Anda di halaman 1dari 136

SUPPLY DEMAND

MINERAL
Kajian
1
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
hanya karena perkenan-Nya Laporan Kajian Supply dan Demand
Mineral 2012 ini dapat selesai.
Laporan Kajian Supply dan Demand Mineral ini memberikan
gambaran tentang Kondisi umum mineral saat ini dan Metodologi
supply dan demand mineral serta analisisnya per komoditi mineral.
Sebagian besar data dan informasi dalam Laporan ini diperoleh
dari laporan berkala yang disampaikan PT. Freeport Indonesia, PT.
Newmont Nusa Tenggara, PT. Inco, PT. Aneka Tambang Tbk. PT
Inalum, GoldSeek.com, Kementerian Perdagangan, Kementerian
Perindustrian, Ditjen Mineral dan Batubara KESDM, Pusdatin ESDM.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah memberikan dukungan dan membantu penyusunan
laporan ini. Diharapkan Laporan ini dapat menjadi referensi kepada
Pimpinan Kementerian ESDM maupun BUMN dan pihak lain dalam
pengembangan kebijakan dan memberikan rekomendasi dalam
mengatasi supply dan demand mineral.

Jakarta, Desember 2012

Penyusun
2
RINGKASAN EKSEKUTIF

Bahan tambang Indonesia merupakan kekayaan bangsa
yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Namun faktanya, pemanfaatannya saat
ini belum optimal - beberapa komoditi tambang di ekspor tanpa
pengolahan maksimal dan tanpa ada peningkatan nilai tambah
maksimal. Pemanfaatan bahan tambang di Indonesia selama ini
masih sedikit sentuhan teknologinya, beberapa produk tambang
di ekspor dalam bentuk bijih, seperti nikel, bauksit dan konsentrat,
seperti tembaga.
Oleh karenanya, dirasa perlu untuk melakukan Kajian Supply
Demand Mineral dan kajian singkat terhadap upaya peningkatan nilai
tambah komoditi mineral serta kaitannya dengan penerimaan negara
dan tenaga kerja. Kegiatan kajian ini dibatasi hanya pada 3 (tiga) jenis
komoditi mineral logam yaitu Tembaga, Nikel dan Bauksit. Karena
ketiga mineral logam tersebut merupakan mineral logam utama yang
sudah mulai dikembangkan industri pengolahan dan pemurniannya di
dalam negeri.
Pemilihan model kajian supply demand yang sesuai dan tepat
berdasarkan permasalahan yang sedang dikaji. Agar pemaparan
kajian dapat lebih terstruktur, model yang digunakan berbasis
Harmonized Commodity Description and Coding System, atau lebih
dikenal sebagai Harmonized System (HS). HS Code yang telah
sering digunakan dalam penelusuran rules of origin adalah standar
internasional atas sistem penamaan dan penomoran yang digunakan
untuk pengklasifkasi produk perdagangan dan turunannya yang
dikelola oleh World Customs Organization (WCO).
Sumber daya tembaga Indonesia sebesar 4.925 juta ton ore
dengan cadangan sebesar 4.161 juta ton ore. Saat ini produksi
tembaga dilakukan oleh dua perusahaan besar yaitu PT Freeport
Indonesia di Tembaga pura dan PT Newmont di Batu Hijau. Namun
hanya 30% dari total produksinya yang dapat di olah di dalam negeri,
konsentrat tembaga diproses lebih lanjut menjadi katoda tembaga
yang saat ini satu-satunya tempat pemrosesan tersebut dilakukan
oleh PT Smelting yang berada di Gresik Jawa Timur dengan kapasitas
3
total 300.000 ton per tahun. Produk tembaga dibagi menjadi Tembaga
kasar (unwrought), Tembaga Batangan, Tembaga lembaran, dan
tembaga lainnya. Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat
tembaga sebesar 1.471.420 ton, tiga besar negara tujuan ekspor
konsentrat tembaga adalah Jepang sebesar 330.160 ton, Korea
Selatan sebesar 326.166 ton dan India sebesar 311.800 ton.
Sumber daya nikel Indonesia diperkirakan mencapai 2.633 juta
Ton ore dengan cadangan sebesar 577 juta ton ore yang tersebar di
Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua dengan kandungan unsur
nikel rata-rata 1,45%. Sebagian dari potensi sumber daya tersebut
sudah ditambang dan diekspor dalam bentuk nickel matte oleh PT Inco
Indonesia, Ferro Nickel oleh PT Antam ataupun dalam bentuk bijih
nikel tanpa melalui proses pengolahan dan pemurnian yang dilakukan
oleh perusahaan-perusahaan yang banyak bertumbuhan dalam
dasawarsa terakhir. Komoditi nikel dikelompokkan menjadi tiga, yaitu
bijih nikel, feronikel dan nikel kasar, hampir seluruhnya dimanfaatkan
untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Selama periode tahun 2003-
2009 produksi bijih nikel mengalami peningkatan yang cukup tinggi,
yaitu dari 4.395.429 ton pada tahun 2003 menjadi 10.847.141 ton
pada tahun 2009 atau mengalami kenaikan hampir 2,5 kali lipat.
Pada periode yang sama, komoditi feronikel mengalami kenaikan dua
kali lipat dari 8.933 ton Ni menjadi 17.917 ton Ni, sedangkan untuk
nikel kasar mengalami fuktuasi, pada tahun 2003 jumlah produksi
mencapai 71.211 ton Ni, tahun 2007 meningkat hingga 77.928 ton Ni,
namun tahun 2009 menurun hingga menjadi 63.548 ton Ni.
Sumber daya bauksit Indonesia diperkirakan mencapai 349.61
juta Ton bijih dan 134.65 untuk logam dengan cadangan sebesar
97.40 juta ton untuk bijih dan 34.88 juta ton untuk logam dengan
kadar Al2O3 berkisar 27- 55 persen. Pada tahun 2011 total ekspor
bijih bauksit dan konsentrat mencapai 40.6 juta ton dengan 4 negara
utama tujuan ekspor adalah Rep. Rakyat Cina sebesar 40.2 juta
ton, Jepang sebesar 253 ribu ton, Taiwan sebesar 80.3 ribu ton dan
Venezuela sebesar 33 ribu ton.
Secara umum, dari hasil kajian didapat potensi peningkatan
nilai tambah dari bijih dan konsentrat mineral yang semestinya dapat
diolah di dalam negeri. Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih
antara nilai impor produk mineral dasar dengan nilai ekspor bijih dan
4
konsentrat mineral. Pada tahun 2011, dari 3 (tiga) jenis komoditi mineral
logam yaitu Tembaga, Nikel dan Bauksit didapat potensi peningkatan
nilai tambah sebesar kurang lebih USD 268.100.725.360,-.
Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah tersebut,
tentunya terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan,
cukai ekspor produk mineral logam, retribusi daerah, dan lain
sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat yang diekspor
dilakukan di dalam negeri. Selain itu, terdapat beneft dari penyerapan
tenaga kerja melalui industri pengolahan mineral logam dasar
sebanyak kurang lebih 2.402.600 orang. Penyerapan tenaga kerja ini
belum termasuk tenaga kerja di industri hilir dan multiplier effect yang
didapat dari pengolahan hasil produk industri hulu mineral logam di
Indonesia.
5
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
RINGKASAN EKSEKUTIF
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 2 KONDISI UMUM MINERAL INDONESIA
2.1. Industri Pertambangan Tembaga
2.1.1. Gambaran Umum
2.1.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah
2.1.3. Prospek Pengembangan Smelter
2.2. Industri Pertambangan Nikel
2.2.1. Gambaran Umum
2.2.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah
2.2.3. Prospek Pengembangan Smelter
2.3. Industri Pertambangan Nikel
2.3.1. Gambaran Umum
2.3.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah
2.3.3. Prospek Pengembangan Smelter
BAB 3 METODOLOGI
3.1. Kerangka Pemikiran
3.2. Pendekatan yang Dilakukan
3.3. Tata Laksana
BAB 4 ANALISA SUPPLY DEMAND MINERAL
4.1. Industri Pertambangan Tembaga
4.1.1. Peluang Industri Tembaga
4.1.2. Tantangan Industri Tembaga
4.2.Industri Pertambangan Nikel
4.2.1. Peluang Industri Nikel
4.2.2. Tantangan Industri Nikel
4.3. Industri Pertambangan Bauksit
4.3.1. Peluang Industri Bauksit
4.3.2. Tantangan Industri Bauksit
01
02
05
07
09
10
17
17
17
24
28
30
30
37
41
43
43
49
53
59
59
63
65
67
67
82
83
84
97
98
98
113
115
6
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
116
116
120
122
123
7
Gambar 1.1.
Gambar 1.2.
Gambar 1.3.

Gambar 2.1.
Gambar 2.2.
Gambar 2.3.
Gambar 2.4.
Gambar 2.5.
Gambar 2.6.
Gambar 2.7.
Gambar 2.8.
Gambar 2.9.
Gambar 2.10.
Gambar 2.11.
Gambar 2.12.
Gambar 2.13.
Gambar 2.14.
Gambar 2.15.
Gambar 2.16.
Gambar 2.17.
Gambar 2.18.
Gambar 3.1.
Gambar 3.2.
Gambar 4.1.
Gambar 4.2.
Gambar 4.3.
Gambar 4.4.
Gambar 4.5.
Gambar 4.6.
Gambar 4.7.
Gambar 4.8.
Volume Ekspor 3 Komoditi Mineral
Nilai Ekspor 3 Komoditi Mineral
Peta Distribusi Pengolahan dan Pemurnian
Mineral
Negara Pengekspor dan Pengimpor Tembaga
Dunia
Penggunaan Tembaga Dunia
Grafk Nilai Ekspor Tembaga (USD/Month)
Grafk Volume Ekspor Tembaga (Kg/Month)
Langkah-langkah Proses Smelting Gresik
Struktur Industri Produk Tembaga
Skema Peningkatan Nilai Tambah Tembaga
Grafk Nilai Ekspor Nikel (USD/Month)
Grafk Volume Ekspor Nikel (Kg/Month)
Proses Produksi Ferro Nickel
Skema Peningkatan Nilai Tambah Nikel
Proyeksi Pasokan dan Permintaan Nikel Dunia
Struktur Industri Produk Nikel
Grafk Nilai Ekspor Bauksit (USD/Month)
Grafk Volume Ekspor Bauksit (Kg/Month)
Skema Peningkatan Nilai Tambah Bauksit
Struktur Industri Produk Aluminium
Proses Produksi Aluminium
Kerangka Pemikiran Penelitian
Tahapan Pendekatan Berencanan
Pohon Industri Tembaga
Neraca Supply Demand Tembaga
Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Dasar (Kg)
Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Dasar (US$)
Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Unwrought
(Kg)
Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Unwrought
(US$)
Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Batangan
(Kg)
Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Batangan
(US$)
DAFTAR GAMBAR
10
11
13
18
19
21
22
23
25
26
33
34
36
38
39
40
47
47
50
50
53
62
63
67
72
73
73
74
75
76
76
8
Gambar 4.9.
Gambar 4.10.
Gambar 4.11.
Gambar 4.12.
Gambar 4.13.
Gambar 4.14.
Gambar 4.15.
Gambar 4.16.
Gambar 4.17.
Gambar 4.18.
Gambar 4.19.
Gambar 4.20.
Gambar 4.21.
Gambar 4.22.
Gambar 4.23.
Gambar 4.24.
Gambar 4.25.
Gambar 4.26.
Gambar 4.27.
Gambar 4.28.
Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lembaran
(Kg)
Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lembaran
(US$)
Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lainnya (Kg)
Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lainnya
(US$)
Pohon Industri Nikel
Neraca Supply Demand Nikel
Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Logam Nikel
(Kg)
Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Logam Nikel
(US$)
Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Stainless (Kg)
Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Stainless
(US$)
Pohon Industri Aluminium
Neraca Supply Demand Bauksit
Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Ingot, Slab,
Billet (Kg)
Fluktuasi Impor Ekspor Aluminium Ingot, Slab,
Billet (US$)
Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Batangan
(Kg)
Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Batangan
(US$)
Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lembaran
(Kg)
Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lembaran
(US$)
Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lainnya
(Kg)
Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lainnya
(US$)
77
78
79
79
85
88
89
90
94
95
100
105
106
107
108
108
110
111
112
113
9
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1.
Tabel 2.2.
Tabel 2.3.
Tabel 2.4.
Tabel 2.5.
Tabel 2.6.
Tabel 2.7.
Tabel 2.8.

Tabel 2.9.
Tabel 2.10.
Tabel 2.11.

Tabel 4.1.
Tabel 4.2.
Tabel 4.3.
Nilai Ekspor Bijih Tembaga dan Konsentrat (USD)
Volume Ekspor Bijih Tembaga dan Konsentrat (Kg)
Jumlah Unsur Mineral Ikutan dari Anoda Slime
PT Smelting Gresik
Nilai Ekspor Bijih Nikel dan Konsentrat (USD)
Nilai Ekspor Bijih Nikel dan Konsentrat (Kg)
Nilai Ekspor Bijih Bauksit dan Konsentrat (USD)
Volume Ekspor Bijih Bauksit dan Konsentrat (Kg)
Komponen biaya untuk menghasilkan satu ton
aluminium (US$)
Peningkatan Nilai Tambah dari Alumina
Menjadi Aluminium
Volume Ekspor Bijih Bauksit dan Konsentrat (Kg)
Produksi dan Penjualan Aluminium Ingot
PT Inalum Tahun 2004-2011
Neraca Supply Demand Tembaga
Neraca Supply Demand Nikel
Neraca Supply Demand Bauksit
21
22
27
33
34
46
47
51
52
--
55
71
87
104
10
BAB I
PENDAHULUAN
Bahan tambang Indonesia merupakan kekayaan bangsa
yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Namun faktanya pemanfaatannya saat ini belum
optimal, beberapa komoditi tambang diekspor tanpa pengolahan
maksimal dan tanpa ada peningkatan nilai tambah maksimal.
Pemanfaatan bahan tambang di Indonesia selama ini masih sedikit
sentuhan teknologinya, beberapa produk tambang diekspor dalam
bentuk bijih, seperti nikel, bauksit dan konsentrat seperti konsentrat
tembaga.
Sektor pertambangan merupakan sektor yang sangat strategis
dalam perekonomian pusat maupun daerah, sektor ini merupakan
penggerak utama (prime mover) pembangunan dan juga memberikan
manfaat multiplier effect yang cukup signifkan. Ekspor dari sektor
pertambangan umumnya meningkat dari tahun ke tahun, baik dari sisi
volumenya maupun nilai, untuk seluruh komoditas mineral. Berikut
adalah grafk tren volume dan nilai ekspor komoditas mineral.

Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 1.1. Volume Ekspor 3 Komoditi Mineral

11
Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 1.2. Nilai Ekspor 3 Komoditi Mineral
Besarnya penerimaan Negara dan Daerah ini dapat ditingkatkan
lagi dengan mengoptimalkan pemanfaatan cadangan mineral yang
ada dan dengan adanya harga komoditas yang terus melonjak tajam
belakangan ini. Oleh karena itu, inventarisasi sumber daya mineral
sangat penting, mengingat masih luasnya daerah yang belum
tereksplorasi dan belum terpetakan, sehingga banyak terdapat deposit
mineral yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi cadangan.
Beberapa komoditi mineral yang dihasilkan dari industrI
pertambangan mencakup logam seperti timah, nikel, tembaga, emas
dan perak, alumina yang dihasilkan dari bauksit, hingga pasir besi,
dan lain-lain. Sedangkan komoditi mineral non logam seperti granit,
marmer, batu gamping, clay dan lain-lain. Untuk mengoptimalkan
pendapatan dari sektor ini, pemerintah melalui Undang-Undang No. 4
Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara dan Peraturan
Pemerintah No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral dan Batubara telah mewajibkan bagi semua
perusahaan tambang untuk mengolah produknya di dalam negeri
paling lambat tahun 2014, dengan demikian tidak ada lagi penjualan /
ekspor dalam bentuk raw material.
Melonjaknya demand komoditi mineral belakangan ini baik
ditingkat Nasional maupun Internasional yang telah membuat harga
komoditi mineral terutama logam meningkat sangat tinggi. Kondisi
12
demand komoditi mineral yang semakin meningkat ini menyebabkan
banyak perusahaan berusaha untuk meningkatkan target pasokan/
produksi mineral mereka. Apabila mengacu pada Undang-Undang
No. 4 Tahun 2009 pasal 170 yang mewajibkan bagi pemegang
Kontrak Karya yang telah berproduksi untuk melakukan pengolahan
dan pemurnian di dalam negeri paling lambat sampai dengan tahun
2014, maka akan sangat mungkin terjadi penurunan produksi mineral
karena pertumbuhan industri pengolahan mineral (smelter) di dalam
negeri masih sangat kecil tidak sebanding dengan jumlah mineral
yang diproduksi.
Pengaturan mengenai perlunya dilakukan peningkatan nilai
tambah komoditas mineral dan batubara telah diatur menurut
peraturan perundangan. Dalam Undang-Undang No. 4 tahun 2009
tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Pasal 102 dinyatakan
bahwa Pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan) dan IUPK (Izin
Usaha Pertambangan Khusus) wajib meningkatkan nilai tambah
sumber daya mineral dan/atau batubara dalam pelaksanaan
penambangan, pengolahan dan pemurnian, serta pemanfaatan
mineral dan batubara. Pengertian Nilai Tambah adalah proses
pengolahan hasil tambang (baik yang dilakukan satu tahap maupun
berberapa tahap) yang bertujuan untuk menghasilkan suatu produk
atau komoditi sehingga nilai ekonomi dan daya gunanya meningkat
lebih tinggi dari sebelumnya, serta aktivitas yang ditimbulkan akan
memberikan dampak positif terhadap perokonomian dan sosial baik
bagi daerah operasional, pusat, maupun daerah non operasional.
Lebih lanjut, pengertian dari kegiatan pengolahan dan pemurnian
disini adalah kegiatan usaha pertambangan untuk meningkatkan
mutu mineral dan/atau batubara serta untuk memanfaatkan dan
memperoleh mineral ikutan yang berharga. Lebih jauh, menurut Pasal
103 (1) dinyatakan bahwa Pemegang IUP dan IUPK Operasi Produksi
wajib melakukan pengolahan dan pemurnian hasil penambangan di
dalam negeri. Dengan adanya kebijakan ini maka diharapkan hasil
pertambangan mineral dimurnikan dan diolah menjadi logam atau
produk logam yang optimal didalam negeri.
Dengan kebijakan ini diharapkan terjadi peningkatan nilai
tambah dan produk jadi yang lebih besar daripada ekspor produk
mentah serta mendorong investasi baru di sektor pengolahan dan
13
pemurnian konsentrat. Lebih lanjut, dari kebijakan ini diharapkan
untuk meningkatkan ketersedian bahan baku industri, penyerapan
tenaga kerja dan peningkatan penerimaan negara, baik pusat
maupun daerah. Setelah diterbitkannya Peraturan Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral No. 7 Tahun 2012 tentang peningkatan nilai
tambah mineral melalui kegiatan pengolahan dan pemurnian mineral
telah banyak investor yang mengajukan pembangunan smelter di
Indonesia, rancana lokasi pembangunan smelter tersebut dapat
dilihat dalam gambar 1.3 berikut ini:

Sumber: Kementerian ESDM
Gambar 1.3.Peta Distribusi Pengolahan dan Pemurnian Mineral
Seperti yang telah dibahas diatas, proses pengolahan dan
pemurnian tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi langsung
tapi juga dapat memberikan efek berganda kepada lapangan kerja,
sosial ekonomi masyarakat, infrastruktur dan ketersediaan energi.
Selain itu, industri pengolahan dan pemurnian merupakan industri
yang padat modal dan padat teknologi yang melibatkan banyak
disiplin ilmu pengetahuan. Untuk menselaraskan semua hal ini
maka perlu dilakukan sinkronisasi regulasi lintas sektoral sehingga
proses pengolahan dan pemurnian di dalam negeri menjadi saling
mendukung dan mendorong kemudahan berinvestasi.
Kemudahan dalam regulasi juga dipandang sangat penting dan
utama, dikarenakan peningkatan nilai tambah membutuhkan investasi
14
yang cukup besar, sehingga kemudahan di dalam regulasi akan
memotivasi para praktisi pertambangan untuk berinvestasi di dalam
bisnis pengolahan dan pemurnian hasil tambang. Sebagai bisnis baru
di bidang pertambangan dan industri pionir, maka industri peleburan
dan pemurnian akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor
untuk menginvestasikan dana mereka apabila di dalam regulasi
didapatkan kemudahan-kemudahan.
Regulasi juga dibutuhkan untuk menjamin tersedianya bahan
baku bagi industri pengolahan dan pemurnian untuk mengantisipasi
kepastian pasokan yang dapat berubah terhadap jumlah permintaan.
Lebih dari itu, kebutuhan investasi di industri pengolahan dan
pemurnian memerlukan jaminan jangka panjang, maka harus ada
jaminan pasokan atau pasokan bahan baku minimal 15 sampai 30
tahun. Hal ini akan terkait dengan kesinambungan produksi serta
pengembangan pengawasan produksi serta kewajiban pemenuhan
pasokan dalam negeri untuk pengusahaan mineral dan batubara.
Pemilihan teknologi dalam proses pengolahan dan pemurnian
menjadi hal yang sangat penting dikarenakan dalam pemilihan
teknologi ini akan terkait dengan aspek efsiensi teknologi dan aspek
lingkungan. Dikarenakan harus terkait dengan ke dua aspek tersebut
maka pemilihan teknologi tidak hanya didasarkan pada aspek harga
yaitu mahal atau murah. Sebagai contoh, apabila dipilih teknologi yang
murah tetapi kurang efsisien dan tidak ramah lingkungan sehingga
akan berdampak pada biaya produksi yang diperlukan justru semakin
besar. Oleh karenanya diperlukan teknologi yang tepat guna untuk
nilai tambah produk pertambangan, melalui kerjasama antara badan-
badan penelitian dan pengembangan dengan pelaku pertambangan
sebagai fasilitator. Untuk itu diperlukan kejelasan roadmap kerjasama
antara badan-badan penelitian dan pengembangan dengan pelaku
pertambangan bertindak sebagai fasilitator.
Pengintegrasian industri hulu dan hilir akan menjadi sangat
penting dikarenakan operasi pengolahan dan pemurnian merupakan
pemasok industri hilir. Oleh karena itu, maka pelaku pasar memerlukan
demand dan pasar yang jelas untuk memasarkan hasil pengolahan
dan pemurnian mineral dan batubara, sehingga keberlanjutan
industri pengolahan dan pemurnian tetap berlangsung dan berlanjut.
Ketersediaan dan kemampuan sumberdaya manusia yang kompeten
15
merupakan modal utama untuk masa depan dalam rangka memenuhi
kebutuhan nilai tambah industri. Sumberdaya manusia yang
kompeten yang dibutuhkan meliputi pemerintah sebagai regulator dan
masyarakat sebagai stakeholders.
Faktor kualitas dari sumber daya manusia yang mengelola
kegiatan pertambangan menjadi salah satu faktor penentu bagi
berhasilnya suatu kegiatan usaha pertambangan. Pemerintah perlu
memperhatikan kompetensi dari para regulator agar pelaksanaan
pembinaan dan pengawasan kegiatan pertambangan dilaksanakan
sesuai dengan Good Mining Practice (GMP). Dengan kompetensi yang
memadai maka kegiatan pengawasan pelaksanaan pengusahaan
pertambangan dapat meminimalkan praktek-praktek kegiatan
pertambangan yang tidak bertanggung jawab. Kompetensi menjadi
syarat penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa suatu
kegiatan usaha pertambangan dilaksanakan dengan mengikuti aturan
perundang-undangan yang berlaku serta kaidah-kaidah dari GMP.
Dengan demikian hal itu akan meningkatkan ketaatan (compliance)
yang diharapkan dari pelaku industri pertambangan.
Sebagai stakeholders dalam kegiatan usaha pertambangan,
masyarakat khususnya lembaga-lembaga kemasyarakatan atau
organisasi-organisasi nirlaba yang turut membantu masyarakat
dalam mengawasi kegiatan usaha pertambangan, syarat mengenai
kompetensi juga merupakan hal yang penting. Dalam hal ini para
aktivis juga dituntut untuk memahami karakteristik dari kegiatan
usaha pertambangan sehingga pemahaman yang cukup akan
meminimalkan potensi permasalahan yang mungkin timbul dalam
interaksi perusahaan dengan masyarakat sekitarnya.
Apabila masyarakat dapat memahami pentingnya arti kompetensi
dalam pengelolaan kegiatan usaha pertambangan, maka masyarakat
dapat memainkan peranan yang penting dan turut memberikan
sumbangan pemikiran yang konstruktif. Selain itu tindakan atau
sikap sebagian anggota masyarakat yang sering kali dilakukan
mengabaikan etika dan cenderung anarkis dalam menyikapi suatu
isu pertambangan dapat diminimalkan. Sehingga harmonisasi dapat
tercapai diantara sesama stakeholders untuk turut bersama-sama
membangun sektor pertambangan yang ideal.
16
Berdasarkan pertimbangan hal-hal tersebut di atas, maka perlu
dilakukan Kajian terhadap Supply Demand Mineral tahun 2012
dan juga kajian singkat terhadap besarnya pengaruh penerapan
Undang-Undang No. 4 tahun 2009 terhadap penerimaan Negara dan
tenaga kerja. Kajian Supply Demand mineral ini disusun untuk dapat
menginventarisir keterdapatan mineral di Indonesia, termasuk sumber
daya, cadangan, produksi dan konsumsi. Kemudian kajian ini juga
dilakukan untuk dapat mengetahui keseimbangan antara produksi
komoditi mineral dengan permintaan / tingkat konsumsi oleh industri
hilir di dalam negeri, termasuk di dalamnya adalah kebutuhan bahan
baku di industri pengolahan (smelter) di dalam negeri.
Kajian Supply Demand Mineral ini juga akan menjelaskan
tentang upaya peningkatan nilai tambah komoditi pertambangan
yang diamanatkan dalam Undang-Undang No. 4 tahun 2009 tentang
pertambangan mineral dan batubara kaitannya dengan besarnya
penerimaan Negara dan tenaga kerja. Karena faktor-faktor tersebut,
maka penting untuk melakukan kajian Supply Demand mineral
nasional.
17
BAB II
KONDISI UMUM MINERAL INDONESIA

2.1. Industri Pertambangan Tembaga
2.1.1. Gambaran Umum
Tembaga (Cu) mempunyai sistim kristal kubik, secara fsik
berwarna kuning dan apabila dilihat dengan menggunakan mikroskop
akan berwarna pink kecoklatan sampai keabuan. Tembaga sudah
dikenal dan dimanfaatkan manusia sejak 10.000 tahun silam. Di Asia
Barat misalnya telah menjadi bahan pembuat koin dan perhiasan.
Sementara di zaman tembaga (Chalcolithicperiod), diambil dari Bahasa
Yunani Chalkos yang artinya tembaga) manusia telah menemukan
teknik mencampur dan menggunakan tembaga untuk menghasilkan
perhiasan. Kemudian pada abad keempat dan ketiga sebelum Masehi
telah ada kegiatan peleburan tembaga di Distrik Huelva, Spanyol.
Sementara itu di Amerika Selatan, aktivitas eksplorasi dan eksploitasi
tembaga sudah dikenal di antara suku-suku asli seperti Maya, Aztec
dan Inca. Demikian juga dengan China, India dan Jepang di Asia.
Hingga kini, tembaga menjadi salah satu jenis logam yang sangat
dibutuhkan manusia.
Tembaga memang memainkan peran penting dalam
perkembangan peradaban manusia. Sepanjang sejarah, berbagai
produk berbahan tembaga menjadi pilihan banyak orang. Demikian
juga dengan sektor perindustrian dan teknologi. Pencampuran dengan
Zinc, timah, aluminium dan nikel juga menghasilkan produk-produk
bernilai tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat banyak. Saat ini logam
dengan rumus kimia Cu ini dimanfaatkan untuk kabel listrik, industri
telekomunikasi dan elektronika juga konstruksi dan transportasi.
Logam tembaga digunakan secara luas dalam industri peralatan
listrik. Kawat tembaga dan paduan tembaga digunakan dalam
pembuatan motor listrik, generator, kabel/kawat untuk transmisi,
distribusi dan instalasi listrik, kendaraan bermotor, tabung coaxial,
tabung microwave, sakelar, rectifer, transsistor, dan peralatan lainnya
yang membutuhkan sifat konduktivitas listrik dan panas yang tinggi.
Meskipun aluminium dapat digunakan untuk tegangan tinggi pada
18
jaringan transmisi, tetapi tembaga masih memegang peranan penting
untuk jaringan transmisi, utamanya untuk bawah tanah.
Potensi sumber daya alam tembaga terbesar yang dimiliki
Indonesia terdapat di Papua. Potensi lainnya menyebar di Jawa
Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan. Data terakhir dari Badan
Geologi Kementerian ESDM menunjukkan bahwa Indonesia memiliki
sumberdaya tembaga sebesar 4.925 juta ton ore dengan cadangan
tembaga sebesar 4.161 juta ton ore.
Saat ini tembaga merupakan logam penting nomor tiga dalam
jumlah pemakaian setelah besi-baja dan aluminium. Tembaga
merupakan salah satu logam yang dapat ditemukan dalam keadaan
bebas (native metal). Tembaga dalam keadaan murni banyak dipakai
sebagai penghantar listrik dalam bentuk kawat. Selain itu tembaga
dipadukan dengan logam lainnya menjadi kuningan dan perunggu
yang banyak digunakan dalam dunia teknik.

Sumber: International Copper Study Group
Gambar 2.1. Negara Pengekspor dan Pengimpor Tembaga Dunia
Indonesia termasuk dalam peringkat 20 dunia berdasarkan lokasi
tambang dan kapasitas produksi tembaga. PT Freeport Indonesia
menduduki peringkat ketiga, sedangkan PT Newmont Nusa Tenggara
berada pada posisi kesebelas. Peringkat pertama dan kedua adalah
perusahaan tambang di negara Chili. Demikian pula, Indonesia
Exporters
World Total : 5.718 World Total : 5.652
Importers
Mongolia
2%
Finland
3%
PNG
2%
Bulgaria
3%
Argentina
2%
Phillippines
3%
Brazil
2%
Germany
6%
S.Africa
2%
Brazil
2%
Others
12%
Others
7%
Chile
36%
China
28%
Peru
15%
Japan
23%
Australia
10%
India
10%
Indonesia
9%
Korean Rep.
8%
Spain
6%
Canada
5%
19
termasuk negara ke 4 terbesar di dunia sebagai pengekspor tembaga,
setelah Chile, Peru dan Australia, sedangkan negara terbesar
pengimpor tembaga adalah China dan Jepang.
Dari sisi kegunaan, pemanfaatan tembaga didominasi oleh 3
bidang besar yaitu konstruksi, infrastruktur dan peralatan manufaktur.
Sedangkan penggunaan terpenting sebagai penghantar listrik dan
banyak dipakai sebagai pipa pada konstruksi bangunan dan peralatan
maritim dalam bentuk logam paduan. Penggunaan dalam dunia teknik,
sedemikian banyaknya sehingga merupakan jumlah logam terbesar
nomor dua setelah besi baja.
Pertambangan tembaga di Indonesia berkaitan dengan kegiatan
PT Freeport Indonesia (PTFI). PTFI dengan Kontrak Karya I mulai
berproduksi sekitar tahun 1973. Pada akhir tahun 1991 Kontrak
Karya kedua ditandatangani. Dalam perjalanan waktu inilah kegiatan
penambangan bijih tembaga dan diolah hingga menjadi konsentrat
tembaga terjadi perkembangan yang signifkan terutama dalam
periode 1998-2012.

Sumber: International Copper Association (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 2.2. Penggunaan Tembaga Dunia
Sebelum tahun 2000, produksi konsentrat tembaga di Indonesia
hanya berasal dari PT. Freeport Indonesia dan baru mulai tahun 2000
komoditi tersebut juga diproduksi oleh PT. Newmont Nusa Tenggara.
Produksi konsentrat tersebut sekitar 70% di ekspor dan sekitar 30%
di jual di dalam negeri, yaitu ke PT Smelting-Gresik untuk diproses
dengan produk utama katoda tembaga.
Rata - Rata Penggunaan Tembaga di Dunia
Angkutan
13%
Konstruksi
13%
Mesin non listrik
15%
Mesin listrik
51%
Lain-lain
8%
20
Secara garis besar, struktur supply chain industri tembaga
dibedakan menjadi beberapa kelompok berikut:
Industri Hulu
Pada saat ini hanya ada 1 pabrik penghasil copper cathode di
Indonesia yaitu PT. Smelting Gresik. Bahan baku tembaga berupa
copper concentrate diangkut menuju tempat pengolahan tembaga dan
disimpan dalam storage. Kemudian copper concentrate diolah menjadi
copper anode yang memiliki kemurnian 99.4%. Agar mendapatkan
hasil yang maksimal dengan kemurnian 99.99%, maka copper anode
ini kemudian dimurnikan lagi dalam proses refnery sehingga pada
akhirnya menjadi copper cathode.

Industri Antara
Produk copper cathode diproses lebih lanjut menjadi produk
antara berupa copper sheet dan copper rod. Dua jenis produk ini akan
menjadi bahan baku untuk industri hilirnya.
Industri Hilir
Pada kelompok Industri hilir, menghasilkan produk setengah jadi
yang akan menjadi komponen bagi produk berikutnya serta produk
jadi yang akan dipakai langsung oleh konsumen. Terdapat berbagai
macam produk tembaga hilir, seperti: kawat/kabel tembaga, tabung/
pipa dan peralatan rumah tangga.
Perkembangan produksi konsentrat tembaga dengan kadar
logam tembaga dan mineral ikutannya dari tahun 2005 hingga
2008 menunjukkan kecenderungan yang menurun dan kemudian
meningkat pada tahun 2009. Kondisi tahun 2010 relatif stabil dengan
jumlah produksi konsentrat 3,467 juta dwt atau setara dengan 0,655
juta ton logam tembaga. Volume dan nilai ekspor tembaga dalam
2 tahun terakhir (2011-2012) mengalami penurunan. Hal ini dapat
terlihat pada tabel 2.1 dan 2.2 serta gambar 2.3 dan 2.4.
21
Tabel 2.1 Nilai Ekspor Bijih Tembaga dan Konsentrat (USD)

Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)

Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 2.3 Grafk Nilai Ekspor Tembaga (USD/Month)
22
Tabel 2.2 Volume Ekspor Bijih Tembaga dan Konsentrat (Kg)

Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)
Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 2.4 Grafk Volume Ekspor Tembaga (Kg/Month)
23
Di sisi perkembangan produksi tembaga, satu-satunya pabrik
di Indonesia yang mengolah konsentrat tembaga menjadi tembaga
katoda adalah PT Smelting-Gresik. Pendirian PT Smelting Gresik
sendiri dapat dikatakan berawal dari keterpaksaan, yakni kewajiban
PT Freeport Indonesia terkait tuntutan kewajiban dalam perpanjangan
kontrak karyanya yang kedua. PT Smelting company merupakan
sebuah konsorsium, dengan komposisi kepemilikan saham adalah
Mitsubishi Materials Corporation (MMC) 60,5%, PT Freeport 25%,
Mitsubishi Corporation 9,5%, dan Nippon Mining and Metal Co. Ltd.
5%. Pabrik tersebut mampu mengolah 656.000 ton/tahun konsentrat
tembaga untuk menghasilkan 200.000 ton/tahun katoda tembaga.
Bahan baku lain yang dibutuhkan adalah 98.000 ton/tahun pasir silika,
43.000 ton/tahun batukapur dan 23.000 ton/tahun batubara serta
oksigen kaya (enriched oxygen) berkadar sekitar 50%.

Sumber: PT Smelting Gresik
Gambar 2.5 Langkah-langkah Proses Smelting Gresik
Untuk memenuhi permintaan logam tembaga katoda di pasar
Indonesia dan Asia, pada tahun 2009 kapasitas produksi tembaga
katoda meningkat menjadi 300.000 ton/tahun. Sumber konsentrat
yang diolah di pabrik ini berasal dari PT Freeport Indonesia sekitar
70% dan PT Newmont Nusa Tenggara sekitar 30%. Mineral yang
diolah PT Smelting adalah konsentrat tembaga, emas, dan perak,
Akan tetapi yang diproses maksimal adalah tembaga. Emas dan
perak hanya diproses setengah jadi dalam bentuk anode slime dan
langsung dijual ke pembeli di luar negeri.

Dapur Peleburan
Konsentrat Tembaga Kapur (Fluks) Batubara Oksigen
Terak
Produksi oksigen &
Pembangkit listrik
Uap air
Anoda Tembaga
Pemurnian
Gas SO
2
Pabrik Asam Sulfat
Pengolahan limbah cair
Limbah
lunak/air
bersih
Tembaga katoda Lumpur Anoda Gypsum Asam Sulfat
24
Produk utama yang dihasilkan pabrik itu telah diserap baik
oleh pabrik domestik maupun Asia Tenggara. Untuk pasar domestik
sementara ini baru menyerap sekitar 40-45% dari produk PT Smelting
Gresik, tergantung pesanan konsumen.Selebihnya produk PT
Smelting Gresik diekspor ke hampir semua negara di Asia Tenggara.
Negara-negara yang banyak menyerap tembaga hasil dari produksi
PT Smelting Gresik adalah Malaysia, Taiwan, China, dan Thailand.
Apabila meninjau lebih ke hilir dimana kita dapat mengetahui
kondisi ekspor-impor, neraca perdagangan produk yang terdiri dari
copper cathode, tembaga batangan, tembaga lembaran dan produk
lainnya cenderung stabil dalam periode 2007-2011. Dari sisi ekspor
tahun 2007 tercatat 329 ribu ton senilai 2.721 juta USD dan di tahun
2011 tercatat 315 ribu ton senilai 3.804 juta USD. Dari sisi impor
produk olahan tersebut lebih cepat pertumbuhannya, yang semula
tahun 2007 tercatat 48 ribu ton senilai 276 juta USD, dan tahun
2011 meningkat cukup signifkan menjadi 171 ribu ton senilai 1.318
juta USD. Gambaran ini merupakan peluang sekaligus tantangan
peningkatan nilai tambah mineral tembaga dan mengembangkan
smelter tembaga.
2.1.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah
Indonesia termasuk negara produsen tembaga yang tentunya
didukung oleh sumberdaya dan cadangan yang besar. Gambaran
keberadaan Indonesia dalam perdagangan dunia cukup menonjol
dengan menempatkan PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa
Tenggara dalam jajaran 20 produsen tembaga skala dunia.
Nilai tambang tembaga secara nyata meningkat dari bijih
tembaga diolah menjadi konsentrat tembaga kemudian dapat dilebur
menjadi produk katoda tembaga dengan produk sampingnya antara
lainanode slime yang bernilai ekonomis. Untuk tahun 2010 PT
Freeport Indonesia dapat meningkatkan kadar Cu dalam bijih dari
0.82% dinaikkan menjadi 24,56% dalam konsentrat. Demikian pula,
kadar Au dari 0,91gr/ton menjadi 24,01 gr/ton, dan kadar Ag dari 2,52
gr/ton menjadi 67,10 gr/ton.
25
Produk utama yang dapat dibuat dengan menggunakan bahan
baku tembaga adalah kabel. Berdasarkan aliran bahan baku dan
prosesnya, struktur industri produk tembaga dapat digambarkan
seperti gambar 2.6. berikut:

Sumber: Kementerian Perindustrian
Gambar 2.6 Struktur Industri Produk Tembaga
Sebagai kompensasi pemberian hak pengusahaan untuk
menambang, pemerintah mendapat royalti yang berasal dari konsentrat
tembaga dan kandungan emas serta perak.Tahun 2008, pemerintah
mendapat royalti dari PT Freeport Indonesia dan PT Newmont
Nusa Tenggara masing masing sebesar US$ 115,950,900.22 dan
US$ 12,136,619.62.Tahun 2010 royalti dari PT Freeport Indonesia
meningkat menjadi US$ 185 juta. Adapun kontribusi dana kemitraan
dari tahun ke tahun umumnya terjadi peningkatan, dan tahun 2010
tercatat sekitar US$ 70 juta.
Sementara itu, nilai tambah dari pengolahan di PT Smelting
Gresik secara fsik ialah mengubah konsentrat menjadi copper
cathode (katoda tembaga), dimana kadarnya (copper grade) dari 28
30% dinaikkan menjadi 99,99%. Jadi untuk logam tembaga mulai
dari raw material bijih dinaikkan menjadi konsentrat hingga produk
akhir sudah bisa lakukan di Indonesia. Lebih dari itu, efek lain ialah
26
dari PPh 21 dan PPh 25 yakni pajak penghasilan karyawan dan pajak
penghasilan badan, yang bisa langsung dibayarkan ke negara, juga
multiplier effect bagi penyerapan lebih kurang 1.500 orang tenaga
kerja, berikut CSR (Corporate Social Responsibility) dan program
Community Development untuk wilayah Gresik dan daerah sekitarnya.
Gambar 2.7.berikut memperlihatkan skema peningkatan nilai tambah
bijih tembaga dari hulu-hilir pertambangan hingga hulu perindustrian.
Hulu Pertambangan Hilir Pertambangan Hulu Perindustrian

Sumber: Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, KESDM
Gambar 2.7 Skema Peningkatan Nilai Tambah Tembaga
Dari gambar 2.7 diatas terlihat skema peningkatan nilai tambah
tembaga, dimana copper cathode sebagian besar akan diproses
menjadi kabel. Ada beberapa pelanggan domestik yang mendapatkan
pasokan copper cathode dari PT Smelting Gresik, yakni Tembaga
Mulia Semanan, GT Kabel, KSI (Karya Sumiden Indonesia), dan MTU
(Multi Tembaga Utama). Sehingga produsen Indonesia tidak perlu lagi
mengimpor bahan baku untuk membuat kabel.
Nilai tambah yang lain adalah by product (produk samping) dari
PT Smelting Gresik seperti asam sulfat. Barang ini merupakan bahan
baku utama dari pabrik pupuk guna menunjang ketahanan pangan
di Indonesia. Selain itu ada copper slag yang mengandung bahan
substitusi untuk pabrik semen. Biasanya pabrik semen membutuhkan
pasir besi untuk pengolahannya, dengan adanya copper slag maka
pasir besi bisa dihemat untuk difokuskan pada pembuatan besi.
Produk mineral utama dan samping (by product) dari pengolahan
konsentrat tembaga yang dihasilkan PT. Smelting adalah:
1. Logam tembaga katoda berkadar Cu=99,9%; kapasitas 200.000
ton/tahun;
2. Lumpur anoda, kapasitas 480 ton/tahun mengandung emas
(Au) = 1%; perak (Ag) = 3,8%; bismut (Bi) = 2,7%; platina (Pt) =
0,0015%; telurite (Te) = 0,21%; selenium (Se) = 6,52%; paladium
27
(Pd) = 0,0075%; timbal (Pb) = 55%; dan komponen logam
lainnya (metal compound=MC) = 7%; Apabila dihitung perolehan
emasnya sekitar 4.800 kg/tahun belum termasuk perak, platina
dan beberapa logam jarang yang mempunyai nilai ekonomis
tinggi. Lumpur anoda ini dijual ke luar negeri (Jepang);
3. Terak tembaga, kapasitas 382.000 ton/tahun yang mengandung
besi (Fe) antara 30-40%. Terak ini belum layak dimurnikan
sebagai bahan logam besi, tetapi produk ini sudah dimanfaatkan
oleh pabrik semen;
4. Asam sulfat (H2SO4), kapasitas 592.000 ton/tahun yang
mengandung sulfur (S) sekitar 95%. Produk ini dimanfaatkan oleh
PT. Petrokimia untuk bahan kimia atau pupuk;
5. Gipsum kapasitas 31.000 ton/tahun, dimanfaatkan oleh pabrik
semen.
Dari proses pengolahan konsentrat tembaga, selain menghasilkan
logam tembaga juga menghasilkan anoda slime, yaitu sisa proses
pengolahan yang masih mengandung unsur-unsur mineral ikutan
yang bernilai ekonomi tinggi. Dari hasil kajian yang dilakukan PT
Aneka Tambang terhadap anoda slime tersebut, diperoleh unsur-
unsur mineral ikutan, komposisi dan jumlah yang akan dihasilkan
seperti tercantum pada tabel berikut:


Kajian Supply Demand Mineral


19



Dari jumlah unsur mineral ikutan yang diperoleh dari anoda slime bila
dihitung berdasarkan tarif royalti yang berlaku di dalam PP No. 45 tahun 2003
tentang tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak yang berlaku pada
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, maka akan diperoleh tambahan
penerimaan negara per tahun sebesar US$ 28,1 juta, tetapi bila perhitungan
royalti seperti yang berlaku saat ini, dimana emas dan perak dihitung dari
kadar yang terdapat di dalam konsentrat, maka tambahan penerimaan
negaranya adalah US$ 2,6 juta per tahun atau US$ 8,7 juta per tahun bila 100%
produk konsentrat diolah di dalam negeri. Sedangkan tambahan penerimaan
perusahaan dari produk samping asam sulfat dan gipsum dengan harga pasar
yang berlaku saat ini adalah US$ 85,7 juta.
2.1.3. Prospek Pengembangan Smelter
Dilihat dari kondisi kecenderungan produksi tambang tembaga dan
khususnya produksi katoda tembaga dari tahun 2007 hingga 2011 terdapat
peningkatan sekitar 5%. Pada tahun 2007 tercatat total produksi katoda
tembaga sebesar 271 ribu ton dan meningkat menjadi 282 ribu ton di tahun
2011. Adanya peningkatan produksi sebagai dampak dari peningkatan
permintaan inilah gambaran peluang atau prospek pendirian pabrik smelter
tembaga.Untuk kondisi tahun 2011 masih terdapat impor yang cukup besar,
sekitar 66 ribu ton.
Unsur Mineral
Ikutan
Komposisi Jumlah yang dapat dihasilkan
Emas (Au) 1% 15 18 ton/tahun
Perak (Ag) 3,8% 57 68,4 ton/tahun
Bismut (Bi) 2,7% 40,5 48,6 ton/tahun
Paladium (Pd) 75 ppm 120 kg/tahun
Platinum (Pt) 15 ppm 27 kg/tahun
Telurite (Te) 0,21% 3,15 - 3,78 ton/tahun
Selenium (Se) 6,52% 97,8 117,36 ton/tahun
MC 7% 105 - 126 ton/tahun
Timbal (Pb) 55% 825 990 ton/tahun
Terak Tembaga mengandung 30%-40% Fe (besi) 382.000 ton/tahun
Asam Sulfat (H2SO4),
mengandung 95% sulfur (S)
592.000 ton/tahun
Gipsum 31.000 ton/tahun
Sumber : PT Aneka Tambang
Produk samping lainnya :
Tabel 2.3 Jumlah Unsur Mineral Ikutan dari Anoda Slime PT Smelting Gresik

28
Dari jumlah unsur mineral ikutan yang diperoleh dari anoda slime
bila dihitung berdasarkan tarif royalti yang berlaku di dalam PP No. 45
tahun 2003 tentang tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak
yang berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral,
maka akan diperoleh tambahan penerimaan negara per tahun
sebesar US$ 28,1 juta, tetapi bila perhitungan royalti seperti yang
berlaku saat ini, dimana emas dan perak dihitung dari kadar yang
terdapat di dalam konsentrat, maka tambahan penerimaan negaranya
adalah US$ 2,6 juta per tahun atau US$ 8,7 juta per tahun bila 100%
produk konsentrat diolah di dalam negeri. Sedangkan tambahan
penerimaan perusahaan dari produk samping asam sulfat dan gipsum
dengan harga pasar yang berlaku saat ini adalah US$ 85,7 juta.
2.1.3. Prospek Pengembangan Smelter
Dilihat dari kondisi kecenderungan produksi tambang tembaga
dan khususnya produksi katoda tembaga dari tahun 2007 hingga
2011 terdapat peningkatan sekitar 5%. Pada tahun 2007 tercatat total
produksi katoda tembaga sebesar 271 ribu ton dan meningkat menjadi
282 ribu ton di tahun 2011. Adanya peningkatan produksi sebagai
dampak dari peningkatan permintaan inilah gambaran peluang atau
prospek pendirian pabrik smelter tembaga. Untuk kondisi tahun 2011
masih terdapat impor yang cukup besar, sekitar 66 ribu ton.
Berkembangnya teknologi pengolahan mineral berdampak
terhadap optimalisasi perolehan mineral ikutan yang selama ini
terbuang atau belum dimanfaatkan secara optimal. Pengusahaan
tambang mineral di Indonesia (Kontrak Karya) selama ini sebagian
besar masih menjual produknya dalam bentuk raw material atau
dalam bentuk konsentrat. Hal tersebut sangat merugikan negara
dari sisi penerimaan negara yang diperoleh dari hasil pertambangan
karena tidak optimalnya pengambilan mineral ikutan yang bernilai
ekonomis dari suatu cadangan mineral.
Bijih tembaga merupakan salah satu sumberdaya mineral
terpenting yang dimiliki Indonesia. Dua perusahaan besar yang
berskala Internasional yaitu PT Freeport Indonesia dan PT Newmont
Nusa Tenggara, yang mengusahakan penambangan dan pengolahan
bijih tembaga sampai dalam bentuk konsentrat. Produk konsentrat,
selain mengandung logam berharga Cu, Au dan Ag, juga mengandung
29
logam-logam lain termasuk logam jarang seperti Bi, Cd, Co, Mo, Sb,
Se, Te. Walaupun kadarnya sangat kecil sekitar 10 40 ppm, namun
memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi jika diolah dan dimurnikan.
Untuk mengetahui dampak industri pengolahan bijih tembaga
terhadap perekonomian nasional dapat dilihat dari kondisi pasar
(supply demand) tembaga dunia dan perkembangan teknologi
pengolahan bijih tembaga. Prospek logam tembaga cukup baik
dengan perkembangan teknologi pengolahan sampai kehilir, karena
unsur-unsur yang terkandung di dalamnya dapat diambil secara
optimal sehingga penerimaan negara akan bertambah. Oleh karena
itu, kebijakan pemerintah yang mewajibkan perusahaan tambang
untuk mengolah hasil produksinya di dalam negeri merupakan
keputusan yang sudah tepat.
Perlu dilakukan analisis secara ekonomi makro, maupun ekonomi
mikro untuk mengetahui lebih luas dari manfaat industri pengolahan
bijih tembaga tersebut. Secara umum pengembangan tambang dan
pembangunan pabrik pengolahan bijih tembaga ini akan menciptakan
keuntungan makro ekonomi, baik manfaat yang dirasakan secara
langsung maupun tidak langsung. Adapun keuntungan makro
ekonomi yang diperoleh dari sektor pertambangan dan pengolahan
bijih tembaga diantaranya adalah:
Pengembangan wilayah baru
Pemanfaatan sumber daya alam secara optimal
Menghemat devisa
Peningkatan pendapatan negara dari pajak dan bukan pajak
Membuka lapangan kerja baru
Peningkatan iklim investasi domestik dan asing
Sedangkan dilihat dari ekonomi mikro, pengembangan
pengolahan bijih tembaga sampai ke pembangunan pabrik pengolahan
(smelter) yang dapat mengolah anoda slime akan meningkatkan
pendapatan negara yang cukup besar, karena selain menghasilkan
logam tembaga, juga menghasilkan unsur mineral ikutan yang bernilai
ekonomi tinggi seperti emas, perak, paladium, platinum, tellurium,
selenium dan timbal. Sebagai contoh peningkatan penerimaan negara
dari penambangan bijih tembaga PT Freeport Indonesia. Perusahaan
30
tersebut saat ini memproduksi konsentrat tembaga, dimana sebagian
besar produknya ( 70%) diekspor dan sisanya sebesar 30% dikirim
ke PT Smelting Gresik untuk diolah menjadi logam tembaga.
2.2. Industri Pertambangan Nikel
2.2.1. Gambaran Umum
Potensi sumberdaya nikel Indonesia diperkirakan mencapai
1.878.550.000 Ton dengan kandungan unsur Nikel rata-rata 1,45%.
Sebagian dari potensi sumberdaya tersebut sudah ditambang dan
diekspor dalam bentuk nickel matte, Ferro Nickel ataupun bijih nikel
tanpa melalui proses pengolahan dan pemurnian oleh perusahaan-
perusahaan yang banyak bertumbuhan dalam dasawarsa terakhir.
Data terakhir dari Badan Geologi Kementerian ESDM menunjukkan
bahwa Indonesia memiliki sumberdaya nikel sebesar 2.633 juta ton
ore dengan cadangan nikel sebesar 577 juta ton ore yang tersebar di
Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua.
Seiring dengan meningkatnya permintaan produk logam dunia,
sebagian besar produk nikel diekspor dalam bentuk barang hasil
olahan, seperti Nickel Matte (PT INCO Indonesia) dan Ferro Nickel
(PT Aneka Tambang). Data yang diperoleh memperlihatkan bahwa
komoditi nikel dikelompokkan menjadi tiga, yaitu bijih nikel, feronikel
dan nikel kasar. Selama periode tahun 2003-2009 produksi bijih nikel
mengalami peningkatan yang cukup tinggi, yaitu dari 4.395.429 ton
pada tahun 2003 menjadi 10.847.141 ton pada tahun 2009 atau
mengalami kenaikan hampir 2,5 kali lipat. Pada periode yang sama,
komoditi feronikel mengalami kenaikan dua kali lipat dari 8.933 ton
Ni menjadi 17.917 ton Ni, sedangkan untuk nikel kasar mengalami
fuktuasi, pada tahun 2003 jumlah produksi mencapai 71.211 ton
Ni, tahun 2007 meningkat hingga 77.928 ton Ni, namun tahun 2009
menurun hingga menjadi 63.548 ton Ni.
Produksi nikel Indonesia, baik bijih nikel, feronikel maupun nikel
kasar, hampir seluruhnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
ekspor. Sehingga permintaan nikel Indonesia ditentukan oleh
permintaan nikel dunia. Di pasaran global, permintaan nikel diprediksi
akan meningkat sebesar 3% per tahun, Sehingga pada tahun 2015
permintaan nikel diperkirakan mencapai 2.000.000 ton. Permintaan
31
nikel dunia pada saat ini didominasi oleh negara-negara Asia,
khususnya China yang saat ini sedang melakukan pembangunan
power plant yang banyak membutuhkan komoditi nikel, baik bijih nikel
maupun nikel olahan.
Konsumsi terbesar nikel di dunia saat ini adalah negara-negara
Asia (khususnya China) yang pada Tahun 2009 mencapai 61 % dari
konsumsi nikel dunia, diikuti Eropa 26%, Amerika 10%, Afrika dan
Oceania hanya 3%.Sementara itu, kebutuhan nikel dunia dipasok
oleh 20 perusahaan termasuk didalamnya adalah perusahaan dari
Indonesia yang tercatat dengan tingkat produksi nikel sekitar 1,329
juta ton. Berbeda dengan peringkat konsumsi nikel yang didominasi
oleh negara-negara Asia terutama China, untuk peringkat tertinggi
dalam produksi nikel ditempati oleh Eropa sebesar 34%, diikuti Asia
32%, Amerika 19%, Afrika dan Oceania 15%.
Secara garis besar, struktur supply chain industri nikel dibedakan
menjadi beberapa kelompok berikut:
Industri Hulu
Pada saat ini hanya ada 2 pabrik penghasil nikel di Indonesia
yaitu PT Aneka Tambang Tbk dengan produksi nikel dalam bentuk
Ferro Nickel (Fe-Ni) dan PT INCO Tbk dengan produksi nikel dalam
bentuk Nickel Matte.
Bahan baku Fe-Ni berupa bijih nikel diangkut menuju shake out
machine. Disini bijih nikel basah yang berukuran lebih kecil akan jatuh
dan tertampung ke dalam loading hopper sedangkan bongkahan atau
bijih yang berukuran lebih besar dari 250 x 200 mm akan terpisah
dan disingkirkan secara manual. Kemudian bijih nikel masuk ke
dalam rotary dryer yang digunakan untuk mengurangi kandungan air
(moisture content) dari 33% menjadi 22%. Setelah keluar dari rotary
dryer, proses selanjutnya terjadi di rotary kiln, dimana di proses ini
terjadi kalsinasi. Selain kalsinasi, diharapkan di rotary kiln terjadi
prereduksi. Hasil dari proses ini disebut kalsin. Dalam dapur listrik,
kalsin akan dilebur dan direduksi oleh karbon dari ketiga elektroda
serta antrasit dan batu bara dalam kalsin. Terjadi proses desulfurisasi,
oksidasi dan tilting metal. Setelah itu, dilakukan proses fnishing
berupa proses pencetakan logam dan packaging.
32
Industri Antara
Produk Fe-Ni dan nickel matte diproses lebih lanjut menjadi
produk antara berupa stainless steel. Produk ini akan menjadi bahan
baku untuk industri hilirnya.
Industri Hilir
Pada kelompok Industri hilir, menghasilkan produk setengah jadi
yang akan menjadi komponen bagi produk berikutnya serta produk
jadi yang akan dipakai langsung oleh konsumen. Terdapat berbagai
macam produk industri hilir, seperti: HRC (Hot Rolled Coils) stainless,
batang kawat baja, tabung/pipa dan peralatan rumah tangga.

Perubahan harga nikel cenderung berhubungan sangat erat
dengan tingkat persediaan nikel di London Metal Exchange (LME).
LME dianggap sebagai pasar terakhir.Tingginya persedian di gudang
LME menunjukan surplus pasar, sebaliknya rendahnya persediaan di
gudang LME menunjukan defsit pasar.Dengan demikian perubahan
dalam persediaan di LME memberikan indikasi persediaan di pasar
global, yang membawa dampak langsung terhadap harga nikel di
pasaran. Secara keseluruhan volume dan nilai ekspor nikel sudah
pulih kembali, bahkan melewati puncaknya yang terakhir dicapai
pada tahun 2007. Kondisi volume dan nilai ekspor nikel di Indonesia
dalam 2 tahun terakhir (2011-2012) mengalami kenaikan yang cukup
signifkan.Hal ini dapat terlihat pada tabel 2.4 dan 2.5 serta gambar
2.8 dan 2.9.
33
Tabel 2.4 Nilai Ekspor Bijih Nikel dan Konsentrat (USD)

Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)

Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 2.8 Grafk Nilai Ekspor Nikel (USD/Month)
34
Tabel 2.5 Nilai Ekspor Bijih Nikel dan Konsentrat (Kg)

Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)

Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 2.9 Grafk Volume Ekspor Nikel (Kg/Month)
35
Penurunan komoditi nikel sangat dipengaruhi oleh krisis ekonomi
di negara maju. Industri manufaktur, alat-alat rumahtangga, otomotif,
dan sebagainya yang merupakan konsumen nikel belum pulih.
Kondisi ini terjadi karena ada sedikit over liquidity di pasar modal. Tapi
likuiditas tersebut bukan diciptakan oleh masing-masing negara, tidak
juga masuk ke sektor riil, melainkan masuk ke instrumen pasar modal,
baik ke saham, obligasi, maupun di komoditas.
Selain pada industri manufaktur dan alat-alat rumahtangga,
permintaan terbesar nikel adalah dari industri otomotif. Ini bisa dilihat
dari permintaan nikel di PT Antam dan PT INCO yang sebagian
besar datang dari Jepang yang belakangan ini mengalami bencana
sunami yang berimbas menurunnya kebutuhan bahan-bahan industri
(termasuk didalamnya adalah nikel), selain AS dan Eropa. Ditariknya
beberapa merek mobil buatan Jepang di pasaran, menunjukkan
tingkat produksi yang tidak menanjak.
Hal ini tentunya juga akan menjadi penghambat permintaan.
Selain itu, harga nikel Internasional tidaklah mencerminkan harga
jual yang sesungguhnya. Karena harga jual nikel juga tergantung
pada kualitas atau grade-nya, dan siapa pembelinya. Kalau sekarang
misalnya harga Internasional berada di USD 20.000, belum tentu
PT Antam atau PT INCO menjual pada harga itu.Bisa jadi mereka
menjual nikelnya USD 15.000 per metrik ton.
36
Pemilihan teknologi proses terkait dengan karakteristik bijih.
Proses produksi ferro nickel di PT Antam UBP Pomalaa dapat dilihat
pada gambar berikut:

Sumber: PT Aneka Tambang
Gambar 2.10 Proses Produksi Ferro Nickel
Proses hidrometalurgi memungkinkan kobal dapat diekstrak.
Kandungan kobal baik dalam ferro nickel maupun nickel matte, tidak
diperhitungkan padahal kobal berilai ekonomi tinggi. Berikut potensi
produk samping dari nikel:
Kobal
Kobal merupakan suatu logam strategis yang dibutuhkan untuk
berbagai keperluan industri dan militer. Sebagai logam, kobal termasuk
ke dalam logam sekunder seperti As, Sb dan Cd yang diperoleh dari
bijih hanya sebagai hasil samping dari proses pengolahan logam
utama dari bijih tersebut. Kobal tersebut diperoleh sebagai hasil
samping dari pengolahan bijih tembaga, namun menjelang akhir 1990
mulai bergeser dari hasil pengolahan bijih nikel laterit. Pergeseran
ini perlu dicermati karena Indonesia adalah negara yang mempunyai
cadangan bijih nikel laterit cukup besar.
37
Sampai saat ini kobal masih merupakan suatu logam spesifk yang
diperlukan untuk beberapa kegunaan khusus yang sulit digantikan
dengan material lainnya. Penggunaannya antara lain adalah untuk
bahan kimia khusus yang digunakan dalam pengolahan gas menjadi
liquid, paduan super (super alloy), pengering cat, perekat, magnet.
Pemakaian kobal yang paling cepat berkembang adalah untuk baterai
nikel hidrida (Ni-MH) yang dapat diisi ulang (rechargeable battery)
yang digunakan pada laptop dan telepon seluler.
Permintaan kobal saat ini menunjukkan peningkatan yang
cukup tajam setelah diketemukan penggunaan kobal untuk berbagai
keperluan khusus. Saat ini jumlah produksi kobal dunia adalah 54.000
ton dan 43% di produksi di Asia, dengan komposisi pemakaian sebagai
berikut : baterai (25%), superalloys (22%), carbides dan diamond
tooling (12%), colours dan pigments (10%), lain-lain (22%).
Krom
Sekitar 94% dari produksi krom atau kromit global ditujukan untuk
digunakan dalam industri metalurgi, untuk produksi ferro-krom, dan
sisanya diproduksi untuk digunakan dalam pengecoran, kimia dan
sektor refraktori. Produksi tambang kromit itu mengikuti pola produksi
dunia ferro-krom.Sekitar 70% dari produksi kromit global dikonsumsi
dalam negeri dalam produksi ferro-krom di negara asal. Tiga negara
mendominasi output ferro-krom. Pada tahun 2008, Afrika Selatan,
Kazakhstan dan India mencapai sekitar 67% dari total produksi dunia.
Namun, sementara produsen ferro-krom terbesar terus mendominasi
pasar, produksi China telah mulai meningkat dengan cepat, yaitu
sekitar sekitar 1,5Mt pada tahun 2008. Produksi ferro-krom Cina telah
tumbuh pada tingkat 28% per tahun, untuk periode tahun 2002 sampai
dengan tahun 2008.
2.2.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah
Kondisi perkonomian dunia di prediksi membaik pasca krisis
keuangan global yang terjadi pada tahun 2008. Pertumbuhan
ekonomi Amerika Serikat diproyeksikan oleh asosiasi ekonomi bisnis
nasional (NABE) sebesar 2,9%. Negara raksasa ekonomi asia seperti
China diproyeksikan oleh Organization for Economic Cooperation
and Development (OECD) mengalami pertumbuhan sebesar 10,2 %
meningkat dari tahun 2009 sebesar 8%. Negara Jepang diproyeksikan
38
oleh OECD pertumbuhan ekonominya sebesar 1,8%, sedangkan India
pertumbuhan ekonominya mencapai 9,3% meningkat dari tahun 2009
yang mencapai 7,7%. Menurut pengamat Nickel Stocks and Prices
ABARE pada tahun 2010 terjadi kenaikan permintaan nikel disertai
pula dengan kenaikan harga.Harga nikel diprediksi oleh London
Metal Exchange (LME) terjadi kenaikan yang pada November 2009
harga rata-rata nikel sebesar US$ 17.000 per ton menjadi US$ 19.070
per ton pada tahun 2010.Gambar berikut memperlihatkan skema
peningkatan nilai tambah bijih nikel dari hulu-hilir pertambangan
hingga hulu perindustrian.
Hulu Pertambangan Hilir Pertambangan Hulu Perindustrian

Sumber: Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, KESDM
Gambar 2.11 Skema Peningkatan Nilai Tambah Nikel
Dengan kondisi pasar yang berangsur membaik pada tahun
2010, dua produsen nikel Indonesia, yaitu PT Aneka Tambang Tbk
menargetkan produksi sebesar 18,500 Ton nikel dalam bentuk Fe-Ni,
lebih tinggi dari tahun 2009 sebesar 14.191 Ton Ni. Di samping itu PT
Aneka Tambang Tbk juga mengekspor bijih nikel sebesar 6,51 juta
WMT atau naik 6% dari tahun sebelumnya. Demikian pula PT INCO
Tbk menargetkan produksi sebesar 72.400 Ton Ni dalam nickel matte
atau lebih tinggi dari realisasi produksi tahun 2009 sebesar 67.329
Ton Ni.


39
Sumber: International Copper Association (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 2.12 Proyeksi Pasokan dan Permintaan Nikel Dunia
Kondisi pasokan dan permintaan nikel dunia mulai dari tahun
2010 sampai dengan 2025 diproyeksikan oleh Brook Hunt, dan
terjadi peningkatan secara berlanjut. Proyeksi peningkatan pasokan
dan permintaan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.12.diatas. Dari
gambaran potensi pasar nikel dunia memberikan prospek yang positif
bagi tumbuhnya industri pengolahan bijih nikel di Indonesia.
PT Aneka Tambang akan melakukan pengembangan pabrik
pengolahan FeNi berkapasitas 27.000 ton FeNi dengan bahan baku
885.000 ton bijih nikel dan pabrik pengolahan NPI berkapasitas
120.000 ton dengan bahan baku 960.000 ton bijih nikel, dan
sudah pada tahapan FS (Feasibility Study) yang diperkirakan akan
berproduksi pada akhir tahun 2014.
Suplai bahan baku bijih nikel dapat dipenuhi dari PT Aneka
Tambang sendiri. Di samping itu, PT Weda Bay akan melakukan
pembangunan pabrik pengolahan Nikel Hidroksida di Weda,
Halmahera. Rencananya pembangunan dilakukan dalam dua
tahap, masing-masing 30.000 ton nikel hidroksida per tahun.Pabrik
ini diperkirakan beroperasi pada tahun 2015. Suplai bahan baku
bijih nikel sebesar 6.080.000 ton bijih nikel dapat dipenuhi dari PT
Weda Bay sendiri. Produk utama yang menggunakan bahan baku
nikel adalah stainless steel. Berdasarkan bahan baku dan aliran
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
40
prosesnya, struktur industri produk nikel dapat digambarkan seperti
gambar berikut:

Pasar pengguna Fe-Ni di dalam negeri (frst user) sampai saat ini
belum ada. Penambahan pabirk pengolahan nikel akan meningkatkan
pasokan produk Fe-Ni ke pasar dunia, karena tidak diwadahi oleh
penyerapan pasar dalam negeri. Pada tahun 2014 dengan penerapan
Undang-undang No 4 Tahun 2009 untuk realisasi keharusan
pengolahan bijih nikel menjadi produk yang bernilai tambah, salah
satunya Fe-Ni di dalam negeri, perlu dicarikan solusi untuk mewadahi
keluaran produk agar terserap oleh pasar domestik.
Melihat kemampuan industri di dalam negeri yang dapat
ditingkatkan kemampuannya untuk menyerap produk Fe-Ni adalah
industri besi dan baja.Industri besi dan baja ini dapat ditingkatkan
menjadi frst user dari produk Fe-NI untuk diolah menjadi stainless
steel.First user yang dimaksud disini adalah industri yang dapat
menyerap produk Fe-Ni untuk dijadikan produk setengah jadi.
Salah satu dari industri frst user adalah industri stainless steel yang
merupakan penyerap terbesar produk Fe-NI yaitu sebesar 61%.

Kajian Supply Demand Mineral


31

sendiri. Produk utama yang menggunakan bahan baku nikel adalah stainless
steel. Berdasarkan bahan baku dan aliran prosesnya, struktur industri produk
nikel dapat digambarkan seperti gambar berikut:

Garnierite

Asbolane

Ferro Nickel

Nickel Matte

Ferro Nickel
Wires

Nickel Chrome
Alloy

Nickel Chrome
Iron Alloy

Nickel Alloy


Sumber: Kementerian Perindustrian
Gambar 2.13 Struktur Industri Produk Nikel
Pasar pengguna Fe-Ni di dalam negeri (first user) sampai saat ini belum
ada. Penambahan pabirk pengolahan nikel akan meningkatkan pasokan produk
Fe-Ni ke pasar dunia, karena tidak diwadahi oleh penyerapan pasar dalam
negeri. Pada tahun 2014 dengan penerapan Undang-undang No 4 Tahun 2009
untuk realisasi keharusan pengolahan bijih nikel menjadi produk yang bernilai
tambah, salah satunya Fe-Ni di dalam negeri, perlu dicarikan solusi untuk
mewadahi keluaran produk agar terserap oleh pasar domestik.
41
Untuk tahap awal penggunaan stainless steel umumnya untuk
konstruksi dan infrastruktur lainnya, seperti jembatan, bangunan,
bendungan, anjungan lepas pantai. Industri stainless steel sejauh ini
merupakan konsumen terbesar ferro-krom. Sampai awal penurunan
ekonomi global, produksi baja stainless telah menunjukkan
peningkatan yang cukup besar. Permintaan di negara-negara Asia
seperti China dan India membantu meningkatkan produksi dunia
pada tingkat rata-rata sebesar 5,4% per tahun untuk periode tahun
2000 sampai 2007, dimana China sendiri telah mencapai 60% dari
kenaikan produksi stainless global.
Mengingat Afrika Selatan merupakan pemasok terkemuka ferro-
krom, maka setiap ada perubahan jumlah pasokan akan membawa
dampak besar pada harga. Di awal tahun 2008, produksi Afrika
Selatan ferro-krom dibatasi, sebagai akibat dari berkurangnya
pasokan listrik yang pada gilirannya membatasi pasokan ferro-krom
di pasar Internasional. Kondisi ini mengakibatkan jumlah permintaan
melebihi pasokan sehingga mendorong kenaikan harga ferro-krom
sampai USD 213/lb atau 130% lebih tinggi dari harga rata-rata pada
tahun 2007.
2.2.3. Prospek Pengembangan Smelter
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya nikel yang melimpah
yang diolah oleh berbagai perusahaan pertambangan di Indonesia.
Sebagian besar produksi bijih nikel yang diproduksi tersebut diekspor
ke Jepang. Ironisnya, untuk memenuhi kebutuhan nikel dalam negeri,
Indonesia harus mengimpor kembali nikel yang sudah diolah di
Jepang. Pengembangan industri pengolahan pemurnian nikel, seperti
antara lain melalui proses Mond dapat meningkatkan nilai tambah
kekayaan nikel bagi perkekonomian nasional. Ada beberapa teknologi
proses pengolahan dan pemurnian nikel selain menggunakan proses
Mond, seperti; pengolahan biji nikel laterit dan peningkatan perolehan
total nikel dan kobal pada proses leaching bijih nikel laterit.
Pada saat ini sudah ada teknologi pengolahan dan pemurnian
untuk nikel berkadar rendah yang dapat menjadi peluang untuk
mengolah bijih nikel. Bijih nikel laterit merupakan salah satu sumber
bahan logam nikel yang banyak terdapat di Indonesia, diperkirakan
42
mencapai 11% cadangan nikel dunia.Bijih nikel yang kandungan
nikelnya lebih kecil dari 2% ini belum termanfaatkan dengan baik.
Proses pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah pada bijih nikel
laterit jenis limonit dan jenis saprolit telah berhasil dilakukan. Selain
itu, telah ditemukan cara untuk memperbaiki kinerja proses leaching
dengan AAC (Ammonia Ammonium Carbonate) terhadap bijih nikel
laterit kadar rendah yang kandungan magnesiumnya sampai 15%
yaitu dengan penambahan bahan aditif baru seperti kokas dan garam
NaCl yang digabungkan dengan aditif konvensional sulfur ke dalam
pellet. Pengolahan dengan AAC saat ini mempunyai kelemahan yaitu
dalam perolehan total nikel dan kobalnya rendah.
Dengan mengolah bijih nikel menjadi ferronickel, harganya
dapat meningkat dari USD 55 per ton menjadi USD 232 per ton, atau
memberikan nilai tambah sekitar 400%. Maka dari itu, sangatlah
penting untuk mendukung penyediaan energi bagi smelter yang akan
dibangun. Sebab, peningkatan nilai tambah mineral hasil tambang
merupakan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba). Bukan hanya itu.
jika smelter berdiri, maka akan ada tambahan pemasukan bagi negara
sebesar 300%, ketimbang nikel hasil tambang diekspor dalm bentuk
mentah. Smelter yang akan dibangun juga bakal menyerap banyak
tenaga kerja. Sebagai informasi, saat ini PT Antam UBP Pomalaa
mempekerjakan sekitar 3.500 karyawan.
Selain itu, produksi tambang juga lebih terkendali, memacu industri
hilir karena ketersediaan bahan baku dalam negeri, serta mengurangi
kerusakan lingkungan karena mineral yang tidak dimanfaatkan dapat
dikembalikan. Smelter yang akan dibangun juga akan memberikan
efek berantai yang positif di sektor perekonomian, dengan adanya
pemasok dan industri-industri ikutannya, dan pastinya meningkatkan
lapangan kerja. Selain itu, akan terjadi pemerataan perekonomian,
karena industri tidak hanya terpusat di Jawa tapi juga di daerah-
daerah lain.
Listrik untuk smelter didesain berbeda dengan listrik untuk pabrik
biasa. Ada persyaratan teknis yang harus dipenuhi untuk menghindari
timbulnya distorsi pasokan listrik di sekitar smelter. Untuk hal seperti
itu standar internasional sudah ada dan prakteknya sudah dilakukan.
43
2.3. Industri Pertambangan Bauksit
2.3.1. Gambaran Umum
Aluminium (dalam bentuk bauksit) adalah suatu mineral yang
berasal dari magma asam yang mengalami proses pelapukan dan
pengendapan secara residual. Proses pengendapan residual sendiri
merupakan suatu proses pengkonsentrasian mineral bahan galian di
tempat.
Aluminium merupakan suatu metal reaktif, dan tidak terjadi
secara alami. Oleh karena itu, aluminium tak dikenal sebagai unsur
terpisah sampai tahun 1820-an, walaupun keberadaannya telah
diramalkan oleh beberapa ilmuwan yang telah belajar aluminum
campuran. Aluminium pertama kali diproduksi dengan bebas oleh ahli
kimia dan ahli ilmu fsika yang berasal dari Denmark, Hans Oersted
Kristen, dan ahli kimia Jerman, Frederich Wohler, pada pertengahan
tahun 1820-an. Nama aluminum diperoleh dari bahasa latin: alumen,
yang berarti tawas (suatu aluminium sulfate mineral).
Ciri-ciri aluminium adalah:
Aluminium merupakan logam yang berwarna perak-putih;
Aluminium dapat dibentuk sesuai dengan keinginan karena
memiliki sifat plastisitas yang cukup tinggi;
Merupakan unsur metalik yang paling berlimpah dalam kerak
bumi setelah silisium dan oksigen.
Aluminum merupakan unsur metal yang paling berlimpah-limpah
di dalam kerak bumi. Guinea, Australia dan Austria mempunyai sekitar
setengah cadangan dunia. Negara-negara lain dengan cadangan
utama meliputi Brazil, Jamaica, dan India.
Pada skala Internasional, Indonesia merupakan produsen bauksit
terbesar ke-7 di dunia, sementara produsen terbesar bauksit dunia,
antara lain Australia sebesar 63,00 juta ton, China sebesar 32,00 juta
ton, selanjutnya Brasil sebesar 25,00 juta ton, India sebesar 20,00
juta ton, Guinea sebesar 18,00 juta ton, dan Jamaica sebesar 15,00
juta ton.
44
Secara garis besar, struktur supply chain industri aluminium
dibedakan menjadi beberapa kelompok berikut:
Industri Hulu: ingot, scrap
Pemenuhan bahan baku produk aluminium mulai tidak
bergantung kepada impor sejak didirikannya PT INALUM sejak tahun
1982 di Kuala Tanjung yang memproduksi aluminium ingot primer
di Indonesia. Bahan baku untuk memproduksi ingot primer tersebut
adalah Alumina.
Aluminium adalah logam yang sangat reaktif yang membentuk
ikatan kimia berenergi tinggi dengan oksigen. Dibandingkan dengan
logam lain, proses ekstraksi aluminium dari batuannya memerlukan
energi yang tinggi untuk mereduksi Al2O3. Proses reduksi ini tidak
semudah mereduksi besi dengan menggunakan batu bara, karena
aluminium merupakan reduktor yang lebih kuat dari karbon.
Proses produksi aluminium dimulai dari pengambilan bahan
tambang yang mengandung aluminium (bauksit, corrundum, gibbsite,
boehmite, diaspore, dan sebagainya). Selanjutnya, bahan tambang
dibawa menuju proses Bayer. Proses Bayer menghasilkan alumina
(Al2O3) dengan membasuh bahan tambang yang mengandung
aluminium dengan larutan natrium hidroksida pada temperatur 175C
sehingga menghasilkan aluminium hidroksida, Al(OH)3. Aluminium
hidroksida lalu dipanaskan pada suhu sedikit di atas 1000C sehingga
terbentuk alumina dan H2O yang menjadi uap air. Setelah Alumina
dihasilkan, alumina dibawa ke proses Hall-Heroult. Proses Hall-
Heroult dimulai dengan melarutkan alumina dengan lelehan Na3AlF6,
atau yang biasa disebut cryolite. Larutan lalu dielektrolisis dan akan
mengakibatkan aluminium cair menempel pada anoda, sementara
oksigen dari alumina akan teroksidasi bersama anoda yang terbuat
dari karbon, membentuk karbon dioksida.

Sejalan dengan perkembangan pertumbuhan demand dan
perkembangan Industri Aluminium di Indonesia, maka sebanyak 40%
kebutuhan aluminium di Indonesia masih tetap dilakukan melalui
impor.
45
Industri Antara: billet, rod, kawat, plate/sheet
Dari produk hulu berupa ingot, diproses lebih lanjut menjadi produk
antara berupa produk aluminium lembaran dan produk aluminium
batangan. Kedua jenis produk tersebut diproses lebih lanjut menjadi
produk hilir atau produk jadi yang akan dipakai di segala sektor.
Industri Hilir: foil, pipa, produk aluminium lainnya
Industri Hilir aluminium merupakan produk akhir yang akan
digunakan langsung oleh konsumen seperti Aluminium strip/foil,
kawat dan kabel, pipa, profl/ekstrusi, komponen dan peralatan rumah
tangga. Misal dengan memakai proses Dies Casting akan dihasilkan
komponen-komponen kendaraan bermotor.
Sampai saat ini, produksi bijih bauksit Indonesia seluruhnya
diekspor dalam bentuk mentah (raw material), belum diolah dan
dimurnikan, dan seluruh hasil produksi tersebut dijual ke beberapa
negara, khususnya ke China sebagai negara importir bauksit utama
Indonesia, kalaupun ada pengolahan hanya sebatas pencucian
(washing), atau pencampuran (blending).
Di Indonesia, bauksit ditemukan di Provinsi kepulauan Riau,
Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Tengah, dan Provinsi
Bangka Belitung. Data Pusat Survei Geologi tahun 2011 menunjukkan
jumlah sumber daya bauksit di Indonesia sebesar 700.342.407,00
ton bijih dan 240.898.678,02 ton logam dengan cadangan sebesar
280.393.932,00 ton bijih dan 100.959.000,32 ton logam.
Sumber daya dan cadangan bauksit Indonesia bila dirinci lebih
lengkap, antara lain sumber daya hipotetik (bijih 119,59 juta ton,
logam 45,39 juta ton), tereka (bijih 174,95 juta ton, logam 76,92 juta
ton), terunjuk (bijih 27,40 juta ton, logam 12,19 juta ton), dan sumber
daya terukur (bijih 349,61 juta ton, logam 134,65 juta ton), sedangkan
jumlah cadangan tereka diketahui (bijih 82,10 juta ton, logam 38,19
juta ton), sedangkan cadangan terbukti (bijih 97,40 juta ton, logam
34,88 juta ton) (total keseluruhan 1,322.594.017 ton) dengan kadar
Al2O3 berkisar 27- 55 persen (Pusat Sumber Daya Geologi, 2011).
46
Pada tahun 2007-2010, ekspor bauksit Indonesia meningkat
besar sekali dibanding periode 2003-2006, disebabkan bertambahnya
produksi dari KP-KP bauksit yang berada di Kalimantan Barat
dan Kepulauan Riau, yang sebelumnya produksi sebagian besar
dihasilkan oleh PT Antam.
Mengingat tidak ada instalasi refneri (pabrik alumina) di dalam
negeri, ekspor bauksit mencerminkan perkembangan produksi.
Berdasarkan data dari Kementrian Perdagangan, ekspor bauksit
Indonesia mulai tahun 2006 terjadi peningkatan yang cukup berarti.
Meskipun tahun 2009 sempat menurun dari sisi volume, tetapi
harganya naik sehingga nilainya terus meningkat. Tahun 2010 ekspor
bauksit meningkat pesat dapat menembus 25 juta ton. Kondisi volume
dan nilai ekspor bauksit di Indonesia dalam 2 tahun terakhir (2011-
2012) mengalami kenaikan yang cukup signifkan. Bila dilihat dari
negara tujuan ekspor selama kurun waktu tersebut (2005-2012) pada
umumnya ditujukan ke Jepang, Taiwan, China, Russia dan Thailand.
Sedangkan bila dilihat dari total ekspornya China merupakan
pengimpor terbesar, disusul kemudian oleh Jepang dan Taiwan.Hal
ini dapat terlihat pada tabel 2.6 dan 2.7 serta gambar 2.14 dan 2.15
Tabel 2.6 Nilai Ekspor Bijih Bauksit dan Konsentrat (USD)

Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)

47
Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 2.14 Grafk Nilai Ekspor Bauksit (USD/Month)
Tabel 2.7 Volume Ekspor Bijih Bauksit dan Konsentrat (Kg)

Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)

Sumber: Pusdatin Kementerian Perdagangan (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 2.15 Grafk Volume Ekspor Bauksit (Kg/Month)
48
Di sisi lain, munculnya negara-negara industri baru di kawasan
Asia diharapkan akan mendorong meningkatnya kebutuhan akan
bauksit. Namun diperkirakan pasar akan dipengaruhi dengan
masuknya pasokan bauksit dari negara lain seperti dari Afrika, Eropa
Timur termasuk negara-negara bekas Uni Soviet.
Asosiasi produsen bauksit dunia akan turut menentukan kondisi
pasar bauksit dunia yang tergabung dalam International Bauxite
Asosiciation (IBA) dan Indonesia termasuk salah satu anggotanya.
Anggota-anggota organisasi ini antara lain Australia. Dominika,
Ghana, Guinea, Guyana, Haiti, Jamaika, Suriname, bekas negara
Yugoslavia dan Sierra Leone. Selama ini tidak terlihat gejolak dalam
asosiasi ini sehingga dapat dianggap bahwa pasokan bauksit di
pasaran dunia cukup terkendali.
Berdasarkan data dan informasi Indexmundi.Com, wilayah
Asia merupakan penghasil bauksit terbesar dunia dengan kontribusi
sebesar 56,94%, disusul kemudian wilayah Amerika (24,89%),
Afrika dan Timur Tengah (10,31%) dan Eropa dan Erasia (7,85%).
Cina merupakan penghasil bauksit (30 juta ton) terbesar kedua di
dunia setelah Australia (62,43 juta ton) dan juga sebagai penghasil
alumina (19,5 juta ton) dan aluminium (12,6 juta ton) terbesar di dunia.
Sedangkan Indonesia sebagai penghasil bauksit meningkat dengan
jumlah sekitar 40 juta ton pada tahun 2011 dan kecendrungan nya
akan terus meningkat di tahun 2012 ini. Untuk kondisi 2009, produsen
aluminium dunia tetap sebagian besar berada di kawasan Asia (46%),
kemudian disusul kawasan Amerika, Eropa, Oceania dan Afrika.
Adapun aluminium merupakan salah satu bahan logam yang telah
banyak digunakan di berbagai sektor industri manufaktur, terutama
pada sektor industri transportasi dan bangunan & kontruksi.
Dari sisi harga, harga bauksit sangat ditentukan oleh pasar
Internasional. Beberapa faktor yang dominan mempengaruhi harga
tersebut adalah perkembangan pabrik peleburan alumina dan
aluminium. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, harga bauksit hampir
melipat 2 kali lipat, yang semula hanya 17 US$/MT menjadi sekitar 26
US$/MT, atau tumbuh rata-rata 5,19% per tahun. Sedangkan harga
aluminium melipat 2,5 kali, yaitu semula 1.468 US$/MT meningkat
menjadi 3.620 US$/MT, atau tumbuh rata-rata 11,24% per tahun.
49
2.3.2. Potensi Peningkatan Nilai Tambah
Aluminium merupakan salah satu logam yang sangat penting
dalam dunia industri manufaktur dan digunakan diberbagai sektor
kegiatan dan mempunyai segmentasi pasar yang luas di berbagai
sektor kegiatan ekonomi. Bauksit adalah bahan baku utama untuk
menghasilkan aluminium, setelah melalui dua kali tahap pemrosesan
yaitu proses bayer (alumina) dan proses Hall-Heroult (aluminium).
Indonesia sebagai salah satu penghasil bauksit di dunia, belum
memiliki pabrik pemrosesan alumina sehingga seluruh produk
bauksitnya dijual ke luar negeri.
Indonesia memiliki kekuatan tawar-menawar yang tinggi di
pasar bauksit dunia disebabkan sebagai pemasok yang cukup besar
(9% dari produk bauksit dunia), dan juga dapat menyediakan dan
menawarkan bauksit yang diperlukan untuk memproduksi barang
atau menyediakan jasa oleh negara-negara industri atau perusahaan
yang terkait dengan alumina dan aluminium. Dalam organisasi atau
asosiasi bauksit dunia, para pemasok saling bersaing antar satu
dengan lainnya untuk mendapatkan pembeli dan menguasai pasar
bauksit. Apabila pemasok mampu mengendalikan perusahaan dalam
hal penyediaan bauksit yang memenuhi spesifkasi yang diinginkan
pembeli atau pasar, maka pemasok akan mempunyai kemampuan
untuk mengendalikan pasar, atau pemasok memiliki posisi tawar
industri yang kuat dan sebaliknya posisi tawar pemasok menjadi
lemah bila pemasok tidak menghasilkan produk bauksit yang tidak
sesuai dengan spesifkasi pasar. Saat ini Indonesia sudah memiliki
keunggulan di bidang kuantitas produksi dan kuantitas sumber daya
bauksit, namun kedua hal tersebut belum bisa menjadikan posisi
Indonesia kuat di pasar bauksit dunia.
Dalam lima tahun terakhir (2008 2012) ada kecenderungan
peningkatan permintaan industri terhadap alumina dan aluminium
dalam negeri. Dengan demikian jelas sekali hal tersebut membutuhkan
bauksit sebagai bahan bakunya. Oleh sebab itu, prospek pendirian
pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina dan aluminium sangat
menguntungkan bagi Indonesia dilihat dari berbagai sisi, antara lain
optimalisasi nilai tambang, tersedianya bahan baku bagi industri di
dalam negeri (menghemat devisa negara), penyerapan tenaga kerja
(peningkatan keahlian, kemampuan dan penyediaan lapangan kerja
50
terampil), serta peningkatan penerimaan negara (royalti dan pajak).
Oleh sebab itu ekspor bauksit yang selama ini dilakukan ke China dan
Jepang oleh Indonesia sudah harus dihentikan, dan diganti dengan
alumina atau aluminium sesuai ketentuan Undang-Undang No. 4
Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang akan
berlaku efektif lima tahun setelah Undang-Undang ini terbit atau tahun
2014.Gambar 2.16.berikut memperlihatkan skema peningkatan nilai
tambah bijih bauksit dari Hulu Pertambangan Hilir Pertambangan
Hulu Perindustrian
Hulu Pertambangan Hilir Pertambangan Hulu Perindustrian

Sumber: Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, KESDM
Gambar 2.16 Skema Peningkatan Nilai Tambah Bauksit
Industri aluminium sangat tergantung pada bahan baku utama
yaitu bauksit dan bahan penolong lainnya seperti energi listrik,
batubara dan soda kustik (caustic soda) yang digunakan dalam
preparasi alumina untuk elektrolisis dan karbon untuk manufaktur
elektroda, serta manajemen dan tenaga kerja.
Berbagai produk dapat dibuat dengan menggunakan bahan baku
aluminium. Berdasarkan bahan baku dan aliran prosesnya, struktur
industri produk aluminium dapat digambarkan seperti gambar berikut:

Sumber: Kementerian Perindustrian
Gambar 2.17 Struktur Industri Produk Aluminium
51
Menurut (Lewis, 1949), untuk menghasilkan satu ton aluminium
diperlukan energi listrik sekitar 20.000-25.000 kWh, 4-5 ton bauksit,
4-5 ton batubara, sejumlah air, sekitar satu ton soda kustik dan 0,5-0,6
ton elektroda karbon. Dalam tabel berikut diperlihatkan biaya bahan
baku dan bahan penolong yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu
ton aluminium (Burns, 2009).
Berdasarkan komponen bahan baku utama dan penolong
yang dimasukan ke dalam persamaan, maka nilai tambah yang
dihasilkan untuk setiap ton alumina dan aluminium dapat dilihat dalam
Tabel 2.9. berikut ini:




Kajian Supply Demand Mineral


43


Sumber: Kementerian Perindustrian
Gambar 2.17 Struktur Industri Produk Aluminium
Menurut (Lewis, 1949), untuk menghasilkan satu ton aluminium
diperlukan energi listrik sekitar 20.000-25.000 kWh, 4-5 ton bauksit, 4-5 ton
batubara, sejumlah air, sekitar satu ton soda kustik dan 0,5-0,6 ton elektroda
karbon.Dalam tabel berikut diperlihatkan biaya bahan baku dan bahan
penolong yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu ton aluminium (Burns,
2009).
Tabel 2.8 Komponen biaya untuk menghasilkan satu ton aluminium (US$)
Komponen bahan
Porsi
(%)
Biaya
(US$)*
Alumina 30% 390
Listrik (Electricity) 24% 312
Anoda (Anodes) 15% 195
Manajemen dan Tenaga kerja 8% 104
Gas 2% 26
Kimia (Chemicals) 10% 130
Spares 8% 104
Overhead 3% 39
Jumlah 100% 1300
Sumber : Burns (2009)
* AsumsiUS$1300/ton dengan acuan harga LME
Bahan baku penolong = 1300 - 390 =910

52

Kajian Supply Demand Mineral


44

Berdasarkan komponen bahan baku utama dan penolong yang
dimasukan ke dalam persamaan, maka nilai tambah yang dihasilkan untuk
setiap ton alumina dan aluminium dapat dilihat dalam Tabel 2.9. berikut ini:
Tabel 2.9 Peningkatan Nilai Tambah dari Alumina Menjadi Aluminium
No. Deskripsi
bauxite to alumina to
Alumina
1)
aluminium

Output, Input dan Harga

1 Jumlah output (Ton)
1)
1 1
2 Jumlah input (Ton)
1)
2,00 2
3 Tenaga kerja (HOK) 6 6
4 Faktor konversi = (1)/(2) 0,50 0,56
5 Koefisisen TK langsung (HOK/US$) = (3/2) 3,00 3,33
6 Harga produk (US$/Ton) 455 2.700
7 Upah TK langsung (US$/hr) 5,70 5,90

Penerimaan dan Keuntungan

8 Harga bahan baku (US$/Ton)
3)
13,95 455
9 Sumbangan input lain (US$/Ton)
**)
15,6144 910
10 Nilai output (US$/Ton) 228 1.500
11 a. Nilai tambah (US$/Ton) 198 135

b. Rasio nilai tambah (%) 0,87 0,09
12 a. Pendapatan tenaga kerja langsung (US$/Ton) 17 20

b. Pangsa tenaga kerja langsung (%) 8,64 14,57
13 a. Keuntungan (US$/Ton) 181 115

b. Tingkat keuntungan (%) 91,36 85,43

Balas jasa pemilik faktor-faktor produksi

14 Marjin (US$/Ton) 214 1.045
a. Sumbangan tenaga kerja langsung (%) 8,01 1,88
b. Sumbangan input lain (%) 7,31 87,08
c. Keuntungan pemilik perusahaan (%) 84,68 11,04

Sumber :

1) www.d.umn.edu (2007)


2) John O. Ottestad (2008)


3) www.world-aluminium.org (2007)


4) Antam, 2007



**) electricity and caustic soda

Berdasarkan tabel, nilai tambah proses bauksit menjadi alumina
meningkat sebesar US$198 per ton, sedangkan nilai tambah proses alumina
menjadi aluminium meningkat lagi sebesar US$ 135 per ton atau secara
akumulatif terjadi peningkatan nilai tambah sebesar US$ 333 perton dari bijih
bausit.
Berdasarkan tabel, nilai tambah proses bauksit menjadi alumina
meningkat sebesar US$198 per ton, sedangkan nilai tambah proses
alumina menjadi aluminium meningkat lagi sebesar US$ 135 per ton
atau secara akumulatif terjadi peningkatan nilai tambah sebesar US$
333 perton dari bijih bausit.
53
2.3.3. Prospek Pengembangan Smelter
Bauksit digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan alumina
dan diolah sebagai bahan baku aluminium. Sekitar 90% alumina
yang dihasilkan dari bijih bauksit digunakan untuk pabrik peleburan
aluminium, sisanya sebanyak 10% digunakan untuk keperluan non-
metalurgis, seperti pembuatan bata tahan panas (refractories), industri
gelas keramik, bahan penggosok dan industri kimia. Sedangkan
aluminium merupakan salah satu bahan logam yang telah banyak
digunakan di berbagai sektor industri manufaktur. Secara umum
untuk memperoleh aluminium murni dari bauksit dilakukan 2 tahapan
proses, yaitu proses bayer dan proses hall-heroult. Pada proses bayer,
bauksit dimurnikan untuk mendapatkan aluminium oksida. Proses
selanjutnya, proses hall-heroult, meleburkan aluminium dioksida
untuk mendapatkan logam aluminium murni. Gambaran lengkap dari
proses produksi Aluminium dapat dilihat pada diagram berikut ini.
Sumber: Kementerian Perindustrian
Gambar 2.18 Proses Produksi Aluminium

Sektor industri yang menggunakan aluminium tersebut antara
lain:
Industri otomotif, untuk membuat bak truk dan komponen
kendaraan bermotor;
Sektor konstruksi dalam pembangunan perumahan seperti kusen
dan jendela;
54
Industri manufaktur untuk membuat badan pesawat terbang;
Industri pengolahan makanan dan minuman, untuk kemasan
berbagai jenis produk;
Sektor lain, misal untuk kabel listrik, peralatan rumah tangga dan
barang kerajinan;
Membuat termit, yaitu campuran serbuk aluminium dengan serbuk
besi oksida, digunakan untuk mengelas baja ditempat, misalnya
untuk menyambung rel kereta api.
Sebagai penghasil bauksit, Indonesia saat ini belum memiliki
perusahaan pelebur (smelter) bauksit sehingga seluruh bijih bauksit
di ekspor ke luar negeri (Jepang dan Cina), sedangkan alumina
sebagai bahan baku untuk pembuatan aluminium harus mengimpor
dari negara lain.
Satu-satunya perusahaan aluminium di Indonesia adalah PT.
Indonesia Asahan Aluminium (PT. Inalum), yang didirikan tahun 1976
dengan nilai investasi 411 Milyar Yen. Saham kepemikikan 41,12 %
Pemerintah Indonesia dan 58,88 % Nippon Asahan Aluminium. Pabrik
Peleburan aluminium yang terletak di Kuala Tanjung-Sumatera Utara,
bergerak dalam bidang mereduksi alumina menjadi aluminium dengan
menggunakan alumina, karbon, dan listrik sebagai material utama.
Produksi aluminium dari perusahaan tersebut setiap tahunnya terus
meningkat dan melebihi kapasitas produksi, seperti pada tahun 2010
perusahaan memproduksi sebesar 254 ribu ton dimana kapasitas
produksi hanya sebesar 225 ribu ton, hal tersebut ditunjang dengan
efsiensi arus energi yang meningkat dari 88% menjadi 92%, yang
berarti konsumsi energi listrik makin menurun.
Disamping hal tersebut, kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Air PT.
Indonesia Asahan Aluminium (PLTA PT. Inalum) juga telah berhasil
meningkatkan efsiensi penggunaan air. PT. Inalum menghasilkan
aluminium dalam bentuk batang (ingot) dengan berat masing-masing
22,7 kg. Jenis kualitas produk yang dihasilkan oleh PT. Inalum adalah
masing-masing 99,90% dan 99,70%. Produksi Inalum 40% dijual di
pasar domestik, sedangkan 60% sisanya diekspor, hal ini sejalan
dengan besaran saham yang dimiliki pemerintah pusat Mitsubisi-
Jepang. Berikut tabel produksi dan penjualan aluminium ingot PT
Inalum:
55
Dari data historis tersebut, terdapat kecenderungan yang
meningkat dari tahun ke tahunnya baik data produksi maupun
penjualan. Bahkan peningkatan penjualan di dalam negeri cukup
signifkan dengan rata-rata pertumbuhan 7,07% per tahun. Pasar
domestik Aluminium produk dari PT Inalum meliputi industri hilir
berbasis aluminium yang berada di Sumatera Utara, Banten, DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Di sisi lain, kebutuhan domestik aluminium Indonesia sudah
mencapai 350 ribu ton per tahun dengan rata-rata pertumbuhan 15
persen per tahun, kekurangannya dipasok dari negara lain seperti
Australia. Demikian pula alumina sebagai bahan baku utama di
smelter PT Inalum dipasok dari Australia.
Saat ini PT Inalum baru memasok 0,7 persen dari kebutuhan
aluminium dunia. Adapun kebutuhan aluminium dunia pada tahun
2010 sebanyak 41,009 juta ton diperkirakan naik menjadi 50 juta
ton pada 2015.Seiring dengan tingkat kebutuhan, produksi alumina
dan aluminium primer, dalam kurun 2007-2010 terjadi fuktuatif yang
cenderung meningkat.Tahun 2010 tingkat produksi dunia mencapai
41,970 juta ton.
Namun dengan akan didirikannya pabrik Chemical Grade Alumina
(CGA) di Tayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat oleh PT
Indonesia Chemical Alumina (ICA) yang sahamnya dimiliki PT Aneka
Tambang (80%) dan PT Showa Denko (20%), maka dalam tiga tahun

Kajian Supply Demand Mineral


47

Disamping hal tersebut, kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Air PT.
Indonesia Asahan Aluminium (PLTA PT. Inalum) juga telah berhasil
meningkatkan efisiensi penggunaan air.PT. Inalum menghasilkan aluminium
dalam bentuk batang (ingot) dengan berat masing-masing 22,7 kg. Jenis
kualitas produk yang dihasilkan oleh PT. Inalum adalah masing-masing 99,90%
dan 99,70%. Produksi Inalum 40% dijual di pasar domestik, sedangkan 60%
sisanya diekspor, hal ini sejalan dengan besaran saham yang dimiliki
pemerintah pusat Mitsubisi-Jepang. Berikut tabel produksi dan penjualan
aluminium ingot PT Inalum:
Tabel 2.11 Produksi dan Penjualan Aluminium Ingot PT Inalum Tahun
2004-2011
Tahun
Produksi
(Ribu Ton)
Penjualan
(Ribu Ton)
(Juta
US$)
2004 247 240 430
2005 252 248 503
2006 248 246 503
2007 241 248 650
2008 246 249 552
2009 257 255 469
2010 254 254 578
2011 250 250 594
Sumber : PT Inalum, 2011
Dari data historis tersebut, terdapat kecenderungan yang meningkat
dari tahun ke tahunnya baik data produksi maupun penjualan. Bahkan
peningkatan penjualan di dalam negeri cukup signifikan dengan rata-rata
pertumbuhan 7,07% per tahun. Pasar domestik Aluminium produk dari PT
Inalum meliputi industri hilir berbasis aluminium yang berada di Sumatera
Utara, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan
Sulawesi Selatan.
Di sisi lain, kebutuhan domestik aluminium Indonesia sudah mencapai
350 ribu ton per tahun dengan rata-rata pertumbuhan 15 persen per tahun,
kekurangannya dipasok dari negara lain seperti Australia. Demikian pula
alumina sebagai bahan baku utama di smelter PT Inalum dipasok dari
Australia.
56
ke depan setelah berlakunya amanat Undang-Undang No. 4 Tahun
2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Indonesia tidak
akan mengimpor alumina. Kapasitas produksi CGA di Tayan setiap
tahunnya mencapai 300 ribu ton alumina. Selain Tayan, PT Aneka
Tambang melalui anak perusahaan juga berencana membangun
pabrik Smelting Grade Alumina (SGA) di Kecamatan Toho, Kabupaten
Pontianak, dengan kapasitas 1,2 juta ton pertahun.
Berikut ini adalah daftar proyek pembangunan smelter yang
sedang berjalan.
Proyek Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan, Lokasi: Tayan,
Kalimantan Barat.
Perkiraan biaya proyek sebesar US$450 juta dengan rencana
kapasitas produksi 300.000 ton Chemical Grade Alumina per
tahun. Status saat ini: Konsorsium unincorporated PT Wijaya Karya
(Persero) Tbk, Tsukishima Kikai Co. Ltd. dan PT Nusantara Energi
Abadi (Nusea) terpilih sebagai kontraktor EPC. Tahap saat ini: Proses
Pendanaan. Estimasi operasi komersial pada tahun 2014.
Proyek Smelting Grade Alumina (SGA) Mempawah, Lokasi:
Kalimantan Barat.
Perkiraan biaya proyek sebesar US$1 miliar dengan kapasitas produksi
1,2 juta metric ton SGA per tahun. Status saat ini: Antam berencana
untuk membentuk usaha patungan dengan Hangzhou Jinjiang Group
dari China dengan kepemilikan saham sebesar 49% (Antam) dan
51% (HJG). Antam memiliki opsi untuk menjadi mayoritas setelah tiga
tahun beroperasi komersial. Tahap saat ini: pemilihan kontraktor EPC
dan pendanaan. Estimasi operasi komersial pada semester II/2014.

Proyek Pabrik Pemurnian Alumina Harita Group, Lokasi:
Kendawangan, Kalimantan Barat.

Perkiraan biaya proyek sebesar US$2,28 milyar dengan rencana
kapasitas produksi 2 x 2.000.000 ton Alumina per tahun. Status
kepemilikan: Konsorsium PT Harita Group. Tahap saat ini: 2013
Pembangunan konstruksi industri alumina tahap 1. Estimasi operasi
komersial pada tahun 2015.
57
Maka sangat tepat dan beralasan jika ke depannya rencana
pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit di Indonesia
(khususnya di Kalimantan Barat) dapat diwujudkan dan dimatangkan.
Namun begitu, perlu dipertimbangkan pula umur tambang bauksit
yang bila dihitung berdasarkan ratio cadangan/produksi = 14
tahun (cadangan 223.456.017 ton : produksi 15.595.049 juta ton),
sedangkan ratio sumber daya/produksi = 74 tahun ( sumber daya
1.161.803.671 ton : produksi 15.595.049 ton). Oleh karenanya
kebijakan tentang nilai tambah dan konservasi perlu diterapkan
dengan baik. Dalam kondisi produksi sekarang berarti cuma tinggal
14 tahun lagi produksi bauksit dapat ditambang dan dapat memenuhi
kebutuhan smelter bauksit dalam negeri. Jumlah ini tidak sampai
20% dari produksi dunia (produksi bauksit dunia tahun 2008 sebesar
247.115.000 ton). Semua hal tersebut dengan asumsi bahwa tidak
ada lagi kegiatan eksplorasi lanjut untuk mengubah sumber daya
bauksit menjadi cadangan.
Sampai sekarang harapan untuk memperoleh keuntungan yang
besar dari mineral bauksit masih belum terlaksana, mengingat proyek
pemurnian bauksit menjadi alumina dan aluminium belum selesai.
Kendala yang dihadapi Indonesia saat ini adalah investasi di sektor
pengolahan (smelter) bauksit yang berlarut-larut waktunya, sehingga
tenggat waktu yang ditetapkan oleh Undang-Undang No.4 Tahun 2009
bahwa pengusaha tambang mineral bauksit tidak boleh mengekspor
dalam bentuk bahan mentah (raw material) akan sulit terpenuhi dengan
berbagai alasan. Di lain pihak, dengan kondisi ini para pengusaha
pertambangan mengeksploitasi secara besar-besaran sumber daya
mineral bauksit untuk memanfaatkan celah dari kebijakan Undang-
Undang pertambangan tersebut, yang memperkenankan pengusaha
untuk mengekspor bauksit sampai dengan awal tahun 2014.
Oleh sebab itu, rencana pembangunan smelter bauksit oleh PT
Antam dan Harita Group harus cepat dilaksanakan. Diperkirakan
proyek smelter ini selain bisa lebih memperpanjang umur tambang-
tambang bauksit juga dapat memperkuat posisi Indonesia di barisan
produsen alumina dan aluminium dunia.
58
Di samping beberapa hal yang telah disebutkan tersebut di atas,
adanya kecenderungan peningkatan kebutuhan dunia terhadap
alumina sebagai akibat dari semakin pesatnya pembangunan di
negara-negara berkembang maupun negara maju, tentunya menjadi
suatu keuntungan bagi Indonesia. Beberapa produk yang banyak
menggunakan alumina diantaranya refractories, abrasives, produk
bangunan, integrated circuit, dan juga bahan baku untuk LCD screen.
Jika selama ini negara kita hanya mengirimkan produksi ore (bijih)
bauksit, maka akan sangat bijak jika kita dapat mengolahnya terlebih
dahulu sehingga dapat meningkatkan nilai jualnya.
59
BAB III
METODOLOGI
3.1 Kerangka Pemikiran
Tahapan awal dari pembentukan kerangka pemikiran atas
permasalahan yang diangkat dalam kajian ini adalah studi literatur.
Tahap studi literatur merupakan tahapan penyusunan landasan teori
yang mendukung kajian yang akan dilakukan serta penelitian dari
pihak lain yang dianggap relevan dan menunjang kajian ini. Sumber
pustaka yang digunakan diperoleh dari buku serta sumber lainnya
akan membantu untuk mendukung penyusunan landasan teori dan
kerangka pemikiran. Dari hasil studi literatur, didapat referensi yang
melandasi kerangka pemikiran di studi ini, diantaranya yaitu:
Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara pasal 6, pasal 102 dan pasal 170.
Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2010 tentang Wilayah
Pertambangan pasal 36 dan pasal 93.
Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 7 Tahun
2012 tentang Peningkatan nilai tambah mineral melalui kegiatan
pengolahan dan pemurnian mineral.
Selanjutnya, dari observasi pendahuluan di lapangan
diharapkan dapat memperoleh gambaran aliran supply demand
mineral di Indonesia sehingga dapat dilakukan analisa dan diketahui
permasalahannya.
Studi literatur dilakukan dengan mempelajari buku-buku referensi,
baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus, yaitu berkaitan
dengan pokok permasalahan yang dibahas. Dalam kajian ini, studi
literatur yang bersifat khusus adalah berkaitan dengan aliran supply
demand mineral.
Data yang dikumpulkan adalah berupa data tahunan dari hasil
produksi, konsumsi dalam negeri, ekspor dan impor tiga produk
mineral yang diangkat dalam kajian ini, yaitu tembaga, nikel dan
60
bauksit. Data yang telah dikumpulkan diharapkan cukup mewakili
gambaran aliran supply demand di industri mineral saat ini.
Setelah keseluruhan data diperoleh, maka dapat dilakukan
penyusunan neraca supply demand mineral dengan menggunakan
struktur HS Code sebagai model dari aliran supply demand mineral.
Harmonized Commodity Description and Coding System, atau
lebih dikenal sebagai Harmonized System (HS) adalah standar
Internasional atas sistem penamaan dan penomoran yang digunakan
untuk pengklasifkasi produk perdagangan dan turunannya yang
dikelola oleh World Customs Organization (WCO) dan beranggotakan
lebih dari 170 negara anggota dan berkantor di Brussels, Belgia.
Tata penamaan pada Harmonized System terdiri atas enam angka,
empat digit pertama yang disebut sebagai Pos WCO, yang berarti
bahwa secara global semua HS di dunia memiliki barang yang sama
pada pos ini. Kemudian 2 digit (digit kelima dan keenam) berikutnya
disebut subpos WCO. Negara-negara yang telah mengadopsi
Harmonized System tidak diperkenankan untuk mengubah dengan
cara apapun yang terkait dengan penjelasan Pos atau Subpos WCO
dari Harmonized System.
Masing-masing negara dapat memperluas penambahan
penomoran Harmonized System untuk keperluan umumnya pada
tingkat urutan digit ke delapan atau ke sepuluh. Untuk daerah Asean,
dikenal dengan subpos AHTN, yaitu digit ke-7 dan 8, sedangkan untuk
kebijakan atas penambahan nomenklatur barang masing-masing
negara ada pada digit ke-9 dan 10.
Barang niaga atau impor yang dapat dimasukkan ke dalam HS
pada Pos WCO harus memenuhi nilai perdagangan dunia minimal
US 50 juta dalam tiga tahun terakhir, yang mana ini adalah ketentuan
dari WCO. Sedangkan untuk dapat masuk ke bagian subpos AHTN
maka barang harus memenuhi nilai perdagangan minimal US 1 juta
dalam tiga tahun terakhir dalam perdagangan antar negara Asean.
Sekarang telah lebih dari 200 negara, kesatuan wilayah ekonomi dan
tarif cukai yang mewakili lebih dari 98% dari perdagangan dunia yang
telah menggunakan HS sebagai dasar untuk:
Tarif Bea Cukai;
Kumpulan statistik perdagangan Internasional;
61
Rules of origin;
Kumpulan pajak internal;
Negosiasi dalam perdagangan (misalkan, jadwal konsesi tarif
dalam World Trade Organization);
Tarif transportasi dan statistik;
Pemantauan atas kontrol barang (misalkan, limbah, narkoba,
senjata kimia, lapisan ozon, spesies langka);
Bidang kontrol dan prosedur cukai dalam hal ini termasuk atas
risiko dan kepatuhan dan teknologi informasi.
Revisi pengkodean ini telah dilakukan dalam bertahun-tahun. Oleh
karena itu, jika memerlukan referensi kode yang berkaitan dengan
masalah perdagangan bahkan dari tahun yang lalu, harus terlebih
dahulu melakukan pemastian terhadap penetapan defnisi kode
yang sesuai untuk dapat digunakan. Gambar berikut memperlihatkan
kerangka pemikiran dari kajian ini:

62


Kajian Supply Demand Mineral


54


























Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian
IDENTIFIKASI DATA YANG
DIPERLUKAN:
DATA PRODUKSI
DATA STRUKTUR INDUSTRI
DATA EKSPOR IMPOR
DATA KONSUMSI DALAM NEGERI
IDENTIFIKASI CARA PENGUMPULAN
DATA:
PENGUKURAN LANGSUNG
PENGUMPULAN DATA HISTORIS
IDENTIFIKASI LOKASI
PENELITIAN
PENGUMPULAN
DATA
STUDI SUPPLY
CHAIN &
MINERAL
INFORMASI
MINERAL
STUDI PENDAHULUAN
TUJUAN
PENELITIAN
LANDASAN
TEORI
IDENTIFIKASI
VARIABEL
PENELITIAN
PEMBUATAN
MODEL HS
HIPOTESA
PENELITIAN
PERSIAPAN PENELITIAN
PENGAMBILAN
DATA
DATA YANG
DIPERLUKAN
NERACA SUPPLY
DEMAND BERDASAR
HS CODE INDUSTRI
MINERAL
ANALISA INFORMASI:
ANALISA GAP
ANALISA PELUANG
ANALISA COST & BENEFIT
PENGOLAHAN DATA
KESIMPULAN
REKOMENDASI
IMPLEMENTASI
KESIMPULAN DAN SARAN
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian
63
Setelah terbentuk model yang tepat dalam mempresentasikan
kebijakan supply demand mineral nasional, selanjutnya dapat
dilakukan analisa atas model tersebut. Tahapan akhir dari kajian
ini adalah merangkum hasil penelitian yang diawali dengan tahap
identifkasi dan perumusan masalah hingga melakukan analisis dan
pengolahan data, berupa kesimpulan-kesimpulan yang memberikan
gambaran secara keseluruhan dari obyek permasalahan yang diteliti.
3.2 Pendekatan yang Dilakukan



Kajian Supply Demand Mineral


55

Setelah terbentuk model yang tepat dalam mempresentasikan kebijakan
supply demand mineral nasional, selanjutnya dapat dilakukan analisa atas
model tersebut. Tahapan akhir dari kajian ini adalah merangkum hasil
penelitian yang diawali dengan tahap identifikasi dan perumusan masalah
hingga melakukan analisis dan pengolahan data, berupa kesimpulan-kesimpulan
yang memberikan gambaran secara keseluruhan dari obyek permasalahan yang
diteliti.
3.2 Pendekatan yang Dilakukan























Sumber: Thierauf dan Klekamp (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 3.2 Tahapan Pendekatan Berencana (Thierauf dan Klekamp, 1975)
DATA YANG DIPERLUKAN TAHAP PEMECAHAN MASALAH TEKNIK YANG DIGUNAKAN
FAKTA, IDE, PENDAPAT,
DAN LAIN-LAIN
OBSERVASI TERHADAP GEJALA
PERMASALAHAN DAN MASALAH
YANG NYATA
DEFINISI PERMASALAHAN YANG
SEBENARNYA
PENGEMBANGAN ALTERNATIF
PENYELESAIAN BERDASARKAN
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PERMASALAHAN
PEMILIHAN SOLUSI OPTIMAL
BERDASAR ANALISA ALTERNATIF
VERIFIKASI DARI SOLUSI ATAU
PENYELESAIAN OPTIMAL MELALUI
IMPLEMENTASI
PEMBUATAN KENDALI YANG SESUAI
DIGUNAKAN UNTUK MENDETEKSI
PERUBAHAN YANG DIPENGARUHI
SOLUSI
INFORMASI DARI
SUMBER YANG
DIPERLUKAN
DATA EMPIRIS CONTOH
DATA EMPIRIS
PERALATAN STANDAR
(METODE, TEKNIK, MODEL)
PENGEMBANGAN MODEL
HS CODE
ALAT BANTU KOMPUTER
UMPAN BALIK
Sumber: Thierauf dan Klekamp (Diolah Tim Kajian SDM)
Gambar 3.2 Tahapan Pendekatan Berencanan (Thierauf dan Klekamp, 1975)
64
Pada kajian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan
berencana. Pendekatan berencana (planned approach) dapat
digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan model-model
kuantitatif dalam pemecahan masalah-masalah spesifk (Thierauf
dan Klekamp, 1975). Dalam pendekatan berencana akan diawali
dengan pengamatan atau meneliti permasalahan. Setelah itu, metode
yang dibentuk sebagai metode penyelesaian disesuaikan dengan
tujuan, kebijaksanaan, batasan, serta asumsi dari alternatif solusi
permasalahan yang tersedia.
Pada gambar tahapan pendekatan berencana seperti Gambar
3.2 di atas, terdapat enam tahapan utama dalam menyelesaikan
serta membuat solusi dari sebuah permasalahan. Dimana solusi yang
diberikan oleh sebuah pendekatan berencana adalah solusi yang
bersifat operasional. Keenam tahapan tersebut adalah:
1. Tahapan observasi
Pada tahapan ini akan dilakukan terlebih studi geologi daerah
dan pengenalan terhadap hasil bumi daerah tersebut. Setelah itu,
dilakukan observasi terhadap permasalahan mengenai pemanfaatan
hasil pertambangan oleh pemerintah daerah, observasi yang dilakukan
tersebut berdasarkan data historis dan fakta-fakta yang ditemukan di
lapangan.
2. Defnisi permasalahan yang sebenarnya
Defnisi permasalahan yang sebenarnya merupakan interaksi
yang efektif dari fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. Menentukan
faktor-faktor yang akan mempengaruhi sistem atau kebijakan, tujuan,
sasaran, dan batasan terhadap penyelesaian masalah mengenai
pemanfaatan gas bumi. Kemudian memformulasikan permasalahan
berdasarkan fakta yang ditemukan.
3. Pengembangan alternatif penyelesaian berdasar faktor yang
mempengaruhi permasalahan
Pada tahapan ini, analisis data yang didapatkan kemudian
dikembangkan alternatif penyelesaian yang mungkin berdasarkan
faktor-faktor yang mempengaruhi.
65
4. Pemilihan penyelesaian atau solusi optimal berdasarkan
analisa alternatif.
Solusi-solusi bagi masalah tersebut yang telah dijabarkan satu
per satu kemudian dipilih menjadi suatu solusi masalah yang optimal.

5. Verifkasi dari solusi atau penyelesaian optimal melalui
tahapan implementasi.
Pada tahapan ini, dibentuk penyelesaian optimum melalui
tahapan implementasi, dimana penyelesaian atau solusi tersebut diuji
melalui tahapan implementasi, sehingga didapatkan peubah-peubah
kritis dan analisa dari hasil yang didapatkan.
6. Pembuatan kendali yang tepat dan sesuai.
Pada tahapan akhir, dibuat pengendalian yang tepat dan
sesuai untuk mendekati perubahan yang mungkin terjadi dan dapat
mempengaruhi model penyelesaian. Dalam tahapan ini ketepatan
serta kesesuaian dari formulasi permasalahan akan lengkap dengan
memberikan umpan balik terhadap observasi permasalahan.
3.3 Tata Laksana
Tata laksana pada penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:
1. Identifkasi Masalah
Tahapan pertama dari sebuah penelitian adalah identifkasi
terhadap masalah serta faktor-faktor dan peubah-peubah yang
mempengaruhi pemasalahan tersebut. Dalam hal ini yaitu mengenai
aliran supply demand mineral. Identifkasi masalah yang dilakukan
adalah mengenai kondisi saat ini, permasalahan dan manfaat yang
mungkin timbul dari kondisi yang telah ada, dan kemungkinan
peningkatan nilai tambah melalui pengembangan lebih lanjut. Kegiatan
kajian yang dilakukan mulai dari inventarisasi data potensi neraca
fsik mineral, rantai produksi mineral, produksi dan konsumsi per jenis
mineral termasuk konsumsi domestik, ekspor dan inventarisasi data
perekonomian setempat, serta analisis singkat keterkaitan industri
hulu dengan industri hilir dari sektor pertambangan mineral.
66
2. Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Data sekunder diperoleh melalui pencatatan yang telah dilakukan
oleh Kementrian terkait, seperti Kementrian Perdagangan dan
Perindustrian. Sebagai tambahan, dilengkapi dengan literatur yang
didapat dari berbagai sumber.
Data yang digunakan berupa data tahunan yang berhubungan
dengan supply demand mineral, data jumlah hasil produksi dan data-
data lainnya yang mendukung kajian ini.
3. Pengolahan Data
Pada tahap ini dilakukan pengolahan data terhadap data
sekunder yang telah diperoleh dari berbagai sumber. Data sekunder
yang dikumpulkan tersebut berupa data kualitatif dan data kuantitatif.
Data kuantitatif akan disajikan dalam bentuk tabel dan angka,
sedangkan data kualitatif akan disajikan dalam bentuk uraian data.
Kegiatan kajian ini juga akan menganalisis besarnya pengaruh
diwajibkannya pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri
terhadap besarnya penerimaan negara dan tenaga kerja.
4. Pemilihan Model
Pada tahap ini dilakukan pemilihan model kajian supply demand
yang sesuai dan tepat berdasarkan permasalahan yang sedang
dikaji. Agar pemaparan kajian dapat lebih terstruktur, model yang
digunakan berbasis HS Code yang telah sering digunakan dalam
penelusuran rules of origin. Dari neraca supply demand yang telah
disusun, kita dapat membandingkannya dengan kondisi yang ingin
dicapai sehingga diperoleh hasil yang terbaik dalam hal total biaya
(cost) lebih rendah dan memiliki keuntungan yang lebih besar.
67
BAB IV
ANALISA SUPPLY DEMAND MINERAL

4.1. Industri Pertambangan Tembaga
Indonesia merupakan negara penghasil bahan baku mentah
tembaga dan termasuk pemain besar di pasar Internasional.
Indonesia telah memiliki industri tembaga dari hulu sampai ke hilir.
Namun masih disayangkan, jumlah industrinya masih sangat sedikit.
Satu diantaranya adalah PT. Smelting, yang termasuk pemain besar
untuk industri tembaga di Indonesia. Seperti yang terlihat pada
pohon industri tembaga dibawah ini, walaupun hampir semua industri
pengolahan dan pemurnian tembaga telah dilakukan di dalam negeri
namun sebagian besar tembaga di ekspor keluar negeri dalam bentuk
konsentrat dan hanya 30% saja yang diolah menjadi logam (tembaga
katoda) di dalam negeri (kapasitas total industri pengolahan di dalam
negeri hanya 30%).

Sumber: Kementerian Perindustrian
Gambar 4.1 Pohon Industri Tembaga

Dari gambar pohon industri tembaga diatas justru kelompok
industri hulunya sudah jauh atau dalam, namun sebaliknya industri
hilirnya yang belum berkembang seperti kabel, tube dan pipa. Dengan
demikian produk industri hulu (Katoda tembaga) tidak diserap oleh
pasar dalam negeri sendiri sehingga banyak dijual keluar negeri
68
yang belakangan ini meningkat terus seiring dengan meningkatnya
kebutuhan tembaga dunia. Konsumsi tembaga dalam negeri sendiri
pada tahun 2011 berada di kisaran 600.000 ton. Untuk negara
yang memiliki banyak penduduk, konsumsi tembaga dalam negeri
sebesar ini tergolong masih kecil. Saat ini, produksi dalam negeri
baru terkonsentrasi pada produk-produk hulu, sementara umumnya
permintaan dalam negeri masih kepada produk-produk hilir. Hal ini
yang menyebabkan impor produk tembaga, khususnya di produk-
produk hilir.
Industri tembaga di Indonesia pada dasarnya telah ada dimulai
dari hulu yaitu dari bijih menjadi konsentrat dalam hal ini seperti
yang dibuat di Freeport Tembagapura dan Newmont Batu Hijau.
Konsentrat diproses lebih lanjut menjadi Katoda tembaga (copper
cathode) yang saat ini baru ada satu industri yang bergerak di sektor
hulu untuk pembuatan katoda tembaga yaitu PT Smelting di Gresik.
Perusahaan ini memanfaatkan bahan baku dari hasil pertambangan
tembaga yang dimiliki Indonesia di Propinsi Papua yang diekplorasi
oleh PT. Freeport Indonesia dan di Batu Hijau yang di eksplorasi oleh
PT Newmont Nusa Tenggara. PT Smelting memiliki kapasitas desain
untuk memproduksi katoda tembaga sebanyak 300.000 ton per tahun,
dengan bahan baku 660.000 ton konsentrat tembaga yang dipasok
dari PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara. Dalam
memproses pembuatan katoda tembaga tersebut, terdapat produk-
produk sampingannya yaitu; asam sulfat (600.000 ton/tahun), slag
(400.000 ton/tahun), gypsum (30.000 ton/tahun) dan lumpur anoda
(500 ton/tahun).
Penjualan katoda tembaga PT Smelting di wilayah domestik
adalah 40% dari total produksi katoda tembaga PT Smelting,
sedangkan untuk sisanya sekitar 60% harus dijual ke luar negeri.
Permintaan cooper cathode masih relatif rendah, dan tidak mengalami
kenaikan yang cukup signifkan. Hal ini disebabkan karena industri
hilir yang juga tidak mengalami perkembangan yang cukup berarti.
PT Smelting sendiri berharap agar pemerintah dapat mendorong
perkembangan industri hilir berbasis tembaga. Tentu saja dengan
perkembangan industri hilir pengguna tembaga ini, maka permintaan
pasar domestik akan cooper cathode juga akan meningkat. Terkait
dengan produksi cooper cathode tersebut, maka kelebihan produksi
yang tidak terserap di pasar domestik akan diekspor ke negara lain.
69
Lebih lanjut, dengan kondisi penyerapan pasar domestik yang
rendah tersebut maka ekspor produk hulu akan terus mengalami
peningkatan dan Indonesia akan kehilangan nilai tambah karena
nilai tambahnya akan dinikmati oleh pihak luar negeri. Untuk itu
kedalaman struktur industri tembaga diarahkan ke industri hilirnya,
agar terciptakan peluang pasar industri hilir yang kompetitif dan dapat
diekspor sebagai produk jadi dan nilai tambahnya dapat dinikmati oleh
Indonesia. Tube dan pipa tembaga pada dasarnya banyak digunakan
di indutri elektronika seperti Air Conditioning (AC), untuk itu industri
penggunanya seperti industri AC tersebut harus terus dikembangkan.
Demikian juga dengan pabrik kabel, daya serap atas produk katoda
hingga saat ini masih rendah (40%).Kondisi ini kiranya perlu ditelaah
lebih lanjut, apakah pemenuhan kebutuhan kabel dalam negeri
tersebut dipenuhi dari impor.
Fluktuasi ekspor impor produk tembaga tidak bisa lepas dari
perkembangan pasar dunia. Hingga tahun 2006, Jepang masih
merupakan negara terdepan dalam mengimpor tembaga dunia,
mencapai 1.327 MT diikuti oleh China, India dan Korea Selatan.
Setelah tahun 2006 negara pengimpor utama tembaga diambih
alih oleh China. Di awal tahun 2007, permintaan tembaga dunia
meningkat dan bahkan melampaui volume produksinya. Pemicunya
adalah China yang mengimpor banyak logam tersebut menjelang
Olimpiade. Permintaan tersebut melampaui kapasitas produksi yang
mencapai 39.000 metrik ton pada bulan Januari dan 51.000 metrik ton
pada bulan Februari. Hal ini juga berpengaruh terhadap peningkatan
ekspor produk tembaga dari Indonesia.
Sementara itu, permintaan tembaga tahun 2009 menurun
sebesar 29% menjadi 18 juta MT dikarenakan adanya krisis global
yang dipicu dari Amerika. yang cukup mengejutkan khusus di China,
permintaan tembaga selama 2009 justru naik 38 persen. China pada
2009 membeli tembaga sebanyak 36 persen dari konsumsi dunia.
Pada tahun 2010, konsumsi tembaga dunia tumbuh 5,4 persen,
dimana China diperkirakan membeli hampir 40 persen produksi
dunia. Permintaan China masih kuat setelah pertumbuhan ekonomi
pada 2009 dan 2010 melonjak meninggalkan negara lainnya yang
dilanda krisis global.
70
Namun begitu, pada tahun 2011 dan 2012 terjadi penurunan
signifkan dari ekspor tembaga Indonesia. Hal ini dikarenakan
melambatnya pertumbuhan perekonomian di negara tujuan ekspor
yaitu Jepang, India, Korea Selatan, China dan Spanyol. Turunnya
ekspor ke Jepang juga disebabkan karena bencana gempa yang
terjadi di negara tersebut pada awal 2011. Proyeksi untuk 2013,
diharapkan terjadi peningkatan ekspor produk tembaga ke negara-
negara berkembang di Asia yang secara bertahap terus memerlukan
upaya intensif dalam penggunaan tembaga untuk konstruksi,
pembangunan infrastruktur energi dan aktivitas industri lainnya.
Berdasarkan HS code dari struktur industri tembaga, maka kita
dapat memetakan aliran supply demand tembaga beserta data tahun
2011, seperti yang terlihat pada tabel 4.1 dan gambar 4.2. Neraca
supply demand tembaga tersebut dapat dianalisa sebagai berikut:
1. Copper ores and concentrates
Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat tembaga sebesar
1.471.420 ton.Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih
dan konsentrat tembaga yang semestinya dapat diolah di dalam
negeri. Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih antara nilai
impor produk tembaga dasar dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat
tembaga, yaitu sebesar USD 12,16/Kg USD 3,19/Kg = USD 8,97/Kg.
Maka dapat dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011,
yaitu sebesar USD 8.970/ton x 1.471.420 ton = USD 13.198.637.400,-.
Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya
terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan, cukai
ekspor produk tembaga dasar, retribusi daerah, dan lain sebagainya
bila proses produksi bijih dan konsentrat tembaga yang di ekspor
dilakukan di dalam negeri.
Sebagai tambahan, terdapat beneft dari penyerapan tenaga
kerja melalui industri pengolahan tembaga dasar. Berdasarkan data
statistik, industri tembaga dasar mampu menyerap 1 orang tenaga
kerja per 45 ton produksi. Artinya, jika terjadi peningkatan nilai tambah
dari 1.471.420 ton tembaga yang akan diolah di dalam negeri akan
menyerap tenaga kerja sebanyak 32.600 orang.

71

K
a
j
i
a
n

S
u
p
p
l
y

D
e
m
a
n
d

M
i
n
e
r
a
l


D
R
A
F
T

L
A
P
O
R
A
N

A
K
H
I
R


I
V
-
6
4


T
a
b
e
l

4
.
1

N
e
r
a
c
a

S
u
p
p
l
y

D
e
m
a
n
d

T
e
m
b
a
g
a

S
u
m
b
e
r
:

K
e
m
e
n
t
e
r
i
a
n

P
e
r
i
n
d
u
s
t
r
i
a
n




0
.
0

P
r
o
d
u
k

T
e
m
b
a
g
a

T
O
T
A
L



0
.
0
.
0

T
e
m
b
a
g
a

D
a
s
a
r

T
e
m
b
a
g
a

K
a
s
a
r
/
U
n
w
r
o
u
g
h
t

P
r
o
d
u
k

T
e
m
b
a
g
a

B
a
t
a
n
g
a
n

P
r
o
d
u
k

T
e
m
b
a
g
a

L
e
m
b
a
r
a
n

P
r
o
d
u
k

T
e
m
b
a
g
a

l
a
i
n
n
y
a



0
.
0
.
0
.
0

I
n
g
o
t

T
e
m
b
a
g
a

(
C
o
p
p
e
r

C
a
t
o
d
e
)

T
e
m
b
a
g
a

K
a
s
a
r

L
a
i
n
n
y
a

B
a
r
/
R
o
d

d
a
r
i

T
e
m
b
a
g
a

m
u
r
n
i

K
a
w
a
t

T
e
m
b
a
g
a

B
a
r
/
R
o
d

d
a
r
i

T
e
m
b
a
g
a

l
a
i
n
n
y
a
,

P
r
o
f
i
l
e
,

P
i
p
e
/
T
u
b
e

T
e
m
b
a
g
a

P
l
a
t
e
/
S
h
e
e
t

T
e
m
b
a
g
a

F
o
i
l

S
k
r
a
p

T
e
m
b
a
g
a

P
r
o
d
u
k

T
e
m
b
a
g
a

l
a
i
n
n
y
a



S
a
t
u
a
n

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

1

P
a
s
o
k
a
n

M
i
n
e
r
a
l









a
.

P
r
o
d
u
k
s
i

8
7
9
,
6
9
6

N
/
A

2
8
1
,
7
1
8

1
,
1
6
8
,
8
9
7

1
,
8
1
6

1
,
3
7
5
,
4
6
6

6
2
,
4
1
2

8
9
,
7
6
4

9
6
,
5
0
4

8
8
9
,
5
5
9

1
,
9
2
3

7
,
1
5
5

1
,
4
1
9

6
,
3
1
7

1
3
2

4
3
,
1
1
2

4
2
,
6
3
4

2
1
6
,
2
2
5

1
,
3
8
5

7
,
7
1
3

1
,
3
6
9
,
6
3
9

3
,
8
0
4
,
2
0
8



b
.

I
m
p
o
r


2
9
5

3
,
5
8
8

6
6
,
0
6
7

6
1
0
,
9
9
2

6
,
3
0
6

4
8
,
6
8
8

3
,
8
4
8

2
9
,
3
4
1

1
4
,
4
1
6

1
0
4
,
3
8
3

1
7
,
4
5
8

1
1
5
,
3
1
8

3
1
,
8
4
0

1
5
6
,
5
7
2

8
,
7
4
2

6
4
,
7
4
1

1
7
,
0
7
5

1
3
4
,
8
0
0

5
,
3
0
8

5
0
,
2
5
8

1
7
1
,
3
5
5

1
,
3
1
8
,
6
8
1

2

K
o
n
s
u
m
s
i

M
i
n
e
r
a
l





a
.

K
o
n
s
u
m
s
i

D
a
l
a
m

N
e
g
e
r
i

2
2
7
,
8
1
1

3
,
5
8
8

2
1
7
,
6
1
5

6
1
0
,
9
9
2

6
,
3
0
6

4
8
,
6
8
8

5
6
,
5
0
6

2
9
,
3
4
1

1
4
,
4
1
6

1
0
4
,
3
8
3

1
7
,
4
5
8

1
1
5
,
3
1
8

3
1
,
8
4
0

1
5
6
,
5
7
2

8
,
7
4
2

6
4
,
7
4
1

1
7
,
0
7
5

1
3
4
,
8
0
0

5
,
3
0
8

5
0
,
2
5
8

6
0
3
,
0
7
7

1
,
3
1
8
,
6
8
1



b
.

E
k
s
p
o
r

6
5
2
,
1
8
0

N
/
A

1
3
0
,
1
7
0

1
,
1
6
8
,
8
9
7

1
,
8
1
6

1
,
3
7
5
,
4
6
6

9
,
7
5
4

8
9
,
7
6
4

9
6
,
5
0
4

8
8
9
,
5
5
9

1
,
9
2
3

7
,
1
5
5

1
,
4
1
9

6
,
3
1
7

1
3
2

4
3
,
1
1
2

4
2
,
6
3
4

2
1
6
,
2
2
5

1
,
3
8
5

7
,
7
1
3

9
3
7
,
9
1
7

3
,
8
0
4
,
2
0
8



















































B
a
l
a
n
c
e

0



0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

72

Kajian Supply Demand Mineral
DRAFT LAPORAN AKHIR

IV-65

Produk Tembaga
Produksi: 1.369.639 Ton
Impor: 7,7 USD/Kg
Konsumsi DN: 603.077 Ton
Ekspor: 13,31 USD/Kg
Tembaga Dasar
Produksi: 879.696 Ton
Impor: 12,16 USD/Kg
Konsumsi DN: 227.811 Ton
Ekspor:
Produk Tembaga Batangan
Produksi: 160.839 Ton
Impor 6,97 USD/Kg
Konsumsi DN: 88.380 Ton
Ekspor: 9,12 USD/Kg
Bar/Rod dari Tembaga murni
Produksi: 62.412 Ton
Impor: 7,63 USD/Kg
Konsumsi DN:56.506 Ton
Ekspor: 9,20 USD/Kg
Kawat Tembaga
Produksi: 96.504 Ton
Impor: 7,24 USD/Kg
Konsumsi DN: 14.416 Ton
Ekspor: 9,22 USD/Kg
Bar/Rod dari Tembaga
lainnya, Profile, Pipe/Tube
Produksi: 1.923 Ton
Impor: 6,61 USD/Kg
Konsumsi DN: 17.458 Ton
Ekspor: 3,72 USD/Kg
Tembaga Kasar/Unwrought
Produksi: 283.534 Ton
Impor: 9,12 USD/Kg
Konsumsi DN: 223.921 Ton
Ekspor: 19,28 USD/Kg
Ingot Tembaga
Produksi: 281.718 Ton
Impor: 9,25 USD/Kg
Konsumsi DN: 217.615 Ton
Ekspor: 8,98 USD/Kg
Tembaga Kasar Lainnya
Produksi: 1.816 Ton
Impor: 7,72 USD/Kg
Konsumsi DN: 6.306 Ton
Ekspor: 757,42 USD/Kg
Produk Tembaga Lembaran
Produksi: 1.551 Ton
Impor: 5,45 USD/Kg
Konsumsi DN: 40.582 Ton
Ekspor: 31,87 USD/Kg
Tembaga Plate/Sheet
Produksi: 1.419 Ton
Impor: 4,92 USD/Kg
Konsumsi DN: 31.840 Ton
Ekspor: 4,45 USD/Kg
Tembaga Foil
Produksi: 132 Ton
Impor: 7,41 USD/Kg
Konsumsi DN: 8.742 Ton
Ekspor: 326,61 USD/Kg
Produk Tembaga lainnya
Produksi: 44.019 Ton
Impor: 8,27 USD/Kg
Konsumsi DN: 22.383 Ton
Ekspor: 5,09 USD/Kg
Skrap Tembaga
Produksi: 42.634 Ton
Impor: 7,89 USD/Kg
Konsumsi DN: 17.075 Ton
Ekspor: 5,07 USD/Kg
Produk Tembaga lainnya
Produksi: 1.385 Ton
Impor: 9,47 USD/Kg
Konsumsi DN: 5.308 Ton
Ekspor: 5,57 USD/Kg
Copper Ores & Concentrates
Ekspor: 1.471.420 Ton
Impor: -
Konsumsi DN: 1.369.639 Ton
Nilai Ekspor: 3,19 USD/Kg

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.2 Neraca Supply Demand Tembaga
73
2. Tembaga dasar.
Dari perbandingan data ekspor dan impor tembaga dasar, harga
impor berada di kisaran USD 12,16/kg dan masih lebih besar dari
harga ekspor pada tahun 2010 (USD 3,14/kg) dan kecenderungannya
dari tahun 2007 harga ekspor terus menurun. Grafk fuktuasi ekspor
dan impor dapat dilihat pada gambar berikut.

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.3 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Dasar (Kg)

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.4 F luktuasi Impor & Ekspor Tembaga Dasar (US$)
74
Dari data yang ada terlihat bahwa sebagian besar produk
tembaga dasar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Secara keseluruhan, nilai transaksi ekspor impor tembaga dasar
negatif, artinya nilai ekspor lebih rendah dari nilai impor. Adanya impor
tembaga dasar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,
hal ini dikarenakan tembaga dasar lebih banyak diproses di dalam
negeri menjadi batang kawat tembaga dan katoda tembaga untuk
peningkatan nilai tambah.
3. Tembaga kasar / unwrought.
Produk yang termasuk dalam HS Code tembaga kasar adalah
ingot tembaga (copper catode) dan tembaga kasar lainnya. Dari
perbandingan data ekspor dan impor untuk tembaga kasar, harga
impor (USD 9,12/kg) masih jauh lebih rendah dari harga ekspor (USD
19,28/kg).Grafk fuktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar
berikut.

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.5 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Unwrought (Kg)

75
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.6 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Unwrought (US$)
Dari data terlihat bahwa jumlah imporpun jauh lebih sedikit
dibanding jumlah ekspor sehingga kebutuhan dalam negeri
diasumsikan semestinya diisi oleh produk lokal. Secara keseluruhan,
nilai transaksi ekspor impor tembaga kasar positif, artinya nilai
ekspor lebih tinggi dari nilai impor. Hal ini dikarenakan telah terjadi
peningkatan nilai tambah dari tembaga kasar.
4. Tembaga batangan.
Produk yang termasuk dalam HS Code tembaga batangan adalah
bar/rod dari tembaga murni; kawat tembaga; dan bar/rod, profle, pipe/
tube dari tembaga lainnya. Dari perbandingan data ekspor dan impor
untuk tembaga batangan, harga impor (USD 6,97/kg) masih jauh lebih
rendah dari harga ekspor (USD 9,12/Kg). Grafk fuktuasi ekspor dan
impor dapat dilihat pada gambar berikut:

76

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.7 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Batangan (Kg)

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.8 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Batangan (US$)
77
Dari data terlihat bahwa jumlah impor pun jauh lebih sedikit
dibanding jumlah ekspor sehingga kebutuhan dalam negeri
diasumsikan harusnya diisi oleh produk lokal. Secara keseluruhan,
nilai transaksi ekspor impor tembaga batangan positif, artinya nilai
ekspor lebih tinggi dari nilai impor. Hal ini dikarenakan telah terjadi
peningkatan nilai tambah dari tembaga batangan.
5. Tembaga lembaran.
Produk yang termasuk dalam HS Code tembaga lembaran
adalah tembaga plate/sheetdan tembaga foil. Dari perbandingan data
ekspor dan impor untuk tembaga lembaran, harga impor (USD 5,45/
kg) masih jauh lebih rendah dari harga ekspor (USD 31,87/Kg).Grafk
fuktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar berikut:

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.9 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lembaran (Kg)

78

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.10 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lembaran (US$)
Sebaliknya, dari data terlihat bahwa jumlah impor jauh lebih
banyak dibanding jumlah ekspor.Hal ini dapat diartikan bahwa nilai
tambah ada di dalam negeri, tapi pemenuhan kebutuhan dalam
negeri diisi dari impor. Untuk itu, perlu dibuat industri yang memasok
kebutuhan bahan baku bagi proses produksi tembaga lembaran,
khususnya produk tembaga plate/sheet untuk mengurangi jumlah
impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri.
6. Tembaga lainnya.
Produk yang termasuk dalam HS Code tembaga lainnya adalah
skrap tembaga dan produk tembaga lainnya. Grafk fuktuasi ekspor
dan impor dapat dilihat pada gambar berikut:

79


Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.11 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lainnya (Kg)

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.12 Fluktuasi Impor & Ekspor Tembaga Lainnya (US$)
80
Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk tembaga lainnya,
terlihat bahwa harga impor (USD 8,27/kg) masih lebih tinggi dari harga
ekspor (USD 5,09/Kg). Sebaliknya, jumlah impor lebih kecil dibanding
jumlah ekspor sehingga kebutuhan dalam negeri di asumsikan
harusnya diisi oleh produk lokal. Meskipun tidak terjadi peningkatan
nilai tambah, nilai transaksi ekspor impor tembaga lainnya positif,
artinya nilai ekspor lebih tinggi dari nilai impor. Hal ini dikarenakan
secara kuantitas jumlah ekspor jauh lebih tinggi dibanding jumlah
impor. Sulit untuk meningkatkan nilai tambah pada produk ini karena
sebagian besar ekspor berbentuk skrap.
Jika kita lihat data ekspor pada analisa daya saing untuk
tembaga, nilai tambah yang signifkan adalah dari copper cathodae
menjadi plate yaitu dari harga USD 6.321 menjadi USD 12.695/satuan
sedangkan menjadi kawat dengan harga USD 6.772/satuan. Hal ini
dapat diartikan dari katoda tembaga yang dihasilkan secara bisnis
lebih banyak menguntungkan dijadikan plate tembaga dibandingkan
dijadikan kawat tembaga, apalagi untuk tujuan ekspor.
Dari uraian diatas dapat dilihat ekspor hasil tambang terutama
dalam bentuk bijih pada saat yang sama terjadi impor alloy dengan
volume besar dan belum ada industri pengolahan anode slimes. Lebih
lanjut, pada industri belum ada industri ekstraksi tembaga dengan
elektro winning.
Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, konsentrat
tembaga (Cu) tidak hanya mengandung tembaga, melainkan juga
mineral ikutan seperti emas, perak dan sulfur. Di samping itu juga
terdapat unsur-unsur kimia lain walaupun dalam jumlah yang tidak
signifkan seperti Cd, Se, Bi, dan lain-lain tetapi harganya sangat
mahal. Dengan mengekspor secara langsung komoditi primer baik
berupa bijih ataupun konsentrat, nilai tambah dari hasil pengolahan
bijih ataupun konsentrat tembaga hanya dinikmati oleh negara lain.
Nilai tambah dapat ditingkatkan dengan cara mengolah konsentrat
di dalam negeri, yaitu dengan membangun pabrik peleburan dan
pemurnian tembaga serta pembangunan industri hilirnya. Oleh
karena itu, pengolahan hasil-hasil pertambangan di dalam negeri
untuk mendorong peningkatan nilai tambah sudah menjadi sebuah
tuntutan. Mahalnya investasi dapat disiasati dengan inovasi teknologi.
81
Ditinjau dari sisi resiko, investasi dalam pembangunan smelter
tembaga merupakan usaha yang sama sekali berbeda dengan
investasi dalam industri pertambangan. Jika investasi pada industri
pertambangan penuh dengan resiko, maka pada industri smelter
sudah sangat jelas objek bahan baku dan produk yang dihasilkan.
Industri smelter pengolahan hasil pertambangan dapat menjadi mesin
uang yang efektif. Cukup banyak metoda pengolahan hasil tambang
di Cina yang dapat diterapkan di Indonesia dengan biaya investasi
yang jauh lebih murah.
Pembangunan industri smelter di Indonesia memang
membutuhkan investasi dalan jumlah besar, padat teknologi dan
membutuhkan perencanaan yang matang & integral. Sebuah smelter
berkapasitas 200 ribu ton konsentrat per tahun memerlukan biaya
investasi sedikitnya USD 700 juta.
Beberapa tahun belakangan ini, perkembangan teknologi baru
smelter telah dapat menarik investor baru untuk membangun smelter
di Indonesia. Rencana pembangunan smelter di Kalimantan Selatan
dan Kalimantan Timur merupakan salah satu contohnya. Diharapkan
dengan mengadopsi berbagai teknologi smelter akan lebih baik
daripada menjual konsentrat tembaga.
Masalah yang mungkin akan muncul adalah kepastian pasokan
bahan baku ke smelter. Bahan baku jelas merupakan kebutuhan
utama, sebab tanpa adanya kepastian pasokan bahan baku hasil
penambangan, industri smelter akan mati. Dengan adanya Undang-
Undang Minerba No 4 Tahun 2009, perusahaan-perusahaan
pertambangan dipastikan akan mengirimkan hasil tambangnya
ke smelter di dalam negeri, sehingga persoalan bahan baku dapat
teratasi.
Standar kualitas pengolahan tembaga juga telah ditentukan
dalam suatu regulasi untuk menjamin kualitas produk. Smelter yang
dibangun nantinya akan menjadi rujukan dari pertambangan skala
kecil dan pertambangan rakyat.
PT. Aneka Tambang Tbk (Antam) berencana untuk berinvestasi
dalam industri tembaga dan sejumlah lokasi sudah diincar. PT Antam
berencana membangun pabrik pengolahan (smelter) tembaga yang
82
terletak di Halmahera, Maluku Utara dengan nilai investasi US$ 1,2
miliar. Langkah awal untuk mewujudkan pendirian pabrik tersebut, PT
Antam berencana menggalang kerjasama kemitraan dengan China.
Smelter tembaga yang hendak dibangun PT Antam di Halmahera,
diharapkan dapat memproduksi 20.000-27.000 ton tembaga per
tahun. Pabrik itu ditargetkan bisa mulai beroperasi pada 2014.
Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa industri hilir juga akan
bertumbuh dengan pesat, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,
dan menggerakkan roda perekonomian dengan tumbuhnya industri
hilir dan industri tersier. Sebagai gambaran, peleburan tembaga
dengan kapasitas 200.000 ton per tahun membutuhkan konsentrat
sekitar 660.000 ton. Dari sini akan dihasilkan asam sulfat sebanyak
650.000 ton, yang dapat mendukung produksi berbagai pupuk
khususnya pupuk majemuk (NPK) sebanyak 1,2 juta ton. Produk
samping lain seperti slag dan gypsum dibutuhkan oleh industri semen.
4.1.1 Peluang Industri Tembaga
Indonesia memiliki sumber daya alam yang lebih dari cukup untuk
bahan baku industri tembaga;
Sudah tersedianya teknologi pengolahan tembaga yang cukup
memadai dan didukung oleh adanya investor luar negeri yang
membantu memperkuat teknologi Indonesia dalam pengolahan
baja, walaupun masih hanya untuk beberapa pemain besar di
industri tembaga ini, seperti PT. Smelting di Gresik, Jawa Timur;
Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat
tembaga, yaitu sebesar USD 13.198.637.400,- per tahun.
Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya
terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan,
cukai ekspor produk tembaga dasar, retribusi daerah, dan lain
sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat tembaga
yang diekspor dilakukan pengolahan dan pemurnian di dalam
negeri;
Terdapat beneft dari penyerapan tenaga kerja melalui industri
pengolahan tembaga dasar sebanyak 32.600 orang.
83
4.1.2 Tantangan Industri Tembaga
Pada saat ini, Kapasitas produksi konsentrat tembaga milik PT
Freeport Indonesia mencapai 1-1,2 juta ton pertahun. Namun sayang,
produksi tersebut belum sepenuhnya mampu diserap industri di dalam
negeri. Industri lokal hanya mampu mengolah 300.000-500.000 ton
produksi konsentrat tembaga dari PT Freeport. Alhasil, perusahaan ini
masih mengekspor sebagian besar hasil produksinya ke negara lain.
Rendahnya penyerapan tersebut karena kapasitas produksi
pabrik pengolahan tembaga di dalam negeri yang masih sangat kecil.
Saat ini, PT Freeport hanya memasok tembaga kepada PT. Smelting
Gresik di Gresik- Jawa Timur. Produksi perharinya 5.000 ton dan 30%
produksinya untuk konsumsi di dalam negeri.
Sementara itu, perihal adanya perusahaan baru yang akan
melakukan negosiasi untuk mengolah konsentrat tembaga milik PT
Freeport, sampai saat ini belum diketahui berapa kapasitas yang
terpasangnya. Produksi smelter kosentrat tembaga di dunia akan
turun sampai 2013. Hal ini lantaran kekurangan pasokan kosentrat.
Sehingga, perusahaan yang ingin berinvestasi pada industri
pengolahan dan pemurnian tembaga itu harus melakukan studi lebih
mendalam. Pasokan konsentrat akan berkurang, banyak smelting di
dunia ini kekurangan.
Kebutuhan katoda tembaga di dalam negeri 150.000 ton,
sebagian besar diserap oleh industri kawat dan kabel tembaga.
Sedangkan kemampuan produksi industri katoda tembaga di dalam
negeri mencapai 300.000 ton, produksi tersebut melebihi dari
kebutuhan di dalam negeri yaitu sekitar 200.000 ton. Kelebihan
produksi harus diupayakan diekspor ke negara-negara kawasan Asia
Tenggara terutama ke Thailand, Malaysia, Vietnam dan Taiwan.
Kebutuhan kathoda tembaga di dalam negeri dapat dipenuhi
hanya oleh PT Smelting Gresik, sedangkan kebijakan tarif impor
tembaga dalam skema FTA (Free Trade Area) 0%, hal ini menjadikan
prospek untuk pendirian industri baru smelter di Indonesia tidak
menguntungkan dan tidak kompetitif bila dijual di pasar domestik.
Selama ini belum ada kebijakan khusus untuk industri tembaga
84
di dalam negeri, agar produk dalam negeri dapat kompetitif baik untuk
pasar lokal maupun global maka diperlukan berbagai upaya yang
diharapkan dari pemerintah antara lain: reformasi pajak, penyediaan
energi termasuk pasokan gas yang stabil, berbagai insentive seperti
kebijakan tata niaga, safe guard, stimulus fskal dan tax holiday/
allowance dan lain-lain.
Adapun beberapa poin lain terkait dengan tantangan yang
dihadapi industri tembaga di Indonesia dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Kurangnya pasokan listrik untuk industri;
Kurangnya infrastruktur khususnya untuk pembangunan industri
hulu tembaga;
Kebijakan pemerintah dalam mendukung industri tembaga masih
sangat minim, selain itu perencanaan pengembangan industri
baja masih belum dilaksanakan;
Pasar tembaga dalam negeri masih sangat minim sehingga bahan
baku tembaga yang ada saat ini sebagian besar masih diimpor;
Pada saat ini, industri hulu tembaga masih dikelola oleh pihak
asing;
Pabrik peleburan tidak didukung oleh teknologi dan pengalaman
yang memadai, berpotensi mencemari lingkungan di sekitarnya;
Pemasaran katoda tembaga di dalam negeri masih terbatas,
sejumlah besar asam sulfat dipasar domestik akan kelebihan
suplai;
FTA (Free Trade Area) tarif bea impor turun menjadi 0%, produk
katoda dalam negeri menjadi tidak kompetitif dijual didalam negeri.
4.2. Industri Pertambangan Nikel
Secara umum pohon industri nikel lebih baik dari pohon industri
lainnya. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa industri pengolahan
dan pemurnian sudah sampai nickel matte dan ferronickel. Walaupun
demikian, bijih nikel masih diekspor keluar negeri terutama yang
berkadar rendah. Pada saat ini sudah ada teknologi pengolahan dan
pemurnian untuk nikel berkadar rendah yang dapat menjadi peluang
untuk mengolah bijih nikel.
85

Sumber: Kementerian Perindustrian
Gambar 4.13 Pohon Industri Nikel

Dilihat dari gambar pohon industri diatas, menunjukkan bahwa
di Indonesia masih belum ada dan atau belum dikembangkannya
beberapa industri hulunya seperti HPAL serta Slab stainless steel,
hilirnya HRC stainless steel. Hal ini yang menyebabkan banyaknya
impor di sisi hilir industri produk nikel, terutama untuk stainless steel.
Di sisi lain, neraca perdagangan bahan mentah dan bahan setengah
jadi hasil pertambangan di atas mengindikasikan rendahnya tingkat
pengolahan hasil tambang. Hal ini karena hasil tambang di ekspor
dalam bentuk bahan mentah sementara nilai impor bahan setengah
jadi lebih tinggi dari ekspor bahan mentahnya sendiri.Jika nikel dijual
dalam bentuk bijih maka hanya dihargai senilai $25/ton. Namun, jika
diolah menjadi FeNi (Ferro Nickel) maka nilai jualnya akan menjadi
$2.5074/ton dan jika diolah menjadi bahan untuk stainless steel maka
nilainya akan menjadi $2.627/ton.
Besarnya jumlah penduduk di Indonesia menyebabkan nilai
konsumsi per kapita produk nikel masih sangat rendah. Perkembangan
konsumsi produk nikel dalam negeri dan ekspor selalu fuktuatif.
Karena adanya krisis global pada tahun 2009, menyebabkan
permintaan produk nikel dalam negeri maupun dunia menurun drastis.
Penurunan terjadi antara periode 2007-2009. Meskipun di China pada
86
periode ini terjadi peningkatan konsumsi produk nikel, namun tidak
terlalu berdampak bagi ekspor dari Indonesia karena pangsa pasar
utama produk nikel dari Indonesia adalah Jepang.
Saat pemulihan ekonomi dunia di tahun 2010 membawa dampak
positif bagi ekspor nikel dari Indonesia yang mengalami sedikit
kenaikan di tahun tersebut. Namun begitu, bencana gempa yang terjadi
di Jepang pada awal 2011 berdampak pada menurunnya kembali
volume ekspor produk nikel dari Indonesia. Untuk itu, produk nikel
Indonesia mulai penetrasi ke pasar China yang terus menunjukkan
peningkatan sejak tahun 2007, terutama dari sisi hulu yaitu volume
ekspor bijih dan konsentrat nikel.
Di sisi lain, peningkatan volume ekspor bijih dan konsentrat nikel
ternyata juga dibarengi dengan peningkatan volume impor di sisi hilir
yaitu produk stainless steel. Hal ini disebabkan adanya missing link
antara sektor industri hulu dengan sektor industri hilir nikel.
Untuk memudahkan kajian, analisa dilakukan berdasarkan
perspektif nilai tambah dengan nilai dan volume ekspor impor
menggunakan acuan aliran supply demand. Berdasarkan HS code
dari struktur industri nikel, maka kita dapat memetakan aliran supply
demand nikel beserta data tahun 2011, seperti yang terlihat pada
tabel 4.2 dan gambar 4.14 berikut ini:



87

K
a
j
i
a
n

S
u
p
p
l
y

D
e
m
a
n
d

M
i
n
e
r
a
l


D
R
A
F
T

L
A
P
O
R
A
N

A
K
H
I
R


I
V
-
8
0


T
a
b
e
l

4
.
2

N
e
r
a
c
a

S
u
p
p
l
y

D
e
m
a
n
d

N
i
k
e
l



0
.
0

N
i
c
k
e
l

P
r
o
d
u
c
t

N
i
c
k
e
l

w
a
s
t
e

a
n
d

s
c
r
a
p

T
O
T
A
L



0
.
0
.
0

I
n
t
e
r
m
e
d
i
a
t
e

p
r
o
d
u
c
t

o
f

n
i
c
k
e
l

m
e
t
a
l
l
u
r
g
y

N
i
c
k
e
l

U
n
w
r
o
u
g
h
t

N
i
c
k
e
l

p
o
w
d
e
r
s

a
n
d

f
l
a
k
e
s

P
r
o
d
u
k

N
i
c
k
e
l

B
a
t
a
n
g
a
n

P
r
o
d
u
k

N
i
c
k
e
l

L
e
m
b
a
r
a
n

N
i
c
k
e
l

t
u
b
e
s

P
r
o
d
u
k

N
i
c
k
e
l

l
a
i
n
n
y
a



0
.
0
.
0
.
0

N
i
c
k
e
l

m
a
t
t
e
s

F
e
r
r
o

N
i
c
k
e
l

N
i
c
k
e
l
,

n
o
t

a
l
l
o
y
e
d


N
i
c
k
e
l

a
l
l
o
y
s


B
a
r
s
,

r
o
d
s

&

p
r
o
f
i
l
e
s

o
f

n
i
c
k
e
l

W
i
r
e

o
f

n
i
c
k
e
l

P
l
a
t
e
s
,

s
h
e
e
t
s
,

s
t
r
i
p

&

f
o
i
l
,

n
o
t

a
l
l
o
y
e
d

P
l
a
t
e
s
,

s
h
e
e
t
s
,

s
t
r
i
p

&

f
o
i
l

a
l
l
o
y
s

T
u
b
e
s

a
n
d

p
i
p
e
s

o
f

n
i
c
k
e
l

T
u
b
e

o
r

p
i
p
e

f
i
t
t
i
n
g
s

C
l
o
t
h
,

g
r
i
l
l

a
n
d

n
e
t
t
i
n
g
,

o
f

n
i
c
k
e
l

w
i
r
e

O
t
h
e
r

N
i
c
k
e
l

p
r
o
d
u
c
t
s



S
a
t
u
a
n

T
o
n

R
i
b
u


U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u


U
S
D

1

P
a
s
o
k
a
n

M
i
n
e
r
a
l









a
.

P
r
o
d
u
k
s
i

8
2
,
2
1
7

1
,
2
0
9
,
9
3
7

7
8
,
8
3
8

4
7
0
,
1
2
1

0

0

0

3

8
9

8

0

0

2

3
0

0

0

0

0

4

2
6

1

1
0

1

1
0

3
1

2
,
3
7
7

7
9
0

5
,
5
7
4

1
6
1
,
9
7
3

1
,
6
8
8
,
0
9
6



b
.

I
m
p
o
r


0

0

4
7

1
,
1
2
9

6
0
9

1
0
,
8
0
4

4

3
0

2
9

7
2
2

3
1

9
7
9

4
6
8

8
,
7
6
3

4
9

1
,
4
1
4

3
8
9

9
,
2
6
2

5
1

2
,
3
9
2

2
8
4

1
,
0
1
2

3
1

9
1
5

7
5
7

1
1
,
4
0
1





2
,
7
4
9

4
8
,
8
2
3

2

K
o
n
s
u
m
s
i

M
i
n
e
r
a
l





a
.

K
o
n
s
u
m
s
i

D
a
l
a
m

N
e
g
e
r
i

0

0

4
7

1
,
1
2
9

6
0
9

1
0
,
8
0
4

4

3
0

2
9

7
2
2

3
1

9
7
9

4
6
8

8
,
7
6
3

4
9

1
,
4
1
4

3
8
9

9
,
2
6
2

5
1

2
,
3
9
2

2
8
4

1
,
0
1
2

3
1

9
1
5

7
5
7

1
1
,
4
0
1

0

0

2
,
7
4
9

4
8
,
8
2
3



b
.

E
k
s
p
o
r

8
2
,
2
1
7

1
,
2
0
9
,
9
3
7

7
8
,
8
3
8

4
7
0
,
1
2
1

0

0

0

3

8
9

8

0

0

2

3
0





0

0

4

2
6

1

1
0

1

1
0

3
1

2
,
3
7
7

7
9
0

5
,
5
7
4

1
6
1
,
9
7
3

1
,
6
8
8
,
0
9
6



































































B
a
l
a
n
c
e

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

S
u
m
b
e
r
:

D
a
t
a

O
l
a
h
a
n

T
i
m

K
a
j
i
a
n

S
D
M
88
Neraca supply demand nikel tersebut dapat dianalisa sebagai berikut:

Kajian Supply Demand Mineral
DRAFT LAPORAN AKHIR

IV-81

Produk Nickel
Produksi: 161.973 Ton
Impor: 17,76 USD/Kg
Konsumsi DN: 2.749 Ton
Ekspor: 10,42 USD/Kg
Nickel mattes
Produksi: 82.217 Ton
Impor: -
Konsumsi DN: -
Ekspor: 14,72 USD/Kg
Oxide sinters & oth
Produksi: -
Impor: -
Konsumsi DN: -
Ekspor: -
Produk Nickel Batangan
Produksi: 2 Ton
Impor: 19,52 USD/Kg
Konsumsi DN: 499 Ton
Ekspor: 14,99 USD/Kg
Bars, rods & profiles of nickel
Produksi: 0,002 Ton
Impor: 31,58 USD/Kg
Konsumsi DN: 31 Ton
Ekspor: 7 USD/Kg
Wire of nickel
Produksi: 2 Ton
Impor: 18,72 USD/Kg
Konsumsi DN: 468 Ton
Ekspor: 15 USD/Kg
Nickel Unwrought
Produksi: 0,072 Ton
Impor: 17,67 USD/Kg
Konsumsi DN: 703 Ton
Ekspor: 41,67 USD/Kg
Produk Nickel Lembaran
Produksi: 0,031 Ton
Impor: 24,37 USD/Kg
Konsumsi DN: 438 Ton
Ekspor: 5,74 USD/Kg
Plates, sheets, strip & foil, not
alloyed
Produksi: -
Impor: 28,86 USD/Kg
Konsumsi DN: 49 Ton
Ekspor: -
Plates, sheets, strip & foil
alloys
Produksi: 0,031 Ton
Impor: 23,81 USD/Kg
Konsumsi DN: 389 Ton
Ekspor: 5,74 USD/Kg
Nickel tubes
Produksi: 4,53 Ton
Impor: 10,16 USD/Kg
Konsumsi DN: 335 Ton
Ekspor: 7,95 USD/Kg
Tubes and pipes of nickel
Produksi: 4 Ton
Impor: 46,9 USD/Kg
Konsumsi DN: 51 Ton
Ekspor: 6,5 USD/Kg
Tube or pipe fittings
Produksi: 0,53 Ton
Impor: 3,56 USD/Kg
Konsumsi DN: 284 Ton
Ekspor: 18,87 USD/Kg
Produk Nickel lainnya
Produksi: 32 Ton
Impor: 15,63 USD/Kg
Konsumsi DN: 788 Ton
Ekspor: 74,59 USD/Kg
Cloth, grill and netting, of
nickel wire
Produksi: 1 Ton
Impor: 29,52 USD/Kg
Konsumsi DN: 31 Ton
Ekspor: 10 USD/Kg
Other Nickel products
Produksi: 31 Ton
Impor: 15,06 USD/Kg
Konsumsi DN: 757 Ton
Ekspor: 76,68 USD/Kg
Nickel waste and scrap
Produksi: 790 Ton
Impor: -
Konsumsi DN: -
Ekspor: 7,06 USD/Kg
Ferro Nickel
Produksi: 78.838 Ton
Impor: 24,02 USD/Kg
Konsumsi DN: 47 Ton
Ekspor: 5,96 USD/Kg
Nickel, not alloyed
Produksi: -
Impor: 17,74 USD/Kg
Konsumsi DN: 609 Ton
Ekspor: -
Nickel alloys
Produksi: 0,072 Ton
Impor: 7,50 USD/Kg
Konsumsi DN: 4 Ton
Ekspor: 41,67 USD/Kg
Nickel powders and flakes
Produksi: 89 Ton
Impor: 24,90 USD/Kg
Konsumsi DN: 29 Ton
Ekspor: 0,09 USD/Kg
Intermediate product of nickel
metallurgy
Produksi: 161.055 Ton
Impor: 24,02 USD/Kg
Konsumsi DN: 47 Ton
Ekspor: 10,43 USD/Kg
Bloom, Billet & Ingot SS
Produksi: 1.278 Ton
Impor: 4,58 USD/Kg
Konsumsi DN:5.644 Ton
Ekspor: 0,88 USD/Kg
Nickel Ores & Concentrates
Ekspor: 40.792.165 Ton
Impor: -
Konsumsi DN: 161.973 Ton
Nilai Ekspor: 0,04 USD/Kg

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.14 Neraca Supply Demand Nikel
89
1. Nickel ores and concentrates
Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat nikel sebesar
40.792.165 ton.Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih
dan konsentrat nikel yang semestinya dapat diolah di dalam negeri.
Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih antara nilai ekspor
produk ferro nickel dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat nikel,
yaitu sebesar USD 5,96/Kg USD 0,04/Kg = USD 5,92/Kg. Maka
dapat dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011, yaitu
sebesar USD 5.920/ton x 40.792.165 ton = USD 241.489.616.800,-.
Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya
terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan, cukai
ekspor produk ferro nickel, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila
proses produksi bijih dan konsentrat nikel yang diekspor dilakukan
pengolahan dan pemurnian di dalam negeri.
Sebagai tambahan, terdapat beneft dari penyerapan tenaga kerja
melalui industri pengolahan bijih dan konsentrat nikel. Berdasarkan
data statistik, industri ferro nickel mampu menyerap 1 orang tenaga
kerja per 23 ton produksi. Artinya, jika terjadi peningkatan nilai tambah
dari 40.792.165 ton nikel yang akan diolah di dalam negeri akan
menyerap tenaga kerja sebanyak 1.700.000 orang.
Berikut adalah grafk fuktuasi ekspor dan impor untuk produk
logam nikel:

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.15 Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Logam Nikel (Kg)

90

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.16 Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Logam Nikel (US$)
2. Intermediate product of nickel metallurgy.
Dari perbandingan data ekspor dan impor pada tahun 2011 untuk
intermediate product sebagaimana yang telah ditampilkan pada bab
2, harga impor berada di kisaran USD 24,02/kg dan masih jauh lebih
tinggi dari harga ekspor (USD 10,43/kg). Sebaliknya, jumlah impor
jauh lebih kecil dibanding jumlah ekspor sehingga dapat dikatakan
bahwa hasil proses produksi difokuskan untuk ekspor dan bukan
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Meskipun tidak terjadi
peningkatan nilai tambah yang signifkan, nilai transaksi ekspor impor
produk nickel matte dan ferro nickel positif, artinya nilai ekspor lebih
tinggi dari nilai impor.Hal ini dikarenakan secara kuantitas jumlah
ekspor jauh lebih tinggi dibanding jumlah impor. Untuk itu, perlu dibuat
industri yang melakukan proses lebih lanjut terhadap nickel matte dan
ferro nickel di Indonesia agar dapat terjadi peningkatan nilai tambah
yang signifkan serta untuk memajukan industri dalam negeri.
3. Nickel unwrought
Produk yang termasuk dalam HS Code nickel unwrought adalah
nickel alloys dan not alloyed nickel. Dari perbandingan data ekspor
dan impor untuk nickel unwrought, harga impor (USD 17,67/kg)
masih jauh lebih rendah dari harga ekspor (USD 41,67/kg). Jumlah
impor pun jauh lebih sedikit dibanding jumlah ekspor sehingga dapat

91
diasumsikan bahwa bahan baku untuk nickel unwrought diperoleh
dari pasar domestik dan kebutuhan dalam negeri harusnya diisi oleh
produk lokal. Secara keseluruhan, nilai transaksi ekspor impor nickel
unwrought positif, artinya nilai ekspor lebih tinggi dari nilai impor.
Hal ini dikarenakan telah terjadi peningkatan nilai tambah dari nickel
unwrought.
4. Nickel powders and fakes
Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk nickel
powders and fakes, harga impor (USD 24,9/kg) jauh lebih tinggi
dari harga ekspor (USD 0,09/Kg). Sebaliknya, jumlah impor lebih
sedikit dibanding jumlah ekspor sehingga kebutuhan dalam negeri
diasumsikan harusnya diisi oleh produk lokal. Karena tidak terjadi
proses peningkatan nilai tambah, nilai transaksi ekspor impor nickel
powders and fakes negatif yang disebabkan oleh nilai ekspor jauh
lebih rendah dari nilai impor. Padahal secara kuantitas jumlah ekspor
lebih tinggi dibanding jumlah impor. Untuk itu, perlu dibuat industri
yang melakukan proses lebih lanjut terhadap nickel powders and
fakes di Indonesia agar dapat terjadi peningkatan nilai tambah yang
signifkan serta untuk memajukan industri dalam negeri.
5. Produk nikel batangan
Produk yang termasuk dalam HS Code nikel batangan adalah
bars, rods & profles of nickel dan wire of nickel. Dari perbandingan
data ekspor dan impor untuk nikel batangan, harga impor (USD 19,52/
kg) masih lebih tinggi dari harga ekspor (USD 14,99/Kg). Jumlah
impor pun jauh lebih banyak dibanding jumlah ekspor. Hal ini dapat
diartikan bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam
negeridan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor.
Untuk itu, perlu dibuat industri yang memasok kebutuhan bahan baku
dan industri yang memproduksi nikel batangan, khususnya produk
wire of nickel untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai
tambah di industri dalam negeri.
6. Produk nikel lembaran
Produk yang termasuk dalam HS Codenikel lembaran adalah
plates, sheets, strip & foil (not alloyed & alloys). Dari perbandingan
92
data ekspor dan impor untuk nikel lembaran, harga impor (USD 24,37/
kg) masih jauh lebih tinggi dari harga ekspor (USD 5,74/Kg). Jumlah
impor pun lebih banyak dibanding jumlah ekspor. Hal ini dapat diartikan
bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam negeri
dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor. Untuk
itu, perlu dibuat industri yang memasok kebutuhan bahan baku dan
industri yang memproduksi nikel lembaran, khususnya produk alloys
untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di
industri dalam negeri.
7. Produk nikel tubes
Produk yang termasuk dalam HS Code nikel tubes adalah tubes
and pipes of nickel dan tube or pipe fttings. Dari perbandingan data
ekspor dan impor untuk nickel tubes, harga impor (USD 10,16/kg)
masih lebih tinggi dari harga ekspor (USD 7,95/Kg).Jumlah impor
pun lebih banyak dibanding jumlah ekspor. Hal ini dapat diartikan
bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam negeri
dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor. Hal
ini mungkin disebabkan oleh market yang tidak terlalu besar untuk
produk nickel tubes. Untuk itu, perlu dipertimbangkan pendirian
industri yang memasok kebutuhan bahan baku dan industri yang
memproduksi nickel tubes, khususnya produk tube atau pipe fttings
untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah
di industri dalam negeri. Mengingat pasar dalam negeri yang tidak
terlalu besar jumlahnya, maka kelebihan produksi bisa diekspor ke
luar negeri.
8. Produk nikel lainnya
Produk yang termasuk dalam HS Codenikel lainnya adalah
cloth, grill and netting of nickel wire dan produk nikel lainnya. Dari
perbandingan data ekspor dan impor untuk produk nikel lainnya, harga
impor (USD 15,63/kg) masih jauh lebih rendah dari harga ekspor (USD
74,59/Kg). Sebaliknya, jumlah impor jauh lebih banyak dibanding
jumlah ekspor, baik dari sisi kuantitas maupun nilainya. Hal ini dapat
diartikan bahwa telah terjadi proses peningkatan nilai tambah di dalam
negeri dan pemenuhan kebutuhan pasokan bahan baku dalam negeri
masih diisi dari impor. Untuk itu, perlu dibuat industri yang memasok
kebutuhan bahan baku produk nikel lainnya, agar bahan baku dapat
93
disuplai dari dalam negeri dan secara signifkan dapat menaikkan nilai
maupun jumlah ekspor.
9. Nickel waste & scrap
Dari data neraca perdagangan untuk produk nickel waste & scrap,
diketahui bahwa harga ekspor berada di kisaran USD 7,06/Kg dan
tidak ada transaksi impor untuk produk nickel waste & scrap. Sehingga
dapat diasumsikan bahwa kebutuhan dalam negeri harusnya diisi oleh
produk lokal. Jika kita mengacu pada indikasi ekspor dan impor nickel
waste & scrap, maka data yang ada menunjukkan bahwa struktur
industri dalam negeri untuk produk ini sudah cukup baik. Namun
begitu, sulit untuk meningkatkan nilai tambah pada produk ini karena
sebagian besar ekspor berbentuk scrap.
94
10. Bloom, billet dan ingot stainless steel
Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk produk bloom,
billet dan ingot stainless steel, diketahui bahwa harga impor (USD
4,58/kg) masih jauh lebih tinggi dari harga ekspor (USD 0,88/Kg).
Jumlah impor pun lebih banyak dibanding jumlah ekspor.Dari data
dapat terlihat bahwa tidak terjadi proses peningkatan nilai tambah di
dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih diisi
dari impor. Proses peningkatan nilai tambah terjadi di luar negeri.
Padahal market dalam negeri cukup besar untuk produk bloom, billet
dan ingot stainless steel dan kecenderungannya tiap tahun terus
bertambah. Untuk itu, perlu dipertimbangkan pendirian industri yang
memproduksi bloom, billet dan ingot stainless steel untuk mengurangi
jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri.
Mengingat potensi market dunia untuk produk ini, maka kelebihan
produksi bisa diekspor ke luar negeri.Berikut grafk fuktuasi ekspor
dan impor bloom, billet dan ingot stainless steel:

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.17 Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Stainless (Kg)

95
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.18 Fluktuasi Impor & Ekspor Produk Stainless (US$)
Dari aliran ekspor impor, produk nikel sejenis buatan dalam
negeri yang memiliki harga bersaing dengan produk impor adalah
billet, CRC, welded pipe, dan wire rod. Sedangkan yang memiliki nilai
tambah tinggi adalah dari Slab ke HRC; dari CRC ke GI Sheet; dari
Billet ke Wire Rod.
96
Hal tersebut pada dasarnya merupakan peluang usaha yang
sangat terbuka. Namun demikian perlu ditelaah lebih lanjut mengapa
peluang tersebut belum dimanfaatkan oleh investor. Berdasarkan
informasi ketersediaan bahan baku hulu seperti bijih nikel banyak
tersedia antara lain di wilayah Sulawesi Tenggara. Deposit yang ada
di wilayah tersebut cukup untuk bisa diekploitasi dan diusahakan
lebih lanjut sampai proses penyediaan, ferro nikel, dan pembangunan
industri stainless steel.
Secara sederhana gap yang ada dapat dijawab melalui
penelusuran dalam hal antara lain : 1) sumber bahan baku tidak
mendukung/deposit tidak mencukupi atau terbatas, mutu tidak
memenuhi ; 2) investasi mahal akibat infrastruktur yang belum
tersedia, teknologi tinggi; 3) pasar kecil, spesifkasi terlalu banyak .
Disisi lain, dalam gambar pohon industri telah ada industrinya
namun belum jelas dan rinci produk apa yang benar-benar telah dan
mampu dibuat. Contoh :
1. Mur dan baut, pada kenyataannnya masih banyak diminta oleh
industri engineering (otomotif/alat berat) untuk diimpor bahkan
dengan memanfaatkan fasilitas bea masuk (Bea masuk Ditanggung
Pemerintah/BMDTP, User Specifk Duty Free Schemme/USDFS
dan dimasukan dalam permohonan dan pertimbangan teknis untuk
memperoleh sebagai Importir Produsen/IP atau Importir Terdaftar/IT
Besi dan Baja dengan klasifkasi Pos Tarif lebih dari satu.
2. HRC atau CRC juga demikian yang diklasifkasikan ke lebih dari
satu Pos Tarif dengan spesifkasi (tebal, lebar dan komposisi kimia dan
pelapisan tertentu), masih diminta untuk boleh diimpor/rekomendasi
impor dengan memanfaatkan fasilitas bea masuk.
Dari contoh tersebut dapat diartikan bahwa masih banyak
terdapat bahan/barang yang belum dibuat /diproduksi di dalam negeri,
dengan alasan spesifkasi khusus dan jumlah permintaan terbatas
sehingga skala ekonomi tidak tercapai. Hal ini dapat terlihat dari
grafk perbandingan antara impor dan ekspor produk nikel dengan
stainless, dimana Indonesia lebih banyak mengekspor produk nikel
dan mengimpor stainless.
97
Apabila penggambaran pohon industri dapat disusun secara
konkrit/riil, rinci berdasarkan spesifkasi produk (sedikitnya spesifkasi
berdasarkan klasifkasi Pos Tarif), dan penggambaran pohon tarif
tersebut dilanjutkan menjadi pohon standar, maka akan memudahkan
bagi si pembaca baik calon investor, peneliti atau stakeholder lainnya
yang berkepentingan. Sebagai tambahan, akan terlihat pula mana
yang banyak digunakan, diimpor, diekspor, peluang pasar, berdaya
saing dan murah serta mana yang sudah dan perlu distandarkan (SNI-
Wajib), teknologi apa yang dipilih atau disiapkan untuk pengembangan
lebih lanjut.
4.2.1 Peluang Industri Nikel
Dukungan Pemerintah dalam mengembangkan industri nikel
melalui Kebijakan Industri Nasional, regulasi dan roadmap
pengembangan industri;
Telah terbentuknya asosiasi industri yang terintegrasi dari asosiasi
industri hulu sampai ke hilir. Asosiasi ini dibentuk pada tahun 2009
dengan nama Indonesia Iron and Steel Industry Association.
Dengan terbentuknya asosiasi ini maka hubungan antar industri
dan pemerintah akan semakin kuat dalam mengembangkan
industri baja pada umumnya dan nikel pada khususnya;
Adanya pemberian fasilitas bea masuk untuk bahan baku industri
baja;
Akses industri baja ke perbankan dan sumber-sumber pendanaan
lain sudah lebih terbuka;
Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan konsentrat
nikel yaitu sebesar USD 241.489.616.800,- per tahun. Bersamaan
dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya terdapat
potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan, cukai ekspor
produk ferro nickel, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila
proses produksi bijih dan konsentrat nikel yang diekspor dilakukan
di dalam negeri;
Terdapat beneft dari penyerapan tenaga kerja melalui industri
pengolahan bijih dan konsentrat nikel sebanyak 1.700.000 orang.
98
4.2.2 Tantangan Industri Nikel
Sampai saat ini Indonesia masih bergantung pada impor bahan
baku stainless steel dan produk-produk stainless engineering
untuk produk otomotif, alat berat, mur dan baut serta alat rumah
tangga;
Pertumbuhan permintaan stainless steel dalam negeri masih
relatif lambat;
Rentang produk dan kualitas masih terbatas;
Skala ekonomi pada industri yang ada belum memadai, hal ini
menyebabkan biaya produksi menjadi lebih mahal;
Dari sisi teknologi, proses produksi dengan menggunakan MFO
sudah tidak lagi murah, selain itu pasokan listrik juga kurang. Dari
sisi efsiensi dan produktiftas juga masih rendah dibandingkan
produsen lain di dunia;
Infrastruktur pendukung industri nikel masih lemah seperti energi
listrik, transportasi dan lain-lain;
Telah dibukanya akses pasar produk-produk stainless steel
luar negeri dengan dimulainya kesepakatan-kesepakatan
Internasional antara pemerintah Indonesia dengan mitranya.
Untuk HRC stainless steel sejak dimulai ACFTA tahun 2009 bea
masuk sudah menjadi 0%.
4.3. Industri Pertambangan Bauksit
Defsit produk hilir aluminium di Indonesia makin mencemaskan.
Dari total produksi produk hilir aluminium yang meliputi aluminium
ingot alloy, aluminium ek-strusi, aluminium sheet, dan aluminium
foil hanya 375.001 ton pada tahun 2009. Padahal, total kebutuhan
produk hilir aluminium di dalam negeri pada saat itu mencapai
535.093 ton sehingga terjadi defsit 160.092 ton. Hal ini antara
lain yang menyebabkan tiap tahun Indonesia harus mengimpor
kebutuhan produk hilir aluminium untuk memenuhi kebutuhan dalam
negeri. Sejalan dengan perkembangan pertumbuhan demand dan
perkembangan Industri Aluminium di Indonesia, maka sebanyak 40%
kebutuhan aluminium di Indonesia masih tetap dilakukan melalui impor.
Setiap tahun, optimalisasi industri hilir aluminium hanya terbatas pada
aluminium alloy ingot yang digunakan untuk bahan baku komponen
99
kendaraan bermotor, mesin, dan ekstrusi yang sebagian besar untuk
menopang investasi Jepang di Indonesia. Adapun pengembangan
industri yang lebih hilir seperti aluminium foil bagi industri kemasan
dan makanan justru mengalami defsit.
Indonesia sebagai salah satu penghasil bauksit di dunia, belum
memiliki pabrik pemrosesan alumina sehingga seluruh produk
bauksitnya dijual ke luar negeri. Di sisi lain, Indonesia memiliki pabrik
pemrosesan aluminium yaitu PT. Inalum di Sumatera Utara. Ada mata
rantai proses yang terputus akibat ketiadaan pabrik pemrosesan yang
mengakibatkan hilangnya nilai tambah dari proses tersebut. Mata
rantai yang terputus inilah yang menjadi target dari implementasi
kebijakan peningkatan nilai tambah. Artinya kedepan, mulai tahun
2014 tidak lagi diperkenankan mengekspor bijh bauksit namun terlebih
dahulu diproses untuk mendapatkan nilai tambah bauksit, antara lain
untuk mensubstitusi impor alumina.
Sebagaimana diketahui material dari aluminium ini memiliki nilai
dan fungsi pengganti atau subtitusi material dari besi atau baja, seperti
konstruksi, blok-blok mesin, dan peralatan serta barang lainnya karena
memilki sifat yang ulet, kuat dan ringan, sehingga masa depannya
sangat potensil untuk ditumbuh kembangkan.
Memperhatikan pohon industri aluminium yang ada saat ini,
menunjukkan bahwa industri alumunium di Indonesia sudah meliputi
dari hulu sampai ke hilir. Namun, masih terdapat banyak kekosongan
dan sangat perlu di tingkatkan, yang sangat mendasar adalah tidak
dan belum diusahakannya pendirian pabrik alumina. Padahal bahan
baku dasar alumina seperti bauksit ada di dalam negeri dengan
deposit yang cukup untuk jangka panjang, sementara itu industri
produk hilirnya sedang tumbuh dan berkembang.

100
Sumber: Kementerian Perindustrian
Gambar 4.19 Pohon Industri Aluminium
Di wilayah ASEAN, Indonesia merupakan satu-satunya negara
yang memiliki industri hulu alumunium, yaitu industri alumunium ingot
di Sumatera Utara. Hal ini disebabkan oleh melimpahnya bahan
baku bauksit di Indonesia. Namun sampai saat ini, Indonesia belum
memiliki industri pengolah bauksit, sehingga hasil baukit di Indonesia
langsung di ekspor ke luar negeri.
Selain dari industri alumunium ingot, industri antara dan industri
hilir pun telah dikembangkan di Indonesia, mulai dari produk plat,
profl, casting, die-casting, dll. Industri antara dan hilir di Indonesia
masih sangat kurang, mengingat volume pasar masih relatif
rendah dan banyak dikuasai oleh luar negeri. Sejalan dengan hal
ini, pemerintah masih merasa belum mampu untuk berinvestasi
sehingga berupaya keras untuk menarik investasi terutama investasi
asing untuk membangun industri alumina sebagai bahan baku industri
alumunium.
Industri aluminium di Asahan (PT.Inalum) perusahaan kerjasama
Indonesia dan Jepang (dengan share kepemilikan 41,1 dan- 58,9%)
memproduksi aluminium ingot, kapasitas terpasang 250 ribu ton/
tahun yang hasilnya lebih dari 60% diekspor ke Jepang dan untuk
101
kebutuhan domestik hanya sebesar 40%. PT. Inalum selama ini tidak
mengusahakan proses bauksit menjadikan alumina di Indonesia tetapi
mengimpor alumina untuk diproses lanjut menjadi ingot aluminum.
Bea masuk aluminium Primer (Ingot) / Paduan 0 %, namun
produk PT Inalum masih dapat bersaing dengan produk impor karena:
Kualitasnya yang tinggi dengan kemurnian terendah 99,7 %
sampai 99,92 %;
Biaya produksi yang relatif rendah karena menggunakan energi
air yang murah;
Kebijakan pemerintah yang dibutuhkan untuk mengembangkan
industri aluminium yaitu kebijakan untuk mendorong tumbuhnya
industri alumina karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri
yaitu bauksit namun membutuhkan investasi besar dan jangka
panjang serta memerlukan perhatian dan fasilitas khusus dari
Pemerintah.
Sama halnya dengan pohon industri baja, pohon industri
aluminium ini semestinya digambarkan secara rinci dan detail
sehingga mampu mengakomodasi dan menggambarkan pohon tarif
maupun pohon standar agar pihak stakeholder yang berkepentingan
mudah dalam menetapkan kebijakan bagi industri ini.
Kebutuhan Aluminium Indonesia pada tahun 2011 berada di
kisaran 889.000 ton yang di supply oleh 40 perusahaan produsen
dalam negeri, dan kekurangannya masih diimpor. Produsen utama
Alunimium adalah PT. Inalum yang memproduksi Al Ingot untuk
memasok kebutuhan dalam negeri. Selain itu terdapat 78 produsen
lainnya dibidang industri aluminium yang umumnya memproduksi
produk-produk aluminium hilir.
Konsumsi Aluminium per kapita di Indonesia saat ini baru
mencapai 0.8 kg/kapita, sangat rendah bila dibandingkan dengan
negara-negara maju seperti USA (21 kg/kapita), Jerman (20 kg/
kapita), Jepang (17 kg/kapita) dan Korea Selatan (19 kg/kapita). Hal
ini disebabkan oleh permintaan dalam negeri akan aluminium yang
masih relatif rendah dan tidak sebanding dengan jumlah penduduknya.
Namun begitu, permintaan dalam negeri ini masih banyak dipasok
oleh impor produk aluminium.
102
Selama periode 2007-2011 ekspor logam bauksit dan produk
aluminium cenderung meningkat, namun di saat pertumbuhan ekspor
sedang cukup baik, dunia dilanda krisis ekonomi sebagai dampak
krisis Amerika yang mulai terjadi pada pertengahan tahun 2008. Krisis
ekonomi global tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan
ekspor dan impor aluminium Indonesia.
Pada tahun 2007 ekspor produk aluminium Indonesia berada di
kisaran US$ 700 juta dan jumlahnya tetap stabil pada tahun 2008,
namun menurun menjadi sekitar US$ 400 juta pada tahun 2009.
Penurunan ekspor tersebut disebabkan oleh turunnya permintaan
pasar dunia. Namun dengan makin membaiknya kondisi makro
Indonesia dan perekonomian dunia, kinerja ekspor Indonesia pasca
krisis menunjukkan kecenderungan meningkat yaitu menjadi US$ 680
juta di tahun 2010 dan terus meningkat menjadi US$ 770 juta di tahun
2011.
Krisis ekonomi ternyata berpengaruh juga terhadap kinerja impor.
Sebelum krisis ekonomi terjadi, impor produk aluminium mencapai
US$ 780 juta pada tahun 2007 dan melonjak menjadi US$ 1,1 milyar
pada tahun 2008. Namun pada tahun 2009 impor aluminium menurun
drastis menjadi sekitar US$ 770 juta dan mulai meningkat kembali
di kisaran US$ 1,2 milyar pada tahun 2010, dan terus meningkat
pada tahun 2011 menjadi US$ 1,8 milyar. Secara keseluruhan,
neraca perdagangan ekspor impor produk aluminium bernilai minus.
Artinya, kita lebih banyak mengimpor produk aluminium daripada
mengekspornya. Hal inilah yang harus kita perbaiki bersama.
Untuk memudahkan kajian, analisa dilakukan berdasarkan
perspektif nilai tambah dengan nilai dan volume ekspor impor
menggunakan acuan aliran supply demand. Berdasarkan HS code
dari struktur industri aluminium, maka kita dapat memetakan aliran
supply demand aluminium beserta data tahun 2011, seperti yang
terlihat pada gambar 4.20 berikut.
103
Neraca supply demand aluminium tersebut dapat dianalisa
sebagai berikut:
1. Aluminium ores and concentrates
Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat bauksit sebesar
40.643.852 ton.Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih
dan konsentrat bauksit yang semestinya dapat diolah di dalam negeri.
Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih antara nilai impor
produk alumina dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat bauksit,
yaitu sebesar USD 0,35/Kg USD 0,02/Kg = USD 0,33/Kg. Maka
dapat dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011, yaitu
sebesar USD 330/ton x 40.643.852 ton = USD 13.412.471.160,-.
Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya
terdapat potensi penerimaan negara dari pajak penghasilan, cukai
ekspor produk alumina, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila
proses produksi bijih dan konsentrat bauksit yang diekspor dilakukan
di dalam negeri. Sebagai tambahan, terdapat beneft dari penyerapan
tenaga kerja melalui industri pengolahan bijih dan konsentrat bauksit.
Berdasarkan data statistik, industri alumina mampu menyerap 1 orang
tenaga kerja per 60 ton produksi. Artinya, jika terjadi peningkatan nilai
tambah dari 40.643.852 ton alumina yang akan diolah di dalam negeri
akan menyerap tenaga kerja sebanyak 670.000 orang.

104

K
a
j
i
a
n

S
u
p
p
l
y

D
e
m
a
n
d

M
i
n
e
r
a
l




9
6


T
a
b
e
l

4
.
3

N
e
r
a
c
a

S
u
p
p
l
y

D
e
m
a
n
d

B
a
u
k
s
i
t



0
.
0

P
r
o
d
u
k

A
l
u
m
i
n
i
u
m

T
O
T
A
L



0
.
0
.
0

A
l
u
m
i
n
i
u
m

I
n
g
o
t
,

S
l
a
b
,

B
i
l
l
e
t

P
r
o
d
u
k

A
l
u
m
i
n
i
u
m

B
a
t
a
n
g
a
n

P
r
o
d
u
k

A
l
u
m
i
n
i
u
m

L
e
m
b
a
r
a
n

P
r
o
d
u
k

A
l
u
m
i
n
i
u
m

l
a
i
n
n
y
a



0
.
0
.
0
.
0

I
n
g
o
t
,

n
o
t

a
l
l
o
y
s
*

I
n
g
o
t
,

B
i
l
l
e
t
,

S
l
a
b

A
l
u
m
i
n
i
u
m
,

a
l
l
o
y
s

A
l
u
m
i
n
i
u
m

B
a
r
,

R
o
d

d
a
n

P
r
o
f
i
l
e

P
i
p
a

A
l
u
m
i
n
i
u
m

K
a
w
a
t

A
l
u
m
i
n
i
u
m

A
l
u
m
i
n
i
u
m

P
l
a
t
e
/
S
h
e
e
t

A
l
u
m
i
n
i
u
m

F
o
i
l

S
k
r
a
p

A
l
u
m
i
n
i
u
m

P
r
o
d
u
k

A
l
u
m
i
n
i
u
m

l
a
i
n
n
y
a



S
a
t
u
a
n

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

T
o
n

R
i
b
u

U
S
D

1

P
a
s
o
k
a
n

M
i
n
e
r
a
l









a
.

P
r
o
d
u
k
s
i

2
4
2
,
2
5
2

5
9
4
,
8
3
3

2
8
8
,
5
1
2

1
0
,
0
4
9

5
9
,
2
5
2

4
5
,
6
9
6

5
,
1
8
9

2
9
,
9
0
1

7
,
3
0
1

2
0
,
8
6
7

7
0
,
2
7
0

2
8
7
,
7
5
3

1
6
,
0
7
1

3
9
,
2
7
6

9
,
9
5
4

1
4
,
3
1
9

1
,
8
3
6

7
9
6

7
0
0
,
6
3
7

7
7
3
,
6
3
1



b
.

I
m
p
o
r


2
1
3
,
7
2
7

5
2
4
,
7
9
2

1
9
1
,
1
5
9

4
8
9
,
0
8
9

1
6
,
8
1
1

1
0
4
,
1
3
8

4
,
1
7
4

2
6
,
0
4
1

4
,
5
2
1

1
1
,
2
7
5

1
4
3
,
8
2
4

4
9
7
,
9
5
2

1
9
,
7
8
4

1
0
6
,
1
8
4

4
2
,
9
9
9

8
1
,
2
2
7

2
,
0
4
2

6
,
4
9
1

6
3
9
,
0
4
1

1
,
8
4
7
,
1
8
9

2

K
o
n
s
u
m
s
i

M
i
n
e
r
a
l





a
.

K
o
n
s
u
m
s
i

D
a
l
a
m

N
e
g
e
r
i

1
4
5
,
5
7
8

3
4
7
,
4
8
0

4
7
5
,
6
6
4

4
8
9
,
0
8
9

6
4
,
8
9
8

1
0
4
,
1
3
8

4
,
1
7
4

2
6
,
0
4
1

4
,
5
2
1

1
1
,
2
7
5

1
2
2
,
7
5
8

4
9
7
,
9
5
2

2
6
,
6
2
6

1
0
6
,
1
8
4

4
2
,
9
9
9

8
1
,
2
2
7

2
,
0
4
2

6
,
4
9
1

8
8
9
,
2
6
0

1
,
8
4
7
,
1
8
9



b
.

E
k
s
p
o
r

1
3
6
,
1
4
9

3
2
4
,
9
7
4

4
,
0
0
7

1
0
,
0
4
9

1
1
,
1
6
5

4
5
,
6
9
6

5
,
1
8
9

2
9
,
9
0
1

7
,
3
0
1

2
0
,
8
6
7

9
1
,
3
3
6

2
8
7
,
7
5
3

9
,
2
2
9

3
9
,
2
7
6

9
,
9
5
4

1
4
,
3
1
9

1
,
8
3
6

7
9
6

2
7
6
,
1
6
6

7
7
3
,
6
3
1















































B
a
l
a
n
c
e

1
7
4
,
2
5
2

4
4
7
,
1
7
1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

1
7
4
,
2
5
2

0










S
u
m
b
e
r
:

D
a
t
a

O
l
a
h
a
n

T
i
m

K
a
j
i
a
n

S
D
M


*

N
o
t
e
:

N
i
l
a
i

U
n
b
a
l
a
n
c
e

t
e
r
j
a
d
i

a
k
i
b
a
t

p
r
o
d
u
k
s
i

&

i
m
p
o
r

t
i
d
a
k

t
e
r
s
e
r
a
p

p
a
s
a
r

d
o
m
e
s
t
i
k

&

e
k
s
p
o
r

*

N
o
t
e
:

N
i
l
a
i

U
n
b
a
l
a
n
c
e

t
e
r
j
a
d
i

a
k
i
b
a
t

p
r
o
d
u
k
s
i

&

i
m
p
o
r

t
i
d
a
k

t
e
r
s
e
r
a
p

p
a
s
a
r

d
o
m
e
s
t
i
k

&

e
k
s
p
o
r
105



Kajian Supply Demand Mineral
DRAFT LAPORAN AKHIR

IV-99

Produk Aluminium
Produksi: 700.637 Ton
Impor: 2,89 USD/Kg
Konsumsi DN: 889.260 Ton
Ekspor: 2,80 USD/Kg
Produk Aluminium Batangan
Produksi: 71.742 Ton
Impor: 5,55 USD/Kg
Konsumsi DN: 73.593 Ton
Ekspor: 4,08 USD/Kg
Aluminium Bar, Rod dan
Profile
Produksi: 59.252 Ton
Impor: 6,19 USD/Kg
Konsumsi DN: 64.898 Ton
Ekspor: 4,09 USD/Kg
Pipa Aluminium
Produksi: 5.189 Ton
Impor: 6,24 USD/Kg
Konsumsi DN: 4.174 Ton
Ekspor: 5,76 USD/Kg
Kawat Aluminium
Produksi: 7.301 Ton
Impor: 2,49 USD/Kg
Konsumsi DN: 4.521 Ton
Ekspor: 2,86 USD/Kg
Aluminium Ingot, Slab, Billet
Produksi: 530.764 Ton
Impor: 2,50 USD/Kg
Konsumsi DN: 621.242 Ton
Ekspor: 2,39 USD/Kg
Ingot, not alloys
Produksi: 242.252 Ton
Impor: 2,46 USD/Kg
Konsumsi DN: 145.578 Ton
Ekspor: 2,39 USD/Kg
Ingot, Billet, Slab Aluminium,
alloys
Produksi: 288.512 Ton
Impor: 2,56 USD/Kg
Konsumsi DN: 475.664 Ton
Ekspor: 2,51 USD/Kg
Produk Aluminium Lembaran
Produksi: 86.341 Ton
Impor: 3,69 USD/Kg
Konsumsi DN: 149.384 Ton
Ekspor: 3,25 USD/Kg
Aluminium Plate/Sheet
Produksi: 70.270 Ton
Impor: 3,46 USD/Kg
Konsumsi DN: 122.758 Ton
Ekspor: 3,15 USD/Kg
Aluminium Foil
Produksi: 16.071 Ton
Impor: 5,37 USD/Kg
Konsumsi DN: 26.626 Ton
Ekspor: 4,26 USD/Kg
Produk Aluminium lainnya
Produksi: 11.790 Ton
Impor: 1,95 USD/Kg
Konsumsi DN: 45.041 Ton
Ekspor: 1,28 USD/Kg
Skrap Aluminium
Produksi: 9.954 Ton
Impor: 1,89 USD/Kg
Konsumsi DN: 42.999 Ton
Ekspor: 1,44 USD/Kg
Produk Aluminium lainnya
Produksi: 1.836 Ton
Impor: 3,18 USD/Kg
Konsumsi DN: 2.042 Ton
Ekspor: 0,43 USD/Kg
Aluminium Ores &
Concentrates
Ekspor: 40.643.852 Ton
Impor: -
Konsumsi DN: 700.637 Ton
Nilai Ekspor: 0,02 USD/Kg

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.20 Neraca Supply Demand Bauksit
106
2. Aluminium ingot, slab, billet
Produk yang termasuk dalam HS Code produk aluminium
ingot, slab dan billet adalah ingot (not alloys) dan ingot, billet & slab
aluminium alloys. Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk
produk aluminium ingot, slab dan billet sebagaimana yang telah
ditampilkan pada bab 2, harga impor berada di kisaran USD 2,5/kg
dan masih lebih tinggi dari harga ekspor (USD 2,39/kg). Jumlah impor
pun jauh lebih besar dibanding jumlah ekspor sehingga walaupun
jumlah produksi dalam negeri sudah cukup banyak tetapi tidak dapat
seluruhnya memenuhi kebutuhan dalam negeri yang sebagian diisi
oleh produk impor. Secara keseluruhan, nilai transaksi ekspor impor
aluminium ingot, slab dan billet negatif, artinya ekspor lebih rendah
dari impor, baik dari nilai maupun kuantitasnya.
Grafk fuktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar
berikut:

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.21 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Ingot, Slab, Billet (Kg)

107
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.22 Fluktuasi Impor Ekspor Aluminium Ingot, Slab, Billet (US$)
Dari data ekspor impor dapat terlihat bahwa tidak terjadi proses
peningkatan nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan
dalam negeri masih diisi dari impor. Untuk itu, perlu dibuat industri
yang memasok kebutuhan bahan baku dan industri yang memproduksi
aluminium ingot, slab dan billet, khususnya produk alloys yang
konsumsi dalam negerinya terus meningkat untuk mengurangi jumlah
impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri.
108
3. Produk aluminium batangan.
Produk yang termasuk dalam HS Code produk aluminium
batangan adalah aluminium bar, rod dan profle; pipa aluminium dan
kawat aluminium. Grafk fuktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada
gambar berikut:
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.23 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Batangan (Kg)
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.24 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Batangan (US$)
109
Dari perbandingan data ekspor dan impor untuk produk
aluminium batangan, harga impor (USD 5,55/kg) masih lebih tinggi
dari harga ekspor (USD 4,08/kg). Jumlah impor pun lebih banyak
dibanding jumlah ekspor sehingga walaupun jumlah produksi dalam
negeri sudah cukup banyak tetapi tidak dapat seluruhnya memenuhi
kebutuhan dalam negeri yang sebagian diisi oleh produk impor.
Secara keseluruhan, nilai transaksi ekspor impor produk aluminium
batangan negatif, artinya ekspor lebih rendah dari impor, baik dari
nilai maupun kuantitasnya. Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terjadi
proses peningkatan nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan
kebutuhan dalam negeri masih diisi dari impor. Untuk itu, perlu dibuat
industri yang memasok kebutuhan bahan baku dan industri yang
memproduksi aluminium batangan, khususnya produk aluminium bar,
rod dan profle yang konsumsi dalam negerinya terus meningkat untuk
mengurangi jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri
dalam negeri.
110
4. Produk aluminium lembaran.
Produk yang termasuk dalam HS Code produk aluminium lembaran
adalah aluminium plate/sheet dan aluminium foil. Dari perbandingan
data ekspor dan impor untuk produk aluminium lembaran, harga impor
(USD 3,69/kg) masih sedikit lebih tinggi dari harga ekspor (USD 3,25/
Kg). Jumlah impor pun lebih banyak dibanding jumlah ekspor.Grafk
fuktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada gambar 4.25 dan 4.26
berikut:

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.25 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lembaran (Kg)
Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terjadi proses peningkatan
nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan dalam
negeri masih diisi dari impor. Proses peningkatan nilai tambah terjadi
di luar negeri. Padahal market dalam negeri cukup besar untuk
produk aluminium lembaran dan kecenderungannya tiap tahun terus
bertambah.Untuk itu, perlu dipertimbangkan pendirian industri yang
memproduksi aluminium lembaran untuk mengurangi jumlah impor
dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. Mengingat
potensi market dunia untuk produk ini, maka kelebihan produksi bisa
diekspor ke luar negeri.
111
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.26 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lembaran (US$)
112
5. Produk aluminium lainnya
Produk yang termasuk dalam HS Codealuminium lainnya adalah
skrap aluminium dan produk aluminium lainnya. Dari perbandingan
data ekspor dan impor untuk produk aluminium lainnya, harga impor
(USD 1,95/kg) masih lebih tinggi dari harga ekspor (USD 1,28/Kg).
Begitupula impor lebih besar dibanding ekspor, baik dari sisi nilai
maupun jumlahnya.Hal ini dapat diartikan bahwa tidak terjadi proses
peningkatan nilai tambah di dalam negeri dan pemenuhan kebutuhan
dalam negeri masih diisi dari impor. Proses peningkatan nilai tambah
terjadi di luar negeri. Mengingat pangsa pasar domestik yang cukup
besar untuk produk skrap aluminium dan kecenderungannya tiap
tahun terus bertambah, perlu dipertimbangkan untuk mengurangi
jumlah impor dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri.
Salah satu caranya adalah dengan integrasi industri aluminium
dari hulu ke hilir di Indonesia sehingga kita tidak perlu mengimpor
skrap aluminium.Grafk fuktuasi ekspor dan impor dapat dilihat pada
gambar berikut:
Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.27 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lainnya (Kg)
113

Sumber: Data Olahan Tim Kajian SDM
Gambar 4.28 Fluktuasi Impor & Ekspor Aluminium Lainnya (US$)
4.3.1 Peluang Industri Bauksit
Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih dan
konsentrat bauksit, yaitu sebesar USD 13.412.471.160,- per
tahun. Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah
ini, tentunya terdapat potensi penerimaan negara dari pajak
penghasilan, cukai ekspor produk alumina, retribusi daerah, dan
lain sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat bauksit
yang diekspor dilakukan di dalam negeri;
Terdapat beneft dari penyerapan tenaga kerja melalui industri
pengolahan bijih dan konsentrat bauksit yang akan diolah di dalam
negeri dan menyerap tenaga kerja sebanyak 670.000 orang;
Dukungan Pemerintah dalam mengembangkan industri aluminium
yang berupa insentif fskal maupun non-fskal seperti tertera pada
Peraturan Presiden No. 28 tahun 2008 mengenai Kebijakan
Industri Nasional. Sesuai dengan Perpres tersebut, diantaranya
menyebutkan bahwa industri pionir dan industri berbasis SDA
lokal akan mendapatkan fasilitas dari pemerintah. Untuk itu, saat
ini sangat gencar dilakukan promosi investasi khususnya dalam
menarik investor guna membangun industri alumina, dimana
114
industri ini benar-benar berbasis sumber daya lokal. Terkait dalam
hal ini, potensi bahan galian bauksit dalam negeri cukup besar,
diantaranya tersebar di Kalimantan Barat dan Bintan;
Adanya fasilitas pemerintah dalam pemotongan pajak penghasilan
seperti tertuang pada Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 2007
tentang fasilitas Pajak Penghasilan untuk penanaman modal di
bidang tertentu dan/atau di daerah tertentu;
Pemberian fasilitas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP)
untuk impor bahan baku industri. Fasilitas ini selalu diperbaharui
setiap tahunnya, dan apabila ada industri yang memerlukan
fasilitas ini dapat difasilitasi oleh pemerintah dalam pengajuannya;
Adanya Asosiasi Industri Aluminium atau biasa dikenal dengan
nama APRALEX (Asosiasi Produsen Aluminium Extrusi) yang
solid;
Peran perbankan terhadap investasi di industri aluminium sudah
semakin terbuka;
Telah memiliki lembaga-lembaga penelitian pemerintah yang
mendukung industri aluminium, seperti: Balai Besar Logam Mesin,
Kementerian Perindustrian; LIPI; BATAN; dan BPPT;
SDM yang cukup tersedia dengan banyaknya perguruan tinggi
yang mampu menghasilkan tenaga-tenaga profesional di bidang
metalurgi, teknik mesin, teknik produksi, teknik industri, teknik
kimia, dll. Perguruan tinggi tersebut antara lain: Universitas
Indonesia, ITB, UGM, dan ITS;
Kebutuhan aluminium nasional dan dunia yang makin meningkat
dengan pesat.
115
4.3.2 Tantangan Industri Bauksit
Kurangnya pasokan listrik untuk industri;
Kurangnya infrastruktur khususnya untuk pembangunan industri
hulu aluminium;
Hasil riset dari institusi penelitian yang telah disampaikan ke
industri sering tidak jelas kelanjutannya;
Kebutuhan aluminium ingot primer dan sekunder untuk membuat
produk antara dan hilir aluminium belum dapat dipenuhi dari
dalam negeri, sehingga harus diimpor;
Belum adanya industri alumina sebagai industri hulu aluminium;
Penggunaan energi yang relatif tidak efsien, sebagai contoh
molten aluminium dari pabrik ingot primer bisa langsung dibuat
aluminium paduan tanpa harus menjadi ingot primer, demikian
juga produsen aluminium sekunder dapat langsung dikirim ke
industri casting dalam bentuk molten aluminium;
Mesin produksi di industri masih banyak yang menggunakan
teknologi konvensional, seperti pada industri plat aluminium
dengan menggunakan manusia untuk me- roll slab aluminium
menjadi plat aluminium. Hal ini menyebabkan kualitas produk
yang rendah;
Produk aluminium ingot primer produksi PT. Inalum belum cukup
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebagian besar hasil
produksinya (60%) di ekspor ke Jepang;
Kemampuan industri dalam negeri dalam penguasaan teknologi
masih belum memadai, seperti pembuatan desain; belum adanya
lembaga khusus pemerintah maupun swasta di bidang aluminium;
industri kecil masih menghasilkan kualitas produk yang rendah
akibat kurangnya penguasaan teknologi.
116
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
a. Industri Tembaga
Industri tembaga di Indonesia pada dasarnya telah ada dimulai
dari hulu yaitu dari bijih menjadi konsentrat dalam hal ini seperti yang
dibuat oleh PT Freeport di Tembaga pura dan PT Newmont di Batu
Hijau. Konsentrat diproses lebih lanjut menjadi katoda tembaga yang
saat ini satu-satunya tempat pemrosesan tersebut dilakukan oleh PT
Smelting yang berada di Gresik Jawa Timur.
Dari gambar pohon industri tembaga, justru kelompok industri
hulunya sudah jauh atau dalam, namun sebaliknya industri hilirnya
yang belum berkembang seperti kabel, tube dan pipa. Dengan
demikian produk industri hulu (Katoda tembaga) tidak diserap oleh
pasar dalam negeri sendiri sehingga banyak dijual keluar negeri
yang belakangan ini meningkat terus seiring dengan meningkatnya
kebutuhan dunia.
Lebih lanjut, dengan meningkatnya ekspor produk hulu tersebut
Indonesia akan kehilangan nilai tambah karena nilai tambahnya akan
dinikmati oleh pihak luar negeri. Untuk itu kedalaman struktur industri
tembaga diarahkan ke industri hilirnya, agar dapat menciptakan
peluang pasar industri hilir yang kompetitif dan dapat di ekspor dan
nilai tambahnya dinikmati Indonesia.
Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat tembaga sebesar
1.471.420 ton. Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih
dan konsentrat tembaga yang semestinya dapat diolah di dalam
negeri. Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih antara nilai
impor produk tembaga dasar dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat
tembaga, yaitu sebesar USD 12,16/Kg USD 3,19/Kg = USD 8,97/Kg.
Maka dapat dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011,
yaitu sebesar USD 8.970/ton x 1.471.420 ton = USD 13.198.637.400,-
.
117
Nilai tambah dapat ditingkatkan dengan cara mengolah konsentrat
di dalam negeri, yaitu dengan membangun pabrik peleburan dan
pemurnian tembaga serta pembangunan industri hilirnya. Oleh karena
itu, pengolahan hasil-hasil pertambangan di dalam negeri untuk
mendorong peningkatan nilai tambah sudah menjadi sebuah tuntutan.
Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini,
tentunya terdapat potensi penerimaan Negara dari pajak penghasilan,
cukai ekspor produk tembaga dasar, retribusi daerah, dan lain
sebagainya bila proses produksi bijih dan konsentrat tembaga yang
di ekspor dilakukan di dalam negeri. Selain itu, terdapat beneft dari
penyerapan tenaga kerja melalui industri pengolahan tembaga dasar
sebanyak kurang lebih 32.600 orang. Penyerapan tenaga kerja ini
belum termasuk tenaga kerja di industry hilir dan multiplier effect
yang didapat dari pengolahan hasil produk industri hulu tembaga di
Indonesia.
Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa industri hilir akan
tumbuh dengan pesat, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,
dan dengan tumbuhnya industri hilir dan industri tersier tersebut
juga dapat menggerakkan roda perekonomian. Sebagai gambaran,
peleburan tembaga dengan kapasitas 200.000 ton per tahun
membutuhkan konsentrat sekitar 660.000 ton. Dari sini akan dihasilkan
asam sulfat sebanyak 650.000 ton, yang dapat mendukung produksi
berbagai pupuk khususnya pupuk majemuk (NPK) sebanyak 1,2 juta
ton. Produk samping lainnya seperti slag dan gypsum dibutuhkan oleh
industri semen.
b. Industri Nikel

Secara umum pohon industri Nikel lebih baik dari pohon industri
lainnya. Hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa industri pengolahan
dan pemurnian sudah sampai nickel matte dan ferronickel. Walaupun
demikian, bijih nikel masih diekspor keluar negeri terutama yang
berkadar rendah. Pada saat ini sudah ada teknologi pengolahan dan
pemurnian untuk nikel berkadar rendah yang dapat menjadi peluang
untuk mengolah bijih nikel.
118
Gambar pohon industri menunjukan bahwa di Indonesia masih
belum ada dan atau belum dikembangkan beberapa industri hulunya
seperti HPAL serta Slab stainless steel, dan hilirnya HRC stainless
steel. Di sisi lain, neraca perdagangan bahan mentah dan bahan
setengah jadi hasil pertambangan mengindikasikan rendahnya tingkat
pengolahan hasil tambang. Hal ini karena hasil tambang diekspor
dalam bentuk bahan mentah sementara nilai impor bahan setengah
jadi lebih tinggi dari ekspor bahan mentahnya sendiri. Jika nikel dijual
dalam bentuk bijih maka hanya dihargai senilai $25/ton. Namun, jika
diolah menjadi FeNi maka nilai jualnya akan menjadi $2.5074/ton
dan jika menjadi bahan untuk stainless steel maka nilainya menjadi
$2.627/ton.
Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat nikel sebesar
40.792.165 ton. Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih
dan konsentrat nikel yang semestinya dapat diolah di dalam negeri.
Potensi nilai tambah tersebut dapat dihitung dari selisih antara nilai
ekspor produk ferro nickel dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat
nikel, yaitu sebesar USD 5,96/Kg USD 0,04/Kg = USD 5,92/Kg. Maka
dapat dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011, yaitu
sebesar USD 5.920/ton x 40.792.165 ton = USD 241.489.616.800,-.
Masih banyak terdapat bahan/barang yang belum dibuat /
diproduksi di dalam negeri, dengan alasan spesifkasi khusus dan
jumlah permintaan tebatas sehingga skala ekonomi tidak tercapai.
Hal ini dapat terlihat dari grafk perbandingan antara impor dan
ekspor produk nikel dengan stainless, dimana Indonesia lebih
banyak mengekspor produk nikel dan mengimpor stainless. Secara
sederhana gap yang ada dapat dijawab melalui penelusuran dalam
hal antara lain: 1) Sumber bahan baku tidak mendukung/deposit tidak
mencukupi atau terbatas, mutu tidak memenuhi; 2) Investasi mahal
akibat infrastruktur yang belum tersedia, teknologi tinggi; 3) Pasar
kecil, spesifkasi terlalu banyak.
Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah, tentunya
terdapat potensi penerimaan Negara dari pajak penghasilan, cukai
ekspor produk ferro nickel, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila
proses produksi bijih dan konsentrat nikel yang diekspor dilakukan
di dalam negeri. Selain itu, terdapat beneft dari penyerapan tenaga
kerja melalui industri pengolahan bijih dan konsentrat nikel sebanyak
119
kurang lebih 1.700.000 orang. Penyerapan tenaga kerja ini belum
termasuk tenag akerja di industri hilir dan multiplier effect yang didapat
dari pengolahan hasil produk industry hulu nikel di Indonesia.
c. Industri Aluminium
Indonesia sebagai salah satu penghasil bauksit di dunia, belum
memiliki pabrik pemrosesan alumina sehingga seluruh produk
bauksitnya dijual ke luar negeri. Di sisi lain, Indonesia memiliki pabrik
pemrosesan aluminium yaitu PT. Inalum di Sumatera Utara. Ada mata
rantai proses yang terputus akibat ketiadaan pabrik pemrosesan yang
mengakibatkan hilangnya nilai tambah dari proses ini. Mata rantai
yang terputus inilah yang menjadi target dari implementasi kebijakan
peningkatan nilai tambah. Artinya kedepan, mulai tahun 2014 tidak
lagi diperkenankan mengekspor bijh bauksit namun terlebih dahulu
harus diproses untuk mendapatkan nilai tambah bauksit, antara lain
untuk mensubstitusi impor alumina.
Memperhatikan pohon industri aluminium yang ada saat ini, yang
sangat mendasar adalah tidak dan belum diusahakannya pendirian
pabrik alumina. Padahal bahan baku dasar alumina seperti bauksit
ada di dalam negeri dengan deposit yang cukup untuk jangka
panjang, sementara itu industri produk hilirnya sedang tumbuh dan
berkembang.
Pada tahun 2011, ekspor bijih dan konsentrat bauksit sebesar
40.643.852 ton. Terdapat potensi peningkatan nilai tambah dari bijih
dan konsentrat bauksit yang semestinya dapat diolah di dalam negeri.
Potensi nilai tambah dapat dihitung dari selisih antara nilai impor
produk alumina dengan nilai ekspor bijih dan konsentrat bauksit, yaitu
sebesar USD 0,35/Kg USD 0,02/Kg = USD 0,33/Kg. Maka dapat
dihitung opportunity loss yang terjadi pada tahun 2011, yaitu sebesar
USD 330/ton x 40.643.852 ton = USD 13.412.471.160,-.
Mengingat pangsa pasar domestik yang cukup besar untuk produk
aluminium dan kecenderungannya tiap tahun terus bertambah, perlu
dipertimbangkan untuk mengurangi jumlah impor dan meningkatkan
nilai tambah di industri dalam negeri. Salah satu caranya adalah
dengan integrasi industri aluminium dari hulu ke hilir di Indonesia
sehingga kita tidak perlu mengimpor produk aluminium. Dari sisi hulu,
120
dibutuhkan adanya industri alumina sebagai industri hulu aluminium.
Sedangkan dari sisi hilir, diperlukan peningkatan kemampuan industri
dalam negeri dalam penguasaan teknologi. Saat ini mesin produksi di
industri, khususnya industri kecil masih banyak yang menggunakan
teknologi konvensional sehingga menghasilkan kualitas produk yang
rendah akibat kurangnya penguasaan teknologi.
Bersamaan dengan potensi peningkatan nilai tambah ini, tentunya
terdapat potensi penerimaan Negara dari pajak penghasilan, cukai
ekspor produk alumina, retribusi daerah, dan lain sebagainya bila
proses produksi bijih dan konsentrat bauksit yang di ekspor dilakukan
di dalam negeri. Selain itu, terdapat beneft dari penyerapan tenaga
kerja melalui industri pengolahan bijih dan konsentrat bauksit yang
akan diolah di dalam negeri dan menyerap tenaga kerja sebanyak
kurang lebih 670.000 orang. Penyerapan tenaga kerja ini belum
termasuk tenaga kerja di industry hilir dan multiplier effect yang didapat
dari pengolahan hasil produk industry hulu bauksit di Indonesia.
5.2. Saran
Agar produk dalam negeri dapat kompetitif baik untuk pasar lokal
maupun global maka diperlukan berbagai upaya yang diharapkan dari
pemerintah antara lain: untuk membangun infrastruktur pendukung
bagi industri tembaga, nikel dan bauksit seperti penyediaan energi
listrik termasuk didalamnya pasokan gas yang stabil, transportasi,
pelabuhan dan reformasi pajak, berbagai insentif seperti kebijakan
tata niaga, safe guard,stimulus fscalsertatax holiday/allowance dan
lain-lain.
Selain hal tersebut di atas pemerintah perlu mempertimbangkan
pendirian atau peningkatan industri hilir untuk mengurangi jumlah impor
dan meningkatkan nilai tambah di industri dalam negeri. Khusus untuk
industri bauksit, pemerintah diharapkan segera mengembangkan atau
mendirikan pabrik alumina melalui BUMN pertambangan ataupun
bekerjasama dengan swasta, karena bahan baku dasar alumina
seperti bauksit ada di dalam negeri dengan deposit yang cukup untuk
jangka panjang, sementara itu industri produk hilirnya sedang tumbuh
dan berkembang saat ini.
121
Diharapkan kedepan pemerintah sudah mulai mengembangkan
industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir sehingga tidak perlu
lagi mengekspor raw material dan mengimpor produk setengah jadi,
sehingga semua beneft dari peningkatan nilai tambah mineral dapat
dioptimalkan bagi industri di dalam negeri.
122
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Perindustrian. Studi Peningkatan Nilai Tambah Sumber
Daya Alam Tembaga. Jakarta, 2008.
Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan
Sumber Daya Mineral. Indonesia Mineral and Coal Statistic 2011.
Jakarta, 2012.
International Copper Association. http://www.copper.org/publications/
homepage.html. Diakses pada tanggal 5 September 2012.
International Copper Study Group. http://www.icsg.org/index.php/
external-database. Diakses pada tanggal 3 September 2012.
Kementerian Perindustrian. Industry Facts and Figure. Jakarta, 2012.
Kementerian Perindustrian. Konsumsi, Utilisasi & Ratio Produksi
Terhadap Konsumsi Produk Industri Logam. Jakarta, 2012.
Kementerian Perindustrian. Telaahan Kedalaman Struktur Industri
Engineering Prioritas (Industri Baja dan Industri Logam Non Ferrous).
Jakarta, 2010.
Pusdatin Kementerian Perdagangan. Realisasi Ekspor/Impor Migas
dan Barang Tambang Indonesia dari/ke Dunia Periode 2005-2012.
Jakarta, Juli 2012.
PT Harita Prima Abadi Mineral. Kesiapan PT HPAM dalam Peningkatan
Nilai Tambah Mineral Bauksit di Kab. Ketapang, Kalimantan Barat.
Dipresentasikan pada Konsinyering Kajian Kebijakan Pengembangan
Industri Mineral Sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Jakarta, 4
Desember 2012.
Sabaruddin, Tatang. Kebijakan Hilirisasi Mineral di Indonesia.
Dipresentasikan pada Konsinyering Kajian Kebijakan Pengembangan
Industri Mineral Sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Jakarta, 4
Desember 2012.
Thierauf, Robert J.; Klekamp, Robert C. Decision Making Through
Operations Research. Wiley, 2005.
123
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012
1 REP.RAKYAT CINA 256.735 26.243.326 276.170.610 230.921.446 151.984.288 348.397.438 1.162.069.111 569.573.225
2 JEPANG 101.316.551 110.441.342 188.578.010 171.112.788 72.693.616 99.008.971 140.467.689 37.850.840
3 UKRAINE 16.431.251 36.883.014 44.568.387 65.544.864 31.504.462 47.818.290 59.477.750 26.846.986
4 YUNANI 4.926.128 10.025.695 42.255.919 21.468.295 10.755.283 18.629.318 25.589.481 16.817.120
5 AUSTRALIA 15.294.786 24.955.001 26.090.844 16.813.847 - 17.136.496 21.001.440 20.508.651
6 INGGRIS - - 12.511.376 694.087 6.123.985 - 8.302.568 -
7 HONGKONG - - 1 600 4.001.115 - 2.832.240 1.561.640
8 BELANDA - - - - - - 2.803.700 -
9 MONTENEGRO - - - - - - 1.375.000 -
10 AMERIKA SERIKAT 338.787 - - 400 - - 1.286.400 -
11 INDIA - - - - - 200 1.063.400 -
12 MALAYSIA - - - 875.000 - - 916.332 -
13 KOREA SELATAN 66.000 4.338.622 5.501.358 - - - 855.000 -
14 VATIKAN CITY STATE 1.344.045 - 7.107.759 - - - - -
15 SWISS - 4.544.131 - 16.795.667 - 1.455.191 - -
16 SINGAPURA 732 - 22 7 2.435 225 - -
17 PERANCIS - - 20.000 1.664 37 - - -
18 BELGIA - - - 24.643 - - - -
19 KURASAO - - 1.522.605 - - - - -
20 KAMERUN - - 1.669.062 - - - - -
21 KANADA - 300 - 6.200 - - - -
22 THAILAND - - 2.407.900 - 504.000 - - -
23 POLANDIA - - 20 - - - - -
139.975.015 217.431.431 608.403.873 524.259.508 277.569.221 532.446.129 1.428.040.111 673.158.462
11.664.585 18.119.286 50.700.323 43.688.292 23.130.768 44.370.511 119.003.343 134.631.692
NEGARA TUJUAN
JUMLAH
RATA-RATA PER BULAN
NO
NILAI (USD)
LAMPIRAN
I. REALISASI EKSPOR BARANG TAMBANG INDONESIA KE
DUNIA
1. Copper ores and Concentrates (USD)

2. Nickel ores and Concentrates (USD)

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
1 JEPANG 866.445.234 1.902.090.308 1.338.085.110 1.546.643.636 2.074.956.861 2.876.251.671 1.043.304.104 462.970.260
2 INDIA 657.288.231 701.174.898 533.939.837 273.087.488 636.243.482 973.709.528 1.041.048.120 218.519.935
3 KOREA SELATAN 511.215.356 712.602.826 615.529.242 593.157.223 1.021.752.508 1.128.977.087 1.029.943.966 115.158.533
4 REP.RAKYAT CINA 126.999.736 162.634.409 87.535.366 27.779.783 131.501.178 331.320.033 472.572.296 107.588.373
5 SPANYOL 600.606.904 889.648.749 1.105.130.301 598.640.306 767.530.284 1.083.926.729 446.718.480 204.635.469
6 PILIPINA 364.778.178 190.787.964 426.624.027 305.232.399 363.201.146 208.847.256 349.860.323 -
7 JERMAN 85.284.961 87.126.232 78.367.390 - 93.799.620 222.584.548 167.261.662 32.504.556
8 AMERIKA SERIKAT - 10 - - - - 79.818.541 -
9 UNI EMIRAT ARAB - - - - - - 34.805.509 -
10 SWISS - - 27.408.766 - - - 34.510.715 -
11 THAILAND - - - - - 7.500 338.625 562.344
12 HONGKONG - 44 - - - 7.860 100.277 23.036
13 VIETNAM - - - - - - 41.020 8.612
14 MALAYSIA - - - 12.840 - - 29.900 -
15 AUSTRALIA - - - - - - 460 -
16 SINGAPURA 4.025 4.000 - 20.460 12.294.943 56.524.457 - -
17 FINLANDIA 75.247.905 - - - - - - -
18 TAIWAN - - 32.924 - - 14.539 - 4.356
19 BULGARIA 23.096.468 - - - - - - -
3.310.966.998 4.646.069.440 4.212.652.963 3.344.574.135 5.101.280.022 6.882.171.208 4.700.353.998 1.141.975.474
275.913.917 387.172.453 351.054.414 278.714.511 425.106.669 573.514.267 391.696.167 228.395.095
NILAI (USD)
NO NEGARA TUJUAN
JUMLAH
RATA-RATA PER BULAN
124
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012
1 REP.RAKYAT CINA 14.432.164 47.050.382 93.931.747 203.649.147 242.760.992 466.437.281 766.506.209 372.206.763
2 JEPANG 7.496.447 10.240.155 10.235.658 12.275.712 4.726.360 8.306.178 4.800.970 2.774.847
3 TAIWAN 47.250 177.800 586.500 383.900 896.251 1.297.766 1.375.795 743.400
4 VENEZUELA - - - - - - 429.000 -
5 SWISS - - - - - 2.376.102 87.874 -
6 THAILAND - 73.750 68.000 - - - - 1.538.460
7 FEDERASI RUSIA - 550.815 - - - - - -
8 BELANDA 983.896 - 276.965 - - - - -
9 HONGKONG - - - - - 560.206 - -
10 SINGAPURA 639.009 - 319.050 - 1.321.600 - - -
23.598.766 58.092.902 105.417.920 216.308.759 249.705.203 478.977.533 773.199.848 377.263.470
1.966.563,83 4.841.075,17 8.784.826,67 18.025.729,92 20.808.766,92 39.914.794,42 64.433.320,67 75.452.694
NO NEGARA TUJUAN
JUMLAH
NILAI (USD)
RATA-RATA PER BULAN
3. Alumunium ores and Concentrates (USD)

4. Volume Copper ores and Concentrates (KG)

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012
1 JEPANG 640.573.291 979.876.164 542.333.373 749.611.436 961.201.401 1.120.471.829 330.159.714 172.799.432
2 INDIA 486.525.211 333.351.325 193.861.949 135.346.088 275.248.801 354.420.198 311.800.852 75.906.293
3 KOREA SELATAN 363.470.580 356.951.864 271.571.233 300.691.240 463.560.767 441.054.302 326.166.350 50.570.071
4 REP.RAKYAT CINA 94.947.509 84.908.400 61.377.270 12.521.395 66.538.243 127.797.947 160.722.537 46.761.279
5 SPANYOL 424.221.441 437.498.475 414.603.000 284.779.801 339.628.847 394.992.234 131.694.070 64.500.000
6 PILIPINA 237.725.569 96.617.459 186.066.138 143.841.830 169.377.157 91.957.279 100.102.132 -
7 JERMAN 74.845.298 41.517.016 44.386.825 - 43.959.338 88.134.840 62.672.101 16.483.680
8 AMERIKA SERIKAT - 20 - - - - 27.728.761 -
9 UNI EMIRAT ARAB - - - - - - 10.058.400 -
10 SWISS - - 12.175.559 - - - 9.000.000 -
11 THAILAND - - - - - 25.000 830.060 2.406.243
12 HONGKONG - 1 - - - 99.500 232.770 74.928
13 VIETNAM - - - - - - 136.656 43.060
14 MALAYSIA - - - 100.000 - - 115.000 -
15 AUSTRALIA - - - - - - 788 -
16 SINGAPURA 20.001 20.000 - 65.135 10.745.986 23.040.938 - -
17 FINLANDIA 43.154.958 - - - - - - -
18 TAIWAN - - 220.003 - - 92.600 - 71.484
19 BULGARIA 17.367.000 - - - - - - -
2.382.850.858 2.330.740.724 1.726.595.350 1.626.956.925 2.330.260.540 2.642.086.667 1.471.420.191 429.616.470
198.570.905 194.228.394 143.882.946 135.579.744 194.188.378 220.173.889 122.618.349 85.923.294
NEGARA TUJUAN NO
VOLUME (KG)
JUMLAH
RATA-RATA PER BULAN
125
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012
1 REP.RAKYAT CINA 1.711.862.635 6.249.669.489 10.850.325.000 16.078.840.228 14.322.053.157 26.600.486.412 40.270.177.979 20.224.978.096
2 JEPANG 695.591.925 919.602.000 700.452.000 677.628.244 213.067.530 480.578.550 253.614.876 113.996.801
3 TAIWAN 13.500.000 50.800.000 69.000.000 34.900.000 67.500.000 76.753.690 80.300.000 41.300.000
4 VENEZUELA - - - - - - 33.000.000 -
5 SWISS - - - - - 208.385.920 6.759.540 -
6 THAILAND - 14.000.000 8.500.000 - - - - 113.960.000
7 FEDERASI RUSIA - 36.001.000 - - - - - -
8 BELANDA 24.795.000 - 2.962.200 - - - - -
9 HONGKONG - - - - - 44.170.000 - -
10 SINGAPURA 56.866.359 - 31.905.000 - 117.700.000 - - -
2.502.615.919 7.270.072.489 11.663.144.200 16.791.368.472 14.720.320.687 27.410.374.572 40.643.852.395 20.494.234.897
208.551.327 605.839.374 971.928.683 1.399.280.706 1.226.693.391 2.284.197.881 3.386.987.700 4.098.846.979
VOLUME (KG)
RATA-RATA PER BULAN
JUMLAH
NO NEGARA TUJUAN
5. Nickel ores and Concentrates (KG)

6. Alumunium ores and Concentrates (KG)

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012
1 REP.RAKYAT CINA 73.353.000 660.206.200 5.432.401.119 6.594.319.151 7.604.354.011 14.346.464.168 36.142.280.593 19.762.885.603
2 JEPANG 2.034.320.200 2.067.466.499 1.846.057.005 1.826.351.096 1.459.011.400 1.453.681.620 1.861.407.700 579.440.200
3 UKRAINE 490.067.000 726.179.000 591.919.000 1.012.454.000 532.464.000 629.979.700 710.054.100 399.945.300
4 YUNANI 95.719.992 147.388.514 391.248.000 348.193.180 389.706.114 240.937.900 573.617.400 407.799.245
5 AUSTRALIA 946.047.439 707.932.758 371.384.500 505.194.813 - 844.789.000 956.954.000 982.485.000
6 INGGRIS - - 173.473.000 12.450.000 138.226.000 - 87.881.000 -
7 HONGKONG - - 1 20.000 279.733.039 - 85.140.040 39.041.000
8 BELANDA - - - - - - 52.900.000 -
9 MONTENEGRO - - - - - - 55.000.000 -
10 AMERIKA SERIKAT 11.000.000 - - 6.000 - - 107.200.000 -
11 INDIA - - - - - 1.000 40.900.000 -
12 MALAYSIA - - - 50.000.000 - - 96.330.000 -
13 KOREA SELATAN 3.000.000 43.854.000 52.513.243 - - - 22.500.000 -
14 VATIKAN CITY STATE 50.000.000 - 66.500.000 - - - - -
15 SWISS - 41.097.000 - 243.086.000 - 50.179.000 - -
16 SINGAPURA 7.100 - 1 4 1.202 15.000 - -
17 PERANCIS - - 15.265 25.450 30.699 - - -
18 BELGIA - - - 22.324 - - - -
19 KURASAO - - 35.826.000 - - - - -
20 KAMERUN - - 38.150.000 - - - - -
21 KANADA - 700 - 29.241 - - - -
22 THAILAND - - 27.362.500 - 33.600.000 - - -
23 POLANDIA - - 52 - - - - -
3.703.514.731 4.394.124.671 9.026.849.686 10.592.151.259 10.437.126.465 17.566.047.388 40.792.164.833 22.171.596.348
308.626.228 366.177.056 752.237.474 882.679.272 869.760.539 1.463.837.282 3.399.347.069 4.434.319.270
VOLUME (KG)
JUMLAH
RATA-RATA PER BULAN
NO NEGARA TUJUAN
126
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012
1 SINGAPURA 2.470 - 106 287 - - 14.100 -
2 KANADA - - - 12.935 - - 109 -
3 UNI EMIRAT ARAB - - - 15 - - - -
4 TAIWAN - - - 50 - 1.926 - -
5 MALAYSIA - - - 1.724 - - - -
6 KALEDONIA BARU - - - - - 80 - -
7 JERMAN 15.380 - - - - - - -
8 JEPANG - - - 1.217 10 - - -
9 HONGKONG - - - 10.968 - - - -
10 AUSTRALIA - 4.278 - 1.665 1.284 - - -
11 REP.RAKYAT CINA - - 21 12.378 - - - -
17.850 4.278 127 41.239 1.294 2.006 14.209 -
1.488 357 11 3.437 108 167 1.184 -
NO NEGARA ASAL
NILAI (USD)
JUMLAH
RATA-RATA PER BULAN
II. REALISASI IMPOR BARANG TAMBANG INDONESIA KE DUNIA
1. Copper ores and Concentrates (USD)

2. Nickel ores and Concentrates (USD)

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012
1 PAPUA NUGINI - - - - 14.319.656 - 103.042.567 -
2 JEPANG - - 35.737 1.253 215.661 681.908 637.362 212.106
3 AMERIKA SERIKAT 1.530 2 - - 3.586 3.843 7.901 -
4 SINGAPURA - - - 21.660 628 78.531 7.869 1.672
5 PERU 7.411.255 - - - - - - -
6 THAILAND - - - 10.631 - - - -
7 REP.RAKYAT CINA - 150 7 61 15.000 14.400 - -
8 AUSTRALIA 880 582 681 715 153 - - 102.335.700
9 KOREA SELATAN 330 770 9.050 9.848 1.300 - - -
10 INDIA - - - - 5.867 - - -
11 HONGKONG - - - 1.560 30.822 - - -
12 CHILI 25.011.191 36.095.902 - - - - - -
13 KANADA 11.597.189 - - - - - - -
44.022.375 36.097.406 45.475 45.728 14.592.673 778.682 103.695.699 102.549.478
3.668.531 3.008.117 3.790 3.811 1.216.056 64.890 8.641.308 20.509.896
NEGARA ASAL NO
NILAI (USD)
JUMLAH
RATA-RATA PER BULAN
127
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012
1 BELANDA - - - 75.965 396.043 457.414 302.271 185.904
2 REP.RAKYAT CINA 451.429 315.632 350.916 754.342 182.347 475.311 64.871 -
3 AMERIKA SERIKAT 38.582 1.705 63.007 6.628 - - 48.891 -
4 REP.AFRIKA SELATAN - - - - - - 4.824 -
5 BRASILIA - - - - - 82.944 - -
6 SINGAPURA 5.747 452 - - 60.537 26.800 - -
7 JEPANG - - - - 300 - - -
8 INGGRIS - - - - 15.189 - - -
9 GUYANA - - - 11.208 - - - -
10 AUSTRIA 11.029 - - - - - - -
11 HONGKONG - - - - 15.320 - - -
506.787 317.789 413.923 848.143 669.736 1.042.469 420.857 185.904
42.232 26.482 34.494 70.679 55.811 86.872 35.071 37.181
NO NEGARA ASAL
JUMLAH
RATA-RATA PER BULAN
NILAI (USD)
3. Aluminium ores and Concentrates (USD)

4. Copper ores and Concentrates (KG)

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012
1 PAPUA NUGINI - - - - 9.900.000 - 32.900.000 -
2 JEPANG - - 25.256 174 29.615 63.264 52.960 23.121
3 AMERIKA SERIKAT 93 21 - - 64 139 310 -
4 SINGAPURA - - - 60.300 30 5.522 400 224
5 PERU 11.000.400 - - - - - - -
6 THAILAND - - - 10.416 - - - -
7 REP.RAKYAT CINA - 34 30 58 100.000 96.000 - -
8 AUSTRALIA 978 967 957 738 163 - - 39.034.000
9 KOREA SELATAN 187 362 3.598 4.300 18 - - -
10 INDIA - - - - 4.991 - - -
11 HONGKONG - - - 3.085 7.359 - - -
12 CHILI 26.550.930 25.000.100 - - - - - -
13 KANADA 10.252.600 - - - - - - -
47.805.188 25.001.484 29.841 79.071 10.042.240 164.925 32.953.670 39.057.345
3.983.766 2.083.457 2.487 6.589 836.853 13.744 2.746.139 7.811.469
JUMLAH
NO NEGARA ASAL
VOLUME (KG)
RATA-RATA PER BULAN
128
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012
1 BELANDA - - - 165.920 460.000 607.982 420.000 280.000
2 REP.RAKYAT CINA 2.263.475 1.537.689 1.552.595 1.685.990 546.972 338.760 57.200 -
3 AMERIKA SERIKAT 32.203 924 66.188 5.000 - - 53.320 -
4 REP.AFRIKA SELATAN - - - - - - 1.000 -
5 BRASILIA - - - - - 107.280 - -
6 SINGAPURA 21.860 323 - - 131.124 47.999 - -
7 JEPANG - - - - 1.000 - - -
8 INGGRIS - - - - 25.000 - - -
9 GUYANA - - - 20.000 - - - -
10 AUSTRIA 2.532 - - - - - - -
11 HONGKONG - - - - 9.500 - - -
2.320.070 1.538.936 1.618.783 1.876.910 1.173.596 1.102.021 531.520 280.000
193.339 128.245 134.899 156.409 97.800 91.835 44.293 56.000
VOLUME (KG)
JUMLAH
RATA-RATA PER BULAN
NO NEGARA ASAL
5. Nickel ores and Concentrates (KG)

6. Aluminium ores and Concentrate (KG)

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 JAN-MEI 2012
1 SINGAPURA 121 - 2 8 - - 1.786 -
2 KANADA - - - 1.283 - - 1 -
3 UNI EMIRAT ARAB - - - 1 - - - -
4 TAIWAN - - - 2 - 61 - -
5 MALAYSIA - - - 805 - - - -
6 KALEDONIA BARU - - - - - 1 - -
7 JERMAN 140 - - - - - - -
8 JEPANG - - - 331 1 - - -
9 HONGKONG - - - 21.871 - - - -
10 AUSTRALIA - 3.985 - 801 378 - - -
11 REP.RAKYAT CINA - - 2 142 - - - -
261 3.985 4 25.244 379 62 1.787 -
22 332 0 2.104 32 5 149 -
NO NEGARA ASAL
VOLUME (KG)
JUMLAH
RATA-RATA PER BULAN
129
No. Uraian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
1 ALUMINIUM INGOT *)
Produksi 316.897 401.465 441.895 419.844 441.708 484.762 503.046 530.764
Ekspor 167.696 166.053 186.142 168.338 153.924 160.853 160.853 140.156
Impor 177.629 182.066 156.084 193.305 222.725 277.854 295.178 404.886
Konsumsi 326.831 420.504 401.884 414.859 477.363 517.221 539.659 621.243
Kapasitas 361.400 378.400 442.125 468.625 492.625 502.625 509.625 539.625
% Utilisasi 87,7 106,1 99,9 89,6 89,7 96,4 98,7 98,4
Ratio Produksi
thd Konsumsi
97,0 95,5 110,0 101,2 92,5 93,7 93,2 85,4
*) termasuk aluminium alloy ingot (bahan bahan baku komponen KBM, Mesin dan Ekstrusi)
1.1 ALUMINIUM INGOT ALLOY (sekunder)
Produksi 69.945 151.465 191.505 178.579 199.300 243.906 266.344 288.512
Ekspor 7.924 8.430 14.658 6.167 4.865 5.895 5.895 4.007
Impor 79.407 88.117 79.459 96.869 137.349 133.632 133.632 191.159
Konsumsi 141.428 231.152 256.306 269.281 331.784 371.643 394.081 475.664
Kapasitas 136.400 153.400 217.125 243.625 267.625 277.625 284.625 314.625
% Utilisasi 51,3 98,7 88,2 73,3 74,5 87,9 93,6 91,7
Ratio Produksi
thd Konsumsi
49,5 65,5 74,7 66,3 60,1 65,6 67,6 60,7
1.2 ALUMINIUM INGOT PRIMER
Produksi 246.952 250.000 250.390 241.265 242.408 240.856 236.702 242.252
Ekspor 159.772 157.622 171.484 162.171 149.059 154.958 154.958 136.149
Impor 98.222 93.948 76.625 96.436 85.375 144.223 161.546 213.727
Konsumsi 185.402 189.352 145.578 145.578 145.578 145.578 145.578 145.578
Kapasitas 225.000 225.000 225.000 225.000 225.000 225.000 225.000 225.000
% Utilisasi 109,8 111,1 111,3 107,2 107,7 107,0 105,2 107,7
Ratio Produksi
thd Konsumsi
133,2 132,0 172,0 165,7 166,5 165,4 162,6 166,4
2 ALUMINIUM EKSTRUSI
Produksi 38.561 40.374 43.301 47.631 49.298 52.452 55.976 59.252
Ekspor 7.990 14.024 10.710 8.547 11.154 10.740 9.510 11.165
Impor 1.461 1.443 2.153 2.975 9.906 9.565 13.436 16.811
Konsumsi 32.032 27.793 34.744 42.059 48.050 51.277 59.902 64.899
Kapasitas 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000
% Utilisasi 38,6 40,4 43,3 47,6 49,3 52,5 56,0 59,3
Ratio Produksi
thd Konsumsi
120,4 145,3 124,6 113,2 102,6 102,3 93,4 91,3
III. KONSUMSI, UTILISASI & RATIO PRODUKSI TERHADAP
KONSUMSI PRODUK INDUSTRI LOGAM
Produk Industri Logam Non Ferro

130
No. Uraian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
3 ALUMINIUM SHEET
Produksi 54.483 59.076 58.042 64.601 61.920 65.744 67.216 70.270
Ekspor 20.414 35.298 48.258 52.367 44.967 33.389 79.755 91.335
Impor 36.890 43.140 55.156 73.733 139.964 62.194 95.492 143.824
Konsumsi 70.959 66.918 64.940 85.967 156.917 94.549 82.953 122.758
Kapasitas 116.000 116.000 116.000 116.000 116.000 116.000 116.000 116.000
% Utilisasi 47,0 50,9 50,0 55,7 53,4 56,7 57,9 60,6
Ratio Produksi
thd Konsumsi
76,8 88,3 89,4 75,1 39,5 69,5 81,0 57,2
4 ALUMINIUM FOIL
Produksi 14.629 13.472 12.697 12.157 13.677 12.899 14.485 16.071
Ekspor 7.230 9.937 9.768 9.318 10.489 7.492 8.672 9.229
Impor 10.918 9.112 7.627 8.869 10.289 12.669 15.430 19.784
Konsumsi 18.316 12.646 10.555 11.709 13.478 18.076 21.243 26.626
Kapasitas 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000
% Utilisasi 73,1 67,4 63,5 60,8 68,4 64,5 72,4 80,4
Ratio Produksi
thd Konsumsi
79,9 106,5 120,3 103,8 101,5 71,4 68,2 60,4
5 BATANG KAWAT TEMBAGA
Produksi 55.036 70.674 60.705 66.776 54.395 60.839 61.083 62.412
Ekspor 17.473 25.897 20.290 4.852 4.850 6.416 6.482 9.754
Impor 1.131 1.750 2.034 4.707 2.941 1.588 1.927 3.848
Konsumsi 38.693 46.527 42.449 66.630 52.487 56.011 56.528 56.506
Kapasitas 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000 100.000
% Utilisasi 55,0 70,7 60,7 66,8 54,4 60,8 61,1 62,4
Ratio Produksi
thd Konsumsi
142,2 151,9 143,0 100,2 103,6 108,6 108,1 110,5
6 KATODA TEMBAGA
Produksi 203.838 261.755 198.513 271.509 254.170 271.082 276.400 281.718
Ekspor 86.706 136.374 93.564 166.428 141.376 194.928 159.532 130.170
Impor 15.599 20.795 17.267 7.870 63.699 44.117 73.930 66.067
Konsumsi 132.731 146.176 122.217 112.950 176.493 120.271 190.798 217.614
Kapasitas 215.000 250.000 250.000 250.000 275.000 275.000 275.000 300.000
% Utilisasi 94,8 104,7 79,4 108,6 92,4 98,6 100,5 93,9
Ratio Produksi
thd Konsumsi
153,6 179,1 162,4 240,4 144,0 225,4 144,9 129,5
131
Pengarah
Waryono Karno
Sekretaris Jenderal KESDM
Penanggungjawab
Ego Syahrial
Kepala Pusat Data dan Informasi ESDM
Atena Falahti
Kepala Bidang Kajian Strategis
Ketua
Arifn Togar Napitupulu
Kepala Sub Bidang Kajian Strategis Mineral
Wakil Ketua
Aang Darmawan
Kepala Sub Bidang Kajian Strategis Energi
Koordinator
Aries Kusumawanto
Anggota
Tri Nia Kurniasih
Golfritz Sahat Sihotang
Agus Supriadi
Catur Budi Kurniadi
Ameri Isra
Narasumber
Siti Rochani
Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara
Muhardi Akbar
Kementerian Perdagangan
Alfa Firdaus
Universitas Mercu Buana
TIM PENYUSUN