Anda di halaman 1dari 23

Pantai dan Pesisir

Pantai dan Pesisir merupakan dua istilah yang berbeda akan tetapi
keduanya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan karena sama-
sama berhubungan dengan laut.

A. Pesisir
Pesisir adalah bagian permukaan bumi yang terletak antara
pasang naik dan pasang surut. Pada waktu pasang naik, pesisir
tertutup oleh air laur dan pada waktu pasang surut nampak berupa
daratan. Oleh karena itu, pesisir sama panjangnya dengan pantai.
Lebar pesisir tidak sama untuk semua pantai, tergantung pada jenis
pantainya. Pada pantai-pantai yang sangat landai lebar pesisir dapat
mencapai beberapa puluh meter. Pada waktu surut, pesisir nampak
terbentang memanjang sepanjang pantai dan merupakan
bentangan pasir yang indah sehingga dapat dijadikan salah satu
objek wisata pantai. Pada pantai-pantai yang curam, lebar pesisir
sangat sempit karena ketika pasang naik, air laut tertahan oleh
dinding pantai sehingga tidak dapat mengalir lebih jauh ke arah
daratan.
Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan
laut; ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun
terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang
surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut
meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses
alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar,
maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti
penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976; Dahuri et
al, 2001).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor:
KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan
Pengelolaan Pesisir Terpadu, Wilayah Pesisir didefinisikan sebagai
wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling
berinteraksi, dimana ke arah laut 12 mil dari garis pantai untuk
propinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu (kewenangan propinsi)
1
untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi
kabupaten/kota.
Potensi-potensi Sumber Daya Alam (SDA) di daerah pesisir yang
dapat dimanfaatkan antara lain:
• Estuaria (daerah pantai pertemuan antara air laut dan air tawar) ;
berpotensi sebagai daerah penangkapan ikan (fishing grounds)
yang baik.
• Hutan mangrove (ekosistem yang tingkat kesuburannya lebih tinggi
dari Estuaria) ; untuk mendukung kelangsungan hidup biota laut.
• Padang Lamun (tumbuhan berbunga yang beradaptasi pada
kehidupan di lingkungan bahari) ; sebagai habitat utama ikan
duyung, bulubabi, penyu hijau, ikan baronang, kakatua dan
teripang.
• Terumbu Karang (ekosistem yang tersusun dari beberapa jenis
karang batu tempat hidupnya beraneka ragam biota perairan).
• Pantai Berpasir (tempat kehidupan moluska) ; memiliki nilai
pariwisata terutama pasir putih.

Pesisir merupakan daerah yang rawan terhadap proses abrasi serta


kerusakan yang ditimbulkan oleh aktifitas manusia. Oleh sebab itu,
daerah-daerah pantai harus dilestarikan fungsinya.

B. Pantai
Pantai adalah sebuah bentuk geografis yang terdiri dari pasir,
dan terdapat di daerah pesisir laut atau bagian daratan yang
terdekat dengan laut. Perbatasan daratan dengan laut seolah-olah
membentuk suatu garis yang disebut garis pantai. Panjang garis
pantai ini diukur mengeliling seluruh pantai yang merupakan daerah
teritorial suatu negara. Indonesia merupakan negara berpantai
terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Panjang garis pantai
Indonesia tercatat sebesar 81.000 km.

2
Pantai 90 mile Australia
Keadaan dan bentuk pantai berbeda pada setiap tempat. Beberapa
jenis pantai yang sering dijumpai antara lain:

1) Pantai landai, yaitu pantai yang bentuknya hampir rata dengan


permukaan laut. Laut di pantai landai biasanya sangat dangkal.
Pantai landai dijumpai di pantai sebelah timur Pulau Sumatra,
pantai sebelah utara Pulau Jawa, dan Pantai Selatan Kalimantan.
2) Pantai curam atau pantai terjal, yaitu pantai yang bentuknya
curam menghadap ke laut oleh karena pegunungan yang
membentang sepanjang pantai sehingga lereng yang curam
langsung berbatasan dengan laut. Pada pantai ini sering terdapat
gua-gua pantai akibat pukulan ombak yanhg berlangsung setiap
saat. Pantai curam banyak ditemukan di pantai barat Sumatra,
pantai selatan Jawa dan pantai-pantai lainnya yang lautnya
berbatasan dengan daerah pegunungan.
3) Pantai karang, yaitu di sepanjang pantainya ditemukan banyak
pulau-pulau karang, misalnya di pantai timur laut Benua Australia.
4) Pantai mangrove (pantai bakau), yaitu pantai yang ditutupi oleh
hutan bakau, banyak terdapat di daerah tropis dan banyak lumpur,
serta sering tergenang air terutama ketika pasang naik. Pantai
mangrove banyak terdapat di pantai timur Sumatra dan pantai-
pantai rendah lainnya di seluruh Nusantara.

3
Pantai Terjal

Pantai Landai

Ekosistem Pantai/Pesisir
dan
Manfaatnya Bagi Manusia

Garis pantai Indonesia panjangnya kurang lebih 81.000 km, wilayah


pesisirnya mempunyai ekosistem yang sangat beraneka ragam antara
lain ; hutan bakau, terumbu karang, rumput laut, dan padang lamun.

1) Hutan Bakau

Ekosistem pantai memiliki ciri tersendiri dibandingkan dengan


ekosistem di tempat-tempat lainnya. Ekosistem pantai ditandai
dengan berkembangnya tipe hutan bakau (mangrove) sehingga
ekosistem pantai dapat juga disebut ekosistem hutan bakau,
khususnya di daerah tropis. Hutan bakau/hutan payau/hutan
pasang surut adalah sejenis hutan tropika yang khas tumbuh dan
berkembang di kawasan pinggir pantai dan muara-muara sungai.
Pohon-pohonnya mempunyai akar-akar tunjang untuk bernafas.
Akarnya melengkung dan mencuat ke atas sehingga tidak
4
selamanya terendam air.
Lingkungan fisik tempat
tumbuhnya hutan bakau meliputi
daerah pasang surut sampai airnya
asin dan tanahnya berlumpur.
Hutan bakau tersebar di sepanjang
pantai Indonesia, terutama pada
pantai yang datar seperti pantai
timur Sumatra, pantai utara Pulau
Jawa, pantai selatan Kalimantan,
dan pantai-pantai lainnya yang
ditumbuhi bakau secara alami.
Hutan bakau dapat hidup dengan
subur kalau wilayah pesisir
tersebut memenuhi syarat-syarat
seperti berikut:
○Terlindungi dari gempuran ombak
dan arus pasang surut yang kuat.
○Daerahnya landai atau datar.
○Memiliki muara sungai yang besar dan delta.
○Aliran sungai banyak mengandung lumpur.
○Temperatur antara 20°-40° C.
○Kadar garam air laut antara 10-30 per mil.

Hutan bakau di Indonesia merupakan yang terluas di dunia,


akan tetapi sekarang banyak hutan bakau yang telah musnah dan
rusak akibat penebangan–penebangan, baik diambil kayunya untuk
dijadikan arang maupun diubah menjadi tambak-tambak ikan.
Perkiraan luas hutan bakau di dunia sekitar 18 juta hektar. 8,6 juta
hektar diantaranya atau 47,8% berada di Indonesia. Sayang sekali
dari 8,6 juta hektar yang ada di Indonesia, hanya tinggal sekitar
32% yang baik, sedangkan selebihnya 68% atau 5,9 juta hektar
telah musnah dan rusak.
Berdasarkan identifikasi dan penelitian Dirjen Rehabilitasi
Lahan, kerusakan hutan bakau yang terbesar terdapat di luar
kawasan hutan yang mencapai 4,2 juta hektar (87,5%) sedangkan
di dalam kawasan hutan mencapai 1,7 juta hektar (44,73%).
5
Kawasan hutan bakau banyak menyediakan nutrisi (makanan
bergizi) bagi makhluk-makhluk lainnya pada ekosistem tersebut.
Makhluk hidup yang banyak ditemukan di ekosistem ini antara lain
ikan, kepiting, udang, siput, tiram, cacing, burung, monyet, dan
pada beberapa ekosistem pantai terdapat pula buaya.
Ekosistem pantai yang tertutup hutan bakau memiliki manfaat
yang besar bagi manusia. Manfaat ekosistem hutan bakau antara
lain:

Perlindungan pantai dari abrasi


Akar-akar pohon bakau yang mencuat di atas tanah dapat
menahan hantaman ombak dari laut sehingga terhindar dari
bahaya abrasi pantai.

Penahan perembesan air asin ke daratan


Dengan adanya pohon-pohon bakau di tepi pantai, perembesan
air asin ke daratan dapat terbendung. Kemusnahan hutan bakau di
tepi pantai akan mengakibatkan perembesan (instrusi) air asin jauh
ke daratan. Contoh: di pantai Jakarta dari 1.200 hektar hutan bakau
tahun 1988, pada tahun 2003 hanya tinggal 327 hektar (27%),
sehingga menyebabkan instrusi air laut telah mencapai 14 km atau
tepatnya sudah sampai di kawasan Monumen Nasional (Monas).
Tempat perlindungan hewan dan ikan
Hutan bakau yang didiami oleh berbagai jenis hewan dan
tumbuhan menjadi tempat perlindungan bagi ikan kecil, udang, dan
kepiting dari pemangsa-pemangsanya dan juga tempat
perlindungan dari gerakan ombak yang kuat.

Tempat perkembangbiakan ikan, udang, dan kepiting


Banyak jenis-jenis ikan tertentu, udang, dan kepiting bertelur di
dalam hutan bakau, dan setelah cukup dewasa baru pergi ke laut
lepas seperti ikan-ikan lainnya.

Penahan sedimen dan zat makanan


Akar-akar pohon bakau akan menahan sedimen-sedimen yang
dibawa oleh air dari hasil erosi di kawasan itu. Sedimen-sedimen
yang dibawa oleh air mengandung banyak zat-zat makanan yang
6
diperlukan oleh pohon-pohon bakau sehingga pohon bakau tumbuh
subur. Daun-daun itu akhirnya membusuk dan terurai menjadi
sumber makanan makhluk lainnya.

Penghasil kayu
Kayu dari pohon bakau banyak dijadikan arang untuk bahan
bakar. Kayunya selain dijadikan arang, ada pula yang dijadikan
bahan bangunan, bahkan perekat untuk pembuatan plastik,
pembuatan kertas, dsb.

Pariwisata
Hutan bakau yang luas dan masih alami, banyak didatangi
wisatawan untuk dinikmati keindahan dan kesunyian alaminya.

2) Terumbu Karang

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang


bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut
zooxanhellae.
Hewan karang bentuknya aneh, menyerupai batu dan
mempunyai warna dan bentuk beraneka rupa. Hewan ini disebut
polip, merupakan hewan pembentuk utama terumbu karang yang
menghasilkan zat kapur. Polip-polip ini selama ribuan tahun
membentuk terumbu karang.
Zooxanthellae adalah suatu jenis algae yang bersimbiosis
dalam jaringan karang. Zooxanthellae ini melakukan fotosintesis
menghasilkan oksigen yang berguna untuk kehidupan hewan
karang. Di lain pihak, hewan karang memberikan tempat
berlindung bagi zooxanthellae. Terumbu karang merupakan
ekosistem yang khas terdapat di daerah tropis. Meskipun terumbu
karang terdapat di seluruh perairan dunia, tetapi hanya di daerah
tropis terumbu karang dapat berkembang dengan baik. Terumbu
karang terbentuk dari endapan-endapan kalsium karbonat yang
dihasilkan oleh organisme karang, alga berkapur, dan organisme-
organisme lain yang menghasilkan kalsium karbonat.
7
Gambar polip

Dalam ekosistem terumbu karang ada karang yang keras dan


lunak. Karang batu adalah karang yang keras disebabkan oleh
adanya zat kapur yang dihasilkan oleh binatang karang. Melalui
proses yang sangat lama, binatang karang yang kecil (polip)
membentuk kolobi karang yang kental, yang sebenarnya terdiri
atas ribuan individu polip. Karang batu ini menjadi pembentuk
utama ekosistem terumbu karang. Walaupun terlihat sangat kuat
dan kokoh, karang sebenarnya sangat rapuh, mudah hancur dan
sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.
Terbentuknya ekosistem terumbu karang tergantung pada
faktor-faktor sebagai berikut:
○ Kedalaman sekitar 10 m dari permukaan laut.
○ Temperatur antara 25°-29° C.
○ Kadar garam antara 30-35 per mil.
○ Ada tidaknya sedimentasi. Kalau terjadi sedimentasi,
pertumbuhan terumbu karang terhambat, kalau tidak terjadi
sedimentasi pertumbuhan cepat.

Luas terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai sekitar


60.000 km2. Terumbu karang yang dalam kondisi baik hanya 6,2 %.
Kerusakan ini pada umumnya disebabkan 3 faktor, yaitu:
1. Keserakahan manusia.
2. Ketidaktahuan dan ketidakpedulian.
3. Penegakan hukum yang lemah.
Ekosistem terumbu karang memiliki fungsi ekologis dan fungsi
ekonomis.
Fungsi Ekologis Fungsi Ekonomis
Terumbu Karang Terumbu Karang
• Penyedia nutrien bagi • Menghasilkan berbagai
biota perairan. jenis ikan, udang, alga,
• Tempat teripang, dan kerang

8
berkembangbiaknya mutiara.
biota perairan. • Bahan bangunan dan jalan
• sebagai pelindung serta bahan industri.
pantai dari kerusakan • Bahan baku cinderamata
yang disebabkan oleh dan bahan perhiasan.
gelombang atau ombak
laut, sehingga manusia
dapat hidup di daerah
dekat pantai.

Pemandangan bawah laut yang dihiasi oleh terumbu karang

3) Rumput Laut

Rumput laut adalah salah satu sumber daya hayati yang


terdapat di wilayah pesisir dan laut. Dalam bahasa Inggris, rumput
laut diartikan sebagai seaweed. Sumberdaya ini biasanya dapat
ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem
terumbu karang. Rumput laut alam biasanya dapat hidup di atas
substrat pasir dan karang mati. Tumbuhan rumput laut hanya dapat
hidup pada perairan dimana tumbuhan muda yang kecil
mendapatkan cukup sinar matahari.

9
Beberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat
Sumatera, rumput laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang
terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak. Di pantai
selatan Jawa Barat dan Banten misalnya, rumput laut dapat ditemui
di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang di Kabupaten Garut
atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. Sementara di
daerah pantai barat Sumatera, rumput laut dapat ditemui di pesisir
barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan
Nanggroe Aceh Darussalam.

Rumput laut

Rumput laut di perairan Indonesia tersebar hampir di seluruh


propinsi. Oleh masyarakat yang hidup di daerah pesisir, rumput
laut dimanfaatkan sebagai bahan makanan misalnya untuk lalapan,
sayur, manisan, dan kue. Rumpur laut juga dimanfaatkan dalam
bidang industri kosmetik sebagai bahan pembuat sabun, krim,
lotion, dan sampo. Dalam industri farmasi digunakan untuk
membuat tablet, salep, dan kapsul.
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut antara
lain:
○ Kejernihan air laut.
○ Suhu perairan sejuk.
○ Arus laut tidak begitu deras.
○ Kedalaman laut antara 20-30 m.

Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis rumput laut juga


banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia.
Contoh jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan diantaranya
adalah Euchema cottonii dan Gracelaria sp. Beberapa daerah dan
pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan
usaha budidaya rumput laut ini diantaranya berada di wilayah

10
pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi
Kepulauan Riau, Pulau Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua.

4) Padang Lamun

Salah satu sumberdaya alam laut yang mempunyai peranan


penting bagi kehidupan adalah padang lamun atau sea grass.
Lamun merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang
dapat tumbuh dengan baik dalam lingkungan laut dangkal. Sama
halnya dengan padang rumput di daratan, lamun juga membentuk
padang yang luas dan lebar di dasar laut sehingga dinamakan
padang lamun. Lamun hidup di perairan laut dangkal berlumpur,
agak berpasir lunak, dan tebal. Padang lamun sering terdapat di
perairan laut antara hutan bakau dan terumbu karang. Ekosistem
padang lamun di Indonesia tersebar di perairan Pulau Jawa,
Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua
(Irian Jaya).
Pertumbuhan padang lamun sangat tergantung pada faktor-
faktor berikut:
○ Perairan laut dangkal berlumpur dan mengandung pasir.
○ Kedalaman tidak lebih dari 10 m, sehingga sinar matahari dapat
menembus.
○ Temperatur antara 20°-30° C.
○ Kadar garam antara 25-35 per mil.
○ Kecepatan arus sekitar 0,5 m/s.

11
Padang lamun (sea grass)

Fungsi padang lamun di lingkungan pesisir antara lain:


Sebagai tempat berkembangbiaknya ikan-ikan kecil dan udang.
Sebagai perangkap sedimen sehingga terhindar dari erosi dan
abrasi.
Sebagai bahan untuk membuat pupuk.
Sebagai bahan untuk membuat kertas.
Sebagai penyedia bahan makanan berbagai jenis hewan yang
hidup di padang lamun, seperti duyung (Dugong dugon), penyu
hijau (Chelonia mydas) serta jenis-jenis ikan herbivora dan ikan
karang.
Pariwisata.

Keberadaan padang lamun perlu dipertahankan sehingga


produktivitasnya dapat berkelanjutan. Salah satu cara untuk
meningkatkan upaya pelestarian dengan cara meningkatkan
pengetahuan tentang pengenalan jenis lamun.

12
Laut
Laut adalah kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan
samudra. Laut menutupi permukaan bumi kurang lebih 75%. Batas
perairan laut dengan daratan disebut garis pantai (pertemuan
permukaan laut dengan daratan). Perairan laut di permukaan bumi
tidak merata luasnya. Pada belahan bumi utara tertutup lautan
sebesar 60%, sedangkan pada belahan bumi selatan yang tertutup
lautan sekitar 80%.
Air di laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5%
material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-
bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama
air laut ditentukan oleh 96,5% air murni.
Laut, menurut sejarahnya, terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu,
dimana awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih
(dengan suhu sekitar 100°C) karena panasnya Bumi pada saat itu.
Asamnya air laut terjadi karena saat itu atmosfer Bumi dipenuhi oleh
karbon dioksida. Keasaman air inilah yang menyebabkan tingginya
13
pelapukan yang terjadi yang menghasilkan garam-garaman yang
menyebabkan air laut menjadi asin seperti sekarang ini. Pada saat itu,
gelombang tsunami sering terjadi karena seringnya asteroid
menghantam Bumi. Pasang surut laut yang terjadi pada saat itu juga
bertipe mamut atau tinggi/besar sekali tingginya karena jarak Bulan
yang begitu dekat dengan Bumi.

Matahari di atas laut

Kedalaman laut dan samudra sangat bervariasi, ada yang dangkal


tetapi banyak pula yang dalam. Dalam dan dangkalnya dasar laut
menunjukkan relief dasar laut. Relief dasar laut lebih besar
dibandingkan relief di daratan. Hal ini terbukti dari kedalaman laut
rata-rata mencapai 3.800 m, sedangkan ketinggian daratan rata-rata
hanya 840 m. Laut yang terdalam ada di Palung Mindanau (Palung
Filipina), mencapai kedalaman 10.830 m sedangkan daratan yang
tertinggi adalah pada Gunung Everest, yang mencapai ketinggian
8.880 m.
Untuk mengetahui kedalaman laut, dilakukan pengukuran-
pengukuran yang disebut “menduga dalamnya laut”. Pengukuran
kedalaman laut ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1) Batu duga, cara ini disebut juga tali unting, merupakan cara
mengukur kedalaman laut yang paling sederhana. Sebongkah besi
diikat pada ujung tali dan sebuah tabung beserta alat pemberat
diturunkan ke dasar laut. Sistem ini memerlukan waktu yang lama
karena untuk mengukur kedalaman laut sampai 5000 m saja

14
memerlukan waktu sampai satu jam. Selain itu, kedalaman laut
yang sebenarnya kadang-kadang kurang tepat disebabkan tali yang
diturunkan sering condong atau lengkung karena terbawa oleh arus
laut. Keuntungan yang diperolehdengan cara batu duga ialah dapat
diperoleh jenis tanah, air dan binatang yang terbawa oleh tabung
yang tertancap ke dasar laut, sedangkan pemberat yang berupa
bola besi yang diikatkan pada ujung tali akan terlepas dan
tertinggal di dasar laut.
2) Gema duga, cara ini merupakan teknologi yang lebih maju dan
mulai digunakan sejak tahun 1920. Cara ini menggunakan alat
pengirim dan penerima gelombang suara. Suara dari alat pengirim
akan merambat ke dasar laut dan sesampainya di dasar laut
dipantulkan kembali ke atas. Pantulan kembali gema suara akan
diterima oleh alat penerima di atas kapal. Alat gema duga sering
dinamakan hidrofon. Dengan mengetahui kecepatan suara yang
diterima, maka dapat diketahui kedalamannnya. Dengan
pengandaian kecepatan suara dalam air laut 1.500 m/s, dihasilkan
rumus kedalaman laut sebagai berikut:

D = D = Kedalaman laut
t = Jangka waktu antara suara yang dikirimkan
sampai diterima kembali pantulan gema
suaranya
v = Kecepatan suara dalam air laut

Contoh: Waktu antara dikirimkannya suara dari kapal sampai


diterima kembali gema suaranya oleh hidrofon di atas kapal
adalah 7 detik. Maka kedalaman laut tersebut adalah:

D = = = 5.250 m

Dengan waktu hanya 7 detik, laut yang kedalamannya mencapai


5.250 m telah dapat diketahui (bandingkan dengan cara batu duga).
Keuntungan cara ini adalah pengukuran kedalaman laut berlangsung
dengan cepat, dan tidak perlu berhenti. Disamping itu, pengukuran
15
dapat dilakukan pada wilayah yang luas. Kelemahan cara ini adalah
tidak dapat mengambil contoh jenis tanah dan air dari dasar laut.
Dengan diadakannya survey kedalaman laut, maka pada dasar laut
diketahui memiliki beberapa macam relief, antara lain:
 Paparan benua (continental shelf), yaitu dasar laut yang
bentuknya agak rata (landai) yang terletak di pinggir benua.
Kedalaman paparan benua kurang dari 200 m. Paparan benua
merupakan zona laut dangkal dan termasuk bagian dari benua.
Luas paparan benua (7% dari luas dasar laut) lebarnya tidak sama
untuk semua benua, ada yang lebar ada pula yang sempit. Lebar
rata-rata 65-70 km dengan kedalaman rata-rata 60 m.
 Lereng benua (continental slope), yaitu bagian dasar laut yang
menurun dengan tajam mulai dari pinggir paparan benua.
Kedalaman lereng benua berkisar antara 200-1.500 m.
 Dasar laut (ocean floor), merupakan dasar lautan yang
sebenarnya. Luasnya hampir
2323 dari dasar lautan dengan kedalaman rata-rata 4.000 m. Dasar
laut ini terdiri dari dataran yang luas, cekungan laut, punggung
laut, gunung-gunung laut, serta palung-palung laut. Punggung laut
membentuk suatu sistem pegunungan di dasar laut, sama halnya
dengan sistem pegunungan di daratan.
 Palung laut (trogh), yaitu dasar laut dalam yang curam, sempit,
dan memanjang. Bentuknya hampir sama dengan ngarai di
daratan. Bagian ini merupakan laut yang terdalam di dasar laut. Di
setiap samudra terdapat palung-palung laut antara lain Palung
Mariana, Palung Mindanau di sebelah timur Kepulauan Mariana di
Samudra Pasifik merupakan laut yang terdalam di dunia, dengan
kedalaman 10.830 m.

a) Jenis laut menurut letaknya


✔ Laut tepi, yaitu bagian laut yang berada di pinggir benua yang
dipisahkan oleh kepulauan dari samudra. Contoh: Laut Utara,
yang dipisahkan oleh Kepulauan Inggris dari Samudra Atlantik
dan Laut Cina Selatan, yang dipisahkan oleh Kepulauan
Indonesia dan Kepulauan Filipina dari Samudra Pasifik.
16
✔ Laut pedalaman, yaitu laut yang hampir seluruhnya dikelilingi
oleh daratan. Contoh: Laut Baltik, Laut Hitam, Laut Adriatik, Laut
Merah, dsb.
✔ Laut Tengah, yaitu laut yang memisahkan dua benua atau
lebih. Contoh: Laut Tengah (mediterania) memisahkan Benua
Eropa dengan Afrika, serta Laut Indonesia yang memisahkan
Benua Asia dengan Australia.

b) Jenis laut menurut zona kedalamannya


✔ Zona litoral atau pesisir, yaitu bagian laut yang terletak antara
pasang naik dan pasang surut. Pada waktu pasang naik, bagian
ini merupakan laut, tetapi pada saat pasang surut merupakan
daratan.
✔ Zona epineritis, yaitu bagian lautan di antara garis surut air
laut sampai kedalaman 36-50 m.
✔ Zona neritis, yaitu bagian laut yang memiliki kedalaman antara
50-200 m. daerah ini merupakan zona laut dangkal dan masih
merupakan bagian dari benua sehingga zona ini disebut landas
kontinen, bersamaan letaknya dengan paparan benua. Zona ini
merupakan zona laut yang kaya akan ikan dan tanaman laut
karena zona ini masih dapat dicapai oleh sinar matahari
sehingga tumbuhan laut dan plankton tumbuh dengan subur.
✔ Zona batial, yaitu bagian laut pada kedalaman antara 200-
2.000 m. zona ini bersamaan letaknya dengan landas benua
(continental slope).
✔ Zona abisal, yaitu bagian laut yang sangat dalam.
Kedalamannya lebih dari 2.000 m. zona ini meliputi dasar lautan
(ocean floor). Binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berada di
zona ini sangat sedikit, karena zona ini tidak dapat lagi ditembus
oleh sinar matahari. Disamping itu, tekanan air laut di zona ini
sangat besar. Keadaan di dalam laut ini dingin dan sangat gelap.

c) Jenis laut menurut cara terjadinya


✔ Laut transgresi, yaitu laut yang terjadi karena permukaan air
laut di muka bumi naik, misalnya setelah berakhirnya zaman es

17
(zaman glasial), air laut naik 70 m sehingga bagian daratan yang
rendah digenangi oleh air laut. Contoh: Laut Jawa, Selat Malaka,
Selat Karimata, Laut Arafuru, dsb.
✔ Laut ingresi, yaitu laut yang terjadi karena dasar laut turun
akibat gerakan-gerakan tektonik, baik secara horizontal maupun
vertikal. Laut ini umumnya sangat dalam. Contoh: Laut Banda
(7.440 m), Laut Jepang (4.000 m), Laut Tengah (4.400 m), dsb.
✔ Laut regresi, yaitu laut yang hilang atau laut yang mengalami
penyempitan. Pada zaman glasial, laut di permukaan bumi turun
sehingga laut-laut mengalami penyempitan dan yang dangkal
menjadi daratan. Laut regresi dapat pula terjadi karena naiknya
dasar laut akibat gaya endogen dari dalam bumi. Contoh: Laut
Jawa, Selat Malaka, Selat Karimata, dan Laut Arafuru, pada
waktu zaman es (zaman glasial) menjadi daratan sehingga pada
waktu itu diperkirakan Indonesia bagian barat menjadi satu
dengan Benua Asia dan Papua bersatu dengan Benua Australia.

18
Landas Kontinen, Laut
Teritorial, dan Zona Ekonomi
Ekslusif

A. Landas Kontinen

Pengumuman tentang batas landas kontinen dikeluarkan oleh


pemerintah Indonesia pada tanggal 17 Februari 1969 dan UU No. 1
Tahun 1969 serta UU No. 1 Tahun 1973 tentang landas kontinen,
yang didasarkan atas wilayah perairan Indonesia. Landas
kontinen adalah bagian dari dasar laut yang secara geologis dan
morfologis merupakan kelanjutan dari daratan bagi negara yang
wilayahnya berbatasan dengan laut.
Jarak wilayah landas kontinen dari wilayah daratan yang
bersangkutan tidak terlalu besar dan dapat diukur sejauh 200 mil
dari garis dasar. Pada keadaaan tertentu dimana landas kontinen
tumpang tindih dengan landas kontinen negara tetangga, diadakan
kesepakatan dalam bentuk perjanjian dengan negara-negara
tetangga, misanya:
➢ Batas landas kontinen di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan
antara Indonesia dan Malaysia yang telah disepakati tanggal 27
Oktober 1969 di Kuala Lumpur dan berlaku mulai tanggal 27
November 1969.
➢ Batas landas kontinen di Laut Andaman antara Indonesia dan
India telah disepakati di Jakarta pada tanggal 8 Agustus 1974,
dan berlaku sejak ditetapkan.
➢ Batas landas kontinen di Selat Malaka bagian utara dan Laut
Andaman antara Indonesia dan Thailand telah disepakati di
Bangkok tanggal 17 Desember 1971 dan berlaku mulai tanggal
7 April 1972.

19
Demikian pula dengan negara lain seperti Singapura, Australia,
dan sebagainya telah berhasil dicapai kesepakatan tentang batas
landas kontinen antara Indonesia dan negara-negara tersebut.
Kekuasaan suatu negara yang memiliki landas kontinen adalah
mempunyai hak penuh atas pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA)
yang terdapat di atas landas kontinen maupun yang terkandung di
dalam laut atau di bawah dasar lautnya.
B. Laut Teritorial

Indonesia yang merupakan negara kepulauan atau negara


maritim yang memiliki laut lebih luas jika dibandingkan daratannya.
Luas Indonesia sekitar 9,8 juta km2 terdiri dari daratan 1,9 juta km2
dan laut sekitar 7,9 juta km2 yang terdiri dari laut teritiotial, laut
nusantara, dan zona ekonomi ekslusif (ZEE). Untuk menjaga
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari
gangguan-gangguan asing, Pemerintah Indonesia pada tanggal 13
Desember 1857 mengeluarkan Deklarasi Juanda yang melakukan
konsep Wawasan Nusantara.
Wawasan Nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia
mengenai perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan
ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan
keamanan. Dalam Deklarasi Juanda dinyatakan bahwa batas
perairan wilayah Indonesia sejauh 12 mil laut dari garis dasar
pantai pulau-pulau terluar ke arah laut bebas. Garis dasar pantai
yaitu garis pantai rata-rata pada keadaan pasang surut yang
diamati selama puluhan tahun. Jarak yang digunakan ialah mil laut.
Jarak satu mil laut sama dengan satu detik busur derajat bumi (satu
per enampuluh menit) sama dengan 1.852 meter. Bandingkan
dengan jarak 1 mil Inggris = 1.069 meter.
Perairan wilayah Indonesia yang disebut pula Laut Teritorial,
terletak antara garis dasar pantai pulau terluar sampai ke garis
batas teritorial. Dengan demikian, luas perairan Indonesia waktu itu
3,1 juta km2 (tidak termasuk ZEE), yang terdiri dari laut teritorial
dan laut nusantara. Laut nusantara adalah laut yang terletak di
antara pulau-pulau Indonesia seperti Laut Jawa, Laut Banda, Selat
Makassar, dsb.

20
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 4
Tahun 1960 yang dikeluarkan 18 Februari 1960, mengatur kapal-
kapal asing yang berlayar di perairan Indonesia, sebelumnya
mengatur hak lintas bebas diganti dengan hak lintas damai.
Dengan demikian, kapal-kapal perang asing yang hendak melewati
perairan Indonesia dapat kita larang, karena di perairan kita tidak
berlaku lagi hak lintas bebas seperti sebelumnya.

C. Zona Ekonomi Ekslusif

Pengumuman mengenai ZEE telah dikeluarkan oleh pemerintah


Indonesia tanggal 21 Maret 1980 sejauh 200 mil laut diukur dari
garis dasar pantai. Hak yang dimiliki oleh suatu negara pada ZEE
pada dasarnya sama dengan hak landas kontinen yaitu hak untuk
memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) yang terkandung di
dalamnya, baik di dalam laut, dasar laut, atau di bawah dasar laut.
Hak pelayaran, pemasangan pipa, maupun kabel-kabel di dasar
laut tetap dihormati dan dibenarkan sepanjang masih sesuai
dengan hukum-hukum laut internasional. Dengan penetapan ZEE
ini berarti luas perairan Indonesia telah bertambah sekitar 2,7 juta
km2 dari luas sebelumnya.
Dengan penetapan pemerintah tentang perairan laut wilayah,
landas kontinen, dan ZEE, sesuai dengan prinsip wawasan
nusantara, maka seluruh perairan Indonesia dengan pulau-pulau
dan penduduk serta kekayaan alam yang ada di dalamnya
merupakan satu kesatuan. Hal ini berarti kesatuan ideologi yang
utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain, baik di
bidang politik, ekonomi, sosial budaya, maupun pertahanan
keamanan. Gangguan dan ancaman terhadap salah satu bagian di
Indonesia, berarti merupakan gangguan dan ancaman terhadap
seluruh wilayah Indonesia, dan harus kita tangani secara bersama.

21
DAFTAR PUSTAKA

Pinem, S. 2004. Geografi SMP untuk Kelas VII. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Wardiyatmoko. 2006. Geografi untuk SMA Kelas X. Jakarta : Penerbit
Erlangga.
www.altavista.com
www.google.com
www.indonesia.co.id
www.wikipedia.com

22
23