Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktek Kerja Lapangan di Rumah Sakit Jiwa

Diposkan oleh Sagita catur pamungkas di 14.52 Label: education n Knowledge


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari, menguraikan, dan menyelidiki berbagai kegiatan
atau aktivitas psikis manusia pada umumnya, antara lain pengamatan, intelegensi, perasaan, emosi,
kehendak, dan motif motif. Psikologis praktis, atau biasa disebut psikologi terapan adalah psikologi
yang mempelajari tingkah laku individu dalam bidang kehidupan tertentu. Tujuan dari psikologi
praktis ini adalah menemukan prinsip prinsip psikologi untuk keperluan pemecahan masalah
masalah kehidupan atau tingkah laku individu. Salah satu cabang dari psikolgi praktis ini adalah
psikologi klinis.
Psikologi klinis merupakan cabang dari ilmu psikologi yang bertujuan dan berupaya guna
meningkatkan pemahaman manusia akan prinsip dan fungsi psikologis yang dialami oleh manusia,
seperti masalah yang berkaitan dengan kesehatan jiwa. Individu dikatakan mengalami suatu
masalah dalam dirinya apabila masalah tersebut dapat mengganggu dirinya sendiri, mengganggu
orang lain, bahkan mengganggu dirinya sendiri sekaligus orang lain.
Seorang dengan gangguan jiwa akan terganggu pula kepribadiannya. Mereka kurang mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada di sekitarnya serta tidak sanggup memahami
permasalahan yang menimpa dirinya. Pada penderita gangguan jiwa, gejala utama menonjol
terdapat unsur kejiwaan namun penyebabnya bisa terjadi karena interaksi ibu, anak, ayah,
persaingan saudara kandung, intelegensi, hubungan dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat,
kehilangan yang menyebabkan kecemasan, pola adaptasi, adanya tingkat perkembangan emosi.
Lingkungan sosial misalnya kestabilan keluarga, pola asuh, tingkat ekonomi, lingkungan rumah,
masalah keluarga dan nilai nilai (Maramis, 1980).
Gangguan skizofrenia berawal dengan keluhan halusinasi dan waham kejaran yang khas, seperti
mendengar pikirannya sendiri yang diucapkan dengan nada keras, atau mendengar dua orang atau
lebih memperbincangkan diri si penderita sehingga dia merasa menjadi orang ketiga.
Individu dengan gangguan skizofrenia ini sering dikucilkan oleh keluarga dan lingkungan, bahkan
tidak jarang mereka dipasung atau justru dibuang di jalan. Mereka yang dibuang di jalan umumnya
akan menggelandang tanpa tujuan dan tidak mengetahui identitas dirinya.
Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang merupakan pusat pembinaan dan pelayanan
kesehatan jiwa unggulan di kawasan Indonesia Bagian Timur dengan standar pelayanan rumah sakit
dan standar profesi dengan mengoptimalkan peran atau potensi masyarakat sehingga mampu
mengatasi tantangan jaman. Adapun tugas dari RSJ ini adalah menyediakan pelayanan kesehatan
jiwa yang efektif dan modern bagi semua orang yang mengalami gangguan jiwa dengan tenaga ahli
yang profesional dalam bidangnya masing masing. Tujuan utama dari rumah sakit jiwa ini adalah
membantu penderita agar dapat kembali ke masyarakat, pengupayaan, pencegahan, dan
penanggulangan masalah psikososial.


B. Permasalahan
Banyak orang yang sama sekali belum memahami apa itu skizofrenia, seperti apa gejalagejalanya,
apa saja jenisjenisnya, bagaimana akibat selanjutnya bagi penderita apabila tidak segera
ditindaklanjuti dan seberapa berbahayanya akibat gangguan skizofrenia tersebut bagi penderita.
Untuk itu penulis menyusun laporan ini agar pembaca pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya mengetahui dan segera menindaklanjuti apabila muncul perilaku yang tidak sewajarnya,
dimana perilaku tersebut menunjukkan adanya gejalagejala dari gangguan skizofrenia. Karena tidak
sedikit jumlah penderita yang penanganannya terlambat dilakukan sehingga peluang untuk lebih
membaikpun berlangsung lebih lama.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan dari dilakukannya praktek kerja psikologi klinis di Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman
Wediodiningrat Lawang, Malang, yaitu agar mahasiswa psikologi dapat mengetahui dan memahami
ruang lingkup kerja psikologi, peran, dan fungsi psikologis dibidang klinis, serta dapat menerapkan
ilmu- ilmu yang berhubungan dengan psikologi klinis, mendapat pengetahuan yang lebih mendalam
mengenai gangguan jiwa psikotik khususnya gangguan skizofrenia.
2. Tujuan Khusus
a. Memiliki ketrampilan dan pengalaman dalam memahami praktek praktek psikologi klinis, serta
mampu dalam menggunakan instrumen dan pemeriksaan psikologi secara tepat.
b. Mampu melakukan assessment terhadap kasus klinis, terutama gangguan kejiwaan secara
menyeluruh dan secara khusus pada kasus skizofrenia hebefrenik.

C. Manfaat
1. Manfaat teoritis
a. Melalui bimbingan dan kerja praktek psikologi bidang klinis di Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman
wediodiningrat Lawang dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah
b. Dapat menambah wawasan pengetahuan dan ketrampilan yang berhubungan dengan psikologi
klinis.
c. Menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa psikologi dalam menghadapi permasalahan
psikis individual sehingga lebih peka dalam memahami psikodinamika individu yang mengalami
gangguan jiwa, terutama pada kasus skizofrenia.
2. Manfaat praktis
a. Mampu mengaplikasikan dan mempraktekkan ilmu yang didapat secara teoritis dibangku kuliah
melalui bimbingan para psikolog profesional di Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman wediodiningrat
Lawang ke dalam studi kasus dan dapat digunakan dalam menyusun psikopatologi, diagnosa,
prognosa, serta merumuskan upaya penanganannya.
b. Menambah ketrampilan dan pengalaman dalam pengguanaan alat tes dibidang psikologi klinis.
c. Menambah pengalaman berinteraksi dengan pasien gangguan jiwa

BAB II
PEMBAHASAN
Hasil pengumpulan data-data subjek didapat dari ruang Cendrawasih RSJ DR. RADJIMAN
WEDIODININGRAT adalah sebagai berikut :
A. IDENTITAS
1. SUBYEK
Nama : K. R.
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Usia : 25 tahun
Anak ke : 4 dari 4 bersaudara
Pendidikan : SD (Tamat)
Status : Belum Menikah
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Desa Gading Kec. Jatirejo. Kab. Mojokerto
RT01/RW03

2. Orang tua dan Saudara Subjek

Keterangan Ayah Ibu Saudara Pertama Saudara Kedua Saudara Ketiga
Nama (Alm).M. D S.M. I.M. N.H.
Usia - 55 tahun 30 tahun 29 tahun 28 tahun
Pendidikan
- SD SD SD SD
Pekerjaan Kuli Buruh Tani Wiraswasta Kuli IRT
Alamat Desa Gading Kec.Jatirejo kab. Mojokerto RT01/RW03 Desa Gading Kec.Jatirejo kab.
Mojokerto RT01/RW03 Desa Gading Kec.Jatirejo kab. Mojokerto RT01/RW03 Desa Gading
Kec.Jatirejo kab. Mojokerto RT01/RW03 Desa Gading Kec.Jatirejo kab. Mojokerto RT01/RW03

B. JADWAL PENGAMBILAN DATA
Tanggal Kegiatan Tempat
23 Maret 2010
Memilih dan menjalin raport dengan klien
24 Maret 2010 Autoanamnesa, observasi, analisis status rekam medis. Ruang Cendrawasih
RSJ. Dr. Radjiman Wediodiningrat
SumberLawang
Porong
25 Maret 2010 Tes grafis, observasi, analisis status rekam medis.
26 Maret 2010 Tes SPM, observasi, analisis status rekam medis.
27 Maret 2010 Observasi, alloanamnesa, analisis status rekam medis.

C. SUMBER PENGAMBILAN DATA
a. Rekam Medik
Rekam medik merupakan catatan perkembangna pasien yang dimiliki oleh pihak rumah sakit yang
bersangkutan. Rekam medik tersebeut berisikan sebab masuk rumah sakit, perkembangan selama di
rumah sakit, pengobatan yang dilakukan, status psikiatri dan lain sebagainya yang bersangkutan
dengan pasien dan perawatannya di rumah sakit ang bersangkutan.
b. Wawancara
Wawancara adalah proses interaksi antara satu orang dengan orang lainnya secara langsung yang
menjadi sarana untuk mendapatkan informasi dengan adanya maksud tertentu.
Dalam pengambilan data ini praktikan menggunakan wawancara semi-struktural yaitu proses
wawancara dimana pewawancara memiliki catatancatatan pokok atau garisgaris batasan agar
proses wawancara yang terjadi tidak melebar temanya, namun proses wawancara dapat
berlangsung lebih alami dan lebih santai sehingga pihak yang diwawancarai tidak merasa terganggu
dengan pembicaraan yang dimaksudkan.
c. Observasi
Observasi adalah pengamatan yang bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu masalah,
sehingga diperoleh suatu pemahaman atau sebagai alat re-checking (pembuktian) terhadap
informasi yang diperoleh informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tujuan observasi
adalah untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitasaktivitas yang berlangsung, orang
orang yang terlibat dalam aktivitas dan makna kejadian dilihat dari perspektif mereka terlibat dalam
kejadian yang diamati tersebut.
Dalam melakukan observasi ini praktikan menggunakan metode observasi parisipan jenis observer
berpartisipasi sebagai pengamat yaitu observer ikut berpartisipasi dengan kelompok subjek yang
diobservasi, tetapi hubungan observer dengan observee brsifat tebuka satu sama lain, tahu sama
tahu, akrab bahkan observee bertindak layaknya sebagai sponsor kegiatan observasi itu sendiri.
Selain itu praktikan juga menggunakan metode observasi eksperimental, dimana observer
melakukan observasi secara alamiah sehingga memungkinkan tidak adanya faking yang dilakukan
oleh observee dan observer mengamati timbulnya perilakuperilaku alami sesuai dengan yang
diharapkan observer.
d. Tes Psikologi
Tes psikologi merupakan salah satu sumber data yang cukup mendukung untuk diperbandingkan
dengan hasil pengumpulan data dari sumber lain (rekam medik, wawancara dan observasi). Dalam
proses pengambilan data ini praktikan menggunakan tes grafis (DAP, BAUM dan HTP) dan tes SPM.

D. PERMASALAHAN
Subjek MRS RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat sudah 3 kali awal mula MRS pada 13 November 2009,
awal mula keluhan subjek mengaku mengalami halusinasi visual dan auditori dimana subjek
mengaku tiap malam melihat arwah Damar Wulan, Panji Laras dan Bung Karno (makhluk halus) dan
subjek mengaku tiap kali dia melihat arwah-arwah tersebut sehabis menenggak minuman
beralkohol bersama teman-teman sekampungnya.

E. RIWAYAT PERJALANAN SAKIT
Pada Oktober 2009 subjek mulai mengalami perubahan perilaku. Perubahan perilaku tersebut dipicu
oleh perilaku subjek yang tiap malam kerap kali minum-minuman beralkohol bersama teman-teman
sekampungnya, di mana menurut rekam medic subjek menunjukan perilaku marah-marah tidak
jelas,bingung dan sering membanting barang-barang di rumah. Karena perilaku tersebut subjek di
ajak berobat, pertama kali berobat subjek dibawa ke bibi subjek sendiri yang seorang dukun, tapi
ternyata tidak dapat menyembuhkan subjek, malah subjek mengaku dadanya terasa sakit dan sesak.
Akhirnya subjek dibawa ke RSJ-RW (dr. Radjiman Wediodiningrat), MRS pertama kali pada 13
November 2009, subjek di tempatkan di ruang cendrawasih lalu dipulangkan setelah 1 bulan tidak
menunjukan perilaku abnormal, lalu pada 02 desember 2009 subjek kembali dibawa masuk RSJ-RW
di ruangan kasuari karena karena kembali menunjukan perilaku maladaptive lagi yakni seperti
mendengar suara-suara bisikan, serta afek-emosi yang dangkal, dan terakhir pada 05 febuari 2010
subjek kembali dibawa ke RSJ-RW di ruang cendrawasi karena sering merokok berlebihan, sering
melamun sendiri serta marah-marah pada orang sekitar , tetapi saat ini subjek sudah menunjukan
afek-emosi yang bagus dan dapat berinteraksi dengan baik.


F. LATAR BELAKANG MASALAH
Tahun ini subjek berusia 25 tahun, ia adalah anak terakhir dari empat bersaudara, dua saudara
perempuan dan satu saudara laki-laki. Subjek termasuk orang yang pendiam, penurut dan suka
bergaul, keluarga subjek hidup dengan ekonomi yang kurang mampu, hingga subjek hanya mampu
mengenyam pendidikan sampai tingkat SD,begitu pula dengan saudara-saudara subjek yang lain, ibu
subjek seorang buruh tani sedangkan ayah subjek seorang kuli bangunan. Pada waktu kelas 5 SD
subjek pernah meminta sepeda pada ayah tetapi ayahnya tidak dapat memenuhi karena keadaan
ekonomi yang sulit . Hingga subjek dan kakak laki-lakinya setelah lulus SD ikut bekerja di mebel milik
paman subjek di mojokerto sampai 1 tahun lamanya, lalu setelah itu bekerja jadi penjaga toko
sampai 1.5 tahun di daerah mojoagung dan setelah itu subjek kembali ikut paman bekerja di
mebel hingga 3.5 tahun dan terakhir bekerja ikut kakak ipar, yaitu subjek mengirim barang logistic
jadi pendamping sopir. Dari semua pekerjaan yang pernah di enyam subjek, yang paling di sukai
subjek adalah ikut menjadi pendamping sopir mobil pengirim logistic ke daerah-daerah jawa timur.
Pada tahun 2001 ayah subjek meninggal karena sakit liver, subjek sangat mengagumi sosok ayah
hingga saat ayah meninggal subjek sangat merasa kehilangan, ingin sekali subjek membahagiakan
ibunya karena sampai saat ini ibunya masih bekerja sebagai buruh tani, sejak itu subjek kumpul-
kumpul tidak jelas bersama teman-teman sebayanya sampai larut malam, sampai akhirnya subjek di
ajak minum-minuman beralkohol oleh teman-temanya di dekat pemakaman Panji Laras yang di
keramatkan masyarakat sekitar. Seusai minum-minum Subjek mengaku teman-temanya terlihat
kecil (Mikropsia). Dari situ subjek tiap kali pulang rumah sehabis minum-minum sering marah-marah
tanpa alasan, suka membanting barang serta suka murung sendiri, subjek tidak pernah sadar tiap
kali melakukan perbuatan tersebut, juga mengaku kalau tiap malam sering merasa takut karena
sering di datangi arwah Panji Laras, Damar Wulan dan Bung Karno, subjek juga mendengar adanya
bisikan-bisikan tiap malam dan pada waktu subjek sendirian, bisikan-bisikan tersebut menyuruh
subjek jadi presiden, dan menyuruh subjek agar meneruskan sekolah , subjek mengaku sudah 21 kali
lebih minum-minuman beralkohol, dan dari perilaku tersebut subjek di bawa berobat. Pertama kali
berobat subjek di bawa ke pengobatan alternative yaitu ke bibi subjek sendiri, yang mana bibinya
adalah seorang dukun, dan saat di obati oleh bibinya, subjek mengaku dadanya malah terasa
sesak dan sakit.
Karena subjek tidak menunjukan adanya perubahan perilaku yang bagus, akhirnya subjek di bawa
masuk RSJ pertama kali pada 13 November 2009 dengan diagnosa suka marah-marah, membanting
benda di sekitarnya serta memukul orang di sekitarnya, halusinasi visual dan auditori, subjek di
tempatkan di ruang cendrawasi selama 1 bulan lalu pulang karena perilaku maladaptifnya
berkurang, dan tak lama setelah itu subjek kembali masuk ke RSJ kedua kalinya di karenakan subjek
bicaranya meracau ingin jadi pak lurah setelah subjek membaca berita kalau lurahnya korupsi, dan
lalu subjek pergi ke rumah pak lurah untuk meminta uang dan subjek melakukannya tanpa rasa
malu. Subjek MRS yang ke dua pada 02 desember 2009 dan di tempatkan di ruang kasuwari, selama
1 bulan. Dan terakhir pada 05 febuari 2010 subjek kembali MRS karena perilaku maladaptifnya
kembali muncul yakni karena sering merokok berlebihan, sering melamun sendiri serta marah-
marah pada orang sekitar, subjek membenarkan perilaku tersebut karena ia tidak di ijinkan keluar
rumah bergaul dengan teman-temannya serta subjek tidak di ijinkan bekerja, padahal sbjek ingin
sekali bekerja, hal ini membuat subjek bosan berada di rumah, karena di rumah subjek hanya
disuruh membersihkan rumah dan membantu merawat keponakan subjek, dan hal itu menjadi
keseharian subjek.
G. HASIL PENGUMPULAN DATA
1. Wawancara
a. Autoanamnesa
Pada saat perkenalan subjek menyebutkan nama lengkapnya dengan baik, subjek mengaku berusia
25 tahun subjek ingat tanggal bulan tahun kelahiranya dengan baik subjek menyebutkan 11 Agustus
1985, tempat tinggal subjek berasal dari mojokerto , bahkan subjek dapat menyebutkan nama,
urutan keluarga, usia serta pekerjaan dari ayah, ibu dan saudara-saudaranya dengan baik. subjek
mengaku sudah berada di RSJ selama tiga kali berturut-turut ini, subjek sadar betul kenapa dia
masuk RSJ, subjek bertutur awal mula dia sakit seperti ini serta timbulnya perilaku maladaptivenya
karena minum-minuman keras dengan teman-temanya, semenjak itu subjek sering mendengar
suara-suara orang yang membisiki subjek, subjek juga melihat arwah Panji Laras, Damar Wulan dan
Bung Karno tiap malam di rumahnya, suara-suara tersebut membisiki subjek agar jadi presiden dan
melanjutkan sekolah, subjek merasa hal itu perlu di lakukan, lalu hal kedua yang membuat subjek
masuk RSJ kedua kalinya yaitu subjek dengar bisikan untuk jadi pak lurah, lalu subjek tanpa rasa
malu sama sekali pergi meminta uang ke pak lurah desanya, karena pak lurah desanya korupsi uang
desa dan beritanya dimuat di Koran, hal tersebut membuat subjek merasa ingin meminta uang ke
pak lurah desanya, sehingga pak lurahnya sendiri yang memasukan subjek ke RSJ lagi, dan hal
terakhir yang membuat subjek masuk lagi ke RSJ karena subjek sering melamun di rumah dan
marah-marah membanting barang saat subjek tidak di ijinkan keluar dari rumah oleh kakak dan ibu
subjek, karena takut nanti penyakitnya kambuh.
Subjek menyadari bahwa semua perbuatan tersebut tidak baik, subjek sangat menyesal sekali
kenapa dulu minum-minuman keras, semua hal tersebut membuat subjek tidak dapat bekerja
kembali, subjek ingin sekali kembali bekerja membantu orang tua, dan sering kali subjek
mengungkapkan keinginannya untuk bekerja kembali dan karena sakitnya ini subjek merasa malu
untuk bergaul dengan lingkungan sekitar rumahnya lagi. subjek mengatakan orang tuanya sangat
baik, subjek ingin sekali membantu ibunya. Saat ditanya tentang ayahnya ekspresi muka subjek
berubah datar, subjek mengatakan ayahnya sudah meninggal pada tahun 2001, meninggal karena
sakit asam urat. Subjek sangat mengagumi sosok ayahnya, saat ditanya subjek sangat bangga punya
ayah seperti dia.
Saat ditanya tentang teman wanita subjek mengatakan tidak punya teman wanita, tapi pernah
pacaran sampai tujuh kali, dan yang terakhir pacarnya meninggalkan subjek karena subjek masuk
RSJ, subjek mempunyai angan-angan setelah dia keluar dari RSJ subjek ingin kembali bekerja
membantu ibunya, serta ingin membeli rumah sendiri dan menikah, pekerjaan yang diinginkan
subjek adalah menjadi wartawan karena bibi subjek sudah menjajikan jika sudah sembuh akan di
masukan jadi wartawan, dan juga subjek ingin jadi pendamping sopir mobil pengantar barang
karena subjek suka perjalanan ke luar-luar kota.
Subjek sangat rindu bersepeda motoran lagi dengan sepeda RX-Kingnya di rumah, subjek kepikiran
siapa yang merawat sepedanya jika subjek tidak ada, waktu ditanya apakah subjek rajin sholat
subjek mengatakan rajin sholat 5 waktu tapi biasanya yang dhuhur sama ashar tidak karena
mengantuk. Saat ditanya tentang cita-cita subjek sudah tidak ingin bercita-cita jadi presiden atau
pak lurah lagi, subjek menyadari keadaan dirinya dengan ekonominya yang sulit, subjek mengatakan
bercita-cita jadi supir pribadinya orang cina, saat ditanya mengapa, subjek mengatakan enak jadi
supir pribadinya orang Cina bisa agar bisa keliliing-keliling kota terus.
b. Alloanamnesa
Rekam Medik
Menurut rekam medik subjek adalah anak ke empat dari empat bersaudara, ibu subjek bekerja
sebagai buruh tani, ayah subjek telah meninggal, subjek dan semua saudara subjek adalah lulusan
SD. Pada pertama kali masuk RSJ subjek di diagnose gangguan psikotik Lir. Skizofrenia akut F 23.21,
dan karena mengkonsumsi zat psikoaktif (alkohol), subjek kurang komunikatif, interaksi social minim
dengan manifestasi afek pasien dangkal (Shallow),gelisah, semaunya sendiri, tidak wajar
(inappropriate), senyum sendiri (Self-absorbed), verbal inkoheren ,Afek-Emosi inadekuat, bingung,
dan gelisah. Pada kali kedua subjek masih F 23.21 dengan diagnosis kembali gelisah, merokok
berlebihan, Afek-Emosi dangkal. Pada kali ketiga subjek masuk dengan diagnosisnya menjadi
skizofrenia hebefrenik remisi tak sempurna F 20.14. preokupasi tentang keinginannya untuk bekerja.
Merokok berlebihan, kepala kadang-kadang pusing.
Perawat
Keterangan Perawat Pasien
Nama D. M, W.
Usia 21
Pendidikan D3 STIKES Majapahit
Pekerjaan Perawat

Perawat menuturkan subjek sudah sangat kooperatif, rawat diri bagus, emosi stabil, kepada perawat
subjek juga menuturkan ingin cepat pulang ke rumah dan bekerja, subjek selama di ruangan adalah
orang yang rajin tiap pagi menyapu dan mengepel ruangan bersama pasien-pasien yang kooperatif
lainya, mengambil makanan juga merapikan tempat tidur, perawat menuturkan hanya pasien
kooperatif saja yang dapat di suruh-suruh.
Subjek termasuk pasien yang baik dan ramah, suka menyapa pembicaraanya jelas tidak melantur,
kalo tidak ada kegiatan subjek mencari teman bicara sesama pasien, subjek sudah tidak menunjukan
perilaku yang terlalu maladaptive, cuma ketika tidak ada teman bicara subjek lebih suka duduk
menyendiri sambil melamun dan terkadang masih senyum-senyum sendiri.
2. Observasi
a. Observasi Umum
Ciri fisik subjek mempunyai tinggi 165 cm dengan berat badan 59 kg, kulit sawo matang, hidung
mancung, berbadan kekar dan model rambut pendek rapi. Subjek berpenampilan rapi dan bersih,
saat pertama kali melihat subjek, terlihat duduk-duduk menjaga gerbang ruangan Cendrawasih ,
saat pertama kali berkenalan subjek sangat ramah dan sopan, afek adekuat, bicara lancar (koheren)
dan tidak melantur, pembicaraan terarah. Selama anamnesa, antara apa yang di tuturkan subjek
dan apa yang ada di rekam medis sama, tetapi proses berpikir lambat, tingkat kesadaran bagus, saat
ditanya subjek melakukan kontak mata dengan orang yang mengajaknya bicara, subjek sangat
antusias jika ditanya soal pengalaman kerja yang pernah dia alami, ekspresi subjek terlihat senang.
Pola kognitif subjek menunjukan kekonsistenan dengan jawaban atau ucapan yang dilontarkan dan
menjawab segala bentuk pertanyaan dengan baik dan cenderung meng-iyakan. Subjek adalah
pasien yang paling rajin serta paling bisa diberi tugas melakukan kegiatan di ruangan, orientasi
waktu, tempat dan orang cukup baik, ketika subjek tidak ada kegiatan subjek terlihat melamun
sendiri dan terkadang masih tersenyum sendiri (Self-absorbed smiling).
b. Observasi Khusus
Test Garfis
Pada hari kedua waktu pelaksanaan tes grafis subjek merasa kurang enak badan karena flu, saat di
beritahu akan di beri tes menggambar subjek sangat suka sekali, karena subjek senang
menggambar, tes dilakukan berurutan, pada tes DAP saat ditanya ingin menggambar apa? subjek
menjawab ingin menggambar lelaki yang melihat pemandangan subjek menggambar sambil
sesekali tersenyum-senyum, setelah itu subjek ditanya dalam gambar tersebut berapa usia laki-laki
yang ada dalam gambar tersebut? subjek menjawab sekitar 49 tahun saat ditanya siapa nama
laki-laki tersebut? subjek menjawab tidak usah diberi nama , subjek mengerjakan tes dengan
waktu 3 menit. Lalu pada tes BAUM saat ditanya ingin menggambar apa? subjek berkata ingin
menggambar Pohon cemara lalu subjek ditanya kembali selain pohon cemara? subjek menjawab
pohon mangga, setelah itu subjek di persilahkan menggambar pohon mangga, subjek tampak agak
serius menggambar pohon, subjek menggambar pohon mangga mulai bawah keatas dari batang
pohon lalu baru ranting, daun serta buah pohon subjek mengerjakan tes 4 menit, lalu pada tes
berikutnya HTP subjek menggambar orang lalu rumah dan terakhir pohon, pintu rumah nampak
terbuka, subjek tampak tenang, waktu tes 5 menit.
Test SPM
Pada hari ketiga observasi subjek disuruh menjaga gerbang ruangan, subjek menyapa duluan,
menanyakan kabar pada pemeriksa, subjek menanyakan kapan pulang, karena subjek sudah rindu
rumah, dan lama tak ada keluarga yang menjenguk subjek. Lalu subjek diminta untuk tes SPM,
subjek terlihat antusias sekali. Sesegera subjek ingin mengerjakan tes subjek bertanya untuk apa tes
ini, di jelaskan bahwa tes ini untuk mengukur intelegensi subjek, pada saat di jelaskan petunjuk
mengerjakan tes subjek sangat memperhatikan sekali. Pada set A sampai set B klien mengerjakan
dengan teliti sekali dan pada set C dan set D klien mulai merasa kesulitan dan terlihat mimik muka
subjek yang nampak bingung, subjek akhirnya menyelesaikan tesnya dengan waktu 40 menit.
3. Hasil tes Psikologi
a. Test BAUM
Dari hasil test ini menunjukan subjek memiliki ciri kepribadian inferioritas, suka di puji,
mendahulukan ego, tidak dapat memutuskan sesuatu, tidak mau mengikat diri, kurang stabil,
memiliki rasa percaya diri yang kurang, kekanak-kanakan (Childish), serta otoritas ayah kurang.
b. Test DAP
Dari hasil test yang di dapat ini menyebutkan bahwa subjek masih memiliki penarikan diri
(withdrawl), inferioritas, percaya diri rendah, tidak dapat mengambil keputusan, penyesuaian diri
(sosial) kurang, cenderung introvert, cenderung mudah depresi tapi lebih cenderung frustasi, mudah
di kuasai emosi impulsive tidak stabil cenderung agresif
c. Test HTP
Dari hasil test ini menunjukan bahwa peran sang ayah dan ibu sama, subjek senang melakukan
sesuatu diluar keluarganya jadi pasien lebih nyaman apabila berada di luar lingkungan keluarganya.
d. Test SPM
Dari hasil test kapasitas kecerdasan subjek termasuk pada taraf Border Line, yaitu terletak pada
grade IV+(test SPM).
H. POLA KEPRIBADIAN
Dari hasil pemeriksaan subjek termasuk orang yang memiliki harga diri rendah (HDR) dimana tiap
kali ada konflik yang tak terselesaikan subjek akan merasa menyalahkan dirinya sendiri, kurang
mampu berinteraksi social dengan baik, dalam berinteraksi subjek cenderung pasif untuk
meneruskan topik pembicaraan. Subjek cenderung bersifat kekanak-kanakan mungkin karena subjek
adalah anak terakhir, dalam hasil test di sebutkan bahwa otoritas ayah kurang, mungkin hal ini di
sebabkan karena kematian ayahnya saat subjek pada masa perkembangan dewasa awal sehingga
subjek merasa mencari sosok jati diri dari lingkungan.
Subjek masih mempunyai hambatan dalam hubungan sosialnya dimana karena sikap penarikan
dirinya dari sekitar dia sangat sulit untuk mengawali interaksi dengan orang lain subjek masih
merasa kurang percaya diri namun sebenarya secara umum subjek memiliki kebutuhan untuk
mengadakan kontak dengan lingkungan sekitarnya, subjek cenderung introvert, cenderung mudah
depresi tapi lebih cenderung frustasi, subjek mudah di kuasai emosi impulsive tidak stabil cenderung
agresif hal tersebut didukung dengan kurang matangnya emosi subjek dalam menghadapi
permasalahan. Peranan orang tua antara ayah dan ibu sama, akan tetapi subjek memandang figure
ibu lebih baik dari pada figure ayah hal ini dapat dilihat dari gambar rumah yang lebih bagus dari
pada gambar pohon, subjek merasa kurang bisa di terima dan merasa tidak nyaman dalam keluarga
subjek merupakan orang yang senang melakukan sesuatu diluar lingkungan keluarganya jadi subjek
merasa lebih nyaman apabila berada di luar lingkungan keluarganya hal ini dapat dilihat dari gambar
orang yang posisinya membelakangi gambar rumah dan pohon.

I. DINAMIKA PSIKOLOGIS
Subjek memiliki kapasitas intelegensi yang berada pada taraf Borderline, subjek memiliki
kecenderungan untuk memahami berbagai hal sangat lama. Namun subjek memiliki antusiasme
yang tinggi dalam mengetahui sesuatu hal yang kurang diketahuinya. Dalam menjalin hubungan
interaksi sosial subjek kurang dapat mengawali kontak sosial terlebih dahulu dan subjek mengalami
depersonalisasi merasa terkucilkan dari lingkungan rumahnya karena penyakit yang dideritanya
sehingga memiliki harga diri rendah. Dan ketika menghadapi konflik subjek lebih sering
menghindarinya, lebih senang berada di luar rumah tidak begitu betah di dalam rumah. Sejak
kematian sang ayah subjek lebih suka keluyuran malam-malam keluar rumah bersama teman-teman
sebayanya dan tiap kali subjek keluar dengan teman-temannya subjek selalu ikut minum-
minumanan keras (Beralkohol). Walaupun interaksi social subjek kurang tapi sebenarnya subjek juga
memiliki kabutuhan untuk melakukan kontak social, tapi subjek memilih interaksi sosial dengan
teman sebayanya yang kurang baik. Subjek memiliki hambatan, untuk menemukan jati dirinya di
karenakan tak adanya sosok sang ayah dalam menjadi panutan subjek. Subjek dirumah tinggal
bersama ibu dan kakak perempuannnya yang ke tiga, semua kakak subjek telah menikah semua,
subjek memiliki keinginan yang di ulang-ulang yaitu keinginan untuk bekerja, subjek merasa
menyesal sekali minum-minuman keras bersama teman-temanya dulu, dia merasa bahwa karena
perbuatannya itu subjek menjadi sakit seperti saat ini, dan tak bisa berkerja lagi.

J. STATUS PSIKIATRIK MENURUT REKAM MEDIK
a. Deskripsi Umum
1. Penampilan umum : Rawat diri baik
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. Sikap dan Tingkah laku : Sopan dan ramah
4. Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif
5. Roman muka : Tenang
6. Orientasi waktu/tempat/orang : Baik
7. Keadaan afek/ mood : Appropriate
8. Perhatian : Cukup
9. Fungsi Intelektual
Daya konsentrasi : Kurang
Daya ingat : Long Term Memory : Baik
Short Term Memory : Cukup
Ingatan Segera : kurang
10. Gangguan persepsi : -
11. Proses pikir
Kuantitatif : Cukup bicara
Kualitatif : Preokupasi
12. Isi pikir : -
13. Bentuk pikir : Realistis
14. Tilikan diri/ insight : Baik, dapat menjelaskan
kenapa dirinya masuk rumah sakit

b. Simtom yang didapat
- Self estimacy rendah
- Preokupasi tentag suatu ide / gagasan
- Kecenderungan untuk menyendiri (solitary)


C. Sindrom : Skizofrenia hebefrenik remisi tak
sempurna

D. Diagnosa banding : -

E. Kesimpulan : F20.14


K. DIAGNOSA MULTI AXIAL dari PPDGJ III
AXIS I : Skizofrenia hebefrenik remisi tak sempurna (F20.14)
AXIS II : Retardasi Mental Ringan (F70)
AXIS III : -
AXIS IV :
a. Masalah dengan primary support group (keluarga)
Kehilangan figure seorang ayah membuat subjek mencari identitas diri sebagai dewasa awal sendiri
dari lingkungan keluarga tak pernah memantau pergaulan subjek diluar lingkungan keluarga.
b. Masalah dengan lingkungan social
Subjek salah memilih teman sebaya dalam pergaulannya, hal tersebut yang membuat subjek
memiliki kebiasaan minum-minuman keras (Alkohol).
c. Masalah ekonomi
Dari kecil subjek setelah lulus SD langsung ikut bekerja memenuhi kebutuhan keluarga.
AXIS V : GAF 70-61 (beberapa gejala ringan & menetap, disabilitas
ringan dalam fungsi, secara umum masih baik).

L. EVALUASI KASUS

Sebenarnya subjek memiliki kepribadian yang adaptif terhadap lingkungan sekitar, namun awal
mula (onset) dari perilaku abnormal / maladaptive subjek timbul pertama kali karena pengaruh
teman sebayanya (peer group) dalam pergaulan, subjek kerap kali menenggak minum-minuman
keras saat bersama teman sepermainannya itu, sebenarnya subjek menolak tetapi karena takut
dikucilkan dari teman-temannya subjek ikut-ikutan minum-minum, terjadi kurang sensivitas dalam
keluarga subjek dalam mengontrol pergaulan subjek semenjak meninggalnya sang ayah, semua
anggota keluarga sibuk untuk mencukupi kebutuhan ekonomi.
Menurut pendekatan psikoanalisis yang di kemukakan oleh Simund Freud (1856-1939). Menurut
Freud, aneka situasi menekan yang mengancam akan menimbulkan kecemasan dalam diri
seseorang. Kecemasan adalah suatu simtom yang dimanifestasi dari suatu defense yang
berkembang dalam diri individu yang bersangkutan, pada subjek yang acuh dan menyendiri,
defensenya adalah menghindar. Menurut Freud, kecemasan yang terjadi pada individu sebagian
besar disebabkan oleh dibiarkannya konflik konflik yang terjadi dalam individu tersebut tetap ada
dan terkubur dalam diri individu tersebut, Subjek dalam permasalahan ini melalui mekanisme
pertahanan diri. Setiap individu memiliki cara cara berbeda dalam memanifestasikannya dan ini
semua tergantung dari pengalaman pengalaman individu tersebut dalam menghadapi maupun
meredakan permasalahan dan ketegangan yang ada dalam dirinya. Dalam kasus ini subjek
menggunakan mekanisme pertahanan diri yaitu compensasi yang merupakan bentuk pengalihan
suatu konflik pada suatu kegiatan lain. Ketika subjek mengalami suatu permasalahan atau
mengalami suatu konflik yang ada pada dirinya dan subjek berusaha bercerita yang subjek dapat
bukan suatu penyelesaian melainkan permasalahan yang baru, dimana subjek merasa takut malah
tambah membebani masalah keluarga. Dengan terjadinya hal tersebut subjek memilih untuk
menekan apa yang menjadi permasalahan pada dirinya, beban yang ada pada dirinya, dan
keinginannya. Hal ini menimbulkan kepribadian pada subjek cenderung tertutup dan menjadi
individu yang pemalu yang membuatnya sulit berinteraksi dengan orang lain karena takut akan
penolakan. Di katakan bahwa ikatan yang signifikan secara emosional diantara individu-individu
memiliki fungsi survival, dan sebab itu berstatus primer. Subjek memiliki hubungan yang sangat erat
antara kedua orang tuanya, dari usia 15 tahun subjek sudah ditinggal sang ayah dengan keadaan
ekonomi keluarga yang kurang mampu.
Menurut model behavioristik, penyebab gangguan perilaku adalah proses belajar yang salah (faulty
learning). Bentuk kesalahan belajar itu ada dua kemungkinan.
Pertama, gagal mempelajari bentuk-bentuk perilaku atau kecakapan adaptif yang diperlukan dalam
hidup. Kegagalan ini dapat bersumber dari tidak adanya kesempatan untuk belaja, dimana subjek
hanya di besarkan oleh figure seorang ibu setelah kematian ayahnya. Sehingga mencari sosok
panutan mencari jati dirinya pada masa dewasa pada pergaulan yang salah.
Kedua, mempelajari tingkah laku yang maladaptive. Seperti bergaul dengan teman sepergaulan yang
salah sehingga memiliki kebiasaan minum-minuman keras (Alkoholic).

M. TERAPI
A. Individu
Terapi ini bertujuan untuk mengupayakan peningkatan kemampuan, ekspresi diri, rasa empati,
afektif, kognitif, dan kemampuan interaksi individu sehingga dapat memperkuat mekanisme
pertahanan jiwa yang positif. Contohnya : mengadakan sosialisasi antara yang satu dengan yang
lain.
B. Sosio terapi / Kelompok
Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan interaksi social,. Contoh : mendengarkan
musik , rekreasi , kepramukaan.
C. Spiritual Terapi
Terapi ini bertujuan meningkatkan keperayaan diri dan pengharapan lewat sarana kegiatan religious
seperti : Pengajian, Dakwah keagamaan.
N. PROGNOSA
Prognosis merupakan suatu upaya untuk meramalkan perjalanan penyakit yang diderita oleh subjek.
Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis, subjek memiliki prognosis yang positif. Hal ini didukung
oleh beberapa hal :
1. Kepribadian prepsikotik : hubungan antara manusia tidak baik. subjek tidak memiliki hubungan
baik dengan keluarga, dan salah pergaulan dengan teman sebayanya.
2. Skizofrenia timbul secara perlahan karena zat psikoaktif (alkohol).
3. Umur pertama subjek pada saat masuk rumah sakit pada umur 24 tahun.
4. Dukungan dari keluarganya kurang untuk penyembuhan subjek.
5. Faktor penunjangnya adalah masalah sosial.
Kesimpulan : Prognosis positif
O. SARAN
a) Subjek
- Subjek agar aktif dalam kegiatan-kegiatan social di lingkunganya.
- Dapat menyalurkan bakat, minat atau hobbinya.
- Subjek disarankan agar mencari teman peergaulan yang baik untuk merubah kebiasaan.
b) Keluarga
- Penerimaan terhadap kondisi subjek
- Komunikasi aktif antara keluarga dan subjek
- Keluarga diharapkan sebagai pendengar baik dan memberikan alternatif pada setiap pemecahan
masalah.
- Diharapkan bagi keluarga agar aktif mencari informasi tentang penyakit gangguan jiwa sebagai
upaya menambah wawasan tentang kesehatan jiwa.

c) Lingkungan
- Menerima subjek dengan segala kondisi yang dialami dan tidak mengucilkan subjek.
- Mengikutsertakan subjek dalam kegiatan kegiatan dilingkungan sekitar seperti kegiatan karang
taruna, kerja bakti, kegiatan keagamaan dan kegiatan-kegiatan sosial lainya.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. DEFINISI
Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizeinyang berarti terpisahatau pecah, dan phren
yang artinya jiwa. Pada skizofrenia terjadi pecahnya atau ketidakserasian antara afeksi, kognitif
dan perilaku. Secara umum, simptom skizofrenia dapat dibagi menjadi tiga golongan: yaitu simptom
positif, simptom negatif, dan gangguan dalam hubungan interpersonal.
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan
perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat
yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial budaya.
Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan
persepsi , serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang
jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun
kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.
B. GEJALA GEJALA SKIZOFRENIA
Menurut PPDGJ III gejala gejala skizofrenia antara lain ;
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (da biasanya dua atau lebih bila gejala
gejala tersebut kurang tajam atau kurang jelas) :
a. - thought echo : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak
keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama namun kualitasnya berbeda.
- thought insertion or withdrawl : isi pikirannya yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya
(insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawl).
- thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum
mengetahuinya.
b. - Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar.
- Delusion of influence: waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar.
- Delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrash terhadap suatu
kekuatan dari luar.
(tentang dirinya : secara jelas merujuk ke pergerakkan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran,
tindakan atau penginderaan khusus )
- Delusional perception : pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna khas dalam dirinya,
biasanya bersifat mistik atau mukjizat.

c. Halusinasi Auditorik :
- Suatu hlusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien
- Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara)
- Jenis suara halusinasi yang lain berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham waham yang menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau
kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau
berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

2. Atau paling sedikit ada dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
a. Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang
mengambang amupun setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas ataupun disertai oleh
ide ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
b. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation) yang berakibat
inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan (neologisme).
c. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduhgelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing)
atau fleksibilitas cere, negativisme, mutisme dan stupor.
d. Gejalagejala negatif seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang dan respons emosional
yang menumpul atau tidak wajar, biasanya hanya mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan
sosial dan menurunnya kinerja sosial tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan
oleh depresi atau medikasi neuroleptika.
3. Adanya gejala gejala tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau
lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal).
4. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall
quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya
minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed
attitude) dan penarikkan diri secara sosial.

C. JENIS JENIS SKIZOFRENIA
1. Skizofrenia Paranoid : Ciri-ciri utamanya adalah waham yang sistematis atau halusinasi
pendengaran, individu ini dapat penuh curiga, argumentatif, kasar, dan agresif, perilaku kurang
regresif, kerusakan social lebih sedikit, dan prognosisnya lebih baik dibanding jenis-jenis lain.
2. Skizofrenia Hebefrenik : Ciri-ciri utamanya adalah percakapan dan perilaku yang kacau, serta afek
yang datar atau tidak tepat, gangguan asosiasi juga banyak terjadi, individu tersebut juga
mempunyai sikap yang aneh, menunjukkan perilaku menaik dirisecara social yang ekstrim,
mengabaikan hygiene dan penampilan diri dan perilaku regresif, dengan interaksi sosial dan kontak
dengan realitas yang buruk.
3. Skizofrenia Katatonik : Ciri-ciri utamanya adalah ditandai dengan gangguan psikomotor, yang
melibatkan imobilitas atau justru aktivitas yang berlebihan, stupor katatonik. Individu dapat
menunjukan ketidakaktifan, negativisme, dan kelenturan tubuh yang berlebihan (postur abnormal),
Catatonic excitement melibatkan agitasi yang ekstrim dan dapat disertai dengan ekolalia dan
ekopraksia.
4. Skizofrenia yang tidak digolongkan : Ciri-ciri utamanya adalah waham, halusinasi, percakapan
yang tidak koheren dan perilaku yang kacau, klasifikasi ini digunakan bila kriteria untuk jenis lain
tidak terpenuhi.
5. Skizofrenia Residu : Ciri-ciri utamanya adalah tidak adanya gejala-gejala akut saat ini, melainkan
terjadi di masa lalu, dapat terjadi gejala-gejala negative, seperti isolai sosial yang nyata, menarikdiri
dan gangguan fungsi peran.
D. TERAPI TERAPI YANG DISARANKAN UNTUK PENDERITA SKIZOFRENIA
a. Terapi Kelompok
Terapi kelompok merupakan terapi yang dilakukan terhadap sekelompok subjek bersama sama
dengan jalan berdiskusi satu sama lainyang diarahkan oleh seorang terapis.
Terapi ini bertujuan untuk mengupayakan peningkatan kemampuan, ekspresi diri, sosialisasi, rasa
empati, afektif, kognitif, dan kemampuan berkomunikasi melalui interaksi kelompok atau individu
sehingga dapat memperkuat mekanisme pertahanan diri yang positif. Contohnya : mengadakan
sosialisasi antara yang satu dengan yang lain, kepramukaan, rekreasi, dan lain lain.
b. Terapi Latihan Kerja
Terapi ini bukan hanya bertujuan untuk memberikan kesibukkan melainkan guna menyalurkan bakat
dan emosi subkjek serta meningkatkan inisiatif, kreatifitas dan produktifitas. Contohnya : Membuat
kemoceng, menyulam, menjahit, membuat boneka dan membuat keset.
c. Somato Terapi
Terapi ini bertujuan untuk sebagai acuan dalam menerapkan langkah langkah pelaksanaan
kegiatan olah ragan dengan maksud membentuk fisik pasien menjadi sehat. Contohnya : olah raga
(sepak bola, badminton dan tenis meja).
d. Spiritual Terapi
Terapi ini bertujuan meningkatkan keperayaan diri dan pengharapan lewat sarana kegiatan religius.
Misalnya : Belajar membaca Al-Quran,, mendengarkan ceramah pemuka agama, belajar
menyanyikan lagu lagu rohani.
E. FAKTOR PENYEBAB SKIZOFRENIA
Hingga sekarang belum ditemukan penyebab (etilogi) yang pasti mengapa seseorang menderita
skizofrenia, padahal orang lain tidak. Ternyata dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan tidak
ditemukan faktor tunggal. Penyebab skizofrenia menurut penelitian mutakhir antara lain faktor
genetik, virus, auto antibody dan malnutrisi.
Dari penelitian diperoleh gambaran sebagai berikut :
(1) Studi terhadap keluarga menyebutkan pada orang tua 5,6%, saudara kandung 10,1%; anakanak
12,8%; dan penduduk secara keseluruhan 0,9%.
(2) Studi terhadap orang kembar (twin) menyebutkan pada kembar identik 59,20%; sedangkan
kembar fraternal 15,2%. Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak
janin juga mempunyai peran bagi timbulnya skizofrenia kelak dikemudian hari. Gangguan ini
muncul, misalnya, karena kekurangan gizi, infeksi, trauma, toksin dan kelainan hormonal. Penelitian
mutakhir menyebutkan bahwa meskipuna ada gen yang abnormal, skizofrenia tidak akan muncul
kecuali disertai faktor-faktor lainnya yang disebut epigenetik faktor. Kesimpulannya adalah bahwa
skizofrenia muncul bila terjadi interaksi antara abnormal gen dengan :
(a) Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat menganggu perkembangan otak janin;
(b) Menurunnya autoimun yang mungkin disebabkan infeksi selama kehamilan;
(c) Komplikasi kandungan; dan
(d) Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama pada trimester kehamilan.
Selanjutnya dikemukakan bahwa orang yang sudah mempunyai faktor epigenetik tersebut, bila
mengalami stresor psikososial dalam kehidupannya, maka risikonya lebih besar untuk menderita
skizofrenia dari pada orang yang tidak ada faktor epigenetik sebelumnya.

F. PENEKANAN STUDI KASUS
Dalam hal ini praktikan menekankan pada studi kasus skizofrenia jenis hebefrenik. Dimana gangguan
jenis ini cukup banyak diderita oleh pasien RSJ Lawang.
1. DEFINISI SKIZOFRENIA HEBEFRENIK
Dari sekian banyak tipe skizofrenia studi kasus ini menekankan pada kasus gangguan skizofrenia
hebefrenik. Skizofrenia Hebefrenik adalah perilaku yang khas, regresi, primitive, afek tidak sesuai
dengan karakteristik umumnya, wajah dungu, tertawa aneh, menangis dan menarik diri secara
ekstrim (Mary C. Towsend dalam Novy Helena C, 1998 : 143). Skizofrenia Hebefrenik adalah
Percakapan dan perilaku yang kacau, serta afek yang datar atau tidak tepat, gangguan asosiasi juga
banyak terjadi. (Ann Isaac, 2004 : 153). Skizofrenia Hebefrenik adalah permulaannya perlahan-lahan
atau subakut, sering timbul pada masa remaja (antara 15-25), gejala yang dominan adalah ganguan
proses pikir, gangguan kemauan, adanya defersonalisasi, gangguan psikomotor, neologisme, atau
perilaku kekanak-kanakan, waham dan halusinasi.
2. TANDA DAN GEJALA
a. Reaksi sikap dan tingkah laku yang tidak logis, suka tertawa-tawa, kemudian menangis, sangat
irritable atau muah tersinggung sering disertai sendirian dan penuh kemarahan.
b. Terjadi kemundura psikis, kekanak-kanakan, perasaan tumpul dan tidak logis.
c. Pikiran melantur, muka (grimasem) tanpa aa stimulus, halusinasi.
d. Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa maksudnya, hal ini dapat
dilihat dari kata-kata yang diucapkan tidak ada hubungannya satu dengan yang lain.
e. Alam perasaaan (mood affect) yang datar tanpa ekspresi serta yang menunjukan rasa puas diri,
atau senyum yang hanya dihayati sendiri.
f. Waham tidak jelas dan tidak sistematis (terpecah-pecah) tidak terorganisir sebagai suatu
kekuatan.

Gejala Skizofrenia Hebefrenik Menurut PPDGJ III :
1. Perilaku tidak bertanggunga jawab dan tidak dapat diramalkan , serta menunjukkan perilaku
hampa pada tujuan dan hampa pada perasaan.
2. Klien mempunyai afek dangkal dan tidak wajar sering disertai perasaan puas diri, senyum sendiri
atau tertawa menyeringai, berbohong serta bersenda guarau dan ungkapan kata yang berulang
ulang
3. Klien mengalami disorganisasi dalam berfikir dan pembicaraann tak menentu dan inkoheren.
4. Klien mengalami gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya
yang menonjol.
5. Klien mengalami halusinasi dan waham yang tidak menonjol.
6. Klien mengalami kehilangan dorongan kehendak yang bertujuan serta meninggalkan sasaran,
sehingga perilaku klien memperlihatkan ciri khasnya yaitu perilaku tanpa tujuan dan tanpa maksud.




DAFTAR PUSTAKA

Arif, Iman Setiadi.2006.SKIZOFRENIA,Memahami Dinamika Keluarga Pasien.Bandung : Refika
Aditama.
Atkinson, R.L., Atkinson R.C., Hillgard E.R. 1991. Pengantar Psikologi, Edisi Kedelapan, Jilid 2. Jakarta,
Penerbit Erlangga.
Fakultas Psikologi, Universitas Padjadjaran. 1992. Psikoterapi, Penggunaan Psikoterapi Pada Kasus-
Kasus Klinis. Bandung.
Hurlock, 1999, Psikologi Perkembangan, Erlangga, Jakarta
2010.indoskripsi.com. diakses pada 2 juni 2009
Kaplan, Sadock. 2010. Sinopsis Psikiatri. Jilid I. Jakarta
Kartono, Kartini.1986.Patologi Sosial.Rajawali Pers:Jakarta.
Maramis, W.F.1995. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press. Surabaya
Notosoedirdjo, Latipun .2005. Kesehatan Mental (konsep dan penerapan). Malang : UMM Press
PPDGJ III. 1993. Departemen Kesehatan RI .Direktorat Jendral Pelayanan Medic
Rathus, Shepred A, dkk. 2005. Psikologi Abnormal Jilid II. Jakarta : Erlangga
2008.Skizofrenia. Blog at WordPress.com. diakses pada 27 oktober 2007