Anda di halaman 1dari 12

PENGOBATAN TRADISIONAL BAHAN HERBAL TEMULAWAK

(Curcuma xanthorrhiza)
MAKALAH TERAPI KOMPLEMENTER







Oleh:
Kelompok 3
Eurusia Ita Bria Nim 131211123018
Eveline P. M. Mau Nim 131211123018
Firman M. Safri Nim 131211123018
Merry Farida Nim 131211123018
Muhamad Zainudin Nim 131211123018

PROGRAM STUDI NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2013
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Temulawak merupakan terna tahunan, berbatang semu, berwarna hijau
dan coklat gelap. Temulawak termasuk salah satu jenis temu-temuan yang
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Asia Tenggara. Temulawak
sudah lama dimanfaatkan oleh mereka oleh berbagai keperluan. Temulawak
dapat dimanfaatkan sebagai obat, sumber karbohidrat, bahan penyedap
masakan dan minuman, serta pewarna alami untuk makanan dan kosmetika.
Karenanya, di dalam daftar tumbuhan obat Indonesia, temulawak termasuk
tanaman yang prospektif untuk dikembangkan. Temulawak sudah
dimanfaatkan masyarakat kita sejak zaman dahulu. Semua bagian tanaman
temulawak dapat dimanfaatkan. Hanya, bagian yang paling berharga dan dapat
dimanfaatkan untuk beberapa macam keperluan adalah rimpangnya (Afifah,
2003).
Kasiat temulawak sebagai obat telah lama dikenal, baik di dalam
negeri maupun di luar negeri, terutama di Jerman dan Belanda. Dalam
farmakope Indonesia, temulawak termasuk salah satu simplisia yang harus
tersedia di apotik. Khasiat temulawak telah banyak diketahui berdasarkan
pengalaman (empiris) dan hasil penelitian. Penelitian-penelitian tentang
manfaat temulawak telah banyak dilakukan baik di Indonesia maupun di luar
negeri sehingga tanaman ini menjadi suatu fitofarmaka (Rukmana, 1995).
Seiring dengan kecenderungan back to nature, keberadaan temulawak
tidak luput dari perhatian para pengobat tradisional yang menggunakan
temulawak untuk menyembuhkan penyakit. Pada makalah ini akan di bahas
secara rinci tentang morfologi, manfaat, serta cara pengolahan temulawak.

1.2.Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengobatan tradisional

1.2.2. Tujuan Khusus
1. Menjelaskan klasifikasi temulawak
2. Menjelaskan morfologi temulawak
3. Menjelaskan kandungan dan senyawa kimia temulawak
4. Menjelaskan manfaat temulawak
5. Menjelaskan cara pengolahan temulawak
6. Efek farmakologi temulawak


















BAB 2
PEMBAHASAN
2.1. KLASIFIKASI
Nama spesies : Curcuma xanthorrhiza
Kerajaan : Plantae
Divisa : Magnoliophyta
Updivisi : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
2.2.MORFOLOGI
Curcuma xanthorrhiza di daerah jawa disebut temu lawak, di Sunda
disebut koneng gede, sedangkan di Madura disebut temu labak adalah
tumbuhan obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae).
Bentuknya seperti tumbuhan kunyit tetapi dengan ukuran rimpang
lebih besar dari kunyit. Temu lawak berasal dari Indonesia, khususnya
Pulau Jawa, kemudian menyebar ke beberapa tempat di kawasan
wilayah biogeografi Malesia. Saat ini, sebagian besar budidaya temu lawak
berada di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina tanaman ini selain
di Asia Tenggara dapat ditemui pula di China, Indochina, Barbados,
India, Jepang, Korea, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.
Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah sampai
ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut dan berhabitat di hutan tropis.
Rimpang temu lawak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah
yang gembur.



2.3.KANDUNGAN DAN SENYAWA KIMIA
Rimpang temulawak mengandung zat kuning kurkumin, minyak asiri,
pati, protein, lemak (fixed oil), selulosa dan mineral. Diantara komponen
tersebut, yang paling banyak kegunaannya adalah pati, kurkuminoid, dan
minyak asiri. Ketiganya banyak digunakan, baik dalam industry maupun
dalam rumah tangga.
Pati merupakan komponen kimia terbesar dari rimpang temulawak.
Pati temulawak berwarna putih kekuningan karena mengandung kurkuminoid.
Kadar protein pati temulawak lebih tinggi dibandingkan dengan pati tanaman
lainnya. Kadar protein pati temulawak sebesar 1,5% sedangkan pati jagung
hanya 0,8%, pati gandum 0,6%, dan pati kentang 0,4%. Komposisi pati
temulawak lebih lanjut dapat dilihat dalam tabel berikut:
No Komponen Besaran
1 Abu 0,37%
2 Protein 1,52%
3 Lemak 1,35%
4 Serat Kasar 0,80%
5 Karbohidrat 79,96%
6 Kurkumin 15,00 ppm
7 K 11,45 ppm
8 Na 6,38 ppm
9 Ca 19,07 ppm
10 Mg 12,72 ppm
11 Fe 6,68 ppm
12 Mn 0,82 ppm
13 Cd 0,02 ppm

2.4. MANFAAT
Kandungan dalam temu lawak bermanfaat sebagai anti inflamasi
(anti radang) dan anti hepototoksik (anti keracunan empedu). Temu lawak
memiliki efek farmakologi yaitu, hepatoprotektor (mencegah penyakit
hati), menurunkan kadar kolesterol, anti inflamasi (anti
radang), laxative (pencahar), diuretik (peluruh kencing), dan
menghilangkan nyeri sendi. Manfaat lainnya yaitu, meningkatkan nafsu
makan, melancarkan ASI, dan membersihkan darah.
Selain dimanfaatkan sebagai jamu dan obat, temu lawak juga
dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dengan mengambil patinya,
kemudian diolah menjadi bubur makanan untuk bayi dan orang-orang
yang mengalami gangguan pencernaan. Di sisi lain, temu lawak juga
mengandung senyawa beracun yang dapat mengusir nyamuk, karena
tumbuhan tersebut menghasilkan minyak atsiri yang
mengandung linelool, geraniol yaitu golongan fenol yang mempunyai
daya repellan nyamuk Aedes aegypti.
2.5. CARA PENGOLAHAN
Temu lawak dapat diolah dengan berbagai cara tetapi
memperhatikan syarat pemilihan yaitu rimpang temulawak harus sehat
bebas gangguan hama tanaman dan busuk serta sudah cukup matang (tidak
terlalu muda) agar khasiatnya sesuai dengan yang diharapkan. Pengolahan
diawali dengan sortifikasi basah, kemudian diolah sesuai kebutuhan
melalui perebusan, pemipisan, pengeringan dalam bentuk irisan maupun
serbuk, kapsul, dan lain sebagainya.
Ada beberapa cara pengolahan temulawak sebagai obat antara lian yaitu :
1. Penambah nafsu makan
Kandungan minyak atsiri dalam temulawak ternyata mampu
memberikan efek karminativum sehingga mengkonsumsi temulawak dapat
berguna untuk menigkatkan nafsu makan. Inilah alasan temulawak
dianjurkan kepada anak-anak.
Cara pengolahan :
1) Siapkan 25 gram temulawak, 10 gram asam jawa, dan gula merah
secukupnya.
2) Cuci temulawak hingga bersih dan kupas kulitnya
3) Memarkan temulawak hingga pecah (jangan ditumbuk sampai
halus)
4) Masukan temu lawak yang sudah di hancurkan tadi bersam dua
bahan lainnya ke dalam panci yang bebas dari bahan alumunium
atau timah dan rebus bersama air putih 600 ml.
5) Rebus kesemua bahan tadi sampai hingga air rebusannya tinggal
tersisa sekitar setengahnya saja.
6) Tunggu sampai dingin, saring lalu minum secara teratur.

2. Mengobati sakit maag
Kandungan serbuk rimpang ternyata mempunyai khasiat untuk
memperbaiki dan menetralkan produksi asam lambung. Bahkan maag akut
sekalipun akan berangsur-angsur sembuh jika kita telaten meminum air
sari temulawak.
Cara Pengolahan:
1) Siapkan satu rimpang temu lawak yang masih segar.
2) Cuci sampai bersih lalu kelupas kulitnya
3) Iris temulawak tipis-tipis
4) Rebus dengan 5 gelas air putih.
5) Tunggu sampai mendidih.
6) Minum teh temulawak ini secara teratur paling tidak satu gelas per
hari.
7) Anda juga bisa menambahkan madu secukupnya pada teh
temulawak yang sudah dingin.

3. Menjaga kesehatan organ hati
Rimpang temulawak memiliki efek hepatoprotektor yaitu sebagai
detoksin (anti racun) pada organ hati manusia.
Cara Pengolahan:
1) Siapkan 15-20 gram temulawak.
2) Cuci hingga bersih lalu parut sampai halus.
3) Campurkan sedikit air dalam ampas temulawak.
4) Peras ampas temulawak sampai keluar air sarinya.
5) Tambahkan 400 ml air putih.
6) Rebus air sari temulawak hingga mendidih.
7) Tunggu sampai dingin dan minum sehari satu kali.

4. Memperbanyak Produksi ASI
Cara Pengolahan:
1) Siapkan 7-10 jari temulawak dan tepung sagu secukupnya.
2) Cuci temulawak sampai bersih lalu kelupas kulitnya.
3) Parut temulawak sampai benar-benar halus.
4) Campur sari temulawak ini dengan tepung sagu.
5) Tunangkan air panas secukupnya lalu aduk hingga menjadi bubur.
6) Konsumsi bubur temulawak ini secara rutin (anda juga bisa
menambahkannya dengan gula merah sesuai selera).

5. Menghilangkan Jerawat
Cara Pengolahan:
1) Siapkan satu jari rimpang temulawak.
2) Cuci temulawak sampai bersih lalu memarkan.
3) Rebus dalam 4 gelas air putih.
4) Tunggu hingga mendidih sampai air rebusan tinggal tersesa
setengahnya.
5) Tunggu sampai dingin dan minum dua kali sehari satu gelas.

6. Mengatasi Gangguan Ginjal
Cara Pengolahan:
1) Siapkan 2 rimpang temulawak, satu genggam daun kumis kucing
yang masih segar, 1 genggam daun kacabeling (meniran) segar, dan
gula merah (gula jawa) secukupnya.
2) Cuci semua bahan kecuali gula merah sampai bersih.
3) Kupas rimpang temulawak lalu iris tipis-tipis.
4) Masukkan semua bahan dalam panci.
5) Rebus semua bahan dalam 1 liter air.
6) Tunggu hingga air mendidih sampai air yang tersisa tinggal
setengahnya.
7) Saring air rebusan dari ampasnya.
8) Tunggu sampai dingin dan minum satu gelas sehari.

7. Pengobatan Penyakit Hepatitis B
Cara pengolahan:
1) Siapkan 10 gram rimpang temulawak, 7 gram kunyit, 10 gram daun
sambiloto kering, dan 40 gram alang-alang.
2) Cuci semua bahan tadi sampai bersih.
3) Memarkan temulawak dan kunyit, lalu rebus dalam 1 liter air
bersama daun sambiloto dan alang-alang.
4) Tunggu sampai mendidih dan hanya menyisakan setengah bagian
airnya.
5) Tunggu sampai kering, saring, lalu minum 2 kali sehari 1/2 gelas.
6) Anda juga bisa menambahkan maduatau gula merah untuk
menghilangkan rasa pahit. Disarankan untuk menambahkan madu
saat minuman sudah dingin.

8. Mengobati sakit kepala dan masuk angin
Cara pengolahan :
1) Beberapa rimpang temulawak.
2) Cuci bersih
3) Temulawak diiris tipis-tipis, dikeringkan dan ditumbuk halus
menjadi tepung.
4) Ambil kurang lebih 2 genggam tepung temulawak direbus dengan
4-5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 3 gelas, kemudian
disaring disaring.

9. Mengurangi Asma
Cara pengolahan :
1) Siapkan 1 setengah rimpang temulawak, 1 potong gula aren.
2) Cuci temulawak sampai bersih
3) Temulawak diiris tipis-tipis dan dikeringkan.
4) Setelah kering direbus dengan 5 gelas air putih ditambah 1 potong
gula aren
5) Rebus sampai mendidih hingga tinggal 3 gelas, kemudian disaring
dan minum.

2.6.EFEK FARMAKALOGI TEMULAWAK
Umumnya, pengujian untuk melihat aktivitas farmakologi dilakukan terhadap
hewan percobaan. Hasil penelitian mengenai daya kerja farmakologinya dapat
dijadikan petunjuk terhadap khasiat terapeutik (unsure atau nilai pengobatan).
Secara umum, efek farmakologis zat aktif yang terkandung dalam rimpang
temulawak dapat dilihat dalam tabel berikut:
No Nama Zat Aktif Efek Farmakologi
1 Germakron Anti-inflamasi (antiperadangan),
dan penghambat aedema
(pembengkakan)
2 p-toluilmetillkarbinol
dan seskuiterpen d-
kamper
Meningkatkan produksi dan sekresi
empedu
3 Turmeron Antimikroba (antibiotik)



DAFTAR PUSTAKA
Afifah, 2003, Kasiat dan Manfaat Temulawak, Jakarta: Agro media pustaka
Rukmana, 1995, Temulawak Tanaman Rempah dan Obat, Yogyakarta: Kanisius
Ramuan temulawak untuk berbagai penyakit http://akupastisehat.com/2013/.html.
Dilihat senin tanggal 09 november 2013 pukul 20. 40
Temulawak. http://id.wikipedia.org/. Dilihat senin tanggal 09 november 2013
pukul 20. 00
TanamanObat http://www.iptek.net.id/. Dilihat senin tanggal 09 november 2013
pukul 20. 20