Anda di halaman 1dari 11

Laporan Hasil Wawancara Kewirausahaan USAHA CAMILAN SUKSES NY.

SUWARTINI
Jl Suryowijayan MJ 1 4-Z, Gedong Kiwo, Mantrijeron - 55142, Yogyakarta

Diajukan Oleh:

FAIZAL GUNTUR PRATAMA MUHAMMAD MIFTACHURROHMAN DIKA HANAFI PAKSI LINGGA PANGESTU

NIM. 12501241019 NIM. 12501241023 NIM. 12501241029 NIM. 12501241049

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA YOGYAKARTA 2014

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang sedang berusaha menjadi negara maju. Indonesia saat ini telah memiliki 1,56 persen atau sekitar 3.707.205 wirausaha dari jumlah populasi penduduk Indonesia, sedangkan untuk dapat dikatakan sebagai negara maju, idealnya untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa, dibutuhkan wirausahawan minimal sebanyak 2 persen dari populasi penduduk. Menteri Koperasi dan UKM, Sjarifudin Hasan pada tanggal 2 Februari 2011 menyatakan Gerakan Kewirausahaaan Nasional (GKN) di Jakarta (ANTARA News). Pencanangan GKN merupakan sebuah program untuk melahirkan lebih banyak wirausaha baru di Indonesia. Menurut Menteri, jika hal itu dapat dicapai maka bukan tidak mungkin jumlah pengangguran dan tingkat kemiskinan dapat ditekan sehingga kesejahteraan rakyat dapat tercapai. Salah satu upaya yang dilakukan secara intensif dan berkesinambungan adalah memberdayakan usaha mikro, kecil dan menengah serta pengembangan kewirausahaan, terutama bagi kalangan terdidik. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, minat lulusan lembaga pendidikan untuk berwirausaha sangat rendah, yaitu bagi lulusan SLTA (22,63 persen) dan perguruan tinggi (6,14 persen). Sedangkan bagi mereka yang berpendidikan SD dan SMP justru memiliki kemandirian untuk berusaha sendiri (32,46 persen). Terdapat kecenderungan para pemuda berpendidikan SLTA (61,87 persen) dan sarjana (83,20 persen) memilih menjadi pekerja atau karyawan dibanding menjadi wirausaha. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin rendah kemandirian dan motivasi untuk menjadi wirausaha. Untuk membangun karakter wirausaha di kalangan masyarakat maka perlu adanya pendidikan sejak dini yang nantinya mengarahkan lulusannya memiliki jiwa berwirausaha. Yaitu dengan memasukkan sebuah mata pelajaran

kewirausahaan bagi siswa di sekolah atau mata kuliah kewirausahaan bagi mahasiswa di perguruan tinggi. Selain itu pengembangan jiwa dan semangat kewirausahaan juga mutlak diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing bagi mereka yang sudah memiliki usaha. Selain pendidikan secara teori, untuk membangkitkan jiwa berwirausaha salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengenali dan menggali profil wirausahawan yang sukses. Seseorang cenderung sering merasa takut untuk mulai melangkah untuk berwirausaha karena persepsi dan rasa takut untuk mengambil resiko yang nantinya dihadapi. Namun dengan informasi yang didapat ketika melakukan wawancara ataupun berbagi pengalaman dengan wirausahawan yang sukses mulai dari perjalanan awal hingga menjadi sukses seperti sekarang tentunya akan memberikan gambaran dan dorongan semangat untuk mengikuti jejaknya menjadi wirausahawan tentunya dalam bidang yang tidak harus sama. Salah satu contoh wirausahawan yang dianggap sukses adalah Camilan Sukses. Dapat dikatakan sukses lantaran omsetnya pertahun Rp 1 M. Bentuk usaha yang dilakukan adalah berjualan makanan ringan. Dari urian tersebut di atas penyusun melakukan wawancara terhadap salah satu contoh tersebut sebagai langkah pembelajaran tentang kewirausahaan.

B. TUJUAN Adapun tujuan dari penyusunan laporan ini adalah sebagai berikut: 1. Menumbuhkan jiwa berwirausaha bagi penulis dan pembaca 2. Memberikan gambaran tentang perjalanan dari usaha yang dirintis oleh Ibu Suwartini 3. Memberikan motivasi bagi pembaca dan penulis untuk mulai melangkah berwirausaha.

BAB II LOKASI DAN WAKTU WAWANCARA

A. Lokasi Wawancara Adapun lokasi dilakukan wawancara ini adalah Toko Camilan Sukses Ny. Suwartini, Jl Suryowijayan MJ 1 4-Z, Gedong Kiwo, Mantrijeron - 55142, Yogyakarta. B. Waktu Wawancara ini telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Maret 2014. C. Narasumber Adapun narasumber dalam wawancara ini adalah putra dari pemilik utama toko dan usaha ini (Ny. Suwartini) yaitu Bapak Muhammad Al Faatih.

BAB II PEMBAHASAN

Adapun dari wawancara yang telah dilakukan didapatkan data seperti berikut: A. Deskripsi Bidang Usaha Usaha dagang camilan Sukses Ny. Suwartini terletak di Jl Suryowijayan MJ 1 4-Z, Gedong Kiwo, Mantrijeron - 55142, Yogyakarta. Usaha ini bergerak di bidang distribusi dan produksi aneka camilan makanan. B. Sejarah Perkembangan Menurut penuturan narasumber yaitu Bapak Muhammad Al Faatih yang penyusun wawancarai, usaha camilan Sukses bukan merupakan usaha yang instan yang kesuksesannya dapat dilihat dan dinikmati hingga sekarang. Namun kesuksesan bisnis ini merupakan buah kerja keras usaha dari keluarga Ibu Suwartini dan keluarga. Jauh sebelum menjalankan usaha camilan Sukses ini Ibu Suwartini telah menjalankan usaha dagang sayur mayur dan buah. Ibu yang hanya berpendidikan SD ini memulai merantau dari Kulonprogo menuju Yogyakarta dan berjualan sayur di tahun 1959 di Pasar Beringharjo. Pada tahun 1960 kemudian Ibu Suwartini menikah di usia muda. Setelah beberapa tahun Ibu Suwartini berjualan di Pasar Bringharjo kemudian berpindah ke Pasar Patangpuluhan, Yogyakarta. Usaha dagang Ibu Suwartini semakin maju dan berkembang. Namun pada akhir 70-an usaha dagang sayur dan buah yang sebelumnya maju tersebut harus gulung tikar dan bangkrut akibat kesalahan dalam manajemen usaha. Kurang lebih tiga tahun ibu Suwartini terpaksa menutup kerugian dan berdiam diri manjadi ibu rumah tangga. Namun karena hasrat dan dorongan untuk terus maju dan bangkit dari keterpurukan menggugah hati ibu Suwartini untuk merintis usaha kembali. Melalui bisnis berjualan camilan kacang bawang dan kacang telur Ibu Suwartini bangkit dan memulai usaha kembali pada tahun 1982. Namun saat itu kondisi bisnis masih belum maju dan kegiatan distribusi ke konsumen masih menggunakan jasa orang ketiga yakni dengan manggunakan warung-warung kecil

untuk menitipkan dagangannya. Hingga empat tahun kemudian usaha yang telah dirintis tersebut mulai terlihat prospek dan semakin lancar. Pada tahun 1985 usaha tersebut berkembang dengan berbagai macam produk yang dijual. Adapun produk yang dijual bukan hanya kacang bawang dan kacang telur saja, tetapi juga aneka camilan lain yang disuplai berbagai perusahaan lain dari luar daerah. Pada posisi ini peran Ibu Suwartini adalah melakukan pengemasan ulang dan pelabelan hingga didistribusikan ke warung-warung. Pada tahun 1986 pun Ibu Suwartini sudah mampu memiliki tenaga penjual atau sales yang bermodalkan sepeda motor dan keronjot. Namun demikian pada tahun tersebut Ibu Suwartini masih menitipkan produk dagangannya ke warung-warung. Pada tahun 1995 usaha yang dijalankan oleh Ibu Suwartini semakin menampakkan hasil hingga kemudian mendapat kepercayaan dari bank untuk meminjam tambahan modal usaha dan pada tahun itu juga Ibu Suwartini berhasil membeli kendaraan roda 4 yang dijadikan sebagai alat transportasi untuk mendistribusikan dagangannya. Pada tahun 2002 Ibu Suwartini mulai menjual produknya melalui toko yang beliau sewa yang terletak di Jalan Suryowijayan di timur jalan. Pada tahun 2004 usaha Ibu Suwartini semakin maju dan mampu membeli lahan dan membuka toko yang terletak tepat berhadapan dengan toko sebelumnya yang kemudian kesuksesannya dapat dilihat hingga saat ini. Toko yang dibuka oleh Ibu Suwartini pun memiliki dua jenis layanan yang disesuaikan dengan segmentasi pasar sasaran, yaitu end user secara langsung yang biasanya sebagai pembeli secara eceran dan pedangang yang biasanya membeli secara grosir untuk dijual kembali ke konsumen. C. Omzet Terakhir Menurut penuturan narasumber, hingga saat ini usaha yang telah dijalankan oleh Ibu Suwartini dan keluarga tersebut telah mampu mencapai omzet kurang lebih 1 milyar per tahun. D. Jumlah Karyawan Adapun jumlah karyawan yang terdaftar di departemen tenaga kerja dan transmigrasi adalah 25 orang.

E. Tips yang dilakukan untuk mencapai kesuksesan sekarang Belajar dari pengalaman, begitulah pernyataan yang diungkapkan oleh Bapak Muhammad Al Faatih. Pria paruh baya lulusan hubungan internasional UGM ini berprinsip bahwa manajemen yang dilakukan pada usahanya adalah menggunakan manajemen langit yang dalam pengertiannya merupakan manajemen dengan melaksanakan sesuai apa yang telah dituntunkan dan diturunkan oleh Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah SAW. Adapun prinsip-prinsip manajemen yang beliau gunakan meliputi sikap jujur, amanah, cerdas, tidak kikir, tidak serakah dan menepati janji. Beliau menceritakan bahwa dengan menggunakan prinsip tersebut maka banyak manfaat yang didapatkan sebagai implikasi positif dari penerapan tersebut. Sebagai contoh kepada karyawan, sebagai pemilik harus jujur kepada karyawan dengan hasil keuntungan yang didapat dan memberikan sebagian hasil keuntungan yang didapatkan maka karyawan tersebut akan menjadi loyal dan ikhlas untuk bekerja. Sedangkan untuk pembeli dengan senantiasa memberikan barang terbaik sesuai dengan komitmen di awal, maka pembeli akan percaya dan senantiasa tidak ragu memilih produk kita. Selain itu melalui testimoni yang diberikan oleh para pembeli akan menjadi sarana promosi yang sangat efektif dengan sistem getok tular untuk menarik pembeli yang lain untuk datang. Selain dengan memberikan barang yang terbaik, usaha camilan Sukses selalu berprinsip untuk mengambil keuntungan secara wajar, sehingga pembeli dapat beranggapan bahwa harga produkny murah dan wajar. Sedangkan untuk pemasok, bapak Faatih juga menegaskan bahwa ia memegang teguh komitmen yang sudah dibuat. Menepati janji terutama dalam pembayaran barang yang sudah dikirim. Dengan demikian, pemasok atau suplaier akan percaya dan senantiasa dalam membangun kerjasama. F. Harapan ke depan Adapun harapan yang ada dalam benak Bapak Faatih adalah semakin maju dan tumbuh jiwa kewirausahaan pada kalangan anak muda dengan senantiasa

terus membangun kekuatan mentalitas agar tidak menjadi bangsa pekerja tetapi adalah bangsa yang mampu berdaulat untuk mandiri menciptakan lapangan kerja G. Hambatan dan cara mengatasi Berbagai hambatan dan rintangan telah dilewati oleh Ibu Suwartini dan keluarga dalam menjalankan usaha tersebut. Dimulai jauh sebelum usaha sekarang ini maju, Ibu Suwartini telah menjalankan usaha dagang sayur dan buah yang dapat dikatakan cukup maju pada kala itu. Namun karena kesalahan pengelolaan yang membuat Ibu Suwartini harus menutup usaha tersebut. Cobaan inilah yang menjadikan Ibu Suwartini jatuh dan membuatnya berdiam diri selama kurang lebih tiga tahun. Namun momentum kebangkrutannya tersebut mampu dijadikan sebagai titik balik untuk tetap berusaha dan berwirausaha hingga usaha yang dirintisnya dapat berkembang hingga seperti saat ini. Pesan besar yang disampaikan oleh Bapak Faatih dari hal tersebut adalah dengan kuat mental dan selalu membangun karakter pantang menyerah, maka hambatan sebesar apapun akan dapat dilewati. Tidak sedikit peristiwa bunuh diri yang diakibatkan oleh kebangkrutan usaha atau bisnis. Namun hal itu tidak berlaku untu bapak Faatih dan keluarga. Mentalitas dan keimanan adalah kunci dari setiap jawaban atas setiap permasalahan. Dan akhirnya hingga saat ini, seiring usaha yang dijalankan beliau tidak mengisahkan kesulitan atau hambatan yang cukup berarti oleh karena prinsip yang dipegang teguhnya serta kekuatan mentalitas yang telah dibangunnya. H. Saran untuk kaum muda dalam usaha membangun jiwa wirausaha Adapun saran yang diberikan oleh Bapak Muhammad Al Faatih selaku wirausahawan kepada penulis terutama bagi para kaum muda. Beliau memberikan saran untuk mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya kemudian dipupuk atau dikembangkan karena nantinya akan bermanfaat bagi orang tersebut dan orang-orang disekitarnya. Kemudian memperluas wawasan dengan membaca, tidak hanya membaca buku yang berkaitan dengan ilmu yang dipelajari ketika di bangku kuliah. Namun tidak menutup dengan bacaan yang

lainnya. Selain itu juga menyarankan untuk menjadikan orang-orang yang berhasil dalam berwirausaha sebagai inspirasi. Sebaiknya manusia jangan hanya menjadi pegawai atau karyawan karena seorang karyawan secara rezekinya sudah terbatas hanya pada level tertentu. Namun berbeda dengan seorang pengusaha, rezekinya tidak terbatas. Tinggal bagaimana kita akan berusaha dalam mendapatkan rezeki tersebut. Ketika menjadi seorang pengusaha yang sudah sukses, kita tidak lagi bekerja untuk uang namun uanglah yang bekerja untuk kita. Dan pesan yang terakhir untuk penulis Bapak Muhammad Al Faatih mengatakan "carilah jalan baru. Janganlah hanya mengikuti jalan yang sudah ada dan jadikanlah agama itu sebagai ukuran".

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Dari hasil wawancara yang telah dilakukan, penulis dapat menyimpulkan bahwa untuk memiliki jiwa kewirausahaan harus didasari dengan niat dan mental yang kuat. Terutama mental, sebagai orang yang beragama dan berilmu kita harus memiliki mentalitas pemenang seperti Ibu Suwartini meskipun sempat mengalami kegagalan dalam usahanya namun mampu untuk bangkit lagi karena kegagalan adalah kemenangan yang tertunda. Perjalanan dalam merintis usaha yang dilakukan oleh Ibu Suwartini merupakan gambaran yang jelas bahwa kegagalan dalam menjalankan usaha merupakan hal yang wajar. Karena kegagalan tersebut yang nantinya akan menjadi motivasi dan mendorong untuk bangkit apabila orang tersebut memiliki mentalitas pemenang. Namun sayangnya hanya sedikit orang di Indonesia ini yang memiliki mentalitas pemenang. Semoga penulisan laporan hasil wawancara ini dapat memberikan dorongan bagi penulis dan pembaca untuk tidak ragu melangkah dalam memulai berwirausaha dan melatih mental untuk menjadi seseorang yang memiliki mentalitas pemenang.

DAFTAR PUSTAKA
Ariwibowo, AA. 2011. Gerakan Kewirausahaan Nasional Dimulai. Diakses dari http://www.antaranews.com/news/244419/menkop-gerakan-kewirausahaannasional-dimulai pada 4 Maret 2014. Anonim.______. Gerakan Kewirausahaan Nasional 2013. Diakses dari :http://www.spiritgkn.com/index.php?pilih=hal&id=8 pada 4 Maret 2014.

10