Anda di halaman 1dari 6

1.

Tahapan fabrikasi pada struktur baja yaitu:

Marking Tahapan ini merupakan tahapan awal dari proses fabrikasi, dimana dillaksanakan pemindahan gambar dari gambar kerja (shop drawing) material kerja/ baja dengan skala 1:1.

Cutting Setelah proses pemindahan gambar ke material selesai, selanjutnya dilakukan pemotongan material. sehingga sesuai dengan shop drawing.

Drilling Yang dimaksud dengan drilling yaitu proses pembuatan lubang pada benda kerja, yang nantinya akan menjadi tempat untuk pemasanagan baut. Titik mana saja yang harus diberi lubang, pedomannya tetap di shop drawing.

Fitting/ Assembly Merupakan tahapan untuk menyatukan material bahan yang sudah terpotong pada proses cutting, menjadi satu komponen konstruksi baja yang sesuai dengan shop drawing. Penyatuan potongan material pada tahap ini hanya dengan tack weld saja. kemudian dilaksanakan pengecekan ukuran/ dimensi.

Welding Apabila material sudah difitting dan dipastikan sudah sesuai dengan shop drawing, baru masuk tahap berikutnya yaitu dilakukan pengelasan penuh, tentunya sesuai dengan aturan yang telah ditentukan.

Finishing

Di tahap ini dilakukan proses pembersihan dari sisa proses fabrikasi, seperti : bekas pemotongan/ drilling yang masih tajam, bekas pengelasan, bekas alat bantu yang digunakan saat fitting dll. Untuk fabrikasi konstruksi baja, proses finishing sebaiknya dilakukan sebelum proses pengecatan, sehingga tidak merusak hasil pengecatan.

Painting Pada tahap ini material yang sudah jadi akan dilapisi dengan cat, sehingga akan dilindungi dari karat/ korosi. Tentunya dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan.

Kemudian peran dari pengelasan pada welding yaitu:

Pertemuan baja pada sambungan dapat melumer bersama elektrode las dan menyatu dengan lebih kokoh (lebihsempurna). Konstruksi sambungan memiliki bentuk lebih rapi.

Konstruksi baja dengan sambungan las memiliki berat lebih ringan. Dengan las berat sambungan hanya berkisar 1 1,5% dari berat konstruksi, sedang dengan paku keling / baut berkisar 2,5 4% dari berat konstruksi.

Pengerjaan konstruksi relatif lebih cepat (tak perlu membuat lubang-lubang pk/baut, tak perlu memasang potongan baja siku / pelat penyambung, dan sebagainya ).

Luas penampang batang baja tetap utuh karena tidak dilubangi, sehingga

kekuatannya utuh.

2. Diagram hooke dapat memberikan gambaran karakteristik mekanik material baja. Ulasan rinci tentang statement di atas! Diagram hooke memperlihatkan dimana penambahan gaya tarik yang perlahan-lahan menunjukkan kesebandingan antara tegangan dengan regangan secara proporsional.

TUGAS KONSTRUKSI BAJA

OLEH: HARI ANTHO SUPPA D321 08 281 TEKNIK KELAUTAN

PROGRAM STUDI TEKNIK KELAUTAN JURUSAN PERKAPALAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

1. Sbutkan dan jelaskan tahap proses fabrikasi struktur baja dan jelaskan secara detail peran

pengelasan pada tahapan fabrikasi! 2. Diagram hooke dapat memberikan gambarankarakteristik mekanik material baja. Berikan ulasan rinci terhadap statement di atas! Jawab: 1. Fit up and Assembly Merupakan tahapan untuk menyatukan material bahan menjadi satu komponen konstruksi baja. Weld out

Tahap pengelasan penuh, tentunya sesuai dengan aturan yang telah ditentukan.

Sweep blast and primer Di tahap ini dilakukan proses pembersihan dari sisa proses fabrikasi, seperti : bekas pemotongan yang masih tajam, bekas pengelasan, bekas alat bantu yang digunakan saat fitting dll

Intermediate coat Pada tahap ini material yang sudah jadi akan dilapisi dengan cat, sehingga akan dilindungi dari karat/ korosi. Tentunya dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Peran pengelasan pada tahapan fabrikasi yaitu: membuat sambungan baja lebih kokoh dan memiliki bentuk yang lebih rapi. memiliki berat lebih ringan di bandingkan paku keling. relatif lebih mudah dan cepat. Memiliki penampang yang tetap utuh karna tidak memerlukan lubang lagi.

2. DIAGRAM HOOKE UNTUK BAJA

Berdasarkan diagram diatas maka dapat diterangkan :Pada gambar memperlihatkan dimana penambahan gaya tarik yang perlahan-lahan inimenunjukkan kesebandingan antara tegangan dengan regangan secara proporsional, dan jikagaya tarik ini dilepaskan, maka bentuk dan ukuran kembali kepada bentuk serta ukuran semula,kondisi ini yang disebut perubahan bentuk elastis atau yang disebut sebagai deformasi elastis .Keadaan yang demikian ini akan terhenti pada titik Pdimana tegangan ini menjadi tidak sebanding dengan regangan, bahkan tegangan cenderungtetap bahkan turun dan reganga justru semakin besar seperti terlihat pada gambar (Diagramtegangan regangan), ini akan berakhir pada titik E yang kita sebut sebagai batas elastis (Elasticlimit) pada titik ini bahan menjadi berada dalam keadaan antara elastis dan plastis, yakni antaratitik P dan titik E, walaupun di dalam praktiknya titik-titik ini berhimpitan atau tidak nampak.Jika tegangan ini dilanjutkan maka akan terjadi pengecilan pada diameternya yang akanmengakibatkan tegangan meningkat sampai batas maximum, yang kemudian turun hingga bahanuji ini putus.