Anda di halaman 1dari 31

FORMULASI TABLET EKSTRAK METANOL DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz & Pav.

) SEBAGAI OBAT ANTIINFLAMASI DENGAN METODE GRANULASI BASAH

PROPOSAL SKRIPSI

OLEH : MARIA VERONIKA I 21111016 NOVADYANTI I 21111035 YULI EVI YANTI I 21111038

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA 2013

BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Obat antiinflamasi yang berasal dari alam jumlahnya masih sangat sedikit. Untuk menyembuhkan inflamasi orang biasa menggunakan antiinflamasi yaitu dari golongan steroid dan antiinflamasi non steroid (AINS )yang secara spesifik mempunyai sejarah yang panjang dan banyak menimbulkan kontroversi serta efek samping (Fitriyani dkk,2011). Antiinflamsi golongan steroid dapat menyebabkan penurunan imunitas terhadap infeksi (imunosupresi),osteoporosis, atropi otot dan kulit, serta bersifat diabetogen (Tjai Hoan,2007). Adapun antiinflamasi golongan non- steroid antara lain dapat menyebabkan tukak lambung-usus,perdarahan, gangguan fungsi ginjal,ruam pada kulit,gangguan fungsi haid dan anemia (Tjai Hoan,2007). Penggunaan obat tradisional telah menjadi salah satu alternatif untuk mengobati berbagai macam penyakit yang penggunaannya dianggap lebih aman dibanding dengan pengobatan menggunakan zat kimia karena efek sampingnya lebih sedikit. Salah satu tanaman obat tradisional yang biasa digunakan adalah daun sirih. Daun sirih umumnya digunakan untuk mengobati penyakit radang tenggorokan, batuk, demam dan memiliki efek sebagai antiseptik, antiketombe, antidiabetik, analgetik, antidiare dan antiinflamasi. Secara empiris daun sirih telah dikenal luas oleh massyarakat suku melayu di Sukadana sebagai tanaman

yang dapat mengobati penyakit seperti keputihan,demam dan menghilangkan bau mulut. Tanaman sirih mempunyai banyak spesies serta memiliki jenis dan sebutan yang beragam seperti sirih gading, sirih hijau, sirih hitam, sirih kuning dan sirih merah (Werdhany dkk,2008). Sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) merupakan tanaman yang dikenal sebagai tanaman hias yang berdasarkan kekerabatannya merupakan satu genus dengan sirih hijau (Piper betle Linn.). Sirih merah telah dibudidayakan oleh warga kelurahan Darat Sekip didaerah Pontianak sebagai tanaman obat keluarga (TOGA). Menurut Solikhah (2007), secara empiris sirih merah digunakan sebagai obat kencing manis, ambeien, meredakan peradangan, kanker, asam urat, darah tinggi, hepatitis, kelelahan dan sakit maag. Sedangkan Menurut Fitriyani dkk (2011), ekstrak metanol daun sirih merah dengan dosis 50 mg/kgBB memiliki aktivitas antiinflamasi yang paling besar pada tikus putih yang diinduksi karagenin. Sehingga,daun sirih merah ini sangat potensial untuk dapat dikembangkan menjadi salah satu obat antiinflamasi yang berasal dari alam. Senyawa fitokimia yang terkandung dalam daun sirih merah meliputi alkaloid, saponin, tannin, dan flavonoid (Puruhito dalam Sudewo, 2008). Sedangkan berdasarkan penelitian Andayana Puspitasari (dalam Sudewo,2008), daun sirih merah mengandung golongan senyawa flavonoid, alkaloid, polifenol, steroid, dan terpenoid, terutama senyawa monoterpen dan kemungkinan adanya komponen minyak atsiri. Aktivitas antiinflamasi ekstrak daun sirih merah diperkirakan karena adanya senyawa golongan flavonoid,saponin dan tannin.

Flavonoid bekerja menghambat fase penting dalam biosintesis prostaglandin, yaitu pada lintasan siklooksigenase. Flavonoid juga menghambat fosfodiesterase, aldoreduktase, monoamine oksidase, protein kinase, DNA polymerase dan lipooksigenase (Robinson, 1995). Mekanisme flavonoid dalam menghambat proses terjadinya inflamasi melalui dua cara, yaitu dengan menghambat permeabilitas kapiler dan menghambat metabolisme asam arakidonat dan sekresi enzim lisosom dari sel neutrofil dan sel endothelial (Kurniawati, 2005).. Selain flavonoid, golongan bahan alam lain yang memberikan rasa kesat dan pahit dalam tanaman dan makanan adalah senyawa tanin (Heinrich dkk,2009).Tanin diketahui mempunyai aktifitas antiinflamasi, astringen, antidiare, diuretik dan antiseptik namun mekanisme kerjanya sebagai antiinflamasi belum dijelaskan secara pasti (Khanbabaee dan Ree, 2001). Sedangkan aktivitas farmakologi saponin yang telah dilaporkan antara lain sebagai antiinflamasi, antibiotik, antifungi, antivirus, hepatoprotektor serta antiulcer (Soetan, 2006). Mekanisme antiinflamasi saponin adalah dengan menghambat pembentukan eksudat dan menghambat kenaikan permeabilitas vaskular (Pelegrini et al., 2008). Kebanyakan penelitian masih terbatas pada pembuktian adanya efek antiinflamasi pada daun sirih merah tetapi belum banyak yang

mengembangkannya sebagai obat konvensional. Daun sirih merah dalam pengobatan biasanya dibuat dalam bentuk sediaan infusa tetapi belum ada yang memformulasikannya dalam bentuk sediaan tablet. Tablet merupakan sediaan obat konvensional yang umumnya dikonsumsi oleh masayarakat karena penggunaannya yang praktis dan paling banyak

diproduksi diindustri farmasi. Keuntungan obat dibuat dalam bentuk tablet adalah daya tahannya baik (untuk ditransfortasikan dan disimpan),tepat

takarannya,pengemasannya baik dan mudah digunakan (Voight,1994). Sedangkan menurut Lachman dkk (1994), kelebihan sediaan tablet adalah praktis (mudah dibawa dan mudah digunakan), mudah mengatur dosisnya, ongkos pembuatannya relatif murah, sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak, stabil dalam penyimpanan serta mudah diproduksi dalam jumlah besar . Proses pembuatan tablet memerlukan bahan aktif dan bahan tambahan, bahan aktif yang digunakan berupa ekstrak metanol daun sirih merah yang diperoleh dari proses penyarian dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol. Ektrak metanol daun sirih merah yang telah diperoleh, diproses menjadi sediaan tablet dengan metode granulasi basah. Metode granulasi basah memiliki kenuntungan yaitu memperoleh aliran yang lebih baik, meningkatkan

kompresibilitas,mendapatkan berat jenis yang sesuai, mengontrol pelepasan, mencegah pemisahan komponen campuran selama proses dan memperbaiki atau meningkatkan distribusi keseragaman kandungan (Siregar,2010). Berdasarkan paparan diatas, peneliti ingin memformulasikan ekstrak metanol daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) dalam bentuk sediaan tablet agar mudah dan efektif dikonsumsi oleh masyarakat sebagai salah satu obat antiinflamasi yang berasal dari alam.

I.2 Perumusan Masalah Permasalahan yang dapat diangkat dari penelitian ini adalah : 1. Apakah ekstrak metanol daun sirih merah dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan tablet? 2. Apakah tablet ektrak daun sirih merah yang dihasilkan memenuhi persyaratan mutu fisik tablet yang baik? 2.3 Tujuan penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan : 1. Membuktikan bahwa ekstrak metanol daun sirih merah dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan tablet. 2. Untuk mengetahui sifat fisik tablet ekstrak daun sirih merah yang dihasilkan. 2.4 Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna bagi ; 1. Peneliti Sebagai salah satu alternatif pengobatan antiinflamsi yang berasal dari bahan alam dengan memformulasikannya dalam bentuk sediaan tablet. 2.Masyarakat a. Memberikan informasi kepada masyarakat mengenai sediaan tablet

ekstrak daun sirih yang berkhaasiat sebagai obat antiinflamasi (anti radang).

b. Memberikaan informasi tambahan bagi penelitian selanjutnya tentang pengembangan formulasi tablet ekstrak metanol daun sirih merah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Uraian tanaman Sirih (Piper betle L.) merupakan tumbuhan terna yang termasuk famili piperaceae. Sirih memiliki jenis yang beragam, seperti sirih hijau, sirih hitam, sirih kuning dan sirih merah. Semua jenis tanaman sirih memiliki ciri yang hampir sama yaitu tanamannya merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai yang tumbuh berselang seling dari batangnya. Sirih merah selain digunakan sebagai tanaman hias oleh para hobis karena penampilannya yang menarik, namun dapat juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat (Anonim, 2009). Daun sirih merah yang memenuhi syarat untuk dipanen adalah daun yang sudah berumur lebih dari satu bulan. Pada umur ini ketebalan dan lebar daun sudah memenuhi syarat untuk dipanen. Jika umurnya kurang dari satu bulan, daun sirih merah masih tipis, cepat layu dan aromanya belum kuat. Kandungan zat kimianya pun belum maksimal, sehingga daya penyembuhnya tidak sebaik daun yang sudah berumur satu bulan atau lebih. Waktu yang tepat memetik atau memanen daun sebaiknya dilakukan pada pagi hari sampai dengan jam 11.00 (Sudewo, 2005). II.1.2. Kandungan Kimia dan Khasiat
Kandungan kimia yang terdapat pada tanaman sirih merah mengandung metabolit sekunder yang menyimpan senyawa aktif seperti alkali, flavonoid, polivenol, tanin, minyak atsiri, saponin, hidroksikaficol, kavicol, kavibetol,

karbavakrol, cyanogenic, eugenol, cineole, kadimen, glucoside, isoprenoid , nonprotein amino acid, ter-penena, dan fenil propada ( Mulyanto dkk, 2003 )

Kegunaan sirih merah di lingkungan masyarakat dalam menyembuhkan beberapa penyakit seperti, diabetes mellitus, jantung koroner, TBC ( tuberkulosis), asam urat, kanker payudara, kanker darah (leukemia), ambeien, penyakit ginjal, impotensi, eksim atau eksema atau dermatitis, gatal-gatal, luka bernanah yang sulit sembuh, karies gigi, batuk, radang pada mata, radang pada gusi dan telinga, radang prostat, hepatitis, hipertensi, keputihan kronis, demam berdarah dengue (DBD), penambah nafsu makan, penyakit kelamin ( gonorrhea, sifilis, herpes, hingga HIV/AIDS), sebagai obat kumur dan luar, dan manfaat bagi kecantikan ( lulur, masker, penuaan dini, penghalus kulit, dan lain-lain) (Amalia dkk, 2002 ). II. 2 Granulasi Basah Metode granulasi basah merupakan metode yang paling sering digunakan dalam memproduksi tablet kompresi. Langkahlangkah yang diperlukan dalam pembuatan tablet dengan metode granulasi basah dibagi menjadi penimbangan dan pencampuran bahan bahan, pembuatan granulasi basah, pengayakan adonan lembab menjadi granul, pengeringan, pengayakan kering, pencampuran bahan pelincir, dan pembuatan tablet menjadi kompresi (Ansel, 1985).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat yang digunakan Alat yang digunakan yaitu Glassware (Pyrex), blender, baskom, timbangan analitik (Precisa), pipet ukur, ball filler, kain flannel, gelas ukur, mortir, stamper, sendok penyu, batang pengaduk, corong pisah, ayakan 12 mesh dan 14 mesh, gelas arloji, cawan penguap, oven listrik (Memmert Gmbh Co Kg Model 400), mesin tablet single punch (model TDP Shanghai Factory), mesin granul (Erweka AR402), hardness tester (Electrolab EH01P), friability tester (Electrolab EF-2), stopwatch, disintegration tester (Electrolab ED-2L), tapping tester (Erweka SVM 102), mikroskop (Zeiss Primostar) dilengkapi kamera dan program axiocam, spektrofotometer (Shimadzu), kuvet, botol timbangan, kompor listrik, desikator, kursibel, serta alatalat listrik dan gelas lainnya, III.1.2 Bahan yang digunakan Bahan yang digunakan yaitu daun sirih merah, amprotab derajat farmasi, laktosa derajat farmasi, magnesium stearat derajat farmasi, talkum derajat farmasi, larutan H2SO4 2N, larutan HCl 0,12 N, larutan iodium 0,005 M, aquadestilata Mucilago Amprotab 10%, metanol p.a (Merck), Aluminium Foil, Kertas Saring, Corong Kaca, aquades, HgCl2 p.a (Merck), Asam Klorida p.a (Merck), Serbuk Magnesium,butanol, Asam asetat glacial p.a (Merck), Pereaksi Molish, Larutan FeCl3 5% p.a (Merck), pereaksi Mayer, pereaksi Wagner

III.2. Rancangan Peneltian Metode penelitian adalah metode trial and error. Dimana penelitian ini meliputi determinasi tanaman, pengambilan dan pengolahan sampel, pemeriksaan karakteristik simplisia, pembuatan ekstrak metanol daun sirih merah, pemeriksaan karakteristik ekstrak, skrining fitokimia, pembuatan granul, pengujian granul, pembuatan tablet dengan metode granulasi basah, uji sifat fisik tablet dan analisis hasil. III.3 Cara Penelitian III.3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan dilaboratorium Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura pada bulan September-November 2013. III.3.2 Pengambilan Sampel dan Pengolahan Sampel a. Pengambilan Sampel Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah daun sirih merah dari famili Piperaceae. Sampel diambil di kelurahan Desa Darat Sekip Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimatan Barat yang berumur 4 bulan. Sampel ini diambil secara purposif yaitu tanpa membandingkan dengan daerah lain. b. Determinasi Sampel Tumbuhan yang digunakan pada penelitian ini diidentifikasi di Laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan

Alam Universitas Tanjungpura Pontianak. Tanaman yang digunakan bebas hama, penyakit dan kerusakan lainnya. c. Pengolahan Sampel Daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) yang telah dikumpulkan dan ditimbang sebagai berat basah sebesar 5 kg, disortasi basah kemudian dicuci dengan air mengalir dan dirajang kemudian ditiriskan. Selanjutnya daun sirih merah dikeringkan dengan menggunakan oven. Daun sirih merah yang sudah kering kemudian disortasi kering dan ditimbang berat keringnya setelah itu simplisia daun sirih merah dibuat menjadi serbuk dan ditimbang berat serbuknya. III.3.3 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik dan pemeriksaan mikroskopik. a. Pemeriksaan Makroskopik Pemeriksaan makroskopik dilakukan dengan cara mengamati simplisia meliputi warna, bau dan rasa. b. Pemeriksaan Mikroskopik Pemeriksaan terhadap serbuk dilakukan dengan cara menaburkan serbuk simplisia diatas kaca objek yang telah ditetesi dengan kloralhidrat dan ditutupi dengan kaca penutup kemudian dilihat dibawah mikroskop.

III.3.4 Ekstraksi Serbuk simplisia sebanyak 5 g dimasukkan kedalam bejana maserasi dan ditambahkan pelarut metanol sebanyak 7,5 kali berat serbuk dan didiamkan sambil sesekali diaduk. Proses dilakukan dengan mengganti pelarut tiap 1x24 jam selama 3 hari ditempat yang terlindung dari cahaya. Ampas yang dihasilkan dimaserasi kembali dengan cairan penyari. Hasil maserasi dikumpulkan dan disaring. kemudian pelarut diuapkan menggunakan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak metanol kental. Ekstrak kental dikeringkan dalam oven, sehingga didapatkan ekstrak metanol kering. III.3.5 Pemeriksaan Karakteristik Ekstrak Pemeriksaan karakteristik ekstrak, meliputi penetapan susut pengeringan, penetapan kadar sari yang larut dalam air dan penetapan kadar sari yang larut dalam metanol. a. Penetapan Susut Pengeringan Susut pengeringan adalah kadar bagian yang menguap suatu zat. Kecuali dinyatakan lain, suhu penetapan adalah 105C dan susut pengeringan ditetapkan sebagai berikut : ditimbang seksama 1 g atau 2 g sampel dalam bobot timbang dangkal bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu penetapan selama 30 menit dan telah ditara. Sebelum setiap pengeringan, botol dibiarkan dalam keadaan tertutup mendingin dalam desikator hingga suhu kamar (Depkes RI, 1986).

b. Penetapan Kadar Sari Yang Larut dalam Air Sejumlah 5 g ekstrak disari selama 24 jam dengan 100 mL aquades menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Disaring, diuapkan 20 mL filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, dipanaskan sisa pada suhu 105 C hingga bobot tetap. Kadar dalam persen senyawa yang larut dalam air dihitung terhadap berat ekstrak awal (Depkes RI, 2000). c. Penetapan Kadar Sari Yang Larut dalam Etanol Sebanyak kurang lebih 5 g ekstrak dimaserasi selama 24 jam dalam etanol 96 % dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama, dibiarkan 18 jam, kemudian disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol, 20 mL filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan dangkal (dalam cawan penguap juga bisa) berdasar rata yang telah ditara dan dipanaskan pada suhu 105 C sampai bobot tetap atau sampai kering. Kadar dalam persen senyawa yang larut dalam air dihitung terhadap berat ekstrak awal (Depkes RI, 2000). III.3.6 Skrining Fitokimia Fraksi a. Skrining flavonoid Skrining flavonoid dilakukan dengan uji Wilstater. Sebanyak 0.3 g ekstrak daun sirih merah dikocok dengan 5 mL n-heksana berkali-kali sampai ekstrak nheksana tidak berwarna. Residu dilarutkan dalam etanol dan dibagi menjadi 2 bagian yang disebut sebagai larutan IA dan IB. Larutan IA sebagai blanko.

Larutan IB ditambah 0.5 mL HCl pekat dan 4 potong magnesium. Warna yang terjadi diamati, kemudian diencerkan dengan air suling dan ditambah 0.1 mL butanol. Warna yang terjadi di setiap lapisan diamati, perubahan warna merah jingga menunjukkan adanya flavon, merah pucat menunjukkan adanya flavonol dan merah tua menunjukkan flavonon pada daun sirih merah (Fitriyani dkk,2011). b.Skrining polifenol dan tanin Ekstrak daun sirih merah sebanyak 0.3 g ditambah 10 mL aquades panas, diaduk dan dibiarkan sampai suhu kamar, tambahkan 3-4 tetes 10 % NaCl, diaduk dan disaring (Fitriani dkk,2011).Filtrat dibagi menjadi dua bagian yaitu larutan IIA sebagai blanko, larutan IIB untuk uji FeCL3 dan larutan IIC untuk uji gelatin. Larutan IIB diberi beberapa tetes larutan FeCl3, kemudian diamatai terjadinya perubahan warnanya, jika terjadi warna hijau kehitaman menunjukkan adanya tannin. Jika pada penambahan gelatin dan NaCl tidak timbul endapan tetapi setelah ditambahkan dengan larutan FeCl3 terjadi perubahan warna menjadi hijau biru hingga hitam, menunjukkan adanya senyawa polifenol pada ekstrak daun sirih merah (Fitriyani dkk,2011). Larutan IIC ditambah sedikit larutan gelatin 1% dan 5 mL larutan NaCl 10%. Jika terjadi endapan putih menunjukkan adanya tannin pada ekstrak (Fitriyani dkk,2011).

c.Alkaloid Ekstrak metanol daun sirih merah sebanyak 0.3g ditambah dengan 5mL HCl 2N, dipanaskan di atas penangas air selama 2-3 menit, sambil diaduk. Setelah dingin ditambah 0.3g NaCl, diaduk rata kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh ditambah 5mL HCl 2N dan dibagi menjadi 2 bagian (fitriyani dkk,2011). Filtrat tersebut kemudian dilakukan rekasi pengendapan, larutan IIIA ditambah pereaksi Mayer, larutan IIIB ditambah pereaksi Wagner dan larutan IIIC dipakai sebagai blanko. Adanya kekeruhan atau endapan menunjukkan alkaloid dalam ekstrak daun sirih merah (Fitriyani dkk,2011). d.Saponin, Triterpenoid dan Steroid uji buih Ekstrak metanol daun sirih merah sebanyak 0.3g dalam tabung reaksi, ditambah air suling 10mL, dikocok kuat-kuat selama 30 detik. Tes buih positif mengandung saponin bila terjadi buih yang stabil selama lebih dari 30 menit dengan tinggi 3cm di atas permukaan cairan (Fitriyani dkk,2011). e.Uji Salkowski Dilarutkan 0.3g ekstrak dalam 15mL etanol. Larutan IA ditambah 1-2mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung reaksi. Adanya steroid tak jenuh ditandai dengan timbulnya cincin berwarna merah (Fitriyani dkk,2011). yaitu IIIA, IIIB, IIIC

III.3.6 Penetapan Dosis Ekstrak Dosis ektrak metanol Daun Sirih Merah pada tikus dengan berat 200 gr adalah 50 mg/kg BB (Fitiriani dkk,2011). Sehingga dosis untuk manusia dewasa dengan berat badan 70 kg adalah : 50 mg/ kg BB = 10 mg/200 gr BB Dosis manusia 70 kg=10 mg x 56 =560 mg/70 kg BB manusia III.3.7 Pembuatan Granul Dalam pembuatan tablet diperlukan rancangan formula yang tepat. Adapun rancangan formula yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 1. Formula Tablet No Bahan (mg) 1 (650 mg) 1 2 3 4 5 6 Ekstrak kental Amprotab 5% Mucilago amprotab 10% Laktosa Talkum 2% Mg stearat 2% 560 mg 32,5 mg Qs Add 650 mg 11,7 mg 1,3 mg Formulasi 2 (700 mg) 560 mg 35 mg Qs Add 700 mg 12,6 mg 1,4 mg 3 (750 mg) 560 mg 37,5 mg Qs Add 750 mg 13,5 mg 1,5 mg

Keterangan : Formulasi tablet dibuat masing-masing 200 tablet dengan berat 650 mg/tablet (formula 1),700 mg/tablet (formula 2),750 mg/tablet (formula 3).

Ekstrak metanol daun sirih merah sebagai zat aktif ditimbang sebanyak 112 g, amprotab 5% sebagai bahan penghancur formula 1 sebanyak 6,5 g,formula 2 sebanyak 7 g,formula 3 sebanyak 7,5 g, talkum dan magnesium stearat (9:1) sebagai bahan pelincir yaitu talkum formula 1 sebanyak 2,34 g,formula 2 sebnayak 2,52 g,formula 3 sebanyak 2,76 g dan magnesium stearat formula 1 sebanyak 0,26 g, formula 2 sebanyak 0,28 g,formula 3 sebanyak 0,3 g,laktosa sebagai bahan pengisi formula 1 sebanyak 8,9 g,formula 2 sebanyak 18,3 g dan formula 3 sebanyak 27,5 g. Bahanbahan seperti ekstrak metanol dasun sirih merah, laktosa, dan bahan penghancur, yaitu amprotab 5% dicampur homogen kemudian ditambahkan musilago amprotab 10% sedikit demi sedikit sambil diaduk dan diremas dengan tangan sampai terbentuk massa yang dapat menggumpal jika dikepal tetapi apabila dipatahkan tidak hancur berantakan yang dikenal sebagai banana breaking (seperti mematahkan buah pisang). Dilakukan pengayakan basah dengan menggunakan ayakan nomor 12 dan dikeringkan pada suhu 60oC, setelah kering granul diayak kembali dengan nomor 14 kemudian ditambahkan bahan pelicin (talk dan magnesium stearat).

Ektrak metanol daun sirih merah

- Ditambahkan

Laktosa

- Ditambahkan Amprotab 5% (penghancur) - Dicampurkan hingga homogen - Ditambahkan Mucilago amprotab 10%sedikit demi sedikit - Diaduk sampai terbentuk banana breaking - Ditambahkan
Banana Breaking Bahan pengisi

hingga 100%

-Diayak menggunakan pengayak nomor 12


Grsnul basah

-Dikeringkan dalam oven pada suhu 60C


Granul Kering

- Diayak kembali menggunakan ayakan nomor 14 - Ditambahkan


Granul Tablet talk

dan (pelicin) Magnesium stearat

(pelicin)

Gambar 1.Skema Pembuatan Granul

III.3.9 Pemeriksaan Kualitas Granul a. Uji Waktu Alir Granul Uji waktu alir dilakukan dengan menimbang 100 gram granul dimasukkan kedalam alat penguji yang berupa corong yang ditutup pada lubang keluarnya. Disaat penutup dibuka, alat pencatat waktu (stopwatch) dihidupkan, sampai semua serbuk atau granul keluar dari corong. Begitu semua serbuk atau granul habis keluar, stopwatch dimatikan. Waktu yang diperlukan untuk keluarnya serbuk atau granul dicatat sebagai waktu alirnya (Kuncahyo,2009). b. Sudut Diam Granul ditimbang sebanyak 100 gram lalu dimasukkan ke dalam corong alat uji yang bagian bawahnya tertutup. Penutupnya dibuka dan dibiarkan serbuk atau granul keluar, kemudian seluruh granul akan mengalir melalui corong tersebut membentuk tumpukan serbuk berbentuk kerucut yang memiliki diameter dan tinggi tertentu. Nilai diameter dan tinggi inilah yang digunakan untuk menentukan sudut diam. Sudut diam granul yang dievaluasi dihitung, kemudian ulangi percobaan. Granul atau serbuk kualitas farmasi mempunyai sudut diam 25- 45, sudut yang lebih kecil menunjukkan sifat alir yang baik. Jika sudutnya 40 biasanya daya mengalirnya kurang baik (Lachman dkk, 1994).

c.

Uji Pengetapan Sejumlah granul dimasukkan perlahanlahan sehingga tepat 250 ml. Dihentakkan di mesin pengetap sebanyak 10 hentakkan, kemudian dicatat perubahan volume yang terjadi. Diulangi sebanyak 10100 hentakkan sampai volume tidak berubah lagi (Gusmayadi, 2000).

d. Uji Susut Pengeringan Granul Granul masing-masing formula ditimbang sebanyak 2 g lalu dimasukkan ke dalam botol yang telah ditara sebelumnya, kemudian ditimbang seksama botol serta isinya. Dimasukkan ke dalam oven, dibuka sumbat dan dibiarkan sumbat tersebut di dalam oven. Dipanaskan pada suhu 105oC selama 30 menit, setelah itu didinginkan di dalam desikator sampai mencapai suhu kamar, ditimbang. Diulangi pemanasan selama 15 menit sampai bobot tetap Kesehatan Republik Indonesia, 1995). e. Uji Daya Serap Granul Daya serap granul berpengaruh pada waktu hancur tablet. Faktor yang mempengaruhi penetrasi adalah porositas tablet dimanaa tergantung kompresi dan kemampuan penyerapan air dari material yang dipakai. Bahan penghancur mulai berfungsi diantaranya melalui proses pengembangan,reaksi kimia maupun secara enzimatis setelah air masuk ke dalam tablet (Boyland,2002). (Departemen

III.3.10 Pembuatan Tablet Granul yang telah diuji, dimasukkan ke dalam hopper kemudian

dikempa menjadi tablet dengan bobot lebih kurang 200 mg. Sebelumnya dilakukan uji coba terlebih dahulu terhadap mesin tablet hingga diperoleh beberapa butir tablet. Selanjutnya dilakukan pengukuran kekerasan dan bobotnya. Jika bobot dan kekerasan telah terpenuhi, selanjutnya dikempa seluruh granul menjadi tablet. Selanjutnya tablet yang dihasilkan diuji sifat fisiknya yang meliputi keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur, penetapan kadar, keseragaman kadar dan disolusi. III.3.11 Pemeriksaan kualitas Fisik Tablet a. Uji Keseragaman Bobot Ditimbang sejumlah 20 tablet dan dihitung bobot rataratanya. Jika ditimbang satu per satu tidak boleh lebih dari dua tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari 7,5% dan tidak satupun bobotnya menyimpang dari bobot rataratanya lebih besar dari 15% (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979). Tabel 2. Penyimpangan Bobot Rata-Rata Penyimpangan bobot rata-rata (%) Bobot rata-rata 25 mg atau kurang 26 mg s/d 150 mg 151 mg s/d 300 mg Lebih dari 300 mg A 15 10 7,5 5 B 30 20 15 10

b.Kekerasan Tablet Satu tablet diletakkan dengan posisi tegak lurus pada alat hardness tester. Selanjutnya diputar penekan alat pelanpelan sampai tablet pecah. Dibaca skala alat yang menunjukkan kekerasan tablet dalam satuan Kg (Voight, 1994). c.Kerapuhan Tablet Sebanyak 20 tablet yang sudah dibebasdebukan ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam friability tester, diputar selama 4 menit dengan kecepatan 25 rpm atau 100 kali putaran. Tablet dibebasdebukan kembali dari fines yang menempel dan dihitung persen kehilangan bobotnya (Voight, 1994). d.Waktu Hancur Tablet Sejumlah 6 tablet dimasukkan ke dalam masing-masing tabung pada alat Disintegration tester. Alat tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam beaker glass yang telah diisi air bersuhu antara 36oC38oC sebanyak kurang lebih 1000 ml atau sedalam kurang lebih 15 cm sehingga dapat dinaikturunkan dengan teratur. Kedudukan kawat kasa pada posisi tertinggi tepat pada permukaan air dan kedudukan terendah mulut keranjang tepat di permukaan air. Tabung dinaikturunkan secara teratur 30 kali permenit. Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bagian yang tertinggal di atas kasa. Dicatat waktu hancur tablet yang terakhir kali hancur dengan Stopwatch (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995). e. Uji Disolusi Tablet

tablet dimasukkan kedalam alat disolusi tipe 2 dengan media air sebanyak 500 ml pada suhu 37 0,50C dengan kecepatan pengadukkan 50 rpm selama 45 menit. Pengambilan sampel dilakukan pada menit ke-5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40 dan 45 dengan tiap menitnya diambil sebanyak 5 ml sampel. Setiap pengambilan sampel diganti dengan media disolusi dengan volume dan suhu yang sama etiket (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995).Kadar ektrak metanol daun sirih merah yang terdisolusi ditentukan oleh spektrofotometri UV pada panjang gelombang maksimum dan kurva baku. III.4. Analisis Hasil III.4.1. Pengolahan Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dengan rumus sebagai berikut : 1. Susut Pengeringan Rumus susut pengeringan pada persamaan 8 (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995). Susut Pengeringan = Keterangan : a = bobot botol timbang kosong b = bobot botol timbang dan zat c = bobot setelah pemanasan 2. Sudut Diam Rumus sudut diam terdapat pada persamaan 11 (Lachman dkk, 1994). Tan .................................................................................(Persamaan 11) ..............................................(Persamaan 8)

Keterangan: h = tinggi kerucut d = diameter kerucut = sudut diam 3. Pengetapan


Rumus pengetapan terdapat pada persamaan 12 (Gusmayadi, 2000).

.....................................................................................(Persamaan 12) Keterangan: M = massa partikel

b = kerapatan bulk setelah ditap


Vb = volume akhir pengetapan Selanjutnya dari persamaan diatas dapat diperoleh persen kompresibilitas dengan persamaan 13. ..........................................(Persamaan 13) Keterangan :

n = Kerapatan bulk tanpa ditap


4. Keseragaman Bobot Keseragaman bobot ditetapkan dengan cara ditimbang 20 tablet, dihitung bobot rata-rata tiap tablet dengan persamaan 14. Jika ditimbang satu-persatu, tidak boleh lebih dari dua tablet yang menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom A dan tidak boleh satu tablet

pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga dalam kolom B. (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979). Tabel 3. Penyimpangan Bobot Rata-Rata Penyimpangan bobot rata-rata (%) Bobot rata-rata 25 mg atau kurang 26 mg s/d 150 mg 151 mg s/d 300 mg Lebih dari 300 mg A 15 10 7,5 5 B 30 20 15 10

Bobot rata-rata tablet =

.........................................(Persamaan 14)

Keseragaman bobot juga dapat ditentukan dengan % CV pada persamaan 15. % CV = Keterangan : SD : Standar deviasi CV : Koefisien variasi 5. Kekerasan Pada uji ini tidak menggunakan rumus khusus, karena pengujiannya dilakukan dengan pembacaan skala alat yang menunjukkan kekerasan tablet dalam satuan kg. Oleh karena itu, berat tablet yang diperoleh langsung dibandingkan dengan teori yang ada (Voight, 1994). 6. Kerapuhan Perhitungan kerapuhan tablet dapat dihitung dengan rumus pada persamaan 16 (Voight, 1994). ........................................................(Persamaan 15)

Rumus : Keterangan : B : Kerapuhan (%)

...........................................................(Persamaan 16)

W : Bobot setelah diputar (dalam friabilator), setelah dibebasdebukan Wo: Bobot mula-mula, setelah dibebasdebukan 7. Waktu Hancur Uji ini tidak menggunakan rumus khusus, karena pengujiannya dilakukan dengan pencatatan waktu yang diperlukan untuk menghancurkan tablet dalam menit. Oleh karena itu, waktu hancur yang diperoleh tablet tersebut dibandingkan dengan teori yang ada. Waktu hancur tablet yang baik adalah tidak melebihi 15 menit (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995). 8. Disolusi Rumus yang digunakan pada uji ini sama dengan uji penetapan kadar, yang mana sampel yang diperoleh diukur absorbansinya, kemudian dihitung kadarnya dengan menggunakan persamaan 19 yang telah diperoleh dari kurva baku (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995). y = bx + a...................................................................................(Persamaan 19) Keterangan : y = absorbansi (A) x = kadar

III.4.2. Analisis Data Data dari hasil penelitian dihitung dengan menggunakan program Microsoft Excel, sedangkan analisis data hasil perhitungan berbagai parameter tersebut dilakukan dengan dua cara, yaitu: a. Pendekatan Secara Teoritis Data yang diperoleh dari pengujian dibandingkan dengan persyaratanpersyaratan yang terdapat dalam Farmakope Indonesia, USP, maupun kepustakaan lain yang sudah diakui. b. Secara Statistika Data dari beberapa kelompok percobaan, di uji secara statistik dengan uji Normalitas lalu dilanjutkan dengan uji T (T-test). Pemilihan pendekatan penelitian, untuk mengetahui tingkat signifikan, maka digunakan T-test. Untuk membandingkan antara dua kelompok digunakan rumus T-test pada persamaan 20 (Arikunto, 2010) : ................................................................(Persamaan 20)
(

)(

Keterangan : M = nilai rata-rata hasil perkelompok N = banyaknya subjek X = deviasi setiap nilai x2 dan x1 Y = deviasi setiap nilai y2 dari mean Y1

DAFTAR PUSTAKA Amalia, dkk .2002. Tata Cara Praktis Budidaya Tanaman Obat dan Pembuatan Obat Tradisional (Sebuah Persembahan dari PJ Sekar Kedhaton) .PJ Sekar Kedhaton. Yogyakarta. Anonim.2009. Sirih Merah sebagai Tanaman Obat Multi Fungsi.http://balitro.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content & task=blogcategory & id=19 & intermed=38.Diakses tanggal 19 Juni 2013 Ansel, Howard C. 1985. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Iv. UI press. Jakarta. Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (Cetakan Ke13). Jakarta: Trineka Cipta. hal 349, 353, 354. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. hal 6-8, 153-154, 807. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1986. Sediaan Galenik. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Hal 10-11. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. hal 4-6, 107-108, 201-211, 999-1000, 1061. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Hal 5, 9-11. Fitriyani dkk,2011.Uji Antiinflamasi Ekstrak Metanol Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav ) pada Tikus Putih. Jember :Fakultas Farmasi Universitas Jember. hal 34-41. Gusmayadi,I. 2000. Amilum Granulat Biji Nangka (Artocarpus integra,Linn) Sebagai Bahan Tambahan Dalam Pembuatan Tablet. Tesis. Yogyakarta : Program Pascasarjana UGM. hal 27-31, 33-46. Heinrich, dkk.2009.Farmakognosi dan Fitoterapi.Penerbit Buku Kedokteran EGC.Jakarta Khanbabaee, K. dan Ree, T. V. 2001. Tannins: Classification and Definition. Nat Prod Rep, 18: 641-649.

Kuncahyo Ilham.2009. Optimasi Campuran Avicel PH 101 Dan Pati Jagung Dalam Pembuatan Tablet Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica A.Juss) Secara Simplex Lattice Design.Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi. Surakarta Kurniawati, A. 2005. Uji Aktivitas Anti Inflamasi Ekstrak Metanol Graptophyllum griff pada Tikus Putih. Majalah Kedokteran Gigi Edisi Khusus Temu Ilmiah Nasional IV, 11-13 Agustus 2005: 167-170. Lachman, L., H.A. Lieberman, & J.L. Kanig. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Penerjemah Siti Suyatmi. Jakarta : UI Press. hal 644-662, 673685, 690-703. Mulyanto, dkk.2003. Khasiat Dan Maanfaat Daun Sirih: Obat mujarab dari masa ke masa.Agro Media Pustaka. Jakarta. Pelegrini et al.2008. The Effect of Timing Cord Clamping on Neonatal Venous Hematocrit Values and Clinical Outcome at term : A Randomized Controlled Trial.Pedriatrics.hal 779 Robinson, Trevor. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. ITB : Bandung. Siregar, C.J.P. 2010. Sediaan Tablet Dasar-Dasar Praktis. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran. hal 160-161, 172. Soetan et.al.2006.Evalution of the Antimicrobial Activity of Saponin Extract of Sorgum bicolor Moench.African Journal of Biotecnology. Sudewo B. 2005. Basmi Penyakit Dengan Sirih Merah. Cetakan Pertama. Agro Media Pustaka.Jakarta Sudewo B. 2008. Basmi Penyakit Dengan Sirih Merah. Cetakan kedua. Agro Media Pustaka.Jakarta Tjai Hoan T.2007.Obat-Obat Penting.Jakarta : Gramedia. Hal 330-331, 729-730. Voight, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Penerjemah Soendani Noerono. edisi V. Yogyakarta : UGM Press. hal 165-226. Werdhany, dkk .2008. Sirih Merah.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Yogyakarta