Anda di halaman 1dari 86

PERSALINAN DENGAN

PENYULIT PD KALA III & IV

E. MARDIANA
SUMBER PUSTAKA
Mochtar, Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri, Jakarta: EGC,
Hal 299
Saifuddin, Abdul Bari dkk, 2001, Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,
Jakarta:JNPKKR-POGI, Hal 178
Saifuddin, Abdul Bari dkk, 2002, Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta:
YBPSP-MNH PROGRAM, Hal M-30
Wiknjosastro, Hanifa, 2005, Ilmu kebidanan, Jakarta :
YBPSP, Hal 656-657
Wijayanegara, Hidayat, 2003, Obstetri patologi, Jakarta
:EGC, Hal 174-176
Tujuan Pembelajaran :
PAP mahasiswa diharapkan akan mampu:
1. Mengidentifikasi penyulit pd Kala III &
IV persalinan
2. Menjelaskan jenis-jenis penyulit yang
terjadi pada Kala III & IV persalinan
3. Menjelaskan penatalaksanaan terhadap
penyulit pada Kala III & IV persalinan
KEMATIAN MATERNAL
PENYEBAB :

PERDARAHAN
SEPSIS
PREEKLAMPSI-EKLAMPSI
PARTUS MACET
UNSAFE ABORTION”

60 - 80% POTENSIAL DAPAT DICEGAH


KEMATIAN MATERNAL

53% KEMATIAN DAPAT


DICEGAH

DENGAN INTERVENSI
TEKNOLOGI SEDERHANA
KEMATIAN MATERNAL

PENOLONG PERSALINAN YANG TERAMPIL

MERUPAKAN SALAH SATU INTERVENSI

YANG EFEKTIF DALAM MENURUNKAN

KEMATIAN MATERNAL DAN KECACATAN

AKIBAT KEHAMILAN DAN PERSALINAN


PERDARAHAN PASCA
PERSALINAN
• Definisi: Perdarahan post partum
adalah perdarahan melebihi 500
ml yang terjadi setelah bayi lahir.

• Perdarahan yang lebih dari


normal yang telah menyebabkan
perubahan tanda vital (ibu
mengeluh lemah, limbung,
berkeringat dingin, menggigil,
hiperpnea, tekanan sistolik < 90
mmHg, nadi > 100/menit, Hb < 8
g%)
Penyulit yang terjadi pada
Kala III & IV persalinan, dlm
bentuk perdarahan karena :
Atonia uteri
Retensio plasenta

Emboli air ketuban

Robekan jalan lahir

Inversio uteri

Syok obstetrie
PERDARAHAN POST PARTUM
Definisi :
Perdarahan yang keluar sangat banyak dari
saluran genital setelah bayi lahir.

Klasifikasi :
1.Perdarahan Post Partum Primer
a/kehilangan darah >500 ml selama kala
III & IV ( dalam 24 jam persalinan)
(Myles).
2. Perdarahan Post Partum Sekunder
a/perdarahan (dg lokhia yg >dari normal) yg
tjd dari 24 jam pertama setelah persalinan
sampai berakhirnya masa nifas dikenal dg
perdarahan masa nifas.
Diagnosis Perdarahan Pascapersalinan

Atonia Robekan Tertinggalnya


Retensio Inversio
Uteri Jalan sebagian
Plasenta Uteri
Lahir Plasenta
Perdarahan
primer
Perdarahan terlambat
(Endometritis/sisa Plasenta
Perdarahan
sekunder
DIAGNOSIS
GEJALA & TANDA TANDA & GEJALA LAIN
KERJA
 Uterus tidak berkontraksi  Syok
dan lembek  Bekukan darah pada
 Perdarahan segera sete- serviks / posisi terlen- Atonia uteri
lah anak lahir tang akan menghambat
aliran darah keluar
 Darah segar yang meng-  Pucat
alir segera setelah bayi  Lemah
lahir  Menggigil Robekan
 Uterus kontraksi dan jalan lahir
keras
 Plasenta lengkap
 Plasenta belum lahir  Tali pusat putus akibat
setelah 30 menit traksi berlebihan
 Perdarahan segera  Inversio uteri akibat Retensio
 Uterus berkontraksi dan tarikan plasenta
keras  Perdarahan lanjutan
TANDA & GEJALA
GEJALA & TANDA DIAGNOSIS KERJA
LAIN
 Plasenta / sebagian  Uterus berkontraksi
selaput (mengan- tetapi tinggi fundus Tertinggalnya
dung pembuluh da- tidak berkurang sebagian
rah) tidak lengkap plasenta atau
 Perdarahan segera ketuban
(P3)
 Uterus tidak teraba  Neurogenik syok
 Lumen vagina terisi  Pucat dan limbung
masa
 Tampak tali pusat
Inversio uteri
(bila plasenta belum
lahir)
 Sub-involusi uterus  Anemia Endometritis atau sisa
 Nyeri tekan perut  Demam fragmen plasenta
bawah dan uterus Late postpartum
 Perdarahan hemorrhage
 Lokhia mukopurulen Perdarahan
dan berbau postpartum sekunder
PERSALINAN KALA TIGA

PADA KEHAMILAN ATERM ALIRAN DARAH KE


UTERUS 500-800 ML/MENIT

JIKA UTERUS TIDAK BERKONTRAKSI SEGERA, PADA


BEKAS TEMPAT IMPLANTASI PLASENTA TERJADI
PERDARAHAN 350-560 ML/MENIT

PADA ATONIA UTERI DAPAT TERJADI KEHILANGAN


SELURUH VOLUME DARAH DALAM 10-30 MENIT

IBU DENGAN HPP KARENA ATONIA DAPAT


MENINGGAL KURANG DARI 1 JAM
I N G A T !!!
Seorang wanita dapat meninggal
karena perdarahan post partum
kurang dari 1 jam setelah melahirkan,
karena itu penatalaksanaan yang
cermat selama persalinan kala tiga
dan empat sangat penting
ATONI UTERI
15” MASASE FUNDUS
(SETELAH PLASENTA LAHIR)

KONTRAKSI UTERUS
ATONIA UTERI
 Terjadi bila miometrium
tidak berkontraksi

 Uterus menjadi lunak dan


pembuluh darah pada daerah
bekas perlekatan plasenta
terbuka lebar

 Penyebab tersering
perdarahan postpartum (2/3
dari semua perdarahan
postpartum disebabkan oleh
atonia uteri)
Faktor risiko
Hal-hal yang menyebabkan uterus meregang lebih
dari kondisi normal :
Polihidramnion
Kehamilan kembar
Makrosomia
Persalinan lama
Persalinan terlalu cepat
Persalinan dengan induksi atau akselerasi oksitosin
Infeksi intrapartum
Paritas tinggi
Kesalahan Manajemen Kala III
Kandung Kemih penuh
MENCEGAH HPP AKIBAT ATONIA UTERI

MENGIDENTIFIKASI IBU DENGAN


RESIKO TINGGI UNTUK MELAHIRKAN
DI RUMAH SAKIT :

GRANDEMULTIPARA
PARTUS LAMA
KEHAMILAN GANDA
IBU TUA
BilaMANAJEMEN
terasa placenta mulai KALA
AKTIF lepas ,III
mulai
tarik tali pusat kearah
 Suntikan bawah
Oksitosin 10 IU im kemudian
ke atas sesuai dengan
Peregangan lengkung
Tali Pusat Terkendalivagina
untuk melahirkan
Masase Uterusplasenta .
KEUNTUNGAN MANAJEMEN AKTIF
KALA III

1. KALA III LEBIH SINGKAT

2. PERDARAHAN BERKURANG

3. KEJADIAN RETENSIO
PLASENTA BERKURANG
TANDA DAN GEJALA ATONIA UTERI:
Uterus tidak berkontraksi dan lembek
Perdarahan segera
Syok
Penatalaksanaan Atonia Uteri :
Kompresi Bimanual Interna
Kompresi Bimanual Eksterna
1. Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri segera sth lahirnya
plasenta (mak.15 dtk)

Uterus berkontraksi ya Evaluasi rutin


tidak
2. Bersihkan bekuan darah/selaput ketuban dari vagina & lubang serviks
3. Pastikan bahwa kandung kemih tlh kosong. Jika penuh dpt dipalpasi,
kateterisasi kandung kemih m’gunakan teknik aseptik.
4. Lakukan kompresi bimanual interna (KBI) selama 5 menit.

 Trs KBI (2mnt)


Uterus berkontraksi ya
 Keluarkan tgn
tidak perlahan2x
5.Anjurkan keluarga u/ memulai KBE
6.Keluarkan tangan Perlahan-lahan  Observasi ketat
7.Berikan ergometrin 0,2 mg IM (jangan diberikan jika hipertensi)
8..Pasang Infus RL 500 ml + 20 unit oksitosin & ulangi KBI

ya Pantau ibu dg
Uterus berkontraksi
seksama slm kala
tidak IV persalinan
10.Rujuk segera & dampingi ibu ke tempat rujukan
12.lanjutkan infus RL + 20 unit oksitosin dg laju 500 ml/jam
Lakukan pengkajian
ulang indikasi

Key point :
Lakukan dengan
palpasi di fundus
dengan cepat.
Biasanya akan
ditemukan (uterus
teraba lembek pada
15 detik setelah
placenta lahir).
Ganti sarung tangan
kanan dengan sarung
tangan panjang

Key point ;
Lakukan dengan cepat
dan hati – hati, jangan
sampai menyentuh
bagian lateral sarung
tangan. Sarung
tangan yang
digunakan adalah
sarung tangan
panjang steril / DTT..
masukkan sarung
tangan bekas pakai ke
dalam larutan klorin
Letakkan tangan
kiri di atas perut
ibu untuk
menekan uterus
dari luar

Key point:

meletakkan
tangan luar tepat
di atas fundus
uteri
Masukkan tangan secara
obstetric ke dalam lumen
vagina
Key point :
Ubah tangan tersebut
menjadi kepalan tinju dan
letakkan, pada forniks
anterior kemudian dorong
segmen bawah uterus ke
kranio anterior. Usahakan
seluruh dataran punggung
jari telunjuk hingga
kelingking menyentuh
fornik anterior
Lakukan kompresi
uterus dan
pertahankan posisi ini
sampai uterus
berkontraksi.

Key point :
lakukan dengan
mendekatkan telapak
tangan luar dan
kepalan tangan bawah
sekuat mungkin
KOMPRESI BIMANUAL INTERNA
Key point :
Setelah 5 ‘ melakukan KBI jika ada kontraksi
teruskan KBI (kompresi )selama 1-2 menit
Hentikan KBI jika sudah melebihi 5 menit dan
uterus tidak ada berkontraksi.
Lanjutkan sesuai prosedur dengan KBE
Anjurkan keluarga u/ memulai KBE
Keluarkan tangan Perlahan-lahan
Berikan ergometrin 0,2 mg IM (jangan diberikan
jika hipertensi)
Pasang Infus RL 500 ml + 20 unit oksitosin & ulangi
KBI
KOMPRESI BIMANUAL
EKSTERNA O/ KELUARGA
INTERNA EKSTERNA
KOMPRESI AORTA ABDOMINALIS
dilakukan pd saat merujuk spe di tempat
rujukan ( bersifat sementara)
 Cari arteri femoralis
 Raba pulsasi arteri
 Menekan Abdomen
 Sejajar dg kolumna
vetebralis. Tujuan
menekan aorta
abdominalis u/ mengurangi
aliran pd arteri uterina
 Bila arteri femoralis tdk
berdenyut, tekanan
berhasil, sebaliknya bila
berdenyut tekanan tdk
berhasil
 Ulangi
RETENSIO
PLASENTA
RETENSIO
Plasenta PLASENTA
yang belum lahir
setengah jam Tertahannya
setelah bayi lahir atau belum
lahirnya
plasenta
hingga atau
melebihi
waktu 30
menit setelah
bayi lahir
BAHAYANYA

BISA MENGAKIBATKAN :
PERDARAHAN
SYOK
INFEKSI
KRITERIA DIAGNOSIS
RETENSIO PLASENTA
 Plasenta belum lahir 30
menit setelah bayi lahir
 Uterus tidak berkontraksi
dengan baik
 Kadang disertai putusnya tali
pusat akibat traksi yang
berlebihan
 Perdarahan segera dari jalan
lahir, tetapi kadang ada yang
tanpa disertai perdarahan
PENILAIAN KLINIK RETENSIO
PLASENTA
SEPARASI / PLASENTA PLASENTA
GEJALA AKRETA INKARSERATA AKRETA
PARSIAL
KONSISTENSI
UTERUS KENYAL KERAS CUKUP

TFU PUSAT 2 JR < PUSAT PUSAT

BENTUK UTERUS DISKOID AGAK GLOBULER DISKOID

SEDIKIT - TIDAK
PERDARAHAN SEDANG-BANYAK SEDANG ADA
TALI PUSAT TERJULUR TERJULUR # TERJULUR

OSTIUM UTERI SEBAG TERBUKA KONSTRIKSI TERBUKA

SEPARASI MELEKAT
PLASENTA LEPAS SEBAGIAN SUDAH LEPAS SELURUHNYA
SYOK SERING JARANG JARANG
Plasenta sudah lepas tapi
belum keluar, karena :

 Adanya lingkaran kontriksi pada bagian


rahim akibat kesalahan penanganan
kala III sehingga menghalangi plasenta
keluar (plasenta inkarserata)
Menurut Tingkat Perlekatan :
a. Placenta Adisiva :
Melekat pada desidua Endometrium lebih dalam.
b. Placenta inkreta :
Vili korealis tumbuh lebih dalam menembus desidua sampai
ke miometrium
c. Placenta akreta
menembus lebih dalam miometrium tetapi belum menembus
serosa.
d. Placenta perkreta
menembus sampai serosa/ peritonium dinding rahim.
Retensio Placenta

 Etiologi :
1. kontraksi uterus kurang kuat untuk
melepas placenta
2. Placenta belum lepas dari dinding
rahim, karena tumbuh melekat lebih
dalam
Penyebab lain
 Manipulasi uterus yang tidak perlu sebelum
terjadinya pelepasan plasenta dapat
menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik
 pemberian uterotonika tidak tepat pada
waktunya juga akan dapat menyebabkan
serviks berkontraksi dan menahan plasenta.
 Selain itu pemberian anastesi yang dapat
melemahkan kontraksi uterus juga akan
menghambat pelepasan plasenta.
Penyebab lain
 Pembentukkan lingkaran kontriksi ini
juga berhubungan dengan his.

 His yang tidak efektif yaitu his yang


tidak ada relaksasinya maka segmen
bawah rahim akan tegang terus
sehingga plasenta tidak dapat keluar
karena tertahan segmen bawah rahim
tersebut
Penyebab lain
 Kandung kemih penuh atau rectum
penuh
 Hal- hal diatas akan memenuhi ruang
pelvis sehingga dapat menghalangi
terjadinya kontraksi uterus yang efisien.
Karena itu keduanya harus dikosongkan
PENANGANAN
 Jika plasenta terlihat dalam vagina, mintalah ibu untuk
mengedan dan jika anda dapat merasakan plasenta dalam
vagina, keluarkan plasenta tersebut.
 Pastikan kandung kemih kosong, bila perlu lakukan
katerisasi.
 Jika plasenta belum keluar, selama 15 menit dari bayi lahir
berikan oksitosin ke 2, 10 unit / I.M
 Jika plasenta belum lahir setelah 30 menit, uterus
berkontraksi,& ada tanda2 pelepasan plasenta, lakukan
penarikan tali pusat terkendali
  Hindari penarikan tali pusat dan penekanan fundus yang
terlalu kuat karena dapat menyebabkan inversio uterus.
 Jika PTT belum berhasil  coba lakukan pengeluaran
plasenta scr manual dgn pemasangan infus terlebih dulu.
  Plasenta yang melekat kuat kemungkinan merupakan
plasenta akreta, rujuk segera ke RS karena membutuhkan
tindakan histerektomi.
PENANGANAN RETENSIO PLASENTA
Apakah plasenta terlihat di vagina ?

YA TIDAK

OXY KE 2
Minta ibu
untuk mengedan
30’ Plac. msh blm lahir,
Keluarkan
kontraksi uterus (+)
plasenta
Lakukan PTT
(Pastikan
kandung kemih
dan rectum TIDAK
kosong) Berhasil
MANUAL Plac. Lahir
spontan
RUJUK
PLASENTA MANUAL
 Jelaskan
kepada ibu
tindakan
yang akan
dilakukan
 Persiapkan
posisi ibu dalam
posisi lithotomi
 Key point :
 Jaga privasi
pasien
 Berikan cairan
intravena NaCl
0,9 % dan RL
dengan tetesan
cepat
 Cuci tangan tangan
dengan sabun dibawah
air mengalir , yang
sebelumnya semua
perhiasan dilepas
terlebih dahulu.

 Pasang sarung tangan


panjang
 Bersihkan daerah
sekitar vagina dan
perineum dengan
larutan septik dan
antiseptik dimana
satu sisi kapas untuk
satu usapan , dan
kosongkan kandung
kencing dengan
kateter jika kandung
kencing penuh
 Jepit tali pusat
dengan
menggunakan klem
/ kokher
 Pegang tali pusat
dengan
menggunakan klem
dan tegangkan
 Masukan tangan kanan
ke dalam vagina secara
obtetri dengan
menyatukan jari tangan
ketika masuk ke dalam
vagina, sementara
tangan kiri memegang
tali pusat, tangan kanan
menyusur tali pusat
hingga kavum uteri.
 Lepaskan pegangan
tali pusat dan
pindahkan tangan
kiri untuk memegang
fundus uteri dari luar
untuk membantu
uterus berkontraksi.
 Pelepasan plasenta secara manual.
 Dengan bagian lateral jari-jari tangan di
cari insersi pinggir plasenta.
 Buka tangan menjadi seperti memberi
salam, jari-jari dirapatkan.
 Letakkan pinggir tangan diantara
plasenta dan dinding rahim, dengan
telapak tangan menghadap plasenta
 Tentukan implantasi plasenta, temukan
tepi plasenta yang paling bawah
 Gerakkan tangan menyisir dengan
gerakan yang sangat lembut ke kanan
dan kiri sambil bergeser ke kranial
sehingga semua permukaan maternal
plasenta dapat dilepaskan. Jika plasenta
sulit dilepaskan curigai adanya plasenta
akreta dan persiapkan tindakan bedah
 sebelum
mengeluarkan
tangan kanan dari
kavum uteri
yakinkan tidak ada
sisa plasenta yang
tersisa pada kavum
uteri
 Pindahkan tangan kiri
ke supra simpisis untuk
menahan fundus pada
saat plasenta
dikeluarkan
 Pegang plasenta dan
keluarkan tangan
bersama plasenta.
 Tarik plasenta hati –hati
dengan tangan kanan
pada waktu uterus
berkontraksi.
 masase uterus untuk
merangsang kontraksi
bila plasenta telah
lepas
 Periksa plasenta
setelah dilahirkan
lengkap/ tidak. Jika
tidak lengkap lakukan
eksplorasi ke dalam
kavum uteri.
 Berikan 0,2 mg ergometrin
IM untuk membantu
kontraksi uterus kecuali u/
pasien hipertensi jangan
diberikan.

 Periksa ibu dan lakukan


penjahitan bila ada
robekan cervix atau
vagina juga episiotomi
 Lepaskan sarung tangan
 Cuci tangan
 Berikan pasien antibiotik
profilaksis
 Observasi perdarahan
pervaginam dan periksa vital
signs :
 Setiap 15 menit pada jam
pertama
 Setiap 30 menit pada jam
kedua, Cek kontraksi uterus
 Dokumentasikan semua
asuhan yg dilakukan
INVERSIO UTERI
Def : Keadaan
dimana fundus uteri
terbalik sebagian /
seluruhnya masuk
kedalam kavum
uteri dapat secara
mendadak / terjadi
perlahan.
Dengan atau tanpa
retensio plasenta
 Tindakan yang dapat dilakukan untuk
mengembalikan fundus uteri ke tempat
semula ialah dengan cara manual
ataupun dengan tindakan operatif.
Tindakan reposisi secara manual
sebaiknya dilakukan pada menit – menit
pertama setelah didiagnosis inversio uteri
sebab prognosisnya akan lebih baik.
Etiologi
 Perasat crede pada corpus uterus yang
tidak berkontraksi baik & tarikan tali
pusat dgn placenta yang belum lepas
dari dinding uterus
 Pada wanita dengan atonia & tjd
kenaikan tekanan intra abdominal
karena batuk/mengejan yg mendadak
 Canalis servikalis yang longgar.
 Invertio uteri menurut
tingkatannya

a. Inversio uteri
ringan
/ Inversio uteri
incompleta yaitu :
fundus uteri
menonjol kedalam
kavum uteri tetapi
belum keluar dari
ruang tersebut
Invertio uteri menurut
tingkatannya

 Inversio uteri sedang /


Inversio uteri completa
yaitu :
kondisi corpus uteri
yang terbalik sudah
masuk kedalam vagina.
Inversio uteri berat
 Invertio uteri /
prolaps uteri yaitu :
uterus dengan
vagina semuanya
terbalik, uterus
sebagian besar
terletak diluar
vagina
Pada pemeriksaan dalam :
 Bila masih incompleta maka teraba
daerah simfisis uteri dengan fundus
uteri cekung kedalam.
 Bila completa diatas simfisis uteri teraba
kosong dan dalam vagina teraba tumor
lunak.
 Kavum uteri sudah tidak ada atau
terbalik.
Gejala
 Nyeri hebat
 Perdarahan apalagi bila placenta masih
melekat dan sebagian sudah ada yang
terlepas.
 Terjadi shock neurogenik ; rasa sakit yang
terjadi karena tarikan serat saraf yang
terdapat pada ligamentum rotundum dan
ligamentum infundibulo pelvicum bersama
dengan pembuluh darah.
Penanganan
 Hati-hati dalam memimpin persalinan, jangan
terlalu mendorong rahim melakukan crede
berulang-ulang dan hati-hati menarik tali pusat
serta melalui pengeluaran uri dengan tangan.
 Bila perdarahan dan shock berikan transfusi,
perbaiki keadaan umum.
 Sesudah itu segera lakukan reposisi dengan
pakai narcose.
 Kalau placenta belum lahir, sebaiknya placenta
jangan dilepas dulu.
 Setelah reposisi berhasil placenta dikeluarkan
secara manual dan beri uterotonika.
Cara melakukan reposisi
 Tangan seluruhnya dimasukan kedalam
vagina sedang jari-jari tangan
dimasukan kavum uteri melalui serviks
uteri yang mungkin sudah mulai
menciut, telapak tangan menekan
corpur uteri perlahan-lahan tetapi terus
menerus kearah atas sampai corpus
uteri melewati serviks dan invertio
ditiadakan.
 Masukkan tangan ke dalam vagina
 Lakukan secara obstetrik
Dorong fundus ke atas perlahan
Pastikan tidak ada bagian uterus yang terjepit
Tahan uterus dari dinding abdomen
Gunakan tangan yang lain untuk
membantu menahan uterus dari dinding
abdomen
Lakukan plasenta manual
Jika plasenta belum terlepas
 Bila reposisi tidak berhasil dilakukan
operasi :
Operasi haultein (perabdominal)
Operasi spineli (pervaginam)
PERLUKAAN JALAN LAHIR

 Robekan Perineum
 HematomaVulva
 Robekan dinding vagina
 Robekan serviks
 Ruptura uteri
Robekan perineum
 Tingkat I : robekan hanya pada selaput
lendir vagina dengan atau tanpa
mengenai kulit perineum
 Tingkat II : robekan mengenai selaput
lendir vagina dan otot perinei transversalis,
tetapi tidak mengenai sfingter ani
 Tingkat III : robekan mengenai seluruh
perineum dan otot sfingter ani, rujuk RS
 Tingkat IV : robekan sampai mukosa
rektum RUJUK KE RS
Hematoma vulva
 Bergantung pada lokasi dan besar hematoma.
 Hematoma kecil cukup dilakukan kompres.
 Hematoma besar dilakukan sayatan di
sepanjang bagian hematoma yang paling
terenggang.
 Seluruh bekuan dikeluarkan sampai kantong
hematoma kosong.
 Dicari sumber perdarahan, perdarahan
dihentikan dengan mengikat atau menjahit
sumber perdarahan tersebut.
 Luka sayatan kemudian dijahit.
 Dalam perdarahan difus dapat dipasang drain.
Perdarahan karena robekan serviks
 Setelah persalinan buatan, kalau ada
perdarahan walaupun konstraksi uterus baik
dan darah yang keluar berwarna merah muda
harus dilakukan pemeriksaan dengan
speculum.
 Jika ada robekan yang berdarah / robekan
yang lebih besar dari 1 cm maka robekan
tersebut harus dijahit. Untuk memudahkan
penjahitan fundus uteri ditekan kebawah
sehingga serviks dekat dengan vulva
kemudian kedua bibir dijepit dengan klem
dan ditarik ke bawah.
Robekan serviks
 Dalam melakukan penjahitan robekan
serviks bukan jahitan tetapi pengikatan
dari cabang-cabang arteria uterina.
KESIMPULAN
 Penyulit persalinan kala III & IV bisa disebabkan
oleh perdarahan primer dlm 24 jam pertama
setelah persalinan, ataupun sekunder, stl 24 jam
p’tama, beberapa penyebeb perdarahan
diantaranya atonia, retensio plasenta, inversio &
robekan jalan lahir yg berakibat pd kematian ibu
kalau tdk ditangani segera u/ itu diperlukan
keterampilan bidan dlm mendeteksi &
memberikan intervensi yg cepat & tepat termasuk
dlm melakukan rujukan shg keadaan pasien tdk
bertambah buruk