Anda di halaman 1dari 23

Asuhan Kebidanan Patologi

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Persalinan normal suatu keadaan fisiologis, normal dapat berlangsung
sendiri tanpa intervensi penolong. Kelancaran persalinan tergantung 3 faktor ”P”
utama yaitu kekuatan ibu (power), keadaan jalan lahir (passage) dan keadaan janin
(passanger). Faktor lainnya adalah psikologi ibu (respon ibu ), penolong saat
bersalin, dan posisi ibu saat persalinan. Dengan adanya keseimbangan atau
kesesuaian antara faktor-faktor "P" tersebut, persalinan normal diharapkan dapat
berlangsung. Bila ada gangguan pada satu atau lebih faktor “P” ini, dapat terjadi
kesulitan atau gangguan pada jalannya persalinan. Kelambatan atau kesulitan
persalinan ini disebut distosia.
Salah satu penyebab dari distosia karena adalah kelainan jalan lahir lunak
seperti vulva, vagina, serviks dan uterus. Distosia berpengaruh buruk bagi ibu
maupun janin. Pengenalan dini dan penanganan tepat akan menentukan prognosis
ibu dan janin.

1. 2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Mengetahui penyebab distosia pada persalinan karena kelainan jalan lahir
lunak.
2. Mengetahui apa saja kelainan jalan lahir lunak yang menyebabkan distosia
pada persalinan.
3. Mengetahui apa saja peran bidan dalam menangani distosia karena
kelainan jalan lahir.

BAB II

1
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

ISI
2. 1 Definisi
Distosia didefinisikan sebagai persalinan yang panjang, sulit, atau abnormal
yang timbul akibat berbagai kondisi yang berhubungan dengan 5 faktor
persalinan. Setiap keadaan berikut keadaan berikut dapat menyebabkan distosia :
1. persalinan disfungsional akibat kontraksi uterus yang tidak efektif atau
akibat upaya mengedan ibu ( Kekuatan/ Power )
2. perubahan struktur pelvis (jalan lahir/ passage )
3. sebab- sebab pada janin, meliputi kelainan presentasi maupun kelainan
posisi, bayi besar dan jumlah bayi ( passanger )
4. posisi ibu selama persalinan dan melahirkan
5. Respon psikologis ibu selama persalinan yang berhubungan dengan
pengalaman, persiapan, budaya dan warisannya, serta sistem pendukung.
Kelima faktor ini bersifat interdependen. Dalam mengkaji pola persalinan
abnormal wanita, seorang bidan mempertimbangkan interaksi kelima faktor ini
dan bagaimana kelima faktor tersebut mempengaruhi proses persalinan. Distosia
diduga terjadi jika kecepatan dilatasi serviks, penurunan dan pengeluaran
(ekspulsi) janin tidak menunjukan kemajuan, atau jika karakteristik kontraksi
uterus menunjukan perubahan.

2. 2 Distosia Karena Kelainan Vulva dan Vagina


1. Atresia vulva
Atresia vulva (tertutupnya vulva) ada yang bawaan dan ada yang diperoleh
misalnya karena radang atau trauma. Atresia yang sempurna menyebabkan
kemandulan dan yang menyebabkan distosia hanya atresia yang inkomplit.
2. Edema vulva
Edema bisa timbul pada waktu kehamilan. Biasanya sebagai gejala pre-
eklamsi akan tetapi dapat pula timbul karena sebab lain misalnya
gangguan gizi atau malnutrisi atau pada persalinan yang lama. Edema
dapat juga terjadi pada persalinan dengan dispoporsi sefalopelvik atau
wanita mengejan terlampau lama (terus menerus), sedangkan kepala
belum cukup turun. Hal itu mempersulit pemeriksaan dalam dan

2
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

menghambat kemajuan persalinan yang akhirnya dapat menimbulakn


kerusakan luas pada jalan lahir. Kelainan ini umumnya jarang merupakan
rintangan bagi kelahiran pervaginam.

Edema vulva

3. Stenosis vulva
Stenosis pada vulva biasanya terjadi sebagai akibat perlukaan dan radang,
yang menyebabkan ulkus-ulkus dan yang sembuh dengan parut-parut
dapat menimbulkan kesulitan, walaupun umumnya dapat diatasi dengan
melakukan episiotomi yang cukup luas agar persalinan berjalan lancar.
Penanganannya dengan melakukan sayatan median secukupnya untuk
melahirkan kepala janin
4. Tumor vulva
Dapat berupa abses bartholini atau kista atau suatu kondilomata, tetapi
apabila tidak terlalu besar tidak akan menghalangi persalinan.
Kista kelenjar bartholin
Kista kelenjar bartholin merupakan bentuk radang menahun kelenjar
bartholin. Abses kelenjar bartholin diserap isinya, sehingga tinggal
kantung yang mengandung cairan yang disebut kista bartholin. Pengobatan
kista bartholin adalah dengan mengangkat seluruh kista dan marsivialisasi.
Operasi ini memerlukan keahlian sehingga perlu dilakukan di rumah sakit.
3
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

Bidan dilapangan yang menemukan kista bartholin perlu merujuk ke


rumah sakit sehingga mendapat pengobatan sebagaimana mestinya.

Tumor Vulva
5. Stenosis vagina kongenital
Stenosis vagina kogenital jarang terjadi. Lebih sering ditemukan septum
vagina yang memisahkan vagina secara lengkap atau tidak lengkap dalam
bagian kiri dan bagian kanan. Septum lengkap adalah septum yang
terbentang dalam seluruh vagina dari serviks sampai introitus vagina.
Septum yang lengkap sangat jarang mengalami distosia, karena separuh
vagina yang harus dilewati oleh janin biasanya cukup melebar baik untuk
coitus maupun untuk lahirnya janin. Akan tetapi septum yang tidak
lengkap kadang- kadang menghambat turunnya kepala janin pada
persalinan dan harus dipotong terlebih dahulu. Stenosis dapat terjadi
karena parut-parut akibat perlukaan dan radang. Pada stenosis vagina yang
tetap kaku dalam kehamilan dan merupakan halangan untuk lahirnya janin,
perlu dipertimbangkan seksio sesaria.

4
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

Stenosis vagina kongenital


6. Kista vagina
Kista vagina berasal dari duktus Gartner atau duktus Muller, biasanya
berukuran kecil dan dapat menjadi besar sehingga bukan saja mengganggu
coitus namun bisa juga menyulitkan persalinan. Letaknya lateral dalam
vagina bagian proksimal, ditengah, distal dibawah orificium uretra
eksternum. Isi kista adalah cairan jernih dan dindingnya ada yang sangat
tipis ada pula yang agak tebal. Wanita tidak mengalami kesulitan waktu
coitus dan persalinan, karena jarang sekali kista ini demikian besarnya
sehingga menghambat turunnya kepala dan perlu di punksi, atau pecah
akibat tekanan kepala. Bila kecil dan tidak ada keluhan dibiarkan tapi bila
besar dilakukan pembedahan. Marsupialisasi sebaiknya 3 bulan setelah
lahir.(Ilmu kebidanan, 2005)
Penanganan dalam kehamilan muda adalah di ekstirpasi setelah
kehamilan 3-4 bulan. Dalam persalinan yaitu jika kista berukuran kecil
5
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

maka tidak akan menghalangi turunya kepala dan tidak mengganggu


persalinan. Setelah 3 bulan pasca persalinan dilakukan ekstirpasi tumor.
Bila besar dan menghalangi turunnya kepala, untuk mengecilkannya
dilakukan aspirasi cairan tumor. (Sinopsis Obstetri Jilid 1,1998)
Adakalanya pada kista terjadi peradangan, bahkan dapat pula
terjadi abses. Biasanya abses akan pecah spontan bila ukuranya sudah
besar. Apabila tidak, maka perlu dilakukan insisi. Terapi kista vagina pada
umumnya tergantung pada besarnya, tempatnya dan saat ditemukannya.
Kista kecil yang tidak melebihi buah duku biasanya tidak diketahui oleh
penderita dan tidak perlu penanganan. Akan tetapi, kista yang besar dan
disadari oleh wanita atau apabila disertai keluhan sebaiknya diangkat. Saat
yang paling baik untuk pembedahan adalah diluar kehamilan. Dalam
kehamilan tua atau apabila kista baru pertama kali diketahui sewaktu
wanita dalam persalinan sikap konservatif lebih baik.
7. Tumor vagina
Tumor vagina dapat merupakan rintangan bagi lahirnya janin pervaginam.
Berupa kista gardner yang kalau besar dapat menghalangi jalannya
persalinan. Adanya tumor vagina bisa pula menyebabkan persalinan
pervaginam dianggap mengandung terlalu banyak resiko. Tergantung dari
jenis dan besarnya tumor, perlu dipertimbangkan apakah persalinan dapat
berlangsung pervaginam atau harus diselesaikan dengan seksio cesarea.

Peran bidan secara umum dalam menangani kelainan jalan lahir pada
vagina dan vulva yang menyebabkan distosia :
1. Melakukan anamnesa yang lengkap

2. Melakukan pemeriksaan fisik secara cermat dan menyeluruh

3. Pada saat kehamilan bidan melakukan ANC yang berkualitas untuk


melakukan deteksi dini sehingga bila ditemukan adanya kelainan pada
vulva atau vagina, bidan bisa langsung merujuk ke tempat pelayanan
kesehatan yang memiliki fasilitas memadai.
4. Pada saat persalinan, bidan memberikan asuhan persalinan kala I sesuai
dengan standar asuhan kebidanan:
6
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

a. Melakukan pengkajian keadaan umum ibu dan janin ( TTV,


His, DJJ, PD), bila saat melakukan pengkajian terdapat
kelainan pada ibu dan janin, maka bidan harus segera merujuk
ke tempat pelayanan kesehatan yang lebih lengkap
b. Memenuhi kebutuhan hidrasi, nutrisi, dan eliminasi

c. Mengajarkan ibu teknik relaksasi

d. Memberitahukan ibu kapan ibu harus mengedan, yaitu saat


pembukaan sudah lengkap dan bila terdapat his
e. Melakukan pengawasan persalinan dengan menggunakan
partograf
5. Melakukan kolaborasi dan rujukan bila terdapat kelainan

2. 3 Distosia Karena Kelainan Serviks


Distosia serviks adalah terhalangnya kemajuan persalinan karena kelainan pada
serviks uteri. Walaupun his normal dan baik, kadang-kadang pembukaan serviks
macet karena ada kelainan yang menyebabkan serviks tidak mau membuka.
Ada 4 jenis kelainan pada serviks uteri, yaitu:
1. Serviks kaku (rigid cervix = cervical rigidity).
Adalah suatu keadaan dimana seluruh serviks kaku. Keadaan ini sering
dijumpai pada primigravida tua, atau karena adanya parut-parut bekas luka
atau bekas luka infeksi atau pada karsinoma serviksis
kejang atau kaku serviks dibagi 2 :
a. Primer
karena takut atau pada primi gravida tua
b. Sekunder
karena bekas luka-luka tau infeksi yang sembuh dan meninggalkan
luka parut
Diagnosis
Diagnosis distosia persalinan karena serviks kaku dibuat bila terdapat his yang
baik dan normal pada kala I disetai pembukaan, dan setelah dilakukan beberapa
kali pemeriksaan dalam waktu tertentu. Juga pada pemeriksaan terasa serviks
tegang dan kaku.

7
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

Penanganan:
Bila setelah pemberian obat-obatan seperti valium dan petidin tidak merubah
kekauan, tindakan kita melakukan seksio sesaria
2. Serviks gantung (hanging cervix)
Adalah suatu keadaan dimana ostium uteri eksternum dapat terbuka lebar,
sedangkan ostium uteri internum tidak mau membuka. Serviks akan
tergantung seperti corong. Bila dalam observasi keadaan tetap dan tidak ada
kemajuan berkembang pembukaan ostium eksternum, maka pertolongan yang
tepat adalah dengan seksio sesaria.

Serviks gantung (hanging cervix)

3. Serviks konglumer (conglumeratio cervix)


Adalah suatu keadaan dimana ostium uteri internum dapat terbuka sampai
lengkap, sedangkan ostium uteri eksternum tidak mau terbuka.
Keadaan ini sering dijumpai pada ibu hamil dengan prolaps uteri disertai
servik dan porposi yang panjang (elongation services at portionis). Dalam hal
ini servik menjadi tipis, namun ostium uteri eksternum tidak membuka atau
hanya terbuka 5 cm.

8
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

Serviks konglumer (conglumeratio cervix)

Penanganan
Penanganan tergantung pada keadaan turunnya kepala janin:
a. Coba lebarkan pembukaan ostium uteri eksternum secara digital atau
memakai dilatator
b. Bila hal-hal diatas tidak berhasil atau tidak mungkin sebaiknya dilakukan
seksio sesarea.

4. Edema serviks
Bila dijumpai edema yang hebat pada serviks dan disertai hematoma serta
nekrosis, maka ini merupakan tanda adanya obstruksi. Bila syarat-syarat
untuk ekstraksi vakum atau forsep tidak dipenuhi, lakukan seksio sesaria.

Diagnosa distosia serviks


• Dapat ditemukan melalui inspeksi atau sewaktu pemeriksaan bimanual
• His baik tetapi pembukaan serviks tidak bertambah.
• Pemeriksaan dilakukan 2-3 kali antara1-2 jam.

Peran bidan secara umum dalam menangani distosia karena kelainan serviks
adalah :
a. Melakukan anamnesa yang lengkap

b. Melakukan pemeriksaan fisik secara cermat dan menyeluruh

9
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

c. Pada saat kehamilan bidan melakukan ANC yang berkualitas. Pada kasus
ini, memang belum dapat dideteksi secara dini.
d. Pada saat persalinan,bidan memberikan asuhan persalinan kala I sesuai
dengan standar asuhan kebidanan:
• Melakukan pengkajian keadaan umum ibu dan janin ( TTV, His,
DJJ, PD), bila saat melakukan pengkajian terdapat kelainan pada
ibu dan janin, maka bidan harus segera merujuk ke tempat
pelayanan kesehatan yang lebih lengkap
• Memenuhi kebutuhan hidrasi, nutrisi, dan eliminasi

• Mengajarkan ibu teknik relaksasi

e. Melakukan pengawasan persalinan dengan menggunakan partograf

f. Melakukan kolaborasi dan rujukan bila terdapat kelainan.


2.4 Distosia Karena Kelainan Uterus
Uterus mempunyai peranan vital dalam proses reproduksi. Kelianan
uterus, baik yang bawaan maupun yang diperoleh, dapat mengganggu
lancarnya kehamilan dan persalinan.

2. 4. 1 Kelainan bawaan uterus


Uterus didelfis atau uterus dupleks separatus terjadi apabila kedua
saluran muller berkembang sendiri- sendiri tanpa penyatuan sedikitpun,
sehingga terdapat 2 korpus uteri, 2 serviks dan 2 vagina.
Uterus subseptus terdiri atas 1 korpus uteri dengna septum tidak
lengkap, 1 serviks dan 1 vagina ; kavum uteri kanan dan kiri terpisah secra
tidak lengkap. Pada uterus bikornis unikollis pemisahan korpus uteri sebelah
kanan dan sebelah kiri lebih jelas lagi; serviks uteri tetap menjadi satu.

10
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

Uterus arkuatus hanya mempunyai cekungan di fundus uteri.


Kelainan ini paling ringan sifatnya dan paling sering dijumpai.
Uterus bikornis unilateral rudimentarus terdiri atas 1 uterus dan
disampingnya terdapat tanduk lain yang sangat terbelakang perkembangnnya.
Uterus unikornis terdiri atas 1 uterus dan 1 serviks yang berkembang
dari 1 saluran Muller, kanan atau kiri. Saluran lain yang tidak berkembang
sama sekali. Sering kelainan ini disertai pula oleh tidak berkembangnya
saluran kencing secara unilateral.
Jalannya partus pada kelainan bawaan uterus umumnya kurang lancar,
karena his kurang baik. Mungkin fungsi uterus kurang baik karena
miometrium tidak normal akibat perkembangan uterus yang tidak wajar. Kala
pembukaan berlangsung lama dengan segala akibat yang kurang baik bagi ibu
dan anak. Kelainan letak terutama letak lintang pada uterus arkuatus dan
uterus subseptus, menyebabkan resiko bagi ibu dan anak lebih tinggi.
Biasanya indikasi seksio sesaria baru timbul apabila partus sudah berlangsung,
kecuali apabila kelainan bawaan uterus yang dianggap tidak memungkinkan
partus pervaginam dengan cukup aman diketahui sebelumnya, misalnya
dengan histerogram.

11
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

Kelainan Bawaan Uterus

Diagnosis
Untuk membuat diagnosis kadang- kadang mudah juga sukar. Anamnesis
abortus habitualis dan beberapa partus prematurus bersama- sama dengan
histerogram membantu ke arah diagnosis yang tepat. Sayang sekali banyak
diagnosis baru dapat dibuat pada waktu partus, saat plasenta dikeluarkan
secara manual atau ketika seksio sesarea. Diagnosis yang pasti hanya mungkin
dengan histerografi atau dengan USG.

Penanganan

12
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

Apabila kehamilan mencapai 36 minggu atau lebih dan persalinannya


berlangsung lancar, maka partus spontan dapat diharapkan. Jikalau ada
indikasi, maka partus diakhiri dalam kala II.
Bidan melakukan kolaborasi dan rujukan dalam menangani hal ini.
Apabila partus tidak maju setelah ibu diberikan uterotonika, sebaiknya
dilakukan seksio sesarea.

Prognosis
Seperti telah disebut di atas prognosis baik pada kelainan bawaan uterus yang
ringan. Partus prematurus terjadi 2- 3 kali lebih sering, disertai angka
kematian perinatal antara 15- 30 %. Frekuensi abortus sangat tinggi.

2. 4. 2 Kelainan Letak Uterus


Uterus yang hamil tua letaknya tidak di tengah, akan tetapi biasanya membengkok
dengan sumbunya ke kanan (lateroflexiodextra ). Hal ini tidak disertai gejala-
gejala klinis.

Anteversio Uteri
Kelainan letak uterus ke depan dijumpai pada perut gantung (abdomen pendulum)
dan setelah operasi ventrofiksasio.
Perut gantung terdapat pada multipara karena melemahnya dinding perut,
terutama multipara yang gemuk. Uterus membengkok ke depan sedemikian rupa,
sehingga letak fundus uteri dapat lebih rendah daripada simfisis. Wanita mengeluh
tentang rasa nyeri di perut bawah dan pinggang bawah, menderita intertrigo di
lipatan kulit, dan kadang- kadang varises atau edema di vulva. Selain itu perut
gantung menghalangi masuknya kepala kedalam panggul, sehingga sering terjadi
kelainan letak anak, seperti letak sungsang dan letak lintang. Dalam persalinan
kala 1 pembukaan serviks kurang lancar karena tenaga his salah arah, serviks
terdorong ke sakrum. Karena sumbu uterus tidak sesuai dengan sumbu jalan lahir,
maka bagian janin terendah masih tinggi tidak mungkin memasuki pintu atas
panggul, dan bagian terendah yang sebagian sudah melewati pintu atas panggul
terdorong ke arah promontorium atau sakrum, sehingga sulit untuk turun lebih

13
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

lanjut. Akan tetapi, sekali bagian terendah itu masuk di dalam panggul, persalinan
selanjutnya akan berlangsung dengan lancar.
Pemakaian ikat perut yang kencang, seperti korset dan angkin atau
bengkung, sehingga perut bawah kosong, dapat mengurangi penderitaan.
Menjelang persalinan wanita disuruh tidur terlentang terus menerus untuk
memperbesar kemungkinan masuknya kepala kedalam panggul dan mencegah
terjadinya kelainan letak janin pada saat- saat terakhir kehamilan. Karena perut
gantung menyebabkan banyak kesulitan dalam persalinan, maka pimpinan partus
harus mendapat perhatian khusus. Setiap ada his, fundus uteri didorong ke atas
supaya tenaga his terarah lebih baik sampai bagian terendah masuk betul di dalam
panggul. Kelemahan dinding perut menyebabkan tenaga meneran kurang
sempurna, sehingga partus kala II perlu diakhiri dengan forseps atau ekstraktor
vakum.
Ventrofiksasio untuk memperbaiki retrofleksi uteri untuk sekarang sudah
tidak dilakukan lagi, karena wanita yang menjadi hamil setelah pembedahan itu
mengalami banyak kesulitan, baik dalam kehamilan maupun persalinan. Bagian
uterus yang melekat pada dinding depat uterus dan bagian dibawahnya tidak
mengikuti perkembangan membesarnya rahim, sehingga uterus bagian atas
diregangkan lebih dari pada biasa, serviks ditarik keatas, sehingga kadang-
kadang portio letaknnya lebih tinggi dari pada promontorium. Sering terjadi
ketuban pecah dini dan kepala tidak turun. Ruptur uteri merupakan bahaya yang
mengancam apabila persalinan tidak lekas diakhiri dengan SC.

Anteversio Uteri

Retrofleksio Uteri
14
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

Retrofleksio uteri tidak selalu menyebabkan keluhan. Kadang- kadang


menyebabkan kemandulan, karena kedua tuba tertekuk atau terlipat, sehingga
patensi kurang juga karena ostium uteri eksternum tidak tetap bersentuhan dengan
air mani sewaktu dan setelah persetubuhan . Apabila wanita menjadi hamil,
biasanya kopus uteri naik ke atas sehingga lekukan uterus berkurang. Selanjutnya
uterus yang hamil lebih tua keluar dari panggul dan kehamilan berlangsung terus
sampai cukup bulan. Kadang- kadang hal itu tidak terjadi dan uterus gravidus
yang bertumbuh terus pada sewaktu- waktu terkurung dalam ronga panggul
(retrofleksio uteri gravidi inkarserata ). Terkurungnya uterus dapat disebabkna
oleh uterus yang tertahan oleh perlekatan- perlekatan atau oleh sebab lainya yang
tidak diketahui.

Retrofleksio Uteri

Keluhan muncul pada kehamilan diatas 16 minggu, dimana uterus hamil


mengisi rongga panggul. Portio tertarik ke atas dan leher uretra ikut tertarik.
Kemudian uterus yang menjadi lebih besar menekan urethra pada sympisis dan
rektum pada sakrum. Dengan demikian dapat diterangkan gejala- gejala kelainan
miksi dan defekasi, seperti retensio urin, iskuria, paradoksa (air kencing menetes
dengan kandung kencing penuh ), dan kadang- kadang retensio alvi. Diagnosis
biasanya tidak sulit, apalagi jika wanita hamil 16 minggu mengeluh tentang
iskuria paradoksa. Satu- satunya kesalahan yang dapat dibuat adalah apabila
kandung kencing yang penuh dan tegang disangka uterus gravidus.

Terdapat empat kemungkinan dari kehamilan :

15
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

a. Koreksi spontan : dimana pada kehamilan 3 bulan korpus dan


fundus naik masuk kedalam rongga perut.
b. Abortus : hasil konsepsi terhenti berkembang dan keluar, karena
sirkulasi terganggu. Adanya gangguan sirkulasi dalam uterus dan
panggul dengan peredaran kedalam decidua.
c. Koreksi tidak sempurna : dimana bagian yang melekat tetap
tertinggal, sedangkan bagian uterus yang hamil naik masuk
kedalam rongga perut disebut retrofleksi uteri gravidi partialis.
Kehamilan dapat mencapai cukup bulan, atau dapat terjadi abortus,
partus prematurus, terjadinya kesalah letak, dan bersalin biasa.
d. RUGI (Retrofleksio Uteri Gravidi Inkarserata)

Penanganan bila tidak terjadi perlekatan dapat dilakukan :


1. Posisi digital jika perlu dalam narkose
2. Koreksi dengan posisi genu-pektoral selama 3x15 perhari atau
langsung koreksi melalui vagina dengan 2 jari mendorong
korpus uteri kearah atas keluar rongga atas panggul.
3. Posisi trendelenberg dan istirahat.
4. Reposisi operatif.
Inkarserasi uterus didalam panggul jarang terjadi, akan tetapi
bila terjadi akan menimbulkan gejala-gejala yang nyata, dengan
atau tanpa kateterisasi dapat terjadi sistitis, bahkan inkarserasi
dapat menyebabkan perdarahan dan gangren kandung kencing.
Terapi RUGI biasanya tidak sulit, asal saja keadaan itu tidak
disebabkan oleh perlekatan. Setelah kateterisasi wanita
diletakkan dalam posisi lutu-bahu: dengan 2 jari melalui
vagina, korpus uteri didorong perlahan-lahan ke luar rongga
panggul. Setelah koreksi wanita ditidurkan dalam letak
trendelenberg untuk mencegah kembalinya uterus kedalam
panggul. Kadang-kadang uterus kembali kedalam posisi
semula, sehingga menyebabkan keluhan lagi. Dalam hal
demikian kateterisasi dan reposisi perlu diulang dan dipasang
16
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

pessarium atau tampon vaginam yang mengisi seluruh pelvis


minor. Setelah 2-4 hari uterus telah menjadi lebih besar dan
apabila tampon diangkat, maka uterus tidak bisa masuk lagi
kedalam rongga panggul. Jarang sekali sampai diperlukan
penarikan serviks kebawah dengan cunam serviks dalam usaha
reposisi. Dalam hal ini diperlukan anastesi.

Prolapsus Uteri
Turunnya uterus dari tempat yang biasa disebut desensus uteri dan
ini dibagi dalam tiga tingkat :
Tingkat I
Apabila serviks belum keluar dari vulva
Tingkat II
Apabila serviks sudah keluar dari vulva, akan tetapi korpus uteri
belum keluar.
Tingkat III
Apabila korpus uteri sudah berada diluar vulva.
Kehamilan dapat terjadi pada prolapsus uteri tingkat I dan II
dengan lanjutnya kehamilan korpus uteri naik keatas dan bersama dengan
itu serviks tertarik pula ke atas. Apabila uterus yang makin lama makin
besar tetap di dalam panggul pada suatu waktu timbul gejala- gejala :
1. Inkarserasi dalam kehamilan 16 minggu dan kehamilan akan
berakhir dengan keguguran.
2. Kehamilan dapat berlangsung sampai aterm
3. Persalinan dapat berjalan dengan lancar namun sesekali terjadi
kesulitan pada kala I dan kala II yaitu pembukaan berjalan pelan
dan tidak sampai lengkap. Bila ada indikasi penyelesaian dapat
dikerjakan insisi Duhrssen dan janin dilahirkan dengan ekstraksi
vakum dan forseps.

17
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

4. Koreksi prolaps dengan jalan operasi dilakukan setelah tiga bulan


melahirkan.
2. 4. 3 Tumor Rahim
• Mioma Uteri dan Kehamilan
Frekuensi mioma uteri sekitar 1%, biasanya dijumpai mioma yang kecil,
namun bisa juga dengan mioma yang besar.
a. Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma uteri:
1. Cepat bertambah besar, mungkin karena pengaruh hormon
estrogen yang meningkat dalam kehamilan.
Tumor tumbuh lebih cepat dalam kehamilan akibat
hipertropi dan edema, terutama dalam bulan-bulan pertama
(pengaruh hormonal). Setelah kehamilan 4 bulan tumor
tidak bertambah besar lagi.
2. Degenerasi merah dan degenerasi karnosa tumor tejadi
lebih lunak, berubah bentuk,dan berwarna merah. Bila
terjadi gangguan sirkulasi sehingga terjadi perdarahan.
Perubahan ini menyebabkan rasa nyeri diperut yang disertai
gejala-gejala rangsangan peritoneum dan gejala-gejala
peradangan.
3. Mioma subserosum yang bertangkai oleh desakan uterus
yang membesar atau setelah bayi lahir, terjadi torsi
(terpelintir) pada tangkainya, yang menyebabkan gangguan
sirkulasi dan nekrosis pada tumor. Wanita hamil merasakan
nyeri yang hebat pada perut (abdomen akut).
4. Mioma yang lokasinya dibelakang, dapat terdesak kedalam
kavum douglas dan terjadi inkarserasi.
b. Pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan:
1. Subfertil (agak mandul) sampai (mandul), dan kadang-kadang
hanya punya anak satu
2. Sering terjadi abortus
3. Terjadi kehamilan letah janin dalam rahim
4. Distosia tumor yang menghalangi jalan lahir
18
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

5. Inersia uteri kala I dan kala II


6. Atonia uteri setelah pasca persalinan, perdarahan banyak
7. Kelainan letak plasenta
8. Plasenta sukar lepas (retensio plasenta)

Mioma
Diagnosis
Diagnosis mioma uteri dalam kehamilan biasanya tidak sulit, walaupun kadang-
kadang dibuat kesalahan. Terutama kehamilan kembar, tumor ovarium, dan uterus
didelfis dapat menyesatkan diagnosis. Ada kalanya mioma besar teraba seperti
kepala janin, sehingga kehamilan tunggal disangka kehamilan kembar; atau
mioma kecil disangka bagian kecil janin. Dalam persalinan mioma lebih menonjol
waktu ada his sehingga mudah dikenal.

Penanganan
– Pada umumnya bersifat konservatif, kecuali bila ada indikasi yang
mendesak seperti terjadinya abdomen akut karena torsi pada tangkai tumor

19
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

– Pada distosia karena mioma dilakukan seksio cesaria


– Bila partus berjalan biasa, mioma didiamkan selama masa nifas kecuali
ada indikasi akut abdomen.
– Operasi pengangkatan tumor secepatnya dilakukan setelah 3 bulan pasca
persalinan.
– Mioma yang tidak begitu besar, kadang- kadang dalam masa nifas akan
mengecil sendiri sehingga tidak memerulukan tindakan operatif.

Kelainan lain pada jalan lahir lunak yang mengganggu persalinan


○ Tumor jalan lahir lunak, seperti kista vagina, polip serviks, mioma
uteri, kista ovari dan sebagainya
○ Kandung kemih yang penuh atau batu kandung kemih yang besar
○ Rectum yang skibala atau tumor
○ Kelainan letak serviks, seperti dijumpai pada multipara dengan perut
gantung
○ Ginjal yang turun kedalam rongga pelvis
○ Kelainan-kelainan bentuk uterus, seperti uterus bikornis, uterus septus,
uterus arkuatus, dan sebagainya.
○ Dasar panggul atau perineum yang ketat dan tegang dan tidak elastis,
penanganannya dengan melakukan episiotomi.
Peran bidan dalam menangani distosia karena kelainan uterus adalah :
a. Melakukan anamnesa yang lengkap
b. Melakukan pemeriksaan fisik secara cermat dan menyeluruh. Bila dalam
pemeriksaan abdomen, saat terjadi his dapat terlihat adanya penonjolan
yang jelas (pada kasus myoma), ditemukan pembesaran uterus diukur
melalui TFU lebih besar dari usia kehamilan, saat dipalpasi ibu merasakan
sakit.
c. Pada saat kehamilan bidan melakukan ANC yang berkualitas untuk
melakukan deteksi dini sehingga bila ditemukan adanya kelainan pada
uterus,bidan bisa langsung merujuk ke tempat pelayanan kesehatan yang
memiliki fasilitas memadai.

20
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

d. Pada saat persalinan, bidan memberikan asuhan persalinan kala I sesuai


dengan standar asuhan kebidanan:
• Melakukan pengkajian keadaan umum ibu dan janin ( TTV, His, DJJ, PD),
bila saat melakukan pengkajian terdapat kelainan pada ibu dan janin,
maka bidan harus segera merujuk ke tempat pelayanan kesehatan
yang lebih lengkap

• Memenuhi kebutuhan hidrasi, nutrisi, dan eliminasi

• Mengajarkan ibu teknik relaksasi


e. Melakukan pengawasan persalinan dengan menggunakan partograf
f. Melakukan kolaborasi dan rujukan bila terdapat kelainan.
1. 5 Penanganan dan tindakan segera
2. 5. 1 Polindes
Bidan yang bekerja di Polindes yang mempunyai wilayah
kerja di desa, mempunyai tugas untuk mendeteksi dini komplikasi dan
penyulit yang akan terjadi pada kehamilan ataupun pada persalinan
persalinan terutama adanya penyulit pada jalan lahir yang akan menghambat
proses jalannya persalinan. Dengan demikian bidan dapat segera
menentukan diagnosa dan tindakan segera yang harus dilakukan agar tidak
ada keterlambatan dalam merujuk ke fasilitas yang lebih lengkap. Di
Polindes tersebut bidan dapat memberikan pelayanan berupa mendeteksi
secara dini kemungkinan penyulit- penyulit yang akan terjadi melalui ANC
yang berkualitas. Dalam setiap kunjungan selalu melakukan pemeriksaan
fisik secara cermat, bila terdapat kelainan saat pemeriksaan bidan dapat
segera merujuk ke Puskesmas induk.

2. 5. 2 Puskesmas
Bidan yang bekerja di puskesmas mempunyai wilayah kerja di suatu
kecamatan (Puskesmas). Pada dasarnya tugas bidan di Puskesmas dan
Polindes tidak jauh beda yaitu dapat mendeteksi dini dengan melakukan
pemeriksaan secara umum, menanyakan keluhan yang dialami dan dapat
segera menentukan diagnosa yang tepat untuk dapat merujuk bila
21
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

menemukan kelainan- kelainan yang mengganggu kehamilan dan persalinan.


Di puskemas, bidan bersama dokter umum dapat memberikan pelayanan yang
menyeluruh dan memberikan terapi yang tepat pada setiap pasien yang
membutuhkan perhatian khusus dan penanganan segera, serta merujuk ke
rumah sakit yang memiliki sarana yang komprehensif.

2. 5. 3 Rumah Sakit
Penanganan komplikasi dan penyulit pada persalinan yang dilakukan
di rumah sakit pada umumnya ditangani oleh dokter spesialis yang
sebelumnya ditangani oleh bidan sebagai tugas kolaborasi. Berbeda dengan
puskesmas dan polindes, tenaga kesehatan di rumah sakit lebih ahli dan
kompeten dalam menangani setiap kegawat daruratan yang terjadi. Peran
bidan mendeteksi secara dini akan terjadinya proses persalinan distosia,
melakukan pemeriksan secara menyeluruh dan melakukan evaluasi setiap
faktor yang mengalami kelainan fungsi sehinga persalinan yang berjalan
dengan abnormal dapat diketahui secara pasti, yaitu dengan :
1. Mengobservasi kondisi fisik dan kesejahteraan janin dengan cara
mamantau keadaan umum, TTV, dan DJJ.
2. Mengidentifikasi penyulit kelainan jalan lahir yang dapat berlangsung
melalui jalan lahir spontan atau melalui tindakan obstetrik.
3. Melakukan konsultasi atau segera dirujuk bila diperkirakan persalinan
akan mengalami kesulitan agar mendapatkan penanganan yang adekuat.
Bentuk intervensi dari luar yang dapat dipertimbangkan dalam proses persalinan
distosia adalah :
1. Menyelesaikan persalinan dengan tindakan operasi pervaginam :
– Persalinan dengan ekstraksi vakum atau ekstraksi forseps
– Pertolongan persalinan letak sungsang
2. Pertolongan persalinan dengan seksio cessarea
Upaya menyelesaikan pertolongan persalinan dengan intervensi diatas bukan
tugas bidan, sehingga setiap persalinan yang diduga akan mengalami kesulitan
sudah dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan dengan fasilitas yang mencukupi.

22
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak
Asuhan Kebidanan Patologi

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Persalinan tidak selalu berjalan lancar, terkadang ada kelambatan dan
kesulitan yang dinamakan distosia. Salah satu penyebab distosia itu adalah
kelainan pada jalan lahir. Kelainan jalan lahir dapat terjadi di vulva, vagina,
serviks dan uterus. Peran bidan dalam mengangani kasus ini adalah dengan
kolaborasi dan rujukan ke tempat pelayanan kesehatan yang memilki fasilitas
yang lengkap.

3. 2 Saran
Peran bidan dalam menangani kelainan jalan lahir hendaknya dapat
dideteksi secara dini melalui ANC yang berkualitas sehingga tidak ada
keterlambatan dalam merujuk. Dengan adanya ketepatan penanganan bidan yang
segera dan sesuai dengan kewenangan bidan, diharapkan akan menurunkan angka
kematian ibu dan bayi.

23
Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir Lunak