Anda di halaman 1dari 5

Aa Gym Spiritual Marketer

Pendahuluan
Mengawali buku ini, saya ingin bererita sedikit mengenai buku terbau Stephen Covey, The 8th Habit. Jika anda senang mempelajari ilmu-ilmu manajemen dan kepemimpinan, anda pasti tahu Stephen Covey, seorang Guru kepemimpinan dan penulis buku laris The 7 Habits of Highly Effective People . Melihat judulnya, gampang ditebak bahwa buku ini merupakan sekuel dari buku larisnya terdahulu. amun, Covey tegas mengatakan bahwa habit kedelapan ini bukanlah sekuel dari ! habits sebelumnya. "ata Covey, habit kedelapan inilah yang membrikan #roh$ kepada tujuh habit tersebut. %alu, apa habit kedelapan itu& 'unyinya( Find Your Voice and Inspire Others to Find Theirs. )ntinya, untuk men*apai greatnes. Anda harus bias menemukan Voice anda, dan menginspirasi orang lain untuk menemukan Voice mereka masing-masing. "un*inya di kata #+oi*e$. Voice menurut Covey adalah sesuatu yang unik dimiliki seseorang , a uni!ue personal significane"- yang mun*ul ketika kita menghadapi tantangan sangat besar ,great challenges-. .an tantangan itulah yang menggerakkan kemampuan , talentdan energi ,passion- kita untuk mewujudkan suatu *apaian yang luar biasa alias men*apai greatness. Jadi Voice adalah sema*am #potensi terpendam yang dimilki setiap orang untuk men*apai greatness. Voice merupakan #energi spiritual$ yang menggerakkan, memotivasi, dan menginspirasi anda untuk men*apai greatness. .ari sini saya berani mengatakan bahwa 7 habits Covey sebelumnya berada di dataran intellectual !uotient ,)/- dan e#otional !uotient ,0/-, maka habit kedelapan ini berada di dataran spiritual !uotient ,S/-. karena itu, saya melihat bahwa bahwa buku Covey ini merupakan lompatan ,departure- dari buku sebelumnya karena Covey mulai masuk ke wilayah S/. Saya berani mengatakan bahwa *apaian luar biasa alia greatness hanya bias terwujud bila anda sampai ke daratan spiritual. I$ and E$ lead you to personal effectiveness% &$ 'ill lead you to greatness. )ngat satu hal ini( #Anda tak akan mungkin menjadi orang yang luar biasa hebat kalau anda tidak spiritual1$ "alau sudah bi*ara spiritual, maka kita tak akan lepas dari nurani dan suara hati yang paling jujur. 2ntuk men*apai greatness anda tak *ukup hanya memiliki )/ ,visi, kompetensi, pengetahuan, intelegensian- dan 0/ ,motivasi, empati, keuletan- tapi juga S/ yaitu suara batun yang paling jujur di lubuku hati anda. Atau dalam kata-kata Covey, untuk men*apai greatness anda tak *ukup memiliki talent ,)/- dan passion ,0/-, tapi juga conscience ,S/-.

Dari IQ ke EQ dan akhirnya SQ


'uah pikiran Covey di atas semakin meyakinkan saya akan pentingnya S/. 'erangkat dari situ, saya melihat marketing sudah harus mengalami tran3ormasi misi dari level )/

ke 0/ dan akhirnya memasuki level yang paling tinggi yaitu S/. .i level ini intelektual si marketer *ukup menggunakan )/ sebagai sumber keunggulan bersaing4 di level emosional ia harus memperlengkapinya lagi dengan 0/4 dan di level spiritual si marketer tak *ukup lagi kalau hanya memiliki )/ dan 0/, ia harus menyempurnakannya denganS/. .i level ini intelektual, marketer menyikapi marketing se*ara 3ungsional-teknikal menggunakan scientific #ar(eting approach dengan tools-nya yang saat ini demikian populer seperti( seg#entasi)targeting* positioning* branding* dan sebagainya. .i level ini memang marketing menjadi seperti $robot$ dengan mengandalkan kekuatan logika dan konsep-konsep keilmuan. .i level emosional kemampuan si marketer dalam memahami emosi dan persaan pelanggan menjadi penting. .i sini pelanggan dilihat sebagai manusia seutuhnya lengkap dengan emosi dan perasaannya. "alau di level intelektual otak kiri si marketer paling berperan, maka di level emosional, otak kananlah yang lebih dominan. "alau di level intelektual saya menggambarkan marketing layaknya sebuah $robot$, maka di level emosional marketing menjadi seperti $manusia$ yang berperasaan dan empatetik. %alu, bagaimana di level spiritual& .i level ini marketing sudah disikapi sebagai #bisikan nurani$ dan #panggilan jiwa$ + calling",. .i sini praktik marketing dikembalikan kepada 3ungsinya yang hakiki dan dijalankan dengan landasan moralitas yang kental. Seperti telah saya uraikan di depan, prinsip-prinsip kejujuran, empati, dan kepedulian sesama, dan *inta menjadi dominan. "alau di level intelektual bahasa yang anda gunakan adalah #bahasa logika$, maka di level spiritual anda harus menggunakan #bahasa hati$. "ata hati yang paling dalam dan nurani anda adalah lentera peperangan yang akan menunjukkan ke arah mana anda akan menuju dan bersikap. urani adalah #senjata pamungkas$ anda untuk memenangkan persaingan. .ari sini menjadi jelas bahwa S/ telah memberikan #roh$ kepada praktik marketing.

Compassion
"enyataan di atas mengilhami saya untuk mengembangkan sebuah konsep marketing yang betul-betul berdasarkan prinsip-prinsip moralitas dan nurani. Marketing bukanlah upaya mengejar keuntungan sepihak se*ara membabi-buta. Marketing bukanlah tipu muslihat. Marketing adalah aktivitas pen*iptaan nilai ,value)creating activities- yang memungkinkan berbagai pihak yang menjadi pelakunya bertumbuh dan mendayagunakan keman3aatan. Marketing haruslah dilandasi kejujuran, keadilan, keterbukaan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Marketing haruslah merupakan sebuah *ompassion. "arena itu konsep tersebut saya namai The -. /reados of /o#passionate 0ar(eting. /o#passion berasal dari bahasa %atin dari kata patire dan cu# yang berarti #sependeritaan ,suffer 'ith-. Compassion mengajak kita untuk memberi makan orang

yang kelaparan, mengobati mereka yang terluka, ikut merasakan apa yang mereka rasakan, solider atau sepenanggungan dengan mereka yang tidak beruntung. /o#passion adalah suatu gerakan hati yang peduli dan sepenanggunagan dengan nasib orang lain. /o#passion adalah perwujudan prinsip men*intai dan menyayangi sesama. )a merupakan kualitas hati dalam berelasi dengan orang lain. 5endek kata, *ompassion membawa kita untuk men*eburkan diri ,i##erse- dan tenggelam bersama dalam rasa kemanusiaan. Apa yang saya sebut co#passionate #ar(eting adalah sebuah prinsip berbisnis yang didasari kejujuran, keadilan, keikhlasan, rasa simpati dan empati kepada seluruh stakeholder, baik pelanggan, karyawan, pemegang saham, maupun komponen sta(eholders lainnya. Contoh sangat jelas dari *ompassion adalah gerakan kemanusiaan sedunia untuk peduli dan ikut merasakan nasih malang orang-orang yang ditimpa ben*ana tsunami di wilayah A*eh dan Asia Selatan pada penghujung tahun 6778. warga seantero dunia memperlihatkan suatu kepedulian dan solidaritas nyata, ikut merasakan kepedulian akibat ben*ana tersebut. Seluruh dunia menjadi a co#passionate 'orld1 .engan prinsip berbisnis seperti ini saya ingin melurukan kesalahpahaman yang selama ini sering terjadi di masyarakat tentang marketing. Masyarakat seringkali tidak sesuai dengan kenyataan. 5asalnya, masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa marketing adalah selling semata. Celakanya, kebanyakan sales#an diidentikan dengan orang yang bi*ara manis, perayu ulung dengan janji-janji besar, namun kebanyakan produk yang ditawarkanya tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. "esalahpahaman seperti ini lalu memun*ulkan kesimpulan bahwa marketing identik dengan mengumbar janji. 9al ini harus diluruskan. Sebab, kalau kita dalami lebih lanjut, marketing sebenarnya adalah aktivitas yang tidak berorientasi jangka pendek untuk merebut #ar(et share se*ara membabi-buta. amun juga berorientasi jangka panjang untuk merebut #ind share, dan bahkan lifeti#e heart share. Marketing telah menjadi rahmat bagi dunia agar orang-orang mendapatkan produkproduk terbaik dan bisa memilih di antaranya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. .engan mengkonsumsi produk terbaik dengan harga yang sesuai, orang akan benar-benar memperoleh man3aat dan menjadikan hidup mereka lebih baik. Alangkah indahnya marketing jika ia disikapai sebagai sebuah gerakan hati yang peduli. "epedulian pada kebaikan dan keman3aatan sesama. Marketing begitu indah jika disikapai sebagai sebuah co#passion.

Sepuluh Kredo

'agaimana kira-kira bentuk dari marketing yang sudah bermetamor3osis dari )/ ke 0/ dan akhirnya S/ ini& Sesuai namanya, konsep ini memuat sepuluh prinsip yang menurut saya dapat dijadikan sebagai panduan dalam mewujudkan marketing yang jujur, bertanggung jawab, dan peduli:marketing yang dilandasi hati dan *inta terhadap ssama. Coba kita kupas satu demi satu kredo tersebut.

Credo #1: Love your customers, respect your competitors


5rinsip ini mengajarkan dua hal kepada anda. 5ertama, anda harus men*intai pelanggan, karena kepada pelangganlah semua tindakan anda abdikan dan dari pelanggan itu pula anda memperoleh pendapatan. "edua, anda harus menghormati pesaing, karena keberadaan pesaing akan selalu membawa man3aat positi3. .engan adanya pesaing anda akan dipa*u untuk semakin e3isien dan produkti34 bersama pesaing anda akan mampu memperbesar pasar4 dan keberadaan pesaing akan mendorong anda untuk semakin kreati3 dalam melayani pelanggan.

Credo #2: Be sensitive to change, be ready to transform


5rinsip ini mengajarkan untuk selalu siap berubah. 5erubahan yang begitu *epat di luar perusahaan harus selalu diikuti perubahan di dalam, baik perubahan organisasi maupun perubahan dalam diri anda sendiri. "alau anda tidak bias menyikapi perubahan tersebut, maka tak terelakkan lagi, anda akan tenggelam ditelan perubahan tersebut.

Credo #3: Guard your name, be clear on who you are


5rinsip ini mengajarkan agar selalu menjaga nama baik dan konsisten menjaga kredibilitas. 5rinsip ini juga mengajarkan agar anda memperjelas positioning di mata pelanggan. .engan positioning yang didukung oleh di3erensiasi yang kokoh, maka pelanggan akan ;6<=--bukan hanya ;77=--memper*ayai anda.

Credo #4: Customers are diverse, go first to who really needs you
5rinsip ini mengajarkan kepada anda untuk tidak memukul rata pasar. Anda harus memilah-milah pasar berdasarkan kesamaan karakter tertentu. .engan demikian anda bisa meng-*ustomi>e apa yang mereka butuhkan. Anda juga harus jujur ke pada diri sendiri. 2ntuk tidak memiliki resour*es yang kuat untuk melayaninya. Jadi anda harus memberikan pelayanan se*ara 3okus kepada orang-orang yang memang membutuhkan anda dan pada bidang yang telah menjadi kompetensi anda.