Anda di halaman 1dari 115

Barak

Benfield
DCS
101B
103D 101C 102C 101U
150E
108D
A
108D
B
104D
106D
HRU
PGRU
120CF
102E
101E
102F
133F
111C / 106C / 105C / 113C
121C
123C
114F
105D
109D
105F
111L
116C
129C
130C
102B
SKIT A
101JT
102JT
105JT
103JT
101JTC
103C
104JAT 104JT
AMONIAK
PLANT
106F
107F
109F
127C
124C
UREA
PLANT
PROSES PEMBUATAN
AMONIAK
Secara Umum Proses pembuatan Amoniak
dibagi menjadi beberapa tahap :
1. Penyediaan gas synthesa
2. Pemurnian gas Synthesa
3. Synthesa Amoniak
4. Refrigerasi
5. Recovery Purge gas
Tahap Penyediaan Gas Synthesa meliputi :
* Desulfurisasi bahan baku
* Steam Reforming pada :
- Primary Reformer
- Secondary Reformer
* CO Shift Conversion pada HTS & LTS
Tahap Pemurnian Gas synthesa meliputi :
* CO
2
Removal
* Methanasi
DESULFURISASI
Desulfurisasi merupakan langkah penghilangan
senyawa Belerang ( S ) yang terkandung di
dalam Gas bumi ( Natural gas ). Sulfur
merupakan racun katalis.
Ada 2 macam unsur Sulfur dalam gas bumi yaitu :
- Senyawa Sulfur Reaktif yang dapat
ditangkap dengan mudah oleh katalis ZnO
- Senyawa Sulfur non reaktif tidak dapat
Senyawa Sulfur ( S ) non reaktif diperlukan katalis Cobalt
Molybdate ( Co-Mo ) . dengan menambahkan Gas H
2
dari
Syn loop, maka semua senyawa S organik baik reaktif
maupun Non reaktif akan Di Hidrogenasi pada katalis Co-
Mo menjadi H
2
S
Reaksi yang terjadi :
- Pada Katalis Co-Mo
CH
3
HS + H
2
> CH
4
+ H
2
S + Panas
C
4
H
4
S + 4H
2
> n - CH
4
H
2
O + H
2
S + Panas
- Pada Katalis ZnO
H
2
S + Zno > Zn S + H
2
O + Panas
Cara ini bisa mengurangi kadar S sampai menjadi 0.1 ppm
PRIMARY & SECONDARY REFORMER
Steam Reforming dari bahan baku untuk menghasilkan
Gas Synthesa dilakukan 2 tingkat reaksi Katalitik.
1. Primary Reformer : menghasilkan gas yang
mengandung Methane ( CH
4
) 10 - 12 % , dilakukan
pada tube katalis Primary Reformer.
2. Secondary Reformer : Gas dari Primary Reformer
direaksikan lebih lanjut untuk mencapai CH
4
0.3 % ,
dilakukan pada Bejana tekan dilapisi Batu tahan api.
Panas yang diperlukan diperoleh dari pembakaran
gas dengan Udara luar yang sekaligus menghasilkan
N
2
untuk Sintesa NH
3
.
Reaksi yang terjadi :
Reaksi di Primary Reformer :
CH
4
+ H
2
O <===> CO + 3 H
2
Endothermis
CO + H
2
O <===> CO
2
+ H
2
Exothermis
Reaksi di Secondary reformer :
2H
2
+ O
2
<===> 2H
2
O Exothermis
CH
4
+ H
2
O <===> CO + 3H
2
- Q
CO + H
2
O <===> CO
2
+ H
2
+Q
Komposis Gas out :
N
2
: 0.58 % H
2
: 65.76 % CH
4
: 12.17 % Ar : 0 % CO
2
: 11.26 %
CO : 10.23 %
Komposis Gas out :
N
2
: 23.31 % H
==
: 54.31 % CH
4
: 0.33 % Ar : 0.30 % CO
2
: 7.93 %
CO : 13.83 %
CO SHIFT CONVERSION
Salah satu produksi gas dari Reformer adalah CO.
Gas CO tidak dikehendaki pada proses pembuatan
Amoniak
Shift Conversion mengubah hampir semua CO menjadi
CO
2
dan H
2
CO + H
2
O -----> CO
2
+ H
2
Reaksi yang terjadi pada :
- HTS untuk mereaksikan sebagian besar CO pada suhu tinggi
. ( 425 C ) , Katalis Besi ( Fe
2
O
3
)
- LTS untuk mereaksikan sisa CO sehingga mengahasilkan
kadar CO yang rendah yang bisa diterima di Proses
Methanasi , Reaksi pada suhu 225 C , Katalis Tembaga
CO
2
REMOVAL
Penghilangan gas CO
2
, dilakukan dengan cara Absorbsi
gas CO
2
oleh media K
2
CO
3
pada :
* Tekanan tinggi 28 - 32 kg/cmg
* Temperatur 70 C
* Media Penyerap :
- K
2
CO
3
dengan konsentrasi : 25 - 30 %
- DEA ( Di Ethanol Amine ) sebagai Aktivator.
- KNO
2
( Potasium Nitrit ) : Mengontrol keadaan Oksidasi dari
Vanadium. V
+4
+ KNO
2
==> V
+5
+ N
2
+ NO
- V
2
O
5
sebagai Corosion inhibitor
- Membentuk lapisan pelindung pada dinding dalam
Absorber.
- Menurunkan Corosion pada pipa , Vessel , Pumpa.
Reaksi Absorbsi :
K
2
CO
3
+ H
2
O + CO
2
===> 2KHCO
3
PELEPASAN CO
2
( STRIPPER )
- Tekanan Rendah : 0.5 - 1 kg / cmg
- Temperatur : 100 - 130 C ( pada
saturated temperaturnya)
2KHCO
3
===> K
2
CO
3
+ H
2
O + CO
2
Komposisi Gas out Absorbsi :
N
2
: 25.30 % H
2
: 73.59 % CH
4
: 0.36 % Ar : 0.32 % CO
2
: 0.06 %
CO : 0.3 %

METHANASI
Gas synthesa yang masih mengandung CO dan CO
2

sisa proses sebelumnya apabila masuk ke katalis Syn
Loop akan menjadi racun katalis sehingga menjadi tidak
aktif.
Untuk menghindari hal tersebut , CO dan CO
2

dikonversikan menjadi CH
4
yang bersifat Inert terhadap
katalis di Syn Loop . Katalis di methanator : Ni
Reaksi yang terjadi :
CO + 3H
2
---> CH
4
+ H
2
O
CO
2
+ 4H
2
---> CH
4
+ 2H
2
O
Komposisi gas out :
N
2
: 25.65 % H
2
: 73.23 % CH
4
: 0.80 % Ar : 0.32 % CO
2
: 0 %
CO : 0 % NH
3
: %
SINTESA AMONIAK
Reaksi pembentukan NH
3
dari N
2
dan H
2
mengikuti
persamaan :
N
2
+ 3H
2
<==> 2NH
3
Katalis yang digunakan : Besi ( Fe
2
O
5
)
Disamping CO dan CO
2
, H
2
O juga bersifat racun
terhadap katalis. Untuk menghilangkan H
2
O sebelum
masuk Syn Loop dipasang Molecular Sieve Dryer
yang berfungsi sekaligus untuk menyerap sisa CO
2

yang masih ada.
Reaksi sintesa Amoniak merupakan reaksi
kesetimbangan. Reaksi berlangsung pada Temperatur
500 - 550 C , Tekanan 179 kg / cmg , Kadar NH
3
out
converter 17.2 % . Sisa gas yang tidak bereaksi di
recycle
REFRIGERASI
Refrigerasi dengan media Amoniak digunakan
untuk mengembunkan Amoniak yang terkandung
dalam syn Loop , Recovery Amoniak dari Purge
dan Flash , serta mendinginkan make up gas
sebelum masuk Dryer
Sistem Refrigerasi terdiri dari : Compressor
, Refrigerant condenser , Evaporator dan
flash drum.
Kompresor Refrigerasi mempergunakan 4
tingkat
PURGE GAS RECOVERY
Untuk menjaga inert gas ( CH
4
, He , Ar ) di syn
loop, sejumlah kecil syn gas dikeluarkan dari
systim .
Purge gas setelah direcover kandungan NH
3
dan
H
2
-nya, kemudian inertnya dipakai sebagai fuel
gas di Primary Reformer.
Purge Gas Recovery Unit ( PGRU ) merecover
NH
3
dan Hidrogen Recovery Unit ( HRU )
merecover H
2
untuk dikembalikan ke syn loop
PROSES CONDENSATE STRIPPER
Steam condensate ini berasal dari sisa steam proses,
sehingga gas tersebut mengandung senyawa -
senyawa organik yang harus dihilangkan dengan
cara Stripping.
Condensate proses dari Raw gas separator 102 F1
terdiri dari :
- Amoniak = 1000 ppm
- CO
2
= 3000 ppm
- Methanol = 1000 ppm
- Alkohol = lebih tinggi
Condensate setelah distripping dikirim ke
Service Unit
mengandung senyawa :
Amoniak = 50 ppm
CO
2
= 0 ppm
Methanol dan Alkohol = 50 ppm.
Kontaminan yang telah di stripping
terutama NH
3
dan CO
2
dengan steam
meninggalkan 150 E ( Condensate
Stripper ) dan bergabung dengan Steam
proses menuju ke Primary Reformer
BOILER FEED WATER SYSTEM
BFW System di design menggunakan Demin Water
berkualitas tinggi untuk berbagai jenis pembangkit
Steam di pabrik Amoniak.
selain produksi Steam BFW juga dipergunakan untuk :
- Steam Desuperheater
- Instrument flush di instrumentasi Benfield
Steam System ini terdiri dari :
* Deaerator
* Pompa
* Heat Excvanger / Steam generator
* Steam drum
* Superheater
* Blow down system
* Chemical dossing
TEORI OPERASI
Demin water masuk kebagian atas Preheater 101 U
menuju Spray header , spray valve mengubah aliran
menjadi butiran - butiran yang dipanaskan oleh kontak
dengan LP Steam secara Counter Current
sebagian beasar O
2
dan CO
2
dilepaskan . Sebagian kecil
O
2
yang tersisa direaksikan dengan Hydrazin.
N
2
H
4
+ O
2
===> 2H
2
O + N
2
Untuk menjaga BFW sudah terbebas dengan O
2
, jaga
kandungan N
2
H
4
> 0.1 ppm.
HP BOILER FEED WATER
BFW dipompa dengan 104 J atau JA ke 101 F ( Steam
drum ) melalui :
WHB di Syn Loop ( 123 C ) dipanaskan oleh gas out
Converter 105 D , dari temperatur 133C -----> 327 C.
131C , BFW dipanaskan oleh gas out LTS dari
temperatur 133C ---> 149 C dan dipanaskan lebih lanjut
di WHB oulet HTS (103-C1/C2) sampai temperatur out =
327 C
BW di 101F secara Natural sirkulasi dialirkan ke 101 C
dengan media pemanas Efluent gas dari Secondary
Reformer dan Steam yang di hasilkan dipisahkan
kembali di 101-F pada tekanan 123 kg / cm
STEAM SYSTEM
Untuk kebutuhan pembuatan proses Amoniak diperlukan
beberapa jenis steam :
- HP Steam Tekanan : 123 kg /cm
- MP Steam Tekanan : 42 kg / cm
- LP Steam Tekanan : 4 kg / cm
HP STEAM
Diperoleh dari pertukaran panas pada 101 C , 123 C ,
131C - 103C1 / C2 .
HP Steam di pergunakan untuk :
- Penggerak turbine 101JT , 103 JT.
- Let down untuk produk MP Steam
- Heater 173 C , 172 C1.
HP Steam dari 101 F sebelum dipergunakan untuk
penggerak turbine dipanaskan dulu di 102C
temperatur dari 327 C ---> 440 C kemudian
dipanaskan lagi di Superheater di 101BCS sampai
Temperatur 510 C
MP STEAM ( 42 kg /cm )
MP Steam diperoleh dari :
- Import Steam dari Exsisting & WHB
- Extraction 101 JT / 103 JT
MP Steam dipergunakan untuk :
- Proses pembuatan Amoniak
- Penggerak Turbine
- Reboiler 140 C
LP STEAM ( 4 kg / cm )
Diperoleh dari :
- Exhaust turbine
- Let down PCV1016
- Flash Steam dari Blow down drum ( 156 F )
- Flash Steam dari 157 F
Dipergunakan :
# Penggerak Turbine Admition 105 JT.
# Ejector
# Sealing steam
# Treacing dan Steam Service
STEAM CONDENSATE SYSTEM
Steam condensate didapat dari hasil kondensasi
exhause turbin di 101 JTC, dan kondensat ini digunakan
lagi untuk :
- Jaket water 101C , 103D , 102 C , 107 D
- Diumpankan kembali di Mixbed Service Unit
System kondensasi steam terdiri dari :
- Surface Condenser 101 JTC
- Hogging jet , Inter / after condenser 101 JTCC
- Pompa Condensate 114 J/JA
NG
Desul
fulfurizer
Primary
Reformer
Secondary
Reformer
Steam Udara
WHB
HTS
LTS
CO2
Removal
Methanator
Syn gas
comp
Ammonia
Converter
Refrigeran
System
PGRU
HRU
CO2
Product
Ammonia
Product
NG
Fuel
Purge
gas
H2
Flas
gas
Purge
gas
HP
Steam
WHB
BLOCK DIAGRAM PROSES AMONIAK
FILOSOFI OPERASI
DAN TROUBLE SHOOTING
BAGIAN AMONIAK
DEPARTEMEN PRODUKSI I
2007
VARIABEL - VARIABEL
PENGENDALIAN PROSES
PENGENDALIAN PROSES UNIT DESULFULIZER
Kemampuan ZnO untuk menyerap sulfur sangat
tergantung pada temperatur.
- 450 C tetapan kesetimbangan K akan naik menjadi 2
kali lipat dari K pada temperatur 380 C.
- Sedangkan pada temperatur Ambient sekitar 30 C
kemampuan ZnO hanya 20 % dari kemampuannya.
PENGENDALIAN PROSES UNIT REFORMER
( PRIMARY DAN SECONDARY REFORMER )
Beberapa variabel yang mempengaruhi kondisi dan
Reaksi di Reformer sebagai berikut :
1. Steam to Carbon Ratio ( S / C Ratio )
Jumlah Steam yang diperlukan untuk Reaksi di
Primary Reformer ditentukan dari perbandingan
antara mole Steam dengan mol Carbon di gas alam.
Steam to Carbon ratio yang baik adalah 3.0 - 3.5
Steam Carbon Ratio yang terlalu rendah dapat
menyebabkan terbentuknya Carbon Deposit
Mekanisme pembentukan Carbon Deposit seperti reaksi
dibawah ini :
CH
4
<====> 2H
2
+ C
2 CO <====> CO
2
+ C
CO + H
2
<====> C + H
2
O
Pengurangan perbandingan S / C RATIO akan
mengakibatkan :
* Kecenderungan pembentukan Carbon Deposite pada permukaan
Katalis.
* Reaksi Reforming dan Reaksi Shift akan bergeser ke kiri, sehingga
CH
4
dan CO yang lolos akan bertambah.
* Menaikkan CO lolos dari HTS dan LTS yang akan menaikkan Inert
di Syn loop dan menurunkan produksi.
2. TEMPERATUR
Kenaikan temperatur di tube katalis akan
berdampak :
- Kandungan CH
4
dan CO
2
turun
- Memperbanyak Kandungan H
2
di Primary
Reformer.
Kenaikan suhu ini harus dibatasi 800 - 820 C.

Kenaikan Temperatur juga akan
mengakibatkan :
- Temperatur outlet Secondary Reformer
naik.
- CH
4
outlet Secondary Reformer turun
- Tekanan HP Steam drum naik
- Menurunkan Inert gas di Syn Loop
- Menurunkan tekanan di Syn loop
3. FLOW UDARA PROSES
Menaikkan Flow Udara Proses ke
Secondary Reformer akan menyebabkan :
- Temperatur outlet Secondary Reformer naik
- CH
4
outlet turun
- Produksi Steam naik
- Inert di Syn Loop turun dan produksi Amoniak
akan naik.
Kenaikan flow Udara ini dibatasi dengan
CH
4
yang lolos dari Secondary Reformer
minimum 0.2 %
4. TEKANAN
Tekanan operasi di tube dijaga
konstan dan tidak merupakan
Variabel operasi.
Penurunan tekanan akan menggeser
reaksi kekanan dan kearah
pembentukan Gas H
2
, tetapi bila
tekanan dibuat rendah maka akan
menaikkan beban ( power ) pada Syn
gas Compressor.
PENGENDALIAN PROSES UNIT SHIFT
CONVERTER ( HTS DAN LTS )
BEBERAPA VARIABEL YANG MEMPENGARUHI
KONDISI DAN REAKSI DI SHIFT CONVERTER
SEBAGAI BERIKUT :
1. TEKANAN
Tekanan operasi di HTS / LTS tidak
berpengaruh karena sesuai dari persamaan
reaksi di Shift Converter , jumlah mol reaktan =
jumlah mol produk maka tekanan tidak
mempengaruh reaksi ( sesuai azas Le-
Chatelier)
2. Bila Temperatur out HTS masih jauh dari Equilibrium ,
dan temperatur inlet dinaikkan mengakibatkan :
- CO yang lolos HTS / LTS akan turun
- Inert gas dari Methanator akan turun
- Temperatur outlet Methanator akan turun
- Temperatur outlet HTS akan naik
3. Bila Temperatur out LTS masih jauh dari Equilibrium ,
dan temperatur inlet dinaikkan mengakibatkan :
- CO outlet LTS turun
- CH
4
outlet Methanator turun
- Inert di Syn loop akan turun
- Temperatur out Methanator akan turun
- Produksi Amoniak akan naik
Pengendalian Proses Unit CO
2

Removal
Untuk menjaga kondisi operasi berjalan dengan baik maka
beberapa variabel proses yang mempengaruhi operasi harus
diperhatikan dengan baik :
1. CO
2
slip tinggi , Dapat disebabkan oleh :
- Rate sirkulasi larutan karbonat rendah ---> Tambah rate sirkulasi.
- Konsentrasi larutan karbonat rendah --> pekatkan dengan
menambah steam stripping ke Stripper atau menambah make
up K
2
CO
3
- Konsentrasi aktivator rendah ---> tambah aktivator
- Konsentrasi Bicarbonat tinggi tambah steam regenerasi
- Temperatur Gas/Larutan ke Absorber terlalu tinggi --> Atur
pertukaran panas di cooler
2. Tekanan
Pada Absorber , semakin tinggi tekanan , semakin
rendah CO2 slip terikut di Proses.
Pada Stripper , semakin tinggi tekanan ,semakin
jelek pelepasan CO2
3. Terjadi kenaikan Fe dalam larutan
Dapat disebabkan oleh :
Kemungkinan terjadi korosif ---> Tambahkan
corrosion inhibitor dan aktifkan Carbon filter.
4. Level Stripper cenderung turun
Tambah flow ( FC 1017 ) atau check level
Absorber , bila tinggi atur level balance.
5. Bila Tekanan Stripper naik
Maka : CO
2
slip akan naik , regenerasi tidak
sempurna .

Pengendalian Proses Unit
Methanator
Untuk menjaga agar CO dan CO
2
yang lolos ke seksi
berikutnya terjaga pada batas normal , maka beberapa
parameter harus dijaga stabil :
1. Temperatur inlet dijaga : 285 C
2. Bila kandungan CO dan CO
2
yang lolos Methanator
tinggi , naikkan kecepatan reaksi dengan menaikkan
temperatur inlet.
3. Bila kandungan CO dan CO
2
inlet Methanator tinggi
maka temperatur outlet akan naik , kurangi gas masuk
Absorber agar beban Absorber berkurang.
PENGENDALIAN PROSES UNIT
SYNTHESIS LOOP
1 . TEKANAN
Tekanan juga mempengaruhi kecepatan dan
konversi kesetimbangan reaksi , semakin tinggi
tekanan akan makin tinggi kecepatan dan konversi
kesetimbangan reaksi.
2 . TEMPERATUR
Temperatur sangat mempengaruhi kecepatan
reaksi dan konversi .
Temperatur diatur melalui Cold Shot, by pass di
WHB dan mengatur flow sirkulasi
Kenaikkan Temperatur dapat disebabkan oleh
beberapa faktor :
- Kenaikan Space velocity.
- Penurunan laju alir sirkulasi.
- Penurunan kadar ( CH
4 ,
Ar ) dalam aliran sirkulasi.
- Kenaikan tekanan.
- Penurunan laju Quenching ( cold shot )
3 . Velocity.
Akan ikut menentukan waktu kontak gas dengan katalis,
makin cepat umpan mengalir kedalam reaktor akan makin
pendek waktu kontak , sehingga akan memperkecil
Konversi yang di hasilkan . Hal ini akan mempengaruhi
tinggi produksi NH
3
persatuan waktu.
4 . RATIO
Variabel utama yang dapat digunakan untuk
mengontrol Ratio.
- Komposisi gas Make Up.
- Flow Gas Make Up.
- Aliran sirkulasi.
Untuk menjaga kesetimbangan Ratio H
2
/ N
2
di
synloop harus dilakukan di Secondary Reformer
dengan mengontrol jumlah udara sesuai dengan
Ratio yang dikehendaki dan jumlah gas H
2

return dari HRU.
5 . KONSENTRASI GAS INERT
Gas Inert ( CH
4
, Ar ) di synloop diatur 10 12 %
Gas Inert tinggi menyebabkan :
- Semakin rendah konversi.
- Tekanan syn loop naik.
- Produksi NH
3
turun.
- Temperatur syn loop turun.
Cara mengendalikan :
- Keluarkan gas inert melalui FC 1077.
- Jaga kadar gas inert = 10 - 12 %
PENGENDALIAN PROSES UNIT
REFRIGERANT SYSTEM
BEBERAPA VARIABEL PENGENDALIAN PROSES
MEMPENGARUHI UNJUK KERJA SISTEM
REFRIGERASI SBB :
1 . TEKANAN SISTEM TINGGI dapat terjadi bila :
- Beban compressor rendah Naikkan beban.
- Terjadi akumulasi gas inert tambah
pembuangan gas inert di 109-F
- Kurangnya pendinginan di kondenser amoniak
atur flow dan temp inlet pendingin.
2 . Kondensasi amoniak kurang sempurna
dapat disebabkan :
- Sistem pendinginan kurang sempurna .
- Akumulasi gas inert.
3. Tekanan dan Speed Compressor hunting
terjadi surging.
144F
NG
102J
108DA / DB
103D
101F
101J
102C
101C
101JT/
103JT
MS HEADER
101BJ1
101BJ2
HS
MS
UDARA
BFW
HS
GAS TO 104D
BCS
BCF
BCX
BCA1
BCA2
BCG
UDARA
PRIMARY & SECONDARY
REFORMER
150E
FROM
121J/JA
TO SU
133C
101B
TO FUEL
BCG
FROM BCG
102JT
101BJ1T/BJ2T,
104JT/JAT,121JT,107JBT,116JAT,108
JT/JAT,113JAT,124JAT,102JLJ1AT
H2 from
103J
BBS
TO 172C1
TO 173 C
BL
Import MP
Steam from
Existing &
WHB ( SU )
FROM 144 F
FROM 144 F
MS
400C
123 kg/cm
104C
399C
39 kg/cm
20kg/cm
1.7kg/cm
36kg/cm
326C
440C
510C
510C
950 1050 C
610C
435C
180C
351C
980C
747C
174C
320C
281C
347C
610C
685C
331C
825C
42kg/cm
- 7 mm H2 O
100 mm H2 O
HTS
LTS
131C
103 C1 / C2
GAS from 103D
BFW
from
104J
GAS TO
CO2
REMOVAL
CO SHIFT CONVENTER
HPS TO
101F
VENT
33 kg/cm
430C
351C
205C
226C
221C
425C
325C 123 kg/cm
154C
133C
203C
111C
101E
102E
133F
132F
105C 113C
108J
109C
107JAHT
106C
102F2
102F1
116J
107C
GAS TO
METHANATOR
CO2 PRODUCT
121J
150E
CO2 REMOVAL
108C
VENT
LPS
FC1017
107JA
VENT
107JB
107JC 3.5 kg/cm
156C
203C 129C
101C
82.8C
33C
125C
115C
71C
73C
0.82 kg/cm
119C
106D
114C 115C
104F
Syn gas
to Comp
103J
Syn gas out
Absorber
METHANATOR
TCA-1012
XV 1260
PC 1005
PC 1004
VENT
VENT
150 F
XV 1211 MOV 1011
From 121J
CW
To 150 J
To 103 E
32 kg/cm
285C
30 kg/cm
73C
285C
98C
313C
42C
From 103 L
From 109 DA / DB
105 D
106 F
NH
3
to TK801
NH
3
to UREA
120 C F
109 F
109
DA/DB
105 F2
105 F1
130C
103J
LP HP
LP HP
105JT
167C 128C
127C
124C 121C
123C1/C2
BFW
124J
102B
116C
129C
from 106D
103JT
VAPAUR to
103E
NH3 CONVERTER &
REFRIGERATION
113J
To PGRU To ZA I/III
107 F
VAPAUR to
103E
111L
FROM 105E
175 kg/cm
47C
113C
35C
56 kg/cm
94 kg/cm
110C
6C
29.5C
29.5C
33C
236C
260C
451C
505C
60C
35C
- 21C
- 17C
- 32C - 13C - 1C 13C
92C
15 kg/cm
0.05 kg/cm
15 kg/cm
24 kg/cm
16kg/cm 174 kg/cm
325C
123 kg/cm
6.5
3.5 1.5
PC 1009
PC 1006
HRU
H
2
LP
H
2
HP
NH
3
to
127C
NH
3

140C
141C
142C
141J
140J
103E 104E 105E
PURGE GAS FROM
105D
VAPOUR
FROM
109F ,
107F
PURGE GAS
TO Fuel 101B
PURGE GAS RECOVERY UNIT
EC140
MPS
203C
123 kg/cm
205C
60C
16 kg/cm
130 kg/cm
7 kg/cm
41C
35C
48C 40C
56kg/cm
31kg/cm
HRU
PC1038
120 CF
FC 1077
LC1026
LC1163
FCA1081
FCA1064
PC 1032
PC 1033
PC 1034
TC 1414
127 C
113J
FC 1027
LC1027
114C
115C
FRC 1011
PRC10211
PRC 1037
To 101 B
To Suct 103 J / TK 1
To Suct 103 J/ TK2
FC1038
PC1038
From 104 E
PC 1002
PC 1003
HC 1003
HC 1039 HC 1038 HC 1037 HC 1036
HC 1035
From HRU
NG
From BCX
PC 1019
To 103 D
PC 1001
144F
BBS
102B
109D
103 L
PC1005
101 E
104 D2
MOV 1002
PC 1006
PC 1004
TCA 1012
103 J
LC 1008
LC 1132
PC 1006
FC 1007
FC 1076
FC 1008
HC1030
LCA1159
LCA1011
103 L
101 BCF
STEAM BALANCE
101F
BBS
102C
101C
156F
109C
104J
106C
101JT
103JT
CONDENSER
MP STEAM HEADER
131C
103C2
103C1
123C1
123C2
101U
MPS IMPORT
MPS PORSES
HPS
101 F
101 C
157F
140 C
FC 1006
HC 1043
FC 1020
PCA 1031
LCA 1030
FC 1087
FY 1006 C
FY 1006 D
PCA 1015
PCA 1014
PCA 1017
TCA 1021
TCA 1020
PCA 1016
PC1012
PC1020
PCA 1018
PCA 1013
PCA 1014
PCA 1035
HC 1041
PC 1012
TCA 1005
PIC 1001
PCA 1015
TCA 1022 TCA 1020
HC 1028 HC 1029
102 C
PC 1006
144F
SEAL STEAM
PI
PI
PI
PIC
0001
LP STEAM
TO
CONDENSER
CW
OUT
CW
IN
GLAND
CONDENSER
ATM
PI
PI
0006
SET 3.5
kg/cm
PI
0005
PI
0010
TURBINE
HP
STEAM
IN LET
TO
CONDENSER
TTV
GOVERNOR
VALVE
PI
PI
PI
PIC
0001
LP STEAM
CW
OUT
CW
IN
GLAND
CONDENSER
PI
PI
0006
SET 3.5
kg/cm
PI
0005
TURBINE
TTV
GOV
ATM
101 JTC
CONDENSER
FLUSH
CHAMBER
CW
IN
CW
OUT
101 JTCC
ATM
VENT
HOGGING
JET
TO SU
FV 1032
114 J/JA
LV 1019
HS
MS
CW
IN
CW
OUT
103 JT ,
105 JT,
102 JT ,
101 JT,
104 JT
Make up Demin
INLET HP STEAM
STEAM LEAKS TO LS
LABIRINT SEAL
ROTOR
TURBINE BLADE
HOGGING
JET
FROM 101JT
101 JTC
101 JTC
AFTER
INTER
TRAP
TRAP
FROM 102JT
FROM 105JT
FROM
103JT
VENT
VENT
114J
SC to SU
Make up
DM
Drain
from
Turbine
LG
LS
30 60 90 120 150 180
10%
10%
4330 rpm
2390 rpm
2660 rpm - LPC
MGS 6137 rpm
MAX CONT SPEED 7581 rpm
CRITI CAL SPEEDS
3930 rpm - HPC
3600 rpm - ST
1500 rpm - Idle speed
500 rpm
HAND TRIP
TURNING
1000 rpm
WARMI NG UP
1
2
3
4
5
6
7
8
9
SPEED CONTROLLED BY
TTV BY GOV
NOR. EXH. PRESS.
EXH
PRESS
SPEED x
1000
TIME - MINUTES
0
START-UP DIAGRAM 101-JT
1
2
5
7
8
9
EXH
PRESS
SPEED x
1000
TIME - MINUTES
START-UP DIAGRAM 103-JT
0
10
11
START-UP DIAGRAM 102-JT
30 60 90 120 150
10%
10%
7200 rpm
5300 rpm
1000 rpm
WARMING UP
3
4
6
HAND TRIP
MGS 10741 rpm
CRITICAL SPEEDS
EOST 14463 rpm
NORMAL 12637 rpm
MAX 13269 rpm
3000 rpm
NOR. EXH. PRESS.
SPEED CONTROLLED
30 60 90 120 150 180
10%
10%
5830 rpm
3550 rpm
CRITICAL SPEEDS
1500 rpm - Idle speed
500 rpm
HAND TRIP
TURNING
1000 rpm
WARMING UP
1
2
3
4
5
6
7
8
9
NOR. EXH. PRESS.
EXH
PRESS
SPEED x
1000
TIME - MINUTES
START-UP DIAGRAM 103-JT
0
SPEED CONTROLLED BY
TTV / TRISEN
BY GOV
MAX CONT SPEED 10857 rpm
MGS 7600 rpm
10
11
EOST 11550 rpm
START-UP DIAGRAM 103-JT
10.2 in Hg abs. (500 mm HG Vac.)
SPEED CONTROLLED
30 60 90 120 150 180
10%
10%
4840 rpm
3825 rpm
CRITICAL SPEEDS
1500 rpm - Idle speed
500 rpm
HAND TRIP
TURNING
WARMING UP
1
2
3
4
5
6
7
8
9
EXH
PRESS
SPEED x
1000
TIME - MINUTES
START-UP DIAGRAM 103-JT
0
SPEED CONTROLLED BY
TTV / TRISEN
10
11
EOST 11761 rpm
START-UP DIAGRAM 105-JT
1500 rpm
MAX CONT SPEED10790 rpm
MGS 8735 rpm
NOR. EXH. PRESS.
BY GOV
OIL SYSTEM
LO 101 J
LO 102 J
LO 103 J
LO 105 J
SO 103 J LP
SO 103 J HP
SO 105 J LP
SO 105 J HP
GO 101 J
GO 102 J
GO 103 J
GO 105 J
102 JLJ 1M 102 JLJ 1AT
102 JLC
A / B
102 JLF 2
102 JLF 3
102 JLJ 2M / 2AM
LP BOSTER
102 JLJ 3M / 3AM
HP BOSTER
102 JLL
A / B
102 JLL2
A / B
102 JLL3
A / B
LV 6003
LV 6503
102 JLF 1
162.8 M3/H
N 6.8 kg / cm
PSL 6001 = 5.62 kg / cm
Normal = 1.47 kg / cm
PSL 6101 = 0.84 kg / cm ALARM
PSLL 6102 = 0.56 kg / cm TRIP
PSL 6201
PSLL 6202
PSL 6501
PSLL 6502
PSL 6301
PSLL 6302
Normal = 2.94 kg cm
PDSL 6507 = 1.5 kg / cm ALARM
PDSLL 6508 = 1.3 kg / cm TRIP
PDSL 6505 = 1.5 kg / cm ALARM
PDSLL 6506 = 1.3 kg / cm TRIP
LV 120
SO 102 J
Normal = 9 . 14 kg / cm
Normal = 17.9 kg / cm
Max = 21.4 kg / cm
LSL 6301 HP Bos Auto start
L5LL 6302
LSL 6303 HP Bos Auto start
L5LL 6304
Normal = 35 kg / cm
Auto start = 26.2 kg / cm
PC 6123
RISET SOV
TRIP BUTTON
RISET BUTTON
PEDESTAL
SOV
POWER PISTON
ELECTRIC HIDROLIC
GOVERNOR
TTV
115 F
118 F
115 L
114 F
LP S
111 J
115J
Blow
down dari
132F
To 109 C
SIRKULASI LARUTAN
BENFIELD
PI
DRAIIN
1
2
3
4
5
6
7
9
8
10 11
12
TI
LV 1015
PV 1028
XV 1274
MPS
LPS
113 JA 113 JAT
METANOL
109 F
FROM 105 J
TO 103 E
TO 120 CF
LCA1015
LCA1016
TO UREA
FO
PV 1109
HS 1274
XV 1276
MPS
LPS
116 JAT
FO
HS 1276 FSLL 1016
116 JA
CW
FC 1016
TC 1006
CO2
LC 1040
107 C
102 E
CW
LV 1003A
LV 1003B
LT 1003
LIC
1003
LC1025
LSHH
1003
LAL
LV 1025
XV1277
121 JAT
121 JA
188C3
150 E
102 F1
174 C
188C2
188C1
DRAIN
MP S
LP S
SU
FC 1019
MP S
To 101 E
HS 1277
From 150 J
STEAM
PROSES
Inlet Gas
FC 1002
XV 1269
HS 1269
FSL 1014
108 J
108 JT
102 E
FIC 1014
MP S
To 101E
109 C
104 L
FV 1014
DW

GAS ALAM
101B
out
103D
out

104D1
out
104D
2 out
101E
out
102E
out

106D
out

105D
IN
105D
OUT
HRU
HP
HRU
LP
N2 0.828 CO2 11.28 7.92 16.04 18.02 0.13 99.75 ND
CH4 85.86 Ar 0.010 0.30 0.21 0.28 0.34 0.01 0.32 3.53 4.04 0.96 1.04
CO2 0.740 N2 0.23 22.36 20.55 19.93 24.34 0.04 25.65 22.03 18.05 1.88 2.14
C2H6 6.324 CH4 12.08 0.22 0.21 0.22 0.27 0.80 7.80 8.87 1.35 1.36
C3H8 3.896 CO 9.05 11.92 2.69 0.18 0.21 ND
I-
C4H10
0.844 H2 67.34 57.28 60.24 61.37 74.71 0.28 73.23 65.13 52.55 95.81 95.46
N-
C4H10
0.914 NH3 1.51 18.49
I-
C5H12
0.295
Ratio 2.56 2.93 3.08 3.07 2.96 2.91
N-
C5H12
0.187
C6+ 0.107
KOMPOSISI GAS
PROSES PEMBUATAN
AMONIAK
BENANG PRISMA
REFORMER
ROTOR 103 JT
101 F & HTS
COIL 102 B
PGRU & HRU
SIFAT DAN BAHAYA AMONIAK CAIR
Sifat Fisika :
Warna Cair : Tidak berwarna
Warna Gas : Tidak berwarna
Bau Cair / Gas : Tajam / Menyengat
Sifat Kimia :
Bersifat Alkali / basa
Gas sangat mudah larut dalam air
Kontak dengan Hg , Cl2 , I2 , Br2 , Perak Oksida ,
Hypoclorit akan membentuk komposisi yang mudah meledak.
Gas NH3 sangat reaktif terhadap NO2 dan Asam kuat
Gas NH3 sangat korosif terhadap Tembaga , Alloy yang
mengandung Tembaga

Bahaya Amoniak Terhadap Manuasia
NAB Amoniak : 50 ppm dalam 8 jam
Amoniak Cair bila mengenai kulit menyebabkan luka Bakar
Konsentrasi Gas NH3 di Udara
5 ppm : Berbau dan dikenali
25 ppm : Diizinkan selama 8 Jam
50 - 100 ppm : Menyebabkan Iritasi dan dapat ditahan selama 2 jam oleh orang yang terbiasa.
400 - 700 ppm : Menyebabkan Iritasidengan cepat pada mata , hidung dan kerongkongan .
Dalam waktu 0,5 - 1jam tidak terjadi kerusakan serius.
1000 - 2000 ppm : Menyebabkan iritasi dan batuk batuk dan iritasi hebat pada mata , hidung
, kerongkongan Dalam beberapa saat akan merusak mata dan alat pernafasan ,
dalam waktu . 30 menit menyebabkan kerusakan serius.
3000 4000 ppm : Menyebabkan iritasi dan batuk batuk dan iritasi hebat pada mata , hidung ,
kerongkongan Dalam waktu 30 menit menyebabkan kerusakan Fatal / Kematian.
5000 12000 ppm : Terjadi kejang nafas dan sesak dada dengan cepat . Terjadi kematian dalam
beberapa menit.

HTS / LTS
DESULFURIZER
METHANATOR
SECONDARY REFORMER
SURFICE CONDENSER
CO2 REMOVAL
DEAERATOR
CO2 FLUSH DRUM