Anda di halaman 1dari 19

I. PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Inceptisol adalah tanah yang belum matang (immature) dengan perkembangan profil yang lebih lemah dibanding dengan tanah yang matang dan masih banyak menyerupai sifat bahan induknya (Hardjowigeno, 1993). Sifat fisik dan kimia tanah Inceptisol antara lain; berat jenis 1,0 g/cm3, kalsium karbonat kurang dari 40 %, pH mendekati netral atau lebih (pH < 4 tanah bermasalah), kejenuhan basa kurang dari 50 % pada kedalaman 1,8 m, COLE antara 0,07 dan 0,09, nilai porositas 68 % sampai 85 %, air yang tersedia cukup banyak antara 0,1 1 atm (Smith, 1965). Menurut Hanafiah (2007) bahwa penggunaan inceptisol untuk pertanian atau nonpertanian adalah beraneka ragam. Daerah-daerah yang berlereng curam untuk hutan rekreasi atau yang berdrainase buruk hanya untuk tanaman pertanian, setelah drainase diperbaiki. Permasalahan pada inceptisol adalah sulfaquepts, yang mengadung horizon sulfurik yang sangat masam yang menyebabkan nilai pH sangat rendah (<4), sehingga sulit untuk dibudidayakan. Nilai pH tanah dapat digunakan sebagai indikator kesuburan kimiawi tanah, karena dapat mencerminkan ketersediaan hara dalam tanah tersebut. Tanah dengan nilai pH rendah digolongkan pada tanah masam. Kemasaman tanah merupakan suatu masalah utama yang sering ditemui pada tanah-tanah di wilayah beriklim tropika basah yang menyebabkan tercucinya basa-basa dari kompleks jerapan, tinggallah kation Al dan H sebagai kation dominan yag menyebabkan tanah bereaksi masam (Coleman dan Thomas, 1967; Sanches, 1976 dalam Hakim et al, 1986). Salah satu masalah yang disebabkan oleh kemasaman tanah ini adalah tingginya kelarutan aluminium dalam tanah. Pada tanah yang sangat masam, kation Al menjadi sangat larut yang dijumpai dalam bentuk Al3+ dan hidroksida-Al. Kedua ion Al3+ ini lebih mudah terjerap pada koloid liat daripada ion H+. Aluminium yang terjerap ini berada dalam keadaan seimbang dengan aluminium dalam larutan tanah. Aluminium yang berada di larutan tanah mudah terhidrolisis, yang dapat menyumbangkan 3 ion H+ sehingga kemasaman tanah menjadi rendah. Tingginya kelarutan aluminium dalam tanah menyebabkan tanaman keracunan yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dari hasil-hasil penelitian itu terungkap bahwa keracunan aluminium menghambat perpanjangan dan pertumbuhan akar
1

primer, serta menghalangi pembentukan akar lateral dan bulu akar. Keracunan aluminium juga dapat menyebabkan fiksasi unsur fosfor sehingga unsur fosfor tidak tersedia bagi tanaman. Akibatnya tanaman mengalami gejala kekahatan atau defisiensi unsur hara P. Selain pH tanah dan kandungan Al-dd, kadar air juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Kadar air dinyatakan dalam jumlah air yang terdapat pada tanah atau tanaman dalam persen. Reaksi-reaksi kimia dalam tanah atau tanaman berlangsung bila ada air. Pelepasan unsur-unsur hara dari mineral primer terutama juga karena pengaruh air, yang kemudian mengangkut ke tempat lain (pencucian unsur hara). Sedangkan pada tanaman, air diperlukan dalam proses fotosintesis. Berdasarkan uraian diatas, penulis menyusun laporan praktikum dari analisis tanah dan tanaman yang telah dilakukan dengan judul Kemasaman Tanah, Kandungan Aluminium Dapat Ditukar, dan Kadar Air Tanah pada Tanah Inceptisol serta Kadar Air Daun Tanaman Kelapa Sawit.

1.2. Tujuan Praktikum 1. Untuk mengetahui pH tanah baik pH KCl maupun pH H2O atau tingkat kemasaman tanah pada tanah Inceptisol, kandungan alumunium dapat ditukar, dan kadar air tanah pada tanah inceptiol. 2. Untuk mengetahui kadar air tanaman sampel pelepah daun kelapa sawit.

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Tanah Inceptisol Tanah inceptisol adalah tanah yang belum matang (immature) dengan perkembangan profil yang lebih lemah dibanding dengan tanah yang matang dan masih banyak menyerupai sifat bahan induknya (Hardjowigeno, 1993). Tanah Inceptisol yang terdapat di dataran rendah solum yang terbentuk pada umumnya tebal, sedangkan pada daerah-daerah berlereng curam solum yang terbentuk tipis. Warna tanah Inceptisol beranekaragam tergantung dari jenis bahan induknya. Warna kelabu bahan induknya dari endapan sungai, warna coklat kemerah-merahan karena mengalami proses reduksi, warna hitam mengandung bahan organik yang tinggi (Wambeke, 1992). Sifat fisik dan kimia tanah Inceptisol antara lain; berat jenis 1,0 g/cm3, kalsium karbonat kurang dari 40 %, pH mendekati netral atau lebih (pH < 4 tanah bermasalah), kejenuhan basa kurang dari 50 % pada kedalaman 1,8 m, COLE antara 0,07 dan 0,09, nilai porositas 68 % sampai 85 %, air yang tersedia cukup banyak antara 0,1 1 atm (Smith, 1965 dalam Resman, 2006). Proses pedogenesis yang mempercepat proses pembentukan tanah Inceptisol adalah pemindahan, penghilangan karbonat, hidrolisis mineral primer menjadi formasi lempung, pelepasan sesquioksida, akumulasi bahan organik dan yang paling utama adalah proses pelapukan, sedangkan proses pedogenesis yang menghambat pembentukan tanah inceptisol adalah pelapukan batuan dasar menjadi bahan induk (Smith et al.,1973 dalam Resman, 2006). Menurut Hanafiah (2005) bahwa penggunaan inceptisol untuk pertanian atau nonpertanian adalah beraneka ragam. Daerah-daerah yang berlereng curam untuk hutan rekreasi atau yang berdrainase buruk hanya untuk tanaman pertanian, setelah drainase diperbaiki. Permasalahan pada inceptisol adalah sulfaquepts, yang mengadung horizon sulfurik yang sangat masam yang menyebabkan nilai pH sangat rendah (<4), sehingga sulit untuk dibudidayakan. Nilai pH tanah dapat digunakan sebagai indikator kesuburan kimiawi tanah, karena dapat mencerminkan ketersediaan hara dalam tanah tersebut.

2.2. Kemasaman Tanah Kemasaman tanah merupakan hal yang biasa terjadi di wilayah-wilayah bercurah hujan tinggi yang menyebabkan tercucinya basa-basa dari kompleks jerapan dan hilang melalui air drainase. Pada keadaan basa-basa habis tercuci, tinggallah kation aluminium dan hydrogen sebagai kation dominan yang menyebabkan tanah bereaksi masam (Coleman dan Thomas, 1967; Sanches, 1976 dalam Hakim et al, 1986). Curah hujan dan suhu yang tinggi di daerah tropik menyebabkan pelapukan bahan induk intensif. Dari pelapukan, basa-basa dan aluminium akan dibebaskan. Basa-basa mudah tercuci, sedangkan aluminium mudah terjerap bersama ion hidrogen. Dalam keadaan tanah yang sangat masam, Aluminium menjadi sangat larut yang dijumpai dalam bentuk kation Al3+ dan hidroksida-Al. Kedua ion Al3+ tersebut lebih mudah terjerap pada koloid liat daripada ion hidrogen. Aluminium yang terjerap ini berada dalam keadaan seimbang dengan aluminium dalam larutan tanah. Oleh karena aluminium berada dalam larutan tanah mudah terhidrolisis, maka aluminium merupakan penyebab kemasaman atau penyumbang ion hidrogen. Selain aluminium dan hidrogen, pelapukan bahan organik juga dapat menghasilkan asam organik dan asam anorganik yang bereaksi masam. Asam karbonat dapat melarutakan basa-basa, sehingga mempercepat kehilangan basa-basa, dan akhirnya pH tanah pun turun. Kemasaman tanah dapat dibedakan antara kemasaman potensial dan kemasaman aktif. Kemasaman aktif ditunjukkan oleh kepekatan ion hidrogen dalam larutan tanah yang biasanya ditetapkan sebagai pH H2O. Kemasaman potensial adalah kepekatan ion hidrogen yang terjerap pada kompleks koloid dan bersifat selalu menyumbangkan ion hidrogen ke dalam larutan tanah yang biasa ditetapkan sebagai pH KCl. Ditinjau dari sudut kesuburan tanah, kemasaman potensial lebih berbahaya daripada kemasaman aktif. Ion H+ yang terjerap cenderung beralih ke larutan tanah. Disamping itu, aluminium yang terjerap juga menyumbangkan sejumlah besar ion H+ bila terhidrolisis. Dari berbagai hasil penelitian tentang tanah masam baik di luar negeri maupun di Indonesia, diketahui sejumlah masalah kemasaman tanah seperti berikut ini: Ketersediaan unsur fosfor rendah Kekurangan unsur kalsium dan magnesium
4

Kekurangan unsur molibdat Fiksasi nitrogen oleh kacang-kacangan terhambat Kandungan mangan dan besi sering berlebihan, sehingga dapa merupakan racun bagi tanaman Kelarutan aluminium sangat tinggi, sehingga merupakan faktor penghambat tumbuh tanaman yang utama pada tanah masam (Hakim et al, 1986).

2.3. Kandungan Aluminium Dapat Ditukar Aluminium merupakan unsur hara penunjang, yaitu unsur mikro (kadangkala makro) yang hanya esensial atau dibutuhkan oleh tetanaman tertentu atau tidak berlaku umum, malahan untuk tanaman lain dapat menjadi unsur toksik. Tokisisitas aluminium merupakan konsekuensi tingginya kejenuhan aluminium dalam tanah masam. Pada kejenuhan Al>50-60%, pertumbuhan tanaman jagung menurun secara tajam. Pada tanah mineral berkejenuhan Al 30%, produksi jagung dapat mencapai hampir 90% makimum. Perkembangan akar jagung baru terhambat pada kejenuhan Al 60%. Tanaman sensitif seperti kapas, kedelai dan alfalfa mencapai optimum hanya jika kejenuhan Al mendekati 0 (Kamprath dan Foy, 1985 dalam Hanafiah, 2005). Pengaruh keracunan Al terutama membatasi kedalaman maupun percabangan akar, sehingga akan menghambat daya serap tanaman terhadap hara lain. Pada beberapa tanaman, keracunan Al memperlihatkan gejala daun yang mirip defisiensi P, kekerdilan menyeluruh, dedaunan mengecil berwarna hijau gelap dan lambat matang, batang, daun, dan urat daun berwarna ungu, ujung daun menguning dan mati. Pada tanaman lain menunjukkan gejala defisiensi Ca yang terinduksi atau tertekannya transportasi Ca dalam tanaman, yaitu dedaunan muda mengeriting atau menggulung dan titik tumbuh atau tangkai daun tumbang. Akar yang terluka secara khas terlihat menggemuk dan rapuh. Pucuk akar dan akar lateral menjadi tebal dan berubah coklat (Kamprath dan Foy, 1985 dalam Hanafiah, 2005).

2.4. Kadar Air Tanah dan Tanaman Menurut Hanafiah (2005) bahwa air merupakan komponen penting dalam tanah yang dapat menguntungkan dan sering pula merugikan. Beberapa peranan yang menguntungkan dari air dalam tanah adalah: (1) sebagai pelarut dan pembawa ion-ion hara dari rhizosfer ke dalam akar tanaman. (2) sebagai agen pemicu pelapukan bahan induk, perkembangan tanah, dan differensi horison. (3) sebagai pelarut dan pemicu reaksi kimia dalam penyediaan hara, yaitu dari hara tidak tersedia menjadi hara yang tersedia bagi akar tanaman. (4) sebagai penopang aktivitas mikrobia dalam merombak unsur hara yang semula tidak tersedia menjadi tersedia bagi akar tanaman. (5) sebagai pembawa oksigen terlarut ke dalam tanah. (6) sebagai stabilisator temperatur tanah. (7) mempermudah dalam pengolahan tanah. Selain beberapa peranan yang menguntungkan diatas, air tanah juga menyebabkan beberapa hal yang merugikan, yaitu: (1) mempercepat proses pemiskinan hara dalam tanah akibat proses pencucian (perlindian/leaching) yang terjadi secara intensif. (2) mempercepat proses perubahan horizon dalam tanah akibat terjadinya eluviasi dari lapisan tanah atas ke lapisan tanah bawah. (3) kondisi jenuh air menjadikan ruang pori secara keseluruhan terisi air sehingga menghambat aliran udara ke dalam tanah, sehingga mengganggu respirasi dan serapan hara oleh akar tanaman, serta menyebabkan perubahan reaksi tanah dari reaksi aerob menjadi reaksi anaerob. Kadar air tanah merupakan selisih masukan air (water gain) dan presipitasi (meliputi hujan, salju, kabut) yang menginfiltrasi tanah ditambah hasil kondensasi (oleh tanaman dan tanah) dan absorbs oleh tanah dikurangi air yang hilang (water lose) lewat evapotranspirasi, aliran permukaan, perkolasi, dan rembesan lateral, yang secara umum disebut sebagai persamaan air tanah. Oleh karena itu, fluktuasi kadar air tanah periodical tergantung pada keseimbangan masukan dan kehilangan air tersebut (Hakim et al, 1986). Cara biasa menyatakan jumlah air yang terdapat dalam tanah adalah dalam persen terhadap tanah kering. Bobot tanah lembab tidak dipakai karena bergelonjak dengan kadar air
6

nya. Kadar air juga dapat dinyatakan dalam persen volume, yaitu persentase volume air terhadap volume tanah. Cara penetapan kadar air tanah dapat digolongkan ke dalam: 1. Gravimetric, 2. Tegangan dan Hisapan, 3. Hambatan Listrik (Blok Tahanan), 4. Pembauran Neutron (Hakim et al, 1986). Cara gravimetrik merupakan cara yang paling umum dipakai. Dengan cara ini, sejumlah tanah basah dikeringkan dalam oven pada 100-110oC untuk waktu tertentu. Air yang hilang karena pengeringan tersebut merupakan sejumlah air yang terdapat dalam tanah basah (Hakim et al, 1986).

III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Praktikum ini dilaksanakan di UPT Fakultas Pertanian Universitas Riau. Sedangkan analisis sampel dilaksanakan di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Riau. Praktikum ini berlangsung selama 1 minggu, mulai dari tanggal 12 19 Desember 2011.

3.2. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah bor belgia, cutter, kantong plastik, penggaris, kamera, cawan, timbangan analitik, kertas tissue, kertas koran, tabung film, buret, kantong amplop, mesin pengaduk, pH meter, gelas ukur, botol semprot, gelas piala, erlemeyer, corong, kertas whatman, porcelain, ayakan, exicator, kertas amplop, pipet tetes, dan oven. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tanah inceptisol, pelepah kelapa sawit, aquades (H2O), larutan 1 N KCl, buffer 4 dan 6,8, larutan 4% NaF, larutan 0,1 N NaOH, larutan 0,1 N HCl, dan indikator fenolptalein.

3.3. Cara Kerja 3.3.1. pengambilan sampel tanah. - Penentuan titik pengambilan sampel tanah, sebanyak 10 titik secara acak. - Di setiap titik dibor dengan menggunakan bor belgia dengan kedalaman 20 cm. - Sampel tanah diambil 5 titik di dalam gawang dan 5 titik diluar gawang,dimasukan kedalam kantong plastik selanjutnya sampel dikompositkan. - Kemudian tanah ke laboratorium dan dikeringanginkan pada suhu kamar selama 2 x 24 jam - Setelah itu tanah yang telah kering angin ditumbuk dengan menggunakan cawan porcelain, kemudian di ayak menggunakan ayakan 600 m. - Tanah siap digunakan untuk analisis pH tanah, kadar air tanah, dan kandungan Al-dd.

3.3.2. Pengambilan Sampel Tanaman - Penentuan titik pengambilan tanaman sebanyak 3 titik, sampel tanaman yang diambil adalah pelepah daun kelapa sawit yang ke 17. - Kemudian pelepah daun diambil bagian tengah, 3 buah sebelah kanan dan 3 buah sebelah kiri.
8

- Pelepah daun dibungkus dengan tissue, kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastic dan seluruh sampel pelepah daun yang telah diambil dikompositkan - Kemudian pelepah daun dibersihkan dengan mengelap menggunakan kertas tissue - Kedua ujung dan pangkal daun pelepah daun dipotong sekitar dari bagian panjang daun tersebut. - Kemudian tulang daun (lidi) dipotong. - Pelepah daun terlalu panjang, dipotong-potong kecil guna untuk mempercepat pengeringan. - Pelepah daun siap untuk di analisis.

3.3.3. Penetapan Kadar Air Tanah. - Timbang 10 g tanah yang belum dikeringanginkan menggunakan timbangan analitik (berat tanah basahnya). - Masukkan ke dalam oven dengan suhu 105oC, dan biarkan selama 2x24 jam. - Setelah 2x24 jam sampel tanah dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam exicator selama 15 menit. - Sampel tanah tersebut ditimbang, maka akan didapat berat kering tanah + cawan. - Timbang berat cawan bersamaan dengan sampel tanah,sehingga berat kering tanah total dapat diperoleh setelah mengurangkan dari berat kering + cawan - Timbang kembali cawan, untuk mengetahui berat kering tanaman. - Dan hitung kadar air tanah dengan rumus:
KA BB BK 100% BK

3.3.5. Penetapan pH Tanah - Timbang g tanah yang telah kering angin sebanyak 2 kali kemudian masukkan tanah tersebut ke dalam tabung film 1 dan tabung film 2. - Ukur 10 ml H2O dan 10 ml 1 N KCl kemudian masukkan masing-masing larutan ke dalam masing-masing tabung film. - Tutup rapat masing-masing tabung film menggunakan plastik dan karet. - Aduk dengan mesin pengaduk selama 30 menit, kemudian diamkan selama 15 menit.
9

- Ukur larutan tanah dengan menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi dengan larutan penyangga atau buffer 4 dan 6,8 - Setelah satu sampel selesai, maka sebelum mengukur pH sampel yang lainnya bilaslah elektroda dengan menyemprotkan air suling, kemudian keringkan dengan kertas tissue dan siap melakukan pengukuran pH sampel lainnya. - Dengan cara yang sama lakukanlah pengukuran untuk pH KCl. - Catat pH tanah tersebut.

3.3.6. Penetapan Kandungan Al-dd - Timbang tanah 5 g yang telah dikeringanginkan kemudian masukkan ke dalam tabung film. - Tambahkan 50 ml larutan 1 N KCl, tutup kemudian aduk selama 15 menit. - Saring dengan menggunakan kertas saring whatman dan tamping di tabung erlemeyer. - Pipet hasil saringan 25 ml masukkan ke erlemeyer 200 ml dan tambahkan 5 tetes indicator fenolptalein. - Titer dengan 0,1 N NaOH sampai timbul warna mera muda, catat jumlah NaOH yang terpakai. - Tambahkan 0,1 N HCl kira-kira 1 tetes, sehingga warna merah hilang - Tambahkan 10 ml 4% NaF, warna merah timbul kembali. - Titer dengan 0,1 N HCl sampai warna merah hilang kembali dan catat jumlah HCl yang terpakai. - Hitung ke dalam rumus:
meAl dd / 100g mlHCl NHCl 40

3.3.7. Penetapan Kadar Air Tanaman - Timbang pelepah daun sebanyak 10 g yang telah dipotong-potong kecil kemudian masukkan ke dalam cawan (berat basah tanaman). - Selanjutnya masukkan cawan ke dalam oven pada suhu 105oC selama 4 jam. Kemudian biarkan selama 15 menit di dalam excikator. - Timbang berat kering tanaman + cawan menggunakan timbangan analitik. - Untuk mengetahui berat kering tanaman, berat cawan ditimbang kembali. Catat hasilnya.
10

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil pH Sampel Tanah Tanaman (Daun) Kadar Air (%) 23,46 109,64 Al-dd KCL (potensial) 2 me/ 100 g 4,44 H2O (aktual) 4,80 -

4.2. Pembahasan 4.2.1. Analisis Tanah - Kadar Air Tanah Kadar air tanah dapat dipengaruhi oleh tekstur tanah, dimana semakin liat suatu tanah maka pori mikronya semakin banyak dan daya ikatnya terhadap air semakin tinggi. Air selalu mengalami pergerakan ke bawah akibat gaya gravitasi, sessat setelah hujan yang intensitasnya tinggi dan dalm waktu lama memungkinkan kadar air topsoil lebih tinggi akan tetapi dalam waktu cukup lama topsoil akan mengurangi atau mengalami pengurangan kadar air pengaruh gravitasi, sehingga tanah pada lapisan bawah akan lebih banyak kadar airnya, selain itu warna tanah juga mempengaruhi kadar air dalam tanah. Pada dasarnya warna topsoil lebih gelap dari pada lapisan di bawahnya/subsoil karena cenderung mengalami penguapan. Pada praktikum kali ini yang dianalisi hanyalah kadar air pada lapisan topsoilnya saja, namun kadar air pada lapisan topsoil ini cenderung lebih tinggi dari pada lapisan bawahnya, hal ini dikarenakan dipengaruhi oleh air hujan yang diserap oleh tanah tersebut belum sempat terserap ke lapisan bawah tanah, kemudian tanah ini/topsoil memiliki banyak koloid liat sehingga daya menahan airnya menjadi lebih tinggi. Banyaknya kandungan air tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air (moisture tension) dalam tanah tersebut. Kemampuan tanah dapat menahan air antara lain dipengaruhi oleh tekstur tanah. Tanah-tanah yang bertekstur kasar mempunyai daya menahan air yang lebih kecil dari pada tanah yang bertekstur halus. Pasir umumnya lebih mudah kering dari pada tanah-tanah bertekstur berlempung atau liat. (Hardjowigeno, S., 1993). Temperatur dan
11

perubahan udara merupakan perubahan iklim dan berpengaruh pada efisiensi penggunaan air tanah dan penentuan air yang dapat hilang melalui saluran evaporasi permukaan tanah. Diantara sifat khas tanah yang berpengaruh pada air tanah yang tersedia adalah hubungan tegangan dan kelembaban, kadar garam, kedalaman tanah, strata dan lapisan tanah. - pH Tanah Penentuan pH tanah sangat diperlukan dalam klasifikasi dan pemetaan tanah. Ada dua metode yang digunakan dalam menentukan nilai pH, kalorimetri dan elektrometri, tetapi dalam praktikum kali ini metode yang digunakan yang digunakan adalah elektrometri dengan menggunakan pH meter, karena dirasa lebih akurat dari kalorimetri. Pada umumnya reaksi tanah yang berhubungan dengan konsentrasi ion H+ (kation) dan ion OH -(anion), tanah bersifat masam bila pH < 6,5 dan bersifat basa bila pH > 6,5. Nilai pH tanah sangat beragam, adapun factorfaktor yang mempengaruhi nilai pH adalah bahan induk, iklim, bahan organik, dan perlakuan manusia. Bahan untuk masam umumnya mendorong terbentuknya tanah bereaksi masam, dan sebaliknya bahan induk basis akan membentuk tanah basis. Pengaruh iklim basah umumnya akan mendorong berkembangnya tanah masam, sedangkan daerah iklim kering banyak dijumpai tanah bereaksi basis. Tanah organik mempunyai nilai pH yang rendah oleh akibat banyaknya asam-asam organik hasil proses humifikasi. Sedangkan pengruh manusia memang dapat mendorong perubahan Ph tanah, namun pengaruhnya tidak setajam ketiga factor tersebut. Pengaruh nyata akibat perlakuan manusia umumnya berupa penggunaan pupuk ataupun bahan amelioran lain. Bila pupuk yang digunakan dalam kurun yang lama mempunyai sifat fisiologi maka akan cendrung menurunkan pH, dan sebaiknya bila sering menggunakan bahan ameliorant yang bersifat basis (kapur) maka akan terjadi proses peningkatan pH tanah. pH optimal menurut ilmu kimia tanah, adalah yang menciptakan kondisi optimum ketersediaan hara tanaman yaitu pH 6,5. Selain itu ada kadar factor yang mempengaruhi pH tanah yaitu : pencampuran bahan lain, komponen tanah dan pH suspensi air tanah. Berdasarkan data hasil percobaan dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil pH KCL (pH potensial) lebih rendah dari pada pH H2O (pH aktual), hal ini disebabkan karena KCL mendesak ion H+ dalam larutan tanah dan kompleks jerapan tanah, sedangkan H2O hanya mendesak ion H+ dalam jerapan tanah.

12

Hasil analisis kesuburan tanah baik fisik maupun kimia di laboratorium dapat dipergunakan sebagai salah satu dasar untuk menggambarkan kapsitas tanah dalm menyediakan unsur-unsur bagi tanaman. Dalam upaya perbaikan kesuburan kimia tanah, haruslah diperbaiaki reaksi tanah (pH), ketersediaan dan kesetimbangan hara dalam tanah, kebutuhan tanaman akan hara untuk mencapai produksi maksimal dan dosis serta cara pemberian pupuk, keadaan fisik dan aerasi tanah. Meskipun kesuburan tanah itu bersifat dinamis, yaitu unsur hara yang tersedia dipakai oleh tanaman, maka cadangan yang mula-mula tidak tersedia bagi tanaman akan selalu kembali kedalam bentuk yang tersedia, tetapi tingkat kesuburannya tidak selalu menunjukkan kemampuan untuk menyediakan unsur-unsur hara yang tersedia bagi tanaman dalam jumlah yang cukup. Ditinjau dari sudut kesuburan kimia, usaha peningkatan haisl melalui pemupukan relative lebih mudah jika disbanding dengan mengadakn usaha perbaikan sifat fisik tanah. Untuk itu diperlakukan analsisis kesuburan tanah dan penelitian untuk mendapatkan pupuk yang paling cocok. Kemasaman yang terukur pada pH aktual adalah ion H+ yang terdapat dalam larutan tanah, sedangkan pH potensial adalah ion H+ yang terukur selain dalam larutan tanah juga dalam kompleks jerapan tanah. Pada pengukuran pH aktual bahan pendesaknya adalah H2O dan pH potensial bahan pendesaknya KCL. Dalam hal ini KCL mampu melepaskan ion H+ didalam jerapan tanah menjadi H bebas. Sedangkan H2O tidak dapat membebaskan ion H+, sehingga pengukuran pH potensial jumlah H akan lebih rendah disbanding pH aktual. Adapun bila tanah dalam kondisi asam/terlalu basa, bisa dilakukan cara untuk menaikkan/menurunkan Ph tanah. Salah satunya adalah dengan pemberian pupuk, untuk itu perlu diperoleh hasil analisis kesuburan tanahnay dulu, karena tanpa hasil analisi kesuburan tanah tidak dapat diketahui pupuk yang cocok untuk tanah tersebut, apakah pupuk yang menggunakan tanah bahan amelioran asam (menurunkan pH) atau amelioran kapur (menaikkan pH). Al-dd Tanah Berdasarkan hasil yang didapat dari praktikum ini mengenai penetapan kadar Al-dd dari tanah sampel dapat menganalisis penetapan Al-dd dengan menggunakan alat yang tersedia di laboratorium dan dengan menambahkan 10 ml 4% NaF timbul kembali warna merah muda yang menandakan bahwa tanah sampel yang di analisis mengandung 2 me Al-dd.
13

Al-dd merupakan unsur yang sering dijumpai dalam tanah dan sangat menentukan kualitas tanah, karena ketersediaan unsur ini berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan tanaman dengan cara berinteraksi meracuni perakaran, khususnya tanah masam yang erat hubungannya dengan persentase ion H+ dan Al3+ yang dipertukarkan karena Aluminium merupakan sumber keasaman yang sangat penting. Dengan persentase Al-dd yang tinggi berarti menunjukkan tingkat kemasaman suatu jenis tanah. Semakin masam suatu tanah, berarti pHnya menurun sehingga ketersediaan unsur hara dalam tanah semakin menurun karena kemampuan unsur Al untuk mengikat unsure P membentuk Al-P yang tidak tersedia dan tidak dapat diserap oleh akar tanaman. Salah satu upaya yang ditempuh dalam upaya meningkatkan dan memperbaiki lahan masam adalah dengan menurunkan keasaman dan meningkatkan kejenuhan basa yang diperoleh dengan pemberian kapur. Kapur merupakan salah satu bahan mineral yang dihasilkan melalui proses pelapukan dan pelarutan dari batu-batuan yang terdapat dari dalam tanah. Mineral utama penyusun kapur adalah kalsit dan dolomit yang tergolong dalam mineral sekunder. Kapur menurut susunan kimia adalah CaO, tetapi istilah kapur adalah senyawa bentuk karbonat kapur dengan CaCO3 dan MgCO3 sebagai komponen utarna. Bentuk oksidanya yaitu CaO, dapat dihasilkan dengan memanaskan kalsium karbonat dan menghilangkan karbondioksidanya. Bentuk hidroksidanya dapat terbentuk dengan membasahi atau menambahkan air pada bentuk oksidanya. Tanah masam umumnya tidak produktif. Untuk meningkatkan produktifitas tanah tersebut, pemberian kapur adalah cara yang tepat. Beberapa keuntungan dari pengapuran adalah : 1) fosfat menjadi lebih tersedia, 2) kalium menjadi lebih efisien dalam unsur hara tanaman, 3) struktur tanahnya menjadi baik dan kehidupan organisme dalam tanah lebih giat, 4) menambah Ca dan Mg bila yang digunakan adalah dolomin, dan 5) kelarutan zat-zat yang sifatnya meracun tanaman menjadi menurun dan unsur lain tidak banyak terbuang. Dari hasil yang didapat, untuk mengendapkan Al 2 me maka diperlukan kapur sebanyak 0, 15 gram CaCO3.

14

4.2.2. Analisis Tanaman - Kadar Air Tanaman Dari hasil praktikum, diperoleh kadar air tanaman sekitar 109, 64%. Hal ini menunjukkan kadar air pada pelepah daun dalam jumlah tinggi. Faktor-faktor yang menyebabkan tingginya kadar air pada pelepah daun ini adalah karena tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang rakus air sehingga organ tanaman kelapa sawit juga kaya akan kadar air. Selain itu, tanaman kelapa sawit pada saat itu belum mengalami penguapan sehingga kadar air yang dikandung pelepah daun masih dalam jumlah banyak. Tingginya kandungan air ini berpengaruh terhadap proses-proses kimia pada pelepah daun, seperti proses fotosintesis.

15

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pH KCl lebih rendah dari pada pH H2O dimana pH KCl adalah 4.40 dan pH H2O adalah 4.80 ini disebabkan oleh K+ pada KCl mampu mengusir H+ dan Al3+dalam kompleks jerapan ke larutan tanah, sehingga H+ berada pada larutan tanah menyebabkan tanah menjadi masam. Kandungan Al-dd pada tanah inceptisol adalah 2 me Aldd/5 g. Kadar air tanah diperoleh 23.46% itu dipengaruhi oleh air hujan yang tertampung di tanah sudah sempat merembes ke lapisan tanah paling bawah, dan kadar air tanaman adalah 109.64%.

5.2 Saran Sebelum melakukan pengukuran pH sebaiknya atur terlebih dahulu suhu larutan yang akan diukur karena pada suhu yang berbeda pH juga bisa berbeda. Kemudian sebaiknya pada saat pengukuran pH itu dilakuakan satu orang saja supaya CO2 tidak terdifusi kelarutan yang diukur dimana CO2 dapat membentuk asam karbonat yang dapat mengakibatkan pH menurun. Alangkah lebih baik jika alat dan bahan lebih dilengkapi di Laboratorium supaya praktikum dapat dilaksanakan lebih maksimal terutama pada saat analisis tanaman.

16

DAFTAR PUSTAKA

Hakim Nurhajati, Nyakpa Yusuf, Lubis, Nugroho Gani, Saul Rusdi, Diha Amin, Hong Ban Go, Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Palembang. Universitas Lampung. Hanafiah Ali Kemas. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarata. Nyakpa Yusuf, Lubis, Pulung Anwar, Amrah Gaffar, Manawar All, Hong Ban Go, Hakim Nurhajati. 1988. Kesuburan Tanah. Universitas Lampung. Palembang. Hardjwigeno, Sarwono. 1993. Klasifikasi Tanha dan Pedogenesis Edisi 1. Akademika Pesindo. Jakarta. Resman, Syamsul A Siradz Dan Bambang H Sunarminto. 2006. Kajian Beberapa Sifat Kimia Inceptisol Pada Toposekuen Lereng Selatan Gunung Merapi Kabupaten Sleman. Pertanian UGM. Jakarta. Wambeke, A. V. 1992. Soil Of The Tropics. Departemen of Soil, Crop and Atmosferic Sciences. Cornel Univ. Ithaka New York.

17

LAMPIRAN

a. Perhitungan Kadar Air Tanah KA Tanah =

BB BK 100% BK

10 g 8,1g 100% 8,1g 18,1g 100% 8,1 23,46%

b. Perhitungan Kandungan Al-dd me Al-dd/100 g = ml HCl X N HCl X 40 = 0,5 X 0,1 X 40 = 2 me Al-dd/100 g

Kebutuhan Kapur

= 1,5 X Al-dd = 1,5 X 2 me = 3 me CaCO3/100 g = 3 X 50 mg CaCO3/100 g = 150 mg CaCO3/100 g = 0,15 g CaCO3/100 g

c. Perhitungan Kadar Air Tanaman KA Tanaman =

BB BK 100% BK

10 g 4,77 g 100% 4,77 g 14,77 g 100% 4,77 109,64%

18

19