Anda di halaman 1dari 69

Konsep Dasar Kinetika Kimia – A.

Kahar 1

DIKTAT BUKU AJAR

Laju Reaksi Dan


Mekanisme Reaksi
Kimia

oleh
Abdul Kahar, S.T, M.Si.

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS MULAWARNAN

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 2

SAMARINDA
2005

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 3

HALAMAN PENGESAHAN
DIKTAT BUKU AJAR

1. a. Judul Diktat Buku Ajar : Laju Reaksi Dan Mekanisme Reaksi Kimia

b. Bidang : Kimia (MIPA)

2. a. Nama Penyusun : Abdul Kahar, S.T. M.Si.

b. Jenis Kelamin : Pria

c. Gol. Pangkat dan NIP : III/a, Penata Muda, 132 298 427

d. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli

e. Jabatan Struktural : -

f. Fakultas/Jurusan : MIPA/Kimia

Samarinda, 15 Juli 2005

Mengesahkan,

Dekan FMIPA Penyusun,

Drs. Sudrajat, S.U. Abdul Kahar, S.T, M.Si.


NIP: 131 411 529 NIP: 132 298 427

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 4

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa, kita

panjatkan karena berkat Rahman dan Rahim-Nya jualah kita semua

dapat melaksanakan aktifitas keseharian kita dan penulis dapat

menyelesaikan penulisan diktat buku ajar ini. Semoga Allah selalu

memberikan kekuatan kepada kita dalam melaksanakan semua

aktifitas keseharian kita. Dan tak lupa pula kita haturkan salam dan

syalawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, karena atas

perjuangannyalah kita dapat mengenyam Islam.

Diktat ini disusun guna memudahkan mahasiswa

mempelajari Laju Reaksi dan Mekanisme Reaksi Kimia yang

merupakan salah satu mata kuliah wajib yang disajikan pada

semester VI di Program Studi Kimia, khususnya di Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. UP FMIPA. Adapun isinya

merupakan materi yang diajarkan pada setengah semester

pertama.

Diktat Buku Ajar ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu

penulis menerima kritik dan saran demi penyempurnaannya,

semoga bermanfaat.

Wassalamu alaikum war, wab.

Samarinda, Juli 2005

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 5

Penulis

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 6

DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan ii
Kata Pengantar iii
Daftra Isi iv

BAB I. KONSEP DASAR KINETIKA KIMIA 1


1. Termodinamika Kimia 1
2. Kinetika Kimia 1
3. Klasifikasi Reaksi Kimia 7
4. Variabel Yang Berpengaruh Terhadap Laju Reaksi 7
5. Definisi Laju Reaksi 8
BAB II. LAJU REAKSI KIMIA 10
1. Ketergantungan Laju Reaksi pada Konsentrasi 11
1.1. Laju Reaksi 11
1.2. Hukum Laju dan Konsentrasi Laju Reaksi 16
1.3. Orde Reaksi 17
1.4. Hukum Laju Terintegrasi 18
1.5. Waktu Paruh 24
2. Ketergantungan Laju Reaksi pada Temperatur 24
2.1. Parameter Arrhenius 25
2.2. Termodinamika 26
2.3. Teori Tumbukan 27
2.4. Teori Keadaan-Transisi (Kompleks Teraktivasi) 28
3. Metode Penentuan Konstanta dan Orde Reaksi 31
3.1. Metode Diferensial (Laju Awal) 31
3.2. Metode Integral 33
3.3. Metode Waktu Paruh 33
3.4. Metode Relaksasi 34
3.5. Metode Analisis Guggenheim 35
Contoh Soal 36
Latihan Soal 42
BAB III. MEKANISME REAKSI DAN HUKUM LAJU 44
1. Reaksi Dasar Bimolekuler 44
2. Reaksi Dasar Berturutan 45
2.1. Pendekatan Keadaan Tetap 46
2.2. Prakeseimbangan 47
2.3. Mekanisme Kerja Enzim 48
3. Reaksi Unimolekul 50
Contoh Soal 53
Latihan Soal 58

DAFTAR PUSTAKA v

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 7

BAB I
KONSEP DASAR KINETIKA KIMIA

Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari konsep dasar kinetika kimia, diharapkan mahasiswa mampu:
1. memahami tujuan dan pentingnya kinetika kimia.
2. memahami hubungan termodinamika kimia dengan kinetika kimia.
3. memahami variabel-variabel yang mempengaruhi laju reaksi.
4. memahami definisi: laju reaksi, hukum laju, orde reaksi, konstanta laju
reaksi, reaksi dasar, reaksi kompleks, molekularitas reaksi, mekanisme reaksi,
kompleks teraktivasi, energi aktivasi, dan katalis.

1. Termodinamika Kimia
Termodinamika kimia mempelajari hubungan antara reaktan dan hasil reaksi,
tidak mempelajari bagaimana suatu reaksi tersebut berlangsung dan dengan
kecepatan berapa kesetimbangan reaksi kimia dicapai. Hal ini dipelajari dalam
kinetika kimia, sehingga kinetika kimia merupakan pelengkap bagi termodinamika
kimia.

Termodinamika kimia memberikan 2 hal penting yang diperlukan dalam


merancang reaktor, yaitu : panas yang dibebaskan atau panas yang diserap selama
reaksi berlangsung dan tingkat reaksi maksimum yang tepat.

positif, endoterm
aA + bB → cC + dD ∆H r  ………………….. 1.
negatif, eksoterm

Termodinamika juga memberikan perhitungan persamaan konstanta K dari


energi bebas standar GO, bahan-bahan yang bereaksi.

∆G O = cGCO + dG DO − aG AO + bG BO = − RT ln K ……………………………..
2.

2. Kinetika Kimia
Dibawah kondisi yang terkendali suatu bahan dirubah menjadi bentuk yang
berbeda dan baru. Ini terjadi oleh penyusunan ulang dan penyebaran ulang zat-zat
yang bereaksi menjadi zat-zat yang baru, dan kita mengatakan bahwa suatu reaksi
kimia telah terjadi. Ilmu kimia mempelajari suatu reaksi mulai dari bentuk,
mekanisme, perubahan energi, dan laju pembentukan produk. Ini adalah hal yang
sangat penting dan kinetika kimia secara khusus mempelajarinya.

Kinetika kimia adalah bagian dari kimia fisika yang mempelajari laju reaksi
dan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi tersebut. Yang pada akhirnya
menghasilkan pemahaman tentang mekanisme reaksi, yaitu analisis tentang suatu

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 8

reaksi menjadi rangkaian (tahap-tahap) reaksi dasar. Beberapa alasan pentingnya


mempelajari kinetika kimia, yaitu:

1. Untuk kimia fisika, sebagai jalan untuk memahami lebih dalam sifat dari
sistem reaksi, untuk memahami bagaimana pemutusan ikatan kimia dan
terbentuknya ikatan kimia yang baru, dan untuk memperkirakan energi dan
kestabilan suatu produk.

2. Untuk kimia organik, kinetika kimia sangat penting karena reaksi kimia akan
memberikan petunjuk pada struktur molekul. Suatu sifat yang penting dari
setiap reaksi organik adalah bagaimana pemutusan satu atau lebih ikatan
kimia (pada reaktan) dan pembentukan ikatan kimia yang baru (pada produk).
Kemudian dengan membandingkan struktur pada reaktan dan produk, akan
dapat ditentukan ikatan yang hilang dan ikatan yang terbentuk. Jadi kekuatan
relatif ikatan kimia dan struktur molekul senyawa dapat ditelusuri dengan
kinetika kimia.

3. Untuk teknik kimia, kinetika suatu reaksi harus diketahui jika kita ingin
merancang peralatan untuk menghasilkan reaksi yang baik pada skala
keteknikan.

4. Disamping itu, merupakan teori dasar yang penting dalam proses pembakaran
dan pelarutan serta melengkapi proses perpindahan massa dan perpindahan
panas, dan memberikan masukan pada metode pemecahan masalah penomena
laju dalam studi yang lain.

Dalam mempelajari laju reaksi, ada beberap hal yang perlu diperhatikan
yaitu;
a. Apakah reaksi berlangsung dengan cepat atau lambat?
b. Bagaimana kebergantungan laju reaksi pada konsentrasi?
c. Bagaimana kebergantungan laju reaksi pada temperatur?
d. Apakah reaksi berlangsung dalam satu tahapan atau dalam beberapa tahap?
e. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi laju tiap-tiap tahap?
f. Apa yang terjadi dengan energi yang dilepaskan ketika reaksi berlangsung?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, maka sebelumnya perlu
dibuat beberapa difinisi.

2.1. Reaksi Kimia dan Waktu


Reaksi kimia berlangsung dengan laju yang berbeda-beda. Ada yang cepat
ada yang lambat. Reaksi yang cepat misalnya reaksi penetralan antara larutan asam
klorida dan larutan natrium hidroksida, reaksi pengndapan perak klorida antara
larutan perak nitrat dan larutan natrium klorida. Reaksi yang berlangsung lambat
misalnya pengkaratan besi, reaksi–reaksi yang menyangkut proses geologi juga
berlangsung sangat lambat, misalnya pelapukan kimia batu karang yang disebabkan
oleh pengaruh air dan gas-gas yang terdapat di atmosfir.

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 9

2.2. Laju Reaksi (Kecepatan Reaksi), r


Laju reaksi adalah kecepatan (laju) berkurangnya pereaksi (reaktan) atau
terbentuknya produk reaksi. Dapat dinyatakan dalam satuan mol/L atau atm/s.

2.3. Persamaan Laju Reaksi (Hukum Laju)


Hukum laju adalah persamaan yang mengaitkan laju reaksi dengan
konsentrasi molar atau tekanan parsial pereaksi dengan pangkat yang sesuai.
Persamaan laju atau Hukum laju diperoleh dari hasil eksperimen. Persamaan laju
reaksi dinyatakan dalam bentuk diferensiaal atau bentuk integral.

2.4. Orde Reaksi, n


Orde reaksi adalah pangkat konsentrasi dalam persamaan laju bentuk
diferensial. Secara teoritis orde reaksi merupakan bilangan bulat, namun dari hasil
eksperimen, dapat berupa bilangan pecahan atau nol.

2.5. Konstanta Laju, k


Konstanta laju reaksi adalah tetapan perbandingan antara laju reaksi dan hasil
kali konsentrasi spesi yang mempengaruhi laju reaksi.
Contoh, untuk reaksi: a A + b B → Pr oduk
Jadi persamaan hukum lajunya adalah: - rA = k [ A ] x [ B] y
dimana :
- rA : laju reaksi komponen A
k : konstanta laju reaksi
[ A] dan [ B] : konsentrasi reaktan A dan B
x dan y : orde reaksi terhadap A dan B

2.6. Katalis
Berzelius adalah orang yang pertama yang menggunakan istilah katalis pada
tahun 1835. Katalis adalah zat yang mempercepat laju reaksi tanpa mengalami
perubahan swecara kimia pada akhir reaksi. Katalis memberikan jalan lain dengan
energi aktivasi yang lebih kecil. Sedangkan zat yang memperlambat laju reaksi
disebut inhibitor.

Katalis Homogen adalah katalis yang mempunyai fase yang sama dengan
pereaksi (reaktan). Sedangkan katalis heterogen adalah katalis yang mempunyai
fase yang tidak sama dengan fase pereaksi (reaktan). Pada umumnya katalis
heterogen adalah padatan sedangkan pereaksi terbanyak adalah gas dan ada juga
cairan.

2.7. Zat antara (atau Intermediate atau Kompleks teraktivasi)


Kompleks teraksivasi adalah sekumpulan radikal bebas, ion-ion dan zat polar,
molekul-molekul serta kompleks transisi pereaksi yang tidak stabil dan bersifat aktif,
yang berada dalam keadaan transisi sebelum berubah menjadi produk reaksi.

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 10

Tipe-tipe intermediate:
1. Radikal bebas : CH 3 •, C 2 H 5 •, I•, H•, CCl 3 •
+
2. Ion –ion dan zat-zat polar: N 3 , Na + , OH - , H 3 O + , CH 3 OH 2 , I -
-

3. Kompleks transisi
4. Molekul-molekul

2.8. Energi Aktivasi, EA


Energi aktivasi adalah energi minimum yang harus dimiliki pereaksi (reaktan)
untuk menghasilkan produk reaksi.

2.9. Reaksi Elementer dan Non-elementer


Reaksi elementer adalah reaksi dimana persamaan laju reaksinya sesuai
denga persamaan stoikiometrinya. Reaksi elementer (reaksi dasar) adalah tiap reaksi
yang merupakan proses satu tahap.

Contoh:

A →
k
P − rA = k .[ A]
2 A→ P
k
− rA = k .[ A] 2
A+ B →
k
P − rA = k .[ A].[ B ]
A+2B → P
k
− rA = k .[ A].[ B ] 2
A →
k1
P − rA 1 = k1 .[ A] ;
A →
k2
S − rA 2 = k 2 .[ A]
− rA = −rA1 + −rA2
− rA = k1 .[ A] + k 2 .[ A]
k1
A↔ P − rA 1 = k1 .[ A] ; rA 2 = k 2 .[ P]
k2

− rA = −rA1 − rA2
− rA = k1 .[ A] − k 2 .[ P]

Reaksi non-elementer adalah reaksi dimana persamaan kecepatan reaksinya tidak


sesuai dengan persamaan stoikiometrinya.

Contoh reaksi non-elementer:

k1 .[ Br2 ].[ H 2 ]0,5


k1 rHBr =
H 2 + Br2 ↔ 2 HBr [ HBr ]
k2 k2 +
[ Br2 ]

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 11

k1 0,72.[ A] 2 .[ B ]
2 A + B ↔ A2 B rA2 B =
k2 1 + 2.[ A]

Kinetika kesetimbangan reaksi elementer


Perhatikan reaksi elementer reversibel, sebagai berikut:

k1
A+ B↔R + S Kc, K
k2

Maka; laju pembentukan R, untuk reaksi kedepan adalah:

rR, kedepan = k1 .[ A].[ B ]

dan laju kehilangan (konsumsi), untuk reaksi balik adalah:

− rR, balik = k 2 .[ R].[ S ]

Pada keadaan setimbang;

rR, kedepan + rR, balik = 0 atau rR, kedepan = −rR, balik


k1 [ R ].[ S ]
k1 .[ A].[ B ] = k 2 .[ R ].[ S ] = ……………………. 3.
k 2 [ A].[ B ]

sehingga kesetimbangan ini dapat dikombinasikan; menjadi:

k1 [ R].[ S ]
Kc = = ………………………………………………………. 4.
k 2 [ A].[ B ]

Bila reaksi tidak berada dalam keadaan setimbang, maka persamaan 3 dan 4 tidak
berlaku.

Model kinetika reaksi Non-elementer


Untuk menjelaskan mengenai kinetika reaksi non-elementer, maka kita
beranggapan bahwa reaksi yang terjadi adalah reaksi elementer yang terjadi secara
berurutan, tetapi kita ”tidak dapat mengukur dan mengamati” terbentuknya
intermediate, karena terbentuknya dalam waktu yang sangat singkat. Sehingga kita
beranggapan dalam keadaan setimbang = 0, asumsi ini disebut asumsi steady-state.

d (intermediate)
= 0 ……………………………………………………..... 5.
dt

Jadi yang teramati hanya reaktan dan produk reaksinya saja, atau terlihat
k1
sebagai reaksi tunggal saja. Sebagai contoh, reaksi non-elementer: A2 + B2 ↔ 2 AB
k2

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 12

Maka untuk menjelaskannya dibuat langkah-langkah, sebagai berikut:

k1
1. A2 ↔ 2 A *
k2
k3
2. A * + B2 ↔ AB + B *
k4
k5
3. A * + B * ↔ AB
k6

Tanda bintang (*) menunjukkan intermediate (kompleks teraktivasi) yang “tak-


teramati”.

Reaksi Kompleks
Reaksi kompleks adalah suatu kumpulan dari reaksi-reaksi elementer (reaksi
dasar) yang memberikan produk-produk yang diperlukan atau menguraikan tahap-
tahap atau mekanisme terjadinya suatu reaksi.

Contoh:
N 2 O5 ↔ NO2 + NO3 …………………………… (1)
NO2 + NO3 → NO2 + O2 + NO ……………….... (2)
NO + NO3 → 2NO2 ………………………….…. (3)

Dari keempat tipe intermediate diatas, terdapat 2 macam reaksi:


1. Reaksi tak-berantai
Reaktan → (Intermediate)*
(Intermediate)* → Produk
2. Reaksi berantai
Reaktan → (Intermediate)* inisiasi
(Intermediate)* + Reaktan → (Intermediate)* + Produk propagasi
(Intermediate)* → Produk terminasi

2.10. Molekularitas Reaksi


Perhatikan reaksi:
o
2 N 2 O 5 (g) dalam
 CCl4 ,→ 4 NO 2 (g) + O 2 (g)
45 C

Laju reaksi = k.[N2O5]


Reaksi ini adalah orde kesatu. Jadi orde reaksi tidak selalu sama dengan koefisien
stoikiometri (dari reaksi penguraian N2O5). Sehingga orde reaksi tidak dapat
disimpulkan dari persamaan reaksi.

Molekularitas suatu reaksi adalah jumlah molekul yang ikut dalam reaksi dan
nilainya adalah satu, dua, dan kadang-kadang tiga. Molekularitas hanya berlaku
untuk reaksi-reaksi dasar (reaksi elementer). Misalkan reaksi penguraian N2O5 diatas,

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 13

berlangsung dalam tiga tahap. Reaksi tahap (2) adalah reaksi yang lambat dan
disebut sebagai tahap penentu laju reaksi. Reaksi diatas adalah orde kesatu,
molekularitas tahap penentu laju reaksi adalah dua, sehingga disebut reaksi
bimolekular.

3. Klasifikasi Reaksi Kimia


Ada banyak cara untuk mengelompokkan reaksi kimia, yang disesuaikan
dengan jumlah, macam, dan fase yang terlibat dalam suatu reaksi.

Reaksi dikatakan homogen apabila berlangsungnya reaksi dalam satu fase


saja. Dalam reaksi homogen seluruh bahan yang bereaksi (reaktan) ditemukan dalam
keadaan fase tunggal, yaitu apakah itu padat, cair atau gas. Jika reaksi berkatalis,
maka katalis harus juga dalam fase yang sama dengan reaktan. Ada sejumlah
landasan dasar untuk mendefinisikan laju reaksi, namun pengukuran yang intensif
yang didasarkan pada volume fluida yang berreaksi (reaktan), yang merupakan
penggunaan secara prakits untuk sistem homogen.

Klasifikasi reaksi kimia yang berguna dalam perencanaan reaktor kimia:


Non Katalitis Katalitis
- kebanyakan reaksi fase - kebanyakan reaksi fase
gas cair
- reaksi dalam sistem
Reaksi Homogen - reaksi yang berlangsung
koloid
cepat seperti;
- reaksi enzim dan
pembakaran
mikrobial

- pembakaran batubara
- peleburan bijih tambang - sintesa amonia
- pemecahan padatan - oksidasi amonia untuk
Reaksi Heterogen
dengan asam memproduksi asam nitrat
- absorpsi gas-cair disertai - pemecahan (cracking)
denga reaksi crude oil
- reduksi bijih besi - oksidasi SO2 → SO3
menjadi baja dan besi

Reaksi dikatakan heterogen terjadi apabila berlangsungnya paling sedikit 2


fase. Kadang klasifikasi ini tidak jelas batasnya untuk kelompok besar reaksi secara
biologis, reaksi substrat-enzim. Disini enzim bertindak sebagai katalis dalam
memproduksi protein, padahal kenyataannya enzim sendiri merupakan gabungan
protein dengan berat molekul yang besar dengan ukuran 10 – 100 mμ. Larutan yang
mengandung enzim mengaburkan batasan yang sama antara sistem homogen dan
sistem heterogen.

4. Variabel yang Berpengaruh terhadap Laju Reaksi

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 14

Variabel yang mempengaruhi laju reaksi adalah konsentrasi, tekanan,


temperatur, dan keberadaan katalis. Variabel inilah yang kita kontrol untuk
mempelajari laju reaksi. Dalam sistem yang homogen; konsentrasi, tekanan, dan
temperatur, adalah variabel yang nyata, sedangkan dalam sistem heterogen yang
lebih dari satu fase akan menjadi permasalahan yang lebih kompleks. Dan kita dapat
menyimpulkan bahwa laju reaksi komponen A merupakan fungsi dari sebagai
berikut:

rA = f (keadaaan sistem)
rA = f ( temperatur, tekanan, konsentrasi)
rA = f (T, P, C)

Variabel temperatur dan tekanan saling mempengaruhi, jika temperatur


ditentukan maka tekanan akan tertentu pula. Jadi pada dasarnya hanya ada dua
variabel yang mempengaruhi laju reaksi yaitu konsentrasi dan temperatur atau
konsentrasi dan tekanan. Sehingga kita dapat menuliskan:

rA = f ( temperatur, konsentrasi)
rA = f (T, C)

Dalam industri suatu proses perlu dipercepat atau diperlambat. Oleh karena
itu setiap reaksi kimia dalam industri perlu dilangsungkan pada kondisi tertentu agar
produknya dapat diperoleh dalam waktu yang singkat. Jadi dengan mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi suatu reaksi, maka reaksi itu dapat dikendalikan.

5. Definisi Laju Reaksi.


Laju reaksi dapat didefinisikan berdasarkan pada: satuan volume fluida yang
bereaksi, satuan massa padatan dalam sistem cair-padat, satuan antar permukaan dari
sistem cair-cair atau sistem gas-padat, dan satuan volume reaktor.

1 d Ni (mol komponen i yang terbentuk)


ri = = ....................................... 6.
V dt ( volume fuida) (waktu)

Persamaan 6 adalah laju reaksi pembentukan komponen i yang didasarkan pada


satuan volume fluida yang bereaksi.

Bila laju reaksi didasarkan pada satuan massa padatan dalam sistem cair-
padat maka persamaan lajunya:

1 d Ni (mol komponen i yang terbentuk)


ri = = ....................................... 7.
W dt (massa padatan) (waktu)

Bila laju reaksi didasarkanpada satuan antar permukaan dari 2 sistem cair-cair
atau satuan permukaan dalam sistem gas-padatan, maka persamaan lajunya:

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 15

1 d Ni (mol komponen i yang terbentuk)


ri = = ...................................... . 8.
S dt (permukaan) (waktu)

Jika laju reaksi didasarkan pada satuan volume padatan dalam sistem gas-
padat, maka:

1 d Ni (mol komponen i yang terbentuk)


ri = = ..................................... 9.
VS dt (volume padatan) (waktu)

Sedangkan laju reaksi yang didasarkan pada satuan volume reaktor dan
apabila berbeda dengan laju reaksi yang didasarkan atas satuan volume fluida, maka
persamaan lajunya:

1 d Ni (mol komponen i yang terbentuk)


ri = = ...................................... 10.
V R dt (volume reaktor) (waktu)

Pada sistem homogen, volume fluida dalam reaktor seringkali sama dengan
volume reaktor sehingga V dan VR adalah sama.

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 16

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 17

BAB II
LAJU REAKSI KIMIA

Tujuan Pembelajaran :
Setelah mempelajari laju reaksi kimia, diharapkan mahasiswa mampu:
1. memahami ketergantungan laju reaksi pada konsentrasi dan mengukur
konsentrasi reaktan dan produk reaksi.
2. memahami pengertian laju reaksi sesaat dan laju reaksi rata-rata.
3. memahami penerapan praktis dan penerapan teoritis dari hukum laju.
4. memahami waktu paruh zat dalam reaksi dan hubungannya dengan
konsentrasi awal dan orde reaksi.
5. memahami ketergantungan laju reaksi pada temperatur mengenai: persamaan
Arrhenius dan persamaan Van’t Hoff, keadaan transisi, serta teori tumbukan.
6. memahami penggunaan metode penentuan konstanta laju dan orde reaksi.

Reaksi dikatakan homogen apabila berlangsungnya reaksi dalam satu fase


saja. Dalam reaksi homogen seluruh bahan yang bereaksi (reaktan) ditemukan dalam
keadaan fase tunggal, yaitu apakah itu padat, cair atau gas. Jika reaksi berkatalis,
maka katalis harus juga dalam fase yang sama dengan reaktan. Ada sejumlah
landasan dasar untuk mendefinisikan laju reaksi, namun pengukuran yang intensif
yang didasarkan pada volume fluida yang bereaksi (reaktan), yang merupakan
penggunaan secara prakits untuk sistem homogen.

1 d N A (mol komponen A yang terbentuk)


rA = = ............................... 1a.
V dt ( volume fuida) (waktu)

Dari definisi tersebut, jika A merupakan produk reaksi maka laju reaksi bertanda
positif (+), sebaliknya jika A sebagai reaktan maka laju reaksi bertanda negatif (-).
Dalam sistem volume konstan pengukuran laju reaksi komponen A menjadi:

N 
d A 
rA =
1 d NA
= 
V  = d [A] .............................................................. 1b.
V dt dt dt

Dan untuk gas ideal menjadi:

N 
d A 
1 d NA V  = d [A]
rA = = 
V dt dt dt

PA N P
dimana PA .V = N A .RT → = A → A = [A]
RT V RT

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 18

1 d PA
rA = ........................................................................................ 1c.
RT dt

Jadi, laju reaksi untuk setiap komponen dapat dinyatakan dengan perubahan laju
konsentrasi atau tekanan parsialnya.

Reaksi dikatakan heterogen terjadi apabila berlangsungnya paling sedikit 2


fase. Kadang klasifikasi ini tidak jelas batasnya untuk kelompok besar reaksi secara
biologis, reaksi substrat-enzim. Disini enzim bertindak sebagai katalis dalam
memproduksi protein, padahal kenyataannya enzim sendiri merupakan gabungan
protein dengan berat molekul yang besar dengan ukuran 10 – 100 mμ. Larutan yang
mengandung enzim mengaburkan batasan yang sama antara sistem homogen dan
sistem heterogen.

1. Ketergantungan Laju Reaksi pada Konsentrasi


Laju rekasi dipelajari karena pentingnya kemampuan untuk meramalkan
kecepatan campuran reaksi mendekati kesetimbangan. Laju reaksi bergantung pada
(yang kita kontrol) seperti: konsentrasi, tekanan, temperatur, dan keberadaan katalis.
Kita dapat mengoptimumkan laju reaksi tersebut dengan memilih kondisi yang tepat.
Konsentrasi reaktan besar pengaruhnya pada laju reaksi. Reaksi berjalan cepat pada
awal reaksi dan akan semakin lambat setelah waktu tertentu, dan akan berhenti pada
waktu yang tak terhingga.

Alasan lain untuk mempelajari laju reaksi, karena hal ini akan menghasilkan
pemahaman tentang mekanisme reaksi, yaitu analisis tentang reaksi menjadi
rangkaian (tahap-tahap) reaksi dasar.

Hal pertama yang dilakukan dalam analisis kinetika kimia suatu reaksi adalah
menentukan stoikiometri reaksi dan mengenali setiap reaksi samping, sehingga data
dasar tentang kinetika kimia suatu reaksi adalah konsentrasi reaktan dan produk
reaksi pada waktu tertentu yang berbeda setelah reaksi tersebut dimulai. Laju reaksi
dapat ditentukan dengan cara mengikuti perubahan sifat selama terjadinya reaksi.
Dengan menganalisis campuran reaksi dalam selang waktu tertentu, maka
konsentrasi reaktan dan produk reaksi dapat dihitung.

1. Teknik Eksperimen

Metode yang dipergunakan untuk mengukur konsentrasi, bergantung pada zat


yang bersangkutan dan kecepatan perubahan zat tersebut. Banyak reaksi yang
mencapai kesetimbangan termodinamika pada periode detik, menit atau jam bahkan
hari, dan beberapa teknik dapat digunakan untuk mengontrol perubahan konsentrasi
tersebut. Laju reaksi biasanya dipelajari pada temperatur tetap.

1.1. Laju Reaksi


Definisi Laju Reaksi

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 19

Laju reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi zat perekasi (reaktan)


atau produk reaksi dalam satuan waktu tertentu. Jadi:
Perubahan Konsentrasi
Laju Reaksi =
Waktu yang diperlukan

Perhatikan rekasi umum yang berbentuk:

aA + bB → cC + dD

pada suatu saat tertentu, konsentrasi reaktan A dan B adalah [A] dan [B], dan
konsentrasi produk reaksi C dan D adalah [C] dan [D].

Laju dapat dinyatakan dalam batasan laju pembentukan produk reaksi atau
laju konsumsi reaktan (pereaksi) tertentu. Maka:

1 d [ A] 1 d [ B] 1 d [ C ] 1 d [ D]
= k [ A] [ B ] ………………….. 1d.
l m
− =− = =
a dt b dt c dt d dt

dimana:
a, b, dan c, d adalah Koefisien stoikiometri reaktan dan produk
l dan m adalah Orde reaksi terhadap A dan B.
k adalah konstanta Laju reaksi

Jadi, Laju konsumsi reaktan A dan B adalah:

1 d [ A] 1 d [ B]
rA = − dan rB = −
a dt b dt

dan Laju pembentukan produk reaksi C dan D adalah:

1 d [C ] 1 d [ D]
rC = dan rD =
c dt d dt

Maka, secara umum Laju Reaksi dapat didefinisikan sebagai:

1 d[ X ]
rX = ± ........................................................................................... 1e.
x dt

dimana: Tanda – (negatif) jika x adalah pereaksi (reaktan).


Tanda + (positif) jika x adalah produk reaksi
Untuk reaksi yang persamaan stoikiometrinya tidak 1 : 1, maka harus
diperhatikan tentang laju reaksinya. Misalkan reaksi dibawah ini:

5A + B+6C→3D +3E

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 20

dari persamaan reaksi diatas terlihat bahwa : berkurangnya konsentrasi A adalah 5


kali lebih cepat dibandingkan dengan B dan berkurangnya konsentrasi C adalah 6
kali lebih cepat dibandingkan dengan B.
1
Dengan demikian , laju reaksi adalah kali perubahan konsentrasi persatuan
n
waktu untuk zat dengan n mol yang terdapat dalam persamaan reaksi tersebut. Oleh
karena itu, hubungan antara laju reaksi pembentukan dan laju konsumsi reaktan akan
lebih rumit. Dalam hal ini adalah:

1 d [ A] d [ B] 1 d [ C ] 1 d [ D] 1 d [ E ]
− =− =− = =
5 dt dt 6 dt 3 dt 3 dt

Ada 2 pengertian tentang Laju Reaksi, yaitu:


- Laju Reaksi rata-rata
- Laju sesaat

Laju reaksi rata-rata menyatakan perubahan konsentrasi dalam selang waktu


tertentu. Misalkan reaksi penguraian N2O5 :
o
2 N 2 O5 dalamCCl
 → 4 NO2 + O2
4 , 45 C

Dari tabel dibawah terlihat bahwa:


Pada awal reaksi, t = 0 → konsentrasi N2O5 = 2,15 mol/L.
Pada t = 100 s→ konsentrasi N2O5 = 2,0 mol/L.

[ N 2 O5 ] 2 − [ N 2 O5 ]1 ∆[ N 2 O5 ]
Laju Reaksi rata-rata = − = .......................... 2.
t 2 − t1 ∆t

Jadi, dari data eksperimen diatas diperoleh:

(2,0 − 2,15)mol / L
Laju reaksi rata-rata = − = 1,5.10 −3 mol / L.s
(100 − 0) s

Data eksperimen sebagai berikut:


Begitu juga untuk laju reaksi rata-rata yang lainnya:
Pada, t1 = 300 s, [N2O5]1 = 1,75 mol/L.
t2 = 700 s, [N2O5]2 = 1,35 mol/L

(1,35 − 1,75)mol / L
maka, Laju Reaksi rata-rata = − = 1,0.10 −3 mol / L.s
(700 − 300) s

Dalam kinetika kimia, konsep laju reaksi yang penting adalah laju sesaat,
yaitu: laju reaksi pada waktu tertentu. Laju sesaat suatu reaksi diperoleh dari alur
(plot) antara perubahan konsentrasi terhadap waktu tertentu, yaitu:

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 21

Limit ∆[ N 2 O5 ] d [ N 2 O5 ]
= = ................................................................. 3
∆t → 0 ∆t dt

Konsentrasi Laju rata-rata, Laju sesaat pada t,


Waktu, s
N2O5,mol/L mol/L.s mol/L.s

0 2,15 1,34.10-3
1,5.10-3

100 2,00 1,26.10-3


-3
1,3.10

300 1,75 1,12.10-3


-3
1,0.10

700 1,35 0,85.10-3


0,76.10-3

1000 1,12 0,71.10-3


0,53.10-3

1700 0,75 0,47.10-3


0,38.10-3

2100 0,60 0,38.10-3


-3
0,29.10

2800 0,40 0,25.10-3

Beberapa hal yang yang dapat disimpulkan dari tabel diatas adalah sebagai berikut:
1. Konsentrasi N2O5 berkurang jika waktu bertambah (konsentrasi N2O5 berubah
jika waktu berubah).
2. Laju reaksi berkurang jika waktu bertambah (laju reaksi berubah jika waktu
berubah).

Jadi, harga laju reaksi sesaat untuk reaksi


o
2 N 2 O5( g ) dalamCCl
 → 4 NO2 ( g ) + O2 ( g )
4 , 45 C

Dapat diperoleh dari grafik alur konsentrasi N2O5 terhadap waktu.

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 22

0.25

0.2

Kkonsentrasi N2O5
0.15
A
0.1

0.05

0
0 10 20 30 40 50 60 70
waktu, detik

Gambar 2.1. Perubahan [N2O5] terhadap waktu

Jadi pada waktu t1 (s); sesuai dengan titik A, laju reaksi adalah:

d [ N 2 O5 ] y1
− = ....................................................................................... 4.
dt x1

Sesuai dengan persamaan reaksi, maka:

d [ NO2 ] − 2d [ N 2 O5 ] 2 y1
= = dan
dt dt x1
d [O2 ] 1 d [ N 2 O5 ] y
=− = 1
dt 2 dt 2 x1

Selanjutnya, perubahan konsentrasi reaktan dan produk terhadap waktu dapat


dilukiskan dengan grafik sebagai berikut:

0.25
β Produk reaksi
0.2
Kkonsentrasi N2O5

0.15

0.1 α dan produk reaksi terhadap waktu


Gambar 2.2. Perubahan konsentrasi reaktan
Hasil reaksi
0.05

0
0 10 20 30 40 50 60 70
waktu, detik

Dari grafik dapat diketahui, laju reaksi pada waktu t dapat dinyatakan dengan:
Untuk reaktan:

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 23

d [Re ak tan]
Laju Reaksi = = tan α
dt

Untuk produk:

d [Pr oduk ]
Laju reaksi = = tan β
dt

Jika [A]0 adalah konsentrasi awal reaktan A pada waktu t = 0, dan x adalah
konsentrasi produk reaksi pada waktu t = t, maka

d ( [ A]0 − x )
Laju reaksi =
dt

1.2. Hukum Laju dan Konsatanta Laju Reaksi


Laju reaksi terukur, seringkali sebanding dengan pangkat konsentrasi suatu
reaktan. Dan laju reaksi keseluruhan dari suatu reaksi kimia pada umumnya
bertambah jika konsentrasi suatu pereaksi (reaktan) atau lebih dinaikkan. Hubungan
antara laju reaksi dan konsentrasi dapat diperoleh dari data eksperimen. Contoh,
untuk reaksi:

a A + b B → Pr oduk

dapat diperoleh bahwa laju reaksi berbanding lurus dengan [A]x dan [B]y, sehingga:

Laju = r = k [ A ] [ B] ……………………………………………………. 5.
x y

Persamaan 5 disebut dengan Hukum laju (Persamaan laju). Dengan k disebut


konstanta laju, yang tidak bergantung pada konsentrasi (tetapi bergantung pada
temperatur). Jadi secara formal hukum laju adalah persamaan yang menyatakan laju
reaksi r sebagai fungsi dari konsentrasi semua spesi yang ada, termasuk produknya.
Hukum laju mempunyai dua penerapan utama, yaitu:
1. Penerapan praktis; setelah kita mengetahui hakum laju dan konstanta laju,
maka kita dapat meramalkan laju reaksi dari masing-masing campuran.
2. Penerapan teoritis; hukum laju merupakan pemandu untuk menemukan
mekanisme reaksi yang terjadi pada suatu reaksi, dimana setiap mekanisme
reaksi yang diajukan harus konsisten dengan hukum laju yang diamati.
Hukum laju diperoleh secara eksperimen dan tidak bergantung pada
persamaan stoikiometri suatu reaksi. Misalkan untuk reaksi dibawah ini:

BrO 3- (aq) + 5 Br - ( aq ) + 6 H + ( aq ) → 3 Br2 ( aq ) + 3 H 2 O (l)

[ ][
dengan ; Laju = r = k Br - BrO 3- H + ][ ] 2
.................................................................. 6.

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 24

Hukum laju (persamaan laju) dapat diungkapkan dalam bentuk diferensial


atau bentuk integral.

1.3. Orde Reaksi


Orde reaksi terhadap suatu komponen merupakan pangkat dari konsentrasi
komponen tersebut, dalam hukum laju bentuk diferensial. Pada umumnya orde reaksi
merupakan bilangan bulat dan kecil, namun dalam banyak hal bisa merupakan
pecahan atau nol. Contohnya, reaksi dengan hukum laju dalam persamaan 6,
merupakan reaksi orde kesatu terhadap Br-, reaksi orde kesatu terhadap BrO3-, dan
rekasi orde kedua terhadap H+.

Orde keseluruhan reaksi merupakan penjumlahan orde semua komponennya.


Jadi secara keseluruhan hukum laju dalam persamaan 6 adalah orde keempat.

Reaksi tidak harus mempunyai orde bilangan bulat. Contohnya, jika reaksi
mempunyai hukum laju:

r = k [ A] [ B]
0,5

maka reaksi ini mempunyai orde setengah terhadap A dan orde kesatu terhadap B,
dan secara keseluruhan adalah satu setengah.

Jika hukum laju tidak berbentuk [A]x [B]y [C]z …., maka reaksi ini “tidak”
mempunyai orde. Hukum laju yang ditentukan secara eksperimen untuk rekasi fase
gas: H2 + Br2 → 2 HBr, adalah:

k [ H 2 ] [ Br2 ]
1,5

r= .................................................................................... 7.
[ Br2 ] + k' [ HBr]
Terlihat dari hukum laju ini, bahwa reaksi ini mempunyai orde kesatu terhadap H2,
tetapi ordenya terhadap Br2, HBr, dan keseluruhan tidak tertentu (kecuali pada
kondisi yang disederhanakan, seperti jika [Br2] >> k’[HBr]).

Beberapa reaksi mempunyai orde kenol, dan karenanya mempunyai laju yang
tidak begantung pada konsentrasi reaktan (selama masih ada sejumlah reaktan).

r = k .......................................................................................................... 8.

hal ini berarti bahwa perubahan konsentrasi tidak berpengaruh pada laju reaksi.
Pernyataan ini menunjukkan adanya tiga masalah:
a. kita harus mencari cara untuk menentukan hukum laju, dan
mendapatkan konstanta laju dari data eksperimen.
b. kita harus mencari cara untuk menyusun mekanisme reaksi yang
konsisten dengan hukum laju.
c. kita harus menjelaskan tentang nilai konstanta laju dan
ketergantungan konstanta ini pada temperatur.

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 25

1.4. Hukum Laju Terintegrasi


Karena hukum laju merupakan persamaan turunan, maka kita harus
mengintegrasikannya jika kita ingin mencari konsentrasi sebagai fungsi dari waktu.

Reaksi Orde Kenol


Reaksi orde nol adalah reaksi-reaksi yang lajunya dapat ditulis sebagai:

d [ A]
− = k ……………………………………………………………… 9.
dt

yang dapat diintegrasikan secara langsung. Karena pada awalnya, pada t = 0, →


konsentrasi reaktan A adalah [A]0, dan pada t = t, → konsentrasi A adalah [A], dapat
dituliskan:

[ A] t
− ∫
[ A ]0
d [ A] = ∫ k .dt
0

diperoleh:
[A] = [A]0 - k.t ......................................................................................... 10a.

atau:
[A]0 - [A]
k= ………………………………………………………….. 10b.
t

Reaksi Orde Kesatu


Hukum laju orde reaksi kesatu, untuk reaksi dengan konsumsi reaktan A:

A → Produk
adalah:
d[ A ]
- = k[ A ] ………………………………………………………....... 11a.
dt

Persamaan ini ditata ulang menjadi:

d[ A ]
− = k dt
[ A]
yang dapat diintegrasikan secara langsung. Karena pada awalnya, pada t = 0, →
konsentrasi reaktan A adalah [A]0, dan pada t = t, → konsentrasi A adalah [A], dapat
dituliskan:

[ A] t
d [ A]
− ∫
[ A ]O
[ A] ∫0
= k .dt

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 26

dan diperoleh:
[ A] [ A]0
− ln = k .t atau ln = k .t ......................................................... 11b.
[ A]O [ A]
[ A] = [ A]O .e -k.t ......................................................................................... 11c

Kedua persamaan ini (11b dan 11c) merupakan versi dari Hukum Laju
Terintegrasi, yaitu bentuk integrasi dari persamaan laju reaksi.
[ A]0
Persamaan 11b menunjukkan bahwa jika ln dialurkan terhadap t, maka
[ A]
reaksi orde kesatu akan menghasilkan garis lurus. Dimana jika grafik tersebut berupa
garis lurus maka membuktikan bahwa reaksi ini adalah orde kesatu dan harga k dapat
diperoleh dari kemiringannya (yang sama dengan –k). Persamaan 11c menunjukkan
bahwa dalam reaksi orde kesatu, konsentrasi reaktan berkurang secara eksponensial
terhadap waktu, dengan laju yang ditentukan oleh k.

Reaksi Orde Kedua


Dalam reaksi orde kedua, laju berbanding langsung dengan kuadrat
konsentrasi dari satu reaktan dan hasil kali konsentrasi pangkat satu dari kedua
reaktan-reaktan tersebut.
1. Bentuk 1
Misalkan reaksi :

2 A → Pr oduk

maka persamaan hukum lajunya adalah:


d [ A]
− = k .[ A] 2 ........................................................................................ 12.
dt

yang dapat diintegrasikan secara langsung. Karena pada awalnya, pada t = 0,


konsentrasi reaktan A adalah [A]0, dan pada t = t, →konsentrasi A adalah [A], dapat
dituliskan:

[ A] t
d [ A]
− ∫ 2
= ∫ k .dt
[ A ]0 [ A] 0

diperoleh:
1 1
− = k .t ...................................................................................... 13a.
[ A] [ A]0

jika ditata ulang akan menghasilkan persamaan:


1 1
= + k .t ……………………………………………………….. 13b.
[ A] [ A]0

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 27

persamaan 13b menunjukkan bahwa untuk membuktikan reaksi mengikuti orde


1
kedua maka kita harus mengalurkan antara terhadap waktu t dan menghasilkan
[ A]
1
grafik berupa garis lurus, dengan perpotongan terletak pada dan kemiringan
[ A]0
garisnya sama dengan k, konstanta laju.

2. Bentuk 2
Misalkan, reaktan A dan B, dengan konsentrasi awal berturut-turut adalah
[A]0 dan [B]0.Dan bila [A]0 ≠ [B]0, dengan reaksi:

A + B → Produk

Jadi:
Pada t = 0 [A]0 [B]0 0
Pada t = t [A] [B] x
Maka persamaan hukum lajunya adalah:

dx
= k .[ A].[ B ] ...................................................................................... 14.
dt

dengan mengintegrasikan antara x = 0 pada t = 0 dan


x = x pada t = t, dapat dituliskan:

x t
dx
∫0 [ A].[ B] = ∫0 k .dt

diperoleh:
1  [ A].[ B ]0 
ln  = k .t ............................................................... 15.
[ A]0 − [ B ]0  [ A]0 .[ B ] 

Dimana:
[A] = [A]0 - x
[B] = [B]0 - x
x adalah konsentrasi produk pada waktu t.

Reaksi Orde Ketiga


Dalam suatu reaksi berorde ketiga dapat dilihat dalam tiga bentuk persamaan
reaksi yang berbeda, sebagai berikut:

1. Bentuk 1
Laju reaksi berbanding langsung dengan pangkat tiga konsentrasi dari suatu
reaktan. Suatu reaksi umum:

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 28

A + B + C → Pr oduk ............................................................................... 16.

Jika konsentrasi awal A,B, dan C berturut-turut adalah [A]0, [B]0, dan [C]0.
Dan bila [A]0 = [B]0 = [C]0, maka persamaan reaksi diatas menjadi:

3 A → Pr oduk

Jadi:
Pada t = 0 [A]0 0
Pada t =t [A] x
Sehingga persamaan laju reaksinya adalah:

dx
= k .[ A]3 ............................................................................................ 17.
dt

dengan mengintegrasikan antara x = 0 pada t =0 dan


x = x pada t = t, dapat dituliskan:

x t
dx
∫0 [ A]3 = k ∫0 dt

diperoleh:

1 1
2
− 2
= k .t .............................................................................. 18a.
2[ A] 2[ A]0

atau:
1  1 1 
 ........................................................................... 18b.
k=  2
− 2 
2t  [ A] [ A]0 

dimana :
[A] = [A]0 – x
[A]0 adalah konsentrasi awal reaktan A pada waktu t = 0
x adalah konsentrasi produk reaksi pada waktu t

jika persamaan 18b diatas ditata ulang akan diperoleh:

1 1
2k .t = −
[A] [ A]O 2
2

1 1
2
= 2
+ 2k .t ............................................................................... 19.
[ A] [ A]O

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 29

Persamaan ini sama dengan persamaan Regresi Linier bentuk y = a + bx, sehingga
1
jika kita memplotkan antara terhadap waktu t, maka akan diperoleh garis lurus
[ A] 2
1
dengan perpotongan pada 2 dan kemiringan 2k.
[ A]O

2. Bentuk 2
Laju reaksi sebanding dengan kuadrat konsentrasi dari reaktan pertama dan
pangkat satu dari reaktan kedua.
Bila [A]0 = [B]0 ≠ [C]0, maka persamaan reaksi umum diatas akan menjadi:

2 A + C → Produk

jadi
Pada t = 0 [A]0 [C]0 0
Pada t = t [A] [C] x
Sehingga persamaan laju reaksinya adalah:

dx
= k .[ A] 2 [C ] ...................................................................................... 20.
dt

dengan mengintegrasikan antara x = 0 pada t =0 dan


x = x pada t = t, dapat dituliskan:

x t
dx
∫0 [ A]2 [C ] = k ∫0 dt

diperoleh:

1  1 1  1 ([ A]O − x).[C ]O
 −  + ln = k .t
([C ]O − [ A]O )  ([ A]O − x) [ A]O  ([C ]O − [ A]O ) 2
[A]O .([C]O - x)
................................................................................................................. 21.

dimana:
[A] = [A]0 - x
[C] = [C]0 – x
[C]0 adalah konsentrasi awal reaktan C pada waktu t = 0
x adalah konsentrasi produk reaksi pada waktu t

3. Bentuk 3
Laju sebanding dengan hasil kali konsentrasi dari ketiga reaktan.
Bila [A]0 ≠ [B]0 ≠ [C]0, maka persamaan reaksi umum diatas akan menjadi:

A + B + C → Produk

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 30

Jadi
Pada t = 0 [A]0 [B]0 [C]0 0
Pada t = t [A] [B] [C] x
Sehingga persamaan laju reaksinya adalah:

dx
= k .[ A][ B ][C ] ……………………………………………………. 22.
dt

dengan mengintegrasikan antara x = 0 pada t =0 dan


x = x pada t = t, dapat dituliskan:

x t
dx
−∫ = k ∫ dt
0
[ A][ B ][C ] 0

diperoleh:
1  [ A] 
[ B ]0 −[ C ]0

ln  0

([ A]0 − [ B ]0 )([ B ]0 − [C ]0 )([C ]0 − [ A]0 )  ([ A]0 − x) 

 [ B]0 
[ C ]0 −[ A ]0
 [C ]0 
[ A ]0 −[ B ]0

     = k .t ........................................ 23.
 ([ B ]0 − x)   ([C ]0 − x)  

dimana:
[A] = [A]O - x
[B] = [B]O - x
[C] = [C]O – x
[A]O, [B]O, dan [C]O berturut-turut adalah konsentrasi awal reaktan A, B, dan
C pada waktu t = 0
x adalah konsentrasi produk reaksi pada waktu t.

Reaksi Orde Semu


Pada reaksi ini, konsentrasi satu atau lebih suatu reaktan jauh melebihi
konsentrasi reaktan yang lainnya, salah satu reaktan bekerja sebagai katalis. Karena
konsentrasinya hampir tetap sama dan dapat dianggap konstan, maka orde reaksi
akan berkurang, misalnya hidrolisis dari ester-ester yang dikatalisis oleh asam-asam,
dengan persamaan reaksi umum sebagai berikut:

RCOOR 1 + H 2 O → RCOOH + R 1OH

dan orde reaksi tersebut adalah satu jika air dalam keadaan berlebih.

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 31

1.5. Waktu Paruh


Indikasi waktu yang berguna tentang laju reaksi kimia adalah waktu paruh,
t1/2 suatu zat, yaitu waktu yang diperlukan oleh zat tersebut agar konsentrasinya
menjadi separuh nilai awalnya. Waktu paruh bergantung pada konsentrasi awal zat.

Waktu paruh didefinisikan sebagai waktu yang dibutuhkan bila separuh


konsentrasi dari suatu reaktan digunakan. Waktu paruh dapat ditentukan dengan tepat
hanya jika satu jenis reaktan yang terlibat. Tetapi jika suatu reaksi berlangsung antara
jenis reaktan yang berbeda, waktu paruh harus ditentukan terhadap reaktan tertentu
saja.

Untuk sistem satu komponen, waktu paruh dihubungakan dengan konsentrasi


awalnya oleh persamaan:

2 n −1 − 1
t1 / 2 = n −1 …………………………………………………… 24.
(n − 1).[ A]0 .k

Persamaan 24 berlaku untuk n ≠ 1


Untuk n = 1

0,693
t1 / 2 = ............................................................................................... 25.
k

Yakni waktu paruh tidak tergantung pada konsentrasi untuk reaksi orde kesatu.

2. Ketergantungan Laju Reaksi Pada Temperatur


Umumnya laju reaksi meningkat dengan bertambahnya temperatur, kenaikan
temperatur sebasar 10OC menyebabkan kenaikan laju reaksi sebesar 2 sampai 3 kali.
Biasanya, laju reaksi meningkat secara eksponensial sebanding dengan kenaikkan
temperatur.

Kenaikan laju reaksi ini dapat dijelaskan dengan gerak molekulnya. Dengan
kenaikan temperatur gerakan molekul semakin meningkat, sehingga kemungkinan
terjadinya tabrakan antar molekul juga meningkat.

Energi kinetik molekul-molekul tidak sama. Ada yang besar dan ada yang
kecil. Karena itu pada temperatur tertentu ada molekul-molekul yang bertabrakan
secara efektif dan ada yang bertabrakan secara tidak efektif. Dengan kata lain, ada
tabrakan yang menghasilkan reaksi dan ada tabrakan yang tidak menghasilkan reaksi.

Menaikkan temperatur berarti menambah energi. Energi yang diserap oleh


molekul-molekul sehingga energi kinetik molekul menjadi lebih besar, akibatnya
molekul-molekul bergerak lebih cepat dan tabrakan dengan benturan yang lebih
besar makin sering terjadi. Dengan demikian, tabrakan antar molekul yang

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 32

mempunyai energi kinetik yang cukup tinggi itu menyebabkan reaksi kimia juga
makin banyak terjadi. Ini berati bahwa laju reaksi kimia semakin tinggi.

2.1. Parameter Arrhenius


Bahwa konstanta laju reaksi, k adalah tetapan perbandingan antara laju
reaksi dan hasil kali konsentrasi spesi yang mempengaruhi laju reaksi. Untuk
suatu reaksi, harga konstanta laju adalah tetap jika temperatur konstan. Harga
konstanta laju bertambah dan laju reaksi bertambah jika temperatur dinaikkan.

Persamaaan Arrhenius
Pengamatan empiris menemukan bahwa banyak reaksi mempunyai konstanta
laju yang mentaati persamaan Arrhenius:

k = A.e E A / RT …………………………………………………………… 26a.

atau:
EA
ln k = ln A − …………………………………………………….... 26b.
RT

dimana: A disebut faktor pra-eksponensial dan EA adalah energi aktivasi.Dan


keduanya disebut paramater Arrhenius.

Dari persamaan 26b terlihat, bahwa untuk banyak reaksi jika kita
1
memplotkan antara ln k terhadap akan menghasilakan garis lurus, dengan
T
E
perpotongan ln A dan kemiringan − A .
R
Gam bar 2.3 Grafik Arrhenius antara ln k terhadap 1/T
ln k

1/T

Jika peramaan tersebut diatas digunakan untuk temperatur T1 dan T2 yang


berbeda, maka dapat dituliskan k1 pada T1 dan k2 pada T2, dengan persamaan sebagai
berikut:

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 33

EA EA
ln k1 = ln A − dan ln k 2 = ln A −
RT1 RT2

jika ln k2 dikurang dengan ln k1, maka diperoleh:

EA E
ln k 2 − ln k1 = − + A
RT2 RT1
k2 E A  1 1 
ln =  −  ………………………………………………….. 27.
k1 R  T1 T2 

Energi Aktivasi
Energi aktivasi adalah energi minimum yang harus dimiliki oleh molekul-
molekul pereaksi (reaktan) agar menghasilkan terjadinya reaksi jika saling
bertabrakan. Dalam persamaan Arrhenius:

k = A.e − E A / RT ………………………………………………………..… 26a.

Dapat dilihat bahwa :


• e − E A / RT adalah fraksi molekul yang mempunyai energi sebesar EA atau lebih
besar.
• EA bertambah, e − E A / RT berkurang, berarti makin banyak energi yang
diperlukan, lebih sukar bagi molekul-molekul untuk mencapai energi ini.
• Temperatur bertambah, e − E A / RT bertambah (k bertambah besar).

Untuk reaksi yang molekul pereaksinya mempunyai banyak ikatan yang perlu
diputuskan maka energi aktivasinya besar, sedangkan jika hanya sedikit ikatan yang
perlu diputuskan maka energi aktivasinya kecil. Untuk reaksi tanpa pemutusan
ikatan, misalnya: H + + OH − → H 2 O , energi aktivasinya sama dengan nol.

Ada beberapa hal penting mengenai Energi Aktivasi ini, yaitu:


1. Egergi aktivasi yang ditentukan secara eksperimen adalah jumlah energi
aktivasi untuk reaksi keseluruhan bukan masing-masing tahap reaksi (reaksi-
reaksi dasar). EA adalah selisih antara energi reaktan dan energi tertinggi dari
keadaan teraktifkan dalam proses tersebut.
2. Energi aktivasi untuk setiap tahap selalu positip.
3. Sesuai dengan distribusi Maxwell-Boltzmann dari energi molekular, jika
temperatur dinaikkan, laju reaksi bertambah sebab makin banyak tabrakan
yang mempunyai energi lebih besar dari EA.

2.2. Termodinamika
k1

Suatu reaksi: A ↔ R
k2

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 34

Dari persamaan van’t Hoff:

d (ln k ) ∆H r
= ……………………………………………………….. 28.
dt RT 2

[ R ] k1
Karena K = Kc = = , maka:
[ A] k 2

d (ln k1 ) d (ln k 2 ) ∆H r
− = .................................................................... 29.
dt dt RT 2

Dimana ∆Hr = E1 – E2, maka:

d (ln k1 ) E d (ln k 2 ) E
= 1 2 dan = 22
dt RT dt RT

secara umum dapat ditulis:

d (ln k ) E
=
dt RT 2
E
ln k = −
RT 2

dibandingkan dengan persamaan Arhenius:


k0
E
∫ d (ln k ) = ∫ ln k RT 2
.dt
− E A / RT
k = k 0 .e ...................................................................................... 30.

Bentuk persamaan van’t Hoff hampir sama dengan persamaan Arrhenius.

2.3. Teori Tumbukan


Menurut teori tumbukan sederhana, laju reaksi didasarkan pada:
a. jumlah tumbukan per satuan volume per satuan waktu.
b. Molekul-molekul yang bertumbukan harus mempunyai energi yang cukup
(Energi Aktivasinya) sebelum molekul-molekul tersebut dapat diubah menjadi
produk.

Untuk tumbukan dari molekul yang serupa misalnya A, maka

4π .k .T
Z AA = σ A .n A
2 2

MA

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 35

N2 4π .k .T
Z AA = σ A .
2
[ A] 2 …………………………………………… 31.
10 6 MA

Dimana:
ZAA = jumlah tumbukan A dengan A per detik per cm3.
σ = diameter sebuah molekul, cm
MA = berat molekul
N = bilangan Avogadro : 6,023.1023 molekul/mol
[A] = konsentrasi A, mol/L
N .[ A]
nA = , jumlah mol A/cm3.
10 3
R
k = konstanta Bolzmann = = 1,3.10 −16 erg / K
N

untuk tumbukan bimolekular dari molekul-molekul yang tidak serupa; maka:

2
 σA + σB   1 1 
Z AB =  .n A .n B . 8π .k .T  + 
 2  MA MB 
2
 σA + σB  N
2
 1 1 
Z AB =  . 6 . 8π .k .T  +  .[ A].[ B ] ......................... 32.
 2  10 MA MB 

Dari teori distribusi Maxwell pada energi molekul-molekul fraksi dari


tumbukan bimolekular yang melibatkan energi minimum, diberikan dengan rumus:
e − E A / RT , sehingga laju reaksinya:

− rA = k .[ A].[ B ]
 Fraksi Tumbukan yg melibatkan 
− rA = ( Laju Tumbukan, mol/L.dt ). 
 energi minimum, E 
3
10 −EA / RT
− rA = Z AB . .e .......................................................................... 33a.
N

          k          
2
 σA + σB  N  1 1  − E A / RT
ZA =   . 3 . 8π .k .T  +  .e .[ A].[ B] .............. 33b
 2  10  M A M B 
                
A
.
Jadi, dari persamaan ini ternyata ketergantungan konstanta laju reaksi pada
temperatur dapat dinyatakan dengan: k ≈ T 1 / 2 .e − E A / RT

2.4. Teori Keadaan-Transisi (Kompleks Teraktivasi)


Laju atau konstanta laju yang dihitung dengan bantuan teori kompleks
teraktivasi didasarkan pada:

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 36

a. reaktan diubah menjadi suatu kompleks teraktivasi sebelum diubah


menjadi produk.
b. Ada suatu kesetimbangan antara konsentrasi reaktan dengan kompleks
teraktivasi pada setiap saat.

keadaan transisi kompleks teraktivasi keadaan transisi kompleks teraktivasi

E2 (≈∆H2*) E2 (≈∆H2*)
(selalu positif) (selalu positif)
Energi

E1 (≈∆H1*) E1 (≈∆H1*)

Energi
(selalu positif) (selalu positif)

∆Hr (positif) ∆Hr (negatif)

Endotermik
Eksoterm ik

Reaktan kom pleks hasil Reaktan kom pleks hasil


Waktu Waktu

Gambar 2.4 Hubungan Energi terhadap waktu mengenai


perubahan reaktan menjadi hasil reaksi

Maka kecepatan peruraian kompleks-kompleks teraktivasi adalah sama untuk semua


k.T
reaksi dan dinyatakan dengan rumus:
h

Dimana:
R
k = konstanta Bolztmann : = 1,3.10 −16 erg / K
N
h = konstanta Plack : 6,63.10-27 erg.s.

Reaksi dapat dituliskan: A + B ↔ AB ∗ → Pr oduk


Reaksi diatas mempunyai reaksi elementer sebagai berikut:

A + B → k1
AB ∗
AB ∗ →
k2
A+ B

AB → Pr oduk
k3

Maka;
k1 [ AB ∗ ]
K c∗ = =
k 2 [ A].[ B ]
[A].[B] = K*c[AB*]
[AB*] = K*c.[A].[B] =
k.T
k3 =
h

sehingga:

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 37

 Laju Peruraian 
rAB ( kedepan ) =  .( Konsentrasi Kompleks Teraktivasi ) .
 Kompleks teraktivasi 
k .T
rAB = [ AB*]
h
k .T ∗
rAB = .K c .[ A].[ B] …………………………………………………. 34.
h

Dengan menyatakan konstanta kesetimbangan dari kompleks teraktivasi


dalam bentuk Energi bebas standar:

 K C∗ 
∆G* = ∆H * −T .∆S * = − R.T ln o  ................................................... 35a.
 K∗ 
 C 
0
dimana: K C∗ = rasio konsentrasi pada keadaan standar

K C∗ = e − ∆G*/ RT = e − ∆H */ RT .e − ∆S */ R ............................................................ 35b.

Sehingga laju reaksi menjadi:

k.T ∆S / R −∆H */ RT ∗ 0
rAB (kedepan) = .e .e .K C .[ A].[ B ] ............................................ 36.
h

Secara teoritis ∆S* dan ∆H*, berubah secara perlahan terhadap temperatur.
Dari bentuk diatas e ∆S */ R adalah sangat tidak sensitif terhadap temperatur daripada
dua bentuk yang lain, sehingga bentuk tersebut menjadi konstan.

Untuk reaksi ke depan (→) dan reaksi ke belakang (←) dari persamaan mula-
mula didapat:

k1 ≈ T .e − ∆H1*/ RT ..................................................................................... 37a.

k 2 ≈ T .e − ∆H 2 */ RT .................................................................................... 37b.

Dimana: ∆H 1∗ − ∆H 2∗ = ∆H r
Selanjutnya kita lihat hubungan antara ∆H* dab Energi aktivasi Arrhenius,
yang secara umum kita menggunakan analogi dari termodinamika. Untuk cairan dan
padatan: E = ∆H ∗ − RT
Untuk gas:

E = ∆H ∗ − ( Molecularity − 1).R.T

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 38

dari teori ini; maka E − ∆H ∗ = − RT , dimana -R.T sangat kecil, sehingga ∆H* = E.
Jadi, teori keadaan transisi menduga bahwa : k ≈ T .e − E A / RT

3. Metode Penentuan Konstanta Laju dan Orde Reaksi


3.1. Metode Diferensial (Laju Awal)
Dalam metode ini dilakukan sederetan eksperimen dengan data konsentrasi
awal yang berbeda-beda, kemudian dengan membandingkan laju awal, amak dapat
ditarik kesimpulan tentang orde reaksi.

Perhatikan persamaan laju reaksi umum yang melibatkan dua reaktan:

d [ R1 ]
− = k .[ R1 ]l [ R2 ] m ………………………………………………. 38a.
dt

Atau
 d [ R1 ] 
log −  = log k + l. log .[ R1 ] + m. log .[ R2 ] …………………….. 38b.
 dt 

l (atau m) dapat dievaluasi dari eksperimen dari kemiringan plot antara


 d [ R1 ] 
log −  dan log [R1] (atau log [R2]) dengan menjaga [R1] (atau [R2]) tetap. k
 dt 
dapat dihitung dari intersep dan orde reaksi.

Misalkan reaksi dibawah ini:



3H 2 O2 + BrO3 + H + → Br − + 3O2 + 3H 2 O

[H+] [BrO3-] [H2O2] d [ BrO3− ] − 7


Laju Awal, − .10 ,M.s-
Eksp. dt
Mol/L 1

1 0,10 0,00587 0,036 9


2 0,10 0,01174 0,036 19
3 0,12 0,00978 0,0385 20
4 0,12 0,00978 0,077 40
5 0,12 0,00489 0,0363 9
6 0,24 0,00489 0,0363 18
7 0,24 0,00493 0,0363 18
8 0,36 0,00493 0,0363 28

Dengan melihat data, pernyataan laju reaksi menjadi :

d [ BrO3− ]
− = r = k .[ H + ]l .[ BrO3− ] m .[ H 2 O2 ] n
dt
atau ;

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 39

log R = log k + l log [ H + ] + m log [BrO 3- ] + n log [H 2 O 2 ]

harga l, m, dan n dapat dihitung dengan memakai persamaan diatas dengan memilih
data sedemikian rupa, sehingga [H+] atau [BrO3-] atau [H2O2] bervariasi dan dua
lainnya dibuat konstan.

Contoh:
Misalkan kita ingin menentukan orde reaksi terhadap [BrO3-] = m, maka:
Dari data eksperimen 1 dan 2, diperoleh:

log 19 − log 9 = m.(log 0,001174 − log 0,00587)

 19 
log 
m= 9 = 1,08 ≈ 1
 0,001174 
log 
 0,00587 

demikian juga dengan yang lainnya.


Orde reaksi terhadap [H2O2] = n
Dari data eksperimen 3 dan 4, diperoleh:

log 40 − log 20 = n ( log 0,077 - log 0,0385)


 40 
log  
n=  20  = 1
 0,077 
log  
 0,0385 

Orde reaksi terhadap [H+] = l


Dari data eksperimen 5 dan 6, diperoleh:

log 18 - log 9 = l (log 0,24 - log 0,12)

 18 
log  
l=  9  =1
 0,24 
log  
 0,12 

jadi:
Persamaan Laju reaksinya adalah:

d [ BrO3− ]
− = r = k .[ H + ].[ BrO3− ].[ H 2 O2 ]
dt

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 40

kemudian dengan mensubstitusi masing-masing harga, kita dapat menentukan harga


k dengan menggunakan persamaan:

R
k= + -
[H ] [BrO 3 ] [H 2 O 2 ]

9.10 − 7 M.s -1
k= = 0,0426 M -2 .s -1
(0,1 M ).(0,00587 M ).(0,036 M )

demikian juga untuk harga k yang lainnya dapat dihitung, dan rata-rata dapat
diperoleh atau dapat juga menggunakan metode grafik.

3.2. Metode Integral


Metode ini merupakan metode trial and error (empiris), yaitu perubahan
konsentrasi dengan waktu yang diukur, dan harga k dihitung dengan menggunakan
persamaan terintegrasi yang berbeda untuk orde reaksi yang berbeda. Orde reaksi
akan diperoleh dari persamaan yang memberikan harga k yang konsisten. Ini dapat
dikerjakan secara analitis atau secara grafik.

Contoh perhitungan;
Data berikut diperoleh dalam reaksi atom bromin dengan Cl2O. Hitung orde
reaksi berkenaan dengan atom bromin dan Cl2O.

Waktu (μ s) 0 40 70 100
[Cl2O].103,
24,4 19,70 17,85 16,56
mol/m3
[Br].103,
12,2 7,50 5,65 4,36
mol/m3

Misalkan n1 dan n2 orde reaksi berkenaan dengan Cl2O dan atom bromin.
Harga k dihitung untuk kombinasi n1 dan n2 yang berbeda dari data diatas. Jelas
bahwa untuk n1 = n2 = 1, harga k yang diperoleh adalah konstan.

Harga k
n1 = 0, n2 = 0 0,118.10-3 0,062.10-3 0,050.10-3
n1 = 1, n2 = 0 5,34 3,29 2,33
n1 = 0, n2 = 1 1,206 0,944 0,861
n1 = 2, n2 = 0 2,5.105 2,33.105 2,0.105
n1 = 0, n2 = 2 1,27.105 1,47.105 1,70.105
n1 = 1, n2 = 1 5,40.105 5,30.105 5,30.105

3.3. Metode Waktu Paruh


Metode ini penentuan waktu paruh sebagai suatu fungsi konsentrasi. Jika
waktu paruh tidak tergantung pada konsentrasi, maka orde reaksi adalah kesatu. Jika

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 41

tidak, kemiringan dari plot antara t1/2 terhadap log [A]0, memberikan harga orde
reaksi seperti dalam persamaan 24:

2 n −1 − 1
t1 / 2 = n −1 ………………………………………………… 24.
(n − 1).[ A]0 .k

Akan menjadi:

 2 n −1 − 1 
log t1 / 2 = log   - (n - 1) log [A]0 ……………………………… 39.
 (n − 1).k 

Contoh perhitungan:
Data berikut dicatat dalam peluluhan radikal ClO. Hitung orde reaksi
tersebut.

[ClO]0.103,
8,7 8,44 7,44 7,39 7,13
(mol/m-3)
t1/2, (m dtk) 4,8 4,9 5,4 5,5 5,8
log [ClO]0* 0,94 0,926 0,892 0,869 0,853
log t1/2 0,681 0,690 0,732 0,74 0,763
* dengan mengabaikan faktor sejenis 10-3
Data menunjukkan bahwa waktu paruh tidak bebas dari konsentrasi awal
radikal ClO. Plot log [ClO] terhadap log t1/2 adalah suatu garis lurus (gambar
dibawah) dan kemiringan -1.
Gam bar 2.5 Plot log t 1/2 te r hadap log [ClO]0

0.77

0.75
log t 1/2

0.73

0.71

0.69

0.67
0.853 0.869 0.892 0.926 0.94
log [ClO]0

Ini memberikan : - (n – 1) = - 0,88


n = 1,88 = 2

3.4. Metode Relaksasi


Metode ini digunakan untuk mengkaji reaksi-reaksi yang cepat. Dalam
metode ini, campuran reaktan diganggu sedikit-sedikit dari posisi kesetimbangan
dengan bantuan lompatan temperatur, lompatan tekanan, atau metode pulsa elektrik.
Sistem yang terganggu tersebut kembali ke kesetimbangan yang baru atau ke

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 42

kesetimbangan yang lama, dan umumnya mengikuti kinetika orde I. persamaan yang
menggambarkan perilaku tersebut adalah:

∆[Ci ] = ∆[Ci ]0 .e −i / τ …………………………………………………..... 40.

Dimana ∆[Ci] dan ∆[Ci]0 adalah perpindahan konsentrasi dari posisi kesetimbangan
pada waktu t dan t = 0, τ adalah waktu relaksasi. Bentuk diferensial dapat diperoleh
dengan mendiferensiasi terhadap t, dengan persamaan:

d∆[Ci ]  1
= ∆[Ci ]0 .e −i / τ  −  .…………………………………………. 41a.
dt  τ

atau
d ( ∆[Ci ]0 ) 1
− = ∆[Ci ] ...……………………….……………………. 41b.
dt τ

3.5. Metode Analisis Guggenhem


Dalam persamaan-persamaan tertentu, perlu untuk membaca t = ~ (tak
terhingga) sebelum persamaan tersebut dapat dianalisis, sedangkan metode ini tidak
melibatkan pembacaan tersebut. Dasar untuk metode ini adalah perlunya pembacaan
pada selang waktu yang sama. Perhatikan suatu reaksi orde I dan persamaan

[ A]1 = [ A]O .e -k.t ...................................................................................... 11c.


[ A] 2 = [ A]O .e -k(.t + ∆t) ................................................................................ 42a.

sehingga menjadi:

[ A]1 − [ A] 2 = [ A]O .e -k.t (1 − e − k .∆t )

atau:
ln( [ A]1 − [ A] 2 ) = −k .t + ln [ A]O .(1 − e − k .∆t ) ............................................ 42b.

Maka jika kita memplotkan antara ln ([A]1 – [A]2) terhadap t akan memberikan garis
lurus dengan kemiringan k

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 43

Contoh Soal
1. Tuliskan persamaan-persamaan laju reaksi diferensial dari reaksi-reaksi dibawah
ini.
a. 2 H 2 + O2 → 2 H 2 O
b. 2 NOCl → 2 NO + Cl 2
c. NO + O3 → NO2 + O2
Jawab:
d[H 2 ] 2d [O2 ] d [ H 2 O]
a. Laju reaksi = − =− =
dt dt dt
d [ NOCl ] d [ NO ] 2d [Cl 2 ]
b. Laju reaksi = − = =
dt dt dt
d [ NO] d [O3 ] d [ NO2 ] d [O2 ]
c. Laju reaksi = − =− = =
dt dt dt dt

2. Perhatikan reaksi pembakaran metana, CH4;

CH 4 ( g ) + 2O2 ( g ) → CO2 ( g ) + 2 H 2 O( g )

jika metana terbakar dengan laju 0,15 mol/L.s. Hitung laju pembentukan CO2 dan
H2O.
Jawab:
Laju pembentukan CO2:
0,15 mol CH 4 1 mol CO2
rCO2 = x = 0,15 mol CO 2 /L.s.
L.s 1 mol CH 4
Laju pembentukan H2O:
0,15 mol CH 4 2 mol H 2 O
rH 2O = x = 0,30 mol CO2 / L.s
L.s 1 mol CH 4

3. Variasi tekanan parsial azometana terhadap waktu pada temperatur 600K, dengan
hasil dibawah ini. Buktikan bahwa dekomposisi:

CH 3 N 2 CH 3 (g) → CH 3 CH 3 (g) + N 2 (g)

adalah orde kesatu terhadap azometana. Tentukanlah konstanta laju pada


temperatur tersebut.
t, s 0 1000 2000 3000 4000
-2
P.10 , Torr 8,20 5,72 3,99 2,78 1,94

Jawab:
Laju reaksi orde I adalah sebagai berikut:
[ A]0
ln = k .t ........................................................................................... 11b.
[ A]

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 44

[ P]0
Persamaan ini dapat menjadi ln = k .t . Jadi jika mengalurkan antara
[ P]
[ P]0
ln terhadap t maka akan diperoleh grafik berupa garis lurus yang
[ P]
membuktikan bahwa reaksi berorde kesatu dengan kemiringan k.

t, s 0 1000 2000 3000 4000


[ P]0
ln - 0,36 0,72 0,108 1,44
[ P]

1.5

1.25

1
ln Po/P

0.75

0.5

0.25

0
0
1000 2000 3000 4000
Waktu, s

maka harga konstanta laju raksi, k adalah


∆y y 2 − y1 1,08 − 0,72
k= = = = 3,6.10 4 s -1
∆x x 2 − x1 3000 − 2000

4. Penguraian Hidrogen peroksida dengan katalis adalah reaksi orde kesatu.


Konstanta laju penguraian hidrogen peroksida 6,2.10-4 /s. Hitung berapa persen
hidrogen peroksida yang terurai setelah 20 menit.
Jawab:
[ A]0
Untuk reaksi orde kesatu : ln = k .t
[ A]
Dimana :
t = waktu, s
[A]0 = konsentrasi awal A pada waktu t = 0 menit
[A] = [A]0 – x adalah konsentrasi A pada waktu t = t menit
x adalah konsentrasi produk reaksi (jumlah hidrogen peroksida) pada waktu t
Jadi [A]0 – x adalah konsentrasi hidrogen peroksida yang tertinggal pada
waktu t

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 45

6,2.10 -4 60 s
k= x = 0,0372 /menit
s 1 menit
[ A]0 [ A]0
ln = 0,0372 /menit x 20 menit = 0,744 , maka nilai = 2,104
[ A] [ A]
Konsentrasi yg tertinggal
% yang tertinggal = x 100 %
Konsentrasi awal
1
x 100 %
=  [A]0 
 
 [A] 
1
= x 100 % = 47,52 %
2,104
Jadi % Hidrogen Peroksida yang terurai adalah = 100 % - 47,52 % = 52,48 %

5. Suatu reaksi 25 % sempurna dalam waktu 25 menit. Jika reaksi tersebut


mengikuti orde kesatu. Berapakah konsentrasi akhir setelah 50 menit, jika
konsentrasi awal adalah 2.104 mol/L.
Jawab:
A → produk

Jadi:
Pada t = 0 [A]0 0
Pada t = t [A] x
x adalah konsentrasi produk reaksi pada waktu t.

Karena 25% reaktan dipakai dalam 25 menit, maka [A] setelah 25 menit akan
menjadi, [A] = [A]0 – x
= 2.104 mol/L. – (2.104 mol/L x 25%) = 1,5.104 mol/L
Dengan mensubstitusi harga [A] = 1,5.104 mol/L dan [A]0 = 2.104 mol/L
[ A]0
Dan t = 25 menit ke dalam persamaan ln = k .t , maka akan diperoleh:
[ A]
( 2.10 4 ) 1
ln 4
x = k ⇒ k = 0,0115 /menit
(1,5.10 ) 25 menit
jadi setelah 50 menit, maka konsentrasi A adalah:
[ A] = [ A]O .e -k.t ⇒ [A] = (2.10 4 ).e (- 0,0115 x 50)
⇒ [A] = 11248,8 mol/L

6. Moelwyn-Hughes telah mendapatkan data seperti dibawah ini, untuk reaksi:


N 2 O 5 → N 2 O 4 + 1/2 O 2
Temp, K k, detik
288,1 1,04.10-5
298,1 3,38.10-5
313,1 2,47.10-4
323,1 7,59.10-4

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 46

338,1 4,87.10-3

Tentukan harga: Faktor praeksponensial, A dan Energi Aktivasinya, EA.


Jawab:
Dari persamaan Arrhenius : k = A.e − E A / RT ………………………..… 26a.
E
Ditata ulang menjadi : ln k = ln A - A , sehingga jika memplotkan antara
R.T
ln k terhadap 1/T akan diperoleh grafik berupa garis lurus, dengan
E
perpotongan ln A dan kemiringan − A .
R
-3 -1
1/T.10 , K ln k,
3,47 -11,47
3,35 -10,30
3,19 -8,31
3,10 -7,18
2,96 -5,33

2.5 4
-6

-7.5
ln k

-9

-10.5

-12
1/T.10-3,K-1

E A − 5,33 − (−11,47)
dari grafik diatas slope = − = = −12039,22
R ( 2,96 − 3,47).10 −3
− E A = −12039,22 x R
E A = 12039,22 x 0,0821 L.atm/mol.K
E A = 988,42 L.atm/K
Jadi untuk menentukan harga A, dari suatu titik pada grafik diperoleh:
 988,42 L.atm./K 
ln A = - 11,47 +  
 0,0821 L.atm/mol.K x 288,1 K 
ln A = 30,318 (inv. → ln)
jadi harga A = 1,469.1013 /detik

7. Gunakan teori tumbukan untuk menentukan laju reaksi spesifik dari reaksi
dekomposisi (penguraian) hidrogen iodida pada 321,4OC, 2 HI → H 2 + I 2 .
Anggaplah bahwa diameter partikel yang bertumbukan, σ = 3,5 Å (3,5.10-8 cm),

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 47

dimana Energi aktivasi yang telah ditentukan secara eksperimen adalah 44.000
kal/mol. Tentukan berapa besar faktor praeksponensial dan konstanta lajunya.

Jawab:
MA = MB = MHI = 128,0 g/gmol
σA = σB = 3,5.10-8 cm
EA = 44.000 kal/gmol
T = 321,3OC = 594,6 K
R =1,987 kal/gmol.K
N = bilangan Avogadro = 6,023.1023 molekul/gmol
R 1,987 kal/gmol.K
K= = = 3,28739.10 - 24 kal/K
N 6,023.10 23 molekul/gmol
Dari persamaan 33b, diperoleh:

          k          
2
 σA + σB  N  1 1  − E A / RT
ZA =   . 3 . 8π .k .T  +  .e .[ A].[ B] ,
 2  10 M M
             A    B
A

bahwa untuk mencari harga A digunakan persamaan sebagai berikut:

2
 σA + σB  N  1 1 
A =   . 3 . 8π .k .T  +  , maka dengan memasukkan
 2  10 M
 A M B 

semua nilai-nilai diatas akan diperoleh:

A = 2,042.10-5
-44.000
Jadi k = 2,042.10 - 5.e 1,987 x 594,6
k = 1,2.10-21

8. Waktu paruh peluruhan RA thorium-234 adalah 24 hari.


Hitunglah : a. Tetapan laju peluruhan
b. Waktu yang diperlukan agar 80% thorium meluruh.

Jawab:
a. Peluruhan RA mengikuti hukum laju reaksi orde I:
0,693 0,693
t1 / 2 = →k=
k t1 / 2
0,693
k = 24 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik
1 hari 1 jam 1 menit
-7
k = 3,342.10 /detik
b. 80% thorium meluruh, jumlah awal thorium [A]0.

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 48

Jadi : x = 80% [A]0 = 0,8.[A]0


[A] = [A]0 – x = [A]0 - 0,8.[A]0 = 0,2.[A]0
[ A]0 1 [ A]0
ln = k .t → t = x ln
[ A] k [ A]
1 [ A]0
t= −7
x ln
3,342.10 / det ik 0,2.[ A]0
t = 4816660,443 detik = 55,75 hari

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 49

Latihan Soal

1. Suatu reaksi fase gas; 2 A (g) → 2 B (g) + C , berlangsung secara internal dan
isokhoris. Jika hanya terdapat A saja, maka data-data percobaannya adalah
sebagai berikut:
t, menit 0 10 20 30 40 50
Pt, atm 2,0 2,162 2,308 2,4 2,471 2,526

Ditanyakan : a. Orde reaksi


b. Konstanta laju reaksi

2. Suatu reaksi mengikuti orde 1;

2 N2O5(g) → 4 NO2(g) + O2(g)

Jika konstanta laju reaksi = 4,94.1013.e-103400/RT


Tentukanlah :
a. Berapa % N2O5 (g) yang telah terurai pada temperatur 318 K dalam waktu 15
menit.
b. Berapa waktu yang diperlukan sehingga 95% N2O5 (g) terurai.
c. Pada temperatur berapa, 50% N2O5 (g) telah terurai dalam waktu 25 menit.

3. Di dalam suatu reaktor, zat cair A berubah 50% dalam waktu 22,5 menit.
Tentukanlah berapa waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan 75% zat cair A
yang berubah, jika zat cair tersebut terurai dengan mengikuti:
a. Reaksi orde 1?
b. Reaksi orde 2?
c. Reaksi orde 3?

4. Diketahui data suatu reaksi sebagai berikut:

A+B→C

[A] M [B] M Waktu


0,05 0,2 2 menit
0,05 0,8 1 menit
0,10 0,9 20 detik
Tentukan :
a. Orde Reaksi terhadap A dan B?
b. Persamaan Laju reaksi?
c. Konstantan k?

5 Bila konsentrasi N2O5 dalam larutan CCl4 pada 45OC adalah 0,5 M. Harga
konstanta k = 6,22x10-4 s-1. Berapa konsentrasi setelah 1,5 jam bila:
d. Penguraian mengikuti reaksi orde 1?
e. Penguraian mengikuti reaksi orde 2?

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 50

6. 50 mL metil asetat ditambahkan ke wadah reaksi yang mengandung 100 mL HCl


1,89 N dan dipertahankan pada temperatur 298 K. Kemudian 5,0 mL campuran
rekasi tersebut dikeluarkan pada berbagai waktu yang berbeda dan dititrasi
dengan alkali standar. Hasilnya adalah :
t (detik) : 0 900 1800 3000 ∞
alkali terpakai (mL) : 11,03 11,70 12,15 12,75 14,10
Buktikan bahwa reaksi reaksi tersebut orde 1 dan tentukan laju reaksi.

7. Dalam suatu reaksi gas, waktu paruh reaksi (t1/2) berubah sesuai dengan tekanan
parsial (P) sebagai berikut :
P (mm) : 500 600 800 1000
t1/2 (menit) : 268 223 168 134
Tentukan orde reaksi.

8. ClO terurai secara radikal sebagai : 2 ClO → Cl 2 + O 2 . Hitung harga konstanta k


dari data :
t, m s 0,12 0,62 0,96 1,6 3,2 4,0 5,75
ClO.10-6, mol/L 8,49 8,09 7,1 5,79 5,2 4,77 3,95

9. Pada reaksi antara atom bromin dan Cl2O, berlangsungnya reaksi diikuti dengan
mengukur konsentrasi radikal ClO. Jika konsentrasi awal dari atom bromin =
12,2.10-6 mol/L dan Cl2O = 24,4.10-6 mol/L. Hitunglah konstanta laju reaksi.

Br + Cl 2 O → BrCl + ClO

t, μ s 10 20 30 40 50 60 70 80 100
ClO.106, 3
1,68 2,74 4,7 5,6 6,19 6,55 7,4 7,8
mol/L ,66

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 51

BAB III
MEKANISME REAKSI DAN HUKUM LAJU

Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari mekanisme reaksi dan hukum laju, diharapkan mahasiswa
mampu:
1. memahami mekanisme reaksi berkenaan dengan reaksi dasar dan
penggolongan reaksi dasar menurut molekularitasnya.
2. memahami hukum laju untuk reaksi bimolekul dasar dan reaksi unimolekul.
3. memahami hukum laju keseluruhan yang berasal dari reaksi berturutan dan
tahap penentu reaksi dalam mekanisme reaksi.
4. memahami reaksi melalui pembentukan zat antara (keadaan transisi) dengan:
pendekatan keadaan tunak (tetap), prakeseimbangan, dan mekanisme kerja
enzim (Michaelis-Menten).

Banyak reaksi tidak berlangsung dalam satu tahap reaksi tetapi berlangsung
dalam beberapa tahap untuk menghasilkan produk reaksi. Setiap tahapan reaksi
disebut reaksi elementer (reaksi dasar). Deretan reaksi elementer ini yang disebut
mekanisme reaksi.

Dalam mempelajari reaksi yang berlangsung pada tiap tahap, perlu diketahui
banyaknya (jumlah) molekul reaktan yang bertumbukan untuk membentuk suatu zat
antara (atau kompleks transisi atau intermediate) yang selanjutnya zat antara ini akan
bereaksi membentuk produk. Molekularitas reaksi elementer adalah jumlah molekul
(atau atom atau ion) yang bertumbukan untuk bereaksi. Molekularitas harus
dibedakan dengan orde reaksi; orde merupakan kuantitas empiris, dan diperoleh dari
hukum laju secara eksperimen, sedangkan molekularitas merujuk pada reaksi
elementer yang didalilkan dalam mekanisme reaksi. Reaksi elementer uni-
molekular (kemolekulan satu), dari satu macam reaktan dapat terjadi setelah
sekurang-kurangnya melalui “tahap bimolekular”. Reaksi elementer yang
menyangkut tabrakan antara dua molekul disebut bimolekular. Reaksi termolekular
yang menyangkut tiga molekul bertabrakan serentak sangat jarang.

Mekanisme reaksi merupakan suatu hipotesa untuk membuktikan bagaimana


reaksi itu terjadi. Mekanisme reaksi sangat erat hubungannya dengan persamaan
hukum laju, dimana mekanisme reaksi yang diajukan harus konsisten dengan hukum
laju. Untuk reaksi-reaksi elementer; hal ini tidak menjadi persoalan, tetapi untuk
reaksi-reaksi non-elementer hal ini akan menjadi rumit karena persamaan hukum
lajunya tidak sesuai (konsisten) dengan persamaan stoikiometrinya. Sehingga kita
harus mengajukan beberapa hipotesa mekanisme reaksi yang mungkin akan terjadi;
karena mekanisme reaksi yang kita ajukan terhadap suatu reaksi tidak berarti bahwa
reaksi akan berlangsung menurut mekanisme tersebut, sehingga kita ajukan hipotesa
mekanisme yang lain untuk membuktikannya.

1. Reaksi Dasar Bimolekul


Kebanyakan reaksi berlangsung dalam langkah yang berurutan. Reaksi dasar
yang khas:

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 52

H + Br2 → HBr + Br
A + B → Produk

persamaan reaksi diatas mempunyai arti bahwa: suatu atom H tertentu menyerang
molekul Br2 tertentu, dan menghasilkan molekul HBr dan atom Br.

Hukum laju reaksi elementer bimolekular merupakan reaksi orde kedua;


sebagaimana dalam reaksi: A + B → Produk , dengan hukum laju:

d [ A]
− = k .[ A].[ B ] ………………………………………………….. 1.
dt

Reaksi bimolekular mempunyai orde kedua, karena lajunya bergantung pada


laju bertemunya reaktan, yang sebanding dengan konsentrasinya. Jadi, jika suatu
reaksi merupakan proses bimolekular satu tahap, maka kita dapat menuliskan hukum
lajunya (kemudian menguji hukum laju tersebut).

2. Reaksi Dasar Berturutan


Reaksi berturutan adalah reaksi dimana zat antara yang terbentuk dalam satu
tahap reaksi yang selanjutnya membentuk produk,contohnya adalah peluruhan zat
radioaktif, seperti:

239
U 23,5
 →
menit 239
Np 2,35
 hari
→ 239
Pu

Variasi konsentrasi terhadap waktu


Dalam reaksi uni-molekular berturutan:

A →
k1
B →
k2
C

pada t = 0 [A]0 0 0
pada t = t [A] [B] [C]
Pada setiap saat: [A] + [B] + [C] = [A]0.
Laju dekomposisi uni-molekular A adalah:

d [ A]
− = k1 .[ A] ……………………………………………………….. 2ª
dt

Zat antara B terbentuk dari A (pada laju k1[A]), dan selanjutnya B meluruh
menjadi C (pada laju k2[B]), maka laju pembentukan B:

d [ A]
= k1 .[ A] − k 2 .[ B ] ………………………………………………… 2b.
dt

C terbentuk dari peluruhan uni-molekular B:

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 53

d [ A]
= k 2 .[ B ] …………………………………………………………. 2c.
dt
Andaikan pada awalnya hanya terdapat A saja, dan konsentrasinya adalah [A]0. Maka
konsentrasi masing-masing pada waktu t adalah:

[ A] = [ A]0 .e − k .t ………………………………………………………. 3a.

[ B] =
k1
k 2 − k1
( )
e − k1 .t − e − k2 .t .[ A]0 …………………………………….. 3b.

 k .e − k 2 .t − k 2 .e − k1 .t 
[C ] = 1 + 1 .[ A]0 ………………………………….. 3c.

 k 2 − k1 

Ketiga konsentrasi tersebut dialurkan terhadap waktu, pada gambar 3.1.


Terlihat bahwa konsentrasi zat antara, [B] meningkat sampai mencapai maksimum
dan kemudian terus turun, sedangkan konsentrasi produk, [C] dari nol meningkat
terus dan mencapai [A]0. Kurva tersebut merupakan grafik dari persamaan 3, dengan
k1 = 10 k2.

[B]
[C]
konsentrasi

[A]

w aktu, t

Gambar 3.1. Konsentrasi A, B, dan C dalam skema


reaksi berurutan A → B → C

2.1. Pendekatan Keadaan Tetap


Asumsi yang terlibat dalam pendekatan keadaan tetap (steady-state) adalah
bahwa konsentrasi dari zat antara yang bereaksi dapat dianggap konstan, yaitu:

d [i ]
ri = = 0 ; Dengan catatan bahwa pendekatan steady-state hanya hanya
dt
dapat diterapkan untuk jenis-jenis zat yang mempunyai masa hidup pendek atau
sangat reaktif.

Pendekatan keadaan tetap (Steady-state) sangat bermanfaat untuk


membuktikan mekanisme reaksi-reaksi rumit. Misalnya penguraian N2O5 dalam
keadaan gas;

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 54

o
2N 2 O 5 (g) dalam
 CCl → 4 NO 2 (g) + O 2 (g)
4 , 45 C

Pertama-tama molekul N2O5 mengalami eksitasi setelah bertumbukan dengan


molekul N2O5 yang kedua (atau spesi N2O5 yang lain), sehingga terbentuk molekul
N2O5* yang tereksitasi sehingga dapat mengalami penguraian.

N 2O5 + N 2O5 → N 2O5 *

Tahap reaksi:
N 2 O 5 →
k1
NO 2 + NO ∗3 (1)
NO 2 + NO ∗3 →
k2
N 2O5 (2)
∗ ∗
NO → NO + O 2
3
k3
(3)
∗ ∗
NO + NO → 2 NO 2
3
k4
(4)

Dari penelitian ditemukan bahwa reaksi ini merupakan reaksi orde kesatu
terhadap N2O5, bukan berorde kedua. Jadi kedua molekul N2O5 terdapat disebelah
kiri tersebut bukan suatu tahapan mekanisme reaksi. Sehingga mekanisme reaksi
yang sebenarnya terjadi (dari reaksi penguraian N2O5 tersebut) berlangsung dalam 4
∗ ∗
tahap reaksi. NO 3 dan NO merupakan intermediate yang sangat reaktif. Sehingga
∗ ∗
pendekatan keadaan tetap dapat dilakukan pada N 2 O 5 , NO 3 dan NO . Dengan laju:
d [N 2 O 5 ]
− rN 2O5 = − k 1 .[N 2 O 5 ] . Untuk pembuktian lihat contoh soal no. 1.
dt

2.2. Prakeseimbangan
Suatu reaksi dimana zat antara mencapai keseimbangan dengan reaktan:
k1
A + B ↔ C →
k2
P
k1 '

dimana: A, B : reaktan
C : zat antara
P : produk

Skema reaksi ini disebut prakeseimbangan. Hal ini terjadi bila: laju
pembentukan zat antara dan laju pengurangan (pembentukan) kembali menjadi
reaktan, jauh lebih cepat dari pada laju pembentukan produk. Sehingga terjadi
keseimbangan antara: A + B dan C. Maka kita dapat menuliskan:
k [C]
k 1 [A] [B] ≈ k 1 ' → 1 = → [C] = K [A] [B]
k 1 ' [A] [B]
[C]
K= ......................................................................................... 4.
[A] [B]
k1
Dengan K =
k1 '

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 55

Laju pembentukan P dapat dituliskan:

d [P] d [P]
= k 2 [C] → = k 2 K [A] [B]
dt dt
d [P]
= k [A] [B] ……………………………………………………. 5.
dt
k 1 .k 2
Hukum laju ini mengikuti reaksi orde kedua, dengan k =
k1 '
Sebagai contoh, oksidasi nitrogen (II) oksida akan membantu bagaimana
asumsi prakeseimbangan membantu menjelaskan sebuah mekanisme reaksi.

d [NO 2 ]
2 NO (g) + O 2 (g) 
→
k
2 NO 2 (g) → = k [NO]2 [O 2 ]
dt

Penjelasan yang mungkin adalah reaksi ini merupakan reaksi satu tahap sederhana
antar molekul; berarti reaksi tersebut memerlukan tumbukan antara tiga molekul
secara bersamaan. Hal ini sangat jarang terjadi. Selain itu, ternyata bahwa laju reaksi
berkurang saat temperatur dinaikkan. Ini menunjukkan adanya mekanisme reaksi
yang rumit, karena reaksi sederhana hampir selalu berlangsung lebih cepat pada
temperatur yang lebih tinggi. Mekanisme yang menyebabkan ketergantungan pada
hukum laju dan temperatur adalah prakeseimbangan.

[N 2 O 2 ]
a. 2 NO (g) ↔ N 2 O 2 (g) → K =
[ NO] 2

diikuti reaksi bimolekul sederhana:

d [NO 2 ]
b. N 2 O 2 (g) + O 2 (g) 
→
k
2 NO 2 (g) → = k 2 [N 2 O 2 ] [O 2 ]
dt

Laju reaksi diperoleh dengan menggabungkan kedua persamaan, menjadi:


d [NO 2 ]
= k 2 [NO]2 [O 2 ]
dt
yang mengikuti bentuk keseluruhan orde reaksi ketiga, yang teramati.

2.3. Mekanisme Kerja Enzim


Contoh lain reaksi pembentukan zat antara adalah mekanisme Michaelis-
Menten dari kerja enzim. Enzim adalah biokatalis dengan struktur katalis. Kadang-
kadang kereaktifannya bergantung pada zat bukan protein (misalnya ion logam) yang
disebut koenzim. Hal yang penting dari enzim adalah aktifitas katalitiknya sangat
besar demikian juga kespesifikannya.

Reaksi yang menggunakan enzim tidak mengikuti persamaan Arrhenius. Hal


ini disebabkan karena jika temperatur dinaikkan struktur enzim akan rusak, sehingga

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 56

sebagain besar enzim tidak aktif pada temperatur diatas 60OC. Enzim bekerja dengan
efisiensi maksimum pada temperatur 37OC, yaitu pada temperatur badan atau hewan
berdarah panas.

Reaksi enzimatik telah dipelajari oleh Michaelis dan Menten pada tahun
1913. Teori ini didasarkan pada:
1. Enzim dan zat lain yang menyangkut proses biokimia yang disebut substrat
(S) bereaksi dengan membentuk suatu kompleks menurut reaksi orde kesatu
terhadap enzim dan substrat. Kemudian kompleks terurai menjadi enzim dan
substrat atau menghasilkan produk.
2. Jika laju reaksi adalah maksimum, tidak terdapat enzim bebas, jadi [E] = [ES]
3. Laju reaksi antara enzim dan substrat membentuk kompleks sangat cepat
dibandingkan dengan penguraian kompleks menjadi enzim dan produk.
Maka:
Laju reaksi yang terkatalisa oleh enzim, dengan substrat S yang diubah
menjadi produk P, bergantung pada konsentrasi enzim E, walaupun enzim itu tidak
mengalami perubahan neto. Mekanisme yang diajukan adalah:

k1
E + S ↔ (ES) →
k3
E + Produk
k2

(ES) menyatakan keadaan berikatan antara enzim dan substratnya. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa:

k1 [E] [S]
[ES] = ...................................................................................... 6.
k2 + k3

Misalnya, E0 : konsentrasi enzim total, [E] : konsentrasi enzim, dan [S] : konsentrasi
substrat. Maka: [E] + [ES] = [E]0.

Karena hanya sedikit enzim yang ditambahkan, maka konsentrasi substrat


bebaas hampir sama dengan konsentrasi substrat total, dan kita dapat mengabaikan
kenyataan bahwa [S] sedikit berbeda dengan [S]total. Oleh karena itu;

k 1 ( [E]0 - [ES]) [S]


[ES] = ...................................................................... 7a.
k2 + k3 +

ditataulang menjadi:

k 1 [E]0 [S]
[ES] = ........................................................................... 7b.
k 2 + k 3 + k 1 [S]

Dengan demikian, laju pembentukan produk adalah:

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 57

k 3 [S]
Laju = k [E]0 → k = …………………………………………. 8.
K M + [S]

Dengan KM disebut konstanta Michaelis, yang merupakan ukuran afinitas substrat


terhadap enzim.

k3 + k2
KM = ......................................................................................... 9.
k1

Menurut persamaan diatas, laju enzimolisis bergantunga secara linier pada


konsentrasi enzim, dan pada konsentrasi substrat dengan lebih rumit. Jadi, dari
persamaan laju, dapat disimpulkan bahwa jika [S] jauh lebih besar dari KM, maka
hukum laju dalam persamaan 8 dapat disederhanakan menjadi :

d [P]
Laju = k 3 [E]0 ………………………………………….......…..… 10.
dt

Dan merupakan orde kenol terhadap S. Ini berarti laju itu konstan, karena terdapat S
sangat banyak, sehingga secara efektif konsentrasi S tetap sama, walaupun produk
sedang dibentuk. Selain itu, laju pembentukan produk merupakan suatu maksimum,
dan k 3 [E]0 disebut velositas maksimum enzimolisis; sedangkan k 3 sendiri
merupakan bilangan pembalik maksimum. Jika S yang ada sangat sedikit, sehingga
[S] << KM, maka laju pembentukan produk adalah:

d [P] k 3
= [E]0 [S] …………………………………………………… 11.
dt KM

Sekarang, laju itu sebanding dengan [S] dan [E]0.


Dari persamaan 8, dihasilkan:

1 1 K
= + M ..................................................................................... 12.
k k 3 k 3 [S]

Dan selanjutnya jika kita memplotkan antara 1/k terhadap 1/[S] akan diperoleh grafik
garis lurus dan menghasilkan nilai k3 (dari perpotongan pada 1/[S] = 0) dan KM (dari
kemiringan KM / k3). Akan tetapi, grafik itu tidak dapat menghasilkan nilai koefisien
laju individual k1 dan k2 yang tampak dalam KM.

3. Reaksi Unimolekul
Sejumlah reaksi dala fase gas mengikuti kinetika orde kesatu. Dalam reaksi
unimolekular, molekul tunggal mengguncangkan dirinya sendiri atau atomnya
menjadi susunan yang baru; seperti dalam isomerisasi siklopropana menjadi propena:

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 58

Masalah dengan hukum laju orde kesatu adalah adanya kemungkinan bahwa
apakah molekul cukup mendapatkan energi untuk bereaksi, akibat dari tumbukannya
dengan molekul lain. Tumbukan merupakan merupakan peristiwa bimolekular
sederhana. Jadi, bagaimana mungkin tumbukan itu menghasilkan hukum laju orde
kesatu? Reaksi fase gas orde kesatu biasanya disebut “reaksi unimolekular” karena
reaksi ini, menyangkut dengan tahap unimolekular dasar, ketika molekul reaktan
berubah menjadi produk.

Mekanisme Lindemann-Hinshelwood
Dalam mekanisme Lindemann-Hinshelwood diandaikan bahwa molekul
reaktan A menjadi tereksitasi penuh energi, karena tumbukan dengan molekul A
lainnya.

d [A*]
A + A →A*+ A → = k1 [A]2 ……………………………….. 13a.
dt

Molekul berenergi itu dapat kehilangan kelebihan energinya, dengan bertumbukan


dengan molekul lain:

d [A*]
A*+ A → 2A → = - k1 ' [A*][A] ……………………………… 13b.
dt

Selain itu, molekul tereksitasi tersebut dapat menggoncangkan dirinya dan


membentuk produk P. Jadi, molekul itu dapat mengalami pengurangan unimolekul:

d [P] d [A*]
A*→ P → = k 3 [A*] → = - k 3 [A*] …………………. 13c.
dt dt

Jika tahap unimolekulcukup lambat untuk menjadi tahap penentu laju, maka
reaksi keseluruhan akan mengikuti kinetika orde kesatu. Kita dapat menerapkan
pendekatan keadaan tetap pada laju pembentukan A* :

d [A*]
= k1 [A]2 - k 2 [A*] [A] - k 3 [A*] = 0 , dan selanjutnya diperoleh:
dt
k [A]2
[A*] = 1
k 3 + k 2 [A]

sehingga hukum laju pembentukan P adalah :

d [P] k1 k 3 [A]2
= k 3 [A*] = ………………………………………….. 14a.
dt k 3 + k 2 [A]

Pada tahap ini, hukum laju bukan merupakan orde kesatu. Akan tetapi, jika
laju diaktifasi dengan timbukan A*, A jauh labih besar dari laju pengurangan
unimolekul, dalam arti bahwa :

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 59

k 2 [A*] [A] 〉〉 k 3 [A*] atau k 2 [A] 〉〉 k 3 , maka kita dapat mengabaikan k3


dalam penyebut pada persamaan 14a dan diperoleh:

d [P] k k
= k [A] → k = 1 3 …………………………………………. 14b.
dt k2

Persamaan 14b merupakan hukum laju orde kesatu, seperti yang diamati.
Mekanisme Lindemann-Hinshelwood dapat diuji, karena mekanisme ini
meramalkan bahwa dengan pengurangan konsentrasi A (dan karenanya juga tekanan
parsial A), maka reaksi keseluruhan berubah menjadi kinetika od\rde kedua. Jadi,
jika k 2 [A] 〈〈 k 3 ,hukum laju dalam persamaan 14a adalah:

d [P]
= k1 [A]2 ……………………………………………………….. 14c.
dt

Alasan fisik perubahan orde ini adalah: pada tekanan rendah, tahap penentu lajunya
adalah pembentukan bimolekular A*. Jika menuliskan hukum laju dalam persamaan
14a dengan:

d [P] k k [A]
= k [A] → k = 1 3
dt k 3 + k 2 [A]

maka ungkapan untuk konstanta laju efektif dapat ditata ulang menjadi:

1 1 k2
= + .................................................................................15.
k k1 [A] k1 k 3

Jadi, pengujiannya adalah dengan memplotkan antara 1/k terhadap 1/[A], dan
kita mengharapkan hasilnya berupa garis lurus.
Mekanisme Lindemann-Hinshelwood, secara umum sesuai dengan perubahan
orde reaksi unimolekul, tetapi dalam perinciannya tidak sesuai. Salah satu
ketidaksesuaian mekanisme Lindemann-Hinshelwood adalah tidak menyadari bahwa
sebelum reaksi terjadi, mungkin diperlukan eksitasi spesifik molekul itu. Contoh
dalam isomerisasi siklopropana, tahap terpenting adalah pemutusan satu ikatan C-C.
Hal ini terjadi jika ikatan itu sanagt tereksitasi vibrasi.

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 60

Contoh Soal
1. Buktikan bahwa reaksi yang diusulkan oleh Ogg (1947) dibawah ini
k1
N 2 O 5 ↔ NO 2 + NO ∗3 (1)
k2

NO ∗3 →
k3
NO ∗ + O 2 (2)

NO ∗ + NO ∗3 →
k4
2 NO 2 (3)
adalah reaksi orde pertama terhadap dekomposisi N2O5, dengan hukum laju:

− rN 2O5 = k 1 .[N 2 O 5 ] ; dengan asumsi bahwa k2 << (sangat lambat).

Jawab:
d [ NO3* ]
Asumsi pendekatan keadaan tetap (steady-state) = rNO* = = 0 dan
3
dt

d [ NO * ]
rNO* = = 0 , selanjutnya dari reaksi diatas diperoleh:
dt
rN 2O5 = k1 [ N 2 O5 ] − k 2 [ NO2 ].[ NO3* ] (a)

rNO* = k1 [ N 2 O5 ] − k 2 [ NO2 ].[ NO3* ] − k 3 .[ NO3* ] − k 4 .[ NO * ].[ NO3* ] = 0 , jadi:


3

k1 [ N 2 O5 ] = k 2 [ NO2 ].[ NO3* ] + k 3 .[ NO3* ] + k 4 .[ NO * ].[ NO3* ] (b)

rNO* = k 3 .[ NO3* ] − k 4 .[ NO * ].[ NO3* ] = 0 , jadi;

k 3 .[ NO3* ] = k 4 .[ NO * ].[ NO3* ] (c)


Selanjutnya persamaan (c) disubtitusi ke persamaan (b); diperoleh:
k1 [ N 2 O5 ] = k 2 [ NO2 ].[ NO3* ] + k 3 .[ NO3* ] + k 3 .[ NO3* ]

k1 [ N 2 O5 ] = k 2 [ NO2 ].[ NO3* ] + 2.k 3 .[ NO3* ]

k1 [ N 2 O5 ] = [ NO3* ].( k 2 [ NO2 ] + 2.k 3 )

k1 .[ N 2 O5 ]
[ N 2 O3* ] = (d)
k 2 .[ NO2 ] + 2.k 3
Selanjutnya persamaan (d) disubstitusi ke persamaan (a), diperoleh:
 k 1 .[N 2 O 5 ] 
r N 2 O 5 = k 1 [N 2 O 5 ] − k 2 [NO 2 ]. 
 k 2 .[NO 2 ] + 2.k 3 

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 61

k 1 [N 2 O 5 ].( k 2 [NO 2 ] + 2.k 3 ) − k 2 .[NO 2 ].k 1 [N 2 O 5 ]


rN 2O5 =
k 2 .[NO 2 ] + 2 k 3

k 1 [N 2 O 5 ] . k 2 [NO 2 ] + 2 k 3 k 1 [N 2 O 5 ] − k 2 .[NO 2 ].k 1 [N 2 O 5 ]


rN 2O5 =
k 2 .[NO 2 ] + 2 k 3
sehingga menjadi:
2 k 3 k 1 [N 2 O 5 ]
rN 2O5 = (e)
k 2 .[NO 2 ] + 2 k 3
Bila k2 << (sangat lambat), maka persamaan (e) menjadi:
2 k 3 k 1 [N 2 O 5 ]
rN 2O5 = sehingga:
2 k3

rN 2O5 = k 1 [N 2 O 5 ] → terbukti

2. Suatu reaksi irreversibel:


k1
2 A + B ↔ A2 B ;
k2

0,72.[ A] 2 .[ B ]
dengan hukum laju : rA2 B =
1 + 2.[ A]
Bagaimanakah mekanisme reaksi yang terjadi, dari persamaan reaksi tersebut.
Apabila reaksi yang terjadi terdiri dari intermediate dan dianggap tidak terjadi
reaksi berantai.
Jawab:
Hipotesa I
k1
2 A ↔ A ∗2
k2

k3
A ∗2 + B ↔ A 2 B
k4

reaksi diatas dapat menjadi reaksi elementer:


2 A →
k1
A ∗2 1.

A ∗2 →
k2
2A 2.

A ∗2 + B →
k3
A2B 3.

A 2 B →
k4
A ∗2 + B 4.

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 62

d [ A2* ]
Asumsi keadaan tetap (steady-state) = rA* = =0
2
dt
rA* = k 1 .[ A] 2 − k 2 [A *2 ] - k 3 [A *2 ] [B] + k 4 [A 2 B] = 0 , jadi:
2

k1 .[ A] 2 + k 4 [A 2 B] = k 2 [A *2 ] + k 3 [A *2 ] [B] , sehingga diperoleh:

k 1 [A]2 + k 4 [A 2 B]
[A *2 ] = (a)
k 2 + k 3 [B]

d [ A2 B]
dan rA2 B =
dt
rA2 B = k 3 [A *2 ] [B] - k 4 [A 2 B] (b)
Selanjutnya persamaan (a) disubstitusi ke persamaan (b), dperoleh:
 k [A]2 + k 4 [A 2 B] 
rA2 B = k 3  1  [B] - k 4 [A 2 B]
 k 2 + k 3 [B] 
k 3 [B] k 1 [A]2 + k 3 [B] k 4 [A 2 B] - k 4 [A 2 B] ( k 2 + k 3 [B])
rA2 B =
k 2 + k 3 [B]

k 3 [B] k 1 [A]2 + k 3 [B] k 4 [A 2 B] - k 2 k 4 [A 2 B] + k 3 [B] k 4 [A 2 B]


rA2 B =
k 2 + k 3 [B]

k 1 k 3 [B] [A]2 - k 2 k 4 [A 2 B]
jadi: rA2 B = (c)
k 2 + k 3 [B]
sehingga, jika k2 <<, maka persamaan (c) menjadi:
k 1 k 3 [B] [A]2
rA2 B = = k 1 [A]2
k 3 [B]
jika k4 <<, maka persamaan (c) menjadi:
k 1 k 3 [B] [A]2
rA2 B = → /k2, diperoleh:
k 2 + k 3 [B]

k 1k 3
[B] [A]2
k 0,72.[ A] 2 .[ B ]
rA2 B = 2 ≠ rA2 B =
k 1 + 2.[ A]
1 + 3 [B]
k2
sehingga kita mengajukan hipotesa II, sebagai berikut:
k1
A + B ↔ AB*
k2

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 63

k3
A + AB* ↔ A 2 B
k4

dengan reaksi elementer:


A + B →
k1
AB* 1
AB* →
k2
A+B 2
AB* + A →
k3
A2B 3

A 2 B →
k4
AB* + A 4

d [ AB * ]
Asumsi keadaan tetap (steady-state) = rAB* = =0
dt
rAB* = k1 .[ A] [B] − k 2 [AB* ] - k 3 [AB* ] [A] + k 4 [A 2 B] = 0 , jadi:

k 2 [AB* ] + k 3 [AB* ] [A] = k1 .[ A] [B] + k 4 [A 2 B] , sehingga diperoleh:

k1.[ A] [B] + k 4 [A 2 B]
[AB* ] = (a)
k 2 + k 3 [A]

d [ A2 B]
dan rA2 B =
dt
rA2 B = k 3 [AB* ] [A] - k 4 [A 2 B] (b)
selanjutnya persamaan (a) disubstitusi ke persamaan (b), diperoleh:
 k .[ A] [B] + k 4 [A 2 B] 
rA2 B = k 3 [A]  1  - k 4 [A 2 B]
 k 2 + k 3 [A] 
k 3 [A] k1 .[ A] [B] + k 3 [A] k 4 [A 2 B] - k 4 [A 2 B] ( k 2 + k 3 [A])
rA2 B =
k 2 + k 3 [A]

k 3 [A] k1 .[ A] [B] + k 3 [A] k 4 [A 2 B] - k 2 k 4 [A 2 B] − k 3 [A] k 4 [A 2 B]


rA2 B =
k 2 + k 3 [A]

k 3 k1 .[ A] 2 [B] - k 2 k 4 [A 2 B]
jadi: rA2 B = (c)
k 2 + k 3 [A]
maka, jika k4 <<, maka persamaan (c) menjadi:
k1 k 3 .[ A] 2 [B]
rA2 B = , → /k2, diperoleh:
k 2 + k 3 [A]

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 64

k1 k 3
.[ A] 2 [B]
k2 0,72.[ A] 2 .[ B ]
rA2 B = ≅ rA2 B =
k3 1 + 2.[ A]
1+ [A]
k2

k1 k 3 k3
dimana: ~ 0,72 dan ~2
k2 k2
jadi mekanisme reaksi yang terjadi seperti pada hipotesa II.

k1
3. Suatu reaksi prakeseimbangan: A + B ↔ C →
k2
P
k1 '

Tentukanlah laju pembentukan P, tetapi tanpa mengabaikan kenyataan bahwa zat


antara C berkurang secara perlahan-lahan karena membentuk P.
Jawab:
Reaksi diatas reaksi elementernya sebagai berikut:
A + B →
k1
C (1)
C →
k1 '
A+B (2)
C →
k2
P (3)
Maka; laju pembentukan:
d [C]
= k 1 [A] [B] - k 1 ' [C] - k 2 [C] (4)
dt
dengan menggunakan pendekatan keadaan tetap (steady-state) untuk zat

d [C]
antara C, = 0 ; diperoleh:
dt
k 1 [A] [B] - k 1 ' [C] - k 2 [C] = 0 → k 1 [A] [B] = ( k 1 ' + k 2 ) [C]

k 1 [A] [B]
[C] = (5)
( k1 ' + k 2 )
d [P]
= k 2 [C] (6)
dt
Selanjutnya dengan mensubstitusi persamaan 5 ke persamaan 6, diperoleh:
d [P] k [A] [B] d [P] k1 k 2
= k2 1 → = [A] [B]
dt ( k1 ' + k 2 ) dt ( k1 ' + k 2 )

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 65

Latiahan Soal
1. Reaksi : Cl2 + CO → COCl, dianggap berlangsung dengan mekanisme berikut
ini:
Cl 2 ↔ 2Cl ∗ cepat, pada kesetimbangan

Cl ∗ + CO ↔ COCl ∗ cepat, pada kesetimbangan


COCl ∗ + Cl 2 ↔ COCl 2 + Cl ∗ lambat dan mengontrol laju
Tentukan persamaan laju reaksi untuk pembentukan COCl2.

2. Reaksi dasar yang terjadi dalam dekomposisi homogen nitrogen oksida:


N 2 O →
k3
N 2 + 1/2 O 2

k 1 [N 2 O] 2
dengan laju: − rN 2O =
1 + k 2 [N 2 O]
Tentukan suatu mekanisme untuk menjelaskan laju yang diamati.

3. Mekanisme berikut ini diusulkan untuk oksidasi amoniak dengan tambahan ClO;
*
NH 3 + ClO → NH 2 + HCl
*
NH 2 + O 2 → NO + H 2 O
*
NH 2 + O 2 → HNO * + OH

2 HNO * + O 2 → H 2 O + N 2 O
a. Turunkan suatu pernyataan untuk laju pembentukan N2O yang hanya
mengandung konsentrasi O2, NH3, dan ClO konstanta laju reaksinya.
b. Hal-hal apa yang membatasi pernyataan ini; jika
1. k2 >> k3
2. k3 >> k2
c. Jelaskan laju reaksi relatif pembentukan N2O dan H2O dalam kedua hal
diatas (b).

4. Dari hasil penelitin laboratorium menunjukkan bahwa reaksi fase gas thermal

k1
H 2 + Br2 ↔ 2 HBr , mengikuti tahap-tahap mekanisme reaksi sebagai berikut:
k2

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 66

Br2 →
k1
2 Br • inisiasi

Br • + H 2 →
k2
HBr + H • propagasi

H • + Br2 →
k3
HBr + Br • propagasi

H • + HBr →
k4
H 2 + Br • inhibisi

Br • + Br • →
k1
Br2 terminasi
d [HBr] d [H] d [Br]
Tuliskan pernyataan untuk , , dan ; dengan asumsi bahwa H
dt dt dt
dan Br sebagai zat antara reaktif. Buktikan bahwa persamaan laju reaksinya dapat

1/ 2
d [HBr] k  [H 2 ] [Br2 ]1/2
= 2 k 2  1 
dituliskan dalam bentuk : dt  k5  k [HBr]
1+ 4
k 3 [Br2 ]

5. Buktikan bahwa mekanisme prakeseimbangan:


k1
2A ↔ B
k1 '

B + C →
k2
P
d [P]
mengikuti orde reaksi ketiga, dengan laju = k [A]2 [B]
dt

6. Mekanisme berikut diusulkan untuk reaksi CO + NO 2 


→
k
CO 2 + NO pada
temperatur rendah.
k1
I. 2 NO 2 ↔ N 2 O 4 (cepat)
k2

N 2 O 4 + CO →
k3
2 CO 2 + 2 NO (lambat)

II. 2 NO 2 → NO 3 + NO
k1
(lambat)

NO 3 + CO →
k2
NO 2 + CO (cepat)
7. Suatu reaksi mempunyai mekanisme berikut:
k1
A+B ↔ C+D
k2

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 67

C + B →
k3
E +D
2 D →
k4
F
dimana A dan B adalah reaktan, C dan D adalah zat antara reaktif, E dan F adalah
produk. Jika r2 >> r3 dan dengan menggunakan pendekatan steady-state, carilah:
a. laju reaksi dalam batasan A dan B.
b. orde parsial berkenaan dengan A dan B.
c. orde total dari reaksi tersebut.

8. Mekanisme Rice-Herzfeld yang sederhana untuk penguraian asetaldehid adalah:


CH 3 CHO →
k1
CH 3 + CHO

CHO →
k2
CO + H
H + CH 3 CHO →
k3
CH 3 CO + H 2

CH 3 + CH 3 CHO →
k4
CH 3 CO + CH 4

CH 3 CO →
k5
CH 3 + CO

2 CH 3 →
k6
C2H6

Jika laju dari tahap pertama diabaikan, maka laju penguraian asetaldehid
mengikuti orde 3/2. Carilah konstanta laju efektif.

9. Perhatikan mekanisme berikut ini untuk dekomposisi termal R2:


R 2 →
k1
2R (1)

R + R 2 →
k2
PB + R' (2)

R' →
k3
PA + R (3)

2 R →
k4
PA + PB (4)
dengan R2, PA, PB adalah hidrokarbon stabil. R dan R’ merupakan radikal bebas.
Tentukanlah ketergantungan laju dekomposisi R2 pada konsentrasi R2.

10. Gunakanlah pendekatan keadaan tunak (tetap), dengan skema reaksi berikut ini,
untuk menghitung konsentrasi atom H dalam reaksi hidrogen/oksigen.
Buktikanlah bahwa pada suatu keadaan, konsentrasi dapat menjadi sangat tinggi.

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 68

H 2 + O 2 →
k1
2 OH (1)

OH ⋅ + H 2 →
k2
H 2O + H ⋅ (2)

O 2 + H ⋅ →
k3
OH ⋅ + ⋅ O ⋅ (3)

H 2 + ⋅ O ⋅ →
k4
OH ⋅ + H ⋅ (4)

H ⋅ →
k5
P (5)

FMIPA KIMIA - UNMUL


Konsep Dasar Kinetika Kimia – A. Kahar 69

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W. 1997. Kimia Fisika. Edisi Keempat. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Dogra. S.K dan Dogra. S. 1990. Kimia Fisik dan Soal-Soal. Penerbit Universitas
Indonesia.

Hiskia Achmad. 1992. Struktur Atom, Struktur Molekul & Sistem Periodik.
Penerbit PT. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Levenspiel, Octave . 1972. Chemical Reaction Engineering. Second Edition. John


Wiley & Sons Inc. New York.

Sukardjo. 1989. Kimia Fisika. Edisi kedua. Jilid 1. Bina Akasara. Jakarta

Syukri. S. 1990. Kimia Dasar I. ITB. Bandung.

Tony Bird. 1987. Kimia Fisika Untuk Universitas. Penerbit PT. Gramedia. Jakarta.

FMIPA KIMIA - UNMUL