Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

SPEKTROMETRI


Nama Praktikan : RIZKI IZZA N.
NIM : 101810301016
Kelompok :
Fak/Jurusan : MIPA/ Kimia
Nama Asisten :


LABORATORIUM KIMIA ANALITIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2012

SIFAT ADITIF ABSORBAN CAMPURAN

PERCOBAAN 1
SIFAT ADITIF ABSORBAN CAMPURAN

I. Tujuan
Melihat sifat keaditifan absorbans suatu campuran dan menentukan konsentrasi
masing-masing komponen (Co
2+
+ Cr
3+
)
II. Tinjauan Pustaka
2.1 Material Safety Data Sheet
2.1.1 Cobalt (II) Hexahydrate Nitrat
Cobalt (II) Hexahydrate Nitrat memilikiki rumus empiris Co(NO
3
)
2
.6H
2
O.
Apabila Cobalt (II) Hexahydrate Nitrat kontak dengan bahan lain dapat menyebabkan
kebakaran. Dapat menyebabkan alergi pada kulit, alergi pernapasan, iritasi mata dan
kulit, iritasi saluran pernapasan dandapat menyebabkan gangguan jantung. Sifat fisik
dan kimianya adalah :
- Keadaan fisik dan penampilan : Padat
- Berat Molekul : 291,03 g / mol
- Titik didih : Terurai. (74 C atau 165,2 F)
- Titik leleh : 56 C (132,8 F)
- Spesifik Gravitasi : 1,88 (Air = 1)
- Kelarutan : Mudah larut dalam air dingin dan air
panas
- Stabilitas : Stabil (Anonim, 2012).
2.1.2 Cromium (III) Nonahydrate Nitrat
Cromium (III) Nonahydrate Nitrat memiliki rumus empiris Cr(NO
3
)
3
.9H
2
O.
Cromium (III) Nonahydrate Nitrat Berbahaya apabila kontak dengan kulit, kontak
mata dan tertelan. Kontak yang terlalu lama dapat mengakibatkan luka bakar pada
kulit. Sifat fisik dan kimianya adalah :
- Keadaan fisik dan penampilan : Padat
- Bau : Asam nitrat
- Warna : Ungu
- Spesifik Gravitasi : 1,85 (Air = 1)
- Kelarutan : Larut dalam air dingin dan air panas.
- Stabilitas : Stabil (Anonim, 2012).
2.1.3 Akuades
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H
2
O. Air bersifat tidak
berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 1
bar. Selain itu air merupakan pelarut polar yang penting yang memiliki kemampuan
untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya. Sifat sifat air adalah :
- Nama IUPAC : Dihydrogen monoxide, Oxidane
- Nama lain : Hydroxylic acid, Hydrogen Hydroxide
- Rumus molekul : H
2
O
- massa molar : 18.01528(33) g mol
-1

- Penampilan : cairan tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau pada
keadaan standar
- Densitas : 1000 kg m
-3
(liquid), (4 C), 917 kg m
-3
, (solid)
- Titik Leleh : 0 C, 32 F (273.15 K)
- Titik Didih : 100 C, 212 F (373.15 K)
- Kelarutan dalam air : larut dalam berbagai perbandingan
- Viskositas : 0.001 Pa saat 20 C
- Bentuk molekul : hexagonal
- Momen dipol : 1.85 D (Anonim, 2012).

2.2 Dasar Teori
Analisis kuantitatif campuran dua komponen merupakan teknik
pengembangan analisis kuantitatif komponen tunggal. Prinsip pelaksanaannya adalah
mencari absorban atau beda absorban tiap-tiap komponen yang memberikan korelasi
yang linier terhadap konsentrasi, sehingga akan dapt dihitung masing-masing kadar
campuran zat tersebut secara serentak atau salah satu komponen dalam campurannya
dengan komponen lainnya. Beberapa cara yang telah dipakai para ilmuan untuk
analisis kuantitatif campuran dua komponen dengan metode spektrofotometri UV-Vis
antara lain dengan cara:
- Serapan individual
- Grafik
- Perbandingan serapan
- Panjang gelombang ganda
- Differensial beda pelarut
- Pengamatan tiga panjang gelombang atau lebih
- Derivative
(Tim Penyusun, 2007 :10).
Prinsip analisis multi komponen dengan metode Spektrofotometri UV-Vis
adalah kalibrasi tiap-tiap komponen dengan memakai larutan standar. Dikenal ada
dua macam larutan standar yaitu larutan standar murni dan larutan standar campuran.
Larutan standar campuran teknik pembuatan dan dampak kesalahannya sudah jelas
lebih rumit. Selanjutnya cara-cara perhitungan kadar tiap-tiap komponen juga dikenal
dua macam yaitu: cara konvensional dan cara modern yang tergantung pada
instrument yang dipakai pada Spektrofotometri UV-Vis yang konvensional
perhitungan dilakukan pada tiap puncak / panjang gelombang maksimum tiap
komponen. Untuk campuran pembacaan absorban adalah hasil jumlah absorban tiap
komponen (Day, 1999 : 414).
Bila diinginkan pengukuran secara serentak terhadap dua komponen, maka
pengukuran dapat dilakukan pada dua panjang gelombang, dimana masing-masing
komponen tidak saling mengganggu. Dua macam kromofor yang berbeda akan
mempunyai kekuatan absorbsi cahaya yang berbeda pula pada satu daerah panjang
gelombang. Pengukuran dilakukan pada masing-masing larutan pada dua panjang
gelombang, sehingga diperoleh dua persamaan hubungan antara absorpsi dan
konsentrasi pada dua panjang gelombang. Akibatnya, konsentrasi masing-masing
komponen dapat dihitung. Mula-mula dipilih panjang gelombang dimana
perbandingan absorptivitas molarnya maksimum, yaitu :
|
|
.
|

\
|
2
1
a
a
maksimum pada
1
dan
|
|
.
|

\
|
1
2
a
a
maksimum pada
2
( Khopkar, 1990 :228).
Kemudian kita menghitung absorptivitas molar (a) untuk masing-masing
komponen. Absorbansi berbanding lurus dengan hasil kali absorptivitas molar (a)
dengan konsentrasi (c) jika nilai (b) tetap, oleh karena itu gunakan tempat sampel
yang sama. Dasar absorpsi untuk dua larutan, yaitu A=abc, dimana untuk larutan 1 :
A
1
=a
1
b
1
c
1
seda:ngkan untuk larutan 2: A
2
=a
2
b
2
c
2
. Maka selama b tetap akan
diperoleh A
1
=a
1
c
1
dan A
2
=a
2
c
2
. Kita mengukur absorbansi pada
1
dan
2
. Karena
itu pada panjang gelombang- panjang gelombang tersebut, absorbansi bersifat aditif,
sehingga diperoleh :
2 2 2 2 1 1 2
1 2 2 1 1 1 1
) ( ) (
) ( ) (


c a c a A
c a c a A
+ =
+ =

Untuk c
1
dan c
2
(Khopkar, 1990:229).
Prinsip dasar dari analisis multikomponen dengan spektrometri absorpsi
molekular yaitu bahwa total absorbansi larutan adalah jumlah absorbansi dari tiap
tiap komponennya. Hal ini tentu saja akan berlaku jika komponen komponen
tersebut tidak berinteraksi dalam bentuk apapun. Secara teori bisa saja terdapat
banyak komponen tetapi dalam praktek, lebarnya puncak absorpsi dalam spektrometri
UV-sinar tampak memastikan bahwa tidak ada panjang gelombang yang cukup sesuai
untuk penentuan sampel dengan jumlah komponen yang banyak (Hendayana, 1994 :
182).
Absorban komponen komponen suatu campuran bersifat aditif apabila
komponen komponen tersebut tidak saling bereaksi. Pada satu panjang gelombang
tertentu absorban suatu campuran sama dengan jumlah absorban dari tiap tiap
komponen :
Atotal = A1 + A2 + A3 + . . . . . . . . . . . + An
= A1bc1 + A2bc2 + A1bc3 + . . . . +An
Dengan mengukur absorban campuran pada panjang gelombang optimal masing
masing komponen, maka konsentrasi masing masing komponen dapat dihitung,
untuk 2 komponen berlaku :
A
1
=a
11
bc
1
+ a
12
bc
2

A
2
=a
21
bc
1
+ a
22
bc
2

Dengan : A
1
= absorban campuran pada panjang gelombang optimal komponen 1
. A
2
= absorbans campuran pada panjang gelombang optimal komponen 2
a
11
= absortivitas komponen 1 pada panjang gelombang optimal
komponen 1.
a
12
= absorbtivitas komponen 2 pada panjang gelombang optimal
komponen 1.
a
21
= absorbtivitas komponen 1 pada panjang gelombang optimal
komponen 2.
a
22
= absorbtivitas komponen 2 pada panjang gelombang optimal
komponen 2 (Tim penyusun, 2012 : 1).





III. Metodologi Percobaan
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1. Spektrofotometer visibel
2. Pipet ukur 5 mL 1 buah
3. Pipet tetes 4 buah
4. Botol semprot
5. Labu ukur 50 mL 5 buah
6. Ball pipet
7. Beaker glass 50 mL 5 buah
3.1.2 Bahan
1. Larutan Co(NO
3
)
2
0.2256 M
2. Larutan Cr(NO
3
)
3
0.06 M




3.2 Skema Kerja
3.2.1 Pembuatan larutan Co(NO
3
)
2

-
- Disiapkan larutan larutan yang akan digunakan dari
kedua larutan di atas
Larutan Co(NO
3
)
2 :
0,0451 M ; 0,0902 M; 0,1128 M;
0,1805 M; 0,2256 M.
Larutan Cr(NO
3
)
3 :
0,0120 M ; 0,0240 M; 0,0300 M;
0,0180 M; 0,0600 M (sudah disiapkan)
- Disiapkan Spektrofotometer visibel

3.2.2 Pembuatan Kurva Kalibrasi


- Ditentukan absorbansi larutan murni dengan interval 500-
600
- Dibuat spektrum Absorbsi larutan Co(NO
3
)
2
0,0902 M,
larutan Cr(NO
3
)
2
0,0240 M dan campuran kedua larutan
pada suatu kertas yang sama dan dimulai dari titik
panjang gelombang yang sama. Interfal panjang
geombang 500650 nm..
- Dibuat kurva kalibrasi dari larutan Co(NO
3
)
2
dan larutan
Cr(NO
3
)
2
pada kedua panjang gelombang optimal
tersebut.
- Diukur absorbans campuran sampel pada kedua panjang
gelombang tersebut. Hitung konsentrasi masing-masing
komponen.
Larutan Co(NO
3
)
2
dan Cr(NO
3
)
3


Hasil
Larutan induk Co(NO
3
)
2
dan Cr(NO
3
)
3


Hasil
3.2.2 Penentuan Konsentrasi sampel


- diukur pada panjang gelombang maksimum
- didapatkan kurva absorban vs konsentrasi
- ditentukan konsentrasi
- dicampurkan kedua larutan
- diukur pada kedua panjang gelombang maksimum














larutan Co(NO
3
)
2
0.0902 M

dan Cr(NO
3
)
3
0.0240 M

Hasil
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan
4.1.1 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Co(NO
3
)
2
Cr(NO
3
)
3

500 0.342 0.102
510 0.365 0.123
520 0.353 0.153
530 0.307 0.191
540 0.237 0.23
550 0.163 0.267
560 0.106 0.297
570 0.061 0.313
580 0.037 0.316
590 0.025 0.305
600 0.02 0.282

maks Co(NO
3
)
2
a
506 0.36
508 0.364
510 0.365
512 0.366
514 0.365

maks Cr(NO
3
)
2
a
574 0.317
576 0.318
578 0.317
580 0.316
582 0.316

y = 4.4832x - 0.0362
R = 0.9984
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

Konsentrasi
Larutan Co(NO3)2
a
Linear (a)
4.1.2 Absorbansi Co(NO
3
)
2
pada panjang gelombang 512
C(konsentrasi) a
0.0451 0.174
0.0902 0.366
0.1128 0.467
0.1805 0.754
0.2256 0.991










4.1.3 Absorbansi Cr(NO
3
)
2
pada panjang gelombang 576
C(konsentrasi) a
0.012 0.15
0.018 0.248
0.024 0.318
0.03 0.417
0.06 0.854


4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini, dilakukan penentuan kadar sampel dengan metode
simultan, kadar larutan campuran dua zat dapat ditentukan dengan metode
spektrofotometri tanpa harus dipisahkan terlebih dahulu. Kedua zat harus memiliki
panjang gelombang yang tidak berhimpit. Dari pengukuran tersebut diperoleh suatu
kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang, selain itu juga
diperoleh panjang gelombang maksimum dari masing-masing zat. Panjang
gelombang maksimum adalah panjang gelombang yang memberikan nilai absorban
paling besar. Pengukuran dipilih pada panjang gelombang maksimum karena pada
titik ini sensitivitasnya maksimum (perubahan absorpsi sampel per unit konsentrasi
adalah terbesar). Selain itu, pada panjang gelombang maksimum perubahan absorban
yang disebabkan oleh perubahan panjang gelombang adalah minimal. Dengan
demikian keakuratan dari hukum Lambert-Beer semakin terpenuhi.
Prinsip dasar dalam praktikum ini adalah bahwa dua macam kromofor yang
berbeda akan mempunyai kekuatan absorbsi cahaya yang berbeda pada satu panjang
gelombang tertentu sehingga diperoleh persamaan hubungan antara absorbsi dengan
konsentrasi pada dua panjang gelombang. Akibatnya konsentrasi masing masing
y = 14.619x - 0.0236
R = 0.9994
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
0 0.02 0.04 0.06 0.08
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

Konsentrasi
Larutan Cr(NO3)2
a
Linear (a)
komponen dapat dihitung. Absorban masing masing komponen bersifat aditif
apabila komponen komponennya tidak saling bereaksi.
Prosedur awal percobaan adalah membuat larutan dengan konsentrasi masing-
masing Co(NO
3
)
2 :
0,0451 M ; 0,0902 M; 0,1128 M; 0,1805 M; 0,2256 M.
Cr(NO
3
)
3 :
0,0120 M ; 0,0240 M; 0,0300 M; 0,0180 M; 0,0600 M yang berasal
dari larutan standar 0,06 M. Serta campuran : Co(NO
3
)
2
0,0902 M dan Cr(NO
3
)
3

0,0240 M Pembuatan larutan larutan standar tersebut dilakukan dengan
pengenceran menggunakan labu ukur 10 ml dengan cara menambahkan akuades pada
larutan awal sesuai dengan persamaan M
1
.V
1
= M
2
.V
2
.
Larutan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan Co(NO
3
)
2
dan
larutan Cr(NO
3
)
3
. Pada awalnya larutan murni diukur masing-masing absorbansinya.
Selanjutnya dilakukan penentuan panjang gelombang maksimum. Panjang
gelombang maksimum menunjukkan absorbansi yang maksimum yang bisa diserap
oleh larutan. Pada larutan Co(NO
3
)
2
didapatkan panjang gelombang maksimum
adalah 512 nm dan pada larutan Cr(NO
3
)
3
didapatkan panjang gelombang
maksimum sebesar 576 nm. Selanjutnya panjang gelombang ini digunakan untuk
mengukur larutan Co(NO
3
)
2
dan larutan Cr(NO
3
)
3
yang dicampurkan. Larutan
Co(NO
3
)
2
dan larutan Cr(NO
3
)
3
yang dicampurkan menggunakan konsentrasi
masing-masing 0.0902 M dan 0.0240 M. Larutan campuran kemudian di ukur
absorbansinya pada masing-masing panjang gelombang maksimum. Pada zat yang
bersifat aditif seharusnya didapatkan nilai A total sama dengan jumlah A larutan 1
dan A larutan 2. Namun pada percobaan belum didapatkan nilai tersebut. Akan tetapi,
ketika konsentrasi larutan setelah dicampurkan dihitung kembali, didapatkan nilai A
total yang mendekati nilai yang seharusnya. Artinya, konsentrasi yang berubah ketika
dicampurkan mempengaruhi nilai absorbansi.




512 576
Co(NO
3
)
2
0.0902 0.366 0.069
Cr(NO
3
)
3
0.0240 0.133 0.318
Campuran 0.244 0.172

Co(NO
3
)
2
0.0451 0.174 0.0345
Cr(NO
3
)
3
0.012 0.0665 0.15

0.2405 0.1845

Konsentrasi larutan 0.0451 dan 0.0120 didapatkan dari perhitungan ketika kedua
larutan sebanyak 2 mL dicampur sehingga menghasilkan 4 mL larutan campuran.
Selanjutnya ditentukan absorbansi paada saat panjang gelombang maksimum.
Sehingga ketika nilai absorbansi dijumlahkan hasilnya mendekati nilai jumlah A
1
+
A
2
. Hasil ini menunjukkan bahwa kedua zat tersebut bersifat aditif.
Berdasarkan grafik yang diperoleh, didapatkan nilai r yang mendekati 1. Hal
ini menunjukkan bahwa percobaan sudah cukup berhasil. Namun, nilai negatif untuk
nilai konsentrasi merupakan salah satu kurang telitinya praktikan dalam melakukan
percobaan. Dari grafik juga didapatkan nilai a (absorptivitas) yang merupakan nilai
slope/gradien dari kurva kalibrasi. Nilai a digunakan untuk menghitung nilai A total.











BAB 5. PENUTUP


5.1 Kesimpulan
1. Dari hasil perhitungan dan percobaan didapatkan bahwa larutan Co(NO
3
)
2
dan
larutan Cr(NO
3
)
3
bersifat aditif. Artinya tidak ada interaksi ketika kedua zat
tersebut dicampurkan.
2. Sifat aditif suatu zat dapat diamati dari absorbansi yang dimiliki zat tersebut, dan
membandingkan dengan zat lain saat kedua zat dicampurkan.
3. Suatu zat dapat dikatakan aditif apabila nilai absorbansi total sama dengan jumlah
dari nilai absorbansi zat satu dengan nilai absorbansi zat lainnya.

5.2 Saran
1. Sebaiknya praktikan memperhatikan alat-alat yang akan digunakan, seperti
spektrometer dan kuvet nya.
2. Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam mengukur absorbansi larutan.












DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2012. Aquades. http://id.wikipedia.org.wiki/ Aquades
Anonim. 2012. Cobalt (II) Hexahydrate Nitrat http://id.wikipedia.org.wiki/ Cobalt
(II) Hexahydrate Nitrat
Anonim. 2012. Cromium (III) Nonahydrate Nitrat. http://id.wikipedia.org.wiki/
Cromium (III) Nonahydrate Nitrat
Day,R. A dan Underwood, A. L. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga
Hendayana, Sumar. 1994. Kimia Analitik Instrumen. Semarang : IKIP Semarang
Press
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta.: UI-Press
Tim Penyusun. 2007. Pentunjuk Praktikum Analitik. Surabaya : Teknik Kimia ITS
Tim Kimia Analtik. 2012. Penuntun Praktikum Spektrometri. Jember : Universitas
Jember













LAMPIRAN
Perhitungan
1. Penentuan absorban total
- Pada panjang gelombang 512 nm
Campuran 0,0902 M Co(NO
3
)
2
dan 0,024 M Cr(NO
3
)
3

A
1
= (a
1
.C
1
)
1
+ (a
2
.C
2
)
1
= (4.483 x 0.0902) 512 + (14.61x 0.024) 512
= 386.56
- Pada panjang gelombang 576 nm
A
2
= (a
1
.C
1
)
2
+ (a
2
.C
2
)
2
= (4.483 x 0.0902) 576 + (14.61x 0.024) 576
= 434.88

2. Penentuan konsentrasi


- Konsentrasi Co(NO
3
)
2
: Cr(NO
3
)
3
= 0,0902M : 0,0240M