Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Dalam praktik kebidanan, pembrian asuhan kebidanan yang berkualitas sangat

dibutuhkan. Kualitas kebidanan ditentukan dengan cara bidan membina hubungan baik, baik sesame rekan sejawat ataupun dengan orang yang diberi asuhan.Upaya meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan juga ditentukan oleh keterampilan bidan untuk berkomunikasi secara efektif dan melakukan konseling yang baik dengan klien.Karna melalui komunikasi yang efektif setra konseling yang berhasil, kelangsungan dan berkesinambungan penggunaan jasa pelayanan bidan untuk kesehatan perempuan selama siklus kehidupan akan tercapai.

1.2 Tujuan 1. Tujuan Umum Mahasiswa mampu menerapkan konseling pada klien sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh klien. 2. Tujuan khusus Setelah membaca makalah komunikasi dan konseling dalam kebidanan, diharapkan mahasiswa dapat : 1) 2) 3) 4) Memahami definisi konseling dalam praktik kebidanan Memahami tujuan dilakukannya konseling dalam kebidanan Memahami langkah-langkah konseling dalam kebidanan Memahami hambatan-hambatan konseling dalam kebidanan

1.3 Manfaat Pembuatan Makalah Pembaca dapat mengetahui pengertian dan tujuan konseling Pembaca dapat mengetahui proses dan praktik konseling dalam asuhan kebidanan Dapat dijadikan sebagai referensi penunjang untuk pembuatan makalah maupunpenelitian-penelitian selanjutnya.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Konseling Dalam Praktik Kebidanan 2.1.1 Definisi Konseling Kebidanan Konseling kebidanan adalah suatu proses pembelajaran, pembinaan hubungan baik, pemberian bantuan, dan bentuk kerja sama yang dilakukan secara professional(sesuai dengan bidangnya) oleh bidan kepada klien untuk memecahkan masalah, mengatasi hambatan perkembangan, dan memenuhi kebutuhan klien. 2.1.2 Tujuan Konseling Kebidanan Tujuan konseling diarahkan sebagai layanan yang membantu masalah yang dihadapi klien.Oleh karna itu, bidan sebagai konselor harus berusaha mengambangkan potensi yang ada agar dapat digunakan klien secara efektif.Berdasarkan hal tersebut, ada dua fungsi dalam tujuan konseling kebidanan yang harus diperhatikan bidan, yaitu sebagai berikut: a) Fungsi kuratif Bertujuan membantu memecahkan masalah yang dihadapi klien dalam proses perkembanganya atau membantu mengatasi masalah klien.Dimana klien tidak dapat mengembangkan dirinya karena beberapa alasan yang diterima, maka klien dibantu untuk memahami dan menyelesaikan perkembanganya. b) Fungsi preventif Fungsi prenventif tidak hanya mengatasi masalah yang telah terjadi, tetapi juga menjaga agar masalah tidak bertambah serta muncul massalah baru yang dapat mengganggu diri klien dan orang lain.Fungsi preventif dapat diberikan dengan beberapa terapi yang sesuai dengan masalah dan keadaan klien itu sendiri.

Sedangkan secara garis besar tujuan konseling dalam praktik kebidanan adalah mengubah pengetahuan, sikap, dan perilaku klien.

2.1.3 Langkah-langkah konseling dalam praktik kebidanan Langkah awal Merupakan langkah penting dalam proses konseling dalam kebidanan, keberhasilan langkah awal akan mempermudah langkah berikutna dalam proses konseling dalam kebidanan.Pada langkah awal tugas bidan sebagai seorang konselor adalah sebagai berikut : 1. Mengeksplorasi perasaan,fantasi, dan ketakutan sendiri. 2. Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri. 3. Menentukan alasan klien minta pertolongan. 4. Membuat kontrak bersama. 5. Mengeksplorasi pikiran, perasaan, dan perbuatan klien. 6. Mengidentifikasi masalah klien. 7. Merumuskan tujuan bersama klien. Langkah inti Langkah kedua dari proses konseling kebidanan adalah langkah inti atau langkah pokok.Langkah ini menentukan apakah bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan klien dan apakah konseling berhasil dengan baik.Tugas bidan pada langkah inti adalah sebagai beikut: 1. Mengeksplolarasi stressor yang tepat. 2. Mendukung perkembangan kesadaran diri klien dan pemakain koping mekanisme yang konstruktif. 3. Mengatasi penolakan prilaku maladaptif. 4. Memberikan beberapa berapa alternatif pilihan pemecahan masalah . 5. Melaksanakaan alternative yang dipilih klien. 6. Merencanakan tindak lanjut dari alternatif pilihan. Langkah Akhir Setelah melakuka kegiatan pokok dalam proses konseling, meskipun bidan bukan orang yang paling berhak untuk mengakhiri proses konseling, akan tetapi bidan harus dapat melakukan terminasi atau pengakhiran. Tugas bidan pada langkah akhir adalah : 1. Menciptakan realitas perpisahan. 2. Membicarakan proses terapi dan pencapaian tujuan. 3. Saling mengeksplorasi perasaan, kehilangan, sedih, marah, dan perilaku lain.
3

4. Mengevaluasi kegiatan dan tujuan konseling. 5. Apabila masih diperlukan, melakukan rencana tindak lanjut dengan membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya.

2.1.4 Hambatan-hambatan konseling kebidanan a) Hambatan Internal Merupakan hambatan pribadi yang berasal dari diri bidan sebagai konselor.Hambatan pribadi yang sering muncul adalah bidan kurang percaya diri, kurang pengetahuan, dan keterampilan tentang konsling, serta kjetidakmampuan dalam membentuk jejaring. b) Hambatan Eksternal Ini sering muncul pada organisasi yaitu dari mitra kerja bidan. Persaingan-persaingan dalam pekerjaan, fasilitas(keuangan, alat peraga,dsb), dan budaya seringkali menjadi faktor pemicu hambatan eksternal dalam proses pemberiaan konseling.

2.1.5 Bentuk Layanan Konseling Dalam Praktik Kebidanan Konseling praktik kebidanan dibagi menjadi 6 bentuk, yaitu: a. Konseling remaja dan kesehatan reproduksi remaja Istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia Dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya. Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem fungsi, dan proses reproduksi remaja. Biasanya dipengaruhi oleh masalah menikah dan melakukan hubungan seksual pada usia dini, akses pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan gender, kekerasan seksual, dan pengaruh media massa. Kualitas sumber daya manusia ditentukan oleh anak-anak dan remaja.Karena ini sangat berkualitas pada kepribadian, kesehatan, maupun pendidikan. Topik konseling remaja meliputi: Remaja dan kesehatan reproduksinya. Seksualitas. Infeksi menular seksual. Isu gender. Narkoba dan zat adiktif.

b. Konseling Ibu Hamil Tingginya kematian ibu merupakan permasalahan, karena kematian ibu akan berdampak pada seluruh keluarga. Ini dikarenakan adanya komplikasi dari kehamilan.Di Indonesia angka kematian ibu sangat tinggi. Mengingat masih tingginya AKI, diperlukan suatu kerja sama bidan dengan ibu. Salah satu upaya yang dilakukan bidan adalah konseling. Konseling kunjungan pertama : 1. Pentingnya 7T 2. Perlunya pendampingan 3. Kebutuhan gizi ibu 4. Beban kerja ibu 5. Program KB 6. Senggama pada saat kelahiran. 7. Kunjungan ulang Kunjungan Kehamilan 36 minggu: 1. Kesehatan ibu dan janin 2. Tanda-tanda persalinan dini 3. Rencana persalinan 4. Persiapan bayi 5. Pentingnya kolostrum 6. Keuntungan ASI Kunjungan Kehamilan >36 minggu 1. Tanda-tanda persalinan 2. Tempat persalinan 3. Pentingnya persalinan di fasilitas kesehatan

c. Konseling Pada Ibu Bersalin Merupakan proses alamiah, teapi meskipun proses alamiah, tidak semua ibu bersalin mampu beradaptasi dengan persalinan terutama pada kala 1 yang

merupakan nyeri hebat bagi si ibu. Karena pada tahap ini resiko komplikasi yang dapat mengancam keselamatan ibu dan bayi.Lancarnya persalinan ditentukan oleh faktor psikologis.

Konseling tahap I 1. Masalah dalam persalinan 2. Tindakan selama persalinan 3. Menganjurkan ibu tidak menahan BAK 4. Menganjurkan ibu untuk istirahat 5. Menganjurkan keluarga untuk mendampingi ibu. Konseling tahap II 1. Mengajari cara meneran yang baik. 2. Menganjurkan ibu untuk meneran pada saat his. 3. Memberikan semangat dan dukungan. Konseling Tahap III 1. Mengajari ibu untuk mesasi uterus. 2. Memberikan informasi ibu tentang pendarahan. Konseling Tahap IV 1. Memberikan informasi erawatan tentang alat kelamin. 2. Menganjurkan ibu sering mengganti pembalut. 3. Memberikan informasi dan memotifasi ibu utuk melakukan mobilisasi. 4. Memberikan informasi tentang pentingnya kebutuhan nutrisi.

d. Konseling Ibu Nifas konseling pada ibu 1. proses masa nifas. 2. Keluhan umum 1-72 jam masa nifas. 3. Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada ibu. 4. Tanda komplikasi masa nifas. 5. Kebersihan ibu. 6. Kolostrum dan pemberian ASI. 7. Teknik menyusui 8. Kebutuhan nutrisi ibu pada masa nifas. Konseling pada bayi 1. Tanda-tanda kegawatan masa nifas pada bayi. 2. Kebersihan bayi. 3. Perawatan tali pusat bayi. 4. Imunisasi.

5. Status kesehatan bayi. 6. Penilaian pertumbuhan dan perkembangan bayi. Konseling KB 1. Memperlakukan klien dengan baik. 2. Interaksi dengan klien. 3. Menghindari pemberian informasi yang berlebihan. 4. Menyediakan metode yang diinginkan klien. 5. Membantu klien mengerti dan mengingat.

2.1.6 Pendekatan- pendekatan Konseling Konseling sangat bermanfaat untuk mebantu klain dalam menghadapi permasalahpermasalahan, mulai dari permasalahan yang sepele hingga yang sangat komplik. melihat kondisi klaen yang secara umum dan individual merupakan hal penting dalam pemberian konseling. Bidan perlu memperhatikan apa yang muncul dan yang ada dalam diri klien. Untuk melihat kondisi tersebut, konseling dapat beroreintasi pada pendekatan-pendekatan sikologi konseling. Pendekatan-pendekatan konseling tersebut adalah sebagai berikut. : a. Pendekatan koknitif Dalam menghadapi suatu permasalahan, hal pertama yang muncul dari individu adalah akan bertindak dan mempunyai pemikiran yang tidak masuk akal. Sehingga individu sendiri mengalami masalah, yaitu ketidak sesuaian antara apa yang diinginkan dalam fikirannya dengan kenyataan yang ada. Pada pendekatan koknitif, bidan berusaha menekankan pada proses berfikir rasional tentang apa yang dihadapi klien. Pendekatan ini memberikan keyakinan bahwa klien dalam berfikir akan memengaruhi perasaan dan tindakannya. Sebagai konselor yang berorientasi koknitif, bidan harus berperan aktif untuk mengajak klien berfikir rasional dan meninggalkan pandangan yang tidak rasional. Orientasi koknitif menimbulkan perubahan tingkah laku yang tidak rasional menjadi rasional pendekatan koknitif meliputi rasional emotif, analisis transaksional dan trait dan factor. a) Rasional emotif Pendekatan ini lebih menekankan kepada kebersamaan interaksi antara berfikir dan akal sehat perasaan (emosi), n perilaku atau tindakan (attack). Sebagai konselor, bidan harus dapat engubah cara berfikir, bidan memberikan petunjuk bahwa berfikir irasional atas kejadian atau perasaan klien akan membahayakan dirinya

sendiri. Dengan berfikir rasional, indifidu dapat menjalankan aktifitas yang lain dan melupakan permasalahannya.

b) Analisis transaksional Penekanan analisis transaksional terletak pada pola interaksi baik verbal maupun nonverbal antara individu yang satu dengan yang lainnya. Pendekatan ini sangat baik digunakan pada kelompok, dengan kelopok konselor dapat mengamati dan memanipulasi interaksi antara anggota kelopok. Analisis transaksional berpandangan bahwa masing-masing individu mempunyai tiga perilaku atau unsur ego states, yaitu unsur anak-anak, dewasa, dan orang tua. 1. Unsur anak-anak Ditandai dengan tindakan yang didasarkan pada reaksi emosional yang sepontan, reaktif, humor, penuh kreatifitas, dan inisiatif. Unsur anak terbagi menjadi tiga macam, yaitu spontan, pemberontak, penurut. Perilaku yang biasanya muncul adalah menggigit kuku, alu-alu, kalem, berisik, cengeng, dan merengek. Anak-anak biasanya mengatakan kepunyaanku, waw, eng-ing-eng, malu ah, dll. 2. Unsur dewasa Ditandai dengan pemikiran rasional dan objektif, serta kemampuan mengolah data. Keterampilan perseptif, mengolah data dan keampuan sosial merupakan atribut orang dewasa. Kalimat yang umum digunakan adalah saya pikir, mengapa, apa, kapan, diana, dan bagai mana. 3. Unsur orang tua Dipelajari dari tindakan dan perasaan diri kita seperti yang dilakukan orang tua yang membesarkan kita. Unsur orang tua dapat diidentifikasi dari perilaku bijaksana, adil, kritis, murah hati, sopan dan pandai. Unsur orang tuan terbagi menjadi dua macam, yaitu pengencam dan penolong. Kaliat yang umum digunakan adalah berapa lam saya bisa bertemu denganmu, kasihan sekali kamu, awas, jangan, pokoknya, dan lainnya.

b. Pendekatan Efektif Pada pendekatan efektif, individu bermasalah karena membawa perasaannya sehingga selalu bermain dengan perasaannya. Pendekatan efektif memusatkan perhatian pada

perubahan perasaan klien selama proses konseling. Pendekatan ini menyakinkan klien bahwa perasaan dan lingkungan klien dapat berubah. Pendekatan efektif lebih menekankan pada pentingnya kualitas hubungan konseling yang harmonis. Pendekatan ini mencangkup konseling gestal, eksistensial, dan individu (alderia). a. Konseling gestal Merupakan bentuk konseling yang menekankan pada penghayatan diri sendiri dalam situasi kehidupan yang sekarang, sehingga disebut juga dengan ahistoris (tidak memperhatikan masa lampau). Kedudukan bidan dan klaien adalah sama, sebagai suatu hubungan manusiawi. Individu mempunyai potensi untuk menentukan diri sendiri dan mempunyai tanggung jawab terhadap apa yang terjadi. individu tidak dianjurka berbica tentang kesulitan yang dihadapinya, individu harus optimis. Bidan membantu klien membuka jalan buntu dengan meninggalkan harapan dan keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang lain, kemudian klien mulai mengambil peran aktif dalam mengatur kehidupannya. b. Konseling Eksistensial Menekankan pada kemampuan kesadaran diri, kebebasan untuk memilih, bertanggung jawab atas diri, dan menentukan nasib sendiri pada situasi kehidupan alam. Pendekatan ini berusaha membuka pikiran dan persaan individu, bagaimana melakukan penghayatan dan meresapi kehidupan, individu harus sadar atas kemampuannya dalam mengatur serta menentukan arah hidupnya sendiri secara bebas dan bertanggung jawab. Sehingga individu akan menjadi dirinya sendiri dan mengalami keberadaannya secara autentik. c. Konseling individual Menekankan pada kebutuhan individu untuk menempatkan diri dalam kelompok sosial. Pendekatan ini memandang manusia mempunyai rasa rendah diri (inferiority feeling) dan dengan perasaan rendah diri tersebut individu berusaha menanggapi keunggulan (striving for superiority) dengan menggunakan gaya hidup individualnya ( a personslifestyle). Pada pendekatan ini, bidan berusaha membantu klien menghilangkan ketidakseimbangan dengan cara mencari kompensasi positif, sehingga klien akan bahagia dan merancang suatu gaya hidup yang lebih konstruktif.

c. Pendekatan Behavioral

Pengambilan keputusan atau pengambilan sikap yang salah dipandang sebagai suatu permasalahan yang dihadapi oleh individu. Pendekatan behavioral menekankan pada perilaku spesifik, yaitu perilaku yang memang berbenturan dengan lingkungan dan diri klien. Dalam pendekatan ini, sebagai konselor, bidan menekankan pada teknik dan prosedur untuk memfasilitasi perubahan perilaku klien dengan cara memodifikasinya hingga perilaku klien berubah (behavior modification). Bidan lebih berperan sebagai bagi klien dari pada kualitas hubungan konseling. Pendekatan behavioral menekankan pada behavioristic, yaitu perilaku dapat diubah melalui proses belajar; reality, menekankan pada realitas atau kenyataan yang dihadapi individu; multimodal, menekankan pada beberapa pendekatan yang sudah ada dan terpusat pada tujuh komponen pola kehidupan dimana klien diarahkan untuk fokus pada salah satu komponen saja. Komponen tersebut adalah sebagai berikut : Tujuh komponen menurut A.Lazarus(BASIC-IB/G) B A S I C I B/D : Behavior(perilaku nyata) : Affect (alam perasaan) : Sensation (proses persepsi melalui alat indra) : Imagery ( kponsep diri dalam berbagai aspek) : Cognition (keyakinan dan nilai-nilai dasar dalam berfikir dan bersikap) terdekat)

: interpersonal relation ship (hubungan antar pribadi dengan orang

: biological functioning drug (kesehatan jasmani dan kesehatan fisik Atau penggunaan obat-obatan)

Sedangkan menurut ahli lain, tujuh komponen tersebut adalah sebagai berikut. H E L P I N G : health (komponen kesehatan) : emotion (perasaan) : learning (belajar) : personal (bersifat pribadi) : imagination (pandangan dan bayangan mengenai diri sendiri) : need to know (kebutuhan untuk mengetahui) : guidance of behaviors (pendamping serta bimbingan)

10

2.2

CONTOH PRAKTIK KONSELING

Klien : Assalamualaikum ..... Bidan : waalaikumsalam... ibu bapak silahkan masuk, mari silahkan duduk.. silahkan ibu/bapak ada yang bisa saya bantu ? Klien : Ya Ibu bidan, saya ingin memeriksakan kehamilan saya yang masuk usia 3 bulan sekarang. Bidan : oh iya Bu , tapi sebelunya boleh saya tau nama ibu dan bapak siapa ? dan dari mana ? Bapak : nama saya fadil dan istri saya namanya feby saya dari garut bu Bidan : usia ibu/bapak berapa ? bapak : usia saya 24 tahun sedangkan istrisaya 23 tahun bu. Bidan : pekerjaan bapak sama ibu apa ? Bapak : saya bekerja sebagai guru dan istri saya sebagai ibu rumah tangga saja Bidan : ini kehamilan ke berapa bu ? Klien : kehamilan pertama bu . Bidan : oh iyah sebelumnya ibu pernah periksa dimana ? Klien : di daerah rumah suami saya bu. Di cicalengka karena sekarang saya sudah pindah kesini jadi sekarang saya periksanya kesini saja bu. Bidan : oh begitu yah bu. Baiklah ibu silahkan apa yang ibu rasakan ? Klien : iya bu bidan begini sekarang kan saya dalam keadaan hamil 3 bulan, setiap hari saya merasa mual dan ingin muntah, tidak suka makan, rasanya badan saya tidak enak dan saya sering sekali BAK pada malam hari bu dan juga saya sering pusing bu bidan. Bidan : oh begitu ya bu. Sebentar ya Bu, Saya ukur dulu tekanan darah ibu, permisi ya Bu .. (sambil menggulung lengan baju ibu hamil). Bagaimana perasaan ibu dengan kehamilan ini (sambil mengukur tekanan darah ibu). Klien : Senang sekali Ibu, apalagi ini adalah anak pertama saya (sambil tersenyum). tapi takut juga bagaimana nanti saya menghadapi persalinan saya Bidan : tekanan darah ibu 120/80 mmHg berarti normal ya bu. Klien : Jadi Ibu Bidan, bagaimana dengan kehamilan saya ini ? Bidan : tidak usah takut bu, karena kehamilan ibu ini merupakan proses yang alamiah yang terjadi pada semua ibu dan Pada umumnya ibu hamil pada kehamilan 3 bulan seperti ibu ini juga akan mengalami keluhan seperti yang ibu katakan tadi, merasa mual dan ingin muntah, tidak suka makan, sering sekali BAK dan sering pusing tapi ibu juga dapat mengantisipasinya dengan cara makan makanan kaya protein dan karbohidrat seperti nasi
11

putih secukupnya, tetapi kalau ibu kurang selera makan nasi putih, ibu bisa menggantinya dengan makanan bubur beras, cracckers, dan juga ibu harus memakan daging-dagingan atau telur ayam dan ibu juga harus banyak minum. ibu juga harus lebih sering makan makanan padat dengan kandungan air yang lebih tinggi seperti buah, sayuran (selada, melon, jeruk). dan soal ibu yang sering BAK, itu wajar pada ibu hamil seperti ibu tapi ibu juga bisa mengurangi agar tidak sering BAK dengan cara memiringkan tubuh kedepan pada saat ibu BAK, dan juga ibu membatasi minum mulai pukul 4 sore. tetapi jangan melampaui batas kebutuhan ibu yah bu. Nah kalau masalah ibu sering pusing ibu bisa mengantisipasinya dengan cara ketika ibu bangun tidur ibu jangan langsung berdiri sebaiknya ibu miring ke kiri dulu, duduk dulu sebentar baru bangun supaya ibu tidak sering pusing yah bu. Klien : oh begitu yah ibu bidan . Bidan : Nah untuk bapaknya juga harus sering ngingetin ibunya yah pak. Jaga kesehatan ibunya ingetin ibunya yah pak harus sering minum susu bapak harus sering-sering memperhatikan ibunya yah jangan sampai kecapean, ingatkan ibunya ya pak harus banyak beristirahat atau tidak banyak bekerja Bapak : Oh iyah ibu bidan siap (sambil tersenyum) Bidan : oh iyah ibu Selain itu ibu juga harus menjaga kebersihan diri ibu, dan juga harus melakukan perawatan payudara yah bu Klien : Untuk apakah saya harus melakukan perawatan payudara, bu bidan? Bidan : Begini bu..sebagian besar wanita hamil putting susunya tidak menonjol, pada saat ibu tersebut telah melahirkan , bayinya susah minum ASI si ibu. Oleh sebab itu harus dilakukan perawatan payudara agar puting susu ibu menonjol dan bisa mengeluarkan ASI nantinya Klien : Oh begitu yah ibu bidan baiklah bu bidan saya akan menuruti semua nasihat ibu bidan agar saya dan bayi ssaya dapat sehat dan selamat Bidan : alhamdulillah bu, bagus kalau ibu mau menurutinya bapak/ibu, ada yang mau ditanyakan lagi atau yang masih belum dimengerti ? Bapak : tidak ada bu, terimakasih ya. Bidan : bapak, ibu sudah mengerti dengan apa yang saya jelaskan tadi ? Bapak : ya bu saya mengerti. Bidan : bisa di ulang satu, dua kata yang saya jelaskan tadi itu pak/ibu ? Bapak : ya bu kalau ibunya kurang berselera makan nasi putih bisa diganti dengan makan bubur beras, atau cracckers, harus memakan daging-dagingan dan telur dan jangan lupa di ingatkan untuk minum susu dan untuk mengurangi sering BAK dengan cara memiringkan tubuh kedepan pada saat ibu BAK, dan juga ketika hendak bangun jangan langsung berdiri ibunya mesti duduk dulu sebentar baru bangun agar tidak pusing Bidan : terimakasih ya pak atas kerja samanya ? nanti kalo ibu ada keluhan, bapak silahkan kesini lagi saja ya pak
12

Bapak : ya sama-sama bu, terimakasih banyak ya bu atas bantuannya ? Bidan : ya pak. Klien : permisi ya bu bidan Bidan : oh iyah bu silahkan Hati-hati ya Bu, Pak ...!!! Bapak + klien : Mari bu bidan wassalamualaikum bu Bidan : waalaikumsalam

13

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan Konseling kebidanan adalah suatu proses pembelajaran, pembinaan hubungan baik, pemberian bantuan, dan bentuk kerja sama yang dilakukan secara professional(sesuai dengan bidangnya) oleh bidan kepada klien untuk memecahkan masalah, mengatasi hambatan perkembangan, dan memenuhi kebutuhan klien. Tujuan konseling diarahkan sebagai layanan yang membantu masalah yang dihadapi klien.Oleh karna itu, bidan sebagai konselor harus berusaha mengambangkan potensi yang ada agar dapat digunakan klien secara efektif.

3.2

Saran Sebagai seorang bidan harus mempunyai komunikasi yang baik, baik didalam lingkungan sendiri maupun lingkungan masyarakat, selain itu bidan juga harus harus menjadi konselor di masyarakat dalam memenuhi permasalahan-permasalahn yang sering kali timbul di masyarakat. Bidan tokoh utama di masyarakat yang menjadi sorotan di kalangan masyakat.

14

DAFTAR PUSTAKA Johan T.A, dan Yulifah Rita. 2009. Komunikasi dan Konseling dalam Kebidanan. Jakarta:Salemba Medika. Istiqomah, 2010, PROSES DAN PRAKTEK KIP/K DALAM PELAYANAN KEBIDANAN, Midwifery,http://materibidan.blogspot.com/2010/05/proses-dan-praktek-kipk-dalampelayanan.html Bencoolen Rafless, 2011, Makalah Proses dan Praktik Kebidanan dalam Asuhan Kebidanan, Bahan Kuliah dan Makalah, http://networkedblogs.com/ixUG4

15