Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH FARMAKOLOGI

Antiseptik Saluran Kemih


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmakologi

Di susun oleh :
Kelompok 10 Heny Krisbianti Lintang Mareta Riska Triana Mustofa Syahrul Akbar Afriansyah Titis Wahyu Widyawati (P27820112029) (P27820112051) (P27820112040) (P27820112021) (P27820112118)

Tingkat 1 / Non Reguler KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA

PRODI D III KEPERAWATAN KAMPUS SOETOMO SURABAYA 2012-2013


1

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunianya-Nya sehingga dapat terselesaikannya Makalah Farmakologi dengan judul Antiseptik Saluran Kemih sebagai salah satu untuk melaksanakan tugas Farmakologi. Dalam menyusun Makalah Farmakologi ini,tidak luput dari kesulitan dan hambatan. Namun berkat bimbingan pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak maka Makalah ini dapat terselesaikan. Oleh sebab itu kami menyampaikan terima kasih kepada : 1. Ibu Kionarni, selaku dosen pembimbing mata kuliah Farmakologi. 2. Semua responden yang telah membantu dalam menyelesaikan Makalah ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik. 3. Kedua orang tuaku dan keluarga besarku atas segala doa, pengorbanan dan jerih payahnya dalam mengasuh, mendidik dan memberikan dukungan moril maupun material yang tiada ternilai. 4. Teman-teman seangkatan yang telah membantu serta memberikan dukungan dalam menyelesaikan Makalah ini. 5. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyusunan Makalah ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang telah diberikan dan semoga Makalah ini berguna bagi diri kami sendiri maupun pihak lain yang memanfaatkan.

Surabaya, 22 Maret 2013

Penyusun
2

DAFTAR ISI
Halaman Judul................................................................................................................ i Kata Pengantar............................................................................................................... ii Daftar Isi.......................................................................................................................... iii BAB I. PENDAHULUAN.............................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang..............................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah........................................................................................ 1 1.3 Tujuan.......................................................................................................... 2 1.4 Manfaat........................................................................................................ 2 BAB II. PEMBAHASAN................................................................................................ 3 2.1 Pengertian Antiseptik................................................................................... 3 2.2 Pengertian Antiseptik Saluran Kemih.......................................................... 3 2.3 Macam-macam antiseptik Saluran Kemih................................................... 3 2.4 Interaksi Obat-obat....................................................................................... 12 BAB III. PENUTUP........................................................................................................ 13 3.1 Kesimpulan................................................................................................... 13 3.2 Saran............................................................................................................. 13 DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Infeksi saluran kemih sering berupa sistisis dan pielonefritis akut, terutama pada wanita subur dan manula. Infeksi saluran kemih lebih sering terjadi pada wanita, salah satu penyebabnya karena uretra wanita lebih pendek sehingga bakteri kontaminan lebih mudah masuk ke kandung kemih. Faktor lain adalah kecenderungan wanita menahan miksi, serta iritasi kulit lubang uretra pada waktu berhubungan kelamin. Uterus pada kelamin juga dapat menghambat aliran urine pada keadaan tertentu. Infeksi inilah yang sering ditemukan para dokter di puskesmas. Kuman pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi saluran kemih adalah E. Coli (kira-kira 80% dari infeksi saluran kemih bagian atas dan bagian bawah tanpa komplikasi), kuman-kuman Staphylococcus, Klebsiella pneumonia dan Proteus Mirabilis. Infeksi saluran kemih ini dapat diobati dengan golongan obat yang kadarnya tinggi di saluran kemih, dan disebut sebagai antiseptik saluran kemih. Dalam hal ini sebagai seorang perawat harus mengerti, memahami dan harus tahu tentang infeksi saluran kemih serta segala obat infeksi saluran kemih. Perawat juga harus memahami kerja obat dan efek samping yang di timbulkan oleh obat tersebut dengan tepat, memantu respon klien dan membantu klien menggunakan dengan benar dan berdasarkan pengatahuan.

1.2

Rumusan Masalah 1) Apa yang dimaksud dengan Antiseptik saluran kemih? 2) Apa saja yang termasuk macam-macam obat Antiseptik saluran kemih?

1.3

Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum Adapun penulis menyusun makalah ini bertujuan untuk

memperoleh pengetahuan tentang implikasi proses keperawatan dalam pemberian obat sistem perkemihan. 1.3.2 Tujuan Khusus 1) Mengetahui berbagai jenis obat yang digunakan dalam sistem perkemihan. 2) Mengetahui jenis klasifikasi obat-obat sistem perkemihan. 3) Mengetahui dosis yang benar dalam pemberian obat sistem perkemihan. 4) Mengetahui efek samping pemberian obat sistem perkemihan. 5) Mengetahui implementasi keperawatan dalam penggunaan obat pada sistem perkemihan.

1.4

Manfaat Diharapkan mendatangkan manfaat berupa penambahan

pengetahuan serta wawasan kepada pembaca tentang antiseptic saluran kemih, dan dapat di gunakan sebagai penunjang proses belajar mengajar khususnya untuk mahasiswa jurusan keperawatan.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Antiseptik Antiseptik merupakan agen kimia yang mencegah, memperlambat atau menghentikan pertumbuhan mikro-organisme (kuman) pada permukaan luar tubuh dan membantu mencegah infeksi. Beberapa antiseptik mampu membunuh kuman (bakteriosida), sedangkan yang lain hanya mencegah atau menghambat pertumbuhan mereka (bakteriostatik).

2.2

Pengertian Antiseptik Saluran Kemih Antiseptik saluran kemih adalah obat antimikroba dengan sifat mempunyai kadar yang cukup tinggi pada saluran kemih saja sehingga bekerja secara lokal. Antiseptik saluran kemih bekerja pada tubulus ginjal dan kandung kemih, sehingga efektif dalam mengurangi pertumbuhan bakteri. Untuk infeksi akut saluran kemih yang disertai tanda-tanda sistemik seperti demam, menggigil, hipotensi dan lain-lain, obat antispetik saluran kemih tidak dapat digunakan karena pada keadaan tersebut diperlukan obat dengan kadar efektif dalam plasma. Antiseptik saluran kemih terbatas hanya untuk pengobatan infeksi saluran kemih. Obat bekerja pada tubulus ginjal dan kandung kemih, sehingga efektif dalam mengurangi pertumbuhan bakteri. Urinalis dan pembiakan serta tes sensitifitas biasanya dilakukan sebelum

dimulainya terapi obat.

2.3

Macam-macam Antiseptik Saluran Kemih Kelompok antiseptik saluran kemih adalah nitrofurantoin,

metenamin, quinolon, dan trimetoprim.

2.3.1

Nitrofurantoin Nitrofurantoin (Furadantin, Macrodantin) pertama kali diresepkan untuk ISK pada tahun 1953. Nitrofurantoin

merupakan bakteriostatik atau bakterisida, tergantung dari dosis obat, dan efektif untuk melawan banyak organisme gram positif dan gram negatif, terutama terhadap E. coli. Obat ini dipakai untuk pengobatan ISK akut dan kronik. Pada fungsi

ginjal yang normal, obat akan cepat dieliminasi karena waktu paruhnya yang singkat yaitu 20 menit; tetapi obat ini dapat menumpuk pada serum jika terjadi gangguan saluran

kemih. Pseudomonas aeruginosa resisten terhadap nitrofurantoin, tetapi pada populasi mutan resisten yang peka terhadap

nitrofurantoin jarang ada. Resistensi klinis muncul secara lambat. Tidak ada restisten silang di antara nitrofurantoin dan obat antimikroba lain. Mekanisme kerja nitrofurantoin tidak diketahui, diduga obat ini menghamabat sistem enzim bakteria termasuk siklus asam trikarboksilat. Aktivitas nitrofurantoin sangat diperkuat pada pH 5,5 atau kurang. 2.3.1.1 Farmakokinetik Nitrofurantoin diabsorbsi dengan baik setelah ditelan tetapi dengan cepat dimetabolisme dan diekskresikan sehingga tidak memungkinkan kerja

dengan cepat

antibakteri sistemik. Di dalam ginjal, obat ini di ekskresikan ke dalam urin baik dengan filtrasi

glomerulus maupun dengan sekresi tubulus. Dengan dosis harian rata-rata, konsentrasi /mL dicapai di

dalam urin. Pada gagal ginjal, kadar di dalam urin tidak cukup untuk kerja antibakteri, tetapi kadar dalam darah yang tinggi dapat menyebabkan keracunan. Nitrofurantoin memberikan warna coklat pada urin.
7

2.3.1.2

Indikasi Klinik Obat ini adalah salah satu alternatif untuk pengobatan infeksi saluran kemih bawah tanpa komplikasi dan pencegahan rekurens infeksi saluran kemih bawah.

2.3.1.3

Penggunaan Klinik Dosis harian rata-rata untuk infeksi saluran kemih pada orang dewasa ialah 100 mg per oral 4 kali sehari yang dimakan bersama makanan atau susu. Nitrofurantoin tidak boleh diberikan kepada pasien infusiensi ginjal yang berat. Nitrofurantoin diberikan kronis berbulan-bulan untuk saluran kemih. Lebih menekan disukai dapat infeksi untuk

mempertahankan pH urin di bawah 5,5. Dosis tunggal harian nitrofurantoin, 100 mg, dapat mencegah

kekambuhan infeksi saluran kemih pada wanita. Nitrofuran lain, furazolidon 400 mg/hari per oral (5-8 mg/kg/hari) pada anak-anak dapat mengurangi diare karena kolera dan mungkin memperpendek ekskresi vibrio. Obat ini biasanya tidak berhasil untuk shigelosis. 2.3.1.4 Efek Samping 1) Toksisitas muntah sering) Langsung merupakan nitrofurantoin. : Anoreksia, mual dan

efek samping utama (dan Neuropati dan anemia

hemolitik terjadi pada individu dengan defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase. Nitrofurantoin

mengantagonis efek asam nalidiksat. 2) Reaksi Alergi : Berbagai rash pada kulit, infiltrasi ke paru-paru, dan reaksi hipersensitif lain. 2.3.1.5 Interaksi Obat Nitrofurantoin berinteraksi pada antasida terutama yang
8

mengandung Mg trisilikat dapat menurunkan absorbsi obat ini. Obat ini mengantagonis asam nalidiksat dan oksolinat. Kadar serum fenitoin menurun bila diberikan bersamaan dengan obat ini. 2.3.1.6 Sediaan dan Dosis Nitrofurantoin tersedia dalam bentuk tablet dan kapsul 50 mg, 100 mg, serta suspensi. Dosis dewasa : 3-4x sehari 50 mg/hari. Anak-anak 2.3.2 Metenamin Metenamin (Mandelamine, Hiprex) menimbulkan efek bakterisida jika pH urin kurang d 5,5. Obat ini tersedia dalam bentuk garam mandelat (masa kerja singkat) dan sebagai garam hipurant. Metenamin efektif dalam melawan organisme gram positif dan gram negatif, terutama E Coli dan Pseudomonas aeruginosa. Obat ini dipakai untuk infeksi saluran kemih kronik. Obat ini cepat diabsorpsi melalui saluran : 5-7 mg/kg/BB/hari dibagi 4 dosis.

gastrointestinal, dan sekitar 90% dari obat ini diekskresi tanpa mengalami perubahan. Metenamin membentuk amonia dan formaldehida dalam urin yang asam; oleh karena itu, urin perlu diasamkan untuk menghasilkan efek bakterisida. Sari buah cranberry (beberapa gelas ukuran delapan ounce perhari), asam askorbat, dan amonium klorida dapat diapakai untuk menurunkan pH urin. 2.3.2.1 Farmakokinetik Metenamin dan garamnya diabsorbsi secara tepat disaluran cerna setelah pemberian secara oral, dan 1030% dari dosis yang diberikan dihidrolisis oleh asam lambung sehingga obat ini sebaiknya diberikan dalam bentuk salut enterik. Meskipun obat ini didistribusikan ke seluruh cairan tubuh termasuk sel darah merah,
9

cairan serebrospinalis dan sinovial, serta pleura, tetapi obat ini tidak menunjukkan aktivitas antibakteri

karena formaldehid tidak terbentuk pada pH fisiologis. Lebih dari 90% obat ini diekskresikan kedalam urin dan lebih dari 20% nya dihirdolisis menjadi formaldehid bebas. 2.3.2.2 Indikasi Obat ini digunakan untuk profilaksis infeksi saluran kemih rekurens. Obat ini prostatitis dan neurogenik sangat bermanfaat pada bladder, dan terbentuk

residu urine karena waktunya cukup untuk membentuk formaldehid. 2.3.2.3 Efek Samping Metenamin dan garamnya cukup aman serta relatif ditoleransi dengan baik. Efek samping yang biasanya terjadi adalah gangguan saluran cerna yang meliputi mual, muntah, dan diare terutama bila dosis obat diberikan lebih dari 4x500 mg/hari, meskipun

diberikan dalam bentuk salut enterik. Dengan dosis besar juga, mungkin dapat menimbulkan iritasi

saluran kemih yang ditandai dengan disuria dan hematuria. Bila keluaran urin menurun, metenamin dapat menimbulkan kristaluria. Selain itu juga terdapat beberapa reaksi alergi terhadap zat warna pada Hiprex. 2.3.2.4 Interaksi Obat Obat-obat yang meningkatkan pH urin (seperti mencegah

asetazolamid

dan natrium

bikarbonat)

hidrolisis metamin menjadi formaldehid. Metenamin tidak boleh diberikan bersamaan dengan golongan sulfa karena akan meningkatkan terjadinya kristaluria.
10

2.3.2.5

Sediaan dan Dosis Obat ini tersedia dalam bentuk tablet 500 mg dan 1 g serta suspensi. Metenamin Mandelat Dewasa : 4x1 gr/hari setelah makan Metenamin Hipurat Dewasa dan anak > 12 tahun : 2x1 gr/hari Anak 6-12 tahun : 2x500 mg/hari atau 25-50 mg/kg BB/hari dibagi dalam 2 dosis

Anak 6-12 tahun : 4x500 mg/hari Anak < 6 tahun : 18,3 mg/kg BB/hari dibagi dalam 4 dosis

2.3.3

Quinolon Quinolon merupakan salah satu dan kelompok

antiseptik saluran kemih terbaru dan efektif dalam melawan ISK bagian bawah. Asam nalidiksat (NegGram) dikembangkan pada tahun 1964, dan sinoksasin (Cinobac), norfloksasin (Noroxin), dan siprofloksasin hidroklorida (Cipro) dipasarkan pada tahun 1980an. Quinolon terbaru (sinoksasin, norfioksasin, dan siprofloksasin) efektif dalam melawan banyak macam ISK. Dosis obat harus diturunkan jika terdapat disfungsi ginjal. Waktu paruh dari obat-obat iniadalah 2-4 jam tetapi menjadi lebih lama jika terdapat disfungsi ginjal. 2.3.3.1 Farmakokinetik Sinoksasin diabsorpsi dengan baik dan saluran

gastrointestinal, dan 35% dari norfloksasin diabsorpsi dari saluran gastrointestinal. Sinoksasin tinggi

berikatan dengan protein, tetapi norfloksasin hanya 10-15% yang berikatan dengan protein. Waktu paruh dari ke dua obat ini adalah singkat; obat-obat ini biasanya diberikan dua kali sehari. Baik sinoksasin
11

maupun

norfloksasin diekskresi sebagai metabolit

tanpa mengalami perubahan ke dalam urin. Selain itu sebagian dari metabolit norfloksasin diekskresikan ke dalam feses. 2.3.3.2 Farmakodinamik Sinoksasin sintesis DNA dan norfloksasin menghambat

bakteri. Norfloksasin merupakan obat

antibakterial saluran kemih yang kuat dan efektif untuk melawan negatif, Sinoksasin mikroorganisme gram positif dan gram termasuk juga Pseudomonas dalam aeruginosa. banyak

efektif

melawan

organisme yang sama. Mula kerja dari kedua obat ini tidah

diketahui. Waktu untuk mencapai konsentrasi puncak dari kedua obat ini adalah sama, 1-2 jam. Lama kerja sinoksasin norfloksasin tidak adalah 10-12 diketahui. jam tetapi untuk

Antasid mengurangi

absorpsi obat- obat ini. Probenesid memperpanjang kerja sinoksasin dan norfloksasin. dari Obat-Obat ini

mempengaruhi

hasil

beberapa

pemeriksaan

Iaboratorium, mungkin menyebabkan peningkatan BUN, kreatinin serum, alkali fosfatase serum, SGOT dan SGPT serum. 2.3.3.3 Efek Samping Pemakaian asam nalidiksat dapat menimbulkan efek samping berikut: sakit kepala, pusing, sinkope

(pingsan), neuritis penifer, gangguan penglihatan, dan ruam kulit. Mual, muntah, diare, sakit kepala, dan gangguan penglihatan dapat terjadi pada pemakaian sinoksasin dan norfloksasin.
12

2.3.4

Trimetoprim Trimetoprim (Proloprim, Trimpex) dapat dipakai tersendiri untuk pengobatan ISK atau dalam kombinasi dengan sulfonamid, sulfametoksazol (preparat kombinasi mi secara generik dikenal sebagai ko-trimoksazol), untuk mencegah terjadinya organisme yang resisten terhadap trimetoprim. Obat ini menghasilkan efek bakterisidal dengan hampir semua organisme masa kerja lambat untuk melawan gram positif dan gram negatif.

Trimetoprim dipakai untuk pengobatan dan pencegahan ISK akut dan kronik. Jumlah trimetropim dalam cairan prostat adalah kirakira dua sampai tiga kali lebih besar dari jumlahnya dalam cairan vaskular. Dalam keadaan normal waktu paruh dari trimetoprim adalah 9-11 jam; waktu paruhrya akan lebih panjang jika terdapat disfungsi ginjal. 2.3.4.1 Farmakokinetik Absorbsi melalui saluran cerna cepat dan lengkap, kadar puncak plasma dicapai dalam waktu 2 jam dan waktu paruh 11 jam. Distribusi cepat ke seluruh jaringan termasuk SSP, saliva dan empedu yang kadarnya cukup tinggi. 2.3.4.2 Efek Samping Efek sampingnya yaitu seperti terutama mual dan ruam kulit lebih gejala-gejala muntah; dan dan

gastrointestinal, masalah kulit,

pruritus. yang

Untuk menghindari

resistensi

lanjut

semakin sering terjadi, sebaiknya jangan digunakan sebagai obat pencegah. Resistensi dari kuman

uropatogen terhadap trimetoprim sudah meningkat. 2.3.4.3 Dosis Dosis, setiap malam 300 mg selama 3-7 hari atau 2 dd 200 mg. Untuk anak-anak 5-12 tahun: 2 dd 3 mg/kg BB.
13

Tabel. Memuat daftar antiseptik saluran kemih, dosis, pemakaian, dan pertimbangan pemakaiannya.

OBAT Nitrofurantoin (Furadantin, Macrodantin)

DOSIS D: PO: 50-100 mg. q.i.d (4 kali sehari)., p.c (setelah makan)

PEMAKAIAN DAN PERTIMBANGAN Untuk ISK akut dan kronik. Klirens kreatinin yang normal menjamin efektifitas obat. Neuropati perifer merupakan efek yang merugikan. Dapat menimbulkan iritasi gastrointestinal. Dipakai bersama makanan dapat mengurangi rasa tidak enak pada gastrointestinal. Untuk ISK kronik. pH urin harus asam (<5,5). Tidak boleh dipakai bersama sulfonamid. Dapat menyebabkan kristaluria, sehingga perlu banyak minum. Dapat menimbulkan iritasi gastrointestinal, sehingga obat perlu dipakai bersama makanan. Untuk pencegahan dan pengobatan ISK akut dan kronik baik pada pria maupun pada wanita. Dosis tinggi dapat menimbulkan rasa tidak enak pada gastrointestinal. Obat dapat dikombinasi dengan sulfametoksazol (Bactrim). Untuk ISK akut dan kronik. Resistensi obat dapat terjadi. Tinggi berikatan dengan protein. Tidak didistribusikan ke dalam cairan prostat.

Metenamin (Mandelamine)

D: PO: 1 g, setiap 12 jam untuk garam hipurat, atau q.i.d. untuk garam mandelat.

Trimetropim (Protoprim,Trimpex)

D: PO: 100 mg, setiap 12 jam.

Quinolon Asam nalidiksat (NegGram)

D: PO: 1 g, q.i.d., selama 1-2 minggu, 1 g, b.i.d (2 kali sehari), untuk pemakaian jangka panjang. A: PO: 55 mg/kg/hari dalam dosis terbagi 4 selama 1-2 minggu; 33 mg/kg/hari untuk pemakaian jangka panjang.

14

Sinoksasin (Cinobac)

D: PO: 1 g/hari, dalam dosis terbagi 2-4 selama 12 minggu.

Untuk ISK akut dan kronik. Lebih efektif daripada asam nalidiksat. Diabsorbsi ke dalam jaringan prostat.

Norfloksasin (Noroxin)

D: PO: 400 mg, b.i.d., selama Untuk ISK akut dan kronik. Merupakan 1-2 minggu. obat yang paling kuat dari kelompok quinolon. Makanan dapat menghambat absorbsi obat. D: PO: 250-500 mg, setiap 12 jam, infeksi berat; 500750 mg, setiap 12 jam. Mempunyai efek antibakterial spektrum luas. Untuk ISK, infeksi kulit dan jaringan lunak, serta infeksi tulang dan sendi. Antasid menghambat absorbsi obat.

Siprodoksasin (Cipro)

2.4

Interaksi Obat-Obat Interaksi obat-obat berikut ini dapat terjadi : 1) Asam nalidiksat meningkatkan efek warfarin (Coumadin). Warfarin (Coumadin) merupakan pengencer darah yang mencegah pembentukan gumpalan-gumpalan darah. 2) 3) Antasid mengurangi absorbsi nitrofurantoin. Kebanyakan dari antiseptic saluran kemih menyebabkan hasil positif palsu pada pemeriksaan Clinitest (pemeriksaan kadar gula dalam tinja). 4) 5) Natrium bikarbonat menghambat kerja metenamin. Metenamin yang dipakai bersama sulfonamida meningkatkan risiko terbentuknya kristaluria (keadaan dimana urine mengandung Kristalkristal).

15

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan Penggunaan obat tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus ada serangkaian pemeriksaan sebelum memutuskan memberikan obat kepada pasien. Juga harus ada pengecekan berulang kali sebelum memberikan obat kepada pasien sehingga dapat meminimalisir kemungkinan

terburuk yang akan terjadi apabila ceroboh dalam pemberian obat. Kepatuhan dalam pemberian obat terjadi apabila aturan pakai obat diresepkan serta pemberiannya di rumah sakit diikuti dengan benar. Sehingga sangat bijaksana jika perawat mau mengecek obat yang akan diberikan demi kesembuhan pasien. Cara pemberian obat pada klien yang menderita gangguan pada sistem perkemihan pun harus diperhatikan para perawat sebagaimana kita ketahui bahwa peran dari saluran perkemihan sangat penting dalam proses pengeluaran zat-at yang tidak digunakan oleh tubuh dan zat-zat yang mengandung toxic.

3.2

Saran Adapun saran dalam makalah yang telah kami susun ini ialah : 1) Sebaiknya tidak sembarangan atau mengira-ngira dalam

memberikan dosis obat kepada pasien. 2) Kaji penyakit pasien sebelum memberikan obat, dan berikan obat sesuai dengan tujuan pemberian.

16

DAFTAR PUSTAKA

Obat

Atiseptik

Saluran

Kemih,

(online),

(http://books.google.co.id/books?id=MVw2VCMXrEgC&pg=PA176&lpg=P A176&dq=antiseptik+saluran+kemih&source=bl&ots=N5_ku2CJks&sig=ZS y4FtKVJ7y4eW-74wfQZ9jyTo&hl=en&sa=X&ei=3HtMUaH_D9GJrAfyj4C4DQ&redir_esc=y#v= onepage&q=antiseptik%20saluran%20kemih&f=false), diakses 22 Maret 2013 Idris, Amril. Obat Saluran Perkemihan, (online),

(http://amrilaril.blogspot.com/2011/01/obat-saluran-perkemihan.html), diakses 22 Maret 2013 Katzung, Bertram G.1997. Farmakologi Dasar dan Klinik (Edisi VI). Jakarta : EGC.

17