Anda di halaman 1dari 74

TRAINER ELEKTRONIKA DASAR

LAPORAN

Diajukan kepada SMK Negeri 7 Semarang guna memenuhi persyaratan dalam

rangka Menempuh Ujian Akhir Sekolah (UAS) Teknik Audio Video

Tahun Ajaran 2012 / 2013

Sekolah (UAS) Teknik Audio Video Tahun Ajaran 2012 / 2013 Disusun Oleh : NAMA : ERICK

Disusun Oleh :

NAMA

: ERICK SATRIYO GUMILANG

NIS

: 0910576

KOMPETENSI KEAHLIAN : TEKNIK AUDIO VIDEO

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 7 ( STM PEMBANGUNAN ) SEMARANG

2013

LEMBAR PENGESAHAN SEKOLAH

Laporan dengan judul “Trainer Elektronika Dasar” yang ditulis oleh Erick Satriyo

Gumilang, sebagai salah satu syarat untuk megnikuti Uji Kompetensi Teknik Audio

Video ini telah diperiksa oleh guru pembimbing dan disahkan oleh SMK NEGERI 7

(STM PEMBANGUNAN) Semarang.

Pada tanggal

:

Di

:

Semarang

Ketua Kompetensi Keahlian Teknik Audio Video

Guru Pembimbing

Subekti, S.Pd.M.Kom

NIP.196904181995121003

Drs. Teguh Budi Utomo NIP. 195805051995121001

Mengetahui, Kepala SMK Negeri 7 Semarang

Drs. M. Sudarmanto, M.Pd NIP. 196108241987031009

ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Ilmu menunjukan kebenaran akal, maka barang siapa yang berakal, niscaya

dia berilmu.(Sayyidina Ali bin Abi Tholib)

Bukan kurangnya pengetahuan yang menghalangi keberhasilan, tetapi tidak

cukupnya

tindakan.

Dan

bukan

kurang

cerdasnya

pemikiran

yang

melambatkan perubahan hidup ini, tetapi kurangnya penggunaan dari pikiran

dan kecerdasan. (Mario Teguh)

Practice Makes perfect

Belajar bagaimana cara belajar adalah keahlian terpenting dalam hidup.

Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusahalah

menjadi manusia yang berguna (Einstein)

laporan ini penulis persembahkan untuk :

Agama, Nusa dan Bangsa

Keluarga tercinta

Kepala SMKN 7 Semarang

Bapak dan Ibu Guru SMKN 7 Semarang

Guru Pembimbing

Rekan – rekan seangkatan

Adik – adik kelas

Pembaca yang baik hati

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang atas rahmat, taufiq

serta HidayahNya, penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir Sekolah (TAS) beserta

laporannya dengan baik. Laporan dengan judul “Trainer Elektronika” disusun sebagai

salah satu syarat menempuh Ujian Akhir Sekolah di SMK Negeri 7 Semarang,

laporan, dan sebagai pertanggung jawaban penulis benda kerja ytang telah dibuat.

Data –data yang penulis jadikan sebagai bahan penyusunan laporan adalah

data–data yang sebenarnya. Data – data ini diperoleh melalui berbagai metode, antara

lain

:

literature

(buku

manual,

catalog),

wawancara,

observasi,

praktek

dan

pengkopian.

Dengan

demikian,

terwujudlah

suatu

laporan

yang

isinya

dapat

dipertanggungjawabkan.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya laporan ini juga atas bantuan dan

dukungannya dari pihak – pihak berikut ini :

1. Bapak Drs.M. Sudarmanto,M.Pd selaku kepala SMK N 7 Semarang

2. Bapak Subekti,S.Pd,M.Kom selaku Kepala Kompetensi Keahlian Audio

Video

3. Bapak Sugihartono, S.Pd, selaku guru pembimbing dalam pembuatan

laporan ini

4. Bapak Teguh Budi Utomo, bapak Supraja, Bapak Margono, Bapak Edi

Marwanda, Ibu Woro

iv

5. Pihak – pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya laporan ini.

Dengan tersusunnya buku laporan prakerin ini, penulis mengharapkan supaya

buku ini dapat menjadi sumber pengetahuan dan sumber data bagi para pembaca.

Pada akhirnya penulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari sempurna oleh

sebab itu kritik dan saran sangat saya harapkan demi kesempurnaan penyusunan di

masa mendatang. Akhir kata, selamat membaca dan semoga dapat bermanfaat bagi

Anda. Terima Kasih.

Semarang, April 2013

v

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

LEMBAR PENGESAHAN SEKOLAH

ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

iii

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR ISI

vi

DAFTAR GAMBAR

xi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembuatan Tugas Akhir Sekolah

1

1.2 Tujuan Pembuatan Tugas Akhir Sekolah

1

1.3 Tujuan penulisan Laporan

2

1.4 Alasan Pemilihan Judul

2

1.5 Metode Pengumpulan Data

3

1.6 Sistematika Penyusunan Laporan

4

BAB II

TEORI DASAR ELEKTRONIKA

2.1 Definisi dan Macam Komponen Dalam Rangkaain Listrik

7

2.1.1 Komponene Aktif

7

2.1.2 Komponen Pasif

8

2.2 Baterai

9

2.2.1 Fungsi

9

2.2.2 Cara Pungujian Baterai

10

vi

2.3 Sekering

11

2.3.1

Fungsi

11

2.4 Sakelar

12

2.5 Transformator

13

2.5.1 Transformator Step Up

14

2.5.2 Transformator Step Down

14

2.5.3 Auto Transformator

15

2.5.4 Trasnformator Isolasi

16

2.5.5 Cara Pengujian Transformator

16

2.6 Kondensator

18

2.6.1 Kondensator keramik

20

2.6.2 Kondensator Polyester

21

2.6.3 Kondensatro Kertas

21

2.6.4 Kondensator Elektrolit

23

2.6.5 Kondensator Variabel

24

2.6.6 Cara Pengujian Kondensator

25

2.7 Resistor

26

2.7.1 Resistro Foto

47

2.7.2 Potensiometer

48

2.7.3 Rheostat

49

2.7.4 Trimpot

50

2.7.5 Termistor

51

vii

 

2.7.6

Cara Pengujian Resistor

51

2.8 Dioda

52

 

2.8.1 Dioda Cahaya

55

2.8.2 Dioda Schottky

56

2.8.3 Dioda Zener

57

2.8.4 Cara Pengujian Dioda

58

2.9 Pengeras Suara

60

2.10 Penyearah Terkendali Silikon

61

 

2.10.1 DIAC

62

2.10.2 TRIAC

63

2.11 Transistor

 

65

 

2.11.1 Cara Kerja Transistor

66

2.11.2 Jenis-jenis Transistor

67

2.11.3 Transistor Pertemuan Dwikutub

72

2.11.4 Transistro Dwikutub Gerbang Terisolasi

75

2.12 Kawat Pendaran Listrik

79

BAB III

TRAINER ELEKTRONIKA

Modul 1 :Spesifikasi

81

Modul 2 :Power Supply Simetris

83

 

A. Pendahuluan

83

B. Gambar Rangkaain dan Tata Letak

84

viii

C. Analisa

85

D. Cara Pengoperasian

86

Modul 3 :Power Supply Binary Input

87

A. Pendahuluan

87

B. Gambar Rangkaian dan Tata Letak

88

C. Analisa

88

D. Cara Pengoperasian

89

Modul 4 :Light Emmiting Diode 10 Bit

32

A. Pendahuluan

89

B. Gambar Rangkaain dan Tata Letak

90

C. Analisa

90

D. Cara Pengoperasian

91

Modul 5 :BCD to Seven Segment 2 Digit

91

A. Pendahuluan

91

B. Gambar Rangkaain dan Tata Letak

92

C. Analisa

93

D. Cara Pengoperasian

93

Modul 6 :Seven Segment 2 Digit

94

A. Pendahuluan

94

B. Gambar Rangakain dan Tata Letak

94

C. Analisa

95

D. Cara Pengoperasian

95

ix

 

Modul 7 :Clock 555

96

A. Pendahuluan

96

B. Gambar Rangakain dan Tata Letak

97

C. Analisa

98

D. Cara Pengoperasian

99

Modul 8 :Buzer

99

Modul 9 :Tester Component

100

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

91

5.2 Saran

93

DAFTAR PUSTAKA

96

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.0 (a)

Beberapa Komponen Elektronika

6

Gambar 2.2 (a) Bateray dengan Bermacam ukuran dan Voltase

9

Gambar 2.2.2 (a) Cara Pengukuran Bateray

10

Gambar 2.3 (a) Sekering dan Simbolnya

11

Gambar 2.4 (a) Sakelar dan Simbolnya

12

Gambar 2.5 (a) Transformer

13

Gambar 2.5.1 (a) Transformator step up dan simbolnya

14

Gambar 2.5.2 (a) Transformator step down dan simbolnya

14

Gambar 2.5.3 (a) Auto transformator dan simbolnya

15

Gambar 2.5.4 (a) Transformator isolasi dan simbolnya

16

Gambar 2.6 (a) Kondensator dan simbolnya

18

Gambar 2.6 (b) Kondensator tetap

19

Gambar 2.6.1 (a) Kondensator keramik

20

Gambar 2.6.2 (a) Kondensator polyester

21

Gambar 2.6.3 (a) Kondensator kertas

21

Gambar 2.6.3 (b) Tabel kebenaran

22

Gambar 2.6.4 (a) Kondensator elektrolit

23

Gambar 2.6.5 (a) Kondensator variabel

24

Gambar 2.6.5 (b) Cara pengujian kondensator

25

Gambar 2.7 (a) Resistor

26

xi

Gambar 2.7 (b) Gelang resistor

27

Gambar 2.7 (c) Tabel kebenaran resistor

30

Gambar 2.7.1 (a) Resistor foto

47

Gambar 2.7.2 (a) Potensiometer

48

Gambar 2.7.3 (a) Rheostat

49

Gambar 2.7.4 (a) Trimpot

50

Gambar 2.7.5 (a) Termistor NTC yang tersambung pada kabel terisolasi

51

Gambar 2.7.6 (a) Cara pengujian resistor

51

Gambar 2.8 (a) Simbol dan struktur diode

52

Gambar 2.8 (b) Dioda dengan Bias Maju

53

Gambar 2.8 (c) Dioda dengan Bias Negatif

53

Gambar 2.8 (d) Grafik Arus Diode

54

Gambar 2.8.1 (a) Dioda cahaya

55

Gambar 2.8.2 (a) Dioda schottky

56

Gambar 2.8.3 (a) Grafik Arus Dioda

57

Gambar 2.8.4 (a) Cara pengujian dioda

59

Gambar 2.9 (a) Loadspeaker

60

Gambar 2.10 (a) Penyearah terkendali silikon

61

Gambar 2.10 (b) Penyearah terkendali silikon

62

Gambar 2.10.1 (a) Simbol DIAC pada skema elektronik

62

Gambar 2.10.1 (b) Polaritas pada DIAC

63

Gambar 2.10.2 (a) Simbol Skematik TRIAC

63

xii

Gambar 2.10.2 (b) Konstuksi Simbol TRIAC

64

Gambar 2.11 (a) Transistor through-hole

65

Gambar 2.11.2 (a) Simbol Transistor dari Berbagai Tipe

67

Gambar 2.11.2 (b) Cara pengujian FET

68

Gambar 2.11.2 (c) Transistor pertemuan tunggal

69

Gambar 2.11.2 (d) Transistor pertemuan tunggal

71

Gambar 2.11.3 (a) Transistor pertemuan dwikutub

72

Gambar 2.11.3 (b) Simbol NPN BJT

73

Gambar 2.11.3 (c) Simbol PNP BJT

73

Gambar 2.11.3 (d) MOSFET dan Simbolnya

74

Gambar 2.11.4 (a) Transsitor dwikutub gerbang-terisolasi

75

Gambar 2.11.4 (b) Cara pengujian IGBT

78

Gambar 2.12 (a) Kawat EL berbagai warna

79

Modul 1 :Spesifikasi

81

Modul 2 :Power Supply Simetris

83

Modul 3 :Power Supply Binary Input

87

Modul 4 :Light Emmiting Diode 10 Bit

32

Modul 5 :BCD to Seven Segment 2 Digit

91

Modul 6 :Seven Segment 2 Digit

94

Modul 7 :Clock 555

96

Modul 8 :Buzer

99

Modul 9 :Tester Component

100

xiii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembuatan Tugas Akhir Sekolah

Sesuai dengan kurikulum yang berlaku di SMK Negeri 7 Semarang,

khususnya dalam hal pembuatan Tugas Akhir Sekolah beserta laporan mengenai

TAS yang merupakan kewajiban bagi siswa pada tingkat IV.

Hal tersebut dimaksudkan agar siswa mampu mengapresiasikan ilmu yabg

telah didapat selama 4 tahun di SMK Negeri 7, dalam wujud benda kerja yaitu

berupa Trainer Elektronika. Selain itu diharapkan TAS ini dapat berguna untuk

praktik bagi adik kelas yang akan menunjang proses belajar mengajar di sekolah.

1.2 Tujuan Pembuatan Tugas Akhir Sekolah

Tugas

Akhir

Sekolah

ini

dibuat

dengan

tujuan

untuk

melaksanakan

kurikulum yang berlaku di SMK Negeri 7 Semarang, adapun tujuan

yang

dimaksud adalah sebagai berikut :

Sebagai salah satu syarat menempuh uji kompetensi pada akhir tahun

pembelajaran.

Meningkatkan

mutu

dan

kwalitas

siswa

sesuai

dengan

bidang

yang

ditekuni.

Siswa

mampu

menerapkan

kemampuan

yang

telah

dimiliki

untuk

membuat alat yang sesuai dengan bidang keahlian.

1

Sebagaibentuk penerapan ilmu dan teknologi yang telah diperoleh di SMK

Negeri 7 Semarang dalam wujud karya nyata yang dapat dinikmati dan

dipelajari.

1.3 Tujuan penulisan Laporan

Setelah selesai pembuatan Tugas Akhir Sekolah setiap siswa diwajibkan

menyusun laporan tentang Tugas Akhir yang dibuat. Adapun tujuan dari penulisan

laporan Tugas Akhir Sekolah adalah sebagai berikut:

1. Sebagai pertanggungjawaban penulis atas hasil pembuatan TAS.

2. Sebagai salah satu syarat dalam menempuh Ujian Akhir Sekolah

(UAS) tahun pelajaran 2012/2013

3. Mendidik siswa agar tidak hanya terampil dalam praktik tetapi juga

dalam teori.

4. Mengukur sejauh mana kemampuan siswa dalam bidang yang

dikuasainya.

1.4 Alasan Pemilihan Judul

Alat atau pesawat elektronika yang dibuat oleh penulis berupa Trainer

Elektronika. Penulis memilih membuat perangkat elektronika tersebut karena

dalam mengikuti pelajaran di sekolah, siswa memerlukan perangkat elektronika

yang tifak hanya mudah untuk dioperasikan tetapi juga mudah untuk dipelajari

baik cara kerjanya maupun perbaikannya. Oleh karena itu, agar pesawat tersebut

2

dapat dipergunakan seefektif dan seefisien mungkin, maka penulis menyajikan

cara pengoperasian alat tersebut.

1.5 Metode Pengumpulan Data

Dalam penyusunan suatu laporan data – data yang akan disusun haruslah

suatu data jelas, obyektif, tepat, akurat, dan terbukti kebenarannya sehingga

laporan

tersebut

dapat

dipertanggungjawabkan

atas

kebenarannya.

Untuk

memperoleh data dengan kriteria tersebut, maka harus dilakukan pengumpulan

data dengan berbagai macam metode. Metode – metode tersebut antara lain :

1)

Metode Literatur

Penulis mengumpulkan data dari buku – buku maupun

artikel dari internet, buku dan majalah, untuk membuat laporan

semakin lengkap referensinya. Keterangan tentang artikel atau

buku yang dikutip harus dilampirkan dalam daftar isi.

2)

Metode interview

Penulis bertanya secara langsung dengan teknisi, instruktur

atau supervisor mengenai benda – benda atau alat multimedia yang

digunakan.

Semua

bagian

bagian

dan

cara

menggunakan

ditanyakan,

lalu

dicatat

jawabannya.

Ini

menjadikan

laporan

menjadi lebih jelas dan alamiah.

3

3)

Metode observasi

Dengan pengamatan secara langsung terhadap wujud fisik

dari

Trainer

Elektronika

sebagai

objeknya,

penulis

telah

mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, karena penulis

dapat mengetahui secara langsung mengenai masalah yang akan

4)

disampaikan.

Metode Pengkopoian

Pada metode ini, data yang berupa gambar dan grafik

dicopy oleh penulis dengan tujuan memperjelas dari isi laporan.

1.6 Sistematika Penyusunan Laporan

Laporan Praktik Kerja Industri terdiri dari 5 bab, yang setiap bab akan

membahas seperti yang terurai di bawah ini :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini akan membahas tentang tujuan pembuatan Tugas

Akhir Sekolah, Tujuan Penyusunan Laporan, Alasan Pemilihan

Judul, metode pengumpulan Data, dan Sistematika Pengumpulan

Laporan.

4

BAB II : TEORI DASAR ELEKTRONIKA

Bab ini akan membahas tentang sejarah perkembangan

teknologi elektronika, komponen digital maupun analog, fungsi

masing-masing komponen, dan bagian lain dari elektronika.

BAB III : TRAINER ELEKTRONIKA

Bab

ini

akan

membahas

tentang

cara

pengoperasian

maupun manual book, konstruksi box Trainer Elektronika, serta

anggaran yang dibutuhkan dalam pembuatan Tugas Akhir Sekolah.

BAB IV : DATASHEET KOMPONEN

Bab

ini

akan

membahas

Kualitas

dan

fitur

teknologi

PROYEKTOR DLP , konstruksi SAMSUNG SP-P410M , sistem

kerja dari PROYEKTOR DLP dan troubleshooting.

BAB V : PENUTUP

Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran.

5

BAB II

TEORI DASAR ELEKTRONIKA

BAB II TEORI DASAR ELEKTRONIKA Gambar 2 :Beberapa komponen elektronika Komponen Elektronika merupakan benda dengan fungsi

Gambar 2 :Beberapa komponen elektronika

Komponen Elektronika merupakan benda dengan fungsi khusus yang

menjadi bagian pendukung suatu rangkaian elektronik agar dapat bekerja sesuai

dengan kegunaannya. Mulai dari yang menempel langsung pada papan rangkaian

baik berupa PCB, CCB, Protoboard maupun Veroboard dengan cara disolder

atau tidak menempel langsung pada papan rangkaian (dengan alat penghubung

lain, misalnya kabel).

Komponen elektronika ini terdiri dari satu atau lebih bahan elektronika,

yang terdiri dari satu atau beberapa unsur materi dan jika disatukan, dipanaskan,

ditempelkan

dan

sebagainya

akan

menghasilkan

suatu

efek

yang

dapat

menghasilkan suhu atau panas, menangkap atau menggetarkan materi, merubah

arus, tegangan, daya listrik dan lainnya.

6

2.1 Definisi dan Macam Komponen Dalam Rangkaian Listrik

Rangkaian listrik adalah suatu kesatuan susunan yang terdiri dari beberapa

komponen yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Dimana macam dari

komponen rangkaian listrik dibagi kedalam 2 jenis yaitu :

Komponen Aktif ( Sumber Arus, Sumber Tegangan )

Komponen Pasif ( Resistor, Kapasitor, Induktor )

2.1.1 Komponen Aktif

Komponen aktif adalah jenis komponen elektronika yang

memerlukan arus listrik (catu daya) agar dapat bekerja dalam

rangkaian elektronika. Besarnya arus listrik bisa berbeda-beda

untuk tiap komponen ini. Komponen aktif merupakan penggerak

dari semua rangkaian, adapun contoh dari komponen aktif ini

adalah :

a. Transistor

b. FET (Field Effect Transistor)

c. UJT (Uni Junction Transistor)

d. IC (Integrated Circuit) dll

7

2.1.2

Komponen Pasif

Komponen pasif adalah jenis komponen elektronika yang

bekerja tanpa memerlukan arus listrik (catu daya). Komponen pasif

dapat

memperkecil

komponen ini adalah :

a. Resistor

b. Potensiometer

arus

yang

masuk,

adapun

contoh

dari

c. Trafo Input (In)

d. Trafo Output (Out)

e. Kondensor / Kapasitor

f. Trafo Senvor Spoel

g. Timer, dll

Komponen-komponen ini

sangat besar pengaruhnya pada komponen

elektronika. Dalam penggunaannya kedua jenis komponen ini hampir selalu

digunakan bersama-sama, kecuali dalam rangkaian-rangkaian pasif yang hanya

menggunakan komponen-komponen pasif saja misalnya rangkaian baxandall

pasif, tapis

pasif dsb. Untuk

IC

(Integrated Circuit) adalah gabungan

dari

komponen aktif dan pasif yang disusun menjadi sebuah rangkaian elektronika dan

diperkecil ukuran fisiknya.

8

2.2 BATERAI

2.2 BATERAI Gambar 2.2 :Baterai dengan bermacam ukuran dan Voltase 2.2.1 Fungsi Baterai adalah alat listrik-kimiawi
2.2 BATERAI Gambar 2.2 :Baterai dengan bermacam ukuran dan Voltase 2.2.1 Fungsi Baterai adalah alat listrik-kimiawi
2.2 BATERAI Gambar 2.2 :Baterai dengan bermacam ukuran dan Voltase 2.2.1 Fungsi Baterai adalah alat listrik-kimiawi

Gambar 2.2 :Baterai dengan bermacam ukuran dan Voltase

2.2.1

Fungsi

Baterai

adalah

alat

listrik-kimiawi

yang

menyimpan

energi

dan

mengeluarkan tenaganya dalam bentuk listrik. Sebuah baterai biasanya terdiri dari

tiga komponen penting, yaitu:

a. Batang karbon sebagai anoda (kutub positif baterai)

b. Seng (Zn) sebagai katoda (kutub negatif baterai)

c. Pasta sebagai elektrolit (penghantar)

Baterai yang biasa dijual (disposable/sekali pakai) mempunyai tegangan

listrik 1,5 volt. Baterai ada yang berbentuk tabung atau kotak. Ada juga yang

dinamakan rechargeable battery, yaitu baterai yang dapat diisi ulang, seperti yang

biasa terdapat pada telepon genggam. Baterai sekali pakai disebut juga dengan

baterai primer, sedangkan baterai isi ulang disebut dengan baterai sekunder.

Fungsi baterai adalah:

9

1) Saat

listrik

mati,

sebagai

asessoris, penerangan.

sumber

energi

untuk

menghidupkan

2) Saat starter untuk mengidupkan sistem starter

3) Saat mesin hidup sebagai stabiliser suplai listrik pada kendaraan,

dimana pada saat hidup energi listrik bersumber dari alternator.

2.2.2 Cara Pengujian Baterai

bersumber dari alternator. 2.2.2 Cara Pengujian Baterai Gambar 2.2.2 :Cara pengukuran baterai 1. Dengan menggunakan

Gambar 2.2.2 :Cara pengukuran baterai

1. Dengan menggunakan multimeter, putar selector switch pada posisi DC-

VOLT

2. Perkirakan harga tegangan yang akan diukur.

3. Ambil

jangkauan

pengukuran

sesuai

dengan

harga

tegangan

yang

diperkirakan

4. ujung

Hubungkan

kabel

merah

pada

kutub

positif

(+)

baterai,

dan

tempelkan ujung kabel hitam pada kutub negative (-) baterai.

5. Tampak jarum penunjuk skala akan menyimpang ke kanan. Bacalah harga

yang ditunjukkan pada skala yang benar.

10

2.3 SEKERING

2.3 SEKERING Gambar 2.3 :Sekering dan simbolnya 2.3.1 Fungsi Sekering (dari bahasa Belanda zekering ) adalah
2.3 SEKERING Gambar 2.3 :Sekering dan simbolnya 2.3.1 Fungsi Sekering (dari bahasa Belanda zekering ) adalah

Gambar 2.3 :Sekering dan simbolnya

2.3.1

Fungsi

Sekering (dari bahasa Belanda zekering) adalah suatu alat yang digunakan

sebagai pengaman dalam suatu rangkaian listrik apabila terjadi kelebihan muatan

listrik atau suatu hubungan arus pendek.

Cara

kerjanya

apabila

terjadi

kelebihan

muatan

listrik

atau

terjadi

hubungan arus pendek, maka secara otomatis sekering tersebut akan memutuskan

aliran listrik dan tidak akan menyebabkan kerusakan pada komponen yang lain.

11

2.4

SAKELAR

2.4 SAKELAR Gambar 2.4 :Sakelar dan simbolnya Saklar adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk memutuskan jaringan
2.4 SAKELAR Gambar 2.4 :Sakelar dan simbolnya Saklar adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk memutuskan jaringan

Gambar 2.4 :Sakelar dan simbolnya

Saklar

adalah sebuah

perangkat

yang digunakan untuk memutuskan

jaringan listrik, atau untuk menghubungkannya. Jadi saklar pada dasarnya adalah

alat penyambung atau pemutus aliran listrik. Selain untuk jaringan listrik arus

kuat, saklar berbentuk kecil juga dipakai untuk alat komponen elektronika arus

lemah.

Secara sederhana, saklar terdiri dari dua bilah logam yang menempel pada

suatu rangkaian, dan bisa terhubung atau terpisah sesuai dengan keadaan sambung

(on) atau putus (off) dalam rangkaian itu. Material kontak sambungan umumnya

dipilih agar supaya tahan terhadap korosi. Kalau logam yang dipakai terbuat dari

bahan oksida biasa, maka saklar akan sering tidak bekerja. Untuk mengurangi

efek korosi ini, paling tidak logam kontaknya harus disepuh dengan logam anti

korosi dan anti karat. Pada dasarnya saklar tombol bisa diaplikasikan untuk sensor

mekanik, karena alat ini bisa dipakai pada mikrokontroller untuk pengaturan

rangkaian pengontrolan

12

2.5

TRANSFORMATOR

2.5 TRANSFORMATOR Gambar 2.5 :Transformator Transformator atau transformer atau trafo adalah komponen elektromagnet

Gambar 2.5 :Transformator

Transformator

atau

transformer

atau

trafo

adalah

komponen

elektromagnet yang dapat mengubah taraf suatu tegangan AC ke taraf yang lain.

Prinsip kerja

Transformator

bekerja

berdasarkan

prinsip

induksi

elektromagnetik.

Tegangan masukan bolak-balik yang membentangi primer menimbulkan fluks

magnet yang idealnya semua bersambung dengan lilitan sekunder. Fluks bolak-

balik ini menginduksikan GGL dalam lilitan sekunder. Jika efisiensi sempurna,

semua daya pada lilitan primer akan dilimpahkan ke lilitan sekunder.

13

2.5.1

TRANS FORMATOR STEP UP

2.5.1 TRANS FORMATOR STEP UP G ambar 2.5.1 :Transformator step up dan simbo lnya Transformator st
2.5.1 TRANS FORMATOR STEP UP G ambar 2.5.1 :Transformator step up dan simbo lnya Transformator st

G ambar 2.5.1 :Transformator step up dan simbo lnya

Transformator st ep-up adalah transformator yang memiliki lilita n sekunder

lebih banyak daripada l ilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penai k tegangan.

Transformator ini biasa

ditemui pada pembangkit tenaga listrik seba gai penaik

tegangan yang dihasilk an generator menjadi tegangan tinggi yang

dalam transmisi jarak ja uh.

digunakan

2.5.2 TRANS FORMATOR STEP-DOWN

jarak ja uh. digunakan 2.5.2 TRANS FORMATOR STEP-DOWN G ambar 2.5.2 :Transformator step down dan sim
jarak ja uh. digunakan 2.5.2 TRANS FORMATOR STEP-DOWN G ambar 2.5.2 :Transformator step down dan sim

G ambar 2.5.2 :Transformator step down dan sim bolnya

Transformator s tep-down memiliki lilitan sekunder lebih sedik it daripada

lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan. Transfor mator jenis

ini sangat mudah ditemu i, terutama dalam adaptor AC-DC.

2.5.3

AUTO T RANSFORMATOR

2.5.3 AUTO T RANSFORMATOR G ambar 2.5.3 :Auto transformator dan simbolny a Transformator je nis ini
2.5.3 AUTO T RANSFORMATOR G ambar 2.5.3 :Auto transformator dan simbolny a Transformator je nis ini

G ambar 2.5.3 :Auto transformator dan simbolny a

Transformator je nis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang berla njut secara

listrik, dengan sadapan tengah. Dalam transformator ini, sebagian lili tan primer

juga

merupakan

lilita n

sekunder.

Fasa

arus

dalam

lilitan

sekun der

selalu

berlawanan dengan aru s primer, sehingga untuk tarif daya yang s ama lilitan

sekunder bisa dibuat d engan kawat yang lebih tipis dibandingkan tra nsformator

biasa. Keuntungan dari

autotransformator adalah ukuran fisiknya yan g kecil dan

kerugian yang lebih ren dah daripada jenis dua lilitan. Tetapi transfor mator jenis

ini tidak dapat memberi kan isolasi secara listrik antara lilitan primer de ngan lilitan

sekunder. Selain itu, a utotransformator tidak dapat digunakan seba gai penaik

tegangan lebih dari bebe rapa kali lipat (biasanya tidak lebih dari 1,5 kal i).

2.5.4

TRANSFORMATOR ISOLASI

2.5.4 TRANSFORMATOR ISOLASI Gambar 2.5.4 :Transformator isolasi dan simbolnya Transformator isolasi memiliki lilitan
2.5.4 TRANSFORMATOR ISOLASI Gambar 2.5.4 :Transformator isolasi dan simbolnya Transformator isolasi memiliki lilitan

Gambar 2.5.4 :Transformator isolasi dan simbolnya

Transformator isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah sama

dengan lilitan primer, sehingga tegangan sekunder sama dengan tegangan primer.

Tetapi pada beberapa desain, gulungan sekunder dibuat sedikit lebih banyak untuk

mengkompensasi kerugian. Transformator seperti ini berfungsi sebagai isolasi

antara dua kalang. Untuk penerapan audio, transformator jenis ini telah banyak

digantikan oleh kopling kapasitor.

2.5.5

Cara Pengujian Transformator

 

Pengujian

Transformator

dapat

menggunakan

sebuah

multimeter

yang

difungsikan

sebagai

ohmmeter

dengan

arah

knob

pada

1X,10X.

Langkah

pengujian

1. Pastikan bahwa transformator sudah terlepas dari rangkaian

2. Bedakan

terlebih

dahulu

lilitan

primer

dan

lilitan

sekunder

pada

transformator. Untuk memudahkan pembedaan dengan melihat posisi

terminal. Jika terminal tersebut dikoneksikan langsung dengan sumber

16

tegangan 110 V, 220V dan 0 V maka terminal tersebut berada pada lilitan

primer sedangkan teminal sekunder adalah terminal yang nilai tegangan

keluarannya lebih kecil dari tegangan input.

3. Putar multimeter saklar pada posisi Ohm 1x.

4. Kalibrasi.

5. Hubungkan colok (-) dengan salah satu kaki di gulungan primer, colok (+)

pada kaki yang lain di gulungan primer. Bila jarum bergerak maka trafo

dalam keadaan baik.

6. Pada gulungan sekunder lakukan hal yang sama. Apabila jarum multimeter

bergerak-gerak maka trafo dalam keadaan baik. Selisih nilai sama dengan

selisih tegangan yang tertera pada trafo.

7. Letakkan colok (-) atau colok (+) ke salah satu kaki di gulungan primer

kemudian colok yang lain ke gulungan sekunder. Apabila jarum tidak

bergerak maka trafo dalam keadaan baik, menandakan tidak adanya

korsleting gulungan primer dengan sekunder dengan body trafo. Lakukan

hal sebaliknya.

8. Letakkan colok (-) atau colok (+) ke salah satu kaki di gulungan primer

atau sekunder kemudian colok yang lain ke plat pengikat gulungan yang

berada di tengah. Apabila jarum tidak bergerak maka trafo dalam keadaan

baik, menandakan tidak adanya korsleting gulungan dengan body trafo.

9. Transformator dikatakan baik jika kedua probe multimeter dicolokkan

antar terminal primer harusnya jarum bergerak, begitu juga jika kedua

probe multimeter dicolokkan antar terminal sekunder jarum juga bergerak.

17

Jarum tidak akan bergerak jika salah satu probe dicolokkan pada salah satu

terminal

primer

dan

yang

lain

dicolokkan

pada

salah

satu

terminal

sekunder

10. Transformator dikatakan rusak salah satu gejala berikut ini terjadi : jika

kedua probe multimeter dicolokkan antar terminal primer harusnya jarum

tidak bergerak, begitu juga jika kedua probe multimeter dicolokkan antar

terminal sekunder jarum juga tidak bergerak, dan Jarum bergerak jika

salah satu probe dicolokkan pada salah satu terminal primer dan yang lain

dicolokkan pada salah satu terminal sekunder

2.6 KONDENSATOR / KAPASITOR

salah satu terminal sekunder 2.6 KONDENSATOR / KAPASITOR Gambar 2.6 (a):Kondensator dan simbolnya Kondensator atau
salah satu terminal sekunder 2.6 KONDENSATOR / KAPASITOR Gambar 2.6 (a):Kondensator dan simbolnya Kondensator atau

Gambar 2.6 (a):Kondensator dan simbolnya

Kondensator atau sering disebut sebagai kapasitor adalah suatu alat yang

dapat menyimpan energi di dalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan

ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kondensator memiliki satuan yang

disebut Farad dari nama Michael Faraday.

18

Kondensator diidentikkan mempunyai dua kaki dan dua kutub yaitu

positif

dan

negatif

berbentuk tabung.

serta

memiliki

yaitu positif dan negatif berbentuk tabung. serta memiliki cairan elektrolit dan biasanya Lambang kondensator

cairan

elektrolit

dan

biasanya

Lambang kondensator (mempunyai kutub) pada skema elektronika.

Sedangkan jenis yang satunya lagi kebanyakan nilai kapasitasnya lebih

rendah, tidak mempunyai kutub positif atau negatif pada kakinya,

kebanyakan berbentuk bulat pipih berwarna coklat, merah, hijau dan

lainnya seperti tablet atau kancing baju.

merah, hijau dan lainnya seperti tablet atau kancing baju. Lambang kapasitor (tidak mempunyai kutub) pada skema

Lambang kapasitor (tidak mempunyai kutub) pada skema elektronika.

Jenis kondensator

Berdasarkan kegunaannya kondensator dibagi dalam:

1. Kondensator tetap (nilai kapasitasnya tetap tidak dapat diubah)

2. Kondensator elektrolit (Electrolite Condenser = Elco)

3. Kondensator variabel (nilai kapasitasnya dapat diubah-ubah)

KONDENSATOR TETAP

) 3. Kondensator variabel (nilai kapasitasnya dapat diubah-ubah) KONDENSATOR TETAP Gambar 2.6 (b):Kondensator tetap 19

Gambar 2.6 (b):Kondensator tetap

19

Kondensator/Kapasitor tetap ialah suatu kondensator

yang nilainya

konstan dan tidak berubah-ubah. Kondensator/Kapasitor tetap ada tiga macam

bentuk:

2.6.1 KONDENSATOR KERAMIK (CeramicCapacitor)

bentuk: 2.6.1 KONDENSATOR KERAMIK ( CeramicCapacitor ) Gambar 2.6.1 :Kondensator keramik Bentuknya ada yang bulat

Gambar 2.6.1 :Kondensator keramik

Bentuknya ada yang bulat tipis, ada yang persegi empat berwarna merah,

hijau, coklat dan lain-lain. Dalam pemasangan di papan rangkaian (PCB), boleh

dibolak-balik karena tidak mempunyai kaki positif dan negatif. Mempunyai

kapasitas mulai dari beberapa piko Farad sampai dengan ratusan Nano Farad (nF).

Dengan tegangan kerja maksimal 25 volt sampai 100 volt, tetapi ada juga yang

sampai ribuan volt. Contoh misal pada badannya tertulis = 203, nilai kapasitasnya

= 20.000

pF

=

20

nF

=

0,02 µF. Jika

pada badannya tertulis

kapasitasnya = 5.000 pF = 5 nF = 0,005 µF

20

= 502, nilai

2.6.2

KONDENSATOR/KAPASITOR POLYESTER

2.6.2 KONDENSATOR/KAPASITOR POLYESTER Gambar 2.6.2 :Kondensator polyester Pada dasarnya sama saja dengan kondensator

Gambar 2.6.2 :Kondensator polyester

Pada dasarnya sama saja dengan kondensator keramik begitu juga cara

menghitung

nilainya.

Bentuknya

persegi

empat

seperti

permen.

Biasanya

mempunyai warna merah, hijau, coklat dan sebagainya. Polister film adalah bahan

yang digunakan untuk pembuatan kapasitor ini. Kapasitor ini memiliki toleransi

yang kecil sekitar ±5% sampai ±10% dan juga tidak memiliki kutub.

2.6.3 KONDENSATOR/KAPASITOR KERTAS

tidak memiliki kutub. 2.6.3 KONDENSATOR/KAPASITOR KERTAS Gambar 2.6.3 :Kondensator kertas Kondensator kertas ini

Gambar 2.6.3 :Kondensator kertas

Kondensator kertas ini sering disebut juga kondensator padder. Misal pada

radio dipasang seri dari spul osilator ke variabel condensator. Nilai kapasitas yang

dipakai pada sirkuit oscilator antara lain:

21

Kapasitas 200 pF - 500 pF untuk daerah gelombang menengah (Medium

Wave / MW) = 190 meter - 500 meter.

Kapasitas 1.000 pF - 2.200 pF untuk daerah gelombang pendek (Short

Wave / SW) SW 1 = 40 meter - 130 meter.

Kapasitas 2.700 pF - 6.800 pF untuk daerah gelombang SW 1, 2, 3 dan

4, = 13 meter - 49 meter.

Nilai kapasitasnya ada yang tertulis langsung ada juga ada pula yang

memakai kode warna.

kapasitasnya ada yang tertulis langsung ada juga ada pula yang memakai kode warna. Gambar 2.6.3 (b)

Gambar 2.6.3 (b) :Tabel kebenaran

22

2.6.4

KONDENSATOR ELEKTROLIT

2.6.4 KONDENSATOR ELEKTROLIT Gambar 2.6.4 :Kondensator elektrolit Kondensator elektrolit atau Electrolytic Condenser
2.6.4 KONDENSATOR ELEKTROLIT Gambar 2.6.4 :Kondensator elektrolit Kondensator elektrolit atau Electrolytic Condenser

Gambar 2.6.4 :Kondensator elektrolit

Kondensator elektrolit atau Electrolytic Condenser (sering disingkat

Elco) adalah kondensator yang biasanya berbentuk tabung, mempunyai dua kutub

kaki berpolaritas positif dan negatif, ditandai oleh kaki yang panjang positif

sedangkan yang pendek negatif atau yang dekat tanda minus ( - ) adalah kaki

negatif. Nilai kapasitasnya dari 0,47 µF (mikroFarad) sampai ribuan mikroFarad

dengan voltase kerja dari beberapa volt hingga ribuan volt

23

2.6.5

KONDE NSATOR VARIABEL

2.6.5 KONDE NSATOR VARIABEL G ambar 2.6.5 (a) :Kondensator variabel Fungsi dan Penjelasan Kondensator v ariabel
2.6.5 KONDE NSATOR VARIABEL G ambar 2.6.5 (a) :Kondensator variabel Fungsi dan Penjelasan Kondensator v ariabel

G ambar 2.6.5 (a) :Kondensator variabel

Fungsi dan Penjelasan

Kondensator v ariabel adalah jenis kondensator yang kapasit asnya bisa

diubah-ubah. Kondensa tor ini dapat berubah kapasitasnya karena s ecara fisik

mempunyai poros yang dapat diputar dengan menggunakan obeng.

Kondensator var iabel terbuat dari logam, mempunyai kapasitas maksimum

sekitar 100 pF (pikoFa rad) sampai 500 pF (100pF = 0.0001µF). K ondensator

variabel

dengan

spul

antena

dan

spul

osilator

berfungsi

sebag ai

pemilih

gelombang frekuensi ter tentu yang akan ditangkap. Cara mengubah nila ai kapasitor

ini biasanya diputar lan

sung atau menggunakan obeng.

ini biasanya diputar lan sung atau menggunakan obeng. Lambang gam bar untuk Kondensator Trimer pada skema

Lambang gam bar untuk Kondensator Trimer pada skema ele ktronika:

Kondensator

tr imer

dipasang

paralel

dengan

variabel

k ondensator

berfungsi untuk mengat ur pemilihan gelombang frekuensi tersebut. K ondensator

trimer mempunyai kapa sitas di bawah 100 pF (pikoFarad).

2.6.6

Cara Pengujian Kondensator

2.6.6 Cara Pengujian Kondensator Gambar 2.6.5 (b) :Cara pengujian kondensator Caranya adalah dengan langkah-langkah

Gambar 2.6.5 (b) :Cara pengujian kondensator

Caranya adalah dengan langkah-langkah berikut di bawah ini:

1. Dengan menggunakan sebuah multimeter, mula-mula saklar multimeter

diputar ke atas. Tanda panah ke atas tepatnya R x Ohm

2. Kalibrasi sampai jarum multimeter menunjukkan angka nol tepat saat dua

colok

(+)

dan

colok

menyesuaikan.

(-)

dihubungkan.

Putar

adjusment

untuk

3. colok

Hubungkan

(-)

dengan

kaki

berkutub

negatif

kondensator,

sedangkan

colok

(+)

dengan

kaki

positif

kondensator.

Lihat

jarum.

Apabila bergerak dan tidak kembali berarti komponen tersebut masih baik.

Jika bergerak dan kembali

tetapi tidak seperti posisi semula berarti

komponen rusak. Dan apabila jarum tidak bergerak sama sekali dipastikan

putus.

25

2.7 RESISTOR

2.7 RESISTOR Gambar 2.7 :Resistor Resistor adalah komponen elektronik dua saluran yang didesain untuk menahan arus
2.7 RESISTOR Gambar 2.7 :Resistor Resistor adalah komponen elektronik dua saluran yang didesain untuk menahan arus

Gambar 2.7 :Resistor

Resistor adalah komponen elektronik dua saluran yang didesain untuk

menahan arus listrik dengan memproduksi penurunan tegangan diantara kedua

salurannya sesuai dengan arus yang mengalirinya, berdasarkan hukum Ohm:

dengan arus yang mengalirinya, berdasarkan hukum Ohm : Resistor digunakan sebagai bagian dari jejaring elektronik

Resistor digunakan sebagai bagian dari jejaring elektronik dan sirkuit

elektronik, dan merupakan salah satu komponen yang paling sering digunakan.

Resistor dapat dibuat dari bermacam-macam kompon dan film, bahkan kawat

resistansi

(kawat

yang

dibuat

dari

paduan

resistivitas

tinggi

seperti

nikel-

kromium).

Karakteristik utama dari resistor adalah resistansinya dan daya listrik yang

dapat diboroskan. Karakteristik lain termasuk koefisien suhu, desah listrik, dan

induktansi.

Resistor dapat diintegrasikan kedalam sirkuit hibrida dan papan

sirkuit cetak, bahkan sirkuit terpadu. Ukuran dan letak kaki bergantung pada

desain sirkuit, resistor harus cukup besar secara fisik agar tidak menjadi terlalu

panas saat memboroskan daya.

26

Cara menentukan nilai resistor berdasarkan kode gelang warna:

Cara menentukan nilai resistor berdasarkan kode gelang warna: Gambar 2.7 (b) :Gelang resistor Besaran resistansi suatu

Gambar 2.7 (b) :Gelang resistor

Besaran resistansi suatu resistor dibaca dari posisi cincin yang paling

depan ke arah cincin toleransi. Biasanya posisi cincin toleransi ini berada pada

badan resistor yang paling pojok atau juga dengan lebar yang lebih menonjol,

sedangkan posisi cincin yang pertama agak sedikit ke dalam. Dengan demikian

pemakai sudah langsung mengetahui berapa toleransi dari resistor tersebut. Kalau

kita

telah

bisa

menentukan

mana

cincin

membaca nilai resistansinya.

yang

pertama

selanjutnya

adalah

Jumlah cincin yang melingkar pada resistor umumnya sesuai dengan besar

toleransinya. Biasanya resistor dengan toleransi 5%, 10% atau 20% memiliki 3

cincin (tidak termasuk cincin toleransi). Tetapi resistor dengan toleransi 1% atau

2% (toleransi kecil) memiliki 4 cincin (tidak termasuk cincin toleransi). Cincin

pertama dan seterusnya berturut-turut menunjukkan besar nilai satuan, dan cincin

terakhir adalah faktor pengalinya.

Misalnya resistor dengan cincin kuning, violet, merah dan emas. Cincin

berwarna emas adalah cincin toleransi. Dengan demikian urutan warna cincin

resistor ini adalah, cincin pertama berwarna kuning, cincin kedua berwarna violet

27

dan cincin ke tiga berwarna merah. Cincin ke empat yang berwarna emas adalah

cincin toleransi. Dari tabel 1.1 diketahui jika cincin toleransi berwarna emas,

berarti resistor ini memiliki toleransi 5%. Nilai resistansinya dihitung sesuai

dengan urutan warnanya.

Pertama yang dilakukan adalah menentukan nilai satuan dari resistor ini.

Karena resistor ini resistor 5% (yang biasanya memiliki tiga cincin selain cincin

toleransi), maka nilai satuannya ditentukan oleh cincin pertama dan cincin kedua.

Masih dari tabel 1.1, diketahui cincin kuning nilainya = 4 dan cincin violet

nilainya = 7. Jadi cincin pertama dan ke dua atau kuning dan violet berurutan,

nilai satuannya adalah 47. Cincin ketiga adalah faktor pengali, dan jika warna

cincinnya merah berarti faktor pengalinya adalah 100. Sehingga dengan ini

diketahui nilai resistansi resistor tersebut adalah nilai satuan x faktor pengali atau

47 x 100 = 4700 Ohm = 4,7K Ohm (pada rangkaian elektronika biasanya di tulis

4K7 Ohm) dan toleransinya adalah + 5%. Arti dari toleransi itu sendiri adalah

batasan nilai resistansi minimum dan maksimum yang di miliki oleh resistor

tersebut. Jadi nilai sebenarnya dari resistor 4,7k Ohm + 5% adalah :

4700 x 5% = 235

Jadi,

R maksimum = 4700 + 235 = 4935 Ohm

R minimum = 4700 – 235 = 4465 Ohm

Apabila resistor di atas di ukur dengan menggunakan ohmmeter dan

nilainya berada pada rentang nilai maksimum dan minimum (4465 s/d 4935) maka

resistor tadi masih memenuhi standar. Nilai toleransi ini diberikan oleh pabrik

28

pembuat resistor untuk mengantisipasi karakteristik bahan yang tidak sama antara

satu resistor dengan resistor yang lainnya sehingga para desainer elektronika dapat

memperkirakan faktor toleransi tersebut dalam rancangannya. Semakin kecil nilai

toleransinya, semakin baik kualitas resistornya. Sehingga dipasaran resistor yang

mempunyai nilai toleransi 1% (contohnya resistor metalfilm) jauh lebih mahal

dibandingkan resistor yang mempunyai toleransi 5% (resistor carbon).

Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih resistor pada suatu

rancangan selain besar resistansi adalah besar watt-nya atau daya maksimum yang

mampu ditahan oleh resistor. Karena resistor bekerja dengan di aliri arus listrik,

maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar :

maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar : Semakin besar ukuran fisik suatu resistor, bisa

Semakin besar ukuran fisik suatu resistor, bisa menunjukkan semakin

besar kemampuan disipasi daya resistor tersebut. Umumnya di pasar tersedia

ukuran 1/8, 1/4, 1/2, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt. Resistor yang memiliki disipasi daya

maksimum 5, 10 dan 20 watt umumnya berbentuk balok memanjang persegi

empat berwarna putih, namun ada juga yang berbentuk silinder dan biasanya

untuk resistor ukuran besar ini nilai resistansi di cetak langsung dibadannya tidak

berbentuk cincin-cincin warna, misalnya 100Ω5W atau 1KΩ10W.

29

Gambar 2.7 (c) :Tabel kebenaran resistor a. Resistor dengan 4 cincin warna Keterangan: Untuk cincin

Gambar 2.7 (c) :Tabel kebenaran resistor

a. Resistor dengan 4 cincin warna

Keterangan: Untuk cincin pertama menunjukkan nilai angka yang

pertama, cincin warna kedua menunjukan nilai angka kedua, cincin

warna

ketiga

menunjukan

jumlah

nol,

menunjukan nilai toleransi.

Contoh:

sedangkan

cincin

keempat

Resistor warna kuning, ungu, merah, emas

4 + 7 x 100 5% = 4700 5% = 4k7 ? 5%

Resistor warna coklat, hitam, merah, emas

1 + 0 x 100 5% = 1000 5% = 1k ? 5%

Resistor warna hijau, biru, merah, emas

5 + 6 x 100 5% = 5600 5% = 5k6 ? 5%

Resistor warna merah, merah, merah, emas

30

2

+ 2 x 100 5% = 2200 5% = 2k2 ? 5%

Resistor warna coklat, hitam, orange, emas

1

+ 0 x 1000 5% = 10000 5% = 10k ? 5%

Nilai 5% diatas merupakan jumlah batas nilai kewajaran dari resistor

tersebut. Misalnya resistor dengan nilai 4700k ? 5%.

Ini berarti nilai yang masih dianggap wajar adalah berkisar antara 4700-

5% atau 4700+5%, selama masih berada diantara nilai tersebut maka

resistor masih dianggap baik.

b.

Resistor dengan 5 cincin warna.

Pada resistor dengan 5 cincin warna cara menghitungnya sebenarnya

sama hanya saja factor pengali berada pada cincin ke empat.

Misal: resistor dengan warna kuning, ungu, hitam, orange, coklat

Jadi nilainya adalah 4 + 7 + 0 x 1000 = 470000 ? = 470k ? dengan

toleransi 1%.

c.

Resistor dengan 6 cincin warna.

Pada resistor dengan 6 gelang warna cara menghitungnya sama dengan

yang 5 warna. Warna ke enam merupakan kode untuk temperature.

Nb: Untuk mengetahui mana cincin pertama, perhatikan jarak antar

cincin. Sebagai panduan

bahwa cincin yang jaraknya berdekatan

merupakan

cincin

pertama,

merupakan cincin terakhir.

sedangkan

yang

agak

berjauhan

31

Rangkaian resistor terdiri dari rangkaian seri dan paralel.

1. Rangkaian Resistor Seri

dari rangkaian seri dan paralel. 1. Rangkaian Resistor Seri Resistor yang disusun seri selalu menghasilkan resistansi

Resistor yang disusun seri selalu menghasilkan resistansi yang lebih besar.

Pada rangkaian seri, arus yang mengalir pada setiap resistor sama besar.

R 1 , R 2 , dan R 3 disusun secara seri, resistansi dari gabungan R 1 , R 2 , dan R 3 dapat

diganti dengan satu resistor pengganti yaitu R s .

Resistor

yang dirangkai

secara seri

mempunyai

nilai

pengganti,

yang

besarnya dapat

dirumuskan: Jika semua nilai R yang disusun sama, dapat ditulis:

R s = R 1 + R 2 + R 3 +

+ R n

dengan n banyaknya R yang disusun.

32

Contoh rangkaian resisitor seri:

1. Hitung nilai resistor pengganti dari ketiga resistor yang dirangkai seperti di bawah ini !

dari ketiga resistor yang dirangkai seperti di bawah ini ! Penyelesaian: Diketahui: R 1 = 2

Penyelesaian:

Diketahui:

R 1 = 2 ohm

R 2 = 4 ohm

R 3 = 3 ohm

Ditanyakan:

RS =

?

Dijawab :

R s = R 1 + R 2 + R 3

R s = 2 + 4 + 3

R s = 9

Jadi nilai resistor pengganti adalah 9 ohm.

33

2. Rangkaian Resistor Paralel

2. Rangkaian Resistor Paralel Resistor yang disusun secara paralel selalu menghasilkan resistansi yang lebih kecil. Pada

Resistor yang disusun secara paralel selalu menghasilkan resistansi yang

lebih kecil. Pada rangkaian paralel arus akan terbagi pada masing-masing resistor

pada masing-masing resestor, tetapi tegangan pada ujung-ujung resistor sama

besar.

Pada rangkaian fresestor disamping untuk R 1 , R 2 , dan R 3 disusun secara paralel,

resistansi dari gabungan R 1 , R 2 , dan R 3 dapat diganti dengan satu resistor

pengganti yaitu Rp.

Resistor yang dirangkai secara paralel mempunyai nilai pengganti, yang

besarnya dapat dirumuskan:

1/ R p = 1/R 1 + 1/R 2 + 1/R 3 +

+ 1/R n

Jika semua nilai R yang disusun sama besar, maka resistor penggantinya dapat

ditulis:

R p = R / n

dengan n banyaknya R yang disusun.

34

Contoh menghitung rangkaian resistor paralel:

Hitung nilai resistor pengganti yang dirangkai seperti di bawah ini !

a.

b.

Penyelesaian:

yang dirangkai seperti di bawah ini ! a. b. Penyelesaian: a) Diketahui: R 1 = 20
yang dirangkai seperti di bawah ini ! a. b. Penyelesaian: a) Diketahui: R 1 = 20

a) Diketahui:

R 1 = 20 ohm

R 2 = 30 ohm

R 3 = 60 ohm

Ditanyakan:

Rp =

?

Dijawab:

1/ R p = 1/R 1 + 1/R 2 + 1/R 3

1/ R p = 1/20 + 1/30 + 1/30

1/ R p = 3/60 + 2/60 + 1/60

1/ R p = 6/60

R p = 10 ohm

Jadi nilai resistor pengganti adalah 10 ohm.

35

Penyelesaian:

b) Diketahui:

R 1 = 6 ohm

R 2 = 2 ohm

R 3 = 4 ohm

R6 = 6 ohm

Ditanyakan:

R p

=

?

Dijawab:

Seri antara resistor 2 ohm dan 4 ohm

R

s

= 2 + 4

R

s

= 6

2 ohm dan 4 ohm R s = 2 + 4 R s = 6 Sehingga

Sehingga rangkaian dapat diganti ini :

Paralel antara 6 ohm, 6 ohm, dan 6 ohm

1/

R p = 1/R 1 + 1/R 2 + 1/R

1/

R p = 1/6 + 1/6 + 1/6

1/

R p = 3/6

R p = 2 ohm

Karena nilai dari masing-masing resistor sama yaitu 6 ohm, maka

dapat juga dihitung dengan:

R p = R / n

R p = 6 / 3

R p = 2 ohm

Jadi nilai resistor pengganti adalah 2 ohm

36

SOAL DAN JAWABAN

1. Apa yang dimaksud dengan resistor?

Jawab:

Resistor adalah komponen dasar elektronika yang selalu digunakan

dalam

setiap

rangkaian

elektronika

karena

bisa

berfungsi

sebagai

pengatur atau untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam suatu

rangkaian.

2. Apa fungsi dari resistor?

Jawab:

 

Fungsi dari resistor:

1.

Dapat menghambat arus listrik.

2.

Sebagai pembagi tegangan.

3.

Sebagai pengatur volume (potensiometer).

4.

Sebagai pengatur kecepatan motor.

5.

Sebagai pengatur arus listrik.

6.

Tergantung desain komponen yang diinginkan.

37

3. Hitunglah nilai resistansi resistor di bawah ini

3. Hitunglah nilai resistansi resistor di bawah ini 38

38

4. Hitunglah nilai resistansi resistor di bawah ini:

4. Hitunglah nilai resistansi resistor di bawah ini: 39

39

5. Hitunglah nilai resistansi resistor di bawah ini:

5. Hitunglah nilai resistansi resistor di bawah ini: 40

40

6. Hitunglah nilai resistansi resistor di bawah ini:

6. Hitunglah nilai resistansi resistor di bawah ini: 41

41

7. Hitunglah nilai resistansi resistor di bawah ini:

7. Hitunglah nilai resistansi resistor di bawah ini: 42

42

8. Hitunglah nilai resistansi resistor dibawah ini:

8. Hitunglah nilai resistansi resistor dibawah ini: 43

9. Hitunglah nilai resistor pengganti yang dirangkai seperti di bawah ini!

Jawab: Diketahui: R1 = 5 Ohm R3 = 2 Ohm R2 = 3 Ohm R4
Jawab:
Diketahui:
R1 = 5 Ohm
R3 = 2 Ohm
R2 = 3 Ohm
R4 = 7 Ohm

Ditanyakan: RS…?

Dijawab:

RS = R1 + R2 + R3 + R4

RS = 5 + 3 + 2 + 7

RS = 17 Ω

44

10. Hitunglah resistor pengganti yang dirangkai seperti di bawah ini!

10. Hitunglah resistor pengganti yang dirangkai seperti di bawah ini! 45

45

Rp/1 = 18/3 = 6 Ω

Langkah 3RS = R1 + R2,3,4 + R5,6,7 + R8

RS = 8 + 4 + 6 + 10

RS = 28 Ω

46

2.7.1

RESISTOR FOTO

2.7.1 RESISTOR FOTO Gambar 2.7.1 :Resistor foto Resistor peka cahaya atau fotoresistor adalah komponen elektronik yang
2.7.1 RESISTOR FOTO Gambar 2.7.1 :Resistor foto Resistor peka cahaya atau fotoresistor adalah komponen elektronik yang

Gambar 2.7.1 :Resistor foto

Resistor peka cahaya atau fotoresistor adalah komponen elektronik yang

resistansinya

akan

menurun

jika

ada

penambahan

intensitas

cahaya

yang

mengenainya. Fotoresistor dapat merujuk pula pada light-dependent resistor

(LDR), atau fotokonduktor.

Fotoresistor dibuat dari semikonduktor beresistansi tinggi yang tidak

dilindungi dari cahaya. Jika cahaya yang mengenainya memiliki frekuensi yang

cukup tinggi, foton yang diserap oleh semikonduktor akan menyebabkan elektron

memiliki energi yang cukup untuk meloncat ke pita konduksi. Elektron bebas

yang dihasilkan (dan pasangan lubangnya) akan mengalirkan listrik, sehingga

menurunkan resistansinya.

47

2.7.2 POTENSIOMETER

2.7.2 POTENSIOMETER Gambar 2.7.2. :Potensiometer Potensiometer adalah resistor tiga terminal dengan sambungan geser yang
2.7.2 POTENSIOMETER Gambar 2.7.2. :Potensiometer Potensiometer adalah resistor tiga terminal dengan sambungan geser yang

Gambar 2.7.2. :Potensiometer

Potensiometer adalah resistor tiga terminal dengan sambungan geser yang

membentuk pembagi tegangan dapat disetel. [1] Jika hanya dua terminal yang

digunakan (salah satu terminal tetap dan terminal geser), potensiometer berperan

sebagai resistor variabel atau Rheostat. Potensiometer biasanya digunakan untuk

mengendalikan

peranti

elektronik

seperti

pengendali

suara

pada

penguat.

Potensiometer yang dioperasikan oleh suatu mekanisme dapat digunakan sebagai

transduser, misalnya sebagai sensor joystick.

Potensiometer jarang digunakan untuk mengendalikan daya tinggi (lebih

dari 1 Watt) secara langsung. Potensiometer digunakan untuk menyetel taraf

isyarat analog (misalnya pengendali suara pada peranti audio), dan sebagai

pengendali masukan untuk sirkuit elektronik. Sebagai contoh, sebuah peredup

lampu menggunakan potensiometer untuk menendalikan pensakelaran sebuah

TRIAC, jadi secara tidak langsung mengendalikan kecerahan lampu.

Potensiometer yang digunakan sebagai pengendali volume kadang-kadang

dilengkapi dengan sakelar yang terintegrasi, sehingga potensiometer membuka

sakelar saat penyapu berada pada posisi terendah

48

2.7.3 RHEOSTAT

2.7.3 RHEOSTAT Gambar 2.7.3 : Rheostat Cara paling umum untuk mengubah-ubah resistansi dalam sebuah sirkuit adalah
2.7.3 RHEOSTAT Gambar 2.7.3 : Rheostat Cara paling umum untuk mengubah-ubah resistansi dalam sebuah sirkuit adalah

Gambar 2.7.3 : Rheostat

Cara paling umum untuk mengubah-ubah resistansi dalam sebuah sirkuit

adalah dengan menggunakan resistor variabel atau rheostat. Sebuah rheostat

adalah resistor variabel dua terminal dan seringkali didesain untuk menangani

arus dan tegangan yang tinggi. Biasanya rheostat dibuat dari kawat resistif yang

dililitkan untuk membentuk koil toroid dengan penyapu yang bergerak pada

bagian atas toroid, menyentuh koil dari satu lilitan ke lilitan selanjutnya.

49

2.7.4 TRIMPOT

2.7.4 TRIMPOT Gambar 2.7.4 : Trimpot Sebuah trimmer miniatur komponen elektrik yang bisa diatur/disetel. Ini berarti
2.7.4 TRIMPOT Gambar 2.7.4 : Trimpot Sebuah trimmer miniatur komponen elektrik yang bisa diatur/disetel. Ini berarti

Gambar 2.7.4 : Trimpot

Sebuah trimmer miniatur komponen elektrik yang bisa diatur/disetel. Ini

berarti bisa di setel supaya tepat ketika beberapa piranti dipasangkan, dan tak akan

dilihat

atau

di

atur/setel

oleh

pengguna.

Trimmer

dapat

berupa

variable

resistors (potensiometer) atau variable kapasitor.

Komponen ini biasanya digunakan pada rangkaian yang memiliki kecermatan

seperti Audio/Video komponen,

dan

mungkin

diperlukan

untuk

diatur/disetel

ketika ada

perbaikan.

Tidak seperti

pengatur

lainnya,

trimmer

dipasangkan

langsung di papan rangkaian, dan diatur/disetel dengan obeng kecil dan

hanya

beberapa

kali

penyesuaian.

Pada

tahun

1952, Marlan

Bourns mematenkan

penemuannya di dunia pertamakalinya dengan nama trimming potentiometer,

merek "Trimpot"

50

2.7.5

TERMISTOR

2.7.5 TERMISTOR Gambar 2.7.5 :Termistor NTC yang kabel terisolasi tersambung pada Termistor (Inggris: thermistor )
2.7.5 TERMISTOR Gambar 2.7.5 :Termistor NTC yang kabel terisolasi tersambung pada Termistor (Inggris: thermistor )

Gambar

2.7.5

:Termistor

NTC

yang

kabel terisolasi

tersambung

pada

Termistor (Inggris: thermistor) adalah alat atau komponen atau sensor

elektronika yang dipakai untuk mengukur suhu. Prinsip dasar dari termistor adalah

perubahan nilai tahanan (atau hambatan atau werstan atau resistance) jika suhu

atau temperatur yang mengenai termistor ini berubah. Termistor ini merupakan

gabungan antara kata termo (suhu) dan resistor (alat pengukur tahanan).

2.7.6 Cara Pengujian Resistor

(alat pengukur tahanan). 2.7.6 Cara Pengujian Resistor Gambar 2.7.6 : Cara pengujian resistor Untuk mengujinya

Gambar 2.7.6 : Cara pengujian resistor

Untuk mengujinya dengan multimeter kita boleh membolak-balik kaki

resistor ataupun sebaliknya membolak-balik colok (+) dan colok (-).

Langkah-langkah pemeriksaan resistor:

a. Memutar saklar sampai pada posisi R x Ohm.

51

b. Kalibrasi dengan menghubungkan colok (+) dan colok (-). Kemudian

memutar penyetel sampai jarum menunjuk pada angka nol (0). Atau putar

control adjusment untuk menyesuaikan.

c. Setelah itu kita hubungkan pencolok (+) pada salah satu kaki resistor,

begitu pula colok (-) pada kaki yang lain.

d. Perhatikan jarum penunjuk. Apakah ia bergerak penuh atau sebaliknya jika

bergerak dan tak kembali berarti komponen masih baik. Bila sebaliknya

jarum penunjuk skala tidak bergerak berarti resistor rusak.

e. Komponen resistor yang masih baik juga bisa dinilai dengan sama atau

tidak nilai komponen resistor yang tertera pada gelang-gelang warnanya

dengan pengukuran melalui multimeter.

2.8 Dioda

Dioda memiliki fungsi yang unik yaitu hanya dapat mengalirkan arus satu

arah saja. Struktur dioda tidak lain adalah sambungan semikonduktor P dan N.

Satu sisi adalah semikonduktor dengan tipe P dan satu sisinya yang lain adalah

tipe N. Dengan struktur demikian arus hanya akan dapat mengalir dari sisi P

menuju sisi N.

struktur demikian arus hanya akan dapat mengalir dari sisi P menuju sisi N. Gambar 2.8 (a)

Gambar 2.8 (a) :Simbol dan struktur diode

52

Gambar tersebut menunjukkan sambungan PN dengan sedikit porsi kecil

yang disebut lapisan deplesi (depletion layer), dimana terdapat keseimbangan hole

dan elektron. Seperti yang sudah diketahui, pada sisi P banyak terbentuk hole-hole

yang siap menerima elektron sedangkan di sisi N banyak terdapat elektron-

elektron yang siap untuk bebas merdeka. Lalu jika diberi bias positif, dengan arti

kata memberi tegangan potensial sisi P lebih besar dari sisi N, maka elektron dari

sisi N dengan serta merta akan tergerak untuk mengisi hole di sisi P. Tentu kalau

elektron mengisi hole disisi P, maka akan terbentuk hole pada sisi N karena

ditinggal elektron. Ini disebut aliran hole dari P menuju N, Kalau menggunakan

terminologi arus listrik, maka dikatakan terjadi aliran listrik dari sisi P ke sisi N.

maka dikatakan terjadi aliran listrik dari sisi P ke sisi N. Gambar 2.8 (b) :Dioda dengan

Gambar 2.8 (b) :Dioda dengan Bias Maju

Jika polaritas tegangan dibalik yaitu dengan memberikan bias negative (reverse bias). Dalam hal ini, sisi N mendapat polaritas tegangan lebih besar dari sisi P.

Dalam hal ini, sisi N mendapat polaritas tegangan lebih besar dari sisi P. Gambar 2.8 (c)

Gambar 2.8 (c) :Dioda dengan Bias Negatif

53

Maka tidak akan terjadi perpindahan elektron atau aliran hole dari P ke N

maupun sebaliknya. Karena baik hole dan elektron masing-masing tertarik ke arah

kutup berlawanan. Bahkan lapisan deplesi (depletion layer) semakin besar dan

menghalangi terjadinya arus.

Dioda hanya dapat mengalirkan arus satu arah saja. Dengan tegangan bias

maju yang kecil saja dioda sudah menjadi konduktor. Tidak serta merta diatas 0

volt, tetapi memang tegangan beberapa volt diatas nol baru bisa terjadi konduksi.

Ini disebabkan karena

adanya dinding deplesi (deplesion layer). Untuk diode

yang terbuat dari bahan Silikon tegangan konduksi adalah diatas 0.7 volt. Kira-

kira 0.2 volt batas minimum untuk dioda yang terbuat dari bahan Germanium.

batas minimum untuk dioda yang terbuat dari bahan Germanium. Gambar 2.8 (d) :Grafik Arus Dioda Sebaliknya

Gambar 2.8 (d) :Grafik Arus Dioda

Sebaliknya untuk bias negatif dioda tidak dapat mengalirkan arus, namun

memang ada batasnya. Sampai beberapa puluh bahkan ratusan volt baru terjadi

breakdown, dimana dioda tidak lagi dapat menahan aliran elektron yang terbentuk

di lapisan deplesi.

54

2.8.1

DIODA CAHAYA

2.8.1 DIODA CAHAYA Gambar 2.8.1 :Dioda cahaya Dioda cahaya atau lebih dikenal dengan sebutan LED (
2.8.1 DIODA CAHAYA Gambar 2.8.1 :Dioda cahaya Dioda cahaya atau lebih dikenal dengan sebutan LED (

Gambar 2.8.1 :Dioda cahaya

Dioda cahaya atau lebih dikenal dengan sebutan LED (light-emitting

diode) adalah suatu semikonduktor yang memancarkan cahaya monokromatik

yang tidak koheren ketika diberi tegangan maju. Gejala ini termasuk bentuk

elektroluminesensi. Warna yang dihasilkan bergantung pada bahan semikonduktor

yang dipakai, dan bisa juga ultraviolet dekat atau inframerah dekat.

Fungsi Fisikal

Sebuah LED adalah sejenis dioda semikonduktor istimewa. Seperti sebuah

dioda normal, LED terdiri dari sebuah chip bahan semikonduktor yang diisi

penuh, atau di-dop, dengan ketidakmurnian untuk menciptakan sebuah struktur

yang disebut p-n junction. Pembawa-muatan - elektron dan lubang mengalir ke

junction dari elektroda dengan voltase berbeda. Ketika elektron bertemu dengan

lubang, dia jatuh ke tingkat energi yang lebih rendah, dan melepas energi dalam

bentuk photon.

Emisi cahaya

Panjang gelombang dari cahaya yang dipancarkan, dan oleh karena itu

warnanya, tergantung dari selisih pita energi dari bahan yang membentuk p-n

55

junction. Sebuah dioda normal, biasanya terbuat dari silikon atau germanium,

memancarkan cahaya tampak inframerah dekat, tetapi bahan yang digunakan

untuk sebuah LED memiliki selisih pita energi antara cahaya inframerah dekat,

tampak, dan ultraungu dekat.

2.8.2 DIODA SCHOTTKY

dekat, tampak, dan ultraungu dekat. 2.8.2 DIODA SCHOTTKY Gambar 2.8.2 :Dioda schottky Dioda schottky (diambil dari
dekat, tampak, dan ultraungu dekat. 2.8.2 DIODA SCHOTTKY Gambar 2.8.2 :Dioda schottky Dioda schottky (diambil dari

Gambar 2.8.2 :Dioda schottky

Dioda schottky (diambil dari nama seorang ahli fisika Jerman Walter H.

Schottky;

juga

dikenal

sebagai

dioda

pembawa

panas)

semikonduktor dengan tegangan rendah.

Konstruksi

adalah

dioda

Dioda Schottky adalah tipe khusus dari dioda dengan tegangan yang

rendah. Ketika arus mengalir melalui dioda akan ditahan oleh hambatan internal,

yang menyebabkan tegangannya menjadi kecil di terminal dioda. Dioda normal

antara 0.7-1.7 volt, sementara dioda Schottky tegangan kira-kira antara 0.15-0.45

volt.

Dioda Schottky menggunakan simpangan logam-semikonduktor sebagai sawar

schottky (dari sebuah simpangan semikonduktor-semikonduktor seperti dalam

56

dioda konvensional). Sawar schottky ini dihasilkan dengan waktu kontak yang

sangat cepat dan tegangan yang rendah.

Perbedaan yang paling penting antara p-n dan dioda Schottky adalah dari

membalikkannya

waktu

pemulihan,

ketika

beralih

dari

keadaan

tidak

menghantarkan ke keadaan menghantarkan dan sebaliknya. Dimana dalam dioda

p-n waktu pemulihan balik dapat dalam orde ratusan nano-detik dan kurang dari

100 nano-detik untuk dioda cepat.

Aplikasi

Aplikasi termasuk perlindungan muatan pada sel surya yang dihubungkan

dengan batere timbal-asam dan dalam mode saklar-sumber listrik; dalam kedua

kasus rendahnya tegangan akan meningkatkan efisiensi. Dioda silicon standar

tegangan kira-kira sekitar 0.7 volt dan dioda germanium 0.3 volt.

2.8.3 DIODA ZENER

0.7 volt dan dioda germanium 0.3 volt. 2.8.3 DIODA ZENER Gambar 2.8.3 :Grafik Arus Dioda Dioda

Gambar 2.8.3 :Grafik Arus Dioda

Dioda Zener adalah dioda yang memiliki karakteristik menyalurkan arus

listrik mengalir ke arah yang berlawanan jika tegangan yang diberikan melampaui

57

batas "tegangan rusak" (breakdown voltage) atau "tegangan Zener". Ini berlainan

dari dioda biasa yang hanya menyalurkan arus listrik ke satu arah.

Dioda yang biasa tidak akan mengijinkan arus listrik untuk mengalir

secara berlawanan jika dicatu-balik (reverse-biased) di bawah tegangan rusaknya.

Jika melampaui batas tegangan rusaknya, dioda biasa akan menjadi rusak karena

kelebihan

arus

listrik

yang

menyebabkan

panas.

Namun

proses

ini

adalah

reversibel jika dilakukan dalam batas kemampuan. Dalam kasus pencatuan-maju

(sesuai dengan arah gambar panah), dioda ini akan memberikan tegangan jatuh

(drop voltage) sekitar 0.6 Volt yang biasa untuk dioda silikon. Tegangan jatuh ini

tergantung dari jenis dioda yang dipakai.

Sebuah dioda Zener memiliki sifat yang hampir sama dengan dioda biasa,

kecuali

bahwa

alat

ini

sengaja

dibuat

dengan

tengangan

rusak

yang

jauh

dikurangi, disebut tegangan Zener. Sebuah dioda Zener memiliki p-n junction

yang memiliki doping berat, yang memungkinkan elektron untuk tembus (tunnel)

dari pita valensi material tipe-p ke dalam pita konduksi material tipe-n. Sebuah

dioda zener yang dicatu-balik akan menunjukan perilaku rusak yang terkontrol

dan akan melewatkan arus listrik untuk menjaga tegangan jatuh supaya tetap pada

tegangan zener. Sebagai contoh, sebuah diode zener 3.2 Volt akan menunjukan

tegangan jatuh pada 3.2 Volt jika diberi catu-balik. Namun, karena arusnya tidak

terbatasi,

sehingga

dioda

zener

biasanya

digunakan

untuk

membangkitkan

tegangan referensi, atau untuk menstabilisasi tegangan untuk aplikasi-aplikasi arus

kecil.

58

Pemakaian

Dioda Zener bi asanya digunakan secara luas dalam sirkuit

elektronik.

Fungsi utamanya adala h untuk menstabilkan tegangan. Pada saat disa mbungkan

secara parallel dengan s ebuah sumber tegangan yang berubah-ubah yan g dipasang

sehingga mencatu-bali k, sebuah dioda zener akan bertingkah sepe rti sebuah

kortsleting (hubungan

singkat) saat tegangan mencapai tegangan r usak diode

tersebut. Hasilnya, tega ngan akan dibatasi sampai ke sebuah angka

yang telah

diketahui sebelumnya.

sampai ke sebuah angka yang telah diketahui sebelumnya. Sebuah dioda ze ner juga digunakan seperti ini

Sebuah dioda ze ner juga digunakan seperti ini sebagai regulato r tegangan

shunt (shunt berarti sa mbungan parallel, dan regulator tegangan seba gai sebuah

kelas sirkuit yang memb erikan sumber tegangan tetap.

2.8.4 Cara Pe ngujian

gai sebuah kelas sirkuit yang memb erikan sumber tegangan tetap. 2.8.4 Cara Pe ngujian G ambar

G ambar 2.8.4 :Cara pengujian dioda

1.

Dengan jangkah OHM x1k atau x100 penyidik merah ditempel pada katoda

(ada tanda gelang) dan hitam pada anoda, jarum harus ke kanan.

2. Penyidik dibalik ialah merah ke anoda dan hitam ke katoda, jarum harus tidak

bergerak. Bila tidak demikian berarti kemungkinan diode rusak.

2.9 PENGERAS SUARA/LOUDSPEAKER

kemungkinan diode rusak. 2.9 PENGERAS SUARA/LOUDSPEAKER Gambar 2.9 :Loadspeaker Pengeras suara Inggris loud
kemungkinan diode rusak. 2.9 PENGERAS SUARA/LOUDSPEAKER Gambar 2.9 :Loadspeaker Pengeras suara Inggris loud

Gambar 2.9 :Loadspeaker

Pengeras suara Inggris loud speaker atau speaker saja) adalah transduser

yang

mengubah

sinyal

elektrik

ke

frekuensi

audio

(suara)

dengan

cara

menggetarkan komponennya yang berbentuk selaput.

Membuat suara

Pada dasarnya, speaker merupakan mesin penterjemah akhir, kebalikan

dari mikrofon. Speaker membawa sinyal elektrik dan mengubahnya kembali

menjadi getaran untuk membuat gelombang suara. Speaker menghasilkan getaran

yang hampir sama dengan yang dihasilkan oleh mikrofon yang direkam dan

dikodekan pada tape, CD, LP, dan lain-lain. Speaker tradisional melakukan proses

ini dengan menggunakan satu drivers atau lebih.

60