Anda di halaman 1dari 28

1

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk Jakarta Barat

KEPANITERAAN KLINIK
UJIAN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
RS MARDI RAHAYU, KUDUS, JAWA TENGAH

Nama : Caroline Saputro
Nim : 11-2012-164
Tandatangan

............................................

Dr Pembimbing / Penguji :Dr Rosalia, Sp.M


.............................................


I. INDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Jenis kelamin: Perempuan
Umur : 50 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Kemayoran,Jakarta Pusat.

II. ANAMNESIS
Autoanamnesis pada tanggal 1 Maret 2010 pukul 11.00 WIB
2

Keluhan Utama : Mata merah disertai dengan penglihatan kabur pada mata kiri
sejak 2 minggu yang lalu.
Keluhan Tambahan : Mata kiri terasa sedikit nyeri, adanya perasaan silau jika melihat
cahaya, kelilipan dan seperti ada yang mengganjal.

Riwayat penyakit sekarang :
OS datang ke poliklinik mata RSMR dengan keluhan mata kiri merah disertai dengan
penglihatan kabur sejak 2minggu yang lalu. OS merasakan sedikit nyeri, adanya perasaan
silau jika melihat cahaya, kelilipan dan seperti ada yang mengganjal pada mata kiri. Pada
mata kanan tidak dirasakan adanya gangguan.
1 hari setelah mata kiri merah, OS mencoba memakai tetes mata dan ada perbaikan
setelah 4 hari pemakaian, namun saat tidak diberi tetes mata, mata kembali menjadi merah,
lalu OS ke dokter umum dan sekarang mata merahnya sudah mulai mereda.
Pasien tidak mengeluh matanya berair dan kotor. Serta tidak ada nyeri pada kelopak
mata. Pasien tidak mendapat kesukaran jika melihat dekat. Pasien tidak memiliki riwayat
penyakit seperti TBC, sakit persendian, herpes simpleks ataupun penyakit sistemik lain.
Pasien tidak memiliki riwayat operasi mata intraokuler sebelumnya seperti operasi katarak,
vitrektomi atau trabekulektomi. dan riwayat trauma tembus bola mata. Pasien menyangkal
mempunyai riwayat trauma ataupun trauma tembus bola mata. , benturan ataupun terpukul
pada ke dua daerah matanya.
Kelopak mata tidak bengkak, dan tidak sulit dibuka. Bola mata dapat digerakkan dan
tidak terasa nyeri saat digerakkan. Tidak ada mual, muntah, dan sakit kepala. Keluhan suka
menabrak-nabrak bila sedang berjalan dan melihat pelangi atau lingkaran disekitar sumber
cahaya disangkal oleh pasien.
Pasien tidak pernah menggunakan lensa kontak, tidak pernah ada trauma terkena
ranting pohon, sebelumnya tidak mengalami sakit mata, tidak memiliki alergi atau berada
dalam pengobatan steroid.
3


Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat Diabetes : disangkal.
Riwayat Hipertensi : disangkal.
Riwayat Trauma Mata : disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat Diabetes : disangkal.
Riwayat Hipertensi : disangkal.

III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda-Tanda Vital
- Tekanan Darah : Tidak diperiksa.
- Nadi : Tidak diperiksa.
- Suhu : Afebris.
- Pernafasan : Tidak diperiksa.
Kepala : Normocephal.
THT : Tidak diperiksa.
Leher : Tidak diperiksa.
Jantung / Paru-paru : Tidak diperiksa.
Abdomen : Tidak diperiksa.
Ekstremitas : Akral hangat, udema (-).

B. Status Oftalmologi
4

1. Visus
KETERANGAN OD OS
Tajam penglihatan 5/60 (PH maju) 0.5 (PH tidak maju)
Koreksi S-2,75 C-0,5 50

C-0,75 10


Addisi - +2.00 J2
Distansia Pupil 58/56 mm
Kacamata lama Tidak ada

2. Kedudukan Bola Mata
KETERANGAN OD OS
Eksoftamus Tidak ada Tidak ada
Endoftalmus Tidak ada Tidak ada
Deviasi Tidak ada Tidak ada
Gerakan bola mata Baik ke segala arah Baik ke segala arah

3. Supra silia
KETERANGAN OD OS
Warna Hitam Hitam
Letak Simetris Simetris

4. Palpebra Superior dan Inferior
5

KETERANGAN OD OS
Edema Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Ektropion Tidak ada Tidak ada
Entropion Tidak ada Tidak ada
Blefarospasme Tidak ada Tidak ada
Trikiasis Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Fissura palpebra 12 mm 12 mm
Ptosis Tidak ada Tidak ada
Hordeolum Tidak ada Tidak ada
Kalazion Tidak ada Tidak ada
Pseudoptosis Tidak ada Tidak ada

5. Konjungtiva Tarsalis Superior dan Inferior
KETERANGAN OD OS
Hiperemis Tidak ada Tidak ada
Folikel Tidak ada Tidak ada
Papil Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
6

Anemia Tidak ada Tidak ada

6. Konjungtiva Bulbi
KETERANGAN OD OS
Injeksi konjungtiva Tidak ada Tidak ada
Injeksi Siliar Tidak ada Ada
Perdarahan subkonjungtiva Tidak ada Tidak ada
Pterigium Tidak ada Tidak ada
Pinguekula Tidak ada Tidak ada
Nevus Pigmentosus Tidak ada Tidak ada
Kista dermoid Tidak ada Tidak ada
Kemosis Tidak ada Tidak ada

7. Sistem Lakrimalis
KETERANGAN OD OS
Punctum Lacrimal Terbuka Terbuka
Tes anel Tidak dilakukan Tidak dilakukan

8. Sklera
KETERANGAN OD OS
7

Warna Putih Putih
Ikterik Tidak ikterik Tidak ikterik

9. Kornea
KETERANGAN OD OS
Kejernihan Jernih Jernih
Permukaan Licin Licin
Ukuran 12 mm 12 mm
Sensibilitas Baik Menurun
Infiltrat Tidak ada Ada
Ulkus Tidak ada Tidak ada
Perforasi Tidak ada Tidak ada
Arkus senilis Ada Ada
Edema Tidak ada Tidak ada
Tes Placido Tampak bayangan
kosentris
Tampak bayangan
kosentris


10. Bilik Mata Depan
KETERANGAN OD OS
Kedalaman Dalam Dalam
8

Kejernihan Jernih Jernih
Hifema Tidak ada Tidak ada
Hipopion Tidak ada Tidak ada
Efek Tyndall Tidak diperiksa Tidak diperiksa

11. Iris
KETERANGAN OD OS
Warna Coklat Coklat
Kriptae Jelas Jelas
Bentuk Bulat Bulat
Sinekia Tidak ada Tidak ada
Koloboma Tidak ada Tidak ada

12. Pupil
KETERANGAN OD OS
Letak Di tengah Di tengah
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran 3 mm 3 mm
Refles cahaya langsung Positif Positif
Refleks cahaya tidak langsung Positif Positif

9

13. Lensa
KETERANGAN OD OS
Kejernihan Jernih Jernih
Letak Ditengah Ditengah
Shaddow Test Negatif Negatif

14. Badan Kaca
KETERANGAN OD OS
Kejernihan Jernih Jernih




15. Fundus Okuli
KETERANGAN OD OS
a. Papil
Bentuk Bulat Bulat
Batas Tegas Tegas
Warna Kuning kemerahan Kuning kemerahan
CD ratio 0,3 mm 0,3 mm
10

Ratio AV 2:3 2:3
b. Makula Lutea
Refleks Positif Positif
Edema Tidak ada Tidak ada
c. Retina
Perdarahan Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada

16. Palpasi
KETERANGAN OD OS
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Massa Tumor Tidak ada Tidak ada
Tensi Okuli Normal / palpasi Normal / palpasi
Tonometri Schiotz Tidak dilakukan Tidak dilakukan

17. Kampus Visi
KETERANGAN OD OS
Tes Konfrontasi Sesuai dengan pemeriksa Sesuai dengan pemeriksa

IV. RESUME
11

Pasien perempuan, 50 tahun, datang ke poli Mata RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan
mata merah dan penurunan penglihatan pada mata kiri sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan disertai
rasa nyeri, adanya perasaan silau jika melihat cahaya, kelilipan dan seperti ada yang mengganjal
pada mata yang sama. Pada mata kanan, pasien tidak mengeluh adanya gangguan. Pasien tidak
memiliki riwayat diabetes, hipertensi dan trauma pada mata. Riwayat penyakit yang sama pada
keluarga disangkal oleh pasien. Riwayat memakai lensa kontak, terkena ranting pohon dan daun
disangkal oleh pasien.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dan status generalis dalam batas normal.
Sedangkan status oftamologi didapatkan :
Tajam penglihan :
OD : 5/60 (PH maju)
Koreksi : S-2,75 C-0,5 x 50


OS : 0.5 (PH tidak maju)
Koreksi : C-0,75x10

addisi +2 J2
Konjungtiva Bulbi : injeksi siliar OS (+)
Kornea OS : infiltrat (+), sensibilitas kornea menurun.



V. DIAGNOSIS KERJA
OD : Astigmatismus miopikus kompositus
OS : Astigmatismus miopikus simpleks
Keratitis Numularis.

VI. DIAGNOSIS BANDING
1. Ulkus kornea
2. Uveitis
3. Opthalmia Simpatika
4. Endoftalmitis
5. Panoftalmitis
12

6. Hifema

VII. ANJURAN PEMERIKSAAN
1. Slit lamp
2. Tes fluoresin

VIII. PENATALAKSANAAN
1. Memakai kacamata
2. Medikamentosa :
- Air mata buatan Cendo eye fresh eye drops 6 x 1 tetes
- Acyclovir Cendo Hervid eye ointmnent 3 x 1

IX. PROGNOSIS
ODS
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad fungtionam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam
Analisa Kasus

Diagnosis pada pasien ini berdasarkan :
o Anamnesis
a. Keluhan utama dan tambahan pada pasien ini :
Mata merah disertai dengan penurunan penglihatan pada mata kiri, disertai sedikit
nyeri, adanya perasaan silau jika melihat cahaya, kelilipan dan seperti ada yang
mengganjal. Keluhan ini dirasakan sejak 1 bulan yang lalu.
b. Pasien menyangkal :
13

- Nyeri pada kelopak mata, dan sukar melihat dekat.
- Riwayat penyakit seperti TBC, sakit persendian, herpes simpleks, ataupun penyakit
sistemik lain.
- Riwayat operasi mata intraokuler sebelumnya.
- Riwayat trauma, benturan ataupun terpukul pada kedua matanya.
- Bola mata nyeri pada saat digerakkan dan tidak bisa bergerak.
- Menggunakan lensa kontak, ada trauma terkena ranting pohon, memiliki alergi atau
berada dalam pengobatan steroid.
o Pemeriksaan Fisik
- Tes Sensibilitas Kornea pada mata di kiri menurun.
- Infiltrat (+)

Dengan keluhan seperti ini, maka kelainan mata pada pasien dapat dikelompokkan dalam
kelompok mata merah visus turun, dengan kemungkinan keratitis.


Tinjauan Pustaka

Anatomi dan Fisiologi Kornea
Tes Sensibilitas Kornea pada mata di kiri menurun.
- Infiltrat berkelompok (+)
14


Kornea adalah jaringan transparan avaskuler, jernih dan bening menutup bola mata bagian
depan. Merupakan media refraksi utama yang harus dijaga kejernihannya, sehingga dapat
ditembus oleh cahaya.
Kornea disisipkan ke sklera di limbus, lekuk melingkar pada persambungan ini disebut
sulkus skleralis. Batas antara kornea dan sklera disebut limbus. Kornea dewasa rata-rata
mempunyai tebal 0,54mm di tengah, sekitar 0,65mm di tepid an diameternya sekitar 11,5mm.
Dari anterior ke posterior, kornea mempnyai lima lapisan :
1. Lapisan Epitel
o Epitel kornea merupakan lapisan paling luar kornea. Tebalnya 50 m, terdiri atas 5 lapis
sel epitel tanpa tanduk yang saling tumpang tindih.
o Bagian terbesar ujung saraf kornea berakhir pada epitel ini. Sehingga, setiap
gangguan epitel akan memerikan gangguan sensibilitas kornea berupa rasa sakit atau
mengganjal.
o Daya regenerasi epitel cukup besar sehingga apabila terjadi kerusakan, akan
diperbaiki dalam beberapa hari tanpa membentuk jeringan parut.
2. Membran Bowman
o Terletak dibawah epitel merupakan suatu membran tipis yang homogeny terdiri atas
sususnan serat kolagen kuat yang mempertahankan bentuk kornea.
15

o Bila terjadi kerusakan pada membran Bowman maka akan berakhir dengan
terbentuknya jaringan parut.
3. Stroma
o Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan
lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat
ini bercabang,terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang
kadang-kadang sampai 15 bulan.
o Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara
serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen
dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.
4. Membran Descement
o Merupakan membrane asesular dan merupakan batas belakang stroma kornea
dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya.
o Bersifat sangat elastik dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m.
5. Endotel
o Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20-40m. endotel
melekat pada membrane descement.
o Endotel tidak mempunyai daya regenerasi.


16



Transparansi kornea disebabkan oleh strukturnya yang seragam, avaskularitasnya, dan
deturgensinya. Deturgesens, atau keadaan dehidrasi relative jaringan kornea, dipertahankan oleh
fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam mekanisme
dehidrasi, dan cedera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada
epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan.
Sebaliknya, cedera pada epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat stroma kornea,yang akan
menghilang bila sel-sel epitel itu beregenerasi. Pengupan air dari film air mata prakornea
berakibat film air mata menjadi hipertonik, proses itu dan penguapan langsung adalah faktor-
faktor yang menarik air dari stroma kornea superficial untuk mempertahankan keadaan dehidrasi.
Kornea mendapat nutrisi dari pembuluh darah-pembuluh darah limbus, humor aquaeus, dan
air mata. Kornea superficial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfer. Saraf-saraf
sensorik kornea didapat dari percabangan pertama nervus trigeminus.




17

Keratitis
Keratitis adalah radang pada kornea, karena terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea
yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. Akibat terjadinya kekeruhan pada media
kornea ini, maka tajam penglihatan akan menurun. Mata menjadi merah akibat injeksi pembuluh
darah perikorneal yang dalam atau injeksi siliar. Keratitis termasuk dalam golongan penyakit
mata mata merah dan visus menurun.
Etiologi
Keratitis bisa disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
a. Infeksi : bakteri, virus, jamur, Acanthamoeba
b. Mata Kering
c. Keracunan obat
d. Alergi
e. Konjungtivitis kronis
f. Trauma
g. Lagoftalmus

Klasifikasi
Biasanya di klasifikasikan dalam lapis kornea yang terkena, keratitis superfisialis dan keratitis
profunda (interstisialis).
Keratitis Superfisialis
Mengenai lapisan epitel atau Bowman. Bentuk-bentuk klinik keratitis superfisialis antara lain:
a. Keratitis Pungtata Superfisialis
Infiltrat berupa bintik-bintik putih atau bercak-bercak halus pada permukaan kornea
superficial dan hijau bila diwarnai fluoresein. Dapat disebabkan oleh:
o Berbagai penyakit infeksi virus, antara lain virus herpes simpleks, herpes zoster,
dan vaksinia.
18

o Sindrom dry eye
o Blefaritis
o Keratopati logaftalmus
o Keracunan obat topikal (neomisin, tobramisin,dll)
o Sinar ultra violet
o Trauma kimia ringan
o Pemakaian lensa kontak.
Pasien diberi airmata buatan, tobramisin tetes mata, dan siklopegik.
Pasien akan mengeluh sakit, silau, mata merah dan rasa kelilipan.

b. Keratitis Flikten
Benjolan putih yang bermula di limbus tetapi mempunyai kecenderungan untuk
menyerang kornea.

c. Keratitis Sika
Suatu bentuk keratitis yang disebabkan oleh kurangnya sekresi kelenjar lakrimal atau sel
goblet yang ada di konjungtiva. Menyebabkan keringnya permukaan kornea dan
konjungtiva (keratokonjungtivitis Sika).
Kelainan ini terjadi pada penyakit yang mengakibatkan:
1. Defisiensi komponen lemak air mata. Misalnya : blefaritis menahun, distikiasis an
akibat pembedahan kelopak mata.
2. Defisiensi kelenjar air mata: Sindrom Syorgen, sindrom Riley Day, alakrimia
kongenital, aplasi kongenital sara trigeminus, sarkoidosis limfoma kelenjar air mata,
obat obat diuretik, atropine dan usia tua.
3. Defisiensi komponen musin : Benign ocular pempigoid, defisiensi vitamin A, trauma
kimia, sindrom Stevens Johnson, penyakit penyakit yang mengakibatkan cacatnya
konjungtiva.
4. Akibatnya penguapan yang berlebihan seperti pada keratitis neroparalitik, hidup di
gurun pasir, keratitis lagoftalmus.
5. Karena parut pada kornea atau menghilangnya mikrovil kornea.
19

Pasien mengeluh mata gatal, seperti berpasir, silau, dan penglihatan kabur. Pada
mata didapatkan sekresi mucus berlebihan, sukar menggerakkan kelopak mata. Mata
kering karena dengan erosi kornea. Pada pemeriksaan lama celah didapatkan miniskus air
mata pada tepi kelopak mata bawah hilang, edema konjungtiva bulbi, filament (benang
benang) melekat di kornea.
Tes pemeriksaan :
1. Tes Schirmer. Bila resapan air mata pada kertas Schimer kurang dari 10 mm
dalam 5 menit dianggap abnormal.
2. Tes zat warna Rose Bengal konjungtiva.
Pada pemeriksaan ini terlihat konjungtia berwarna titik merah karena jaringan
konjungtiva yang mati menyerap zat warna.
3. Tear film break time up. Waktu antara kedip lengkap sampai timbulnya bercak
kering sesudah mata dibuka minimal terjadi sesudah 15 20 detik, tidak pernah
kurang dari 10 detik.
Pengobatan :
Tergantung pada penyebabnya :
Pemberian air mata tiruan bila kurang adalah komponen air.
Pemberian lensa kontak apabila komponen mucus yang berkurang.
Penutupan pungtum lakrima bila terjadi penguapan yang berlebihan
Penyulit keratokonjungtivitis suka adalah ulkus kornea, kornea tipis, infeksi sekunder
oleh bakteri dan kekeruhan dan neovskularisasi kornea.

d. Keratitis Lepra
Suatu bentuk keratitis yang diakibatkan oleh gangguan trofik saraf, disebut juga keratitis
neuroparalitik.

e. Keratitis Numularis
Diduga disebabkan oleh virus . Klinis tanda-tanda radang tidak jelas, di kornea terdapat
infiltrat bulat-bulat subepitelial, diman ditengahnya lebih jernih dan tepinya berbatas
tegas sehingga memberikan gambaran halo. Halo ini terjadi karena resorpsi dari infiltrat
20

yang dimulai ditengah. Keratitis ini berjalan lambat yang sering terdapat unilateral pada
petani sawah. Bila sembuh meninggalkan sikatrik yang ringan.


Pengobatan :
Air mata buatan
Antivirus
Kortikosteroid
Antibiotik
Komplikasi :
- Penurunan visus yang berat dapat terjadi sebagai akibat dari kekeruhan subepitel dari
kornea
- Jaringan parut pada kornea
Prognosis : dengan terapi yang adekuat & cepat prognosis umumnya baik.




21

Keratitis Profunda (Interstitialis)
Apabila mengenai lapisan stroma. Bentuk-bentuk klinik keratitis profunda antara lain:
a. Keratitis Interstitial leutik (keratitis sifilis kongenital)
keratitis interstisial merupakan keratitis nonsupuratif profunda disertai dengan
neovaskularisasi. Biasnya memberikan keluhan fotofobia, lakrimasi dan menurunnya
visus. Pada keratitis interstitial maka keluhan bertahan seumur hidup.
Seluruh kornea keruh sehingga iris sukar dilihat. Permukaan kornea seperti permukaan
kaca. Terdapat injeksi siliar disertai serbukan pembuluh kedalam sehingga memberikan
gambaran merah kusam atau salmon patch. Seluruh kornea dapat berwarna merah
cerah.
Biasanya ditemukan tanda-tanda sifilis congenital lain, seperti hidung pelana (sadlenose)
dan tria Hutchinson, dan pemeriksaan serologic yang positif terhadap sifilis.
Selain diterapi penyebabnya, deiberikan sulfas atropine tetes mata untuk mencegah
sinekia akibat terjadinya uveitis dan kortikosteroid tetes mata.

b. Keratitis Sklerotikans.
Kekeruhan berbentuk segitiga pada kornea yang menyertai radang sklera atau skleritis.
Sampai saat ini tidak diketahui apa yang menyebabkan terjadinya proses ni. Namun
diduga karena terjadi perubahan susunan serat kolagen yang menetap. Perkembangan
kekeruhan kornea ini biasanya terjadi akibat proses yang berulang ulang yang selalu
memberikan sisa sisa baru sehingga defek makin luas bahkan dapat mengenai seluruh
kornea.
Keratitis sklerotikans akan memberikan gejala berupa kekeruhan kornea yang
terlokalisasi dan berbatas tegas unilateral. Kadang kadang dapat mengenai seluruh
limbus. Kornea terlihat putih menyerupai sklera. Pengobatannya dapat diberikan steroid
dan akan memberikan prognosis yang baik dan fenil butazon.





22


1. Keratitis Marginal
Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus. Penyakit
infeksi lokal konjungtiva dapat mengakibatkan keratitis kataral atau keratitis marginal. Keratitis
marginal kataral biasanya terdapat pada pasien setengah umur dengan adanya
blefarokonjungtivitis.
Biasanya bersifat rekurent, dengan kemungkinan terdapatnya S.pneumonia, H.aegepty,
M. lacunata, dan Eschiricia. Infiltrasi dan tukak yang terlihat diduga merupakan timbunan
kompleks antigen-antibodi. Penderita akan mengeluh sakit seperti keliipan, lakrimasi, disertai
fotofobia berat. Pada mata akan terlihat blefarospasme pada satu mata, injeksi konjungtiva,
infiltrat atau ulkus yang memanjang, dangkal unilateral dapat tunggal atau multipel, sering
disertai neovaskularisasi dari arah limbus.
Bila tidak diobati dengan baik maka akan mengakibatkan tukak kornea. Pengobatan yang
diberikan adalah antibiotika yang sesuai dengan penyebabnya dab steroid dosis ringan. Pada
pasien dapat diberikan Vit B dan C dosis tinggi. Pada kelainan yang indolen dilakukan
kauteterisasi dengan listrik ataupun AgNO3 di pembuluh darahnya atau dilakukan flep
konjungtiva yang kecil. Penyulit yang terjadi berupa jarinan parut pada kornea yang akan
menggangu penglihatan atau ulkus meluas dan menjadi lebih dalam. Keratitis marginalis
Trakomatosa merupakan keratitis dengan pembentukan membran pada kornea atas. Keadaan ini
aka membentuk pannus, berupa keratitis dengan neovaskularisasi.
2. Keratitis Bakterial
Disebabkan oleh bakteri seperti Staphylococcus, Pseudomonas, Enterobacteriacea.
Pengobatan antibiotika dapat diberikan pada keratitis bacterial dini. Biasanya pengobatan dengan
dasar berikut:
Gram (-) : Tobramisin, Gentamisin, Polimiksin
Gram (+) : Cefazolin, vacomyxin, Basitrasin
Biasanya pengobatan diberikan setiap 1 jam. Siklopegik diberikan untuk istirahat mata.

23

3. Keratitis Jamur
Biasanya dimulai dengan suatu rudapaksa pada kornea oleh ranting pohon, daun dan
bagian tumbuh-tumbuhan. Jamur yang dapat mengakibatkan keratitis adalah Fusarium,
Cephalocepharium, dan Curvularia. Bisa juga disebabkan oleh pemakaian antibiotic dan
kortikosteroid yang tidak tepat.
Keluhan baru timbul setelah 5 hari atau 3 minggu kemudian. Pasien akan mengeluh sakit
mata yang hebat, berair, dan silau. Pada mata dapat terlihat infiltrat berhifa dan satelit bila jamur
terletak pada stroma. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10%
terhadap kerokan kornea (kornea swab), menunjukkan adanya hifa.
Pengobatan dengan Natamisin 5% setiap 1-2 jam saat bangun. Anti jamur lain seperti
miconazole, amfoterisin, nistatin. Diberikan siklopegik disertai obat oral antiglaukoma bila
timbul peningkatan TIO. Bila tidak berhasil diatasi maka dilakukan keratoplasti. Penyulit yang
dapat terjadi adalah endoftalmitis.

4. Keratitis Virus
Keratitis Herpetik
Keratitis herpetic disebabkan oleh herpes simpleks dan herpes zoster.
Yang disebakan herpes simpleks dibagi dalam 2 bentuk yaitu epitelal dan stromal. Epithelial
adalah dendritik. Stromal adalah diskiformis.

Pengobatan :
IDU merupakan obat antiviral yang murah, bersifat tidak stabil. Bekerja dengan
menghambat sintesis DNA virus dan manusia, sehingga bersifat toksik untuk epitel normal dan
tidak boleh dipergunakan lebih dari 2 minggu. Terdapat dalam larutan 1 % dan diberikan setiap
jam. Salep 0.5% diberikan setiap 4 jam.
Vibrabin sama dengan IDU, akan tetapi hanya terdapat dalam bentuk salep. Trifluorotimidin
(TFT) sama dengan IUD, diberikan 1% setiap 4 jam. Acyclovir, bersifat selektif terhadap sintesis
DNA virus. Dalam bentuk salep 3% yang diberikan setiap 4 jam. Sama efektif dengan antivirus
lain akan tetapi dengan efek samping yang kurang.


24

Infeksi Herpes zoster
Virus herpes zoster dapat memberikan infeksi pada ganglion Gaseri saraf trigeminus. Bila
yang terkena ganglion cabang oftalmik maka akan terlihat gejala-gejala herpes zoster pada mata.
Gejala ini tidak akan melampui garis median kepala. Biasanya herpes zoster akan mengenai
orang dengan usia lanjut. Keratitis vesikuler dapat terjadi akibat herpes zoster.
Timbul gejala rasa sakit pada daerah yang terkena dan badan berasa hangat, penglihatan
berkurang dan merah. Pada kelopak akan terlihat vesikel dan infiltrat pada kornea.
Pengobatan dengan asiklovir dan pada usia lanjut dapat diberi steroid. Penyulit yang dapat
terjadi adalah uveitis, parese otot penggerak mata, glaukoma dan neuritis optik. Pada mata dapat
disertai dengan konjungtivitis, keratitis pungtata, neurotrofik keratitis, uveitis, glaukoma,
skleritis, dan neuritis.

Keratitis Dendritik
Merupakan keratitis superfisial yang membentuk garis infiltrat pada permukaan kornea yang
kemudian membentuk cabang. Disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks yang berulang,
yang biasanya bermanifestasi dalam bentuk keratitis dengan gejala ringan seperti foto fobia,
kelilipan, tajam penglihatan menurun, konjungtiva hiperemia disertai dengan sensi Keratitis
dendrika bilitas kornea yang hipestesia. Akibat semua gejala yang ringan ini membuat pasien
terlambat berkonsultasi.
Bentuk dendrit ini terjadi akibat pengrusakan aktif sel epitel kornea oleh virus herpes simpleks
disertai dengan terlepasnya sel di atas kelainan. Bentuk dendrit ini dapat berlanjut menjadi bentuk
geografik, yang biasanya tidak mengenai jaringan stroma kornea.
Pengobatan kadang-kadang tidak diperlukan karena dapat sembuh spontan atau dapat sembuh
dengan melakukan debridement. Dapat juga dengan memberikan obat antivirus dan sikloplegik,
antibiotika dengan bebat tekan. Antivirus seperti IDU 0.1% diberikan setiap 1 jam atau
asiklovir. Keratitis dendritik dapat menjadi indolen sehingga terjadi tukak komea.

Keratitis Disformis
Keratitis membentuk kekeruhan infiltrate yang bulat atau lonjong di dalam jaringan kornea.
Biasanya merupakan keratitis profunda superfisial, yang terjadi akibat infeksi virus herpes
25

simpleks. Sering diduga keratitis disiformis merupakan reaksi alergi ataupun imunologik
terhadap infeksi virus herpes simpleks pada permukaan kornea.

5. keratokonjungtivitis Epidemi
Keratitis yang terbentuk pada keratokonjungtivitis epidemi adalah akibat reaksi peradangan
kornea dan konjungtiva yang disebabkan oleh reaksi alergi terhadap adenovirus tipe 8. biasanya
unilateral, penyakit ini dapat timbul sebagai suatu epidemi. Umumnya pasien demam, merasa
seperti ada benda asing, kadang kadang disertai nyeri periorbita. Akibat keratitis penglihatan
akan menurun.
Ditemukan edema kelopak dan folikel konjungtiva, pseudomembran pada konjungtivatarsal
yang dapat membentuk jaringan parut. Pada kornea terdapat keratitis pungtata yang pada minggu
pertama terlihat difus di permukaan kornea. Pada hari ke 7 terdapat lesi epitel setempat dan pada
hari ke 11 15 terdapat kekeruhan sub epitel dibawah lesi epitel tersebut. Kelenjar preurikel
membesar. Kekeruhan sub epitel, baru menghilang sesudah 2 bulan sampai 3 tahun atau lebih.
Pengobatan pada keadaan akut sebaiknya diberikan compres dingin dan pengobatan
penunjang lainnya. Lebih baik diobati secara konservatif. Bila terdapat kekeruhan pada kornea
yang menyebabkan penurunan virus yang berat dapat diberikan steroid tetes mata 3 kali sehari.
IDU (Iodo 2 dioxyuridine) tidak memberikan hasil yang memuaskan.

6. Keratitis Alergi
Keratokonjungtivitis Flikten
Keratokonjungtivitis flikten merupakan radang kornea dan konjungtiva yang merupakan
reaksi imun yang mungkin sel mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen.
Dahulu diduga disebabkan alergi terhadap tuberkuloprotein. Sekarang diduga juga alergi
terhadap jenis kuman lain. Untuk mengetahui penyebab sebaiknya dicari penyebab alerginya.
Pada benjolan akan terjadi penimbunan sel limfoid. Secara histopatologik ditemukan sel
eosinofil dan tidak pernah ditemukan basil tuberkulosil. Terdapat daerah berwarna keputihan
yang merupakan degenerasi hialin. Terjadi pengelupasan sel tanduk epitel kornea.
Mata akan memberikan gejala lakrimasi dan fotobia disertai rasa sakit. Gambaran
karakteristiknya adalah terbentuknya papul dan pastula pada kornea atau konjungtiva. Pada mata
terdapat flikten pada kornea berupa benjolan berbatas tegas berwarna putih keabuan dengan atau
26

tanpa neovaskularisasi yang menuju ke arah benjolan tersebut. Biasanya bersifat bilateral yang
dimulai dari daerah limbus.
Pada gambaran klinis terlihat suatu keadaan sebagai hiperemia konjungtiva, kurangnya air
mata, menebalnya epitel kornea, perasaanpanas disertai gatal dan tajam penglihatan yang
berkurang. Pada limbus didapatkan benjolan putih kemerahan dikelilingi daerah konjungtiva
yang hiperemi yang bila terjadi penyenbuhan akan terjadi jaringan parut dengan neovaskularisasi
pada kornea. Pengobatan dengan steroid dapat diberikan dengan berhati-hati. Pada anak-anak
keratitis flikten disertai gizi buruk dapat berkembang menjadi tukak kornea karena infeksi
sekunder.

Keratitis Fasikularis
Keratitis dengan pembentukan pita pembuluh darah yang menjalar dari limbus ke arah
kornea. Biasanya berupa tukak kornea akibat flikten yang menjalar ke daerah sentral disertai
fasikulus pembuluh darah. Keratitis fasikularis adalah suatu penampilan flikten yang berjalan (
wander phylcten ) yang membawa jalur pembuluh darah baru sepanjang permukaan kornea.
Pergerakan dimulai dari limbus. Dapat berbentuk flikten multiple di sekitar limbus ataupun ulkus
cincin, yang merupakan gabungan ulkus cincin.

Keratokonjungtivitis vernal
Merupakan penyakit ekuren, dengan peradangan tarsus dan konjungtiva bilateral.
Penyebabnya tidak diketahui dengan pasti akan tetapi didapatkan terutama pada musim panas
dan mengenai anak sebelum berusia 14 tahun. Laki-laki lebih sering. Pada kelopak yang dikenal
terutama kelopak atas sedang konjungtiva dikenal daerah pada limbus berupa hipertrofi papl
yang kadang-kadang berbentuk Cobble stone.

7. Keratitis Lagoftalmus
Keratitis yang terjadi akibat adanya lagoftalmos dimana kelopak tidak dapat menutup
dengan sempurna sehingga terdapat kekeringan kornea. Lagoftalmos akan megakibatkan mata
terpapar sehingga terjadi trauma pada konjungtiva dan kornea menjadi kering dan terjadi infeksi.
Infeksi ini dapat dalam bentuk konjungtivitis atau suatu keratitis.
27

Lagoftalmos dapat diakibatkan terikan jaringan parut pada tepi kelopak, eksoftalmos,
paralise saraf fasil dan atoni orbikularis okuli. Lagoftalmus partial pada waktu tidur dapat
ditemukan pada pasien hysteria, lelah, dan anak sehat. Pengobatan keratitis lagoftalmos ialah
dengan mengatasi kausa dan air mata buatan. Untuk mencegah infeksi sekunder diberikan salep
mata.

8. Keratitis Neuroparalitik
Keratitis neuroparalitik merupakan akibat kelainan saraf trigeminus, sehingga terdapat
kekeruhan kornea yang tidak sensitif disertai kekeringan kornea. Gangguan persyarafan ke lima
dapat terjadi akibat herpes zooster, tumor fosa posterior kranium, dan keadaan lain sehingga
kornea menjadi anastesis.
Pada kornea ini akan mudah terjadi infeksi sehingga akan mangakibatkan terbentuknya tukak
kornea. Pada keadaan anestetis dan tanpa persarafan, kornea kehilangan daya pertahanannya
terhadap iritasi dari luar. Pada keadaan ini diduga terjadi juga kemunduran metabolisme kornea
yang memudahkan terjadinya peradangan kornea.
Pasien akan mengeluh tajam penglihatan menurun, silau dan tidak nyeri. Mata akan
memberikan gejala jarang berkedip karena hilangnya refleks mengedip, injeksi siliar, permukaan
kornea keruh, infiltrate dan vesikel pada kornea. Dapat terlihat terbentuknya deskuamasi epitel
seluruh permukaan kornea yang dimulai pada bagian tengah dan meninggalkan sedikit lapisan
epitel kornea yang sehat didekat limbus.
Pada keadaan ini pengobatan diberikan untuk mencegah infeksi sekundernya, berupa
pengobatan keratitis, tersorafi, dan menutup pengtum lakrima. Penyulit akibat terjadinya infeksi
kornea dapat terlihat dalam bentuk tukak kornea.





28

Daftar Pustaka
Ilyas S, Prof.dr.Sp.M. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Jakarta, Balai penerbit FKUI,
2006.
Ilyas S, Mailangkay, T.H. Ilmu penyakit mata untuk Dokter dan Mahasiswa Kedokteran.
Edisi kedua. Jakarta, CV.Sagung Seto. 2002.
Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta, widya Medika. 2002.
http://www.google.com/images/numular_keratitis.jpg di unduh pada tanggal 27 februari
2010.