P. 1
Spinal Cord Injury

Spinal Cord Injury

|Views: 122|Likes:
Dipublikasikan oleh Nhovi Kristina
Spinal Cord
Spinal Cord

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Nhovi Kristina on Apr 27, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/25/2013

pdf

text

original

SPINAL CORD INJURY

Diposkan oleh Putri Bebek di 20.27 http://ikabuntud.blogspot.com/2012/05/spinal-cord-injury.html SPINAL CORD INJURY Makalah Ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Neurosains Disusun oleh : Ikawati Mardiana Kunmangesti Wahyu D P Nuzulis Hazjar A Putri Marganingtyas K D Riski Excavani Amalia P 27226011 105 P 27226011 108 P 27226011 114 P 27226011 118 P 27226011 119

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV FISIOTERAPI JURUSAN FISIOTERAPI POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA SURAKARTA 2012

DAFTAR ISI

Daftar Isi ................................................................................................ i A. Pengertian Spinal Cord Injury ......................................................... B. C. Klasifikasi Spinal Cord Injury ......................................................... Anatomi Fisiologi Spinal Cord (Medula Spinalis) ...........................

D. Gejala dan Penyebab Spinal Cord Injury ........................................ E. F. Diagnosis ......................................................................................... Prognosis .........................................................................................

...............G................ Komplikasi ................. ................................................................................... Daftar Pustaka .............................................

Klasifikasi ASIA/ IMSOP dipakai di banyak negara karena sistem tersebut dipandang akurat dan komperhemsif. indera. 5 buah tulang lumbal. atau benda asing) masuk atau mengenai spinal dan merusakkan spinal cord atau suplai darah (AACN.A. 1997). Marianne Chulay. Klasifikasi Spinal Cord Injury American Spinal Injury Association (ASIA) bekerjasama dengan Internasional Medical Society Of Paraplegia (IMSOP) telah mengembangkan dan mempublikasikan standart internasional untuk klasifikasi fungsional dan neurologis cedera medula spinalis. Diskus intervertebrale merupakan penghubung antara dua korpus vertebrae. Spinal cord injury (SCI) terjadi ketika sesuatu (seperti: tulang. Arif. atau fungsi otonom serta berkurangnya mobilitas atau perasaan (sensasi). Cidera tulang belakang adalah cidera mengenai cervicalis. Sistem otot ligamentum membentuk jajaran barisan (aligment) tulang belakang dan memungkinkan mobilitas vertebrae. antara lain : 7 buah tulang servikal. kecelakakan olah raga dan sebagainya yang dapat menyebabkan fraktur atau pergeseran satu atau lebih tulang vertebra sehingga mengakibatkan defisit neurologi (Sjamsuhidayat. Grade C Inkomlpit Gangguan fungsi motorik di bawah tingkat lesi dan mayoritas otot-otot penting dibawah tingkat lesi memiliki nilai kurang dari 3. Klasifikasi ini berdasarkan pada Frankel pada tahun 1969. 5 buah tulang sacral. Di dalam susunan tulang tersebut terangkai pula rangkaian syaraf-syaraf. disk. yang bila terjadi cedera di tulang belakang maka akan mempengaruhi syaraf-syaraf tersebut (Mansjoer. kecelakakan lalu lintas. vertebralis dan lumbalis akibat trauma . Grade E Normal Fungsi motorik dan sensorik normal. 12 buah tulang torakal. jatuh dari ketinggian. 2000). 2005 : 487). et al. Tulang vertebrae terdiri dari 33 tulang. Grade D Inkomlpit Gangguan fungsi motorik dibawah tingkat lesi dan meyoritas otot-otot penting memiliki nilai lebih dari 3. Pengertian Spinal Cord Injury Tulang belakang (vertebrae) adalah tulang yang memanjang dari leher sampai ke selangkangan. Skala kerusakan menurut ASIA/ IMSOP Grade A Komplit Tidak ada fungsi motorik/ sensorik yg diinervasi o/ segmen sakral 4-5 Grade B Inkomlpit Fungsi sensorik tapi bukan motorik dibawah tingkat lesi dan menjalar sampai segmen sakral (S4-5). B. Spinal Cord Injury (SCI) adalah cedera yang terjadi karena trauma sumsum tulang belakang atau tekanan pada sumsum tulang belakang karena kecelakaan yang dapat mengakibatkan kehilangan atau gangguan fungsi baik sementara atau permanen di motorik normal. .

Pemulihan fungsi ekstremitas bawah biasanya lebih cepat. yang mengindikasikan adanya edema. pada beberapa kasus dilaporkan disabilitas permanen yang unilateral. ekstremitas atas dan Dapat sering terjadi ekstremitas bawah jarang . Hal ini terutama disebabkan karena pusat cedera paling sering adalah setinggi VC4-VC5 dengan kerusakan paling hebat di medula spinalis C6 dengan ciri LMN. Gambaran khas Central Cord Syndrome adalah kelemahan yang lebih prominen pada ekstremitas atas dibanding ektremitas bawah. bagian yang paling menderita gaya trauma dapat mengalami nekrosis traumatika yang permanen. Mekanisme terjadinya cedera adalah akibat penjepitan medula spinalis oleh ligamentum flavum di posterior dan kompresi osteofit atau material diskus dari anterior. Sebagian kasus tidak ditandai oleh adanya kerusakan tulang. Sebagian besar kasus Central Cord Syndrome menunjukkan hipo/isointens pada T1 dan hiperintens pada T2. Edema yang ditimbulkan dapat meluas sampai 1-2 segmen di bawah dan di atas titik pusat cedera. sementara pada ekstremitas atas (terutama tangan dan jari) sangat sering dijumpai disabilitas neurologik permanent. Gambaran klinik dapat bervariasi. Pada Central Cord Syndrome.Terdapat 5 sindrom utama cedera medula spinalis inkomplet menurut American Spinal Cord Injury Association yaitu : (1) Central Cord Syndrome. (2) Anterior Cord Syndrome. Lee menambahkan lagi sebuah sindrom inkomplet yang sangat jarang terjadi yaitu Posterior Cord Syndrome. Sering terjadi pada individu di usia pertengahan dengan spondilosis cervicalis. (4) Cauda Equina Syndrome.Cedera umum medula spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan tidak komplet berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan di bawah lesi. terutama pada vertebra C4-C6. Bagian medula spinalis yang paling rentan adalah bagian dengan vaskularisasi yang paling banyak yaitu bagian sentral. Predileksi lesi yang paling sering adalah medula spinalis segmen servikal. (3) Brown Sequard Syndrome. Nama Sindroma Central cord syndrome Pola dari lesi saraf Kerusakan ke daerah Cedera pada posisi Menyebar sentral dan sebagian sacral. Kelemahan otot pada daerah lateral. dan (5) Conus Medullaris Syndrome. Central Cord Syndrome (CCS) biasanya terjadi setelah cedera hiperekstensi.

funsgsi sensorik anterior dari daerah motorik putih dan abu. Cedera Fleksi Cedera fleksi menyebabkan beban regangan pada ligamentum posterior. Holdsworth membuat klasifikasi Spinal Cord Injury (SCI) sebagai berikut : 1. putih dan abu. Cedera semacam ini dikategorikan sebagai cedera yang stabil. Cedera Fleksi-Rotasi Beban fleksi-rotasi akan menimbulkan cedera pada ligamentum posterior dan kadang juga terdapat pada prosesus artikularis.abu Funsgis medulla spinalis terganggu motor juga Cauda syndrome equine Kerusakan pada saraf Kerusakan sensori dan lumbal atau sacral lumpuh flaccid pada samapi ujung medulla ekstremitas bawah dan spinalis kontrol defekasi. medulla spinalis Posterior syndrome cord Kerusakan pada Kerusakan proprioseptiv anterior dari daerah diskriminasi dan getaran.Sequard Syndrome Anterior dan posterior Kehilangan hemisection dari proprioseptiv ipsilateral dan fungsi medulla spinalis atau kehilangan cedera menghasilkan medulla unilateral Anterior cord syndrome Kerusakan pada Kehilangan dan spinalis akan motorik.abu secara komplit. selanjutnya akan mengakibatkan terjadinya dislokasi . dan selanjutnya dapat menimbulkan kompresi pada bagian anterior korpus vertebra dan mengakibatkan wedge fracture (teardrop fracture). berkemih dan Sedangkan secara lebih spesifik lagi.pada daerah servikal terjadi pada ekstremitas bawah Brown. 2.

Fleksi ke Lateral dan Ekstensi Cedera ini jarang ditemukan pada daerah torakolumbal. sehingga salah satu vertebra bergeser. 3. Terapi untuk kenyamanan pasien dapat diberikan berupa analgetik dan korset. 5. korset. dislokasifraktur (slice injury). Cedera ini stabil. Sedangkan cedera yang tidak stabil mencakup cedera fleksi-dislokasi. . maka cedera ini masih tergolong stabil. dan defisit neurologik tidak terjadi. fleksi-rotasi. Cedera ini menimbulkan rasa sakit. Ketidaknyamanan yang berkepanjangan tidak lazim ditemukan. dan penatalaksanaannya terdiri atas perawatan di rumah sakit selama beberapa hari istirahat total di tempat tidur dan observasi terhadap paralitik ileus sekunder terhadap keterlibatan ganglia simpatik. Cedera ini merupakan cedera yang paling tidak stabil. dan defisit neurologik jarang. Biasanya terjadi pada daerah leher. istirahat ditempat tidur selama beberapa hari. analgetik. Cedera robek langsung (direct shearing) biasanya terjadi di daerah torakal dan disebabkan oleh pukulan langsung pada punggung. Kelly dan Whitesides mengkategorikan cedera spinal menjadi cedera stabil dan cedera non-stabil. Berdasarkan sifat kondisi fraktur yang terjadi. 6. Selama kolum vertebra dalam posisi fleksi. Cedera stabil mencakup cedera kompresi korpus vertebra baik anterior atau lateral dan burst fracture derajat ringan. fraktur prosesus artikularis serta ruptur ligamen. brace atau gips dalam ekstensi dianjurkan. Kompresi Vertikal Tenaga aksial mengakibatkan kompresi aksial yang terdiri dari 2 jenis : (1) protrusi diskuske dalam lempeng akhir vertebral. Cedera Ekstensi Cedera ekstensi biasanya merusak ligamentum longitudinalis anterior dan menimbulkan herniasi diskus. Ini merupakan fraktura yang stabil. (2) fraktura ledakan. Terapi yang dapat diberikan berupa analgetik. Yang pertama terjadi pada pasien muda dengan protrusi nukleus melalui lempeng akhir vertebra kedalam tulang berpori yang lunak. 4. dan ambulasi dini diperlukan. Kerusakan neurologik tidak lazim ditemukan. Jika tidak. Cedera Stabil Fleksi Cedera fleksi akibat fraktura kompresi baji dari vertebra torakolumbal umum ditemukan dan stabil. Jika baji lebih besar daripada 50 persen.fraktur rotasional yang dihubungkan dengan slice fracture korpus vertebra. dan korset untuk beberapa minggu. Cedera kompresi vertical mengakibatkan pembebanan pada korpus vertebra dan dapat menimbulkan burst fracture. dan burst fracture hebat.

Stabilisasi dengan batang kawat. Terdapat 31 pasang syaraf spinal: a. CT-Scan memberikan informasi radiologik yang lebih pada cedera. Fraktura “Potong” Vertebra dapat tergeser ke arah anteroposterior atau lateral akibat trauma parah. Terjadi pemisahan horizontal. 8 pasang syaraf servikal. di L1 melonjong dan agak melebar yang disebut conus terminalis atau conus medullaris. 7. Karena cedera ini sangat tidak stabil. Pedikel atau prosesus artikularis biasanya patah. 9. plat atau graft tulang penting untuk mencegah ketidakstabilan setelah dekompresi. Terbentang dari foramen magnum sampai dengan L1. Terbentang dibawah conus terminalis serabut-serabut bukan syaraf yang disebut filum terminale yang merupakan jaringan ikat. Fraktura iniditangani seperti pada cedera fleksi-rotasi. mengakibatkan paraplegia lengkap. Stabilisasi bedah direkomendasikan. jarang terjadi gangguan neurologi karena ruang bebas yang luas pada kanalis neuralis lumbalis.Meskipun fraktura ”ledakan” agak stabil. Anatomi Fisiologi Spinal Cord (Medula Spinalis) Spinal Cord atau Medulla Spinalis merupakan bagian dari Susunan Syaraf Pusat. Meskipun fraktura ini sangat tidak stabil pada daerah lumbal. Jika cedera terjadi pada daerah toraks. pasien ditangani dengan istirahat di tempat tidur sampai gejala-gejala akut menghilang. lateral atau posterior. pasien harus ditangani dengan hati-hati untuk melindungi medula spinalis dan radiks. Cedera Fleksi-Rotasi Change fracture terjadi akibat tenaga distraksi seperti pada cedera sabuk pengaman. C. fragmen harus dipindahkan dari kanalisneuralis. Direkomendasikan juga untuk menggunakan brace atau jaket gips untuk menyokong vertebra yang dapat digunakan selama 3 atau 4 bulan. Jika ada keterlibatan neurologik. 8. Cedera Tidak Stabil Rotasi-Fleksi Kombinasi dari fleksi dan rotasi dapat mengakibatkan fraktura dislokasi dengan vertebra yang sangat tidak stabil. Setelah radiografik yang akurat didapatkan (terutama CTScan). dan fraktura biasanya tidak stabil. . Pendekatan bisa dari anterior. Fraktura dislokasi ini paling sering terjadi pada daerah transisional T10 sampai L1 dan berhubungan dengan insiden yang tinggi dari gangguan neurologik. Jika tidak ada keterlibatan neurologik. dekompresi dengan memindahkan unsur yang tergeser dan stabilisasi spinal menggunakan berbagai alat metalik diindikasikan. keterlibatan neurologik dapat terjadikarena masuknya fragmen ke dalam kanalis spinalis.

Radiks dari segmen C1 sampai C7. 5 Pasang syaraf Sakral . 5 Pasang syaraf Lumbal. Sebelum usia 3 bulan. kolumna tumbuh lebih cepat daripada medula. Pada orang dewasa. Antara C4 dan T1. Di bawah tingkat ini. Harus terjadi hilangnya beberapa radiks yang berdekatan supaya dapat timbul . Karena bagian servikalis mempunyai satu segmen lebih daripada vertebra servikalis. Medula spinalis berakhir kira-kira pada tingkat diskus intervertebralis antara vertebra lumbalis pertama dan kedua. segmen medula spinalis. Pembentukan pleksus-pleksus ini menyebabkan serat-serat dari setiap pasang radiks bercabang menjadi saraf-saraf perifer yang berbeda. radiks segmen ke-8 meninggalkan kanalis melalui foramina yang terletak antara vertebra servikalis ke-7 dan torasikus ke-1. dengan kata lain. disebut dermatom atau daerah dermatomik. conus terminalis dapat mencapai sampai tingkat vertebra lumbalis ke-3. setiap saraf perifer dibuat dari serat beberapa radiks segmental yang berdekatan. medula spinalis lebih pendek daripada kolumna spinalis. c. mempersarafi ekstrimitas atas. serat saraf aferen berasal dari satu radiks dorsalis yang bergabung dan mensuplai daerah segmen tertentu dari kulit. Syaraf Spinal dilindungi oleh tulang vertebra dan ligamen dan juga oleh meningen spinal dan CSF. ditunjukkan oleh radiksnya. sehingga hilangnya satu radiks saja sulit untuk dideteksi. akhirnya terletak pada tingkat vertebra lumbalis ke-2. dan yang dari regio lumbo-sakral membentuk pleksus lumbosakralis. e. Dermatom berjumlah sebanyak radiks segmental. mempersarafi ekstrimitas bawah.b. Radiks tetap melekat pada foramina intervertebralis asalnya dan menjadi bertambah panjang ke arah akhir medula (conus terminalis). Setiap pasangan syaraf keluar melalui Intervertebral foramina. Dermatom-dermatom letaknya saling tumpang tindih satu sama lain. Setelah itu. Dari sini ke bawah. langsung menghadap ke vertebra yang bersangkutan. spasium subarakhnoid yang seperti kantong. 12 Pasang syaraf Torakal. Ke arah perifer dari saraf. d. hanya mengandung radiks posterior dan anterior yang membentuk cauda equina. radiks saraf meninggalkan kanalis melalui foramina yang lebih bawah. meninggalkan kanalis spinalis melalui foramina intervertebralis yang terletak pada sisi superior atau rostral setiap vertebra. Intumesensia servikalis dan lumbalis ini terjadi karena radiks dari separuh bawah bagian servikalis naik ke pleksus brakhialis. diameter medula spinalis membesar. dan juga antara L2 dan S3. Kadang-kadang. 1 pasang syaraf koksigeal Akar syaraf lumbal dan sakral terkumpul yang disebut dengan Cauda Equina.

Menurunkan bahu ke dorsoventral Saraf torakalis longus Fiksasi skapula selama mengangkat lengan Saraf skapularis dorsal Elevasi dan aduksi skapula ke arah kolumna spinalis Saraf supraskapularis Mengangkat dan eksorotasi lengan. koli profundi (M. sternokleidomastoideus. inspirasi Mm. pektoralis mayor dan minor C5-T1 C3-C5 . M. dan eksorotasi leher Otot Saraf Pleksus servikalis C1-C4 Mm. skaleni C3-C5 Saraf frenikus Inspirasi II. Dermatom berhubungan dengan berbagai segmen radiks medula spinalis. trapezius) Saraf servikalis C1-C4 Pengangkatan dada atas. rhomboidei C4-C5 M. infraspinatus C4-C6 M. Diafragma Pleksus brakhialis C5-T1 Saraf torakalis anterior Aduksi dan endorotasi lengan. Eksorotasi lengan pada sendi bahu Saraf torakalis dorsal Endorotasi sendi bahu. sehingga mempunyai nilai diagnostik yang besar dalam menentukan tingkat ketinggian dari kerusakan medula spinalis. rotasi.hilangnya sensorik dari karakter segmental. supraspinatus. Mm. ekstensi. C4-C6 M. latissimus dorsi. levator skapula. C5-C8 M. Fungsi dan Persarafan Otot Periferal dan Segemental Fungsi I. seratus anterior C5-C7 M. Fleksi. M.

brakhialis C5-C6 Saraf medianus Fleksi dan deviasi radial tangan. Fleksi lengan bawah M. korakobrakhialis. abduktor polisis brevis M. menurunkan lengan yang terangkat M. Fleksi jari II-V pada falangs tengah. teres major. subskapularis Saraf aksilaris Abduksi lengan ke garis horizontal. Abduksi metakarpal I. fleksor polisis brevis C7-T1 C7-T1 C7-T1 M. Elevasi dan aduksi lengan. Oposisi metakarpal I M. palmaris longus M. fleksor digitorum profundus (radial) M. C5-C6 M. C5-C7 M. oponens polisis brevis Mm.aduksi dari ventral ke dorsal. fleksor polisis longus C6-C8 C5-C6 C7-T1 C7-T1 M. Fleksi tangan. (dari daerah dorsal pleksus) M. teres minor C4-C5 Saraf muskulokutaneus Fleksi lengan atas dan bawah dan supinasi lengan bawah. Fleksi falangs distal jari II dan III tangan. Fleksi falangs distal ibu jari tangan. pronator teres M. Pronasi lengan bawah. Eksorotasi lengan M. Jari II dan III tangan C6-C7 Saraf medianus C8-T1 M. fleksor digitorum superfisialis M. Fleksi falangs proksimal ibu jari tangan. lumbrikalis Fleksi falangs proksimal dan ekstensi sendi lain. biseps brakhii. fleksor karpi radialis C5-C6 M. deltoideus C5-C6 .

meregangkan jari tangan III. abduktus digiti V M. dan V pada sendi tangan dan distal seperti juga gerakan membuka dan menutup jari-jari Saraf radialis Ekstensi siku. oponens digiti V C8-T1 C8-T1 C7-T1 C7-T1 M. Fleksi falangs proksimal jari tangan IV dan V. fleksor digitorum profundus (ulnar) M. Ekstensi falangs proksimal jari II-IV. Ekstensi siku dan abduksi radial tangan. fleksor karpi ulnaris C7-T1 Saraf ulnaris Fleksi jari V pada sendi metakarpofalangeal. Oposisi jari tangan V. interosei palmaris dan dorsalis Mm. Aduksi metakarpal I. fleksor digiti brevis V C7-T1 . Abduksi jari tangan V. ekstensor karpi ulnaris C6-C8 C6-C8 M. ekstensor karpi radialis M. lumbrikalis III dan IV C8-T1 M. Ekstensi falangs proksimal jari V. M. ekstensor digiti V M. IV. ankoneus M. M. biseps brakhii dan M. Pembengkokan falangs proksimal. brakhioradialis M.Saraf ulnaris Fleksi falangs proksimal dan ekstensi sendi lain Jari IV dan V tangan C8-T1 Saraf ulnaris Fleksi dan pembengkokan ke arah ulnar jari tangan. aduktor polisis M. ekstensor digitorum C6-C8 C6-C8 C5-C6 C6-C8 Mm. Fleksi siku.

toracis T1-L1 M. Pleksus sakralis L5-S1 M.Ekstensi dan deviasi ke arah ulnar dari tangan. aduktor magnus M. iliopsoas L1-L3 L2-L3 Mm. Pleksus lumbalis T12-L4 Saraf femoralis Fleksi dan endorotasi pinggul. Ekstensi tungkai bawah pada tungkai lutut Saraf obturatorius Aduksi paha M. Ekstensi falangs distal ibu jari. Supinasi lengan bawah. Fleksi dan endorotasi tungkai bawah. pektineus M. ekstensor indisis proprius C6-C8 M. abduktor polisis longus C5-C7 C6-C7 . quadriseps femoris M. Ekstensi ibu jari tangan pada falangs proksimal. supinator M. sartorius L2-L4 M. ekstensor polisis brevis C7-C8 M. III. grasilis Aduksi dan eksorotasi paha IV. anterofleksi dan laterofleksi tubuh. Ekstensi falangs proksimal jari II Elevasi iga. aduktor brevis M. obturator eksternus L2-L3 L2-L3 L2-L4 L3-L4 L2-L4 L3-L4 M. toracis dan abdominalis N. kompresi abdomen. aduktor longus M. ekspirasi. Abduksi metakarpal I: ekstensi radial dari tangan. ekstensor polisis longus C7-C8 M.

ekstensor digitorum profunda L4-L5 L4-S1 L4-S1 L4-S1 L4-S1 L4-S2 L5-S1 M. Ekstensi ibu jari kaki Ekstensi ibu jari kaki M. piriformis L5-S1 M. ekstensor halusis brevis Saraf peronealis Pengangkatan dan pronasi bagian luar kaki Mm. M. tibialis anterior M. biseps femoris M. ekstensor halusis longus M. abduksi dan endorotasi. obturator internus Mm. gluteus maksimus M. ekstensor digitorum brevis M. gluteus medius dan minimus M.Saraf glutealis Abduksi dan endorotasi paha. soleus Supinasi dan fleksi M. semitendinosus M. semimembranosus L4-S2 L4-S1 L4-S1 Saraf peronealis Dorsifleksi dan supinasi kaki. quadratus L4-S1 Saraf skiatikus Fleksi tungkai bawah M. gemeli M. triseps surae M. M. Eksorotasi paha M. gastroknemius M. peronei superfisialis L5-S1 Saraf tibialis Fleksi plantar dan kaki dalam supinasi. Fleksi tungkai atas pada pinggul. tibialis posterior L4-L5 L5-S2 . Ekstensi jari kaki II-V. Eksorotasi paha dan abduksi Saraf glutealis inferior Ekstensi paha pada pinggul. tensor fasia lata superior L4-S1 L4-L5 Ekstensi kaki dan jari-jari longus kaki.

Fleksi jari kaki II-V pada falangs tengah. Fleksi falangs distal ibu jari kaki. fleksor digitorum brevis L5-S2 S1-S3 M. Anterior cord syndrome. plantaris pedis S1-S3 M. dengan gejala : a. Central cord syndrome. dan fleksi falangs proksimal jari-jari kaki Saraf pudendalis Menutup sfingter kandung kemih dan rectum Otot-otot perinealis dan sfingter S2-S4 Mm. menutup. Melebarkan. para / tetraplegia b.plantar dari kaki Fleksi falangs distal jari kaki II-V (plantar fleksi kaki dalam supinasi). dan dapat bibedakan menjadi 4 kelompok yaitu : 1. dissociated sensory loss : gangguan rasa nyeri dan raba namun sensasi kinestesi tetap ada 2. Gejala dan Penyebab Spinal Cord Injury Cedera medula spinalis mempunyai gambaran klinik yang berbeda-beda tergantung letak lesi dan luasnya. fleksor halusis longus M. fleksor digitorum longus L5-S2 D. dengan gejala : .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->