Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Masalah kesehatan di Indonesia semakin meningkat khususnya kesehatan
gigi dan mulut. Salah satu penyakit gigi dan mulut yang menjadi urutan tertinggi
dalam kesehatan gigi dan mulut yaitu karies gigi. Menurut data dari Riset
Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2007, prevalensi nasional masalah gigi dan
mulut adalah 23,5%. Sebanyak sembilan belas provinsi mempunyai prevalensi
masalah gigi dan mulut di atas prevalensi nasional yaitu Nanggroe Aceh
Darusalam, Jambi, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa
Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan,
Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara,
Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat. Prevalensi
nasional gosok gigi setiap hari adalah 91,1%, sebanyak sebelas provinsi
mempunyai prevalensi gosok gigi setiap hari di bawah prevalensi nasional yaitu
Nanggroe Aceh Darussalam, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku
Utara, Papua Barat dan Papua. Prevalensi nasional karies aktif adalah 43,4%,
sebanyak empat belas provinsi memiliki prevalensi karies aktif di atas prevalensi
nasional yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Yoyakarta, Jawa
Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan
2

Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Maluku.
Prevalensi hilang seluruh gigi asli terlihat tinggi di Sulawesi Selatan (4,0%) dan
Bangka Belitung (3,2%). Prevalensi karies sebesar 46,5% dan yang mempunyai
pengalaman karies sebesar 72,1%. Menurut provinsi, prevalensi karies aktif
tertinggi (>50%) ditemukan di Jambi (56,1%), Kalimantan Barat dan Sulawesi
Utara (57,2%), Maluku (54,4%), Riau (53,3%), Lampung (54,9%), Yogyakarta
(52,3%), Bangka Belitung (50,8%), Kalimantan Selatan (50,7%), Kalimantan
Timur (50,6%), Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing 50,4%. Melihat
data dari Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2007, menunjukkan masalah
kesehatan gigi dan mulut di Indonesia cukup tinggi terutama pada prevalensi
karies gigi masih menjadi masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia.
1

Berdasarkan Profil Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2008, masalah
mengenai gigi dan mulut yang paling tinggi yaitu kasus karies gigi, terlihat dari
jumlah kasus tumpatan gigi mencapai 13.287 kasus dan pencabutan gigi mencapai
69.391 kasus. Jumlah tenaga medis dalam hal ini dokter gigi pada sarana
kesehatan di Sulawesi Selatan mencapai 273 dokter gigi pada puskesmas dan 95
dokter gigi pada rumah sakit yang ada di Sulawesi Selatan. Melihat jumlah dokter
gigi yang ada, rasio dokter gigi belum mencapai target yakni 11 dokter gigi per
100.000 penduduk. Salah satu penyebab tingginya masalah gigi dan mulut yaitu
kurangnya tenaga medis khususnya dokter gigi.
2

Karies gigi merupakan suatu penyakit infeksi yang dapat menular dan
terutama mengenai jaringan keras gigi sehingga terjadi kerusakan jaringan keras
setempat. Proses terjadinya kerusakan pada jaringan keras gigi melalui suatu
3

reaksi kimiawi oleh bakteri dimulai dengan proses kerusakan pada bagian
anorganik kemudian berlanjut pada bagian organik.
3
Karies merupakan hasil
interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak atau biofilm, dan diet khususnya
komponen karbohidrat yang dapat difermentasikan oleh bakteri plak menjadi
asam terutama asam laktat dan asetat sehingga terjadi demineralisasi jaringan
keras gigi dan memerlukan cukup waktu untuk kejadiannya. Faktor utama
penyebab karies ada empat yaitu inang/host, plak gigi, substrat dan waktu. Karies
baru akan terbentuk jika keempat faktor ini saling berinteraksi.
4
Ada dua faktor
terbentuknya karies yaitu faktor yang ada di dalam mulut yang langsung
berhubungan dengan karies dan terdapat faktor yang tidak langsung yang disebut
faktor risiko luar yang merupakan faktor predisposisi dan faktor penghambat
terjadinya karies. Faktor luar antara lain adalah usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, tingkat ekonomi, lingkungan, sikap dan perilaku yang berhubungan
dengan kesehatan gigi.
5

Untuk melihat berapa prevalensi karies dihitung dengan menggunakan
rumus prevalensi karies dan penilaian status karies dengan skor Decay Missing
Filling-Tooth (DMF-T) serta diinterpretasikan sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Decay Missing Filling-Tooth
(DMF-T) sebagai indikator status kesehatan gigi yang merupakan penjumlahan
dari indeks Decay-tooth (D-T), Missing-tooth (M-T) dan Filling-tooth (F-T) yang
menunjukkan banyaknya kerusakan gigi yang pernah dialami seseorang baik
berupa Decay/D (gigi karies atau gigi berlubang), Missing/M (gigi dicabut) dan
Filling/F (gigi ditumpat). Bisa juga dengan menggunakan Required Treatment
4

Index (RTI) dan Performed Treatment Index (PTI), Required Treatment Index
(RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap
angka DMF-T. Required Treatment Index (RTI) menggambarkan besarnya
kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan.
Performed Treatment Index (PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi
tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T. Performed Treatment Index (PTI)
menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang
berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap.
1

Selain karies gigi, masalah gigi dan mulut yang sering terjadi pada anak-
anak yaitu maloklusi pada anak yang sering membutuhkan perawatan ortodonti.
Kelainan dentofasial sering menunjukkan adanya suatu maloklusi.
6
Maloklusi
adalah setiap keadaan yang menyimpang dari oklusi normal. Oklusi merupakan
hubungan kontak antar gigi maksila dengan gigi mandibula saat menutup mulut.
Oklusi dikatakan normal ketika susunan gigi dalam lengkung gigi teratur dengan
baik serta adanya keseimbangan fungsional sehingga memberikan estetika yang
baik.
7
Maloklusi juga diartikan sebagai suatu kelainan susunan gigi maksila dan
mandibula yang berhubungan dengan bentuk rongga mulut serta fungsinya,
bentuk hubungan rahang atas dan bawah yang menyimpang dari bentuk standar
yang diterima sebagai bentuk yang normal. Maloklusi dapat disebabkan karena
tidak ada keseimbangan dentofasial, keseimbangan dentofasial ini tidak
disebabkan oleh satu faktor saja tetapi multifaktorial. Faktor yang mempengaruhi
adalah keturunan (herediter), lingkungan, pertumbuhan dan perkembangan, etnik,
fungsional dan patologi. Identifikasi maloklusi didasarkan pada empat bidang
5

utama yaitu bidang fasial, kranial, gigi dan lingkungan. Berdasarkan hal tersebut
upaya dalam meningkatkan tindakan pencegahan maloklusi perlu diperhatikan,
misalnya memahami dasar pertumbuhan lengkung gigi dan perkembangan oklusi.
Pemahaman ini tidak dapat lepas dari pemahaman umum terutama dalam masalah
pertumbuhan dan perkembangan.
8

Ciri-ciri maloklusi di antaranya adalah gigi berjejal (crowded), gingsul
(caninus ektopik), gigi tonggos (disto oklusi), gigi cakil (mesio oklusi), gigitan
menyilang (crossbite) dan gigi jarang (diastema). Maloklusi dapat mengakibatkan
beberapa gangguan atau hambatan dalam penderitanya. Dilihat dari segi fungsi,
gigi crowded amat sulit dibersihkan dengan menyikat gigi kondisi ini dapat
menyebabkan caries, gingivitis bahkan periodontitis sehingga menjadi mobile dan
terpaksa dicabut. Dilihat dari segi rasa sakit fisik, maloklusi yang parah pada
tulang penunjang dan jaringan gingiva menimbulkan kesulitan dalam
menggerakkan rahang (gangguan otot dan nyeri), gangguan temporomandibular
joint dan dapat menimbulkan sakit kepala kronis atau sakit pada wajah dan leher.
Dilihat dari segi hambatan sosial, maloklusi dapat mempengaruhi kejelasan bicara
seseorang. Dilihat dari segi psikis, maloklusi dapat mempengaruhi estetis dan
penampilan seseorang.
7, 9, 23

Di Indonesia, prevalensi maloklusi masih tinggi yaitu sekitar 80% dan
merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup besar setelah
karies gigi dan penyakit periodontal. Mengingat akan akibat yang ditimbulkan,
maloklusi seharusnya dirawat. Pada masa pertumbuhan anak, bentuk susunan gigi
anak erat kaitannya dengan kondisi gigi dan mulut.
8

6

Untuk mengukur maloklusi dapat dilihat dari klasifikasi maloklusi yang
terjadi yaitu netroklusi (Klas I Angle) merupakan hubungan antara gigi rahang
bawah terhadap gigi rahang atas dimana tonjol mesiobukal (mesiobuccal cusp)
molar satu permanen atas berkontak dengan lekuk mesiobukal (mesiobuccal
groove) molar satu permanen bawah, distoklusi (Klas II Angle) merupakan
hubungan antara gigi rahang bawah terhadap gigi rahang atas dimana lekuk
mesiobukal molar satu permanen bawah berada lebih ke distal dari tonjol
mesiobukal molar satu permanen atas, mesioklusi (Klas III Angle) merupakan
hubungan antara gigi rahang bawah terhadap gigi rahang atas dimana lekuk
mesiobukal molar satu permanen bawah berada lebih ke mesial dari tonjol
mesiobukal molar satu permanen atas.
10

Kebutuhan seseorang akan perawatan ortodonti berbeda tergantung pada
keadaan struktur dentofasial. Hal tersebut dapat dinilai dengan menggunakan
suatu indeks yaitu Index Of Orthodontics Treatment Need (IOTN). Indeks ini
dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan perawatan ortodonti pada
seseorang. Hal-hal yang dinilai dalam Index Of Orthodontics Treatment Need
(IOTN) adalah hubungan relasi antar gigi rahang atas dan rahang bawah
mencakup overjet, adanya crossbite anterior maupun posterior, openbite,
overbite, oklusi, malposisi gigi dan anomali gigi. Index Of Orthodontics
Treatment Need (IOTN) digunakan karena dapat melihat kebutuhan seseorang
terhadap perawatan ortodonti dari segi oklusi serta estetis.
7, 9, 21

Jadi masalah kesehatan gigi dan mulut yang menjadi pokok
permasalahan dalam masyarakat yaitu masalah karies gigi khususnya pada
7

Provinsi Sulawesi Selatan. Prevalensi hilang seluruh gigi asli terlihat tinggi di
Sulawesi Selatan yaitu sebesar 4,0% dan prevalensi karies aktif sebesar 50,4%
berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2007.
1

Salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki masalah kesehatan
khususnya masalah gigi dan mulut termasuk dalam pola dua puluh penyakit
terbanyak yaitu Kabupaten Bulukumba.
11
Kabupaten Bulukumba merupakan
daerah berkembang dengan total daerah 1.154,7 km
2
. Berdasarkan Badan Pusat
Statistik (BPS) Kabupaten Bulukumba tahun 2011 penduduk di kabupaten ini
berjumlah 398.531 jiwa.
12
Penderita masalah gigi dan mulut pada tahun 2007
berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba dapat terlihat dari
perawatan gigi dan mulut yang dilakukan masyarakat pada sarana kesehatan
puskesmas tercatat 174 kasus yang melakukan tambalan gigi dan yang melakukan
pencabutan gigi sebesar 3.498 kasus. Data ini menunjukkan tingginya karies gigi
yang terjadi di Kabupaten Bulukumba pada tahun 2007. Pada Profil Kesehatan
Kabupaten Bulukumba tahun 2007 tercantum visi yaitu Pembangunan kesehatan
diselenggarakan dalam upaya mencapai visi Indonesia Sehat 2010

salah satunya
meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut di kabupaten tersebut.
11

Melihat data yang telah dipaparkan, peneliti ingin mengetahui besar
prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut yang terjadi di Kabupaten
Bulukumba terkhusus dalam dua permasalahan gigi dan mulut yaitu karies gigi
dan kebutuhan perawatan ortodonti pada anak. Kebutuhan perawatan ortodonti
menjadi salah satu masalah gigi dan mulut yang ingin diketahui prevalensinya
karena melihat fakta yang ada melalui pengamatan empiris peneliti yang berasal
8

dari Bulukumba bahwa di Kabupaten Bulukumba banyak anak usia sekolah yang
menggunakan ortodonti, hal ini bisa dikatakan angka terjadinya maloklusi di
kabupaten ini cukup tinggi dan mengambil subjek anak usia sekolah 8-12 tahun
pada periode gigi bercampur dengan pertimbangan bahwa pada usia 8-12 tahun
anak sudah termasuk dalam kategori kooperatif berdasarkan tingkat perilaku anak
dan sudah bisa diberi pemahaman mengenai gigi dan mulut. Periode gigi
bercampur merupakan periode yang perlu diperhatikan dalam perkembangan
oklusi. Pada periode ini oklusi bersifat tidak statis dan memungkinkan
berkembangnya maloklusi. Dalam bidang kedokteran gigi, upaya untuk mencegah
maloklusi lebih efektif dilakukan pada periode gigi bercampur karena masih
adanya kesempatan untuk memperbaiki oklusi dan menghilangkan faktor
penyebabnya.
8


1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah
penelitian yaitu :
1. Berapa besar angka prevalensi karies gigi pada anak usia 8-12 tahun di
Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan tahun 2013?
2. Berapa besar angka prevalensi kebutuhan perawatan ortodonti pada anak
usia 8-12 tahun di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan tahun 2013?



9

1.3 TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diperoleh tujuan dari
penelitian yaitu :
1. Mengetahui prevalensi karies gigi pada anak usia 8-12 tahun di
Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan tahun 2013.
2. Mengetahui prevalensi kebutuhan perawatan ortodonti pada anak usia
8-12 tahun di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan tahun 2013.

1.4 MANFAAT PENELITAN
Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah
mengenai prevalensi karies dan kebutuhan perawatan ortodonti anak
usia sekolah 8-12 tahun di Kabupaten Bulukumba tahun 2013.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada
dokter gigi terkhusus dokter gigi yang wilayah kerjanya berada di
Kabupaten Bulukumba mengenai prevalensi karies dan kebutuhan
perawatan ortodonti anak usia sekolah 8-12 tahun pada tahun 2013.
3. Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan salah satu acuan untuk
mengadakan penelitian selanjutnya.