Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Pengantar Ilmu Politik
Judul :
RESENSI BUKU
DASAR DASAR ILMU POLITIK
Disusun oleh :
Gina Nurul Azhar
NIM : 621111!6
HUBUNGAN INTERNASIONAL
"AKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNI#ERSITAS $ENDERAL A%HMAD &ANI
%IMAHI
2!1
IDENTITAS BUKU
$u'ul (u)u : Dasar-dasar ilmu politik edisi revisi-
P*nuli+ : Prof. Miriam Budiardjo
T*(al (u)u : 543 halaman
U)uran (u)u : 5 ! "3
P*n*r(i, : P# $ramedia Pustaka %tama
T*r(i, : &e'ruari "(()
%*,a)an : keempat * +kto'er "((,
ISBN : ,-)-,-,-""-34,4--
$u-lah hala-an : !!vii . 5- halaman
$u-lah (a( : " Ba'
Har.a (u)u : /p 0).4"5
D*+ain %/0*r : Pa1ut 2u'is
P*r1a2ahan I+i : Muhammad /i3adh* /3an Pradana
Jenis 4over : 5oft 6over
#e!t 'ahasa : Bahasa 7ndonesia
PENDAHULUAN
5e6ara etimolo1i* resensi 'erasal dari 'ahasa latin* dari kata kerja revidere atau
re6ensere 3an1 memilik arti melihat kem'ali* menim'an1 atau menilai. Dalam 'ahasa
Belanda dikenal den1an re6ensie sedan1kan dalam 'ahasa 7n11ris dikenal den1an istilah
revie8.
Dalam 9amus Besar Bahasa 7ndonsia* resensi diartikan se'a1ai pertim'an1an
atau pem'i6araan tentan1 'uku dan se'a1ain3a. 5e6ara 1aris 'esar resensi diartikan
se'a1ai ke1iatan untuk men1ulas atau menilai se'uah hasil kar3a 'aik itu 'erupa 'uku*
novel* maupun film den1an 6ara memaparkan data-data* sinopsis* dan kritikan terhadap
kar3a terse'ut.
/esensi 'uku di sampin1 mem'uat kita tahu akan 'an3ak hal * tapi melatih kita
untuk aktif mem'a6a karena +ran1 3an1 men3ukai aktivitas mem'a6a* hasiln3a* mereka
tidak akan 'erpikir sempit ketika men1hadapi masalah-masalah 3an1 sedan1 dialamin3a.
5erta mempun3a potensi dan ke6enderun1an 3an1 'ijak dalam men3ikapi kejadian-
kejadian sehari-hari disekitarn3a. #api* 'a1i oran1 3an1 in1in 'er'uat le'ih dan mau
'er'a1i ilmu kepada oran1 lain* mem'a6a saja tidak 6ukup. Mereka perlu memiliki
keterampilan la1i 3aitu ketrampilan meresensi 'uku.
/esensi 'uku non fiksi di :aman 3an1 ser'a 6an11ih seperti sekaran1 ini meman1
mem'uat kita en11an melakukann3a karena meman1 le'ih as3ik meresensi 'uku fiksi.
;kan tetapi meresensi 'uku non fiksi seperti 'uku politik ini sudah pasti san1at 'er1una
apala1i 'a1i kita 3an1 suka akan dunia politik* sudah tentu kita harus tau dasar-dasarn3a*
oleh karena itu penulis akan meresensi 'uku politik ini supa3a 'ertam'ah ilmu dan
8a8asan.
ISI 3 SUBSTANSI BUKU
Ba( 1
B*ri+i ,*n,an. +i4a,5 ar,i 'an hu(un.an il-u 6/li,i) '*n.an il-u 6*n.*,ahuan
lainn7a
Perkem'an1an dan definisi ilmu politik
7lmu politik lahir dan 'erkem'an1 den1an 6a'an1-6a'an1 ilmu so6ial lainn3a 3aitu
pada a'ad ke-,. Politik adalah ilmu 3an1 mempelajari tentan1 politik atau kepolitikan
sedan1kan politik sendiri adalah usaha men11apai kehidupan 3an1 'aik. Menurut Miriam
'udiardjo politik se'a1ai 'er'a1ai ma6am ke1iatan 3an1 terjadi di suatu ne1ara 3an1
men3an1kut proses penentuan tujuan dan 'a1aimana 6ara men6apai tujuan terse'ut.
7lmu politik 5e'a1ai ilmu pen1etahuan
5e'a1ai ilmu pen1etahuan politik mem'erikan penjelasan tentan1 tata6ara dan
'a1aimana politik 'erlan1sun1
Definisi ilmu politik
7. <e1ara = suatu or1anisasi dalam suatu 8ila3ah 3an1 memiliki kekuasaan
tertin11i 3an1 sah 3an1 ditaati oleh rak3atn3a.
77. 9ekuasaan = kemampuan seseoran1 atau kelompok untuk mempen1aruhi
perilaku seseoran1 sesuai den1an kein1inann3a.
777. Pen1am'ilan keputusan = >asil dari mem'uat 'e'erapa pilihan dan
menunjuk pada proses 3an1 terjadi sampai keputusan itu ter6apai.
7?. 9e'ijakan %mum @pu'li6 poli63* BeleidA = Ber'a1ai keputusan tentan1
'a1aimana men6apai tujuan.
?. Pem'a1ian @ distri'ution A atau alokasi = pem'a1ian dan penjatahan nilai-
nilai dalam mas3arakat.
Bidan1-'idan1 ilmu politik
T*/ri 6/li,i) dan sejarah perkem'an1an ide-ide politik
L*-(a.a8l*-(a.a 6/li,i)* undan1-undan1 dasar* pemerintah nasional*
pemerintah daerah dan lokal* fun1si ekonomi dan so6ial dari pemerintah
Par,ai86ar,ai5 1olon1an-1olon1an @1roupsA* dan pendapat umum
Hu(un.an in,*rna+i/nalB politik internasional* or1anisasi-or1anisasi dan
administrasi internasional* hukum internasional
>u'un1an imu politik den1an ilmu pen1etahuan lain
sosiolo1i : sosiolo1i mem'antu sarjana ilmu politik dalam usahan3a
memahami latar 'elakan1* susunan dan pola kehidupan sosial dari
'er'a1ai 1olon1an dan kelompok dalam mas3arakat
antropolo1i : men3um'an1 pen1ertian dan teori tentan1 kedudukan
serta peran 'er'a1ai satuan sosial-'uda3a 3an1 le'ih ke6il dan
sederhana. antropolo1i telah 'erpen1aruh dalam 'idan1 metodolo1i
penelitian ilmu politik.
ilmu ekonomi : ilmu ekonomi makin di'utuhkan untuk men1analisa
siasat-siasat pem'an1unan nasional.
psikolo1i so6ial : psikolo1i sosial dapat menjelaskan 'a1aimana
kepemimpinan tidak resmi @informal leadershipA turut menentukan
suatu hasil putusan dalam ke'ijaksanaan politik dan kene1araan.
$eo1rafi : Mempen1aruhi karakter dan kehidupan nasional dari rak3at
dank karena itu mutlak harus diperhitun1kan dalam men3usun politik
luar ne1eri.
ilmu hokum : ilmu hukum sejak dulu kala erat hu'un1ann3a den1an
ilmu politik* karena men1atur dan melaksanakan undan1-undan1
merupakan salah satu ke8aji'an ne1ara 3an1 pentin1
Ba( 2
B*ri+i ,*n,an. )/n+*68)/n+*6 6/li,i)
#eori politik : Bahasan dan 1eneralisasi dari fenomena 3an1 'ersifat politik .
Mas3arakat : 9eseluruhan anatara hu'un1an-hu'un1an antar manusia.
<e1ara
Definisi men1enai <e1ara : +r1anisasi pokok dari kekuasaan politik dalam suatu
8ila3ah dapat memaksakan kekuasaann3a se6ara sah terhadap semua 1olon1an
kekuasaan lainn3a.
5ifat-sifat <e1ara : 5ifat memaksa * monopoli dan sikap mem6akup semua.
%nsur-unsur <e1ara : Cila3ah* penduduk * pemerintah dan kedaulatan.
#ujuan dan fun1si <e1ara : #ujun <e1ara adalah men6iptakan ke'aha1iaan 'a1i
rak3atn3a. Dan fun1sin3a 3aitu melaksanakan keterti'an* men1usahakan
kesejahteraan rak3atn3a* pertahanan dan mene1akkan keadilan.
7stilah <e1ara dan istilah s3stem politik
9onsep kekuasaan
definisi : kekuasaan adalah kemampuan men11unakan sum'er pen1aruh untuk
mempen1aruhi proses pem'uatan dan pelaksanaan keputusan politik sehin11a
men1untun1kan dirin3a* kelompokn3a atau mas3arakat se6ara umum.
sum'er kekuasaan : sarana paksaan fisik seperti senjata* teknolo1i dll
keka3aan seperti uan1* tanah* 'ankir* pen1usaha dll
normatif seperti pemimpin a1ama* kepala suku atau pemerintah 3an1 diakui.
popularitas pri'adi* seperti 'intan1 film* pemain sepak'ola.
ja'atan keahlian seperti pen1etahuan* teknolo1i* keterampilan.
massa 3an1 teror1anisir seperti or1anisasi 'uruh* petani* 1uru dll.
informasi seperti pers 3an1 pun3a kemampuan mem'entuk opini pu'lik.
+toritas dan le1istimasi: tentan1 kea'sahan dan 8e8enan1.
9uasa* atau alat dan ja'atan adalah se'a1ai alat otoritas oleh suatu su'jek 3an1
diamanahi pada su'jek terse'ut. Ja'atan ini di1unakan se'a1ai alat untuk men1uasai
seseoran1 maupun suatu kelompok den1an tujuan 1una men6apai suatu tujuanD
terkadan1@'ahkan selaluA merupakan tujuan dari pri'adi 3an1 'ersan1kutan. #etapi*
otoritas 3an1 EhadirF dari pen3ematan ja'atan tak selalu mem'erikan le1itimasi
kepada o'jek 3an1 disematkan 3an1 dimaksud.
2alu* apa 3an1 dimaksud den1an le1itimasiG 2e1itimasi adalah pen1aruh* 3an1 tak
selalu hadir 'ersamaan den1an otoritas. 2e1itimasi hadir melalui 8i'a8a atau
kharisma seseoran1 3an1 mem'uatn3a dihormati. 2e1itimasi Emen1adaF ketika ia
memiliki pen1aruh terhadap su'jek hin11a ia dapat men3etir o'jekn3a. #erkadan1*
sekali la1i* terkadan1 le1itimasi hadir diirin1i den1an otoritas ja'atan untuk
men1le1itimir ja'atan terse'ut a1ar efektif. 5ekali la1i* pertim'an1an terse'ut 'ukan
'erarti le1itimasi hadir di'aren1i den1an otoritas. 9arena penulis men11unakan term
Eterkadan1F sehin11a tidak menafikan ada kesempatan 'ah8a ia terkadan1 tidak
Ediirin1iF.
Pada prinsip otoritas* pada tin1kat tertentu su'jek harus memiliki 6ukup kredi'ilitas
1una men6apai le1itimasiD8alau di satu sisi tidak dapat kita nafikan 'ah8a
terkadan1Dotoritas adalah alat le1itimasi itu sendiriDatau su'jek harus memiliki
6ukup kredi'ilitas le1itimasi* atau memiliki kredi'ilitas 1una atau 'ahkan keduan3a.
Pen1aruh : kekuasaan dapat men1adakan sanksi dan pen1aruh.
9emajuan se'uah <e1ara san1at dipen1aruhi oleh kualitas 8ar1a ne1aran3a dan
ju1a kualitas pemimpinn3a* setiap <e1ara memiliki sum'er da3a 3an1 'er'eda-
'eda 'aik dari se1i kualitasa atupun kuantitas. 9e'ijakan 3an1 dikeluarkan oleh
pen1uasa haruslah mem'erikan dampak 3an1 positif dan mensejahterakan
an11ota mas3arakatn3a. Jadi* kekuasaan atau pen1uasa memiliki peranan dalam
kemajuan se'uah <e1ara dalam 'entuk ke'ijakan-ke'ijakan. 9e'ijakan 3an1
dikeluarkan sudah semestin3a harus mensejahterkan an11ota mas3arakat.
Ba(
B*ri+i ,*n,an. (*r(a.ai 6*n'*)a,an 'ala- il-u 6/li,i)
Pendekatan
Pendekatan le1alHinstitusional
sarana paksaan fisik seperti senjata* teknolo1i dll
keka3aan seperti uan1* tanah* 'ankir* pen1usaha dll
normatif seperti pemimpin a1ama* kepala suku atau pemerintah 3an1 diakui.
popularitas pri'adi* seperti 'intan1 film* pemain sepak'ola.
ja'atan keahlian seperti pen1etahuan* teknolo1i* keterampilan.
massa 3an1 teror1anisir seperti or1anisasi 'uruh* petani* 1uru dll.
informasi seperti pers 3an1 pun3a kemampuan mem'entuk opini pu'lik.
pendekatan perilaku
'erkem'an1 tahun ,5(-an setelah pd ii
politik harus men1amti proses. karena itu fokus kajian adalah perilaku manusia
se'a1ai se'uah 1ejala 3an1 dapat di amati.
6akupan3a 'ukan han3a perilaku seseoran1 tetapi ju1a kesatuan" 3an1 le'ih 'esar.
ormas*elite* 1erakan* mas3arakat politik
sifatn3a multisisipliner
men11unakan prinsip-prinsip ilmu alam untuk memahami politik
melahirkan teori sistem politik
pendekatan neo-mar!is
fokus kajian kekuasaan dan konflik
konflik kelas merupakan proses dialektis palin1 pentin1 3an1 mendoron1
perkem'an1an mas3rakat
tidak la1i memandan1 konflik kelas antara 'orjuis dan proletar
konflik antara massa 3an1 sedikit namun mempun3ai 'an3ak fasilitas* 'erhadapan
den1an 3an1 'an3ak namun tidak mempun3ai fasilitas
teori keter1antun1an
fokus kajian3a adalah hu'un1an keter1antun1an antara ne1ara dunia pertama dan
dunia keti1a
imperialisme masih ada. hadir dalam 'entuk lain. 'ukan la1i penjajahan lan1sun1*
tetapi kontrol se6ara politik dan ekonomi
pendekatan pilihan rasional
pen1aruh ilmu ekonomi dalam politik
fokus kajian pada pilihan rasioanal manusia
individu adalah aktor terpentin1 dalam dunia politik.
manusia adalah makluk rasional 3an1 'erusaha memaksimalkan kepentin1an sendiri.
manusia mem'uat preferensi
preferensi di'uat setelah melakukan perhitun1an untuk dan ru1i
proses perhitun1an manusia ini dihitun1 den1an pendekatan matematis.
pendekatan institusional 'aru
per'edaan den1an institusionalise lama ialah sifatn3a 3an1 dinamis
'erpandan1an institusi ne1ara dapat di desain kearah satu tujuan tertentu.
pendekatan ini dipi6u pendekan 'ehavioral 3an1 memandan1 institusi hasil perilaku
aktor.
'ersifat salin1 mempen1aruhi: perilaku aktor mem'entuk institusi* namun institusi
ju1a mempen1aruhi aktor
Ba( 9
B*ri+i ,*n,an. '*-/)ra+i
Be'erapa konsep men1enai demokrasi
Dalam demokrasi ada konsep men1enai demokrasi konstitusional* demokrasi
parlementer* demokrasi terpimpin* demokrasi pan6asila dan demokrasi rak3at.
Demokrasi konstitusional
Berisi 'ah8a pemerintah 3an1 demokratis adalah pemerintah 3an1 ter'atas
kekuasaann3 dan tidak di 'iarkan 'ertindak se8enan1-8enan1 terhadap ne1aran3a.
5ejarah perkem'an1an
istilah demokrasi sendiri 'erasal dari a'ad ke 5 sm 3an1 sesun11uhn3a pada 8aktu
itu di1unakan untuk menunjukkan mas3arakat 3an1 'erkumpul di dalam sidan1
de8an eklesia atau de8an rak3at 3unani kuno.
di 3unani kuno* tepatn3a di polis athena* pelaksanaan demokrasi 'ersifat lan1sun1
@direct democracyA* 3aitu suatu 'entuk pemerintahan dimana hak untuk mem'uat
keputusan-keputusan politik dijalankan se6ara lan1sun1 oleh seluruh 8ar1a ne1ara
3an1 'ertindak 'erdasarkan prosedur ma3oritas.
ke6uali 'udak* 8anita dan penduduk asin1* semua oran1 di polis @city stateA athena
mempun3ai hak pilih @franchiseA.
sifat lan1sun1 dari demokrasi 3unani kuno ini dapat diselen11arakan se6ara efektif
karena 'erlan1sun1 dalam kondisi 3an1 sederhana* 8ila3ahn3a ter'atas* dan jumlah
penduduk sedikit @3((.((( penduduk dalam city stateA.
terlepas dari kelemahan dan kekuran1ann3a* operating principle demokrasi athena
merupakan 6ikal 'akal demokrasi modern sehin11a perluk diletakkan dalam
perspektif sejarah demokrasi modern itu sendiri.
Demokrasi konstitusional a'ad ke ,
5e'a1ai aki'at dari kein1inann untuk men3elen11arakan hak-hak politik itu se6ara
efektif tim'ullah 1a1asan 'ah8a 6ara ter'aik untuk mem'atasi kekuasaan pemerintah
ialah den1an suatu konstitusi apakah 'ersifat naskah atau tidak naskah.
Demokrasi konstitusional a'ad ke "(
9arena terjadi peru'ahan so6ial dan ekonomi 3an1 san1at 'esar maka mun6ullah
1a1asan 'ah8a pemerintah 'ertan11un1 ja8a' atas kesejahteraan rak3at dan
karenan3a harus aktif men1atur kehidupan ekonomi dan so6ial.
Perkem'an1an demokrasi di ;sia
Pakistan : P;975#;< Pakistan lahir tahun ,4- terdiri dari " 'a1ian * 'a1ian
'arat dan timur . 9edua 'a1ian terpisah se6ara 1eo1rafis oleh 8ila3ah india
sepanjan1 0((km. Pakistan men1alami krisis kepemimpinan dan insta'ilitas
politik setelah menin11aln3a pelopr kemerdekaan Mohammad ali jinnah .
#im'ulah masalah pen3usunan %%D 'aru pada tahun ,50 3an1 tidak selesai
sampai terpilihn3a ;3u' 9han se'a1ai Presiden di'eri tu1as untuk men3usun
%%D. Pada tahun ,0) ;3u' 9han men3erahkan kekuasaann3a kepada Iah3a
9han** Iah3a pun mem'uat janji-janji 3an1 a8aln3a men1untun1kan tapi pada
akhirn3a tidak * " partai 'esar justru terpe6ah 'elah menjadi " 'a1ian
7ndonesia : Demokrasi di 7ndonesia telah men1alami paasan1 surut . 5elama "5
tahun 7ndonesia memiliki masalah pokok 3akni 'a1aimna dalam mas3arakat 3an1
'eraneka ra1am pola 'uda3an3a mempertin11i tin1kat kehidupan ekonomi
disampin1 mem'ina suatu kehidupan sosial dan politik 3an1 demokratis .
Ba( :
B*ri+i ,*n,an. )/-uni+-*5 '*-/)ra+i -*nuru, ,*r-in/l/.i )/-uni+-*5 'an
6*r)*-(an.an 6/+,8)/-uni+-*
;jaran 9arl Mar!
Mar!isme merupakan suatu paham 3an1 men1ikuti pandan1an-pandan1an 9arl Mar!.
9arl Mar! adalah seoran1 filsuf 'esar 'erke'an1saan Prusia @sekaran1 JermanA. 7a
merupakan salah seoran1 pakar dalam 'idan1 saejarah*filsafat* sosial-politik dan
ekonomi. 5emasa ha3atn3a* Mar! telah 'an3ak menulis dan men1hasilkan karan1an-
karan1an 3an1 spektakuler separti EManifesto 9omunisF 3an1 telah mampu
mempen1aruhi hampir seperti1a umat manusia. 7a san1at terkenal atas analisisn3a
terhadap sejarah dan so6ial-politik terutama men1enai pertentan1an kelas* disini
naman3a telah men6uak 'a1aikan seoran1 pahla8an 3an1 telah mem'a8a peru'ahan
'a1i para kaum tertindas @'uruhA.
Pemikiran Mar! dan usahan3a dalam men1em'alikan jati diri kaum 'uruh @proletarA
dikenal den1an Mar!isme. Mar!isme merupakan 'entuk protes Mar! terhadap paham
kapitalisme. 7a men1an11ap 'ah8a kaum kapital men1umpulkan uan1 den1an
men1or'ankan kaum proletar. 9ondisi kaum proletar san1at men3edihkan karena
dipaksa 'ekerja den1an upah 3an1 san1at minim* sementara hasil kerin1at mereka
dinikmati oleh kaum kapitalis. Ban3ak kaum proletar 3an1 harus hidup di daerah
pin11iran den1an ser'a kekuran1an. Mar! 'erpendapat 'ah8a masalah ini tim'ul
karena adan3a Ekepemilikan pri'adiF dan Epen1uasaan keka3aan 3an1 didominasi
oran1-oran1 ka3aF. %ntuk mensejahterakan kaum proletar* Mar! 'erpendapat 'ah8a
paham kapitalisme harus di1anti den1an paham komunisme.
Dasar-dasar dari Mar!isme itu sendiri adalah pem'erontakan dari kaum proletar
dalam menuntut keadilan demi persamaan* dan 9arl Mar! adalah juru kun6i 3an1
menjadi pahla8an 'a1i kaum proletar. Mar!isme dirintis pada perten1ahan a'ad ke-
, oleh dua tokoh filsuf Jerman 3aitu 9arl Mar! dan &riedri6h Jn1els. Mar!isme
men6akup teori ekonomi Mar!is* teori so6ial dan politik. ;jaran mar!isme ini telah
mampu mempen1aruhi 1erakan sosial-politik di seluruh dunia.
Men1am'il 1a1asan 'ah8a peru'ahan sosial terjadi karena perjuan1an antara
'er'a1ai kelas-kelas dalam mas3arakat 3an1 'erada di 'a8ah kontradiksi satu
terhadap 3an1 lain* para analisis Mar!is men1am'il se'uah kesimpulan 'ah8a
kapitalisme men1arah ke penindasan terhadap kaum proletar dan hasiln3a tak
terelakkan menjadi revolusi proletar atau revolusi sosial.
Mar!isme memandan1 mun6uln3a sistem sosialis se'a1ai se'uah kenis6a3aan historis
3an1 tim'ul dari kapitalisme 3an1 memun1kinkan lahirn3a se'uah revolusi sosial*
dimana milik pri'adi dalam sarana produksi akan di1antikan oleh operasi
kepemilikan 'ersama.
7ntin3a* sosialisme akan mem'eri jalan kepada pan11un1 sejarah komunis* se'uah
sistem tanpa kelas 'erdasarkan kepemilikan umum dan 1ratis-akses dan ke'e'asan
maksimal 'a1i setiap individu untuk men1em'an1kan 'akat dan kapasitas mereka
sendiri. Den1an kata lain 'ah8a s3stem kapitalis tidak la1i menjadi milik se'ah1ian
mas3arakat melainkan oleh <e1ara.
Demokrasi rak3at
Bentuk khusus demokrasi 3an1 memenuhi fun1si di6tator proletar. Bentuk khusus ini
'erkem'an1 di <e1ara-ne1ara Jropa #imur seperti 4ekoslovakia* Polandia* dll.
Demokrasi nasional
9ritik terhadap komunisme dan runtuhn3a kekuasaan komunis
Ban3ak oran1 3an1 men1ira komunisme KmatiK den1an 'u'arn3a %ni 5oviet di tahun
,,* 3an1 dia8ali den1an keputusan Presiden Mikhail $or'a6hev. <amun
komunisme 3an1 murni 'elum pernah ter8ujud dan tak akan ter8ujud selama
revolusi lahir dalam 'entuk sosialisme @%ni 5oviet dan ne1ara-ne1ara komunis
lainn3aA. Dan 8alaupun komunis sosialis hampir punah* partai komunis tetap ada di
seluruh dunia dan tetap aktif memperjuan1kan hak-hak 'uruh* pelajar dan anti-
imperialisme. 9omunisme se6ara politis dan ekonomi telah dilakukan dalam 'er'a1ai
komunitas* seperti 9epulauan 5olentiname di <ikara1ua.
5eperti 3an1 di1am'arkan ;nthon3 $iddens* komunisme dan sosialisme se'enarn3a
'elum mati. 7a akan menjadi hantu 3an1 in1in melen3apkan kapitalisme selaman3a.
5aat ini di 'an3ak ne1ara* komunisme 'eru'ah menjadi 'entuk 3an1 'aru. Baik itu
Kiri Baru ataupun komunisme khas seperti di 9u'a dan ?ietnam. Di ne1ara-ne1ara
lain* komunisme masih ada di dalam mas3arakat* namun ke'an3akan dari mereka
mem'entuk oposisi terhadap pemerintah 3an1 'erkuasa.
Ba( 6
B*ri+i ,*n,an. Un'an.8Un'an. Da+ar
5ifat dan &un1si %ndan1-%ndan1 Dasar
%%D merupakan suatu peran1kat peraturan 3an1 menentukan kekuasaan dan
tan11un1 ja8a' dari 'er'a1ai alat kene1araan . %%D ju1a menentukan 'atas-'atas
'er'a1ai pusat kekuasaan itu dan memaparkan hu'un1an-hu'un1an di antara mereka.
9onstitusionalisme
7de pokok konstitusionalisme adalah pemerintah perlu di 'atasi kekuasaann3a a1ar
pen3elen11araann3a tidak 'ersifat se8enan1-8enan1. %%D dian11ap se'a1ai
jaminan utama untuk melindun1i 8ar1a dari perlakuan 3an1 semena-mena.
4iri-6iri undan1-undan1 dasar
+r1anisasi <e1ara* >ak-hak asasi manusia* prosedur men1u'ah %%D* memuat
laran1an untuk men1u'ah sifat tertentu dan merupakan aturan hokum 3an1 tertin11i.
%%D dan konvensi
9onvensi ada di dalam %%D ketika aturan formal tidak memadai atau tidak jelas.
Per1antian %%D
Meliputi 5 tahap :
. #ahun ,45 %%D /7 defa6to 'erlaku di Ja8a * Madura dan sumatera.
". #ahun ,4, %%D /75 'erlaku di seluruh 7ndonesia ke6uali 7rian 'arat.
3. #ahun ,5( %%D <9/7 'erlaku di seluruh 7ndonesia ke6uali 7rian 'arat.
4. #ahun ,5, %%D /7 ,45 'erlaku di seluruh 7ndonesia.
5. #ahun ,,, %%D ,45 den1an amademen masa reformasi.
Peru'ahan %%D @;mademenA
5elain per1antian se6ara men3eluruh * tidak jaran1 pula <e1ara men1adakan
peru'ahan se'a1ian dari %%D-n3a . Peru'ahan ini di se'ut amademen.
5upremasi %%D
%%D mempun3ai sifat 3an1 le'ih tin11i daripada %% 'iasa dan 'adan 3an1
mem'entukn3a pun 'er'eda.
%%D tertulis dan tidak tertuls
5uatu %%D umumn3a dise'ut tertulis 'ila merupakan se'uah naskah* sedan1kan
%%D tidak tertulis tidak merupakan se'uah naskah dan 'an3ak di pen1aruhi oleh
tradisi dan konvensi.
%%D 3an1 fleksi'el dan %%D 3an1 kaku
5uatu %%D 3an1 dapat di u'ah den1an prosedur 3an1 sama den1an prosedur
mem'uat undan1-undan1 dise'ut fleksi'el seperti in11ris. %%D 3an1 han3a dapat di
u'ah den1an prosedur 3an1 'er'eda den1an prosedur mem'ut %ndan1-undan1 di
se'ut kaku.
%%D 7ndonesia
/umusan %%D ,45 di 7ndonesia 6ukup mem'eri keran1ka konstitusional untuk
dipakai dalam men1hadapi masa depan.
Ba( ;
B*ri+i ,*n,an. Ha)8ha) a+a+i -anu+ia
Perkem'an1an >;M di Jropa
Di Jropa 'arat pemikiran men1enai hak asasi 'era8al pada a'ad ke-- den1an
tim'uln3a konsep hokum alam serta hak-hak alam. ;kan tetapi pada :aman
perten1ahan masalah hak manusia sudah mun6ul men6uat di 7n11ris.
>;M pada a'ad ke-"( dan a8al a'ad ke-"
Dekralasi %m PBB
Deklarasi %niversal >;M ,4)
Dalam sidin1 komisi >;M * kedua jenis hak asasi manusia dimasukan se'a1ai
hasil kompromi antara <e1ara-ne1ara 'arat dan <e1ara-ne1ara lain* sekalipun hak
politik le'ih dominan.
Dua kovenan 7nternasional
#ahap kedua 3an1 di tempuh oleh komisi hak asasi PBB adalah men3usun sesuatu
3an1 le'ih men1ikat daripada deklarasi 'elaka dalam 'entuk dua perjanjian 3akni
hak politik dan sipil.
Perde'atan dalam forum PBB
9esukaran adalah per'edaan sifat anatara hak politik dan hak ekonomi* 3an1
kadan1-kadan1 menuju kesuatu Ekete1an1anF antara dua jenis hak asasi ini. >ak
politik *seperti telah di uraikan di atas* merupakan 8arisan dari aliran li'eralism
a'ad ke-- dan ke ).
Pem'atasan dan 9onsep <on-Dero1a'le
%saha untuk men6apai kata sepakat men1enai 9ovenan >ak 5ipil men1alami
kesukaran karena implementasi hak terse'ut men3an1kut masalah hokum
internasional 3an1 san1at rumit sifatn3a.
Masalah ratifikasi
Meratifikasi suatu <e1ara 'erarti 'ah8a <e1ara 3an1 'ersan1kutan men1ikat diri
untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan perjanjian dan 'ah8a ketentuan itu
menjadi hokum nasionaln3a.
>ak dan ke8aji'an
Di ten1ah kontroversi men1enai masalah apakah hak asasi dan sifatn3a universal
atau tidak* dan men1enai keterkaitan antara pandan1an dunia 'arat dan pandan1an
dunia non-'arat * ti'a-ti'a mun6ul suatu dokumen 3an1 men11emparkan 3aitu E ;
universal De6laration of human responsi'ilit3F.
Peran <e1ara-<e1ara dunia ke 3
;da pendapat 'ah8a <e1ara-ne1ara 'arat jan1an terlalu ter o'sesi dan hak politik dan
men1kritik <e1ara-ne1ara 3an1 kuran1 mampu melaksanakannn3a. Maka perlu
mempertim'an1an pentin1n3a komunitas di sampin1 individu.
;fri6an @BanjulA 4harter on >uman and PeopleLs /i1hts @ ,)A
4airo De6laration on >uman /i1hts in 7slam
5in1apore Chite Paper on 5hared ?alues
Ban1kok De6laration
?ienna De6laration and pro1ramme of a6tion
>ak ;sasi pada ;8al ;'ad ke-"
>ak-hak ;sasi Manusia di 7ndonesia
>ak asasi manusia di 7ndonesia telah men1alami pasan1 surut . sesudah dua periode
represi @ re:im soekarno dan re:im soehartoA* reformasi 'erusaha le'ih memajukan
hak asasi. ;kan tetapi dalam ken3ataann3a harus men1hadapi tidak han3a
pelan11aran hak se6ara verti6al tetapi ju1a hori:ontal.
Ba( <
B*ri+i ,*n,an. 6*-(a.ian )*)ua+aan N*.ara +*=ara 0*r,i=al 'an h/riz/n,al
Per'andin1an 9onfederasi * <e1ara 9esatuan * dan <e1ara &ederal
Pem'a1ian kekuasaan menurut tin1kat dapat dinamakan pem'a1ian kekuasaan se6ara
verti6al* 3aitu pem'a1ian kekuasaan antara 'e'erapa tin1kat pemerintahan atau dapat
ju1a dinamakan pem'a1ian kekuasaan se6ara territorial. Persoalan sifat kesatuan atau
sifat federal dari sesuatu <e1ara sun11uhn3a merupakan 'a1ian dari suatu persoalan
3an1 le'ih 'esar* 3aitu persoalan inte1rasi dari 1olon1an-1olon1an 3an1 'erada dalam
suatu 8ila3ah.
9onfederasi
9onfederasi terdiri dari 'e'erapa <e1ara 3an1 'erdaulat penuh 3an1 untuk
mempertahankan kemerdekaan ekstern dan intern* 'ersatu atas dasar perjanjian
internasional 3an1 diakui den1an men3elen11arakan 'e'erapa alat perlen1kapan
tersendiri 3an1 mempun3ai kekuasaan tertentu terhadap <e1ara an11ota konfererasi*
tetapi tidak terhadap 8ar1a ne1ara ne1ara-ne1ara itu. 9onfederasi pada hakikatn3a
'ukanlah merupakan <e1ara* 'aik ditinjau dari sudut ilmu politik maupun dari sudut
hukum internasional. 9onfederasi se'a1ai suatu ikatan kene1araan dan merupakan
ikatan tanpa kedaulatan.
<e1ara 9esatuan
<e1ara kesatuan ialah 'entuk <e1ara di mana 8e8enan1 le1islative tertin11i
dipusatkan dalam satu 'adan le1islative nasionalHpusat. 9edaulatann3a* 'aik
kedaulatan ke dalam maupun kedaulatan ke luar* sepenuhn3a terletak pada
pemerintah pusat. >akikat ne1ara kesatuan ialah 'ah8a kedaulatann3a tidak ter'a1i*
atau den1an kata lain kekuasaan pemerintah pusat tidak di'atasi* karena konstitusi
ne1ara kesatuan tidak men1akui 'adan le1islative lain selain dari 'adan e1islatif
pusat. ;da dua 6iri mutlak 3an1 melekat pada <e1ara kesatuan* 3aitu adan3a
supremasi dari de8an per8akilan rak3at pusat dan tidak adan3a 'adan-'adan lainn3a
3an1 'erdaulat.
<e1ara &ederal
5alah satu 6iri <e1ara federal ialah 'ah8a ia men6o'a men3esuaikan dua konsep
3an1 se'enarn3a 'ertentan1an 3aitu kedaulatan <e1ara federal dalam keseluruhann3a
dan kedalulatan <e1ara 'a1ian. 5atu prinsip 3an1 dipe1an1 te1uh 3aitu 'ah8a soal-
soal 3an1 men3an1kut <e1ara dalam keseluruhann3a diserahkan kepada kekuasaan
federal. 4iri terpentin1 dari federal ialah 'ah8a kekuasaan pemerintah di'a1i antara
kekuasaan federal dan kekuasaan ne1ara 'a1ian.
Be'erapa 6ontoh inte1rasi dalam sejarah
Be'erapa ma6am <e1ara federal
Perkem'an1an proses trias politika
Ba( >
B*ri+i ,*n,an. (a'an *)+*)u,i45 l*.i+la,i0*5 'an 7u'i)a,i4
B;D;< J95J9%#7&
Jksekutif 3akni Badan 3an1 'ertan11un1 ja8a' terhadap pelaksanaan undan1 undan1
3an1 di'uat oleh 2e1eslatif dan aturan-aturan turunann3a* termasuk
memperjelasHmenja'arkan a1ar undan1 undan1 ts' 'isa dilaksanakan dan dimen1erti
oleh mas3arakat. Jksekutif:Di 'a8ah doktrin pemisahan kekuasaan* eksekutif adalah
6a'an1 pemerintahan
'ertan11un1 ja8a' men1implementasikan* atau menjalankan hukum. &i1ur palin1
senior se6ara de fa6to dalam se'uah eksekutif merujuk se'a1ai kepala pemerintahan.
Jksekutif dapat merujuk kepada administrasi* dalam sistem presidensiil* atau se'a1ai
pemerintah.
B;D;< 2J$752;#7&
2e1eslatif 3akni Badan 3an1 'ertan11un1 ja8a' dalam pem'uatan undan1 undan1
@Pem'uat %ndan1-%ndan1A. le1islatif:adalah 'adan deli'eratif pemerintah den1an
kuasa mem'uat hukum. 2e1islatif dikenal den1an 'e'erapa nama* 3aitu parlemen*
kon1res* dan asem'li nasional. Dalam s3stem Parlemen* le1islative adalah 'adan
tertin11i dan menujuk eksekutif. Dalam sistem Presidentil* le1islative adalah 6a'an1
pemerintahan 3an1 sama* dan 'e'as* dari eksekutif.
B;D;< I%D79;#7&
Iudikatif* Badan 3an1 men1a8asi pelaksanaan undan1-undan1 termasuk mem'erikan
hukuman kepada 8ar1a mas3arakat 3an1 telah ter'ukti melan11ar peraturan
perundan1-undan1an. 2em'a1a kehakiman @atau kejaksaanA terdiri dari hakim* jaksa
dan ma1istrat dan se'a1ain3a 3an1 'iasan3a dilantik oleh kepala <e1ara masin1-
masin1. Mereka ju1a 'iasan3a menjalankan tu1as di mahkamah dan 'ekerjasama
den1an pihak 'erkuasa terutaman3a polisi dalam mene1akkan undan1-undan1.
Ba( 1!
B*ri+i ,*n,an. 6ar,i+i6a+i 6/li,i)
5ifat dan definisi partisipasi politik
;dalah keikutsertaan mas3arakat dalam proses-proses politik* seperti kean11otaan
dalam parpol* ikut men6o'los dlm pemilu* demonstrasi* unjuk rasa* dll
Partisipasi politik di <e1ara Demokrasi
Partisipasi politik di <e1ara +toriter
Partisipasi politik di <e1ara Berkem'an1
Partisipasi politik melalui <e8 5o6ial Movements @<5MA dan kelompok-kelompok
kepentin1an
Be'erapa Jenis 9elompok
9elompok ;nomi
9elompok <onasosiasional
9elompok 7nstitusional
9elompok ;sosiasional
2em'a1a 58ada3a Mas3arakat di 7ndonesia
Ba( 11
5ejarah perkem'an1an partai politik
Partai Politik pertama-tama lahir dine1ara-ne1ara Jropa Barat. Den1an 2uasn3a
1a1asan 'ah8a rak3at merupakan faktor 3an1 perlu diperhitun1kan serta diikut
sertakan dalam proses politik* maka partai politik telah lahir se6ara spontan dan
'erkem'an1 menjadi pen1hu'un1 antara rak3at disatu pihak dan pemerintah dipihak
lain
Definisi partai politik
Partai politik adalah or1anisasi politik 3an1 terdiri dari ti1a an11ota atau le'ih
3an1 'ertujuan untuk memperoleh kekuasaan politik @$a'riel ;lmond* ,)3A
Partai politik merupakan kumpulan oran1-oran1 3an1 mendasarkan ikatan pada
kepentin1an politik untuk memperjuan1kan kursi-kursi politik dalam
pen3elen11araan ne1ara H pemerintahan @Mauri6e Duver1er* ,)0A
&un1si partai politik
Partai Politik se'a1ai salah satu pilar dalam demokrasi
Partai Politik se'a1ai ElokomotifF dalam ne1ara demokrasi
Partai Politik se'a1ai pen6etak kader pemimpin 'an1sa
Partai Politik se'a1ai peserta dalam Pemilu
9lasifikasi s3stem kepartaian di dunia
5istem satu partai* han3a ada satu partai dalam suatu ne1ara* 'iasan3a
diterapkan dalam ne1ara sosialis.
5istem dua partai* han3a ada dua partai dalam suatu ne1ara* ditujukan untuk
kesta'ilan politik.
5istem multipartai* 'an3ak partai dalam suatu ne1ara* pendirian partai tidak
di'atasi.
Partai politik di 7ndonesia
Di era reformasi saat ini* sistem 9epartaian di 7ndonesia 'ersifat multipartai.
;da ratusan partai politik di 7ndonesia.
Partai Politik 3an1 lolos dan memenuhi s3arat menjadi peserta dalam Pemilu
"((, 'erjumlah 4) partai politik.
5aat ini* aturan hukum 3an1 men1atur partai politik dalam Pemilu "((,
adalah %% <o. " tahun "(() tentan1 Partai Politik
Ba( 12
B*ri+i ,*n,an. +7+,*- 6*-ilihan u-u-
Pen1ertian pemilu
Dalam literatur 7lmu Politik* Pemilu 3an1 dalam 'ahasa 7n11ris dinamakan
den1an E$eneral ele6tionF adalah merupakan sarana untuk me8ujudkan
kedaulatan rak3at den1an tujuan memilih para 8akil rak3at dan pemimpin politik
dari level terendah sampai den1an level tertin11i.
Berdasarkan %% <o. ( H "(()* Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan
rak3at 3an1 dilaksanakan se6ara lan1sun1* umum* 'e'as* rahasia* jujur* dan adil
dalam <e1ara 9esatuan /epu'lik 7ndonesia 'erdasarkan Pan6asila dan %ndan1-
%ndan1 Dasar <e1ara /epu'lik 7ndonesia #ahun ,45.
9euntun1an dan kelemahan sisetm distrik dan proposional.
1? Si+,*- 'i+,ri)* 3aitu sistem 3an1 'erdasarkan lokasi daerah pemilihan* 'ukan
'erdasarkan jumlah penduduk. Dari semua 6alon* han3a ada satu pemenan1. Den1an
'e1itu* daerah 3an1 sedikit pendudukn3a memiliki 8akil 3an1 sama den1an daerah 3an1
'an3ak pendudukn3a* dan tentu saja 'an3ak suara ter'uan1. 9arena 8akil 3an1 akan
dipilih adalah oran1n3a lan1sun1* maka pemilih 'isa akra' den1an 8akiln3a.
5e'a1ai se'uah sistem* sistem distrik memiliki kele'ihan di'andin1kan den1an sistem
lainn3a.
9ele'ihan terse'ut diantaran3a:
M 5istem ini mendoron1 terjadin3a inte1rasi antar partai* karena kursi kekuasaan 3an1
dipere'utkan han3a satu.
M Perpe6ahan partai dan pem'entukan partai 'aru dapat diham'at* 'ahkan dapat
mendoron1 pen3ederhanaan partai se6ara alami.
M Distrik merupakan daerah ke6il* karena itu 8akil terpilih dapat dikenali den1an 'aik
oleh komunitasn3a* dan hu'un1an den1an pemilihn3a menjadi le'ih akra'.
M Ba1i partai 'esar* le'ih mudah untuk mendapatkan kedudukan ma3oritas di parlemen.
M Jumlah partai 3an1 ter'atas mem'uat sta'ilitas politik mudah di6iptakan
5elain kele'ihan-kele'ihan terse'ut* sistem ini ju1a memiliki kelemahan* diantaran3a:
M ;da kesenjan1an persentase suara 3an1 diperoleh den1an jumlah kursi di partai* hal ini
men3e'a'kan partai 'esar le'ih 'erkuasa.
M Partai ke6il dan minoritas meru1i karena sistem ini mem'uat 'an3ak suara ter'uan1.
M 5istem ini kuran1 me8akili kepentin1an mas3arakat hetero1en dan pluralis.
M Cakil rak3at terpilih 6enderun1 memerhatikan kepentin1an daerahn3a daripada
kepentin1an nasional.
K*l*-ahan 'ari +7+,*- ini a'alah:
. 5istem ini kuran1 memperhitun1kan adan3a partai-partai ke6il dan 1olon1an
minoritas* apala1i jika 1olon1an ini terpen6ar dalam 'e'erapa distrik.
". 5istem ini kuran1 representatif dalam arti 'ah8a 6alon 3an1 kalah dalam suatu
distrik* kehilan1an suara-suara 3an1 telah mendukun1n3a. >al ini 'erarti 'ah8a
ada sejumlah suara 3an1 tidak diperhitun1kan sama sekaliB dan kalau ada
'e'erapa partai 3an1 men1adu kekuatan* maka jumlah suara 3an1 hilan1 dapat
men6apai jumlah 3an1 'esar. >al ini akan dian11ap tidak adil oleh 1olon1an-
1olon1an 3an1 merasa diru1ikan.
3. ;da ke6enderun1an 8akil terse'ut le'ih mementin1kan kepentin1an daerah
pemilihann3a dari pada kepentin1an nasional
4. %mumn3a kuran1 efektife 'a1i suatu mas3arakat hetero1en
2? Si+,*- 6r/6/r+i/nal* 3aitu sistem 3an1 'erki'lat pada jumlah penduduk 3an1
merupakan peserta pemilih. Ber'eda den1an sistem distrik* 8akil den1an pemilih kuran1
akra' karena 8akil dipilih le8at tanda 1am'ar. 5istem proporsional 'an3ak dianut ne1ara
multi-partai* seperti 7ndonesia* 7talia* Belanda* dan 58edia.
K*l*(ihan8)*l*(ihan +i+,*- 6r/6/r+i/nal 'ian,aran7a a'alah:
M Dian11ap le'ih me8akili suara rak3at karena perolehan suara partai sama den1an
persentase kursin3a di parlemen.
M 5etiap suara dihitun1 dan tidak ada 3an1 ter'uan1* hin11a partai ke6il dan minoritas
'isa mendapat kesempatan untuk menempatkan 8akiln3a di parlemen. >al ini san1at
me8akili mas3arakat hetero1en dan pluralis.
9ekuran1an-kekuran1an sistem proporsional diantaran3a:
M Ber'eda den1an sistem distrik* sistem proporsional kuran1 mendukun1 inte1rasi partai
politik. Jumlah partai 3an1 terus 'ertam'ah men1ham'at inte1rasi partai.
M Cakil rak3at kuran1 akra' den1an pemilihn3a* tapi le'ih akra' den1an partain3a. >al
ini mem'erikan kedudukan kuat pada pimpinan partai untuk memilih 8akiln3a di
parlemen.
M Ban3akn3a partai 3an1 'ersain1 men3e'a'kan kesulitan 'a1i suatu partai untuk menjadi
ma3oritas. >al ini men3e'a'kan sulitn3a men6apai sta'ilitas politik dalam parlemen*
karena partai harus men3andarkan diri pada koalisi.
K*l*-ahan Si+,*- Pr/6/r+i/nal :
. 5istem proporsional mempermudah terjadin3a fra1mentasi partai* kuran1
mendoron1 partai untuk salin1 'erinte1rasi atau 'ekerjasama* 'ahkan se'alikn3a
6enderun1 mempertajam per'edaan* jika terjadi konflik umumn3a an11ota partai
6enderun1 mendirikan partai politik 'aru* men1in1at adan3a peluan1 partai 'aru
untuk mendapatkan kursi den1an men11a'un1 suara 3an1 tersisa.
". Ban3akn3a partai 3an1 'ersain1* men3ulitkan mun6uln3a partai den1an suara
ma3oritas @5(N . A 3an1 diperlukan untuk mem'entuk pemerintahan 3an1 kuat.
3. 5istem proporsional mem'erikan ke8enan1an 3an1 kuat terhadap partai politik
melalui sistem daftar @list s3stemA. Prosedur sistem daftar 'ervariasi* umumn3a
3an1 dipakai adalah partai politik mena8arkan daftar 6alon kepada pemilih.
/ak3at pemilih memilih suatu partai den1an semua 6alonn3a untuk 'er'a1ai kursi
3an1 dipere'utkan. 5ehin11a 8akil rak3at 3an1 terpilih tidak memiliki hu'un1an
3an1 keuat kepada pemilih* melainkan lo3alitas terhadap partai politik.
4. Den1an demikian* sistem Proporsional dapat men11eser kedaulatan rak3at
menjadi kedaulatan partai Politik.
$a'un1an 5istem distrik dan 5istem proposional
9edua s3stem pemilihan men1andun1 se1i positif dan ne1ative dan setiap <e1ara
harus menentukan 6iri-6iri mana dari s3stem 3an1 palin1 'aik 'a1in3a.
5istem Pemilu di 7ndonesia
Oaman Demokrasi Parlementer
Oaman Demokrasi #erpimpin
Oaman Demokrasi Pan6asila
Oaman /eformasi
/an1kuman s3stem pemilu di 7ndonesia
Di era reformasi saat ini* sistem pemilu di 7ndonesia didasarkan pada sistem
proporsional 'erim'an1
5ampai den1an saat ini* telah dilaksanakan ( kali Pemilu* 3aitu Pemilu ,55*
,-*,--* ,)"* ,)-* ,,"* ,,-* ,,,* "((4* dan "((,.
Pemilu "((, 3an1 diselen11arakan tahun lalu merupakan pemilu ke-( di
7ndonesia
KEKUATAN @ KELEMAHAN BUKU
Buku ini men1antarkan mahasis8a 3an1 'erminat ke dalam dunia ilmu politik.
Dalam 'uku ini di'ahas konsep-konsep seperti politik @politi6sA* kekuasaan* pem'uatan
keputusan* @de6i6ion makin1A. Di sampin1 itu* di'ahas pula fun1si undan1-undan1 dasar*
kelompok-kelompok politik* de8an per8kilan rak3at* 'aik di dalam maupun di luar
7ndonesia* serta hak-hak asasi dan perkem'an1ann3a di PBB. Bahan-'ahan 3an1
disajikan dalam edisi kedua ini telah men1alami per'aikan dan le'ih len1kap.
9ekuatan 'uku ini adalah 'uku ini di tulis oleh Prof. Miriam Budiarjo adalah
tokoh luar 'iasa. Beliau seoran1 ilmu8an politik senior sekali1us pelaku politik.
Pemikirann3a telah mem'erikan sum'an1an 3an1 san1at 'erhar1a 'a1i perkem'an1an
ilmu politik di 7ndonesia* 'eliau ialah putri nomor ti1a Prof. Dr. 5aleh Man1undinin1rat
@),0-,0"A* dokter 9eraton 9esunanan 5olo dan intelektual dise1ani se'a1ai rektor
pertama %niversitas 4okroaminoto a8al ,0(-an. Prof. Miriam Budiarjo ini pernah
menja'at se'a1ai Dekan &akultas 7lmu 5osial dan 7lmu Politik %niversitas 7ndonesia
@&757P %7A periode ,-4,-,* di &757P %7 inilah Prof. Miriam Budiarjo 'erkhidmat dan
'uku karan1ann3a 3an1 'erjudul Dasar-dasar 7lmu Politik kini telah menjadi 'uku 8aji'
mahasis8a 7lmu politik di 7ndonesia.
9elemahan 'uku ini han3a terdapat pada kata-kata 3an1 'erkelit dan tidak
lan1sun1 mudah di men1erti ju1a pada pen1emasan 'uku 3an1 te'al dan tidak 'er8arna
mem'uat pem'a6a en11an mem'a6an3a.
Dari hal di atas penulis dapa men3impulkan 'ah8a 'uku ini 'a1us untuk siapapun
3an1 in1in mempelajari politik le'ih dalam la1i* karena 'uku ini 'an3ak mem'ahas
ten1tan1 apa itu politik dan apa saja 3an1 ada di dalamn3a* oleh karena itu kita 'isa le'ih
tahu tentan1 politik 'aik di 7ndonesia maupun di dunia.
KONTRIBUSI BUKU TERHADAP STUDI ILMU POLITIK
7lmu politik merupakan ilmu 3an1 san1at 'ermanfaat untuk di pelajari * apala1i di
:aman sekaran1 ini praktik dan tata6ara politk 7ndonesia sudah semakin tidak karuan dan
'ersifat tidak 'ersih. %ntuk itu den1an adan3a 'uku D;5;/-D;5;/ 72M% P+27#79
karan1an Miriam Budiardjo ini san1at 'erpen1aruh 'a1i kelan1sun1an politik 7ndonesia
'aik di masa sekaran1 maupun masa 3an1 akan datan1 .
9ontri'usi 'uku terhadap studi ilmu politik 3aitu mem'uat kita tahu 'an3ak hal
tentan1 apa itu dasar politik dan apa saja 3an1 ada di dalamn3a. 5etelah kita tahu * tentu
saja dalam praktikn3a kita dapat melaksanakan politik 3an1 'erdasarkan teori dan
tentun3a mem'uat kita tidak akan melakukan pen3impan1an-pen3impan1an 3an1 seperti
di lakukan petin11i <e1ara.
5udah semestin3a setelah kita tahu dan kita menjadi 'a1ian dari mas3arakat 3an1
tahu akan ilmun3a tentun3a akan semakin memper'aiki kondisi politik 'an1sa saat ini *
dan men6iptakan pemerintahan 3an1 aman*makmur dan sejahtera.