Anda di halaman 1dari 14

BATERAI

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas pada Mata Kuliah Elektrokimia Semester Empat yang
Diampu oleh (NAMA DOSEN)
Disusun oleh :
Kelompok 2
Sri Eny Suharini 24030110120008
Daru Seto Bagus Anugrah 24030112130040








JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Dari awal ditemukan tahun 1880, terjadi perubahan pada bentuk kemasan,
bahan kemasan dan sistem produksi sehingga baterai lebih meningkat daya simpan
listriknya, memperpanjang umurnya dan lebih bisa diandalkan tetapi prinsip kerja
baterai sampai sekarang masih tetap sama dengan ketika pertama kali ditemukan.
Baterai kering yang sekarang mulai populer sebenarnya tidak benar-benar kering
karena listrik yang timbul pada baterai adalah karena terjadinya reaksi kimia.
Ditemukan pada pertengahan tahun 1970, cairan electrolyte pada baterai biasa di
baterai kering dibuat menjadi gel yang bersifat lembab sehingga walaupun
dimiringkan tidak akan terjadi tumpahan cairan electrolyte, beda dengan baterai basah
yang harus tetap tegak supaya cairan tidak tumpah. Baterai kering ukuran besar untuk
mobil dengan nama teknisnya VRLA (Valve Regulating Lead Acid), kemasan baterai
kering tidak sepenuhnya rapat tertutup, ada lubang kecil untuk jalan keluar gas yang
timbul karena reaksi kimia. Tetapi reaksi kimia yang menimbulkan listrik prinsipnya
sama dengan baterai basah biasa. Gel bisa menjadi kering (dehidrasi), dan
penambahan electrolyte hampir tidak mungkin dilakukan karena lubang untuk
memasukkan electrolyte tetutup rapat.

II. Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan baterai?
Bagaimana prinsip kerja dan cara kerja baterai?
Apa saja jenisjenis baterai?
Bagaimana cara mengatasi penyulfatan pada baterai?

III. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui definisi baterai serta bagianbagian
dalam baterai dan fungsinya. Mempelajari prinsip kerja baterai dan cara kerja baterai
saat mengeluarkan arus atau saat digunakan dan saat menerima arus. Serta
menjelaskan jenis-jenis baterai dan cara mengatasi penyulfatan pada baterai.





























BAB II
ISI

I. Pengertian Baterai
Baterai merupakan obyek kimia penyimpan arus listrik. Dalam sistem solar cell,
energi listrik dalam baterai digunakan pada malam hari dan hari mendung dikarenakan
intensitas sinar matahari bervariasi sepanjang hari. Baterai memberikan energi yang
konstan. Alat listrik-kimiawi yang menyimpan energi dan mengeluarkannya dalam
bentuk listrik. Baterai terdiri dari tiga komponen penting, yaitu: batang karbon sebagai
anoda (kutub positif baterai), seng (Zn) sebagai katoda (kutub negatif baterai), pasta
sebagai elektrolit (penghantar).
Reaksi yang terjadi didalam baterai adalah reaksi elektrokimia dimana reaksi
kimia yang dapat menghasilkan electron, pada baterai memiliki dua terminal. Terminal
pertama bertanda positif (+) dan terminal kedua bertanda negatif (-). Elektron-elektron
dikumpulkan pada kutub negatif. Jika kita menghubungkan kabel antara kutub negatif
dan kutub positif maka elektron akan mengalir dari kutub negatif ke kutub positif
dengan cepatnya. Selain kabel, sebuah penghubung atau Load dapat berupa light bulb,
sebuah motor atau sirkuit elektronik seperti radio.
Reaksi kimia pembentukan listrik:

Pada saat baterai dipakai maka pada permukaan plat timbul PbSO
4
(Timah Sulfat)
dan plat akan berkarang, disebut sebagai terjadinya sulfonasi. Pori-pori pada plat akan
tertutup sehingga electrolyte tidak bisa mengalir dengan lancar dan electrolyte menjadi
tidak asam karena SO
4
,
terikat pada timah. Pada recharging (baterai kembali di charge)
terjadi sebaliknya, PbSO
4

akan terurai menjadi Pb dan SO
4

dan SO
4

akan terikat
kembali dengan H
+

sehingga terjadi lagi H
2
SO
4
, larutan electrolyte akan kembali
menjadi asam.

Tetapi PbSO
4

yang larut kembali ke dalam electrolyte menjadi Pb dan
H
2
SO
4

tidak terjadi seluruhnya, masih ada tersisa kristal PbSO
4

yang melekat pada plat
elemen, dan semakin lama akan semakin menebal. Hal inilah yang menyebabkan
baterai lemah atau malah mati sama sekali.

Kadar asam, pada kondisi fully charge jadi
tidak bisa kembali pada angka 1.265, karena tidak semua PbSO
4
larut.


II. Prinsip Kerja Baterai
Baterai adalah perangkat yang mampu menghasilkan tegangan DC, yaitu
dengan cara mengubah energi kimia yang terkandung didalamnya menjadi energi
listrik melalui reaksi elektrokimia (redoks: reduksioksidasi). Baterai terdiri dari
beberapa sel listrik, sel listrik tersebut menjadi penyimpan energi listrik dalam bentuk
energi kimia. Sel baterai tersebut elektrodaelektroda. Elektroda negatif disebut
katoda, yang berfungsi sebagai pemberi elektron. Elektroda positif disebut anoda, yang
berfungsi sebagai penerima elektron. Antara anoda dan katoda akan mengalir arus,
yaitu dari kutub positif (anoda) ke kutub negatif (katoda). Sedangkan elektron akan
mengalir dari katoda menuju anoda. Terdapat dua proses yang terjadi pada baterai:
1. Proses Pengisian : proses pengubahan energi listrik menjadi energi kimia.
2. Proses Pengosongan : proses pengubahan energi kimia menjadi energi listrik.

III. Cara Kerja Baterai

Lapisan zink (Zn) yang berfungsi sebagai anoda atau kutub negatif, dimana lapisan ini
dilapisi oleh selubung baja.
Karbon yang berfungsi sebagai katoda atau kutub positif. Karbon diletakkan di tengah sel
dan terhubung pada tonjolan logam di bagian luar atas baterai.
Ruang antara batang karbon dan lapisan zink diisi pasta amonium klorida (NH
4
Cl) dan
zink klorida (ZnCl
2
).

Proses pada saat penggunaan baterai dimana pada saat penggunaan baterai maka
atom Zink (Zn) akan teroksidasi atau melepaskan elektron membentuk ion zink (Zn
2+
).
Elektron yang dibebaskan oleh atom zink (Zn) akan mengalir melalui sirkuit listrik
bagian luar sehingga menghasilkan listrik. Elektron ini selanjutnya kembali ke batang
karbon. Kemudian arus listrik akan terus mengalir sampai zink (Zn) habis terpakai.
Keadaan ini berarti baterai sudah tidak dapat digunakan kembali atau dikatakan habis,
karena baterai tidak dapat diisi kembali.
Proses saat baterai mengeluarkan arus dimana oksigen (O) pada pelat positif
terlepas karena bereaksi/bersenyawa/bergabung dengan hidrogen (H) pada cairan
elektrolit yang secara perlahan-lahan keduanya bergabung / berubah menjadi air (H
2
O).
Sedangkan asam (SO
4
) pada cairan elektrolit bergabung dengan timah (Pb) di pelat
positif maupun pelat negatif sehigga menempel dikedua pelat tersebut. Reaksi ini akan
berlangsung terus sampai isi (tenaga baterai) habis atau dalam keadaan discharge. Pada
saat baterai dalam keadaan discharge maka hampir semua asam melekat pada pelat-pelat
dalam sel sehingga cairan eletrolit konsentrasinya sangat rendah dan hanya terdiri dari air
(H
2
O), akibatnya berat jenis cairan menurun menjadi sekitar 1,1 kg/dm
3
dan ini
mendekati berat jenis air yang 1 kg/dm
3
sedangkan baterai yang masih berkapasitas
penuh berat jenisnya sekitar 1,285 kg/dm
3
. Pada perbedaan berat jenis inilah kapasitas isi
baterai bisa diketahui apakah masih penuh atau sudah berkurang yaitu dengan
menggunakan alat hidrometer. Selain itu pada saat baterai dalam keadaan discharge maka
85% cairan elektrolit terdiri dari air (H
2
O) dimana air ini bisa membeku, bak baterai
pecah dan pelat pelat menjadi rusak.
Proses saat baterai menerima arus dimana baterai yang menerima arus adalah
baterai yang sedang diisi dengan cara dialirkan listrik DC, dimana kutub positif baterai
dihubungkan dengan arus listrik positif dan kutub negatif dihubungkan dengan arus
listrik negatif. Tegangan yang dialiri biasanya sama dengan tegangan total yang dimiliki
baterai, artinya baterai 12 V dialiri tegangan 12 V DC, baterai 6 V dialiri tegangan 6 V
DC, dan dua baterai 12 V yang dihubungkan secara seri dialiri tegangan 24 V DC (baterai
yang duhubungkan seri total tegangannya adalah jumlah dari masing-masing tegangan
baterai : Voltase
1
+ Voltase
2
= Voltase
total
). Berapa kuat arus (ampere) yang harus dialiri
bergantung juga dari kapasitas yang dimiliki baterai tersebut. Konsekuensinya, proses
penerimaan arus ini berlawanan dengan proses pengeluaran arus, yaitu :
Oksigen (O) dalam air (H
2
O) terlepas karena bereaksi/bersenyawa/bergabung
dengan timah (Pb) pada pelat positif dan secara perlahan-lahan kembali menjadi
oksida timah colat (PbO
2
).
Asam (SO
4
) yang menempel pada kedua pelat (pelat positif maupun negatif)
terlepas dan bergabung dengan hidrogen (H) pada air (H
2
O) di dalam cairan
elektrolit dan kembali terbentuk menjadi asam sulfat (H
2
SO
4
) sebagai cairan
elektrolit. Akibatnya berat jenis cairan elektrolit bertambah menjadi sekitar
1,285 (pada baterai yang terisi penuh).


IV. Jenis-jenis Baterai
Baterai dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Baterai primer, yaitu baterai yang dapat digunakan sekali saja setelah energi yang ada
didalamnya habis digunakan.
a. Baterai Leclenche (Zn MnO2) baterai sel kering /Dry Cell. Merupakan jenis baterai
yang banyak digunakan sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Satu sel baterai
berkapasitas 1,5 volt. Kutub positif (anoda) mengunakan Zn dan kutub negatif
(Katoda) menggunakan MnO
2
Pada suhu tinggi kapasitas sel leclanche akan turun
dengan drastis, oleh sebab itu penyimpanan baterai ini harus ditempat yang bersuhu
rendah.
b. Baterai sel kering Magnesium (MgMnO
2
). Merupakan jenis baterai yang memiliki
konstruksi serupa dengan baterai seng. Memiliki kapasitas satu sel 1,5 volt. Kutub
positif (anoda) menggunakan Mg dan kutub negatif (katoda) menggunakan MnO
2
.
Baterai ini memiliki kelebihan kapasitas umur 2kali sel kering dan stabil pada
temperatur tinggi. Adapun kekurangannya yaitu tidak bisa dibuat sekecil mungkin.
Pada keadaan kerja akan timbul reaksi parasitik akibat dari pembuangan gas hidrogen.
c. Baterai MnO
2
Alkaline. Sama seperti dua jenis baterai diatas dan memiliki kapasitas
1,5 volt, hanya memiliki perbedaan pada segi konstruksi, elektrolitnya, dan tahanan
dalamnya lebih kecil. Baterai ini memiliki kelebihan, yaitu :
Pada proses pemakaian akan tetap pada rating yang dimiliki meskipun
pemakaiannya tak menentu.
Pada pembebanan tinggi dan terus menerus, mampu memberikan umur
pelayanan 210 kali pemakaian dari sel leclanche.
d. Sel Merkuri. Baterai ini pada anoda menggunakan Zn dan pada katoda menggunakan
Oksida Merkuri. Sedangkan pada elektrolit menggunakan Alkaline. Kapasitas
maksimal stabil yaitu 1,35 volt yang biasa digunakan pada tegangan referensi.
Kapasitas dari baterai ini dapat sampai 1,4 volt bila katodanya Oxida Merkuri atau
Oxida Mangan. Segi ukuran berdiameter dari 3/8 1 inchi.
e. Sel Oksida Perak (AgO2). Baterai ini pada katoda menggunakan serbuk elektrolit
alkaline dan pada anoda menggunakan oksida perak. Teganagan pada Open Circuit
yaitu 1,6 volt dan tegangan nominal pada beban sebesar 1,5 volt apabila katodanya
oksida merkuri atau oksida mangan. Segi ukuran baterai ini sebesar 0.30.5 inchi.
Biasa digunakan untuk kamera, alat bantu pendengaran, dan jam elektronik.
f. Baterai Litium. Jenis baru dari sel primer, yang mempunyai tegangan out-put yang
tinggi, memiliki umur yang panjang, ringan dan kecil. Sehingga baterai ini digunakan
untuk pemakaian khusus. Tegangan out-put tanpa beban sebesar 2,9 volt atau 3,7 volt,
tergantung dari elektrolit yang digunakan. Penggunaan litium sangat terbatas, biasa
digunakan dalam bidang militer, karena apabila tidak hati-hati dalam penggunaan bisa
meledak.
2. Baterai sekunder yaitu baterai yang biasa digunakan berkali kali dengan mengisi kembali
muatannya apabila telah habis energinya setelah pakai.
a. Baterai asam timbal

Baterai jenis asam timbal tersusun atas timbal dioksida sebagai katoda, sepon logam
timbal sebagai anoda dan asam sulfat sebagai elektrolitnya. Setiap sel memiliki tegangan
sebesar 2 volt. Keuntungan penggunaan baterai jenis asam timbal diantaranya adalah
kuat, murah, handal, toleran terhadap kelebihan pengisian, impedansi internal yang
rendah, dan banyaknya perusahaan pembuat baterai jenis ini di berbagai belahan dunia.
Sedangkan kekurangan dari baterai jenis SLI ini diantaranya adalah sangat berat,
memiliki efisiensi energi yang rendah (sekitar 70%), berbahaya jika kelebihan panas pada
saat pengisian, memiliki waktu siklus yang rendah (300-500 siklus), dan materialnya
berbahaya bagi lingkungan. Dengan memodifikasi elektroda dan susunan internal baterai,
jenis-jenis baterai asam timbal dapat dibedakan menjadi baterai timbal-kalsium, baterai
timbal-antimoni dan baterai asam timbal yang elektrolitnya terpisah (sealed lead acid
SLA).
b. Baterai Nikel Kadmium

Baterai jenis ini memiliki tegangan sel sebesar 1,2 volt dengan kerapatan energi dua kali
lipat dari baterai asam timbal. Sebagai katoda, baterai ini menggunakan nikel hidroksida
Ni(OH)
2
dan kadmium (Cd) sebagai anodanya yang dipisahkan oleh alkalin potasium
hidroksida sebagai elektrolitnya. Baterai nikel kadmium memiliki nilai hambatan intenal
yang kecil dan memungkinkan untuk di charge dan discharge dengan rate yang tinggi.
Umumnya baterai jenis ini memiliki waktu siklus hingga lebih dari 500 siklus. Salah satu
kekurangan baterai jenis nikel kadmium adalah adanya efek ingatan (memory effect)
yang berarti bahwa baterai dapat mengingat jumlah energi yang dilepaskan pada saat
discharge sebelumnya. Efek ingatan disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada
struktur kristal elektrode ketika baterai nikel kadmium diisi muatan listrik kembali
sebelum seluruh energi listrik yang terdapat pada baterai nikel kadmiun
dikeluarkan/digunakan. Selain itu, baterai nikel kadmium juga sangat sensitif terhadap
kelebihan pengisian, sehingga perlu perhatian khusus pada saat pengisian muatan listrik
pada baterai.
c. Baterai Nikel Metal Hidrida

Baterai jenis ini memiliki karakteristik yang sama dengan baterai nikel kadmium.
Perbedaannya terletak pada penggunaan material untuk anodanya. Bila pada baterai nikel
kadmium, kadmium digunakan sebagai anoda, maka pada baterai jenis ini metal hidrida
yang digunakan. Metal hidrida terbuat dari campuran lanthanium yang dapat menyerap
dan menghasilkan hidrogen. Baterai jenis ini memiliki kerapatan energi dua kali lebih
besar dibandingkan dengan baterai jenis asam timbal dan 40 % lebih tinggi dibandingkan
dengan baterai nikel kadmium. Keuntungan penggunaan baterai jenis nikel metal hidrida
diantaranya adalah rendahnya impedansi internal, memiliki siklus hidup sebesar 500
siklus, dan memiliki kedalaman pelepasan energi listrik yang tinggi. Selain itu baterai ini
juga cenderung lebih ramah lingkungan karena tidak mengandung kadmium, raksa
maupun timbal. Adapun kekurangan baterai nikel metal hidrida yang paling menonjol
yaitu tingginya kecepatan pelepasan muatan sendiri (self-discharge), adanya efek ingatan
dan memiliki efisiensi energi yang cukup rendah (65%).

V. Penyulfatan
Baterai bila digunakan ataupun tidak, akan mengeluarkan isinya (maksudnya
tenaga baterai keluar/berkurang bukan cairan elektrolit). Bila sedang tidak digunakan
maka pengeluaran tersebut terjadi secara perlahan yang biasa disebut pengeluaran isi
sendiri (self discharge). Cepat atau lambatnya pengeluaran dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya adalah suhu elektrolit. Sebuah baterai tak terpakai yang berisi penuh
akan habis isinya dalam jangka waktu 3 bulan jika elektrolit memiliki suhu 40
0
C,
sedangkan makin dingin suhunya maka makin lambat isi berkurang. Contoh : elektrolit
yang bersuhu 20
0
C isinya hanya akan hilang setengah bagian (50%) dalam 3 bulan, dan
yang bersuhu 15
0
C isinya hanya akan berkurang sebesar 7-8% dalam 3 bulan. Baterai
yang sedang mengeluarkan isinya sendiri secara perlahan akan menyulfat. Pengertian
penyulfatan adalah sulfat timah (PbSO
4
) yang terbentuk selama pengeluaran membuat
bahan aktif menjadi keras dan mati. Penyulfatan kadang-kadang bisa dihilangkan dengan
pengisian lambat (slow charge) sehingga bagian-bagian dari timah sulfat (PbSO
4
)
mencapai harga yang normal. Penyulfatan yang sudah terlalu banyak pada satu baterai
tidak mungkin dihilangkan, baterai ini harus diganti. Penggantian cairan elektrolit (biasa
dikenal dengan pengurasan) tidak akan membantu karena yang sudah rusak disini adalah
pelat-pelatnya, kalaupun berhasil memiliki kapasitas setelah dikuras, dalam waktu yang
sangat singkat (tergantung pada tingkat kerusakan pelat-pelatnya) baterai akan lemah
(drop) kembali.

VI. Mengatasi Penyulfatan
Cara mengatasi penyulfatan adalah
Baterai yang tak terpakai disimpan pada ruangan yang bersuhu rendah (suhu yang
lebih dingin).
Baterai yang tak terpakai diisi dengan arus pengisian yang sangat rendah yaitu
dengan pengisian perawatan (maintenance charge) sampai penuh atau baterai
diisi secara teratur tiap bulan.
Metode yang paling baik adalah dengan pengisian perawatan (maintenance
charge), artinya kita harus memiliki alat pengisi (charger) (lebih baik lagi kalau kuat arus
dari alat tersebut bisa kita atur kuat lemahnya) yang secara otomatis menghentikan proses
pengisian jika baterai sudah terisi penuh dan kembali menghidupkan proses pengisian
jika isi baterai mulai berkurang (memiliki fitur deteksi). Jika tidak ada fitur otomatisasi
maka terpaksa yang kita lakukan adalah mengisi baterai secara penuh menggunakan
pengisian lambat (slow charge) tiap bulan.














BAB III
KESIMPULAN

Baterai adalah alat listrik-kimiawi yang menyimpan energi dan mengeluarkannya dalam
bentuk listrik. Baterai terdiri dari tiga komponen penting, yaitu: batang karbon sebagai anoda
(kutub positif baterai), seng (Zn) sebagai katoda (kutub negatif baterai), pasta sebagai elektrolit
(penghantar). Jenis baterai dibagi 2, yaitu baterai primer dan baterai sekunder.















DAFTAR PUSTAKA

Hudaya, Chairul, 2011, Jenis Jenis Baterai Sekunder, dalam http://hudaya.wordpress.com/
2011/08/03/jenis-jens-baterai-sekunder

Rochman, Fatur, 2008, Cara Kerja Baterai, dalam http://kimiaunsps2.wordpress.com/2008
/12/15/terapan/ diakses tanggal 3 juni 2012

http://edukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Modul%20Online/view&id=1
9&uniq=all