Anda di halaman 1dari 16

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN GEOGRAFI RANCANGAN PROPOSAL TUGAS

AKHIR Nama : Muslikin NIM : 3212311013

Prodi : Survei dan Pemetaan Wilayah I. JUDUL PEMETAAN TITIK RAWAN KEMACETAN ARUS LALULINTAS DI JALUR UTAMA SEMARANG SOLO DI KECAMATAN BERGAS DAN BAWEN

KABUPATEN SEMARANG BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) II. LATAR BELAKANG Pengertian jalan menurut Undang - undang Nomer 38 tahun 2004 Jalan adalah suatu prasarana transpotasi darat yang meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang peruntukan bagi lalu lintas, yang berada di permukaan tanah dan / atau air serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori dan jalan kabel. Dari waktu -ke waktu mode transpotasi mulai berkembang dengan pesat. Pesatnya perkembangan transpotasi mengakibatkan bertambahnya volume kendaraan baik angkutan pribadi maupun angkutan umum. Semakin bertambahnya volume kendaraan maka ruas badan jalan yang ada, tidak lagi mampu menampung volume kendaraan. Keberadaan transportasi sebagai pendukung pergerakan masyarakat akan memberikan implikasi positif terhadap semakin meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan suatu kota. Namun, perkembangan transportasi sampai saat ini tidak hanya memberikan implikasi positif tetapi juga implikasi negatif, seperti kemacetan, kesemrawutan, dan kecelakaan lalulintas (Masterplan Transportasi Kota Semarang 2009-2029:I-2). Menurut Bayu A. Wibawa (1996), terdapat kecenderungan bahwa berkembangnya suatu kota bersamaan pula 1

dengan berkembangnya masalah transportasi yang terjadi. Implikasi negatif yang ditimbulkan oleh perkembangan transportasi salah satunya disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan penduduk yang memberikan pengaruh pada meningkatnya demand terhadap sarana maupun prasarana transportasi (Masterplan Transportasi Kota Semarang 2009-2029:I-2). Di sisi lain, masalah transportasi juga sangat berkaitan erat dengan kebijakan tata ruang. Pakar ilmu transportasi Warpani (1987) berpendapat bahwa ruang merupakan kegiatan yang ditempatkan di atas lahan kota, sedangkan transportasi merupakan sistem jaringan yang secara fisik menghubungkan satu ruang kegiatan dan ruang kegiatan lainnya. Perencanaan kota tanpa mempertimbangkan keadaan dan pola transportasi akibat dari perencanaan itu sendiri akan menimbulkan keruwetan lalulintas di kemudian hari yang berakibat dengan meningkatnya kemacetan lalulintas dan akhirnya meningkatkan pencemaran udara (Haryono Sukarto, 2006). Sebagian besar wilayah Kecamatan Bergas dan Bawen adalah dataran rendah. Kecamatan Bergas adalah sebuah kota pasar yang terletak di antara Semarang dan Salatiga. Kecamatan ini terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Secara administrasi bagian selatan berbatasan dengan Kecamatan Bawen, bagian timur berbatasan dengan Kecamatan Pringapus dan bagian utara berbatasan dengan Kecamatan Ungaran. Kecamatan Bergas terdiri atas 9 desa 4 kelurahan. Sedangkan secara administrasi Kecamatan Bawen adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. berbatasan dengan Kecamatan Bergas di sebelah utara, Kecamatan Pringapus di sebelah timur, Kecamatan Tuntang dan Ambarawa di sebelah selatan, dan Kecamatan Bandungan di sebelah barat. Kecamatan Bawen terdiri atas 10 desa dan 2 kelurahan. Kecamatan Bergas dan Bawen diliwati oleh jalan Nasional yang menghubungkan dua Kota Utama di Pulau Jawa yaitu Semarang dan Solo. Kemacetan lalu lintas yang rutin terjadi, khususnya di sepanjang Kecamatan Bergas tepatnya di depan Pasar Karangjati dan di Kecamatan Bawen tepatnya di depan PT APACINTI sampai di Terminal Bawen, sangat berpotensi untuk menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat. Kerugian tersebut antara lain inefisien biaya transportasi, pencemaran lingkungan, hingga ketidaknyamanan bagi masyarakat dan pengguna jalan. Kemacetan lalu lintas yang terjadi di Kecamatan Bergas dan Bawen disebabkan oleh beberapa sektor diantaranya sektor perindustrian dan sektor perdagangan.

Untuk mengetahui jaringan jalan atau lokasi kemacetan jalan, dengan dilakukan pemetaan. Salah satu tekhnik pemetaan adalah menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Untuk dari itu tugas akhir ini menggunakan judul PEMETAAN TITIK RAWAN KEMACETAN ARUS LALULINTAS DI JALUR UTAMA SEMARANG SOLO DI KECAMATAN BERGAS DAN BAWEN KABUPATEN SEMARANG BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) III. RUMUSAN MASALAH Dalam proposal Tugas Akhir ini terdapat berberapa rumusan masalah antara lain: 1. Dimana sajakah titik rawan kemacetan di Kecamatan Bergas dan Bawen ? 2. Apa saja yang menyebabkan terjadinya kemacetan lalu lintas di Kecamatan Bergas dan Bawen ? 3. Informasi-informasi apa saja yang disajikan dan mampu di ambil dari peta ini ?

IV.

TUJUAN Tujuan proposal Tugas Akhir antra lain: 1. Untuk menentukan lokasi titik kemacetan lalu lintas di Kecamatan Bergas dan Bawen.. 2. Untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya kemacetan lalu lintas di Kecamatan Bergas dan Bawen. 3. Mampu memberikan informasi terperinci, jelas dan terpercaya mengenai faktorfaktor kemacetan lalu lintas disepanjang jalur utama Semarang Solo di Kecamatan Bergas dan Bawen Kabupaten semarang.

V.

MANFAAT Manfaat penelitian antara lain: 5.1 Bidang Ilmu Pengetahuan. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang ilmu Geografi dan pemetaan adalah untuk meningkatkan ilmu, akan memberikan konstribusi secara akademik khususnya pada bidang penelitian mahasiswa. 5.2 Masyarakat. Bagi masyarakat agar mengetahui titik-titik kemacetan yang terjadi di wilayah Bergas dan Bawen. 5.3 Pemerintah. Bagi Pemerintah hasil penelitian dapat menjadi input dasar pertimbangan untuk menentukan kebijakan yang tepat dalam upaya mengurangi kemacetan jalan atau lalulintas di daerah Kecamatan Bergas dan Bawen.

VI.

PENEGASAN ISTILAH 6.1.1.1 Pemetaan Pemetaan adalah suatu representasi atau gambaran unsure-unsur atau kenampakan

abstrak yang dipilih dari permukaan bumi yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa dan umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil atau diskalakan (Juhadi dan Setyowati, 2001: 1). 6.1.1.2 Jaringan Jalan Jaringan jalan adalah desain struktur untuk bersama-sama mengikuti node melalui rute atau link. Apapun yang menjadi arus penggeraknya, seperti penggerak orang, barang, uang, informasi atau sesuatu yang lain yang bergerak dari suatu tempat ke tempat lainnya (Maghribi, 1996:16) 6.1.1.3 Kemacetan Situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan (Wikipedia, 2011).

VII. 7.1

TINJAUAN PUSTAKA Pemetaan Peta merupakan representasi atau gambaran unsur-unsur atau kenampakan-

kenampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi atau yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, dan umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil atau skalakan (Juhadi dan Dewi Liesnoor Setyowati 2001:1). Dalam membuat peta tematik ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pembuat peta sesuai dengan kaidah-kaidah kartografi antara lain: Peta tidak boleh membingungkan. Peta harus mudah dimengerti dan dipahami oleh pengguna peta (map use). Peta harus memberikan gambaran yang sebernarnya sesuai dengan keadaan atau kondisi lapangan. Setelah kaidah-kaidah diatas terpenuhi maka langkah selanjutnya yang dilakukan oleh pembuat peta adalah: Persiapan peta dasar. Merancang simbol peta. Merancang komposisi peta atau layout peta.

Klasifikasi peta menurut Bos, Es 1977 dalam Juhadi dan Dewi Liesnoor Setyowati, peta dapat dikategorikan kedalam tiga kelompok yaitu peta berdasarkan isi, berdasarkan skala, dan berdasarkan kegunaan. 7.2 Jaringan Jalan Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel (Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006).

7.3

Klasifikasi Jalan Jalan raya pada umumnya dapat digolongkan dalam 4 klasifikasi yaitu: klasifikasi

menurut fungsi jalan, klasifkasi menurut kelas jalan, klasifikasi menurut medan jalan dan klasifikasi menurut wewenang pembinaan jalan (Bina Marga 1997). 1. Klasifikasi menurut fungsi jalan terdiri atas 3 golongan yaitu : Jalan arteri yaitu jalan yang melayani angkutan utama dengan cirri-ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien. Jalan kolektor yaitu Jalan kolektor yaitu jalan yang melayani angkutan pengumpul/pembagi dengan ciri-ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan ratarata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi. Jalan lokal yaitu Jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi. 2. Klasifikasi menurut kelas jalan Klasifikasi menurut kelas jalan berkaitan dengan kemampuan jalan untuk menerima beban lalu lintas, dinyatakan dalam muatan sumbu terberat (MST) dalam satuan ton. 3. Klasifikasi menurut medan jalan Medan jalan diklasifikasikan berdasarkan kondisi sebagian besar kemiringan medan yang diukur tegak lurus garis kontur. Keseragaman kondisi medan yang diproyeksikan harus mempertimbangkan keseragaman kondisi medan menurut rencana trase jalan dengan mengabaikan perubahan-perubahan pada bagian kecil dari segmen rencana jalan tersebut. 4. Klasifikasi menurut wewenang pembinaan jalan terdiri dari : Jalan Nasional Jalan Provinsi Jalan Kabupaten/Kotamadya Jalan Desa

7.4

Kemacetan 1. Pengertian Kemacetan ditinjau dari tingkat pelayanan jalan (level of services), yaitu pada kondisi

lalulintas mulai tidak stabil, kecepatan operasi menurun relatif cepat akibat hambatan yang timbul dan kebebasan bergerak relatif kecil. Pada kondisi ini nisbah volume-kapasitas lebih besar atau sama dengan 0,80 ( V/ C > 0,80 ). Jika tingkat pelayanan sudah mencapai E, aliran lalulintas menjadi tidak stabil sehingga terjadilah tundaan berat yang disebut dengan kemacetan lalulintas (Tamin dan Nahdalina, 1998). Kemacetan adalah turunnya tingkat kelancaran arus lalulintas pada jalan yang ada, dan sangat mempengaruhi para pelaku perjalanan, baik yang menggunakan angkutan umum maupun angkutan pribadi, hal ini berdampak pada ketidaknyamanan serta menambah waktu perjalanan bagi pelaku perjalan. Menurut Oglesby dan Hicks (1990) dalam Surwarto (1997) tingkat kemacetan lalu lintas dapat dihitung dengan menggunakan kriteria tingkat pelayanan jalan umum, sebagai berikut : Tingkat A (rasio volume dan kapasitas (V/C) maksimum 0,2) menyatakan arus bebas dalam arti kecepatan kendaraan dikendalikan oleh keinginan mengemudi, batas kecepatan dan kondisi fisik jalan. Tingkat B (V/C maksimum 0,45) menyatakan arus stabil dalam arti kecepatan kendaraan mulai terbatas sedikit oleh lalu lintas atau kendaraan lain. Tingkat C (V/C maksimum 0,7) menyatakan kecepatan dan kemampuan bergerak kendaraan semakin terbatas. Tingkat D (V/C maksimum 0,85) menyatakan arus tidak stabil dan kecepatan menurun, kebebasan bergerak agak kecil dan kenyamanan mengemudi relatif rendah. Tingkat E (V/C maksimum 1) menyatakan kecepatan arus tidak stabil dalam arti kendaraaan sering berhenti dan kemampuan bergerak sangat terbatas serta volume lalu lintas mendekati kapasitas. Tingkat F (V/C maksimum 1,2) menyatakan kondisi arus terpaksa dalam arti kecepatan operasi sangat rendah dan terbentuk antrian kendaraan yang disebabkan volume melebihi kapasitas. 2. Tingkat Pelayanan (Level Of Service)

Tingkat pelayanan (level of service) suatu ruas jalan adalah perbandingan antara volume lalu lintas dan kapasitas jalan tersebut. Pada kecepatan tinggi, volume lalu lintas pasti rendah, sebaliknya pada volume tinggi, kecepatan akan menurun. Pada saat volume lalu lintas mencapai titik balik, titik tersebut merupakan kapasitas atau volume maksimum jalan. Tetapi jika arus lalu lintas beroperasi pada kapasitas jalan tersebut, maka setiap gangguan kecil terhadap arus lalu lintas akan mempunyai pengaruh yang besar, atau kondisi arus lalu lintas cepat menjadi tidak stabil. Kapasitas jalan dipengaruhi oleh lebar jalan dan sistem jalan satu arah atau dua arah (Dedy Arief, 1987:17). Untuk lebih jelas mengetahui karakteristik tingkat pelayanan ruas jalan dapat dilihat pada tabel 1. Cara menghitung tingkat pelayanan (level of service) suatu ruas jalan dapat menggunakan rumus :

Keterangan : LOS = Tingkat pelayanan V C = Volume lalu lintas perjam (SMP) = Kapasitas praktis jalan (SMP)

Berdasarkan rumus diatas, tingkat pelayanan ruas jalan (LOS) dapat diketahui dengan menghitung jumlah kendaraan yang melalui satu garis melintang di suatu ruas jalan per satuan waktu (jam) dibagi dengan kapasitas atau daya tampung jalan (Hariyanto, 2003) Nilai kapasitas praktis ruang jalan dihitung berdasarkan Satuan Mobil Penumpang (SMP) yang merupakan satuan jumlah kendaraan yang mampu menampung volume jalan tiap jam dapat dilihat pada tabel 3

Tabel 1. Nilai Satuan Mobil Penumpang (SMP) Tiap Jenis Kendaraan Jenis Kendaraan Sedan (jeep,pick up, combi, mini bus) Bis (Bis besar, bis dobel gardan dan tunggal gardan) Truk (Truk besar, truk dobel gardan dan tunggal gardan) Sepeda Motor Sepeda Becak Sumber : DLLAJR, 1995 Tabel 1. Karakteristik Tingkat Level of Service (LOS) Kelas TingkatPelayanan Karakteristik Lalu lintas Kondisi arus bebas dengan kecepatan tinggi, volume A 0.0 0.19 lalu lintas rendah. Pengemudi bebas memilih kecepatan yang diinginkan (tanpa hambatan) 0.2 0.44 0.45 0.69 Arus stabil, pengemudi memiliki kebebasan untuk beralih jalur Arus stabil, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatannya Arus tidak stabil, hampir semua pengemudi dibatasi D 0.70 0.84 kecepatannya. Volume lalu lintas mendekati Nilai ESMP 1 2 1,75 0,4 0,75 1,5

kapasitas jalan tetapi masih dapat diterima Arus tidak stabil, sering berhenti. Volume lalulintas E 0.85 1.0 mendekati atau berada pada kapasitas jalan Arus lalu lintas macet, atau kecepatan sangat rendah atau merayap, antrian kendaraan panjang

>1

Sumber : DLLAJR, 1987

Tabel 3. Kapasitas Praktis Ruang Jalan (Dalam SMP) Lebar Jalan (m) 5 6 7 8 9 10 11 12 13 7.5 Sistem Informasi Geografi (SIG) SIG (Sistem Informasi Geografi) dapat diartikan sebagai suatu kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras, dan perangkat lunak, serta data geografis yang di desain untuk memperoleh, menyimpan, meng-update, memanipulasi, menganalisis dan Dua Arah 800 1000 1400 1750 2100 2500 2900 3250 3600 Satu Arah 800 1200 1600 2000 2400 2750 3250 3600 4000

menampilkan semua informasi yang berrefrensi geografis (ESRI dalam Tim Pelatihan SIG). V.III 8.1 METODE SURVEI DAN PEMETAAN Lokasi, Alat dan Bahan Survei dan Pemetaan Lokasi penelitian adalah Kecamatan Bergas dan Bawen Kabupaten Semarang. Alat dan Bahan : 1. Komputer atau laptop dengan perangkat lunak Arc.View GIS 3.3. 2. Peta Dasar berupa Peta Administrasi dan Peta Jaringan Jalan Kecamatan Bergas dan Bawen Magelang. 3. GPS. 4. Alat tulis dan lainnya. 8.2 Populasi dan Sampel Populasi dalam pemetaan ini adalah kemacetan jalan serta penyebab jalan macet dan jaringan jalan yang ada di Kecamatan Bergas dan Bawen Kabupaten Semarang.

10

8.3

Variabel pemetaan adalah objek yang akan dipetakan antara lain: Variabel Penelitian adalah obyek penelitian atau yang menjadi titik perhatian suatu

penelitian. Variabel yang dipakai dalam penelitian ini adalah : 1) Jalan Panjang jalan Lebar jalan Nama jalan Kelas jalan

2) Kemacetan Lokasi kemacetan Penyebab kemacetan Jam-jam sibuk

8.4

Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 yaitu: Data Primer

Adalah data yang diperoleh langsung dari responden atau obyek yang diteliti, atau ada hubunganya dengan yang diteliti. Data primer ini meliputi volume lalu lintas yang meliputi jumlah dan jenis kendaraan yang lewat, lebar jalan, jumlah kendaraan yang keluar masuk kawasan, kendaraan yang berhenti maupun kendaraan yang parkir, dan penyebab kemacetan. Data primer ini dianalisa tiap titik pengamatan dengan menghitung tingkat pelayanan jalan (level of services). Data Sekunder Adalah data yang telah lebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang atau instansi di luar diri peneliti sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu sesungguhnya data yang asli. Data tersebut dapat diperoleh dari instansi- instansi dan perpustakaan. 1) Peta Administrasi Kecamatan Bergas dan Bawen. 2) Peta Jaringan Jalan Kecamatan Bergas dan Bawen. 3) Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Bergas dan Bawen.

11

8.5

Pengumpulan Data: a. Metode Observasi Observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan

dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek penelitian. Kondisi jalan Melihat kondisi jalan dilapangan lokasi pengamatan. Volume lalu lintas Menghitung banyaknya kendaraan yang lewat pada garis pengamatan selama waktu pengamatan dengan menggunakan tingkat pelayanan jalan (level of services) b. Metode Dokumentasi Metode ini ditunjukan untuk memperoleh data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, surat kabar, dan sebagainya (metode pengumpulan data melalui sumber tertulis). Metode ini digunakan untuk mencari data-data sekunder yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Metode dokumentasi dalam penelitian ini yang meliputi: Peta administrasi Kecamatan Bergas dan Bawen Peta jaringan jalan Kecamatan Bergas dan Bawen Data penggunaan lahan Kecamatan Bergas dan Bawen 2. Analisis Data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Metode Deskriptif Dalam studi ini metode deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran dan penjelasan terhadap kondisi sistem transportasi di Kecamatan Bergas dan Bawen. Dengan menggunakan metode ini kita mengidentifikasikan kondisi lalulintas sepanjang Jalan Semarang - Solo. Metode Kuantitatif Dengan metode ini digunakan untuk menganalisis kinerja jalan yang mengalami kemacetan lalulintas yaitu : i. Volume lalulintas Melakukan analisis terhadap banyaknya volume lalulintas dalam satuan mobil penumpang (smp), terhadap mobil yang melintas sehingga dapat diketahui pembebanan perjalanan (traffic assignment). Perhitungan Volume lalulintas dengan mengalikan jumlah setiap jenis kendaraan dengan ekivalensi mobil penumpang (emp)

12

kedalam satuan mobil penumpang (smp). Selanjutnya besar volume lalulintas dalam satuan smp dikelompokkan jumlah total dari seluruh kendaraan dan kelompok jumlah total kendaraan bermotor. Rumus yang digunakan : Q=n/t Keterangan: Q = volume lalu lintas n = jumlah kendaraan yang lewat t = waktu (jam) ii. Tingkat Pelayanan Jalan Melakukan analisis tingkat pelayanan ruas jalan (LOS) dengan menghitung jumlah kendaraan yang melalui satu garis melintang di suatu ruas jalan per satuan waktu (jam) dibagi dengan kapasitas atau daya tampung jalan Rumus :

Keterangan : LOS = Tingkat pelayanan V C iii. = Volume lalu lintas perjam (SMP) = Kapasitas praktis jalan (SMP)

Kecepatan Lalu lintas Melakukan analisis kecepatan rata-rata ruang dengan waktu tempuh kendaraan dalam panjang jalan tertentu (Km/jam). Rumus ; Vu = L / t Keterangan : Vu = Kecepatan rata-rata ruang (Km/jam) L = Jarak tempuh (Km) t = Waktu tempuh (Jam)

13

VIII. SISTEMATIKA TUGAS AKHIR SISTEMATIKA Tugas Akhir ini terdiri dari 3 bagian yaitu bagian awal bagian isi dan bagian akhir, yang diuraikansebagai berikut: Bagian awal dari tugas akhir terdiri atas judul tugas akhir, sari/abstrak, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel/ grafik/ peta, dan daftar lampiran. Bagian isi tugas akhir terdiri atas lima bab yang dapat dirinci sebagai berikut : Bab I, merupakan pendahuluan yang meliputi latar belakang, permasalahan, penegasan istilah,tujuan, manfaat, penegasan istilah dan sistematika tugas akhit. Bab II, berupa tinjauan pustaka yang dapat dijadikan dasar dalam penyusunan Tugas Akhir. Bab III, Bab ini berisi tentang lokasi penelitian, variabel penelitian, metode pengumpulan data analisis data. Bab IV,bab ini menjelaskan mengenai hal-hal dari hasil penelitian yang dilakukan dan analisinya, serta hasil dan penjelasan dari pemetaannya. Bab V,bab ini menguraikan tentang beberapa kesimpulan dari hasil penelitian dan saran, yaitu kesimpulan dari hasil penelitian dan saran-saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian. Bagian akhir tugas akhir ini terdiri dari daftar pustaka, lampiran-lampiran seperti peta dan surat ijin penelitian.

14

Diagram Alir Penelitian

Jalan di Kecamatan Bergas dan Bawen

Daerah Rawan Macet

Pengumpulan Data

Observasi Kondisi Jalan Lebar Jalan Volume Lalulintas Tingkat LOS Analisis Data -

Dokumentasi Peta Adminisrasi Peta Jaringan Jalan Peta Landuse

Hasil Akhir Peta Jaringan Jalan Peta Lokasi Kemacetan

15

DAFTAR PUSTAKA Departemen Pekerjaan Umum. 1997. Manual Kapasaitas Jalan Indonesia, Direktorat Jendral Bina Marga, Jakarta Miro, Fidel. 2004. Perencanaan Transportasi. Jakarta : Erlangga. Morlok,E.K. 1998. Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi, Jakarta:Erlangga. Adisasmita, Sakti Adji. 2011. Jaringan Transportasi Teori dan Analisis. Yogyakarta: Graha Ilmu ddy. 2001. Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografi. http://id.wikipedia.org/wiki/ Kemacetan. (11 Juni. 2013). http://wikipedia.com Kabupaten Semarang Dalam Angka.

16