Anda di halaman 1dari 167

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas perkenan dan ridhoNya, buku pedoman budidaya tanaman buahbuahan, tanaman sela, tanaman perkebunan dan kehutanan pada Program Penanganan Lahan Kritis dan Sumber Daya Air Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM) dapat diselesaikan dengan baik. Buku pedoman budidaya tanaman buah-buahan, tanaman sela, tanaman perkebunan dan kehutanan bertujuan untuk memberikan acuan bagi pengelola program di daerah dalam melaksanakan kegiatan budidaya tanaman sesuai dengan teknis usaha tani yang baik. Selain itu dapat digunakan bagi petani pelaksana program dalam melaksanakan usaha budidaya sesuai dengan kebutuhan sarana produksi pertanian, pemeliharaan dan penanganan pasca panen. Akhirnya dengan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam proses penyusunan buku pedoman budidaya tanaman buah-buahan, tanaman sela, tanaman perkebunan dan kehutanan, mudah-mudahan memberikan manfaat bagi semua pihak.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................I DAFTAR ISI ............................................................................................... II

PADI GOGO (Oryza spp) ......................................................................1 JAGUNG MANIS (Zea mays) ................................................................ 11 KACANG HIJAU (Vigna radiate L.) ..................................................... 19 KACANG TANAH (Arachis hypogeae L)............................................ 25 KEDELAI (Glycine max (L) Merril) ....................................................... 33 TALAS (Colocasia esculenta (L.) Schott) ..........................................47 UBI JALAR (Ipomoea batata (L.) Lamb.)............................................56 BUNGA MAWAR (Rosa hybrida) ......................................................... 66 BUNGA MELATI (Jasmine officinalle) ................................................ 76 CABAI MERAH (Capsicum annuum L.).............................................. 87 MELON (Cucumis melo L.) ................................................................... 102 SEMANGKA (Citrullus vulgaris) .......................................................... 112 STROBERI (Fragaria chiloensis. / F. vesca L.) ................................. 123 KACANG PNJANG (Vigna unguilata) ................................................. 132 JAHE (Zingiber officinale) .................................................................... 138 KAPULAGA (Elletria cardamomum) ................................................... 145 KUNYIT (Curcuma domestica Val) ...................................................... 150 LADA (Piper nigrum L) .......................................................................... 157

II

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

PADI GOGO (Oryza spp)

I. Pendahuluan Pada saat ini pengadaan pangan khususnya beras masih terfokus pada lahan sawah irigasi. Dengan semakin banyaknya lahan sawah irigasi subur yang terkonversi untuk kepentingan non pertanian dan pertambahan penduduk yang semakin meningkat, maka pengembangan lahan marjinal (lahan kering, sawah tadah hujan dan lahan kritis) perlu dikembangkan. Tanaman padi secara genetik merupakan tanaman semi aquatik. Dengan demikian sejak awal pertumbuhan tanaman padi dilahan kering telah dihadapkan pada lingkungan tumbuh yang tidak sesuai dengan sifat genetiknya. Budidaya tanaman padi pada lahan kering atau sering kita sebut dengan budidaya padi gogo . Pada sistem budidaya padi gogo seolah-olah kita anggap tanaman padi seperti tanaman palawija. Sehingga kebutuhan air dalam sistem ini sangatlah minim. Sistem budidaya padi gogo biasanya dilakukan pada tanah-tanah yang kering atau tanah tadah hujan. Kelebihan sistem tanam gogo dibanding sistem sawah diantaranya adalah penghematan tenaga kerja tanam, penghematan tenaga kerja pemeliharaan dan tentunya lebih menghemat waktu. Adapun kekurangan cara tanam gogo rancah adalah produksi yang dihasilkan tidak sebesar dengan sistem tanah sawah.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Tanaman padi gogo dapat tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 450 LU 450 LS. 2) Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman lada antara 19 - 270 C. 3) Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan selama 3 bulan berturut - turut. 4) Tanaman padi gogo memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. b. Ketinggian Tanaman padi gogo akan tumbuh dengan baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-1.500 m dpl. Di dataran rendah memerlukan ketinggian 0 - 650 m dpl dengan temperatur 22 - 270C sedangkan di dataran tinggi 650 - 1500 m dpl dengan temperature 19 - 230C. c. Tanah 1) Tanaman padi gogo dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, sehingga jenis tanah tidak begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasilnya. Sedangkan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil adalah sifat fisik, kimia dan biologi tanah. 2) Untuk pertumbuhan tanaman padi gogo yang baik diperlukan keseimbangan perbandingan penyusun tanah yaitu 45% bagian mineral, 5% bahan organic, 25% bagian air dan 25% bagian udara pada lapisan tanah setebal 0-30 cm. 3) Sruktur tanah yang cocok untuk tanaman padi gogo adalah struktur tanah yang remah. Tanah yang cocok bervariasi mulai dari yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan ketersediaan aiar cukup banyak. 4) Sebaiknya tanah tidak berbatu, jikapun ada batunya maka harus kurang dari 50%. 5) Keasaman tanah (pH) bervariasi antara 5,5 sampai 8,0. Pada tanah dengan pH lebih rendah pada umunya dijumpai gangguan kekahatan unsur P, keracunan Fe dan Al. Sedangkan bila pH lebih bsar dari 8,0 dapat mengalami kekahatan Zn.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

III. Budidaya a. Pemilihan Varietas Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan varietas padi gogo untuk diusahakan di suatu daerah antara lain adalah; 1) Kesesuaiannya terhadap lingkungan tumbuh (ketinggian tempat, iklim), 2) Umur tanaman yang erat kaitannya dengan curah hujan yang ada dan pola tanam, 3) Ketahanan terhadap hama dan penyakit, 4) Produktivitas. Adapun syarat benih yang baik adalah : 1) Tidak mengandung gabah hampa, potongan jerami, kerikil, tanah dan hama gudang. 2) Warna gabah sesuai aslinya dan cerah. 3) Bentuk gabah tidak berubah dan sesuai aslinya. 4) Daya perkecambahan >80%.

b. Pengolahan Lahan Pengolahan tanah untuk pertanaman padi gogo dimulai sebelum atau menjelang musim penghujan. Pengolahan tanah dilakukan sesuai kondisi lahan. Pada prinsipnya pengolahan tanah dilakukan untuk menciptakan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan tanaman, yaitu menciptakan keseimbangan antara padatan, aerasi dan kelembaban tanah. Ada lahan yang perlu pengolahan tanah sedikit (minimum tillage) atau bahkan tidak perlu pengolahan tanah (zerro tillage) seperti tanah podzolik merah Kuning di Sumatra yang memiliki tingkat kemiringan > 10%. Karena jika dilakukan pengolahan tanah justru akan merugikan disamping menambah biaya juga menyebabkan tanah lebih peka terhadap erosi sehingga kesuburannya menurun. Demikian pula hasil padi yang diperoleh antara sistem olah tanah sempurna dengan oleh tanah minimum tidak berbeda nyata, sehingga sistem olah tanah minimum lebih ekonomis. Cara pengolahan tanah adalah sebagai berikut: 1) Lahan dibersihkan dari tanaman penggangu dan rumput sambil memperbaiki pematang dan saluran drainase. 2) Tanah dibajak dua kali pada kedalaman 25-30 cm, tanah dibalik.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3) Pemupukan organik diberikan pada waktu pembajakan yang kedua sebanyak 20 ton/ha. 4) Untuk menghaluskan tanah, tanah digaru lalu diratakan. 5) Tanah dibiarkan sampai hujan turun. Dalam budidaya tanpa olah tanah untuk mengendalikan gulma digunakan herbisida. Sebelum aplikasi herbisida dilakukan, gulma (terutama alangalang) direbahkan atau dibakar terlebih dahulu, setelah tumbuh sekitar 60 cm (tidak sedang berbunga) baru diadakan penyemprotan. Takaran herbisida jenis Roundup antara 5-6 l/ha dengan pelarut air antara 200 - 800 l/ha. c. Penanaman 1) Waktu tanam secara tepat dengan memperhitungkan hujan karena akan menentukan keberhasilan padi gogo. 2) Penaman yang baik dilakukan setelah terdapat 1 2 kali hujan, awal musim penghujan (Oktober Nopember). Bahkan ada petani yang telah menebar benih pagi gogo sebelum hujan turun atau yang lebih dikenal dengan sistem Sawur tinggal. Sistem tanam sawur tinggal dapat dianjurkan pada daerah-daerah yang memiliki curah hujan sedikit (bulan basah antara 3 4 bulan) per tahun dan sulit mendapatkan tenaga kerja. 3) Penanaman dilakukan dengan cara tugal (4-5 biji/lubang). 4) Benih yang dibutuhkan adalah 40 kg/ha untuk monokultur. 5) Jarak tanam 40 x 15 cm atau 30 x 30 cm. 6) Lokasi baru yang banyak terdapat ulat grayak, uret, dan lalat bibit, benih perlu dicampur dengan insektisida butiran Furadan atau Dharmafur dengan takaran 2 kg/20 kg benih. 7) Penanaman padi gogo dapat dilakukan bersama tanaman lain. d. Pemupukan 1) Urea, SP36, dan KCl sesuai kesuburan tanah setempat. 2) Secara umum pupuk yang diperlukan untuk padi gogo adalah : 90 kg N/ha (200 kg urea/ha), 36 kg P2O5/ha (100 kg SP36/ha), 60 kg K2O/ha (100 kg KCl/ha). 3) Urea diberikan bagian pada saat tanaman berumur 14 hari setelah tugal bersama dengan keseluruhan takaran SP36 dan KCl. 4) Sisa urea diberikan saat tanaman berumur + 40 hari setelah tugal.
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

5) Pemberian pupuk disertai dengan penyiangan. 6) Seluruh pupuk diisikan dalam larikan yang dibuat sepanjang baris tanaman pada saat tanah dalam kondisi lembab, kemudian tutupkembali dengan tanah atau dengan cara tugal pada jarak + 5 cm dari lubang tanam sedalam 7 cm. e. Pemeliharaan 1) Penyulaman Penyulaman padi gogo dilakukan pada umur 1-3 minggu setelah tanam. 2) Penyiangan / Pengendalian Gulma Dilakukan secara mekanis dengan cangkul kecil, sabit atau dengan tangan waktu tanaman berumur 3-4 minggu dan 8 minggu. Gulma yang tumbuh pada pertanaman padi gogo di lahan kering dapat digolongkan menjadi golongan gulma berdaun lebar, golongan rumput dan golongan teki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akibat pengendalian gulma yang terlambat satu bulan dapat menurunkan hasil sampai 17% (Lamid, Z.1984). Pengendalian gulma dilakukan secara kultur teknis dan secara kimiawi dengan menggunakan dengan herbisida. Secara mekanis cangkul gulma atau dapat kored. dikendalikan menggunakan

Pelaksanaannya dilakukan pada saat tanaman berumur 14 28 hari dan 60 hst. Sedangkan untuk mengendalikan gulma secara kimiawi dengan herbisida, dapat mengikuti petunjuk dari hasil Penelitian Puslitbangtan Bogor tentang jenis herbisida yang dapat digunakan untuk pertanaman padi gogo seperti Satunil 60 EC, Ronstar 25 EC dan Gasafax 80 WP. 3) Pembubunan / Pendaringan Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan pertama dan 1-2 minggu sebelum muncul malai. 4) Pengendalian hama penyakit tanaman a) Hama Tanaman Padi Gogo 1. Hama lalat bibit Lalat bibit (Atherigona oryzae) termasuk hama penting pada padi gogo. Larva dari lalat ini menimbulkan kerusakan pada tanaman

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

muda. Larva menyerang anakan tanaman padi yang sedang tumbuh, sehingga anakan mati seperti terserang sundep. Anakan yang dapat bertahan daunnya cacat dan mudah sobek dan pada umumnya tanaman yang terserang hama ini dapat sembuh, tetapi akan terlambat masak sekitar 7 10 hari. Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan penanaman padi gogo pada awal musim hujan. Penggunaan varietas yang tahan seperti Arias, Seratus Malam Danau atas juga dapat dilakukan. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan seed treatment menggunakan Larvin 75 WP atau Marshall 25 ST. Sedangkan setelah tanaman berumur 7 hari dapat dilakukan penyemprotan dengan Dekasulfan 350 EC. 2. Hama lundi Hama lundi (Phillophaga helleri) atau lebih dikenal dengan hama uret termasuk hama penting pada pertanaman padi gogo. Stadia yang merusak dari hama lundi adalah larvanya. Untuk hidupnya, hama ini membutuhkan kelembaban tanah yang tinggi. Disamping itu hama lundi menyukai tanaman yang berakar serabut. Pemakaian bahan organik juga dapat mendorong hama lundi, karena larva yang baru menetas akan makan bahan organik yang ada di dalam tanah. Tanaman padi yang terserang menjadi kerdil dan kayu. Pengendalian hama lundi secara kultur teknis dapat dilakukan dengan penundaan pengolahan tanah sampai kumbang dewasa selesai bertelur, yaitu kira-kira terjadi setelah 3 minggu turun hujan. Dengan pengolahan tanah yang dalam, telur dan larva akan terangkat ke permukaan tanah sehingga dapat dirusak oleh sinar matahari atau musuh alaminya. Insektisida yang efektif untuk hama lundi adalah Furadan atau Dharmafur 3 G yang diberikan dekat alur tanaman pada saat tanam dengan dosis 10 kg/ha. 3. Hama wereng coklat Wereng penyerang batang padi: wereng padi coklat (Nilaparvata lugens), wereng padi berpunggung putih (Sogatella furcifera). Merusak dengan cara mengisap cairan batang padi. Saat ini hama

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

wereng paling ditakuti oleh petani di Indonesia. Wereng ini dapat menularkan virus. Gejala: tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tnaman seperti terbakar, tanaman yang tidak mengering menjadi kerdil. Pengendalian: (1) bertanam padi serempak, menggunakan varitas tahan wereng seperti IR 36, IR 48, IR 64, Cimanuk, Progo dsb, membersihkan lingkungan, melepas musuh alami seperti laba-laba, kepinding dan kumbang lebah; (2) penerapan pola tanam, jangan menanam padi lebih dari 2 kali musim tanam pertahun (3) pembajakan sisa-sisa panen dengan segera (4) pemberian pupuk nitrogen secara bertahap. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemportan insektisida Applaud 10 WP, Applaud 400 FW atau Applaud 100 EC dengan dosis sesuai petunjuk pada label. 4. Hama Walang Sangit ( Leptocoriza acuta ) Menyerang buah padi yang masak susu dengan cara menghisap cairan di dalamannya. Gejala: dan menyebabkan buah hampa atau berkualitas rendah seperti berkerut, berwarna coklat dan tidak enak; pada daun terdapat bercak bekas isapan dan buah padi berbintik-bintik hitam. Pengendalian: (1) bertanam serempak, peningkatan kebersihan, mengumpulkan dan memunahkan telur, melepas musuh alami seperti jangkrik; (2) menyemprotkan insektisida Bassa 50 EC, Dharmabas 500 EC, Dharmacin 50 WP, Kiltop 50 EC. 5. Hama tikus (Rattus argentiventer) Tanaman padi akan mengalami kerusakan parah apabila terserang oleh hama tikus dan menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup besar. Menyerang batang muda (1-2 bulan) dan buah. Gejala: adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat ditengah petak tidak ada tanaman. Pengendalian: pergiliran tanaman, sanitasi, gropyokan, melepas musuh alami seperti ular dan burung hantu, penggunaan pestisida dengan tepat, intensif dan teratur, memberikan umpan beracun seperti seng fosfat yang dicampur dengan jagung atau beras.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b) Penyakit Tanaman Padi Gogo a. Bercak daun coklat Penyebab: jamur Helmintosporium oryzae). Gejala: menyerang pelepah, malai, buah yang baru tumbuh dan bibit yang baru berkecambah. Biji berbercak-bercak coklat tetapi tetap berisi, padi dewasa busuk kering, biji kecambah busuk dan kecambah mati. Pengendalian: (1) merendam benih di dalam air panas, pemupukan berimbang, menanam padi tahan penyakit ini, menaburkan serbuk air raksa dan bubuk kapur (2:15); (2) dengan insektisida Rabcide 50 WP. b. Blast Penyebab: jamur Pyricularia oryzae. Gejala: menyerang daun, buku pada malai dan ujung tangkai malai. Serangan menyebabakn daun, gelang buku, tangkai malai dan cabang di dekat pangkal malai membusuk. Proses pemasakan makanan terhambat dan butiran padi menjadi hampa. Pengendalian: (1) membakar sisa jerami, menggenangi sawah, menanam varietas unggul yang tahan (laut tawar, IR 43, danau atas, dll); (2) pemberian pupuk berimbang, khusuasya antara nitrogen dan fosfat di saaat pertengahan fase vegetative dan fase pembentukan bulir; (3) pergiliran varietas (4) menyemprotkan insektisida Fujiwan 400 EC, Fongorene 50 WP, Kasumin 20 AS atau Rabcide 50 WP. c. Penyakit garis coklat daun ( Narrow brown leaft spot) Penyebab: jamur Cercospora oryzae. Gejala: menyerang daun dan pelepah. Tampak gari-garis atau bercak-bercak sempit memanjang berwarna coklat sepanjang 2-10 mm. Proses pembungaan dan pengisian biji terhambat. Pengendalian:b(1) menanam padi tahan penyakit ini seperti Citarum, mencelupkan benih ke dalam larutan merkuri; (2) menyemprotkan fungisida Benlate T 20/20 WP atau Delsene MX 200.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

d. Penyakit Busuk pelepah daun Penyebab: jamur Rhizoctonia sp. Gejala: menyerang daun dan pelepah daun, gejala terlihat pada tanaman yang telah membentuk anakan dan menyebabkan jumlah dan mutu gabah menurun. Penyakit ini tidak terlalu merugikan secara ekonomi. Pengendalian: (1) menanam padi tahan penyakit ini; (2) menyemprotkan fungisida pada saat pembentukan anakan seperti Monceren 25 WP dan Validacin 3 AS. e. Penyakit fusarium Penyebab: jamur Fusarium moniliforme. Gejala: menyerang malai dan biji muda, malai dan biji menjadi kecoklatan hingga coklat ulat, daun terkulai, akar membusuk, tanaman padi. Kerusakan yang diderita tidak terlalu parah. Pengendalian: merenggangkan jarak tanam, mencelupkan benih pada larutan merkuri. f. Penyakit noda/api palsu Penyebab: jamur Ustilaginoidea virens. Gejala: malai dan buah padi dipenuhi spora, dalam satu malai hanya beberap butir saja yang terserang. Penyakit tidak menimbulkan kerugian besar. Pengendalian: memusnahkan malai yang sakit, menyemprotkan fungisida pada malai sakit. 5) Panen Umur panen padi gogo sekitar 110-130 hari dan bervariasi tergantung varietas dan lingkungan tumbuh. Panen sebaiknya dilakukan pada fase masak panen yang dicirikan dengan kenampakkan >90% gabah sudah menguning (33-36 hari setelah berbunga), bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah hijau dan kadar air gabah 21-26 %. Panen yang dilakukan pada fase masak lewat panen, yaitu pada saat jerami mulai mengering, pangkal mulai patah, dapat mengakibatkan banyak gabah yang rontok saat dipanen. Sebelum pemanenan, dilakukan pengeringan sawah 7-10 hari sebelum panen, gunakan sabit tajam untuk memotong pangkal batang, simpan 9

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

hasil panen di suatu wadah atau tempat yang dialasi. Panen dengan menggunakan mesin akan menghemat waktu, dengan alat Reaper binder panen dapat dilakukan selama 15 jam untuk setiap hektar, sedangkan dengan Reaper harvester panen hanya dilakukan selama 6 jam untuk 1 hektar. Perontokan hasil panen menggunakan pedal thresher. Perontokan dengan pengebotan (memukul-mukul batang padi pada papan) sebaiknya dihindari karena kehilangan hasilnya cukup besar, bisa mencapai 3,4%. Kegiatan yang dilakukan pasca panen seperti berikut : 1. Perontokan. Lakukan secepatnya setelah panen, gunakan cara diinjak-injak (60 jam orang untuk 1 hektar), dihempas/dibanting ( 16 jam orang untuk 1 hektar) dilakukan dua kali di dua tempat terpisah. Dengan menggunakan mesin perontok, waktu dapat dihemat. Perontokan dengan perontok pedal mekanis hanya memerlukan 7,8 jam orang untuk 1 hektar hasil panen. 2. Pembersihan. Bersihkan gabah dengan cara diayak/ditapi atau dengan blower manual. Kadar kotoran tidak boleh lebih dari 3 %. 3. Jemur gabah selama 3-4 hari selama 3 jam per hari sampai kadar airnya 14%. Secara tradisional padi dijemur di halaman. Jika menggunakan mesin pengering, kebersihan gabah lebih terjamin daripada dijemur di halaman. 4. Penyimpanan. Gabah dimasukkan ke dalam karung bersih dan jauhkan dari beras karena dapat tertulari hama beras. Gabah siap dibawa ke tempat penggilingan beras (huller). IV. Daftar Pustaka 1. bp4kkabupantsukabumi.net, Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Gogo, 10 februari 2012. 2. Adhi Surya Perdana, Mahasiswa Swadaya Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian UGM, Budidaya Padi Gogo. 3. www.gerbangpertanian.com/.../sistem-budidaya-padi-gogorancah.ht... Sistem Budidaya Padi Gogo Rancah-gerbang Pertanian, 8 Juni 2010. 4. hansdw08.student.ipb.ac.id/.../budi-daya-padi-gogo-galur-harapanip.. Budidaya Padi Gogo Galur Harapan IPB 97(praktikum) 5. Husin M Toha dan Aan A.Darajat, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi, Keragaan Varietas Unggul dan Galur Harapan Padi Pada Budidaya Padi Gogo dan Padi Sawah. 10

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

JAGUNG MANIS (Zea mays)

I. Pendahuluan Zea Mays Saccharata, atau jagung manis bukanlah sembarang jagung. Rasanya yang manis harga jual pun manis. Jagung manis adalah termasuk sayuran yang potensial, masyarakat banyak mengkonsumsinya untuk jagung bakar, sayuran pelengkap yang lezat dan panganan alternatif yang enak dan bergizi seperti bakwan jagung, pudding jagung, dan kue jagung. Bahkan ada yang sudah mengolah untuk susu dan permen. Permintaan akan jagung manis dari tahun ketahun meningkat drastis terutama untuk kota-kota besar. Ini adalah peluang yang bisa diraih petani dalam usahataninya untuk menambah pendapatan keluarganya. Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestikasinya, yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain, terutama Zea mays ssp. mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggambarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp. mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar. 11

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Kandungan gizi Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika masih muda. II. Syarat Tumbuh a. Iklim Iklim memegang peranan yang penting dalam pertumbuhan dari jagung mainis. Farktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan pembagian dari sinar matahari dan curah hujan, temperature, kelembaban dan angin. Lokasi penanaman jagung manis harus mendapat sinar matahari yang cukup dan tidak terlindungi oleh tanaman lainnya. Jika tidak ada penyinaran dari matahari, maka hasilnya akan berkurang. Adapun temperature yang optimal untuk pertumbuhan jagung manis adalah antara 23 27o C. b. Ketinggian Tanaman jagung manis kebanyakan ditanam di dataran rendah, baik di sawah tadah hujan maupun sawah irigasi. Sebagian terdapat juga didaerah pegunungan pada keinggian 1.000-1.800 m dpl. c. Tanah 1) Tanah yang sesuai untuk tanaman jagung manis adalah tanah yang gembur/bertekstur ringan dan subur, karena tanaman ini memerlukan aerasi dan pengairan yang baik. Tanaman jagung manis dapat tumbuh baik pada berbagai macam tanah. Tanah lempung berdebu adalah yang paling baik bagi pertumbuhannya. Adapun tanah yang berat masih dapat ditanami jagung manis dengan syarat harus ada pengerjaan tanah lebih sering selama pertumbuhannya. 2) Derajat keasaman tanah (pH) yang sesuai untuk budidaya jagung manis adalah pH antara 5,5 7,0. 3) Air tanah yang berlebihan dibuang melalui saluran pengairan yang dibuat diantara barisan jagung.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

12

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4) Tanah dengan kemiringan tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung manis dengan arah barisan tegak lurus terhadap miringya tanah. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah keganasan erosi yang terjadi pada waktu turun hujan III. Budidaya a. Benih 1) Berasal dari tanaman yang baru dan varietas unggul. 2) Daya tumbuh yang tinggi (lebih dari 90 %) dan sehat. 3) Murni atau tidak tercampur dengan varietas lain. 4) Kebutuhan benih 10-20 kg/ha. 5) Sebelum benih ditanam sebaiknya direndam dalam larutan anti semut dan hama. b. Pengolahan Lahan Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tertinggi diperoleh lewat pengolahan tanah yang baik dan benar, yaitu dengan cara dibajak dan digaru. Dengan pengolahan tanah akan diperoleh media yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan akar, mengurangi keberadaan gulma serta memperbaiki sirkulasi udara dalam tanah. Untuk tiap 4 meter perlu dibuatkan got yang berfungsi sebagai jalur irigasi dan drainase. Kegiatan ini dilakukan minimal 15 hari sebelum tanam. Akan tetapi penanaman tanpa olah tanah (TOT) bisa juga dilakukan untuk mengejar waktu tanam. Dengan catatan pembersihan lahan harus tetap dijaga untuk mengurangi serangan hama atau penyakit sisa dari tanaman terdahulu. c. Penanaman 1. Cara menanam jagung manis dilakukan dengan cara ditugal atau membuat lubang tanam sedalam kurang lebih 5 cm. 70 x 20 cm (1 tanaman perlubang). 2. Benih ditanam 2 -3 biji per lubang, kemudian diperjarang pada umur 2-3 minggu setelah tanam, di mana ditinggalkan tanaman yang tegap dan sehat saja sehingga mencapai populasi yang diinginkan sesuai dengan jarak tanam yang digunakan. Adapun jarak tanam yang dianjurkan adalah 70 x 40 cm (2 tanaman perlubang) atau

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

13

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3. Waktu tanam jagung manis yang baik adalah pada musim hujan/ permulaan musim hujan yaitu. pada bulan September/Nopember. Pengerjaan tanah hendaknya dilakukan jauh sebelumnya, sehingga tanah dalam keadaan siap tanam. d. Pemupukan Dalam budidaya jagung manis pupuk yang digunakan adalah pupuk campuran antara ZA : SP-36 : KCL. Perbandingan dosis perhektar adalah 280 kg ZA : 210 KG SP-36 : 35 Kg KCL. Pemupukan campuran ini dilakukan dlam tiga aplikasi secara berturut-turut, antara lain : Umur 0 hari setelah tanam dengan dosis ZA : SP-36 : KCL adalah 70 : 140 : 35. Cara pemupukannya dengan ditugal pada jarak 5 cm dari lubang tanam dan ditutup kembali. Umur 15 hari setelah tanam dengan dosis ZA : SP-36 adalah 70 : 70 yang diaplikasikan dengan cara ditugal 10 cm dari lubang tanaman dan ditutup kembali. Umur 45 hari setelah tanam dengan dosis ZA sebanyak 140 kg yang diaplikasikan dengan digejik pada jarak 10 cm dari lubang tanam dan ditutup kembali. e. Pemeliharaan 1) Penjarangan dan Penyulaman Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman. 2) Penyiangan Gulma Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 14 hari.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

14

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3) Pembubunan / Pendaringan Pembumbunan/pendaringan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 4 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang. 4) Pengairan dan Penyiraman Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung manis. 5) Pengendalian hama penyakit tanaman 1. Hama a. Lalat bibit (Atherigona exigua S) Gejala : serangan hama ini pada saat tanaman berumur 7 14 hst dengan gejala daun berubah menjadi kekuning-kuningan, disekitar gigitan atau bagian yang diserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Ciri-ciri : Ciri-ciri lalat bibit adalah warna lalat abu-abu dengan warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, panjang lalat 3 3,5 mm. Pengendalian : Dengan penanaman serentak dan menerapkan pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup, terutama setelah selesai panen jagung. Mencabut dan memusnahkan tanaman yang terserang, menjaga kebersihan lahan dari gulma, serta mengendalikan dengan semprot pestisida menggunakan Dursban 20 EC, Hostation 40 EC, Marshal 25 ST dengan dosis sesuai anjuran.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

15

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b. Hama ulat pemotong dan penggerek buah Contoh ulat pemotong adalah Agrotis sp., Spodoptera litura. Contoh ulat penggerek adalah Ostrinia furnacalis. Contoh ulat penggerek buah adalah Helicoverpa armigera. Gejala : Serangan ditandai dengan adanya bekas gigitan pada batang, adanya tanaman muda yang roboh. Pengendalian : Pengendalian hama-hama tersebut adalah dengan tanam secara seremmpak pada areal yang luas, mencari dan membunuh secara manual, serta melakukan semprot dengan insektisida dengan dosis sesuai anjuran. 2. Penyakit a. Penyakit bulai (Downy mildew) Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala : (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian : (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) Preventif diawal tanam dengan penyemprotan fungisida. b. Penyakit bercak daun Disebabkan oleh jamur Helminthosporium sp, Gejala : adanya bercak memanjang berwarna kuning dikelilingi wanra kecoklatan. Semula, bercak tampak basah kemudian berubah warna menjadi coklat kekuningan, dan akhirnya menjadi coklat tua. 16

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengendalian : dengan cara pergiliran tanaman serta dengan menyemprot bahan kimia seperti Daconil dan Difolatan. c. Penyakit gosong bengkak Disebabkan jamur Ustilago sp. Gejala : menyerang biji, sehingga menyebabkan pembengkakan yang mengakibatkan pembungkus menjadi rusak. Pengendalian : dengan jalan mengatur irigasi dan drainase, memotong bagian yang terserang dan dibakar, serta menggunakan benih yang sudah dicampur dengan fungisida misalnya Saromyl. d. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji Penyebabnya adalah jamur Fusarium atau Giberella zeae. Penyakit ini baru dapat diketahui setelah klobot dibuka. Biji-biji yang terserang berwarna merah jambu atau merah kecoklatan yang akan berubah warna menjadi coklat sawo matang. Pengendalian : dengan menggunakan benih varietas unggul, pergiliran serangan. e. Panen Menentukan saat panen yang tepat sehingga kadar gula maksimum sangat penting. Soalnya, panen awal atau lambat akan menurunkan kadar gula dalam biji. Waktu panen tidak hanya faktor umur tetapi juga varietas, ketinggian tempat, dan musim. Di dataran rendah (100300 m) panen lebih cepat, sekitar umur 60 hari. Sedangkan dataran menengah (400700 m) berkisar umur 70 hari. Bila musim hujan, dipastikan panen mundur sampai 75 hari, sebaliknya sewaktu kemarau lebih cepat, 65 hari. Suhu juga ikut menentukan saat panen. Ada rumus jitu menghitung saat panen yang tepat dengan metode akumulasi suhu harian, yaitu: Saat panen = 570OC : (suhu ratarata -18OC). 17 tanaman, seed treatment, serta melakukan penyemprotan dengan bahan aktif Mancozep bila ada gejala

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Bila kita tanam pada Oktober, maka catat suhu rata-rata harian bulan itu. Data bisa diperoleh dari Stasiun Klimatologi terdekat (Stasiun Meteorologi. Misalnya, suhu rata-rata 26OC. Jadi, saat panen = 570OC : (26OC - 18OC) = 71,25 hari. Dipastikan hasil panen buah jagung manis yang bisa 8 10 ton/ha itu berkualitas baik. f. Pasca Panen Setelah panen, jagung manis langsung diangkut ke gudang atau ruang pendingin dan langsung dilaksanakan penyortiran dan pengemasan dengan plastic roping film. Plastik ini berfungsi sebagai penjaga kelelmbaban, mencegah kehilangan air, memperpanjang kesegaranjagung manis.

IV. Daftar Pustaka 1. hendrazamri.blogspot.com/2012/02/budidaya-jagung-manis.htm,Permasala han Pertanian : Budidaya Jagung Manis, 19 Februari 2012. 2. kebunduwit.blogspot.com/.../zea-mays-saccharata-atau-jagung-manis...Bud idaya Jagung Manis, 27 Mei 2010. 3. ktnakampar.wordpress.com/2011/10/24/budidaya-jagung-manis, Budidaya Jagung Manis, 24 Oktober 2011 4. epetani.deptan.go.id Budidaya JagungBudidaya Jagung Manis, 29 September 2010 5. Awalita Marvelia, Sri Darwanti, Sarjana Parman, Lab Biologi Struktur dan fungsi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA UNDIP, Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea Mays L. Saccharata) yang diperlukan dengan Kompos Kascing dengan Dosis yang Berbeda, Bulletin Anatomi dan Fisiologi, Vol XIV, No.2, Oktober 2006

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

18

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KACANG HIJAU (Vigna radiata L.)

I. Pendahuluan Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu komoditas tanaman kacang-kacangan yang banyak dimakan rakyat Indonesia, seperti: bubur kacang hijau dan isi onde-onde, dan lain-lain. Kecambahnya dikenal sebagai tauge. Tanaman ini mengandung zat-zat gizi, antara lain: amylum, protein, besi, belerang, kalsium, minyak lemak, mangan, magnesium, niasin, vitamin (B1, A, dan E). Manfaat lain dari tanaman ini adalah dapat melancarkan buang air besar dan menambah semangat hidup. Selain itu juga dapat digunakan untuk pengobatan hepatitis, terkilir, beri-beri, demam nifas, kepala pusing/vertigo, memulihkan kesehatan, kencing kurang lancar, kurang darah, jantung mengipas, dan kepala pusing. Dibanding dengan tanaman kacangkacangan lainnya, kacang hijau memiliki kelebihan ditinjau dari segi agronomi dan ekonomis, seperti: (a) lebih tahan kekeringan; (b) serangan hama dan penyakit lebih sedikit; (c) dapat dipanen pada umur 55-60 hari; (d) dapat ditanam pada tanah yang kurang subur; dan (e) cara budidayanya mudah. II. Syarat Tumbuh a. Iklim Curah hujan optimal 50-200 mm/bln Temperatur 25-27 derajat C

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

19

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Kelembaban udara 50-80% dan cukup mendapat sinar matahari b. Ketinggian Tempat Ketinggian tempat sekitar 600 m dpl c. Tanah Tumbuh pada semua jenis tanah sepanjang kelembaban dan tersedianya unsur hara yang cukup. Tekstur : liat berlempung banyak mengandung bahan organic, aerasi dan drainase yang baik. Struktur tanah gembur Keasaman (pH) tanah antara 5,8-7,0 dengan pH optimal 6,7 III. Budidaya a. Penyiapan Lahan 1) Pada lahan kering (tegalan) pengolahan tanah dilakukan intensif dibersihkan dari rumput, dicangkul hingga gembur (untuk tanah tegalan yang berat pembajakan dilakukan sedalam 15-20 cm), dibuat petakan 34 meter. 2) Tanah tegalan bekas tanaman jagung, kedelai atau padi gogo perlu pengolahan tanah minimal. 3) Pemberian mulsa jerami sekitar 5 ton/ha agar dapat menekan serangan lalat bibit, menekan pertumbuhan gulma, mencegah penguapan air dan perbaikan struktur tanah. b. Penanaman 1) Digunakan benih varietas unggul nasional seperti No:129, Merak, Betet, Walet,Gelatik, Murai, dll. Kebutuhan benih 15-20 kg/ha. Syarat benih bebas hama, seragam bebas kotoran dan berumur pendek. 2) Pada daerah endemis hama lalat bibit dan untuk menghindari serangan semut maka terlebih dahulu benih dicampur dengan Marshal 25 ST (Carbosulfan) dengan takaran 10-15 g/kg benih atau Fipronil dengan takaran 5 cc/kg benih.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

20

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3) Penanaman dilakukan dengan sistem tugal sebanyak 2-3 biji/lubang dengan kedalaman 3-5 cm, kemudian ditutup dengan abu dapur/jerami atau tanah halus atau pupuk kandang. 4) Kebutuhan benih berkisar 15-20 kg/ha. Jarak tanam bervariasi, yaitu 40x10 cm (populasi 300.000-400.000 tanaman/ha) pada musim hujan atau 40x15 cm (populasi 400.000-500.000 tanaman/ha) pada pada musim kemarau. 5) Pada saat tanam, kelembaban tanah tidak boleh terlalu tinggi karena dapat menyebabkan biji busuk. 6) Penyulaman dapat dilakukan umur 7 hari 7) Waktu tanam pada lahan sawah pada musim kemarau setelah padi dipanen, sedangkan pada lahan tegalan dilakukan pada awal musim hujan. c. Pemeliharaan 1) Pemupukan. Pada tanah kurang subur diberikan pupuk dengan dosis 45 kg Urea, 4590 kg SP36 dan 50 kg KCl/ha. Pupuk diberikan pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman. Bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 15-20 t/ha atau abu dapur/abu hasil pembakaran jerami sebanyak 5 t/ha sangat baik diaplikasikan untuk menutup lubang tanam 2) Penggunaan mulsa jerami. Penggunaan mulsa jerami yang ditebar pada hamparan pertanaman kacang hijau secara merata dapat mengurangi serangan hama lalat bibit, menekan pertumbuhan gulma, dan memperlambat proses penguapan air tanah. Penggunaan jerami dengan takaran sebanyak 5 t/ha. 3) Penyiangan Penyiangan dilakukan tergantung dengan pertumbuhan gulma, namun sebaiknya dilakukan seawal mungkin karena tanaman kacang hijau tidak dapat bersaing dengan gulma. Penyiangan dianjurkan pada umur 10-15 hari setelah tanam (hst) dan 25-30 hst, dengan cara dikored atau menggunakan cangkul.
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

21

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4) Pengairan. Kacang hijau termasuk tanaman yang toleran terhadap kekurangan air, yang penting tanah cukup kelembabannya. Namun, bila tanah pertanaman kacang hijau kekeringan sebaiknya segera diairi terutama pada periode kritis, yaitu: saat tanam, saat berbunga (umur 25 hst), dan saat pengisian polong (umur 45-50 hst). Untuk kacang hijau yang ditanam di tanah bertekstur ringan (berpasir), umumnya pengairan dilakukan dua kali yaitu umur 21 dan 38 hst, sedangkan pertanaman di tanah bertekstur berat (lempung), biasanya diperlukan pengairan hanya satu kali d. Hama dan Penyakit 1. Hama a) Pengendalian hama dapat dilakukan dengan menerapkan konsep Pengendalian hama. b) Beberapa jenis hama tanaman kacang hijau antara lain : Lalat Kacang (Ophiomya phaseoli), Ulat Jengkal Hijou (Phusia chalcites), Ulat Grayak (Prodanio litura), Penggerek Polong (Maruca testulalis), Kutu Aphis (Aphis craccivora), Kepik Hijau (Nezara viridula), dan Kutu Thrips (Benusia tabaci). c) Insektisida anjuran, antara lain adalah: Confidor, Regent, Curacron, Atabron, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2-3 ml/l air dan volume semprot 500-600 l/ha. d) Untuk pengendalian lalat bibit, ulat daun maupun penggerek polong dapat digunakan insektisida: Marshal, Fastac, Decis, Matador, dan Atabron. e) Untuk mengendalikan kutu dan kepik yang menyerang daun maupun polong dapat digunakan insektisida: Decis, Basso, Kiltop, Ambush, dan Larvin. Hama Terpadu (PHT). Penggunaan insektisida merupakan alternatif terakhir bila cara lain tidak dapat mengendalikan

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

22

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

f) Waktu penyemprotan insektisida tergantung populasi hama di lapangan. Bila populasi telah mencapai ambang kendali, baru dilakukan penyemprotan. 2. Penyakit Penyakit yang sering muncul pada tanaman kacang hijau antara lain : a) Penyakit yang disebabkan oleh jamur/cendowan seperti bercakbercak daun (Cercospora c.), karat daun (Uromycus sp),Kudis (Elismoe iwatae), embung tepung (Erysipha p.) dan Rhizoctonia s. Pengendalian : 1) Mekanis Menanam varietas tahan seperti Walet, Nuri, Gelatik dan Kenari. Membuat saluran drainase/bedengan. Menghindari tanah dan sisa tanaman yang terinfeksi jamur atau cendawan. 2) Kimiawi, penyemprotan fungisida pertanaman dengan Benlate, Dithene M 45, Bayleton, Bavistin, TopsinM, Cobox atau Cuprovit pada awal serangan dengan takaran 2 g/l air. Fungisida lain yang dapat mengendalikan penyakit embun tepung dan bercak daun adalah hexakonazol yang diaplikasikan pada umur 4 dan 6 minggu untuk penyakit embun tepung atau 4, 5, dan 6 minggu untuk penyakit bercak daun. Sementara itu penyakit embung tepung juga dapat dikendalikan dengan menggunakan varietas tahan, seperti: Sriti dan Kutilang. b) Penyakit : Virus Belong (Blackgram mottle) dan Mosaik Kuning (Bean yellow). Pengendalian : 1) Mekanis : Penanaman varietas tahan dan bebas virus. Mencabut dan membakar tanaman terserang. Melakukan pergiliran tanaman 2) Kimiawi, menggunakan insektisida untuk memberantas serangga vektor di lapangan.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

23

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

e. Panen dan Pasca Panen 1) Panen dilakukan bila polong berwarna hitam atau coklat serta telah kering dan mudah pecah. 2) Panen dilakukan dengan cara dipetik. Panen dapat dilakukan satu, dua atau tiga kali tergantung varietas. Jarak antar panen kesatu dan ke dua 3-5 hari 3) Hasil panen langsung dijemur di atas lantai beralaskan terpal atau karung dengan ketebalan 2-3 cm, selama 2-3 hari dan dilakukan pembalikkan setiap + 3 jam. 4) Polong yang sudah kering dipukul-pukul sampai kulit polong pecah (di dalam karung untuk menghindari kehilangan hasil) dan pemisahan biji dari kulit polong dilakukan dengan nyiru, tampi, atau blower. 5) Sebelum disimpan biji kacang hijau di jemur kembali sampai mencapai kering simpan yaitu kadar air 8 - 10 %.

IV. Daftar Pustaka 1) Atman, Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat. Teknologi Budidaya Kacang Hijau (Vigna radiata L.) di Lahan Sawah.Jurnal Ilmiah Tambua, Vol. VI, No.1, Januari-April 2007: 89-95 hlm. 2) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Budidaya Kacang Hijautanaman pangan.deptan.go.id/doc.../Budidaya%20Kacang%20Hijau.p. 3) Emlan Fauzi dan Abdul Azis Muda, 2012. Ketersediaan Teknologi dalam Meningkatkan Produksi Kacang Hijau. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

24

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KACANG TANAH (Arachis hypogeae L)

I. Pendahuluan Kacang tanah merupakan tanaman pangan berupa semak yang berasal dari Amerika Selatan, tepatnya berasal dari Brazilia. Penanaman pertama kali dilakukan oleh orang Indian (suku asli bangsa Amerika). Di Benua Amerika penanaman berkembang yang dilakukan oleh pendatang dari Eropa. Kacang Tanah ini pertama kali masuk ke Indonesia pada awal abad ke-17, dibawa oleh pedagang Cina dan Portugis. Nama lain dari kacang tanah adalah kacang una, suuk, kacang jebrol, kacang bandung, kacang tuban, kacang kole, kacang banggala. Bahasa Inggrisnya kacang tanah adalah peanut atau groundnut. Manfaat tanaman kacang tanah di bidang industri, digunakan sebagai bahan untuk membuat keju, mentega, sabun dan minyak goreng. Hasil sampingan dari minyak dapat dibuat bungkil (ampas kacang yang sudah dipipit/diambil minyaknya) dan dibuat oncom melalui fermentasi jamur. Manfaat daunnya selain dibuat sayuran mentah ataupun direbus, digunakan juga sebagai bahan pakan ternak serta pupuk hijau. Sebagai bahan pangan dan pakan ternak yang bergizi tinggi, kacang tanah mengandung lemak (40,50%), protein (27%), karbohidrat serta vitamin (A, B, C, D, E dan K), juga mengandung mineral antara lain Calcium, Chlorida, Ferro, Magnesium, Phospor, Kalium dan Sulphur. 25

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Tanaman kacang tanah membutuhkan curah hujan 800-1.300 mm/tahun. Hujan yang terlalu keras akan mengakibatkan rontok dan bungan tdak diserbuki oleh lebah. 2) Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman kacang tanah antarra 28320 C. 3) Kelembaban udara berkisar 65-75%. 4) Penyiinaran matahari penuh dibutuhkan, terutama kesuburan daun dan perkembangan besarnya kacang. b. Ketinggian Tanaman kacang tanah akan tumbuh dengan pada dengan ketinggian 50500 m dpl. Namun demikian masih dapat tumbuh di bawah ketinggian 1.500 m dpl. c. Tanah 1) Tanah yang sesuai untuk tanaman kacang tanah adalah jenis tanah yang gembur/bertekstur ringan dan subur. 2) Derajat keasaman tanah yang sesuai untuk budidaya kacang tanah adalah pH antara 6,06,5. 3) Kekurangan air akan menyebabkan tanaman kurus, kerdil, layu dan akhirnya mati. Air yang diperlukan tanaman berasal dari mata air atau sumber air yang ada disekitar lokasi penanaman. Tanah berdrainase dan berserasi baik atau lahan yang tidak terlalu becek dan tidak terlalu kering, baik bagi pertumbuhan kacang tanah.

III. Budidaya a. Benih 1) Berasal dari tanaman yang baru dan varietas unggul. 2) Daya tumbuh yang tinggi (lebih dari 90 %) dan sehat. 3) Kulit benih mengkilap, tidak keriput dan cacat. 4) Murni atau tidak tercampur dengan varietas lain.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

26

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

5) Kadar air benih berkisar 9-12 %. 6) Varietas unggul yang dianjurkan antara lain : Gajah, Macan, Banteng, Kidang, Tapir. Varietas-varietas ini tahan terhadap penyakit layu, karat dan bercak daun. b. Pengolahan Lahan 1) Persiapan Pengukuran luas lahan sangat berguna untuk mengetahui berapa jumlah benih yang dibutuhkan. Kondisi lahan yang terpilih harus disesuaikan dengan persyaratan tanaman kacang tanah. 2) Pembukaan Lahan Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan Tujuan pengganggu) pembersihan dan akar-akar untuk pertanaman sebelumnya. lahan

memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada. Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau, sapi, atau pun dengan mesin traktor. Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau oleh alat baja dan alat garu sampai tanah siap untuk ditanami. 3) Pembentukan Bedengan Untuk memudahkan pengaturan penanaman dilakukan pembedengan sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan, yaitu untuk lereng agak curam jarak tanam cukup 0,5 m dan untuk lahan yang tidak begitu miring bisa antara 30 - 40 meter. c. Penanaman 1) Penentuan Pola Tanam Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada tanah yang subur, benih kacang tanah ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 40 x 15 cm atau 30 x 20 cm. Pada tanah yang kurang subur dapat ditanam lebih rapat yaitu 40 x 10 cm atau 20 x 20 cm.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

27

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2) Pembuatan Lubang Tanam Lubang tanam dibuat sedalam 3 cm dengan tugal dengan jarak seperti yang telah ditentukan di atas. 3) Cara Penanaman Pilih benih kacang yang telah memenuhi syarat benih bermutu tinggi. Masukan benih satu atau dua butir ke dalam lubang tanam dengan tanah tipis. Waktu tanam yang paling baik dilahan kering adalah pada awal musim hujan, di lahan sawah dapat dilakukan pada bulan April-Juni (palawija I) atau bulan Juli-September (palawija II). Sedangkan untuk lahan bukaan terlebih dahulu dilakukan inokulasi rhizobium (benih dicampur dengan inokulan dengan dosis 4 gram/kg) kemudian benih langsung ditanam paling lambat 6 jam. d. Pemupukan Pemupukan dilakukan dengan jenis dan dosis pupuk yang dianjurkan yaitu Urea=60-90 kg/ha ditambah TSP=60-90 kg/ha ditambah KCl=50 kg/ha. Semua dosis pupuk diberikan pada saat tanam dan pupuk dimasukan dikanan kiri lubang tunggal. e. Pemeliharaan 1) Pemangkasan dan Pengikatan Sulur Panjat. Apabila pada tanaman lada telah tumbuh 8-10 buku (umur 5-6 bulan), dilakukan pemangkasan pada ketinggian 25-30 cm dari permukaan tanah. Pemangkasan dilakukan di atas2-3 buku. Tujuan pemangkasan untuk merangsang pembentukan 3 sulur panjat baru. Sulur baru tersebut harusdilekatkan dan diikatkan pada tajar lada. Pengikatan dilakukan menggunakan tali rafia yang dibelah 2-4 agar tali rafia tidak menggangu pertumbuhan lada. Pemangkasan berikutnya dilakukan apabila telah keluar tunas baru dan telah mencapai 7-9 buku pada umur sekitar 12 bulan, yaitu pada buku yang tidak mengeluarkan cabang buah. Pemangkasan berikutnya dilakukan pada umur 2 tahun, sehingga terbentuk kerangka tanaman yang mempunyai banyak cabang produktif. Hasil pemangkasan sulur panjat tersebut dapat digunakan sebagai sumber bahan tanaman/setek untuk pengembangan pembibitan lada.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

28

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2) Penyiangan Gulma Penyiangan terhadap gulma atau tanaman pengganggu dilakukan secara rutin yaitu membersihkan disekitar tanaman kacang tanah. Juga agar tanaman yang ditanam tidak bersaing dengan tanaman liar (gulma) pada umur 5-7 hari. 3) Penyulaman Penyulaman dilakukan bila ada benih yang mati atau tidak tumbuh, untuk penyulaman waktunya lebih cepat lebih baik (setelah yang lain kelihatan tumbuh 3-7 hari setelah tanam). 4) Pembubunan / Pendaringan Pembubunan/pendaringan dilakukan dengan cara mengumpulkan tanah di daerah barisan sehingga membentuk gundukan yang membentuk memanjang sepanjang barisan tanaman. Pembubunan/pendaringan dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan, bertujuan untuk menutup bagian perakaran. 5) Pengairan dan Penyiraman Dibandingkan dengan tanaman kacang-kacangan lainnya, kacang tanah memerlukan tanah yang lebih lembap. Lingkungan lembap ini diperlukan sejak saat tanam sampai dua minggu sebelum panen. Pengaturan air perlu diperhatikan karena kacang tanah tidak tahan genangan air. Fase tanaman yang sangat kritis memerlukan air terjadi pada saat perkecambahan, pembungaan, dan pengisian polong. Pada fase ini apabila tidak ada hujan, air irigasi sangat diperlukan. 6) Pengendalian hama penyakit tanaman 1. Hama a. Hama Uret Gejala: memakan akar, batang bagian bawah dan polong akhirnya tanaman layu dan mati. Pengendalian: menanam serempak, penyiangan intensif, tanaman terserang dicabut dan uret dimusnahkan.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

29

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b. Hama ulat berwarna Gejala: daun terlipat menguning, akhirnya mengering. Pengendalian: penyemprotan insektisida Azodrin 15 W5C, Sevin 85 S atau Sevin 5 D. c. Hama grapyak Gejala: ulat memakan epidermis daun dan tulang secar berkelompok. Pengendalian: (1) bersihkan gulma, menanam serentak, pergiliran tanaman; (2) penyemprotan insektisida lannate L, Azodrin 15 W5C. d. Ulat jengkal Gejala: menyerang daun kacang tanah. Pengendalian: penyemprotan insektisidaBasudin 60 EC Azodrin 15 W5C, Lannate L Sevin 85 S. e. Sikada Gejala: menghisap cairan daun. Pengendalian: (1) penanaman serempak pergiliran tanaman; (2) penyemprotan insektisida lannate 25 WP, Lebaycid 500EC, Sevin 5D, Sevin 85 S, Supraciden 40 EC. f. Kumbang daun Gejala: daun tampak berlubang, daun tinggal tulang, juga makan pucuk bunga. Pengendalian: (1) penanaman serentak; (2) penyemprotan Agnotion 50 EC, Azodrin 15 W5C, Diazeno 60 EC. 2. Penyakit a. Penyakit layu Pengendalian: penyemprotan Streptonycin atau Agrimycin, 1 ha membutuhkan 0,5-1 liter. Agrimycin dalam kelarutan 200-400 liter/ha. b. Penyakit sapu setan Pengendalian: tanaman dicabut, dibuang dan dimusnahkan, semua tanaman inang dibersihkan (sanitasi lingkungan).

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

30

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

c. Penyakit bercak daun Pengendalian: penyemprotan dengan bubur Bardeaux 1 % atau Dithane M 45,atau Deconil pada tanaman selesai berbunga, dengan interval penyemprotan 1 minggu atau 10 hari sekali. d. Penyakit mozaik Pengendalian: penyemprotan dengan fungisida secara rutin 5-10 hari sekali sejak tanaman itu baru tumbuh. e. Penyakit gapong Pengendalian: tanahnya didangir dan dicari nematodanya, kemudian baru diberi DD (Dichloropane Dichloropene 40-800 liter/ha per aplikasi. f. Penyakit Sclertium Pengendalian: membakar tanaman yang terserang cendawan. g. Penyakit karat Pengendalian: tanaman yang terserang dicabut dan dibakar serta semua vektorpenularan harus dibasmi. f. Panen Umur panen tergantung pada varietas dan musim tanam, yaitu umur pendek 3-4 bulan dan umur panjang 5-6 bulan. Adapun ciri-ciri kacang tanah sudah siap dipanen antara lain : a. Batang mulai mengeras b. Daun menguning dan sebagian mulai berguguran, polong sudah berisi penuh dan keras c. Warna polong coklat kehitam-hitaman Cara panen kacang tanah adalah dengan mencabut tanaman, lalu memetik polong (buahnya) terus bersihkan. Setelah panen, polong dirontokkan dan dikeringkan hingga kadar airnya 12 %, yang ditandai oleh mudah terkelupasnya kulit ari. Penundaan polong basah lebih dari 24 jam dapat menyebabkan polong berlendir, mudah terinfeksi jamur Aspergillus flavus, dan terkontaminasi aflatoksin yang menyebabkan kacang menjadi pahit dan beraroma tengi

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

31

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

g. Pasca Panen Pilah-pilah polong yang tua dan polong yang muda untuk dipisahkan berdasarkan derajat ketuaannya, lalu seleksi polong yang rusak atau busuk untuk dibuang. Setelah dipilah-pilah keudian lakukan penyimpanan dengan benar dengan memasukan kedalam karung goni atau kaleng tertutup rapat lalu disimpan digudang penyimpanan yang tempatnya kering. Pengemasan bisa dilakukan untuk produk mentah/polong mentah dalam bungkus plastik per 10 kg. Dapat juga berupa kemasan kue atau bentuk makanan yang sudah dimasak seperti kacang rebus, kacang goreng dan berbagai jenis kue dari kacang tanah. Untuk pengangkutan pada prinsipnya yang pentuing kondisi komoditi tersebut tidak rusak atau tidak berubah dari kualitas yang sudah disiapkan.

IV. Daftar Pustaka 1. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, TTG Budidaya Pertanian, Kacang Tanah. 2. banten.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com..Budidaya Tanah pada Lahan Kering, 21 Januari 2010. 3. bp4kkabsukabumi.net Pertanian Tanaman Pangan, BP4K Kabupaten Sukabumi, Budidaya Kacang Tanah, 24 Januari 2012. 4. teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kacang-tanah.html, Oktober 2007. 5. www.gerbangpertanian.com/.../belajar-menanam-kacang-tanah-secara benar, 10 Juni 2010. 28 Kacang

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

32

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KEDELAI ( Glycine max (L) Merril )

I. Pendahuluan Kedelai merupakan tanaman asli daratan Cina dan telah dibudidayakan oleh manusia sejak 2500 SM. Dengan makin berkembangnya perdagangan antarnegara yang terjadi pada awal abad ke-19, menyebabkan tanaman kedelai ikut tersebar ke berbagai negara tujuan perdagangan tersebut, yaitu Jepang, Korea, Indonesia, India, Australia, dan Amerika. Kedelai mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16. Awal mula penyebaran dan pembudidayaan kedelai yaitu di Pulau Jawa, kemudian berkembang ke Bali, Nusa Tenggara, dan pulau lainnya. II. Syarat Tumbuh a. Iklim Kedelai tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan subtropics. Curah hujan sekitar 100-400 mm/bulan, dengan curah hujan optimum antara 100-200 mm/bulan. Suhu yang dikehendaki antara 21-34 C, dengan suhu optimum antara 23-27 C. Pada proses perkecambahan suhu yang cocok sekitar 30C. Saat panen sebaiknya pada musim kemarau karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil.
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

33

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b. Ketinggian Tempat Varietas kedelai berbiji kecil, sangat cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 0,5 - 300 m dpl. Sedangkan varietasi kedelai berbiji besar cocok ditanam di lahan dengan ketinggian 300 - 500 m dpl. c. Tanah Jenis-jenis tanah-tanah yang cocok untuk budidaya kedelai yaitu : alluvial, regosol, grumosol, latosol dan andosol dan kaya humus atau bahan organik. Tanah yang baru pertama kali ditanami kedelai perlu diberi bakteri Rhizobium, kecuali tanah yang sudah pernah ditanami Vigna sinensis (kacang panjang). Keasaman (pH) tanah antara 5,8 -7,0 namun pada pH 4,5 pun kedelai dapat tumbuh. III. Budidaya a. Pengolahan Lahan 1) Tanah dicangkul atau dibajak sedalam 15 cm 20 cm dan di sekeliling lahan dibuat parit selebar 40 cm dengan kedalaman 30 cm. 2) Dibuat petakan-petakan dengan panjang antara 10 cm 15 cm, lebar antara 3 cm 10 cm, dan tinggi 20 cm 30 cm. 3) Antara petakan yang satu dengan yang lain (kanan dan kiri) dibuat parit selebar dan sedalam 25 cm. Antara petakan satu dengan petakan di belakangnya dibuat parit selebar 30 cm dengan kedalaman 25 cm selanjutnya, lahan siap ditanami benih. 4) Tanah dengan keasaman kurang dari 5,5 seperti tanah podsolik merahkuning, harus dilakukan pengapuran untuk mendapatkan hasil tanam yang baik. 5) Kapur dapat diberikan dengan cara menyebar di permukaan tanah, kemudian dicampur sedalam lapisan olah tanah sekitar 15 cm. 6) Pengapuran dilakukan 1 bulan sebelum musim tanam, dengan dosis 2-3 ton/ha

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

34

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b. Penanaman 1) Penentuan Jarak Tanam Jarak tanam pada penanaman dengan membuat tugalan berkisar antara 20-40 cm. Jarak tanam yang biasa dipakai adalah 30 x 20 cm, 25 x 25 cm, atau 20 x 20 cm. Jarak tanam hendaknya teratur, agar tanaman memperoleh ruang tumbuh yang seragam dan mudah disiangi. Pada tanah yang subur, jarak tanam lebih renggang, dan sebaliknya pada tanah tandus jarak tanam dapat dirapatkan. Untuk jenis kedelai manis (edamame), jarak tanam berbeda dengan kedelai biasa, yaitu 40 cm x 40 cm. Untuk menghindari hama lalat bibit, sebaiknya pada saat penanaman benih diberikan pula Furadan, Curater, atau Indofuran ke dalam lubang tanam. 2) Pembuatan Lubang Tanam Jika areal luas dan pengolahan tanah dilakukan dengan pembajakan, penanaman benih dilakukan menurut alur bajak sedalam kira-kira 5 cm. Sedangkan jarak jarak antara alur yang satu dengan yang lain dapat dibuat 50-60 cm, dan untuk alur ganda jarak tanam dibuat 20 cm. Cara tanam yang terbaik untuk memperoleh produktivitas tinggi yaitu dengan membuat lubang tanam memakai tugal dengan kedalaman antara 1,5 2 cm dan setiap lubang tanam diisi benih sebanyak 3 4 biji. Kebutuhan benih yang optimal dengan daya tumbuh lebih dari 90% yaitu 50 60 kg/ha. 3) Cara Penanaman Sistem penanaman yang biasa dilakukan adalah: a) Monokultur Kedelai yang ditanam dengan sistem ini, membutuhkan lahan kering namun cukup mengandung air, seperti tanah sawah bekas ditanami padi rendeng dan tanah tegalan pada permulaan musim penghujan. Jarak tanam kedelai sebagai tanaman tunggal adalah: 20 x 20 cm; 20 x 35 cm atau 20 x 40 cm.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

35

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b) Tumpangsari, harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Umur tanaman tidak jauh berbeda. Tanaman yang satu tidak mempunyai sifat mengalahkan tanaman yang liar. Jenis hama dan penyakit sama atau salah satu tanaman tahan terhadap hama dan penyakit. Kedua tanaman merupakan tanaman palawija, misalnya kedelai dengan kacang tunggak/ kacang tanah, kedelai dengan jagung, kedelai dengan ketela pohon. 4) Inokulasi Rhizobium. a) Budidaya kedelai pada lahan yang belum pernah ditanami kedelai, maka benih sebaiknya dicampur dengan rizobium seperti Legin. b) Bila rizobium tidak tersedia dapat menggunakan tanah yang sudah pernah ditanami kedelai. Inokulasi rizobium bertujuan untuk mengurangi pemakaian pupuk nitrogen (urea) karena tanaman kedelai dapat memanfaatkan nitrogen yang ada di udara setelah diinokulasi dengan rizobium. c) Cara menginokulasi kedelai yaitu : Siapkan benih kedelai dalam jumlah yang cukup. Siapkan rizobium sebanyak 7,5 gram untuk 1 kg benih, atau tanah yang telah ditanami kedelai sebanyak 1 kg untuk 9 kg benih. Benih, rizobium atau tanah tersebut dimasukkan ke ember yang diisi air secukupnya. Apabila rizobium telah menempel ke benih secara sempurna, benih segera dikeringkan di tempat yang sejuk sebelum ditanam. Benih yang telah dicampuri rizobium harus secepatnya ditanam. c. Pemeliharaan 1) Penyulaman Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari jika benih yang tidak tumbuh lebih dari 10%, sebaiknya segera diganti dengan benih yang telah dicampur Legin atau Nitrogen. Waktu penyulaman yang terbaik adalah sore hari.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

36

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2) Penyiangan a) Pada saat tanaman berumur 20 30 hari setelah tanam, dilakukan kegiatan penyiangan. b) Penyiangan pertama dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemupukan susulan yaitu pada umur 2-3 minggu. c) Penyiangan kedua dilakukan setelah tanaman kedelai selesai berbunga, yaitu sekitar 6 minggu setelah tanam. Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2 (pemupukan lanjutan). d) Penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma yang tumbuh menggunakan tangan atau kored. Jika arealnya cukup luas, penyiangan dapat menggunakan herbisida seperti Lasso untuk gulma berdaun sempit dengan dosis 4 liter/ha. e) Pada saat penyiangan dilakukan pula kegiatan penggemburan tanah. Penggemburan dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran tanaman. 3) Pembubunan Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya. 4) Penjarangan bertujuan untuk: Mengurangi persaingan antar-tanaman dalam menyerap unsur hara di tanah yang kurang subur. Mencegah tanaman kekurangan sinar matahari di tanah yang subur. Penjarangan dan penyulaman dilakukan ketika tanaman berumur 1-2 minggu setelah tanam. Jumlah tanaman yang disisakan setelah penjarangan adalah dua batang/ rumpun dan dipilih tanaman yang paling baik pertumbuhannya. 5) Pemupukan a) Pupuk dasar diberikan sebelum dilakukan penanaman, dosis untuk lahan kering yang kurang subur yaitu : pupuk kandang/organik 2.0005.000 kg/ha, urea 50 kg/ha, TSP 50-75 kg/ha, dan KCl 50-75 kg/ha,

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

37

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

atau dosis pupuk mengikuti anjuran/rekomendasi petugas penyuluh setempat. Cara pemupukan dengan menyebar secara merata di lahan atau dimasukkan ke dalam lubang di sisi kanan dan kiri lubang tanam sedalam 5 cm. b) Pupuk susulan dilakukan saat tanaman berumur 20-30 hari setelah tanam dan hanya dilakukan pada tanah yang kurang subur dengan dosis Urea sebanyak 50 kg/ha. Pupuk diberikan dalam larikan di antara barisan tanaman kedelai, selanjutnya ditutup dengan tanah. c) Untuk meningkatkan hasil produksi kedelai, dapat digunakan pula ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) dan PPC (Pupuk Pelengkap Cair), dengan dosis disesuaikan dosis anjuran. d) Jenis kedelai manis (edamame) dosis pupuk dasar yaitu Urea 600 kg800 kg/ha, TSP 600 kg 800 kg/ha, dan KCl 400 kg/ha. 6) Pengairan a) Pengairan dilakukan saat perkecambahan (0 5 hari setelah tanam), stadium awal vegetatif (15 20 hari), masa pembungaan dan pembentukan biji (35 65 hari). b) Pengairan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, dilakukan dengan menggenangi saluran drainase selama 15 30 menit. Kelebihan air dibuang melalui saluran pembuangan. c) Jangan sampai terjadi tanah terlalu becek atau bahkan kekeringan. Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek yaitu sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering. d) Kekurangan air pada masa pertumbuhan akan menyebabkan tanaman kerdil, bahkan dapat menyebabkan kematian apabila kekeringan telah melalui batas toleransinya. e) Jika kekeringan terjadi pada masa pembungaan dan pengisian polong dapat menyebabkan kegagalan panen. f) Pada lahan kering penyediaan air dapat dilakukan dengan mengatur waktu tanamnya dan pemberian mulsa untuk mencegah penguapan air secara berlebihan. g) Pengairan tidak perlu dilakukan jika polong telah terisi penuh.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

38

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

h) Jika drainase tanah buruk harus dibuat saluran drainase di setiap 3- 4 meter lahan memanjang sejajar dengan barisan tanam, hal ini terutama dilakukan pada saat musim hujan. 7) Waktu Penyemprotan. Penyemprotan pestisida dilakukan pada waktu yang berbeda-beda tergantung jenis hama dan pola penyerangannya. a) Lalat bibit, diberi insektisida Marshal 200 EC, dicampur dengan benih, dilakukan sebelum benih ditanam. b) Ulat prodenia dilakukan penyemprotan dengan insektisida Azodrin 15 WSC, Huslation 40 EC, Thiodon 35 EC dan Barudin 60 EC sebanyak 2 kali seminggu setelah ditemukan telur. c) Wereng kedelai atau kumbang daun, disemprot dengan insektisida Surecide 25 EC, Kharpos 50 EC, Hosthathion 40 EC, Azodrin 15 WSC, Sevin 85 SP atau Tamaron pada tanaman setelah berumur di atas 20 hari. d) Kepik coklat disemprot dengan Azodrin 15 WSC, Diazinois 60 EC dan Dusban 20 EC atau Bayrusil setiap 1-2 minggu, setelah tanam 50 hari. e) Ulat penggerek polong, disemprot dengan insektisida Agrothion 50 EC, Dursban 20 EC, Azodrin 115 WSC, Thiodan 35 EC pada waktu pembentukan polong. d. Hama dan Penyakit. 1. Hama a) Aphis SPP (Aphis Glycine) Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong. Gejala : layu, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian: 1) Mekanis/kultur teknis : menanam kedelai pada waktunya, mengolah tanah dengan baik, bersih, memenuhi syarat, tidak ditumbuhi tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacangkacangan;

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

39

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

membuang

bagian

tanaman

yang

terserang

hama

dan

membakarnya; 2) Biologis : menggunakan musuh alami (predator maupun parasit); 3) Kimiawi : penyemprotan insektisida dilakukan pada permukaan daun bagian atas dan bawah. b) Melano Agromyza Phaseoli, kecil sekali (1,5 mm) Lalat bertelur pada leher akar, larva masuk ke dalam batang memakan isi batang, kemudian menjadi lalat dan bertelur. Lebih berbahaya bagi kedelai yang ditanam di ladang. Pengendalian : 1) Kultur teknis : waktu tanam pada saat tanah masih lembab dan subur (tidak pada bulan-bulan kering); 2) Kimiawi : penyemprotan Agrothion 50 EC, Azodrin 15 WSC, Sumithoin 50 EC, Surecide 25 EC. c) Kumbang daun tembukur (Phaedonia Inclusa) Gejala : larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman. Pengendalian : penyemprotan Agrothion 50 EC, Basudin 50 EC, Diazinon 60 EC, dan Agrothion 50 EC. d) Cantalan (Epilachana Soyae) Kumbang berwarna merah dan larvanya yang berbulu duri, pemakan daun dan merusak bunga. Pengendalian : sama dengan terhadap kumbang daun tembukur. e) Ulat polong (Etiela Zinchenella) Ulat yang berasal dari kupu-kupu ini bertelur di bawah daun buah, setelah menetas, ulat masuk ke dalam buah sampai besar, memakan buah muda. Gejala : pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya. Pengendalian :

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

40

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

1) Kultur teknis :kedelai ditanam tepat pada waktunya (setelah panen padi), sebelum sebelum panen. f) Kepala polong (Riptortis Lincearis) Gejala : polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa. Pengendalian : penyemprotan Surecide 25 EC, Azodrin 15 WSC. g) Lalat kacang (Ophiomyia Phaseoli) Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh. Pengendalian : Pada saat benih akan ditanam, tanah diberi Furadan 36, Setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan penyemprotan dengan insektisida Azodrin 15 WSC, dengan dosis 2 cc/liter air, volume larutan 1000 liter/ha. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan. h) Kepik hijau (Nezara Viridula) Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Gejala : polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit polong berbintik coklat. Pengendalian : Azodrin 15 WCS, Dursban 20 EC, Fomodol 50 EC. i) Ulat grayak (Prodenia Litura) Gejala : kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain. Pengendalian : 1) Mekanis : dilakukan sanitasi lingkungan; 2) Kimiawi : disemprot insektisida yang efektif seperti Dursban 20 EC, Azodrin 15 WSC dan Basudin 50 EC pada sore/malam hari (saat ulat menyerang tanaman) ulat berkembang biak; 2) Kimiawi : penyemprotan obat Dursban 20 EC sampai 15 hari

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

41

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2. Penyakit a) Penyakit layu lakteri (Pseudomonas solanacearum) Penyakit ini menyerang pangkal batang. Penyerangan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu. Penularan melalui tanah dan irigasi. Gejala : layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian : biji yang ditanam sebaiknya dari varietas yang tahan layu kebersihan sekitar tanaman dijaga, pergiliran tanaman dilakukan dengan tanaman yang bukan merupakan tanaman inang penyakit tersebut. b) Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium Rolfsii) Penyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek. Gejala : daun sedikit demi sedikit layu, menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi. Pengendalian : 1) Kultur teknis : varietas yang ditanam sebaiknya yang tahan terhadap penyakit layu; 2) Kimiawi : menyemprotkan Dithane M 45, dengan dosis 2 gram/liter air. c) Penyakit lapu (Witches Broom: Virus) Penyakit ini menyerang polong menjelang berisi. Penularan melalui singgungan tanam karena jarak tanam terlalu dekat. Gejala : bunga, buah dan daun mengecil. Pengendalian : menyemprotkan Tetracycline atau Tokuthion 500 EC. d) Penyakit anthracnose (Cendawan Colletotrichum Glycine Mori) Penyakit ini menyerang daun dan polong yang telah tua. Penularan dengan perantaraan biji-biji yang telah kena penyakit, lebih parah jika cuaca cukup lembab.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

42

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Gejala : daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang paling rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi polong tua menjadi kerdil. Pengendalian: 1) Kultur teknis : perhatikan pola pergiliran tanam yang tepat; 2) Kimiawi : penyemprotan Antracol 70 WP, Dithane M 45, Copper Sandoz. e) Penyaklit karat (Cendawan phakospora Phachyrizi) Penyakit ini menyerang daun. Penularan dengan perantaraan angin yang menerbangkan dan menyebarkan spora. Gejala : daun tampak bercak dan bintik coklat. Pengendalian : 1) Kultur teknis : menanam kedelai yang tahan terhadap penyakit; 2) Kimiawi : menyemprotkan Dithane M 45. f) Penyakit bercak daun bakteri (Xanthomonas phaseoli) Penyakit ini menyerang daun. Gejala : permukaan daun bercak-bercak menembus ke bawah. Pengendalian: menyemprotkan Dithane M 45. g) Penyakit busuk batang (Cendawan Phytium Sp) Penyakit ini menyerang batang. Penularan melalui tanah dan irigasi. Gejala : batang menguning kecokllat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan mati. Pengendalian : 1) Kultur teknis : memperbaiki drainase lahan; 2) Kimiawi : menyemprotkan Dithane M45. h) Virus mosaik (virus) Penyakit ini menyerang daun dan tunas. Penularan vektor penyebar virus ini adalah Aphis Glycine (sejenis kutu daun). Gejala : perkembangan dan pertumbuhan lambat, tanaman menjadi kerdil. Pengendalian :

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

43

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

1) Kultur teknis : penanaman varietas yang tahan terhadap virus; 2) Kimiawi : menyemprotkan Tokuthion 500 EC. e. Panen. 1. Ciri dan Umur Panen Panen kedelai dilakukan apabila : a) sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur b) buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua c) batang berwarna kuning agak coklat dan gundul. d) kedelai yang akan dipanen berumur sekitar 75-110 hari, tergantung pada varietas dan ketinggian tempat. e) kedelai yang akan digunakan sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75-100 hari, f) kedelai untuk dijadikan benih dipetik pada umur 100-110 hari, agar kemasakan biji sempurna dan merata. 2. Cara Panen Pemungutan hasil kedelai dilakukan pada saat tidak hujan, agar hasilnya segera dapat dijemur. Pemungutan dilakukan dengan 2 cara yaitu : a) Cara mencabut Cara pencabutan yang benar ialah dengan memegang batang pokok, tangan dalam posisi tepat di bawah ranting dan cabang yang berbuah. Pencabutan harus dilakukan dengan hati-hati sebab kedelai yang sudah tua mudah sekali rontok bila tersentuh tangan. Dilakukan pada tanah berpasir b) Pemungutan dengan cara memotong Menggunakan sabit yang cukup tajam, sehingga tidak terlalu banyak menimbulkan goncangan sehingga dapat buah yang rontok karena goncangn.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

44

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pemungutan dengan cara memotong bisa meningkatkan kesuburan tanah, karena akar dengan bintil-bintilnya yang menyimpan banyak senyawa nitrat tidak ikut tercabut, tapi tertinggal di dalam tanah. Dilakukan pada tanah yang keras, karena pemungutan dengan cara mencabut sukar dilakukan, maka dengan memotong akan lebih cepat. 3. Periode Panen Mengingat kemasakan buah tidak serempak, dan untuk menjaga agar buah yang belum masak benar tidak ikut dipetik, pemetikan sebaiknya dilakukan secara bertahap, beberapa kali. f. Pasca Panen 1. Pengumpulan dan Pengeringan a) Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen segera dijemur di atas tikar, anyaman bambu, atau di lantai semen selama 3 hari, jika telah kering sempurna dan merata, polong kedelai akan mudah pecah sehingga bijinya mudah dikeluarkan. b) Pada saat penjemuran hendaknya dilakukan pembalikan berulang kali agar kedelai kering sempurna. Pembalikan juga menguntungkan karena dengan pembalikan banyak polong pecah dan banyak biji lepas dari polongnya. Sedangkan biji-biji masih terbungkus polong dengan mudah bisa dikeluarkan dari polong, asalkan polong sudah cukup kering. c) Biji kedelai yang akan digunakan sebagai benih dipilih dari tanamantanaman yang sehat dan dipanen tersendiri sebaiknya dijemur secara terpisah dan dijemur sampai betul-betul kering dengan kadar air 10-15 %. d) Penjemuran biji kedelai untuk benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dari pukul 10.00 hingga 12.00 siang. 2. Penyortiran dan Penggolongan Perontokan biji dapat dilakukan dengan cara : a) memukul-mukul tumpukan brangkasan kedelai secara langsung dengan kayu,

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

45

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b) brangkasan kedelai sebelum dipukul-pukul dimasukkan ke dalam karung, c) dirontokkan dengan alat pemotong padi. Penyortiran dilakukan sbb : a) Setelah biji terpisah, brangkasan disingkirkan dan biji yang terpisah kemudian ditampi agar terpisah dari kotoran-kotoran lainnya. b) Biji yang luka dan keriput dipisahkan. c) Biji yang bersih ini selanjutnya dijemur kembali sampai kadar airnya 911 %. d) Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung untuk dipasarkan atau disimpan. Sebagai perkiraan dari batang dan daun basah hasil panen akan diperoleh biji kedelai sekitar 18,2 %. 3. Penyimpanan dan pengemasan a) Kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama dengan cara disimpan dalam karung di tempat yang kering. b) Karung-karung kedelai ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. c) Apabila kedelai disimpan dalam waktu lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur lagi sampai kadar airnya sekitar 9-11 %.

IV. Daftar Pustaka 1) Fiyanti Osman, 1996. Memupuk Padi dan Palawija. Penebar Swadaya. 2) Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2000. Tentang Budidaya Tanaman Kedelai (Glycine max L) 3) pustaka.unpad.ac.id/wp-content/.../budidaya_tanaman_kedelai.pdf 4) sawitwatch.or.id/download/.../151_Budi%20Daya%20Kedelai%201.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

46

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

TALAS (Colocasia esculenta (L.) Schott)

I. Pendahuluan Talas merupakan tanaman pangan berupa herba menahun. Talas termasuk dalam suku talas-talasan (Araceae), berperawakan tegak, tingginya 1 cm atau lebih dan merupakan tanaman semusim atau sepanjang tahun. Talas mempunyai beberapa nama umum yaitu Taro, Old cocoyam, Dash(e)en dan Eddo (e). Di beberapa negara dikenal dengan nama lain, seperti: Abalong (Philipina), Taioba (Brazil), Arvi (India), Keladi (Malaya), Satoimo (Japan), Tayoba (Spanyol) dan Yu-tao (China). Asal mula tanaman ini berasal dari daerah Asia Tenggara, menyebar ke China dalamabad pertama, ke Jepang, ke daerah Asia Tenggara lainnya dan ke beberapa pulau di Samudra Pasifik, terbawa oleh migrasi penduduk. Di Indonesia talas bisa di jumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan di atas 1000 m dpl, baik liar maupun di tanam. II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Talas tumbuh tersebar di daerah tropis, sub tropis dan di daerah beriklim sedang.Pembudidayaan talas dapat dilakukan pada daerah beriklim lembab (curah hujan tinggi) dan daerah beriklim kering (curah hujan

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

47

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

rendah), tetapi ada kecenderungan bahwa produk talas akan lebih baik pada daerah yang beriklim rendah atau iklim panas. 2) Curah hujan rata-rata untuk pertumbuhan tanaman talas adalah 1.000 mm/ tahun. Talas juga dapat tumbuh di dataran tinggi, pada tanah tadah hujan dan tumbuh sangat baik pada lahan yang bercurah hujan 2000 mm/tahun atau lebih. 3) Selama pertumbuhan tanaman talas menyukai tempat terbuka, dengan penyinaran matahari secara penuh minimum 11 jam per hari adalah sangat baik untuk pertumbuhan tanaman dimana tidak akan talas. Jika ditanam baik pada tempat yang matahari, maka terlindung tidak mendapat penyinaran

tanaman talas

tumbuh dengan

dan produksinya tidak akan mencapai optimal. 4) Tanaman ini mudah tumbuh pada lingkungan dengan suhu 25-30 derajat C dan kelembaban tinggi. b. Ketinggian Tempat Talas dapat tumbuh pada ketinggian 01300 m dpl, dengan ketinggian optimal antara 250 1.100 meter dpl. Di Indonesia sendiri talas dapat tumbuh di daerah pantai sampai pergunungan dengan ketinggian 2000 m dpl, meskipun sangat lama dalam memanennya. c. Tanah 1) Tanaman talas menyukai tanah yang gembur, yang kaya akan bahan organik atau humus. 2) Tanaman ini dapat tumbuh pada daerah dengan berbagai jenis tanah, misal tanah lempung yang subur berwarna coklat pada lapisan tanah yang bebas air tanah, tanah vulkanik,andosol, tanah latosol. 3) Tanaman talas untuk mendapatkan hasil yang tinggi, harus tumbuh di tanah drainase baik dan pH 5,56,5. Tanah yang bergambut sangat baik untuk talas tetapi harus diberi kapur 1 ton/ha bila pH nya di bawah 5,0. 4) Tanaman talas membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air. Apabila tidak tersedia air yang cukup atau mengalami musim kemarau yang panjang, tanaman talas akan sulit tumbuh. Musim tanam yang cocok

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

48

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

untuk tanaman ini ialah menjelang musim hujan, sedang musim panen tergantung kepada kultivar yang di tanam.

III. Budidaya a. Penyiapan Lahan 1) Di dalam pengolahan maupun penyiapan lahan, tanahnya harus gembur dan lepas. Pengolahan tanah jika talas di tanam setelah tanaman sayuran, dilakukan dengan menyiangi gulma, mencangkul, membuat bedeng bedengan dan pemupukan dasar. 2) Pembentukan Bedengan Talas biasanya ditanam dalam dua baris di bedengan selebar 1,2 m, sedangkan panjang bedengan disesuaikan dengan lebar petakan lahan dengan jarak 45 cm atau berkisar 70 x 70 kombinasi yang lain. 3) Pemupukan Pemupukan talas dapat dilakukan dengan pupuk kandang atau pupuk buatan seperti urea, TSP dan KCl atau campuran ketiganya. Jumlah pupuk yang diberikan tidak banyak, cukup 2 sendok saja (untuk pupuk buatan) dan dua genggaman untuk pupuk kandang untuk satu tanaman. Setelah di pupuk, di atasnya kemudian ditambahkan tanah yang dicampur dengan jerami. b. Penyiapan Bibit 1) Dengan anakan, sulur/pangkal umbi. Perbanyakan yang umum dilakukan petani adalah secara vegetatif yaitu dengan menggunakan bibit yang berasal dari anakan - anakan yang tumbuh di sekitar umbi pokok. Perbanyakan secara vegetative juga dapat dilakukan dengan menggunakan sulur atau pangkal umbi yang berada di bawah pelepah daun dengan cara mengikut sertakan sebagian tangkai daunnya. Jika bibit tanaman yang akan digunakan berasal dari anakan sulur maka setelah anakan/sulur tersebut dipisahkan dari atau umbi atau 50 x 70 cm atau

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

49

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

induknya jangan langsung ditanam, tetapi ditanam di persemaian terlebih dahulu dengan jarak tanam yang agak rapat. Bibit pada persemaian dirawat sampai umbinya mulai terbentuk. Jika bibit dipersemaian akan dipindahkan, maka bibit tersebut digali dan sebagian akarnya dibuang, daunnya dipotong kecuali daun termuda yang masih kuncup. Bagian bawah Umbi yang umbi baik dipotong untuk dengan menyisakan bibit cm bagian adalah karena umbinya yang berada dipangkal batang berikut akarakarnya. digunakan diameter sebagai + 6,5 yang berukuran besar dengan

umbi yang berukuran besar seperti itu akan lebih cepat tumbuh dan tanaman akan menghasilkan umbi, daun maupun anakan yang lebih banyak dan lebih besar. 2) Dengan menggunakan umbi. Perbanyakan tanaman talas dapat dilakukan dengan menggunakan umbi yang dipotongpotong menjadi bagian yang tipistipis dengan ukuran berat masing-masing irisan 75-150 gram dan setiap irisan umbi tersebut minimum terdapat satu mata tunas. Irisan umbi tersebut biasanya tidak langsung ditanam sebab irisan bagian dalam (daging umbi) masih basah sehingga agar yang kemungkinan busuk sangat besar apabila langsung ditanam. Setelah umbi dipotongpotong, kemudian bagian abu. Bibit yang mengalami proses tersebut tidak langsung ditanam tetapi disemaikan terlebih dahulu pada media pasir atau tanah yang baik. Pemindahan ke lapangan untuk dilakukan penanaman setelah bibit di persemaian berdaun 2 3 helai. Pertanaman yang bibitnya berasal dari persemaian biasanya pertumbuhannya lebih seragam sebab daya tumbuhnya umumnya sama. c. Penanaman 50 dalam dari irisan menjadi dianginanginkan Cara lain kering.

dapat dilakukan adalah dengan melapisi bagian dalam irisan dengan

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

1) Penentuan Pola Tanam Jarak tanam talas adalah 75 x 75 cm dan dalam 30 cm atau 70 x 70 cm atau 50 x 70 cm. Keragaman jarak tanam ini biasanya disesuaikan dengan kondisi tanah dan keadaan musim. Jika pada musim hujan digunakan jarak tanam yang rapat maka tanaman akan kurang menyerap sinar matahari dan kelembaban di sekitar tanaman menjadi tinggi, sehingga akan meningkatkan resiko serangan penyakit. 2) Cara Penanaman Penanaman talas sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan atau bila curah hujan merata sepanjang tahun. Cara penanaman bibit talas, dengan meletakkan bibit talas tegak lurus di tengah-tengah lubang, kemudian ditimbun sedikit dengan tanah agar dapat berdiri tegak. Penimbunan kira-kira 7 cm, sehingga lubang tanam tidak seluruhnya tertutup oleh tanah. d. Pemeliharaan 1) Penyiangan dan Pembubunan Penyiangan biasanya dilakuakn pada umur 1 bulan setelah tanam agar tanaman bebas dari gangguan gulma yang dapat menjadi pesaing dalam penyerapan unsur-unsur hara. Pembubunan dilakukan untuk menutup pangkal batang dan Pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan. 2) Pemupukan Pemupukan dasar dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah yaitu mencampur sebanyak 1 ton pupuk kandang/hektar. Pemupukan pertama dilakukan 1 bulan setelah bibit di tanam dengan dosis 100 kg urea dan 50 kg TSP per hektar, dengan cara membuat lubang pupuk disamping lubang tanam 3 cm. Pemupukan kedua dan ketiga dilakukan pada umur tanaman 3 bulan dan umur 5 bulan masing-masing menggunakan urea sebanyak 100 51 akar bagian atas agar tanaman lebih kokoh dan tahan oleh terpaan angin.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

kg per hektar, dengan cara membuat larikan disamping baris tanaman sejauh 7 cm pada pemupukan umur 3 bulan dan 10 cm pada pemupukan umur 5 bulan. 3) Pengairan dan Penyiraman Talas membutuhkan tanah yang lembab dan cukup air. Sehingga bila tidak tersedia air yang cukup atau mengalami musim kemarau yang panjang, tanaman talas akan sulit tumbuh. Musim tanam yang cocok untuk tanaman talas ini ialah menjelang musim hujan, sedangkan musim panen bergantung kepada kultivar yang di tanam. e. Hama dan Penyakit 1. Hama a) Serangga aphis gossypii (Hemiptera: Aphididae) Gejala : daun menjadi agak keriting. Pengendalian : menggunakan insektisida carbaryl, diazinon dimetoat dan malation. b) Ulat heppotion calerino (Lepidoptera: Sphingidae) Gejala: ulat berukuran besar dan sangat rakus yang dapat memakan seluruh helai daun, bahkan populasi tinggi dapat makan pelepah daun juga, sehingga tanaman menjadi gundul. Pengendalian : Mengambil dan memusnahkan ulat tersebut. Pembajakan lahan setelah panen karena kepompong berada di dalam tanah, maka. Pengendalian dengan Penyemprotan insektisida Carbaryl jika kerusakan mencapai 50 %. c) Serangga agrius convolvuli (kupu-kupu: Sphingidae) Ulat makan tangkai daun sehingga Pengendalian : Mengambil dan memusnahkan ulat tersebut. Pembajakan lahan setelah panen karena kepompong berada di dalam tanah, maka. Pengendalian dengan Penyemprotan insektisida kecil. Carbaryl 0,2% pada saat ulat masih tanaman menjadi gundul.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

52

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

d) Serangga tarophagus proserpina (Hemiptera: Delphacidae) Gejala: serangga dewasa dan nimfa mengusap cairan pelepah daun, sehingga warnanya berubah menjadi coklat. Pengendalian: diintroduksikan sejenis pemangsa yaitu Cyrtorthinus pulus atau dengan penyemprotan insektisida carbaryl, malation, dan tri-chlorform. e) Serangga bemisia tabaci (Hemiptera : Aleurodidae) Gejala: pada serangan yang berat daun menjadi kering, pertumbuhan terhambat dan tanaman menjadi kerdil. Pengendalian: menggunakan cabaryl, malation, dan tri-chlorform. f) Ulat spodoptera litura (kupu-kupu: Noctuidae Gejala: daun yang terserang oleh kelompok ulat yang masih kecil akan kehilangan lapisan epidermisnya sehingga menjadi transparan, dan akhirnya kering. Pengendalian: dengan insektisida dilakukan apabila kerusakan telah mencapai 50 % dengan insektisida carbaryl dan dichorvos serta monokrotofos, kuinalfos dan endosulfan. Pengendalian lebih efektif jika dilakukan pada saat ulat masih kecil. g) Serangga tetranychus cinnabarinus (Acarina: Tetranichidae) Gejala: helai daun yang terserang nampak bintik-bintik putih atau kuning, karena serangga tersebut mengisap cairan daun. Pengendalian: pestisida azodrin, caerol, galecron, plictron, omite dan trition. Galecron dan plictron mempunyai residu yang panjang dan juga sebagai ovisida. Fungisida dapat juga untuk mengendalikan tungau yaitu Du Ter dan benlate. h) Hepialiscus sordida (kupu-kupu: Hepialidae) Gejala: daun yang terserang menjadi berlubang dengan garis tengah 5-10 cm, dan di isi oleh kotorannya. Pada serangan berat seluruh umbi terserang sehingga tinggal pangkal batangnya saja, sehingga tanaman mudah di cabut. Tanaman yang terserang pertumbuhannya agak kurang tegar dibanding dengan tanaman sehat. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini cukup besar pada lahan kering. Serangan

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

53

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

meningkat

apabila

petani

menggunakan

pupuk

kandang.

Pengendalian: belum ada. 2. Penyakit a) Penyakit hawar daun(Phytophtora colocasiae) Gejala: terdapat bercak kecil berwarna kehitaman, kemudian membesar menjadi hawar. Bagian daun yang terserang mengering, pada serangan berat seluruh daun mengering. Pengendalian: menanam varietas tahan. f. Panen 1. Ciri dan Umur Panen Panen talas dilakukan setelah tanaman berumur 6-9 bulan, atau setelah berumur 1 tahun, dan ada pula kultivar yang dapat dipanen pada umur 4-5 bulan. 2. Cara Panen Pemanenan dilakukan dengan cara menggali umbi talas, lalu pohon talas dicabut dan pelepahnya di potong sepanjang 20-30 cm dari pangkal umbi serta akarnya dibuang dan umbinya di bersihkan dari tanah yang melekat. 3. Periode Panen Masa panen talas perlu mendapat perhatian yang cermat sebab waktu panen yang tidak tepat akan menurunkan kualitas hasil. Panen yang terlalu cepat akan menghasilkan talas yang tidak kenyal dan pulen, sebaliknya jika panen terlambat akan menghasilkan umbi talas yang terlalu keras dan liat. 4. Penundaan panen, dilakukan dengan : Membiarkan umbi tetap di pertanaman namun seluruh pelepah daun tanaman dipotong. Tanaman talas yang dibiarkan di tempat tanam berikutnya tanpa merusak umbi. tanpa dibongkar tetapi hanya dipotong pelapah daunnya saja, dapat tahan sampai musim

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

54

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Penundaan panen harus dilakukan secara hatihati dan dengan penuh perhitungan karena apabila terlalu lama umbi disimpan, maka umbi tersebut dapat kualitasnya rasa umbinya. g. Pasca Panen 1. Pengumpulan Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan. 2. Penyortiran dan Penggolongan Pemilihan atau penyortiran umbi talas sebenarnya dapat dilakukan pada saat pencabutan berlangsung. Penyortiran umbi talas dapat juga dilakukan setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garisgaris pada daging umbi. 3. Pengemasan dan Pengangkutan Pengemasan umbi talas bertujuan untuk melindungi umbi dari kerusakan selama dalam pengangkutan. Untuk pasaran antar kota/dalam negeri dikemas dan dimasukkan dalam karung-karung goni atau keranjang terbuat dari bambu agar tetap segar. IV.Daftar Pustaka 1) Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Departemen Pertanian. Umbiumbian (Talas). tanamanpangan.deptan.go.id/doc_upload/Talas.pdf 2) Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 2000. Tentang Budidaya Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott ) akan tumbuh menjadi tanaman baru sehingga menurun baik kandungan gizinya maupun

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

55

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

UBI JALAR (Ipomoea batatas (L.) Lamb.)

I. Pendahuluan Ubi jalar atau biasa disebut ketela rambat merupakan tanaman palawija penting sesudah jagung, semakin meningkatnya kebutuhan ubi jalar baik sebagai konsumsi dalam rangka mendukung program diversifikasi pangan maupun sebagai bahan baku industri lanjutan seperti mie, saus, pakan ternak dan sebagainya, sehingga ubi jalar layak dibudidayakan karena disamping bernilai jual tinggi juga memiliki prospek yang bagus dan peluang yang besar untuk diusahakan. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani Soviet, menyatakan asal tanaman ubi jalar adalah Amerika Tengah. Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lamb.) merupakan sumber karbohidrat yang dapat dipanen pada umur 3 8 bulan. Selain karbohidrat, ubijalar juga mengandung vitamin A,C dan mineral serta antosianin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Di Indonesia, ubi jalar umumnya dimanfaatkan sebagai bahan pangan sampingan, namun di Irian Jaya, ubi jalar digunakan sebagai makanan pokok. Komoditas ini ditanam baik pada lahan sawah maupun lahan tegalan.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

56

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Tanaman ubi jalar membutuhkan hawa panas dan udara yang lembab, daerah yang paling ideal untuk budidaya ubi jalar adalah daerah yang bersuhu 21-27 derajat C. 2) Daerah yang mendapat sinar matahari 11-12 jam/hari merupakan daerah yang disukai. Pertumbuhan dan produksi yang optimal untuk usaha tani ubi jalar tercapai pada musim kering (kemarau). Di tanah yang kering (tegalan) waktu tanam yang baik untuk tanaman ubi jalar yaitu pada waktu musim hujan, sedang pada tanah sawah waktu tanam yang baik yaitu sesudah tanaman padi dipanen. 3) Tanaman ubi jalar dapat ditanam di daerah dengan curah hujan 5005000 mm/tahun, dengan curah hujan optimal antara 750-1500 mm/tahun. b. Ketinggian Tempat Daerah beriklim tropik, tanaman ubi jalar cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 500 m dpl. Di dataran tinggi dengan ketinggian 1.000 m dpl, ubi jalar masih dapat tumbuh dengan baik, tetapi umur panen menjadi panjang dan hasilnya rendah. c. Tanah 1) Hampir setiap jenis tanah pertanian cocok untuk membudidayakan ubi jalar, jenis tanah yang paling baik adalah pasir berlempung, gembur, banyak mengandung bahan organik, aerasi serta drainasenya baik. Penanaman ubi jalar pada tanah kering dan pecah-pecah sering menyebabkan ubi jalar mudah terserang hama penggerek (Cylas sp.). Sebaliknya, bila ditanam pada tanah yang mudah becek atau berdrainase jelek, dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman ubi jalar kerdil, ubi mudah busuk, kadar serat tinggi, dan bentuk ubi benjol. 2) Derajat keasaman (pH) tanah adalah 5,5 - 7,5. Sewaktu muda memerlukan kelembaban tanah yang cukup. 3) Ubi jalar cocok ditanam di lahan tegalan atau sawah bekas tanaman padi, terutama pada musim kemarau. Pada waktu muda tanaman membutuhkan tanah yang cukup lembab. Oleh karena itu, untuk penanaman di musim kemarau harus tersedia air yang memadai. 57

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

III. Budidaya a. Penyiapan Lahan 1) Pengolahan tanah dilakukan 15 hari sebelum tanam sekaligus membentuk guludan, gulma maupun sisa-sisa tanaman yang ada dibenamkan ke dalam guludan agar menjadi pupuk organik. 2) Tinggi guludan 25-30 cm, lebar 40-60 cm, jarak antar guludan 80-100 cm. 3) Pada tanah berat(berlempung) untuk membuat guludan yang gembur perlu ditambah bahan organik sebanyak 10 ton/ha. b. Penanaman 1) Tanaman ubi jalar diperbanyak dengan stek batang. Bibit yang bagus diambil dari ujung batang yang masih muda dan sehat dengan panjang stek 30 cm. 2) Ubi jalar dapat ditanam sepanjang tahun, waktu tanam yang baik pada awal musim hujan. 3) Stek ditanam secara miring dengan kedalaman 15 - 17 cm, saat tanam yang baik sore hari 4) Untuk mendapatkan hasil yang baik penanaman hanya 1 stek 5) Untuk luas tanaman l hektar dengan jarak tanam 100 cm x 25 cm diperlukan bibit sebanyak 40.000 stek. 6) Sebelum ditanam, stek dicelupkan dulu dalam larutan banlate selama 5 menit 7) Ubi jalar dapat pula ditanam pada system tumpang sari dengan tingkat naungan tidak lebih 30 %. c. Pola Tanam. Sistem tanam ubi jalar dapat dilakukan secara tunggal (monokultur) dan tumpang sari dengan kacang tanah. 1) Sistem Monokultur a) Buat larikan-larikan dangkal arah memanjang di sepanjang puncak guludan dengan cangkul sedalam 10 cm, atau buat lubang dengan tugal, jarak antar lubang 25-30 cm.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

58

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b) Buat larikan atau lubang tugal sejauh 7-10 cm di kiri dan kanan lubang tanam untuk tempat pupuk. c) Tanamkan bibit ubi jalar ke dalam lubang atau larikan hingga angkal batang (setek) terbenam tanah 1/2-2/3 bagian, kemudian padatkan tanah dekat pangkal setek (bibit). d) Masukkan pupuk dasar berupa pupuk kandang sebanyak 10 ton/ha, urea 1/3 bagian, TSP seluruh bagian dan KCl 1/3 bagian dari dosis anjuran ke dalam lubang atau larikan, kemudian ditutup dengan tanah tipis-tipis. Dosis pupuk anjuran adalah 100-200 kg Urea/ha, 50 kg TSP/ha, 100 kg KCl/ha. Pada saat pemberian pupuk dasar dapat ditambahkan furadan sebanyak 20 kg/ha untuk menghindari hama boleng pada ubi jalar. 2) Sistem Tumpang Sari Tujuan sistem tumpang sari antara lain untuk meningkatkan produksi dan pendapatan per satuan luas lahan. Jenis tanaman yang serasi ditumpangsarikan dengan ubi jalar adalah kacang tanah. Cara penanaman sistem tumpang sari prinsipnya sama dengan sistem monokultur, hanya di antara barisan tanaman ubi jalar atau di sisi guludan ditanami kacang tanah. Jarak tanam ubi jalar 100 cm x 25-30 cm, dan jarak tanam kacang tanah 30 x 10 cm. d. Pemeliharaan 1) Penjarangan dan Penyulaman Selama 3 (tiga) minggu setelah ditanam, penanaman ubi jalar harus harus diamati kontinu, terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal. Bibit yang mati harus segera disulam. Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang mati, kemudian diganti dengan bibit yang baru, dengan menanam sepertiga bagian pangkal setek ditimbun tanah. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, pada saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu udara tidak terlalu panas.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

59

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Bibit (stek) untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau ditanam ditempat yang teduh. 2) Penyiangan dan Pembumbunan Penyiangan dan pembubunan tanah biasanya dilakukan pada umur 1 bulan setelah tanam, kemudian diulang saat tanaman berumur 2 bulan. Tata cara penyiangan dan pembumbunan meliputi tahap-tahap sebagai berikut: a) Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul secara hati-hati agar tidak merusak akar tanaman ubi jalar. b) Gemburkan tanah disekitar guludan dengan cara memotong lereng guludan, kemudian tanahnya diturunkan ke dalam saluran antar guludan. c) Timbunkan kembali tanah ke guludan semula, kemudian lakukan pengairan hingga tanah cukup basah. 3) Pemupukan Dosis pupuk anjuran yaitu 100-200 kg urea/ha, 50 kg TSP/ha, 100 kg KCl/ha) Pemupukan susulan dilakukan setelah tanaman berumur 1,5 bulan dengan menggunakan sisa dosis pupuk anjuran, yaitu 2/3 urea dan 2/3 KCl. Pemupukan dapat dilakukan dengan sistem larikan (alur) dan sistem tugal. Pemupukan dengan sistem larikan mula-mula buat larikan (alur) kecil di sepanjang guludan sejauh 7-10 cm dari batang tanaman, sedalam 5-7 cm, kemudian sebarkan pupuk secara merata ke dalam larikan sambil ditimbun dengan tanah. 4) Pengairan dan Penyiraman Meskipun tanaman ubi jalar tahan terhadap kekeringan, fase awal pertumbuhan memerlukan ketersediaan air tanah yang memadai. Setelah tanam, tanah atau guludan tempat pertanaman ubi jalar harus diairi, selama 15-30 menit hingga tanah cukup basah, kemudian airnya dialirkan keseluruh pembuangan.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

60

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengairan berikutnya masih diperlukan secara kontinyu hingga tanaman ubi jalar berumur 1-2 bulan. Pada periode pembentukan dan perkembangan ubi, yaitu umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan dikurangi atau dihentikan. Waktu pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari. Di daerah yang sumber airnya memadai, pengairan dapat dilakukan kontinyu seminggu sekali. Hal yang penting diperhatikan dalam kegiatan pengairan adalah menghindari agar tanah tidak terlalu becek (air menggenang). e. Hama dan Penyakit 1. Hama a) Penggerek Batang Ubi Jalar Gejala: terjadi pembengkakan batang, beberapa bagian batang mudah patah, daun-daun menjadi layu, dan akhirnya cabang-cabang tanaman akan mati. Pengendalian : I. Mekanis/kultur teknis : rotasi tanaman untuk memutus daur atau siklus hama; pemotongan dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang berat; II. Kimiawi : Penyemprotan insektisida Curacron 500 EC atau Matador 25 dengan konsentrasi yang dianjurkan bila serangan hama >5 %. b) Hama Boleng atau Lanas Gejala: terdapat lubang-lubang kecil bekas gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat. Hama ini biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang sudah berubi, jika hama terbawa oleh ubi ke gudang penyimpanan, sering merusak ubi hingga menurunkan kuantitas dan kualitas produksi secara nyata. Pengendalian : I. Mekanis/kultur teknis : pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis tanaman yang tidak sefamili dengan ubi jalar, misalnya padi-ubi jalar-padi;

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

61

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

pembumbunan atau penimbunan guludan untuk menutup ubi yang terbuka; pengambilan dan pemusnahan ubi yang terserang hama cukup berat; penanaman jenis ubi jalar yang berkulit tebal dan bergetah banyak; pemanenan tidak terlambat untuk mengurangi tingkat kerusakan yang lebih berat. II. Kimiawi Penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti Decis 2,5 EC atau Monitor 200 LC dengan konsentrasi yangdianjurkan, jika tingkat serangan > 5%. c) Tikus (Rattus rattus sp) Hama tikus biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang berumur cukup tua atau sudah pada stadium membentuk ubi. Pengendalian : I. Mekanis : sistem gropyokan untuk menangkap tikus dan langsung dibunuh; penyiangan dilakukan sebaik mungkin agar tidak banyak sarang tikus disekitar ubi jalar; II. Kimiawi. Pemasangan umpan beracun, seperti Ramortal atau Klerat. 2. Penyakit a) Kudis atau Scab Gejala: adanya benjolan pada tangkai sereta urat daun, dan daundaun berkerut seperti kerupuk. Tingkat serangan yang berat menyebabkan daun tidak produktif dalam melakukan fotosintesis sehingga hasil ubi menurun bahkan tidak menghasilkan sama sekali. Pengendalian: (1) pergiliran/rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit;

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

62

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

(2) penanaman ubi jalar bervarietas tahan penyakit kudis, seperti daya dan gedang; (3) kultur teknik budi daya secara intensif; (4) penggunaan bahan tanaman (bibit) yang sehat. b) Layu fusarium Gejala: tanaman tampak lemas, urat daun menguning, layu, dan akhirnya mati. Pengendalian : (1) penggunaan bibit yang sehat (bebas penyakit); (2) pergiliran /rotasi tanaman yang serasi di suatu daerah dengan tanaman yang bukan famili; (3) penanaman jenis atau varietas ubi jalar yang tahan terhadap penyakit Fusarium. c) Virus Gejala: pertumbuhan batang dan daun tidak normal, ukuran tanaman kecil dengan tata letak daun bergerombol di bagian puncak, dan warna daun klorosis atau hijau kekuning-kuningan. Pada tingkat serangan yang berat, tanaman ubi jalar tidak menghasilkan. Pengendalian : (1) penggunaan bibit yang sehat dan bebas virus; (2) pergiliran/rotasi tanaman selama beberapa tahun, terutama di daerah basis (endemis) virus; (3) pembongkaran/eradikasi tanaman untuk dimusnahkan. d) Penyakit Lain-lain Penyakit-penyakit yang lain adalah, misalnya, bercak daun cercospora oleh jamur Cercospora batatas Zimmermann, busuk basah akar dan ubi oleh jamur Rhizopus nigricans Ehrenberg, dan klorosis daun oleh jamur Albugo ipomeae pandurata Schweinitz. Pengendalian: dilakukan secara terpadu, meliputi perbaikan kultur teknik budi daya, penggunaan bibit yang sehat, sortasi dan seleksi ubi di gudang, dan penggunaan pestisida selektif.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

63

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

f. Panen. 1. Ciri dan Umur Panen Ciri fisik ubi jalar matang, antara lain: bila kandungan tepungnya sudah maksimum, ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila direbus (dikukus) rasanya enak serta tidak berair. Waktu panen ubi jalar didasarkan atas umur tanaman : varietas ubi jalar berumur pendek (genjah) dipanen pada umur 3-3,5 bulan, varietas ubi jalar berumur panjang (dalam) dipanen pada umur 4,5-5 bulan panen ubi jalar yang ideal dimulai pada umur 3 bulan, dengan penundaan paling lambat sampai umur 4 bulan. panen pada umur lebih dari 4 bulan, selain resiko serangan hama boleng cukup tinggi, juga tidak akan memberikan kenaikan hasil ubi. 2. Cara Panen Tata cara panen ubi jalar melalui tahapan sebagai berikut: Tentukan pertanaman ubi jalar yang telah siap dipanen. Potong (pangkas) batang ubi jalar dengan menggunakan parang atau sabit, kemudian batang-batangnya disingkirkan ke luar petakan sambil dikumpulkan. Gali guludan dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya. Ambil dan kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan hasil. Bersihkan ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel. Lakukan seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi secara terpisah dan warna kulit ubi yang seragam. Pisahkan ubi utuh dari ubi terluka ataupun terserang oleh hama atau penyakit. Masukkan ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut ke tempat penampungan (pengumpulan) hasil. Semua umbi hasil panen harus diangkut jangan sampai ada umbi yang tertinggal karena dapat menjadi sarang hama boleng. g. Pasca Panen. 1. Pengumpulan Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh angkutan. 64

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2. Penyortiran dan Penggolongan Pemilihan atau penyortiran ubi jalar dilakukan : Pada saat pencabutan atau saat panen berlangsung. Setelah semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Bertujuan untuk memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garisgaris pada daging umbi. 3. Penyimpanan Penyimpanan ubi yang paling baik dilakukan dalam pasir atau abu. Tata cara penyimpanan ubi jalar dalam pasir atau abu adalah sebagai berikut: a) Angin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering selama 2-3 hari. b) Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik. c) Tumpukkan ubi di lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaan ubi tertutup. d) Cara penyimpanan ini dapat mempertahankan daya simpan ubi sampai 5 bulan. e) Jika proses penyimpanan dilakukan dengan baik biasanya akan menghasilkan rasa ubi yang manis dan enak bila dibandingkan dengan ubi yang baru dipanen. f) Hal yang penting dilakukan dalam penyimpanan ubi jalar adalah melakukan pemilihan ubi yang baik, tidak ada yang rusak atau terluka, dan tempat (ruang) penyimpanan bersuhu rendah antara 2730 derajat C (suhu kamar) dengan kelembapan udara antara 85-90%.

IV. Daftar Pustaka 1) BPTP Sulawesi Selatan. Teknologi Budidaya Ubi Jalarsulsel.litbang.deptan. go.id/.../index.php?...budidaya-ubi-jalar... 2) Jakes Sito, SP. Bercocok Tanam Ubi Jalar.penyuluhthl.files.wordpress. com/.../budidaya-tanaman-ubijalar1.pdf 3) Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 2000. Tentang Budidaya Ubi Jalar/Ketela Rambat (Ipomoea batatas )
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

65

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BUNGA MAWAR (Rosa hybrida)

I. Pendahuluan Mawar merupakan tanaman bunga hias berupa herba dengan batang berduri. Mawar yang dikenal nama bunga ros atau "Ratu Bunga" merupakan simbol atau lambang kehidupan religi dalam peradaban manusia. Mawar berasal dari dataran Cina, Timur Tengah dan Eropa Timur. Dalam perkembangannya, menyebar luas di daerah-daerah beriklim dingin (sub-tropis) dan panas (tropis). II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Curah hujan bagi pertumbuhan bunga mawar yang baik adalah 15003000 mm/tahun. 2) Memerlukan sinar matahari 5-6 jam per hari. Di daerah cukup sinar matahari, mawar akan rajin dan lebih cepat berbunga serta berbatang kokoh. Sinar matahari pagi lebih baik dari pada sinar matahari sore, yang menyebabkan pengeringan tanaman. 3) Tanaman mawar mempunyai daya adaptasi sangat luas terhadap lingkungan tumbuh, dapat ditanam di daerah beriklim dingin/sub-tropis maupun di daerah panas/tropis. Suhu udara sejuk 18-26 derajat C dan kelembaban 70-80 %.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

66

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b. Ketinggian Tempat Mawar tumbuh baik pada: 1) Ketinggian 560-800 m dpl, suhu udara minimum 16-18 derajat C dan maksimum 2830 derajat C. 2) Ketinggian 1100 m dpl, suhu udara minimum 14-16 derajat C, maksimum 2427 derajat C. 3) Ketinggian 1400 m dpl, suhu udara minimum 13,7-15,6 derajat C dan maksimum 19,5-22,6 derajat C. 4) Di daerah tropis seperti Indonesia, tanaman mawar dapat tumbuh dan produktif berbunga di dataran rendah sampai tinggi (pegunungan) ratarata 1500 m dpl. c. Tanah 1) Tanaman mawar cocok pada tanah liat berpasir (kandungan liat 20-30 %), subur, gembur, banyak bahan organik, aerasi dan drainase baik. 2) Pada tanah latosol, andosol yang memiliki sifat fisik dan kesuburan tanah yang cukup baik. 3) Derajat keasaman (pH) tanah yang ideal 5,5 -7,0. Pada tanah asam (pH 5,0) perlu pengapuran kapur Dolomit, Calcit atupun Zeagro dengan dosis 4-5 ton/hektar. 4) Tanah berpori-pori sangat dibutuhkan oleh akar mawar.

III. Budidaya a. Penyiapan Lahan Lahan dibersihkan dari gulma dan batu-batuan, kemudian tanah diolah sedalam 30 cm, Dibuat bedengan dengan lebar 100 120 cm tinggi 30 cm, jarak antar bedengan 20 40 cm, panjangnya tergantung keadaan lahan. Pupuk kandang disebar secara merata pada bedengan sebanyak 20 30 ton/hektar atau diisikan ke dalam lubang tanam rata-rata 1 2 kg/tanaman. Dibuat lubang tanam dengan ukuran 454545 cm .

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

67

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b. Penyiapan Bibit Penyiapan bibit mawar dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan dengan biji (generatif) dilakukan untuk program pemuliaan tanaman guna mendapatkan jenis mawar baru, terutama mawar hibrida atau hasil silangan. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan cara stek batang atau cabang, cangkok dan okulasi. 1) Cara stek batang atau cabang diperoleh dari batang atau cabang yang sehat, berkayu cukup keras, diameter sebesar pensil. Batang atau cabang dipotong sepanjang 15 25 cm, direndam dengan larutan ZPT , kemudian ditanam pada wadah persemaian yang berisi media campuran pasir dan kompos dengan perbandingan 1 : 1, media persemaian harus dijaga kelembabannya, wadah ditutup dengan plastik transparan. Setelah 6 8 minggu, tiap bibit dapat dipindah ke masing-masing polibag yang telah diisi media campuran pasir, kompos dan tanah subur (1 : 1 : 1). Setelah bertunas dan dipindahkan ke lapangan. 2) Cara mencangkok harus dipilih batang atau cabang mawar yang pertumbuhannya sehat dan telah berbunga. Sayat kulit batang sepanjang 2 3 cm, kupas kulitnya sampai terlihat bagian kayu, lendir kambium dibersihkan dan dibiarkan mengering. Siapkan media cangkok berupa campuran tanah dan pupuk kandang (1:1), siram sampai cukup basah. Pasang lembar plastic atau sabut kelapa pada bgian bawah batang yang telah disayat, ikat erat dengan tadli rafia, isikan media dalam celah lembar plastik atau sabut kelapa, ikat bagian atanya. Cangkokan dibiarkan selama 1 - 2 bulan sampai keluar akar baru. Potong cangkokan sebelum ditanam. 3) Cara okulasi, harus disiapkan batang bawah, mata tunas (entres), pisau okulasi, dan pembalut lembar plastik. Iris batang bawah membentuk huruf T sepanjang 2 3 cm pada ketinggian 10 15 cm dari permukaan tanah. Sisipkan mata tunas pada celah sayatan pada batang bawah. Ikat erat bidang okulasi mulai dari bawah ke arah atas. Hasil pertumbuhannya kuat dapat

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

68

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

okulasi dapat dilihat setelah 7 15 hari, bila entres berwarna hijau berarti okulasi berhasil. Bibit okulasi disiram 1 2 kali sehari, dipupuk dengan N,P, K 10 g/10 liter air dengan cara disiramkan pada media sebanyak 200 250 cc/tanaman. Bibit dapat ditanam ke lapangan atau pot apabila telah cukup kuat. c. Penanaman Waktu tanam mawar adalah pada awal musim hujan (bila keadaan airnya memadai dapat dilakukan sepanjang musim/tahun. Tanaman mawar yang ditanam berupa bibit cabutan (tanpa tanah), dan bibit yang berasal dari polybag. 1) Cara penanaman bibit mawar cabutan : a) Bongkar bibit tanaman mawar dari kebun pembibitan secara cabutan. b) Potong sebagian batang dan cabang-cabangnya, sisakan 2025 cm agar habitus tanaman menjadi perdu (pendek). c) Potong sebagian akar-akarnya dengan gunting pangkas tajam dan steril. d) Rendam bibit mawar dalam air atu larutan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) seperti Dekamon 12 cc/liter selama 1530 menit. e) Tanam bibit mawar di tengah-tengah lubang tanam dan akarnya diatur menyebar ke semua arah. Timbun (urug) dengan tanah hingga batas pangkal leher batang. f) Padatkan tanah di sekeliling batang tanaman mawar pelan-pelan agar akarakarnya dapat kontak langsung dengan air tanah. g) Siram tanah di sekeliling perakaran tanaman hingga basah. h) Pasang naungan sementara dari anyaman bambu/bahan lain untuk melindugi tanaman mawar dari teriknya sinar matahari sore hari. 1) Cara penanaman bibit mawar dari polybag yaitu dengan memindahkan bibit mawar dari polybag dipindahkan secara lengkap bersama tanah dan akar-akarnya dengan cara sebagai berikut : a) Siram media dalam polybag yang berisi bibit mawar hingga cukup basah.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

69

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b) Angkat polybag kemudian balikkan posisinya sambil ditekuktekuk bagian dasarnya agar bibit mawar bersama tanah dan akar-akarnya terlepas (keluar) dari polybag. Bila polybag berukuran besar, maka pengeluaran bibit mawar dapat dengan cara menyobek atau menyayat polybag tersebut. c) Tanamkan bibit mawar ke dalam lubang tanam yang telah disiapkan. Letak bibit mawar tepat di tengah-tengah lubang tanam, kemudian timbun dengan tanah sampai penuh sambil dipadatkan pelan-pelan d) Siram tanah di sekeliling perakaran tanaman mawar hingga cukup basah. Bibit mawar akan langsung segar dan tumbuh tanpa melalui pelayuan atau istirahat dulu. d. Pemeliharaan 1) Penyiangan Kegiatan penyiangan biasanya bersamaan dengan pemupukan agar dapat menghemat biaya dan tenaga kerja. Rumput liar yang tumbuh pada selokan/parit antar bedengan dibersihkan agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit. Penyiangan sebulan sekali (tergantung pertumbuhan gulma), dengan mencabut rumput-rumput liar (gulma) secara hati-hati agar tidak merusak akar tanaman atau membersihkan dengan alat bantu kored/cangkul. 2) Pemupukan a) Jenis dan dosis (takaran) pupuk yang dianjurkan untuk tanaman mawar adalah pupuk NPK (5-10-5) sebanyak 5 gram/tanaman. Bila pertumbuhan tunas lambat dipupuk NPK pada perbandingan 10:10:5, bila tangkainya lemah perbandingan pupuk NPK 5:15:5. atau campuran pupuk yang terdiri dari 200300 kg Urea ditambah 840 kg TSP ditambah 250 kg KCL/ha/tahun. b) Berdasarkan hasil penelitian Balai Penelitian Hortikultura (Balitro), tanaman mawar perlu dipupuk pupuk NPK 5 gram/pohon pada saat tanam atau 715 hari setelah tanam.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

70

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

c) Pemupukan berikutnya secara kontinyu setiap 3 - 4 bulan sekali, tergantung keadaan pertumbuhan tanaman dengan dosis urea 1350 kg, TSP 2100 kg dan KCL 800 kg/ha/tahun. Tiap kali pemupukan diberikan 1/4 - 1/3 dosis pupuk yaitu 337,5 - 450 kg Urea, 525700 kg TSP dan 100133 kg KCl/hektar. d) Pemberian pupuk sebaiknya pada saat sebelum berbunga, sedang berbunga, dan setelah kuntum bunga layu. Cara pemberian pupuk dengan ditabur dalam parit-parit kecil dan dangkal diantara barisan tanaman atau di sekeliling tajuk tanaman, kemudian ditutup dengan tanah tipis dan segera disiram hingga cukup basah. 3) Pengairan. a) Pada fase awal pertumbuhan (sekitar umur 1-2 bulan setelah tanam), dilakukan secara kontinu tiap hari 1-2 kali. Pengairan berikutnya berangsur-angsur dikurangi atau tergantung keadaan cuaca dan jenis tanah (media). b) Waktu pemberian air yang baik pada pagi dan sore hari, saat suhu udara dan penguapan air dari tanah tidak terlalu tinggi. c) Cara pengairan adalah dengan disiram secara merata menggunakan alat bantu gembor. e. Hama dan Penyakit 1. Hama a) Kutu daun (Macrosiphum rosae Linn., Aphids) Menyerang pucuk, sering menempel pada ranting dan kuncup bunga. Gejala: mengisap cairan (sel) tanaman, sehingga menyebabkan gejala abnormal, pada daun atau pucuk jadi keriting/mengkerut. Dapat berperan sebagai vektor virus dan sering meninggalkan cairan madu manis yang menempel pada permukaan daun, sehingga menjadi penyebab penyakit embun jelaga (Capnodium sp.). Pengendalian : Mekanis, menjaga kebersihan (sanitasi) kebun dan cuci bagian tanaman yang terserang dengan sabun dan air.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

71

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Kimiawi, apabila populasi tinggi disemprot insektisida dengan bahan aktif deltametrin 25 g/l atau bahan aktif betasiflutrin 25 g/l, bahan aktif imidakloprid 200 g/l, bahan aktif profenofos 500 g/l, bahan aktif alfametrin 15 g/l dan lain-lain pada konsentrasi yang dianjurkan seperti insektisida Decis 2,5 EC atau Buldok 25 EC, Confidor 200 LC, Curacron 500 EC, Fastac 15 EC pada konsentrasi yang dianjurkan. b) Kumbang Gejala: memakan daun, tangkai dan kuntum bunga, sehingga bolongbolong/rusak pada bagian yang diserang. Larva sering memakan perakaran tanaman. Pengendalian : Mekanis yaitu : mengumpulkan dan memusnahkan hama tersebut. Kimiawi, disemprot dengan disemprot dengan insektisida dengan bahan aktif deltametrin 25 g/l, bahan aktif permetrin 20 g/l dan lainlain seperti insektisida Hostathion 40 EC, Decis 2,5 EC, Ambush 2 EC, Elsan 60 EC, dan lain-lain pada konsentrasi yang dianjurkan. c) Siput berbulu Gejala: pada stadium larva, menyerang tanaman dengan cara memakan daun sebelah bawah yang menyebabkan daun berlubang tinggal tulang daun. Pengendalian : Mekanis, tanaman, Kimiawi, disemprot dengan insektisida Brestan 60 (Moluskasida) pada konsentrasi yang dianjurkan. d) Tungau (Tetranychus telarius) Gejala: menyerang tanaman dengan cara mengisap cairan sel tanaman, pada bagian daun/pucuk, sehingga menyebabkan titik-titik merah berwarna kuning/abu-abu kecoklat-coklatan. Pengendalian: Mekanis : jaga kebersihan (sanitasi) kebun. merontokkan kepompong yang menempel pada

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

72

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Kimiawi, disemprot insektisida-akarisida dengan bahan aktif propargit 570 g/l, bahan aktif dikofol 191 g/l seperti Omite 570 EC atau Kelthane 200 EC atau Mitac 200 EC Meothrin 50 EC, Nissuron 50 EC dan lain-lain pada konsentrasi yang diajurkan. e) Thrips Gejala: merusak/mengisap cairan sel tanaman, terutama bunga, daun, dan cabang. Menyenangi mawar bunga berwarna kuning/terang lainnya. Pengendalian : Mekanis, pemangkasan bagian tanaman yang terserang berat Kimiawi dan disemprot dengan insektisida dengan bahan aktif deltametrin 25 g/l dan lain-lain seperti Mesurol 50 WP, Tokuthion 500 EC, Pegasus 500 SC, Decis 2,5 EC dan lain-lain pada konsentrasi yang dianjurkan. f) Nematoda akar (Meloidgyne sp.) Gejala: menyerang akar tanaman mawar, dapat menembus ke bagian batang sehingga menyebabkan gejala pertumbuhan kerdil, kadang layu (kehilangan kekuatan tumbuh) dan terdapat bintil-bintil pada akar. Pengendalian: Mekanis, pergiliran tanaman, sterilisasi media tanam. Kimiawi, menggunakan bahan kimiawi (nematisida) : Furadan 3 G, Rugby 10 G atau Indofuran pendidikan G pada saat tanam. g) Hama-hama lain: a. Ulat daun (Udea rubigalis), menyerang daun dan kuncup bunga sehingga menjadi rusak/bolong-bolong. Pengendalian: disemprot insektisida Hostathion 40 EC, Decis 2,5 EC, Dekasulfan 350 EC, Nomolt 50 EC atau Confidor 70 WS pada konsentrasi yang dianjurkan. b. Serangga malam (Night feeding insect), menyerang daun dan bunga. Pengendalian : disemprot dengan insektisida yang digunakan pada pengendalian ulat daun. a. Serangga pengisap sel tanaman (Leaf hoppers), menyerang daun hingga bintik-bintik putih membentuk lingkaran.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

73

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengendalian: disemprot dengan insektisida yang digunakan pada pengendalian ulat daun. d. Lalat (Dasyncura rhodophaga), larva akan merusak/memakan tunas. Larva menjatuhkan diri ke tanah, kemudian dalam waktu satu minggu berubah menjadi lalat. Pengendalian : Mekanis, memusnahkan tanaman yang terserang berat dengan dibakar, menjaga kebersihan kebun. Kimiawi, penyemprotan insektisida Agrohion 50 EC, Meothrin 50 EC atau Ofunack 40 EC pada konsentrasi yang dianjurkan. e. Kutu batang (Aulacaspis rosae). Gejala: mengisap cairan sel tanaman, bagian daun dan batang. Bagian yang terserang akan layu, lambat laun mengering (mati). Pengendalian : Mekanis, memangkas bagian tanaman yang terserang untuk dimusnahkan/dibakar. Kimiawi, disemprot dengan insektisida Decis 2,5 EC, Mitac 200 EC, Monitor 200 LC atau Orthene 75 SP pada konsentrasi yang dianjurkan. f. Kumbang kecil (Small carpenter bees). Gejala: melubangi sekaligus merusak batang bagian dalam. Tanaman yang diserang menjadi layu. Pengendalian : Mekanis, memangkas bagian tanaman yang diserang dan dibakar. Kimiawi, disemprot dengan insektisida : Decis 2,5 EC, Atabron 50 EC, Buldok 25 EC atau Bassa 50 EC pada konsentrasi yang dianjurkan. 2. Penyakit a) Bercak hitam Gejala : daun bercak hitam-pekat yang tepinya bergerigi. Lambat laun bercak-bercak berdiameter 1 cm menyatu, sehingga jaringan daun di sekitarnya menjadi kuning. Dapat pula terjadi pada tangkai daun,

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

74

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

batang, dasar bunga, kelopak dan tajuk bunga. Daun yang terserang akan mudah berguguran. Pengendalian mekanis: memangkas bagian tanaman yang sakit dan menjaga kebersihan kebun (sanitasi). Pengendalian kimiawi: disemprot fungisida yang berbahan aktif Propineb dan Mankozeb pada konsentrasi yang dianjurkan. b) Karat daun Gejala: bintik-bintik warna jingga kemerah-merahan pada sisi bawah daun, pada sisi daun atas terdapat bercak bersudut warna kemerahmerahan. Daun yang terserang berat akan mudah gugur (rontok). Pengendalian mekanis : pemotongan/pemangkasan daun sakit kemudian dimusnahkan. Pengendalian kimiawi: disemprot fungisida yang berbahan aktif Zineb atau Maneb pada konsentrasi yang dianjurkan. c) Tepung mildew Gejala : terdapat tepung/lapisan putih pada permukaan daun sebelah bawah dan atas. Daun/bagian tanaman yang terserang akan berubah warna dari hijau menjadi kemerah-merahan, daun yang lambat laun untuk kekuningkuningan dan akhirnya daun-daun cepat rontok (gugur). Pengendalian mekanis: memetik terserang dimusnahkan dan menjaga kebersihan kebun (sanitasi). Pengendalian kimiawi: disemprot fungisida Belerang, atau yang mengandung bahan aktif Pirazifos. d) Bengkak pangkal batang Gejala mati. Pengendalian mekanis: mencabut tanaman yang sakit untuk dimusnahkan dan sewaktu pemeliharaan tanaman (pemangkasan) menggunakan gunting pangkas yang bersih dan steril. Pengendalian kimiawi: disemprot oleh bakterisida yang berbahan aktif Streptomisin atau Oksitetrasikin. e) Mosaik (belang-belang) Gejala : daun menguning dan belang-belang, tulang-tulang daunnya seperti jala. : terjadi pembengkakan pada pangkal batang dekat permukaan tanah, sehingga tanaman menjadi kerdil dan akhirnya

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

75

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengendalian : penanaman bibit yang sehat, pemeliharaan tanaman secara intensif, penyemprotan insektisida untuk pengendalian serangga vektor, dan membongkar (eradikasi) tanaman yang sakit untuk dimusnahkan agar tidak menular kepada tanaman yang lainnya. f) Bercak daun Gejala : serangan cercospora bercak-bercak coklat pada daun-daun tua, sedangkan bercak alternaria berwarna kehitam-hitaman. Pengendalian mekanis : memotong/memetik daun yang sakit untuk dimusnahkan dan menjaga kebersihan kebun (sanitasi). Pengendalian kimiawi: disemprot fungisida yang mengandung bahan aktif Tembaga (Cu). g) Jamur upas Gejala : terdapat lapisan kerak berwarna merah pada batang, dan lambat laun batang akan membusuk serta mati. Pengendalian mekanis: mengelupaskan kulit dan mengerok bagian tanaman yang sakit, kemudian diolesi cat/ter, dapat pula sekaligus memotong bagian batang yang terinfeksi berat. Pengendalian kimiawi : disemprot fungisida yang berbahan aktif Tridemorf. h) Busuk bunga Gejala : kuntum bunga yang telah membuka membusuk berwarna coklat, dan berbintil-bintil hitam. Pengendalian mekanis : membungkus bunga yang mulai mekar dengan kantong kertas minyak/plastik dan penanganan pasca panen bunga sebaik mungkin. Pengendalian kimiawi : penyemprotan fungisida yang berbahan aktif Benomil. i) Penyakit Fisiologis Gejala : kekurangan nitrogen menyebabkan warna daun hujau-muda (pucat) kekuning-kuningan dan pertumbuhan tanaman menjadi lambat (kerdil). Kekurangan phosfor menyebabkan tanaman menjadi kurus dan kerdil, sedangkan kurang kalium daun-daun menjadi mengering di sepanjang tepi/pinggirannya.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

76

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengendalian: pemberian pupuk berimbang, terutama unsur N, P2O5, dan K2O ataupun disemprot pupuk daun yang kandungan unsur haranya tinggi sesuai (eradikasi) tanaman yang dimusnahkan agar tidak menular kepada tanaman yang lainnya. f. Panen Langkah yang perlu diperhatikan : 1) Panen dilakukan ketika bunga mekar optimal, yaitu pada saat bunga udah mekar paling sedikit dua lembar. Bunga dipanen pada stadia bunga 1-2 petal telah membuka dan sepal masih melekat pada kuncupnya atau tergantung kultivar mawar potong. 2) Tanaman mawar yang bibitnya berasal dari stek ataupun okulasi dapat dipanen pada umur 4-5 bulan setelah tanam atau tergantung varietas dan kesuburan pertumbuhannya. 3) Pemanenan bunga mawar berikutnya dapat dilakukan rutin setiap 3 - 7 hari sekali atau tergantung keadaan bunga. Hasil panen berikutnya akan terus meningkat, karena hampir semua rumpun sudah berbunga dan tiap rumpunnya dapat lebih dari 1 tangkai bunga. 4) Panen sebaiknya dilakukan pagi hari jam 08.00 09.00 atau sore hari jam 15.00, saat suhu udara tidak terlalu tinggi dan bunga berada dalam kondisi turgor optimal. Bila bunga masih basah oleh embun atau hujan maka panen sebaiknya ditunda sampai bunga kering agar tidak terinfeksi oleh jamur. 5) Memanen bunga mawar tergantung dari tujuan penggunaannya, baik digunakan sebagai bunga potong maupun sebagai bunga tabur. Untuk bunga potong: a. Bunga mawar dipanen dengan ketentuan 2 3 lembar kuntum bunga telah mekar. b. Batang dipotong diatas 2 3 mata tunas bawah dengan gunting steril yang tajam. Untuk bunga tabur: a. Petik kuntum-kuntum bunga segar yang sudah mekar penuh. sakit untuk

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

77

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b. Kuntum yang belum mekar ditinggalkan untuk dipetik pada tahap berikutnya setelah mekar penuh. 7) Setelah panen, secepatnya bunga dimasukkan ke dalam keranjang dan diberi larutan nutrisi dan pengawet kemudian diletakkan di ruangan yang bersuhu dingin untuk mencegah penguapan berlebihan. g. Pasca Panen 1). Pengumpulan pascapanen bunga potong mawar: Kumpulkan bunga segera seusai panen dan masukkan ke dalam wadah(ember) yang berisi air bersih. Posisi tangkai bunga diatur sebelah bawah terendam air. Angkut seluruh hasil panen ke tempat pengumpulan hasil untuk memudahkan penanganan berikutnya. 2) Pengumpulan pascapanen bunga mawar tabur : kumpulkan kuntum bunga mawar yang baru dipetik ke dalam suatu wadah (keranjang plastik, tampah/ember berisi air bersih). 3) Penyimpanan Untuk bunga potong mawar, simpan bunga yang telah dikemas ke dalam ruang penyimpanan bersuhu dingin (cold storage) dengan kelembaban relatif stabil 90%. Untuk bunga mawar tabur, simpan di tempat/ruangan teduh, dingin, lembab, dan sirkulasi udara baik.

IV. Daftar Pustaka 1) Direktorat Budidaya Tanaman Hias, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, 2009. Standar Operasional Prosedur Budidaya Bunga Potong Mawar (Rosa Hybrida) 2) Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 2000. Tentang Budidaya Mawar ( Rosa damascena Mill. )

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

78

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BUNGA MELATI (Jasmine officinalle)

I. Pendahuluan Melati merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Di Italia melati casablanca (Jasmine officinalle), yang disebut Spansish Jasmine ditanam tahun 1692 untuk di jadikan parfum. Tahun 1665 di Inggris dibudidayakan melati putih (Jasmine sambac) yang diperkenalkan oleh Duke Casimo de Meici. Dalam tahun 1919 ditemukan melati Jasmine parkeri di kawasan India Barat Laut, Kemudian dibudidayakan di Inggris pada tahun 1923. Di Indonesia nama melati dikenal oleh masyarakat di seluruh wilayah Nusantara. Nama-nama daerah untuk melati adalah Menuh (Bali), Meulu cut atau Meulu Cina (Aceh), Menyuru (Banda), Melur (Gayo dan Batak Karo), Manduru (Menado), Mundu (Bima dan Sumbawa) dan Manyora (Timor), serta Malete (Madura). Kegunaan Jasminum sambac Maid of Orleans sebagai tanaman pot, bunga tabur, pewangi teh, roncean dan minyak atsiri, pewangi teh dan minyak atsiri. Jasminum sambac Grand Duke of Tuscany sebagai tanaman hias pot dan Jasminum officinale sebagai

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

79

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

II. Syarat Tumbuh 1. Iklim a. Curah hujan 112119 mm/bulan dengan 69 hari hujan/bulan, serta mempunyai iklim dengan 23 bulan kering dan 56 bulan basah/tahun. b. Suhu udara siang hari 28-36 C dan suhu udara malam hari 24-30 C, c. Kelembaban udara yang cocok untuk budidaya tanaman ini 50-80 %. d. Daerah yang cukup mendapat sinar matahari, karena bunga melati memrlukan penyinaran penuh dari pagi sampai sore agar mutu warna, ukuran dan aroma lebih baik. 2. Ketinggian Tempat a. Tanaman melati dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada ketinggian 10 - 1.600 m dpl. b. Melati putih (J,sambac) ideal ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl, c. Melati Star Jasmine (J.multiflorum) dapat beradaptasi dengan baik hingga ketinggian 1.600 m dpl. d. Sentra produksi melati, seperti di Kabupaten Tegal, Purbalingga dan Pemalang (Jawa Tengah), melati tumbuh dengan baik pada ketinggian 0-700 m dpl. 3. Tanah a. Tanaman melati umumnya tumbuh subur pada jenis tanah Podsolik Merah Kuning (PMK), Latosol dan Andosol. b. Tanaman melati membutuhkan tanah yang bertekstur pasir sampai liat, aerasi dan drainase baik, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik. c. Derajat keasaman (pH) tanah yang baik bagi pertumbuhan melati adalah 5-7. III. Budidaya 1. Penyiapan Lahan. a) Bersihkan lokasi untuk kebun melati dari rumput liar (gulma), pepohonan yang tidak berguna/batu-batuan agar mudah pengelolaan tanah. b) Olah tanah dengan cara di cangkul/dibajak sedalam 30-40 cm hingga gembur, kemudian biarkan kering angin selama 15 hari

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

80

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

c) Pembentukan Bedengan, dengan membentuk bedengan selebar 100120 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antara bedeng 4060 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan. d) Penyiapan lahan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau/1-2 bulan sebelum musim hujan. 2. Penyiapan Bibit Perbanyakan tanaman melati dapat dilakukan dengan stek, rundukan dan cangkokan. a) Cara stek adalah memotong batang dari tanaman induk yang sehat, dewasa, dan telah pernah berbunga sepanjang 15 25 cm, sebagian daun dibuang. Untuk mempercepat pertumbuhan akar, pangkal batang stek dioles Rootone-F. Stek batang ditanam pada polibag yang telah diisi media tanam berupa campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1. b) Cara rundukan, dipilih cabang yang sehat letaknya dekat dengan permukaan tanah. Cabang induk dilengkungkan ke dalam tanah, kemudian ditutup dengan tanah sedalam 10 15 cm. Bagian pucuknya dibiarkan muncul di atas permukaan tanah. Dengan cara rundukan tanaman dapat tumbuh dan berakar setelah berumur kira-kira 40 hari. c) Cara mencangkok, tanaman induk melati sebaiknya dipilih batang yang berdiameter 0,5 1 cm. Kulit batang dikerat melingkar dengan pisau sepanjang 5 cm, kemudian dikupas kulitnya, dan lapisan lendir dikerok. Berikan media tanam berupa pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 1 : 1, kemudian dibungkus dengan plastik atau sabut kelapa, dan ikat kedua ujungnya. Kelembaban media harus dijaga. Setelah cangkokan berakar banyak, batang bisa dipotong. 3. Pembuatan Lubang Tanam Lubang tanam dibuat dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm, jarak antar lubang tanam 100 150 cm. 4. Pemupukan Dasar. Pupuk dasar terdiri dari pupuk kandang 1-3 kg/lubang tanam, TSP 3 gram/lubang tanam dan KCl 2 gram/lubang tanam, sehingga dosis pupuk/ha adalah pupuk kandang 10 ton, TSP 180 kg dan KCl 120 kg.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

81

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

5. Penanaman. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan. Polibag yang berisi bibit. disobek bagian pinggirnya, kemudian dilepas, tiap lubang tanam ditanami satu bibit. Stek diambil bersama tanah yang melekat pada perakarannya, kemudian diletakkan dalam lubang tanam. Lubang tanam diisi tanah sedalam 20 cm, kemudian bibit diletakkan ditengah lubang, selanjutnya lubang diisi kembali dengan tanah sampai mendekati penuh. Sebagai penguat, bibit diberi ajir yang diikatkan pada tanaman. 6. Pemeliharaan Tanaman a) Penyulaman. Cara Teknik penyulaman penyulaman adalah dengan mengganti dengan tanaman tata yang mati/tumbuhan abnormal dengan bibit yang baru. prinsipnya sama laksana penanaman, hanya saja dilakukan pada lokasi/blok/lubang tanam yang bibitnya perlu diganti. Periode penyulaman sebaiknya tidak lebih dari satu bulan setelah tanam. Penyulaman seawal mungkin bertujuan agar tidak menyulitkan pemeliharaan tanam berikutnya dan pertumbuhan tanam menjadi seragam. Waktu penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi/sore hari, saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu udara tidak terlalu panas. b) Penyiangan Pada umur satu bulan setelah tanam, kebun melati sering ditumbuhi rumput liar (gulma). Rumput liar ini menjadi pesaing tanaman melati dalam pemenuhan kebutuhan sinar matahari, air dan unsur hara, sehingga perlu segera dilakukan penyiangan untuk menghilangkan gulma. Kegiatan c) Pemupukan 1) Umur 3 bulan, tanaman dapat diberikan pupuk NPK sebanyak sendok teh/tanaman penyiangan dilakukan bersama dengan kegiatan pembubunan

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

82

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2) Umur 6 bulan sebanyak 1 sendok teh/tanaman, 3) Selanjutnya setiap bulan tanaman dipupuk dengan NPK sebanyak 1 sendok teh/tanaman. 4) Dosis pupuk yaitu Urea 300-700 kg, TSP 300-500 kg dan KCI 100300 kg/ha/tahun. 5) Cara pemupukan dengan memasukan pupuk ke dalam lubang tugal di sekeliling tajuk tanaman melati. 6) Waktu pemupukan adalah sebelum melakukan pemangkasan, saat berbunga, setelah panen bunga dan pada saat pertumbuhan kurang prima. 7) Pemberian pupuk dapat meningkatkan produksi melati, terutama jenis pupuk yang kaya unsur fosfor (P). 8) Pemupukan dapat diberikan dengan pupuk daun, dengan waktu penyemprotan pupuk daun dilakukan pada pagi hari (Pukul 09.00) atau sore hari (pukul 15.30-16.30) atau ketika matahari tidak terik menyengat. d) Pemangkasan. Pemangkasan perlu dilakukan untuk memelihara tajuk, merangsang pertumbuhan tunas dan bunga. Tinggi pemangkasan amat tergantung pada jenis melati, jenis melati putih (J.sambac) dapat di pangkas pada ketinggian 75 cm dari permukaan tanah, sedangkan jenis melati Spnish Jasmine (J. officinale var. grandiflorum) setinggi 90 cm dari permukaan tanah. Sebaiknya pemangkasan dilakukan setahun sekali. e) Pengairan dan Penyiraman Pada fase awal pertumbuhan, tanaman melati membutuhkan ketersediaan air yang memadai. Pengairan perlu secara kontinyu tiap hari sampai tanaman berumur kurang lebih 1 bulan. Pengairan dilakukan 1-2 kali sehari yakni pada pagi dan sore hari. Cara pengairan adalah dengan disiram iar bersih tiap tanam hingga tanah di sekitar perakaran cukup basah. Melati sangat rentan terhadap kekurangan air maka penyiraman tanaman dilakukan setiap hari, tetapi tanaman juga harus dijaga agar tidak tergenang.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

83

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

7. Hama dan Penyakit. 1. Hama 1) Ulat palpita (Palpita unionalis Hubn) Pengendalian : dilakukan dengan cara memotong bagian tanaman yang terserang berat dan menyemprotkan insektisida yang mangkus dan sangkil, misalnya Decis 2,5 EC, Perfekthion 400 E/Curacron 500 EC . 2) Penggerek bunga (Hendecasis duplifascials) Gejala : menyerang tanaman melati dengan cara menggerek/ melubangi bunga sehingga gagal mekar. Kuntum bunga yang terserang menjadi rusak dan kadang-kadang terjadi infeksi sekunder oleh cendawan hingga menyebabkan bunga busuk. Pengendalian: disemprot dengan insektisida yang mangkus, misalnya Decis 2,5 EC, Cascade 50 EC/Lannate L . 3) Thips (Thrips sp) Hama ini bersifat pemangsa segala jenis tanaman (polifag). Gejala : menyerang dengan cara mengisap cairan permukaan daun, terutama daun-daun muda (pucuk). Pengendalian : dilakukan dengan cara mengurangi ragam jenis tanaman inang di sekitar kebun melati dan menyemprotkan insektisida yang mangkus : Mesurol 50 WP, Pegasus 500 SC/Dicarzol 25 SP . 4) Sisik peudococcus (Psuedococcus longispinus) Hama ini hidup secara berkelompok pada tangkai tunas dan permukaan daun bagian bawah hingga menyerupai sisik berwarna abu-abu atau kekuning-kuningan. Gejala : menyerang tanaman dengan cara mengisap cairan sel tanaman dan mengeluarkan cairan madu. Pengendalian: dilakukan dengan menyemprotkan insektisida yang mangkus, misalnya Bassa 500 EC/Nogos 50 EC. 5) Ulat nausinoe (Nausinoe geometralis). Gejala: menyerang daun tanaman melati identik (sama) dengan serangan ulat P. unionalis. 6) Hama Lain. Hama lain yang sering ditemukan adalah kutu putih (Dialeurodes citri) dan kutu tempurung (scale insects). Bergerombol menempel pada 84

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

cabang, ranting dan pucuk tanaman melati, menyerang dengan cara mengisap cairan sel, sehingga proses fotosintesis (metabolisme). Pengendalian dilakukan dengan menyemprotkan insektisida yang mangkus, seperti Perfekthion 400 EC/Decis 2,5 EC. 2. Penyakit 1) Hawar daun Gejala : menyerang daun yang letaknya dekat permukaan tanah. 2) Hawar benang (Thread Blight) Gejala : menyerang bagian cabang tanaman melati. 3) Hawar bunga (Flower Blight) Gejala : bunga busuk, berwarna coklat muda dan kadang-kadang bunga berguguran. 4) Jamur upas Penyakit ini menyerang batang dan cabang tanaman melati yang berkayu. Gejala : terjadi pembusukan yang tertutup oleh lapisan jamur berwarna merah jambu pada bagian tanaman terinfeksi Capnodium sp. dan Meliola jasmini Hansf. et Stev. Gejala serangan capnodium adalah permukaan atas daun tertutup oleh kapang jelaga berwarna hitam merata. 5) Bercak daun Gejala : bercak-bercak berwarna coklat sampai kehitamhitaman pada daun. 6) Karat daun (Rust) Gejala: pada permukaan daun yang terserang tampak bercak-bercak kemerah-merahaan dan berbulu. Penyakit ini umumnya menyerang daun-daun yang tua. 7) Antraknosa Gejala jambu, : terbentuk bintik-bintik kecil berwarna kehitam-hitaman. terutama pada bagian daun. Serangan berat dapat Bintik-bintik tersebut membesar dan memanjang berwarna merah menyebabkan mati ujung (die back). 8) Penyakit lain Busuk bunga oleh bakteri Erwinia tumafucuens. Bintil akar oleh nematoda Meloidogyne incognito, penyebab abnormilitas perakaran

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

85

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

tanaman. Virus kerdil penyebab terhambatnya pertumbuhan tanaman melati, belang-belang daun dan kadang-kadang seluruh ranting dan pucuk menjadi kaku. 8. Panen. 1) Ciri dan Umur Panen Ciri-ciri bunga melati yang sudah saatnya dipanen adalah ukuran kuntum bunga sudah besar (maksimal) dan masih kuncup/setengah mekar. Tanaman melati mulai berbunga pada umur 7-12 bulan setelah tanam. Panen bunga melati dapat dilakukan sepanjang tahun secara berkali-kali sampai umur tanaman antara 5-10 tahun. Setiap tahun berbunga tanaman melati umumnya berlangsung selama 12 minggu (3 bulan). 2) Cara Panen a. Pemetikan bunga melati sebaiknya dilakukan pada pagi sore, yakni saat sinar matahari tidak terlalu terik/suhu udara tidak terlalu panas. b. Pemetikan bunga Melati dilakukan secara manual. Jangan gunakan pisau,gunting dan alat bantu yang tajam lainnya c. Pemanenan dilakukan dengan memotong dahan/tangkai tanaman yang berbunga, hindari luka pada tanaman saat memanen 3) Periode Panen Hasil panen bunga melati terbanyak berkisar antara 1-2 minggu. Selanjutnya, produksi bunga akan menurun dan 2 bulan kemudian meningkat lagi. 9. Pasca Panen. Bunga melati akan cepat layu jika berada di tempat terbuka, untuk mempertahankan/ memperpanjang kesegaran bunga, maka bunga tersebut dihamparkan dalam tampi beralas lembar plastik kemudian disimpan di ruangan bersuhu udara dingin antara 0-5 derajat C. IV. Daftar Pustaka 1) Direktorat Budidaya Tanaman Hias, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, 2008. Standar Operasional Prosedur Melati. 2) migroplus.com/brosur/Budidaya%20melati.pdf 3) ocw.usu.ac.id/.../agr.312_handout_simplisia_bunga.pdf

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

86

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

CABAI MERAH (Capsicum annuum L.)

I. Pendahuluan Cabe (Capsicum Annum var longum) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Cabe merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabe berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia. Tanaman cabe banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di Negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni Cabe besar, cabe keriting, cabe rawit dan paprika. Secara umum cabe memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C. II. Syarat Tumbuh a. Iklim Curah hujan 600 -1250 mm/tahun dengan kelembaban 60-80%, dengan suhu 18-27 derajat C, dengan suhu optimum 22-25 derajat C. b. Ketinggian Tempat Cabai merah dapat dibudidayakan di dataran rendah maupun dataran tinggi, pada lahan sawah atau tegalan dengan ketinggian 0-1000 m dpl.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

87

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

c. Tanah Tanah yang baik untuk pertanaman cabai adalah yang berstruktur remah atau gembur, subur, banyak mengandung bahan organik, dengsn pH tanah antara 6 -7. III. Budidaya a. Pengolahan Lahan 1) Pengolahan tanah dilakukan secara sempurna dengan mencangkul untuk membersihkan lahan dari kotoran akar bekas tanaman lama dan segala macam gulma yang tumbuh. 2) Dibuat bedengan dengan ukuran lebar 100 - 110 cm, tinggi bedengan 40 - 60 cm, jarak antar bedengan 80 cm, panjang bedengan 10 - 12 m atau disesuaikan lebar parit, dan lebar parit 50 - 60 cm. 3) Dibuat saluran drainase karena tanaman cabai tidak bisa tergenang air. 4) pH tanah diusahakan 6 - 7, apabila pH kurang lakukan penaburan kapur pertanian atau dolomit. Tanah yang terlalu asam akan menyebabkan daun cabai berwarna putih kehijauan, serta rentan terhadap serangan virus dan penyebab penyakit lainnya. Pengapuran lahan menggunakan dolomit atau kapur gamping dengan dosis 2 - 4 t/ha atau 200 - 400 g/m2 tergantung pH tanah yang akan dinaikkan. 5) Bedengan untuk tanaman cabai bisa dipasang mulsa plastik hitam perak kemudian dibuat lubang tanam, dengan jarak tanam 50 x 65 cm pada daerah rendah dan 60 x 70 cm pada daerah tinggi, yang dilakukan secara zigzag atau sejajar. b. Penyiapan Bibit 1) Media pembibitan dapat dibuat dengan campuran sebagai berikut. a) Mencampurkan 1 bagian pupuk kompos + 1 bagian sekam bakar + 1 bagian top soil tanah yang telah diayak halus lalu diaduk rata dan ditambah dengan karbofuran sesuai dosis anjuran. b) Media dimasukan ke dalam polybag ukuran 8 x 9 cm dan disusun di bawah naungan atau sungkup yang telah disiapkan. Susunan harus teratur agar tanaman mudah dihitung dan mudah dalam pemeliharaan. c) Polybag yang tersusun rapi diberi/disemprot air secukupnya sampai basah.
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

88

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

d) Menyiapkan benih cabai 14.000 batang/ha untuk cabai keriting dan ditambahkan 10 % atau lebih populasi tanaman untuk penyulaman. 2) Prosedur penyemaian benih sebagai berikut. a) Merendam benih cabai dengan air hangat secukupnya, diamkan minimal 3 jam untuk siap ditanam. Benih yang mengambang dalam rendaman jangan digunakan. Setiap benih cabai dimasukkan ke dalam media sedalam 0,5 cm, lalu ditutup dengan kompos yang halus. b) Menutup polybag yang telah ditanam benih cabai dengan kertas koran, lalu disiram sampai basah agar kelembabannya terjaga, lalu naungan ditutup dengan insect screen atau daun rumbia, bisa juga dengan jerami padi . c) Menyiram koran yang menutupi polybag dengan air sampai basah pagi dan sore hari. Setelah 3 hari atau setelah terlihat cabai mulai tumbuh, maka kertas koran diangkat. Penyiraman berikutnya dengan sprayer, usahakan media tanaman tetap basah. d) Bibit cabai dapat ditanam di bedengan setelah umur 21-24 hari atau tumbuh 4 helai daun sejati. c. Penanaman. 1) Penanaman bibit pada bedengan dilakukan setelah berumur 21-24 hari. 2) Jarak tanam 50 x 60 cm untuk dataran rendah dan 60 x 75 cm untuk dataran tinggi. 3) Untuk menanggulangi stress saat pindah tanam, penanaman dilakukan pada sore hari atau pagi hari sekali. Setelah selesai tanam dilakukan penyiraman air secukupnya dengan cara disemprotkan dengan tekanan rendah dan merata sampai keakarnya. 4) Penanaman diusahakan serentak selesai dalam 1 hari. d. Pemeliharaan 1. Pengairan Air sangat diperlukan dalam pertumbuhan tanam cabai karena kekurangan air pada tanaman cabai akan menyebabkan tanaman kerdil, buah cabai menjadi kecil dan mudah gugur. Ada empat cara pengairan yang dapat dilakukan pada tanaman cabai yaitu:
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

89

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

1) Pemberian air permukaan tanah meliputi penggenangan (flooding), biasanya dipersawahan dan pemberian air melalui saluran-saluran dan dalam barisan tanaman; 2) Pemberian air di bawah permukaan tanah dilakukan dengan menggunakan pipa yang dibenamkan di dalam tanah; 3) Pemberian air dengan cara penyiraman sangat efisien, misalnya pada tanah bertekstur kasar, efisiensi dengan menyiram dua kali lebih tinggi dari pemberian air permukaan; 4) Pemberian air dengan irigasi tetes, air diberikan dalam kecepatan rendah di sekitar tanaman dengan menggunakan emitter. Pada pemberian air dengan menyiram dan irigasi tetes dapat ditambahkan pertisida atau pupuk. 2. Pemasangan Ajir Pemasangan ajir dilakukan pada tanaman umur 7 hst (hari setelah tanam), ajir dibuat dari bambu dengan tinggi 1 - 1,5 m. Apabila ajir terlambat dipasang akan menyebabkan kerusakan pada akar yang sedang berkembang. Pengikatan tanaman pada ajir dilakukan mulai umur 3 minggu sampai dengan 1 bulan yaitu mengikatkan batang yang berada di bawah cabang utama dengan tali plastik pada ajir. Pada saat tanaman berumur 30 - 40 hst, ikat tanaman di atas cabang utama dan ikat juga pada saat pembesaran buah yaitu pada umur 50 - 60 hst, agar tanaman tidak rebah dan buah tidak jatuh. 3. Pewiwilan / Perempelan Tunas yang tumbuh di ketiak daun perlu dihilangkan dengan menggunakan tangan yang bersih. Perempelan dilakukan sampai terbentuk cabang utama yang di tandai dengan munculnya bunga pertama. Tujuan perempelan untuk mengoptimalkan pertumbuhan. 4. Pemupukan. Dapat dilakukan dengan 2 alternatif yaitu : a) Pupuk dasar terdiri dari pupuk kandang kuda (20-30 ton/ha) atau pupuk kandang ayam (15-20 ton/ha) dan Pupuk SP-36 (300-400

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

90

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

kg/ha) dilakukan satu minggu sebelum tanam. Pupuk susulan terdiri dari pupuk urea (200-300 kg/ha), ZA (400-500 kg/ha) dan KCl (250300 kg/ha), diberikan 3 kali pada umur 3, 6 dan 9 minggu setelah tanam masing-masing 1/3 dosis, dengan cara disebarkan disekitar lubang tanam kemudian ditutup dengan tanah. b) Pupuk dasar terdiri atas pupuk kandang kuda (20-30 ton/ha) dan NPK 16-16-16 (700-1000 kg/ha), diberikan satu minggu sebelum tanam. Pupuk susulan adalah NPK 16-16-16 (300-500 kg/ha) diberikan dengan cara pupuk dilarutkan dalam air (2 gr/lt) kemudian disiramkan pada lubang tanam atau sekitar tanaman (100-200 ml/tanaman), setiap 10-14 hari, dimulai satu bulan sesudah tanam. 5. Penyiangan Gulma selain sebagai tanaman kompetitor juga dapat sebagai tempat berkembangnya hama dan penyakit tanaman cabai oleh karenanya penyiangan harus dilakukan untuk membersihkan daerah sekitar tanaman dari gulma. Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan garu atau mencabut gulma secara hati-hati. e. Hama dan Penyakit 1. Hama. 1) Kutu daun persik (Myzus persicae Sulz.) Gejala : tanaman yang terserang daunnya menjadi keriput dan terpuntir, dan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat (kerdil). Kerusakan pada daun muda yang menyebabkan bentuk daun keriput menghadap ke bawah adalah ciri spesifik gangguan kutu daun. Bagian daun bekas tempat isapan kutu daun berwarna kekuningan. Pengendalian : a) Mekanis/kultur teknis : Pembersihan semua gulma dan sisa tanaman inang kutu daun yang ada di sekitar areal pertanaman cabai; Penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat mengurangi masuknya kutu daun dari luar pertanaman cabai; Pengaturan pola tanam, misalnya tumpangsari dengan bawang daun, pola tumpang gilir dengan bawang merah, tanaman bawang dapat bersifat sebagai pengusir hama kutu daun;

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

91

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b) Biologis dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami antara lain parasitoid Aphidius sp., kumbang macan Menochillus sp., dan larva Syrphidae, Ischiodon scutellaris; c) Kimiawi dapat dilakukan pada tingkat kerusakan daun/tanaman contoh sekitar 15 %, dengan insektisida yang berbahan aktif fipronil atau diafenthiuron. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari. 2) Thrips (Thrips parvispinus Karny). Gejala : mula-mula daun yang terserang memperlihatkan noda keperakan yang tidak beraturan, akibat adanya luka dari cara makan hama tersebut. Setelah beberapa waktu, noda keperakan tersebut berubah menjadi kecoklatan terutama pada bagian tepi tulang daun. Daun-daun mengeriting ke arah atas. Pengendalian : a) Mekani/kultur teknis : Pembersihan semua gulma dan sisa tanaman inang hama Thrips yang ada di sekitar areal pertanaman cabai; Penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat mencegah hama Thrips mencapai tanah untuk menjadi pupa sehingga daur hidup Thrips akan terputus. Pemasangan mulsa jerami di musim kemarau akan meningkatkan populasi predator di dalam tanah yang pada akhirnya akan memangsa hama Thrips yang akan berpupa di dalam tanah; Pengaturan pola tanam, misalnya pola tumpang gilir dengan bawang merah akan menekan serangan hama Thrips pada tanaman cabai muda; b) Biologis : dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami, antara lain, kumbang Coccinellidae, kepik Anthocoridae, kumbang Staphylinidae, dan larva Chrysopidae. c) Kimiawi : dapat dilakukan pada tingkat kerusakan daun/tanaman contoh sekitar 15 %, dengan pada sore hari. insektisida yang berbahan aktif fipronil atau diafenthiuron. Penyemprotan sebaiknya dilakukan

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

92

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3) Tungau (Polyphagotarsonemus latus Banks). Gejala umum adalah tepi daun keriting menghadap ke bawah seperti bentuk sendok terbalik dan terjadi penyempitan daun. Daun yang terserang berwarna keperakan pada permukaan bawah daun, menebal dan kaku, pertumbuhan pucuk tanaman terhambat. Serangan berat terjadi pada musim kemarau. Pengendalian : a) Mekanis/kultur teknis : Pembersihan semua gulma dan sisa tanaman inang hama tungau. Diusahakan tungau; Tanaman yang terserang berat dicabut atau pucuk-pucuknya dipotong kemudian dikumpulkan dan dibakar; b) Kimiawi dapat dilakukan pada tingkat kerusakan daun/tanaman contoh sekitar 15 %, dengan menggunakan akarisida, antara lain; yang berbahan aktif amitraz, abamektin, dikofol, atau propargit. 4) Hama Lalat Buah (Bactrocera dorsalis Hendel) Gejala serangan lalat buah pada buah cabai ditandai dengan ditemukannya titik hitam pada pangkal buah. Serangan berat terjadi pada musim hujan. Pengendalian : a) Mekanis : dilakukan dengan mengumpulkan semua buah cabai yang rontok kemudian dibakar, karena larva di dalam buah cabai akan berubah jadi pupa yang akhirnya menjadi lalat buah baru. Dengan cara ini, siklus hidup lalat buah akan terputus; b) Kimiawi : Menggunakan atraktan yang berbahan aktif metyl eugenol, caranya diteteskan pada kapas dan dimasukkan ke dalam botol bekas air mineral. Penggunaan perangkap ini dimaksudkan untuk menekan serangan lalat buah. Pemasangan perangkap ini dilakukan sebulan setelah tanaman cabai ditanam. Jumlah perangkap yang diperlukan 40 buah/ha, dengan dosis 1 pertanaman cabai tidak berdekatan dengan pertanaman singkong yang merupakan inang potensial hama

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

93

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

ml/perangkap. Dua minggu sekali, perlu ditambahkan lagi atraktan tersebut. Pemasangan atraktan ini dilakukan sampai akhir panen; Penggunaan insektisida secara berselang-seling. Insektisida yang dapat dipilih antara lain yang berbahan aktif alfa sipermetrin, sehingga betasiflutrin, menyulitkan dan dirinya deltametrin. untuk Penyemprotan Untuk dilakukan pada pagi hari ketika sayap lalat buah masih basah terbang. meningkatkan efikasi insektisida dapat ditambah dengan bahan perekat perata. 5) Hama Ulat Penggerek Buah (Helicoverpa armigera Hubner) Buah cabai merah yang terserang ulat penggerek buah menunjukkan gejala berlubang dan tidak laku di pasaran. Pada musim hujan, serangan ulat penggerek buah ini akan terkontaminasi oleh cendawan, sehingga buah yang terserang akan membusuk. Pengendalian: a) Kultur teknis : pengaturan pola tanam, dimana tidak menanam cabai pada lahan bekas tanaman tomat dan kedelai; b) Mekanis : dilakukan dengan membersihkan buah-buah cabai yang terserang kemudian dibakar; c) Biologis : penggunaan musuh alami yang menyerang hama ulat buah, antara lain parasitoid telur Trichogramma nana, parasitoid larva Diadegma argenteopilosa, dan cendawan Metharrhizium; d) Kimiawi : menggunakan insektisida yang dapat dipilih antara lain yang berbahan aktif emamektin benzoat 5 % atau lamda sihalotrin 25 g/lt. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada malam hari dengan ditambah bahan perekat perata. 2. Penyakit. 1) Antraknose Gejala pada biji berupa kegagalan berkecambah dan pada kecambah menyebabkan layu semai. Pada tanaman yang sudah dewasa menyebabkan mati pucuk, pada daun dan batang yang terserang menyebabkan busuk kering

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

94

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengendalian : a) Menanam benih yang sehat dan bebas patogen di lahan yang juga bebas dari patogen; b) Melakukan perawatan benih (biji) dengan merendam dalam air hangat (55 derajat C) selama 30 menit, atau perawatan benih dengan fungisida efektif yang direkomendasikan; c) Melakukan sanitasi pada pertanaman dengan cara membakar bagian tanaman yang terserang untuk menekan populasi patogen sejak awal; d) Menanam varietas cabai yang toleran terhadap penyakit; e) Melakukan pergiliran tanaman dengan menanam tanaman yang bukan sebagai inang patogen; f) Melakukan sanitasi terhadap berbagai gulma yang menjadi inang alternatif patogen, seperti Borreria sp. ; g) Menanam varietas cabai berumur genjah dalam upaya memperpendek periode tanaman terekspos patogen; h) Menggunakan fungisida efektif yang direkomendasikan menekan perkembangan patogen secara bijaksana, terutama pada saat pematangan buah; i) Melakukan prosesing (pascapanen) dengan cara mengeringkan buah cabai dengan cepat atau disimpan pada suhu 0 derajat C dapat membebaskan buah dari serangan patogen selama 30 hari. 2) Busuk Phytophthora Gejala : pada tanaman yang masih di persemaian dapat menimbulkan layu semai. Pengendalian : a) Sanitasi lapangan dari gulma yang dapat menjadi inang alternatif dan tanaman sakit, untuk meminimalkan sumber inokulum awal; b) Merawat benih dengan fungisida efektif untuk jamur golongan oomycetes, misalnya yang berbahan aktif metalaksil; c) Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan sebagai inang patogen; d) Tidak menanam varietas yang rentan, terutama di lokasi yang sudah banyak terdapat patogen;

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

95

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

e) Menggunakan mulsa plastik untuk menghindari penyebaran patogen dari buah, daun, dan batang atas ke dalam tanah atau sebaliknya; f) Membuat tata air yang baik untuk menekan perkembangan jamur dalam bentuk oospora maupun zoospora; g) Menggunakan fungisida efektif yang bersifat sistemik yang direkomendasikan secara bijaksana, terutama untuk tanaman dewasa. 3) Layu Fusarium Infeksi pertama umumnya terjadi pada pangkal batang yang langsung berhubungan dengan tanah. Pangkal batang tersebut menjadi busuk dan berwarna coklat tua. Infeksi lanjut menjalar ke daerah perakaran dan menyebabkan kerusakan pada akar (busuk basah). Penyakit layu Fusarium tersebut banyak berkembang di daerah dataran rendah, terutama yang berdrainase kurang baik. Pengendalian : a) Membuat tata air yang baik untuk dapat mengatur lengas tanah dan kelembaban lingkungan, supaya perkembangan jamur Fusarium dapat dihambat; b) Tidak menanam varietas cabai yang rentan penyakit terutama pada lokasi yang sudah terinfeksi patogen; c) Pengolahan tanah yang baik dan ditutup dengan plastik putih selama 3 hari. Dengan cara tersebut suhu tanah dapat mencapai 70 derajat C yang berakibat pada penekanan sumber inokulum awal; d) Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan sebagai inang patogen; e) Menggunakan fungisida efektif yang direkomandasikan secara bijaksana. 4) Bercak Daun Cercospora Gejala : pada daun berupa bercak sirkuler dengan bagian tengah berwarna abu-abu, dan bagian luarnya berwarna coklat tua. Pada kelembaban tinggi, bercak cepat melebar, kemudian mengering dan

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

96

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

pecah dan akhirnya gugur. Daun yang terinfeksi berat berubah warna menjadi kuning dan gugur ke tanah. Penyakit lebih sering merugikan pada tanaman cabai yang ditanam di dataran tinggi daripada yang ditanam di dataran rendah. Pengendalian : a) Menanam benih yang sehat dan bebas patogen; b) Melakukan sanitasi lapangan terhadap gulma yang menjadi inang alternatif patogen serta tanaman yang terinfeksi dan dimusnahkan, untuk mengurangi sumber inokulum awal; c) Menbuat tata air yang baik untuk menjaga kelengasan tanah dan kelembaban lingkungan yang dapat menghambat perkembangan patogen; d) Menggunakan fungisida efektif yang direkomendasikan secara bijaksana. 5) Layu Bakteri Gejala : layu secara tiba-tiba dapat terjadi pada tanaman muda maupun dewasa.Tanaman inang alternatif umumnya yang termasuk dalam Solanaceae seperti tomat, terung, tembakau dan kentang. Pengendalian : b) Melakukan pergiliran tanaman dengan menanam tanaman yang bukan sebagai inang patogen. Pergiliran dengan menanam padi sawah (diairi) sangat membantu menekan populasi patogen di dalam tanah; c) Membuat saluran drainase yang baik untuk mencegah genangan air; d) Menanam varietas cabai yang tahan penyakit. 6) Virus Kuning (Pepper Yellow Leaf Curl Virus Bulai) Penyakit ditularkan melalui vektor kutu kebul (Bemicia tabaci). Kerusakan yang ditimbulkan sangat bervariasi, tergantung kondisi lokasi pertanaman dan stadia tanaman saat terinfeksi. Gejala :

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

97

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

a) Pada cabai besar berupa menguningnya daun tanaman, daun mengecil dan keriting, tanaman menjadi kerdil, bunga rontok yang berakibat tanaman tidak menghasilkan buah. b) Pada cabai rawit gejala yang timbul adalah menguningnya seluruh daun dan tanaman dapat menjadi kerdil bila infeksi terjadi sejak awal pertumbuhan tanaman, sehingga tanaman bisa tidak menghasilkan (gagal panen). Pengendalian : b) Menggunakan benih yang sehat dan bebas patogen. Pembuatan benih dapat dilakukan dengan menyungkup pesemaian dengan kain kasa berlubang halus untuk menghindari masuknya vektor B. tabaci, sehingga virus tidak dapat ditularkan; c) Melakukan sanitasi lapangan dari gulma yang menjadi inang alternatif maupun tanaman sakit sejak awal untuk menekan populasi inokulum awal; d) Menanam varietas cabai yang toleran. Cabai rawit dinyatakan lebih toleran dibandingkan cabai besar; e) Menggunakan pupuk organik cair yang mengandung unsur hara makro, mikro, dan zat pengatur tumbuh sehingga tanaman menjadi sehat yang dapat bereaksi lebih tahan terhadap serangan patogen; f) Membuat pagar keliling hidup dari tanaman jagung, yang ditanam rapat sebanyak enam baris secara zigzag, untuk menahan vektor B. tabaci masuk ke areal pertanaman dari tanaman disebelahnya yang terinfeksi. Penanaman pagar hidup sebaiknya pada saat 5 - 6 minggu sebelum tanam cabai; g) Menyusun pola tanam dan melakukan pergiliran tanaman dengan menanam tanaman yang bukan sebagai inang alternatif bagi patogen h) Menekan populasi vektor B. tabaci dengan insektisida efektif yang direkomendasikan secara bijaksana, sehingga laju infeksi penyakit menjadi lebih kecil.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

98

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

7) Penyakit Mosaik Tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil, warna daun belang hijau muda dan hijau tua, ukuran daun lebih kecil daripada daun yang sehat. Pada tulang daun terdapat jaringan tanaman yang menguning atau hijau gelap dengan tulang daun yang tumbuh lebih menonjol, serta pinggiran daun bergelombang. Pengendalian : b) Melakukan sanitasi lapangan terhadap gulma dan tanaman sakit, selanjutnya dimusnahkan untuk mengurangi sumber inokulum awal; c) Menghindari kontak dengan tanaman sakit pada saat bekerja; d) Mengurung perbenihan tanaman cabai dengan kain kasa halus untuk mencegah masuknya vektor mencapai benih tanaman; e) Untuk mencegah penularan TMV melalui biji, maka biji cabai direndam dalam larutan natrium fosfat 10 % selama satu jam. f) Mengendalikan serangga vektor penyakit dengan insektisida efektif yang direkomendasikan secara bijaksana. f. Panen a) Cabai besar dipanen setelah berumur 75 - 85 hst, dan dapat dipanen beberapa kali. b) Tanaman cabai dapat dipanen setiap 2 - 5 hari sekali tergantung dari luas tanaman dan kondisi pasar. c) Pemanenan dilakukan dengan cara memetik buah beserta tangkainya yang bertujuan agar cabai dapat disimpan lebih lama. d) Buah cabai yang rusak akibat hama atau penyakit harus tetap dipanen agar tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman cabai lain yang sehat. e) Pisahkan buah cabai yang rusak dari buah cabai yang sehat. f) Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari karena bobot buah dalam keadaan optimal akibat penimbunan zat pada malam hari dan belum terjadi penguapan antara 12 - 16 kali dengan selang waktu 3 hari. g) Buah yang dipetik setelah matang berwarna orange sampai merah. h) Kemasan diberi lubang angin yang cukup atau menggunakan karung jala. i) Tempat penyimpanan harus kering, sejuk dan cukup sirkulasi udara.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

99

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

g. Pasca Panen a) Pada saat proses panen, sebaiknya cabai merah sesegera mungkin ditempatkan pada kondisi yang sejuk serta tidak ditutup secara rapat. Proses curing (pembentukan dan kestabilan warna) dilakukan terlebih dahulu sebelum proses penanganan pascapanen lainnya. b) Cabai merah segar dapat langsung disortasi dan dipisahkan sesuai mutu atau dapat dilakukan proses pascapanen lainnya sesuai dengan tujuan pemasaran. c) Pada proses sortasi dan grading ini, sudah dapat ditentukan cabai akan dapat dijual segar atau diolah menjadi alternatif produk lain. d) Cabai merah yang memiliki mutu sesuai dengan persyaratan sebaiknya dilakukan tahapan proses pencucian, penirisan, pelapisan (coating), pengemasan serta penyimpanan. e) Teknologi pengeringan cabai merupakan salah satu alternatif teknologi untuk meningkatkan nilai tambah produk pada saat kapasitas produksi meningkat serta harga jual menurun. f) Terdapat 2 cara pengeringan cabe, yaitu pengeringan alami dengan sinar matahari langsung dan pengeringan buatan. 1) Pengeringan alami. Menggunakan lantai semen, pasangan batu bata yang diplester atau . menggunakan rak-rak yang dibuat dari kayu atau anyaman bambu. Pengeringan cara alami mempunyai keuntungan tidak memerlukan bahan bakar sehingga biaya pengeringan murah, memperluas kesempatan kerja dan sinar matahari mampu menembus ke dalam jaringan sel bahan. pengeringan dan Sedangkan kerugiannya antara lain: suhu kelembaban tidak dapat dikontrol, hanya

berlangsung bila ada sinar matahari. 2) Pengeringan buatan. Pengeringan buatan berbentuk seperti lemari dengan dinding terbuat dari plastik dan rangka terbuat dari kayu. Jumlah rak disesuaikan dengan besar dan ukuran alat pengering. Rancangan alat pengering terdiri dari tiga bagian yaitu cerobong, ruang pengering, dan kolektor.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

100

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Kolektor terdiri dari isolator yang terbuat dari seng bergelombang, yang berfungsi sebagai pengubah sinar matahari menjadi sumber panas. Keuntungan pengeringan buatan adalah: (a) tidak perlu dijaga dari gangguan hujan dan gangguan hewan peliharaan, (b) tidak perlu diangkat (dibongkar) sebelum kering. 3) Pengeringan dengan oven. Alat ini mengunakan sumber panas dari tenaga listrik. Cabai merah dapat dikeringkan dalam bentuk utuh atau dibelah. Cabai merah yang dibelah pengeringannya lebih cepat dibandingkan dengan cabai yang dikeringkan utuh. Pengeringan dengan oven dapat dilakukan pada suhu 60 derajat C selama 20-25 jam. Untuk menjaga agar segera warna cabai merah tetap baik, setelah dibelah cabai Sulfit/ Natrium Metabisulfit) 0,2 % selama 5-10 menit.

dikeringkan. Cara lain adalahdirendam dalam larutan bisulfit (Natrium

IV. Daftar Pustaka 1) Sherly Sisca Piay, Ariarti Tyasdjaja, Yuni Ermawati, F. Rudi Prasetyo Hantoro, 2010. Budidaya dan Pasca Panen Cabai Merah (Capsicum annuum L.). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2) BPTP Lampung, 2008. Teknologi Budidaya Cabai Merah. lampung.litbang.deptan.go.id/ind/.../teknologi budidaya cabai.pdf, 3) Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, 2010. Buku Saku Sayuran.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

101

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

MELON ( Cucumis melo L.)

I. Pendahuluan Melon (Cucumis melo L.) merupakan tanaman buah termasuk famili Cucurbitaceae, banyak yang menyebutkan buah melon berasal dari Lembah Panas Persia atau daerah Mediterania yang merupakan perbatasan antara Asia Barat dengan Eropa dan Afrika. Dan tanaman ini akhirnya tersebar luas ke Timur Tengah dan ke Eropa. Pada abad ke-14 melon dibawa ke Amerika oleh Colombus dan akhirnya ditanam luas di Colorado, California, dan Texas. Akhirnya melon tersebar keseluruh penjuru dunia terutama di daerah tropis dan subtropis termasuk Indonesia.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Angin yang bertiup cukup keras dapat merusak pertanaman melon, dapat mematahkan tangkai daun, tangkai buah dan batang tanaman. 2) Hujan yang terus menerus akan menggugurkan calon buah yang sudah terbentuk dan dapat pula menjadikan kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi patogen. Saat tanaman melon menjelang panen, akan mengurangi kadar gula dalam buah.
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

102

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3) Tanaman melon memerlukan penyinaran matahari penuh selama pertumbuhannya. 4) Tanaman melon memerlukan suhu yang sejuk dan kering untuk pertumbuhannya. Suhu pertumbuhan untuk tanam melon antara 2530 derajat C. Tanaman melon tidak dapat tumbuh apabila suhu kurang dari 18 derajat C. 5) Kelembaban udara secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman melon. Dalam kelembaban yang tinggi tanaman melon mudah diserang penyakit. b. Ketinggian Tempat Tanaman melon dapat tumbuh dengan cukup baik pada ketinggian 300 900 meter dpl. Apabila ketinggian lebih dari 900 meter dpl tanaman tidak berproduksi dengan optimal. c. Tanah 1) Tanah yang baik untuk budidaya tanaman melon ialah tanah liat berpasir yang banyak mengandung bahan organik untuk memudahkan akar tanaman melon berkembang. Tanaman melon tidak menyukai tanah yang terlalu basah. Jenis tanah terutama Andosol, Latosol, Regosol dan Grumosol. 2) Tanaman melon akan tumbuh baik apabila pH tanah 5,87,2. 3) Tanaman melon membutuhkan air yang cukup banyak, tetapi sebaiknya air itu berasal dari irigasi, bukan dari air hujan. III. Budidaya a. Penyiapan Lahan 1) Tanah dicangkul/dibajak sedalam 30 cm, dikering anginkan 1-2 minggu. 2) Dibuat bedengan lebar 100-120 cm, tinggi 30-50 cm dan jarak antar bedengan 30 cm, panjang bedengan maksimum 12-15 m, lebar parit 55-65 cm. 3) Pemberian pupuk setiap lubang tanam yaitu pupuk kandang 5 kg, urea 25 gram, SP-36 50 gram dan KCl 25 gram. Atau dosis/ha yaitu pupuk kandang 20-30 ton/ha, Urea 50 kg/ha, SP-36 100 kg/ha dan KCl 50
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

103

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

kg/ha KCl. Tanah diratakan dan tutup dengan mulsa plastik hitam perak (PHP). 4) Pemasangan mulsa PHP sebaiknya dilakukan pada saat panas matahari terik agar mulsa dapat memuai sehingga menutup bedengan dengan tepat. 5) Mulsa PHP terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan berwarna perak di bagian atas dan warna hitam dibagian bawah. 6) Warna perak pada mulsa akan memantulkan cahaya matahari sehingga proses fotosintesis menjadi lebih optimal, kondisi pertanaman tidak terlalu lembab, mengurangi serangan penyakit, dan mengusir seranggaserangga penggangu tanaman seperti Thirps dan Aphids. 7) Warna hitam pada mulsa akan menyerap panas sehingga suhu di perakaran tanaman menhadi hangat sehingga perkembangan akar akan optimal. 8) Warna hitam juga mencegah sinar matahari menembus ke dalam tanah sehingga benih-benih gulma tidak akan tumbuh (kecuali teki dan anak pisang). 9) Bedengan dibiarkan tertutup mulsa PHP selama 35 hari sebelum dibuat lubang tanam agar pupuk kimia yang diberikan dapat berubah menjadi bentuk tersedia sehingga dapat diserap tanaman. b. Penyiapan Benih 1) Benih disemaikan pada pot polibag ukuran 4- 6 cm dengan media pupuk kandang : tanah = 1:1 (volume 2/3 bagian pot). 2) Untuk menghindari penyakit akar tular tanah media disterilkan terlebih dahulu dengan cara dipanaskan + 30 menit. 3) Pembuangan berbunga. 4) Seleksi buah, dilakukan setelah sebesar telur ayam. Satu tanaman dipelihara satu buah dan buah dipilih pada ruas antara ke 7 sampai 13. c. Penanaman 1) Membuat lubang tanam pada mulsa plastik diameter 8-10 cm dengan menggunakan kaleng susu atau pelubang mulsa plastik dari besi. tunas pada ketiak daun, 30 HSTtanaman mulai

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

104

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2) Jarak tanam antar baris 100 cm dan dalam baris 50 cm. 3) Benih umur 2 minggu setelah semai ditanam pada mulsa plastik yang telah dilubangi. Dalam bedengan terdapat 2 baris tanaman. d. Pemeliharaan 1) Penjarangan dan Penyulaman. Dilakukan bila dalam waktu 2 (dua) minggu setelah tanam, bibit tidak menunjukkan pertumbuhan normal. Tanaman dicabut beserta akarnya kemudian diganti dengan bibit/tanaman baru, sebaiknya dilakukan pada sore hari agar tanaman muda ini dapat lebih beradaptasi dengan lingkungan barunya. Penyulaman dan penjarangan biasanya dilakukan selama 3 5 hari, karena kemungkinan dalam seminggu pertama masih ada tanaman lainnya yang perlu disulam. Setelah selesai penjarangan dan penyulaman tanaman baru harus disiram air. 2) Penyiangan, dilakukan pada lubang tanam dan parit di antara dua bedengan. Gulma yang tidak dibersihkan menyebabkan lingkungan pertanaman lembab sehingga merangsang penyakit. Gulma juga dapat sebagai inang hama dan nematoda yang merugikan 3) Pemangkasan tunas-tunas yang tumbuh pada ketiak daun dan pucuk daun pada ruas setelah ke 20 atau tinggi tanaman mencapai 175-200 cm. 4) Pemupukan susulan dilakukan sebanyak 3 kali dengan dosis sbb : Waktu pemupukan, dosis/ha 20 hari stl tanam 330 kg 220 kg 40 hari stl tanam 220 kg 550 kg 160 kg 60 hari stl tanam 440 kg -

Jenis pupuk Ppk kandang Urea SP-36 KCl

5) Pemupukan saat tanaman berumur berusia 40 hari (ketika akan melakukan penjarangan buah) dan pada saat tanaman berusia 60 hari (saat menginjak proses pematangan).

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

105

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

6) Cara pemupukan sebarkan secara merata di atas tanah bedengan pada pinggiran kiri dan kanannya (1015 cm). Kemudian tanah dibalik dengan hati-hati supaya tidak merusak perakaran tanaman, dan agar pupuk tersebut bisa aman terpendam dalam tanah. 7) Untuk memudahkan waktu pemupukan, dibuat data mengenai rangkaian pemupukan sejak awal. e. Pengairan dan Penyiraman. 1) Pengairan. Tanaman melon menghendaki udara yang kering untuk pertumbuhannya, tetapi tanah harus lembab. Pengairan harus dilakukan jika hari tidak hujan dan dilakukan pada sore atau malam hari. 2) Penyiraman. Tanaman di siram sejak masa pertumbuhan tanaman, sampai tanaman akan dipetik buahnya. Saat menyiram jangan sampai air siraman membasahi daun dan air dari tanah jangan terkena daun dan buahnya supaya tanaman tidak dijangkiti penyakit yang berasal dari percikan tersebut, kalau daun basah kuyup akan mengundang jamur sangat besar. Penyiraman dilakukan pagi-pagi sekali atau malam hari. f. Waktu Penyemprotan Pestisida 1) Tindakan preventif, benih direndam dalam larutan bakterisida Agrimycin (oxytetracycline dan streptomycin sulfate) atau Agrept (streptomycin sulfate) dengan konsentrasi 1,2 gram/liter dan penyemprotan bakterisida pada umur 20 HST. 2) Penyemprotan fungisida dengan ambang ekonomi. 3) Penyemprotan fungisida Derasol 500 SC (carbendazim) dengan konsentrasi 12 ml/liter. Pangkal batang yang terserang dioles dengan larutan fungisida Calixin 750 EC (tridemorph) dengan konsentrasi 5 ml/liter. Previcur N (propamocarb hydrochloride) konsentrasi 23 ml/liter apabila serangan telah melewati

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

106

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

g. Pemeliharaan Lainnya. 1) Pemasangan Ajir. Ajir atau tongkat dari kayu atau bilahan bambu, untuk rambatan dapat di pasang setelah selesai membuat pembubunan dan selesai mensterilkan kebun, atau dipasang sesudah bibit ditanam, dan bibit sudah mengeluarkan sulur-sulurnya kira-kira tingginya adalah 50 cm. Ajir harus terbuat dari bahan yang kuat sehingga mampu menahan beban buah dengan bobot kira-kira 23 kg. Tempat ditancapkannya ajir dengan jarak kira-kira 25 cm dari pinggir guludan baik kanan maupun kiri. Supaya ajir lebih kokoh bisa ditambahkan bambu panjang yang diletakkan di bagian pucuk segitiga antara bambu atau kayu yang menyilang, mengikuti barisan ajir-ajir di belakangnya. 2) Pemangkasan. Bertujuan untuk memelihara cabang sesuai dengan yang dikehendaki. Tinggi tanaman dibuat rata-rata antara titik ke-20 sampai ke-25 (bagian ruas, cabang atau buku dari tanaman tersebut). Pemangkasan dilakukan kalau udara cerah dan kering, supaya bekas luka tidak diserang jamur. Waktu pemangkasan dilakukan setiap 10 hari sekali, yang paling awal dipangkas adalah cabang yang dekat dengan tanah dan sisakan dua helai daun, kemudian cabang-cabang yang tumbuh lalu dipangkas dengan menyisakan 2 helai daun. Pemangkasan dihentikan, jika ketinggian tanamannya sudah mencapai pada cabang ke-20 atau 25. h. Hama dan Penyakit. 1. Hama 1) Kutu aphids (Aphis gossypii Glover ) Hama ini menyerang tanaman melon yang ada di lahan penanaman. Gejala: daun tanaman menggulung dan pucuk tanaman menjadi kering akibat cairan daun yang dihisap hama. Pengendalian :

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

107

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

a) Mekanis : gulma harus selalu dibersihkan agar tidak menjadi inang hama; tanaman yang telah terjangkit virus harus dicabut dan dibakar (dimusnahkan). b) Kimiawi : tanaman yang terserang parah harus disemprot secara serempak dengan insektisida Perfekthion 400 EC (dimethoate) dengan konsentrasi 1,02,0 ml/liter; 2) Thirps (Thirps parvispinus Karny) Gejala: daun-daun muda atau tunas-tunas baru menjadi keriting, dan bercaknya kekuningan; tanaman keriting dan kerdil serta tidak dapat membentuk buah secara normal. Kalau gejala ini timbul harus diwaspadai karena telah tertular virus yang dibawa hama thirps. Pengendalian: menyemprot dengan racun kontak, 3 - 4 hari sekali. 2. Penyakit 1) Layu bakteri Gejala: daun dan cabang layu dan terjadi pengkerutan pada daun, warna daun menguning, mengering dan akhirnya mati; daun tanaman layu satu per satu, meskipun warnanya tetap hijau, kemudian tanaman layu secara keseluruhan. Pengendalian : (a) sebelum ditanami, lahan disterilisasi dengan Basamid G dengan dosis 40 g/m2 ; (b) benih di rendam dalam bakterisida dan streptomycin sulfate) atau dengan konsentrasi 1,2 gram/liter ; (c) penyemprotan bakterisida ini pada umur 20 hari setelah tanam. 2) Penyakit busuk pangkal batang (gummy stem bligt) Gejala : pangkal batang yang terserang mula-mula seperti tercelup minyak kemudian keluar lendir berwarna merah coklat dan kemudian tanaman layu dan mati; daun tanaman yang terserang akan mengering apabila diremas seperti kerupuk dan berbunyi kresekkresek apabila diterpa angin. Pengendalian : Agrimyciin (oxytetracycline (streptomycin sulfate) Agrept

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

108

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

a) Kultur teknis : penggunaan mulsa PHP untuk mencegah kelembaban di sekitar pangkal batang dan mencegah luka di perakaran maupun pangkal batang karena penyiangan; b) Kimiawi : daun tanaman yang terserang dibersihkan lalu disemprot dengan fungisida Derasol 500 SC (carbendazim) dengan konsentrasi 12 ml/liter; pangkal batang yang terserang dioles dengan larutan fungisida Calixin 750 EC (tridemorph) dengan konsentrasi 5 m/liter. 3. Gulma Gulma (tumbuhan pengganggu) merugikan tanaman, karena bersaing zat hara, tempat tumbuh dan cahaya. Pencabutan gulma harus dilakukan sejak tumbuhan masih kecil, karena jika sudah besar akan merusak perakaran tanaman melon. i. Panen 1. Ciri dan Umur Panen a) Tanda/ciri Penampilan Tanaman Siap Panen Ukuran buah sesuai dengan ukuran normal Serat jala pada kulit buah sangat nyata/kasar Warna kulit hijau kekuningan. b) Umur Panen + 3 bulan setelah tanam. c) Waktu panen yang baik adalah pada pagi hari. 2. Cara Panen a) Potong tangkai buah melon dengan pisau, sisakan minimal 2,0 cm untuk memperpanjang masa simpan buah. b) Tangkai dipotong berbentuk huruf T agar tangkai buah utuh dan kedua sisi atasnya merupakan tangkai daun yang telah dipotong daunnya. c) Pemanenan dilakukan secara bertahap, dengan mengutamakan buah yang telah siap dipanen. d) Buah yang telah dipanen dikumpulkan disuatu tempat untuk disortir. Kerusakan buah akibat terbentur/cacat fisik lainnya, sebaiknya dihindari karena akan mengurangi harga jual terutama di swalayan.
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

109

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3. Periode Panen a) Panen dilakukan secara bertahap, dengan mengutamakan buah yang benar-benar telah siap panen. b) Seandainya dalam jangka waktu 3-5 bulan ke depan harga melon diperkirakan akan jatuh, maka lahan bekas tanaman melon digunakan untuk budidaya cabai karena lahan yang tersedia tidak perlu diubah namun mulsa PHP dibuka dan dosis pemupukan ditambahkan 50%. j. Pasca Panen Pascapanen merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan setelah melon dipanen agar kesalahan penanganan dalam pascapanen tidak terjadi karena akan mempengaruhi kwalitas/penampilan buah melon. 1. Pengumpulan Buah-buah melon yang telah dipanen dikumpulkan pada suatu tempat untuk segera disortir. Saat panen kerusakan buah sebaiknya dihindari akibat terbentur atau cacar fisik lainnya, karena akan mengurangi harga jual terutama untuk konsumsi pasar swalayan. 2. Penyortiran dan Penggolongan Buah yang sehat dan utuh dipisahkan dari buah yang cacat fisik maupun cacat karena serangan hama dan penyakit. Buah melon yang berkualitas bagus kemudian dilakukan penggolongan menjadi tiga kelas, yaitu : a) Kelas M1 yaitu melon berbobot 1,5 kg/lebih jaring berbentuk sempurna. b) Kelas M2 yaitu melon berbobot 11,5 kg jaringnya terbentuk hanya 70% saja. c) Kelas M3 yaitu bobot buahnya bervariasi dengan jaring sedikit atau tidak berbentuk sama sekali. Hal ini terjadi karena tanaman belum saatnya dipanen tapi telah mati terlebih dahulu akibat serangan hama. 3. Penyimpanan a) Buah melon yang sudah dipetik, tidak boleh ditumpuk satu sama lain, dan buah yang belum terangkut dapat disimpan dalam gudang penyimpanan. 110

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b) Buah ditata secara rapi dengan dilapisi jerami kering. c) Tempat penyimpanan buah harus bersih, kering dan bebas dari hama seperti kecoa atau tikus. d) Melon yang sudah terlalu masak jangan disatukan dengan buah yang setengah masak (mengkal). e) Bila ada buah yang mulai busuk harus di jauhkan dari tempat penyimpanan. 4. Pengemasan dan Pengangkutan a) Kemasan untuk melon dapat dibuat dari kayu biasa dan banyak memiliki lubang angin. Cara menyusunnya, bagian dasar kotak diberi jerami kering yang cukup tebal, kemudian melon diberikan jerami juga dibagian atas buahnya. Sebelum kotak ditutup, buah melon diberi lapisan jerami lagi. b) Selain dari kotak, pengemasan bisa juga menggunakan rajutan benang yang mirip jala, kemudian dimasukkan dalam kemasan karton. Dalam karton masih dilapisi dengan jerami kering atau kertas hancuran. Dengan kemasan seperti ini akan lebih terjamin dibanding dengan menggunakan kotak dari kayu (cara tradisional). c) Buah yang akan di ekspor biasanya dipak secara khusus dengan peti kemas yang terbuat dari kayu, karton atau kotak plastik. Di kargo pesawat, peti kemas melon dimasukkan ke dalam kontainer pendingin agar buah tetap segar jika sampai ke tempat tujuan.

IV. Daftar Pustaka 1. Desti Warni dan Titiek Purbiati, 2010. Budidaya Melon. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Barat. 2. Heru Prihantoro, 2008. Memupuk Tanaman Buah. Penebar Swadaya 3. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 2000. Tentang Budidaya Melon (Cucumis melo L.)

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

111

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

SEMANGKA (Citrullus vulgaris)

I. Pendahuluan Semangka (water mellon) merupakan tanaman buah berupa herba yang tumbuh merambat. Tanaman ini berasal dari daerah kering tropis dan subtropis Afrika, kemudian berkembang dengan pesat ke berbagai negara seperti : Afrika Selatan, Cina, Jepang, dan Indonesia. Semangka termasuk dalam keluarga buah labu-labuan (Cucurbitaceae) pada daerah asalnya sangat disukai oleh manusia/ binatang yang ada di benua tersebut, karena banyak mengandung air. II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Curah hujan yang ideal untuk areal penanaman semangka adalah 40-50 mm/bulan. 2) Seluruh areal pertanaman semangka perlu sinar matahari sejak terbit sampai tenggelam. Kekurangan sinar matahari menyebabkan terjadinya kemunduran waktu panen. 3) Tanaman semangka akan dapat tumbuh berkembang serta berbuah dengan optimal pada suhu 25 derajat C (siang hari). 4) Kelembaban udara rendah cocok untuk pertumbuhan semangka, sebaliknya kelembaban yang terlalu tinggi akan mendorong tumbuhnya jamur perusak tanaman. 112

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b. Ketinggian Tempat Ketinggian tempat yang ideal untuk areal penanaman semangka adalah : 100-300 m dpl, namun semangka dapat ditanam di daerah yang mempunyai ketinggian di bawah 100 m dpl dan di daerah dengan ketinggian lebih dari 300 m dpl. c. Tanah 1) Kondisi tanah yang cocok untuk tanaman semangka adalah tanah yang cukup gembur, kaya bahan organik, bukan tanah asam dan tanah kebun/persawahan yang telah dikeringkan. 2) Keasaman tanah (pH) yang diperlukan antara 6-6,7. Jika pH < 5,5 (tanah asam) maka diadakan pengapuran dengan dosis disesuaikan dengan tingkat keasaman tanah tersebut. 3) Tanah yang cocok untuk tanaman semangka adalah tanah porous (sarang) sehingga mudah membuang kelebihan air, tetapi tanah yang terlalu mudah membuang air kurang baik untuk ditanami semangka. III. Budidaya a. Pengolahan Lahan 1) Pembukaan Lahan Lahan yang ditanami dilakukan pembalikan tanah untuk menghancurkan tanah hingga menjadi bongkahan-bongkahan yang merata. Tunggul bekas batang/jaringan perakaran tanaman terdahulu dibuang keluar dari areal, dan juga segala jenis batuan yang ada dibuang, sehingga tidak mempengaruhi perkembangan tanaman semangka yang akan ditanam di areal tersebut. 2) Pembentukan Bedengan Lahan kemudian dibuat bedengan supaya air yang terkandung di dalam tanah mudah mengalir keluar melalui saluran drainase yang dibuat. Jumlah bedengan tergantung jumlah baris tanam yang dikehendaki, lebar bedengan 7-8 meter, tinggi bedengan minimum 20 cm. 3) Pengapuran Diberikan pada lahan dengan pH rendah dengan menggunkan kapur karbonat/dolomit. Dosis kapur pada pH 4 5 sebanyak 1.500 2.000 kg/Ha, pH 5-6 sebanyak 750-1.500 kg/ha, pH > 6 dosis 500 kg/ha.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

113

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4) Pemupukan Dasar. Pupuk dasar yang dipakai adalah pupuk organik dengan dosis adalah 24 kg/tanaman. 5) Lain-lain Dilakukan penghalusan dan perataan bongkahan tanah pada sisi bedengan tempat penanaman semangka. Di bagian tengah bedengan diratakan dan diatas lapisan ini diberi jerami kering untuk perambatan semangka dan peletakan buah. Bedengan perlu disiangi, disiram dan dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm dan plastik mulsa dengan lebar plastik 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuh tanaman liar. Pemakaian plastik lebih menguntungkan karena lebih tahan lama yaitu 2 - 3 kali periode penanaman. b. Penanaman 1) Pembibitan. Agar benih dapat tumbuh baik, sehat dan cepat beradaptasi dengan lingkungan maka perlu disesuaikan terlebih dahulu dengan kegiatan sebagai berikut: a) Benih direndam dalam larutan Benlate atau Dithane M-45 (0,5-1 gram/liter) selama 6 jam. b) Siapkan 3 lembar kertas koran yang telah dibasahi, letakkan/susun benih yang telah direndam kemudian tutup dengan 3 lembar kertas koran yang telah dibasahi dan selama + 2 hari usahakan kertas koran dalam keadaan lembab. c) Setelah (3 :1). d) Persemaian/polybag ditempatkan pada tempat terbuka dengan diberi naungan yang dapat diatur. e) Pemeliharaan bibit meliputi penyiraman, pengaturan naungan dan pengendalian hama dan penyakit. 2) Pembuatan Lubang Tanaman Penanaman dilakukan setelah persemaian berumur 14 hari dan telah tumbuh daun 2-3 lembar. Satu minggu sebelum penanaman dibuat benih berkecambah dapat dipindahkan ke kantong plastik/polybag dengan media semai dari tanah dan pupuk kandang

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

114

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

lubang tanah dengan kedalaman 8-10 cm. Jarak lubang tanam dari tepi bedengan 20-30 cm antara lubang tanam sekitar 80-100 cm. 3) Cara Penanaman Setelah dilakukan pelubangan, areal penanaman disiram secara massal sampai menggenangi areal sekitar tinggi bedengan, dan dibiarkan sampai air meresap. Sebelum batang bibit ditanam dilakukan perendaman, agar mudah pelepasan bibit menggunakan kantong plastik yang ada. Langkah imunisasi dilakukan dengan perendaman selama 5-10 menit dengan campuran larutan obat obatan yang terdiri dari : 1 sendok teh hormon Atonik, Abitonik, dekamon, menedael, 1 sendok teh peres bakterisida tepung, 1 sendok teh peres fungisida (Berlate, Dithane M-45, Daconiel). Urutan penanaman adalah sebagai berikut: a) Kantong plastik diambil hati-hati supaya akar tidak rusak. b) Tanam dengan tanah posisi kantong dan masukkan ke lubang yang sudah disiapkan c) Celah-celah lubang ditutup dengan tanah yang telah disiapkan d) Lubang tanaman yang tersisa ditutup dengan tanah dan disiram sedikit air agar media bibit menyatu dengan tanah disekeliling dapat bersatu tanpa tersisa. c. Pemeliharaan 1) Penjarangan dan Penyulaman Tanaman semangka yang berumur 3-5 hari perlu diperhatikan, apabila tumbuh terlalu lebat/tanaman mati dilakukan penyulaman/diganti dengan bibit baru yang telah disiapkan dari bibit cadangan. Dilakukan penjarangan bila tanaman terlalu lebat dengan memangkas daun dan batang yang tidak diperlukan, karena menghalangi sinar matahari yang akan membantu perkembangan tanaman. 2) Penyiangan Dipelihara 2-3 cabang primer tanpa memotong ranting sekunder, penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah dipotong karena mengganggu pertumbuhan buah. serbuk/tepung

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

115

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Dilakukan pengaturan cabang utama dan cabang primer agar semua daun pada tiap cabang tidak saling menutupi, sehingga pembagian sinar merata, yang mempengaruhi pertumbuhan baik pohon/buahnya. 3) Pembubunan Lahan penanaman semangka dilakukan pembubunan tanah agar akar menyerap makanan secara maksimal dan dilakukan setelah beberapa hari penanaman. 4) Perempalan Dilakukan melalui penyortiran dan pengambilan tunas-tunas muda yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang. Perempelan dilakukan untuk mengurangi tanaman yang terlalu lebat akibat banyak tunas-tunas muda yang kurang bermanfaat. 5) Pemupukan Pada pertumbuhan vegetative diperlukan pupuk daun (Topsil D) Pada fase pembentukan buah dan pemasakan diperlukan pemupukan Topsis B untuk memperbaiki kualitas buah yang dihasilkan. Pemberian pupuk daun dicampur dengan insekstisida dan fungisida yang disemprotkan bersamaan secara rutin. Dosis dan waktu pemupukan adalah sbb : Waktu pemupukan, dengan dosis/lubang tanam Jenis Pupuk Pupuk Kandang Urea SP-36 7 hari sblm tanam 2-4 kg Saat tanam 10 gr 10 gr 14 hari stl tanam 10 gr 10 gr 10 gr 28 hari stl tanam 10 gr 10 gr 10 gr 42 hari stl tanam 10 gr 10 gr

10 gr KCl 6) Pengairan dan Penyiraman

Sistim irigasi yang digunakan sistem Farrow Irrigation yaitu air dialirkan melalui saluran diantara bedengan, frekuensi pemberian air pada musim kemarau 4-6 hari dengan volume pengairan tidak berlebihan. Bila dengan pompa air sumur (diesel air) penyiraman dilakukan dengan bantuan slang plastik yang cukup besar sehingga lebih cepat. Tanaman semangka memerlukan air secara terus menerus dan tidak kekurangan air.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

116

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

7) Waktu Penyemprotan Pestisida Selain pupuk daun, insektisida dan fungisida, ada obat lain yaitu ZPT (zat perangsang tumbuhan); bahan perata dan perekat pupuk makro (Pm) berbentuk cairan. Dosis ZPT: 7,5 cc, Agristik: 7,5 cc dan Metalik (Pm): 10 cc untuk setiap 14-17 liter pelarut. Penyemprotan campuran obat dilakukan setelah tanaman berusia >20 hari. Selanjutnya dilakukan tiap 5 hari sekali hingga umur 70 hari. Penyemprotan dilakukan pagi dan sore hari tergantung kebutuhan dan kondisi cuaca. 8) Pemeliharaan Lain Seleksi calon buah merupakan pekerjaan yang penting untuk memperoleh kualitas yang baik (berat buah cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman). Calon buah yang dekat dengan perakaran berukuran kecil karena umur tanaman relatif muda (ukuran sebesar telur ayam dalam bentuk yang baik dan tidak cacat). Setiap tanaman diperlukan calon buah 1-2 buah, sisanya di pangkas. Setiap calon buah dengan berat 2 kg agar sering dibalik guna menghindari warna yang kurang baik akibat ketidak-merataan terkena sinar matahari, sehingga warna kurang menarik dan menurunkan harga jual buah itu sendiri. d. Hama dan Penyakit 1. Hama Hama tanaman semangka dapat digolongkan dalam 2 kelompok : a. Hama tidak tahan terhadap pestisida seperti kutu daun, umumnya berwarna hijau pupus, hidup bergelombol, tidak bersayap, dan mudah berkembang biak. Gejala yang terjadi daun berberecak kuning, pertumbuhannya terhambat. Pengendalian dilakukan secara non kimiawi dan kimiawi dengan obatobatan/pestisida. b. Hama yang tahan terhadap pestisida seperti: tikus, binatang piaraan (kucing, anjing dan ayam).
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

117

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengendalian: menjaga pematang selalu bersih, mendirikan pagar yang jaga. 1) Thrips Cara penularan secara mengembara dimalam hari, menetap dan berkembang biak. Pengendalian: menyemprotkan larutan insektisida sampai tanaman basah dan merata. 2) Ulat perusak daun Gejala serangan daun dimakan sampai tinggal lapisan lilinnya dan terlihat dari jauh seperti berlubang. Pengendalian: dilakukan secara non kimiawi dan secara kimiawi. 3) Tungau Mengisap cairan tanaman, membela diri dengan menggigit dan menyengat. Gejala tampak jaring-jaring sarang binatang ini di bawah permukaan daun, warna dedaunan akan pucat. Pengendalian: dilakukan secara non-kimiawi dan dengan pestisida. 4) Ulat tanah Menyerang daun, terutama tunas-tunas muda, ulat dewasa memangsa pangkal tanaman. Pengendalian : a) Mekanis/kultur teknis : penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan untuk memutus siklus hidup hama dan pemberantasan sarang ngengat disekitarnya; b) Kimiawi, dengan obat-obatan sesuai dengan anjuran. 5) Kutu putih dan Lalat buah Gejala serangan : terdapat bekas luka pada kulit buah (seperti tusukan belalai), daging buah beraroma sedikit masam dan terlihat memar. Pengendalian : a) Mekanis : sanitasi dengan membersihkan lingkungan terutama pada kulit buah, tanah bekas hama dibalikan dengan dibajak/dicangkul. b) Kimiawi : dengan obat-obatan. mengelilingi tanaman, pemasangan suatu alat yang menghasilkan bunyi-bunyian bila tertiup angin dan diadakan pergiliran

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

118

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2. Penyakit 1) Layu Fusarium Penyebab: lingkungan/situasi yang memungkinkan tumbuh jamur (hawa yang terlalu lembab). Gejala: timbul kebusukan pada tanaman yang tadinya lebat dan subur, lambat laun akan. Pengendalian : a) Mekanis/kultur teknis : pola tanam dan sanitasi dengan pergiliran masa tanam dan menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru yang belum ditanami, atau menanam benih yang sudah direndam obat; b) Kimiawi : dilakukan penyemprotan bahan fungisida secara periodik. 2) Bercak daun Penyebab : spora bibit penyakit terbawa angin dari tanaman lain yang terserang. Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan selanjutnya menjadi coklat akhirnya mengering dan mati, atau terdapat rumbai-rumbai halus berwarna abu-abu/ungu. Pengendalian: b) Mekanis : sanitasi/pola tanam seperti pada penyakit layu fusarium; c) Kimiawi, tanaman disemprot dengan fungisida yang terdiri dari Dithane M 45 dosis 1,8-2,4 gram/liter; Delsene MX 200 dengan dosis 2-4 gram/liter, Trimoltix 65 Wp dosis 2-3 gram/liter dan Daconil 75 Wp dosis 1-1,5 gram/liter. 3) Antraknosa Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya berubah warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila menyerang buah, tampak bulatan berwarna merah jambu yang lama kelamaan semakin meluas. Pengendalian : a) Mekanis : sanitasi/pola tanam sepeti pengendalian penyakit layu fusarium; b) Kimiawi : menggunakan fungisida Velimex 80 WP dosis 2-2,5 gram/liter air. 4) Busuk semai Menyerang pada benih yang sedang disemaikan.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

119

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Gejala: batang bibit berwarna coklat, merambat dan rebah kemudian mati. Pengendalian: benih direndam di dalam obat Benlate 20 WP dosis 12 gram/liter air dan Difolathan 44 FF dosis 1-2 cc/liter air. 5) Busuk buah Penyebab: jamur/bakteri patogen yang menginfeksi buah menjelang masak dan aktif setelah buah mulai dipetik. Pengendalian : hindari dan cegah terjadinya kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan, pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari tidak berawan/hujan. 6) Karat daun Penyebab: virus yang terbawa oleh hama tanaman yang berkembang pada daun tanaman. Gejala: daun melepuh, belang-belang, cenderung berubah bentuk, tanaman kerdil dan timbul rekahan membujur pada batang. Pengendalian: sama seperti penyakit layu fusarium. Belum ditemukan obat yang tepat, sehingga tanaman yang terlanjur terkena harus dieradikasi, supaya tidak menular pada tanaman sehat. 3. Gulma Selain gangguan oleh hama dan penyakit, gangguan juga disebabkan kekurangan/kelebihan unsur hara yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pohon semangka yang kekurangan dan kelebihan unsur hara tersebut, menderita akibat adanya gulma (tanaman pengganggu). e. Panen 1. Ciri dan Umur Panen Umur panen setelah 70-100 hari setelah tanam (HST). Ciri-cirinya: setelah terjadi perubahan warna buah, dan batang buah mulai mengecil maka buah tersebut bisa dipetik (dipanen). Masa panen dipengaruhi cuaca, dan jenis bibit (tipe hibrida/jenis triploid, maupun jenis buah berbiji). 2. Cara Panen Dalam pemetikan buah yang akan dipanen sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah dan tidak berawan sehingga buah dalam kondisi

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

120

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

kering permukaan kulitnya, dan tahan selama dalam penyimpananan ataupun ditangan para pengecer. Sebaiknya tangkainya. 3. Periode Panen Panen dilakukan dalam beberapa periode, namun dapat juga buah secara serempak dan dipanen secara sekaligus Apabila panen tidak bisa bersamaan dapat dilakukan 3 kali, yaitu pertama dipetik buah yang sudah tua, kedua sisanya dipetik semuanya sekaligus dan ketiga setelah daun-daun sudah mulai kering karena buah sudah tidak dapat berkembang lagi maka buah tersebut harus segera dipetik. f. Pasca Panen 1. Pengumpulan Pengumpulan hasil panen sampai siap dipasarkan, harus diusahakan sebaik mungkin agar tidak terjadi kerusakan buah, sehingga akan mempengaruhi mutu buah dan harga jualnya. Mutu buah dipengaruhi adanya derajat kemasakan yang tepat, karena akan mempengaruhi mutu rasa, aroma dan penampakan daging buah, dengan kadar air yang sempurna. 2. Penyortiran dan Penggolongan Penggolongan ini biasanya tergantung pada pemantauan dan permintaan pasaran. Penyortiran dan penggolongan buah semangka dilakukan dalam beberapa klas antara lain: a) Kelas A: berat 4 kg, kondisi fisik sempurna, tidak terlalu masak. b) Kelas B: berat 2-4 kg, kondisi fisik sempurna, tidak terlalu masak. c) Kelas C: berat < 2 kg, kondisi fisik sempurna, tidak terlalu masak. 3. Penyimpanan Penyimpanan buah semangka di tingkat pedagang besar (sambil menunggu harga lebih baik) dilakukan sebagai berikut: a) Penyimpanan pada suhu rendah sekitar 4,4 derajat C, dan kelembaban udara antara 80-85%; pemotongan buah semangka dilakukan beserta

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

121

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b) Penyimpanan pada atmosfir terkontrol (merupakan cara pengaturan kadar O2 dan kadar CO2 dengan asumsi oksigen atau menaikan kadar karbon dioksida (CO2), dapat mengurangi proses respirasi; c) Penyimpanan dalam ruang tanpa pengatur suhu: merupakan penyimpanan jangka pendek dengan cara memberi alas dari jerami kering setebal 10-15 cm dengan disusun sebanyak 4-5 lapis dan setiap lapisnya diberi jerami kering. 4. Pengemasan dan Pengangkutan Di dalam mempertahankan mutu buah agar kondisi selalu baik sampai pada tujuan akhir dilakukan pengemasan dengan proses pengepakan yang secara benar dan hati-hati. a) Menggunakan tempat buah yang standar untuk mempermudah pengangkutan. b) Melindungi buah saat pengangkutan dari kerusakan mekanik dapat dihindari. c) Dibubuhi label pada peti kemas terutama tentang mutu dan berat buah. 5. Penanganan Lain Pemasaran merupakan salah satu faktor penting, maka perlu diperhatikan nilai harga dan jalur-jalur pemasaran mulai dari produsen (petani) sampai konsumen. Semakin cepat dikonsumsi semakin tinggi harga jualnya. Pemasaran biasa dilakukan melalui sistem borongan dengan harga yang lebih rendah, atau melalui beberapa tahapan (seperti produsen, pengumpul, pengecer). IV. Daftar Pustaka 1. Heru Prihantoro, 2008. Memupuk Tanaman Buah. Penebar Swadaya. 2. I Nyoman Adi Jaya, 2000. Budidaya Semangka dengan Teknologi Embung. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar. 3. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 2000. Tentang Budidaya Semangka (Citrullus vulgaris).

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

122

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

STROBERI (Fragaria chiloensis. / F. vesca L.)

I. Pendahuluan Stroberi merupakan tanaman buah berupa herba yang ditemukan pertama kali di Chili, Amerika. Salah satu spesies tanaman stroberi yaitu chiloensis Fragaria L menyebar ke berbagai negara Amerika, Eropa dan Asia.

Selanjutnya spesies lain, yaitu F. vesca L. lebih menyebar luas dibandingkan spesies lainnya. Jenis stroberi ini pula yang pertama kali masuk ke Indonesia. Karena memerlukan temperatur rendah, budidaya di Indonesia harus dilakukan di dataran tinggi. Lembang dan Cianjur (Jawa Barat) adalah daerah sentra pertanian di mana petani sudah mulai banyak membudidayakan stroberi. Dapat dikatakan bahwa untuk saat ini, kedua wilayah tersebut adalah sentra penanaman stroberi. II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Tanaman stroberi dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan 600 - 700 mm/tahun. 2) Lamanya penyinaran cahaya matahari yang dibutuhkan dalam pertumbuhan adalah 8 - 10 jam setiap harinya. 3) Stroberi adalah tanaman subtropis yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi tropis yang memiliki temperatur 17 - 20 derajat C.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

123

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4) Kelembaban udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman stroberi antara 80-90%. b. Ketinggian Tempat Ketinggian tempat yang memenuhi syarat iklim tersebut adalah 1.000-.500 meter dpl. c. Tanah 1) Jika ditanam di kebun, tanah yang dibutuhkan adalah tanah liat berpasir, subur, gembur, mengandung banyak bahan organik, tata air dan udara baik. 2) Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang ideal untuk budidaya stroberi di kebun adalah 5.4 - 7.0, sedangkan untuk budidaya di pot adalah 6.57,0. 3) Jika ditanam di kebun maka kedalaman air tanah yang disyaratkan adalah 50-100 cm dari permukaan tanah. Jika ditanam di dalam pot, media harus memiliki sifat poros, mudah merembeskan airdan unsur hara selalu tersedia. III. Budidaya a. Penyiapan Lahan 1) Budidaya di Kebun Tanpa Mulsa Plastik a) Di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik sedalam 30 - 40 cm. b) Kering-anginkan selama 15 - 30 hari. c) Buat bedengan: lebar 80 x 100 cm, tinggi 30 - 40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 40 x 60 cm atau guludan: lebar 40 x 60 cm, tinggi 30 - 40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar guludan 40 x 60 cm. d) Taburkan 20 - 30 ton/ha pupuk kandang/kompos secara merata di permukaan bedengan/ guludan. e) Biarkan bedengan/guludan selama 15 hari. f) Buat lubang tanam dengan jarak 40 x 30 cm, 50 x 50 cm atau 50 x 40 cm. 2) Budidaya di Kebun Dengan Mulsa Plastik. a) Di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik dan keringanginkan 15-30 hari.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

124

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b) Buatlah bedengan: lebar 80 x 120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm atau guludan: lebar bawah 60 cm, lebar atas 40 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm dan kering anginkan selama 15 hari. c) Taburkan dan campurkan dengan tanah bedengan/guludan pupuk dengan dosis/ha yaitu 200 kg urea, 250 kg SP-36 dan 100 kg KCl dan siram hingga lembab. d) Pasang mulsa plastik hitam atau hitam perak menutupi bedengan/guludan dan kuatkan ujung-ujungnya dengan bantuan bambu berbentuk U. e) Buat lubang di atas plastik seukuran alas kaleng bekas susu kental manis. Jarak antar lubang dalam barisan 30, 40 atau 50 cm, sehingga jarak tanam menjadi 40 x 30, 50 x 50 atau 50 x 40 cm. b. Pembibitan. Stroberi diperbanyak dengan biji dan bibit vegetatif (anakan dan stolon atau akar sulur). Kebutuhan bibit antara 40.000-83.350/Ha. a) Perbanyakan dengan biji 1. Benih dibeli dari toko pertanian, rendam benih di dalam air selama 15 menit lalu kering-anginkan. 2. Kotak persemaian berupa kotak kayu atau plastik, diisi dengan media berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang (kompos) halus yang bersih (1:1:1). Benih disemaikan merata di atas media dan tutup dengan tanah tipis. Kotak semai ditutup dengan plastik atau kaca bening dan disimpan pada temperatur 18 - 20 derajat C. 3. Persemaian disiram setiap hari, setelah bibit berdaun dua helai siap dipindah tanam ke bedeng sapih dengan jarak antar bibit 2 - 3 cm. Media tanam bedeng sapih sama dengan media persemaian. Bedengan dinaungi dengan plastik bening. Selama di dalam bedengan, bibit diberi pupuk daun. Setelah berukuran 10 cm dan tanaman telah merumpun, bibit dipindahkan ke kebun. b) Bibit vegetatif untuk budidaya stroberi di kebun. Tanaman induk yang dipilih harus berumur 1-2 tahun, sehat dan produktif. Penyiapan bibit anakan dan stolon adalah sebagai berikut:

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

125

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

1. Bibit anakan Rumpun dibongkar dengan cangkul, tanaman induk dibagi menjadi beberapa bagian yang sedikitnya mengandung 1 anakan. Setiap anakan ditanam dalam polibag 18 x 15 cm berisi campuran tanah, pasir dan pupuk kandang halus (1:1:1), simpan di persemaian beratap plastik. 2. Bibit stolon Rumpun yang dipilih telah memiliki akar sulur pertama dan kedua, dan kedua akar sulur ini dipotong. Bibit ditanam di dalam atau polibag 18 x 15 cm berisi campuran tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1). Setelah tingginya 10 cm dan berdaun rimbun, bibit siap dipindahkan ke kebun. 3) Bibit untuk budidaya stroberi di dalam polibag Pembibitan dari benih atau anakan/stolon dilakukan dengan cara yang sama, tetapi media tanam berupa campuran gabah padi dan pupuk kandang (2:1). Setelah bibit di persemaian berdaun dua atau bibit dari anakan/stolon di polibag kecil (18 x15) siap pindah, bibit dipindahkan ke polibag besar ukuran 30 x 20 cm berisi media yang sama. Di polibag ini bibit dipelihara sampai menghasilkan. c. Penanaman 1) Siram polybag berisi bibit dan keluarkan bibit bersama media tanamnya dengan hati-hati. 2) Tanam satu bibit di lubang tanam dan padatkan tanah di sekitar pangkal batang. 3) Untuk tanaman tanpa mulsa, beri pupuk dasar sebanyak 1/3 dari dosis pupuk anjuran (dosis anjuran 200 kg/ha Urea, 250 kg SP-36 dan 150 kg/ha KCl). Pupuk diberikan di dalam lubang sejauh 15 cm di kiri-kanan tanaman. 4) Sirami tanah di sekitar pangkal batang sampai lembab. d. Pemeliharaan 1) Penyulaman Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 15 hari setelah tanam. Tanaman yang disulam adalah yang mati atau tumbuh abnormal. 126 bedeng

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2) Penyiangan Penyiangan dilakukan pada pertanaman stroberi tanpa ataupun dengan mulsa plastik. Mulsa yang berada di antara barisan/bedengan dicabut dan dibenamkan ke dalam tanah. Waktu penyiangan tergantung dari pertumbuhan gulma, biasanya dilakukan bersama pemupukan susulan. 3) Perempelan/Pemangkasan Tanaman yang terlalu rimbun, terlalu banyak daun harus dipangkas. Pemangkasan dilakukan teratur terutama membuang daun-daun tua/rusak. Tanaman stroberi diremajakan setiap 2 tahun. 4) Pemupukan. Dosis anjuran adalah urea 200 kg/ha, SP-36 250 kg/ha dan KCl 150 kg/ha. a) Pertanaman tanpa mulsa: Pupuk susulan diberikan 1,5-2 bulan setelah tanam sebanyak 2/3 dosis anjuran. Pemberian dengan cara ditabur dalam larikan dangkal di antara barisan, kemudian ditutup tanah. b) Pertanaman dengan mulsa: Pupuk susulan ditambahkan jika pertumbuhan kurang baik. Campuran urea, SP-36 dan KCl (1:2:1,5) sebanyak 5 kg dilarutkan dalam 200 liter air. Setiap tanaman disiram dengan 350-500 cc larutan pupuk. 5) Pengairan dan Penyiraman Sampai tanaman berumur 2 minggu, penyiraman dilakukan 2 kali sehari. Setelah itu penyiraman dikurangi berangsur-angsur dengan syarat tanah tidak mengering. Pengairan bisa dengan disiram atau menjanuhi parit antar bedengan dengan air. 6) Pemasangan Mulsa Kering Mulsa kering dipasang seawal mungkin setelah tanam pada bedengan/ guludan yang tidak memakai mulsa plastik. Jerami atau rumput kering setebal 35 cm dihamparkan di permukaan bedengan/guludan dan antara barisan tanaman. 7) Pemeliharaan Buah. Tanaman asal stolon dan anakan mulai berbung ketika berumur 2 bulan setelah tanam. Bunga pertama sebaiknya dibuang. Setelah tanaman berumur 4 bulan, bunga dibiarkan tumbuh menjadi buah. Periode pembungaan dan pembuahan dapat berlangsung selama 2 tahun tanpa henti.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

127

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

e. Hama dan Penyakit 1. Hama 1) Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii) Kutu berwarna kuning-kuning kemerahan, kecil (1-2 mm), hidup bergerombol di permukaan bawah daun. Gejala: pucuk/daun keriput, keriting, pembentukan bunga/buah terhambat. Pengendalian: dengan insektisida Fastac 15 EC dan Confidor 200 LC. 2) Tungau (Tetranychus sp. dan Tarsonemus sp.) Tungau berukuran sangat kecil, betina berbentuk oval, jantan berbentuk agak segi tiga dan telur kemerah-merahan. Gejala: daun berbercak kuning sampai coklat, keriting, mengering dan gugur. Pengendalian: dengan insektisida Omite 570 EC, Mitac 200 EC atau Agrimec 18 EC. 3) Kumbang penggerek bunga (Anthonomus rubi), kumbang penggerek akar (Otiorhynchus rugosostriatus) dan kumbang penggerek batang (O. sulcatus). Gejala: di bagian tanaman yang digerek terdapat tepung. Pengendalian: dengan insektisida Decis 2,5 EC, Perfekthion 400 EC atau Curacron 500 EC pada waktu menjelang fase berbunga. 4) Kutu putih (Pseudococcus sp.) Gejala: bagian tanaman yang tertutupi kutu putih akan menjadi abnormal. Pengendalian: kimia dengan insektisida Perfekthion 400 EC atau Decis 2,5 EC. 5) Nematoda (Aphelenchoides fragariae atau A. ritzemabosi) Hidup di pangkal batang bahkan sampai pucuk tanaman. Gejala: tanaman tumbuh kerdil, tangkai daun kurus dan kurang berbulu. Pengendalian: dengan nematisida Trimaton 370 AS, Rugby 10 G atau Nemacur 10 G. 2. Penyakit 1) Kapang kelabu (Botrytis cinerea) Gejala: bagian buah membusuk dan berwarna coklat lalu mengering. Pengendalian: dengan fungisida Benlate atau Grosid 50 SD.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

128

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2) Busuk buah matang (Colletotrichum fragariae Brooks) Gejala: buah masak menjadi kebasah-basahan berwarna coklat muda dan buah dipenuhi massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian: dengan fungisida berbahan aktif tembaga seperti Kocide 80 AS, Funguran 82 WP, Cupravit OB 21. 3) Busuk rizopus (Rhizopus stolonifer). Gejala: (a) buah busuk, berair, berwarna coklat muda dan bila ditekan akan mengeluarkan cairan keruh; (b) di tempat penyimpanan, buah yang terinfeksi akan tertutup miselium jamur berwarna putih dan spora hitam. Pengendalian: membuang buah yang sakit, pasca panen yang baik dan budidaya dengan mulsa plastik. 4) Empulur merah (Phytophthora fragariae Hickman) Gejala: jamur menyerang akar sehingga tanaman tumbuh kerdil, daun tidak segar, kadang-kadang layu terutama siang hari. 5) Embun tepung (Sphaetotheca mascularis atau Uncinula necator). Gejala: bagian yang terserang, terutama daun, tertutup lapisan putih tipis seperti tepung, bunga akan mengering dan gugur. Pengendalian: dengan fungisida Benlate atau Rubigan 120 EC. 6) Daun gosong (Diplocarpon earliana atau Marssonina fragariae) Gejala: Daun berbercak bulat telur sampai bersudut tidak teratur, berwarna ungu tua. Pengendalian kimia dengan fungisida Dithane M-45 atau Antracol 70 WP. 7) Bercak daun. Penyebab : (a) Ramularia tulasnii atau Mycosphaerella fragariae, Gejala: bercak kecil ungu tua pada daun. Pusat bercak berwarna coklat yang akan berubah menjadi putih; (b) Pestalotiopsis disseminata, Gejala: bercak bulat pada daun. Pusat bercak berwarna coklat fua dikelilingi bagian tepi berwarna coklat kemerahan atau kekuningan, daun mudah gugur; (c) Rhizoctonia solani, Gejala : bercak coklat-hitam besar pada daun.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

129

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengendalian kimia dengan fungisida bahan aktif tembaga seperti Funguran 82 WP, Kocide 77 WP atau Cupravit OB 21. 8) Busuk daun (Phomopsis obscurans). Gejala: noda bula berwarna abu-abu dikelilingi warna merah ungu, kemudian noda membentuk luka mirip huruf V. 9) Layu vertisillium (Verticillium dahliae) Gejala: daun terinfeksi berwarna kekuning-kuningan hingga coklat, layu dan tanaman mati. Pengendalian: melalui fumigasi gas dengan Basamid-G. 10) Virus Ditularkan melalui serangga aphids atau tungau. Gejala: terjadi perubahan warna daun dari hijau menjadi kuning (khlorosis) sepanjang tulang daun atau totol-totol (motle), daun jadi keriput, kaku, tanaman kerdil. Pengendalian: menggunakan bibit bebas virus, menghancurkan tanaman terserang, menyemprot pestisida untuk mengendalikan serangga pembawa virus. 11) Pencegahan hama dan penyakit, dilakukan dengan : a) menjaga kebersihan kebun/tanaman, b) menanam secara serempak (untuk memutus siklus hidup), c) menanam bibit yang sehat, d) memberikan pupuk sesuai anjuran sehingga tanaman tumbuh sehat, e) melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan keluarga Rosaceae f) memangkas bagian tanaman/mencabut tanaman yang sakit. dapat menekan pertumbuhan hama/penyakit. h) perbaikan drainase biasanya dapat menurunkan serangan. f. Panen 1. Ciri dan Umur Panen 1) Buah sudah agak kenyal dan agak empuk. 2) Kulit buah didominasi warna merah, hijau kemerahan hingga kuning kemerahan. g) budidaya stroberi dengan dengan menggunakan mulsa plastik Pengendalian: dengan Dithane M-45, Antracol 70 WP atau Daconil 75 WP.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

130

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3) Buah berumur 2 minggu sejak pembungaan atau 10 hari setelah awal pembentukan buah. 2. Cara Panen Panen dilakukan dengan menggunting bagian tangkai bunga dengan kelopaknya. Panen dilakukan dua kali seminggu. g. Pasca Panen 1. Pengumpulan Buah disimpan dalam suatu wadah dengan hati-hati agar tidak memar, simpan di tempat teduh atau dibawa langsung ke tempat penampungan hasil. Hamparkan buah di atas lantai beralas terpal/plastik. Cuci buah dengan air mengalir dan tiriskan di atas rak-rak penyimpanan. 2. Penyortiran dan Penggolongan Pisahkan buah yang rusak dari buah yang baik. Penyortiran buah berdasarkan pada varietas, warna, ukuran dan bentuk buah. Terdapat 3 kelas kualitas buah yaitu: a) Kelas Ekstra dengan ketentuan : (1) buah berukuran 20-30 mm atau tergantung spesies; (2) warna dan kematangan buah seragam. b) Kelas I dengan ketentuan : (1) buah berukuran 15-25 mm atau tergantung spesies; (2) bentuk dan warna buah bervariasi. c) Kelas II dengan ketentuan : (1) tidak ada batasan ukuran buah; (2) sisa seleksi kelas ekstra dan kelas I yang masih dalam keadaan baik. 3. Pengemasan dan Penyimpanan Buah dikemas di dalam wadah plastik transparan atau putih dengan kapasitas 0,25-0,5 kg dan ditutup dengan plastik lembar polietilen. Penyimpanan dilakukan di rak dalam lemari pendingin 0 -1 derajat C. IV. Daftar Pustaka Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 2000. Tentang Budidaya Stroberi chiloensis L. / F. vesca L.) (Fragaria

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

131

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KACANG PANJANG (Vigna unguilata)

I. Pendahuluan Masyarakat dunia menyebutkan dengan nama Yardlong Beans/Cow Peas. Plasma nutfah tanaman kacang panjang berasal dari India dan Cina. Adapun yang menduga berasal dari kawasan benua Afrika. Plasma nutfah kacang uci (Vigna umbellata) diketemukan tumbuh liar di daerah Himalaya India, sedangkan plasma nutfah kacang tunggak ( Vigna unguiculata) merupakan asli dari Afrika. Oleh karena itu, tanaman kacang panjang tipe merambat berasal dari daerah tropis dan Afrika, terutama Abbisinia dan Ethiopia. Perkembangan paling pesat di negara beriklim panas tropis seperti Indonesia. Kacang panjang merupakan jenis sayuran yang dapat dikonsumsi dalam bentuk segar maupun diolah menjadi sayur, memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap (protein,lemak,karbohidrat,kalsium,fosfor,besi,vitamin B dan C). Kandungan protein nabati pada sayur kacang panjang berkisar 1721%. Ada 2 varietas kacang panjang yang sudah banyak dibudidayakan dengan produksi cukup tinggi, yaitu Putih Super dan Super Sainan dengan potensi hasil 7 sampai 9 t/ha (pada musim kemarau) dan 6 sampai 7 t/ha (pada musim hujan).
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

132

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Tanaman kacang panjang mm/tahun. 2) Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman kacang panjang antara 20-300 C. b. Ketinggian Tanaman lada akan tumbuh dengan baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian kurang dari 800 m dpl. c. Tanah 1) Hampir semua jenis tanah cocok untuk budidaya kacang panjang, tetapi yang paling baik adalah tanah Latosol/lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organic dan drainasenya baik. 2) Tanah kemasaman (pH) sekitar 5,5-6,5. Bila pH terlalu basa (diatas pH 6,5) menyebabkanpecahnya nodula-nodula akar. III. Budidaya a. Benih 1) Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah sebagai berikut: penampilan bernas/kusam, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit. 2) Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20 kg. 3) Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang sudah disiapkan. b. Pengolahan Lahan 1) Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak hingga tanah menjadi gembur. 2) Buatlah bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm. 3) Lakukan pengapuran jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dolomit sebanyak 1-2 ton/ha dan campurkan secara merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm membutuhkan curah hujan 600-1.500

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

133

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

c. Penanaman 1) Jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Untuk jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm. 2) Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau atau awal musim hujan, akan tetapi dapat saja sepanjang musim asal adanya ketersediaan air tanah yang memadai. 3) Benih tidak usah disemaikan secara khusus tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang sudah disiapkan. Masukan benih kacang panjang sebanyak 2 biji per lubang tanam, lalu tutup dengan tanah tipis atau dengan abu dapur. d. Pemupukan 1) Pemupukan pertama ( I ) dilakukan umur 12 hari dengan dosis ZA=50 kg/ha, SP-36 = 100 kg/ha, KCL = 50 kg/ha. Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal, jaraknya 5 cm dari lubang tanam. Kemudian ditutup dengan tanah. 2) Pemupukan kedua ( II ) dilakukan umur 28 hari dengan pupuk NPK = 200 kg/ha dengan jarak 10 cm dari lubang tanam. 3) Pemupukan ketiga ( III ) dilakukan umur 40 hari juga dengan pupuk NPK = 200 kg/ha dengan jarak 10 cm dari lubang tanam. e. Pemeliharaan 1) Penyulaman Benih kacang panjang akan tumbuh pada umur 3-5 hari. Jika dalam waktu tersebut terdapat benih yag tidak tumbuh maka segera lakukan penyulaman. Hal dimaksudkan agar pertumbuhan tanam hasil penuulaman tidak berbeda jauh dengan tanaman lainnya. 2) Penyiangan a) Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman kacang panjang berumur 2-3 minggu setelah tanam, tergantung pada pertumbuhan gulma di lahan. b) Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut/membersihkan gulma atau tanaman penggangu lainnya dengan alat kored. 3) Pemasangan Lanjaran Pemasangan lanjaran dilakukan 10-15 hari setelah tanam (hst), kira-kira tinggi tanaman 15-25 cm. Pemasangan lanjaran diantara 2 lubang

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

134

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

tanam sehingga jarak antar lanjaran 50 cm. Setiap 5 lanjaran perlu ditambah lanjaran/diperkuat, dengan cara dipasang silang. 4) Pemasangan Tali Pemasangan tali dilakukan setelah pemasangan lanjaran selesai. Tali berguna membantu mengarahkan/merambatkan tanaman. Pemasangan tali ada dua tahap. Tahap I pada ketinggian 70 cm dari lanjaran. Tahap II pada ketinggian 150 cm dari lanjaran. 5) Merambatkan Tujuan dari merambatkan adalah untuk mengarahkan pertumbuhan tanaman baik pucuk tanamn maupun cabang-cabang tanaman. Diharapkan tanaman merambat pada lanjaran dan tali yang telah dipasang, sehingga buah/polong tidak tergeletak di tanah. 6) Pemangkasan / Perempalan Tanaman kacang panjang yang terlalu rimbun perlu dilakukan pemangkasan/perempalan daun maupun ujung batang. Hal ini dilakukan terkait dengan tanaman kacang panjang yang terlalu rimbun dapat menghambat pertumbuhan bunga. 7) Pengairan Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim. 8) .Pengendalian Hama dan Penyakit

a) Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon)


Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan PESTONA.

b) Kutu daun (Aphis cracivora Koch)


Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan Natural BVR.
PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

135

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

c) Ulat grayak (Spodoptera litura F.)


Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau,juga menyerang polong. Pengendalian: dengan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, Semprot Natural VITURA.

d) Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L)


Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.

e) Ulat bunga (Maruca testualis)


Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan PESTONA.

f) Penyakit Antraknose (jamur Colletotricum lindemuthianum)


Gejala serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan Natural GLIO dan POC NASA dan membuang rumput-rumput dari sekitar tanaman.

g) Penyakit mozaik ( virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV).


Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: gunakan benih sehat dan bebas virus, semprot vector kutu daun dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.

h) Penyakit sapu ( virus Cowpea Witches-broom Virus/ Cowpea Stunt


Virus.) Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak mem

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

136

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik. endek dan membentuk "sapu". Penyakit ditularkan kutu daun.

i) Layu bakteri ( Pseudomonas solanacearum )


Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati dan gunakan Natural GLIO pada awal tanam. f. Panen dan Pasca Panen 1) Ciri-ciri polong siap dipanen adalah ukuran polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol. 2) Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan. 3) Cara panen pada tanaman kacang panjang tipe merambat dengan memotong tangkai buah dengan pisau tajam. 4) Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan, lalu disortasi. 5) Polong kacang panjang diikat dengan bobot maksimal 1 kg dan siap dipasarkan. IV. Daftar Pustaka 1. bp4k.bogorkab.go.id/index.php?...Balai Agustus 2012. 2. konsultasisawit.blogspot.com/.../cara-budidaya-kacang-panjan, 2 Oktober 2011. 3. budidayanews.blogspot.com/.../cara-budidaya-kacang-panjang.html 4. indonesiaindonesia.com Flora, Pertanian & Perkebunan, Cara Menanam Kacang Panjang. Pelaksana Penyuluh pertania Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Budidaya Kacang Panjang, 1

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

137

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

JAHE (Zingiber officinale)

I. Pendahuluan Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Kedua bangsa ini disesut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe. Rimpang jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biscuit, kembang gula, industry jamu tradisonal, minuman bandrek dan sebagainya. Adapun manfaat secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, anti inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti piretik, anti rematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu. Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), satu family dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galangal) dan lain-lain. Adapun nama daerah untuk jahe antara lain halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa dan Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate), dsb.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

138

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relative tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun. 2) Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman jahe antara 20-350 C. 3) Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Artinya bahwa penanaman jahe dilakukan di tempat yang terbukasehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari. d. Ketinggian 1) Tanaman jahe akan tumbuh dengan baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0 2.000 m dpl. 2) Pada umumnya di Indonesia ditanam pada ketinggian 200 600 m dpl. e. Tanah 1) Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus. 2) Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik. 3) Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4, akan tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,87.0.

III. Budidaya a. Pengolahan Lahan 1) Untuk mendapatkan hasil panen yang optimal harus diperhatikan syaratsyarat tumbuh yang dibutuhkan oleh tanaman jahe. Bila keasaman tanah yang ada tidak sesuai dengan keasaman tanah yang dibutuhkan tanaman jahe, maka harus ditambah atau dikurangi keasaman tanah dengan kapur. 139

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengolahan tanah diawali dengan dibajak atau dicangkul sedalam kurang lebih 30 cm. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu. 2) Pada daerah-daerah yang kondisi air tanahnya jelek dan sekaligus untuk mencegah terjadinya genangan air, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan dengan ukuran tinggi 20 30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan. Selanjutnya buat lubang tanaman sedalam 3 7,5 cm untuk menanam bibit. 3) Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya seperti fosfor (P) dan calcium (Ca) tidak tersedia dan sulit diserap. Kondisi demikian dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan yang dapat menyebabkan penyakit fusariumsp dan pythium sp. Dengan adanya pengapuran maka dapat menambah unsur kalium yang sangat diperlukan tanaman untuk mengeraskan bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji. Derajat keasaman < 4 (paling asam) : kebutuhan dolomit > 10 ton/ha Derajat keasaman 5 (asam) : Kebutuhan dolomite 5,5 ton/ha Derajat keasaman 6 (agak asam) : kebutuhan dolomite 0,8 ton/ha b. Penanaman 1) Cara menanam jahe dilakukan dengan cara meletakan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan. 2) Benih jahe ditanam sedalam 5 - 7 cm dengan tunas menghadap ke atas, jangan terbalik, karena dapat menghambat pertumbuhan. Jarak tanam yang digunakan untuk penanaman jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm. 3) Kebutuhan benih jahe putih besar (panen tua) 2-3 ton/ha, jahe putih besar panen muda 5 ton/ha, jahe merah dan emprit 1- 1,5 ton/ha.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

140

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4) Agar diperoleh rimpang yang gemuk berdaging, tanaman jahe sebaiknya ditanam di tanah yang banyak mengandung bahan organik atau humus dan drainase yang baik. 5) Pada umumnya selama fase pertumbuhan, tanaman jahe memerlukan intensitas sinar yang cukup tinggi, oleh karena itu jahe lebih baik ditanam di daerah terbuka. Sehingga hal ini akan cocok ditanam pada saat tanaman pokok ( tanaman kayu dan tanaman MPTS) masih baru ditanam. 6) Penanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini domungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. c. Pemupukan Pupuk kandang domba atau sapi yang sudah masak sebanyak 20 ton/ha, diberikan 2 - 4 minggu sebelum tanam. Sedangkan dosis pupuk buatan SP36 300 - 400 kg/ha dan KCl 300 - 400 kg/ha, diberikan pada saat tanam. Pupuk urea diberikan 3 kali pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam sebanyak 400 - 600 kg/ha, masing-masing 1/3 dosis setiap pemberian. Pada umur 4 bulan setelah tanam dapat pula diberikan pupuk kandang ke dua sebanyak 20 ton/ha.

d. Pemeliharaan 1) Penyiangan gulma Penyiangan pertama dilakukan ketika tanaman jahe berumur 2-4 minggu yang kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman penggangu yang tumbuh. Penyiangan setelah umur 4 bulan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran yang dapat menyebabkan masuknya benih penyakit.Namun setelah tanaman jahe berumur 6-7 bulan sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar. Untuk mengurangi intensitas penyiangan bisa digunakan mulsa tebal dari jerami atau sekam. 141

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2) Penyulaman Menyulam tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1-1,5 bulan setelah tanam dengan memakai benih cadangan yang sudah diseleksi dan disemaikan. 3) Pembubunan / Pendaringan Pembumbunan mulai dilakukan pada saat telah terbentuk rumpun dengan 4 - 5 anakan, agar rimpang selalu tertutup tanah. Pembubunan pada saat tanaman jahe masih muda cukup dicangkul tipis disekililing rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya dapat diperdalam setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan dan sekaligus terbentuk system pengairan yang berfungsi untuk menyalurkan kelebihan air sehingga drainase akan selalu terpelihara. 4) Pengendalian hama penyakit tanaman Pengendalian hama penyakit dilakukan sesuai dengan keperluan. Penyakit utama pada jahe adalah busuk rimpang yang disebabkan oleh serangan bakteri layu (Ralstonia solanacearum). Sampai saat ini belum ada metode pengendalian yang memadai, kecuali dengan menerapkan tindakan-tindakan untuk mencegah masuknya benih penyakit, seperti penggunaan lahan sehat, penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari perlukaan (penggunaan abu sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak sehat (sanitasi), inspeksi kebun secara rutin. Tanaman yang terserang layu bakteri segera dicabut dan dibakar untuk menghindari meluasnya serangan OPT. Hama yang cukup signifikan adalah lalat rimpang Mimergralla coeruleifrons (Diptera, Micropezidae) dan Eumerus figurans (Diptera, Syrpidae), kutu perisai (Aspidiella hartii) yang menyerang rimpang mulai dari pertanaman dan menyebabkan

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

142

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

penampilan rimpang kurang baik serta bercak daun yang disebabkan oleh cendawan (Phyllosticta sp.). Serangan penyakit ini apabila terjadi pada tanaman muda (sebelum 6 bulan) akan menyebabkan penurunan produksi yang cukup signifikan. Tindakan mencegah perluasan penyakit ini dengan menyemprotkan fungisida segera setelah terlihat ada serangan (diulang setiap minggu sekali), sanitasi tanaman sakit, inspeksi secara rutin. 5) Panen Panen untuk konsumsi dimulai pada umur 6 sampai 10 bulan. tetapi, rimpang untuk benih dipanen pada umur 10 - 12 bulan. Cara panen dilakukan dengan membongkar seluruh rimpangnya menggunakan garpu, cangkul, kemudian tanah yang menempel dibersihkan. Dengan menggunakan varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1) dihasilkan rata-rata 27 ton rimpang segar, calon varietas unggul jahe putih kecil (JPK 3; JPK 6) dengan cara budidaya yang direkomendasikan, dihasilkan rata-rata 16 ton/ha rimpang segar dengan kadar minyak atsiri 1,7 3,8%, kadar oleoresin 2,39 8,87%. Sedangkan jahe merah 22 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 3,2 3,6%, kadar oleoresin 5,86 6,36%. Mutu rimpang dari varietas unggul Cimanggu-1 dan calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah, memenuhi standar Materia Medika Indonesia (MMI). Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar

dikatagorikan sebagai berikut: Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang; Mutu II : bobot 150 - 249 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak mengandung benda asing dan kapang; Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas maksimum 10%, benda asing maksimum 3%, kapang maksimum 10%.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

143

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

6) Pasca Panen Tahapan pengolahan jahe meliputi penyortiran, pencucian, pengirisan, pengeringan, pengemasan dan penyimpanan. Setelah panen, rimpang harus secepatnya dibersihkan untuk menghindari kotoran yang berlebihan serta mikroorganisme yang tidak diinginkan. Rimpang dibersihkan dengan disemprot air yang bertekanan tinggi, atau dicuci dengan tangan. Setelah pencucian, rimpang dianginanginkan untuk mengeringkan air pencucian. Untuk penjualan segar, jahe dapat langsung dikemas. Tetapi bila diinginkan dalam bentuk kering atau simplisia, maka perlu dilakukan pengirisan rimpang setebal 1-4 mm. Untuk mendapatkan simplisia dengan tekstur menarik, sebelum diiris rimpang direbus beberapa menit sampai terjadi proses gelatinisasi Rimpang yang sudah diiris, selanjutnya dikeringkan dengan energi surya atau dengan pengering buatan/oven pada suhu 36 46 C. Bila kadar air telah mencapai sekitar 8 - 10%, yaitu bila rimpang bisa dipatahkan, pengeringan telah dianggap cukup. Selain itu, dikenal jahe kering gelondong (jahe putih kecil dan jahe merah) yang diproses dengan cara rimpang jahe utuh ditusuk-tusuk agar air keluar sebagian, kemudian dijemur dengan energi matahari atau dioven sampai kering atau kadar air mencapai 8 - 10%. Rimpang kering dapat dikemas dalam peti, karung atau plastik yang kedap udara, dan dapat disimpan dengan aman, apabila kadar airnya rendah. Ruang penyimpan harus diperhatikan sanitasinya, berventilasi baik, dengan suhu ruangan yang rendah dan kering untuk mencegah pencemaran oleh mikroba dan hama gudang.

IV. Daftar Pustaka 1. KabarSukses.Com. Cara Budidaya Tanaman Jahe Untuk Petani Kecil. 2. http://konsultasisawit.blogspot.com/2011/12. Cara Menanan Jahe Terlengkap 3. www.naturindonesia.com. Budidaya Jahe. 4. Pakarinfo.blogspot.com, Cara Menanam Jahe, 7 Maret 2012 5. binaukm.com/2011/01/peluang-usaha-budidaya-jahe/, Peluang Usaha Budidaya Jahe, 18 Januari 2011. 144

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KAPULAGA (Elletria cardamomum)

I. Pendahuluan Tanaman kapulaga (Elletria cardamomum) merupakan salah satu tanaman rempah yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan mempunyai prospek yang baik. Hal ini mengingat bahwa tanaman kapulaga sebagi bahan obat alami yang diyakini tidak mempunyai efek samping dibandingkan dengan menggunakan obat kimiawi. Selain itu, dalam pembudidayaannya tanaman ini pun tidak memerlukan lahan tersendiri, dalam arti tumbuh di bawah naungan tanaman lain sebagai tanaman sela atau tanaman tumpangsari. Hasil berupa buah jika sudah kering mempnyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Buah kering kapulaga disamping sebagai bahan jamu, juga diambil minyak atsirinya untuk bahan penyedap atau pengharum makanan, minuman dan sebagai bahan baku atau campuran di dalam industri parfum. Sistem pola tanam yang dapat diterapkan dalam pengembangan tanaman kapulaga adalah sistem pola tanam pekarangan dan pola tanam perkebunan. Dengan adanya pola tanam terpadu maka dapat dapat diharapkan meningkatkan penghasilan Petani meningkat disamping itu juga

produktivitas lahan perkebunan dan konservasi. Beranjak dari kapulaga yang relatif mudah dibudidayakan dan bisa dipanen 4 kali dalam setahun, maka hal tersebut telah banyak menarik minat petani untuk membudidayakan.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

145

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Tumbuh baik pada daerah daerah yang bertipe iklim A, B, dan C (sistim schidt dan ferguson). 2) Curah hujan optimal 2.500-4.000 mm per tahun. Curah hujan yang terlalu tinggi berpengaruh buruk sehingga tangkai bunganya pendek dan bunga banyak yang busuk. 3) Musim kemarau yang panjang mengakibatkan pembentukan anakan sedikit, sehingga bunga yang dihasilkan berkurang. 4) Pada daerah dengan rata-rata curah hujan 2.500 per tahun diperlukan 136 hari hujan per tahun dengan bulan kering tidak lebih dari 3 bln, bulan basah 8 bln dan bulan lembab 1,5 bln. 5) Suhu rata-rata yang dikehendaki berkisar antara 20-300C, sedangkan di dataran rendah dengan pohon pelindung yang cukup rimbun suhunya 23-300C. 6) Intensitas cahaya yang baik untuk pertumbuhan kapulaga berkisar 30-70 persen. b. Ketinggian Tanaman kapulaga dapat tumbuh pada ketinggian 200-1000 m dari permukaan laut dan optimalnya 300-500 m dari permukaan laut. Kapulaga hanya mau tumbuh baik di bawah naungan. Komoditas ini cocok untuk dikembangkan sebagai tanaman tumpangsari pada kebun-kebun tanaman keras. Misalnya di hutan jati, kebun kopi, kakao, petai, jeruk dan lain-lain yang bagian bawah tegakannya masih menerima sedikit sinar matahari.

c. Tanah 1) Jenis tanah yang baik untuk pertumbuhan kapulaga local atau sabrang adalah latosol, andosol, alluvial, podsolik merah kuning dan mediteran. 2) Bertekstur lempung berliat atau lempung berpasir. Pada tanah bertekstur liat pertumbuhan kapulaga tidak mengecewakan asal diadakan pengolahan tanah terlebih dahulu. 3) Tidak menyukai air yang tergenang, bahan organic tanah harus tinggi dan berdrainase baik dg derajat kemasaman atau pH 5,6-6,8.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

146

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

III. Budidaya a. Pengolahan Lahan 1) Pengolahan tanah diawali dengan dibajak atau dicangkul sedalam kurang lebih 30 cm. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu. 2) Sebaiknya 15 hari setelah pembuatan lobang, tanah dikembalikan lagi ke dalam lobang, sebelumnya tanah dicampur dulu dengan pupuk kandang secukupnya. b. Penanaman 1) Waktu tanam yang baik yaitu awal hujan, sekitar bulan Oktober Desember. Caranya: bila tanah olahan atau lobang tanam telah tersedia dan bibit telah disiapkan. 2) Buat lobang kecil, letakkan bibit sedalam 10 15 cm. Tanah di sekitarnya dipadatkan atau ditimbun dengan memperhatikan tunas agar tidak sampai terganggu (terluka atau patah). Penanaman setek ke dalam lubang tanam dilakukan sampai batas rimpang dan tunas yang telah tumbuh tertimbun tanah setinggi 2-3 cm akan mempercepat pertumbuhannya. 3) Dalam satu lubang ditanam 3 setek atau batang denga jarak tanam untuk kapulaga bisa digunakan 1m x 1,5m atau 1m x 2m dan juga bisa 1,5m x 2m. c. Pemupukan Untuk lebih meningkatkan mutu maka perlu dilakukan pemupukan mengingat tanaman kapulaga termasuk rakus akan unsur hara, sehingga pemupukan sangat diperlukan terutama sekali pupuk organik dan pupuk buatan. Adapun cara dan jumlah pupuk yang diberikan adalah berdasarkan masa pertumbuhan TBM (Tanaman Belum Menghasilkan). Untuk ini pupuk organik diberikan pada saat pengolahan tanah, dan pada saat penggemburan diluar rumpun sebanyak 1-1,5 kg pupuk kandang, pemupukan berikutnya setiap 3 bulan sekali. Sedangkan untuk pupuk buatan diberikan pada umur 1 bulan sebanyak 1 sendok makan pupuk urea dan diulang pada umur 3 bulan dengan 1 sendok pupuk urea disebar diluar rumpun atau disemprotkan pada daun. Bagi tanaman kapulaga yang sudah menghasilkan, pupuk kandang diberikan sebanyak 10 15 kg setiap rumpun dan pemberian selanjutnya disesuaikan dengan kondisi tanaman 147

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

dan lingkungan. Pupuk buatan diberikan 10-12,5 gram berupa Urea dan TSP. Pupuk ini diberikan diluar rumpun pada batas perakaran dengan membuat selokan kecil, kemudian ditutup dengan tanah dan disiram seperlunya. d. Pemeliharaan Tanaman Dalam pemeliharaan kapulaga, beberapa pekerjaan penting yang harus dilakukan antara lain: penyiangan rumput atau pengendalian gulma, penggemburan diluar rumpun untuk merangsang perumbuhan anakan rimpang sehingga bisa tumbuh lebih baik, pemotongan daun kering untuk tidak menghalangi penyerbukan bunga, pemotongan batang yang sudah agak tua atau menguning untuk memberi kesempatan batang muda tumbuh dengan baik, pengaturan anakan agar tidak tumpang tindih dan untuk merangsang pertumbuhan bunga atau buah juga unuk mengurangi penguapan pada musim kemarau serta untuk mendapatkan anakan atau bibit baru. Di masa pemeliharaan ini, yang tidak kalah pentingnya juga pemberian mulsa berupa bahan organik dari jenis tanaman leguminosa. Tanaman yang mati dan pertumbuhannya tidak normal sebaiknya dicabut dan diganti dengan bibit yang baik. Sementara penyiangan gulma dilakukan 2-3 bulan sekali atau tergantung dari tingkat pertumbuhan gulma. Pupuk kandang yang diberikan sebanyak 2 kg per lubang, Untuk mempertahankan kelembaban tanah di sekitar perakaran diperlukan mulsa jerami atau serasah, terutama pada musim kemarau. Ketebalan mulsa yang diperlukan antara 3-5 cm. Pemangkasan pohon pelindung yang terlalu rimbun dilakukan secara teratur 3 atau 6 bulan sekali, tergantung dari rimbunnya pohon pelindung. Batang tua yang telah mati dipangkas dan ini biasanya terjadi pada tanaman yang telah membentuk rumpun penuh. Tanah disekitar rumpun digemburkan untuk memperbaiki aerasi tanah di daerah perakaran sehingga strukturnya menjadi gembur. Pada umumnya tanaman kapulaga yang berada di bawah pohon naungan yang cukup rapat kurang atau jarang terserang hama dan penyakit. Kadang-kadang kapulaga diserang pula oleh kutu daun, ulat pemakan daun, penggerek akar, penggerek batang serta rayap. Sedangkan penyakit yang ditemukan adalah penyakit mosaik, busuk daun,busuk akar dan penyakit layu bakteri. Pemberantasannya bisa dilakukan dengan mempergunakan berbagai insektisida yang dijual di pasaran bebas.Untuk penyakit yang menyerang biasanya penyakit busuk (Mozaik) yang disebabkan oleh virus. Cara 148

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

pengendalian yang efektif adalah dengan jalan membuang tanaman yang terserang dan menanam tanaman baru yang berasal dari pembibitan asal biji. e. Panen Kapulaga mulai dapat dipanen setelah tujuh bulan. Pemanenan dapat dilakukan dengan tanda-tanda sisa-sisa perhiasan bunga yang terdapat pada bagian ujung karangan bunga mulai rontok. Sebaiknya buah dipanen sebelum masak sempurna karena bila biji telah masak biasanya akan pecah pada waktu dikeringkan dan warnanya menjadi kurang baik. Waktu panen yang tepat adalah jika buah sudah berwarna hijau kekuningkuningan.Cara panen yaitu dengan memotong karangan bunga dibawah dompolan buah.Buah yang sudah dipanen kemudian dijemur sampai kering, sebaiknya jangan terkena sinar matahari langsung atau dikering anginkanSetelah pemanenan, buah dicuci atau dibersihkan terlebih dahulu lalu dijemur langsung dengan sinar matahari sampai kering dan kadar airnya mencapai 10-12 %. Buah kering dimasukkan ke dalam karung atau kantong plastik dan diikat atau ditutup rapat. Penyimpanan dilakukan di tempat yang kering. Kapulaga berbuah sepanjang tahun sehingga untuk pemanenan ini tidak menentu. Dalam pemanenan kapulaga dikenal istilah panen besar 4 kali dan panen kecil 4 kali yang berlangsung dalam 1 tahun secara berselangseling. Tanaman dapat dipergunakan sampai umur 10 15 tahun. Hasil panen per hektar bisa mencapai 2 3 ton buah kering per tahun dan ini berlaku untuk tanaman yang sudah berumur belasan tahun.

IV. Daftar Pustaka 1. Risa Nurul Falah, Budidaya Kapulaga, 2008 2. Prasetyo, Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Budidaya Kapulaga Sebagai Tanaman Sela Pada Tegakan Sengon, Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia Volume 6, No I, 2004. 3. Suhadahanun.com/2012/03/cara-budidaya-kapulaga/.., 2012 4. Budidayakapologo.blogspot.com/2011/./syarat-tumbuh-kapulaga, 9 Maret 2011. 5. tipspetani.blogspot.com/.../budidaya-kapulaga-dan-manfaat-kapulaga...

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

149

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KUNYIT (Curcuma domestica Val)

I. Pendahuluan Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina. Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan tinggi 40-100 cm. Batang merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun tunggal, bentuk bulat telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12,5 cm dan pertulangan menyirip dengan warna hijau pucat. Berbunga majemuk yang berambut dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm, berwarna putih/kekuningan. Ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun yang rata. Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan. Jenis Curcuma domestica Val, C. domestica Rumph, C. longa Auct, u C. longa Linn, Amomum curcuma Murs. Ini merupakan jenis kunyit yang paling terkenal dari jenis kunyit lainnya.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

150

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena berkhasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal, dan menyembuhkan kesemutan. Manfaat utama tanaman kunyit, yaitu: sebagai bahan obat tradisional, bahan baku industri jamu dan kosmetik, bahan bumbu masak, peternakan dll. Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, dan menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Tanaman kunyit dapat tumbuh baik pada daerah yang memiliki intensitas cahaya penuh atau sedang, sehingga tanaman ini sangat baik hidup pada tempat-tempat terbuka atau sedikit naungan. 2) Pertumbuhan terbaik dicapai pada daerah yang memiliki curah hujan 1000-4000 mm/tahun. Bila ditanam di daerah curah hujan < 1000 mm/tahun, maka system pengairan harus diusahakan cukup dan tertata baik. Tanaman ini dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Pertumbuhan yang paling baik adalah pada penanaman awal musim hujan. 3) Suhu udara yang optimum bagi tanaman ini antara 19-30C.

b. Ketinggian Kunyit tumbuh baik di dataran rendah (mulai < 240 m dpl) sampai dataran tinggi (> 2000 m dpl). Produksi optimal + 12 ton/ha dicapai pada ketinggian 45 m dpl.

c. Tanah 1) Kunyit tumbuh subur pada tanah gembur, pada tanah yang dicangkul dengan baik akan menghasilkan umbi yang berlimpah. 2) Jenis tanah yang diinginkan adalah tanah ringan dengan bahan organik tinggi, tanah lempung berpasir yang terbebas dari genangan air/sedikit basa.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

151

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

III. Budidaya a. Pembibitan Bibit kunyit yang baik berasal dari pemecahan rimpang, karena lebih mudah tumbuh. Syarat bibit yang baik : berasal dari tanaman yang tumbuh subur, segar, sehat, berdaun banyak dan hijau, kokoh, terhindar dari serangan penyakit; cukup umur/berasal dari rimpang yang telah berumur > 7-12 bulan; bentuk, ukuran, dan warna seragam; memiliki kadar air cukup; benih telah mengalami masa istirahat (dormansi) cukup; terhindar dari bahan asing (biji tanaman lain, kulit, kerikil). Rimpang bahan bibit dipotong agar diperoleh ukuran dan dengan berat yang seragam serta untuk memperkirakan banyaknya mata tunas/rimpang. Bekas potongan ditutup dengan abu dapur/sekam atau merendam rimpang yang dipotong dengan larutan fungisida (benlate dan agrymicin) guna menghindari tumbuhnya jamur. Tiap potongan rimpang maksimum memiliki 1-3 mata tunas, dengan berat antara 20-30 gram dan panjang 3-7 cm. Kebutuhan bibit kunyit/hektar lahan adalah 0,50-0,65 ton. Maka diharapkan akan diperoleh produksi rimpang sebesar 20-30 ton/ha.

b. Pengolahan Lahan 1) Untuk Lokasi penanaman dapat berupa lahan tegalan, perkebunan atau pekarangan. Penyiapan lahan untuk kebun kunyit sebaiknya dilakukan 30 hari sebelum tanam. 2) Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari gulma dan dicangkul secara manual atau menggunakan alat mekanik guna menggemburkan lapisan top soil dan sub soil juga sekaligus mengembalikan kesuburan tanah. Tanah dicangkul pada kedalaman 20-30 cm kemudian diistirahatkan selama 1-2 minggu agar gas-gas beracun yang ada dalam tanah menguap dan bibit penyakit/hama yang ada mati karena terkena sinar matahari. 3) Untuk mempertahankan kegemburan tanah, meningkatkan unsur hara dalam tanah, drainase, dan aerasi yang lancar, dilakukan dengan menaburkan pupuk dasar (pupuk kandang) ke dalam lahan/dalam lubang tanam dan dibiarkan 1 minggu. Tiap lubang tanam membutuhkan pupuk kandang 2,5-3 kg. 152

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

c. Penanaman 1) Bibit kunyit yang telah disiapkan kemudian ditanam ke dalam lubang berukuran 5-10 cm dengan arah mata tunas menghadap ke atas. Tanaman kunyit ditanam dengan dua pola, yaitu penanaman di awal musim hujan dengan pemanenan di awal musim kemarau (7-8 bulan) atau penanaman di awal musim hujan dan pemanenan dilakukan dengan dua kali musim kemarau (12-18 bulan). Kedua pola tersebut dilakukan pada masa tanam yang sama, yaitu pada awal musim penghujan. Perbedaannya hanya terletak pada masa panennya. 2) Lubang tanam dibuat di atas bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30 x 30 cm dengan kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60 cm. 3) Teknik penanaman dengan perlakuan stek rimpang dalam nitro aromatik sebanyak 1 ml/liter pada media yang diberi mulsa ternyata berpengaruh nyata mg/liter terhadap pada pertumbuhan media yang dan sama vegetatif kunyit, nyata sedangkan terhadap penggunaan zat pengatur tumbuh IBA (indolebutyric acid) sebanyak 200 berpengaruh pembentukan rimpang kunyit. 4) Masa tanam kunyit yaitu pada awal musim hujan sama seperti tanaman rimpang-rimpangan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Walaupun rimpang tanaman ini nantinya dipanen muda yaitu 7-8 bulan tetapi pertanaman selanjutnya tetap diusahakan awal musim hujan. d. Pemupukan 1) Penggunaan pupuk kandang dapat meningkatkan jumlah anakan, jumlah daun, dan luas area daun kunyit secara nyata. Kombinasi pupuk kandang sebanyak 45 ton/ha dengan populasi kunyit 160.000/ha menghasilkan produksi sebanyak 29,93 ton/ha. 2) Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman kunyit perlu diberi pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2 - 4 bulan). Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yang berumur 4 bulan. Dengan

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

153

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

pemberian pupuk ini diperoleh peningkatan hasil sebanyak 38% atau 7,5 ton rimpang segar/ha. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman.

e. Pemeliharaan 1) Penyiangan gulma Penyiangan perlu dilakukan untuk menghilangkan rumput liar (gulma) yang mengganggu penyerapan air, unsur hara dan mengganggu perkembangan tanaman. Kegiatan ini dilakukan 3-5 kali bersamaan dengan pemupukan dan penggemburan tanah. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur bulan dan bersamaan dengan ini maka dilakukan pembubunan guna merangsang rimpang agar tumbuh besar dan tanah tetap gembur. 2) Penyulaman Menyulam tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1-1,5 bulan Apabila ada rimpang kunyit yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya buruk, maka dilakukan penanaman susulan (penyulaman) rimpang lain yang masih segar dan sehat. 3) Pembubunan / Pendaringan Seperti halnya tanaman rimpang lainnya, pada kunyit pekerjaan pembubunan ini diperlukan untuk menimbun kembali daerah perakaran dengan tanah yang melorot terbawa air. Pembubunan bermanfaat untuk memberikan kondisi media sekitar perakaran lebih baik sehingga rimpang akan tumbuh subur dan bercabang banyak. Pembubunan biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan biasanya dilakukan secara rutin setiap 3-4 bulan sekali.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

154

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4) Pengendalian hama penyakit tanaman a) Hama Ulat penggerek akar (Dichcrosis puntifera.) Gejalanya pada pangkal akar dimana tunas daun menjadi layu dan lama kelamaan tunas menjadi kering lalu membusuk. Cara pengendaliannya tanaman disemprot/ditaburkan insektisida furadan G-3. b) Busuk bakteri rimpang, penyebabnya oleh kurang baik sistem pengairan (drainase) atau disebabkan oleh rimpang yang terluka akibat alat-alat pertanian, sehingga luka rimpang kemasukan cendawan. Gejalanya kulit akar tanaman menjadi keriput dan mengelupas, kemudian rimpang lama kelamaan membusuk dan keropos. Cara pengendaliannya dengan mencegah terjadi genangan air pada lahan, mencegah terlukanya rimpang dan penyemprotanfungisida dithane M-45. c) Karat daun kunyit, penyebabnya adalah Taphrina macullans Bult dan Colletothrium pada helaian capisici daun; atau bila oleh penyakit kutu ini daun yang disebut tanaman Panchaetothrips. Gejalanya adalah timbulnya warna coklat (karat) menyerang dewasa/daun yang tua maka tidak akan mempengaruhi produksinya sebaliknya jika menyerang tanaman/daun muda, menyebabkan tanaman tersebut menjadi mati. Pengendaliannya dilakukan dengan mengurangi kelembaban dan penyemprotan insektisida, seperti dengan agrotion 2 cc/liter atau dengan fungisida dithane M-45 secara teratur selama seminggu sekali. 5) Panen 1) Tanaman kunyit siap dipanen pada umur 8-18 bulan, saat panen yang terbaik adalah pada umur tanaman 11-12 bulan, yaitu pada saat gugurnya daun kedua.. Ciri-ciri tanaman kunyit yang siap panen ditandai dengan berakhirnya pertumbuhan vegetatif, seperti terjadi kelayuan/perubahan warna daun dan batang yang semula hijau berubah menjadi kuning (tanaman kelihatan mati). 2) Pemanenan dilakukan dengan cara membongkar rimpang dengan cangkul/garpu. Selanjutnya rimpang yang telah dibongkar dipisahkan dari tanah yang melekat lalu dimasukkan dalam karung agar tidak rusak.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

155

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3) Panen kunyit dilakukan dimusim kemarau karena pada saat itu sari/zat yang terkandung didalamnya mengumpul. Selain itu kandungan air dalam rimpang sudah sedikit sehingga memudahkan proses pengeringannya. 6) Pasca Panen 1) Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Kemudian lakukan pencucian dengan air bersih sampai tidak ada tanah atau kotoran yang melekat. 2) Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50oC - 60oC. Rimpang yang akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. 3) Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yang bersih dan kedap udara. (belum pernah dipakai sebelumnya).

IV. DAFTAR PUSTAKA 1. balittro.litbang.deptan.go.id/.../index.php?...budidaya...kunyit.. 2. pertanianjanabadra.webs.com/apps/blog/show/10534335,Budidaya Kunyit Makin Menggiurkan (1)-Sukses Agribisnis, 25 November 2011 3. peluangusaha.kontan.co.id/.../budidaya-kunyit-makin-menggiurkan,10 November 2011. 4. www.warintek.ristek.go.id/pertanian/kunyit.pdf, Pedoman Budidaya Kunyit 5. ibutani.blogspot.com/2012/01/lokasi-budidaya-kunyit.html,Budidaya Tanaman dan Teknologi Pertanian: Lokasi Budidaya Kunyit.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

156

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

LADA (Piper nigrum L)

I. Pendahuluan Tanaman lada termasuk tanaman rempah yang banyak dikembangkan di Indonesia. PT. Natural Nusantara berupaya membantu meningkatkan produksi tersebut secara kuantitas, kualitas dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan(Aspek K-3). Tanaman lada (Piper nigrum L) adalah tanaman perkebunan yang bernilai ekonomis tinggi. Tanaman ini dapat mulai berbuah pada umur tanaman berkisar antara 2-3 tahun. Di Lampung komoditas ini banyak diusahakan petani dalam bentuk perkebunan kecil yang diusahakan secara turun temurun dengan padat tenaga kerja. Produktivitas kebun lada rakyat di Lampung masih tergolong rendah yaitu rata-rata 591 kg/ha, dibanding produktivitas nasional yang mencapai 800 kg/ha. Pengembangan lada di Lampung diarahkan untuk menghasilkan lada hitam yang dikenal di pasaran dunia dengan nama Lampong Black Pepper . Lampung telah dikenal sebagai salah satu daerah utama penghasil lada hitam di Indonesia. Produktivitas tanaman lada masih berpotensi dapat ditingkatkan dengan melalui penerapan teknologi budidaya mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang baik.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

157

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

II. Syarat Tumbuh a. Iklim 1) Tanaman lada membutuhkan curah hujan 1.000-3.000 mm/tahun dan mempunyai hari hujan 110-170 hari per tahun. 2) Suhu udara optimum untuk budidaya tanaman lada antara 20-350 C. 3) Cukup sinar matahari (10 jam sehari) dengan Kelembaban udara 50% 100% lengas nisbi dan optimal antara 60% - 80% RH.

b. Ketinggian Tanaman lada akan tumbuh dengan baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 300 1.100 m dpl. c. Tanah 1) Tanaman lada paling cocok ditanam pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung humus. 2) Tanah Tidak tergenang atau terlalu kering dengan pH 5,5 - 7.0 3) Warna tanah merah sampai merah kuning seperti Podsolik, Lateritic, Latosol dan Utisol. 4) Kandungan humus tanah sedalam 1 - 2,5 m. III. Budidaya a. Pembibitan 1) Tanaman lada dapat diperbanyak secara generative dengan biji dan vegetative dengan stek. 2) Perbanyakan dengan setek lebih praktis, efisien dan bibit yang dihasilkan akan sama dengan sifat induknya. 3) Setek tanaman lada dapat diambil dari sulur gantung, sulur tanah dan sulur buah (caabang buah). 4) Berasal dari kebun induk produksi yang sudah berumur 10 bulan-3 tahun (Kebutuhan bibit 2.000 bibit tanaman perhektar).

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

158

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b. Pengolahan Lahan 1) Cangkul 1, pembalikan tanah sedalam 20-30 cm. 2) Taburkan kapur pertanian dan diamkan 3-4 minggu. Dosis kapur pertanian : Pasir dan Lempung berpasir: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 0,9 ton/ha. Lempung: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 1,7 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 0,9 ton/ha. Lempung Berdebu: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 2,6 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 3,2 ton/ha. Lempung Liat: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 3,4 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 4,2 ton/ha. 3) Cangkul 2, haluskan dan ratakan tanah. c. Penanaman 1) Sistem penanaman adalah monokultur (jarak tanam 2m x 2m). Tetapi juga bisa ditanam dengan tanaman lain. 2) Lubang tanam dibuat limas ukuran atas 40 cm x 35 cm, bawah 40 cm x 15 cm dan kedalaman 50 cm. Biarkan lubang tanam 10-15 hari barulah bibit ditanam. 3) Waktu penanaman sebaiknya musim penghujan atau peralihan dari musim kemarau kemusim hujan, pukul 6.30 pagi atau 16.30-18.00 sore. 4) Bibit lada setelah dilepaskan dari polibag atau setek 5-7 buku yang sudah tumbuh dan berakar ditanam dengan cara meletakkan miring (3045o ) mengarah ke tajar, 3-4 buku/setek bagian pangkal tanpa daun dibenamkan mengarah ke tajar, sedangkan 2-3 ruas sisanya (berdaun) disandarkan dan diikat pada tajar. 5) Selanjutnya tanah di sekelilingnya yang telah dicampur pupuk organik dan pupuk dasar NPK 20 gram/tanaman. Untuk tanah yang kurang subur ditambahkan 10 gram urea, 7 gram SP 36 dan 5 gram KCL per tanaman. Tanah di sekitar tanaman lada dibuat sedikit guludan agar tidak tergenang air di musim hujan. Guludan tidak boleh terlalu tinggi agar tidak menjadi tempat sarang rayap.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

159

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

6) Setelah ditanam, tanah di sekelilingnya dipadatkan dan di atas tanaman lada diberi naungan yang diikatkan pada tajar agar tanaman lada yang baru ditanam terlindungi dari teriknya sinar matahari. Naungan tanaman lada yang umum digunakan dan mudah diperoleh adalah alang-alang atau tanaman hutan lainnya yang tidak mudah lapuk. Naungan dilepas apabila tanaman lada telah tumbuh kuat. d. Pemupukan Tanaman lada memerlukan pupuk organic dan anorganik. Pemberian dapat dilakukan secara terpisah maupun secara bersama-sama dengan mencampur pupuk organic dan anorganik sebelum diberikan pada tanaman lada. Pemupukan dengan pupuk anorganik atau pupuk makro dapat diberikan pada tanaman berumur 3 bulan sampai 17 bulan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Umur (bulan) 3-4 4-5 5-6 6 - 17 Pupuk makro (gram / tanaman) Urea 35 35 35 35 SP 36 15 20 25 30 KCL 20 25 30 25

e. Pemeliharaan 1) Pemangkasan dan Pengikatan Sulur Panjat Apabila pada tanaman lada telah tumbuh 8-10 buku (umur 5-6 bulan), dilakukan pemangkasan pada ketinggian 25-30 cm dari permukaan tanah. Pemangkasan dilakukan di atas2-3 buku. Tujuan pemangkasan untuk merangsang pembentukan 3 sulur panjat baru. Sulur baru tersebut harusdilekatkan dan diikatkan pada tajar lada. Pengikatan dilakukan menggunakan tali rafia yang dibelah 2-4 agar tali rafia tidak menggangu pertumbuhan lada. Pemangkasan berikutnya dilakukan apabila telah keluar tunas baru dan telah mencapai 7-9 buku pada umur sekitar 12 bulan, yaitu pada buku yang tidak mengeluarkan cabang buah. Pemangkasan berikutnya dilakukan pada umur 2 tahun, sehingga

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

160

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

terbentuk kerangka tanaman yang mempunyai banyak cabang produktif. Hasil pemangkasan sulur panjat tersebut dapat digunakan sebagai sumber bahan tanaman/setek untuk pengembangan pembibitan lada. 2) Penyiangan Gulma Penyiangan terhadap gulma atau tanaman pengganggu dilakukan secara rutin yaitu membersihkan disekitar tanaman lada. Areal dalam radius lebih kurang 60 cm dibawah kanopi tanaman lada atau disekitar pangkal batang lada harus bersih dari gulma. Waktu penyiangan paling sedikit 2-3 bulan sekali. 3) Penyulaman Menyulam tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1-1,5 bulan setelah tanam dengan memakai bibit cadangan yang sudah diseleksi dan disiapkan. 4) Pembubunan / Pendaringan Pembubunan/pendaringan sekaligus terbentuk dilakukan bersamaan yang dengan kegiatan untuk penyiangan. Pada setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan dan system pengairan berfungsi menyalurkan kelebihan air sehingga drainase akan selalu terpelihara. 5) Pengairan dan Penyiraman Pada musim kemarau penyiraman sehari sekali di sore hari. Pada musim hujan tidak boleh tergenang. 6) Pemberian Mulsa Pada saat tanaman lada berusia 3-5 bulan, beri mulsa alami berupa dedaunan tanaman tahunan ataupun alang-alang. 7) Penggunaan Tajar (Ajir) Sebaiknya gunakan tajar mati dari bahan kayu. Pangkal tajar diruncingkan, bagian ujung dibuat cabang untuk menempatkan batang lada yang panjangnya telah melebihi tinggi tajar. Panjang tajar 2,5-3 m.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

161

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

8) Pengendalian hama penyakit tanaman a. Hama Penggerek Batang (Laphobaris Piperis) Ciri: berwarna hitam, ukuran 3-5 mm. Serangga dewasa lebih suka menyerang bunga, pucuk daun dan cabang-cabang muda. Akibat lain bila Nimfanya (serangga muda) berupa ulat akan menggerek batang dan cabang tanaman. Pengendalian: memotong cabang batang; penyemprotan PESTONA. b. Hama bunga Ciri: Serangga dewasa berwarna hitam, sayap seperti jala, terdapat tonjolan pada punggungnya, ukuran panjang tubuh 4,5 mm dan lebar 3 mm. Gejala: serangga dewasa/nimfanya menyerang bunga berakibat bunga rusak dan menimbulkan kegagalan pembuahan, siklus hidupnya sekitar 1 bulan. Pengendalian: penyemprotan PESTONA, serta dapat juga dilakukan pemotongan pada tandan bunga. c. Hama buah Ciri: serangga berwarna hijau kecoklatan, nimfanya tidak bersayap, berwarna bening dan empat kali ganti kulit. Serangga dewasa atau nimfanya menyerang buah sehingga isi buah kosong. Telurnya biasa diletakkan pada permukaan daun atau pada tandan buah, siklus hidupnya sekitar 6 bulan. Pengendalian: musnahkan telur dipermukaan daun, cabang, dan yang ada pada tandan buah. Gunakan PESTONA. d. Penyakit busuk pangkal batang (BPP) Penyebab: jamur Phytopthora Palmivora Var Piperis. Gejala: awal serangan sulit diketahui. Bagian yang mulai terserang pada pangkal batang memperlihatkan garis-garis coklat kehitaman dibawah kulit batang. Daun berubah warna menjadi layu (berwarna kuning). Pencegahan : penanaman jenis lada tahan penyakit BPB. Pemberian Natural Glio sebelum dan sesudah tanam.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

162

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

e. Penyakit kuning Penyebab: tidak terpenuhinya berbagai persyaratan agronomis serta serangan cacing halus (Nematoda) Radhophalus similis yang mungkin berasosiasi dengan nematoda lain seperti Heterodera SP, M incognita dan Rotylenchus Similis. Gejala: menyerang akar tanaman lada, ditandai menguningnya daun lada, akar rambut mati, membusuk dan berwarna hitam. Cepat lambatnya gejala daun menguning tergantung berat ringannya infeksi dan kesuburan tanaman. Pengendalian: Pemberian pupuk kandang, pengapuran, pemupukan tepat dan seimbang, pemberian Natural Glio sebelum dan sesudah tanam. Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.. f. Panen Panen pertama umur tiga tahun atau kurang. Ciri-ciri: tangkainya berubah agak kuning dan sudah ada buah yang masak (berwarna kuning atau merah). Pemetikan dari buah bagian bawah hingga buah bagian atas, dengan mematahkan persendian tangkai buah yang ada diketiak dahan. Pemanenan buah lada dilakukan menggunakan tangga untuk menjangka buah dan keranjang bambu yang bersih dan untuk tempat mengumpulka buah lada yang sudah dipetik. Periode panen sesuai iklim setempat, jenis lada yang ditanam dan intensitas pemeliharaan. g. Pasca Panen Lada yang sudah dipetik selanjutnya dihamparkan dan disortir. Buah lada yang busuk dan tidak normal dipisahkan dan dibuang sedangkan

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

163

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

buah yang baik dan mulus dikumpulkan dalam satu tempat untuk diproses lebih lanjut. Pemisahan atau sortasi bertujuan untuk memisahkan biji lada hitam yang sudah kering dari kotoran seperti tanah, pasir, daun kering, gagang, serat-serat dan juga sebagian lada enteng. Penampian dilakukan secara manual menggunakan tampah, sortasi juga dapat dilakukan dengan mesin yang digerakkan menggunakan pedal (blower), alat ini untuk memisahkan buah lada bernas, lada enteng dan kotoran. Buah lada hitam yang sudah kering dan terlepas dari tangkainya dan telah disortasi antara lada bernas, lada enteng dan kotoran. Kemudian, lada bernas dikemas dengan menggunakan karung plastik. Ruang penyimpanan buah lada hasil sortasi harus kering (kelembaban 70%) untuk menghindari agar lada tidak berjamur dengan lada enteng dan kotoran. Ruang penyimpanan diberi alas dari bambu atau kayu setinggi lebih kurang 15 cm dari permukaan lantai sehingga bagian bawah karung tidak langsung menyentuh lantai. Kualitas lada hitam dapat dipertahankan 3-4 tahunapabila disimpan di ruangan bersuhu 20-28oC.

IV. Daftar Pustaka 1. teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-lada.htm, Budidaya LadaTeknis Budidaya, 28 oktober 2007. 2. lampung.litbang.deptan.go.id/ind/images/stories/publikasi/lada.pdf,Teknolo gi Budidaya Lada-BPPTP Lampung. 3. budidaya-di.blogspot.com/../budidaya-lada-dengan-tiang,panjat.htm... Budidaya Lada Dengan Tiang Panjat, 15 November 2009. 4. www.lestarimandiri.org/budidaya-tanaman.../158-budidaya-lada.html, Budidaya lada, 7 Maret 2012 5. akarfoundation.wordpress.com/.../pengembangan-budidaya-lada-hita... Pengembangan Budidaya Lada Hitamdan Lada Putih 23 November 2007.

PEDOMAN BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

164