Anda di halaman 1dari 18

QC COMPUTER RADIOGRAFI (CR) / DIGITAL RADIOGRAFI (DR)

IMAGE ARTIFACT TEST, DARK NOISE, TEST RESOLUTION, CONTRAST/NOISE, LASER JITTER, DAN EXPOSURE INDICATOR ACCURACY

Disusun oleh: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Rozanah Rafli Filano Muhammad Irsal Naeli Nimatin Ahadiyah Syamsul Hidayah Adiwasono Matheus Cicillia Artitin Hamzah Fuadi (24040112150001) (24040112150005) (24040112150008) (24040112150009) (24040112150017) (24040112150020) (24040112150025) (24040112150032)

PROGRAM S-1 LINTAS JALUR FISIKA MEDIS FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

Radiografi digital adalah modalitas radiologi diagnostik yang menggunakan sinar-x untuk memperoleh citra planar digital daripada struktur internal suatu bagian tubuh pasien. Radiografi Digital dalam panduan ini mencakup citra digital hasil dari proses scanning film, direct digital radiography menggunakan tabung/sungkup fluoroskopi, computer radiografi (CR), direct digital radiography (DDR) yang menggunakan Flat Detector Array. Radiografi digital digunakan untuk pemeriksaan konvensional dan non konvensional, baik pada unitradiologi atau unit lain sepanjang kompetensi radiologi diagnostik diperlukan. Proses radiografi digital dapat dilakukan oleh radiografer atau tenaga kesehatan yang sudah memperoleh pelatihan yang sesuai. Proses penjaminan mutu dilakukan oleh Fisika Medik dalam rangka memastikan kualitas citra yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan kelayakan diagnostik. Radiologist bertugas melakukan proses diagnose, sedangkan teknisi Elektro Medik melakukan perbaikan dan kalibrasi alat.

1. Computer Radiografi (CR) merupakan suatu sistem atau proses untuk mengubah sistem analog pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi. Computer Radiografi (CR) mempunyai perlengkapan operasional yang terdiri dari : a. Imaging Plate (IP) Imaging Plate (IP) merupakan media pencatat sinar-X pada Computer Radiografi yang terbuat dari bahan Photo Stimulable Phosphor (PSP) tinggi. Dengan menggunakan Imaging plate memungkinkan processor gambar untuk memodifikasi kontras. Imaging plate berada dalam kaset Imaging. Fungsi dari Imaging plate adalah sebagai penangkap gambar dari objek yang sudah di sinar (ekspose). Prosesnya adalah pada saat terjadinya penyinaran, Imaging plate akan menangkap energi dan disimpan oleh bahan phosphor yang akan dirubah menjadi Electronic Signal dengan laser scenner dalam image reader. Lapisan Imaging Plate IP terdiri dari : 1) Lapisan Pelindung Lapisan ini berfungsi untuk melindungi IP dari benturan (Ballinger, 2003), kerusakan saat proses handling dan transfer seperti goresan, kontraksi, pecah akibat temperatur dan kelembaban (http://www.soredex.com). 2) Lapisan Fosfor

Lapisan yang paling aktif dalam IP. Lapisan fosfor IP adalah lapisan kristal Europiumdoped Barium Fluorohalide (BaFX;Eu2+) atau Photostimulable Phospor. Saat menumbuk kristal ini, BaFX;Eu2+ berubah menjadi bentuk semistabil. Distribusi molekul semistabil ini membentuk gambar laten (Ballinger, 2003). Standar resolusi spatial dari IP kira-kira 2,5 lp/mm yang terdiri dari 150 nm lapisan BaFX;Eu2+ (Greene, 1992). 3) Lapisan Penyokong Lapisan penyokong adalah lapisan dasar yang melapisi lapisan lain yang terbuat dari poliester (Ballinger, 2003). 4) Lapisan Konduktor Lapisan konduktor berfungsi mengeliminasi masalah-masalah elektrostatik dan menyerap cahaya untuk meningkatkan ketajaman (Ballinger, 2003). 5) Lapisan Pelindung Cahaya Lapisan ini berfungsi untuk mencegah cahaya masuk saat proses penghapusan data dari IP, kebocoran, dan menurunkan resolusi spasial (Ballinger, 2003).

Gambar Struktur Lapisan Laser Imaging Film Peran Imaging Plate dan Kaset CR IP mempunyai peran yang sama seperti intensifying screen dan ditempatkan pada kaset yang mirip dengan kaset radiografi konvensional. Sensitifitas IP kira-kira sama dengan kombinasi film-screen yang memiliki speed 200 (Bushong, 2001). Pada proses loading dan unloading IP, pada CR reader harus diminyaki dan

dibersihkan dengan rutin. IP harus dijaga dari kotoran dan debu untuk menghindari artefak pada gambar akhir yang dapat mengganggu gambaran patologi. IP harus diperiksa dari kerutan atau retakan setiap bulannya. Karena goresan, kerutan atau retakan dapat

menyebabkan artefak pada gambar yang dapat menimbulkan gambaran seperti patologi, misalnya gambaran fraktur maupun pnemothorak (Papp, 2006). Kaset terdiri dari bingkai yang terbuat dari Aluminium atau baja dan dilengkapi tube side dari serat karbon. Bagian belakang kaset merupakan lapisan tipis dari timah hitam untuk menyerap radiasi hambur. Fungsi utama dari kaset adalah untuk melindungi IP, bukan untuk mengontrol cahaya. Label barcode terdiri dari angka-angka yang menunjukkan identitas kaset, yang memudahkan untuk mencocokan tiap kaset dengan identitas pasien dan pemeriksaan serta informasi positioning (Ballinger, 2003).

b. Imaging Plate Reader (IP Reader) adalah komponen penting lain dari control akuisisi gambar. IPReader mengubah continuous analog information (gambaran laten) pada IP menjadi format digital (Ballinger, 2003). Pembacaan gambar laten yang tersimpan dalam IP dilakukan oleh laser optoelectronik helium neon (He-Ne), 632,8 nm yang terdapat dalam IP reader (Greene, 1992). Kecepatan eksposi laser sekitar 14 mikrosekon per pixel (10 pixel/mm), sehingga waktu total untuk scan gambar adalah 1 menit. Emisi cahaya (309 nm) dari IP dikumpulkan optic fiber dan ditransfer ke photo multiplier tube (PMT) (Huang, 1999), yang sensitive terhadap cahaya biru (Carlton, 2001). PMT mengubah cahaya tampak ke dalam bentuk sinyal analog. Sinyal analog tersebut diubah dalam bentuk digital sebelum ditampilkan di komputer oleh Analog Digital Converter (ADC) (Carlton, 2001). Gambar laten yang tersimpan dalam IP dapat disimpan dalam waktu yang agak lama setelah dieksposi. Emisi cahaya dari gambar laten menurun sebanyak 25% setelah 8 jam. Setelah IP discan untuk memperoleh gambar, maka gambar laten dapat dihapus dengan mengeksposi IP dengan cahaya tampak dalam jumlah yang besar untuk penggunaan selanjutnya. Untuk meminimalisasi fenomena noise, IP harus segera dihapus setelah dieksposi (Greene, 1992). Selain tempat dalam proses pembacaan, Image reader mempunyai peranan yang sangat penting juga dalam proses pengolahan gambar, sistem transportasi Image plate serta penghapusan data yang ada di Image plate. Image reader sudah dilengkapi dengan monitor yang berfungsi untuk menampilkan gambar yang sudah di baca oleh Image reader disebut dengan image console.

Image console berfungsi sebagai media pengolahan data, berupa computer khusus untuk medical imaging dengan touch screen monitor. Image console dilengkapi oleh bebagai macam menu yang menunjang dalam proses editing dan pengolahan gambar sesuai dengan anatomi tubuh, seperti kondisi hasil gambaran organ tubuh, kondisi tulang dan kondisi soft tissue. Terdapat menu yang sangat diperlukan dalam teknik radiofotografi yaitu kita bisa mempertinggi atau mengurangi densitas, ketajaman, kontras dan detail dari suatu gambaran radiografi yang diperoleh. c. Image Recorder Image recorder mempunyai fungsi sebagai proses akhir dari suatu pemeriksaan yaitu media pencetakan hasil gambaran yang sudah diproses dari awal penangkapan sinar-X oleh image plate kemudian di baca oleh image reader dan diolah oleh image console terus dikirim ke image recorder untuk dilakukan proses output dapat berupa media compact disc sebagai media penyimpanan.atau dengan printer laser yang berupa laser imaging film. d. Personal Computer (PC) Komputer berasal dari bahasa latin yaitu computare yang berarti menghitung. Komputer adalah sistem elektronik yang dapat menerima input data, dapat mengolah data, dapat menerima informasi, menggunakan suatu prograng yang tersimpan didalam memori komputer, dapat menyimpan program dan hasil pengolahan dan bekerja secara otomatis dibawah pengawasan suatu langkah-langkah instruksi-instruksi program yang tersimpan di memori. (Yulikuspartono. 1997)

Sistem Pengolahan Citra Pada Computer Radiografi a. Pembacaan Bayangan Pada Imaging Plate (IP) IP dieksposi dengan sinar-X, maka akan menghasilkan gambar laten pada IP. IP yang telah dieksposi ini dimasukkan dalam slot pada IP reader device yang akan memindahkan IP. IP kemudian discan dengan helium-neon laser (emisi cahaya merah dengan panjang gelombang 633 nm) sehingga kristal pada IP menghasilkan cahaya biru-violet (panjang gelombang 390-400 nm). Cahaya ini kemudian dideteksi oleh photosensor dan dikirim melalui analog digital converter(ADC) ke komputer untuk diproses. Setelah gambar diperoleh, IP ditransfer ke bagian lain dari IPreader device untuk menghapus sisa-sisa gambar agar IP dapat digunakan kembali (Papp, 2006).

Gambar Proses Pembacaan (Readout) dan Penghapusan (Erasure) IP b. Tampilan Gambar Pada Computed Radiography (CR) Tampilan citra pada dasarnya merupakan hasil respon frekuensi spasial dan proses gradasi. Respon frekuensi spasial mengontrol kontras antara dua struktur pada densitas yang berbeda. Proses gradasi mengontrol range densitas yang digunakan untuk menampilkan struktur pada gambar, ini sama dengan windows setting yang digunakan pada tampilan Computed Tomography (CT Scan). Dua karakteristik yang berbeda, kontras dan densitas dioptimalkan dengan digital image processor untuk bagian anatomi spesifik yang dipelajari (Ballinger, 2003). Jika gambar ditampilkan dalam monitor, maka karakteristik gambar dapat diatur (dimagnifikasi, dirotasi, dibalik) oleh pengguna untuk mendapat hasil yang terbaik (Ballinger,2003). Fungsi ini dilakukan oleh komponen yang

disebut workstation. Workstation terdiri dari konsul komputer di mana gambar dapat dimanipulasi setelah data dimasukkan dalam memori komputer. Fungsi

workstation antara lain (Papp, 2006) : 1) Meningkatkan gradasi atau kontras gambar. 2) Meningkatkan frekuensi spasial (recorded detail). Pengaturan ini dapat

meningkatkan resolusi spasial atas meningkatnya noise dan artefak. 3) Mengeliminasi pixel-pexel hitam dan putih yang memiliki kontribusi kecil terhadap informasi diagnostik. 4) Subtraksi gambar dengan menghapus struktur tulang atau mengurangi efek hamburan untuk meningkatkan kontras gambar.

5) Magnifikasi gambar. 6) Menampakkan daerah Region of Intereset (ROI). 7) Sebagai analisa statistik, yang menghitung area permukaan dan mengestimasi volume atau mengubah densitas gambar. 8) Subtraksi energi pada radiografi thoraks dengan mengurangi struktur tulang untuk mendapatkan gambaran paru dan jaringan lunak. Karena gambar CR dalam bentuk digital, maka gambar primer yang dihasilkan dapat dimanipulasi untuk menekan fitur-fitur yang bervariasi untuk menampakkan struktur yang lebih spesifik. Gambar yang ditampilkan atau dicetak sedapat mungkin sesuai dengan ukuran yang sebenarnya (Greene, 1992). c. Pencetakan Gambar Ada beberapa istilah untuk menyebutkan alat ini, antara lain laser imager, film processor, image recorder, dan laser printer. Merupakan alat pengolah gambar dan memprosesnya di atas film.Laser printer dilengkapi dengan multi formater main features yang memungkinkan untuk memformat gambar dan mengolah gambar lebih tajam dan fungsi-fungsi yang terus berkembang. Dapat juga mengolah radiograf dengan kecepatan tinggi dan kualitas yang bagus serta stabil (http://www.soredex.com). Film yang digunakan adalah photothermographic yang tidak menggunakan butiran perak halida, namun butiran perak behenate (AgC22H43O2). Film yang telah dieksposi kemudian discan dengan laser. Setelah dilaser, film dipanaskan pada temperatur 1200 C selama 24 detik untuk memproses gambar (Papp, 2006).

2.

Digital Radiography Pengertian Digital radiografi adalah sebuah bentuk pencitraan sinar_X, dimana sensorsensor sinar-X digital digunakan menggatikan film fotografi konvensional. Dan processing kimiawi digantikan dengan sistem komputer yang terhubung dengan monitor atau laser printer. Komponen Digital Radiography terdiri dari 4 komponen utama, yaitu X-ray source, Image receptor detektor, Analog-Digital Converter, Computer, dan Output Device. a. X-ray Source Sumber X-ray yang digunakan untuk menghasilkan X-ray pada DR sama dengan sumber X-ray pada Coventional Radiography. Oleh karena itu, untuk merubah radiografi konvensional menjadi DR tidak perlu mengganti pesawat X-ray. b. Image Receptor Detektor Image receptor detector berfungsi sebagai Image Receptor yang menggantikan keberadaan kaset dan film. Ada dua tipe alat penangkap gambar digital, yaitu Flat Panel Detectors (FPDs) dan High Density Line Scan Solid State Detectors. 1) Flat Panel Detectors (FPDs) FPDs adalah jenis detektor yang dirangkai menjadi sebuah panel tipis. Berdasarkan bahannya, FPDs dibedakan menjadi dua, yaitu Amorphous Silicon

Amorphous Silicon (a-Si) tergolong teknologi penangkap gambar tidak langsung karena sinar-X diubah menjadi cahaya. Dengan detektor-detektor aSi, sebuah sintilator pada lapisan terluar detektor (yang terbuat dari Cesium Iodida atau Gadolinium Oksisulfat), mengubah sinar-X menjadi cahaya. Cahaya kemudian diteruskan melalui lapisan photoiodida a-Si dimana cahaya tersebut dikonversi menjadi sebuah sinyal keluaran digital. Sinyal digital kemudian dibaca oleh film transistor tipis (TFT's) atau oleh Charged Couple Device (CCD's). Data gambar dikirim ke dalam sebuah computer untuk ditampilkan. Detektor a-Si adalah tipe FPD yang paling banyak dijual di industri digital imaging saat ini. Amorphous Selenium (a-Se) Amorphous Selenium (a-Se) dikenal sebagai detektor langsung karena tidak ada konversi energi sinar-X menjadi cahaya. Lapisan terluar dari flat panel adalah elektroda bias tegangan tinggi. Elektrode bisa mempercepat energi yang ditangkap dari penyinaran sinar X mealui lapisan selenium. Foton-foton sinar-X mengalir melalui lapisan selenium menciptakan pasangan lubang electron. Lubang-lubang elektron tersebut tersimpan dalam selenium berdasarkan pengisian tegangan bias. Pola (lubang-lubang) yang terbentuk pada lapisan selenium dibaca oleh rangakaian TFT atau Elektrometer Probes untuk diinterpretasikan menjadi citra. 2) High Density Line Scan Solid State Device Tipe penangkapan gambar yang kedua pada DR adalah High Density Line Scan Solid State Device. Alat ini terdiri dari Photostimulable Barium Fluoro Bromide yang dipadukan dengan Europium (BaFlBr:Eu) atau Fosfor Cesium Bromida (CsBr). Detektor fosfor merekam energi sinar-X selama penyinaran dan dipindai (scan) oleh sebuah dioda laser linear untuk mengeluarkan energi yang tersimpan yang kemudian dibaca oleh sebuah penangkap gambar digital Charge Coupled Devices (CCD's). Image data kemudian ditransfer oleh Radiografer untuk ditampilkan dan dikirim menuju work stasion milik radiolog. c. Analog to Digital Converter

Komponen ini berfungsi untuk merubah data analog yang dikeluarkan detektor menjadi data digital yang dapat diinterpretasikan oleh komputer. d. Komputer Komponen ini berfungsi untuk mengolah data, manipulasi image, menyimpan datadata (image), dan menghubungkannya dengan output device atau work station. e. Output Device Sebuah sistem digital radiografi memiliki monitor untuk menampilkan gambar. Melaui monitor ini, radiografer dapat menentukan layak atau tidaknya gambar untuk diteruskan kepada work station radiolog. Selain monitor, output device dapat berupa laser printer apabila ingin diperoleh data dalam bentuk fisik (radiograf). Media yang digunakan untuk mencetak gambar berupa film khusus (dry view) yang tidak memerlukan proses kimiawi untuk mengasilkan gambar. Gambar yang dihasilkan dapat langsung dikirimkan dalam bentuk digital kepada radiolog di ruang baca melaui jaringan work station. Dengan cara ini, dimungkinkan pembacaan foto melaui teleradiology.

Pelaksanaan Quality Control Pada Penggunaan Computer Radiografi atau Digital Radiografi Program QC peralatan Radiografi Digital meliputi uji: 1. Pixel size dan Aspek Rasio 2. Dark noise dan white noise 3. Uniformity/homogenitas citra

4. HVL menggunakan stepwedge (variable: kV, mA, s, mAs. Indikator: thickness) 5. Linearitas kecerahan ekspose (variabel: kV, mA, s, mAs. Indikator: greylevel) 6. High dan low frequency response. 7. High dan low contrast 8. Artifact, distorsi, ghosting dan throughput 9. Beam alignment 10. Centroid berkas Pedoman ini mengadopsi sepenuhnya QC terkait sistem/alat pembangkit sinar-x dan radiografi konvensional sesuai KMK RI No.1250 / MENKES / SK/XII/ 2009 Tentang Pedoman Kendali Mutu (Quality Control ) Peralatan Radiodiagnostik, yang meliputi : 1. Setup (kV, mA, s, mAs) 2. Dosis radiasi sekitar alat 3. Kebocoran radiasi 4. Linearitas dosis 5. Reproducibility 6. Physical check, seperti cassette, capsule, dll 7. Mechanical defect, seperti misalignment. 8. Film density (Optical density, OD) 9. Entrance skin exposure 10. Dosis vs jarak ke layar

A. IMAGE ARTIFACT TEST 1. Tujuan Untuk mengukur : a. Akurasi bentuk obyek (distorsi) b. Cacat citra (artifact) c. Bayangan bekas citra sebelumnya (ghosting) d. Kelajuan penangkapan citra sekuensial (throughput) 2. Definisi Operasional Artefak pada gambar dapat berasal dari perangkat keras (misalnya, x-ray sistem, jaringan, PSP pembaca, PSP reseptor), perangkat lunak (misalnya, gangguan, algoritma),

atau benda (misalnya, posisi, gerak, dll) [Oestmann,91; Salomo, 91]. Artefak hardware timbul dari pelat gambar, pembaca gambar, printer hardcopy atau prosesor. Paling umum adalah cacat IP yang bersifat sementara, dan mungkin karena debu, kotoran, atau (nonterhapus) hantu gambar. Artefak ini dapat dengan mudah diperbaiki dengan membersihkan layar dan / atau penghapusan piring. Artefak IP permanen dapat ditelusuri terhadap goresan atau penuaan layar - pengganti kemungkinan akan diperlukan. Pembaca gambar dapat menyebabkan kerusakan scan lines diabaikan, dan / atau gambar terdistorsi. Daya laser akan mengurangi dari waktu ke waktu ke titik di luar koreksi (seumur hidup diperkirakan tahun, tergantung pada penggunaan sehari-hari), yang memerlukan penggantian subsistem laser. Partikel debu pada cermin defleksi galvanometer atau pada perangkat koleksi cahaya dapat diwujudkan sebagai artefak putus sekolah gambar. Laser printer misalignment hardcopy dan / atau kerusakan film konveyor dapat menyebabkan jalur distribusi tidak merata scan, distorsi gambar, atau bayangan, di antara segudang potensi masalah. Artefak prosesor film harus dipertimbangkan juga. Macam-macam artefak pada gambaran radiograf pada sistem CR : a. Distorsi adalah perubahan bentuk dan ukuran pada citra. b. Artifact adalah beragam cacat yang tampak pada citra sebagai bentuk-bentuk yang tidak seharusnya. c. Ghosting adalah bayangan bekas citra sebelumnya yang tampak pada citra karena proseserase yang tidak sempurna. d. Throughput adalah cacat yang timbul akibat gerakan pasien atau kecepatan sistem perekaman. 3. Pelaksana Pengujian Dilaksanakan oleh fisikawan medis. 4. Peralatan 5. Parameter 6. Cara Kerja 7. Analisis Kinerja 8. Frekuensi 9. Kriteria Keberhasilan Kinerjastrip fi

10. Tindak lanjut: Apabila aspek rasion dan ukuran piksel berubah, lakukan kalibrasi ulang atau penyesuaian layar display. 11. Dokumentasi

B. DARK NOISE 1. Tujuan Untuk mengetahui kualitas citra yang dihasilkan oleh Imaging Plate , Digitisiser , DDA atau Plat Detector atau layar Fluoroscopi tanpa exposi. Untuk mengevaluasi batas noise inherent IP dalam menghasilkan citra agar terbebas dari artefak. 2. Definisi Operasional Dark Noise adalah derau yang dihasilkan oleh alat yang dapat berupa bintik-bintik putih (white noise) atau bintik-bintik hitam (dark noise). Pengukuran dark noise dilakukan dengan mengukur rata-rata PV dan rata-rata standar deviasi rata-rata PV (average pixel value standard deviation) dari area yang dievaluasi. 3. Peralatan a. Layar detector (Imaging Plate, DDA, Scanner film, Fluoroscopi Digitisiser). b. Pesawat X Ray. c. Software 4. Parameter Gray level dan distribusinya 5. Cara Kerja a. Lakukan erase pada layar detector. b. Dapatkan citra tanpa expose tetapi alat X Ray dalam keadaan hidup. c. Periksa citra secara visual atau menggunakan software yang ada. d. Tentukan tingkat sebaran dari dark noise dan white noise. 6. Analisis Kinerja a. Apabila distribusi dark noise atau white noise cenderung merata atau mengumpul pada suatu area maka ada cacat sistematik.

b. Apabila distribusi dark noise atau white noise bersifat random maka dapat dikompensasi menggunakan software dengan filtering. 7. Frekuensi Harian, sebelum proses pelayanan dilakukan 8. Kriteria Keberhasilan Kinerja Apabila tidak ada noise dimanapun pada citra menandakan bahwa sistem dalam keadaan baik. 9. Tindak lanjut. 10. Dokumentasi

C. TEST RESOLUTION Resolusi tinggi di PSP ditentukan oleh beberapa faktor. Batas-batas fisik yang dikenakan oleh komposisi dan ketebalan pelat fosfor, ukuran laser spot, lag temporal PSL, dan hamburan cahaya dalam fosfor memberikan kontribusi untuk modulasi dan hilangnya sinyal "pra-sampel". Diameter terbatas insiden laser spot pada lapisan fosfor dan penyebaran PSL, terutama pada kedalaman, memberikan kontribusi untuk unsharpness, seperti yang ditunjukkan pada Gambar __. Ketajaman resolusi dapat ditingkatkan dengan menggunakan lapisan tipis fosfor menggunakan resolusi tinggi reseptor PSP (lihat __ Gambar), namun, tradeoff klasik efisiensi deteksi dan dosis radiasi yang lebih tinggi harus dipertimbangkan. Lag fosfor menyebabkan resolusi spasial dalam arah scan cepat menjadi sedikit kurang daripada yang di arah sub-scan seperti yang digambarkan oleh kurva MTF di __ Gambar, walaupun kita mungkin berharap lebih presisi dari gerak elektro-optik daripada dari gerak mekanikal . Resolusi Kontras Kontras pendeteksian yang disediakan oleh gambar PSP, secara umum, mirip dengan gambar di layar film. Sebagai detektor digital, perangkat PSP memungkinkan pemisahan akuisisi gambar laten dan langkah-langkah menampilkan pengolahan. Hal ini

memungkinkan kemampuan untuk bervariasi kontras radiografi gambar yang ditampilkan dengan aplikasi gradasi pemeriksaan spesifik, tonescale, atau manipulasi gambar lainnya. Tanpa peningkatan digital, kontras (radiografi) terlihat dari gambar yang dihasilkan akan sangat rendah (lihat respon kurva karakteristik dalam __ Gambar). Tidak seperti film

layar detektor yang kontras terbatas pada kecepatan radiografi tertentu (tradeoff klasik antara lintang detektor dan kontras film) kontras gambar PSP adalah kebisingan terbatas. Kontras Rendah Resolusi Resolusi kontras harus dibatasi oleh statistik kuantum (sinar-x terserap dalam pelat pencitraan) dalam suatu sistem yang dirancang dengan baik. Tes ini memverifikasi x-ray foton keterbatasan statistik (kuantum tenggelam) selama rentang eksposur umum digunakan untuk klinis x-ray imaging. Sumber-sumber kebisingan lain, seperti elektronik, pencahayaan digitalisasi,, atau kebisingan pola tetap seharusnya tidak membatasi deteksi sinyal kontras rendah dalam kisaran paparan klinis digunakan. Sebuah kontras dikalibrasi benda uji yang rendah seperti hantu Leeds dirancang untuk dihitung radiografi [McArdle, Leeds, Cowen, 93] atau kontras rendah UAB hantu [Wagner, 91]. Hantu harus dicitrakan pada energi berkas disarankan menggunakan eksposur berbagai kejadian dalam rentang klinis yang khas. Untuk hantu Leeds, 70 atau 75 kVp adalah energi kalibrasi. Dengan hantu UAB, berbagai potensi operasi puncak dapat digunakan, dan kontras mutlak ditentukan dari grafik kalibrasi tergantung pada kVp dipilih dan filtrasi tembaga ditambahkan. Dalam situasi baik, protokol akuisisi standar klinis harus digunakan (misalnya, kontak imaging dengan grid; kaset PSP ditempatkan di meja Bucky, dll). Tiga gambar individu yang diperoleh dengan eksposur insiden ~ 0,1 mR, ~ 1,0 mR dan ~ 10 mR untuk pelat fosfor. Algoritma khusus untuk resolusi kontras harus digunakan untuk proses piring. Kontras harus meningkatkan sensitivitas dengan paparan meningkat, terkait dengan kebisingan kuantum berkurang. Jika tidak, sumber-sumber kebisingan dan faktor harus dipertimbangkan, seperti efisiensi deteksi dikurangi (misalnya, piring resolusi standar versus tinggi pencitraan), kebisingan titik tetap (artefak), pencahayaan yang berlebihan atau kebisingan amplifikasi, atau pengaruh pencar x-ray/light pada kontras subjek, antara faktor-faktor lainnya. Sistem PSP harus memberikan sensitivitas kontras hampir setara dengan detektor layar-film dengan teknik akuisisi yang sama (geometri, x-ray faktor, grid, dll). Permintaan bantuan dari insinyur layanan untuk memperbaiki masalah yang signifikan yang mungkin timbul. Setelah selesai, tingkat kontras sensitivitas dapat berfungsi sebagai dasar untuk tes QC periodik dan standar kinerja.

Untuk sistem dengan kemampuan analisis citra digital, penentuan kuantitatif dari sinyal untuk rasio kebisingan melalui daerah bunga (ROI) analisis (sinyal dibagi rata oleh kebisingan rms dalam ROI yang dipilih) sebagai fungsi dari eksposur insiden harus dipertimbangkan. Kontras

untuk rasio kebisingan antara objek kontras rendah dalam kontras hantu (perbedaan nilai ratarata dibagi dengan kebisingan rms dalam ROI latar belakang) memberikan patokan kuantitatif kinerja reseptor gambar PSP untuk teknik akuisisi standar. Pembentukan nilai-nilai dasar memungkinkan penilaian obyektif kinerja sistem dengan perbandingan data saat ini dan sejarah.

D. CONTRAST 1. Tujuan Untuk mengetahui kemampuan sistem mengidentikasi perbedaan antara jaringan dengan densitas hampir sama (low kontras) dan perbedaan antara jaringan dengan densitas yang sangat berbeda (high kontras). 2. Definisi Operasional High kontras adalah perbedaan grey level antara citra dua jaringan yang berbeda secara signifikan. Low kontras adalah perbedaan grey level antara citra dua jaringan yang hampir sama. 3. Pelaksana Pengujian Dilakukan oleh fisikawan medis. 4. Peralatan a. Pattern Test kontras. b. Pesawat X ray. c. Layar detector. 5. Parameter a. Signal to noise ratio (SNR) b. Contrast to noise ratio (CNR) 6. Cara Kerja a. Siapkan pesawat X- Ray. b. Letakkan Phantom pattern tes di depan / di atas layar detector. c. Atur kV dan mAs tertentu. d. Lakukan exposi 1 kali e. Dapatkan gambar pertama f. Lakukan / ulangi exposi 2 kali dengan merubah kV. 7. Analisis Kinerja

a. Hitunglah perbedaan greylevel antara media dengan kerapatan yang berbeda sangat signifikan (high kontras) b. Hitunglah perbedaan greylevel antara media dengan kerapatan yang hampir sama (low kontras). c. Hitunglah perbedaan greylevel antara setiap media terhadap greylevel latar belakang (back ground). 8. Frekuensi Tiga bulan sekali atau bila diperlukan 9. Kriteria Keberhasilan Kinerja Diperoleh informasi tingkat degradasi kontras minimal 10% untuk low kontras

E. LASER JITTER 1. Tujuan Untuk mengevaluasi integritas scanline berkas laser yang digunakan untuk prosessing IP. 2. Definisi Operasional Laser Scanning diproduksi oleh baik HeNe atau sumber dioda laser, sinar laser yang diarahkan melalui beberapa komponen optik sebelum pemindaian pelat fosfor. Pertama, beam splitter menggunakan sebagian dari output laser untuk memantau dan mengimbangi fluktuasi intensitas melalui penggunaan detektor referensi. Hal ini penting, karena intensitas cahaya dirangsang tergantung pada kekuatan dari laser merangsang [Bogucki, 95]. Bagian utama dari energi laser mencerminkan off cermin pemindaian (reflektor datar berputar poligonal atau berosilasi), melalui filter optik, rana, dan perakitan lensa, menyediakan pemindaian sinar disinkronisasi. Untuk mempertahankan fokus yang konstan dan kecepatan menyapu linear di ke cermin stasioner (biasanya piring PSP, balok melewati lensa f- kombinasi cermin silinder dan datar). Para laser spot distribusi di fosfor disesuaikan untuk memiliki profil dalam sistem pembaca yang gaussian dengan diameter 1/e2 sekitar 100 m paling. Kecepatan sinar laser di pelat fosfor disesuaikan dengan waktu sinyal peluruhan s untuk BaFBr: Eu2 +) eksitasi berikut, yang bercahaya konstan (~ 0,8 merupakan faktor utama membatasi waktu pembacaan. Sinar laser kekuatan menentukan fraksi dari energi yang

tersimpan dirilis, dan dampak waktu scan, efek lag berpendar, dan sinyal residu. Daya laser yang lebih tinggi dapat melepaskan lebih dari elektron terjebak, tetapi tradeoff adalah kehilangan resolusi spasial yang disebabkan oleh meningkatnya kedalaman sinar laser dan meningkatkan penyebaran cahaya dirangsang dalam lapisan fosfor. Pada akhir dari garis scan, sinar laser menelusuri kembali untuk memulai. Sejak pelat fosfor secara simultan bergerak, kecepatan terjemahan disesuaikan sedemikian rupa sehingga menyapu berikutnya dari sinar laser inisiat baris lain scan dengan jarak yang sama ke lapangan sampling efektif sepanjang arah sapuan cepat. Hal ini memastikan bahwa dimensi sampel adalah sama dalam arah x dan y. Scanning dan terjemahan piring terus dalam mode raster atas daerah fosfor total. Scan arah, arah laser scan, atau cepatscan arah adalah terminologi yang mengacu pada arah sepanjang jalan dari defleksi sinar laser. Scan lambat, scan piring, atau sub-scan arah merujuk ke arah piring perjalanan fosfor. Pelat fosfor kecepatan terjemahan dipilih untuk piring diberikan berukuran dalam rangka memajukan piring bertahap dengan single pass laser sehingga ukuran sampel yang efektif adalah sama dalam scan dan sub-scan dimensi. Diameter 1/e2 dari laser spot pada permukaan pelat pencitraan adalah tetap dalam semua sistem komersial hadir, dan menerapkan batas atas dengan resolusi spasial dalam kedua dimensi [REF]. Intensitas PSL sebagai laser melewati melintasi plate sebanding dengan energi x-ray diserap oleh area piring.

F. EXPOSURE INDICATOR ACCURACY 1. Tujuan Untuk mengevaluasi akurasi nilai eksposi IP dikalkulasi menggunakan indikator eksposi. 2. Definisi Operasional Indikator eksposi merupakan metode untuk menentukan pengganti pengukuran detector PSP dimana nilainya ekuivalen dengan speed radiografi pada nilai eksposi yang diberikan.