Anda di halaman 1dari 5

PENAMBANGAN BAHAN GALIAN PASIR DAN PERMASALAHANNYA DI KOTA PALANGKA RAYA ROMIE HENDRAWAN, ST

Staff Pengajar Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Palangka Raya

ABSTRAK : Usaha penambangan pasir, kerikil, batu kali dan tanah timbun saat ini harus mendapat perhatian serius, karena sering kali usaha penambangan tersebut dilakukan dengan kurang memperhatikan akibatnya terhadap lingkungan hidup. Lingkungan Hidup yang diartikan luas, yaitu tidak hanya lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan ekonomi, sosial budaya. (Soemarwoto, 1989). Pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 yang mengatur tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan. Menurut undang-undang tersebut bahan galian golongan C adalah bahan galian tidak strategis dan vital, yang pengelolaannya diberikan oleh Pemerintah Daerah dengan mengeluarkan Surat Izin Pertambangan Daerah. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang No 4 Tahun 2009 bahan galian dikelompokan menjadi bahan galian logam, non logam, batuan dan batubara, dimana untuk bahan galian pasir dikategorikan sebagai bahan galian yang perizinannya berupa izin pertambangan rakyat yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Berdasarkan latar belakang tersebut maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah banyaknya kegiatan penambangan bahan galian pasir khususnya di kota Palangka Raya yang tidak mengantongi ijin eksploitasi (ilegal) maupun yang ijinnya sudah berakhir, hal ini berdampak bukan hanya pada berkurangnya pendapatan daerah juga berdampak pada lingkungan, karena setiap pengusaha pertambangan sebelum melakukan operasinya wajib menyusun dokumen lingkungan sabagai salah satu syarat mendapatkan ijin eksploitasi dari pemerintah. Kata Kunci : Bahan Galian Pasir, Lingkungan Hidup, Perizinan

PENDAHULUAN Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral dan batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Ketentuan umum dalam undangundang RI no 4 tahun 2009 yang dimaksud dengan : 1. Bahan Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu. 2. Bahan galian adalah adalah unsur-unsur kimia, mineral-mineral, bijih-bijih dan

3.

4.

5. 6.

segala macam batuan termasuk batubatu mulia yang merupakan endapanendapan alam. Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk memproduksi mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya. Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, study kelayakan, kontruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta pasca tambang. Izin Usaha Pertambangan adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan. Izin Pertambangan Rakyat adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat

dengan luas wilayah dan investasi terbatas. 7. Pengelolaan Pertambangan adalah Pengelolaan pertambangan yang berasaskan manfaat, keadilan dan keseimbangan; Keberpihakan kepada kepentingan bangsa; partisipatif, transparansi, dan akuntabilitas; berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. 8. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk dimensi, sebaran, kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingungan sosial dan lingkungan hidup. 9. Studi kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci seluruh aspek yang berkaitan dengan menentukan kelayakan ekonomis dan teknis usaha pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak lingkungan serta perencanaan pascatambang. 10.Reklamasi Tambang adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntuknya.
AMDAL untuk suatu kegiatan usaha pertambangan sangat besar peranannya dalam menunjang keberhasilan kegiatan tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh dari kantor Dinas Pertambangan dan energi Kota Palangkaraya saat ini terdapat 23 (duapuluh tiga) perusahaan yang terdata dan telah mendapat ijin dari Dinas Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya. Namun dari semua perusahaan pertambangan bahan galian pasir tersebut semua perijinan yang dimiliki sudah tidak berlaku lagi (kadaluarsa). Data realisasi perijinan dan usaha pertambangan bahan galian pasir pada Dinas Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya tahun 2009 dapat dilihat pada tabel dibawah ini Tabel 1 Lokasi pertambangan pasir di kota Palangka Raya LOKASI Petuk Katimpun Tumbang Tahai Kalampangan Marang Bukit Tunggal Tangkiling Sei Gohong JUMLAH 2 5 8 4 2 1 1

Kegiatan usaha pertambangan pada hakekatnya adalah merupakan suatu kegiatan industri dasar, dimana fungsinya sebagai penyedia bahan baku bagi keperluan industri lainnya. Mengingat bahwa terjadinya suatu endapan bahan galian tersebut memerlukan waktu yang sangat lama (dalam ukuran waktu geologi), maka didalam pemanfaatannya dan pengelolaannya harus benar-benar dapat optimal, oleh karena itu penyajian informasi data, seperti peta topografi, peta geologi, penyelidikan eksplorasi serta studi kelayakan dan AMDAL untuk suatu kegiatan usaha pertambangan sangat besar peranannya dalam menunjang keberhasilan kegiatan tersebut. Hasil penelitian

Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya Dari ke 23 perusahaan pertambangan pasir yang tercatat di kantor Dinas Pertambangan dan Energi Kota Palangka Raya yang tidak beroperasi berjumlah 9 (sembilan) perusahaan, sedangkan sisanya beroperasi walaupun ijin yang dimiliki sudah tidak berlaku lagi. Oleh karena itu dapatlah diprediksi bagaimana pengusaha-pengusaha penambangan yang belum memiliki izin atau izin usahanya telah berakhir tersebut melakukan usahanya tanpa menghiraukan untuk tetap memelihara lingkungan, maupun kewajiban untuk membayar pajak kepada Pemerintah Daerah.

Nomor 4 Tahun 2009 yang dimaksud dengan:

berat. Dalam pemakaian alat-alat berat inilah yang mengakibatkan terdapatnya lubanglubang besar bekas galian yang kedalamanya bisa mencapai 3 sampai 4 meter, dan apabila lahan tidak direklamasi oleh pengusaha maka mengakibatkan lingkungan sekitarnya menjadi rusak. Problem ini tidak akan pernah berakhir apabila penggalian bahan galian pasir ini tidak terkendali dan terawasi. Masalah ini adalah kewajiban kita bersama untuk senantiasa memelihara lingkungan hidup yang sehat, serasi dan seimbang antara manusia dan makhkuk hidup lainnya. Kewajiban memelihara lingkungan dibebankan kepada individu, badan usaha serta pemerintah. (Pasal 6 Ayat 1) Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor 23 Tahun 1997 menyatakan "Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengolah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup." Salah satu bentuk kewajiban tersebut adalah dengan membayar uang jaminan reklamasi. Pembayaran uang jaminan reklamasi dimaksudkan agar lubang bekas galian setelah penambangan dilakukan, dapat ditimbun kembali. Ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan lingkungan hidup yang menyatakan "Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup adalah salah satu syarat dalam perizinan usaha penambangan (Koesnadi. 1999), maka dalam izin dimaksud harus dicantumkan persyaratan dan kewajiban yang berkenaan dengan penataan terhadap ketentuan pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 18 Ayat (3) UUPLH menyatakan: (1) Setiap usaha atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup untuk memperoleh izin

Gambar 1. Kegiatan Pertambangan pasir di Kota Palangka Raya

Gambar 2. Areal bekas penambangan pasir Berbicara mengenai dampak maka dapat dikaji dari sisi yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif adalah manfaat yang ditimbulkan dari penambangan bahan galian pasir yaitu: (1) Terserapnya tenaga kerja, (2) Menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan kewajiban pengusaha membayar retribusi dan iuran-iuran lain. (3) Memperlancar transportasi, karena yang tadinya jalan penduduk setempat hanya merupakan jalan setapak, maka diupayakan pengusaha untuk membuat jalan aspal/pengerasan agar dapat dilewati alat berat dan dump truck. Sedangkan dampak negatif adalah berupa resiko akibat penambangan bahan galian pasir. Pada umumnya pengusaha penambangan bahan galian pasir melakukan kegiatan penambangan baik di darat maupun di sungai keseluruhannya memakai alat

melakukan usaha atau kegiatan. (2) Izin melakukan usaha atau kegiatan sebagaimana dimaksud apada ayat 1 diberikan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. (3) Dalam izin sebagimana dimaksud pada ayat 1 dicantumkan persyaratan dan kewajiban untuk melakukan upaya pengendalian dampak lingkungan hidup. Bahan galian pasir dikategorikan sebagai bahan galian yang perizinannya berupa izin pertambangan rakyat yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Menurut Pasal 1 ayat 32 UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba), Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) adalah bagian dari Wilayah Pertambangan dimana kegiatan usaha pertambangan rakyat dilakukan. WPR ditetapkan oleh bupati/walikota setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota. Pasal 22 UU Minerba mencantumkan beberapa kriteria untuk menetapkan WPR yang diumumkan kepada masyarakat secara terbuka oleh bupati/walikota setempat, yakni: 1. Adanya cadangan mineral sekunder yang terdapat di sungai dan/atau di antara tepi dan tepi sungai; Adanya cadangan primer logam atau batubara dengan kedalaman maksimal 25 (dua puluh lima) meter; Endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba; Luas maksimal wilayah pertambangan rakyat adalah 25 (dua puluh lima) hektar; Jenis komoditas yang akan ditambang; dan/atau Wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan sekurangkurangnya 15 (lima belas) tahun.

48 Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (PP 23/2010) menjelaskan bahwa untuk mendapatkan IPR, pemohon harus memenuhi:
1. Persyaratan administratif; 2. Persyaratan teknis; dan 3. Persyaratan finansial.

Persyaratan administratif untuk:


1. Orang

perseorangan, paling sedikit meliputi:


a. Surat permohonan; b. Kartu tanda penduduk; c. Komoditas tambang yang dimohon;

dan d. surat keterangan kelurahan/desa setempat. meliputi:


a. Surat permohonan; b. Komoditas tambang yang dimohon;

dari

2. Kelompok masyarakat, paling sedikit

dan
c. Surat 3. Koperasi

2.

keterangan kelurahan/desa setempat. setempat, paling

dari sedikit

3. 4. 5. 6.

meliputi:
a. Surat permohonan; b. Nomor pokok wajib pajak; c. Akta pendirian koperasi yang telah

disahkan oleh berwenang; dan


e. Surat

pejabat

yang

d. Komoditas tambang yang dimohon;

keterangan kelurahan/desa setempat.

dari

IPR diberikan oleh bupati/walikota berdasarkan permohonan yang diajukan oleh penduduk setempat, baik perseorangan maupun kelompok masyarakat dan/atau koperasi. Pasal

Persyaratan teknis pernyataan yang memuat mengenai:

berupa surat paling sedikit

1. Sumuran pada IPR paling dalam 25 (dua

2. Hardjasoemantri, Koesnadi. 2000. Hukum

puluh lima) meter;


2. Menggunakan

pompa mekanik, penggelundungan atau permesinan dengan jumlah tenaga maksimal 25 (dua puluh lima) horse power untuk 1 (satu) IPR; dan peledak.

Tata Lingkungan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.


3. Husein, Harun,M. 1995. Lingkungan Hidup

Masalah Pengelolaan dan Penegakan Hukum. Bumi Aksara. Jakarta.


4. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun

3. Tidak menggunakan alat berat dan bahan

1969. Tentang Pelaksanaan Undang Nomor 11 Tahun 1967.

Undang-

Persyaratan finansial mencakup penyerahan laporan keuangan 1 (satu) tahun terakhir yang hanya dipersyaratkan bagi koperasi setempat. Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan Pertambangan Pasir wajib memiliki perizinan baik berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 yang mengatur tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan. Menurut undang-undang tersebut bahan galian golongan c adalah bahan galian tidak strategis dan vital, yang pengelolaannya diberikan oleh Pemerintah Daerah dengan mengeluarkan Surat Izin Pertambangan Daerah. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang No 4 Tahun 2009 bahan galian bahan galian pasir dikategorikan sebagai bahan galian batuan yang perizinannya berupa izin pertambangan rakyat yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Hal ini penting untuk menjaga kelestarian lingkungan akibat penambangan, dengan dilakukannya kajian-kajian dampak lingkungan yang akan ditimbulkan oleh kegiatan pertambangan tersebut. Sehingga dampak negatif yang ditimbukan dapat diminimalisir dan dampak positif yang ditimbulkan dapat dioptimalkan. Selain itu bagi pemerintah dengan adanya perizinan ini dapat mempermudah pengawasan terhadap pengusaha serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pajak yang wajib di bayarkan oleh pengusaha.

5. Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun

2000. Tentang Pengendalian Kerusakan Tanah Untuk Produksi Biomassa.


6. Peraturan Daerah Nomor 31 Tahun 1998.

Tentang Pajak Pengambilan Pengelolaan Bahan Galian Golongan C.


7. Republik

Indonesia Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997. Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Indonesia Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967. Tentang Ketentuan Pokok-pokok Pertambangan. Indonesia Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009. Tentang Mineral dan Batubara. Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

8. Republik

9. Republik

10. Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2010

DAFTAR PUSTAKA
1. Danusaputro,

Munadjat. 1981. Hukum Lingkungan, Buku I Umum. Bina Cipta. Bandung.