Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM LAPANG EKOLOGI TERESTRIAL KARAKTERISTIK EKOSISTEM DI TAMAN NASIONAL BALURAN

OLEH:
KELOMPOK 4 IZZAY AFKARINA RIKO ARISANDI KIKI IKROMATUZ M. ARIS HILMAN WULAN NURSYIAM HASA BELLA ANIS BAROKAH ZAENAL MAHMUDI RIZA OKTAVIANA (111810401005) (111810401010) (111810401016) (111810401024) (111810401034) (111810401035) (111810401042) (111810401050) (111810401052)

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, berkat serta karunia-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan penyusunan laporan praktikum lapang yang berjudul Laporan Hasil Praktikum Lapang Ekologi Terestrial Karakteristik Ekosistem di Taman Nasional Baluran. Laporan ini kami buat dalam rangka memenuhi praktikum lapang ke Taman Nasional Baluran ,Situbondo. Ucapan terima kasih tidak lupa penyusun sampaikan kepada pihak-pihak yang turut menyelesaikan penyusunan makalah ini : 1. Yang terhormat Drs. Moh.Imron Rosyidi,Msc selaku dosen pengampu mata kuliah Ekologi Terestrial penyusunan makalah ini. 2. Yang tercinta kedua orang tua kami yang telah memberikan motivasinya sehingga laporan studi lapang ini dapat terselesaikan. 3. Serta teman-teman kami yang memberikan semangat dan motivasi sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan studi lapang ini. Penyusun menyadari dalam penyusunan laporan studi lapang ini jauh dari kata sempurna, untuk itu kami selaku penyusun memohon saran dan kritik yang membangun dari pembaca. Kami berharap dalam penyusunan laporan studi lapang ini dapat memberikan informasi yang sifatnya membangun dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari pembaca. yang telah membimbing kami dalam

Penyusun, 25 Mei 2013

Penyusun

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Taman Nasional Baluran terletak di ujung timur Propinsi Jawa Timur atau antara 7 45 7 56 LS dan 113 59 114 28 BT berada dalam wilayah Kabupaten Situbondo. Taman Nasional Baluran memiliki area yang luas dimana terdapat berbagai macam vegetasi yang ditemukan dan merupakan perwakilan ekosistem hutan yang spesifik kering terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Sekitar 40 persen tipe vegetasi savana mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran. Taman Nasional Baluran merupakan kawasan Konservasi Sumberdaya Alam yang didalamnya memiliki berbagai macam flora dan fauna dan ekosistem, yang berarti di dalam kawasan Taman Nasional Baluran terdapat pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana, untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Sebagai salah satu kawasan konservasi memiliki beragam manfaat baik manfaat dalam pemanfaatan skala terbatas maupun manfaat yang berupa produk jasa lingkungan, seperti udara bersih dan pemandangan alam. Tujuan pembangunan konservasi sumberdaya alam yaitu mengusahakan terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayatiserta keseimbangan ekosistemnya, sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan

masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Taman Nasional Baluran memiliki 3 fungsi utama yaitu fungsi

perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa dan pemanfaatan secara lestari Sumber Daya Alam Hayati (SDAH) beserta ekosistemnya, yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, rekreasi dan pariwisata. Maka dari itu tujuan pengelolaan kawasan Taman

Nasional Baluran adalah melestarikan SDAH dan ekosistemnya agar dapat memenuhi fungsinya secara optimal. Sasaran utama pengelolaan Taman Nasional Baluran adalah SDAH, ekosistem dan kawasannya. Tingginya potensi keanekaragaman hayati dan indahnya panorama alam Baluran, merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara untuk mengunjungi dan menikmatinya. Atas dasar itu, kami melaksanakan Praktikum Lapang Ekologi Teristrial pada 5 ekosistem, yaitu Ekosistem Pantai Basah, Ekosistem Pantai Kering, Ekosistem Savana, Ekosistem Hutan Musim Dan Ekosistem Hutan Evergreen di kawasan TN Baluran. Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari susunan atau komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi. Dalam ekologi hutan, satuan vegetasi yang dipelajari atau diselidiki berupa komunitas tumbuhan yang merupakan asosiasi konkret dari semua spesies tetumbuhan yang menempati suatu habitat. Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai dalam analisis komunitas adalah untuk mengetahui komposisi spesies dan struktur komunitas pada suatu wilayah yang dipelajari

(Tjitrosoepomo,2002) Analisis vegetasi ini dengan mengamati berbagai macam tumbuhan berupa pohon, semak dan herba. Dengan pengamatan itu didapatkan densitas, dominansi dan frekuensi untuk mengetahui nilai penting, sehingga dapat diketahui karakteristik dari ekosistem yang berada pada Taman Nasional Baluran.

1.2 Rumusan Masalah Bagaimana karakter khusus dari 5 ekosistem (Ekosistem Pantai Basah, Ekosistem Pantai Kering, Ekosistem Savana, Ekosistem Hutan Musim Dan Ekosistem Hutan Evergreen) di kawasan TN Baluran.

Bagaimana perbedaan spesifik dari 5 ekosistem (Ekosistem Pantai Basah, Ekosistem Pantai Kering, Ekosistem Savana, Ekosistem Hutan Musim Dan Ekosistem Hutan Evergreen) di kawasan TN Baluran.

1.3 Tujuan Mengetahui karakter khusus 5 ekosistem (Ekosistem Pantai Basah, Ekosistem Pantai Kering, Ekosistem Savana, Ekosistem Hutan Musim Dan Ekosistem Hutan Evergreen) di kawasan TN Baluran. Mengetahui perbedaan spesifik dari 5 ekosistem (Ekosistem Pantai Basah, Ekosistem Pantai Kering, Ekosistem Savana, Ekosistem Hutan Musim Dan Ekosistem Hutan Evergreen) di kawasan TN Baluran.

BAB 2 METODE KERJA

2.1 Alat dan bahan A. Alat Higrometer Soil tester Termometer Catok Pita berskala Pisau besar Kamera digital

B. Bahan Tampar ukuran 10 meter Kapas Aquadest Tissue Talirafia Kantong plastik

2.2 Cara Kerja

A. Pembuatan plot

5 ekosistem (Ekosiste pantai basah, pantai kering, savana, hutan musim dan hutan evergreen )

Garis sumbu

dibuat

dibuat

5 Garis transek memasuki vegetasi dengan jarak 20 meter setiap tarnsek

diukut 10 kedalam vegetasi sebagai titik awal plot

Plot

dibuwat

Plot Pohan 10m x 10m (1 plot)

Plot Semak 5m x 5m (2 plot)

Plot Herba 1m x 1m (3 plot)

20 m

10 m

10 m

1m 1m 5m 5m 10 m

5m 10 m

GAMBAR 1 PLOT PENGAMATAN Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. : sumbu Utama : garis transek : Plot Pohan : Plot Semak : Herba

B. Pemngamatan plot Unsur botik

Plot

Pohon diamati

Semak diamati

Herba diamati

Jenis tumbuhan (Karakteristik)

Jenis tumbuhan (Karakteristik)

Jenis tumbuhan (Karakteristik)

Dihitung Dihitung Dihitung

INP (Indeks Nilai Penting) -Keliling batang -Basal Area -Dominansi mutlak dan relatif -Frekuensi mutlak dan relatif

INP (Indeks Nilai Penting) -% penutupan mutlak dan relatif -Dominansi mutlak dan relatif -Frekuensi mutlak dan relatif

INP (Indeks Nilai Penting) -% penutupan mutlak dan relatif -Dominansi mutlak dan relatif -Frekuensi mutlak dan relatif

Untuk menghitung Ideks Nilai Penting (INP) setiap jenis tumbuhan dilakukan penghitungan sebagai berikut: a. Pohon Untuk pohan dilakukan penghitungan Basal Area (BA), dominansi mutlak dan dominansi relatif, dan frekuensi mutlak dan frekuensi relatif D = K/ Basal Area (BA) = x (D)2 Dominansi Mutlak (DM) = spesies A/luas area Dominansi Relatif (DR) = (DM spesies A/ DM seluruh spesies) x 100% Frekuensi Mutlak (FM) = plot yang diduduki Spesies A/ total plot Frekuensi Relatif (FR) = ( FM spesies A/ frekuensi seluruh spesies) x 100% INP = DR + FR Pi = n/N H = Pi Ln Pi *) = 3,14

b. Semak Untuk semak dilakukan penghitungan % Penutupan Mutlak dan Relatif, Dominansi Mutlak dan Relatif, dan Frekuensi Mutlak dan Relatif.

% Penutupan Mutlak (PPM) = Penutupan total spesies A/luas area % Penutupan Relatif (PPR) = (PPM spesies A/ % Penutupan seluruh spesies) x 100 Dominansi Mutlak (DM) = spesies A/luas area Dominansi Relatif (DR) = (DM spesies A/ DM seluruh spesies) x 100%

Frekuensi Mutlak (FM) = plot yang diduduki Spesies A/ total plot Frekuensi Relatif (FR) = ( FM spesies A/ frekuensi seluruh spesies) x 100% INP = DR + FR Pi = n/N H = -(Pi Ln Pi)

c. Herba Untuk semak dilakukan penghitungan % Penutupan Mutlak dan Relatif, Dominansi Mutlak dan Relatif, dan Frekuensi Mutlak dan Relatif. % Penutupan Mutlak (PPM) = Penutupan total spesies A/luas area % Penutupan Relatif (PPR) = (PPM spesies A/ % Penutupan seluruh spesies) x 100 Dominansi Mutlak (DM) = spesies A/luas area Dominansi Relatif (DR) = (DM spesies A/ DM seluruh spesies) x 100% Frekuensi Mutlak (FM) = plot yang diduduki Spesies A/ total plot Frekuensi Relatif (FR) = ( FM spesies A/ frekuensi seluruh spesies) x 100% INP = DR + FR Pi = n/N H = Pi Ln Pi

Unsur abiotik Plot

Diukur pH, Kelembaban tanah

Soil Tester

Diulan 3 kali Setiap ulangan ujung soil tester di cuci dengan aquadest dan di

keringkan dengan Higrometer Diukur kelembaban udara Dengan memutar Diulang 3 kali

Termometer Diukur suhu 1 meter diatas permukaan dan di pemukaan tanah Digambar Diulang 3 kali

C. Pengamatan karakter fisik ekosistem

Daerah Plotting

Layering

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Analisis Vegetasi Herba


NO 1 2 3 4 5 6 Spesies Spesimen 1 Spesimen 2 Spesimen 3 Spesimen 15 Spesimen 16 Spesimen 17 total DM 0.06667 0.03333 0.03333 0.46667 0.06667 0.13333 0.8 DR 0.55555556 0.27777778 0.27777778 3.88888889 0.55555556 1.11111111 6.666667 FM 0.0666667 0.0666667 0.0666667 0.0666667 0.0666667 0.1333333 0.4666667 FR 1.11111 1.11111 1.11111 1.11111 1.11111 2.22222 7.77778 INP 1.6666667 1.3888889 1.3888889 5 1.6666667 3.3333333 14.444444 PI 0.0055556 0.0027778 0.0027778 0.0388889 0.0055556 0.0111111 0.0666667 H 0.0288498 0.0163503 0.0163503 0.126274 0.0288498 0.0499979 0.266672

Dominasi species adalah Spesies 15 (5%) - Spesies 2 dan 3 (1,389%) ID<1 yaitu 0,26 sehingga data yang diambih adalah baik

Analisis Vegetasi Semak


NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Spesies spesimen 2 Spesimen 7 Spesimen 10 spesimen 11 spesimen 12 Spesimen 14 Spesimen 15 Spesimen 16 Spesimen 17 Spesimen 18 Spesimen 19 Spesimen 20 Spesimen 21 DM 0.55 24 16.3 6.4 11.2 3.5 4.8 0.1 2.4 0.3 0.2 0.1 4.7 DR 0.67402 29.41176 19.97549 7.843137 13.72549 4.289216 5.882353 0.122549 2.941176 0.367647 0.245098 0.122549 5.759804 FM 0.1 0.1 0.2 0.1 0.2 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.1 0.2 FR 1.666667 1.666667 3.333333 1.666667 3.333333 1.666667 1.666667 1.666667 1.666667 1.666667 1.666667 1.666667 3.333333 INP 2.3406863 31.078431 23.308824 9.5098039 17.058824 5.9558824 7.5490196 1.7892157 4.6078431 2.0343137 1.9117647 1.7892157 9.0931373 PI 0.00134804 0.05882353 0.03995098 0.01568627 0.02745098 0.00857843 0.01176471 0.0002451 0.00588235 0.00073529 0.0004902 0.0002451 0.01151961 H 0.0089093 0.1666596 0.1286462 0.065176 0.098696 0.0408205 0.0522665 0.0020377 0.0302106 0.0053053 0.0037356 0.0020377 0.0514201

14 15 16 17 18 19 20 21

Spesimen 22 Spesimen 23 Spesimen 24 Spesimen 25 Spesimen 26 Spesimen 27 Spesimen 28 Spesimen 29 total

0.1 0.5 0.2 3 2.1 0.8 0.1 0.3

0.122549 0.612745 0.245098 3.676471 2.573529 0.980392 0.122549 0.367647

0.1 0.1 0.1 0.1 0.2 0.1 0.1 0.1

1.666667 1.666667 1.666667 1.666667 3.333333 1.666667 1.666667 1.666667

1.7892157 2.2794118 1.9117647 5.3431373 5.9068627 2.6470588 1.7892157 2.0343137

0.0002451 0.00122549 0.0004902 0.00735294 0.00514706 0.00196078 0.0002451 0.00073529

0.0020377 0.0082162 0.0037356 0.0361225 0.0271216 0.0122243 0.0020377 0.0053053

81.65

100.061

2.5

41.6667

141.728

0.2001225

0.75272

Dominasi species adalah Spesies 7 (31,07%) - Spesies 16, 20, dan 28 (1,789%) ID<1 yaitu 0,75 sehingga data yang diambil adalah baik

Analisis Vegetasi Pohon


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Spesies Spesimen 1 Spesimen 2 Spesimen 3 Spesimen 4 Spesimen 5 Lamtoro Kersen Spesimen 10 Spesimen 11 Spesimen 12 Bauhinia Salak Serut Spesimen 13 Spesimen 14 Spesimen 15 Spesimen 16 Spesimen 17 Spesimen 18

Dm 2.777781 8.333344 1.388891 1.388891 1.388891 4.166672 1.388891 8.333344 4.166672 20.83336 1.388891 2.777781 29.16671 1.388891 2.777781 5.555563 1.388891 1.388891 12.50002

Total BA 0.3185 3.1847 3.2643 3.3439 3.1051 0.9554 0.9554 3.7420 4.4586 22.2930 21.6561 19.0287 53.4236 35.5892 35.8280 36.7834 1.7516 1.7516 7.8822

DR KM 2.38095 0.006 7.14286 0.018 1.19048 0.003 1.19048 0.003 1.19048 0.003 3.57143 0.009 1.19048 0.003 7.14286 0.018 3.57143 0.009 17.8571 0.045 1.19048 0.003 2.38095 0.006 25 0.063 1.19048 0.003 2.38095 0.006 4.7619 0.012 1.19048 0.003 1.19048 0.003 10.7143 0.027

KR 2.38 7.14 1.19 1.19 1.19 3.57 1.19 7.14 3.57 17.9 1.19 2.38 25 1.19 2.38 4.76 1.19 1.19 10.7

FM 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.25 0.5 0.25 0.25 0.25

FR 4 4 4 4 4 8 4 4 8 4 4 4 4 4 4 8 4 4 4

INP 8.7619048 18.285714 6.3809524 6.3809524 6.3809524 15.142857 6.3809524 18.285714 15.142857 39.714286 6.3809524 8.7619048 54 6.3809524 8.7619048 17.52381 6.3809524 6.3809524 25.428571

pi H 0.02381 0.08899 0.07143 0.1885 0.0119 0.05275 0.0119 0.05275 0.0119 0.05275 0.03571 0.43574 0.0119 0.78249 0.07143 1.37647 0.03571 2.70019 0.17857 5.34764 0.0119 10.6425 0.02381 20.8493 0.25 40.9161 0.0119 80.4558 0.02381 158.211 0.04762 311.075 0.0119 611.508 0.0119 1202.17 0.10714 2363.42

20 21 22

Spesimen 19 liana sp. Palmae

1.388891 1.388891 1.388891

6.6879 6.6879 6.6879

1.19048 1.19048 1.19048

0.003 0.003 0.003

1.19 1.19 1.19

0.25 0.25 0.25

4 4 4

6.3809524 6.3809524 6.3809524

0.0119 0.0119 0.0119

4646.38 9134.55 17958

Dominasi species adalah Spesies 12 (39,7%) - Spesies 5 (6,38%) ID<1 yaitu 0,75 sehingga data yang diambil adalah baik

Stratifikasi Hutan Pantai Kering

Stratifikasi Hutan Pantai Basah (Bakau)

Stratifikasi Hutan Savana

Stratifikasi Hutan Evergreen

Stratifikasi Hutan Musim

Nb:

= Herba = semak = pohon

3.2. Pembahasan Taman Nasional Baluran merupakan salah satu taman nasional terbesar di Indonesia. Pada Taman Nasional ini terdapat bnyak ekosistem di dalamnya yaitu ekosistem hutan pantai basah, hutan pantai kering, hutan savana, hutan evergree dan hutan musim. Dalam pembahasan ini yang menjadi focus dalam kelompok kami adalah ekosistem hutan evegreen. Ekosistem yang lain merupakan

perbandingan untuk mengetahui karakteristik ekosistem secara umum.

A. Hutan Evergreen Hutan hujan tropika merupakan jenis wilayah yang paling subur. Hutan jenis ini terdapat di sekitar wilayah tropika atau dekat wilayah tropika di bumi ini yang menerima curah hujan berlimpah sekitar 2000-4000 mm setahunnya. Suhunya tinggi (rata-rata sekitar 25-26oC) dan dengan kelembaban rata-rata sekitar 80%. Komponen dasar hutan tersebut adalah pohon tinggi dengan tinggi maksimum rata-rata 30 meter (Ewusie, 1980). Pada umumnya wilayah hutan hujan tropis dicirikan oleh adanya 2 musim dengan perbedaan yang jelas, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Ciri lainnya adalah suhu dan kelembapan udara yang tinngi, demikian juga dengan curah hujan, sedangkan hari hujan merata sepanjang tahun (Walter, 1981). Hutan hujan tropika (tropical rain forest) memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Soerianegara dan Indrawan, 2002):

1. Mempunyai curah hujan yang tinggi, berkisar antara 2000 3000 cm / th. 2. Mempunyai perbedaan temperatur yang rendah. 3. Mempunyai kelembaban udara yang tinggi. 4. Mempunyai tajuk yang berlapis-lapis atau berstrata. 5. Mempunyai tingkat keaneka ragaman jenis atau Biodeversitas yang tinggi 6. Selalu hijau atau evergreen. Hutan hujan tropis yang berada di Taman Nasional Baluran

berbeda dengan hutan hujan tropis yang berada di garis kahtulistiwa. Umumnya hutan hujan tropis terlihat sejuk dan gelap karena jarang masuk cahaya matahari pada hutan ini. Selain itu pada hutan ini membentuk kanopi atau sebuah tudung atap yang sangat lebat sehingga menyebabkan banyak tanaman tidak bisa hidup di bawa kanopi tersebut karena rimbunnya kanopi dan jarangnya cahaya matahari yang masuk. Tetapi berbeda dengan hutan hujan tropis yang berada di Taman Nasional Baluran, meskipun kanopi tumbuh sangat lebat pada hutan ini masih bisa tumbuhan lain untuk hidup di dasar lantai hutan karena disinyalir pada air tanah yang berasal dari mata air Gunung Baluran yang mengalir dibawah tanah karena ada lapisan batuan kedap air dan dapat dijangkau oleh akar tanaman dan didukung oleh tekstur tanah yang termasuk Poin Mikro mengakibatkan tanah mengikat air yang diterimanya sehingga tidak meresap sampai ke dalam tanah. Hutan hujan merupakan suatu komunitas yang sangat kompleks dengan ciri yang utama adalah pepohonan dengan berbagai ukuran. Kanopi hutan menyebabkan iklim mikro yang berbeda dengan keadaan di luarnya; cahaya kurang dan kelembaban yang lebih tinggi dengan suhu yang rendah (Whitmore, 1998). ciri hutan hujan tropika yang mencolok yaitu penutupnya mayoritas terdiri dari tanaman berkayu berbentuk pohon. Sebagian besar tanaman pemanjat dan beberapa jenis epifit yang berkayu (woody). Tumbuhan bawah terdiri dari tumbuhan berkayu, semai (seedling) dan pancang (sapling), belukar (shurb) dan pemanjat-pemanjat muda. Tumbuhan herba yang terdapat ialah beberapa epifit sebagai bagian dari tumbuhan bawah dalam proporsi yang relatif kecil.

Soerianegara dan Indrawan (2005) membagi formasi hutan Indonesia ke dalam tiga zone vegetasi, yaitu : 1. Zone barat, yang berada dibawah pengaruh vegetasi Asia, meliputi pulau Sumatera dan Kalimantan dengan jenis-jenis kayu yang dominan dari famili Dipterocarpaceae. 2. Zone timur, berada dibawah pengaruh Australia meliputi vegetasi pulau Maluku, Nusa Tenggara dan Irian. Jenis dominan adalah dari famili Araucariaceae dan Myrtaceae. 3. Zone peralihan, dimana pengaruh dari kedua benua tersebut bertemu yaitu pulau Jawa dan Sulawesi, terdapat jenis dari famili Araucariaceae, Myrtaceae dan Verbenaceae. Sekalipun dapat dikatakan pemisahan demikian tidaklah berarti bahwa batas tersebut merupakan garis tegas dari penyebaran vegetasi. Selanjutnya dikemukakan bahwa penyebaran hutan hujan tropis di Indonesia terdapat terutama di pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Irian. Hutan hujan tropis terkenal karena adanya pelapisan atau stratifikasi. Ini berarti bahwa populasi campuran didalamnya disusun pada arah vertikal dengan jarak teratur secara tidak berkesinambungan. Meskipun ada beberapa keragaman yang perlu diperhatikan kemudian, hutan menampilkan tiga lapisan pohon yaitu lapisan atas (tingkat A) terdiri dari pepohonan setinggi 30-45 m dengan tajuk yang diskontinu, lapisan pepohonan kedua (tingkat B) terdiri dari pohon dengan tinggi sekitar 18-27 m dengan tajuk yang kontinu sehingga membentuk kanopi, lapisan pepohonan ketiga (tingkat C) terdiri dari pepohonan dengan tinggi sekitar 8-14 m cenderung membentuk lapisan yang rapat. Selain laisan pepohonan juga terdapat semak belukar yang tingginya kurang dari 10 m dan yang terakhir adalah lapisan terna yang terdiri dari tetumbuhan yang lebih kecil yang merupakan kecambah dari pepohonan yang lebih besar dari bagia atas atau spesies terna (Ewusie, 1980). Soerianegara dan Indrawan (2005) menyatakan bahwa di dalam masyarakat hutan, sebagai akibat persaingan, jenis-jenis tertentu lebih berkuasa

(dominan) dari jenis yang lain. Pohon-pohon tinggi dari stratum (lapisan) teratas mengalahkan pohon-pohon yang lebih rendah, merupakan pohon yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan. Hutan hujan tropika terkenal dengan stratifikasinya. Ini berarti bahwa populasi campuran di dalamnya tersusun secara vertikal dengan jarak teratur secara tidak berkesinambungan (Ewusie,1980). Stratifikasi tajuk dalam hutan hujan misalnya sebagai berikut (Soerianegara dan Indrawan, 2005) : 1. Stratum A : Lapisan teratas, terdiri dari pohon-pohon yang tinggi totalnya 30 m keatas. Biasanya mempunyai tajuk diskontinu, batang pohon tinggi dan lurus, batang bebas cabang (clear bole) tinggi. Jenis-jenis pohon dari stratum ini pada waktu mudanya, tingkat semai hingga sapihan (seedling sampai sapling), perlu naungan sekedarnya, tetapi cukup untuk pertumbuhan selanjutnya perlu cahaya yang cukup banyak. 2. Stratum B : Terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 20-30 m, tajuknya kontinu, batang pohon bisanya banyak bercabang, batang bebas cabang tidak terlalu tinggi. Jenis-jenis ppohon dari stratum ini kurang memerlukan cahaya atau tahan naungan (toleran). 3. Stratum C : Terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 4-20 m, tajuknya kontinu. Pohon-pohon dalam stratum ini rendah, kecil, banyak bercabang. Di samping ketiga strata pohon tersebut terdapat pula strata perdu-semak dan tumbuh-tumbuhan penutup tanah, yaitu : 4. 5. Stratum D : Lapisan perdu dan semak. Tingginya 1-4 m. Stratum E : Lapisan tumbuh-tumbuhan penutup tanah (ground cover), tingginya 0-1 m. Berdasarkan komponen penyusunnya hutan hujan tropika meliputi (Ewusie, 1980) : 1. Komponen abiotik yang terdiri dari

a. Suhu. Iklim hutan hujan tropika ditandai oleh suhu yang tinggi dan sangat rata. Rataan suhu tahunan berkisar antara 200C dan 280C dengan suhu terendah pada musim hujan dan suhu tertinggi pada musim kering. Setiap naik 100 m di pegunungan, rataan suhu itu berkurang 0.4 0.70C. b. Curah hujan. Hutan hujan tropik menerima curah hujan berlimpah sekitar 2000 3000 mm dalam setahunnya. c. Kelembaban atmosfer. Kelembaban hutan hujan tropika rata-rata sekitar 80%. Pada tumbuhan teduhan lamanya kelembaban maksimum bertambah dari sekitar 14 jam selam musim kering menjadi 18 jam pada musim hujan. d. Angin. Di wilayah tropika kecepatan angin biasanya lebih rendah dan angin topan tidak begitu sering. Rataan kecepatan angin tahunan di daerah hutan hujan pada umumnya kurang dari 5 km/jam dan jarang melampaui 12 km/jam. e. Cahaya. Meskipun jumlah sinar matahari harian tidak pernah kurang dari 10 jam dimanapun diwilayah tropika, tetapi jumlah sinar matahari cerah sesungguhnya selalu kurang dari jumlah tersebut diatas, karena derajat keberawanan yang tinggi. f. Karbondioksida. Karbondioksida dianggap penting dari segi ekologi karena bersama-sama dengan cahaya merupakan faktor pembatas bagi fotosintesis dan perkembangan tumbuhan. Sebelum dilakukan pengukuran komponen faktor biotik terlebih dahulu dilakukan pengukuran faktor biotik hutan hujan tropis.

Pengukuran yang dilakukan yaitu kelembapan udara , pH tanah dan kelembapan tanah, suhu dan kecepatan angin. Didapatkan bahwa data hasil pengukuran lima kelompok diambil rata-rata dari pengukuran tersebut bahwa kelembapan udara 9,14%, pH tanah 5,7, kelembapan tanah 16 %, suhu 26,3C dan kecepatan angin 5,6 km/jam. Faktor abiotik ini sangat berhubungan satu sama lain dalam hal produktivas dalam ekosistem. Seperti halnya suhu, cahaya matahari dan

curah hujan. Hutan hujan memiliki curah hujan yang sangat tinggi setiap tahun dan hal tersebut dipengaruhi oleh suhu karena akan menghasilkan kelembapan yang sangat tinggi untuk meningkatkan produktivitas. Pada ekosistem ini diapatkan pH tanah bersifat asam, itu menunjukkan bahwa kualitas tanah baik karena tanah dengan ber pH asam dapat menyediakan hara terbanyak sehigga tumbuhan dapat tumbuh baik pada tempat tersebut. Untuk faktor abiotik yang lain hasil yang didapatkan sudah sesauai dengan faktor abiotik yang sesuai pada hutan hujan tropis sehingga kualitas vegetasi juga baik. 2. Komponen biotik Komponen dasar hutan hujan tropika adalah pepohonan yang tergabung dalam tumbuhan terna, perambat, epifit, pencekik, saprofit, dan parasi. Vegetasi yang mendominasi adalah golongan semak, karena pencahayaan di ekosistem tersebut sedikit. Sehingga tanaman yang ada saling bersaing untuk mendapatkan cahaya. Selain didapatkan faktor biotik berupa tumbuhan tetapi juga didapatkan hewan pada plot ekosistem hutan hujan tropis pada Taman Nasional Baluran yaitu hewan invertebratra dan hewan vertebrata. Hewan invertebrata yang didapatkan pada plot (1xi) m2 yaitu cangkat bekicot, semut hutan, hewan berkaki banyak, hewan seperti kumbang,, ulat, bekicot, serangga, laba-laba abu-abu, nyamuk, lalat kecil, kelabang, semut hitam, laba-laba putih, rayap, kupu-kupu, semut, laba-laba. Dan hewan yang memiliki jumlah paling terbanyak adalah hewan berkaki banyak dengan jumlah 186. Untuk hewan vertebrata pada plot (5x5) m2 tidak ditemukan hewan apapun. Sehingga hewan yang mendominasi ekosistem hutan hujan tropis adalah hewan vertebrata. Dari hasil pengamatan biotik yang dilakukan di Taman Nasinal Baluran dengan cara membuat plot di beberapa ekosistem, ditemukan sejumlah spesies tanaman dari habitus pohon, semak dan herba yang tumbuh di ekosistem evergreen. Beberapa tanaman pohon diantaranya

Serut dengan INP 54 %, Lamtoro dengan INP 15,14 %, Salak dengan INP 8,76 %, Bauhinia dangan INP 6,38 %, Kersen dengan INP 6,38 %, Liana sp. dengan INP 6,38 %, Palmae dengan INP 6,38 %, dan beberapa tanaman lainnya yang tidak teridentifikasi sehingga diberi nama Spesimen 1 dengan INP 8,76%, Spesimen 2 dengan INP 18,28 %, Spesimen 3 dangan INP 6,38 %, Spesimen 4 dangan INP 6,38 %, Spesimen 5 dengan INP 6,38 %, Spesimen 10 dengan INP 18,28 %, Spesimen 11 dangan INP 15,14 %, Spesimen 12 dengan INP 39,71 %, Spesimen 13 dengan INP 6,38%, Spesimen 14 dengan INP 8,76 %, Spesimen 15 dangan INP 17,52 %, Spesimen 16 dangan INP 6,38 %, Spesimen 17 dengan INP 6,38 %, Spesimen 18 dengan INP 25,42 %, Spesimen 19 dangan INP 6,38 %. Dari data INP tersebut dapat diketahui bahwa Dominansi spesies adalah Spesimen 12 (39,71 %) spesimen 5 (6,38 %). Indeks Dominansi (ID) > 1 jadi pertumbuhan Pohon pada ekosistem Evergreen baik. Tanaman berhabitus semak antara lain Spesimen 2 dengan INP 2,34 %, Spesimen 7 dengan INP 31,07 %, Spesimen 10 dengan INP 23,30 %, Spesimen 11 dengan INP 9,5 %, Spesimen 12 dengan INP 17,05 %, Spesimen 14 dengan INP 5,95 %, Spesimen 15 dengan INP 7,54 %, Spesimen 16 dengan INP 1,78 %, Spesimen 17 dengan INP 4,60 %, Spesimen 18 dengan INP 2,03%, Spesimen 19 dengan INP 1,9 %, Spesimen 20 dengan INP 1,78 %, Spesimen 21 dengan INP 9,09 %, Spesimen 22 dengan INP 1,78 %, Spesimen 23 dengan INP 2,27 %, Spesimen 24 dengan INP 1,91 %, Spesimen 25 dengan INP 5,34 %, Spesimen 26 dengan INP 5,90 %, Spesimen 27 dengan INP 2,64 %, Spesimen 28 dengan INP 1,78 %, Spesimen 29 dengan INP 2,03 %. Dari data INP tersebut dapat diketahui bahwa Dominansi spesies adalah Spesimen 7 (31,07 %) Spesimen 16, 20, dan 28 (1,78 %). Indeks Dominansi (ID) > 2 jadi pertumbuhan Semak pada ekosistem Evergreen sangat baik.

Beberapa tanaman berhabitus herba antara lain Spesimen 1 dengan INP 1,67 %, Spesimen 2 dengan INP 1,389 %, Spesimen 3 dengan INP 1,389 %, Spesimen 15 dengan INP 5 %, Spesimen 16 dengan INP 1,67 %, Spesimen 17 dengan INP 3,33%. Dari data INP tersebut dapat diketahui bahwa Dominansi spesies adalah Spesimen 15 (5 %) Spesimen 2 dan Spesimen 3 (1,389 %). Indeks Dominansi (ID) > 1 jadi pertumbuhan Herba pada ekosistem Evergreen baik. B. Hutan Pantai Basah ( Mangrove)

Menurut FAO, Hutan Mangrove adalah komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah pasang surut di atas rawa-rawa berair payau dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Kondisi habitat tanah berlumpur, berpasir, atau lumpur berpasir. Ekosistem tersebut merupakan ekosistem yang khas untuk daerah tropis dan sub tropis, terdapat di derah pantai yang berlumpur dan airnya tenang (gelombang laut tidak besar). Ekosistern hutan mangrove disebut juga ekosistem hutan payau karena terdapat di daerah payau (estuarin), yaitu daerah perairan dengan kadar garam/salinitas antara 0,5 /oo dan 30/oo Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi sanilitas tanahnya yang tinggi; serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi tanah. Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang. Pantai-pantai ini tepat di sepanjang sisi pulau-pulau yang terlindung dari angin, atau serangkaian pulau atau pada pulau massa daratan di belakang terumbu karang di lepas pantai yang terlindung. Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau, tumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan vegetasi mangrove

menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis. Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada(Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon kandeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut(knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Sistem dari jenis perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Vegetasi yang terdapat dalam ekosistem hutan payau didominasi oleh tumbuh-tumbuhan yang mempunyai akar napas atau pneumatofora (Ewusie, 1990). Di samping itu, spesies tumbuhan yang hidup dalam ekosistem hutan payau adalah spesies tumbuhan yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap salinitas payau dan harus hidup pada kondisi lingkungan yang demikian, sehingga spesies tumbuhannya disebut tumbuhan halophytes obligat. Tumbuhtumbuhan itu pada umumnya merupakan spesies pohon yang dapat mencapai ketinggian 50 m. Ekosistem hutan mangrove memiliki fungsi yang sangat kompleks, antara lain sebagai peredam gelombang laut dan angin badai, pelindung pantai dari proses abrasi dan erosi, penahan lumpur dan penjerat sedimen, penghasil detritus, sebagai tempat berlindung dan mencari makan, serta tempat berpijah berbagai spesies biota perairan payau, sebagai tempat rekreasi, dan penghasil kayu. Di samping itu, ekosistem hutan payau juga sebagai tempat/habitat berbagai satwa liar, terutama spesies burung/aves dan mamalia, sehingga kelestarian hutan payau akan berperan dalam melestarikan berbagai satwa liar tersebut.

Sebelum mengidentifikasi faktor biotik yang hidup di hutan mangrove, kami mengidentifikasi faktor abiotiknya terlebih dahulu. Berdasarkan hasil pengamatan kami , kelembaban udara di daerah hutan mangrove ini berkisar 72 % ( menunjukkan radiasi matahari di daerah ini sebenarnya cukup tinggi namun karena adanya angin yang bertiup cukup kencang menyebabkan di daerah ini memiliki lelembaban udara yang relative agak tinggi), ph tanah 6,4( menunjukkan bahwa didaerah ini memiliki tingkatan keasaman tanah yang rendah )dengan kelembaban tanahnya 14,56, kecepatan anginnya 0,34 m/s, suhu pada permukaan tanah 28C dan suhu pada 1 meter diatas permukaan tanah 28,5C (menunjukkan suhu didaerah ini sedang, ditandai dengan adanya hembusan angin yang sepoi-sepoi. Faktor biotic yang hidup disekitar hutan bakau pada plot kami diantaranya, hutan ini dihuni oleh jenis flora pohon bakau (Rhizophora spp.), yang tumbuh di zona terluar, dengan cirri-ciri memiliki akar tunjang sebagai perrtahanan dari ganasnya gelombang. Untuk jenis tumbuhan lain tidak kami temukan selainnya, baik dalam plot 1x1m, 5x5m, maupun pada plot 10x10m. untuk jenis fauna yang kami temukan pada plot 1x1m diantaranya kecomang, keong mas, dan semut merah (hewan invertebrate) sedangkan pada plot 5x5m dan 10x10m tidak ditemukan jenis hewan vertebrata). Dari perhitungan beberapa data tiap-tiap kelompok kami dapatkan data kumulatif untuk indeks nilai penting (INP) jenis pohon bakau di hutan mangrove ini adalah 300, dengan nilai kelimpahan mutlak (KM) 0,046, kelimpahan relativenya (KR) 100, persentase penutupan mutlak adalah (DM) 35,595781, persentase penutupan relatifnya (DR) 100, frekuensi mutlak jenis bakau (FM) 1 dan frekuensi relativenya (FR) 100. Sehingga dapat disimpulkan keanekaragaman jenis tumbuhan di hutan mangrove rendah dikarenakan jenis spesies yang hidup didaerah ini sedikit dan hanya ada spesies yang dominan.

C. Ekosiste Hutan Musim Ekosistem hutan musim merupakan ekosistem hutan campuran yang berada di daerah beriklim muson (monsoon), yaitu daerah dengan perbedaan antara musim kering dan basah yang jelas. Tipe ekosistem hutan musim terdapat pada daerah-daerah yang memiliki tipe iklim C dan D (tipe iklim menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson) dengan rata-rata curah hujan 1.000-2.000 mm per tahun dengan rata-rata suhu bulanan sebesar 21-32C(Kusmana & Istomo, 1995). Penyebaran lokasi ekosistem hutan musim meliputi wilayah negara-negara yang beriklim musim (monsoon), misalnya di India, Myanmar, Indonesia, Afrika Timur, dan Australia Utara. Di Indonesia, tipe ekosistem hutan musim berada di Jawa (terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur), di kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, dan Irian( Arief,1994). Vegetasi yang berada dalam ekosistem hutan musim didominasi oleh spesies-spesies pohon yang menggugurkan daun di musim kering, sehingga type ekosistem musim disebut juga hutan gugur daun atau deciduous forest. Pada ekosistem hutan ini umumnya hanya memiliki satu lapisan tajuk atau satu stratum dengan tajuk-tajuk pohon yang tidak saling tumpang-tindih, sehingga masih banyak sinar matahari yang bisa masuk hutan sampai ke lantai hutan, apalagi pada saat sedang gugur daun. Hal ini memungkinkan tumbuh dan berkembangnya berbagai spesies semak dan herba yang menutup lantai hutan secara rapat, sehingga menyulitkan bagi orang untuk masuk ke dalam hutan( Pada musim kering, mayoritas pepohonan di hutan musim menggugurkan semua daunnya, tetapi lamanya daun gugur bergantung kepada persediaan air dalam tanah, dan hal demikian itu dapat berbeda-beda antartempat dalam hutan yang sama. Sebagai contoh untuk tempat-tempat yang ada di pinggir sungai yang selalu ada cukup air, menyebabkan daun-daun pohon gugur secara bergantian, bahkan di sini tidak setiap spesies pohon menggugurkan semua daunnya. Pada akhir musim kering, banyak dijumpai pohon yang mulai berbunga. Transpirasi

melalui bunga sangat kecil, sehingga tidak mengganggu keseimbangan air dalam tubuh tumbuhan. Kemudian setelah masuk musim hujan, pepohonan mampu memproduksi daun baru, buah, dan biji, sepanjang air tanah cepat tersedia bagi tumbuhan. Bunga yang dihasilkan oleh pepohonan di hutan musim sering berukuran besar dan memiliki warna yang terang, dan berbeda jika dibandingkan dengan bunga yang dihasilkan oleh pepohonan di hutan hujan tropis (pohon yang selalu hijau = evergreen). Bunga pohon di hutan musim umumnya kelihatan pada bagian luar tajuk, sehingga sangat mudah dilihat oleh binatang atau serangga- serangga penyerbuk. Spesies pepohonan yang ada pada ekosistem hutan musim antara lain Tectona grandis, Dalbergia latifolia, Acacia leucophloea, Schleieera oleosa, Eucalyptus alba, Santalum album, Albizzia chinensis, dan Timonius cerysus. Menurut ketinggian tempat dari permukaan laut, hutan musim dibedakan menjadi dua zona atau wilayah sebagai berikut 1. Zona 1 dinamakan hutan musim bawah karena terletak pada daerah dengan ketinggian tempat 0-1.000 m dari permukaan laut. 2. Zona 2 dinamakan hutan musim tengah dan atas karena terletak pada daerah dengan ketinggian tempat 1.000-4.100 m dari permukaan laut. 1. Zona Hutan Musim Bawah Spesies-spesies pohon yang merupakan ciri khas tipe ekosistem hutan musim bawah di daerah Jawa antara lain Tectona grandis, Acacia leucophloea, Aetinophora fragrans, Albizzia chinensis, Azadirachta indica, dan Caesalpinia digyna. Di kepulauan Nusa Tenggara dijumpai spesies-spesies pohon yang menjadi ciri khas hutan musim, yaitu Eucalyptus alba dan Santalum album, sedangkan spesies pohon khas hutan musim di Maluku dan Irian antara lain

Melaleuca leucadendron, Eucalyptus spp., Corypha utan, Timonius cerycus, dan Banksia dentata. 2. Zona Hutan Musim Tengah dan Atas Spesies pohon yang merupakan ciri khas ekosistem hutan musim tengah dan alas adalah sebagai berikut. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur tessrdapat pohon Casuarina junghuhniana sebagai spesies pohon dominan dan khas untuk tipe ekosistem hutan musim tengah dan atas. Hutan musim tengahs dan atas di daerah Indonesia Timur mengandung spesies pohon khas untuk sekosistem tersebut, yaitu Eucalyptus spp. Adapun spesies pohon khas untuk hutan musim tengah dan alas di daerah Sumatra yaitu Pinus merkusii. Karakteristik hutan musim pada taman nasioanal baluran dipengaruhi oleh adanya factor biotik dan faktor abiotik a. Faktor biotik Factor biotik dicirikan oleh jenis tumbuhan dan jenis hewan yang hidup pada ekosistem tersebut, jenis tumbuhan yang hidup pada ekosistem hutan musim di taman nasional baluran didominasi oleh tumbuhan jenis semak seperti family Mimosaceae dan beberapa jenis pohon dianteranya Acacia sp, Faktor biotik lainnya adalah hewan, jenis hewan yang dapat ditemukan pada pengamtan ekosistem hutan musim di taman nasional baluran banyak hewan jenis hewan avertebrata seperti serangga. Hal ini menandakan hewan yang dapat bertahan pada ekosistem hutan musim adalah hewan jenis serangga seperti jenis semut hitam. b. Faktor Abiotik Faktor abiotikyangn mempengaruhi karakteristik pada ekosistem hutan musim di taman nasional baluran antara lain kecepatan angin, PH, kelembaban udara kelmbaban tanah, suhu udara, intensitas cahaya

Pada pengamatan ekosistem hutan musim yang telah dilakukan pada praktikum lapang kemarin didapatkan hasil sebagai berikut: 1. Plot 1X1m adalah plot yang digunakan untuk menganalisis jenis herba yang terdapat dalam ekosistem hutan musim. Selain untuk analisis herba, disini juga digunakan untukan untuk analisis hewan invertebrata. Dari hasil kerja dilapanng didapatkan hasil sebagai berikut: a. Plot 1 X 1m pertama Dalam plot 1X1m pertama didaptkan beberapa spesimen yaitu: Spesimen 39 dengan ciri-ciri morfologi sebagai berikut: Batang berambut Ukuran daun kecil Bentuk daun oval Daun majemuk ganda dua

Spesimen 39 ini memiliki INP sebesar 30%. Dari INP yang sebesar itu menunjukkan bahwa tumbuhan ini tidak terlalu mendominasi dari jenis herba yang ada disana. Spesimen 42 dengan ciri-ciri morfologi sebagai berikut: Daun berambut Bunga didominasi oleh kelopak Memiliki warna mahkota kuning

Spesimen 42 ini memiliki INP sebesar 65%. Sehingga dapat dianggap bahwa spesimen ini lah yang mendominasi ekosistem hutan musim pada plot 1X1m yang pertama dari kelompok herba. b. Plot 1X1m kedua Dalam plot 1X1m kedua kedua didapatkan beberapa spesimen, yaitu: Spesimen 39 dengan ciri morfologi yang sama dengan diatas. Adapun INP dari spesimen ini sebesar 40%. Dari hal ini mencerminkan bahwa spesimen 39 memiliki kenaikan jumlah dalam dominasi herba dalam plot 1X1m Spesimen 42 dengan ciri morfologi yang sama dengan sebelumnya. Memiliki INP 60%, dengan INP ini menunjukkan bahwa

memanglah spesimen 42 yang mendominasi ekosiste hutan musim dari kelompok herba. c. Plot 1X1m ketiga Dalam plot 1X1m ketiga ini didapatkan spesimen 5 dengan ciri morfologi sebagai berikut: Daun berambbut Daun tunggal Akar serabut

Pada spesimen ini didapatkan INP 100%, berarti dominasi penuh pada plot ke 3 adalh keseluruhan spesimen 5. Apabila ketiga spesimen ini diambil rata-rata dan dihitung dengan hukum shanon winner didapatkan 1<H<3 maka keanekaragaman herba pada ekositem hutan musim sedang. Karena dapat dilihat dari spesimen yang ditemukan hanya beberapa jenis saja. Adapun hewan invertebrata yang didapatkan dalam plot 1X1m adalah: semut, lalat, semut hitam, lalat, tawon, dan belalang. Lalu dilakukan perhitungan untuk mengetahui keanekaragaman invertebrata dalam plot 1X1 m. Ternyata yang didapatkan adalah sedang, karena 1<H<3. 2. Plot 5X5 m adalah plot yang digunakan untuk analisis jenis semak yang terdapat dalam ekosistem hutan musim. Didapat data sebagai berikut: Plot 5X5 m didapat spesimen semak, yaitu: Spesimen 3 dengan ciri morfologi: Permukaan daun kasap Daun tunggal Pertulangan daun menjari

Memiliki INP sebesar 21%, mengartikan bahwa dominasi dari jenis ini cukup. Spesimen 4 dengan ciri morfologi: Daun majemuk Tepi bergerigi Bunga muncul dinodus

Batang berduri Akar tunggang

Memilliki INP sebesar 13%, berarti bahwa spesimen ini dominasi rendah di ekosistem hutan musim. Spesimen 7 dengan ciri morfologi: Tepi daun bergerigi Memiliki ala pada daun Perakaran tunggang

Memiliki INP sebesar 31%, berarti spesimen ini yang mendominasi pada ekosistem hutan musim. Spesimen 8 dengan ciri morfologi: Daun bulat lonjong Batang berduri Perakaran tunggang

Memiliki INP sebesar 27%, berarti spesimen ini cukup mendominasi pada ekosistem hutan musim. Spesimen 9 dengan ciri morfologi: Permukaan atas dan bawah daun licin Tepi daun bergelombang Daun tunggal

Memiliki INP sebesar 19%, berarti spesimen ini dominasi terhadap ekosistem rendah. Dari keseluruhan data diatas kemudian dihitung keragamannya, ternyata nilai H > 2, maka keanekaragaman semak pada ekosistem hutan musim cukup tinggi. 3. Plot 10X10 m merupakan pot yang digunakan untuk analisis pohon dan hewan vertebrata. Adapun spesies yang diapatkan adlah sebgai berikut: Akasia dengan ciri mofologi: daun tunggal bentuk daun jorong tepi daun bergelombang

memiliki INP sebesar 91.78%, berarti bahwa hutan musim untuk jenis pohon didominasi sangat oleh akasia. Spesimen 20 dengan ciri morfologi : Batang memiliki duri pada ndus Daun tunggal Daun bentuk oval, berkarang Permukaan daun licin

Memiliki INP sebesar 76.031, berarti spesimen ini mendominasi hutan musim dari jenis pohon. Spesimen 21 dengan ciri morfologi: Cara tumbuh merambat Ujung daun bertorehdalam Memiliki tendril Permukaan daun licin

Memiliki INP sebesar 29.401%, berarti dominasi dari jenis ini cukup rendah. Dari keseluruhan data ini kemudian dihitung keanekaragamannya. Sehingga didapatkan hasil H<1, maka keanekaragaman pohon pada hutan musim sangatlah rendah. Setelah membahas tentang faktor biotik yang terdapt dalam hutan musim, selanjutnya dibahas tentang faktor biotik dalm hutan musim. Adapun faktor-faktor biotik yang diamati adalah sebagai berikut: a. Kecepatan Angin Merupakan kecepatan udara yang bergerak secara horizontal pada ketinggian diatas tanah. Perbedaan tekanan udara antara asal dan tujuan angin merupakan faktor yang menentukan kecepatan angin. Angin memiliki fungsi yang besar bagi keberadaan makhluk hidup. Salah satunya adalah untuk membangtu penyerbukan tumbuhan. Adapun kecepatan angin yang terdapat pada hutan musim didapat sebesar 0.221m/s. Maka disini kecepatan angin sangatlah rendah, tidak salah

apabila keadaan huatn musim kering dan panas. Serta keanekaragaman tumbuhan rendah karena minimnya proses penyerbukan. Kecepatan angin yang ideal adalah 19-35 km/jam. Pada keadaan kecepatan angin yang tidak kencang, serangga penyerbuk bisa lebih aktif membantu terjadinya persarian bunga. Sedangkan pada keadaan kecepatan angin kencang, kehadiran serangga penyerbuk menjadi berkurang sehingga akan berpengaruh terhadap keberhasilan penangkaran benih. b. Kelembaban Udara Kelembaban udara adalah tingkat kebasahan udara karena dalam udara air selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kelembaban udara juga berpengaruh pada keberadaan organisme karena membantu dalam proses metabolisme tubuhnya. Pada pengamatan kelembaban udar didapatkan hasil 70.33 mmHg disini tidak terlalu tinggi. Karena masih dalam taraf 30% kelembaban udara yang dimilki. Adapun kelembaban udara yang baik untuk organisme adalah 6-7%. Berarti pada hutan musim keadaannya terlalu lembab. Menyebabkan banyak organisme yang mudah terserang penyakit dengan keadaan yang sangat lembab. c. pH dan Kelembaban Tanah pH tanah adalah tingkat keasaman yang dikandung oleh tanah. pH ini berfungsi pula untuk metabolisme organisme. Pada pengukuran pH tanah di hutan musim didapatkan 6.333. hampir mendekati netral, maka dapt dikatan baik keadaan tanah di hutan musim. pH yang baik untuk pertumbuhan adalah pH netral atau mendekati alkalin. Kelembaban tanah adalah tingkat uap keadaan uap air yang terkandung di dalam tanah. Mempengaruhi tingkat kegemburan tanah dan penyerapan mineral tanah. Didapatkan hasil 24.167 mmHg kelembaban tanah pada hutan musim. Termasuk dalam tingkat sedang. Sehingga dapt dihuni oleh organisme untuk hidup. d. Suhu Tanah

Suhu tanah merupakan hasil dari keseluruhan radiasi yang merupakan kombinasi emisi panjang gelombang dan aliran panas dalam tanah. Suhu tanah juga disebut intensitas panas dalam tanah dengan satuan derajat Celcius, derajat Fahrenheit, derajat Kelvin dan lain-lain. Dari pengukuran didapatkan hasil 31 derajat celcius. Masih dianggap standar untuk pertumbuhan organisme. Suhu yang baik untuk tumbuh adalah 36-37 derajat celcius atau suhu normal. Karena terlalu tinggi atau rendah suhu akan menghambat pertumbuhan. e. Intensitas Cahaya Matahari Penyinaran cahaya matahari berpenngaruh pula pada keberadaan organisme. Semakin tinggi penyinaran, maka semakin baik pula pertumbuhan dan keberadaan organisme. Dari pengukuran di dapat 90% cahaya matahari yang masuk plot. Maka hampir seluruh organisme mendapat penyinaran. Sehingga baik untuk pertumbuhan organisme yang terdapat di hutan musim. Namun, disini karena keterpaparan cahaya yang terlalu menjadikan herba tidak dapat hidup disana. D. Ekosistem Savana Hutan savanna merupakan padang rumput yang mengalami musim kemarau sangat panjang dan kering, ditumbuhi oleh pohon- pohon dengan jarak yang berjauhan dan terdapat rerumputan yang mendominasi area tersebut. Di Indonesia savanna terletak pada Nusa Tenggara Timur dan Irian Jaya bagian tenggara. Savana termasuk ekosistem yang kurang stabil, Karena

keseimbangannya tergantung iklim, api, penggunaan oleh margasatwa dan lainlain. Savana memiliki peranan penting bagi kelestarian satwa di TN Baluran yang terdiri dari: a. Rusa (Cervus timorensis) b. Kerbau liar (Bubalus bubalis) c. Banteng Jawa (Bos javanicus) d. Merak (Pavo muticus).

Sedangkan untuk vegetasi pada daerah savana lebih kurang ada 11 jenis tumbuhan herba dan rumput- rumputan. Jenis yang paling mendominasi pada wilayah Bekol- Bama adalah Dichantium caricosum, Digitaria adnascens, Eutalia amaora, dan Fimbristylis dicotoma. Taman Nasional Baluran memiliki beberapa savana alami yang tersebar di berbagai tempat dengan area yang cukup luas yaitu 10.000 ha. Savana tersebut diantaranya adalah Karangtekok, Balanan, Semiang, Kramat, Talpat, dan Bekol. Berdasarkan topografi, terdapat dua jenis savanna di TN Baluran yaitu Flat Savana (padang rumput alami datar) yang dijumpai didekat pantai dengan ketinggian 50 m diatas permukaan laut dan Undulting Savana (padang rumput alami bergelombang) yang tersebar didaerah gunung kelosot dan gunung kembar (Michael,1994). Didalam pengamatan plot didapatkan hanya jenis herba yang mendominasi kawasan tersebut yang meliputi: JENIS SPESIES INDEKS NILAI PENTING Suku Poaceae Phylantus niruri Centela asiatica 61,04% 5,15% 5,15% INDEKS KEANEKARAGAMAN 0,37 0,01 0,01

Dari indeks nilai penting yang didapatkan, diketahui kepentingan tumbuhan dalam plot yang tertinggi adalah suku poaceae yang memiliki nilai hingga 61,04%, sedangkan dari data tersebut didapatkan bahwa keragaman pada savana didalam plot yang diamati relative rendah karena memiliki indeks keragaman dibawah satu. Dalam plot herba ditemukan jenis- jenis hewan avertebrata yang terdiri dari: NAMA HEWAN Capung JUMLAH 1 INDEKS KERAGAMAN 0,23

Belalang Tomcat Kumbang Semut

8 2 1 5

1,24 0,32 0,15 0,40

Kemudian dalam pengamatan hewan vertebrata pada plot ukuran 10x10 meter didapatkan jenis hewan yaitu burung walet sebanyak 7 ekor. Kemudian pada pengamatan didalam plot ditemukan tinja yang diketahui merupakan tinja dari rusa yang memiliki ciri- ciri berbutir- butir kecil dan berwarna coklat. Dari hasil pengamatan tersebut dapat di pastikan terjadi aliran energi antara spesies didalam plot yang dapat digambarkan sebagai berikut: RumputRusa Dalam pengamatan faktor abiotik diketahui bahwa dalam plot yang dibuat mempunyai kelembaban tanah dengan rata- rata 8,27%, kemudian PH tanah sebesar 6,82, dan kelembaban udara dalam daerah plot tersebut adalah 82,67 mmhg, sedangkan kecepatan angin dengan rata-rata 0,728 m/s. Sedangkan untuk suhu rata- rata 1 m diatas permukaan tanah adalah 28,67C, kemudian untuk suhu permukaan tanah adalah 30,3C. Dari hasil yang didapatkan tersebut diketahui bahwa aliran energi yang terjadi pada savana yaitu siklus air terjadi sangat jarang karena kondisinya yang relatif kering, kekurangan air, dan curah hujan sangat rendah, namun proses evaporasi dan transpirasi pada daerah tersebut berjalan dengan baik.

E. Ekosistem Hutan Pantai Kering

Daerah pantai merupakan daerah perbatasan antara ekosistem laut dan ekosistem darat. Karena hempasan gelombang dan hembusan angin membawa pasir dari pantai membentuk gundukan kearah barat.Gundukan pasir tersebut dinamakan hutan pantai. Hutan pantai merupakan jalur hijau daerah pantai yang mempunyai fungsi ekologis dan sosial ekonomi.Hutan pantai dapat memecah energi angin laut sehingga berfungsi sebagai zona penyangga.Hutan pantai juga dimanfaatkan sebagai lahan tanaman tahunan yang diharapkan dapat memberikan

kontribusi

yang

nyata

terhadap

pengurangan

dampak

pemanasan

global(Indriyanto, 2006). Berdasarkan habitat vegetasinya,pantai dibedakan atas hutan yang vegetasinya tidak dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang sering dikenal dengan sebutan Hutan Pantai Kering dan Hutan yang vegetasinya dipengaruhi oleh pasang surut air laut atau lebih dikenal dengan hutan Hutan Mangrove.Hutan pantai kering terdapat di sepanjang pantai laut berpasir dengan tanah kering,Jenis tanahnya yakni regosol kering yang tidak pernah tergenang air. Keadaan hutan ini telah menyesuaikan diri dengan situasi tempat tumbuh yang kering, tidak terdapat air tawar secara terus menerus dan air hujan. Tipe ekosistem hutan pantai kering terdapat di daerah-daerah kering tepi pantai dengan kondisi tanah berpasir atau berbatu dan terletak di atas garis pasang tertinggi.Daerah ini jarang tergenang air laut,namun sering terjadi atau terkena angin kencang dengan hembusan garam.Pengamatan yang dilakukan pada ekosistem ini sama halnya dengan pengamatan terhadap ekosistem lain yang diwakili oleh 1 plot berukuran 10m x 10m untuk pohon, 2 plot berukuran 5m x 5m untuk semak, serta 3 plot ukuran 1m x 1m untuk vegetasi herba(Michael,1994). Pada peraktikum lapang ini,hal yang diamati adalah faktor abiotik serta faktor biotik yang meliputi struktur dan komposisi komunitas tumbuhan dan hewan.Faktor abiotik yang diamati meliputi pH tanah,suhu udara dan suhu tanah,kelembapan udara dan kelembapan tanah serta kecepatan angin.Pada pengamatan faktor abiotik yang dilakukan secara berseling diketahui suhu udara rata-rata dilingkungan ekosistem hutan pantai kering ini adalah 25,5oC.Suhu diekosistem ini relatif konstan karena pada pengeplotan yang telah dilakukan suhu tanah rata-rata adalah 25oC.Suhu sangat mempengaruhi komponen biotik yang tumbuh didaerah tersebut, sehingga tumbuhan yang dapat hidup didaerah tersebut hanya tumbuhan yang memiliki adaptasi yang sesuai. Kelembaban udara di ekosistem ini rata-rata 73,33 %. Kondisi ini dapat dikatakan cukup lembab.Pada dasarnya kelembaban berhubungan erat dengan suhu udara dan curah hujan. Dengan suhu udara yang rendah mengakibatkan kelembaban tinggi akibat adanya uap air hasil evapotranspirasi dari penyusun ekosistem.Sedangkan untuk rata-rata

kelembapan tanah adalah 8,33 %. Hal ini menunjukkan bahwa tanah pada ekosistem hutan pantai kering relatif kering.Nilai kelembaban udara dan tanah disuatu tempat akan membentuk karakter yang khas bagi formasi-formasi vegetasi.Hal ini mengakibatkan adanya hewan-hewan yang khas pada lingkungan vegetasi tertentu karena tumbuh-tumbuhan merupakan produsen yang

menyediakan makanan bagi hewan (Ewusie,1980). Pada pengamatan selanjutnya dilakukan pengamatan terhadap pH tanah dan diperoleh rata-rata pH tanah adalah 6,8. Kondisi keasaman pada ekosistem ini dapat dikatakan netral. Keasaman tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan suatu tanaman, hal itu dikarenakan apabila pH tanah kurang dari 4,5 (terlalu asam) akan menyebabkan rusaknya akar tanaman begitu juga sebaliknya apabila pH tanah terlalu basa juga dapat menyebabkan kerusakan pada akar tanaman. pH asam dalam tanah merupakan pengaruh dari proses oksidasi ammonium menjadi nitrit oleh mikroba tanah yaitu Nitrosomonas.Pada pengamatan faktor abiotik yang terakhir dilakukan pengamatan terhadap kecepatan angin dan dari data yang diperoleh diketahui bahwa kecepatan angin rata-rata pada ekosistem ini sebesarkearah barat daya.Kecepatan angin ini akan berdampak pada aktivitas hewan misalnya terbangnya serangga dan rata-rata evapotranspirasi air dari habitat(Ryan,2008). Setalah dilakukan proses pengamatan terhadap faktor abiotik selesai kemudian dilanjutkan dengan proses pengaman terhadap keragaman dan komposisi vegetasi dan hewan. metode yang digunakan adalah metode plot dengan bentuk persegi. Digunakannya bentuk persegi bukan termasuk patokan dalam pengambilan plot. Hanya saja teknik ini memudahkan dalam pengambilan sample ketika di lapangan. Adapun pengambilan data vegetasi yang di amati meliputi nama dan jenis tumbuhan, jumlah individu setiap jenis, diameter batang yang diukur pada ketinggian kira kira setinggi dada atau sekitar 1,3 meter, persen penutupan setiap jenis yang terdapat di dalam. Selanjutnya dilakukan perhitungan dan analisis data yang meliputi komposisi, kekayaan jenis, dominasi setiap jenis, densitas atau kerapatan masing masing jenis, frekuensi dan juga keanekaragaman jenis(Michael,1994).

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa untuk habitus pohon Tamarindus indica atau pohon asam adalah tumbuhan yang paling mendominasi vegetasi dengan Basal Area (BA) sebesar 2,06%.sedangkan untuk habitus semak yang paling mendominasi adalah specimen 1 dengan Indeks Nilai Penting (INP) sebesar 70,09%.dan untuk habitus herba yang paling mendominasi adalah specimen 1 dengan Indeks Nilai Penting (INP) sebesar 77,5%.sedangkan untuk data hewan ditemukan hewan jenis hewan invertebrate seperti semut sebanyak 10 ekor dan kupu-kupu sebanyak 1 ekor.sedangkan untuk hewan vertebrata tidak ditemukan seekor hewanpun dalam plot.

BAB IV PENUTUP 5.1 Kesimpulan Hasil studi lapang yang telah dilakukan pada kawasan Taman Nasional Baluran Kabupaten Situbondo, terdapat 5 macam ekosistem

antara lain ekosistem hutan pantai kering, hutan musim, mangrove, evergreen, dan savana. Akan tetapi yang menjadi fokus kelompok kami adalah ekosistem hutan evergreen. Hutan evergreen memiliki kanopi yang sangat lebat sehingga sedikit cahaya matahari yang masuk. Ph tanah bersifat asam dengan kelembapan tanah juga relatif basah. Sedangkan suhu udara yang relatif basah dengan kelembaban udara yang lembab. Spesies yang mendominasi pada ekosistem hutan pantai kering yaitu, untuk habitus pohon, Spesimen 12 yang mendominasi dengan Indeks Nilai Penting (INP) sebesar (39,71 %), sedangkan untuk spesies

kodominannya adalah spesimen 5 dengan besar INP (6,38 %). Pada plot semak, Spesimen 7 paling mendominasi dengan INP sebesar (31,07 %) . Dan sebagai spesies kodominannya adalah Spesimen 16, 20, dan 28 dengan INP sebesar (1,78 %). Sedangkan pada plot herba, spesies yang paling mendominasi adalah spesimen 15 dengan prosentase INP (5 %) Dan untuk spesies kodominannya adalah spesimen 3 dengan prosentase INP adalah
(1,389 %).

Stratifikasi tumbuhan dapat dikatakan lengkap. Terdiri dari beberapa tingkatan, yakni lapisan paling atas terdiri dari pohon. Lapisan tengah didominasi oleh beberapa jenis pohon pendek dan semak, seperti dan Dan lapisan bawah adalah kelompok herba. Hewan invertebarata yang berhasil ditemukan adalah hewan berkaki banyak yang mendominasi ekosistem ini. Untuk hewan vertebarta tidak ditemukan hewan apapun.

DAFTAR PUSTAKA Arief, A. 1994, Hutan Hakekat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Yayasan Obor Indonesia Jakarta. Ewusie JY. 1980. Pengantar Ekologi Tropika. Tanuwidjaya Usman, penerjemah. Bandung : ITB Press. Terjemahan dari : Elements of Tropical Ecology. Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Michael, P..1994. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan

Laboratorium. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Richard & Steven, 1988. Forest Ecosystem : Academic Press. San Diego. California. Ryan. 2008. Macam-macam bioma di Dunia. Diakses tanggal 24 Mei 2012. http://riyn.multiply.com/journal/item/15?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2 Fitem Soerianegara I dan A. Indrawan. 2005. Ekosistem Hutan Indonesia. Bogor : Laboratorium Ekologi Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Tjitrosoepomo, G. 2002. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press Whitmore TC. 1998. An Introduction to Tropical Rain Forests. Oxford Universty Press. New York.

EVERGREEN A. Faktor Biotik Data Vegetasi kelompok 1 Herba (1 x 1) pertama Herba(1 x 1) kedua Spesimen 1 1 1% Plot Nama spesimen Diameter pohon(cm) % penutupan Ciri- cirri specimen yang tidak diketahuinama Jenis - Akar serabut - Daun oval - Permukaan daun berambut - Batang berambut Spesimen 14 35 35/500 Akar serabut Daun lonjong Daun licin Akar serabut Daun tepi bergelombang Bentuk lanset Daun lonjong Permukaan bawah kasap Permukaan batang kasar Ujung daun runcing Daun lonjong Ada duri pada nodus Tepi daun bergelombang Batang berkayu Permukaan halus Tiap nodus 2 daun Bentuk oval Tepi rata Daun halus Nodus Daun tunggal Bentuk lonjong Daun tunggal Berstipula Daun berambut

Spesimen 2

0,5%

Herba(1 x 1) ketiga Spesimen 3 1 0,5 %

Spesimen 15 Semak (5 x 5) pertama Spesimen 16

48

48/500

1/500

Spesimen 17

24

24/500

Spesimen 18

3/500

Spesimen 19

2/500

Spesimen 14

35

35/500

Spesimen 15

48

48/500

Semak (5 x 5) kedua

Spesimen 16

1/500

Spesimen 17

24

24/500

spesimen 18

3/500

Spesimen 19

2/500

- Daun lonjong - Terdapat stipula - Permukaan atas dan bawah berambut - Batang berkayu - Daun lonjong - Permukaan bawah kasap - Permukaan batang kasar - Ujung daun runcing - Daun lonjong - Ada duri pada nodus - Tepi daun bergelombang - Batang berkayu - Permukaan halus - Tiap nodus 2 daun - Bentuk oval - Tepi rata - Daun halus - Nodus - Daun tunggal - Bentuk lonjong - Daun tunggal - Berstipula - Daun berambut - Daun lonjong - Terdapat stipula - Permukaan atas dan bawah berambut - Batang berkayu

151 35 16 Pohon(10x10) Specimen 1 7 7 4 6 Daun tunggal Daun bentuk oval Daun kaku Permukaan daun kasap - Batang kasar

Specimen 2

80

Specimen 3

Specimen 4

Specimen 5

Kayu berbau khas Batang mengelupas Daun licin Batang mengelupas Daun tunggal Tepi daun bergelombang Permukaan daun licin Batang berwarna coklat Tepi daun bergerigi Percabangan pada pangkal Daun tunggal Batang mengelupas Daun tunggal Tepi daun bergelombang

Lamtoro

- Bunga bongkol - Daun majemuk Daun berambut Daun bentuk lonjong Buah berair Daun bentuk oval Arah tumbuh menjalar Akar tunggang Batang herbaceous Daun berkarang Akar tunggang Terdapat pelepah Daun tidak lengkap Buah bulir Termasuk anggota poaceae - Batang berduri pada nodus - Daun tunggal,bentuk oval,berkarang,permuk aan daun licin - Arah tumbuh merambat

Kersen 2 Herba (1 1) pertama Herba (1 x 1) kedua Specimen 15 Specimen 16 Herba (1 1) ketiga Specimen 17

4 -

1 7 1

7% 1%

1%

Semak (5 x 5) pertama

Specimen 20

1%

Specimen 21

7%

Specimen 22

1%

Semak (5 x 5) kedua

Specimen 23

5%

Specimen 24

2%

Specimen 13

5,1

Pohon (10x10)

Specimen 14

3,82

Specimen 15

6,52

3 Herba (1x1) pertama Specimen 17 1 1%

- Ujung daun bertoreh dalam - Memiliki tendril - Permukaan daun licin - Daun tunggal,bentuk oval - Batang segiempat - Terdapat duri pada nodus - Tepi daun rata - Daun oval permukaan kasap - Batang berambut - Akar tunggang - Daun oval - Terdapat duri pada nodus - Daun berhadapan - Akar tunggang - Daun oval bergerigi - Duduk daun berhadapan, permukaan licin - Batang memiliki bercak hijau,daun berwarna putih - Daun beringgit, permukaan licin, duduk daun opposite - Tepi daun berduri - Batang memiliki bercak putih - Daun tunggal,oval, permukaan kasap,duduk daun berseling - Permukaan daun berambut kecil - Batang memiliki lentisel - Akar serabut - Batang herbaceous - Batang berwarna hijau keputihan - Daun bentuk jantung - Pertulangan daun

menjari - Permukaan daun licin Herba (1x1) kedua Herba (1x1) ketiga - Arah tumbuh menjalar - Batang bulat berbintil pada batang tua - Akar serabut - Daun bentuk oval - Permukaan daun licin - Arah tumbuh menjalar - Bentuk batang bulat - Terdapat tendril disetiap nodusnya - Daun bentuk kupukupu - Permukaan daun licin - Arah tumbuh menjalar - Batang berduri - Daun bentuk oval - Permukaan daun licin - Arah tumbuh tegak - Duduk daun berhadapan - Permukaan daun licin - Daun bentuk oval - Batang berkayu - Akar tunggang - Akar tunggang - Daun berkayu - Arah tumbuh tegak - Arah tumbuh menjalar - Batang berduri - Daun bentuk oval - Permukaan daun licin - Daun lebar bentuk oval - Tepi daun beringgit - Permukaan daun kasap - Daun bentuk oval - Daun memiliki bercak putih - Batang berduri jarang - Daun majemuk

Specimen 25

23

30%

Semak (5x5) Pertama

Specimen 21

35

40%

Specimen 26

16

15%

Specimen 27

8%

Specimen 2 Semak (5x5) kedua Specimen 26

5,5%

6%

Specimen 28

1%

Specimen 29 Pohon (10x10) Lamtoro

15

2 2

3% -

28 Liana sp. 13,5 1

menyirip genap - Batang tua terkelupas - Batang membelit - Batang muda berduri - Daun bentuk bulat bertoreh dalam - Pertulangan daun menjari

Palmae

1%

54 56 44 Specimen 10 30 40 34 4 Specimen 7 12 6

240/500 Tepi daun bergerigi Memiliki ala Akar tunggang Bunga bulir Daun bentuk oval Akar tunggang Permukaan daun kasap Batang berambut Tepi daun bergelombang Daun bentuk oval Ujung daun meruncing Bunga terompet Bunga bulir Daun bentuk oval Akar tunggang Permukaan daun kasap Tepi daun bergerigi Memiliki ala Akar tunggang Batang berambut Tepi daun bergelombang Batang terkelupas Batang muda berduri Percabangan banyak Bentuk daun oval Permukaan daun kasap

Specimen 10 Semak (5x5) pertama

33

93/500

Specimen 12

15

85/500

Specimen 10 Semak (5x5) Kedua

48

70/500

Specimen 11

64/500

Specimen 12

27/500

- Daun bentuk oval - Ujung daun meruncing - Bunga terompet 91 81 30 35 22 11 2 36 31 Pohon (10x10) 30 53 34 16 15 Specimen 12 - Daun oval bergerigi - Duduk daun berhadapan - Permukaan daun licin Daun tunggal Daun bentuk oval Permukaan daun kasap Batang kasar - Daun bentuk jantung besar - Permukaan daun berambut

Specimen 11 Cabang 1

Spesimen 11 Cabang 2

5 Serut 4 21

Bauhinia sp.

- Permukaan daun atas bawah licin - Daun bentuk kupukupu - Akar tunggang

11 Specimen 15 5 30 3 -

Spesimen 16

Specimen 17

Specimen 18

4 9

- Daun tunggal, oval,permukaan kasap, duduk daun berseling - Permukaan daun berambut kecil - Batang memiliki lentisel - Daun beringgit - Duduk daun berhadapan - Permukaan daun licin - Duduk daun opposite - Tepi daun bergelombang - Daun berhadapan - Akar tunggang - Daun bentuk oval Daun kasap Duduk daun berseling Arah tumbuh erektus Akar tunggang

Specimen 19

7 6

Salak

- Batang berduri - Daun tunggal - Pertulangan daun sejajar - Bentuk daun lanset - Daun bentuk oval - Permukaan daun licin - Batang berwarna coklat - Daun bertoreh dalam - Arah tumbuh menjalar - Permukaan atas dan bawah daun licin - Batang licin - Batang berambut - Daun kasap - Bentuk daun oval - Ujung daun meruncing - Tumbuhan muda

herba (1x1) pertama,kedua dan ketiga

Specimen 37

0,4%

Semak (5x5) pertama

Specimen 21

2%

Specimen 38

0,4%

Specimen 36

0,4

Semak (5x5) kedua

Specimen 21

4%

berwarna hijau - Terdapat stipula diketiak daun - Daun bentuk lanset - Terdapat duri dinodus - Permukaan daun licin - Batang licin - Daun bertoreh dalam - Arah tumbuh menjalar - Permukaan atas dan bawah daun licin - Batang licin - Daun bentuk jantung besar - Permukaan daun berambut

18 Specimen 11 22 60 24 Pohon (10x10) Specimen 19 82 51 5 Bauhinia sp 1 3,5 3 4 2 -

- Batang bulat berwarna coklat - Daun bentuk oval - Permukaan daun kasap

- Permukaan daun atas bawah licin - Daun bentuk kupukupu - Akar tunggang

Data Hewan Hewan (ekor) kelompok Nama Hewan Invertebrata (1x1) m2 Cangkang bekicot 1 Semut hutan 59 1 Vertebrata (10x10) m2

Hewan berkaki banyak Hewan seperti kumbang Rayap Nyamuk Ulat Lebah 2 Bekicot Serangga Laba-laba abu-abu Nyamuk 3 Lalat kecil Kelabang Semut hitam Laba-laba putih Rayap Kupu-kupu 4 Nyamuk Ulat Semut

186 1 29 17 1 21 4 5 1 6 1 1 2 2 67 1 2 3 8 -

Laba-laba 5 -

1 -

B. Faktor Abiotik Kelembaban udara(%) 1 1 2 3 4 5 92 85 92 92 92 2 91 92 92 92 92 3 92 92 92 92 92 92 1 4,5 6,2 5,8 6,6 5,6 5,7 pH 2 5 6,5 5,7 6,4 5,7 5,8 5,7 3 5,8 5,5 5 6.2 5,7 5,6 Kelembaban tanah (%) 1 6,8 2,5 2,5 20 43 15 2 5 2 3,5 23 42 15,1 16 3 5,4 4,6 5,5 30 44 18 1m 21,7 27,3 28 Suhu 0cm 10cm 27 28 26 Kecepatan angin 1 2 3 9,9 15 0,02

kelompok

7,04 37,6 0,33 14,5 0,1

27,5 27,8 0,05 25

25,5 25,3 27 26 26

0,06 0,15 0,01 0,17 0,21 0,23 5

90,6 91,8 Rata-rata 91,4 Ket :

26,4 26,6 1,53 10,5 26,3 5,6

suhu 0 cm : dipermukaan tanah