Anda di halaman 1dari 33

ASPEK HUKUM PEMBUATAN SURAT KETERANGAN

Dr. SETYO TRISNADI, Sp.F

Pendahuluan

Dokter merupakan bagian dari profesi dimana terdapat aturan yang sangat hirarkis (3 hirarkis). 1. Antara spesialis : yang satu lebih bergengsi dari yg lain. 2. Antar spesialis : dipengaruhi oleh jenjang akademik. 3. Tehadap perawatan pasien : dokter yg merawat berada di hirarki paling atas-dokter senior yg memiliki ketrampilan lebih baik sbg konsultan, dokter berada di hirarki paling atas di atas perawat dan profesi kesehatan lainnya. (bab hubungan terapetik)

Perkembangan iptek kedokteran, dokter tdk bisa menjadi ahli untuk semua penyakit yg diderita pasiennya, sehingga membutuhkan bantuan dokter lain dan profesi kesehatan lainnya (perawat, farmasis, fisioterapis, teknisi lab dsb). Model kerjasama dalam pengambilan keputusan telah menggantikan model otoritarian yg merupakan sifat dari paternalistik medis. Profesi kesehatan lain akan mempertimbangkan setiap permintaan dokter karena secara profesional harus bertanggung jawab terhadap pasien.

Dasar hukum pembuatan surat

KODEKI : pasal 7, pasal 10. UUPK No. 29 th 2004 : pasal 51, 52. UUKes No. 23 th 1992.

Pasal : 10 KODEKI
Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.

Penjelasan :
a. Sikap Tulus ikhlas : sangat diperlukan dalam menolong pasien, sikap ini akan memberikan ketenangan dan kejernihan dalam berpikir dan teliti dalam bertindak juga menenangkan pasien. Ramah-tamah : memberi kesan yg baik thd pasien shg secara sukarela dan spontan menyerahkan dirinya untuk diperiksa oleh dokter.

Profesional : mempertahankan mutu tindakan berdasarkan pengetahuan dan ketrampilan profesional yg dimilikinya. Sopan-santun dan bersusila : dalam melaksanakan tugas profesionalnya dokter harus memperhatikan tata sopan santun dan tatasusila yg berlaku di masyarakat. Terutama dalam melakukan pemeriksaan dan pengobatan thd pasien lawan jenis.

Dalam melakukan pemeriksaan perlu ada orang ketiga, yakni petugas kesehatan pembantu praktek atau salah seorang keluarga pasien. Tindakan pencegahan ini perlu untuk mencegah kasus pemerasan (blackmailing), menghindari diri dari tuduhan melakukan sesuatu yg tdk senonoh. Tindakan ini wajib dalam rangka menjaga martabat dan kehormatan korp dokter seluruhnya. Dalam melakukan psikoterapi adanya orang ketiga tidak wajib dan tidak perlu ok dapat mengganggu jalannya pemeriksaan dan pengobatan.

Intensitas perhatian dokter : tidak benar dokter melakukan pemeriksaan sekaligus pada saat yg sama lebih dari seorang pasien, selain mengganggu privacy pasien juga akan mengurangi ketelitian pemeriksaan. Perhatian terhadap pasien hendaknya menyeluruh terhadap pribadi seseorang sebagai manusia seutuhnya yi jasmani, mental spiritual, sosial, lingkungan.

Membantu menemukan latar belakang kelainan kesehatan secara tepat, diagnosa yang tepat dan pengobatan yang tepat pula. Pengobatan tdk hanya berorientasi pada pemberian obat saja, tetapi juga pengobatan nonfarmasi sesuai dg latar belakang penyakit pasien.

b. Rujukan pasien
Iptekdok dalam abad ke 21 berkembang dg pesat. Penemuan baru dlm bidang diagnostik dan terapi sangat luar biasa cepatnya dan tidak mungkin seorang dokter menguasai semuanya, sehingga lahirlah spesialisasi dan subspesialisasi. Ada pepatah A general practitioner is someone,

who knows something about everything; a specialist is someone who knows everything about something.

Seorang dokter umum atau spesialis harus sadar akan batas pengetahuan dan kemampuannya, sehingga diperlukan hubungan antara dokter umum dg dokter spesialis yg dinamakan konsultasi.

c. Konsultasi
Merupakan hubungan antara kolega/sejawat. Tampak kepriadian dan budipekerti dan sifat persaudaran thd teman sejawat. Kadang timbul kesalahpahaman dan perasaan tersinggung.

Langkah-langkah konsultasi :

(1). Konsultasi sebaiknya datang dari dokter yg pertama-tama menangani penyakit pasien, terdorong oleh keinsyafan atas batas kemampuan atau karena pasien atau keluarganya menginginkan konsultasi dan merupakan hak pasien untuk memilih sendiri konsultasi yg disukai. (2). Pemeriksaan oleh konsulen sebaiknya dihadiri oleh dokter pertama, setelah pemeriksaan kedua dokter dapat melakukan tukar pendapat dan musyawarah.

Konsulen melanggar etik kalau secara terbuka ataupun dengan isyarat menyalahkan apa yg telah diperbuat dokter pertama. Perselisihan pendapat harus dikemukakan secara santun. (3). Seorang pasien dikirim kepada spesialis di tempat prakteknya untuk konsultasi. Pengiriman seperti itu harus disertai surat pengatar dalam sampul tertutup yg berisi keterangan yg cukup mengenai pasien. Tdk dibenarkan menyampaikan ket lisan melalui pasien.

(4). Dokter spesialis konsulen mengirimkan kembali pasien disertai pendapatnya secara tertulis dalam sampul tertutup, kecuali konsulen akan meneruskan pengobatan sampai sembuh. (5). Tidak dibenarkan konsulen memberitahukan kepada pasien secara langsung, segala pendapat dan nasehat disampaikan secara tertulis kepada dokter pertama. (6). Konsulen menetapkan dan menagih sendiri kontra prestasinya.

SURAT KETERANGAN

Pasal 7 KODEKI : Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yg telah diperiksa sendiri kebenarannya. Macam-macam surat keterangan antara lain : a. Cuti sakit. b. Kelahiran dan kematian. c. Cacat. d. Penyakit menular. e. Visum et Repertum. f. Kesehatan utk : asuransi jiwa, lamaran kerja, nikah dsb.

Hal-hal yg perlu diperhatikan : Waspada thd sandiwara (simulasi), melebihlebihkan (aggravi) mengenai sakit atau kecelakaan kerja. Keterangan kelahiran dan kematian diisi sesuai keadaan yg sebenarnya, penyakit menular harus dilaporkan. VeR harus dibuat obyektif tanpa pengaruh dari yg berkepentingan dlm perkara. Laporan pengujian kesehatan u asuransi jiwa: *Obyektif. *Jangan diberitahukan calon. *Jangan menguji calon yg masih menjadi pasien. *Serahkan pada perusahaan asuransi jiwa.

Keterangan mengenai kebaikan bahan makanan paten atau khasiat suatu obat, boleh memberitahukan kepada pasien, bila syarat ilmiah sudah dipenuhi. Pemeriksaan dan keterangan mengenai suatu bahan makanan atau obat diserahkan kepada lembaga pemerintah.

Pasal 51 UUPK :

Dr atau drg dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban :


a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar proedur operasional serta kebutuhan medis pasien; b. merujuk pasien ke dr atau drg lain yg mempunyai keahlian atau kemampuan yg lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan;

c. merahasiakan segala sesuatu yg diketahuinya ttg pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yg bertugas dan mampu melakukannya; dan e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi.

Pasal 52 UUPK :

Pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran mempunyai hak :

a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis; b. meminta pendapat dr atau drg lain; c. mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan medis; d. menolak tindakan medis; dan e. mendapatkan rekam medis.

UUKes No. 23 th 1992 Hak-hak pasien :

Hak memperoleh pelayanan medik yg benar dan layak, berdasarkan teori kedokteran yg telah teruji kebenarannya. Hak memperoleh informasi medik tentang penyakitnya. Hak memperoleh informasi tentang tindakan medik yg akan dilakukan oleh dokter. Hak memberikan konsen atas tindakan medik yg akan dilakukan oleh dokter.

Hak memutuskan hubungan kontraktual setiap saat (sesuai azas kepatutan dan kebiasaan). Hak atas rahasia kedokteran. Hak memperoleh surat keterangan dokter bagi kepentingan pasien yg bersifat non yustisial; misalnya surat keterangan sakit, surat keterangan untuk kepentingan asuransi, surat kematian dsb. Hak atas second opinion.

Kewajiban dokter

Memberikan pelayanan medik yg benar dan layak, berdasarkan teori kedokteran yg telah teruji kebenarannya. Memberikan informasi medik tentang penyakit pasien. Memberikan informasi tentang tindakan medik yg akan dilakukan.

Memberikan kepada pasien untuk memutuskan apakah ia akan menerima atau menolak tindakan medik yg akan dilakukan oleh dokter. Menyimpan rahasia kedokteran. Memberikan kepada pasien untuk mendapatkan

second opinion.

Memberikan surat keterangan dokter bagi berbagai kepentingan pasien (misalnya surat rekomendasi dokter untuk cuti sakit, cuti hamil, mengurus akte atau klaim asuransi).

PROSEDUR PEMBUATAN SURAT KEMATIAN


1.

Medis-klinis : -Pastikan tanda-tanda kematian : lebam mayat, kaku mayat. -Bila masih hidup berikan terapi. -Tentukan saat kematian. -Pastikan sebab kematian.

2.

Administrasi : *Pahami jenis surat kematian. *Identifikasi kasus. *Perkiraan cara kematian : wajar atau tidak wajar. *Wajar-keterangan dokter-formulir Model ART-RW- Lurah-Dinas pemakaman. *Tidak wajar-kepolisian-VeR-Formulir Model A-RT-RW-Lurah-Dinas pemakaman.

Macam-macam surat kematian


Formulir A. Formulir B. Formulir penderita penyakit menular. Surat kantor catatan sipil. Surat ijin pemakaman. Formulir internasional.

FORMULIR A - Isi : keterangan bahwa penderita telah mati, nama penderita, jenis kelamin, umur, tempat dan tanggal pemeriksaan, nama dan tanda tangan pemeriksa. - Diberikan pada keluarga untuk mengurus pemakaman. - Dibuat atas sumpah jabatan.

FORMULIR B - Menerangkan sebab kematian. - Bersifat rahasia, tidak boleh diberikan kpd keluarga. - Diberikan kpd Dinkes u statistik. - Dibuat berdasarkan sumpah jabatan. - Isi : nama penderita, alamat, jenis kelamin, tgl jam kematian, tgl jam pemeriksaan, nama dan tanda tangan pemeriksa.

Dasar hukum : UU No. 6 th 1962/Ordonansi wabah, yi penyakit yg termasuk dalam karantina laut, darat, udara. Karena melanggar sumpah jabatan, dokter mendapat perlindungan hukum yaitu dg pasal 50 KUHP. Kegunaan form B sebagai surak keterangan pada pengiriman jenazah ke luar negeri atau keluar daerah. Pengiriman bisa tanpa formulir apabila jenazah sudah menjadi/berupa abu.

Surat ijin pemakaman : - Dibuat oleh dokter rumah sakit. - Semua angka yg menyangkut surat ini harus ditulis dg huruf. Formulir internasional : - Bahasa tgt dimana surat ini dikeluarkan. - Isi : sebab, cara, saat kematian, identitas korban : nama, bangsa, tb, bb, gol darah dsb. - Dikirim ke depkes.

PENGANGKUTAN JENAZAH KE LUAR DAERAH/LUAR NEGERI :

Jenazah harus diberi/disuntik obat penahan busuk, biasanya dipakai formalin lewat vena-sectie v. Femoralis. Jenazah dimasukkan peti yang terbuat dari logam.