Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI

PENENTUAN FAKTOR ABIOTIK LINGKUNGAN PERAIRAN SUNGAI DI LINGKUNGAN DESA SUMBERBENDO

Oleh : Kelompok I Ahmad Soni 0810910002 Arie Raditya A. 0810910030 Febi Wahyu S. 0810910044 Imam Fikri F. 0810910050 Farid Mubarrok 0810913028 M. Qomaruddin 0810913040 Noer M. D. Haq 0810913044

LABORATORIUM EKOLOGI DAN BIODIVERSITAS HEWAN JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2009

HALAMAN PERNYATAAN DAN DESKRIPSI TUGAS

Kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa: Laporan yang berjudul di desa sumber bendo ini adalah hasil kerja Kelompok I dan tidak mengandung sedikitpun unsur plagiarism (menyalin dari kelompok lain).

Dengan pembagian tugas sebagai berikut : Ahmad Soni Arie Raditya A. Febi Wahyu S. Imam Fikry F. Farid Mubarok Muh. Qomaruddin Noer M. D. Haq : Metode Praktikum dan Kesimpulan : Abstrak, Sampul dan Pustaka : Hasil, Pembahasan dan Pustaka : Hasil, Pembahasan dan Analisis Data : Penanggung Jawab, Reviewer, Halaman Pernyataan : Reviewer dan Analisis Data : Pendahuluan, Metode Praktikum

Pernyatan ini dibuat dengan sebenarnya, dengan kesadaran kelompok dan bukan atas paksaan.

Malang, 10 November 2009 Ahmad Soni Arie Raditya A. Febi Wahyu S. Imam Fikry F. Farid Mubarrok M.Qomaruddin Noer M. D. Haq : : : : : : ................................ : ................................

PENENTUAN FAKTOR ABIOTIK LINGKUNGAN PERAIRAN Kelompok 1 : Ahmad Soni, Arie R. A., Febi W. S., Imam F. F., Farid M., M. Qomarruddin, Noer M. D. Haq, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya. Malang. 2009

ABSTRAK Ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut. Ekosistem perairan lotik atau perairan mengalir adalah suatu ekosistem perairaan yang di dalamnya terdapat adanya arus. Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik sifat fisika dan kimia ekosistem perairan. Tempat yang digunakan untuk praktikum adalah sungai yang berada di daerah petung sewu dan kolam taman sari yang berada di Kampus Universitas Brawijaya. Parameter fisika yang diukur meliputi suhu, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus dan kenduktivitas. Sedangkan parameter kimia yang digunakan yaitu pH yang diukur dengan menggunakan pH meter. Suhu yang didapatkan dengan pengukuran menggunakan termometer sebesar 28.08 C, kedalaman yang diukur dengan menggunakan tongkat didapatkan sebesar 1,096 m, kecerahan 37,79 cm, dan konduktivitasnya sebesar 0.351 ms/cm. sifat kimia dan fisika sangat menentukan kualitas suatu perairan yang mendukung kehidupan yang ada di dalamnya. Interaksi tersebut berpengaruh terhadap jumlah, komposisi, keanekaragaman jenis, produktivitas, dan keadaan fisiologis ekosistem perairan. Kata kunci : ekosistem, faktor, perairan.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut. Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak mencolok, penetrasi cahaya kurang, dan dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Ekosistem perairn air tawar dibedakan menjadi ekosistem lentik atau perairan menggenang dan ekosistem lotik atau perairan mengalir. Kualitas suatu perairan dapat ditentukan oleh sifat kimia dan fisika. Interaksi antara sifat kimia dan fisika di perairan sungai dan kolam dapat menentukan kemampuan perairn tersebut untuk mendukung kehidupan yang ada di dalamnya. Ekosistem perairan merupakan ekosistem yang selalu mengalami perubahan kualitas dan kuantitas akibat pengaruh variasi abiotik tersebut. Oleh karena itu, organisme perairan harus dapat beradaptasi dalam mencari nutrisi dan menjalankan kelangsungan hidup dengan menggunakan gas-gas yang terlarut pada perairan tersebut. Pengaruh variasi abiotik ini juga sebagai penunjang lingkungan secara keseluruhan yang memungkinkan adanya perubahan produktivitas biologis. Dengan adanya praktikum ini, kita dapat menentukan kualitas fisika dan kimia suatu perairan sehingga dapat menambah wawasan tentang variasi faktor abiotik yang sesuai dengan kelangsungan kehidupan organisme perairan sehingga kita dapat mengaplikasikan hal tersebut di bidang perikanan dan konsevasi alam. 1.2 Rumusan Masalah Masalah yang dibahas dalam praktikum ini adalah Faktor pembatas apa saja yang mempengaruhi ekosistem lotik dan ekosistem lentik ? Bagaimana cara menentukan kualitas fisik dan kimia yang ada pada ekosistem lotik dan ekosistem lentik ? 1.3 Tujuan Tujuan yang didapat dari praktikum ini adalah dapat menentukan kualitas fisik dan kimia yang ada pada ekosistem lotik dan ekosistem lentik dan mengetahui faktor pembatas yang mempengaruh ekosistem lotik dan lentik. 1.4 Manfaat Manfaat yang didapat dalam praktikum ini adalah menambah wawasan menambah wawasan tentang faktor abiotik yang sesuai dengan kelangsungan kehidupan organisme perairan sehingga kita dapat mengaplikasikan hal tersebut di bidang perikanan dan konsevasi alam.

BAB II METODE PRAKTIKUM 2.1 Waktu & Tempat Praktikum Ekologi tentang Penentuan Faktor Abiotik Lingkungan Perairan dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2009 sampai 1 Oktober 2009 pada pukul 08.00-11.00 WIB di sungai kawasan sumberbendo dan kolam Taman Sari Universitas Brawijaya. 2.2 Cara Kerja 1. Suhu Air Pengamatan sifat fisik-kimia air untuk suhu air menggunakan thermometer air raksa atau alcohol, dengan cara thermometer ditenggelamkan dalam air dengan seutas tali kemudian dibiarkan sampai air raksa tidak bergerak (+5 menit). Selanjutnya suhu ditera dengan cara mengamati bergeraknya air raksa atau alcohol dalam perairan tersebut. Cara lain dengan mengguinakan thermometer digital dengan cara memasukkan electrode secara langsung Dallam air dan dibaca hasilnya. Ke dua metode ini digunakan pada perairan lentik dan perairan lotik. 2. Kecerahan air Pada perlakuan ini alat yang digunakan adalah Secchi Disc. pengukuran dilakukan dengan cara memasukkan secchi disc melalui seutas tali dalam suatu perairan sampai warna hitam putih dari secchi disc tidak kelihatan. Jarak antara jari yang memegang tali (tepat di permukaan air) dengan secchi disc pada saat hilangnya warna tersebut merupakan kecerahan perairan tersebut. Hasil pengukuran dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Perairan berkecerahan baik : lebih dari 60 cm Perairan berkecerahan sedang : kurang lebih 30 cm Perairan berkecerahan buruk : kurang darri 10 cm 3. Kedalaman Air Pengukuran kedalaman suatu perairan dapat dilakukan dengan memasukkan tongkat atau tali (yang diberi pemberat) kedalam perairan sampai tongkat tersebut mencapai dasar. 4. Kecepatan arus (Aliran arus) Lepaskan penampung pada suatu titik yang telah ditentukan. Pada saat pelampumg dilepas ke dalam perairan, pada saat itu pula tekan tombol start pada stop watch. Setelah jarak tertentu matikan stop watch. Lalu ukur jarak dan waktu yang telah ditempuh. Ulangi pekerjaan ini selama 2 kali di tempat yang berbeda dan hasilnya dirata-ratakan. Kecepatan aliran air dinyatakan dalam jarak perwaktu (meter/detik, km/jam) 5. Kondutivitas Daya hantar listrik atau konduktivitas perairan dapat diukur dengan konduktivitimer. Masukkan electrode ke dalam sampel air dan secara langsung baca besarnya konduktivitas air tersebut dalam satuan S/cm. 6. Pengukuran pH Pengukuran pH perairan dapat dilakukan dengan pH meter portable. Sbelum digunakan, alat ini harus dikalibrasi yaitu dengan memasukkan pH probe ke dalam larutan buffer (pH= 7) dan apabila belum menunjukkan angka 7 aturlah pH meter untuk membaca pH 7. Cucilah probe dengan aquades, lap dengan tissue dan kemudian masukkan probe ke dalam larurtan buffer (pH= 4) dan aturlah pH meter untuk dapat membaca pH 4. Cucilah probe dengan aquades dan setelah dikeringkan dengan tissue kemudian masukkan ke

dalam sample air. Bacalah pH-nya dan cucilah probe dengan aquades sebelum digunakan untuk mengukur sampel yang lain. Cara pengukuran yang lain dengan menggunakan kertas pH yang kemudian dibandingkan dengan pH standart.

BAB III HASIL & PEMBAHASAN 3.1 Faktor Abiotik pada Kolam Ekosistem air tawar menurut (Leksono, 2007) pada umumnya dibedakan menjadi 2 yaitu: a) Ekosistem perairan Lentik adalah ekosistem yang mempunyai air yang tidak mengalir, seperti danau universitas brawijaya dan kolam besar. b) Ekosistem perairan Lotik adalah ekosistem air tawar yang mengalir misalnya sungai. Pada faktor abiotik air kolam didapatkan suhu sebesar 28,08 C, sedangkan kecerahan didapatkan 37,79 cm, untuk kedalaman didapatkan 1,096 m, intensitas cahaya pada kedalaman 25 cm didapatkan hasil sebesar 7,41 kLux, serta konduktivitas sebesar 0,351 mS/cm. Data pengamatan taman sari dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Perairan pada bundaran taman sari Universitas Brawijaya termasuk kedalam perairan lentik, karena tidak mengalir. Data pengamatan terlihat bahwa suhu bergantung terhadap intentitas cahaya. Karena semakin besar intentitas berarti semakin besar pula suhunya. Sedang intentitas cahaya bergantung pada kedalaman yaitu semakin dalam maka itentitas cahaya semakin rendah karena cahaya matahari tidak dapat masuk ke dalam perairan. Kercerahan juga berperngaruh terhadap kedalaman semakin dalam suatu periran maka tingkat kecerahan semakin rendah, hal ini dikarenakan cahaya matahari sulit tertembus pada dasar perairan. Konduktivitas dipengaruhi oleh kecerahan yaitu semakin besar nilai konduktivitas maka semakin tinggi pula tingkat kecerahan.

3.2 Faktor Abiotik pada Sungai Dari hasil pengukuran faktor abiotik pada air sungai di dapatkan suhu sebesar 21 C, sedangkan kecerahan 0,18 m, untuk konduktivitas sebesar 0,2 mS/cm, kedalaman 0,18, dengan kecepatan arus 0,99 m/s, serta pH sebesar 7,88. Grafik hasil pengamatan pada air sungai :

Perairan pada sungai termasuk kedalam perairan lotik, karena mengalir. Suhu disini dipengaruhi oleh tingkat intentitas cahaya yaitu semakin tinggi intentitas cahaya semakin tinggi pula suhunya dan sebaliknya. Kecerahan berhubungan dengan kedalaman yaitu semakin dalam suatu periran maka akan semakin rendah tingkat kecerahannya. Konduktivitas dipengaruhi oleh kecerahan yaitu semakin besar nilai konduktivitas maka semakin tinggi pula tingkat kecerahan. Kecepatan arus berpengaruh terhadap jumlah spesies yang hidup yaitu ada beberapa spesies yang nyaman dengan arus yang deras dan ada spesies yang kurang begitu nyaman terhadap arus yang deras bahkan mati. Tingkat keasaman juga berpengaruh terhadap spesies yang hidup pada pH tertentu maka ada beberapa spesies berbeda karena terdapat spesies nyaman hidup disuhu tertentu, namun terdapat pula spesies yang nyaman di pH berapapun.

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut. Ekosistem perairan lotik atau perairan mengalir adalah suatu ekosistem perairaan yang di dalamnya terdapat adanya arus, Perairan pada taman sari bundaran universitas brawijaya termasuk kedalam perairan lentik, karena tidak mengalir. Sedangkan perairan pada sungai termasuk kedalam perairan lotik, karena mengalir. Parameter fisika yang diukur meliputi suhu, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus dan kenduktivitas. Sedangkan parameter kimia yang digunakan yaitu pH yang diukur dengan menggunakan pH meter. Suhu yang didapatkan dengan pengukuran menggunakan termometer sebesar 28.08 C, kedalaman yang diukur dengan menggunakan tongkat didapatkan sebesar 1,096 m, kecerahan 37,79 cm, dan konduktivitasnya sebesar 0.351 ms/cm. Hal-hal yang mempengaruhi ekosistem perairan adaah faktor fisika dan kimia, faktor kimia dan faktor fisika akan mempengaruhi jumlah, komposisi, keanekaragaman jenis, produktivitas dan keadaan fisiologis organisme di suatu perairan.

DAFTAR PUSTAKA Allan, JD. 1995. Stream Ecology: Structure and Function of Running Waters. Chapman and Hall. London. Damandiri.2008.Kualitas Air. http://damandiri.or.id.Diakses pada tanggal 28 November 2008.pukul 17.30 WIB. Halfon, E. 1979. Theoretical Systems in Ecology. Academic Press. New york. Leksono,A.S.2007. ekologi biomedia publishing: malang Odum, E.P. 1983. Basic Ecology. Saunders College Publishing. United States America WHO . 1971 . Internasional standart for Dringking water. WHO . Jenewa