Anda di halaman 1dari 16

ASKEP SPONDILITIS TB

Definisi: Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi granulomatosis di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycobacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra (Abdurrahman, et al 1994; 144 )

Etiologi: Spondilitis tuberculosis atau tuberculosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain, 90 95% disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis tipik ( dari tipe human dan dari tipe bovin) dan 5 10% oleh mikobakterium tuberkulosa atipik. Kuman mycobacterium tuberkulosa bersifat tahan asam, dan cepat mati apabila terkena matahari langsung.

Patofisiologi: Infeksi berawal dari bagian epifisial korpus vertebra. Kemudian, terjadi hiperemia dan eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan pelunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan pada korteks epifisis, diskus internertebra, dan vertebra sekitarnya. Kemudain eksudat menyebar ke depan, di bawah longitudinal anterior. Eksudap ini dapat menembus ligamen dan berekspansi ke berbagai arah di sepanjang garis ligamen yang lemah. Pada daerah vertebra servikalis, eksudat terkumpul di belakang paravertebral dan menyebar ke lateral di belakang muskulus sternokleidomastoideus. Eksudat dapat mengalami protusi ke depan dan ke dalam faring yang dikenal sebagai abses faringeal. Perubahan struktur vertebra servikalis menyebabkan spasme otot dan kekakuan leher yang merupakan stimulus keluhan nyeri pada leher. Pembentukan abses faringeal menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan menelan sehingga terjadi penurunan asupan nutrisi dan masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan. Kekakuan leher menyebabkan keluhan mobilitas leher dan risiko tinggi trauma sekunder akibat tidak optimalnya cara mobilisasi. Tindakan dekompresi dan stabilisasi servikal pada pasca bedah menimbulkan port de entree luka pasca bedah risiko tinggi infeksi.

Manifestasi klinis: Secara klinis gejala spondilitis TB hampir sama dengan penyakit TB yang lain, yaitu badan lemah dan lesu, nafsu makan dan berat badan yang menurun, suhu tubuh meningkat terutama pada malam hari, dan sakit pada daerah punggung. Pada anak kecil biasanya diikuti dengan sering menangis dan rewel. Pada awal gejala dapat dijumpai adanya nyeri radikuler di sekitar dada atau perut, kemudian diikuti dengan paraparesis yang lambat laun kian memberat. Kemudian muncul adanya spastisitas, klonus, hiper-refleksia dan refleks babinski bilateral. Pada stadium awal ini belum ditemukan deformitas tulang vertebra, demikian pula belum terdapat nyeri ketok pada vertebra yang bersangkutan. Nyeri spinal yang menetap, terbatasnya pergerakan spinal, dan komplikasi neurologis merupakan tanda terjadinya destruksi yang lebih lanjut. Kelainan neurologis terjadi pada sekitar 50% kasus, termasuk akibat penekanan medulla spinalis yang menyebabkan paraplegia, paraparesis, ataupun nyeri radix saraf. Tanda yang biasa ditemukan di antaranya adalah adanya kifosis (gibbus), bengkak pada daerah paravertebra, dan tandatanda defisit neurologis seperti yang sudah disebutkan di atas. (Harsono,2003)

Komplikasi: Komplikasi yang paling serius dari spondilitis TB adalah Potts paraplegia. Pada stadium awal spondilitis TB, munculnya Potts paraplegia disebabkan oleh tekanan ekstradural pus maupun sequester atau invasi jaringan granulasi pada medula spinalis dan jika Potts paraplegia muncul pada stadium lanjut spondilitis TB maka itu disebabkan oleh terbentuknya fibrosis dari jaringan granulasi atau perlekatan tulang ( ankilosing ) di atas kanalis spinalis. Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah ruptur dari abses paravertebra torakal ke dalam pleura sehingga menyebabkan empiema tuberkulosis, sedangkan pada vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot iliopsoas membentuk psoas abses yang merupakan cold abcess.

Pemeriksaan penunjang: a. Pemeriksaan Laboratorium 1. Peningkatan laju endapan darah (LED) dan mungkin disertai mikrobakterium 2. Uji mantoux positif 3. Pada pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan mikrobakterium 4. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limpe regional

5. Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkelPemeriksaan Radiologis

b. Pemeriksaan Radiologis 1. Foto thoraks untuk melihat adanya tuberculosis paru 2. Foto polos vertebra ditemukan osteoporosis disertai penyempitan diskus intervertebralis yang berada di korpus tersebut 3. Pemeriksaan mieleografi dilakukan bila terdapat gejala-gejala penekanan sumsum tulang 4. Foto CT Scan dapat memberikan gambaran tulangsecara lebih detail dari lesi, skelerosisi, kolap diskus dan gangguan sirkumferensi tulang 5. Pemeriksaan MRI mengevaluasi infeksi diskus intervetebra dan osteomielitis tulang belakang dan adanya menunjukan penekanan saraf.

Penatalaksanaan: Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan sesegera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah paraplegia.

Prinsip pengobatan paraplegia Pott adalah: 1. Pemberian obat antituberkulosis 2. Dekompresi medulla spinalis 3. Menghilangkan/ menyingkirkan produk infeksi 4. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft)

Penatalaksanaan pada pasien spondilitis TB terdiri atas: 1. Terapi konservatif berupa: Tirah baring (bed rest) Memberi korset yang mencegah gerakan vertebra /membatasi gerak vertebra Memperbaiki keadaan umum penderita Pengobatan antituberkulosa

Standar pengobatan di indonesia berdasarkan program P2TB paru adalah : a. Kategori 1 Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA (-) / rontgen (+), diberikan dalam 2 tahap:

Tahap 1: Rifampisin 450 mg + Etambutol 750 mg + INH 300 mg + Pirazinamid 1500 mg Obat ini diberikan setiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali). Tahap 2: Rifampisin 450 mg + INH 600 mg Diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 4 bulan (54 kali). b. Kategori 2 Untuk penderita BTA(+) yang sudah pernah minum obat selama sebulan, termasuk penderita dengan BTA (+) yang kambuh/gagal yang diberikan dalam 2 tahap yaitu : Tahap I Streptomisin 750 mg + INH 300 mg + Rifampisin 450 mg + Pirazinamid 1500mg + Etambutol 750 mg Obat ini diberikan setiap hari. Untuk Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60 kali) dan obat lainnya selama 3 bulan (90 kali). Tahap 2 INH 600 mg + Rifampisin 450 mg + Etambutol 1250 mg Obat ini diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 5 bulan (66 kali).

Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita bertambah baik, laju endap darah menurun dan menetap, gejala-gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang serta gambaran radiologik ditemukan adanya union pada vertebra.

2. Terapi operatif Indikasi dilakukannya tindakan operasi adalah: Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau malah semakin berat. Biasanya tiga minggu sebelum tindakan operasi dilakukan, setiap spondilitis tuberkulosa diberikan obat tuberkulostatik. Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka dan sekaligus debrideman serta bone graft.

Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi ataupun pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan langsung pada medulla spinalis.

Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi penderita tuberkulosis tulang belakang, namun tindakan operatif masih memegang peranan penting dalam beberapa hal, yaitu bila terdapat cold abses (abses dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia dan kifosis. a. Abses Dingin (Cold Abses) Cold abses yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh karena dapat terjadi resorbsi spontan dengan pemberian tuberkulostatik. Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah. Ada tiga cara menghilangkan lesi tuberkulosa, yaitu: a. Debrideman fokal b. Kosto-transveresektomi c. Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan. Paraplegia

b. Paraplegia Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia, yaitu: a. Pengobatan dengan kemoterapi semata-mata b. Laminektomi c. Kosto-transveresektomi d. Operasi radikal e. Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang

c. Kifosis Operasi pada pasien kifosis dilakukan dengan 2 cara: 1. Operasi kifosis Operasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat,. Kifosis mempunyai tendensi untuk bertambah berat terutama pada anak-anak. Tindakan operatif dapat berupa fusi posterior atau melalui operasi radikal.

2. Operasi PSSW Operasi PSSW adalah operasi fraktur tulang belakang dan pengobatan tbc tulang belakang yang disebut total treatment. Metode ini mengobati tbc tulang belakang berdasarkan masalah dan bukan hanya sebagai infeksi tbc yang dapat dilakukan oleh semua dokter. Tujuannya, penyembuhan TBC tulang belakang dengan tulang belakang yang stabil, tidak ada rasa nyeri, tanpa deformitas yang menyolok dan dengan kembalinya fungsi tulang belakang, penderita dapat kembali ke dalam masyarakat, kembali pada pekerjaan dan keluarganya.

WOC Invasi hematogen ke korpus dekat diskus invertebra daerah servikal Gangguan Citra Tubuh

Kerusakan dan penjalaran ke vertebra yang berdekatan

Perubahan struktur vertebra servikalis Kurang Pengetahuan

Kompresi diskus dan kompresi radiks saraf di sisinya Tindakan dekompresi dan stabilisasi Port de entree Resiko tinggi Infeksi

Spasme Otot

Pembentukan abses faringeal Nyeri tenggorokan dan gangguan menelan Ketidak seimbangan nurisi : Kurang dari kebutuhan

kekakuan leher

Nyeri

Gangguan Mobilitas Fisik

ASUHAN KEPERAWATAN Pengkajian Keluhan utama Keluhan utama pada klien spondiitis TB terdapat nyeri punggung bagian bawah. Riwayat Kesehatan Sekarang Pada awal dapat dijumpai nyeri redikuler yang mengelilingi dada dan perut. nyeri dirasakan meningkat pada malam hari dan bertambah berat terutama pada saat pergerakan tulang belakang. Data Subjektif yang mungkin adalah : badan terasa lemah dan lesu, nafsu makan berkurang serta sakit pada punggung, pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari, berat badan menurun, nyeri spinal yang menetap, nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut. Data Ojektif yang mungkin adalah : suhu sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari, paraplegia, paraparesis, kifosis (gibbus), bengkak pada daerah paravertebra. Riwayat Kesehatan Dahulu menurut R. Sjamsu Hidajat, 1997 : 20 tentang terjadinya spondilitis tuberkulosa biasanya pada klien di dahului dengan adanya riwayat pernah menderita penyakit tuberculosis paru. Riwayat Penyakit Keluarga Salah satu penyebab timbulnya spondilitis tuberkulosa adalah klien pernah atau masih kontak dengan penderita lain yang menderita penyakit TB atau lingkungan keluarga ada yang menderita penyakit tersebut Psikososial Klien akan merasa cemas, sehingga terlihat sedih dengan kurangnya pengetahuan mengenai penyakit TB, pengobatan dan perawatannya sehingga membuat emosinya tidak stabil dan mempengaruhi sosialisasi penderita. Pemeriksaan fisik a. Inspeksi : terlihat lemah, pucat dan pada tulang belakang terlihat bentuk kiposis b. Palpasi : Sesuai yang terlihat pada inspeksi keadaan tulang belakang terdapat adanya gibus pada area tulang yang mengalami infeksi c. Perkusi : Pada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri ketok d. Auskultasi : Pada pemeriksaan auskultasi keadaan paru tidak ditemukan kelainaj

e. Review of System (ROS) 1. B1 (Breating). Inspeksi : batuk, peningkatan produksi sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu nafas, peningkatn frekuensi pernafasan. Palpasi : taktil fremitus seimbang kanan dan kiri Perkusi : resonan pada seluruh lapang paru Auskultasi : Suara nafas tambahan (ronki pada klien peningkatan produksi secret) 2. B2 (Blood). dengan komplikasi paraplegia : Hipotensi ortostatik (penurunan TD sistolik 25 mmHg dan diastolik 10 mmHg ketika klien bangun dari posisi berbaring ke posisi duduk) tanpa komplikasi paraplegia : kelainan system kardiovaskular 3. B3 (Brain). tingkat kesadaran kompos mentis Kepala : tidak ada gangguan, yaitu normosefalik, simetris, tidak ada penonjolan, sering didapatkan adanya nyeri belakang kepala. Leher : pada spondilitis tuberkulosa yang mengenai vertebra servikalis, sering didapatkan adanya kekakuan leher sehingga mengganggu mobilisasi leher dalam melakukan rotasi, felksi dan ekstensi kepala. Wajah : wajah terlihat menahan sakit, tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. wajah simetris, tidak ada lesi dan edema. mata : tidak ada gangguan, seperti konjungtiva tidak anemis. telinga : tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal, tidak ada lesi atau nyeri tekan. Hidung : tidak ada deformitas, tidak ada pernafasan cuping hidung. Mulut dan Faring : tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat. Pemeriksaan fungsi serebral. status mental : Observasi penampilan dan tingkah laku klien. biasanya status mental klien tidak mengalami perubahan. 4. B4 (bladder). Pada spondilitis tuberkulosa daerah torakal dan servikal, tidak ada kelainan pada system ini.

Pada spondilitis tuberkulosa daerah lumbal, sering didapatkan keluhan inkontinensia urine, ketidak mampuan mengkomunikasikan kebutuhan eliminasi urine. 5. B5 (Bowel). Inspeksi : Bentuk datar, Simetris, tidak ada hernia. Palpasi : Turgor baik, tidak ada kejang otot abdomen akibat adanya abses pada lumbal, hepar tidak teraba. Perkusi : suara timpani, ada pantulan gelombang cairan. Auskultasi : peristaltic usus normal 20 kali/ menit. Inguinal genitalia anus : tidak ada hernia, tidak ada pembesaran limfe, tidak ada kesulitan BAB. Pola nutrisi dan metabolism : pada klien spondilitis tuberkulosa, sering ditemukan penurunan nafsu makan dan gangguan menelan karena adanya stimulus nyeri menelan dari abses faring sehingga pemenuhan nutria menjadi berkurang 6. B6 (Bone). Look : Kurvatura tulang belakang mengalami deformitas (kifosis) terutama pada spondilitis tuberkulosa daerah torakal. pada spondilitis tuberkulosa daerah

lumbalis, hampir tidak terlihat deformitas, tetapi terlihat adanya abses pada daerah bokong dan pinggang. pada spondilitis tuberkulosa daerah servikal, terdapat kekakuan leher. Feel : Kaji adanya nyeri tekan pada daerah spondilitis Move : Terjadi kelemahan anggota gerak (paraparesis dan paraplegia) dan gangguan pergerakan tulang belakang. pergerakan yang berkurang tidak dapat dideteksi di daerah toraks, tetapi mudah diamati pada tulang belakang lumbal, punggung harus diperhatikan dengan teliti, sementara gerakan dicoba. biasanya seluruh gerakan terbatas dan usaha tersebut meninmbulkan spasme otot. Pengkajian diagnostic a. Laboratorium b. Laju Endap darah meningkat Pemeriksaan Diagnostik lain Radiologi : terlihat gambaran distruksi vertebra terutama bagian anterior, sangat jarang menyerang area posterior ; terdapat penyempitan diskus ; gambaran abses para vertebral

Tes Tuberkulin : Reaksi Tuberkulin biasanya positif

Diagnosis keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan kompresi radiks saraf servikal, spasme otot servikal 2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal dan nyeri 3. Gangguang citra tubuh berhubungan dengan gangguan struktur tubuh 4. Ketidak seimbangan nutrisi : nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan nutrisi tidak adekuat sekunder akibat nyeri tenggorokan dan gangguan menelan 5. Risiko Infeksi berhubungan dengan port de entre luka pasca-bedah 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit, pengobatan dan perawatan Intervensi 1. Nyeri berhubungan dengan kompresi radiks saraf servikal, spasme otot servikal Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi dan nyeri berkurang 3 x 24 jam Kriteria Hasil : Klien melaporkan penurunan nyeri skala nyeri 0 - 1 dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri Intervensi : 1) kaji lokasi, intensitas dan tupe nyeri sebagi observasi penyebaran nyeri rasional : nyeri merupakan pengalaman subjek yang hanya dapat di gambarkan oleh klien sendiri 2) Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologis dan non invasive Rasional : Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologis lainnya telah menunjukan keefektifan dalam mengurangi nyeri. 3) istirahatkan leher, atur posisi fisiologis dan pasang ban leher rasional : posisi fisiologis akan mengurangi kompresi saraf leher 4) lakukan masase pada otot leher rasional : masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan membantu suplai darah dan oksigen ke area nyeri leher klien menunjukan perilaku yang lebih rileks

5) Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam ketika nyeri muncul rasional : meningkatkan asupan oksigen sehingga menurunkan nyeri sekunder akibat iskemia 6) ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri rasional : distraksi dapat menurunkan stimulus nyeri 7) Berikan analgesic sesuai terapi dokter dan kaji keefektivitasannya rasional : analgesic mampu mnegurasngi rasa nyeri; bagaimana reaksi terhadap nyeri yang diderita klien 2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal dan nyeri Tujuan : klien dapat melakukan mobilisasi secara optimal dan mampu teradaptasi dalam waktu 7 x 24 jam Kriteria Hasil : klien dapat ikut serta dalam program latihan klien terlihat mampu melakukan mobilisasi secara bertahap mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai tingkat optimal Intervensi 1) kaji kemampuan mobilitas dan observasi terhadap peningkatan kerusakan Rasional : mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas 2) bantu klien melakukan ROM, dan perawatan diri sesuai toleransi Rasional : latihan ROM yang optimal mampu menurunkan atrofi otot, memperbaiki sirkulasi perifer dan mencegah kontraktur 3) pantau keluhan nyeri dan adanya tanda-tanda deficit neurologis rasional : peran perawat dalam pemantauan dapat mencegah terjadinya hal yang lebih parah seperti henti jantung paru akibat kompresi batang otak dan korda 4) kolaborasi dengan dokter untuk pemberian OAT Rasional : OAT akan mengobati penyebab dasar spondilitis TB 3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan gangguan struktur tubuh Tujuan : Klien dapat mengekpresikan perasaanya dan dapat menggunakan koping adaptif Kriteria Hasil : Klien dapat mengungkapkan perasaannya dan dapat

menggunakan keterampilan koping yang poeotif dalam mengatasi perubahan citra

Intervensi : 1) Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan. Rasional : meningkatkan harga diri klien dan membina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan perasaan dapat membantu penerimaan diri 2) bersama-sama klien mencari alternatif koping yang positif Rasional : dukungan perawat pada klien dapat meningkatkan rasa percaya diri klien 3) kembangkan komunikasi dan bina hubungan antara klien kluarga dan teman serta berikan aktifitas rekreasi dan permainan guna mengatasi perubahan body image Rasional : memberikan semangat bagi klien agar dapat memandang dirinya secara positif dan tidak merasa rendah diri 4. Ketidak seimbangan nutrisi : nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan nutrisi tidak adekuat sekunder akibat nyeri tenggorokan dan gangguan menelan Tujuan : dalam waktu 7 x 24 jam keseimbangan nutrisi dapat terpenuhi Kriteria Hasil : klien terlihat mampu melakukan pemenuhan nutrisi per oral secara bertahap Intervensi : 1) pantau persentase asupan makanan yang dikonsumsi setiap makan, timbang berat badan tiap hari Rasional : mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari tujuan yang diharapkan 2) berikan perawatan mulutu tiap 6 jam. pertahankan kesegaran ruangan Rasional : perasaan tidak nyaman pada mulut dan bau yang tidak nyaman dari lingkungan dapat mempengaruhi selera makan 3) beri makanan lunak dalam kondisi hangat, sedikit tapi sering Rasional : peran perawat dalam memberi dukungan sangat diperlukan pada klien yang membutuhkan energy dan protein untuk proses pengembalian fungsi yang optimal 4) dorong klien untuk ikut serta dalam pemenuhan nutrisi tinggi kalori dan tinggi protein proporsi berat badan dan tinggi badan ideal

Rasional : peran perawat dalam member dukungan sangat diperlukan pada klien yang pada fase inflamasi sangat banyak membutuhkan energy dan protein untuk proses pengembalian fungsi yang optimal 5) kolaborasi dengan ahli diet untuk pemenuhan nutrisi yang ideal Rasional : dalam kondisi akut, ahli diet dapat mencari jenis makanan yang dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan akan energy dan perbaikan 5. Risiko Infeksi berhubungan dengan port de entre luka pasca-bedah Tujuan : tidak terjadi tanda-tanda infeksi Kriteria Hasil : Intervensi : 1) pantau tanda/ gejala infeksi Rasional : mengidentifikasi dini infeksi 2) kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi Rasional : Menggambarkan faktor yang menunjang penularan infeksi 3) berikan terapi antibiotik, bila diperlukan Rasional : Mencegah Infeksi 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai penyakit, pengobatan dan perawatan Tujuan : Klien dan Keluarga dapat memahami cara perawatan di rumah Kriteria Hasil : Klien dapat memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau korset mengekspresikan pengertian tentang jadwal pengobatan klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana pengobatan dan gejala kemajuan penyakit Intervensi : 1) Diskusikan tentang pengobatan Rasional : meminimalisasi kesalahan klien dan keluarga dalam penggunaan obat 2) Tekankan pentingnya lingkungan yang aman untuk mencegah fraktur terbebas dari tanda atau gejala infeksi menunjukan hygiene yang adekuat menggambarkan faktor yang menunjang penularan infeksi

Rasional : Meningkatkan kewaspadaan klien maupun keluarga terhadap faktor faktor resiko yang dapat memperparah kondisi klien 3) Tingkatkan kunjungan tindak lanjut dengan dokter Rasional : mendeteksi kondisi perkembangan klien secara dini Evaluasi 1. Pasien menyatakan nyeri berkurang dan atau hilang 2. pasien menunjukan kondisi yang rileks dan dapat beristirahat 3. pasien berpartisipasi dalam program pengobatan 4. pasien mendiskusikan perannya dalam mencegah kekambuhan 5. pasien mampu mengerti penjelasan yang diberikan tentang proses penyakit dan pengobatannya 6. pasien mampu mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langka untuk menghindarinya 7. pasien dapat menggunakan obat yang diresepkan dengan baik 8. pasien dapat melakukan pola hidup sehat dengan baik

Daftar pustaka

Muttaqin, A. (2008). Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal: Aplikasi pada Praktik Klinik Keperawatan. Jakarta: EGC. http://qittun.blogspot.com/2008/10/asuhan-keperawatan-dengan-spondilitis.html http://childfever.blogspot.com/2009/03/askep-muskoskletalspondilitis.html
http://qittun.blogspot.com/2008/10/asuhan-keperawatan-dengan-spondilitis.html
October 12, 2008 Qittun on Sunday,