat tes kehamilan yang dapat mendiagnosa kehamilan secara pasti misalnya plano test. 2,4 2.3. Metode metode yang dipakai dalam terminasi kehamilan Terdapat berbagai metode yang sering dipergunakan dalam terminasi kehamilan provokatus kriminalis yang perlu diketahui, oleh karena berkaitan dengan komplikasi yang terjadi dan bermanfaat di dalam melakukan penyidikan serta pemeriksaan mayat untuk menjelaskan adanya hubungan antara tindakan abortus itu sendiri dengan kematian yang terjadi pada si-ibu. Berdasarkan survey cara abortus yang dilakukan oleh dokter dan bidan/perawat adalah berturut-turut: kuret isap (91%), dilatasi dan kuretase (30%) serta prostaglandin / suntikan (4%). Abortus yang dilakukan sendiri atau dukun memakai obat/hormon (8%), jamu/obat tradisional (33%), alat lain (17%) dan pemijatan (79%).3 2.3.1. Kekerasan mekanik 4,5 (1) Umum: Metode ini dilakukan secara langsung pada uterus atau tidak langsung dengan menyebabkan kongesti dari organ-organ pelvis dan menyebabkan perdarahan diantara uterus dan membrane pelvis.

Metode ini seperti: i. Penekanan berat pada abdomen seperti pemukulan, penendangan, pengurutan dan melompat-lompat. ii. Aktifitas berlebihan seperti mengenderai sepeda, meloncat dari ketinggian, mengangkat benda-benda berat iii. Cupping: meletakkan sebuah sumbu api pada area hipogastrium dan menutupnya dengan sebuah mangkuk yang kemudian menyebabkan penarikan oleh mangkuk tersebut yang menyebabkan separasi dari plasenta dibawahnya. Metode ini digunakan pada kehamilan lanjut. iv. v. Mandi dengan air hangat dan dingin bergantian Melakukan pemijatan uterus pada dinding abdomen

(2) Lokal: yaitu kekerasan yang dilakukan dari dalam dengan manipulasi vagina dan uterus. Manipulasi vagina dan serviks uteri, misalnya dengan penyemprotan air sabun atau air panas pada porsio, pemasangan laminaria stif atau kateter kedalam serviks, manipulasi serviks dengan jari tangan, manipulasi uterus dengan melakukan pemecahan selaput amnion atau penyuntikan ke dalam uterus.

2.3.2. Obat-obatan yang dapat dipakai untuk terminasi kehamilan Dalam masyarakat penggunaan obat tradisional seperti nenas muda, jamu peluntur dan lain-lain sudah lama dikenal. Melalui iklan promosi obat di media elektronik beberapa obat peluntur ditawarkan secara terselubung, misalnya obat terlambat datang bulan; dilarang untuk wanita hamil dan lain-lain. Abortivum, obat yang sering dipakai di masyarakat awam untuk pengguguran dapat dibagi dalam beberapa golongan: 1,4,5 1. Emmenogogues: obat yang merangsang atau meningkatkan aliran darah menstruasi (obat peluruh haid) seperti apiol, minyak pala, oleum rutae. 2. Ecbolics: obat ini membuat kontraksi uterus seperti derivat ergot, kinina, ekstrak pituitari, estrogen sintetik dan strychnine. Obat-obatan ini, untuk tujuan abortivum harus dipergunakan dalam dosis tinggi sehingga dapat menimbulkan bahaya. 3. Obat yang bekerja pada traktus gastrointestinal yang menyebabkan muntah (emetikum) seperti asam tartar, obat ini menyebabkan eksitasi uterus untuk
8

berkontraksi dengan adanya kontraksi paksa dari lambung dan kolon serta juga dapat menyebabkan hyperemia. 4. Obat yang bekerja melalui traktus digestivus bekerja sebagai pencahar (purgative) seperti, castor oil, croton oil dan magnesium sulphate dan lainlain, menyebabkan peredaran darah di daerah pelvik meningkat, sehingga mempengaruhi hasil konsepsi. 5. Obat-obat bersifat iritan pada traktus genitourinarius yang mempengaruhi refleks kontraksi uterus seperti Tansy oil, turpentine oil,

ekstrak cantharidium (dalam dosis besar menyebabkan inflamasi pada ginjal dan albuminuria), kalium permanganas (120-300 ml per vaginam) menyebabkan inflamasi dan perdarahan oleh karena erosi pembuluh darah. 6. Obat-obat iritan yang bersifat racun, seperti (i) iritan inorganic metalik seperti timah, antimony, arsenik, fosforus, mercuri, (ii) iritan organic seperti ppepaya, nenas muda, bubuk beras dicampur lada hitam, akar Plumago rosea dan jus calotropis, (iii) Abortion pill F-6103 yang dikembangkan di Swedia yang mengandung diphenyl-ephylene dan juga pil berbahaya lainnya. Obat atau jamu yang mujarab untuk pengguguran tidak ada, kebanyakan obat malah menyebabkan si ibu mengalami intoksikasi.

2.3.3. Instrumen Instrumen-instrumen yang digunakan untuk aborsi dilakukan dengan berbagai mekanisme: 4,5 (1) Menyebabkan rupturnya membran: hal ini dapat terjadi dengan memasukkan alat-alat seperti sonde uterus, kateter, penjepit rambut, tongkat, jarum merajut, dan bahkan jari tangan. Pasien bisa datang ke dokter dengan alasan bahwa uterusnya mengalami displacement, oleh karena itu dokter yang tidak hati-hati dapat menyebabkan aborsi dengan memasukkan sonde uterus. Pada kasus ini, dokter diharapkan harus yakin dahulu bahwa pasien tidak hamil. (2) Menyebabkan dilatasi serviks:: Sebuah akar tanaman bernama Slippery elm, pohon yang tumbuh di Amerika Tengah dan Utara digunakan untuk mendilatasi serviks. Sebuah potongan kayu ini dengan ketebalan sekitar 3 mm dimasukkan kedalam kanalis serviks dan dibiarkan, yang kemudian akan menyerap kelembapan dan sekret vagina sehingga kayu ini akan membengkak dan
9

mendilatasi kanalis serviks yang menyebabkan aborsi. Benda lain yang dapat juga digunakan seperti spons yang telah dipadatkan. Metode ini memiliki kerugian tidak higienis dan beresiko terjadi infeksi. Kadang-kadang jika tidak hati-hati tongkat kayu ini dapat menusuk bladder dan uretra. (3) Abortion stick: tongkat aborsi adalah kayu atau bambu kecil dengan panjang 12 sampai 18 cm dimana salah satu ujungnya dibungkus dengan kapas atau rombengan yang dibalut dengan campuran zat-zat seperti calotropis, arsen, sulfat, timah, dan lain-lain. (4) Penyuntikan atau penyemprotan cairan biasanya dilakukan dengan

menggunakan Higginson type syringe, sedangkan cairannya adalah air sabun, desinfektan atau air biasa/ air panas. Campuran air dan udara ini dimasukkan secara paksa ke dalam kavum uteri dengan tekanan tinggi dibandingkan dengan vena uterus. Cairan ini menyebabkan lepasnya kantung amnion dan plasenta dari dinding uterus. Uterus kemudian akan berkontraksi menyebabkan perdarahan dan aborsi. Penyemprotan ini berbahaya dapat menyebabkan inhibisi vagal akibat air dingin dan juga emboli udara.

Gambar 1. Gambar menunjukkan seorang wanita yang mati akibat emboli udara selepas percobaan untuk melakukan terminasi kehamilannya dengan menggunakan Higginson syringe yang bisa ditemukan di bawah kaki kanannya.

(5) Listrik: Pengaliran listrik dimana kutub negatif pada serviks dan kutub positif pada daerah pembuluh darah sakrum ataupun lumbal yang menyebabkan kontraksi uterus.
10

Menurut referensi lain ada tiga kelompok besar cara untuk melakukan abortus buatan (provokatus) yaitu: 3 1. Dengan obat-obatan : a. Antiprogestin Dikenal dengan nama pil RU 486. Pil ini menimbulkan abortus dengan mencairkan corpus luteum yang berfungsi mempertahankan kehamilan muda. Biasanya digabung dengan prostaglandin. b. Methotrexate. Biasanya digabung dengan prostaglandin. c. Prostaglandin. Khasiatnya membuat rahim berkontraksi dan mengeluarkan isinya. d. Larutan garam hipertonik. Menyebabkan tekanan dalam rahim meningkat yang pada gilirannya menye-babkan rahim berkontraksi dan mengeluarkan janin. e. Oksitosin. Khasiatnya menyebabkan rahim berkontraksi. 2. Dengan tindakan medik yaitu dengan: b. Dilatasi dan Kuretase (D & K) c. Penyedotan (suction curettage) d. Dilatasi bertahap e. Penggaraman (cairan garam hipertonik) f. Histerotomi 3. Dengan cara tradisional yaitu seperti: a. Melakukan kegiatan fisik yang berat/berlebihan seperti meloncat, mengangkat barang berat. b. Memasukkan daun atau batang tanaman tertentu ke dalam rahim. c. Minum obat-obat tradisional seperti jamu.

Selain itu metode-metode yang dipergunakan biasanya disesuaikan dengan umur kehamilan, semakin tua umur kehamilan semakin tinggi resikonya. Hal ini perlu diketahui penyidik dalam kaitannya dengan pengumpulan barang-barang bukti.

11

2. Pada umur kehamilan sampai dengan 4 minggu Kerja fisik yang berlebihan Mandi air panas Melakukan kekerasan pada daerah perut Pemberian obat pencahar Pemberian obat-obatan dan bahan-bahan kimia electric shock untuk merangsang rahim Menyemprotkan cairan ke dalam liang vagina

3. Pada umur kehamilan sampai dengan 8 minggu Pemberian obat-obatan yang merangsang otot rahim dan pencahar agar terjadi peningkatan menstrual flow, dan preparat hormonal guna mengganggu keseimbangan hormonal. Penyuntikan cairan ke dalam rahim agar terjadi separasi dari placenta dan amnion, atau menyuntikkan cairan yang mengandung karbol (carbolic acid) Menyisipkan benda asing ke dalam mulut rahim, seperti kateter atau pinsil dengan maksud agar terjadi dilatasi mulut rahim yang dapat berakhir dengan abortus 4. Pada umur kehamilan antara 12 16 minggu 2.4. Penyebab Kematian Maternal Dalam Terminasi Kehamilan Wanita dengan kehamilan yang tidak diinginkan akan cenderung mencara jalan untuk menggugurkan kehamilannya walaupun dengan cara yang tidak aman(unsafe abortion). Hal inilah yang akan menyebabkan terjadinya pelbagai komplikasi yang bisa memberikan dampak yang buruk terhadap kesehatan ibu hamil yang bisa berakhir dengan kematian. Sepsis dan perdarahan yang massif adalah antara penyebab kematian terbesar pada wanita yang menggugurkan kehamilan secara tidak aman. 3,4,5 Menusuk kandungan Melepaskan fetus Memasukkan pasta atau cairan sabun Dengan instrumen ; kuret

12

Dalam penelitian yang oleh Dr. Azhari,Sp.OG yang berjudul Masalah Abortus Dan Kesehatan Reproduksi Perempuan menyatakan bahwa sekitar 6070% kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, dimana sebagian besar adalah disebabkan oleh perdarahan postpartum. Manakala 17-20% disebabkan oleh infeksi . Dalam situasi seperti dikemukakan diatas, maka satu tindakan pencegahan abortus dan penyediaan asuhan paska keguguran yang berkualitas serta dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat amatlah penting dalam mengurangi angka kematian sekaligus mencegah daripadanya terjadinya kematian.4

2.5.

Pemeriksaan Forensik 2.5.1. Pemeriksaan Korban Hidup

Pemeriksaan pada ibu yang diduga melakukan aborsi, usaha dokter adalah mendapatkan tanda-tanda sisa kehamilan dan usaha penghentian kehamilan, pemeriksaan toksikologi, pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik, terhadap jaringan dan janin yang mati serta menentukan cara pengguguran yang dilakukan serta sudah berapa lama melahirkan.2,6 Pemeriksaan test kehamilan masih bisa dilakukan beberapa hari sesudah bayi dikeluarkan dari kandungan, dimana serum dan urin wanita memberikan hasil positif untuk hCG sampai sekitar 7-10 hari. Tanda-tanda kehamilan pada wanita yang sudah melahirkan dapat dijumpai adanya colostrum pada peremasan buah dada, nyeri tekan di daerah perut, kongesti pada labia mayor, labia minor dan serviks, tanda-tanda ini biasanya tidak mudah dijumpai bila kehamilan masih muda. Bila segera sesudah melahirkan mungkin masih didapati sisa plasenta yang pemastiannya perlu pemeriksaan secara histopatologi (patologi anatomi), luka. Pada masa kini bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan DNA untuk pemastian hubungan ibu dan janin.2,5 Tanda-tanda adanya pengguguran harus dicari serta cara pengguguran tersebut. Pemeriksaan luar pada perineum, genitalia eksternal dan vagina harus diteliti dengan baik untuk melihat adanya tanda-tanda luka seperti abrasi, laserasi, memar dan lain-lain. Kondisi ostium serviks juga harus diamati, dimana masih dalam keadaan dilatasi dalam beberapa hari. Besarnya dilatasi bergantung pada ukuran fetus yang dikeluarkan. Pada os juga bisa tampak abrasi/laserasi/memar akibat instrumentasi. Adanya perlukaan, tanda bekas forsep ataupun instrumen

13

yang lainnya di sekitar genitalia harus diamati juga. Kalau perlu karakter serta jumlah sekret vagina dapat diteliti mencari tanda-tanda serta cara aborsi. 5 Pemeriksaan toksikologi dilakukan untuk mengetahui adanya obat/zat yang dapat mengakibatkan abortus. Perlu pula dilakukan pemeriksaan terhadap hasil usaha penghentian kehamilan, misalnya yang berupa IUFD kematian janin di dalam rahim dan pemeriksaan mikroskopik terhadap sisa-sisa jaringan.1

2.5.2.

Pemeriksaan Post Mortem Temuan autopsi pada korban yang meninggal tergantung pada cara

melakukan abortus serta interval waktu antara tindakan abortus dan kematian. Abortus yang dilakukan oleh ahli yang trampil mungkin tidak meninggalkan bekas dan bila telah berlangsung satu hari atau lebih, maka komplikasi yang timbul atau penyakit yang menyertai mungkin mengaburkan tanda-tanda abortus kriminal.6 Pemeriksaan dilakukan menyeluruh melalui pemeriksaan luar dan dalam (autopsi). Pemeriksaan ditujukan pada :2 1. Menentukan perempuan tersebut dalam keadaan hamil atau tidak. Untuk itu diperiksa : a. Payudara secara makros maupun mikroskopik b. Ovarium, mencari adanya corpus luteum persisten secara

mikroskopik. c. Uterus, lihat besarnya uterus, kemungkinan sisa janin dan secara mikroskopik adanya sel-sel trofoblast dan sel-sel decidua. 2. Mencari tanda-tanda cara abortus provocatus yang dilakukan. a. Mencari tanda-tanda kekerasan local seperti memar, luka,

perdarahan pada jalan lahir. b. Mencari tanda-tanda infeksi akibat pemakaian alat yang tidak steril. c. Menganalisa cairan yang ditemukan dalam vagina atau cavum uteri. 3. Menentukan sebab kematian. Apakah karena perdarahan, infeksi, syok, emboli udara, emboli cairan atau emboli lemak.

Pada korban mati, dilakukan pemeriksaan luar, pembedahan jenazah, pemeriksaan toksikologik (ambil darah dari jantung) bila terdapat cairan dalam rongga perut atau kecurigaan lain, dan pemeriksaan mikroskopik untuk mencari adanya sel trofoblast, kerusakan jaringan, dan sel radang. Pada autopsi dilihat
14

adakah pembesaran, krepitasi, luka atau perforasi pada uterus. Periksa genitalia eksterna apakah pucat, kongesti atau memar. Lakukan pula tes emboli udara pada vena kava inferior dan jantung. Ambil darah dari jantung (segera setelah tes emboli) untuk pemeriksaan toksikologi. Uterus diiris mendatar dengan jarak antar irisan 1 cm untuk deteksi perdarahan dari bawah. Ambil urin untuk tes kehamilan dan toksikologik. Pemeriksaan organ lain seperti biasa. 2,6 Pada pemeriksaan dalam akan dijumpai: (1) Uterus: Ukuran uterus harus diamati, juga dilihat apakah membesar, lembut dan kongesti. Dinding uterus dapat menunjukkan adanya penebalan pada pemotongan longitudinal. Rongga uterus dapat menunjukkan adanya sebagian produk konsepsi yang tertinggal. Uterus dari wanita tidak hamil berukuran sekitar, berat 40 g, panjang 7,0 cm, lebar 5,0 cm dan tebal 2,0 cm. Kemudian panjang menjadi 10 cm pada kehamilan akhir bulan ketiga, 12,5 cm pada akhir bulan keempat, 16 cm pada akhir bulan keenam, 20 cm pada akhir bulan kedelapan dan 27 cm pada akhir bulan kesembilan. Uterus juga dapat menunjukkan adanya perforasi. Endometrium menunjukkan tanda-tanda dilakukannya kuretase (penyendokan). Plasenta dapat masih tertinggal bila evakuasi tidak bersih. Pada kasus penggunaan bahan-bahan kimia, permukaan uterus bagian dalam dapat mengalami perubahan warna akibat warna dari zat yang digunakan dan/atau terjadi kerusakan. Jika air sabun digunakan, maka busa-busanya mungkin masih dapat tersisa. Juga bisa didapatkan sisa instrument yang digunakan seperti akar tanaman. Swab uterus diambil untuk mikrobiologi, dan jaringan dimasukkan dalam formalin untuk diperiksa ke patologi anatomi. 5

15

Gambar 2. Pada pemeriksaan dalam korban yang meninggal akibat syokseptik selepas melakukan dengan aborsi illegal didapatkan gambaran uterus yang membesar.

(2) Ovarium: Kedua ovarium harus diperiksa untuk melihat adanya korpus luteum Ovarium dapat terlihat terkongesti. Pada beberapa kasus dapat diambil juga sampel untuk pemeriksaan laboratorium.5

2.6. PEMERIKSAAN PENUNJANG 2.6.1. Pemeriksaan Mikroskopis Pemeriksaan mikroskopis pada mukosa uterin harus dilakukan untuk

mengetahui apakah terjadi villi chorionic. Struktur-struktur lainnya, seperti tuba, ovarium, appendiks, ginjal, limpa, hati, pankreas, jantung, paru-paru, dan organorgan lainnya yang terlihat abnormal harus diperiksa/dipotong. Setelah melakukan kuretase pada bagian plasenta yang tersisa pada dinding uterin, berupa penyimpangan villi chorionic dan syncytial giant cell, ini dapat dilihat melalui pemeriksaan mikroskopis pada daerah plasenta. Karena plasenta merupakan bagian dari janin, ini merupakan bukti nyata terjadinya kehamilan, yang bertolak belakang dengan sel-sel decidual yang merupakan jaringan dari ibu dan bukan, merupakan indikasi yang jelas. villi chorionic dan syncytial giant cell akan menetap selama beberapa hari kemudian menghilang, satu-satunya kriteria yang tersisa adalah ukuran dan bentuk rahim, kondisi payudara dan corpus luteum ovarium.6 2.6.2. Pemeriksaan Toksikologi Ambil sampel untuk pemeriksaan toksikologis - Isi vagina - Isi uterus - Darah dari vena cava inferior dan kedua ventricle - Urine - Isi lambung - Rambut pubis Sebagian urin yang diperoleh post-mortem dari kandung kemih harus disimpan dan dapat digunakan dalam uji Aschheim-Zondek untuk menguji
16

kehamilan, jika diperoleh dalam waktu satu minggu setelah aborsi. Dalam beberapa kasus aborsi, kematian yang terjadi disebabkan oleh infeksi piogenik parah dan urin mengandung bakteri yang akan membunuh binatang-binatang yang digunakan dalam pengujian dan mengurangi kegunaan reaksi.6 2.6.3. Radiologi Penemuan janin atau sisa-sisanya biasanya berguna untuk memastikan usia kehamilan saat aborsi dilakukan. Jadi, kita harus mengetahui perkembangan janin selama masa kehamilan. Pemeriksaan sinar roentgen pada bagian-bagian janin yang besar akan menunjukkan pusat-pusat osifikasi dalam berbagai tulang, ini dapat digunakan untuk menentukan usia bagian-bagian tersebut. Biasanya akan terbentuk produk perkembangan pembuahan ovum selama dua minggu pertama masa kehamilan. Mulai dari minggu pertama sampai ke lima, selama periode tersebut, akan terjadi perkembangan berbagai organ dan menghasilkan bentuk yang jelas, organisme ini disebut sebagai embrio. Setelah minggu kelima, disebut sebagai janin.6 2.7. CONTOH KASUS Ny.BT 35 tahun pendidikan sekolah dasar,pekerjaan petani, alamat di desa. Status obstetric Gravida 4 para 3 abortus 0. Anak pertama laki-laki 14 tahun, anak kedua perempuan 11 tahun dan anak ketiga perempuan 10 tahun. Pernah mengikuti program KB, tetapi pihak keluarga tidak tahu alasan dan saat meninggalkan program tersebut. Hari pertama haid terakhir tanggal 15 Agustus 2002. Pada tanggal 10 oktober 2002, Ny.BT meminta bantuan seorang dukun untuk menggugurkan kandungannya. Dukun memasukkan batang tengkua ke dalam uterus melalui vagina. Satu hari kemudian terjadi perdarahan pervaginam dan nyeri panggul yang hebat. Keluhan ini semakin memberat dan disertai dengan demam dan sesak nafas. Pada tanggal 13 Oktober 2002 jam 11 WIB, Ny.BT masuk ke rumah sakit dan dirawat di Intensive Care Unit(ICU). Keadaan umum sangat lemah, keadaan penyakit berat, tekanan darah 100/60mmHg, frekuensi pernapasan 26x/menit,nadi 128x/menit dan suhu tubuh 38.5C. kadar Hb 9,9 gr%. Jumlah lekosit 28000/m, dan pH darah 7,26. Ditemukan batang tengkua di kanalis servikalis, cairan vagina berbau busuk, dan ditegakkan diagnosa abortus septic. Pasien di rawat di ICU dan mendapat terapi cairan infus Ringer Laktat, suntikan
17

antibiotic spectrum luas,antipiretik, serum antitetanus 1500IU, dexametason, dan terapi oksigen nasal. Pada tanggal 14 Oktober 2002 jam 04.00 WIB pasien telah meniggal dunia setelah dirawat selama 11 jam di rumah sakit.

3.

ASPEK MEDIKOLEGAL

Prosedur medikolegal adalah tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan dengan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundang undangan yang berlaku serta pada sumpah dokter dan etika kedokteran.7 Abortus telah dilakukan oleh manusia selama berabad-abad, tetapi selama itu belum ada undang - undang yang mengatur mengenai tindakan abortus. Peraturan mengenai hal ini pertama kali dikeluarkan pada tahun 4M di mana telah ada larangan untuk melakukan abortus. Sejak itu maka undang-undang mengenai abortus terus mengalami perbaikan, apalagi dalam tahun-tahun terakhir ini di mana mulai timbul suatu revolusi dalam sikap masyarakat dan pemerintah di berbagai negara di dunia terhadap tindakan abortus.7 Sejak tahun 1998, 20 negara telah membuat perubahan substansial dalam undang-undang aborsi mereka. Enam belas negara ditambahkan indikasi yang memindahkan meraka dari satu kategori kami ke kategori lainnya, seperti pemerkosaan yang terbukti, inses atau penurunan nilai janin sebagai alasan untuk aborsi legal. Sebaliknya, hanya dua menambahkan pembatasan yang memindahkan mereka dari satu kategori ke kategori lain. Di dua Negara dimana undang-undang aborsi yang dilakukan pada tingkat negara, liberalisasi signifikan terjadi di beberapa negara bagian.7 Hukum atau peraturan mengenai aborsi di setiap Negara berbeda beda sesuai dengan undang undang yang berlaku di Negara tersebut. Bahkan pada suatu Negara tertentu terdapat hukum yang berbeda sesuai dengan Negara bagiannya.7 Di Meksiko, di mana undang-undang aborsi ditentukan oleh negara bagian, beberapa perkembangan legislatif negara adalah signifikan. Pada tahun 2007,

18

Meksiko Distrik Federal (Mexico City) mengizinkan aborsi tanpa pembatasan untuk alasan selama trimester pertama kehamilan.7
Tabel 1 Negara, oleh pembatasan hukum aborsi, menurut wilayah, Agustus 2008

Ekuador menggunakan kode kesehatan yang baru pada tahun 2006 untuk tujuan yang sama. Kode kewenangan kesehatan layanan untuk melakukan aborsi yang legal di bawah hukum pidana (ancaman terhadap kehidupan atau kesehatan dan kehamil anakibat pemerkosaan terhadap seorang wanita cacat mental), dan melarang mereka untuk menolak merawat wanita yang memiliki aborsi spontan, seperti didiagnosa oleh seorang profesional.7 Pada tahun 2005, di Brazil, yang memungkinkan aborsi hanya untuk menyelamatkan nyawa wanita hamil dan dalam kasus kehamilan akibat perkosaan, Kementerian Kesehatan mengadopsi peraturan rinci menjelaskan untuk dokter dan untuk wanita hamil. Dibutuhkan persyaratan prosedural untuk melakukan aborsi legal.7

19

Akhirnya, dalam sebuah langkah ke arah pembatasan, Mahkamah Agung Amerika Serikat, dalam putusan 2007, menjunjung tinggi Lahir Partial - Aborsi Ban Act of 2003,29 Meskipun definisi hukum terhadap istilah non medis "aborsi kelahiran parsial" tidak jelas dan berpotensi jauh jangkauannya, Mahkamah Agung menafsirkan larangan hanya berlaku sempit untuk prosedur trimester kedua tunggal, utuh pelebaran dan evakuasi. Weighings Kongres berminat melindungi kehidupan janin terhadap kesehatan perempuan untuk pertama kalinya, Pengadilan menguatkan larangan meskipun kurangnya pengecualian untuk menjaga kesehatan wanita.7 Pada awalnya di Nepal, tindakan aborsi merupakan sebuah kejahatan criminal kecuali apabila melakukannya untuk kesejahteraan. Reformasi hukum aborsi datang sebagai bagian perundang-undangan yang komprehensif yang bertujuan mengakhiri diskriminasi terhadap perempuan dalam kode hukum nasional negara itu. Kesadaran publik yang sangat tinggi di negara itu terhadap kematian ibu, serta fakta bahwa perempuan sedang dipenjara untuk melakukan aborsi ilegal, menciptakan tekanan pada parlemen untuk meliberalisasi hukum. Berdasarkan hukum yang diamandemen, aborsi kini diizinkan atas permintaan wanita selama 12 minggu pertama kehamilan, dan setelah itu dalam kasus pemerkosaan atau inses atau gangguan janin, atau jika ada ancaman terhadap kehidupan perempuan atau fisik atau mental kesehatan. Kode hukum larangan aborsi dilakukan untuk tujuan pemilihan jenis kelamin.7 Di Thailand, berdasarkan hukum pidana, aborsi dibolehkan pada dua situasi yaitu ketika "diperlukan" untuk kesehatan wanita hamil dan saat kehamilan adalah hasil dari suatu pelanggaran seksual.7 Di Australia, Aborsi adalah sesuatu yang legal apabila dilakukan oleh praktisi medis ditempat yang telah disetujui, sesuai dengan hal hal yang diatus dalam perundang undangan kesehatan ibu.7 Di Portugal dan Swiss, Hukum aborsi tidak memiliki pembatasan sampai minggu ke-12 kehamilan dan selanjutnya dalam kasus gangguan janin, saat kehamilan yang dihasilkan dari kejahatan terhadap kebebasan seksual atau penentuan nasib sendiri, atau bila kehamilan merupakan ancaman bagi kehidupan wanita atau fisik atau kesehatan mental.7 Pada tahun 2001, Perancis mengambil langkah-langkah untuk membuat aborsi lebih mudah diakses dengan memperpanjang kehamilan periode di mana
20

aborsi legal tanpa batasan untuk alasan dari 12 minggu sampai 14 minggu. Hal ini juga dihapus persyaratan izin orang tua untuk anak-anak, yang membutuhkan sebaliknya bahwa anak-anak harus didampingi oleh orang dewasa yang mereka pilih.7 Di Indonesia, Aborsi yang sudah diatur dalam KUHP sudah sangat memadai dan bahkan sangat serius dalam upaya penegakan tindak pidana aborsi. Perundang undangan pidana di Indonesia mengenai aborsi mempunyai status hukum yang illegal sifatnya karena melarang aborsi tanpa kecualian. Dengan demikian, KUHP tidak membedakan abortus provocatus criminalis dan abortus provocatus medicinalis/therapeutic. Dapat diketahui bahwa apapun alasan aborsi itu dilakukan tetap melanggar hukum yang berlaku di Indonesia.8 Perundang undangan pidana di Indonesia yang mengatur aborsi tanpa pengecualian sangat meresahkan dokter atau ahli medis yang bekerja di Indonesia. Tujuan ahli medis yang utama untuk menyelamatkan nyawa pasien tidak akan tercapai karena jika ahli medis menggugurkan kandungan untuk keselamatan ibu maka ahli medis tersebut diancam sanksi pidana, tetapi jika ahli medis tidak melakukan hal itu maka nyawa pasien dalam hal ini ibu dapat terancam kematian, hal ini merupakan perdebatan didalam hati nurani medis khususnya dan masyarakat pada umumnya. Sehingga ditinjau dari aspek hukum, pelarangan abortus tidak bersifat mutlak. Abortus buatan atau abortus provokatus dapat digolongkan ke dalam dua golongan yakni: 8

3.1. Regulasi Abortus Provocatus dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia Pengaturan tentang abortus provocatus terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berlaku sebagai hukum pidana umum (Lex Generale), dan juga dalam Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menggantikan Undang-Undang No. 23 Tahun 1992, dan berlaku sebagai hukum pidana khusus (Lex Speciale). Berikut ini adalah pengaturan tentang abortus provocatus yang terdapat dalam kedua peraturan perundang-undangan tersebut.

21

3.1.1 Abortus provokatus yang tidak dilegalkan menurut hukum di Indonesia Dalam Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) tindakan pengguguran kandungan yang disengaja (abortus provocatus) diatur dalam Buku kedua Bab XIV tentang Kejahatan Kesusilaan khususnya Pasal 299, dan Bab XIX Pasal 346 sampai dengan Pasal 349, dan digolongkan ke dalam kejahatan terhadap nyawa. Berikut ini adalah uraian tentang pengaturan abortus provocatus yang terdapat dalam pasal-pasal tersebut a. Bab XIV KUHP: Pasal 229 1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda palig banyak tiga ribu rupiah. 2) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang dokter, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga. 3) Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalankan pencarian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu. Dari rumusan Pasal 299 KUHP tersebut, dapat diuraikan unsurunsur tindak pidana adalah sebagai berikut : 1) Setiap orang yang sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati dengan harapan dari pengobatan tersebut kehamilannya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah. 2) Seseorang yang sengaja menjadikan perbuatan mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati dengan harapan dari pengobatan tersebut kehamilannya dapat digugurkan dengan mencari keuntungan dari perbuatan tersebut atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, maka pidananya dapat ditambah sepertiga. 3) Jika perbuatan mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati dengan harapan dari pengobatan tersebut kehamilannya dapat digugurkan itu
22

dilakukan oleh seorang dokter, bidan atau juru obat maka hak untuk berpraktek dapat. b. Bab XIV KUHP: a. Pasal 346 KUHP : Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. b. Pasal 347 KUHP : 1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. 2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. c, Pasal 348 KUHP: 1. Barang siapa dengan sengaja menggunakan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. 2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

d. Pasal 349 KUHP : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun membantu melakukan salah satu kejahatan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat dditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan. Dari rumusan pasal-pasal tersebut di atas dapat diuraikan unsur unsur tindak pidana adalah sebagai berikut : 1. Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia menyuruh orang lain, diancam hukuman empat tahun penjara.

23

2. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil, dengan tanpa persetujuan ibu hamil tersebut, diancam hukuman penjara 12 tahun, dan jika ibu hamil tersebut mati, diancam 15 tahun penjara. 3. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun penjara dan bila ibu hamilnya mati diancam hukuman 7 tahun penjara. 4. Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus tersebut seorang dokter, bidan atau juru obat (tenaga kesehatan) ancaman hukumannya ditambah sepertiganya dan hak untuk berpraktek dapat dicabut. c. BAB III KUHP -PASAL 48 Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana Dari ketentuan Pasal 346-349 KUHP dapat diketahui, bahwa aborsi menurut konstruksi yuridis peraturan perundang-undangan di Indonesia yang terdapat dalam KUHP adalah tindakan menggugurkan atau mematikan kandungan yang dilakukan oleh seorang wanita atau orang yang disuruh melakukan itu. Wanita dalam hal ini adalah wanita hamil yang atas kehendaknya ingin menggugurkan kandungannya, sedangkan tindakan yang menurut KUHP dapat disuruh lakukan untuk itu adalah dokter, bidan atau juru obat. 3.1.2. Abortus provokatus yang dilegalkan menurut hukum di Indonesia

c. BAB III KUHP -PASAL 48 Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana Pasal 48 KUHP merupakan rujukan kepada undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 dan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009. Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menggantikan undang-undang kesehatan sebelumnya yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992, maka permasalahan aborsi memperoleh
24

legitimasi dan penegasan. Secara eksplisit, dalam undang-undang ini terdapat pasal-pasal yang mengatur mengenai aborsi, meskipun dalam praktek medis mengandung berbagai reaksi dan menimbulkan kontroversi diberbagai lapisan masyarakat. Meskipun, undang-undang melarang praktik aborsi, tetapi dalam keadaan tertentu terdapat kebolehan. Ketentuan pengaturan aborsi dalam UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 dituangkan dalam Pasal 75, 76 , 77, dan Pasal 194 . Berikut ini adalah uraian lengkap mengenai pengaturan aborsi yang terdapat dalam pasal-pasal tersebut::8 PASAL 75:8 1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi. 2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan: a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/ atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/ atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan 3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/ atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang. 4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

25

PASAL 76:8 Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan: a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari petama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis; b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menter c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan d. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan e. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.

PASAL 77: Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.8 Pasal 194 Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Pengguguran kandungan yang disengaja dengan melanggar berbagai ketentuan hukum (abortus provocatus criminalis) yang terdapat dalam KUHP menganut prinsip illegal tanpa kecuali dinilai sangat memberatkan paramedis dalam melakukan tugasnya. Pasal tentang aborsi yang diatur dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana juga bertentangan dengan Pasal 75 ayat (2) UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, di mana pada prinsipnya tindakan pengguguran kandungan atau aborsi dilarang (Pasal 75 ayat (1)), namun Larangan tersebut dapat dikecualikan berdasarkan:

26

a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan. Menurut Kusumo yang dikutip dalam buku Ekotama, menyatakan disini berlaku asas lex posteriori derogate legi priori. Asas ini beranggapan bahwa jika diundangkan peraturan baru dengan tidak mencabut peraturan lama yang mengatur materi yang sama dan keduanya saling bertentangan satu sama lain, maka peraturan yang baru ini mengalahkan atau melumpuhkan peraturan yang lama. Dengan demikian, Pasal 75 ayat (2) Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang mengatur tentang abortus provocatus medicinalis tetap dapat berlaku di Indonesia meskipun sebenarnya aturan itu bertentangan dengan rumusan abortus provocatus criminalis menurut KUHP.

27

4.

KESIMPULAN
1. Abortus atau penguguran kandungan adalah berakhirnya kehamilan, sebelum fetus dapat hidup sendiri di luar kandungan. 2. Abortus dapat dibagi atas 2 macam, yaitu : 1) Abortus alami (natural, spontan; dan 2) Abortus buatan (provocatus), ada dua macam yaitu: 1) abortus provokatus terapetikus (legal); dan 2) abortus provokatus kriminalis. 3. Metode yang dapat digunakan dalam terminasi kehamilan ini seperti kekerasan mekanik yang terbagi kepada dua yaitu secara umum dan secara local. Selain it pemakaian obat-obatan dan juga instrument juga sering digunakan untuk mengakhiri kehamilan. 4. Abortus provokatus kriminalis adalah tindakan pengguguran yang sengaja dilakukan untuk kepentingan si pelaku, orang hamil dan yang membantu tanpa adanya indikasi terapeutik. Secara hukum tindakan ini melanggar ketentuan yang berlaku yaitu berdasarkan KUHP dan UU Kesehatan dan memerlukan pembuktian salah satunya dengan pemeriksaan forensik. 5. Pemeriksaan forensik yang dilakukan yaitu pemeriksaan korban hidup, pemeriksaan korban mati (post-mortem), dan pemeriksaan korban janin. 6. Dari segi aspek medikolegal, kebanyakan Negara tidak melegalkan tindakan aborsi ini kecuali ada indikasi medis, akan tetapi terdapat juga beberapa Negara yang melegalkan tindakan ini. Didalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana Indonesia, segala bentuk tindakan terminasi

Adapun beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari paper ini adalah:

kehamilan adalah tidak dibenarkan tanpa pengecualian. Kemudian pada Undang-Undang No.23 pasal 15 yang dibuat pada tahun 1992 membenarkan tindakan terminasi kehamilan yang mempunyai indikasi medis atas tujuan untuk menyelamatkan nyawa si ibu.

28

DAFTAR PUSTAKA
1. Lukman Hakim Nainggolan, SH. Aspek Hukum Terhadap Abortus Provocatus Dalam Perundang-Undangan Di Indonesia. Jurnal

Equality,Vol.11 No. 2 Agustus 2006. 2. Nurdiyana Tadjuddin SH. Praktik Aborsi Ditinjau dari Sisi Hukum dan Reproduksi. Jurnal Hukum FH-Unhas. Vol 1 No.1 September Tahun 2011. 3. Juita SR, Heryanti BR, Hukum Pidana Pada Korban Perkosaan yang Melakukan Abortus Provocatus. 4. Dr. Azhari Sp.OG. Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Palembang: Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNSRI. 1-19. 5. Sophie Christin-Maitre,M.D, Philippe Bouchard,M.D. Medical Termination of Pregnancy. In:The New England Journal Of Medicine.2006 6. David A Grimes,Janie Benson. Unsafe abortion:the preventable

pandemic.Journal paper.Sexual and Reproductive Health. World Health Organization(WHO) 7. Boland R, Katzive L. Developments in Laws on Induced Abortion:1998 2007. New York : International Family Planning Perspective Vol. 34 No. 3. 2008 ; 110-120. 8. Juita SR, Heryanti, BR. Perlindungan Hukum Pidana Pada Korban Perkosaan Yang Melakukan Abortus Provokatus. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia; 2002. 9. Budhiartie A. Legalisasi Abortus Provokatus Karena Pemerkosaan Sebagai Implementasi Hak Asasi Perempuan. Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora Vol. 13 No. 2; 2011.

29