Anda di halaman 1dari 12

Insulinoma

A. DEFINISI Insulinoma merupakan tumor pankreas yang jarang terjadi, dimana tumor ini menghasilkan insulin, suatu hormon yang berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah. Hanya 10% insulinoma yang bersifat ganas. B. PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui, tetapi resiko terjadinya insulinoma meningkat pada penderita neoplasia endokrin multipel tipe I. C. GEJALA Gejala-gejalanya disebabkan oleh rendahnya kadar gula dalam darah. Gejala ini muncul jika penderita tidak makan selama berjam-jam, dan paling sering timbul di pagi hari setelah puasa semalaman. Gejalanya mirip dengan kelainan psikis dan kelainan saraf, yaitu: - sakit kepala - linglung - gangguan penglihatan - kelemahan otot - goyah - perubahan kepribadian.

Rendahnya kadar gula darah bisa menyebabkan penurunan kesadaran, kejang dan koma. Gejala-gejala yang menyerupai kecemasan atau panik adalah: - pingsan - lemah - gemetar - palpitasi (jantung berdebar-debar) - berkeringat - rasa lapar - gugup.

D. DIAGNOSA Diagnosis insulinoma mungkin agak sulit. Penderita biasanya diminta untuk berpuasa minimal selama 24 jam, kadang sampai 72 jam dan dipantau secara ketat, kalau

perlu dirawat di rumah sakit. Setelah berpuasa, biasanya gejala-gejala akan muncul dan dilakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar gula dan kadar insulin. Adanya insulinoma ditunjukkan dengan kadar gula yang sangat rendah dan kadar insulin yang tinggi. Lokasi dari insulinoma ditentukan melalui pemeriksaan CT scan dan USG.

SINDROM CUSHING
A. Pengertian Sindrom Cushing Sindrom Cushing adalah suatu penyakit yang terjadi akibat aktivitas korteks adrenal yang berlebihan. o Sindrom tersebut dapat terjadi akibat pemberian Kortikosteroid atau ACTH yang berlebih atau akibat hyperplasia korteks adrenal. B. Patofisiologi o Sindrom Cushing dapat disebabkan oleh beberapa mekanisme yang mencakup tumor kelenjar hipofisis yang menghasilkan ACTH dan menstimulasi korteks adrenal untuk meningkatkan sekresi hormonnya meskipun hormon tersebut telah diproduksi dalam dengan jumlah adekuat. Penyebab lain yaitu jarang dijumpai adalah produksi ektopik ACTH oleh malignita, karsinoma bronkogenik merupakan tipe malignitas yang paling sering ditemukan. C. Etiologi Sindrom Cushing terutama terjadi sebagai akibat dari sekresi glukokortikoid dan androgen hormon seks) yang berlebihan, meskipun sekresi mineralokortikoid juga dapat terpengaruh. D. Manifestasi Klinik Gambaran klasik sindrom cushing pada orang dewasa berupa obesitas tipe sentral dengan Punggung Kerbau (Buffalo Hump) pada bagian posterior leher serta daerah daerah supra klavikuler, badan yang besar dan ekstremitas yang relative kurus, kulit menjadi tipis, rapuh dan mudah luka, ekimosis (memar) serta strie akan terjadi gangguan tidur sering terjadi akibat perubahan sekresi di urnal kortisol. Katabolisme protein yang berlebihan akan terjasi sehingga menimbulkan pelisutan otot dan osteoporosis. Gejala kifosis, nyeri punggung dan fraktur kompresi vertebra dapat muncul. Retensi natrium dan

air terjadi akibat peningkatan aktifitas mineralokortikoid yang menyebabkan hipertensi dan gagal jantung kongestif. E. Penatalaksanaan Medis Pengobatan sindrom cushing tergantung ACTH tidak seragam, tergantung apakah sumber ACTH Hipofisis atau ektopik. Beberapa pendekatan terapi dapat digunakan pada kasus dengan hiperskresi ACTH hipofisis. Jika dijumpai tumor hipofisis, sebaiknya diusahakan reseksi tumor transpenoidal. Tetapi jika terdapat bukti hiperfungsi hipofisis namun tumor tidak dapat ditemukan maka sebagai gantinya dilakukan radiasi kobalt pada kelenjar hipofisis. Teknik ini merupakan modalitas pengobatan yang efektif, terutama pada orang yang muda dengan sindrom cushing kelebihan kortisol juga dapat ditanggulangi dengan adrenalektomi total dan diikuti dengan pemberian kortisol dosis fisiologik/ dengan agen kimia yang mampu menghambat/merusak sel sel korteks adrenal yang menskresi kortisol. Bila pengobatan sindrom cushing berhasil dengan baik, remisi manifestasi klinis akan terjadi dalam 6 12 bulan setelah dimulainya terapi. Dilakukan operasi pengangkatan tumor melalui hipofisektomi transtenoidalis dan terapi pilihan. Dilakukan pemantauan ketat karena dapat terjadi gejala influenza adrenal dan efek samping akibat obat obat tersebut. F. Evaluasi Diagnostik o Pemeriksaan glukosa darah, dan penurunan kadar kalium serung serta penurunan jumlah sel sel dalam jaringan dan pengukuran kadar plasma dan urine.

o Tes supresi deksametason (dengan dosis rendah/tinggi) o Pemeriksaan diagnostic yang mencakup kadar kortual bebas dalam urine 24 jam. o Stimulasi CRF (Corticotrophin Releaging Factors)

G.

Komplikasi

1. Krisis addisonian 2. Efek yang merugikan pada aktifitas korteks adrenal.

PROSES KEPERAWATAN

A. Pengkajian

Pengkajian mencakup riwayat kesehatan dan pemeriksaan jasmani harus berfokus pada efek yang ditimbulkan. Riwayat penyakit mencakup informasi tentang tingkat aktifitas pasien dan kemampuan dalam melaksanakan kegiatan rutin serta perawatan mandiri. Kondisi klien harus diperiksa dan kaji untuk menemukan trauma, infeksi, fisura, memar serta edema. Perobatan dan penampakan fisik harus dicatat dan respon perubahan diperhatikan. Selama anamnesis dan pemeriksaan, perawat mengkaji fungsi mental pasien yang mencakup keadaan emosi, respon terhadap kesadaran akan lingkungan tingkat depresi.

B. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan pada semua data pengkajian diagnosis keperawatan utama sindrom cushing mencakup : 1. Resiko cedera dan infeksi berhubungan dan kelemahan kelemahan perubahan metabolisme protein serta respons inflamasi. 2. Gangguan integritas kulit b/d edema, gangguan kesembuhan dan kulit yang tipis serta rapuh. 3. Kurang perawatan diri : kelemahan, perasaan mudah lelah, atrofi otot dan perubahan pola tidur.

4. Gangguan citra tubuh b.d perubahan penampilan fisik, gangguan fungsi seksual dan penurunan tingkat aktivitas 5. Gangguan proses berfikir b/d fluktuasi emosi, iritabilitas depresi

C. Perencanaan. Tujuan utama pasien mencakup penururnan resiko cedera dan infeksi, peningkatan kemampuan untuk melaksanakan aktifitas perawatan diri, perbaikan fungsi mental dan tidak adanya komplikasi.

D. Implementasi Keperawatan

1. Munurunkan Resiko Cedera Dan Infeksi o Ciptakan lingkungan yang aman untuk mencegah kecelakaan seperti terjatuh. o Bantu dalam mobilisasi pada klien yang lemah untuk mencegah jatuh terbentur pada tepi perabot yang tajam. o Isolasi klien dari pengunjung atau klien lain yang menderita penyakit infeksi. o Observasi tanda-tanda infeksi sesering mungkin mengingat efek anti inflamasi dari kortikosteroid. o Hidangkan makanan tinggi kalsium, protein, dan vitamin D untuk memperkecil terjadinya pelisutan otot dan osteoporosis o Rujuk apada ahli gizi untuk membantu memilih jenis-jenis makanan yang tepat tapi rendah natrium dan kalori.

2. Persiapan Praoperatif o Mempersiapkan klien untuk operasi adrenalektomi. o Jika penyebabnya adalah tumor hipofise tindakan hipofisektomi transfenoidalis.

o Pemantauan kadar glukosa darah, pemeriksaan dalam feses serta intervensi yang tepat, intervensi ini dilkukan jika pada cushing syndrom menderita diabetes mellitus dan ulkus peptikum,

3. Menganjurkan Istirahat Dan Aktifitas o Anjurkan melakukan aktivitas ringan untik mencegah komplikasi akibat immobilisasi. o Tingkatkan rasa percaya diri klien. o Atur jadwal waktu istirahat sepanjang hari o Ciptakan lingkungan yang tenang dan rileks

4. Meningkatkan Perawatan Kulit o Hindarkan penggunaan plester pada klien karena dapat menyebabkan iritasi kulit dan luka pada kulit klien yang rapuh ketika plester dibuka. o Observasi sesering mungkin pada area penonjolan tulang dan kulitnya. o Rubah posisi sesering mungkin untuk mencegah kerusakan kulit.

5. Memperbaiki Citra Tubuh o Berikan penjelasan tentang dampak yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut terhadap konsep diri dan hubungannya dengan orang lain. o Anjurkan diet rendah garam dan karbohidrat untuk mengurangi berat badan dan edema yang terjadi o Anjurkan diet protein yang tinggi untuk mengurangi gejala-gejala yang lain. 6. Memperbaiki Proses Berfikir. o Jelaskan pada klien dan keluarga mengenai penyebab ketidak stabilan emosional, hal ini penting untuk membantu dalam mengatasi fluktuasi emosi, irritabilitas serta depresi yang terjadi.

o Laporkan jika terdapat gejala psikotik o Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya.

E. Evaluasi

Hasil yang diharapkan : 1.Munurunkan resiko cedera dan resiko a. Bebas fraktur atau cedera jaringan lunak b. Bebas daerah daearah ekimosis c. Tidak mengalami kenaikan suhu, kemerahana, rasa nyeri atau tanda tanda infeksi. 2. Meningkatkan partisipasi dalam aktifitas perawatan mandiri. a. Merencanakan aktifitas dan latihan untuk memungkinkan periode istirahat. b. Melaporkan perbaikan perasaan sehat c. Bebas komplikasi imobilitas. 3. Mempertahankan integritas kulit a. Memiliki kulit yang utuh tanpa bukti adanya luka/infeksi. b. Menunjukkan bukti berkurangnya edema pada ekstrenitas dan badan 4. Mencapai perbaikan citra tubuh. a. Mengutamakan perasaan tentang perubahan penampilan, fungsi seksual dan tingkat aktifitas. b. Meningkatkan kesadaran bahwa perubahan fisik merupakan akibat dari pemberian kartikosteroid yang berlebihan. 5. Memperlihatkan perbaikan fungsi mental. 6. Tidak adanya komplikasi a. Memperlihatkan TTV serta berat badan yang normal dan bebas dari gejala krisis addision.

b. Mengidentifikasi strategi untuk memperkecil komplikasi sindrom cushing c. Mematuhi aturan untuk pemeriksaan tindak lanjut.

HIPERTIROIDISME A. Definisi Hipertiroid adalah respon jaringan-jaringan tubuh terhadap pengaruh metabolik hormon tiroid yang berlebihan.Bentuk yang umum dari masalah ini adalah penyakit graves,sedangkan bentuk yang lain adalah toksik adenoma , tumor kelenjar hipofisis yang menimbulkan sekresi TSH meningkat,tiroditis subkutan dan berbagai bentuk kenker tiroid. B. Etiologi Lebih dari 95% kasus hipertiroid disebabkan oleh penyakit graves,suatu penyakit tiroid autoimun yang antibodinya merangsang sel-sel untuk menghasilkan hormone yang berlebihan. Penyebab hipertiroid lainnya yang jarang selain penyakit graves adalah: Toksisitas pada strauma multinudular, Adenoma folikular fungsional ,atau karsinoma(jarang) , Edema hipofisis penyekresi-torotropin (hipertiroid hipofisis), Tumor sel benih,missal karsinoma (yang kadang dapat menghasilkanbahan mirip-TSH) atau teratoma (yang mengandung jarian tiroid fungsional) Tiroiditis (baik tipe subkutan maupun hashimato)yang keduanya dapat berhubungan dengan hipertiroid sementara pada fase awal. Konsumsi Yodium Berlebihan. Kelenjar tiroid memakai yodium untuk membuat hormon tiroid, bila konsumsi yodium berlebihan bisa menimbulkan hipertiroid. Kelainan ini biasanya timbul apabila sebelumnya si pasien memang sudah ada kelainan kelenjar tiroidiodarone (cordarone), suatu obat yang digunakan untuk gangguan irama jantung, juga mengandung banyak yodium dan bisa menimbulkan gangguan tiroid. C. Manisfestasi klinis Pada stadium yang ringan sering tanpa keluhan. Demikian pula pada orang usia lanjut, lebih dari 70 tahun, gejala yang khas juga sering tidak tampak. Tergantung pada beratnya hipertiroid, maka keluhan bisa ringan sampai berat. Keluhan yang sering timbul antara lain adalah : Kecemasan,ansietas,insomnia,dan tremor halus Penurunan berat badan walaupun nafsu makan baik Intoleransi panas dan banyak keringat Papitasi,takikardi,aritmia jantung,dan gagal jantung,yang dapat terjadi akibat efek tiroksin pada sel-sel miokardium Amenorea dan infertilitas Kelemahan otot,terutama pada lingkar anggota gerak ( miopati proksimal) Osteoporosis disertai nyeri tulang D. ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN a. Aktifitas gejala: Insomnia,sensitivitas meningkat b. Makanan/cairan gejala: kehilangan berat badan yang mendadak tanda: pembesaran tiroid,gointer,edema non-pittingterutama daerah pretibial c.Pernafasan gejala: frekuensi pernafasan meningkat,dipneu,dipsneu,dan edema paru

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme; peningkatan beban kerja jantung; perubahan dalam arus balik vena dan tahan vaskuler sistemik; perubahan frekuensi, irama dan konduksi jantung. 2. Kelelahan b/d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi; peka rangsang saraf sehubungan dengan gangguan kimia tubuh 3. PERENCANAAN 1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme; peningkatan beban kerja jantung; perubahan dalam arus balik vena dan tahan vaskuler sistemik; perubahan frekuensi, irama dan konduksi jantung. Tujuan asuhan keperawatan : mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh yang dengan tanda vital stabil, denyut nadi perifer normal, pengisisan kapiler normal, status mental baik, tidak ada disritmia Intervensi : - Pantau tekanan darah pada posisi baring,duduk, &berdiri jika memungkinkan - Pantau CVP jika klien menggunakannya - Periksa adanya nyeri dada a/ angina yang dikeluhka klien - Auskultasi suara jantung ,perhatikan adanya bunyi jantung tambahan adanya irama gollap & murmur sistolik - Auskultasi suara nafas - Berikan cairan melalui IV sesuai dengan indikasi - Berikan obat sesuai dng idikasi - Memberikan ukuran volume sirkulasi yg langsung & lebih akurat dan mengukur fungsi jantung secara langsung pula. Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh otot jantung 2. Kelelahan b/d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi; peka rangsang dari saraf sehubungan dengan gangguan kimia tubuh. Tujuan asuhan keperawatan : Megungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi, menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam melakukan aktifitas. Intervensi - Pantau tanda vital & catat tanda vital baik saat istirahat maupun saat melakukan aktivitas - Catat berkembangnya Takipnue,dipneu,pucat,dan sianosis - Berikan/ciptakan lingkungan yg tenang;ruangan dingin,turunkan stimulasi sensori,warna2 yg sejuk,musik santai - Sarankan klien u/ mengurangi aktivitas & meningkatkan istirahat di tempat tidur sebanyak2 nya jk memungkinkan - Berikan tindakan yg membuat klien nyaman, separti; sentuhan bedak yg sujuk - Berikan obat sesuai dengan indikasi

4. EVALUASI Curah dengan TTV jantung adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh yang ditandai stabil, denyut nadi perifer normal, pengisian kapiler normal, status mental baik, tidak ada disritmia. Kemampuan untuk berpartisipasi dalam melakukan aktivitas.