Anda di halaman 1dari 12

BAB IX

GAYA TERDISTRIBUSI : MOMEN KELEMBAMAN













KELOMPOK 9:
1. Ahmad Hakim Syaifullah (5201411080)
2. Rino Arfiyanto U.D.S (5201411091)
3. Khoerul Fajri (5201411099)
4. Tio Pradoto (5201411097)
5. Ahmad Habib Maulana (5201411031)

PENDIDIKAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011
9.1. Pendahuluan. Dalam Bab 5, kita menganalisis berbagai sistem gaya
yang terdistribusi pada suatu bidang. Tiga jenis utama gaya yang ditinjau adalah
(1) berat pelat homogen yang tebalnya seragam (pasal 5.3 hingga 5.6), (2) beban
terdistribusi pada batang balok dan gaya hidrostatik (pasal 5.8 dan 5.9), dan (3)
berat benda homogen tiga dimensi (pasal 5.10 dan 5.11). Dalam kasus pelat
homogen besar W dari berat elemen pelat berbanding lurus dengan luas elemen
A. Dalam kasus beban terdistribusi pada batang balok, besar W masing-masing
berat elementer dinyatakan dengan elemen luas A =W dibawah kurva beban;
dalam kasus gaya hidrostatik pada permukaan persegiempat yang terbenam,
prosedur yang serupa itu diikuti juga. Jadi dalam semua kasus yang ditinjau dalam
bab 5, gaya terdistribusi berbanding lurus dengan lurus dengan luas elementer
yang bersangkutan. Resultan dari gaya-gaya ini dapat diperoleh dengan
menjumlahkan luas yang bersangkutan, dan momen resultan terhadap sumbu
tertentu dapat ditentukan dengan menghitung momen pertama dari bidang
terhadap sumbu itu.
Pada bagian pertama bab ini,kita akan meninjau gaya terdistribusi
F yang besarnya tidak hanya bergantung dari elemen luas A tempat gaya
tersebut bekerja,tetapib juga jarak dari A kesumbu tertentu. Lebih tepatnya,
besar gaya itu per satuan luas F/A akan berubah secara linear terhadap jarak ke
sumbu tersebut. Seperti yang akan kita lihat pada bagian berikut,gaya jenis ini
dijumpai dalam pelajaran lenturan balok dan dalam masalah yang berkaitan
dengan permukaan bukan segiempat yang tenggelam. Dengan menganggap bahwa
gaya elementer yang ditinjau terdistribusi dalam luas A dan bervariasi secara
linear dengan jarak y ke bsumbu x, kita dapatkan bahwa sementara besar
resultannya R tergantung pada momen pertama

dari luas A, letak


titik kerja R tergantung pada momen kedua,atau momen inersia ,

dari
luas yang sama terhadap sumbu x. Kita akan mempelajari cara menghitung
momen inersia , pelbagai bidang terhadap sumbu x dan y. Kita juga akan
mempelajari momen inersia kutub

dari suatu bidang,dimana r adalah


jarak dari elemen luas dA ke suatutitik O. Untuk mempermudah perhitungan, kita
akan menetapkan hubungan antara momen inersia

dari luas A terhadap sumbu


x dan momen inersianya

terhadap sumbu x yang sejajar (teorema sumbu


sejajar ). Kita juga akan memepelejari transformasi momen inersia bidang akibat
rotasi sumbu (pasal 9.9 dan 9.10)
Pada bagian kedua dari bab ini,kita akan menentukan momen
inersia pelbagai massa terhadap sumbu tertentu. Seperti yang akan kita lihat pada
pasal 9.11, momen inersia suatu massa terhadap sumbu AA didefinisikan sebagai
intregral

, dimana r adalah jarak dari sumbu AA ke elemen massa


dm. Momen inersia massa dijumpai dalam dinamika pada masalah yang berkaitan
dengan rotasi benda tegar terhadap suatu sumbu. Untuk mempermudah
perhitungan momen inersia massa, kita akan membahas dalil sumbu sejajar (pasal
9.12) dan belajar menentukan momen ineria pelat segiempat dan limgkaran yang
tipis (pasal 9.13).

MOMEN INERSIA BIDANG
9.2. Momen kedua, atau momen inersia suatu bidang. Pad bagian
pertama pada bab ini, kita akan meninjau gaya terdistribusi F yang besarnya F
sebanding dengan elemen luas A tempat F bekerja dan bervariasi secara linear
dengan jarak A ke sumbu tertentu.
Tinjau misalnya, sebatang balok yang penampang gayanya seragam yang
mengalami dua kopel yang besarnya sama dan arahnya berlawanan yang
diterapkan pada masing-masing ujung balok. Balok semacam itu mengalami
pelenturan murni, dan dalam mekanika bahan ditunjukkan bahwa gaya-dalam
setiap balok merupakan gaya terdistribusi yang besarnya F = ky A yang
berubah secara linear terhadap jarak y dari sumbu yang melalui titik-berat
sebagian itu. Sumbu yang dinyatakan dalam sumbu x dalam gambar 9.1 dikenal
sebagai sumbu netral dalam bagian itu. Gaya pada suatu pihak dari sumbu netral
merupakan gaya tekan, dan pada pihak yang lain gaya tegang, sedangkan pada
sumbu netral gayanya nol.
Besar resultan R dari gaya elementer F pada seluruh bagian adalah

R = ky dA = k y dA

Integral terakhir yang diperoleh dikenal sebagai momen pertama Q
x
dari bagian
itu terhadap sumbu x ; besarnya sama dengan A dan dengan nol, karena titik-
berat bagian itu terletak pada sumbu x. sistem gaya F tereduksi menjadi kopel.
Besar M dari kopel in (momen lentur) harus sama dengan jumlah momen M
x
= y
F = ky
2
A dari gaya elementer. Dengan mengintegrasi terhadap seluruh bagian,
kita dapatkan

M = ky
2
dA = k y
2
dA

Integral yang terakhir dikenal sebagai momen kedua, atau momen kelembaman
(momen inersia) dari bagian balok tersebut terhadap sumbu x dan dinyatakan
dengan I
x
. Besaran itu diperoleh dengan mengalikan masing-masing elemen luas
dA dengan jarak kuadrat dari sumbu x dan mengintegrasikan keseluruh bagian
balok. Karena masing-masing hasil kali y
2
dA positif, baik untuk y positif atau
negatif (atau nol bila y nol), integral I
x
akan selalu berbeda dengan nol dan selalu
positif.



Contoh lain dari momen kedua, atau momen kelebaman dari suatu bidang
dinyatakan dalam persoalan hidrostatik berikut ini : Suatu daun pintu lingkaran
dipakai untuk menutup keluaran suatu cadangan besar terbenam dalam air seperti
pada Gambar 9.2. berapakah resultan gaya yang ditimbulkan oleh air pada pintu
dan berapakah momen resultan itu terhadap garis perpotongan bidang pintu
dengan permukaan air (sumbu x)?
Jika pintu itu berbentuk persegi empat, resultan gaya tekanan dapat
ditentukan dari kurva tekanan, seperti dilakukan pada pasal 5.9. karena pintu itu
bundar, kita harus memakai metode yang lebih umum. Tandai kedalam elemen
luas A dengan dan berat jenis air dengan y, tekanan pada elemen adalah p = y,
dan besar gaya elementer yang timbul pada A adalah F = pA = y A. Besar
resultan gaya elementer ini menjadi

R = y dA = y dA

Dan dapat diperoleh dengan menghitung momen pertama Q
x
= y dA dari bidang
pintu terhadap sumbu x. Momen resultan M
x
harus sama dengan jumlah M
x
= y
F = y
2
A dari gaya elementer. Integrasi keseluruh bidang pintu, kita peroleh

M
x
= y
2
dA = y
2
dA

Di sini terlihat lagi bahwa integral yang diperoleh menyatakan momen kedua atau
momen kelembaman I
x
dari bidang itu terhadap sunbu x.

9.3. Penentuan Momen Kelembaman suatu Bidang dengan Integrasi.
Pada pasal sebelumnya kita telah mendefinisikan momen kedua, atau momen
kelembaman suatu bidang luas A terhadap sumbu x. dengan cara yang sama kita
definisikan momen kelembaman (inersia) I
y
dari bidang luas A terhadap sumbu y,
kita tulis (Gambar 9.3a)

I
x
= y
2
dA I
y
= x
2
dA (9.1)


Integral ini dikenal sebagai momen kelembaman tegak lurus bidang luas A yang
dapat dihitung lebih mudah jika kita pilih dA sebagai suatu pita yang sejajar
dengan salah satu sumbu koordinat. Untuk menghitung I
x
, pita yang dipilih harus
sejajar sumbu x, sehingga titk-titik yang membentuk pita itu berjarak sama y dari
sumbu x (Gambar 9.3b); momen kelembaman dI
x
dari pita diperoleh dengan
mengalikan luas dA dari pita itu dengan y
2
. Untuk menghitung I
y
, pita yang dipilih
harus sejajar sumbu y sehingga titik yang membentuk pita berjarak sama x dari
sumbu y (Gambar 9.3c); momen kelembaman dI
y
dari pita itu adalah x
2
dA.



Gambar 9.3

Momen kelembaman bidang persegi panjang. Sebagai contoh kita akan
menentukan momen kelembaman persegi panjang terhadap dasarnya (Gambar
9.4). dengan membagi persegi panjang menjadi pita-pita yang sejajar sumbu x,
kita peroleh

dA = b dy dI
x
= y
2
b dy I
x
=

(9.2)

Menghitung Ix

dan I
y
dari pita elementer yang sama. Rumusan yang baru
saja diturunkan dapat dipakai untuk menentukan momen kelembaman dI
x

terhadap sumbu x dri suatu pita persegi panjang yang sejajar dengan sumbu y
seperti terlihat pada Gambar 9.3c. Dengan memasukkan b = dx dan h = y dalam
rumusan (9.2), kita tulis

dI
x
=

y
3
dx

Di pihak lain, kita peroleh

dI
y
= x
2
dA = x
2
y dx

Jadi elemen yang sama dipakai untuk menghitung momen kelembaman I
x
dan I
y

dari suatu bidang yang diketahui (Gambar 9.5)



9.4. Momen Kelembaman Kutub. Integral yang sangat penting dalm
persoalan yang menyangkut perputaran poros silindris dan dalam persoalan yang
menyangkut perputaran pelat adalah

J
0
= r
2
dA (9.3)

Dengan r menyatakan jarak dari elemen luas dA ke kutub 0 (Gambar 9.6).
Integral ini ialah momen kelembaman kutub bidang luas A terhadap 0.
Momen kelembaman (inersia) kutub dari suatu bidang dapat dihitung dari
momen kelembaman tegak lurus I
x
dan I
y
dari bidang tersebut jika integral ini
telah diketahui. Dengan memperhatikan bahwa r
2
= x
2
+ y
2
, kita tulis

J
0
= r
2
dA = (x
2
+ y
2
) = y
2
dA + x
2
dA

Jadi,

J
0
= I
x
+ I
y
(9.4)

9.5. Jari-jari Girasi suatu Bidang. Tinjau suatu bidang luas A yang
bermomen kelembaman

terhadap sumbu x (Gambar 9.7a). Mari kita bayangkan


bahwa konsentrasi bidang ini menjadi suatu pita tipis yang sejajar dengan sumbu
x (Gambar 9.7b). Jadi supaya bidang A yang berkonsentrasi mempunyai momen
kelembaman terhadap sumbu x, pita itu harus diletakkan pada jarak

dari sumbu
x yang didefinisikan melalui hubungan


Cari kx kita dapatkan




Jarak

dikenal sebagai jari-jari girasi dari bidang itu terhadap sumbu x. Kita
dapat mendefinisikan dengan cara yang sama pada jari-jari girasi

dan


(Gambar 9.7c dan d), kita tulis

(9.6)

A k =

(9.7)
Dengan mensubtitusikan J , I , dan I dinyatakan dalam jari-jari dalam
hubungan (9.4), kita lihat bahwa

(9.8)
Contoh. Sebagai contoh marilah kita hitung jari-jari girasi k dari
persegipanjang yang terlihat pada Gambar 9.8. Dengan menggunakan rumus (9.5)
dan (9.2), kita menuliskan





Jari-jari girasi k dari persegiempat yang diperlihatkan pada gambar 9.8.
Kita tidak boleh mengacaukannya dengan ordinat = dari titik berat bidang
tersebut. Kita mengetahui bahwa k bergantung pada momen kedua, atau momen
kelembaman bidang tersebut, sedangkan berhubungan dengan momen pertama
dari bidang yang bersangkutan.
CONTOH SOAL 9.1
Tentukan momen kelembaman (inersia) segitiga terhadap alasnya.
Jawaban. Segitiga yang alasnya b dan tingginya h terlihat pada gambar; sumbu x
diambil berimpit dengan alas. Dipilih pita diferensial yang sejajar dengan sumbu
x. Karena setiap bagian bidang berjarak sama terhadap sumbu x, kita tulis


Dari segitiga yang sebangun (sama) kita memeperoleh


Integrasi dl dari y = 0 hingga y = h diperoleh


CONTOH SOAL 9.2
(a) Tentukan momen kelembaman kutub terhadap titik berat suatu bidang
lingkaran dengan integrasi langsung.
(b) Dengan memakai hasil bagian a, tentukan momen kelembaman (inersia)
bidang lingkaran terhadap diameter.

a. Momen Kelembaman Kutub. Dipilih suatu elemen diferensial berbentuk
cincin. Karena setiap bagian elemen diferensial ini berjarak sama ketitik asalnya,
kita tulis


b. Momen kelembaman terhadap diameter. Karena simetri bidang lingkaran,
kita peroleh

. Kita bisa menulis



CONTOH SOAL 9.3
(a) Tentukan momen kelembaman bidang yang
dihitami pada gambar di sebelah ini terhadap masing-
masing sumbu koordinat. Bidang semacam ini telah
ditinjau dalam Contoh Soal 5.4.(b) Dengan memakai
bagian a, tentukan girasi bidang yang dihitami
terhadap masing-masing sumbu koordinat.
Jawaban. Mengacu pada Contoh soal 5.4, kita peroleh persamaan berikut ini
untuk menyatakan persamaan kurva itu dan luas totalnya.


Momen kelembaman

. Elemen diferensial
vertikal dari bidang ini kita pilih. Karena setiap
bagian dari elemen ini tidak berjarak sama dari
sumbu x, kita harus memperlakukannya sebagai
persegiempat tipis. Momen kelembaman elemen ini
terhadap sumbu x, adalah



Momen kelembaman

. Dipakai elemen diferensial vertikal yang


sama. Karena setiap bagian elemen berjarak sama dari sumbu y, kita tulis

( )



Jari-jari girasi

dan