Anda di halaman 1dari 11

ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS PERSALINAN 1.

Caput Suksedaneum Caput Succedaneum adalah benjolan yang membulat disebabkan kepala tertekan leher rahim yang saat itu belum membuka penuh yang akan menghilang dalam waktu dua empat hari ( Prof. dr. Abdul Bari Saifuddin, SpOG MPH ) dan bahkan akan menghilang dalam satu dua hari. ( www.ayahbunda-online.com ). Kaput suksedaneum merupakan benjolan yang difus dikepala terletak pada presentasi kepala pada waktu bayi lahir. Kelainan ini timbul akibat tekanan yang keras pada kepala ketika memasuki jalan lahir hingga terjadi pembendungan sirkulasi-kapiler dan limfe disertai pengeluaran cairan tubuh ke jaringan ekstra vasa. Caput succedaneum adalah pembengkakan kulit kepala pada bayi yang baru lahir. Sebagian kulit kepala bayi terlihat bengkak, lembek dan mungkin berubah warna kemerahan atau memar. Hal ini paling seringkali disebabkan oleh tekanan dari rahim atau dinding vagina selama persalinan dengan kepala terlebih dulu (vertex). A caput succedaneum is an edema of the scalp at the neonates presenting part of the head. It often appears over the vertex of the newborns head as a result of pressure against the mothers cervix during labor. The edema in caput succedaneum crosses the suture lines. It may involve wide areas of the head or it may just be a size of a large egg Gambaran klinis: Benjolan kaput berisi cairan serum dan sering bercampur sedkit darah. Secara klinis benjolan ditemukan di daerah presentasi lahir, pada perabaan teraba benjolan lunak, berbatas tidak tegas, tidak berfluktuasi tetapi bersifat edema tekan. Kaput suksedaneum dapat terlihat segera setelah bayi lahir dan akan hilang sendiri dalam waktu dua sampai tiga hari umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Sebuah caput succedaneum lebih mungkin terbentuk selama persalinan berkepanjangan atau sulit. Hal ini terutama terjadi setelah kantung ketuban pecah, karena kantung ketuban tidak lagi menyediakan bantalan pelindung untuk kepala bayi. Ekstraksi vakum juga dapat meningkatkan kemungkinan caput succedaneum. Caput succedaneum kadang-kadang teridentifikasi dengan USG bahkan sebelum persalinan atau kelahiran dimulai. Lebih sering daripada tidak, kondisi ini terkait dengan kantung ketuban pecah dini atau terlalu sedikit cairan ketuban (oligohidramnion). Bila semua hal lain sama, semakin lama selaput utuh, semakin kecil kemungkinan terbentuknya caput.

Causes 1. Mechanical trauma of the initial portion of scalp pushing through a narrowed cervix 2. Prolonged or difficult delivery 3. Vacuum extraction The pressure (at birth) interferes with blood flow from the area causing a localized edema. The edematous area crosses the suture lines and is soft. Caput Succedaneum also occurs when a vacuum extractor is used. In this case, the caput corresponds to the area where the extractor is used to hasten the second stage of labor. Signs and Symptoms 1. 2. 3. Scalp swelling that extends across the midline and over suture lines Soft and puffy swelling of part of a scalp in a newborns head May be associated with increased molding of the head

4. The swelling may or may not have some degree of discoloration or bruising Perawatan : Perawatan kebidanan yang dilakukan adalah mengubah posisi bayi baru lahir dengan hati-hati pada sisi yang berlawanan dengan area yang terkena dan konsultasi dengan tim pediatri. ( Helen Varney dkk, 2007 )

Penatalaksanaan caput succedaneum adalah bayi dirawat seperti pada perawatan bayi normal, awasi keadaan umum bayi, lingkungan harus dalam keadaan baik ( cukup ventilasi masuk sinar matahari ), pemberian ASI yang adekuat, mencegah terjadinya infeksi, memberikan penyuluhan kepada orang tua tentang keadaan trauma pada bayi, parawatan bayi sehari-hari dan manfaat ASI.

Komplikasi: Peningkatan billirubin

Hiperbilirubinemia fisiologis

Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari hemoglobin yang terlepas saat pemecahan sel darah merah dan mioglobin di dalam sel otot. Korones ( 1986 ) mencatat bahwa ikterik neonatus terjadi akibat hal-hal di bawah ini : a. Bayi baru lahir memiliki produksi bilirubin dengan kecepatan produksi yang lebih tinggi. Jumlah sel darah merah janin per kilogram berat badannya lebih besar dari pada orang dewasa. Umur sel darah merah janin lebih pendek, 40 sampai 90 hari dibanding 120 hari pada orang dewasa.

b. Terdapat cukup banyak reasorbsi bilirubin pada usus halus neonatus.

2. Cephal Hematom Definition Cephalhematoma is a collection of blood between the periosteum of a skull bone and the bone itself. It occurs in one or both sides of the head. It occasionally forms over the occipital bone. The swelling with cephalhematoma is not present at birth rather it develops within the first 24 to 48 hours after birth. Causes 1. Rupture of a periostal capillary due to the pressure of birth

2. 1. 2. 3. 1.

Instrumental delivery Swelling of the infants head 24-48 hours after birth Discoloration of the swollen site due to presence of coagulated blood Has clear edges that end at the suture lines Observation and support of the affected part.

Signs and Symptoms

Management 2. Transfusion and phototherapy may be necessary if blood accumulation is significant Complication. Jaundice

Difference between a Caput Succedaneum and Cephalhematoma INDICATORS CAPUT CEPHALHEMATOMA SUCCEDANEUM Location Presenting part of the Periosteum of skull head bone and bone Extent of Both hemispheres; Individual bone; DOES Involvement CROSSES the suture NOT CROSS the suture lines lines Period of 3 to 4 days Few weeks to months Absorption Treatment None Support Sefalohematoma merupakan suatu perdarahan subperiostal tulang tengkorak berbatas tegas pada tulang yang bersangkutan dan tidak melewati sutura. Sefalohematoma timbul pada persalinan dengan tindakan seperti tarikan vakum atau cunam, bahkan dapat pula terjadi pada kelahiran sungsang yang mengalami kesukaran melahirkan kepala bayi. Akibatnya timbul timbunan darah di daerah subperiost yang dari luar terlihat sebagian benjolan. Secara klinis benjolan Sefalohematoma benbentuk benjolan difus, berbatas tegas, tidak melampaui sutura karena periost tulang berakhir di sutura. Pada perabaan teraba adanya fluktuasi karena merupakan suatu timbunan darah yang letaknya dirongga subperiost yang terjadi ini sifatnya perlahan-lahan benjolan timbul biasanya baru tampak jelas beberapa jam setelah bayi lahir (umur 6 8 jam) dan dapat membesar sampai hari kedua atau ketiga. Sefalohematoma biasanya tampak di daerah tulang perietal, kadang-kadang ditemukan ditulang frontal. Benjolan hematoma sefal dapat bersifat soliter atau multipel.

Sefalohematoma pada umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Biasanya mengalami resolusi sendiri dalam 2 8 minggu tergantung dari besar kecilnya benjolan. Sefalohematoma jarang menimbulkan perdarahan masif yang memerlukan transfusi, kecuali pada bayi yang mempunyai gangguan pembekuan. Pemeriksaan radiologik pada hematoma sefal hanya dilakukan jika ditemukan adanya gejala susunan saraf pusat atau pada hematoma sefal yang terlalu besar disertai dengan adanya riwayat kelahiran kepala yang sukar dengan atau tanpa tarikan cunam yang sulit ataupun kurang sempurna. 3. Trauma pada flexus brachialis Paralis Pleksus Brakialis Brachial Palsy ada 2 jenis, yakni : a. Paralisis Erb-Duchene Kerusakan cabang-cabang C5 C6 dari pleksus biokialis menyebabkan kelemahan dan kelumpuhan lengan untuk fleksi, abduksi, dan memutar lengan keluar serta hilangnya refleks biseps dan moro. Lengan berada dalam posisi abduksi, putaran ke dalam, lengan bawah dalam pranasi, dan telapak tangan ke dorsal. Pada trauma lahir Erb, perlu diperhatikan kemungkinan terbukannya pula serabut saraf frenikus yang menginervasi otot diafragma. Pada trauma yang ringan yang hanya berupa edema atau perdarahan ringan pada pangkal saraf, fiksasi hanya dilakukan beberapa hari atau 1 2 minggu untuk memberi kesempatan penyembuhan yang kemudian diikuti program mobilisasi atau latihan. Secara klinis di samping gejala kelumpuhan Erb akan terlihat pula adanya sindrom gangguan nafas. Penanganan terhadap trauma pleksus brakialis ditujukan untuk mempercepat penyembuhan serabut saraf yang rusak dan mencegah kemungkinan komplikasi lain seperti kontraksi otot. Upaya ini dilakukan antara lain dengan jalan imobilisasi pada posisi tertentu selama 1 2 minggu yang kemudian diikuti program latihan. Pada trauma ini imobilisasi dilakukan dengan cara fiksasi lengan yang sakit dalam posisi yang berlawanan dengan posisi

karakteristik kelumpuhan Erg. Lengan yang sakit difiksasi dalam posisi abduksi 90 derajat disertai eksorotasi pada sendi bahu, fleksi 90 derajat. b. Paralisis Klumpke Kerusakan cabang-cabang C8 Ih1 pleksus brakialis menyebabkan kelemahan lengan otot-otot fleksus pergelangan, maka bayi tidak dapat mengepal. Penyebabnya adalah tarikan yang kuat daerah leher pada kelahiran bayi menyebabkan kerusakan pada pleksus brakialis. Sering dijumpai pada letak sungsang atau pada letak kepala bila terjadi distosia bahu. Secara klinis terlihat refleks pegang menjadi negatif, telapak tangan terkulai lemah, sedangkan refleksi biseps dan radialis tetap positif. Jika serabut simpatis ikut terkena, maka akan terlihat simdrom HORNER yang ditandai antara lain oleh adanya gejala prosis, miosis, enoftalmus, dan hilangnya keringat di daerah kepala dan muka homolateral dari trauma lahir tersebut. Penatalaksanaan trauma lahir klumpke berupa imbolisasi dengan memasang bidang pada telapak tangan dan sendiri tangan yang sakit pada posisi netrak yang selanjutnya diusahakan program latihan.

4.

Fraktur klavikula dan fraktur humerus A. Fraktur Tulang Klavikula Fraktur tulang klavikula merupakan trauma lahir pada tulang yang tersering ditemukan dibandingkan dengan trauma tulang lainnya. Trauma ini ditemukan pada kelahiran letak kepala yang mengalami kesukaran pada waktu melahirkan bahu, atau sering pula ditemukan pada waktu melahirkan bahu atau sering juga terjadi pada lahir letak sungsang dengan tangan menjungkit ke atas. Jenis fraktur pada trauma lahir ini umumnya jenis fraktur freenstick, walaupun kadang-kadang dapat juga terjadi suatu fraktur total, fraktur ini ditemukan 1 2 minggu kemudian setelah teraba adanya pembentukan kalus.

Gejala Klinis Yang perlu diperhatikan terhadap kemungkinan adanya trauma lahir klavikula jenis greenstick adalah : 1) Gerakan tangan kanan-kiri tidak sama 2) Refleks moro asimotris

3) Bayi menangis pada perabaan tulang klavikula 4) Gerakan pasif tangan yang sakit disertai riwayat persalinan yang sukar. Pengobatan trauma lahir fraktur tulang kavikula 1) Imobilisasi lengan untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat pembentukan kalus. 2) Lengan difiksasi pada tubuh anak dalam posisi abduksi 600 dan fleksi pergelangan siku 900. 3) Umumnya dalam waktu 7 10 hari rasa sakit telah berkurang dan pembentukan kalus telah terjadi.

B. Fraktur Humerus pada neonatus 1. Pengertian fraktur ( Mansjoer, Arif, 2000) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa ( Linda Juall C 1999). Fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang . Fraktur Humerus menurut (Mansjoer, Arif, 2000) yaitu diskontinuitas atau hilangnya struktur dari tulang humerus. Sedangkan menurut ( Sjamsuhidayat 2004 ) Fraktur humerus adalah fraktur pada tulang humerus yang disebabkan oleh benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung. Fraktur humerus adalah Kelainan yang terjadi pada kesalahan teknik dalam melahirkan lengan pada presentasi puncak kepala atau letak sungsang dengan lengan membumbung ke atas. Pada keadaan ini biasanya sisi yang terkena tidak dapat digerakkan dan refleks Moro pada sisi tersebut menghilang. Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan tangan menjungkit ke atas. Kesukaran melahirkan tangan yang

menjungkit merupakan penyebab terjadinya tulang humerus yang fraktur. Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula ditemukan fraktur ini, jika ditemukan ada tekanan keras dan langsung pada tulang humerus oleh tulang pelvis. Jenis frakturnya berupa greenstick atau fraktur total . 2. Klasifikasi dari Fraktur Humerus Fraktur atau patah tulang humerus terbagi atas : a. Fraktur Suprakondilar humerus, ini terbagi atas: Jenis ekstensi yang terjadi karena trauma langsung pada humerus distal melalui benturan pada siku dan lengan bawah pada posisi supinasidan lengan siku dalam posisi ekstensi dengan tangan terfikasi Jenis fleksi pada anak biasanya terjadi akibat jatuh pada telapak tangan dengan tangan dan lengan bawah dalam posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi.

b. Fraktur interkondiler humerus Fraktur yang sering terjadi pada anak adalah fraktur kondiler lateralis dan fraktur kondiler medialis humerus c. Fraktur batang humerus Fraktur ini disebabkan oleh trauma langsung yang mengakibatkan fraktur spiral (fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi) d. Fraktur kolum humerus Fraktur ini dapat terjadi pada kolum antomikum (terletak di bawah kaput humeri) dan kolum sirurgikum (terletak di bawah tuberkulum).

3. Etiologi Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan tangan menjungkit ke atas. Kesukaran melahirkan tangan yang menjungkit merupakan penyebab terjadinya tulang humerus yang fraktur. Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula ditemukan fraktur ini, jika

ditemukan ada tekanan keras dan langsung pada tulang humerus oleh tulang pelvis. Jenis frakturnya berupa greenstick atau fraktur total. Fraktur menurut Strek,1999 terjadi paling sering sekunder akibat kesulitan kelahiran (misalnya makrosemia dan disproporsi sefalopelvik, serta malpresentasi). 4. Patofisiologi Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya (Black, J.M, et al, 1993).

5. Gejala Berkurangnya gerakan tangan yang sakit Refleks moro asimetris Terabanya deformitas dan krepotasi di daerah fraktur disertai rasa sakit Terjadinya tangisan bayi pada gerakan pasif Letak fraktur umumnya di daerah diafisi. Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemeriksaan radiologik.

6. Gejala Klinis Diketahui beberapa hari kemudian dengan ditemukan adanya gerakan kaki yang berkurang dan asimetris . Adanya gerakan asimetris serta ditemukannya deformitas dan krepitasi pada tulang femur . Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan radiologik.

7.Penanganan Imobilisasi lengan pada sisi bayi dengan siku fleksi 90 derajat selama 10 sampai 14 hari serta control nyeri. Daya penyembuhan fraktur tulang bagi yang berupa fraktur tulang tumpang tindih ringan dengan deformitas, umumnya akan baik. Dalam masa pertumbuhan dan pembentukkan tulang pada bayi, maka tulang yang fraktur tersebut akan tumbuh dan akhirnya mempunyai bentuk panjang yang normal

CONTOH KASUS BBL TENTANG FRAKTUR HUMERUS Ibu lia datang ke BPS Nanda Yarfau Amd.Keb pada hari senin 12 february 2011 pada jam 15.30 ibu lia mengatakan ia baru saja melahirkan bayinya 2 hari yang lalu, ia mengeluh bahwasannya anaknya menangis terus menerus seperti sedang kesakitan,dan Ibu mengatakan tangan sebelah kanan anaknya sedikit agak terkulai, ibu mengatakan sangat sedih melihat anaknya seperti ini. Setelah dilakukan pengkajian oleh bidan, tak ada gerakan pada tangan yang sakit,reflek moro asimetris, Terabanya deformitas dan krepotasi di daerah fraktur disertai rasa sakit. Bidan melihat adanya tangisan bayi pada gerakan pasif. Ku bayi kurang baik.

Referensi : 1. Henderson, Christine, dkk. 2006.Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran 2. Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC. 3. Markum, A.H. 1991. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

4.

Mochtar, Rustam, 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi dan Patologis. Jakarta : EGC. 5. Prawirohardjo, Sarwono. 2002.Asuhan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBPSP 6. Saifuddin, Abdul Bari.2002.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo 7. Stoll, BJ, Kliegman, RM. Nervous System Disorders. In: Behrman, RE., Kliegman, RM, Jenson, HB, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed., Philadelphia, PA: Saunders; 2004:562 8. Wiknjosastro,Hanifa. 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatus. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka 9. Wiknjosastro,Hanifa.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka Sarwono