Anda di halaman 1dari 3

MENGANTISIPASI ALIRAN KEPERCAYAAN Oleh: Agusnadi A.

Pendahuluan Berkembangnya para pemikir sehingga mempengaruhi pemikiran pemahaman agama, sehigga menguragi substansi ajaran agama samawi ((agama langit). Di abad moderen ini banyaknya pemahaman yang berkembang sehingga menjadi catatan bagi para pembawa ajaran samawi untuk menyampaikan pemahamannya, pemahan aliran kepercayaan lebih mudah masuk dan mudah di pahami oleh masyarakat, karna pemehamannya tidak mempersulit dan enteng untuk dilaksanakan kaumnya. Aliran kepercayaan adalah aliran yang lahir dari pemikiran ketika melihat realitas social. Aliran kepercayaan berkembang melalui kultur budaya yang dipadukan oleh agama. Maka pelajaran penting untuk mencegah pergerakan lairan kepercayaan yang semangkin berkembang pesat dikalangan masyarakat moderen ini, maka oleh karna itu para dai dituntut untuk membuat metode untuk mengantisipasi perkemabngan alairan keprcayaan ini. B. Aliran Kebatinan

Rahnip M., B.A. dalam bukunya Aliran Kepercayaan dan Kebatinan dalam Sorotan menjelaskan, Kebatinan adalah hasil pikir dan angan-angan manusia yang menimbulkan suatu aliran kepercayaan dalam dada penganutnya dengan membawakan ritus tertentu, bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang ghaib, bahkan untuk mencapai persekutuan dengan sesuatu yang mereka anggap Tuhan secara perenungan batin, sehingga dengan demikian menurut anggapan mereka- dapat mencapai budi luhur untuk kesempurnaan hidup kini dan akan datang sesuai dengan konsepsi sendiri.1 Dari pengertian di atas didapat beberapa istilah kunci dari ajaran kebatinan yaitu: 1. Merupakan hasil pikir dan angan-angan manusia, 2. Memiliki cara beribadat (ritual) tertentu, 3. Yang dituju adalah pengetahuan ghaib dan terkadang juga malah bertujuan menyatukan diri dengan Tuhan, 4. Hasil akhir adalah kesempurnaan hidup dengan konsepsi sendiri. Kata kebatinan diambil dari kata bahasa Arab bathana, yang artinya batin atau dalam atau bagian dalam, yaitu lawan kata luar, atau bagian luar. Kata tersebut dipinjam oleh sebuah aliran yang menamakan dirinya Bathiniyah atau aliran kebatinan. Karena dalam melaksanakan ritual keagamaan hanya cukup di batin saja, atau cukup eling (ingat) saja tanpa gerakan tertentu. Bila ditinjau dari berbagai aspek baik kitab sucinya, ajarannya, cara ibadahnya, kepercayaan, dan lain-lainnya , maka tampak jelas bahwa aliran kebatinan atau yang lebih dikenal kejawen atau islam abangan, bukanlah suatu agama dan bukan pula bagian dari agama Islam. Hanya saja namanya yang mendompleng katakata Islam. Dimana mereka menyebutnya dengan sebutan Islam abangan, Islam kejawen,
1

Rahnip M., B.A., Aliran Kebatinan dan Kepercayaan dalam Sorotan, Pustaka Progressif, hal. 11.

Islam kebatinan, Islam murni, Islam Hak, Islam kuring (Sunda), dan lain-lainnya, yang pada umumnya dengan embel-embel islam. Namun justru ajarannya memojokkan Islam. Aliran kebatinan tidak lebih hanyalah merupakan paguyuban atau organisasi yang terdiri atas beberapa manusia yang mengadopsi suatu kepercayaan yang bersifat ruhaniah dan meditasisme yang berujung untuk mendapatkan suatu ketenangan jiwa atau ketenangan batin, dari hasil embrio asimilasi akhlak berbagai ajaran agama, seperti Islam, Hindu, dan Budha. Jenis aliran kebatinan ini dikenal dengan sebutan aliran kepercayaan. Di masa sebelum perang kemerdekaan RI, jumlahnya sangat sedikit, namun mulai membengkak jumlahnya setelah Indonesia merdeka yaitu antara tahun 1950-1975M. Nama aliran inipun berbeda-beda, seperti: Ngelmu Sejati, Islam Murni, Islam Hak, Islam Kejawen, Agama Kuring, dll. Keberadaan aliran kebatinan adalah merupakan salah satu realitas sosial, sehingga dewasa ini telah melahirkan berbagai kenyataan sosial yang cukup bertentangan dengan cita-cita ideal Islam. ketika realitas sosial tidak sesuai dengan cita ideal Islam, maka harus diupayakan untuk diubah melalui dakwah Islam. Mengingat kenyataan-kenyataan sosial tersebut banyak dijumpai dalam beberapa komunitas Islam dengan permasalahan yang berbeda-beda, maka diperlukan paradigma baru dalam melakukan dakwah Islam yang mempertimbangkan jenis dan kualitas permasalahan yang dihadapi oleh umat. Di sinilah institusi-institusi dakwah dituntut dapat melakukan usaha-usaha dakwah secara sistematis dan profesional melalui langkahlangkah yang srategis, sebagaimana yang diisyaratan dalam surat at-Taubah ayat 105: bekerjalah kamu (secara profesional) maka Allah dan Rasul-Nya serta orang- orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. C. Perinsip Dakwah Islam Bahwah islam adalah agama dakwah, yakini agama yang harus didakwakan kepada umatnya, tidak ada yang membantah, ketika Pidato Nabi. Pada saat haji wada sangat jelas bagimana beliau pada saat-saat akan mengakhiri tugas kenabiannya berpesan agar yang hadir meneruskan pesan islam kepada yang tidak hadir. Al-quran bahkan mendorong agar ada kelompok muslim yang secara sadar menjadi daI professional, yakni secara khusus mempersiapkan diri untuk bekerja sebagi daI dengan terlebih dahulu mendalami ilmu-ilmu agama. Juga mengajarkan bagimana cara nya mengajak ke jalan Tuhan pada manusia yang berbeda-beda karaktristik, yakni pertama dengan pendekatan Ilmiah kepada kalangan pelajar, kedua dengan pendekan nasehat yang santun kepada kalangan awam, dan ketiga daengan pendekantan dialog yang logois kepada kalangan yang sejak mula sudah menolak2 C. Antisipasi Aliran Kepercayaan Untuk mengantisipasi aliran kepercayaan, harus mengacu kepada metode Nabi, para Sahabat, dan para wali. Sejak masa rasullulah, aktivis dakwah islam hampir lelalu mengisayaratkan adanya dua hal penting. Pertama, adanya unsur trasformasi nilai nilai ajaran, dan kedua, adanya proses akulturasi antara ajaran normamatif di satu pihak dengan kenyataan budaya local di pihak lain. Mulai proses trasformasi 3nilai-nilai ajaran, dakwah telah berhsil memperkenalkan islam ke dalam berbagi bentuk pola kehidupan
2 3

Faizah, S.Ag, M.A. Psikologi Dakwah, Prenada Media, hal X. Ibid hal 12 Psikologi Dakwah

umat manusia, sehingga secara perlahan lahan ia masyarakat. 4

sanggup melakukan perubahan

Sedangkan proses akulturasi sendiri secara dinamis telah memberikan kontrobusi cultural pada pembentukan budaya. Dalam kenyataan seperti itulah, dakwah pada dasarnya berfungsi sebagi modal social dalam melakukan upaya pribuimisasi islam kedalam pola-pola kehidupan yang telah diwarnai oleh kekuatan budaya sebelumnya. Sebab kehadiran dakwah di tenga-tengah kehidupan suatu masyarakt pada umumya lebih berperan sebagi penghubung kebudayaan yang bergerak di antara arus kultur yang saling berpengaruh. Aktivistas dakwah para wali dalam upaya memperkenalkan islam kepaada masyarakat nusantara. Dengan melihat latar belakang social budaya masyarakat kita, maka usaha menemukan jalan keluar dalam meyelasaikan masalah-masalah di atas, salah satunya, dapat dilakuakan melalui pendekatan ukhuwah, yaitu pendekatan yang lebih menitik beratkan pada aspek-aspek substansial kemanusiaan. Dakwah melalui pendekatan ini dapat memasuki wilayah yang lebih dalam dari kehidupan masyarakat sekarang, sekaligus memberikan bimbingan yang lebih mendasarkan pada tuntutan factual dimana dakwah itu dilaksanakan, sebagi agama dakwah, islam merup[akan tata nilai yang bergerak di antara keharusan ajaran dan alur kebudayaan. Karna itu, dakwah mwlakukan dengan senantiasas mempertimbangkan aspek-aspek kebudayaan, selain aspek ajaran yang menjadi sebstansi infortmasi dalam proses tersebut. Dakwah islam sendiri, pada hakikatnya merupakan aktualisasi proses rekayasa sosial melaluai usaha mempengaruhi cara merasa, berfikir, bersikap, dan berprilaku sesuai dengan tuntutan sosial dan norma.5

Daftar Pustaka
1. 2. Rahnip M., B.A., Aliran Kebatinan dan Kepercayaan dalam Sorotan, Pustaka Progressif, Jakarta Faizah, S. Ag., MA. H Lulu Muchsin EfFendi, Lc., MA. Psikologi Islam., Prenada Media, Jakarta 2006.

3. DR. KH. Miftah Farid,Refleksi Islam, , Pusdai Pres, Banndung, 2001. 4. Rahnip M.BA., Asliran Kepercayaan dan Kebatinan.Pustaka Progressif., Surabaya 1997.

DR. KH. Miftah Farid,Refleksi Islam, , Pusdai Press, hal 43. Ibid hal 49 Refleksi Islam