Anda di halaman 1dari 47

Pentingkah air bagi kehidupan kita ??? PENTING ...

Air merupakan sumber kehidupan, tidak hanya bagi manusia, makhluk hidup yang lain juga sangat membutuhkan air. Tanpa air, berbagai proses kehidupan tidak dapat berlangsung.

Tapi kenapa Air tercemar ???


Kecenderungan pencemaran mengarah kepada

dua hal yaitu, pembuangan senyawa kimia tertentu yang makin meningkat terutama akibat kegiatan industri dan transportasi. Yang lainnya akibat penggunaan berbagai produk bioksida dan bahan-bahan berbahaya karena aktivitas manusia. Selain adanya kegiatan industri dan tranportasi yang banyak mengeluarkan bahan pencemar, berbagai kegiatan manusia yang membuang limbah domestik ke lingkungan air juga menjadi faktor penting yang menentukan kesejahteraan/kesehatan manusia, terutama yang menyebabkan penyakit-penyakit dengan perantara air (waterborne deseases).

Pencemaran Air menurut Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor : KEP-02/MENKLH/I/1988 Tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan adalah : masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam air dan atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air menjadi kurang atau sudah tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.

Lalu apa hubungannya Air dengan sungai ??


Sungai adalah aliran air di permukaan yang

mengalir dari hulu ke tempat yang lebih rendah yang kemudian mengalir ke laut, danau, atau ke sungai yang lain. Komponen terpenting Sungai adalah air, sehingga apabila air tercemar maka sungai pun bisa tercemar pula.

Pencemaran Sungai
Pencemaran air sungai adalah peristiwa zat, energi, unsur, atau komponen lainnya kedalam air sungai sehingga menyebabkan turunnya kualitas air sungai terganggu. Kualitas air sungai yang terganggu ditandai dengan perubahan bau yang menyengat, dan warna yang keruh. Pencemaran air meliputi pencemaran sungai dan danau, serta air laut.

Pesatnya pembangunan dan laju pertumbuhan

penduduk yang tinggi membutuhkan air dalam jumlah yang banyak yang sering kali tidak tersedia untuk penduduk. Ketidaksediaan air bersih secara umum disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam terjadi secara alamiah, yaitu ketika bentukan (kondisi) wilayahnya yang memang sulit untuk mendapatkan air sehingga tidak tersedianya air. Faktor manusia yaitu dikarenakan tercemarnya air bersih akibat aktifitas manusia.

Bagaimana cara menentukan apakah sungai itu tercemar atau tidak?


INDIKATOR PENCEMARAN AIR: Pengamatan secara fisis (Warna, bau, dan rasa) Perubahan pH Chemical Oxygen Demand (COD) Dissolvved Oxygen(DO) Biochemical Oxygen Demand (BOD) Kandungan Logam

Pengamatan secara fisis


Tingkat kejernihan air (kekeruhan)

Perubahan suhu
Warna Bau

Rasa

Perubahan pH
Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu

kehidupan mempunyai pH sekitar 6,5-7,5. Untuk ukuran air yang tercemar biasanya Ph berkisar antara 7-8,5. hal ini disebabkan sebagian besar biota akuatik sangat menyukai kisaran pH tersebut. PH juga sangat berpengaruh dalam proses biokimiawi perairan, misalnya nitrifikasi akan berakhir pada PH yang rendah.

Pengaruh PH terhadap Komunitas Biologi Perairan

Pada pH < 4, sebagian besar tumbuhan air

mati karena tidak dapat bertoleransi terhadap pH rendah. Namun ada sejenis algae yaitu Chlamydomonas acidophila mampu bertahan pada pH =1 dan algae Euglena pada pH 1,6.

Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD)


COD adalah jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan

buangan yang ada dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi. Bahan buangan organic tersebut akan dioksidasi oleh kalium bichromat yang digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) menjadi gas CO2 dan gas H2O serta sejumlah ion chrom. Perairan dengan nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/L, sedangkan pada perairan tercemar dapat lebih dari 200 mg/L dan pada limbah industri dapat mencapai 60.000 mg/L (UNESCO,WHO/UNEP, 1992).

Oksigen terlarut (DO)


Tanpa adanya oksigen terlarut, banyak

mikroorganisme dalam air tidak dapat hidup karena oksigen terlarut digunakan untuk proses degradasi senyawa organic dalam air. Kelarutan oksigen dalam air tergantung pada temperature dan tekanan atmosfir. Berdasarkan data-data temperature dan tekanan, maka kalarutan oksigen jenuh dalam air pada 25o C dan tekanan 1 atmosfir adalah 8,32 mg/L (Warlina, 1985).

Keberadaan logam berat yang berlebihan di perairan

akan mempengaruhi system respirasi organisme akuatik, sehingga pada saat kadar oksigen terlarut rendah dan terdapat logam berat dengan konsentrasi tinggi, organisme akuatik menjadi lebih menderita (Tebbut, 1992 dalam Effendi, 2003).

Kebutuhan Oksigen Biokimia (BOD)


BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan

oleh mikroorganisme dalam lingkungan air untuk memecah (mendegradasi) bahan buangan organic yang ada dalam air menjadi karbondioksida dan air. Pada dasarnya, proses oksidasi bahan organic berlangsung cukup lama.

Jumlah mikroorganisme dalam air lingkungan

tergantung pada tingkat kebersihan air. Air yang bersih relative mengandung mikroorganisme lebih sedikit dibandingkan yang tercemar. Air yang telah tercemar oleh bahan buangan yang bersifat antiseptic atau bersifat racun, jumlah mikroorganismenya juga relative sedikit. Sehingga makin besar kadar BOD nya, maka merupakan indikasi bahwa perairan tersebut telah tercemar.

Sumber dan Dampak Pencemaran Sungai

Banyak penyebab sumber pencemaran air, tetapi secara

umum dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) yaitu dan .


Sumber langsung meliputi efluen yang keluar dari industri,

TPA sampah, rumah tangga dan sebagainya. (Misalnya Limbah pemukiman, Limbah Industri, Limbah Pertanian, Limbah Pertambangan)
Sumber tak langsung adalah kontaminan yang memasuki

badan air dari tanah, air tanah atau atmosfir berupa hujan (Pencemaran Ling. Online, 2003). Pada dasarnya sumber pencemaran air berasal dari industri, rumah tangga dan pertanian. Tanah dan air tanah mengandung sisa dari aktivitas pertanian misalnya pupuk dan pestisida. Kontaminan dari atmosfir juga berasal dari aktifitas manusia yaitu pencemaran udara yang menghasilkan hujan asam.

Bagan Pengaruh Beberapa Jenis Bahan Pencemar terhadap Lingkungan Perairan

Sumber Pencemaran

Komponen Lingkungan Atmosfir

Kesehatan Manusia

Gas-gas pencemar

Biota akuatik

Biota terestial

Sumber pencemaran

Bahan pencemar terlarut

Badan air

Kesehatan manusia

Bahan pencemar partikulat

Tanah

Pada dasarnya pencemaran air sungai di Indonsia disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu: Berkembangnya industri-industri di Indonesia
Belum tertanganinya pengendalian limbah rumah

tangga
Pembuangan limbah pertanian tanpa melalui

proses pengolahan.

Proses alam juga berpengaruh pada pencemaran

air sungai misalnya terjadinya gunung meletus, erosi dan iklim. Iklim juga berpengaruh pada tingkat pencemaran air sungai misalnya pada musim kemarau volume air pada sungai akan berkurang, sehingga kemampuan sungai untuk menetralisir bahan pencemaran juga berkurang. Penggunaan insektisida seperti DDT (Dichloro Diphenil Trichonethan) secara berlebihan

Limbah Pemukiman
Limbah pemukiman mengandung limbah domestik

berupa sampah organik dan sampah anorganik serta deterjen. Sampah organik adalah sampah yang dapat diuraikan atau dibusukkan oleh bakteri seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan daun-daunan. Sedangkan sampah anorganik seperti kertas, plastik, gelas atau kaca, kain, kayu-kayuan, logam, karet, dan kulit. Sampah anorganik ini tidak dapat diuraikan oleh bakteri (non biodegrable). Selain sampah organik dan anorganik, deterjen merupakan limbah pemukiman yang paling potensial mencemari air. Padahal saat ini hampir setiap rumah Pengunaan deterjen yang tangga menggunakan deterjen. berlebihan merangsang
tumbuhnya eceng gondok

Perilaku Masyarakat Yang Tidak Seharusnya


Sampah di saluran drainase Air Buangan industri tanpa pengolahanan buang air besar sembarangan (open defecation) Jamban yang asal-asalan

pembuangan lumpur tinja secara liar

mencuci dan mandi di sungai tercemar

24

Limbah Industri
Limbah industri yang mencemarkan air dapat berupa

polutan sampah organik dan anorganik. Polutan tersebut berasal dari pabrik pengolahan hasil ternak, polutan logam berat, dan polutan panas yang antara lain berasal dari air pendingin industri. Limbah industri dapat membunuh mikroorganisme air. Akan tetapi, beberapa pabrik tidak mampu menghilangkan unsur kimia atau racun yang dikandungnya. Limbah industri yang dapat mencemari air bergantung pada jenis industrinya. Limbah tersebut berupa organik, anorganik, dan panas.Sebagian besar industri membuang limbah cairnya ke perairan sungai tanpa diolah terlebih dahulu.

Limbah Pertanian
Limbah pertanian merupakan sisa-sisa hasil

pertanian yang berasal dari tumbuhan dan hewan ternak misalnya sisa dari pemanenan hasil tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, sampah rumah tangga, kotoran hewan ternak dan sebagainya.
Limbah pertanian biasanya dibuang ke aliran

sungai tanpa melalui proses pengolahan, sehingga dapat mencemari air sungai karena limbah pertanian mengandung berbagai macam zat pencemar seperti pupuk dan pestisida.

Air tanah

Sungai

Sisa pupuk yang berlebihan

Mengalir melalui air sawah Danau

Merangsang pertumbuhan gulma seperti eceng gondok karena kandungan fosfat

Sisa pupuk berlebihan

mengakibatkan

Meracuni biota akuatik oleh kadar pestisida yang tinggi

Mempengaruhi kadar oksigen dalam air

Limbah Pertambangan

Pertambangan batu bara tercemar asam sulfat

dan senyawa besi. Menyebabkan kesadahan pada air. Pertambangan emas banyak menghasilkan limbah yang mengandung merkuri (Hg). Merkuri berbahaya bagi manusia salah satunya dapat menyebabkan kanker.

Jenis Polutan
Dari uraian penyebab pencemaran air sungai, bahan pencemarannya dapat dikelompokkan menjadi: Sampah yang dalam proses penguraiannya memerlukan oksigen yaitu sampah yang mengandung senyawa organik, misalnya sampah industri makanan, sampah dari tanaman air, sampah rumah tangga (sisa-sisa makanan, kotoran hewan ternak), dll. Untuk proses penguraian sampahsampah tersebut memerlukan banyak oksigen, sehingga apabila sampah-sampah tersebut berada di dalam air, maka perairan tersebut akan kekurangan oksigen. Bahan pencemar penyebab terjadinya penyakit yaitu bahan pencemaran yang mengandung virus dan bakteri misal bakteri coli. Bahan pencemar ini berasal dari limbah rumah tangga, limbah rumah sakit atau

Bahan pencemar senyawa organik/mineral

misalnya logam-logam berat seperti merkuri (Hg), cadmium (Cd), timah hitam (Pb), tembaga (Cu), garam-garam anorganik. Bahan pencemar organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yaitu senyawa organik yang berasal dari pestisida, herbisida, polimer seperti plastik, deterjen, serat sintesis, limbah industri dan limbah minyak. Bahan pencemar berupa makanan tumbuhtumbuhan seperti senyawa nitrat dan senyawa fosfat.

Bahan pencemar berupa zat radioaktif yang

biasanya berasal dari limbah PLTN dan dari percobaan- percobaan nuklir lainnya. Bahan pencemar berupa endapan/sedimen seperti tanah dan lumpur akibat erosi pada tepi sungai atau partikulat-partikulat padat/lahar yang disemburkan oleh gunung berapi yang meletus. Bahan pencemar berupa kondisi (misalnya panas), berasal dari limbah pembangkit tenaga listrik atau limbah industri yang menggunakan air sebagai pendingin.

DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN

Eutrofikasi
Eutrofikasi merupakan masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat (PO3-), khususnya dalam ekosistem air tawar. Definisi dasarnya adalah pencemaran air yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Kondisi eutrofik sangat memungkinkan alga, tumbuhan air berukuran mikro, untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfat yang berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin

Eutrofikasi diklasifikasikan menjadi dua yaitu

artificial atau cultural eutrophication dan natural eutrophication. Eutrofikasi diklasifikasikan sebagai artificial (cultural eutrophication) apabila peningkatan unsur hara di perairan disebabkan oleh aktivitas manusia dan diklasifikasikan sebagai natural eutrophication jika peningkatan unsur hara di perairan disebabkan oleh aktivitas alam (Effendi, 2003).

Kondisi eutrofik sangat memungkinkan algae, tumbuhan air

berukuran mikro, untuk tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfat yang berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin meningkat. Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan danau-danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Akibatnya, kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol, menyebabkan makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air. Permasalahan lainnya, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui mengandung toksin sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Algal bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional, dan pariwisata sehingga dibutuhkan biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya (Anonim, 2011).

Selain hal itu, dampak lain yang dapat terjadi akibat proses eutrofikasi antara lain : Blooming algae dan tidak terkontrolnya pertumbuhan tumbuhan akuatik lain Terjadi kekeruhan perairan Terjadi deplesi oksigen, terutama di lapisan yang lebih dalam dari danau atau waduk Terjadi supersaturasi oksigen Berkurangnya jumlah dan jenis spesies tumbuhan dan hewan Berubahnya komposisi dari banyaknya spesies ikan menjadi sedikit spesies ikan Berkurangnya hasil perikanan akibat deplesi oksigen yang signifikan d perairan Produksi substansi beracun oleh beberapa spesies blue-green algae Ikan yang ada di perairan menjadi berbau lumpur Pengurangan nilai keindahan dari danau atau waduk karena berkurangnya kejernihan air Menurunkan kualitas air sebagai sumber air minum dan MCK

Penanggulangan Pencemaran Air Sungai


Perbaikan Pengolahan Limbah

Penanggulangan

Pencegahan

Pengolahan Limbah
Limbah industri sebelum dibuang ke tempat pembuangan, dialirkan ke sungai atau selokan hendaknya dikumpulkan di suatu tempat yang disediakan, kemudian diolah, agar bila terpaksa harus dibuang ke sungai tidak menyebabkan terjadinya pencemaran sungai. Bahkan kalau dapat setelah diolah tidak dibuang ke sungai melainkan dapat digunakan lagi untuk keperluan industri sendiri.

Pengolahan air limbah pada umumnya dilakukan dengan menggunakan metode Biologi. Metode ini merupakan metode yang paling efektif dibandingkan dengan metode Kimia dan Fisika. Proses pengolahan limbah dengan metode Biologi adalah metode yang memanfaatkan mikroorganisme sebagai katalis untuk menguraikan material yang terkandung di dalam air limbah.

Metode yang paling sering digunakan dalam pengolahan limbah adalah metode lumpur aktif. metode ini merupakan metode pengolahan air limbah yang paling banyak dipergunakan, termasuk di Indonesia, hal ini mengingat metode lumpur aktif dapat dipergunakan untuk mengolah air limbah dari berbagai jenis industri seperti industri pangan, pulp, kertas, tekstil, bahan kimia dan obat-obatan.

Limbah sampah padat dari rumah tangga berupa plastik atau serat sintetis yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme dipisahkan, kemudian diolah menjadi bahan lain yang berguna, misalnya dapat diolah menjadi keset. Sampah organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme dikubur dalam lubang tanah, kemudian kalau sudah membusuk dapat digunakan sebagai pupuk.

CARA LAIN
1. Program Pengendalian Pencemaran dan

Pengrusakan Lingkungan
Mengurangi beban pencemaran badan

sungai oleh industri dan domestik. Mengurangi beban emisi dari kendaraan bermotor dan industri. Mengawasi pemanfaatan B3 dan pembuangan limbah B3. Mengembangkan produksi yang lebih bersih (cleaner production) dan EPCM (Environmental Pollution Control Manager).

2. Program Rehabilitasi dan Konservasi SDA

dan Lingkungan Hidup


Mengoptimalkan pelaksanaan

rehabilitasi lahan kritis. Menanggulangi kerusakan lahan bekas pertambangan, TPA, dan bencana. Meningkatkan konservasi sungai bawah tanah. Rehabilitasi dan konservasi keanekaragaman hayati.

CARA MENGATASI PENCEMARAN SUNGAI YANG EFEKTIF = MENCEGAH PENCEMARAN SUNGAI

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Mempertahankan sumber-sumber air bersih yang belum tercemar. Menanam tanaman-tanaman berkayu tebal. Tidak membuang sampah ke sungai. Mendaur ulang semua sampah yang bisa didaur ulang. Penyuluhan pembuangan limbah industri. Penyuluhan bagi pengguna transportasi laut. Peraturan yang tegas kepada para pengusaha minyak. Pemerintah hendaknya membuat peraturan yang tegas untuk pembuangan limbah beracun.