Anda di halaman 1dari 18

Penentuan Potensi Antibiotika

I. TUJUAN
Menentukan besarnya potensi sampel antibiotika di pasaran terhadap
antibiotika standar.
II. PRINSIP
1. Membandingkan Respon
Yaitu membandingkan derajat hambatan pertumbuhan dari jasad renik
yang peka dan sesuai dalam kondisi pertumbuhan yang sama dari dosis
sediaan yang diperiksa (kontrol) terhadap dosis sediaan baku.
2. Metode Penetapan dengan Metode Lempeng Silindris !i"usi
#at yang diperiksa akan berdi"usi dari reser$oir ke dalam media agar yang
telah diinokulasikan dengan bakteri% diameter &ona bening diukur dan
dibandingkan dengan larutan standar baku.
'. Pengen(eran )ertingkat
Memperoleh konsentrasi yang lebih ke(il dengan (ara menambahkan
pelarutnya.
*
1
+
1
, *
2
+
2
!imana *
1
, $olume a-al
*
2
, $olume akhir
*
1
, konsentrasi a-al
*
2
, konsentrasi akhir
III.TEORI DASAR
.ntibiotika adalah senya-a kimia yang dihasilkan oleh berbagai jasad
renik bakteri% jamur% dan aktinomises% yang dapat berkhasiat menghentikan
pertumbuhan atau membunuh jasad renik lainnya (Subronto% 2/11).
.ntibiotika yang diperoleh se(ara alami dari mikrooganisme disebut
antibiotika alami% antibiotika yang disintesis di laboratorium disebut antibiotika
sintesis. .ntibiotika yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan dimodi"ikasi di
laboratorium dengan menambahkan senya-a kimia disebut antibiotika
semisintesis (Subronto% 2/11).
.ntibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba termasuk
ri"ampisin dan kuinolon. Ri"ampisin adalah salah satu deri$at ri"amisin% berikatan
dengan en&im polimerase0R+. sehingga menghambat sintesis R+. dan !+.
oleh en&im tersebut. 1olongan kuinolon menghambat en&im !+. girase pada
kuman yang "ungsinya menata kromosom yang sangat panjang menjadi bentuk
spiral sehingga bisa muat dalam sel kuman yang ke(il (Ru"aidah% 2/11).
!alam 2armakope 3ndonesia dinyatakan bah-a semua potensi adalah
perbadingan dosis sediaan uji dengan dosis larutan standar atau larutan
pembanding yang menghasilkan derajat pertumbuhan yang sama pada biakan
jasad renik yang peka dan sesuai. .kti$itas (potensi) antibiotik dapat ditunjukan
pada kondisi yang sesuai dengan e"ek daya hambatannya pada mikroba. Suatu
penurunan akti$itas antimikroba juga dapat menunjukan perubahan ke(il yang
tidak dapat ditunjukan oleh metode kimia% sehingga pengujian mikrobiologi atau
biologi biasanya merupakan suatu standar untuk mengatasi keraguan tentang
kemungkinan hilangnya akti$itas. 2armakope 3ndonesia menentukan bah-a
potensi antibiotika standar berkisar antara 4501/5 6. +amun potensi tersebut
dapat menurun karena kadalu-arsa% penyimpanan yang tidak benar% dan
terjadinya penguraian obat yang menghasilkan &at lain yang tidak memiliki e"ek
lagi (!epkes% 1474).
.da dua metode umum pengujian potensi antibiotika yang dapat
digunakan8
1. Metode Penetapan dengan Lempeng Silinder
Metode ini berdasarkan di"usi antibiotika dari silinder yang dipasang tegak
lurus pada lapisan agar dapat dalam (a-an petri atau lempeng% sehingga
mikroba yang ditambahkan dihambat pertumbuhannya pada daerah berupa
lingkaran atau &ona di sekeliling silinder yang berisi larutan antimikroba.
2. Metode 9urbidimetri
Metode ini berdasarkan hambatan perkembangbiakan mikroba dalam
larutan serba sama antibiotika% dalam media (air yang dapat menumbuhkan
mikroba dengan (epat bila tidak terdapat antibiotika (Pel(&ar% 14:;).
KLORAMFENIKOL
<loram"enikol semula diperoleh dari sejenis Streptomy(es (14=7)% tetapi
kemudian dibuat se(ara sintetis. .ntibiotikum broadspectrum ini berkhasiat
terhadap hampir semua kuman 1ram0positi" dan sejumlah kuman 1ram0
negati"% juga terhadap spirokhaeta% Chlamydia trachomatis dan My(oplasma.
9idak akti" terhadap kebanyakan suku Pseudomonas% Proteus% dan
>nteroba(ter (Muts(hler% 1441).
?bat ini merupakan obat yang paling unggul terhadap basil ti"us.
<eberatannya adalah tidak berkhasiat mematikan kuman% sehingga seringkali
timbul @pemba-a basilA% juga dapat mengakibatkan anemia aplastis "atal.
Resistensi sudah sering dilaporkan (Muts(hler% 1441).
<hasiatnya bersi"at bakteriostatis terhadap Enterobacter dan Staph.
aureus berdasarkan peringatan sintesa polipeptida kuman. <loram"enikol
bekerja bakterisid terhadap Str. pneumoniae% Neiss. meningitides% dan H.
influenzae. Resistensi dapat timbul dengan agak lambat (tipe banyak tingkat)%
tetapi resistensi ekstra0kromosomal melalui plasmid juga terdapat% antara lain
terhadap basil ti"us perut (Muts(hler% 1441).
Escherichia coli
<lasi"ikasi Escherichia coli 8
<ingdom 8 )a(teria
2ilum 8 Proteoba(teria
<elas 8 1amma Proteoba(teria
?rdo 8 >nteroba(teriales
2amili 8 >nteroba(teria(eae
1enus 8 Escherichia
Spesies 8 Escherichia coli (1hana%2/12)
E coli adalah anggota "lora usus normal. )akteri enterik lain (spesies
Proteus% >nteroba(ter% <lebsiella% Morganella% Pro$iden(ia% Bitroba(ter% dan
Serratia) juga ditemukan sebagai anggota "lora usus normal tetapi masih lebih
jarang dibandingkan Escherichia coli. )akteri enterik kadang0kadang ditemukan
dalam jumlah ke(il sebagai bagian dari "lora normal saluran perna"asan bagian
atas dan saluran genital. )akteri enterik pada umumnya tidak menyebabkan
penyakit% dan dalam usus mungkin berperan terhadap "ungsi dan nutrisi normal.
<etika terjadi in"eksi yang penting se(ara klinik% biasanya disebabkan oleh
Escherichia coli% tetapi bakteri enterik lain adalah penyebab in"eksi yang didapat
di rumah sakit dan kadang0kadang menyebabkan in"eksi yang didapat dari
komunitas (Ca-et&% 144;).
IV.ALAT DAN BAHAN
=.1 .lat
Ba-an petri
3nkubator
Cangka sorong
Lampu spirtus
Mikropipet
Per"orator
Rak tabung
Spatel
9abung reaksi
*olume pipet berukuran 1 ml dan 1/ ml
=.2 )ahan
.Duadest
Larutan desin"ektan
Media nutrient agar
Pelarut sediaan uji
Sediaan antibiotika standar dan sampel (kloram"enikol)
Suspensi Escherichia coli
=.' 1ambar alat

Ba-an petri 3nkubator Cangka sorong

Lampu spirtus Mikropipet Rak 9abung

Spatel 9abung reaksi *olume pipet
VI. DATA PENAMATAN
!." Tabe# $an $osis %en&en'e(an
<onsentrasi kloram"enikol dalam labu ukur , 25/ mg1// ml
, 25//// Eg1// ml
, 25// Egml
<onsentrasi untuk larutan sampel
Dosis Tin&&i )*++ ,&-.#/
*
1
F +
1
, *
2
F +
2
*
1
F 25// Egml , 1/ ml F 2// Egml
*
1
, 2/// Eg 25// Egml
*
1
, /%: ml
.Duadest yang ditambahkan , 4%2 ml
Dosis Ten&a0 )"++ ,&-.#/
*
1
F +
1
, *
2
F +
2
*
1
F 2// Egml , 1/ ml F 1// Egml
*
1
, 1/// Eg 2// Egml
*
1
, 5 ml
.Duadest yang ditambahkan , 5 ml
Dosis Ren$a0 )1+ ,&-.#/
*
1
F +
1
, *
2
F +
2
*
1
F 5/ Egml , = ml F 5/ Egml
*
1
, 2// Eg 5/ Egml
*
1
, = ml
.Duadest yang ditambahkan , 2 ml
Tabe# Pen&en'e(an
No Dosis Kete(an&an Va(iasi
Pen&en'e(an
La(utan
sto'k
1 !9 !osis 9inggi 2// Egml
25// Egml
2 !M !osis Menengah 1// Egml
' !R !osis Rendah 5/ Egml
!.* Data %en&a.atan $an %e(0itun&an %otensi
2a3an %et(i
La(utan baku )'./ La(utan sa.%e# )'./
Tin&&i
)Bt/
Menen&a0
)B./
Ren$a0
)B(/
Tin&&i
)St/
Menen&a
0 )S./
Ren$a0
) S(/
3 1%2 1%1; 1%/= 1%12 1%/5 /%45
33 1%' 1%1'5 1%/' 1%' 1%1 1%/:
Cumlah 2%/7 2%245 2%5 2%=2 2%15 2%;'
Rata4(ata "5+61 "5"781 "5*1 "5*" "5+81 "5+"1
<eterangan 8
)t , !osis )aku 9inggi
)m , !osis )aku Menengah
)r , !osis )aku Rendah
St , !osis Sampel 9inggi
Sm , !osis Sampel Menengah
Sr , !osis Sampel Rendah
Pe(0itun&an Potensi
3 , Log , Log , Log 2 , /%'/1/24
> , G ( St 0 Sr ) H ()t 0 )r)
, G ( 1%210 1%/5) H (1%2501%/'5)
, G /%145 H /%215I
, F /%=1
, /%1/25
) , , , /%'=/=
2 , G ( St H Sm H Sr) H ()t H )m H )r) I
, G ( 1%/15 H 1%/75 H 1%21) J (1%25 H 1%=75 H 1%/'5 )I
, G '%' J '%=2'5I
, G 0 /%1'25I
, 0 /%/==1;7
M , , , 0/%12475
Potensi sampel , antilog M F 1//6
, antilog (0/%12475) F 1//6
, /%7=17 F 1//6
, 7=%17 6
!.6 a.ba( Hasi#
2A9AN AMBAR
I
II
VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan penentuan potensi antibiotika
dengan tujuan untuk mengetahui besarnya potensi sampel terhadap
antibiotika standar. Suatu antibiotik akan menghambat pertumbuhan atau
membunuh bakteri pada konsentrasi tertentu.Pada suatu konsentrasi antibiotik
dapat menjalankan "ungsinya dengan baik . !an kosentrasi tersebut akan
tere"leksikan melalui besarnya daya hambat dari antibiotika tersebut . Potensi
antibiotika standar berkisar antara 4560 1/56 % diluar dari rentang tersebut
dikatakan bah-a sampel tidak memenuhi syarat untuk diedarkan dipasaran
Potensi dari suatu antibiotik dapat ditentukan dengan mengukur &ona
bening. Pada praktikum kali ini dalam menentukan potensi suatu antimikroba%
metode yang digunakan adalah metode penetapan dengan lempeng silinder.
Metode ini menggunakan per"orator sebagai alat untuk membuat lubang pada
media agar yang telah berisi inokulum bakteri di dalam (a-an petri . Potensi
antibiotik dapat ditunjukkan pada kondisi yang sesuai dengan e"ek daya
hambatannya pada mikroba. Potensi dapat ditentukan dengan mengukur &ona
bening yang dihasilkan sampel dengan &ona bening yang dihasilkan antibiotik
standar. Syarat penggunaan biakan bakteri yang dipakai adalah harus biakan
murni yang artinya bakteri yang diambil dari alam se(ara langsung kemudian
dibiakkan bukan dari bakteri yang diisolasi dari laboratorium klinis (sampel
darah % "eses % urin dan lain0lainya).
Pada per(obaan ini antibiotik yang digunakan adalah kloram"enikol
dan suspensi bakterinya adalah Escherichia coli. Menurut "armakope dosis
tengah dari <loram"enikol adalah 5/ Egml.Pengujian potensi antibiotika ini
menggunakan kloram"enikol yang beredar di pasaran dengan kloram"enikol
baku.<loram"enikol yang baku adalah kloram"enikol yang sesuai dengan
standar 2armakope 3ndonesia. Sebelum dilakukan praktikum ini dilakukan
pengen(eran perhitungan konsentrasi . Kal ini dilakukan untuk
mempermudah untuk penentuan nilai dosis tertinggi dan dosis terendah yang
ingin digunakan antibiotika ini yaitu kloram"enikol. <onsentrasi
kloram"enikol pada a-alnya adalah 25// Egml. Pengen(eran yang
dilakukan pada praktikum kali ini adalah pengen(eran bertingkat.
Pengen(eran bertingkat dapat memperke(il atau mengurangi jumlah mikroba
yang tersuspensi dalam (airan. !ari peren(anaan konsentrasi % telah
ditentukan konsentrasi pada dosis tinggi yaitu 2// Egml % untuk
mendapatkannya ditambahkan /%: ml dari 25// Egml lalu ditambahkan
aDuadest sebesar 4%2 ml % ini merupakan dosis tingginya.Pada saat prosedur
pembuatan larutan sampel dengan dosis tinggi ini praktikan melakukannya
dengan $olume pipet 1 ml dan 1/ ml % pada saat penambahan aDuadest
diperkirakan aDuadest yang ditambahkan kurang tepat dikarenakan pada saat
menggunakan $olume pipet $olume pipet dalam keadaan tidak lurus sehingga
dalam melihat batas akhir kurang teliti . <urang tepatnya jumlah dari
penambahan aDuadest ini adalah yaitu dapat mempengaruhi hasil dari
pengen(eran yang akan diperoleh. Pada dosis yang menengah %
konsentrasinya adalah 1// Egml sesuai dengan yang ada di "armakope untuk
mendapatkannya di(ampurkan 5 ml dari kloram"enikol 2// Egml lalu
ditambahkan aDuadest 5 ml% inilah dosis menengah nya. Pada dosis rendah %
konsentrasinya adalah 5/ Egml % untuk mendapatkannya di(ampurkan 2 ml
ml kloram"enikol dari 1// Egml dan di(ampurkan aDuadest sebanyak = ml
ini untuk dosis rendahnya. Setelah dilakukan pengen(eran pada sampel
dilakukan pengen(eran terhadap larutan baku dengan prosedur yang sama dan
jumlah aDuadest yang ditambahkan juga sama % sehingga didapatkan ; tabung
yaitu sampel dengan dosis tinggi% sampel dengan dosis rendah% sampel
dengan dosis menengah % larutan baku dengan dosis tinggi larutan baku
dengan dosis tinggi% larutan baku dengan dosis menengah% larutan baku
dengan dosis rendah. !osis tengah ini merupakan dosis terke(il dimana
antibiotik dapat menambat pertumbuhan bakteri% sehingga diusus ini
digunakan !an didapatkan konsentrasi untuk larutan baku dan larutan
sampel yang dianggap sama. !ari se(ara keseluruhan pada saat prosedur
pengen(eran ini terdapat beberapa kesalahan yaitu penambahan aDuadest
yang kurang tepat dan keadaan yang kurang aseptis karena pada saat
pembuatan ada beberapa saat dalam keadaan yang jauh dari api.
Setelah dilakukan pengen(eran pada pada keenam tabung % dilakukan
pembagian pada pemukaan ba-ah (a-an petri menjadi ; area sama besar.
Setiap area ini diberi label di daerah untuk sampel dosis tinggi sampai rendah
dan larutan baku tinggi sampai rendah untuk mempermudah pengamatan %
untuk &ona larutan baku tinggi dan sampel tinggi diusahakan untuk tidak
berdekatan dikarenakan jika diletakkan berdampingan akan menyulitkan
untuk mengukur &ona inhibisinya karena kemungkinan &onanya dapat saling
tumpang tindih. <emudian setelah itu disiapkan per"orator yang steril % yaitu
dengan (ara memanaskannya diatas api. +amun pada saat memanaskan
per"orator dan spatel haruslah didiamkan terlebih dahulu hingga tidak terlalu
panas tetapi dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari api agar tetap dalam
keadaan aseptis supaya bakteri yang ada di udara tidak mengkontaminasi.
Cika per"orator dan spatel terlalu panas dapat merusak nutrient agar dan dapat
membunuh bakteri yang terdapat di dalam media. Pada saat pembuatan
lubang harus dilakukan dengan -aktu yang (epat % untuk menghindari (a-an
petri yang terbuka lama.
Pengisian antibioti( ke dalam larutan antibiotika dengan dosis tinggi
dan rendah dari larutan baku dan sampel dengan menggunakan mikropipet 5/
El (Masing masing lubang diisi dengan 5/ El antibiotika) dan dilakukan
se(ara triplo. Pada saat pengisiian antibiotika ke dalam harus dilakukan dalam
keadaan aseptis. Ba-an petri yang digunakan tidak boleh dalam kondisi
terbuka % agar isi (a-an tidak terkontaminasi dengan udara luar yang juga
akan mengakibatkan kontaminasi dengan mikroba lain yang dapat merusak
per(obaan. Yang pertama kali dilakukan terhadap (a-an petri yang pertama %
yang pertama diberikan ke dalam (a-an petri adalah larutan baku dengan
dosis tinggi sampai pada dosis yang rendah dengan menggunakan mikropipet
dengan tip yang sama. Pada saat dilakukan pembuatan lubang terjadi
kesalahan yaitu lubang yang dibentuk rusak karena pada saat pen(etakan
dengan per"orator ada bagian yang tertinggal dan diambil dengan
menggunakan per"orator yang seharusnya menggunakan spatel. Kal ini
mengakibatkan (etakan menjadi rusak dan ini dapat mempengaruhi luas dari
&ona hambat yang akan didapatkan di hasil akhir dan dapat memungkinkan
&ona hambat tidak akan didapat. <emudian selanjutnya larutan sampel
dengan dosis tinggi sampai dosis yang rendah dimasukkan ke dalam lubang
pada (a-an petri menggunakan mikropipet dengan tip yang sama. Pada saat
pembuatan lubang pada dosis yang menengah terjadi kesalahan karena lubang
yang terbentuk kurang baik % hal ini dapat mempengaruhi hasil &ona hambat
yang akan didapatkan nantinya. Selanjutnya dilakukan pengisian antibiotika
pada (a-an ke 2 dimulai dari larutan baku dengan dosis yang tinggi sampai
yang rendah.Pada saat pembuatan lubang pada baku dengan dosis tinggi
terjadi kesalahan yaitu kesalahan dalam penggunaan per"orator yang
ber"ungsi hanya untuk men(etak dan untuk mengambil hasil (etakan dari
per"orator dengan menggunakan spatel. Pada saat itu praktikan menggunakan
per"orator sehingga merusak bagian di sekeliling dari lubang dan ini dapat
mempengaruhi hasil dari &ona hambat yang akan didapatkan nantinya.
<emudian dilakukan pengisiian antibiotika terhadap lautan sampel dari dosis
yang tinggi sampai yang rendah dengan menggunakan mikropipet dengan tip
yang sama. Yang terakhir dilakukan pengisiian antibiotika dari larutan baku
dari dosis yang tinggi sampai yang rendah . !imulai dari dosis yang tinggi
sampai yang rendah dan dilakukan prosedur yang sama dengan menggunakan
mikropipet dengan tip yang sama. Pada proses penngisiian antibiotika ini
terjadi banyak kesalahan yang dapat mempengaruhi hasil akhir dari
per(obaan ini yang pertama dikarenakan kesalahan dalam pembuatan
menggunakan per"orator yang mengakibatkan lubang yang terbentuk tidak
baik% yang kedua dapat disebabkan karena pada saar pengisiian antibiotika ke
dalam (a-an % (a-an yang digunakan dibuka terlalu lama sehingga dapat
mengakibatkan kontaminan dari luar masuk kedalam % yang ketiga dapat
disebabkan karena penggunaan per"orator yang terlalu panas dan (a-an yang
terlalu dekat dengan api pada saat pen(etakan lubang ini dapat
mengakibatkan bakteri yang terdapat di dalam nutrient agar mati .Yang
keempat dapat disebabkan oleh alat J alat yang kurang steril seperti
mikropipet % $olume pipet % spatel dan tabung pada saat digunakan harus
benar benar bersih di(u(i dengan desin"ektan dan dalam keadaan yang kering
karena dapat mempengaruhi konsentrasi antibiotika (desin"ektan juga dapat
membunuh bakteri) % Yang kelima dapat disebabkan oleh karena pengissian
antibiotik yang kurang tepat pada lubang yang telah terbentuk sehingga
antibiotik tidak dapat berdi"usi sempurna dan &ona yang dihasilkan menjadi
tidak bulat. 2aktor J "a(tor ini dapat mempengaruhi hasil akhir dalam
pengukuran &ona hambat antibiotika yang akan didapatkan .
Setelah dilakukakan pengisiian antibiotik % semua (a-an petri harus
dibungkus menggunakan koran kemudian diinkubasikan pada suhu '7
/
B
selama 1:02= jam supaya bakteri dapat tumbuh dengan optimal. Pada saat
inkubasi (a-an petri tidak boleh dibalik karena antibiotika dapat tumpah
sehingga tidak berdi"usi sempurna pada daerah sekitarnya.
!.29.R PLS9.<.
!epkes R3. 1474. Farmakope Indonesia. Edisi III. !epartemen <esehatan
Republik 3ndonesia. Cakarta.
1hana.2/12. Mikrobiologi >s(heri(hia Boli 9ersedia di
http8---.s(ribd.(omdo(2/==7'/:5klasi"ikasi Gdiakses tanggal /7
Mei 2/1=I .
Ca-et&% Melni(k% and .delberg. 144;. Mikrobiologi edokteran. >disi 2/. Cakarta
8 >1B.
Muts(hler% >. 1441. !inamika "bat. >disi 5. )andung8 Penerbit 39).
Pel(&ar% M.C%. and Bhan% >.B.S. 14:;. !asar#dasar Mikrobiologi. L3 Press.
Cakarta.
Ru"aidah% Rida. 2/11. Potensi ' !osis. 9ersedia di
http8---.s(ribd.(omdo(===2::/:P?9>+S30'0!?S3S Gdiakses
tanggal = Mei 2/1=I.
Subronto. 2/11. Ilmu $enyakit %ernak. Edisi ke II. 1adjah Mada Lni$ersity Press.
Yogyakarta.