Anda di halaman 1dari 6

KASUS KELAYAKAN USAHA - ASPEK KEUANGAN (M-9.

2)

KASUS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN MINYAK KELAPA

Sebagian besar minyak goreng yang beredar di Indonesia adalah minyak goreng yang berasal dari minyak mentah kelapa sawit (crude palm oil CPO) dan kelapa (crude coconut oil CCO). Minyak kelapa berasal dari produk pertanian yaitu buah kelapa. Perkebunan kelapa di Indonesia seluas 3,697 juta ha (tahun 2000), 96,6% adalah perkebunan rakyat. Tahun 2003, luas areal panen kelapa mencapai 1,6 juta ha, prosentase terbesar berada di Sumatera (39,8%) dan Sulawesi (23,9%). Pada tahun 2000, di Indonesia terdapat sekitar 400 pabrik pengolahan minyak kelapa skala kecil dengan total produksi minyak 1,22 juta ton per tahun. Kapasitas produksi tersebut masih jauh dari perkiraan kebutuhan konsumsi. Pengusaha minyak kelapa sebagian besar adalah pengusaha mikro dengan kapasitas produksi kurang dari 200 kg dan usaha kecil dengan kapasitas produksi antara 200 kg dan 2.000 kg. Bahan baku adalah kelapa segar. Berdasarkan informasi singkat di atas, pemerintah daerah provinsi Gorontalo merencanakan untuk mengembangkan 10 pabrik pengolahan minyak kelapa berskala kecil dengan kapasitas 2 ton daging kelapa segar per hari untuk setiap pabrik. Tujuannya agar dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak, meningkatkan nilai tambah tanaman kelapa dan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi minyak kelapa dalam negeri serta meningkatkan pendapatan asli daerah. Berdasarkan hasil penelitian, pada tahun 2000 di Sulawesi Utara terdapat 41 pabrik pengolahan minyak kelapa dengan total produksi 91.369 ton. Penambahan 10 pabrik baru masih memungkinkan karena persediaan bahan baku sangat mencukupi dan pabrik yang sudah ada sebagian besar berlokasi diliar provinsi Gorontalo. Setiap pabrik akan dimiliki, dikelola dan dibiayai oleh pengusaha swasta setempat dengan dukungan dana dari perbankan. Untuk kredit investasi dan modal kerja awal bank bersedia menanggung 65% dari biaya yang diperlukan, sedangkan sisanya diharapkan dapat disediakan oleh investor. Pemerintah daerah juga akan membantu dalam hal perijinan dan pembangunan infrastruktur yang diperlukan dan pembinaan terhadap petani produsen kelapa. Pabrik akan dibangun sporadis di sentra-sentra produksi kelapa yang telah memiliki jaringan jalan memadai untuk kendaraan bermotor roda empat untuk mempermudah pengangkutan bahan baku dari petani ke pabrik dan pengangkutan produk minyak kelapa dari pabrik ke pasar (pedagang). Biaya investasi untuk mesin, fasilitas produksi dan peralatan. Berdasarkan kapasitas input kelapa segar seperti yang dijelaskan diatas maka mesin utama yang diperlukan adalah 1 unit mesin giling dan mesin parut kelapa segar, 1 unit mesin peras dan 1 unit mesin penggerak (generator). Disamping mesin utama perlu dibangun tungku ukuran 1,5 m x 3 m untuk penggorengan. Pada tahun 0 (awal), biaya investasi untuk mesin-mesin, peralatan produksi, perijinan dan konstruksi bangunan pabrik memerlukan dana Rp.150.870.000, di tingkat lokasi pabrik. Biaya penyusutan per tahun berdasarkan metoda garis lurus adalah Rp.11.194.000. Pada akhir proyek nilai sisa dari investasi tahun awal mencapai Rp.34.572.000.

KASUS KELAYAKAN USAHA - ASPEK KEUANGAN (M-9.2)

Pembangunan pabrik dan pengadaan peralatan memerlukan waktu 6 bulan, sedangkan umur ekonomis proyek berproduksi adalah 6 tahun. Beberapa barang modal senilai Rp.10 juta perlu di re-investasi karena umur ekonomisnya hanya 4 tahun. Nilai sisa barang re-investasi pada akhir proyek adalah Rp.5.000.000. Untuk investasi tersebut pengusaha memerlukan bantuan kredit bank dengan suku bunga yang tidak terlalu tinggi. Ada beberapa bank di Gorontalo yang sudah menyatakan kesediaannya untuk membiayai usaha ini, jika studi kelayakan dinilai layak. Syarat-syarat kredit investasi yang ditentukan bank antara lain, adalah : Bank membiayai 65% dari biaya investasi awal, sisanya ditanggung oleh pengusaha. Grace period diberikan selama 6 bulan pada tahap pembangunan dan satu tahun pertama pada tahap beroperasi. Selama grace period, angsuran pokok dan bunga ditangguhkan pembayarannya (angsuran bunga dikapitalisasi) Suku bunga 15% per tahun Pembayaran kredit diangsur dalam 2 tahun setelah grace period. Biaya operasional Biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variable. Biaya tetap hanya berupa pemeliharaan mesin-mesin dan peralatan produksi serta biaya listrik, masing-masing mencapai Rp.200.000 per bulan. Biaya variabel adalah bahan baku, minyak goreng pancingan, tenaga kerja, transportasi, bahan bakar dan biaya variabel lainnya. Biaya bahan baku daging kelapa segar merupakan komponen terbesar dalam biaya operasional. Setiap hari diperlukan 2.000 kg daging kelapa segar dengan harga Rp.750 per kg. Untuk persediaan agar pabrik dapat beroperasi secara kontinu diperlukan stok bahan baku selama 2 hari. Biaya manajer, tenaga kerja tetap dan tidak tetap setiap bulan adalah Rp.5.625.000, BBM yang meliputi olie, solar, dan batok kelapa serta listrik dan air mencapai Rp.3.575.000 per bulan. Biaya transportasi untuk pengangkutan dalam pembelian bahan baku kelapa segar dan penjualan hasil produksi meliputi Rp.1.750.000 per bulan. Disamping itu, untuk proses produksi 2 ton kelapa segar diperlukan sekitar 180 kg minyak kelapa pemancing dengan harga per kg adalah sama dengan harga jual minyak di pabrik yaitu Rp.5.200. Untuk modal kerja awal investor memerlukan kredit dari bank, Diperkirakan pada tahun berikutnya investor sudah dapat menyediakan modal operasional dari hasil keuntungan tahun pertama. Modal kerja awal tersebut adalah untuk biaya operasional selama satu bulan berproduksi. Bank mempersyaratkan kredit modal kerja antara lain sebagai berikut : Proporsi kredit bank adalah 65%, sedangkan 35 % ditanggung oleh pengusaha Suku bunga kredit 15% per tahun menurun Jangka waktu kredit satu tahun Pengembalian pokok dan bunga diangsur setiap bulan.

KASUS KELAYAKAN USAHA - ASPEK KEUANGAN (M-9.2)

Produksi Kapasitas produksi setiap pabrik berdasarkan bahan baku adalah 2 ton daging buah kelapa segar per hari. Pabrik ini beroperasi sepanjang tahun dengan hari kerja per bulan 25 hari. Supply bahan baku dari daerah sekitar pabrik, tetapi pada masa tertentu harus didatangkan dari luar propinsi. Produk yang dihasilkan pabrik adalah minyak kelapa dan kethak/bungkil. Berdasarkan penelitian ternyata rendemen pengolahan adalah 30-35% minyak dan 20-25% kethak/bungkil. Artinya untuk setiap 100 kg daging kelapa segar yang diolah dihasilkan 30-35 kg minyak dan 20-25 kg bungkil. Dari jenis mesin dan peralatan yang digunakan, tingkat teknologi pabrik pengolahan minyak kelapa ini tergolong teknologi sedang atau madya, sedangkan teknik pengolahan adalah teknik penggorengan kelapa (hot oil immersion drying technology HOID). Ada beberapa jenis pengolahan minyak kelapa seperti Refined Bleaching Deorised (minyak kelapa RBD), Traditional Coconut Oil (minyak kelapa tradisional) dan Virgin Coconut Oil (minyak kelapa murni) atau Cold Expelled Coconut Oil CECNO (minyak kelapa ekstrak dingin). Teknik pengolahan minyak kelapa HOID memerlukan minyak kelapa sebagai umpan (pemancing) dalam proses penggorengannya untuk mempercepat proses produksi. Kebutuhan minyak pemancing dihitung berdasarkan prosentase terhadap output produksi minyak, yang menurut pengusaha adalah 30%; Hal ini berbeda dengan pengolahan minyak kelapa yang menggunakan bahan baku kopra dimana kopra langsung diolah untuk memperoleh minyak kelapa. Pembelian minyak pemancing hanya pada awal produksi, sedangkan pada proses produksi berikutnya minyak pemancing disisihkan dari produksi pada hari itu. Produksi awal tahun diperkirakan belum mencapai kapasitas penuh tetapi hanya 75% dan pada tahun kedua dan seterusnya produksi bisa mencapai kapasitas penuh (100%). Kendala produksi Kendala produksi yang dihadapi usaha kecil pengolahan minyak kelapa adalah harga bahan baku daging kelapa segar sering berfluktuasi. Pada saat harga daging kelapa segar naik terjadi persaingan dengan perusahaan penghasil minyak goreng skala besar. Meskipun ketersediaan bahan baku tidak menjadi masalah serius, namun fluktuasi harga daging kelapa segar terjadi karena petani kelapa cenderung menjual kopra dibanding daging kelapa segar untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan besar, karena kemungkinan menjual kopra lebih menguntungkan daripada menjual kelapa segar. Hal ini menyebabkan harga bahan baku kelapa segar tergantung pada harga kopra. Untuk melakukan stok bahan baku tidak memungkinkan karena kelapa segar tidak dapat disimpan berhari-hari tanpa pendingin. Oleh karena itu pabrik harus membeli bahan baku setiap hari atau paling lama pembelian stok bahan baku hanya bisa 2 hari.. Aspek pasar dan pemasaran Aspek pasar dan pemasaran dari produk minyak kelapa cukup menjanjikan, seperti terlihat dari : a. Semakin langkanya minyak kelapa tradisional akan tetapi permintaannya cenderung meningkat, baik dipasar lokal mapun regional dan nasional.

KASUS KELAYAKAN USAHA - ASPEK KEUANGAN (M-9.2)

b. Preferensi konsumen semakin tinggi terhadap minyak goreng dari kelapa yang bebas dari bahan pengawet, tidak menyebabkan penyakit jantung dan penyakitpenyakit berbahaya lainnya bagi manusia. c. Tingginya permintaan minyak kelapa dari luar daerah dan ekspor. Minyak kelapa dari pabrik dijual langsung kepada pedagang pasar grosir tradisional dan sebagian kecil langsung kepada pedagang pengecer dan konsumen di sekitar pabrik sebagai minyak goreng curah dengan harga Rp.5.200 per kg. Cara pembayaran dari konsumen langsung adalah tunai, sedangkan pembayaran dari pedagang pasar grosir biasanya sekitar seminggu setelah penyerahan barang. Bungkil dijual kepada industri pakan ternak dan peternakan ayam. Menurut informasi permintaan bungkil kelapa cukup tinggi di pulau Jawa sebagai produsen pakan ternak. Harga jual bungkil adalah Rp.480 per kg dengan cara pembayaran seperti pada penjualan minyak kelapa Sementara itu untuk meningkatkan PAD dari perdagangan antar pulau, maka pemerintah daerah akan berusaha membantu agar produk minyak pabrik-pabrik tersebut dapat juga dijual ke luar daerah dan ekspor. . Asumsi dan parameter Untuk melengkapi data yang diperlukan dalam menyusun cashflow usaha pada tabel 1 disajikan sebagian dari asumsi dan parameternya. Tabel 1 : Asumsi dan parameter pengolahan minyak kelapa
No 1 2 3 4 Asumsi Periode proyek Jumlah hari berproduksi Jumlah bulan produksi Harga harga a. Daging buah kelapa segar b. Minyak kelapa c. Kethak/bungkil Kapasitas produksi Rendemen a. Minyak kelapa b. Bungkil Minyak pancingan a. % thd output b. Minyak kelapa Discount rate Inflasi (yoy) Pajak Satuan tahun hari bulan Rp/kg Rp./kg Rp/kg Kelapa segar Kg/hari % % % Kg/hari % % % Jumlah/nilai 6 25 hari/bulan 12 bulan/tahun 750 5.200 480 2000 30 20 30 180 15% 6,18% 15%

5 6

8 9 10

Sumber data : Laporan Pola Pembiayaan usaha Kecil (PPUK). Pengolahan Minyak Kelapa. Bank Indonesia 2004.Diolah.

KASUS KELAYAKAN USAHA - ASPEK KEUANGAN (M-9.2)

Tugas Peserta 1. Susun cashflow proyek dan hitung kriteria investasi yaitu IRR, Net B/C Ratio dan Net Present Value (NPV). 2. Hitung berapa jumlah kredit investasi (KI) dan kredit modal kerja (KMK) yang diperlukan pengusaha 3. Hitung angsuran kredit investasi dan kredit modal kerja. 4. Hitung juga Titik impas (BEP Rp, BEP kg, BEP Rp/kg) dan pay back period 5. Hitung profit margin 6. Bagaimana kesimpulan anda ??? 7. Hitung sensitivitas proyek, berdasarkan skenario penurunan penjualan dan kenaikan biaya operasional. Sampai seberapa % kenaikan biaya atau penurunan penjualan usaha ini tidak layak dilaksanakan? Bagaimana kesimpulan anda. Catatan : 1. 2. Penyelesaian kasus dapat dilakukan secara manual dan menggunakan komputer dengan program excel. Petunjuk : Tabel yang diperlukan secara berurutan adalah : Tabel 1 : Asumsi dan parameter . Disusun berdasarkan tabel 1 dalam teks kasus dilengkapi dengan data dan informasi lain dari teks kasus. Tabel 2 : Perhitungan kebutuhan dana investasi dan modal kerja. Kredit modal kerja (KMK) awal adalah untuk keperluan biaya operasional selama satu bulan beroperasi. Tabel 3 : Angsuran KI & KMK. Untuk kredit investasi terlebih dahulu perlu dihitung dengan menggunakan rumus compound factor adalah jumlah total kredit dan bunga pada akhir tahun pertama atau selama GP, kemudian dengan rumus capital recovery factor menghitung pembayaran angsuran kredit dan bunganya selama 2 tahun berikutnya.. Tabel 4 : Proyeksi produksi dan penjualan hasil. Disusun berdasarkan data dan informasi mengenai kapasitas penjualan setiap tahun. Tabel 5 : Proyeksi Biaya operasional. Terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel setiap tahun. Tabel 6 : Proyeksi Rugi/Laba. Termasuk dalam R/L adalah penyusutan dan pajak perusahaan. Profit margin dihitung setelah dihitung pajak. Tabel 7 : Proyeksi Cashflow untuk menghitung kriteria investasi yaitu IRR, net B.C ratio dan NPV, BEP dan pay back period. Tabel 8 : Analisis sensitivitas scenario I untuk kenaikan baya operasional Tabel 9 : Analisis sensitivitas scenario II untuk penurunan penjualan hasil

KASUS KELAYAKAN USAHA - ASPEK KEUANGAN (M-9.2)

Dengan program excel, angka-angka pada tabel-tabel diatas dapat di link (dengan rumus-rumus) sehingga mempermudah dan mempercepat perhitungan.

Selamat bekerja Waktu pengerjaan 4 jam, presentasi & diskusi 1 jam